Sejarah Dunia Kuno

Year 2020, God’s Open Hands

Jan 22, 2020

Sejarah kuno

Sejarah kuno adalah himpunan peristiwa-peristiwa masa lampau mulai dari permulaan pencatatan sejarah umat manusia sampai dengan Permulaan Zaman Pertengahan atau Zaman Pascaklasik. Sejarah tertulis meliputi kurun waktu sekitar 5.000 tahun, bermula dengan Aksara Paku Sumeria, tata cara tulis-menulis koheren tertua yang ditemukan dari kurun waktu Protomelek-Aksara sekitar abad ke-30 SM.

Istilah Zaman Klasik seringkali digunakan sebagai sebutan bagi kurun waktu dalam sejarah Dunia Lama mulai dari permulaan pencatatan sejarah Yunani pada 776 SM (Olimpiade Pertama), kira-kira bersamaan waktu dengan pendirian kota Roma pada 753 SM, permulaan sejarah Romawi Kuno, dan permulaan Zaman Arkais dalam sejarah Yunani Kuno. Meskipun batas akhir kurun waktu sejarah kuno masih diperdebatkan, sebagian pakar Barat menggunakan Kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat pada 476 M (paling banyak digunakan),  penutupan Akademi Plato pada 529 M, mangkatnya Kaisar Yustinianus I pada 565 M, datangnya Islam atau bangkitnya Karel Agung sebagai penghujung kurun waktu sejarah kuno dan Eropa Klasik.

di India, sejarah kuno meliputi permulaan kurun waktu Kerajaan-Kerajaan Pertengahan, dan, di Tiongkok, sampai dengan Zaman Wangsa Qin.

Prasejarah adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan periode sebelum sejarah tertulis. Pola Migrasi manusia awal pada Paleolitikum Rendah menunjukkan penyebaran Homo Erectus di seluruh Eurasia. Kemampuan mengendalikan api dimulai sekitar delapan ratus ribu tahun yang lalu pada Paleolitikum Pertengahan. Sekitar 250 ribu tahun yang lalu, Homo Sapiens berevolusi di Afrika. Sekitar 70–60 ribu tahun yang llau, manusia modern bermigrasi ke luar dari Afrika di sepanjang pesisir ke Asia Selatan dan Asia Tenggara dan mencapai Australia. Sekitar 50 ribu tahun yang lalu, manusia modern menyebar dari Asia ke Timur Dekat. Eropa dicapai oleh manusia modern sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Akhirnya, sekitar 15 ribu tahun yang lalu pada Paleolitikum Atas, migrasi ke Amerika berlangusng.

Milenium ke-10 SM adalah waktu terawal yang diketahui untuk penemuan pertanian dan permulaan zaman kuno. Göbekli Tepe didirikan oleh para pengumpul-pemburu pada milenium ke-10 SM (sek. 11.500 tahun yang lalu). Bersama dengan Nevalı Çori, ini merevolusi pemahaman mengenai Neolitikum Eurasia. Pada milenium ke-7 SM, kebudayaan Jiahu muncul di Tiongkok. Pada milenium ke-5 SM, peradaban Neolitikum akhir ditandai dengan penemuan roda dan penyebaran tulisan proto. Pada milenium ke-4 SM, kebudayaan Cucuteni-Trypillia berkembang di daerah Ukraina-Moldova-Romania. Pada tahun 3400-an SM, kuneiform "protoliterat" menyebar di Timur Tengah. Pada abad ke-30 SM, yang disebut sebagai Zaman Perunggu Awal II, terjadi permulaan periode literat di Mesopotamia dan Mesir kuno. Sekitar abad ke-27 SM, Kerajaan Lama Mesir dan Dinasti Pertama Uruk didirikan, berdasarkan masa pemerintahan yang terawal yang dapat dipercaya.

Garis waktu sejarah kuno

Zaman Perunggu merupakan bagian dari sistem tiga zaman. Dalam sistem ini, Zaman Perunggu berlangsung setelah Zaman Neolitikum di beberapa daerah di dunia. Pada abad ke-24 SM, Kekaisaran Akkadia didirikan. Periode Menengah Pertama Mesir (sek. abad ke-22 SM) diikuti oleh Kerajaan Pertengahan Mesir antara abad ke-21 dan k-17 SM. Renaisans Sumeria juga berkembang sekitar abad ke-21 M. Sekitar abad ke-18 SM, Periode Menengah Kedua Mesir dimulai.

Pada tahun 1600-an SM, Peradaban Mykenai berkembang di Yunani, awal mula Dinasti Shang muncul di Tiongkok dan ada bukti mengenai sudah berkembangnya sistem tulisan Tiongkok. Sekitar tahun 1600-an SM juga, dimulai dominasi Bangsa Hittit di Mediterania timur. Masa antara abad ke-16 dan ke-11 SM di sekitar sungai Nil disebut Kerajaan Baru Mesir. Antara tahun 1550 SM dan 1292 SM, Periode Amarna berkembang.

Zaman Besi Awal

Zaman Besi adalah periode penting akhir dalam sistem tiga zaman, dan zaman ini berlangsung setelah Zaman Perunggu. Waktu dan konteksnya beragam beradasarkan daerah geografis. Selama abad ke-13 dan ke-12 SM, Periode Ramsses berlangsung di Mesir. Sekitar tahun 1200-an SM, Perang Troya diduga terjadi. Pada tahun 1800-an SM, perpecahan Kekaisaran Hittit terjadi.


Pada tahun 1046 SM, pasukan kerajaan Zhou, yang dipimpin oleh Raja Wu dari Zhou, mengalahkan raja terakhir Dinasti Shang. Dinasti Zhou didirikan di Tiongkok tidak lama setelahnya. Pada 1000 SM, Kerajaan Mannea berdiri di Asia Barat. Sekitar abad ke-10 dan ke-7 SM, Kekaisaran Assyria Baru berdiri di Mesopotamia. Pada tahun 800 SM, negara-negara kota mulai bermunculan di Yunani. Pada tahun 776 SM, Olimpiade pertama diselenggarakan.

Antikuitas Klasik adalah istilah yang luas untuk suatu periode yang panjang dalam sejarah kebudayaan yang berpusat di sekitar Laut Tengah. Periode ini bermula dengan sajak berbahasa Yunani pertama yang tercatat dalam sejarah yang ditulis oleh Homeros sekitar abad ke-9 SM, dan berlanjut sampai berkembangnya agama Kristen dan keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat sekitar abad ke-5 M, daan berakhir pada berhentinya kebudayaan klasik dengan selesainya Antikuitas Akhir.

Prasejarah

Prasejarah atau nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) secara harfiah berarti "sebelum sejarah", dari bahasa Latin untuk "sebelum," præ, dan historia. Prasejarah manusia adalah masa di mana perilaku dan anatomi manusia pertama kali muncul, sampai adanya catatan sejarah yang kemudian diikuti dengan penemuan aksara. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Sumeria di Mesopotamia dan Mesir kuno, merupakan peradaban pertama yang mengenal tulisan, dan selalu diingat sebagai catatan sejarah; hal ini sudah terjadi selama awal Zaman Perunggu. Sebagian besar peradaban lainnya mencapai akhir prasejarah selama Zaman Besi.

Zaman prasejarah di Indonesia sendiri diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5; dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah. Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari zaman prasejarah, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, geologi, antropologi, arkeologi. Dalam artian bahwa bukti-bukti prasejarah didapat dari artefak-artefak yang ditemukan di daerah penggalian situs prasejarah.

Prasejarah mengacu pada suatu periode di mana keberadaan manusia masih belum dicatat dalam catatan sejarah. Prasejarah juga dapat mengacu pada semua waktu sebelum keberadaan manusia dan penemuan tulisan.

Konsep "prasejarah" pertama kali muncul pada saat abad Pencerahan dalam pekerjaan kolektor barang kuno yang menggunakan kata "primitive" untuk menggambarkan masyarakat yang telah ada sebelum catatan ditulis.  Penggunaan pertama kata dalam bahasa Inggris untuk prasejarah, ada pada Foreign Quarterly Review pada tahun 1836

Pembagian zaman

Secara umum, masa prasejarah Indonesia ditinjau dari dua aspek, bedasarkan bahan untuk membuat alat-alatnya (terbagi menjadi Zaman Batu & Zaman Besi), & bedasarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakatnya (terbagi menjadi Masa Berburu & Mengumpulkan Makanan, Masa Bercocok Tanam, & Masa Perundagian)

Zaman Batu

Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini diperiodisasi lagi menjadi 4 zaman, antara lain:
Zaman Batu Tua (Masa Berburu & Mengumpulkan Makanan Tingkat Awal)

Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:

    Kebudayaan Pacitan (berhubungan dengan kapak genggam dengan varian-variannya seperti kapak perimbas & kapak penetak
    Kebudayaan Ngandong (berhubungan dengan Flakes & peralatan dari tulang)

Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada Palaeolithikum antara lain:

    Masyarakatnya belum memiliki rasa estetika (disimpulkan dari kapak genggam yang bentuknya tidak beraturan & bertekstur kasar)
    Belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang dimiliki belum dapat digunakan untuk menggemburkan tanah).
    Memperoleh makanan dengan cara berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah-buahan & umbi-umbian).
    Hidup nomaden (jika sumber makanan yang ada di daerah tempat tinggal habis, maka masyarakatnya harus pindah ke tempat baru yang memiliki sumber makanan).
    Hidup dekat sumber air (mencukupi kebutuhan minum & karena di dekat sumber air ada banyak hewan & tumbuhan yang bisa dimakan).
    Hidup berkelompok (untuk melindungi diri dari serangan hewan buas).
    Sudah mengenal api (bedasarkan studi perbandingan dengan Zaman Palaeolithikum di China, di mana ditemukan fosil kayu yang ujungnya bekas terbakar di dalam sebuah gua).

Zaman Batu Tengah (Masa Berburu & Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut)

Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:

    Kebudayaan Kjokkenmoddinger

Kjokkenmodinger, istilah dari bahasa Denmark, kjokken yang berarti dapur & moddinger yang berarti sampah (kjokkenmoddinger = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan timbunan kulit siput & kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Di antara timbunan kulit siput & kerang tersebut ditemukan juga perkakas sejenis kapak genggam yaitu kapak Sumatra/Pebble & batu pipisan.

    Kebudayaan Abris Sous Roche

Abris sous roche, yang berarti gua-gua yang pernah dijadikan tempat tinggal, berupa gua-gua yang diduga pernah dihuni oleh manusia. Dugaan ini muncul dari perkakas seperti ujung panah, flakke, batu penggilingan, alat dari tulang & tanduk rusa; yang tertinggal di dalam gua.

Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada zaman Mesolithikum antara lain:

    a. Sudah mengenal rasa estetika (dilihat dari peralatannya seperti kapak Sumatra, yang bentuknya sudah lebih beraturan dengan tekstur yang lebih halus dibandingkan kapak gengggam pada Zaman Paleolithikum)
    b. Masih belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang ada pada zaman itu masih belum bisa digunakan untuk menggemburkan tanah)
    c.Gundukan Kjokkenmoddinger yang dapat mencapai tinggi tujuh meter dengan diameter tiga puluh meter ini tentu terbentuk dalam waktu lama, sehingga disimpulkan bahwa manusia pada zaman itu mulai tingggal menetap (untuk sementara waktu, ketika makanan habis, maka harus berpindah tempat, seperti pada zaman Palaeolithikum) di tepi pantai.
    d. Peralatan yang ditemukan dari Abris Sous Roche memberi informasi bahwa manusia juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal.

Zaman Batu Muda (Masa Bercocok Tanam)

Ciri utama pada zaman batu Muda (neolithikum) adalah alat-alat batu buatan manusia sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Alat-alat yang dihasilkan antara lain:

    Kapak persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
    Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa.
    Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
    Pakaian dari kulit kayu
    Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatra, Jawa, Melolo (Sunda)

Manusia pendukung Neolithikum adalah Austronesia (Austria), Austro-Asia (Khamer-Indocina)
Kebudayaan Megalith

Antara zaman neolitikum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalith, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalith justru pada zaman logam. Hasil kebudayaan Megalith, antara lain:

    Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.
    Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang
    Sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup)
    Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat
    Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup
    Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka

Zaman Logam (Masa Perundagian)

Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah. Zaman logam di Indonesia dibagi atas:
Zaman Perunggu

Pada zaman Perunggu/disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tongkin China (pusat kebudayaan ini) manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3: 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain:

    Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian
    Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatra, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
    Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatra.
    Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)

Zaman Besi

Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.

Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:

    Mata Kapak bertungkai kayu
    Mata Pisau
    Mata Sabit
    Mata Pedang
    Cangkul

Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur)

Zaman Besi & Batu

Zaman Besi adalah suatu tahap perkembangan budaya manusia di mana penggunaan besi untuk pembuatan alat dan senjata sangat dominan. Penggunaan bahan baru ini, di dalam suatu masyarakat sering kali mencakup perubahan praktik pertanian, kepercayaan agama, dan gaya seni, walaupun hal ini tidak selalu terjadi.

Zaman Besi adalah periode utama terakhir dalam sistem tiga zaman untuk mengklasifikasi masyarakat prasejarah, yang didahului oleh Zaman Perunggu. Waktu berlangsung dan konteks zaman ini berbeda, tergantung pada negara atau wilayah geografis. Secara klasik, Zaman Besi dianggap dimulai pada Zaman Kegelapan Yunani pada abad ke-12 SM dan Timur Tengah Kuno, abad ke-11 SM di India, dan antara abad ke-8 SM (Eropa Tengah) dan abad ke-6 SM (Eropa Utara) di Eropa. Zaman Besi dianggap berakhir dengan kebangkitan kebudayaan Hellenisme dan Kekaisaran Romawi, atau Zaman Pertengahan Awal untuk kasus Eropa Utara.

Zaman Besi berhubungan dengan suatu tahap di mana produksi besi adalah salah satu bentuk paling rumit dari kerajinan logam. Kekerasan besi, titik lebur yang tinggi, dan sumber bijih besi yang melimpah, membuat besi lebih dipilih dan murah daripada perunggu, yang memengaruhi dipilihnya besi sebagai logam yang paling umum digunakan. Karena kerajinan besi diperkenalkan secara langsung ke Amerika dan Australasia oleh kolonisasi Eropa, daerah-daerah tersebut tidak pernah mengalami Zaman Besi.

Zaman Batu

Zaman Batu adalah masa zaman prasejarah yang luas, ketika manusia menciptakan alat dari batu (karena tak memiliki teknologi yang lebih baik). Kayu, tulang, dan bahan lain juga digunakan, tetapi batu (terutama flint) dibentuk untuk dimanfaatkan sebagai alat memotong dan senjata. Istilah ini berasal sistem tiga zaman. Zaman Batu sekarang dipilah lagi menjadi masa Paleolitikum, Mesolitikum,Megalitikum dan Neolitikum, yang masing-masing dipilah-pilah lagi lebih jauh

Zaman Perunggu

Zaman Perunggu  adalah periode perkembangan sebuah peradaban yang ditandai dengan penggunaan teknik melebur tembaga dari hasil bumi dan membuat perunggu. Secara urut, zaman ini berada di antara Zaman Batu dan Zaman Besi. Zaman Perunggu adalah bagian dari sistem tiga zaman untuk masyarakat prasejarah dan terjadi setelah Zaman Neolitikum di beberapa wilayah di dunia. Di sebagian besar Afrika subsahara, Zaman Neolitikum langsung diikuti Zaman Besi.

Sebagian besar perkakas perunggu yang tersisa adalah alat atau senjata, meskipun ada beberapa artefak ritual yang tersisa.

Waktu dimulainya Zaman Perunggu berbeda-beda pada setiap kebudayaan, bergantung pada perkembangan sejarah tulisan pertama. Berdasarkan bukti arkeologis, budaya di Mesir (hieroglif Mesir), Timur Dekat (kuneiform), dan Mediterania menggunakan sistem penulisan yang masih bertahan.

Zaman Perunggu

Sekitar 8.000 tahun lalu manusia menemukan cara mengolah logam. Mula-mula orang membuat barang dari tembaga dan emas yang ditempa dengan batu keras. Tapi lambat laun perajin belajar mengolah logam dengan cara memanaskannya sampai cair. Lalu logam cair itu dituang ke cetakan. Keunggulan logam adalah bisa dibuat menjadi bentuk yang rumit, seperti perkakas dan senjata. Jika patah, logam bisa dicairkan dan dibentuk lagi. Perunggu diperkirakan ditemukan orang pertama kali secara tak sengaja ketika mencampurkan sedikit timah dengan tembaga. Perunggu lalu diketahui lebih keras dan lebih tahan lama dibandingkan dengan logam lain serta bisa dibuat tajam. Zaman perunggu dimulai ketika rakyat di desa dan di tempat kerja mulai memakai perunggu. Salah satu daerah pertama yang membuat perunggu adalah Sumeria di Mesopotamia, tempat kota pertama dibangun.
Mesopotamia

Salah satu peradaban pertama Zaman Perunggu bermula dari Sumeria, Mesopotamia, yaitu dataran subur di antara Sungai Tigris dan Sungai Efrat, lahan pertanian bangsa Sumer.
Tulisan dan Roda

Tulisan paku (kuneiform), bentuk tulisan paling awal, muncul pada zaman perunggu. Tulisan paku direkacipta orang Sumeria, yang juga merekacipta roda pertama. Roda dipakai untuk gerobak, kereta perang, dan perkakas pembuatan tembikar. Kereta perang ialah lambang kota Ur.
Kuda

Tenaga kuda mulai banyak dipakai di akhir Zaman Perunggu. Kereta perang bangsawan biasanya dihiasi perunggu. Hiasan ada yang berpola enamel merah dan pernah ditemukan di Norfolk, Inggris.
Sumeria

Meski kering, dataran Sumeria subur. Petani menggali parit dari kanal guna mengontrol air dari sungai dan mengairi tanah. Petani bisa mendapat panen besar dan terkadang sampai dua kali setahun.
Pembuatan Batu Bata

Seperti banyak daerah Timur Tengah di Zaman Perunggu, di Sumeria tak ada batu dan kayu pun hanya sedikit. Bangunan besar terbuat dari batu bata. Orang Sumeria membuat batu bata dari campuran lumpur dan jerami. Setelah dicetak, batu bata dijemur di panas matahari.
Pertanian dan Perikanan

Orang Sumeria membuat perahu dan kandang dari gelagah. Gelagah didapat dari tepi sungai. Orang Sumeria tunduk pada dewa dan penguasa, yakni wakil dewa di Bumi. Mereka taat membayar pajak kepada penguasa.

Sejarah Zaman Perunggu

    6000 SM – Masyarakat kuno memanfaatkan tembaga. Beberapa benda kecil dari perunggu dibuat di Timur Tengah.
    5500 SM – Sistem irigasi pertama kali muncul di Mesopotamia.
    4500 SM – Bajak dipakai pertama kali di Mesopotamia. Layar mulai pada perahu di Sungai Tigris dan Sungai Efrat.
    3500 SM – Perkotaan pertama dibangun di Mesopotamia. Di sini orang mulai menggunakan perunggu. Mulailah zaman perunggu di Timur Tengah.
    3500 SM – Tulisan gambar muncul di Mesopotamia.
    2800 SM – Di lembah Sungai Indus timbul kebudayaan zaman perunggu, suatu peradaban India yang bertumpu pada pertanian.
    2500 SM – Penggunaan perunggu menyebar ke Eropa.
    2100 SM – Kota Ur di Sumeria mencapai puncak kejayaannya.
    Sekitar 1600 SM – Zaman perunggu mulai di Cina. Bejana untuk upacara terbuat dari perunggu.
    Sekitar 1200 SM – Kerajaan Asiria berdiri.
    1000 SM – Besi menggantikan perunggu sebagai logam utama.[1]

Etimologi

Istilah "Zaman Perunggu" terutama diturunkan dari "Zaman (perabadan) Manusia" (Ages of Man), yaitu tingkat-tingkat perkembangan keberadaan manusia di bumi menurut mitologi Yunani. Dari kisah ini, sejarawan modern menganggap kategori-kategori "Zaman Emas" (Golden Age) dan "Zaman Perak" (Silver Age) sebagai kisah khayalan (mitos), tetapi menganggap "Zaman Perunggu" (Bronze Age) dan "Zaman Besi" (Iron Age) bersejarah. Ciri umum periode ini adalah penggunaan perkakas dari perunggu di banyak wilayah, meskipun tempat dan waktu pengenalan dan perkembangannya tidaklah bersamaan secara universal.[2] Teknologi pembuatan timah (timah putih) perunggu oleh manusia membutuhkan suatu teknik proses produksi tertentu. Timah putih harus digali dari tambang (terutama sebagai batu timah atau tin ore atau cassiterite) dan dilelehkan terpisah-pisah, kemudian ditambahkan kepada tembaga yang dilelehkan untuk membuat campuran perunggu (bronze alloy). Zaman Perunggu ditandai dengan banyak penggunaan logam dan perkembangan jaringan perdagangan.
Timur Dekat

Asia Tenggara / Timur Tengah

Zaman Perunggu di Timur Dekat kuno dimulai dengan munculnya bangsa Sumer pada milenium ke-4 SM. Budaya-budaya di Timur Dekat kuno (sering disebut, "the cradle of civilization"; "tempat penyemaian peradaban") berpusat sekitar pertanian intensif setahun penuh, pengembangan sistem penulisan, penemuan roda pembuatan periuk (potter's wheel), menciptakan suatu pemerintahan, aturan hukum, dan kerajaan yang tersentralisasi, serta memperkenalkan stratifikasi sosial, perbudakan, dan peperangan yang terorganisir. Masyarakat-masyarakat di daerah tersebut meletakkan dasar ilmu astronomi dan matematika.

Kapak perunggu

Kapak perunggu upacara adalah benda Zaman Perunggu yang diproduksi di nusantara pada abad ke-1 dan ke-2 masehi. Kapak upacara ditemukan di situs-situs arkeologi di Jawa, Bali, Sulawesi, dan pulau-pulau di bagian timur Indonesia, dan juga disekitar Danau Sentani di Papua. Penemuan kapak perunggu di seluruh nusantara menunjukkan intensifnya perdagangan di antara pulau-pulau di nusantara pada awal tahun Masehi.

Pertama kali pembuatan logam terjadi di Indonesia adalah sekitar tahun 500 Sebelum Masehi. Objek-objek perunggu paling pertama di Indonesian mungkin digunakan dalam sebuah upacara. Banyak sekali ditmeukan objek perunggu dari masa ini di Indonesia. Objek perunggu bahkan ditemukan di Indonesia Timur, padahal belum ada tanda-tanda kontak perdagangan antara pulau-pulau di Indonesia Timur dengan negara lain seperti India. Objek-objek perunggu ini pasti diimpor dari pulau-pulau di Indonesia, terutama karena banyak dari pulau-pulau kecil di Indonesia yang tidak memiliki pertambangan tembaga atau timah, bahan utama di pembuatan objek peerunggu.

Kapak perunggu upacara terus dikembangkan ketika Indonesia memasuki Zaman pre-Klasik dimulai dari abad ke-1 hingga abad ke-2 Masehi. Selama periode ini, industri pencetakan perunggu berkembang, terutama di Jawa dan Bali. Industri-industri ini mungkin berperan dalam pembuatan berbagai jenis benda perunggu di Indonesia, termasuk kapak perunggu upacara. Beberapa contoh kapak perunggu yang ditemukan di Indonesia misalnya kapak corong dengan bentuk ekor walet yang banyak ditemukan di Jawa, kapak perunggu upacara berukuran besar, dan kapak perunggu berbentuk pisau melengkung yang ditemukan dalam berbagai ukuran.  Temuan-temuan arkeologi ini menunjukkan bahwa perdagangan antar pulau di Indonesia sudah terjadi sejak di milenium pertama Maseihi. pusat produksi benda perunggu ini dan berbagai situs yang menunjukkan penggunaannya dalam sebuah upacara menunjukkan perdagangan antar pulau yang berkembang di kepulauan Indonesia di milenium pertama 


Ada berbagai bentuk kapak perunggu upacara yang ditemukan di Indonesia. Kesamaan antara kapak perunggu satu dengan lainnya adalah pola-pola artistiknya yang dibuat dengan sangat detail dan desainnya yang tidak praktis untuk dapat digunakan sebagai alat pertanian atau sebagai senjata perang. Kapak perunggu upacara yang ditemukan di Landu di Kepulauan Rote bagian utara pada tahun 1875, dipahat dengan bentuk-bentuk figur manusia dan dihiasi dengan pola geometris seperti lingkaran konsentris, pola tulang ikan, dan spiral, sangat mirip dengan pola-pola artistik yang ditemukan di Pasifik Selatan; dan juga dengan pola-pola geometris yang ditemukan di daratan Asia misalnya pola lurik. Kapak perunggu upacara yang ditemukan di Landu memiliki bentuk yang sangat mirip dengan kapak perunggu upacara yang ditemukan di Makassar dan saat ini disimpan di Museum Gajah.

Kapak perunggu upacara berukuran besar di Indonesia, misalnya Kapak Makassar Sumbu perunggu seremonial besar di Indonesia, seperti Axel Makassar  (berukuran 70,5 cm x 30 cm) dan contoh serupa yang disimpan di Museum Metropolitan of Art di New York terlalu besar untuk dapat digunakan secara praktis. Jenis kapak perunggu upacara ini diproduksi dengan menggunakan metode cetak lilin dan dibuat dalam dua bagian yang kemudian digabungkan di bagian tengahnya. Kapak perunggu yang dihias dengan berbagai figur dan pola pada permukaannya ini pasti digunakan dalam sebuah upacara. Kapak perunggu upacara mungkin digunakan sebagai bejana air karene beronggo, atau digantung dan dipukul sebagai instrumen perkusi. Objek ini sudah pasti diberikan turun-temurun dalam keluarga sebagai objek pusaka.

Kapak corong dengan ujung berbentuk ekor walet juga banyak ditemukan di Jawa. Sebuah kapak corong dengan ukuran sangat besar ditemukan di Bogor, bagian ekor waletnya didekorasi dengan pahatan topeng dengan mata besar.

Tipe kapak perunggu upacara lain yang ditemukan di Indonesian adalah kapak perunggu dengan bentuk seperti pisau lengkung. Kapak perunggu berbentuk pisau lengkung ini ditemukan di seluruh nusantara dari Jawa Barat (seperti kapak yang ditemukan di Bandung) sampai Sulawesi. Kapak perunggu berbentuk pisau tersebut diproduksi dalam berbagai ukuran. Meski terlihat seperti senjata, kapak tersebut terlalu lemah untuk dapat digunakan sebagai senjata perang ataupun sebagai alat pertanian.

Gambar figur prajurit dengan bulu di topinya dan memegang kapak perunggu telah ditemukan di nekara Dong Son.