Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Mar 2, 2019

Gereja Ortodoks Siria

Gereja Ortodoks Suriah (ܥܕܬܐ ܣܘܪܝܝܬܐ ܬܪܝܨܬ ܫܘܒܚܐ) adalah suatu kelompok gereja Kristen Ortodoks yang berpusat di bagian timur Laut Tengah.[7] Menurut sejarah diawali dari Yerusalem yang terdiri dari para Rasul Yesus Kristus, para penginjil dan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Gereja ini kemudian berpindah ke kota Antiokhia, dan kemudian ke Urhoy (Eddesa) ditambah dengan orang-orang Aramia yang sudah bertobat dan bangsa-bangsa non-Yahudi yang lain. Gereja ini pertama kali didirikan di Antiokhia oleh Rasul Petrus, pemimpin para rasul, yang dianggap sebagai Patriarkh pertama dari Tahta Suci Rasuliah Antiokhia. Rasul Petrus sendiri menunjuk Mar Awwad (St. Avodius) dan Mar Ignatius Sang Pencerah sebagai para pengganti dia. Mereka kemudian menggantikan tugas rasulinya setelah Rasul Petrus mati shahid di kota Roma. Kemudian, kota Antiokhia tidak saja menjadi Gereja Kristen yang pertama, tertua dan paling terkenal, tetapi juga menjadi dasar dari Kekristenan. Di kota Antiokhia-lah saat itu para rasul Yesus Kristus disebut sebagai orang-orang Kristen.

Doktrin Gereja Suriah
Asas keimanan Gereja Orthodox Syria dapat diringkas sebagai berikut: "Gereja ini percaya sepenuhnya akan Satu pribadi ganda Tuhan Yesus, dan satu sifat ganda yang terdiri dari dua sifat: yaitu ilahi dan manusiawi, yang tidak dapat bercampur, tak dapat dipisahkan dan tak berganti-ganti. Dengan kata lain, dua sifat (ilahi dan manusiawi) tergabung dalam satu sifat yang tanpa bercampur, tak terlebur dan tak berubah-ubah, tak berganti dan tak rancu. Batasan ini berlaku bagi semua sifat keilahian dan kemanusiaanNya. Berdasarkan definisi ini, keilahian-Nya menyatu dengan kemanusiaan-Nya, atau dengan tubuh-Nya, ketika Almasih disalibkan tidak pernah keilahian-Nya meninggalkan tubuh-Nya. Karena itu, salah besar dan sangat menyimpang dari iman Kristen yang universal bila orang mengatakan, "Kristus itu disalibkan tubuhNya saja." Tetapi, sebaiknya dikatakan, "Firman Allah yang telah menjelma itu adalah Tuhan Yang Mahamulia yang telah disalibkan," namun, kami mengatakan, "Ia telah menderita dan wafat dalam daging (dalam keadaannya sebagai manusia)," sebab keilahianNya tidak pernah tersentuh penderitaan dan kematiaan. Sebagai konsekuensinya, Maria adalah "Ibu dari Dia (Firman Allah yang telah menjelma) Yang Ilahi," dan ungkapan "Engkau yang telah disalibkan bagi kami" adalah benar sebagaimana diucapkan dan diyakini dalam Trisagion, yang dialami oleh sifat kedua dari-Nya, yaitu Kristus. Asas iman inilah yang dipegang teguh oleh Gereja Siria Antiokhia dan Gereja Koptik Aleksandria yang telah menolak Konsili Khalsedon dan dokumen Leo dari Roma (Buku besar yang disebut Surat Paus Leo), karena kami hanya mengakui dasar-dasar iman yang ditetapkan tiga konsili ekumenikal di Nicea tahun 325 Masehi, Konsili Konstantinopel tahun 381 Masehi dan Konsili Efesus 431 Masehi. "Orthodox" berarti "Iman Yang Benar" yang dikenal oleh umat Syrian, Koptik, Armenia dan Ethiopia. Gereja-gereja itulah yang disebut sebagai "sister Churches" (Gereja-gereja saudari mereka). Mereka bersama-sama telah mengalami berbagai penderitaan dan penganiayaan-penganiayaan yang kejam yang ditujukan kepada mereka oleh Kaisar Byzantium panganut Konsili Khalsedon tersebut."

Liturgi Bahasa Arami

Bahasa yang digunakan oleh Yesus dan Kekristenan mula-mula adalah bahasa Aramic (Syriac). Orang Yahudi juga telah menulis beberapa bagian kitab suci dengan bahasa Aram, seperti dalam gulungan kitab dari Laut Mati. Gulungan kitab itu ditemukan pada tahun 1974 oleh Yang Mulia Mar Athanasius Yashu Samuel sebagai Uskup di Yerusalem (sekarang sebagai Uskup untuk Amerika Serikat dan Canada). Para murid Yesus, pengikut-Nya dan ibadah yang dilakukan memakai bahasa Aram. Sebab para penginjil yang memberitakan Injil di Anthiokhia yang berasal dari Yerusalem itu beribadah dalam bahasa Syria (Arami), maka sudah tentu bahasa Syria (Arami) itu menjadi bahasa Liturgi gereja Anthiokhia, dan gereja ini memakai liturgi dalam bahasa Syria (Arami) yang disusun oleh Rasul Yakobus, saudara Tuhan Yesus sekaligus sebagai uskup pertama di Yerusalem. Semua orang tahu bahwa gereja di Yeruselam menggunakan Liturgi Rasul Yakobus sampai berakhirnya ketujuh-belas uskup Syria yang pertama. Namun, ketika para duta dari Konstantinopel mulai merebut kepemimpinan gereja di Antiokhia, mereka menggantikan Liturgi Rasul Yakobus dengan Liturgi Basilius dari Kaisarea (379 Masehi) dan Liturgi John Chrysostom (407 Masehi), yang diterjemahkan dalam bahasa Arami. Tetapi, Liturgi Rasul Yakobus sendiri tetap ada di gereja Antiokhia. Itu sebabnya maka Liturgi Syria (Arami) disebut sebagai Liturgi Antiokhia. Dari Liturgi ini maka dapat dilacak kembali asal-muasal semua liturgi gereja. Gereja Antiokhia sangat bangga bahwa Liturgi mereka menggunakan bahasa Syria (Arami), yaitu bahasa yang telah dikuduskan oleh lidah suci Tuhan kita, dan yang dihormati oleh lidah Maria, IbuNya dan oleh para rasulNya yang kudus. Dalam bahasa inilah Rasul Matius menuliskan Injil, dan dalam bahasa inilah Injil diwartakan pertama kali di Yudea, Syria dan daerah-daerah sekitarnya.

Baktinya bagi Injil
Gereja Syria menjalankan peranan penting dalam bidang literatur Alkitab. Para sarjana mereka mengakar dalam lautan misteri Alkitab yang begitu luas dan tak terungkapkan. Merekalah yang pertama kali menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Syria (Arami), bahasa mereka sendiri. Kemudian, mereka melakukan pengkajian-pengkajian yang mendalam yang memperkaya perpustakaan-perpustakaan di Timur dan Barat dengan berjilid-jilid buku pelajaran dan tafsir Alkitab yang tak terhitung jumlahnya sekalipun malapetaka dan nasib buruk menimpa tanah kelahiran mereka, sehingga menyebabkan banyak kerugian karena Perang Dunia I, dan karena pemusnahan ribuan buku manuskrip kitab-kitab suci yang tak ternilai harganya itu oleh para musuh mereka. Setelah mereka mempelajari Alkitab dalam bahasa Arami mereka sendiri, maka mereka melakukan usaha-usaha tanpa lelah dengan menterjemahkan karya-karya tulis mereka itu ke dalam bahasa-bahasa lain. Maka sekitar tahun 404 Masehi, Malphan Daniel orang Syria serta Mesroph orang Armenia itu bekerja sama menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Armenia. Sarjana bahasa Arami yang berasal dari Arabia dari banu Thayy, Tanukh dan banu Aqula (Al-Kuufa) menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab atas perintah Patriarkh Syria, Mar Yuhanna II, demi memenuhi permintaan Umair Ibnu Saad ibn Abi Waqqass Al-Anshari, raja di Jaziratul Arabia. Yuhanna bar Yawsef, seorang imam Syria dari kota Taphliss (selatan Rusia), menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Persia pada tahun 1221 Masehi. Pada dasawarsa pertama pada abad ke-19, Raban Philipos orang Syria dari Malabar, India, telah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Malayalam, bahasa yang dipakai di India Selatan. Pada abad lalu, abad ke-20, Chorepiscopus Mattay Konat orang Syria dari Malabar, telah menterjemahkan seluruh Perjanjian Baru kecuali kitab Wahyu, ke dalam bahasa Malabar.

Sejumlah besar manuskrip dari warisan gereja ini yang tak ternilai artinya masih tetap dilestarikan. Manuskrip-manuskrip itu termasuk yang tertua di dunia, khususnya yang dipindahkan dari perbendaharaan Biara Gereja Syria di Mesir dan kemudian dibawa ke perpustakaan-perpustakaan Vatican, London, Milan, Berlin, Paris, Oxford, Cambridge dan perpustakaan-perpustakaan lain. Beberapa di antara manuskrip-manuskrip itu ditulis pada abad kelima dan keenam Masehi. Kemudian versi Injil yang tertua adalah manuskrip Injil dalam bahasa Syria (Arami) yang ditulis oleh seorang rahib dari kota Eddesa (Urhoy atau Urfa), yaitu Ya'qub Al-Urfa, di Urhoy pada tahun 411 Masehi. Injil dalam bahasa Arami ini masih disimpan di British Museum. Dalam kaitan ini, Abuna Martin telah menghimpun 55 manuskrip Injil berbahasa Arami yang berasal dari abad kelima, keenam dan ketujuh Masehi, jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan 22 manuskrip Injil dalam bahasa Latin dan hanya 10 buah manuskrip Injil dalam bahasa Yunani. Gereja Syria Orthodox sangat teguh dalam kecintaan mereka akan Alkitab sehingga mereka berusaha menuliskan dan menghiasi Alkitab itu seindah mungkin. Mereka menggunakan huruf kaligrafi Estrangela dan Serta Barat. Di antara manuskrip terbaik yang terkenal adalah Injil yang ditulis oleh Patriarkh Rabuula dari Urhoy (Eddesa atau Urfa) yang diselesaikannya pada tahun 586 Masehi.

Kegiatan Penginjilan
Orang-orang Kristen Siria telah membawa obor Injil pertama kali ke seluruh daerah Timur. Bangsa-bangsa di Timur telah dibimbing oleh terang Injil untuk mengenal Kristus, sehingga beribu-ribu orang dari berbagai bangsa dan negara, yaitu bangsa-bangsa Arab dari berbagai suku, bangsa Persia, Afghan, India dan Tionghoa. Mereka telah mengambil bagian dalam mewartakan Injil kepada bangsa Armenia. Pada abad keenam, orang-orang Suryani itu telah membawa kepada penggembalaan Kristus sejumlah besar warga bangsa Etiopia dan Nubia melalui jerih lelah Abuna Yulian, dan sejumlah 70 – 80 ribu orang dari Asia Kecil, Qarya, Phrygia, dan Lydia melalui jerih lelah Mar Yuhanna dari Amed, yaitu uskup termasyhur dari Efesus. Bahasa Suryani (Arami) adalah bahasa liturgi dari seluruh gereja Timur selain digunakan bahasa-bahasa berbagai asal kebangsaan mereka. Gereja Armenian, misalnya, selain memakai bahasa Suryani (Arami) sehingga karena menggunakan bahasa ini mereka telah dikucilkan (oleh Gereja-gereja Byzantium), mereka menulis bahasa Armenia mereka dalam aksara Syria (Arami), sampai akhirnya Meshrope, salah seorang dari sarjana mereka, bekerja sama dengan Malfan Daniel orang Syria itu, akhirnya ia menjadi penemu aksara Armenia.

Patriark Antiokhia

Patriark Antiokhia adalah sebuah gelar tradisional yang dipegang oleh Uskup Antiokhia. Sebagai "petinggi" tradisional (ἐπίσκοπος, episkopos, asal mula dari kata bishop (bahasa Indonesia: uskup)) dari komunitas Kristen non-Yahudi pertama, sebuah jabatan yang memiliki pengaruh utama dalam gereja dari periode terawal-nya. Keuskupan tersebut adalah salah satu dari beberapa keuskupan yang nama-nama uskupnya berasal dari nama-nama rasul awal. Saat ini, lima gereja menggunakan gelar Patriark Antiokhia: Gereja Ortodoks Suriah dan Gereja Katolik Suriah, Gereja Ortodoks Yunani Antiokhia, Gereja Katolik-Yunani Melkit, dan Gereja Maronit; dan, dalam sejarah, terdapat juga Patriark Latin Antiokhia.

Menurut tradisi gereja, Kepatriarkan kuno ini didirikan oleh Rasul Santo Petrus. Suksesi patriarkal tersebut diperebutkan pada masa skisma Meletian pada 362 dan terjadi kembali setelah Konsili Kalsedon pada 451, ketika terdapat Melkite dan pengklaim non-Kalsedonia berusaha merebut tahta tersebut. Setelah berebutan tahta pada abad ke7 di gereja Melkite, bangsa Maronit juga mulai memilih seorang Patriark Maronite. Setelah Perang Salib Pertama, Gereja Katolik mulai memilih seorang Patriark Ritus Latin Antiokhia, meskipun jabatan tersebut menjadi jabatan tituler setelah Kejatuhan Antiokhia pada 1268, dan ditiadakan secara menyeluruh pada 1964. Pada abad ke-18, perebutan suksesi dalam Gereja Ortodoks Yunani dan Ortodoks Suriah di Antiokhia membuat faksi-faksi dari gereja-gereja tersebut masuk dalam komuni dengan Roma dibawah kepemimpinan para pengklaim kepatriarkan tersebut: masing-masing adalah Patriark Katolik Yunani Melkite Antiokhia dan Patriark Katolik Suriah Antiokhia. Pesaing Ortodoks mereka masing-masing adalah Patriark Ortodoks Yunani Antiokhia dan Patriark Ortodoks Suriah Antiokhia.

Sejarah

Pada zaman Romawi, Antiokhia adalah sebuah kota penting dari Provinsi Romawi Suriah, dan kota terbesar keempat di Kekaisaran Romawi, setelah Roma, Efesus dan Aleksandria.

Di kota Antiokhia (sekarang di Antakya, tenggara Turki), penganut Kristen mula-mula disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11:26. Menurut tradisi gereja, Santo Petrus mendirikan sebuah gereja di Antiokhia, dan menjadi uskup pertama di kota tersebut, sebelum pergi ke Roma untuk mendirikan Gereja disana.  Ignatius dari Antiokhia (menjadi martir pada sekitar tahun 107), yang dipilih menjadi uskup ketiga dari kota tersebut, menjadi seorang bapak apostolik berpengaruh. Pada abad ke-4, uskup Antiokhia menjadi uskup paling senior di sebuah wilayah yang pada masa sekarang meliputi timur Turki, Lebanon, Israel dan Palestina, Suriah, Yordania, Irak, dan Iran. Hierarki-nya melayani jumlah penganut Kristen terbesar yang diketahui dunia pada waktu itu.

Antiokhia di Pisidia

Antiokhia di Pisidia (Yunani: Ἀντιόχεια τῆς Πισιδίας, Latin: Antiochia Caesareia atau Antiochia Caesaria) adalah sebuah kota di Daerah Danau Turki, yang terletak di persimpangan Laut Tengah, Laut Aegea dan daerah Anatolia Tengah, dan sebelumnya di perbatasan Pisidia dan Frigia, oleh sebab itu dikenal juga sebagai Antiokhia di Frigia. Situs ini terletak sekitar 1 km timur laut Yalvac, kota modern dari Provinsi Isparta. Kota ini berada di sebuah bukit dengan titik tertinggi 1.236 m di utara.

Geografi
Kota ini dikelilingi di sebelah timur oleh ngarai dalam dari Sungai Anthius yang mengalir ke Danau Eğirdir, dengan pegunungan Sultan di sebelah timur laut, Gunung Karakuş di sebelah utara, Kızıldağ ("Gunung Merah") di sebelah tenggara, Gunung Kirişli serta pantai utara Danau Eğirdir di sebelah barat daya

Meskipun di peta kelihatan dekat dengan Laut Tengah, iklim hangat di selatan tidak dapat melampaui ketinggian Pegunungan Taurus. Karena iklim itu, tidak ada industri kayu, melainkan tanaman perkebunan yang tumbuh di daerah tersebut dengan suplai air dari Pegunungan Sultan, yang mencapai rata-rata curah hujan tahunan sekitar 1000 mm pada puncak-puncak dan 500 mm pada lereng-lerengnya. Aliran ini mengairi dataran tinggi dan kota Antiokhia. Kota-kota lain di Pisidia seperti Neapolis, Tyriacum, Laodicea Combusta (Laodiceia Katakekaumene) dan Philomelium didirikan di lereng-lereng, mengambil manfaat dari kesuburannya.

Sejarah
Selama pemerintahan kaisar Romawi, Augustus, delapan koloni didirikan di Pisidia, tetapi hanya kota Antiokhia yang diberi kehormatan dengan gelar "Kaisarea" serta mendapat hak Ius Italicum, mungkin karena posisi strategisnya. Kota ini menjadi koloni Romawi penting yang meningkat menjadi posisi ibu kota dengan nama "Colonia Caesarea".

Proses Helenisasi menjadi Latinisasi selama periode Romawi dan diterapkan dengan baik di Antiokhia. Kota ini dibagi atas tujuh kwartir yang disebut "vicus" (bentuk jamak: "vici") semuanya didirikan di atas tujuh bukit seperti kota Roma. Bahasa resmi adalah bahasa Latin sampai akhir abad ke-3. Kesuburan tanah dan suasana damai pada masa Augustus (Pax Romana: Masa Damai Romawi) memudahkan para veteran sebagai kolonis di daerah itu untuk menjalin hubungan baik dan berintegrasi dengan penduduk setempat.

Salah satu dari tiga salinan yang masih terlestarikan dari Res Gestae Divi Augusti, inskripsi terkenal yang mencatat dokumen agung dari Kaisar Agustus yang ditemukan di depan Augusteum di Antiokhia. Aslinya dipahat pada lempengan perunggu dan dipertontonkan di depan Mausoleum Augustus di kota Roma, tetapi sayangnya sudah hilang. Salinan di Antiokhia terbuat dari batu, ditulis dalam bahasa Latin, yang menunjukkan tanda pentingnya kota ini sebagai markas militer dan budaya Romawi di Asia. (Salah satu salinan, dalam bahasa Yunani dan Latin, berada di Ankara, satu lainnya, dalam bahasa Yunani di Apollonia - Uluborlu).

Masa awal Kekristenan - Bizantin
Antiokhia menjadi ibu kota banyak budaya berbeda karena aktivitas ekonomi, militer dan agamawi di daerah itu. Inilah alasan mengapa rasul Paulus menyampaikan kotbah pertamanya kepada orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 13:13–52) di sini, dan mengunjungi kota ini setiap kali dalam perjalanan misinya, membantu Antiokhia menjadi suatu pusat kekristenan di Anatolia.

Pembebasan Kekristenan oleh kaisar Konstantinus I pada tahun 311 dan dikeluarkannya hukum yang mendukung hal itu, menyebabkan banyak orang menganut agama baru tersebut. Antiokhia memainkan peranan penting sebagai kota metropolitan untuk pertemuan konsili-konsili gereja. Kota ini menjadi ibu kota Provinsi Kristen Pisidia, yang didirikan pada abad ke-4 dan menjadi tempat pemimpin negara bagian dan keuskupan agung.

Barnabas

Barnabas adalah salah satu anggota jemaat mula-mula di Yerusalem.  Nama aslinya adalah Yusuf. Ia dipanggil Barnabas oleh para rasul. Arti Barnabas adalah "anak penghiburan". Ia kemudian dikenal sebagai penginjil di Antiokhia dan Siprus, serta teman seperjalanan Paulus.

Etimologi
Nama asli Barnabas, "Yusuf", pada naskah jenis teks Bizantin ditulis Ιὠσης, Iōsēs, 'Joses', suatu variasi Yunani untuk nama "Yosef". Setelah ia menjual hartanya dan menyerahkan uang hasil penjualan kepada para rasul di Yerusalem, ia diberi nama baru "Barnabas". Nama ini tampaknya dari bahasa Aram בר נביא, bar naḇyā, artinya 'putra nabi'. Namun, teks bahasa Yunani pada Kisah Para Rasul 4:36 menjelaskan namanya sebagai υἱός παρακλήσεως, hyios paraklēseōs, artinya "putra penghiburan" atau "putra pendorong". Hubungan serupa antara "kenabian" dan "pendorongan" ditemukan pada surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, yaitu 1 Korintus 14:3.

Pertemuan dengan Paulus

Barnabas adalah orang Yahudi dari keturunan suku Lewi yang berasal dari Siprus. Barnabas dikenal sebagai orang jujur yang menjual ladangnya dan uang hasil penjualannya diletakkan di depan kaki rasul-rasul (Kisah Para Rasul 4:37). Barnabas pertama kali berjumpa dengan Paulus ketika Paulus berkunjung ke Yerusalem dan Barnabaslah yang kemudian memperkenalkan Paulus kepada para rasul (Kisah Para Rasul 9:27). Barnabaslah yang meyakinkan pengikut Yesus, jika Paulus yang saat itu dikenal sebagai Saulus yang terkenal penganiaya pengikut Yesus, sekarang sudah menjadi bagian dari murid-murid Yesus sejak Paulus melihat Tuhan dan mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 9:27).

Pelayanan
Bersama dengan Paulus, Barnabas diutus oleh jemaat di Antiokhia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Kemudian Yohanes yang disebut Markus ikut bergabung bersama mereka untuk memberitakan Injil ke Siprus. Buah dari pekabaran Injil di Siprus adalah bertobatnya Gubernur pulau itu yakni Sergius Paulus. Bernabas terus mengikut Paulus melanjutkan perjalanan demi mengabarkan Injil ke Pisidia, Ikonium, Listra dan Derbe hingga kembali ke Antiokhia. Ketika ia berada di Listra, banyak orang menganggapnya sebagai Zeus. Di Antiokhia, Barnabas bersama Paulus menghadapi keributan yang terjadi dalam jemaat mengenai sunat. Ada yang mengatakan bahwa orang yang menjadi Kristen harus disunat. Barnabas dan Paulus menolak pendapat tersebut. Barnabas terlibat dalam perselisihan dengan Paulus ketika mereka hendak melakukan perjalanan Pekabaran Injil untuk kedua kalinya. Barnabas bersikeras ingin membawa Yohanes yang disebut Markus tetapi Paulus menolak dengan alasan Markus sudah tidak setia. Akhirnya mereka berdua berpisah. Paulus pergi bersama Silas sedangkan Barnabas berangkat ke Siprus bersama Markus (Kisah Para Rasul 15:35-41). Namun demikian, Barnabas tetap berhubungan baik dengan Paulus (Galatia 2:9; 2 Timotius 4:11).

Perang Salib Pertama

Perang Salib Pertama (1096–1099) merupakan yang pertama dari sejumlah perang salib yang berupaya untuk merebut Tanah Suci, disahkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Perang ini dimulai sebagai suatu peziarahan yang meluas dalam Kekristenan Barat dan berakhir sebagai suatu ekspedisi militer oleh bangsa Eropa Katolik Roma untuk mendapatkan kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan kaum Muslim atas Levant (632–661). Pada akhirnya menyebabkan direbutnya kembali Yerusalem pada tahun 1099

Perang Salib I dimaklumkan pada tanggal 27 November 1095 oleh Paus Urbanus II dengan tujuan utama menanggapi suatu permohonan dari Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos, yang mana mengajukan permintaan agar para relawan dari barat datang untuk membantunya menghalau kaum Turki Seljuk dari Anatolia. Suatu tujuan tambahan segera menjadi sasaran utama, yaitu penaklukan kembali oleh kaum Kristen atas kota suci Yerusalem dan Tanah Suci serta membebaskan kaum Kristen Timur dari kekuasaan kaum Muslim.

Selama perang salib, para ksatria, petani, dan hamba dari banyak negara Eropa Barat melakukan perjalanan darat dan laut, pertama ke Konstantinopel dan kemudian menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, para tentara salib melancarkan serangan atas kota tersebut dan merebutnya pada bulan Juli 1099. Mereka juga mendirikan negara-negara tentara salib yaitu: Kerajaan Yerusalem, County Tripoli, Kepangeranan Antiokhia, dan County Edessa.

Perang Salib Pertama kemudian dilanjutkan dengan Perang Salib Kedua sampai Kesembilan. Peristiwa ini juga merupakan langkah besar pertama menuju pembukaan kembali perdagangan internasional sejak jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Karena Perang Salib Pertama utamanya berkaitan dengan Yerusalem, suatu kota yang tidak berada di bawah kekuasaan kaum Kristen selama 461 tahun, dan bala tentara salib menolak untuk mengembalikan tanah tersebut ke dalam kendali Kekaisaran Bizantium, maka status Perang Salib Pertama sebagai sesuatu yang sifatnya defensif atau agresif masih menjadi kontroversi.

Asal mula

Pada umumnya asal mula Perang-perang Salib, dan khususnya Perang Salib Pertama, diperdebatkan secara luas di kalangan sejarawan. Perang-perang Salib paling sering dikaitkan dengan situasi sosial dan politik di Eropa pada abad ke-11, timbulnya suatu gerakan reformasi di dalam kepausan, juga konfrontasi keagamaan dan politik antara Kekristenan dan Islam di Eropa dan Timur Tengah. Kekristenan telah menyebar di seluruh Eropa, Afrika, dan Timur Tengah pada Abad Kuno Akhir, tetapi pada awal abad ke-8 kekuasaan kaum Kristen di Eropa dan Anatolia menjadi terbatas setelah berbagai penaklukan oleh kaum Muslim.

Kekhalifahan Umayyah telah menaklukkan Suriah, Mesir, dan Afrika Utara dari Kekaisaran Bizantium yang didominasi kaum Kristen, serta Hispania dari Kerajaan Visigoth. Di Afrika Utara, Kekhalifahan Umayyah kemudian runtuh dan sejumlah kerajaan Muslim yang lebih kecil bermunculan, misalnya Aghlabiyyah yang menyerang Italia pada abad ke-9. Pisa, Genoa, dan Kepangeranan Catalunya mulai bertempur melawan berbagai kerajaan Muslim agar dapat menguasai Cekungan Mediterania, ditunjukkan dengan kampanye Mahdiya tahun 1087 serta pertempuran di Mallorca dan Sardinia.

Pada dasarnya, antara tahun 1096 dan 1011, bangsa Yunani Bizantium mengalami perang salib ini setibanya di Konstantinopel dalam tiga gelombang terpisah.

Pada awal musim panas tahun 1096, kelompok besar pertama yang sulit dikendalikan tiba di pinggiran Konstantinopel. Gelombang ini dikabarkan tidak disiplin dan tidak memiliki perlengkapan layaknya suatu pasukan sebagaimana dicatat dalam Perang Salib Rakyat. Kelompok pertama ini sering disebut sebagai Perang Salib Rakyat atau Petani, dipimpin oleh Peter sang Pertapa dan Gautier Sans-Avoir serta tidak mengetahui ataupun menghormati keinginan-keinginan Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos.

Gelombang kedua juga tidak berada di bawah komando sang Kaisar dan terdiri dari sejumlah pasukan dengan para komandan mereka masing-masing. Secara keseluruhan, kelompok ini dan gelombang pertama diperkirakan berjumlah 60.000.

Gelombang kedua dipimpin oleh Hugues I, Comte Vermandois, saudara Raja Philippe I dari Perancis. Selain itu dalam gelombang kedua juga ada Raymond IV, Comte Toulouse, dan pasukan dari Provença. "Adalah gelombang kedua para tentara salib ini yang kemudian melintasi Asia Kecil, merebut Antiokhia pada tahun 1098 dan akhirnya merebut Yerusalem pada tanggal 15 Juli 1099."

Gelombang ketiga, yang mana terdiri atas kontingen-kontingen dari Lombardia, Perancis, dan Bavaria, tiba di Yerusalem pada awal musim panas tahun 1101.

Situasi di Eropa
Di pinggiran barat Eropa dan dalam menghadapi ekspansi kaum Islam, Reconquista di Semenanjung Iberia masih terus berlangsung pada abad ke-11; hal ini sesekali merupakan isu ideologis, sebagaimana dibuktikan oleh Kodeks Vigilanus yang disusun pada tahun 881. Pada abad ke-11 semakin banyak ksatria dari luar, kebanyakan dari Perancis, yang datang ke Iberia untuk membantu kaum Kristen dalam upaya-upaya mereka. Sesaat menjelang Perang Salib Pertama, Paus Urbanus II telah mendorong kaum Kristen Iberia agar merebut kembali Tarragona dengan menggunakan banyak retorika dan simbolisme yang sama seperti yang digunakan kemudian untuk berkhotbah mengenai perang salib kepada orang-orang Eropa.

Jantung Eropa Barat dipandang telah dilakukan stabilisasi setelah Kristenisasi bangsa Hongaria, Viking, dan Saxon sampai akhir abad ke-10. Namun pemecahan Kekaisaran Karoling menimbulkan suatu kelas prajurit seluruhnya yang kini hanya sedikit melakukan sesuatu selain saling bertengkar sendiri. Kekerasan acak yang dilakukan oleh kelas kesatria ini secara teratur dikutuk oleh gereja tersebut, dan untuk menanggapinya dibuat penetapan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah (Peace and Truce of God) untuk melarang pertempuran pada hari-hari tertentu sepanjang tahun. Pada saat yang sama, kepausan yang berorientasi pada pembaharuan itu terlibat konflik dengan para Kaisar Romawi Suci, sehingga mengakibatkan Kontroversi Penobatan. Para Paus seperti Paus Gregorius VII membenarkan peperangan berikutnya untuk melawan para pedukung kaisar dalam aspek teologis. Kemudian hal ini menjadi dapat diterima bagi sang Paus untuk memanfaatkan para kesatria atas nama dunia Kristen, bukan hanya terhadap musuh-musuh politik Kepausan tersebut, tetapi juga terhadap Al-Andalus, atau, secara teoretis, terhadap Dinasti Seljuk di timur.

Di sebelah timur Eropa terdapat Kekaisaran Bizantium, terdiri dari kaum Kristen yang telah lama menggunakan suatu ritus Ortodoks tersendiri; Gereja Ortodoks Timur dan Katolik Roma telah mengalami perpecahan sejak tahun 1054. Para sejarawan berpendapat bahwa keinginan untuk memaksakan otoritas Gereja Roma di wilayah timur mungkin menjadi salah satu tujuan perang salib ini, kendati Urbanus II yang mana mengawali Perang Salib Pertama tidak pernah menyebut tujuan demikian dalam surat-suratnya mengenai praktik perang salib. Bangsa Turki Seljuk saat itu telah mengambil alih hampir seluruh Anatolia setelah kekalahan Bizantium dalam Pertempuran Manzikert tahun 1071. Bagaimanapun penaklukan mereka dilakukan satu demi satu dan dipimpin oleh para panglima perang semi-independen, bukan oleh sang sultan. Suatu keruntuhan yang dramatis atas posisi kekaisaran pada malam menjelang Konsili Clermont membawa Bizantium menuju ambang kehancuran. Pada pertengahan tahun 1090-an, wilayah Kekaisaran Bizantium utamanya hanya sebatas Eropa bagian Balkan dan pinggiran barat laut Anatolia; mereka menghadapi musuh-musuhnya dari bangsa Norman di barat serta bangsa Turki di timur. Sebagai tanggapan atas kekalahan di Manzikert dan berbagai kehilangan selanjutnya yang dialami Bizantium di Anatolia pada tahun 1074, Paus Gregorius VII memanggil milites Christi ("para prajurit Kristus") agar pergi untuk membantu Bizantium. Panggilan ini kebanyakan diabaikan dan bahkan ditentang. Alasannya adalah walaupun kekalahan di Manzikert mengejutkan, namun hanya memiliki arti penting yang terbatas dan tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan besar bagi Kekaisaran Bizanium, setidaknya dalam jangka pendek.

Situasi di Timur Tengah

Sampai kedatangan para tentara salib, kaum Bizantium terus berjuang melawan orang Seljuk dan dinasti Turki lainnya demi penguasaan atas Anatolia dan Suriah. Orang Seljuk, yang mana merupakan kaum Muslim Sunni yang ortodoks, sebelumnya memerintah Kesultanan Seljuk Raya, namun saat berlangsungnya Perang Salib Pertama telah terbagi-bagi menjadi beberapa negara kecil setelah wafatnya Malik-Shah I pada tahun 1092.

Malik-Shah digantikan oleh Kılıç Arslan I di Kesultanan Rûm di Anatolia, dan di Suriah oleh Tutuş I yang kemudian wafat pada tahun 1095 saudaranya. Para putra Tutuş, yaitu Fahrülmülk Rıdvan dan Dukak berturut-turut mewarisi Aleppo dan Damaskus; mereka selanjutnya membagi-bagi Suriah di antara para amir yang saling bermusuhan, serta Kürboğa, atabeg dari Mosul.

Mesir dan banyak daerah Palestina berada dalam kendali Kekhalifahan Fatimiyah penganut Syi'ah Arab, yang mana wilayahnya lebih kecil secara signifikan sejak kedatangan orang Seljuk. Peperangan antara Fatimiyah dan Seljuk menyebabkan gangguan yang sangat besar bagi kaum Kristen setempat dan para peziarah dari Barat. Kekhalifahan Fatimiyah, yang mana secara nominal berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Musta'li namun sesungguhnya berada di bawah kendali Wazir Al-Afdhal Syahansyah, telah kehilangan Yerusalem karena direbut Kesultanan Seljuk pada tahun 1073 (kendati beberapa catatan yang lebih lama menyebutkan tahun 1076). Mereka merebutnya kembali pada tahun 1098 dari Dinasti Artuqid, suatu suku bangsa Turki Seljuk yang lebih kecil, sesaat sebelum kedatangan para tentara salib.

Antiokhia

Antiokhia (bahasa Yunani: Αντιόχεια η επί Δάφνη, Αντιόχεια η επί Ορόντου or Αντιόχεια η Μεγάλη; bahasa Latin: Antiochia ad Orontem; juga Antiochia dei Siri, Antiokhia Suriah; bahasa Turki: Antakya; bahasa Suryani: ܐܢܛܝܘܟܝܐ Anṭiokia; bahasa Ibrani: אנטיוכיה, antiyokhya; bahasa Georgia: ანტიოქია; bahasa Armenia: Անտիոք Antiok) adalah sebuah kota tua yang terletak di sisi timur sungai Orontes, terletak di tempat kota modern di Antakya, Turki. Kota ini merupakan pusat agama Kristen pada abad-abad pertama Masehi dan disebut dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Di kota inilah murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut dengan istilah Kristen (artinya "Kristus kecil" atau "golongan Kristus") menurut catatan kitab Kisah Para Rasul 11.

Kota ini didirikan sekitar akhir abad ke-4 SM oleh Seleukos I Nicator, salah satu jendral Alexander Agung, Antiokhia didirikan untuk menyaingi Alexandria. Aslinya kota ini dibangun dengan tata kota yang mirip dengan Alexandria di Mesir oleh arsitek Xenarius. Libanius menggambarkan gedung pertama dan tatanan kota ini (i. p. 300. 17). Benteng utama (citadel) terletak di Gunung Silpius. Kota itu terletak sebagian besar di tanah rendah di sebelah utara, dekat dengan sungai. Dua jalan berpilar berpotongan di tengah kota. Tidak lama kemudian kawasan ke-2 dibangun, di sebelah timurnya, oleh Antiokhos I, yang menurut tulisan Strabo, tampaknya dihuni penduduk asli, bukan orang Yunani. Kawasan ini ditutupi oleh dinding tembok sendiri

Di sungai Orontes, sebelah utara kota, terdapat sebuah pulau besar dan di pulau ini Seleukos II Callinicus memulai kota bertembok ketiga, yang diselesaikan oleh Antiokhos III. Kawasan keempat dan terakhir ditambahkan oleh Antiokhos IV Epiphanes (175-164 SM); dan sejak itu Antiokhia dikenal sebagai Tetrapolis ("Empat kota"). Dari barat ke timur seluruhnya berdiameter sekitar 6 km dan sedikit lebih pendek dari utara ke selatan, di mana terdapat banyak taman.