Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Nov 13, 2018

Konsili Ekumenis

Konsili Ekumenis dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur adalah pertemuan seluruh uskup keseluruhan Gereja untuk membahas dan mengambil keputusan yang menyangkut doktrin Gereja dan aturan praktisnya. Kata ekumene berasal dari bahasa Yunani Οικουμένη (oikumene), secara harfiah berarti 'didiami' atau 'dihuni', berasal dari istilah yang dipakai untuk menunjukkan wilayah Kekaisaran Romawi, karena konsili-konsili yang pertama dilaksanakan dalam teritori Kekaisaran Romawi. Kata ekumene selanjutnya mengalami perluasan makna, menunjukkan seluruh tempat yang dihuni oleh umat manusia, dengan kata lain, seluruh dunia.

"Keseluruhan Gereja" di sini dipahami oleh kebanyakan orang Kristen Ortodoks Timur berarti mencakup seluruh yurisdiksi Ortodoks Timur dalam persekutuan penuh satu sama lain. Ini tidak mencakup Gereja Katolik Roma atau para anggotanya dari Ritus Timur. Segelintir kaum Ortodoks menganggap sebuah konsili sepenuhnya ekumenis hanya apabila konsili itu melibatkan semua patriarkhat kuno, termasuk Roma. Namun ini bukan pandangan arus utama Ortodoks. Demikian pula, Gereja Katolik Roma memahami keseluruhan Gereja dalam arti hanya mereka yang berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik (Roma). Lagi-lagi, beberapa orang Katolik menganggap bahwa sebuah konsili ekumenis harus melibatkan Gereja-gereja Timur, dalam pengertian selengkap-lengkapnya. Seperti yang sering dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, Gereja perlu bernapas "dengan kedua paru-parunya" (namun dia tidak merujuk kepada Gereja-gereja Ritus Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Roma). Pertemuan-pertemuan yang lebih bersifat setempat disebut "sinode", namun perbedaan antara sinode dengan konsili tidak begitu jelas dan tajam. Namun, kedua Gereja ini, dan banyak Gereja Protestan, memang mengakui keabsahan "Ketujuh Konsili Ekumenis", kecuali Konsili Quinisext yang ditolak oleh Katolik namun dianggap sebagai bagian dari Konsili ke-6 oleh Ortodoks.

Kata Yunani sinode (σύνοδος) berasal dari kata "sun" (bersama-sama) dan "hodos" (jalan), jadi sinode berarti berkumpulnya bersama-sama sejumlah orang yang memiliki suatu kesamaan, dalam hal ini para uskup Kristen.

Kisah para Rasul mencatat Sidang Yerusalem, yang membahas ketegangan antara mempertahankan praktik-praktik Yahudi dalam komunitas Kristen perdana dan orang-orang Kristen baru yang berasal dari latar belakang non-Yahudi. Meskipun keputusan-keputusannya diterima oleh semua orang Kristen dan tampaknya sesuai dengan sejumlah definisi di kemudian hari tentang konsili ekumenis, namun tak satu pun Gereja Kristen yang mencantumkannya dalam kategori konsili ekumenis mereka.

Dokumen-dokumen konsili
Sejak permulaan Konsili Gereja adalah sebuah kegiatan birokratis. Dokumen-dokumen tertulis diedarkan, pidato-pidato disampaikan dan ditanggapi, diadakan pengambilan suara dan dokumen-dokumen final diterbitkan dan diedarkan. Sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang keyakinan-keyakinan sesat berasal dari dokumen-dokumen yang dikutip dalam konsili untuk dibantah, atau sekadar dari kesimpulan-kesimpulan yang didasarkan pada bantahan-bantahan tersebut. Untuk semua Konsili Kanon-kanon (Yunani κανονες, "kanones", yaitu "aturan-aturan") diterbitkan dan bertahan. Dalam kasus-kasus tertentu, dokumentasi lainnya pun bertahan. Studi tentang kanon-kanon dari Konsili Gereja merupakan dasar dari pengembangan hukum kanon, khususnya meluruskan kanon-kanon yang tampaknya kontradiktif atau menentukan prioritas di antaranya. Kanon terdiri atas pernyataan-pernyataan doktriner dan langkah-langkah disipliner kebanyakan Konsili Gereja dan sinode lokal membahas masalah-masalah disipliner yang mendesak serta kesulitan-kesulitan besar menyangkut doktrin. Ortodoks Timur biasanya memandang kanon-kanon yang semata-mata bersifat doktriner sebagai dogmatika dan berlaku bagi seluruh Gereja pada segala masa, sementara kanon-kanon disipliner hanya merupakan penerapan dogma-dogma tersebut pada suatu masa dan tempat tertentu; kanon-kanon ini dapat diterapkan dalam situasi-situasi lain, dapat pula tidak diterapkan.

Ketujuh Konsili Ekumenis

1. Konsili Nicea Pertama, (325); menolak Arianisme, menerima Pengakuan Iman Nicea. Konsili ini dan semua konsili berikutnya sama sekali tidak diakui oleh Gereja-gereja nontrinitarian Arian, Unitarian, dan Saksi-saksi Yehuwa.
2. Konsili Konstantinopel Pertama, (381); merevisi Pengakuan Iman Nicea ke dalam bentuknya yang sekarang seperti yang digunakan oleh Gereja-gereja Timur dan Ortodoks Oriental dan melarang perubahan lebih lanjut terhadap Pengakuan Iman ini tanpa persetujuan dari sebuah Konsili Ekumenis.
3. Konsili Efesus, (431); menolak Nestorianisme, menyatakan Perawan Maria sebagai Bunda Allah (Yunani, Η Θεοτόκος). Konsili ini dan semua konsili berikutnya tidak diakui oleh Gereja Asiria.[1]
4. Konsili Khalsedon, (451); menolak doktrin Eutikus tentang monofisitisme, mendeskripsikan dan menekankan dua hakikat Kristus, manusiawi dan Ilahi; menerima Pengakuan Iman Khalsedon. Konsili ini dan semua konsili berikutnya tidak diakui oleh Persekutuan Ortodoks Oriental.
5. Konsili Konstantinopel Kedua, (553); mengukuhkan kembali keputusan-keputusan dan doktrin-doktrin yang dijelaskan oleh Konsili sebelumnya, mengutuk tulisan-tulisan baru Arian, Nestorian, dan Monofisit.
6. Konsili Konstantinopel Ketiga, (680–681); menolak Monothelitisme, mengukuhkan bahwa Kristus mempunyai kehendak manusiawi dan Ilahi.
Konsili Quinisext (= Kelima dan Keenam) atau Konsili di Trullo, (692); umumnya sebuah konsili administrative yang mengangkat sejumlah kanon lokal ke dalam status ekumenis dan menetapkan prinsip-prinsip disiplin para pejabat gerejawi. Konsili ini tidak dianggap sebagai Konsili yang lengkap karena tidak menentukan masalah-masalah doktrin. Konsili ini diterima oleh Gereja Ortodoks Timur sebagai bagian dari Konsili Ekumenis VI, tetapi hal itu ditolak oleh Katolik Roma.
7. Konsili Nicea Kedua, (787); pemulihan penghormatan terhadap ikon-ikon dan mengakhiri ikonoklasme pertama (Ditolak oleh banyak denominasi Protestan, yang sebaliknya lebih memilih Konsili Konstantinopel 754, yang mengutuk penghormatan terhadap ikon-ikon.)). Dalam konsili ini, integritas kemanusiaan Yesus Kristus kembali ditegaskan dengan bukti bahwa Ia dapat dilukis dalam ikon karena Ia benar-benar menjadi manusia yang dapat dilihat.[2].
Konsili no. 8 dan no. 9
no. 8 dan no. 9 untuk Gereja Katolik Roma
8 (KR). Konsili Konstantinopel Keempat, (869–870); menggulingkan Patriarkh Photios dari Konstantinopel (yang belakangan ditetapkan sebagai santo oleh Gereja Ortodoks) karena sejumlah penyimpangan yang terjadi dalam pengangkatannya sebagai patriarkh sedemikian rupa sehingga pendahulunya, St. Ignatius tidak secara sah disingkirkan. Penyingkiran ini tidak dapat diterima oleh Gereja Ortodoks Timur pada masa itu, tetapi terjadi dalam waktu beberapa tahun saja. Betapapun juga, setelah kematian St. Ignatius, Photios diangkat kembali sebagai Patriarkh dan berdamai dengan Kepausan.
Konsili Sutri, (1046); memecahkan pertikaian tentang kepausan.
9 (KR) Konsili Lateran Pertama, (1123); membahas salah satu masalah yang mendesak pada masa itu, persoalan hak-hak dari Gereja Katolik dan hak-hak Kaisar Romawi Suci sehubungan dengan pengangkatan uskup.
no. 8 dan no. 9 untuk sejumlah Ortodoks Timur
Dua konsili berikutnya dianggap ekumenis oleh sebagian pihak di kalangan Gereja Ortodoks tetapi tidak oleh orang Kristen Ortodoks Timur lainnya, yang sebaliknya menganggap mereka sebagai konsili lokal yang penting . Namun mereka diakui secara universal oleh semua Gereja Ortodok meskipun ekumenisitasnya tidak diakui.

8 (OT). Konsili Konstantinopel Keempat, (879–880); memulihkan St. Photius ke Takhta Sucinya di Konstantinopel dan mengutuk siapapun yang mengubah Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
9 (OT). Konsili Konstantinopel Kelima, (1341–1351); mengukuhkan teologi hesychastic menurut St. Gregorius Palamas dan mengutuk filsuf Barlaam dari Kalabria yang dianggap kebarat-baratan .
Sinode Yerusalem, (1672); mendefinisikan ortodoksi dalam hubungannya dengan Gereja Katolik Roma dan Protestanisme, mendefinisikan kanon Ortodoks Yunani.
Konsili no. 10 hingga no. 21 untuk Gereja Katolik Roma
10. Konsili Lateran Kedua, (1139); kebanyakan mengulangi Konsili Lateran Pertama. Pernikahan rohaniwan dinyatakan tidak sah, pakaian rohaniwan diatur, serangan-serangan terhadap kaum rohaniwan diganjar dengan ekskomunikasi
11. Konsili Lateran Ketiga, (1179); membatasi mereka yang berhak memilih paus hanya para kardinal, mengutuk simoni, melarang pengangkatan siapapun menjadi uskup sebelum berusia 30 tahun.
12. Konsili Lateran Keempat, (1215); membahas transubstansiasi, keutamaan Paus dan perilaku kaum rohaniwan. Juga memutuskan bahwa orang-orang Yahudi dan Muslim harus mengenakan pakaian khusus untuk membedakan mereka dari orang-orang Kristen.
13. Konsili Lyons Pertama, (1245); mengesahkan topi merah untuk para kardinal, dan pajak untuk Tanah Suci
14. Konsili Lyons Kedua, (1274); berusaha mempersatukan Gereja dengan Gereja-gereja Timur, menyetujui Ordo Fransiskan dan Dominikan, persepuluhan untuk mendukung perang salib, prosedur konklaf.
15. Konsili Wina, (1311–1312); membubarkan Ksatria Templar
Konsili Pisa, (1409) tidak diberikan nomor urut karena tidak dihimpunkan oleh seorang paus; konsili ini berusaha membatalkan skisma kepausan yang telah menciptakan Kepausan Avignon.
16. Konsili Konstanz, (1414–1418); memecahkan pertikaian tentang kepausan.
Konsili Siena, (1423–1424) dicabut dari daftar karena belakangan dicap sesat; merupakan puncak konsiliarisme, menekankan kepemimpinan para uskup yang berkumpul dalam Konsili.
17. Konsili Basel, Ferrara dan Firenze, (1431–1445); rekonsiliasi dengan Gereja Ortodoks, namun tidak diterima pada tahun-tahun berikutnya oleh orang-orang Kristen Timur. Dalam Konsili ini, juga dicapai kesatuan-kesatuan lain dengan berbagai Gereja Timur.
18. Konsili Lateran Kelima, (1512–1517); mengusahakan pembaruan Gereja.
19. Konsili Trente, (1545–1563, terputus-putus); tanggapan terhadap tantangan-tantangan dari Calvinisme dan Lutheranisme, memaksakan penyeragaman liturgi dalam Ritus Roma ("Misa Trente"), dengan jelas menetapkan kanon.
20. Konsili Vatikan Pertama, 1870; memperjelas doktrin infalibilitas kepausan; ditolak oleh Gereja Katolik Lama
21. Konsili Vatikan Kedua, (1962–1965); pembaruan terhadap liturgi Roma "sesuai dengan norma yang murni dari para Bapak Gereja ", dekret-dekret pastoral tentang hakikat Gereja dan hubungannya dengan dunia modern, pemulihan teologi tentang komuni, peningkatan studi Kitab Suci dan Alkitab, kemajuan ekumenis menuju rekonsilias dengan Gereja-gereja lain.
Penerimaan terhadap Konsili
Gereja Katolik Roma: menerima no. 1- no. 7, no. 8(KR), no. 9(KR), no. 10- no. 21
Baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Ortodoks Timur mengakui tujuh Konsili pada tahun-tahun permulaan Gereja, tetapi Gereja Katolik juga mengakui empat belas konsili yang dihimpunkan pada tahun-tahun kemudian oleh Paus, yang otoritasnya ditolak oleh Gereja Ortodoks Timur karena mereka menganggap Roma saat ini berada di dalam skisma. Status dari konsili-konsili ini di hadapan rekonsiliasi Katolik-Ortodoks akan tergantung pada apakah orang menerima eklesiologi Katolik Roma (keutamaan paus) atau eklesiologi Ortodoks (kerekanan dari otosefalus – atau pimpinan – Gereja-gereja). Dalam kasus yang pertama, Konsili-konsili yang lainnya akan mendapatkan status ekumenis. Dalam kasus yang belakangan, mereka akan dianggap sebagai sinode-sinode lokal yang tidak memiliki otoritas di antara Gereja-gereja otosefalus yang lainnya.

Tujuh konsili pertama dihimpunkan oleh kaisar (mula-mula oleh Kaisar Roma Kristen dan belakangan yang disebut Kaisar Bizantium, yaitu Kaisar-kaisar Romawi yang beribu kota di Timur). Kebanyakan sejarahwan sepakat bahwa kaisar-kaisar menghimpunkan Konsili untuk memaksa para uskup Kristen untuk memecahkan masalah-masalah yang memecah-belah dan untuk mencapai konsensus. Mereka berharap bahwa mempertahankan kesatuan di dalam Gereja akan menolong mempertahankan kesatuan wilayah Kekaisaran. Hubungan antara Kepausan dengan keabsahan Konsili-konsili ini merupakan dasar dari banyak pertikaian antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur dan bagi para sejarahwan.

Gereja Ortodoks Timur: menerima no. 1- no. 7; sebagian juga menerima no. 8(OT), no. 9(OT)
Sejauh menyangkut sejumlah Gereja Ortodoks Timur, sejak Konsili Ekumenis Ketujuh tidak ada lagi sinode atau konsili dengan cakupan yang sama dengan Konsili Ekumenis manapun. Rapat-rapat lokal dari para pejabat hierarkhi dinamai "pan-Ortodoks", tetapi semua ini pada umumnya hanyalah sekadar rapat-rapat para pejabat hierarkhi lokal dari yurisdiksi Ortodoks Timur manapun yang menjadi bagian dari masalah lokal yang spesifik. Dari sudut pandangan ini, tidak ada Konsili yang sepenuhnya "pan-Ortodoks" (Ekumenis) sejak 787. Malangnya, penggunaan istilah "pan-Ortodoks" membingungkan bagi mereka yang bukan menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur, dan hal ini membawa kepada kesan-kesan yang keliru bahwa semua ini adalah Konsili Ekumenis ersatz dan bukan semata-mata konsili lokal yang kepadanya para pejabat hierarkhi Ortodoks yang ada di dekatnya, apapun juga yurisdiksinya, diundang.

Yang lainnya, termasuk teolog abad ke-20 Metropolitan Hierotheos (Vlachos) dari Nafpaktos, Rm. John S. Romanides, dan Rm. George Metallinos (kesemuanya berulang-ulang merujuk kepada Konsili Ekumenis" Kedelapan dan Kesembilan), Rm. George Dragas, dan Ensiklik Para Patriarkh Timur 1848 (yang merujuk secara eksplisit kepada "Konsili Ekumenis Kedelapan" dan yang ditandatangani oleh para Patriarkh dari Konstantinopel, Yerusalem, Antiokhia, dan Alexandria serta Sinode-sinode Suci dari ketiga patriarkh yang pertama), menganggap sinode-sinode lainnya di luar Konsili Ekumenis Ketujuh sebagai konsili yang ekumenis. mereka yang menganggap konsili-konsili ini ekumenis seringkali menggambarkan keterbatasan dari Konsili Ekumenis hanya pada yang tujuh itu sebagai akibat dari pengaruh Yesuit di Rusia, sebagian dari apa yang disebut sebagai "Pembuangan Ortodoksi di Barat."

Protestanisme: menerima no. 1-no. 7 dengan catatan
Banyak Gereja Protestan (khususnya Gereja-gereja yang tergolong pada tradisi magisterial, seperti Lutheranisme dan Anglikanisme) menerima ajaran-ajaran dari ketujuh Konsili yang pertama, tetapi tidak mengakui wibawa Konsili itu pada tingkat yang sama seperti yang diberikan oleh Gereja Katolik dan Ortodoks Timur.

Sebagian Gereja Protestan, termasuk sejumlah Gereja fundamentalis dan nontrinitarian, mengutuk Konsili Ekumenis karena alasan-alasan lain. Independensi atau kongregasionalisme di antara kaum Protestan mencakup penolakan terhadap struktur pemerintahan (atau otoritas apapun yang mengikat) di atas jemaat-jemaat lokal. Karena itu ketaatan kepada keputusan-keputusan dari konsili-konsili dianggap semata-mata bersifat suka rela dan Konsili harus dianggap mengikat sejauh bahwa doktrin-doktrin tersebut diambil dari Kitab Suci. Banyak dari Gereja-gereja ini menolak gagasan bahwa ada suatu otoritas lain di luar para penulis Kitab Suci yang dapat secara langsung memimpin orang-orang Kristen lain melalui otoritas ilahi yang asli; setelah Perjanjian Baru, demikian mereka menyatakan, pintu-pintu pewahyuan telah ditutup. Mereka menganggap doktrin-doktrin baru yang bukan berasal dari kanon Kitab Suci yang telah disegel tidak mungkin dan tidak perlu – entah diusulkan oleh Konsili Gereja ataupun oleh nabi-nabi yang lebih baru. Para pendukung Konsili berpendapat bahwa Konsili tidak menciptakan doktrin-doktrin baru melainkan semata-mata menerangi doktrin-doktrin yang sudah ada di dalam Kitab Suci yang telah terlupakan.

Oriental Ortodoksi: menerima no. 1, no. 2, dan no. 3
Persekutuan Ortodoks Oriental hanya menerima Nicea I, Konstantinopel I dan Konsili Efesus.

Gereja Asiria: menerima no. 1, dan no. 2
Gereja Asiria di Timur hanya menerima Konsili Nicea Pertama dan Konsili Konstantinopel Pertama.

Mormonisme: tak menerima satupun
Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir menolak Konsili Ekumenis pada abad-abad pertama karena apa yang mereka anggap sebagai upaya manusia yang sesat tanpa bantuan ilahi untuk memutuskan masalah-masalah doktrin seolah-olah doktrin harus diturunkan melalui perdebatan demokratis atau politik ketimbang melalui pewahyuan. Penghimpunan Konsili seperti itu bahkan dianggap sebagai cukup bukti bahwa Gereja Kristen yang asli telah jatuh ke dalam kemurtadan dan tidak lagi secara langsung dipimpin oleh otoritas ilahi. Mereka menganggap penghimpunan Konsili seperti itu, misalnya, oleh seorang Kaisar Roma, yang belum dibaptiskan (apalagi tidak ditahbiskan) sebagai sebuah tindakan yang absurd dan menegaskan bahwa kaisar-kaisar itu menggunakan Konsili untuk menunjukkan pengaruh mereka dalam membentuk dan melembagakan agama Kristen sesuai dengan selera mereka.

Gereja-gereja Nontrinitarian: tak menerima satupun
Konsili yang pertama dan konsili-konsili yang berikutnya tidak diakui oleh Gereja-gereja nontrinitarian: Arian, Unitarian, Saksi-Saksi Yehuwa dll.

Hubungan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur
Dalam beberapa puluh tahun terakhir banyak teolog Katolik Roma dan bahkan sejumlah Paus telah berbicara tentang ketujuh Konsili pertama sebagai ekumenis dalam pengertian "lengkap dan selayaknya", mendapatkan penerimaan oleh Gereja Timur maupun Barat. Lebih dari itu, Paus Yohanes Paulus II, dalam ensikliknya Ut Unum Sint ("Agar mereka kiranya menjadi satu"), mengundang orang-orang Kristen lainnya untuk membicarakan bagaimana keutamaan Uskup Roma selayaknya diterapkan sejak sekarang. Ia berkata bahwa masa depan mungkin dapat menjadi pembimbing yang lebih baik daripada masa lalu. Dalam cara ini, Uskup Roma memungkinkan pengembangan sebuah eklesiologi yang akan lebih dapat diterima oleh Timur dan Barat, yang akan memungkinkan rekonsiliasi antara Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja Ortodoks dan akan memberikan pemahaman bersama tentang wibawa Konsili yang disebut ekumenis.

Saling ekskomunikasi pada 1054 antara Paus Roma dan Patriarkh Konstantinopel dibatalkan pada 1965 oleh para pengganti mereka pada masa itu. Sementara Gereja-gereja ini kini berusaha menciptakan rekonsiliasi, pemulihan persekutuan yang penuh pun akan membutuhkan waktu.

Demikian pula pada 11 November 1994 dalam pertemuan antara Mar Dinkha IV, Patriarkh Babilonia, Selucia-Ctesiphon dan seluruh wilayah Timur (Chicago, Illinois), pemimpin Asiria atau Gereja "Nestorian", dan Paus Yohanes Paulus II dari Gereja Katolik Roma di Vatikan, ditandatanganilah sebuah Pernyataan Kristologis Bersama, menjembatani sebuah skisma yang berasal dari Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus. Pemisahan dari Gereja Koptik dari Gereja Katolik yang esa, kudus dan apostolik setelah Konsili Ekumenis Keempat di Khalsedon dibahas dalam sebuah "Deklarasi Bersama antara Paus Paulus VI dan Paus dari Alexandria Shenouda III" di Vatikan pada 10 Mei 1973 dan dalam sebuah "Pernyataan Persetujuan" yang disiapkan oleh "Komisi Bersama untuk Dialog Teologis antara Gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Ortodoks Oriental" di Biara Anba Bishoy di Wadi El-Natroun, Mesir pada 24 Juni 1989.

Konsili Efesus

Konsili Efesus diselenggarakan di Efesus, Asia Kecil, pada tahun 431 oleh Kaisar Theodosius II, cucu dari Theodosius I. Pada Konsili ini, diperkirakan ada 200 uskup yang hadir. Penyelenggaraannya berlangsung dalam suasana panas karena silang pendapat dan tuding-menuding antarpeserta. Konsili ini merupakan Konsili Ekumenis ke-3 dan berkaitan dengan kaum bidaah Nestorianisme.

Nestorianisme menitikberatkan pada hakikat manusiawi Yesus, dengan memperkecil hakikat keilahian-Nya. Konsili ini menolak dan menyatakan sesat ajaran Patriarki Nestorius. Nestorius mengajarkan bahwa Maria, yaitu bunda Yesus, melahirkan seorang manusia, yang disebut Yesus, bukan Allah, Logos (Sang Sabda, Putera Allah). Logos hanya berdiam dalam Kristus, sebagaimana dalam sebuah bait (Oleh karena itu, Kristus hanyalah Theophoros, kata dari Bahasa Yunani untuk "Pembawa Allah"). Konsekuensinya, Maria harus disebut Christotokos, kata Yunani untuk "Bunda Kristus" dan bukan Theotokos, kata Yunani untuk "Bunda Allah." Sebab itulah, nama tersebut menjadi suatu kontroversi Kristologis. Ada pula nilai sejarahnya, mengingat bahwa Efesus adalah kota dari Dewi Artemis (lihat juga dalam Kis.19:28).

Konsili ini menyatakan Yesus adalah satu pribadi, bukan dua "orang" yang terpisah: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, memiliki tubuh dan jiwa yang rasional. Perawan Maria adalah Theotokos, karena dia bukan melahirkan seorang manusia, melainkan melahirkan Allah sebagai seorang manusia. Persatuan kedua hakikat Kristus terjadi sedemikian rupa sehingga yang satu tidak mengganggu yang lainnya (persatuan hipostatik).

Konsili ini juga menyatakan naskah Pengakuan Iman Nicea tahun 381 sudah lengkap dan melarang segala bentuk perubahan (penambahan maupun penghapusan) atasnya. Selain itu, Konsili juga mengutuk Pelagianisme

Dalam konsili ini dihasilkan 8 kanon :

Kanon 1 mengumumkan bagi seorang bidaah bernama Selestius (so Scholion), anathema.
Kanon 2-5 mengumumkan bagi Nestorianisme, anathema.
Kanon 6 mengumumkan bagi mereka yang tidak menerima kanon-kanon Efesus, ekskomunikasi.
Kanon 7 mengumumkan bagi mereka yang tidak menerima Konsili Nicea, anathema.
Kanon 8: "Hendaklah hak-hak tiap provinsi dilestarikan murni dan tanpa cacat. Jangan sampai berhasil upaya untuk memperkenalkan bentuk-bentuk yang bertentangan dengan semuanya ini." Ini disebutkannya kanon-kanon para rasul.

Perjalanan Misionaris Rasul Paulus

Gaza Filipus berkhotbah tentang Kristus dan membaptis seorang sida-sida Etiopia dalam perjalanannya ke Gaza (Kis. 8:26–39).

Yerusalem Lihat peta 12 untuk peristiwa-peristiwa di Yerusalem.

Yafo (Yope) Petrus menerima suatu penglihatan bahwa Allah memberikan karunia pertobatan kepada orang-orang bukan Israel (Kis. 10; 11:5–18). Petrus menghidupkan kembali Tabita dari yang mati (Kis. 9:36–42).

Samaria Filipus melayani di Samaria (Kis. 8:5–13), serta Petrus dan Yohanes belakangan mengajar di sini (Kis. 8:14–25). Setelah mereka menganugerahkan karunia Roh Kudus, Simon si tukang sihir berupaya untuk membeli karunia ini dari mereka (Kis. 8:9–24).

Kaisarea Di sini, setelah seorang malaikat melayani kepada perwira pasukan bernama Kornelius, Petrus memperkenankan dia untuk dibaptis (Kis. 10). Di sini Paulus membuat pembelaannya di hadapan Agripa (Kis. 25–26; lihat juga JS—S 1:24–25).

Damsyik Yesus menampakkan diri kepada Saulus (Kis. 9:1–7). Setelah Ananias memulihkan penglihatan Saulus, Saulus dibaptis dan memulai pelayanannya (Kis. 9:10–27).

Antiokhia (di Aram) Di sini para murid pertama kali disebut orang Kristen (Kis. 11:26). Agabus menubuatkan bencana kelaparan (Kis. 11:27–28). Pertengkaran besar timbul di Antiokhia mengenai sunat (Kis. 14:26–28; 15:1–9). Di Antiokhia Paulus memulai misinya yang kedua bersama Silas, Barnabas, dan Yudas Barsabas (Kis. 15:22, 30, 35).

Tarsus Kampung halaman Paulus; Paulus dikirim ke sini oleh para Saudara untuk melindungi nyawanya (Kis. 9:29–30).

Siprus Setelah dianiaya, sebagian Orang Suci melarikan diri ke pulau ini (Kis. 11:19). Paulus melakukan perjalanan melalui Siprus pada perjalanan misionarisnya yang pertama (Kis. 13:4–5), sebagaimana dilakukan Barnabas dan Markus belakangan (Kis. 15:39).

Pafos Paulus mengutuk seorang tukang sihir di sini (Kis. 13:6–11).

Derbe Paulus dan Barnabas mengkhotbahkan Injil di kota ini (Kis. 14:6–7, 20–21).

Listra Ketika Paulus menyembuhkan orang yang timpang, dia dan Barnabas disambut sebagai dewa. Paulus dirajam dan disangka mati tetapi pulih dan melanjutkan berkhotbah (Kis. 14:6–21). Kediaman dari Timotius (Kis. 16:1–3).

Ikonium Pada misi mereka yang pertama, Paulus dan Barnabas berkhotbah di sini serta diancam dengan perajaman (Kis. 13:51–14:7).

Laodikia dan Kolose Laodikia adalah salah satu cabang Gereja yang Paulus kunjungi dan terima surat-surat darinya (Kol. 4:16). Itu adalah juga salah satu dari tujuh kota yang tercatat dalam kitab Wahyu (yang lain adalah Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, dan Filadelfia; lihat Why. 1:11). Kolose berada 18 kilometer ke timur Laodikia. Paulus menulis kepada para Orang Suci yang tinggal di sini.

Antiokhia (di Pisidia) Pada misi mereka yang pertama, Paulus dan Barnabas mengajari orang-orang Yahudi bahwa Kristus datang dari benih keturunan Daud. Paulus menyampaikan Injil kepada bangsa Israel, kemudian kepada orang-orang bukan Israel. Paulus dan Barnabas dianiaya dan dipaksa keluar (Kis. 13:14–50).

Miletus Saat di sini pada misinya yang ketiga, Paulus memperingatkan penatua Gereja bahwa “serigala-serigala yang ganas” akan memasuki kawanan domba (Kis. 20:29–31).

Patmos Yohanes adalah tahanan di pulau ini ketika dia menerima penglihatan-penglihatan yang sekarang dimuat dalam kitab Wahyu (Why. 1:9).

Efesus Apolos berkhotbah di sini dengan kuasa (Kis. 18:24–28). Paulus, pada misinya yang ketiga, mengajar di Efesus selama dua tahun, menginsafkan banyak orang (Kis. 19:10, 18). Di sini dia menganugerahkan karunia Roh Kudus melalui penumpangan tangan (Kis. 19:1–7) dan melakukan banyak mukjizat, termasuk mengusir roh-roh jahat (Kis. 19:8–21). Di sini penyembah Artemis membangkitkan kegaduhan menentang Paulus (Kis. 19:22–41). Sebagian dari kitab Wahyu disampaikan kepada Gereja di Efesus (Why. 1:11).

Troas Saat Paulus berada di sini pada perjalanan misionarisnya yang kedua, dia melihat suatu penglihatan tentang seorang pria di Makedonia meminta pertolongan (Kis. 16:9–12). Saat di sini pada misinya yang ketiga, Paulus menghidupkan kembali Eutikhus dari yang mati (Kis. 20:6–12).

Filipi Paulus, Silas, dan Timotius menginsafkan seorang wanita bernama Lidia, mengusir roh jahat, dan dipukuli (Kis. 16:11–23). Mereka menerima pertolongan ilahi untuk meloloskan diri dari tahanan (Kis. 16:23–26).

Atena Paulus, saat pada misinya kedua ke Atena, berkhotbah di Areopagus tentang “Allah yang tidak dikenal” (Kis. 17:22–34).

Korintus Paulus pergi ke Korintus pada misinya yang kedua, di mana dia tinggal bersama Akwila dan Priskila. Dia berkhotbah di sini dan membaptis banyak orang (Kis. 18:1–18). Dari Korintus, Paulus menulis suratnya kepada orang-orang Roma.

Tesalonika Paulus berkhotbah di sini selama perjalanan misionarisnya yang kedua. Rombongan misionarisnya berangkat ke Berea setelah orang-orang Yahudi mengancam keselamatan mereka (Kis. 17:1–10).

Berea Paulus, Silas, dan Timotius menemukan jiwa-jiwa yang mulia untuk diajar selama perjalanan misionaris Paulus yang kedua. Orang-orang Yahudi dari Tesalonika mengikuti dan menganiaya mereka (Kis. 17:10–13).

Makedonia Paulus mengajar di sini pada perjalanannya yang kedua dan ketiga (Kis. 16:9–40; 19:21). Paulus memuji kemurahan hati para Orang Suci Makedonia, yang memberi kepadanya dan kepada para Orang Suci yang miskin di Yerusalem (Rm. 15:26; 2 Kor. 8:1–5; 11:9).

Malta Paulus terdampar di pulau ini pada perjalanannya ke Roma (Kis. 26:32; 27:1, 41–44). Dia tak terluka oleh gigitan ular dan menyembuhkan banyak orang yang sakit di Malta (Kis. 28:1–9).

Roma Paulus berkhotbah di sini selama dua tahun di bawah penahanan rumah (Kis. 28:16–31). Dia juga menulis epistel-epistel, atau surat-surat, kepada orang-orang Efesus, Filipi, dan Kolose serta kepada Timotius dan Filemon saat ditahan di Roma. Petrus menulis suratnya yang pertama dari “Babilon,” yang mungkin adalah Roma, segera setelah penganiayaan oleh Nero terhadap orang-orang Kristen pada tahun 64 M. Secara umum dipercayai bahwa Petrus dan Paulus mati syahid di sini.

Smirna Kota Martir

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio atau yang menyaksikannya melalui siaran televisi, anda sedang bergabung bersama dengan kami dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah dalam ibadah pukul delapan pagi, khotbah yang berasal dari Kitab Wahyu pasal dua, ayat delapan hingga sebelas, yang berjudul: Kota Martir Smirna.

Ini adalah jemaat yang kedua dari ketujuh jemaat di propinsi Asia Roma, yang kepada mereka Tuhan menyampaikan pesanNya. Dan ini adalah kata-kata yang disampaikan kepada jemaat Smirna:  

Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.

Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu namun engkau kaya dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidaklah demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah iblis. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang di antaramu ke dalam penjara supaya engkau dicobai dan dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.

itu adalah bilangan numerik yang merujuk kepada intensitas di dalam buku Fox’s Book of Martyrs, dia menyebutkan sepuluh penganiayaan besar terhadap gereja yang mengacu kepada era ini, kisah Smirna ini yang berada di dalam sejarah gereja, dari masa rasul-rasul hingga masa Konstantin kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota
sebuah upah, sebuah stephanos kehidupan.

Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.

Ada tiga tempat lain di dalam Perjanjian Baru, di mana anda akan menemukan kata smyrna.  Yang pertama terdapat di dalam Kitab Matius pasal dua: “Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan smyrna.”

Contoh yang kedua terdapat di dalam Injil Markus pasal lima belas. Penginjil ini sedang menggambarkan penyaliban Juruselamat kita. Dan dia berkata bahwa ada seseorang yang datang dan menawarkan sebuah antiseptik bagi Tuhan kita yang menderita, anggur yang bercampur dengan smyrna.

Tempat ketiga di mana anda menemukan kata itu adalah di dalam Injil Yohanes. Penulis kitab itu sedang menggambarkan kematian Tuhan kita dan penguburanNya. Dan dia berkata bahwa Nikodemus yang datang waktu malam kepada Yesus Nikodemus datang bersama dengan Yusuf Arimatea, dan mereka menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan. Dan Nikodemus membawa seratus pon minyak gaharu dan smyrna.  Dan ketika mereka mengapani tubuh Tuhan, mereka membubuhinya dengan rempah-rempah dan smyrna.

Di dalam Alkitab versi King James, kata itu diterjemahkan dengan “myrrh (mur)”  Bahan itu digunakan untuk membubuhi orang mati. Bahan itu digunakan untuk bahan membakar ukupan, untuk aroma, untuk parfum. Dan beberapa orang kuno berkata bahwa hasil perdagangan yang terbesar di kota pelabuhan Asia, yaitu Smirna adalah mur, smyrna,  herbal aromatik dan menjadi nama bagi kota itu sendiri.

Dan di dalam pemeliharaan Allah, kata “Smyrna,”  itu, yang merupakan nama dari kota yang besar ini, adalah sebuah gambaran, sebuah tipe, penderitaan, penganiayaan dan kemartiran serta kematian, sebab jemaat ini mengalami kesusahan besar. Jemaat tersebut hidup dalam sebuah nyala api dan pencobaan yang mengerikan.

Jemaat Smirna merupakan satu-satunya jemaat dari ketujuh jemaat yang menjadi tujuan pesan Tuhan yang tidak mendapat kata-kata keluhan atau hukuman. Karena setiap jemaat dari ketujuh jemaat ini mendapat kata-kata kritikan dari Tuhan. Dia menemukan kesalahan dalam tiap-tiap jemaat itu, kecuali jemaat Smirna. Untuk jemaat ini, Dia hanya menyampaikan kata-kata dorongan dan pujian. Ini adalah jemaat yang mengalami kesusahan besar dan pencobaan yang luar biasa serta penganiayaan yang hebat.

Hal yang mengecewakan bagi saya ketika menyampaikan khotbah dalam ibadah pukul 8:15, adalah bahwa saya hanya menyampaikan setengahnya. Dan saya tidak berharap bahwa saya akan dapat melakukannya dengan lebih baik pada pagi ini, sehubungan dengan waktu yang sangat singkat, maka kita hanya akan berbicara tentang latar belakangnya saja.

Dan saya berharap bagi anda yang sedang bergabung dan mendengarkan khotbah pada pagi hari ini akan dapat mendengarkannnya pada hari Tuhan berikutnya, sebagaimana kita mengikuti pesan dari Allah sehubungan dengan dorongan dan penghargaan serta pujian bagi gereja yang sedang berada di dalam pencobaan, bagi gereja Smirna, dan tidak hanya itu tetapi juga mengacu kepada era itu, ketika gereja-gereja berada di dalam penganiayaan pemerintahan Roma. Dan juga gereja Smirna yang hidup pada hari ini di seberang lautan yang sedang berada di dalam kesusahan besar dan penderitaan. Ada tipikal dari gereja Smirna pada saat ini di Cina Merah. Ada tipikal dari gereja Smirna yang sedang mengalami kesusahan dan pencobaan di negara-negara yang menjadi bagian dari Imperium Rusia. Dan ada tipikal dari jemaat Smirna yang sedang berada di Republik Uni Soviet itu sendiri.

Hal itu memiliki sebuah pesan bagi kita pada hari ini. Dan selalu saja, bahwa itu merupakan  sebuah dorongan dan pujian serta permohonan. Tuhan kita berdiri di tengah-tengah tujuh kaki dia dan berjalan di antara jemaat-jemaatNya. Dan di mana Dia menemukan jemaat yang membayar harga, mengorbankan hidup mereka dan darah mereka sebagai kesaksian bagi Kristus, di sana Dia berhenti untuk berbicara tentang kasih dan penghormatan serta penghargaan. Ini adalah gereja Smirna.

Kota Smirna merupakan salah satu kota terbesar di dunia. Dalam sejarah masa lalu hingga kini ada sebuah kota besar di Smirna. Dan pada hari ini, kota Smirna tetap merupakan sebuah kota besar: kota terbesar Asia di negara Turki.

Kota terbesar di Asia kecil pada hari ini adalah Smirna. Kota itu memiliki populasi penduduk sekitar 275.000 orang, yang merupakan salah satu kota besar di belahan dunia.

Kota Smirna dibangun di teluk atas dari teluk Smirna, yang menjangkau hingga bagian pedalaman Asia Kecil, sekitar 35 mil. Beberapa waktu yang lampau, pelabuhan Miletus dan pelabuhan Efesus mengalami kemunduran. Kota-kota Miletus dan Efesus berhenti berkembang. Akan tetapi Smirna menjadi sebuah kota pelabuahan yang besar dan menjadi kota perdagangan dan kota persinggahan sejak ia berdiri hingga sekarang ini.

Pelabuhan yang ada di sana merupakan salah satu pelabuhan yang terbaik di dunia. Dan khususnya sangat bernilai pada zaman kuno karena dia dapat tertutup secara sempurna dalam masa peperangan. Smirna juga berlokasi di penghujung jalan yang terhubung hingga Sungai Hermas. Dan para pedagang yang berasal dari pedalaman datang ke kota itu, seperti pelarian Mediterania kuno yang datang untuk menukar barang-barang dari seluruh Imperium Roma. 

Smirna juga merupakan sebuah kota yang menjadi pusat politik. Smirna selalu memiliki peruntungan yang baik, mereka yang selalu berada disamping Roma dalam perang sipil. Dan orang-orang Roma tidak pernah lupa akan hal itu. Mereka memberi hadiah kepada Smirna dengan menetapkannya sebagai sebuah kota yang merdeka. Smirna memiliki pemerintahan sendiri dan tidak membayar pajak kepada Roma. Dan juga ada sebuah penjara yang terdapat di kota itu, pengadilan Roma dan hakim Roma juga memiliki kantor di Smirna.

Smirna merupakan salah satu kota kebanggaan dari seluruh kota-kota yang berada di Asia. Kota itu diakui sebagai kota kemuliaan Asia. Kota yang paling indah di Asia. Smirna diakui sebagai kota yang paling utama dari seluruh kota di Asia, dan menjadi pusat dari penyembahan Kaisar bagi orang-orang yang berada di Timur. Dan kota itu juga merupakan tempat kelahiran dari salah satu penyair yang terkenal yaitu Homer.

Kota itu diagungkan dalam kebijakan duniawi dan kebaikannya. Tuhan mungkin berkata bahwa Dia adalah “yang awal dan yang akhir.” Tetapi bagi Smirna, “yang awal dan yang akhir,” merupakan hal-hal yang menjadi kebesaran dan kemuliaan dunia. Dan hal itu memimpin ke dalam karakteristik yang terakhir dari kota kuno itu: kota itu sangat megah dan luar biasa indah. Ketika seseorang datang ke dalam Teluk, kota itu tegak berdiri di hadapannnya. Dari tingkatan laut, hingga ke tingkatan yang atas dari bukit yang berada di belakangnya, berdirilah Gunung Pagos.

Dan kota itu sangat terkenal pada masa kuno, jauh hingga peradaban dunia. Sekitar tahun 1000 B.C., bangsa Yunani, Ionia menaklukkannya dan menjadikannya sebagai sebuah kota besar. Dan menjadi bagian dari Perserikatan Ionia.

Dan sekitar tahun 650 B.C., bangsa yang disebut Yunani sebagai “orang barbar” menaklukkannya. Dan sekitar 300 tahun berikutnya kota itu tidak lagi dikenal sebagai kota Yunani. Akan tetapi ketika Aleksander Agung dari Makedonia menaklukkan dunia, dia memiliki ide untuk membangun kembali kota Smirna dan memperbaharuinya sebagai sebuah kota Yunani yang besar dan indah. Dan dia melakukannya sebagai sebuah model bagi seluruh dunia.

Dan apa yang telah dimulai oleh Aleksander Agung dilanjutkan oleh para jendralnya, yaitu Antigonus dan Lysimacus. Dan Smirna dibangun sebagai sebuah model bagi kota-kota Yunani di seluruh dunia, sama seperti ketika anda akan pergi ke Salt Lake City dan di sana anda melihat sebuah tata ruang yang sangat indah. Sejak awal ia telah dijadikan sebagai sebuah kota metropolis yang megah. Jadi, Aleksander dan Antigonus serta Lysimachus melakukan hal itu terhadap Smirna.

Kota itu didirikan di antara lautan dan Guning Pagos. Dan sebuah jalan yang besar dan lebar diaspal dengan indah dan membentuk sudut sembilan puluh derajat yang menghubungkan seluruh kota itu. Jalan itu sangat terkenal dan merupakan salah satu keindahan dunia pada masa lalu, dan jalan itu diberi nama “Jalan Emas.” Yang terhubungan antara lautan dan melewati danau kota itu hingga Akropolis yang berada di Gunung Pagos. Di baian awal, yaitu di ujung samudera, ada sebuah kuil untuk Cybil. Kemudian setelah berjalan sedikit, ada sebuah kuil Apolo yang sangat indah. Selanjutnaya ada kuil Aesculapius, dewa kesembuhan. Selanjutnya kuil Aphodite, dewi cinta. Dan kemudian selanjutnya adalah sebuah monumen yang diperuntukkan bagi Homer, yang lahir di Smirna. Dan kemudian di ujung jalan yang menuju Akropolis terdapat kuil Zeus atau Jupiter.

Tiang-tiang yang indah yang berjajar di sepanjang jalan itu terbuat dari marmer putih, yang dipahat berdasarkan seni arsitektur berdasarkan inspirasi orang Yunnai. Itu adalah salah satu permata di dunia kuno.

Di sisi bagian timur dari kota itu, antara sebuah bukit di bagian timur laut dan Gunung Pagos di bagian tenggara, ada jalan Efesus yang terhubung hingga gerbang Efesus, di bagain kanan gerbang itu merupakan Gimnasium. Kemudian selanjutnya lebih jauh ke bagain selatan melalui Gunung Pagos ada sebuah stadium yang sangat besar. Dan di celah utara Akropolis ada sebuah teater yang memiliki kapasitas tempat duduk bagi lebih dari 20. 000 orang penonton.

Smirna merupakan sebuah kota Yunani yang sangat indah dan mulia, yang merupakan pusat dari seluruh kehidupan dan drama serta warna budaya Yunani, kehidupan Yunani, pertandingan Yunani, perayaan Yunani dan penyembahan Yunani. Kota itu diwarnai dan dimahkotai dengan kemampuan dari orang Yunani yang jenius, baik di dalam kontruksinya, bangunannya dan keindahan kota itu.

Dan di tempat itu terletak alasan mengapa jemaat kecil di Smirna hidup dalam resiko yang berkesinambungan serta bahaya hidup yang berkelanjutan. Sebab anda dapat lihat bahwa ada beberapa karakteristik tentang Smirna yang menimbulkan kesulitan bagi setiap orang Kristen.

Setiap tempat di dalam Imperium Roma dimulai dari era ini, zaman ini bagi seseorang yang menjadi orang Kristen, memiliki resiko yang tinggi terhadap nyawanya. Dan hal itu sepuluh kali lebih beresiko bagi orang Kristen yang tinggal di kota Smirna.

Dan ada beberapa alasan terhadap hal itu. Alasan yang pertama: Jemaat Smirna yang kecil dan sukar untuk dibandingkan dengan hal-hal ini, karena tempat pertemuan mereka sangat sederhana. Di sebuah tempat kecil yang ada di sana atau di rumah yang sederhana, atau di dalam sebuah pondok kecil atau di sebuah gubuk, di tempat-tempat itulah jemaat ini mengadakan pertemuan.

Dan mereka kelihatannya sangat remeh dibandingkan dengan Akropolis yang besar, kuil-kuil Yunani yang sangat megah yang merupakan pemberhalaan dan dunia berhala; perayaan-perayaan besar dan pemujaan terhadap dewa-dewi. Dan seandainya orang Kristen berkeinginan untuk mengambil Allah mereka dan membawa sekte mereka dan meletakkan Yesus di dalam Pantheon dengan dewa-dewa lainnnya, maka tidak ada hal yang perlu untuk disampaikan.

Orang-orang Smirna memiliki dewa yang berlimpah. Mereka memilikinya di sepanjang jalan. Mereka memiliki patung-patung dewa di setiap rumah mereka. Mereka mengantungnya di atas setiap dinding mereka. Mereka menempatkannya dalam setiap kereta perang mereka. Mereka memiliki dewa-dewi yang sangat berlimpah. Seandainya orang Kristen membuat patung Yesus dan meletakkanNya di Parthenon atau meletakkanNya di atas dinding atau di atas kereta perang, maka orang Smirna akan menyambut ilah yang baru ini.

Tetapi hal itu tidak dapat dilakukan oleh orang Kristen. Yang pertama, mereka tidak boleh membuat sebuah patung dari Allahnya dan tidak dapat menyembah di hadapan sebuah patung dari dewa-dewa lain. Itu adalah hal pertama yang tidak akan dilakukan oleh orang Kristen.

Dan hal yang kedua: seluruh kehidupan sosial dan perdagangan serta pekerjaan diorganisasikan dalam serikat kerja. Dan serikat-serikat kerja itu memiliki dewa-dewa pelindung. Dan setiap orang yang bekerja harus menjadi anggota serikat kerja. Akan tetapi, menjadi anggota serikat kerja berarti menyembah dewa, bersujud di hadapan patung, membeli patung kecil dan meletakkannya di dalam rumahnya atau keretanya atau di atas dindingnya. Dan ketika orang Kristen menolah, dia berdiri terpisah dari kehidupan masyarakat dan ibadah mereka serta kuil-kuil mereka. Akibatnya orang Kristen adalah orang-orang yang memiliki tanda tersendiri. 

Hal selanjutnya: Smirna membanggakan dirinya sendiri sebagai pemuja Kaisar. Dan anda tidak akan memiliki ide tentang latar belakang Wahyu, jika anda tidak mengetahui apa maksudnya ketika Imperium Roma masuk ke dalam penyembahan terhadap Kaisar. Dan anda juga tidak akan memiliki sebuah gagasan tentang pencobaan dan penganiayaan yang dihadapi orang-orang Kriten pada abad pertama itu. Jadi, kita akan membahas tentang penyembahan terhadap kaisar itu. Mengapa hal itu menjadi sebuah pencobaan yang besar terhadap kehidupan sehari-hari dan keberadaan jemaat Kristus?

Itu terjadi karena hal ini: Imperium Roma telah menguasai seluruh peradaban dunia. Dan wilayah jajahannnya terdiri dari berbagai kota dan bangsa dan bahasa yang beragam. Dan Roma sungguh-sungguh membutuhkan sebuah kekuatan yang seragam yang dapat menyatukan seluruh imperium itu, sebuah cara untuk mengikat seluruh masyarakat. Dan agama merupakan sesuatu yang bersifat universal. Dan ide itu digunakan oleh Roma dan mencipatakan semangat yang disebut dengan: Dia Roma, dewa-dewa Roma.

Anda lihat, kita memiliki sebuah ide yang salah tentang propinsi-propinsi yang menjadi daerah taklukan Roma, karena pelajaran kita tentang Imperium Roma hanya didasarkan di dalam kehidupan orang Yudea dan Palestina. Dan senadainya jika bukan untuk Perjanjian Baru, ketertarikan kita terhadap Imperium Roma tidak lebih dibandingkan dengan ketertarikan kita terhadap Imperium Asyur, Imperium Babel atau Dinasti Mesir. Tetapi karena Perjanjian Baru berasal dari abad pertama dimana Imperium Roma berkuasa, maka kita berusaha menyelidikinya siang dan malam, untuk mengetahui latar belakang jemaat mula-mula dan pelayanan para rasul ini.

Di Yudea, anda mendapati sebuah kebencian yang sengit terhadap Roma. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi kebanyakan propinsi Roma. Karena, anda lihat bahwa propinsi-propinsi itu mendapat berkat yang tidak terbatas dari kekuatan dan kekuasaan pemerintahan Roma. Lebih dari satu orang raja yang menyerahkan kerajaan mereka untuk dimiliki oleh pemerintahan Roma.

Kota yang akan kita bahas selanjutnya adalah Pergamus. Dan raja Pergamus secara sukarela menyerahkan kerajaannya kepada pemerintah Roma. Roma menempatkan mereka ke dalam sebuah bentuk yang mereka sebut sebagai Pax Romana, kedamaian univerasal, Roma yang damai. Dan kehidupan seseorang yang dahulu hidup dalam bahaya dan resiko sekarang dapat hidup dengan indah. Dan hidup berlangsung dengan damai. Roma membangun jalan-jalan yang besar di seluruh Imperiumnya. Dan mereka membuat jalan-jalan itu bebas dari para pencuri dan para perampok serta para penyamun.  Dan Roma membersihkan lautan dari para bajak laut. Dan Roma membuat seseorang dapat melakukan perdagangan di seluruh tempat di Roma. Dia dapat mendukung keluarganya. Dia dapat membangun sebuah keberuntungan. Dia dapat mengadakan perjalanan dengan aman. Dia dapat melakukan perdagangan di setiap tempat dengan mudah. Dan keseluruhan hidup manusia yang merupakan pedagang dan banker dan petualangan dan persinggahan merupakan sebuah kebahagian dan kemakmuran serta kekayaan.

Hal lainnya: Orang-orang sering digunakan sebagai subjek bagi raja-raja lokal dan raja yang lalim serta diktator yang tidak bertanggungjawab terhadap siapa pun. Tetapi sekarang, seluruh peradaban dunia yang berada di bawah Roma diperintah oleh hukum Roma dan pengadilan Roma yang tidak memandang rupa. Dan kode hukum yang terbesar di dunia sejak saat itu yang pernah dikenal oleh dunia adalah hukum Roma. Sebagaimana kita belajar filsafat kita dan prinsipnya dari orang-orang Yunani, kita mempelajari pemerintahan kota dan hukum kita dan minat kita terhadap hukum dan pengadilan dari Imperium Roma.

Sekarang, orang-orang yang tinggal di propinsi-propinsi, mendapat berkat dengan sebuah kemungkinan bahwa seseorang dapat hidup dengan damai dan melakukan bisnis di mana saja, serta mereka tidak akan dilupakan. Dan hal itu berlangsung dengan mudah pada masa itu, karena semangat Roma adalah untuk didewakan dan kuil-kuil ditegakkan untuk Roma.

Selanjutnya semangat Roma itu telah menjadi samar, dan tidak terukur. Sebagaimana zaman terus berlalu, penghargaan yang diberikan oleh peradaban dunia terhadap Roma yang semakin lebih dan lebih, telah membuat mereka mempersonalisasikan hal itu di dalam diri seseorang. Dan orang itu adalah penguasa Roma. Dan sebagaimana masa terus berlalu, mereka mulai mengilahikan penguasa Roma.

Pada mulanya, penguasa Roma melaihat hal tersebut dalam ketakutan. Mereka memprotes gerakan yang mengarah kepada hal itu. Dan mereka menolak hal itu. Tetapi sebagaimana hari terus berlalu dan abad-bad yang terus berlalu, mendewakan penguasa Roma merupakan sebuah tindakan resmi. Dan secara resmi dia menjadi seorang dewa. Dia adalah wakil dan inkarnasi serta personalisasi dari seluruh maksud Roma.

Kemudian pada masa Rasul Yohanes, pada saat penulisan Kitab Wahyu, pada masa itu, langkah yang terakhir telah diambil. Dalam masa-masa sebelumnya dan tahun-tahun sebelumnya, penyembahan terhadap Dia Roma, dan terhadap kaisar dilakukan secara sukarela. Hal itu merupakan sikap spontan. Dan setiap orang yang melakukannya dan setiap kota yang mendirikan sebuah kuil, dan setiap orang yang mau bersujud melakukannnya berdasarkan kehendak bebasnya. Tetapi selanjutnya, dalam kekristenan abad pertama, pada masa Rasul Yohanes, pada masa kekuasaan Domitian, pada masa itu langkah terakhir telah diambil, dan hal itu telah menjadi kewajiban.

Hal itu telah menjadi sebuah materi hukum Roma dan sebuah ketentuan di Roma, sekali setahun seluruh penduduk Roma harus menyembah dan mengakui bahwa Kaisar adalah tuhan. Dan jika seseorang tidak melakukannnya, maka dia akan dianggap sebagai musuh negara, seorang musuh bagi Roma, seorang pemperontak pemerintah. Jadi, sekali setahun, seluruh penduduk Roma harus mengambil sebuah dupa dan membakarnya di altar yang paling tinggi dan bersujud serta mengakui Kuriae Kaisar: “Kaisar adalah Tuhan.”

Saya telah memiliki dua salinan dokumen dari dunia kuno, yang tertulis pada masa penulisan Kitab Wahyu. Salah satunya adalah sebuah permintaan bahwa mereka telah bersujud dan menyembah kaisar. Dan yang lainnya adalah sertifikat kecil itu sendiri. Dan setiap orang harus memiliki sertifikat kecil itu.

Ini adalah permintaan seseorang itu: “Kepada orang yang telah ditunjuk untuk memimpin atas korban persembahan: Dari Inares Akeus, dari desa Theoxenis, bersama-sama dengan anak-anaknya, Aias dan Hera, yang berdiam di desa Theadelphia. Kami selalu mempersembahkan korban kepada Allah dan sekarang di hadapan anda, berdasarkan pertauran kami telah memberikan korban dan persembahan dan mencicipi hal-hal yang suci, dan kami meminta sertifikat kepada anda bahwa kami telah melakukan hal itu. Semoga anda selamat selalu.” 

Sertifikat itu sendiri berisi: “Kami, perwakilan dari Kaisar, Seneros dan Hermas, telah melihat korban persembahan anda.” Kemudian diikuti oleh tanggal.  

Kemudian Roma sangat toleran. Ini bukanlah ujian terhadap orthodoksi seseorang. Jika dia mengambil sebuah dupa dan membakarnya di hadapan kaisar dan mengakui kaisar adalah dewa, dia dapat menyembah setiap dewa yang berkenan kepadanya. Dia dapat menyembah sertiap dewi-dewi yang diingininya. Hanya berjalan di sepanjang Jalan Emas dan bersujud di hadapan salah satu dewa itu. Atau mengambil sebuah patung kecil dari dewa atau dewi dan membawanya ke rumah serta bersujud di hadapannya. Atau meletakkannya di atas kapal atau sebuah baki atau  sebuah ruangan. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Roma. Itu bukanlah sebuah ujian bagi orthodoksi seseorang.

Tetapi itu adalah sebuah ujian bagi loyalitas politik seseorang. Jika seseorang menolak untuk membakar dupa dan mengakui kaisar adalah Tuhan dan tidak memiliki sertifikat, maka orang itu dianggap melanggar hukum dan dianggap seperti seorang pemberontak dan seorang musuh Roma dan seorang penghujat dewa. Dan dia dipandang sebagai seseorang yang pantas dicurigai.

Dan di dalam sebuah kerajaan yang besar seperti Imperium Roma, mereka tidak dapat menginjinkan setiap pertemuan kecil dari warga negara yang dianggap tidak setia. Mereka dapat menjadi pusat badai dari pemberontakan dan oposisi. Jadi pada masa Domitian, masa dari Rasul Yohanes, Roma menetapkan sebuah hukum bahwa setiap warga negara wajib bersujud dan memberi pengakuan bahwa kaisar adalah Tuhan dan itu adalah sebuah ujian bagi loyalitas politik.

Dan itu adalah sebuah hal, orang Kriten tidak mau melakukan hal itu: Mereka tidak mau bersujud. Mereka sama seperti Mesakh, Sadrakh dan Abednego.  Pada bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai bunyi-bunyian, setiap orang yang mrenjadi taklukan Nebukadnezar harus bersujud di hadapan patung emas. Dan jika seseorang tidak bersujud maka akan dicampakkan seketika itu juga kedalam perapian yang bernyala-nyala yang dipanaskan tujuh kali lebih panas. Ketika seluruh alat musik itu diperdengarkan, seluruh penduduk kerajaan bersujud kecuali ketiga pemuda itu. Mereka tetap berdiri tegak dan dimahkotai dengan kemuliaan sorga.

Hal yang sama: Hanya membakar sebuah dupa dan mereka didorong untuk melakukan hal itu hanya bersujud dan berkata Kuriae Kaisar.  Kami akan memberikan kepadamu sertifikat. Lakukanlah, lalu sembahlah Yesus dan dewa-dewi lainnnya yang engkau suka.

Tetapi orang-orang Kriten berkata,  “Kuriae Kaisar, tidak,  tapi  Kuriae Jesus”: Yesus adalah Tuhan. Dan karena alasan itu, mereka dimasukkan ke dalam penjara. Mereka dibakar di tiang api. Mereka dijadikan makanan singa. Mereka dihancurkan oleh binatang buas. Untuk alasan itu, Yesus memberi dorongan kepada mereka: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Itu adalah jemaat Smirna: Sekarang saya akan menyampaikan sebuah kalimat sebelum saya menutup tentang Smirna itu sendiri: Anda harus menyadari bahwa hal ini menjadi tipikal dari seluruh Imperium Roma. Mr Cox menemui saya setelah ibadah yang pertama telah selesai dan berkata, “Pendeta, apakah anda maksudkan bahwa hal ini berlaku hanya bagi jemaat Smirna saja?”

Tidak, tetapi hal itu berlaku di seluruh Imperium Roma. Tetapi hal ini mengalami peningkatan di Smirna karena Smirna membanggakan dirinya sebagai penyembah Kaisar. Pada permulaan tahun 196 B.C., Smirna adalah kota pertama di Imperium Roma yang mendirikan sebuah kuil bagi  Dia Roma, dewa-dewa Roma. Pada tahun 26 A.D., ada enam kota besar di Asia yang berkompetisi untuk mendapatkan hak dan keistimewaan untuk mendirikan sebuah kuil bagi Tiberias, kaisar Roma yang berikutnya. Dan dari keenam kota itu, Smirna memperoleh hak dan keistimewaan itu.

Ngat loyal kepada Kaisar. Hal Smirna membanggakan dirinya sebagai kota yang warga negaranya sangat loyal kepada kaisar. Hal itu juga terjadi di seluruh kota-kota yang ada di Imperium Roma, tetapi Smirna memiliki kekhususan sendiri. Karena setiap orang yang menjadi orang Kristen di seluruh Imperium Roma antara tahun 64 A.D. hingga 310 A.D., memiliki resiko yang tinggi terhadap nyawanya, dan resiko itu lebih besar di kota Smirna. Dan di sana nyala api penganiayaan berkobar. Dan gembala dari jemaat itu sendiri mengalami mati martir.

Dan di awal khotbah minggu depan, kita akan membahas kisah tentang orang-orang Kristen yang mengorbankan nyawa mereka di dalam loyalitas dan ketaatan kepada Tuhan Yesus Kritus di kota Smirna. Dan Tuhan melihat hal itu, dan melihat tanah yang meminum darah mereka, melihat binatang liar yang merobek jemaat dengan taring mereka, melihat nyala api yang membakar habis mereka, melihat keganasan dari pencobaan dan penganiayaan itu. Dia berkata, “Hendaklah engkau setia sampai mati, sebab rumahmu bukan di sini dan upahmu bukan di sini dan hidupmu tidak tersembunyi di dunia ini. Tetapi tersembunyi bersama denganKu, di dalam Allah. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Hal ng tidak terbatas dari anak-anakNya. Dan Tuhan dimuliakan dengan pengorbanan sampai mati. Itu merupakan sebuah hal yang aneh: Injil ini. Karena ia berbicara tentang emas yang dicelupkan, ya. Ia berbicara tentang kemenyan doa dan permohonan serta meditasi, ya. Tetapi ia juga berbicara tentang smyrna, mur pengorbanan dan kesukaran serta kesetiaan sampai mati. Itu adalah iman Kristen.

Pada Karang, ketika kita menyanyikan lagu permohonan kita: Jika ada seseorang dari anda yang ingin menyerahkan hidup anda untuk percaya kepada Yesus, seseorang yang ingin bergabung ke dalam jemaat ini. Seseorang yang ingin berkata, “Pendeta, inilah saya. Ini istri saya dan seluruh keluarga saya” anda boleh datang ke depan.

Jika anda berada di atas balkon, ada tangga yang berada di bagian depan dan bagian belakang serta di kedua bagian sisi balkon, mari datanglah.

Dan jika anda berada di lantai bawah, yang duduk di antara kumpulan orang banyak ini datanglah dan majulah ke depan serta katakanlah, “Pendeta, saya menyerahkan tangan ini kepada anda. Saya menyerahkan hati saya kepada Allah dan inilah saya.”

Ketika Roh menuntun anda di jalan anda dan membuat undangan yang mulia ke dalam hati anda, datanglah pada saat kita menyanyikan bait yang pertama dan baris yang pertama. Mari datanglah, saat kita berdiri dan menyanyikan lagu kita.

Filadelfia

Filadelfia (bahasa Inggris: Philadelphia; bahasa Yunani: Φιλαδέλφεια), artinya "(kota) kasih sayang persaudaraan"; sekarang Alaşehir (Pengucapan bahasa Turki: [aˈɫaʃehiɾ]), adalah sebuah kota dalam zaman kuno sampai Abad Pertengahan, sekarang dinamakan kota Alaşehir di Provinsi Manisa, di daerah Aegea, negara Turki. Terletak di lembah Kuzuçay (Cogamus, pada zaman kuno), di kaki gunung Bozdağ (gunung Tmolus pada zaman kuno). Dataran tinggi di wilayah ini dipenuhi tanah luas dan subur dari sungai Gediz, (nama kuno: Hermus)) yang memberikan pemandangan luar biasa. Filadelfia merupakan pusat kekristenan penting pada zaman gereja mula-mula (abad pertama M) dan terus sampai ke periode Kekaisaran Bizantin. Sampai sekarang, tempat ini tetap dianggap sebagai tituler see Gereja Katolik

Zaman kuno
Kota yang sekarang bernama Alaşehir ini mungkin adalah salah satu kota pertama dengan nama "Filadelfia". Didirikan pada tahun 189 SM oleh Raja Eumenes II dari Pergamon (197-160 SM). Eumenes II menamai kota ini karena kasihnya pada saudara laki-lakinya, yang kelak menggantikannya, Attalus II (159-138 SM), yang kesetiaannya menyebabkan Ia diberi julukan, "Philadelphos", arti harafiahnya "orang yang mengasihi saudara laki-lakinya". Karena tidak memiliki ahli waris, Attalus III Philometer, raja terakhir dari dinasti Attalid di Pergamum, menyerahkan kerajaannya, termasuk kota Filadelfia, kepada sekutunya, Kerajaan Romawi, pada waktu Ia meninggal pada tahun 133 SM. Roma membentuk Provinsi Asia pada tahun 129 SM dengan menggabungkan Ionia dan bekas wilayah Kerajaan Pergamum.

Zaman Romawi
Filadelfia berada dalam distrik administratif Sardis. Pada tahun 17 M, kota ini rusak berat akibat gempa bumi, sehingga Kaisar Tiberius memberi keringanan tidak usah membayar pajak (Tacitus Annales 2.47, cf. Strabo 12.8.18, 13.4.10, John Lydus de mensibus 4.115). Sebagai balasan, kota itu memberikan berbagai penghormatan kepada Tiberius. Bukti dari mata uang logam menunjukkan bahwa kaisar Caligula pernah membantu kota ini. Di bawah pemerintahan kaisar Vespasian, Filadelfia menerima cognomen-nya, Flavia. Di bawah Caracalla, Filadelfia menjadi tempat berdirinya satu kultus imperial; mata uang logamnya bertuliskan Neokoron (arti harafiahnya, "penyapu kuil"/"temple-sweeper"--pengurus kuil). Sebuah teater kecil berada di pinggiran utara bukit "Toptepe Hill", merupakan apa yang tersisa dari kota ini pada zaman Romawi.

Dalam kitab "Wahyu kepada Yohanes"
Meskipun sejumlah kota kuno juga bernama Filadelfia, kota ini jelas adalah salah satu dari tujuh kota di Asia Kecil yang disebutkan oleh Yohanes (pada waktu di pulau Patmos) dalam tiga pasal pertama kitab tulisannya, Wahyu kepada Yohanes. Kitab ini diyakini ditulis di akhir abad pertama Masehi, kemungkinan besar pada zaman kaisar Domitian. Filadelfia adalah kota keenam dari tujuh kota yang dikirimi surat oleh Yohanes. Bagian surat yang secara khusus ditujukan kepada jemaat gereja di Filadelfia tercantum dalam Wahyu 3:7-13.

Zaman Bizantin
Filadelfia merupakan kota makmur pada zaman Bizantin, sehingga disebut "Atena kecil" ("little Athens") pada abad ke-6 M karena banyaknya festival dan kuil-kuil. Hal ini mengindikasikan bahwa saat itu kota ini tidak seluruhnya beralih ke agama Kristen. Ada catatan seorang nabiah Kristen, Ammia, berasal dari Filadelfia. Sekitar tahun 600 "Basilica of St. John" yang berkubah bulat mulai dibangun, reruntuhannya menjadi atraksi arkeologi utama sampai sekarang. Kota ini juga menjadi pusat pemberontakan melawan para penguasa Bizantin:
  • tahun 1182, dipimpin oleh John Komnenos Vatatzes
  • tahun 1188-1205 atau 1206, dipimpin oleh Theodore Mangaphas, seorang asli Filadelfia, melawan Isaac II Angelos.
Pada waktu itu, keuskupan (bishopric) Filadelfia ditingkatkan menjadi metropolis. Dalam abad ke -14, Filadelfia dijadikan metropolis Lydia oleh patriarkh Gereja Ortodoks Yunani di Konstantinopel, sebuah status yang masih dipegang sampai sekarang. Kehormatan ini diberikan karena kota itu tidak menyerah kepada Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman). Kota ini makmur terutama pada abad ke-13 dan 14; ada koloni dagang Genoese (dari Genoa) dan kota ini menjadi produsen penting barang-barang kulit dan sutera yang diwarnai merah (karena itulah sekarang diberi nama Turki, Alaşehir, yang berarti "kota merah").

Zaman modern
Tentara Yunani menguasai kota ini selama perang Yunani-Turki (1919–1922). Menurut sejumlah sumber, tentara Yunani yang mundur melakukan kebijakan bumi-hangus ketika mundur dari Anatolia selama fase akhir perang ini. James Loder Park, Vice-Consul Amerika Serikat di Konstantinopel saat itu, menijau lokasi yang hancur segera setelah penduduk Yunani diungsikan, menggambarkan situasi di kota-kota sekitar daerah İzmir yang dilihatnya sebagai berikut:

"Di Alaşehir, pompa tangan digunakan untuk membasahi tembok-tembok bangunan dengan Kerosen. Ketika memeriksa puing-puing kota, kami menemukan sejumlah tulang-tulang dan tengkorak, hangus dan hitam, dengan sisa rambut dan daging melekat padanya. Atas desakan kami, sejumlah kuburan yang tampaknya baru dibuat, telah digali kembali untuk kami dan kami dapat memastikan bahwa jenazah-jenazah ini tidak lebih dari empat minggu sebelumnya."

Menurut Park, 70% bangunan di Alaşehir dihancurkan oleh api, sementara Kinross menulis "Alaşehir tidak lebih dari lobang yang gelap hangus, seluruh daerah bukit rusak. Desa demi desa telah hancur menjadi tumpukan abu." Diperkirakan sebanyak 3.000 jiwa telah lenyap dalam pembakaran Alaşehir.

Tokoh terkenal dari Filadelfia

Joannes Laurentius Lydus (lahir 490) penulis dan administrator Yunani
Theodore Mangaphas juga dikenal sebagai Morotheodoros (lahir pada abad ke-12), perwira militer Bizantin Yunani.
Uskup kenamaan
Cyriacus (pada Council of Philippopolis, 344)
Theodosius (disingkirkan pada Konsili Seleukia, 359)
Theophanes (pada Konsili Efesus Pertama, 431)
John (pada Konsili Konstantinopel Ketiga, 680)
Theoleptus (1283–1322): memimpin pertahanan kota Filadelfia terhadap serangan pasukan Turki pada tahun 1310; karya tulisannya termasuk syair agamawi, risalah monastik, tulisan-tulisan anti-Arsenite, surat-surat
Macarius Chrysocephalas (1336–82): kandidat untuk patriarchate pada tahun 1353, menulis "Rhodonia" (bunga rampai Amsal dan gnomai), "catenae" ("rantai" bahasa Inggris: “chains,” kutipan dari teolog-teolog yang dilekatkan pada ayat-ayat Alkitab) atas Injil Matius dan Injil Lukas, homili-homili, dan sebuah vita mengenai St. Meletios dari Galesios
Gabrius Severus (1577) menulis karya-karya melawan orang Latin
Gerasimus Blachus (1679), pengarang sejumlah karya tulis
Meletius Typaldus (1685), disingkarkan karena menjadi pengikut Gereja Katolik