Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Aug 2, 2016

Kekuatan Sihir

Hampir dalam setiap kisah masa lalu seperti dongeng atau legenda akan terdapat unsur mistis atau sihir. Tentu saja jika ada sihir maka akan ada Penyihir. Ilmu sihir diyakini telah ada sejak manusia mulai berkumpul dan membentuk komunitas. Sihir sederhana dapat diakses oleh masyarakat biasa dengan cara memberikan persembahan kepada roh atau arwah, tujuannya agar mendapatkan bantuan dari roh. Praktik ritual ini dapat ditemukan di hampir semua masyarakat tradisional. Seni lukis zaman prasejarah juga menggambarkan ritual magis untuk keberhasilan berburu. Ritual tersebut dianggap sebagai ritual keagamaan yang melibatkan tarian dengan kostum binatang. Penyihir telah ada sejak masa Sumeria kuno dan Babilonia. Sementara itu keyakinan bangsa Barat terhadap ilmu sihir diwariskan dari bangsa Mesir kuno, Ibrani, Yunani dan Romawi. 

Di Eropa penyihir telah mengalami kesalahahaman makna. Penyihir dianggap keji dan jahat, sehingga mereka harus digantung atau dibakar. Bahkan terdapat persidangan penyihir di Eropa dan Koloninya seperti di Amerika yang berlangsung anatara abad ke-15-ke-17. Praktik sihir saat itu dianggap sebagai ancaman terhadap Kekristenan. Akibatnya banyak terjadi tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap mempraktekan sihir walaupun tanpa bukti.

Selama berabad-abad, Kristen mengutuk dan menolak ilmu sihir. Jika melihat pada Perjanjian Lama yaitu dalam bagian Keluaran dan Ulangan terdapat ayat-ayat yang menyinggung ketidaksenangan Allah terhadap penyihir. Contohnya cerita saat Raja Saul berkunjung ke ahli nujum (orang yang dapat berbicara dengan roh orang mati) guna membantunya agar dapat berkomunikasi dengan jiwa Nabi Samuel. Upaya ini berhasil, meskipun ia diberitahu oleh Samuel bahwa Alla tidak senang karena Saul telah melawanNya karena lebih percaya orang mati daripada percaya Allah sendiri.

Namun jika melihat perspektif masyarakat orang Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi kuno akan berbeda dengan Alkitab. Bagi mereka, seseorang yang memiliki ilmu magis telah diberkahi oleh para dewa dan dewi serta dikagumi. Kekuatannya diyakini mampu melihat masa depan dan masa lalu, dapat berubah bentuk, dan kemampuan membuat ramuan ajaib untuk merubah penampilan fisik dan emosi. Orang-orang yang dikarunia anugerah ini bisa menggunakannya untuk hal hal positif dan negatif, serta sangat dihormati. Semenjak munculnya Kristen maka sihir telah menjadi hal yang negatif dan sihir dianggap sebagai bagian dari agama paling kuno di Bumi.

Sistem Biner Kuno Pertama

Sistem biner adalah sebuah penemuan kuno yang telah ada berabad – abad sebelum konsep komputer ada. Ahli matematika Jerman, Gottfries Leibniz mengatakan menemukan sistem pada 1703 M. Namun, penemuan terbaru mengatakan tidak demikian.  Para peneliti di Norwegia membuat penemuan yang mengejutkan ini setelah mempelajari bahasa Mangareva di Kepulauan Pasifik kecil, Polinesia Perancis.

Salah satu dari dua sistem nomor tradisional digunakan di Mangareva, memiliki tiga struktur biner tersuperposisi ke struktur desimal. Penemuan struktur biner Mangarevan telah digunakan berabad-abad sebelum deskripsi formal ditemukan oleh Leibniz. Hal ini membuktikan kemajuan dalam berhitung bahkan tanpa adanya notasi dan dengan demikian menyoroti peran budaya bagi evolusi dan keragaman dalam kognisi numerik.

Lebih dari 300 tahun yang lalu, matematikawan dan filsuf Jerman Gottfried Leibniz menunjukkan keuntungan komputasi dari sistem bilangan biner atau basis 2. Meskipun teori groundbreaking Leibniz meletakkan dasar untuk komputasi dengan mesin, pada umumnya manusia terus memanfaatkan sistem nomor lisan yang dibangun di atas dasar 10 yang menimbulkan pertanyaan apakah penomoran biner kompatibel dengan kognisi manusia.

Pure aritmatika biner bekerja sesuai dengan 'dasar dua' sistem - '1 dan' 0, daripada 'dasar 10' konvensional - 1,2,3,4,5 dll - sistem penghitungan yang di banyak budaya diperkirakan telah digunakan karena mengandalkan sepuluh jari. Sekarang, penemuan baru mempertanyakan asal sistem biner dan tanggal penemuan tersebut.

Andrea Bender, seorang ilmuwan kognitif dan Sieghard Beller di University of Bergen di Norwegia mencoba mencari keterkaitan sistem nomor dalam bahasa Polinesia. Penelitian mereka ini muncul dalam Prosiding National Academy of Sciences.

Mereka menemukan bahwa orang Polinesia yang tiba di Mangareva pada lebih dari 1.000 tahun yang lalu menggunakan sistem desimal, seperti yang dilakukan orang Polinesia lain. Namun pada 1450 M, orang – orang di Mangarevan ini mulai menggunakan sistem yang dikombinasikan basis 10 dan basis 2. Dalam bahasa Mangarevan, ada kata-kata untuk angka 1 sampai 9 dengan semua sistem desimal.

Untuk nomor 20 sampai 80, bahasa Polinesia kuno menggunakan sistem biner, dengan istilah satu kata yang terpisah selama 20, 40 dan 80. “Mereka tidak memiliki tulisan atau sistem notasi, sehingga mereka harus melakukan segala sesuatu dalam pikiran mereka”, kata Andrea Bender.
Sistem ini tidak hanya berkembang untuk membantu orang memecahkan aritmatika mental yang kompleks, tetapi juga memainkan peran penting dalam budaya Mangarevan, di mana orang sering melakukan perdagangan barang dalam jumlah besar atau untuk penghitungan upeti. Orang Mangarevan menggunakan sistem ini untuk menghitung objek yang dianggap sangat berharga, termasuk kelapa, ikan dan gurita.

Hingga kini, selalu diasumsikan bahwa Leibniz adalah orang pertama yang memperkenalkan sistem biner, tetapi penemuan terbaru ini jelas menunjukkan orang-orang kuno telah akrab dengan bilangan biner dalam waktu yang sangat lama. Saat ini, bahasa Mangarevan sedang mengalami risiko kepunahan dan penduduk setempat menggunakan angka Arab serta sistem penghitungan desimal yang digunakan di sebagian besar daerah di dunia.

Peradaban Kuno Misterius Di Rusia

Arkaim merupakan sebuah situs arkeologi yang ada di wilayah Rusia. Terletak di padang rumput Ular selatan. Berjarak 8,2 km atau 5,1 mil dari utara Amurskiy, dan 2,3 km dari tenggara Alexandronvskiy, yang merupakan dua desa di Chelyabinsk Oblast, Rusia. Posisi Arkaim juga terletak di sebelah utara perbatasan Kazakhstan.

Para peneliti sering menyebut situs Arkaim ini sebagai Stonehenge-nya Rusia. Bahkan beberapa peneliti percaya bahwa Arkaim dan Stonehenge di Inggris memiliki hubungan dan merupakan observatorium angkasa. Menurut penelitian ada yang berpendapat bahwa situs yang ada di Rusia ini telah ada sejak abad ke-17 SM, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa situs ini telah ada sejak abad ke-20 SM. Jika itu benar, maka tentu saja situs Arkaim ini lebih tua dari situs di Troy dan Piramida Mesir yang baru ada pada 4000 tahun SM. Banyak yang menyebu Arkaim sebagai “Negara Kota” dan diyakini menjadi salah satu zona anomali terkuat di Rusia.

Situs Arkaim tidak hanya meninggalkan reruntuhan bangunan, jalan-jalan, tetapi juga sisa-sisa sistem air, tungku metalurgi, dan tambang. Artefak yang ditemukan di situs ini menunjukkan bahwa Arkaim telah mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Sintashta-Petrovka.

Penduduk setempat percaya bahwa Arkaim merupakan tempat suci. Banyak peziarah datang ke tempat ini sepanjang tahun untuk mendapatkan air dari Sungai Bolshaya Karaganka yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Sedangkan pada musim panas mereka kan melumpuri tubuhnya dengan tanah liat dari situs ini yang dipercaya juga akan dapat membantu mengobati penyakit kulit.
Pegunungan di sekitar benteng Arkaim juga tidak biasa, yang paling terkenal adalah Shamanka atau Bold Mountain. Orang-orang naik ke atas gunung itu untuk mendapatkan energi positif, berdoa, atau bermeditasi. Banyak orang yang memiliki penyakit yang parah dibawa ke sana karena percaya akan mendapatkan penyembuhan. Pengunjung juga datang ke puncak gunung itu untuk melakukan pertobatan. Gunung tersebut diyakini juga memiliki aura cinta yang dapat membawa keberuntungan. Ada pula desas-desus yang mengatakan bahwa gunung itu dapat membuat perempuan dan laki-laki yang datang akan menajdi populer. Di dekat Gunung Shamanka juga terdapat Gunung Grachinaya atau disebut juga Blessed Mountain. Berkebalikan dengan rumor yang ada di Gunung Shamanka, oramg tidak boleh berlama-lama berada di Gunung Grachinaya, karena diyakini mereka berisiko akan kehilangan pikirannya.

Di dalam situs ini juga ditemukan kuburan kuda-kuda, sehingga para peneliti berpendapat bahwa Arkaim juga menjadi rumah bagi Bangsa Arya. Beberpa teks India kuno dan himne yang diyakini ditulis oleh Bangsa Arya menceritakan dan menggambarkan ritual tentang pengorbanan kuda dan penguburannya, yaitu dengan cara bahwa kuda disembelih kemudian ikut dimakamkan dengan tuannya yang talah meninggal.

Perkembangan kota kuno Arkaim ini sangat menakjubkan. Pemukiman dibangun sesuai dengan skema radial, dengan diameter luar lingkaran sekitar 160 m dengan parit sekitar 2 m di sekitar dinding luar dan dinding Arkaim lembarnya hampir 5 m dan tingginya 5 m. Para arkeolog telah menyimpulkan bahwa Arkaim adalah pemukiman terencana. 

Menurut peneliti, kota berkubu ini memiliki serangkaian gerbang, yang berjumlah 4. Gerbang terluas ditempatkan di arah selatan-barat sedangkan sisanya 3 gerbang berorientasi ke arah mata angin. Selain dinding Arkaim, pemukiman penduduk juga memiliki saluran yang lebarnya 2 meter di balik dinding yang terhubung ke parit luar. Menurut arkeolog 35 rumah berdekatan dengan dinding luar, yang masing-masing memiliki pintu keluar ke jalan utama dari pemukiman kuno ini sementara ada juga 25 rumah di bagian dalam dari pemukiman.

Pertahanan pemukiman kuno ini sangat canggih, Arkaim tidak hanya memiliki dinding yang luar biasa dan saluran air yang rumit mereka juga membuat "labirin" di pintu masuk pemukiman ini yang mungkin merupakan benteng perangkap sehingga membuat akses ke kota sangat sulit. Ada teori lain yang menunjukkan bahwa labirin ini tidak dibangun untuk pertahanan melainkan sebagai monumen keagamaan atau sesuatu yang sakral.

Meskipun pemukiman kuno Arkaim telah memperoleh banyak perhatian dari media dan bahkan wisatawan, beberapa peneliti menggambarkan Arkaim sebagai Kota "SWASTIKA" atau "MANDALA" yang merupakan ibukota peradaban kuno Bangsa Arya awal, seperti yang dijelaskan dalam Avesta dan Veda. Tetapi ada juga yang mengatakan semua ini dalam rangka untuk mendapatkan lebih banyak publisitas. Arkaim dinyatakan sebagai cagar arkeologi nasional pada tahun 1991.

Derinkuyu: Kota Kuno Bawah Tanah Turki

Jauh di dalam bawah tanah di Kota Cappadocia Turki terdapat sebuah kota kuno. Diukir dari batuan, Derinkuyu adalah salah satu dari lima kompleks yang saling terkoneksi dengan perkiraan total kapasitasnya dapat mencapai 100.000 orang.
Wilayah Cappadocia dimana Derinkuyu berada, terdapat beberapa kota kuno bawah tanah. Diukir dari formasi geologi yang unik, sebagian besar kota ini kembali digunakan oleh orang-orang Kristen pada awal abad ke-20 sebagai tempat persembunyian. Setidaknya lebih dari 200 kota bawah tanah ditemukan diantara Kayseri dan Nevsehir, dengan sekitar 40 diantaranya memiliki tiga tingkat. Kota Derinkuyu dan Kaymakli adalah contoh kota bawah tanah terbaik yang difungsikan sebagai tempat tinggal.

Kompleks terbesar kota bawah tanah di Cappadocia terdiri dari 18 lantai, sedalam 85 m. Di dalamnya terdapat air segar yang mengalir, ventilasi, tempat tinggal yang disekat-sekat, kamar, sumur, kuburan, gudang senjata, dan rute untuk melarikan diri. Satu kompleks ini dapat digunakan sebagai tempat tinggal bagi 20.000 orang. Untuk siklus udaranya dibuat 52 lubang udara, yang salah satunya mencapai kedalam 55 m. Beberapa sumur memang sengaja tidak terhubung dengan permukaan, kemungkinan ini digunakan untuk melindungi penghuninya dari keracunan pada saat terjadi penggerebekan.

Derinkuyu adalah kota kuno bawah tanah multi-level di distrik Derinkuyu, Provinsi Nevsehir, Turki. Dengan 13 lantai yang memanjang sampai kedalaman sekitar 85 m, kompleks yang cukup besar untuk tempat tinggal ribuan orang secara bersama-sama dengan ternak dan toko makanan toko. Derinkuyu merupakan kota kuno bawah tanah terbesar yang pernah digali di Turki dan merupakan bagian dari jaringan beberapa kompleks bawah yang pernah tanah ditemukan di Cappadocia.

Beberapa ahli Turki berpendapat bahwa bangsa Hittit yang membangun tingkat pertama Kota Derinkuyu untuk dijadikan sebagai gudang; karena cap-cap bangsa Hittit ditemukan penduduk setempat saat mereka membangun pondasi rumah mereka, dan adanya kota Hittit kuno Göllü Dagi yang berada 20 km sebelah barat daya Derinkuyu. Gua-gua pertama kemungkinan mulai diperdalam pada batuan vulkanik lunak di wilayah Kapadokia oleh bangsa Frigia (Phrygia), yaitu bagian dari bangsa Indo-Eropa kuno, pada abad ke-7 hingga ke-8 SM. Ketika pemakaian bahasa Frigia punah di zaman Romawi Kuno dan digantikan oleh kerabat dekatnya yaitu bahasa Yunani,  para penduduk yang kemudian telah beragama Kristen lalu menambahkan gua-gua bawah tanah mereka dengan bangunan kapel dan prasasti berhuruf Yunani.

Setelah wilayah ini jatuh di bawah kekuasaan Utsmaniyah, Kota Kuno Derinkuyu digunakan sebagai lubang perlindungan terhadap penguasa Muslim Turki. Hingga akhir abad ke-20, penduduk Kapadokia Yunani masih menggunakan kota bawah tanah untuk melarikan diri dari penindasan oleh pihak Utsmaniyah. Pada tahun 1909, ketika datang berita tentang pembantaian di Adana, sebagian besar penduduk Axo berlindung di ruang-ruang bawah tanah kota ini, dan selama beberapa malam tidak berani tidur di atas permukaan tanah. Ketika penduduk Kristen di wilayah tersebut terusir pada tahun 1923 dalam peristiwa pertukaran penduduk antara Yunani dan Turki, kompleks bawah tanah tersebut lalu tidak ditempati lagi.

Derinkuyu pertama kali kembali ditemukan pada tahun 1963 secara tidak sengaja seorang penduduk menemukan sebuah pintu rahasia di sebuah rumah yang baru dibelinya. Dinding gua dibuka untuk mengungkapkan bagaimana kehidupan ribuan kota kuno bawah tanah yang dalamnya lebih dari 280 kaki. Pemukiman bawah tanah Derinkuyu dibuka untuk pengunjung pada tahun 1965, namun sejauh ini hanya 10% yang dapat dikunjungi. Untuk masuk ke dalamnya harus melalui terowongan serta orang harus merangkak untuk dapat masuk. Salah satu terowongan di tingkat ketiga Derinkuyu diyakini terhubung ke kota bawah tanah terdekat dari Kaymakli yang jaraknya  5 km. Hingga sekarang belum bisa dilakukan uji karbonat terhadap batu yang ada di dalam gua, sehingga sulit untuk mengungkapkan usia dari kota bawah tanag Derinkuyu. Secara keseluruhan luas kota kuno bawah tanah yang ada di Cappadocia sangat luas. Hasil scanning geo radiasi menunjukkan luasnya sekitar 65 kali lapangan sepak bola.

Kehidupan Kuno Di Padang Gurun Sahara

Sebuah kota kuno yang bernama Djado pernah berdiri di padang gurun Sahara yang sekarang ini terletak di negara Negeria bagian utara. Kota ini telah ada sejak 800 – 1000 tahun dan berada di jalur perdagangan ke Libya. Mungkin sulit percaya bahwa di padang gurun sahara yang kering pernah ada kehidupan yang maju. Jika didasarkan pada bukti onsiderable bahwa 60.000 tahun yang lalu, Gurun Sahara yang sepi ini telah dihuni manusia.

Pada awalnya daerah Sahara merupakan padang rumput yang subur. Pada 7.000 SM, penduduknya mendirikan pemukiman besar, membuat tembikar serta mengembalakan ternak yaitu domba dan kambing.  Sapi mulai diperkenalkan di pusat Sahara yaitu Ahagggar atau Agadez pada 4.000 SM -3.500 SM. Bukti ini dapat ditemukan di lukisan batu yang ada di Mountains Air.

Sahara mulai menjadi kering setelah 2.000 SM dimana bagian Nigeria Utara menjadi gurun seperti sekarang ini. Pemukiman dan jalur perdagangannya mengandalkan pasokan air yang bersumber dari Kaouarad yang terletak di tepi Danau Chad. Pada awalnya Afrika Utara memiliki iklim yang subur selama era subpluvial. 

Dulu di Sahara terdapat ekosistem savana dengan gajah, jerapah, dan padang rumput lain serta hewan hutan. 
Sebuah studi yang dilakukan UNESCO pada tahun 2002 menyimpulkan bahwa di Nigeria bagian Timur, aktivitas peleburan besi dan tembaga di Termit telah dilakukan sejak 1500 SM.  Temuan ini menjadi sangat penting untuka sejarah Nigeria dan sejarah difusi teknologi pengerjaan logam pada Zaman Besi di semua sub-Sahara Afrika. 

Surat Kabar Kuno Acta Diurna Romawi

Sebagai sebuah bangsa yang besar, Romawi tidak hanya terkenal karena memiliki militernya yang baik tetapi juga berbagai inovasi yang ditemukan. Kedidiplinan bangsa Romawi membuat mereka mulai melakukan publikasi beritas untuk menyampaikan berbagai kabar. Kekaisara Roma memang telah memiliki sistem yang dapat dikatakan canggih untuk mengedarkan berita yang ditulis.

Masyarakat modern menyebut kegiatan ini sebagai pra-koran. Bangsa Romawi kuno telah memiliki surat kabar atau koran dalam bentuk sederhana. Koran kuno ini disebut Acta Diurna yang berarti peristiwa harian. Berita ditulis di papan bercat putih yang ditempelkan di tempat umum.

Dalam bahasa lati, Acta Diurna bermaka Harian Kisah atau kadang diterjemahkan sebagai Laporan Harian Umum. Terbit setiap hari dan merupakan bagian pemberitahuan resmi Kekaisaran Romawi atau dapat dikatakan semacam lembaran harian. Acta Diurna ditulis atau diukir di atas batu atau logam dan disajikan di papan pesan yang ada di tempat umum. Kadang disebut hanya Acta atau Diurna atau kadang-kadang Acta Popidi atau Acta Publica.

Bentuk pertama Acta Diurna muncul sekitar 131 SM selama Republik Romawi. Kemudian isinya diperluas ke pemberitahuan publik dan pengumuman dan informasi penting lainnya seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Setelah beberapa hari, pemberitahuan lama diturunkan dan diarsipkan (meskipun tidak ada salinan utuh telah bertahan sampai hari ini).

Pada perkembangannya Acta Diurna biasanya berisi tentang berita pernikahan, kelahiran, kematian, kejahatan, uang kas dari provinsi, biaya pasokan gandum, gerakan dan acara di keluarga kerajaan, gosip dari orang kaya dan terkenal, acara gladiator, berita politik militer dan serta beberapa kisah-kisah kemanusiaan (anjing yang hilang menemukan jalan pulang) dan pembacaan astrologi. Pada tahun 59 SM, Julius Caesar secara resmi melegalkan Acta Diurna dan memerintahkan agar Acta Diurna dipasang di pasar, di pintu kuil dan di semua tempat umum.

Publikasi milik Kekaisaran Romawi ini paling tidak bertahan hingga 222 M. Pada periode tersebut beritanya  dipenuhi dengan berita tentang mata pelajaran seperti kejadian politik, uji coba, skandal, kampanye militer dan eksekusi. Kadang-kadang ahli Taurat membuat salinan dari Acta Diurna dan mengirinya ke gubernur untuk informasi. Kemudian kaisar juga menggunakan Acta Diurna untuk mengumumkan keputusan dan peristiwa pengadilan kerajaan atau senator. Sementara Tacitus dan Suetonius rupanya menggunakan Acta Diurna ini sebagai sumber informasi mengenai kaisar awal dalam sejarah Kekaisaran Roma. Publikasi dari Acta Diurna berhenti ketika kursi kaisar dipindahkan ke Konstantinopel. Wartawan Acta Diurna ditunjuk oleh negara dan mereka disebut "actuarii”. Tugasnya mengumpulkan informasi tentang berbagai acara mulai dari perang dan keputusan hukum, kelahiran, kematian, dan perkawinan. 

Dunia Kedokteran Pada Masa Kuno

Hidup pada masa lampau penuh akan bahaya terutama kondisi kesehatan. Perang, penyakit, kelaparan, dan melahirkan merupakan beberapa contoh sulitnya kehidupan pada zaman dulu. Akibatnya rata-rata usia kehidupan orang-orang pada masa itu lebih rendah dari masa sekarang. Kepedulian masyarakat terhadap penyakit masih sangat rendah pada masa itu. Apabila ada yang sakit, mereka pergi ke tempat-tempat yang dianggal suci untuk melakukan upacara penyembuhan. Demikian pula upaya penyembuhan yang dilakukan para tabib juga dihiasi hal spiritual.

Dalam banyak kebudayaan, dewa dianggap memiliki peran dalam kondisi kesehatan manusia. Misalnya Dewa Asklepios dalam mitologi Yunani yang dianggap sebagai dewa kesehatan. Masyarakat membuat kuil-kuil penyembuhan (dapat disebut juga sebagai sanotarium) bagi Dewa Asklepios. Mereka yang sakit rela berjalan berhari-hari untuk mencari penyembuhan di sanotarium kuno milik Dewa Asklepios. Biasanya kuil-kuil ini terletak di daerah terpencil yang memiliki alam indah, seperti di Epidauros (Yunani) dan Pergamon (Turki). Di dalam kuil akan disedikan tempat pemandian, makanan yang sehat, tempat meditasi, dan kamar. Hewan kurban dan persembahan ditaruh di altar dewa sebagai nazar.
Sementara itu resep obat kuno menggunakan tanaman (jamu), bagian tertentu dari binatang dan air. Dalam banyak kasus, ramuan-ramuan obat digunakan dalam upacara ritual sebelum diberikan kepada yang sakit. Hal ini menandakan bahwa orang pada masa itu percaya akan keampuhan dari obat herbal dan supranatural untuk mengobati penyakit.

Mesir Kuno

Imhotep (2667-2648 SM) adalah orang mesir yang menjadi dokter pertama dalam sejarah Mesir. Pembedahan di Mesir telah mulai dilakukan sekitar 2750 SM. Buku “The Kahun Ginekologi Papyrus” (buku kedokteran kuno Mesir) yang ditulus pada 1.800 SM berisikan 34 kasus diagnosis pengobatan bertahan hidup. Sayang kitab tersebut hanya berbentuk potongan (tidak komplit). Lembaga medis masa itu disebut “Rumah Kehidupan” dan telah didirikan sejak Dinasti I Kekaisaran Mesir.
Herodotus mengganbarkan masyarakat Mesir lebih sehat dari pada tentangganya Libya. Padahal kedua daerah memiliki iklim yang sama-sama kering. Meskipun cara pengobatan juga masih menggunakan praktik supranatural, tetapi dunis medis Mesir Kuno telah mulai mengambangkan bidang anatomi, kesehatan masyarakat, dan diagnostik klinis.

Mesopotamia

Teks-teks kedokteran Babilonia telah ada sekitar 1000 tahun yang lalu. Tulisan medis terua Babilonia adalah “Handbook Dignostik” yang ditulis oleh Esagil Kin Apli (sesorang yang dianggap dokter masa itu) dari Borsippa. Buku ini ditulis pada masa pemerintahan raja Babelonia, Adad Apla Iddina yang memerintah pada tahun 1069-1046 SM. Seiring dengan perkembangan pengobatan Mesir kuno, Babilonia memperkenalkan konsep diagnosis, prognosis, pemeriksaan fisik, dan resep medis.
Selain itu, “Buku Pegangan Diagnostik” memperkenalkan metode terapi dan etiologi dan penggunaan empirisme, logika dan rasionalitas dalam diagnosis, prognosis dan terapi. Teks berisi daftar gejala medis dan pengamatan empiris secara rinci ditulis bersama dengan aturan logika yang digunakan dalam menggabungkan gejala pada pengamatam tubuh pasien dengan diagnosis dan prognosis.

India

Atharvaveda, teks suci agama Hindu yang berasal dari awal Zaman Besi, adalah teks India pertama yang menyangkut tentang obat-obatan, seperti obat dari Timur Dekat Kuno yang berdasarkan konsep pengusiran setan dan sihir. Atharvaveda juga mengandung resep herbal untuk berbagai penyakit. Penggunaan herbal untuk mengobati penyakit merupakan sebagian besar pembahasan dalam Kitab Ayurveda.
Pada 1000 SM, setelah kemunculan periode Weda, sistem pengobatan tradisional India mulai dikenal sebagai Ayurveda, yang berarti "pengetahuan lengkap untuk umur panjang".
Dua teks yang paling terkenal milik padepokan Charaka dan Sushruta. Keduanya muncul pada 600 SM. Fondasi awal Ayurveda dibangun pada sintesis praktek herbal tradisional bersama-sama dengan penambahan besar konseptualisasi teoritis, nosologies baru dan terapi baru yang mucul pada sekitar 400 SM.  Kemudian pengobatan di India juga dipengaruhi oleh ajaran Budha.
Kitab kuno Ayurvedic menyebutkan delapan cabang kedokteran: kāyācikitsā (penyakit), śalyacikitsā (operasi termasuk anatomi), śālākyacikitsā (mata, telinga, hidung, dan penyakit tenggorokan), kaumārabhṛtya (pediatri), bhutavidya (roh obat), dan Agada tantra (toksikologi), rasayana (ilmu peremajaan), dan Vajikarana (aphrodisiacs, terutama untuk laki-laki). Terlepas pembelajaran ini, siswa dari Ayurveda diharapkan untuk mengetahui sepuluh seni yang sangat diperlukan dalam penyusunan dan penerapan obat yaitu distilasi, keterampilan operasi, memasak, hortikultura, metalurgi, pembuatan gula, farmasi, analisis dan pemisahan mineral, peracikan logam, dan persiapan alkalis.

Yunani

Yunani kuno, seperti dengan Roma Kuno dan Mesir Kuno, memainkan peran penting dalam sejarah medis. Yang paling terkenal dari semua dokter Yunani Kuno adalah Hippocrates. Pada 1200 SM, Yunani Kuno berkembang di segala bidang baik perdagangan, pertanian, militer, pelayaran, dll. Pengetahuan mereka tentang obat dikembangkan sesuai kondisi tersebut.
Dewa mendominasi kehidupan orang-orang Yunani. Kejadian alam dijelaskan karena kekuatan dewa. Meskipun demikian dunia media Yunani Kuno tidak sepenuhnya didasarkan pada dewa, mereka mulai mencoba mencari penjelasan alami mengapa seseorang mendapat sakit dan meninggal.
Orang-orang Yunani telah belajar kedokteran 1000 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus. Dalam 'Iliad' oleh Homer, tentara yang terluka dirawat oleh dokter dan dalam sebuah kisah pemimpin Yunani yang bernama Menelaus, dirawat karena luka panah di lengan oleh dokter di Machaon.
Namun, tidak semua orang Yunani Kuno pergi ke dokter ketika sakit. Masih banyak dari mereka yang percaya akan para dewa. Kuil Dewa Apollo yang dianggap sebagai penyembuh berada di Delphi dibangun pada abad ke 6 SM. Kemudian banyak mayarakat Yunani kuno beralih ke Dewa Asclepios untuk meminta bantuan penyembuhan. Tempat yang disebut Asclepeia dibangun bagi mereka dalam kesehatan yang buruk. Tempat ini seperti kuli dan di sini orang datang untuk mandi, tidur dan bermeditasi. Kaum miskin juga diizinkan untuk mengemis uang di bangunan ini. Mereka yang pergi ke asclepeias diharapkan untuk meninggalkan persembahan kepada Asclepios. Sistem kuil ini dijalankan oleh para imam. Pasien di Asclepeias didorong untuk tidur karena diyakini bahwa selama tidur mereka akan dikunjungi oleh Dewa Asclepios dan dua putrinya, Panacea dan Hygeia. Kunjungan ketiganya ini diharapkan untuk menyembuhkan semua penyakit.

Romawi

Gladiator sering terluka bahkan kadang-kadang luka parah. Para dokter harus memperlakukan mereka dengan baik dan belajar tentang tubuh manusia. Galen (200/216-129 SM), merupakan seorang dokter Yunani terkemuka mulai membedah hewan untuk melanjutkan penelitiannya. Galen percaya bahwa monyet yang berjalan seperti manusia, dengan dua kaki, kemungkinan besar akan memberikan para ilmuwan npengetahuan yang dapat diterapkan pada manusia.
Galen, yang pindah dari Yunani ke Roma pada 162 SM, menjadi seorang ahli anatomi manusia. Dia adalah seorang dosen populer dan menjadi dokter paling terkenal dan dicari. Konsul Flavius ​​Boethius, salah satu pasiennya, memperkenalkannya kepada pengadilan kekaisaran dan ia segera menjadi dokter pribadi Kaisar Marcus Aurelius '.
Setelah Galen tidak lagi membedah hewan, ia membedah mayat, seperti mayat seorang penjahat yang digantung, serta beberapa badan yang digali di kuburan korban banjir. Meski begitu, ia membuat beberapa kesalahan ketika menganalisis bagaimana tubuh manusia bekerja.
Galen menulis beberapa buku medis, di mana ia memaparkan pengetahuan yang sangat baik dari struktur tulang. Dia menyadari bahwa otak memberitahu otot apa yang harus dilakukan ketika ia memotong sumsum tulang belakang dari babi.
Teori medis dulu kadang-kadang sangat dekat dengan teori yang kita kenal sekarang. Marcus Terentius Varro (116 SM - 27 SM) menyakini bahwa penyakit disebabkan oleh miniatur makhluk terlalu kecil untuk mata telanjang dapat melihatnya (bakteri dan virus yang terlalu kecil untuk dilihat). Sementara yang lainnya “masih menatap langit”, Crinas dari Massilia yakin bahwa penyakit disebabkan oleh bintang-bintang. Lucius Junius Moderatus Columella (4M- sekitar tahun 70 M), seorang penulis pertanian, penyakit berasal dari uap rawa. Banyak dari keyakinan ini berlaku sampai beberapa ratus tahun kemudian.

Kota Kuno Yerevan Di Arafat

Yerevan merupakan nama sebuah kota kuno yang ada di daerah Ararat. Merupakan bekas ibukota sekaligus kota terbesar di Kerajaan Armenia. Hingga sekarang Yerevan dinobatkan sebagai salah satu kota kuno yang pernah memiliki penduduk terbanyak di dunia.

Berdasarkan prasasti yang ditemukan pada tahun 1950, kota ini didirkan oleh Raja Argishti. Nama pertama kota ini adalah Erebuni. Prasasti tersebut bertuliskan “Dengan kebesaran Allah Khaldi, Argishti, putra Menua, membangun benteng perkasa ini dan memberitakannya Erebuni untuk kemuliaan Biainili (Urartu) dan untuk menanamkan rasa takut di kalangan musuh raja. Argishti mengatakan: Tanah sebelumnya adalah gurun dan menjadi karya besar yang saya capai atasnya. Dengan kebesaran Khaldi, Argishti, putra Menua, adalah raja perkasa, raja Biainili, dan penguasa Tushpa. "

Hal yang membuat kota ini nampak menarik dan misterius adalah adanya rumor bahwa ketika bantera Nuh mendarat di Masis dan saat Nuh keluar dari bahteranya, ia langsung melihat kota Yerevan. Dalam bahasa Armenia Yerevan atau "yereval" (երեւալ) memiliki arti  "untuk dilihat."

Diyakini bahwa wilayah Yerevan telah ditinggali manusia sejak 4000 tahun SM. Berdasarkan penggalian arkeologi diketahui bahwa Raja Argishti I dari Kerajaan Urartian (berkuasa pada 786 SM – 764 SM) telah membangun sebuah benteng militer “Benteng Erebuni” pada 782 SM di lokasi kota Yerevan dan benteng tersebut menjadi cikal bakal perkembangan kota ini. Tujuan dari pembangunan benteng ini adalah untuk melindungi kota dari serangan dari bangsa Kaukasus Utara.

Pada periode kejayaannya, kota ini telah membangun saluran irigasi dan waduk buatan. Namun demikian, kejayaannya tidak berlangsung lama. Pada abad ke-5 dan 6 SM, kerajaan Urartu diserbu oleh Raja Persia, Darius I (522 – 486 SM). Untuk mempermudah melakukan kontrol pemerintahan, maka Raja Darius I membagi wilayah kerajaanya menjad 20 satrapies dan pusat satrapies ke 18 adalah Erebuni-Yerevan.
Periode antara abad ke- 3 dan 4 SM, kota ini dikenal sebagai Yerevan Dark Ages, karena tidak adanya bukti historis yang ditemukan terhadap kota ini. Pada tahun 658 M, kota Yerevan dikuasai oleh orang – orang Arab dan kemudian dikuasai oleh bangsa Seljuk. Sejak abad ke- 7 M, kota ini menjadi rute kafilah antara Eropa dan India. Secara khusus kota ini mulai dipanggil Yerevan mulai abad ke-7 M dan menjadi ibukota Kerajaan Armenia.

Pada abad ke-9 M hingga abad ke-11 M, Kerajaan Armenia diperintah oleh Dinasti Bagratuni. Selama periode ini Yerevan adalah bagian dari Bagratuni Raya. Tahun 1387 Yerevan diambil dan dijarah oleh Tamerlane, penakluk Asia Tengah yang memproklamirkan dirinya sebagai “Pedang Islam”.

 Pada saat kota Yerevan menjadi pusat administrasi Mongol Khanate, kota ini dinamakan Ilkhanate. Yerevan memberikan makna strategis karena Persia dan Ottoman tak henti-hentinya berjuang dan berperang untuk dapat berkuasa ata kota ini. Selama masa pemerintahan Shah Abbas I (1587-1619), khususnya pada 1604, puluhan ribu orang Armenia dideportasi ke Persia. Di antara mereka terdapat warga Yerevan. Deportasi ini menyebabkan penurunan drastis jumlah penduduk Armenia di Yerevan. 

Kota Kuno Terpopuler Di Kroasia

Zadar adalah sebuah kota kuno di pelabuhan Mediterania, lebih tepatnya di pantai Adriatik. Kota tua ini, dikelilingi oleh dinding dan menara di semenanjung, dengan bagian kota dihubungkan oleh jembatan yang menjadi simbol kota. Kota ini dibangun berdasarkan prinsip arsitektur kota Romawi.

Wilayah Zadar telah dihuni sejak zaman prasejarah awal. Berbagai temuan arkeologi mengkonfirmasi keberadaan kehidupan dini Paleolitik. Suku Illyrian Liburnians yang berasal dari semenanjung Balkan diperkirakan telah menghuni Zadar dari abad ke-7 SM. Selama abad ke-2 SM, Romawi menjadikan Zadar sebagai koloninya . Selama kekuasaan Romawi, Zadar mulai menyerupai kota urban yang sesungguhnya dengan jaringan jalan, alun-alun, dan kuil. Sisa - sisa monumen tersebut masih terpelihara sampai hari ini.

Zadar memiliki catatan sejarah yang panjang. Kota ini telah hidup selama lebih dari 3000 tahun dengan kondisi dinamis. Berkali – kali kota ini  telah hancur dan dijarah. Tetapi kota ini tetap tangguh sehingga dapat kembali bangkit. Dari setiap reruntuhan, kota ini bahkan dibangun lebih indah dan lebih kuat dari sebelumnya.

Selama periode awal abad pertengahan, invasi bangsa barbar membuat kehidupan kota Zadar menjadi stagnan. Pada abad ke-7 M Zadar menjadi ibukota wilayah Bizantium Dalmatia. Pada periode ini agama Kristen, perlahan-lahan menyebar di daerah Zadar. Hal ini berdampak pada arsitektur kota dan seni. Dalam waktu yang sama Gereja besar pertama dibangun di Zadar yaitu  Gereja Holy Trinity yang saat ini akrab disebut sebagai Gereja St. Donatus dan merupakan simbol yang paling dikenal dari kota ini.
Pada abad ke-10 M, bangsa Kroasia mulai mendiami daerah Zadar. Beberapa gereja Romawi dari periode terdahulu tetap dapat terpelihara dengan baik sampai hari ini (St. Mary, St. Grisogone dan Katedral St. Anastasia). Meskipun periode abad pertengahan akhir adalah masa penuh pergolakan dengan pengepungan dan kehancuran, tetapi periode ini dianggap sebagai era keemasan Zadar. Kota ini memantapkan dirinya sebagai salah satu pusat pedagang yang paling penting dari pantai Adriatik. Pada era renaisans Zadar berada di bawah pemerintahan Venesia dan tetap seperti itu hingga akhir abad ke-18 M. Pada periode ini invasi Turki mengubah kota menjadi benteng yang kuat dan secara drastis mengubah penampilan kota.

Setelah Perang Dunia I,  Zadar berada di bawah pemerintahan Italia dan tetap seperti itu sampai pertengahan abad ke-20 M, ketika negara Yugoslavia dibentuk. Sejak saat itu kota Zadar dianggap bagian dari Kroasia hingga sampai hari ini. Zadar menderita kehancuran yang signifikan selama Perang Dunia II dan dalam Perang kemerdekaan Kroasia, banyak monumen bersejarah hancur. Hari ini Zadar sudah dibangun kembali dan terlihat lebih indah dari sebelumnya serta menetapkan dirinya sebagai salah satu kota kuno serta tujuan wisata paling populer di Kroasia dan Eropa.

Kota Kelahiran Hercules

Thebes merupakan nama sebuah kota kuno yang ada di pusat Yunani kuno (-Mesir Kuno juga memiliki kota yang bernama Thebes-). Kota yang dihuni sejak 3000 SM telah menjadi pusat Mycenaean sampai akhir zaman Perunggu serta menjadi salah satu kota negara yang kuat pada periode Klasik. Kota ini juga dikenal dengan nama Kadmeia. Banyak kisah – kisah Yunani kuno yang berhubungan erat dengan kota ini seperti perang Persia dan Peloponnesos. Puncaknya pada abad ke-4 SM, kota ini menjadi kota terkuat di Yunani.


Dalam mitologi Yunani, Thebes didirikan oleh Kadmos, putera Agenor, saudar Europa, dan nenek moyang Oedipus. Setelah membunuh ular raksasa atau naga, Ares (dewa perang Yunani) dikirim untuk untuk melindungi Areia Spring. Sementara itu Athena diperintahkan Kadmos untuk menabur gigi ular tadi ke dalam tanah yang kemudian memunculkan prajurit di kota Thebes. Menurut mitos pan Hellenik, Thebes merupakan tempat kelahiran pahlawan Hercules. Selain itu juga tempat di mana Sphinx, makhluk mitos dengan kepala seorang wanita dan tubuh singa bersayap, muncul untuk meneror penduduk. Makhluk ini diidentifikasikan mungkin memiliki dua, tiga, atau empat kaki, bisa bergerak di udara, air, dan di darat. Tetapi Oedipus berhasil membunuhnya dan melemparkannya dari acropolis Thebes.
Cerita mitologi lain yang terhubung dengan kota ini adalah ekspedisi legendaris The Seven Against Thebes yang terjadi sebelum Perang Troya. Sebuah perang telah dimulai antara kedua anak Oedipus, Polyneikes telah diasingkan oleh saudaranya, Eteokles. Kemudian Polyneikes meminta bantuan Achaea dari Peloponnese untuk kembali mengambil kota. Namun, ketika mendaki dinding Thebes, enam dari tujuh juara, termasuk Polyneikes, tewas.

Bagaimana aktivitas kehidupan penduduk Thebes?. Sejak 2500 SM penduduknya telah memproduksi wol dan menyimpan makanan, serta membuat alat – alat perunggu pertukangan. Aktivitas perdagangan baik lokal dan lebih jauh dilakukan untuk barang seperti emas, perak, dan gading.

Pada 1700 SM pemukiman kota menjadi lebih padat, dan selama abad ke-14 SM kota ini mencapai puncaknya pada Zaman Perunggu selama periode Mycenaean. Terdapat bukti bangunan megah, benteng besar, lokakarya (terutama untuk perhiasan), dan saluran air batu yang dibangun dengan pipa terakota. Kota ini merupakan pusat perdagangan penting untuk minyak zaitun, kayu, ternak, wol, dan barang - barang kulit. Temuan guci sanggur di di Kreta menunjukkan bahwa adanya kontak dagang yang tersebar di seluruh daerah Aegea. Dari abad ke-13 SM terdapat peninggalan ruang makam dengan bangku-bangku dan saluran air, beberapa dengan lukisan dinding dan benda-benda kuburan berharga seperti perhiasan emas dan senjata perunggu. Akhir periode ini ditandai dengan kehancuran akibat gempa dan api.

Setelah Abad Kegelapan di Yunani pada 1100 SM hingga 700 SM, Thebes kembali muncul sebagai negara-kota Yunani yang berpengaruh dan selama empat abad berikutnya kota ini menjadi saingan Athena dan Sparta untuk dominasi regional. Pada 480 SM Thebes memihak Persia saat Xerxes menginvasi Yunani, dan kota ini adalah protagonis utama dalam Perang Peloponnesia pada 431 SM - 404 SM. Thebes berpihak kepada Sparta melawan Athena.