Sejarah Dunia Kuno

Lion of Judah Open Doors 2019

Jul 29, 2009

Isteri Yang Saleh

"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu,supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya" (1 Petrus 3:1)

Konteks dari ayat ini berbicara tentang suatu keadaan yang sering terjadi dimana sang isteri sudah diselamatkan tetapi sang suami belum diselamatkan. Bukti dari hal ini terlihat dalam pernyataan:

"jika ada di antara mereka yang tidak taat [apeitheo] kepada Firman"

Untuk "tidak taat" adalah bentuk lain dari "ketidak-percayaan". Ini adalah bagaimana kata Yunani untuk ungkapan ini seringkali di-terjemahkan dalam Perjanjian Baru. Indahnya, Tuhan dapat merubah situasi ini dimana Tuhan mampu untuk memberikan keselamatan yang berasal daripada-Nya kepada suami yang tidak percaya dengan menggunakan "percakapan" (atau kelakuan) dari sang isteri sebagai saksi "bisu" (yang berarti "...tanpa perkataan...") sebagai lawan dari "khotbah" secara langsung kepada suaminya.

Sekarang bagaimana kita mengerti arti dari ungkapan "dimenangkan" [kerdaino] dalam kitab 1 Petrus 3:1 ini? Kata Yunani yang sama lebih sering diterjemahkan sebagai ungkapan "memperoleh", jadi kita dapat mengganti ungkapan "memenangkan" dengan "memperoleh". Dan dalam kitab Filipi 3:8-10 kita membaca demikian:

"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh [atau memenangkan] Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus [yaitu kepercayaan milik Kristus], yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya"

Perhatikan bagaimana kepercayaan atau "iman milik Kristus" dan bukan iman kita yang memulai keselamatan kita. Ingatlah bahwa pada dasarnya manusia adalah "mati secara rohani" sejak mereka berada di dalam kandungan, dan manusia tidak memiliki iman sebelum mereka diselamatkan. Kitab Ibrani 12:2a menjelaskan kepada kita demikian:

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman [yaitu sang pengarang iman kita], dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan [yaitu penyelesai iman kita]

Lebih jauh dalam ayat 2 dari kitab 1 Petrus 3 kita baca lagi demikian:

"jika mereka melihat, bagaimana murni [percakapannya] dan salehnya hidup isteri mereka itu."

Dalam bahasa aslinya kita menemukan kata "percakapan" (anastrophe) di ayat ini. Dan sesungguhnya ini menunjuk pada kelakuan atau "kebiasaan" seseorang, dan Tuhan juga menggunakan dua kata yang lain dalam ayat ini yang harus kita periksa, yaitu "murni" (hagnos) dan "saleh" (phobos).

Kata Yunani untuk ungkapan "murni" ditemukan dalam kitab Titus 2:5 sebagai ungkapan "suci", dalam ayat itu kita membaca demikian:

"hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang."

Dan dalam kitab 1 Petrus 2:18 kita melihat kata Yunani untuk ungkapan "saleh" diterjemahkan sebagai "takut". Dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis."

Ini adalah ayat yang sangat bagus untuk mengingatkan para isteri yang diberkati untuk melayani suami mereka dalam cara yang memuliakan Tuhan. Dan selanjutnya ayat ini adalah nasihat bagi kita semua yang telah diberkati dengan keselamatan untuk mengenali fakta bahwa secara sederhana kita hanyalah hamba-hamba atau pelayan-pelayan yang melayani "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" yang kepada-Nya kita harus takut, setia, dan patuh dengan segenap hati kita.

Selanjutnya ayat 3 - 4 dari 1 Petrus 3 menyatakan demikian:

"Perhiasanmu janganlah secara lahiriah [yaitu penampilan luar], yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa [yaitu kekal] yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah."

Sekarang kita mau memeriksa kata Yunani untuk ungkapan "perhiasan" [kosmos]. Kata ini muncul dalam Perjanjian Baru sebanyak 187 kali, dan di-terjemahkan 186 kali sebagai ungkapan "dunia". Hanya dalam kitab 1 Petrus 3:3 kata ini di-terjemahkan sebagai ungkapan "perhiasan".

Dan disini Tuhan sedang membuat kontras tentang apakah yang "lahiriah" (jasmani atau daging) sebagai lawan dari "batiniah" (roh), yaitu "sifat yang tersembunyi di dalam hati", yang disebut juga sebagai "roh yang lemah lembut dan rendah hati" yang sangat berhubungan dengan keselamatan yang sejati.

Ayat ini membuat perbedaan yang sangat besar antara yang "lahiriah" (yaitu penampilan luar) dengan yang "tersembunyi" (yaitu penampilan dalam). Kata Yunani untuk ungkapan "lahiriah" [exothen] juga digunakan dalam kitab Matius 23:27 demikian:

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya [exothen] memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."

Dalam ayat yang cukup tajam ini Tuhan sedang menekankan prioritas rohani. Apakah gunanya untuk bersih, sehat, dan menarik secara fisik tetapi sesungguhnya sakit secara rohani dan sedang berjalan menuju hukuman yang kekal?

Selanjutnya ungkapan "mengepang" [emploke] dalam frasa kata "mengepang rambut" hanya ditemukan di ayat ini dalam Perjanjian Baru, akan tetapi akar katanya [yaitu empleko] ditemukan dalam ayat-ayat berikut ini sebagai ungkapan "memusingkan" dan "terlibat":

Kitab 2 Timotius 2:4 menasihatkan kita demikian:

"Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan [empleko] dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."

Dan kitab 2 Petrus 2:20 mengajarkan demikian:

"Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia [kosmos], tetapi terlibat [empleko] lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula."

[Dan dalam ayat ini ungkapan "dunia" adalah bagaimana kata kosmos biasanya diterjemahkan]

Jadi ayat-ayat ini membuat kita melihat bahwa seorang isteri yang merupakan seorang yang percaya "dunia-nya" (dan juga dunia suaminya) seharusnya berfokus pada perluasan dari Kerajaan Tuhan, dan bukan menjadi tawanan dari "keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup" (1 Yohanes 2:16).

Dan kitab 1 Timotius 2:9-10 menasihatkan sbb:

"Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan [kosmeo] dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah."

No comments: