Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Feb 20, 2017

Eropa Kuno

Bangsa Yunani Kuno memiliki peradaban yang tinggi. Peradaban Yunani inilah yang kemudian dikembangkan oleh bangsa barat. Peradaban bangsa Yunani ini meliputi kebudayaan Kreta, Polis, sistem kepercayaan, dan hasil-hasil kebudayaan. Yunani dikelilingi oleh laut Aegea dan laut lonea. Yunani terdiri atas dua bagian, yaitu Yunani daratan dan Yunani kepulauan. Yunani daratan terdiri atas beberapa pegunungan, daerahnya terpecah-pecah, pantainya berteluk-teluk, dan airnya tenang. Oleh karena itu, Yunani sangat cocok untuk kepulauan. Sementara itu, Yunani kepulauan berada di laut Aegea, daerah ini terdiri dari pulau-pulau. Di antara pulau-pulau tersebut terdapat pulau Kreta. Pulau Kreta adalah awal perkembangan kebudayaan di Yunani dan romawi.

1. Peradaban Pulau Kreta (2600-1500 SM)
Sejarah eropa kuno berawal dari kehidupan masyarakat pulau Kreta yang terletak di sebelah selatan Yunani dengan pusat pemerintahannya di Knossus. Selain knossus masih ada kota-kota besar yang lain yaitu phaestos, Tylissos, Hanos. Letak pulau Kreta sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran antara Mesir, Yunani, dan Mesopotania. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat pulau Kreta untuk hidup dari sektor pelayaran dan perdagangan. selain itu, pulau Kreta menjadi jembatan budaya antara Asia, Afrika, dan Eropa.

Penduduk pulau Kreta berasal dari Asia kecil. Pada 3000-1500 SM, Mereka telah memiliki kebudayaan yang tiggi. Kebudayaan dibangun akibat adanya kekuatan maritim. Mereka memiliki armada laut yang kuat untuk mempertahankan daerahnya. Rakyatnya hidup dari perdagangan di laut Aegea dan laut tengah bagian timur. Kebudayaan pulau Kreta disebut "Kebudayaan Minos." Nama ini di ambil dari nama Minos, Yaitu "Raja Pulau Kreta" yang berkedudukan di kota Knosus.

Hasil kebudayaan berupa arsitektur. seni patung. dan seni kerajinan. Arsitektur ini didapatkan di istana besar di Knosus. Dinding-dindingnya diwarnai dengan lukisan berwarna dari cat air. Istana tersebut dibangun oleh raja Minos pada tahun 1600 SM. Di Knosus ditemukan juga tempat pemandian. Bangsa Yunani telah memiliki seni kerajinan keramik yang indah.

Sejarah pulau Kreta juga dapat diketahui dari karya sastra berupa legenda dan mitologi karangan penyair Homerus yang berjudul Liliad dan Odysseia. Homerus menceritakan pulau Kreta yang indah permai, memiliki tidak kurang dari 90 kota. Uraian tersebut diperkuat oleh Sir Arthur Evans dari Inggris yang pertama kali melakukan penggalian pada tahun 1878. Penggalian tersebut menemukan bukti-bukti arkeologi mengenai kejayaan pulau Kreta pada masa lalu. Kegiatan pelayaran dan perdagangan telah mendatangkan tingkat kemakmuran yang tinggi bagi masyarakat pulau Kreta. Kota-kota pusat perdagangan seperti Knosus dan Phaestos telah tertata dengan baik. Bangunan gedung pada umumnya terbuat dari bata serta ada bangunan yang tertingkat.

Di Knosus ditemukan reruntuhan istana yang berbentuk labirin (rumah siput). Labyrinth (labirin) berasal dari kata "Labrys" yang berarti "mudah tersesat." Bangunan istana didesain sedemikian rupa agar seseorang yang masuk akan mudah tersesat karena susunan kamar-kamar, ruangan dan lorongnya yang rumit. Struktur ruangan yang rumit akan menghalangi para penjahat yang masuk istana dan ingin menjarah kekayaan istana. Selain itu, Letaknya yang strategis tidak menutup kemungkinan pulau Kreta menjadi incaran bangsa lain.

Masyarakat pulau Kreta juga mengenal seni lukis Fresko, seni porselin/gerabah, seni pahat pada gading atau media yang lain seni kerajinan logam. Karya seni ini juga menghasilkan peralatan rumah tangga, misalnya alat pertukangan, sepatu, pengecoran logam dan lain-lain. Masyarakat Kreta juga telah mengenal bentuk tulisan yang di sebut tulisan Minos. Nama Minos berasal dari nama seorang raja besar di pulau Kreta, bahkan kebudayaan pulau Kreta akhirnya disebut kebudayaan Minoa. Meskipun telah ditemukan peninggalan tulisan sampai sekarang belum berhasil terbaca. Hal ini menyebabkan sejarah pulau Kreta belum dapat diungkap secara jelas.

Kejayaan kebudayaan Kreta mencapai puncak kejayaannya pada masa raja Minos (Periode Minoa). Pada waktu itu Raja Minos menguasai laut Aegea, hingga swedia. Raja Minos mampu menyatukan dataran Eropa, Asia, dan Afrika. Kerajaan Mitos telah memanfaatkan letak geografisnya yang strategis, mengembangkan bidang pelayarannya dan memperkuat armada lautnya. armada maritim Minos telah berhasil membuat kerajaan ini membina hubungan dagang yang baik dengan Mesir, Syria, Babylon, Asia kecil, dan lain-lain, bahkan menjadi negara yang menguasai lautan. Berbagai kepulauan di laut Aegea ramai-ramai membina hubungan dengan pertukaran duta negara, Swedia bahkan menyetor upeti pada Minos. Bangsa ini akhirnya hancur karena bencana alam.

Pada abad ke-15 SM kerajaan di pulau Kreta mengalami keruntuhan. Menurut dugaan para ahli penyebab runtuhnya peradaban pulau Kreta karena bencana alam. sekitar abad ke-15 SM Gunung Thera yang letaknya 100 KM di utara pulau Kreta meletus dan memuntahkan lava dan abu yang menutupi angkasa. Abu vulkanik tersebut menghalagi aktivitas kehidupan dan membunuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan. Selain bencana alam, faktor lain adalah invasi bangsa pendatang. Pulau Kreta diserang oleh bangsa Mikene. mereka meniru kebudayaan Minos. Hal ini terbukti dengan peninggalannya berupa: istana yang memiliki 60 kamar, Thallos, kuburan berbentuk sarang lebah.

2. Tumbuh dan Berkembangnya Peradaban Yunani

Yunani merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Eropa. Daerah Yunani terletak di ujung tenggara benua Eropa. Sebagian besar kepulauan di laut Aegea dan laut lonia masuk wilayah Yunani. Di sebelah utara, Yunani berbatasan dengan albania, Yugoslavia, Bulgaria, dan turki di daratan eropa. di sebalah timur, Yunani dikelilingi oleh laut Aegea, disebelah selatan dengan laut tengah, dan di sebelah barat dengan laut lonia. Yunani beriklim laut tengah yang nyaman.
Peradaban Yunani lahir di lingkungan geografis yang sebenarnya tidak mendukung. Tanah Yunani tidak seperti Mesopotamia, Huang Ho, ataupun mesir yang subur. Yunani merukapan tanah yang kering, dengan banyak benteng alam yang kuat berupa jurang-jurang yang terjal, gunung-gunung yang tinggi, serta pantai-pantai yang curam dan terjal. Hujan sangat jarang turun di Yunani.

A. Kehidupan Masyarakat.
Tanah Yunani  yang bergunung-gunung pada umumnya kurang subur. Di lereng pegunungan masyarakat dapat menanam gandum serta anggur. Untuk mencapai daerah yang subur, para petani (disebut colonus) meninggalkan negrinya dan mendirikan daerah koloni di sekitar Yunani. Daerah koloni Yunani antara lain italia selatan, Mesir, Palestina, dan Asia kecil (turki sekarang).
Kehidupan masyarakat Yunani yang mendiami wilayah beriklim mediteran yang selalu hangat dan segar memungkinkannya bersikap optimis dan berwatak riang. Suasana lagit yang terang tanpa banyak awan di daerah attica(Athena) juga menyebabkan semangat penduduknya tinggi dan kreasinya menonjol. Itulah sebabnya di Athena berkembang pesat kebudayaan baik di bidang seni maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.

B. Polis 
Bangsa Yunani terdiri dari atas berbagai suku bangsa. Mereka mendiami wiliyahyang di sebut "negara kota" atau "polis." polis yaitu sebuah kota yang berbentang sebagai pusat kota dengan daerah pedesaandi sekitarnya. Setiap polis didiami oleh masyarakat merdeka dengan hak pemerintahan sendiri. polis pada hakikatnya adalah sebuah negara kecil yang merdeka. Di Yunani terdapat tiga polis dan kuat yaitu Thena, Sparta, dan Thebe.
Negeri yang berkembang mula-mula di daratan Yunani adalah kota perdagangan Mycena yang semula merupakan daerah koloni kerajaan Kreta, kemudian, berkembanglah ratusan polis di Yunani.
Hubungan antar  polis di Yunani antara lain dalam perdagangan ataupun pertukaran ide/gagasan yang kemudian membentuk peradaban Yunani. Masyarakat Yunani sebagian warga kota. Mereka merasa superior sedangkan yang tinggal di luar polis di anggap sebagai bangsa barbar. Rasa superioritas itu kemudian tampak pada masyarakat yang tinggi di polis-polis terkemuka di Yunani antara lain sparta dan Athea.

C. Sistem Pemerintahan Yunani
Yunani tidak memiliki sistem pemerintahan sentralisasi tetapi desentralisasi karena tiap-tip polis mengembangkan sistem pemerintahan masing-masing. Sistem pemerintahan dari dua polis terkemuka di Yunani, Yaitu Sparta dan Athea dengan konstitusi yang berbeda sebagai berikut:
  • Polis Sparta 
    Konstitusi sparta membagi masyarakat menjadi tiga golongan yaitu citizens, hellot, dan peiroikoi. citizens adalah orang-orang sparta yang jumblahnya antara 5-10% dari seluruh penduduk. Mereka terdiri atas para penguasa dan tentara.
    kaum helot merupakan sebagian  besar dari penduduk yang berkeja sebagai petani, buruh tani, dan pelayan dari orang-orang sparta. Adapun kaum peiroiko adalah orang-orang yang tinggal di pinggiran kota, hidup sebagai petani, pedagang, dan bekerja di pertambangan. Sistem pemerintahan sparta yang militeristis mengutamakan latihan kemiliteran dan di siplin yang keras bagi masyarakat.
  • Polis Athena

    Warga Athena jauh berbeda dengan sparta. Athena memberikan jaminan kepada warganya dan menghapuskan perbudakan. Warga difokuskan untuk kemajuan seni, teknologi, dan filsafat. Athena merupakan polis yang menerapkan sistem demokrasi. Sistem itu di perkenalkan oleh solo (638 SM-559 SM). Dengan sistem itu, kekuasaan berada di tangan dewan rakyat. Pelaksanaan pemerintahan di lakukan oleh sembilan orang archon yang setiap tahunnya di ganti. Para archon diawasi oleh Aeropagus (mahkamah agung) yang para anggotanya berasal dari mantan anggota Archon.
D. Sistem kepercayaan
Kepercayaan bangsa Yunani kuno adalah politeisme. Dewa tertinggi adalah dewa Zeus. Zeus merupakan sumber kesusilaan, pelindung, dan pencipta keadilan. Dewa-dewa lainnya adalah Ares (dewa perang), Apollo (dewa kesenian), Pallas Athena (dewi pengetahuan), Aphrodite (dewi kecantikan), Hermes (dewa perdagangan), Posiedon (dewa laut) dan Artemis (dewa perburuan). Menurut kepercayaan Yunani kuno para dewa bersemayam di bukit Olympus.

3. Masa Akhir Kejayaan Yunani
Peristiwa yang menandai masa akhir kejayaan Yunani sebagai berikut:
Perang Peloponesos 431-404 SM
  • Perang  peloponesos dikarenakan polis Athena yang memimpin persekutuan polis-polis di jazirah Attica (disebut liga delos) memiliki pengaruh yang terlalu kuat baik di bidang politik maupun ekonomi Yunani. Akibatnya, banyak polis yang khwatir menjadi sasaran ekspansi dan dikuasai Athena. Keadaan ini memyebabkan sparta sebagai pemimpin liga peloponesos bangkit memimpin polis-polis lain menghadapi Athena.
    Kematian perikles menyebabkan lemahnya kepemimpinan Athena. Pada 404 SM sparta dapat mengalahkan Athena karena bantuan persia. Perang saudara tersebut dikisahkan oleh sejarawan Thucydides secara ilmiah. ia menulis sejarah berdasarkan fakta dan mencoba menuliskannya secara obyektif. perang tersebut mengakibatkan rapuhnya pertahanan Yunani untuk menghadapi ancaman dari luar berupa penaklukan oleh raja Makedonia.
  • Yunani Jatuh ke tangan Alexander Agung Dari Makedonia
    Alexander Agung menjadi raja pada usia 20 tahun. Ia adalah murid Aristoteles. Cita-citanya adalah menguasai kerajaan dunia pada waktu itu yang meliputi Eropa (Yunani), Afrika (mesir), dan asia (mesopotamia dan persia).
Di bawah kekuasaannya raja memadukan budaya setempat dengan budaya Yunani sehingga lahirlah budaya baru di sebut Hellenisme. Alexander Agung juga mendirikan kota-kota di wilayah kekuasaannya yang semua nya di beri nama Alexandria dan didirikan pula perpustakaan di tiap kota tersebut. Salah satu kota Alexandria masih terdapat di mesir hingga sekarang.

Harmagedon

Kata “Harmagedon” berasal dari bahasa Ibrani “Har-Magedon” yang berarti “Gunung Megido.” 

Kata ini telah diasosiasikan dengan peperangan di masa yang akan datang di mana Allah akan campur tangan dan menghancurkan bala tentara Anti Kristus sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab (Wahyu 16:16; 20:1-3; 7-10). Akan ada jutaan orang yang terlibat dalam peperangan Harmagedon, karena semua bangsa akan berkumpul bersama untuk melawan Kristus. 

Lokasi persis dari lembah Harmagedon tidaklah jelas karena tidak ada gunung yang bernama Megido. Namun, karena “Har” dapat pula berarti “bukit”, lokasi yang paling mungkin itu daerah perbukitan yang mengelilingi Dataran Megido, kurang lebih enam puluh mil sebelah Utara Yerusalem. Lebih dari dua ratus peperangan terjadi di daerah tersebut. 

Dataran Megido dan Dataran Esdralon yang berdekatan akan menjadi titik fokus peperangan Harmagedon yang akan berkecamuk di sepanjang wilayah Israel sampai ke bagian Selatan sejauh kota Bozrah di wilayah Edom (Yesaya 63:1). 

Lembah Harmagedon terkenal karena dua kemenangan besar dalam sejarah Israel: 
(1) Kemenangan Barak atas orang-orang Kanaan (Hakim-Hakim 4:15), dan 
(2) Kemenangan Gideon terhadap orang-orang Midian (Hakim-Hakim pasal 7). 

Harmagedon juga menjadi lokasi dari dua tragedi besar: 
(1) matinya Saul dan anak-anaknya (1 Samuel 31:8), dan 
(2) matinya raja Yosia (2 Raja-Raja 23:29-30; 2 Tawarikh 35:22).

Karena sejarah ini, lembah Harmagedon menjadi simbol dari pertempuran terakhir antara Allah dan kekuatan si jahat. Kata “Harmagedon” hanya muncul dalam Wahyu 16:16, “Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.” 

Ini berbicara soal raja-raja yang setia kepada Anti Kristus berkumpul bersama untuk menyerang Israel untuk terakhir kalinya. Di Harmagedon, “cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya” (Wahyu 16:19) akan dicurahkan, dan Anti Kristus dan para pengikutnya akan dikalahkan. 

Harmagedon merupakan istilah umum yang merujuk pada akhir dari dunia, bukan sekedar peperangan yang mengambil tempat di Dataran Megido.

Feb 13, 2017

Gerbang Goliath

Pintu Masuk ke Kota Metropolis Alkitab ditemukan. Temuan gerbang Goliath menjadi benteng monumental yang menekankan betapa besar dan perkasa kota ini.

Gerbang Goliath: Pintu Masuk ke Kota Metropolis Alkitab ditemukanProses penggalian situs kuno Gerbang Goliath di Israel. (Aren Maeir). Sebuah gerbang besar yang digali di Israel mungkin menjadi tanda sebagai pintu masuk ke kota Alkitab, dan menandai bahwa pada masa kejayaannya kota itu adalah kota metropolis terbesar di wilayah tersebut.

Kota yang disebut Gath, sampai abad kesembilan SM dalam cerita Alkitab, diduduki orang Filistin musuh bebuyutan Israel yang memerintah kota. Perjanjian Lama juga menjelaskan Gath sebagai rumah Goliat, prajurit raksasa yang ditaklukan Raja Daud dengan ketapel.

Pemimpin arkeolog yang melakukan penggalian, Aren Maeir, dari Bar-Ilan University mengatakan bahwa temuan baru tersebut menunjukkan betapa mengesankan kota Filistin kuno dahulu.
"Kami tahu bahwa Kota Gath pada abad 10-9 SM adalah sebuah kota besar, mungkin yang terbesar di negeri itu," kata Maeir kepada Live Science melalui email.
"Temuan ini menjadi benteng monumental yang menekankan betapa besar dan perkasa kota ini."

Situs Kuno


Gerbang yang ditemukan di Tell es-Safi, dihuni terus-menerus selama hampir 5.000 tahun. Arkeolog telah menggali di tempat tersebut sejak tahun 1899, tak sampai beberapa dekade terakhir hingga akhirnya mereka menyadari betapa besar sisa-sisa keruntuhan Zaman Besi.

Kedua ukuran pemukiman yang mengesankan dan disebutkan dalam cerita Alkitab menunjukkan pada peneliti bahwa situs tersebut memang kota bersejarah Gath. Kota itu diperintah oleh orang Filistin, yang tinggal di sebelah kerajaan Yahudi dan Israel. Kebanyakan ahli berpendapat bahwa Gath dikelilingi dan menjadi tempat pembuangan limbah oleh Hazael, raja Aram Damaskus, pada 830 SM.

Tim ini menggali parit untuk mencari benteng kota kuno ketika mereka menemukan permukaan atas gerbang monumental dan benteng. Karena dinding yang tersisa begitu besar, mungkin diperlukan beberapa musim untuk sepenuhnya menemukan mereka.

Sejauh ini, hanya permukaan atas struktur yang terlihat, tapi berdasarkan ukuran dan bentuk batu yang digunakan untuk membuatnya, tembok kota pasti berukuran cukup besar. Benteng perkasa yang akan membentuk batas mengesankan yang mencegah Kerajaan Yehuda dari perluasan ke arah barat.

Tim juga menemukan besi dan sebuah kuil Filistin dekat gerbang monumental, dengan beberapa tembikar dan temuan lain yang biasanya terkait dengan budaya orang Filistin. Meskipun tembikar merupakan gaya khas orang Filistin, hal itu juga menunjukkan unsur teknik Israel, menunjukkan budaya mempengaruhi satu sama lain dalam cara-cara yang tidak terkait dengan perang.

Hal ini mencerminkan hubungan intens dan beraneka rupa yang ada antara orang Filistin dan tetangga mereka. Meskipun orang Filistin sering dianggap sebagai musuh bebuyutan dari Israel dan Yehuda, hubungan itu jauh lebih kompleks.

Raja Arab Saudi Keturunan Yahudi

Diringkaskan dari: Risalah Mujahidin , Indonesia, edisi 26 Jan-Feb 2009 Penulis buku berjudul ' Ali Saud min aina wa ila aina' ( Ali Saud dari mana dan ke mana ) iaitu Muhammad Shakher menggemparkan dunia apabila mendedahkan fakta berkaitan siapa sebenarnya Dinasti Saud sehingga setiap kali berlaku konflik antara Palestin – Israel, pasti mereka diam dan bungkam. Muhammad Shakher akhirnya dibunuh oleh Regim Saudi kerana penemuannya yang menggemparkan itu. Benarkah Dinasti Saud berasal dari keturunan Anza bin Wael, keturunan Yahudi militant ?

Informasi yang didedahkan sangat mencekam sekaligus mencengangkan. Sulit untuk dipercayai, sebuah dinasti yang bernaung dibawah kerajaan Islam Saudi boleh melakukan kebiadaban iblis dengan melakukan pembakaran masjid sekaligus membunuh jama'ah solat yang berada didalamnya. Jika isi buku yang terbit pada 03 Rabi'ul Awal 1401 H (1981 M) ini 'terpaksa' dipercayai kerana faktanya yang jelas, maka kejahatan Kerajaan Arab Saudi terhadap kabilah Arab dahulu, sama seperti kebuasan Zionis Israel membantai rakyat Muslim di Jalur Ghazzah.

Lebih mencurigakan lagi, sikap kelompok Salafiyyun di Indonesia yang menolak dari mengutuk Israel. Lidah mereka lebih fasih mengutuk tertuduh bom Bali, Imam Samudera, Amrozi dan Al-Ghufron daripada mengutuk Ariel Sahron, Ehud Olmert, Meir Dagan, Tzipi Livni dan tokoh Zionis lainnya. Alasannya, mengikuti doktrin Dinasti Saud bahwa Israel anak keturunan Nabi Ya'akub. Seorang Salafi di Mataram yang tidak mahu membela Palestin dan menolak mengutuk Israel menyebut, " Bangsa Israel tidak boleh dimusuhi kerana mereka keturunan Nabi Ya'akub a.s".

Hasil dari pendedahan sebanyak 43 halaman buku tersebut ditambah dengan banyak rujukan lainnya, disebutkan bahawa Dinasti Saudi bermula sejak abad ke-12 Hijrah atau abad ke-18 Masihi. Ketika itu di tengah kota Jazirah Arab, tepatnya di wilayah Najd yang secara sejarahnya sangat terkenal, lahirnya Nagara Saudi yang pertama didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di Ad-Dir'iyah yang terletak di sebelah barat laut Kota Riyadh pada tahun 1175 H / 1744 M dan meliputi hampir sebahagian besar wilayah Jaizrah Arab.
Negara ini mengaku memikul tanggungjawab dakwah menuju kemurniaan Tauhid kepada Allah, mencegah pebuatan bid'ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Soleh dan berpegang teguh kepada dasar-dasar Islam yang lurus. Peringkat awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H / 1818 M. Peringkat kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H / 1824 M. Peringkat ini berlangsung hingga tahun 1309 H / 1891 M. Pada tahun 1319 H / 1902 M, Raja Abdul Aziz berhasrat mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota Riyadh yang merupakan ibu kota bersejarah kerajaan ini.

Semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab Moden, iaitu berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bahagian terbesar wilayah Jazirah Arab, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas kedalam sebuah Negara moden yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini yang dideklarasikan pada tahun 1351 H / 1932 M merupakan bermulanya fasa baru sejarah Arab moden. Raja Abdul Aziz As-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja Dinasti Saud untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar kemanan dan ketenteraman keseluruh penjuru negeri Kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama' dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidarity Islam dan memperkuatkan tali persaudaraan diantara seluruh bangsa Arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia. Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak langkahnya dalam memimpin Kerajaan Arab Saudi. Mereka adalah Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd dan pelayan II Kota Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Dinasti Saud Keturunan Yahudi

Namun, dimasa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H. Sekumpulan lelaki dari Bani Al-Masalikh iaitu keturunan dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang yang bergerak dibidang bisnes gandum dan jagung dan bahan makanan lain dari Iraq dan membawanya kembali ke Najd, Direktor perdagangan ini bernama Sahmi bin Hathlul. Kelompok dagang ini melakukan aktiviti bisnes mereka sampai ke Basra, disana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe.

Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu, "dari manakah anda berasal?" Mereka menjawab, "dari kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh". Setelah mendengar itu, orang Yahudi itu menjadi gembira dan mengaku bahawa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama tetapi terpaksa tinggal di Basrah, Iraq kerana persengketaan keluarga antara bapanya dan ahli keluarga kaum Anza.

Setelah itu Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan guni-guni berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal itu adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al-Masalikh itu dan menunjukkan kegembiraannya kerana berjumpa saudara tuanya di Iraq. Bagi pedagang Yahudi itu, kafilah dagang merupakan sumber pendapatan dan pertalian bisnes. Mordakhai adalah saudagar kayaraya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi dibalik wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.

Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, si Yahudi ini meminta diizinkan untuk bersama mereka kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka, Najd. Setelah mendengar permintaan lelaki Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza ini pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira. Pedagang Yahudi yang sedang bertaqiyyah (menyamar) itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya (kenderaan tunggangan). Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, teman dagang dan teman-teman dari Bani Al-Masalikh yang baru dikenal. Setelah itu, disekitar Mordakhai berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi, tanpa disangka dia berhadapan dengan seorang ulama' yang menentang doktrin dan fahamannya. Dialah Sheikh Salman Abdullah At-Taimi seorang ulama karismatik dari daerah Al-Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi dakwahnya sepanjang daerah Najd, Yaman dan Hijaz.

Oleh kerana suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai ( yang menurunkan keluarga Saud itu), berpindah dari Al-Qasem ke Al-Ihsa. Disana dia merubah namanya dari Mordakhai kepada Markhan bin Ibrahim Musa.Kemudian dia pindah dan menetap di sebuah tempat bernama Dlir'iya yang berdekatan dengan AlQateef. Disana dia memaklumatkan propaganda dustanya bahawa perisai Nabi s.a.w telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang kuat musyrikin pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan umat Islam. Katanya, "perisai itu telah dijual oleh Arab Musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Bani Qainuqa' yang menyimpannya sebagai harta karun".

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya dikalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaiman kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi. Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir'iya berdekatan Al-Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagah pusat Teluk Parsi. Dia kemudian mendapatkan idea untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan dia memasyhurkan dirinya sebagai raja kepada mereka.

Kabilah Ajaman dan kabilah Bani Khaled yang merupakan penduduk asli Dlir'iya menjadi risau akan sepak terajang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka merancang menentang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap Yahudi itu dan menawannya, namun dia berjaya meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi ini mencari suaka disebuah ladang bernama Al-Malibed Ghusaiba yang berdekatan dengan Al-Arid (sekarang Riyadh). Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyebunyikan diri dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikan tempat kepadanya untuk berlindung. Tetapi, tidak sampai sebulan tinggal dirumah pemilik kebun itu, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan kebun bersama keluarganya. Sungguh bengis, air susu dibalasa dengan tuba. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahawa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menceroboh masuk rumahnya. Dia juga berpura-pura bahawa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembunuhan itu. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir'iya iaitu nama tempat dari mana dia diusir dan sudah ditinggalkannya.

Lalu, Mordakhai dengan cepat mendirikan sebuah markaz dan tempat pertemuan bernama 'Madaffa' diatas tanah yang dirampasnya itu. Di markaz inilah beliau mengumpulkan para pahlawan dan kepala-kepala propaganda (kaum Munafiq) yang selanjutnya mereka jadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahawa Mordakhai adalah Syeikh kepada orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh gendang perang terhadap Sheikh Shaleh Salman At-Taimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Sheikh Salman terbunuh ditangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.

Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir'iya sebagai pusat kekuasaannya .Ditempat itulah dia mengamalkan poligami, mengahwini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian diberi nama dengan nama-nama Arab. Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir'iya dibawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan criminal , menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan perompakan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencuba menentang rencana jahat mereka. Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan pemikat-pemikat wanita dan gratifikasi wang kepada para pejabat berpengaruh dikawasan itu. Bahkan mereka 'menutup mulut dan membelenggu tangan' para sejarawan yang cuba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis keturunan mereka kepada kabilah Rabi'a, Anza dan Al-Masalikh.

Kelompok 'Wahabi' (bukan ittiba' dakwah muhammad bin abdul wahhab)
Seorang Munafiq bernama Muhammad Amin At-Tamimi (director / manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi ) menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk keluarga Yahudi ini (keluarga Saudi) dan menghubungkan keturunan mereka kepada Nabi Muhammad. Sebagai imbalannya, beliau mendapat sebesar 35.000 pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Cairo, Mesir pada tahun 1362 H / 1943 M. Nama duta besar ini adalah Ibrahim Al-Fadel.

Seperti disebutkan diatas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab dan melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya dan mereka bertaut pada warisan perkahwinan itu. Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran ( Yahudi : Mack Ren ) mempunyai anak bernama Muhammad dan anak yang lainnya bernama Sa'ud inilah Dinasti Saudi saat ini berasal. Keturunan Saud (keluarga Saud) memulai melakukan kempen pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, khianati Islam, meninggalkan ajaran Al-Qur'an dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam. Rakyat yang mencuba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan wang Negara ini akan ditembak mati dan dipenggal lehernya.

Didalam buku sejarah Keluarga Saud dihalaman 98-101, penulis peribadi sejarah keluarga Saud menyatakan bahawa Dinasti Saud menganggap semua penduduk Najd menghina Tuhan. Oleh kerana itu, darah mereka halal, harta bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan gundik , tidak seorang Muslim pun yang dianggap benar kecuali pengikut kelompok Muhammad bin Abdul Wahab (yang asalnya juga keturunan Yahudi Turki ).

Doktrin Wahabi memberikan otoritas kepada keluarga Saud untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak ,kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan ajarannya yang kejam (brutal doctrin) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama kerana tidak mengikuti ajaran Wahabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama kelompok agama palsu mereka (kelompok Wahabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menabur benih-benih keganasan terror didalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama semenanjung Arab dengan nama keluarga mereka menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik peribadi mereka dan penduduknya sebagai bujang atau budak merdeka, bekerja keras siang dan malam untuk senangan tuannya, iaitu keluarga Saudi.

Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti milik peribadinya. Bila ada rakyat biasa yang mengemukakan penentangan atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan dihukum pancung dilapangan terbuka. Seorang puteri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali kesempatan mengunjungi ke Florida, Amerika Syarikat, dia menyewa 90 buah Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Rakyat yang mencuba memprotes lawatan sang puteri yang jelas menghamburkan wang Negara ini akan ditembak mati dan dipenggal kepalanya.

Fakta Menggemparkan

Sejumlah kesaksian yang meyakinkan bahawa, keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi dapat dibuktikan dengan fakta-fakta berikut:
Pada tahun 1960-an, pemancar radio 'Sawtul Arab' di Kaherah, Mesir dan pemancar radio di San'a, Yaman, membuktikan bahawa nenek moyang keluarga Saud adalah dari keturunan Yahudi. Bahkan Raja Faisal tidak boleh menyanggah kenyataan itu ketika memberitahu kepada 'The Washington Post' pada tanggal 17 Sept 1969 dengan menyatakan bahawa, "kami (keluarga Saud) adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhan kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia adalah merupakan sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar keseluruh dunia".

Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal As-Saud bin Abdul Aziz. Hafez Wahabi, penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan didalam bukunya yang berjudul 'Semenanjung Arabia' bahawa Raja Abdul Aziz yang mati pada tahun 1953 mengatakan : " pesan kami (pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi (pihak lawan) dari suku-suku Arab, datukku, Saud Awal menceritakan saat menawan sejumlah Sheikh dari suku Mathir dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian memalukan mereka dan menurunkan nyali para penengah (orang yang ingin membuat rundingan) dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang disediakan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkan diatas piring".

Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Kerana mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa kerana kesalahan mereka menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenangnya.

Hafez Wahabi selanjutnya menyatakan bahawa, berkaitan dengan kisah berdarah nyata yang menimpa Sheikh suku Mathir dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz As-Saud, iaitu Faisal Ad-Darwis. Diceritakan kisah (pembunuhan Ad-Darwis) itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud untuk mencegah mereka untuk tidak meminta pembebasan pimpinan mereka. Jika tidak, akan diperlakukan sama. Dia bunuh Sheikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudhu' sebelum dia solat.

Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya kerana dia mengkritik Raja Abdul Aziz As-Saud. Ketika Raja menandatangani dokumen yang disiapkan pengusa Inggeris pada tahun 1922 sebagai penyataan memberikan Palestin kepada Yahudi. Tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922. Sistem regim keluarga Yahudi (keluarga Saud) dulu dan sekarang masih tetap sama. Tujuannya untuk merampas kekayaan Negara, merompak, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidak adilan, serangan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilakukan sesuai dengan ajaran kelompok Wahabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.

Wallahua'lam bis sowab.

Sikap apatis Negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, khususnya Arab Saudi, mengundang kecurigaan umat Islam. Bagimana mungkin mereka bungkam menyaksikan pembantaian saudara Muslim yang berlangsung di depan matanya, dilakukan oleh musuh abadi zionis Israel la'natullah? Penelitian dan Penelusuran seorang Mohammad Shakher, yang akhirnya dibunuh oleh rezim Saudi karena temuannya yang menggemparkan, agaknya menuntun kita menemukan jawabnya.
Shakher menulis buku berjudul 'Ali Saud min Aina wa Ila Aina?' membongkar apa di balik bungkamnya penguasa Khadimul Haramaian setiapkali berhadapan dengan konflik Palestina-Israel. Buku ini juga menemukan fakta baru, mengenai asal muasal Dinasti Saudi. Bagaimanakah runut garis genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza Bin Wael, keturunan Yahudi militan?

Informasi buku ini mencekam sekaligus mencengangkan. Sulit dipercaya, sebuah dinasti yang bernaung di bawah kerajaan Islam Saudiyah bisa melakukan kebiadaban iblis dengan melakukan pembakaran masjid sekaligus membunuh jamaah shalat yang berada di dalamnya. Jika isi buku yang terbit 3 Rabi'ul Awal 1401 H (1981 M) ini 'terpaksa' dipercaya, karena faktanya yang jelas, maka kejahatan Kerajaan Saudi Arabia terhadap kabilah Arab dahulu, persis seperti kebuasan zionis Israel membantai rakyat Muslim di Jalur Gaza.

Melacak Asal Dinasti Saudi

Dalam silsilah resmi kerajaan Saudi Arabia disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd yang secara historis sangat terkenal, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di "Ad-Dir'iyah", terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744 M., dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.
Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala, mencegah prilaku bid'ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H./1818 M.
Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M. Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini. Semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern, yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932 M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.

Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia. Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin Kerajaan Saudi Arabia. Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Dinasti Sa'udi Trah Yahudi

Namun, di masa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H. Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak, dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, Si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu. "Dari manakah anda berasal?" Mereka menjawab, "Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh." Setelah mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.

Setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi bisnis. Mardakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.

Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut bersama mereka, kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar permintaan lelaki Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.
Pedagang Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syaikh Shaleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.

Oleh karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu- berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir'iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai Nabi Saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin. Katanya, "Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa' yang menyimpannya sebagai harta karun."
Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir'iya, yang berdekatan Al-Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.
Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir'iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap saudagar Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.
Saudagar keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh. Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung. Tetapi tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.
Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir'iya, sebuah nama yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.

Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang rendezvous bernama "Madaffa" di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syaikh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaiikh Shaleh Salman Abdulla Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi. Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir'iya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab. Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir'iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka. Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka "menutup mulut" dan "membelenggu tangan" para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi'a, Anza dan Al-Masalikh.

Sekte Wahabi

Seorang munafik jaman kiwari bernama Muhammad Amin Al-Tamimi – Direktur/Manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi, menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk Keluarga Yahudi ini (Keluarga Saudi), menghubungkan garis keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Sebagai imbalan pekerjaannnya itu, ia menerima imbalan sebesar 35.000 (Tiga Puluh Lima Ribu) Pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama Duta Besar Saudi Arabia itu adalah Ibrahim Al-Fadel. Seperti disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai), yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya, dan mereka bertaut kepada warisan perkawinan itu. Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, (Yahudi: Mack-Ren) mempunyai anak bernama Muhammad, dan anak yang lainnya bernama Sa'ud, dari keturunan Sa'ud inilah Dinasti Saudi saat ini berasal.
Keturunan Saud (Keluarga Saud) memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati agama Islam, meninggalkan ajaran-ajaran Al-Quran, dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam.

Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya.
Di dalam buku sejarah Keluarga Saudi halaman 98-101, penulis pribadi sejarah keluarga Saudi menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap semua penduduk Najd menghina Tuhan. Oleh karena itu darah mereka halal, harta-bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang Muslim pun yang dianggap benar, kecuali pengikut sekte Muhammad bin Abdul Wahab (yang aslinya juga keturunan Yahudi Turki).
Doktrin Wahabi memberikan otoritas kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya, termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan ajarannya yang kejam (brutal doctrin ) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahabi.
Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama sekte agama palsu mereka (sekte Wahhabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menaburkan benih-benih teror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama semenanjung Arabia dengan nama keluarga mereka, menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka, dan penduduknya sebagai bujang atau budak mereka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu Keluarga Saudi.

Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti miliknya pribadi. Bila ada rakyat biasa mengemukakan penentangannya atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan di hukum pancung di lapangan terbuka. Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali tempo mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dia menyewa 90 (sembilan pukuh) Suite rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya.

Fakta Menggemparkan

Sejumlah kesaksian yang meyakinkan bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi, dapat dibuktikan melalui fakta-fakta berikut ini. Pada tahun 1960-an, pemancar radio "Sawtul Arab" di Kairo, Mesir, dan pemancar radio di Sana'a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah dari trah Yahudi
Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada The Washington Post pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: "Kami, Keluarga Saudi adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia". Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz. Hafez Wahbi, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul 'Semenanjung Arabia' bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan:

Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawan sejumlah Syaiikh dari suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang dihidangkan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkan di atas piring."

Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Feb 6, 2017

Negara yang memperebutkan Mesopotamia

Negara yang memperebutkan Mesopotamia – Selain bangsa Sumeria masih ada beberapa lagi bangsa yang memperebutkan Mesopotamia, yaitu bangsa Akadia, bangsa Amorit, bangsa Assiria, bangsa Khaldea dan bangsa Persia. Berikut kita bahas satu persatu.

1. Bangsa Akadia

Bangsa Akadia juga termasuk rumpun bangsa Semit. Mereka tinggal di Mesopotamia dan melanjutkan kebudayaan bangsa Sumeria. Mereka memiliki dongeng kepahlawanan (epos) yang terkenal yaitu, epos Etana, epos Adopa, danepos Gilgamesh. Bangsa Akadia menguasai negara ini selama kurang lebih 400 tahun. Kemudian mereka diserbu oleh bangsa Amorit.

2. Bangsa Amorit

Bangsa Amorit termasuk rumpun bangsa Semit. Setelah berhasil menduduki Mesopotamia, mereka mendirikan kerajaan yang bernama Babilonia Lama yang beribukota di Babilon. Puncak kejayaan Babilonia Lama adalah pada masa pemerintahan Raja Hammurabi (1800 SM). Perubahan-perubahan terjadi pada masa Hammurabi. Perubahan terjadi pada bidang agama dan kebudayaan.

a. Kepercayaan bangsa Amorit

Bangsa Amorit sdah memiliki kepercayaan/agama. Mereka menyembah dewa-dewa. Mereka menganggap dewa yang paling berkuasa adalah dewa Marduk atau dewa Shamash.

b. Kebudayaan bangsa Amorit

Pada masa itu (1800 SM) Babilonia merupakan kota yang sangat ramai dan kaya. Kafilah (pedagang dari segala penjuru singgah di kota itu. Jasa Hammurabi yang terbesar terlihat dalam karyanya, yaitu kitab undang-undang yang terkenal dengan nama “Undang-Undang Hammurabi”. Di dalam kitab itu tercantum peraturan-peraturan tentang perdagangan dan hukum perdata dan larangan-larangan bahwa orang tidak boleh menjadi hakim sendiri.

Undang-undang tersebut pada dasarnya menerapkan asas pembalasan. Undang-undang Hammurabi ditulis dengan huruf paku. Undang-undang tersebut ditemukan di kota Susa pada tahun 1901 M. Tugu undang-undang Hammurabi berbentuk segi delapan, tingginya 20 meter dan terdiri atas 181 bab.

Sepeninggal raja Hammurabi, kerajaan Babilonia Lama lemah. Tahun 1700-1500 SM, Babilonia mendapat serangan dari bangsa Ari (Indo Eropa/Indo Jerman). Pada tahun 1300 SM bangsa Assiria berhasil mengalahkan bangsa Aria.

3. Bangsa Assiria

Bangsa Assiria berhasil menduduki Mesopotamia pada tahun 1300 SM. Pusat kerajaannya di Nineveh. Raja yang pertama ialah Tiglat Pilesar. Raja yang terkenal adalah Esarhaddon (681-669 SM).
Kebudayaan bangsa Assiria sudah maju. Hal ini terbukti dari hasil-hasil budaya mereka, baik ilmu pengetahuan, sastra, maupun kesenian. Kemajuan bangsa Assiria tampak hal-hal seperti di bawah ini:

Mereka telah menguasai ilmu perbintangan dan ilmu falak.
Mereka telah memiliki penanggalan. Penanggalan itu berdasarkan peredaran matahari. Perhitungannya lebih teliti, yaitu 1 tahun sama dengan 365 seperempat hari.
Bangsa Assiria juga maju dalam bidang seni sastra. Raja Assiria yang gemar kesusastraan adalah Assurbanipal. Terbukti di istananya terdapat perpustakaan besar, yang memiliki 22.000 lempeng tanah liat dengan tulisan paku. Di antaranya terdapat epos Gilgamesh yang isinya menceritakan penciptaan dunia dan banjir besar.
Seni patung juga berkembang untuk melukiskan dewa. Patung pahatan itu berupa manusia bersayap dan berkepala garuda. 

4. Bangsa Khaldea

Abad ke-7 SM, kerajaan Assiria mulai melemah. Dengan mudah bangsa Assiria dapat ditaklukkan oleh tentara bangsa Khaldea dan Medes dibawah pimpinan Nebukadnezar. Ibu kota Nineveh dihancurkan, kemudian bangsa Khaldea dan Medes mendirikan Kerajaan Babilonia Baru.

Kebudayaan bangsa Khaldea berkembang cukup maju. Hasil budaya bangsa Khaldea yang amat terkenal adalah seni arsitektur dan ilmu tata surya atau astronominya. Nebukadnezar adalah raja yang gemar akan keindahan. Kota ditata secara modern dan indah. Di atas atap gedung-gedung istana yang bertingkat dibangun taman-taman. Bila dilihat dari jauh seperti taman yang bergantung. Taman itulah yang terkenal dengan sebutan “Taman Bergantung Babilonia“.

Dibidang astronomi, ahli astronomi bangsa Khaldea sudah dapat memperhitungkan benda-benda langit dan gerhana. Hal ini membuktikan tingginya kebudayaan bangsa Khaldea.

5. Bangsa  Persia (Iran)

Kerajaan Persia terletak di muara Sungai Eufrat dan Tigris. Raja yang pertama adalah Cyrus. Dia seorang raja yang arif dan bijaksana, sehingga banyak disenangi oleh pengikutnya. Tahun 560 SM, kekuasaannya sampai ke Assiria. Penggantinya yang terkenal ialah Darius Agung (522-485 SM). Pada masa pemerintahannya Darius Agung berhasil mengadakan ekspansi ke Yunani. Hal ini terkenal dengan istilah “Perang Persia”.

Bangsa Persia juga telah memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal ini terlihat dari perkembangan kebudayaannya. Hasil budaya bangsa Persia ini tampak dalam sistem pemerintahan, perdagangan/perekonomian, kepercayaan dan seni lukisnya.

Wilayah Persia dikelompokkan dalam 20 provinsi (satrapi). Setiap empat atau lima satrapi diawasi oleh seorang panglima.

Lalu lintas perdagangan berkembang pesat, karena mendapat perhatian serius. Kerajaan Persia menjalin hubungan dagang dengan India, Mesir dan Phunisia. Barang-barang dagangannya adalah perhiasan emas dan permadani. Ibu kota Persia terkenal sebagai gudang emas dan perhiasan.

Bangsa Persia menyembah tiga dewa, yaitu:

1. Ahura atau Ormuzd yang merupakan dewa baik.
2. Anggora Mainyu atau Ahriman yang merupakan dewa jahat.
3. Ahura Mazda yang merupakan dewa kebahagiaan kekal.

Kepercayaan tersebut diperbaruhi oleh Zarathusytra. Kepercayaan ini kemudian terkenal dengan agama Zoroaster. Kepercayaan tersebut menganggap bahwa tanah dan api adalah suci. Oleh karena itu, mayat ditaruh di atas menara agar mayat habis dimakan burung.

Seni lukis juga berkembang dengan baik di Persia, seperti lukisan di Persepolis. Raja terakhir Persia adalah Xerxes. Setelah ia meninggal dunia, kerajaan Persia menjadi lemah, kemudian diserang Alexander Agung dari Mesopotamia (Yunani).

Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris

Prasejarah, 6 kerajaan masa peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris – Peradaban Mesopotamia berkembang di Lembah Sungai Eufrat dan Tigris. Di antara sungai Eufrat dan Tigris terbentuklah tanah bulan sabit yang makmur yang disebut The Fertile Crescent. Wilayah peradaban ini sekarang menjadi bagian dari negara Irak. Istilah Mesopotamia berasal dari bahasa Yunani, yaitu mesos artinya tengah dan potamos artinya sungai.

Peradaban Mesopotamia pada awalnya dibangun oleh bangsa Sumer dan Semit. Peradaban ini hidup dari sektor pertanian dengan sistem irigasi yang sudah tertata rapi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang bangsa Sumer/Sumeria baca di artikel Mesopotamia dan bangsa Sumeria

Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan TigrisWilayah Mesopotamia terdiri dari berbagai negara kota. Kepala negara kota adalah seorang raja yang merangkap sebagai kepala agama. 
Raja mengatur perekonomian dan memimpin pasukannya ke medan perang, sehingga peranan seorang raja sangat besar artinya bagi kehidupan dan kelangsungan pemerintahan.

Adapun kerajaan yang pernah berkuasa di Mesopotamia ada 6, yaitu sebagai berikut :

1. Kerajaan Sumeria (3500 SM)

Huruf paku
Bangsa Sumeria mendirikan kerajaan di dekat muara sungai Eufrat pada tahun 3000 SM dengan ibu kota di Ur. Kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang pendeta raja yang disebut patesi.

Bangsa Sumeria telah mengenal huruf yang disebut hieroglyph. Huruf hieroglyph bentuknya seperti paku, maka dari itu ada yang menyebutnya huruf paku.

Pengetahuan bangsa Sumeria telah maju, hal tersebut dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut :

  • Mengenal tahun Komariah, yaitu perhitungan tahun berdasarkan peredaran bulan yakni 1 tahun ada 354 hari.
  • Mengenal tahun Syamsiah, yaitu perhitungan tahun berdasarkan peredaran matahari, yakni 1 tahun ada 360 hari.
  • Membagi 1 hari = 24 jam, 1 jam = 60 menit, dan 1 menit 60 detik.
  • Sebuah lingkaran terbagi atas 360 derajat.

Bangsa Sumeria menganut kepercayaan politeisme atau percaya kepada banyak dewa. Dewa-dewa tersebut seperti Dewa Anu atau Uruk (dewa langit), Enlil atau Hipper (dewa bumi), dan dewa Ea atau Eridu (dewa air).

Tempat untuk memuja para dewa tersebut adalah ziggurat. Kebudayaan bangsa Sumeria akhirnya berakhir setelah pada tahun 2350 SM diserang bangsa Akkaida di bawah pimpinan Sargon. Bangsa Akkaida adalah rumpun bangsa Semit.

2. Kerajaan Akkaida (2300 SM)

Bangsa Akkaida termasuk rumpun bangsa Semit yang berasal dari daerah padang pasir. Di bawah pimpinan Sargon, pasukan bangsa Akkaida berhasil menduduki daerah Mesopotamia dengan mengalahkan Kerajaan Sumeria.

Dengan kemenangan tersebut bangsa Akkaida tidak lagi menjadi bangsa pengembara. Mereka mulai hidup menetap di daerah Mesopotamia. Meskipun bangsa Akkaida berhasil memnangkan perang tersebut, tetapi mereka mengambil dan meniru kebudayaan bangsa Sumeria. Bahkan mereka berintegrasi dengan penduduk yang ditaklukkannya.

3. Kerajaan Babylonia Lama (1850 SM)

Setelah berhasil menaklukkan bangsa Akkaida, bangsa Babylonia berkuasa di Mesopotamia. Bangsa Babylonia ini dikenal juga dengan bangsa Amorit. Raja yang terkenal pada era Babylonia adalah Raja Hammurabi yang berhasil membangun sebuah imperium.

Raja Hammurabi sangat berjasa bagi peradaban manusia setelah berhasil menyusun Undang-undang Hammurabi (Codex Hammurabi). Hukum ini menegaskan hukuman yang setimpal bagi pelanggar hukum. Kepercayaan bangsa Babylonia adalah politeisme dengan dewa tertingginya bernamaDewa Marduk atau Shamush.

Namun, setelah Raja Hammurabi meninggal, Kerajaan Babylonia Lama yang besar dan maju itu mulai lemah akibat serangan dari bangsa Hitti dari arah barat pada tahun 1900 SM.

4. Kerajaan Assyria (Assur)

Kerajaan Assyria terletak di tepi Sungai Trigis dan bersifat militer. Bangsa Assyria hidup dari peternakan dan peperangan. Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Assyria diantaranya : Raja Sargon II, Raja Sennacherib, dan Raja Assurbanipal.

Bangsa Assyria telah menguasai ilmu astrolohi (ilmu perbintangan) dan ilmu astronomi (ilmu tentang benda-benda angkasa). Mereka juga sudah mengenal pembagian tahun menjadi 365 1/4 hari.

Lambat laun Kerajaan Assyria semakin lemah. Hal ini diketahui oleh bangsa Chaldea yang berkembang di daerah Mesopotamia Selatan (bekas kekuasaan Kerajaan Babylonia Lama). Bangsa ini menyerang Kerajaan Assyria dan pada tahun 612 SM ibu kota Niniveh berhasil dikuasai sehingga mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Assyria.

5. Kerajaan Babylonia (Baru) atau Chaldea

Setelah berhasil merebut Kerajaan Assyria pada tahun 612 SM, bangsa Chaldea di bawah pimpinan Raja Nabopalassar membangun kembali Kerajaan Babylonia atau yang disebut juga dengan Babylonia Baru.

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Babylonia Baru adalah : Raja Nabopalassar, Raja Nebonidas, dan Raja Beishazzar. Kerajaan Babylonia Baru runtuh akibat serangan dari bangsa Persia pada tahun 539 SM.

6. Kerajaan Persia

Di bawah pimpinan Cyrus berdirilah Kerajaan Persia yang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan Babylonia Baru dan daerah Asia Kecil. Kerajaan Persia terletak di sebelah timur Sungai Tigris dengan ibu kotanya Persepolis.

Raja Cyrus menguasai sebagian dari daerah India bagian barat. Namun, dalam pertempuran melawan bangsa Tura Raja Cyrus terbunuh. Ia kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Cambysses.

Raja Cambysses berhasil mengembalikan ketentraman dalam negeri Persia. Bahkan pada tahun 525 SM Cambysses berhasil menaklukkan negeri Mesir. Setelah Raja Cambysses meninggal dunia, ia digantikan oleh Raja Darius.

Dibawah pemerintahan Raja Darius kerajaan Persia mencapai masa kejayaan. Pada masa itu dibangun istana yang megah dan indah di kota Suza. Istana di Persepolis terkenal karena mempunyai tangga raksasa untuk masuk istana tersebut.

Keberhasilan Raja Darius adalah sebagai berikut :

a. Membuat jalan raya yang menghubungkan antara Persepolis dan daerah-daerah sekitar serta membangun pos-pos.
b. Wilayah kerajaan dibagi atas 20 ksatrapi yang masing-masing dikepalai oleh seorang wali negara yang disebut ksatrap.
c. Pemerintahannya bersifat desentralisasi dan diatur dengan adat lama sehingga tidak menimbulkan keguncangan

Mesopotamia

Mesopotamia di yakini oleh para ahli sejarawan sebagai peradaban yang pertama dan ssebagai pembentuk suatu system serta pengetahuan. Kawasaan di lembah sungai Eufrat dan Tigris di bagi secara alami menjadi dua kawasaan yaitu Mesopotamia atas dan Mesopotamia bawah (Babilonia) Kedua kawasaan tersebut yang menjadi awal mula munculnya suatu peradaban (sosial-budaya) dan munculnya suatu system kepemerintahaan (politik), serta munculnya suatu system kepercayaan (agama).
Mesopotamia menjadi pusat akulturasi terbesar yang pernah ada karena telah terjadi migrasi besar ke arah Mesopotamia dari berbagai arah seperti Arabia dan Mesir.
Mesopotamia mengalami pertumbuhan kebudayaan yang melahirkan banyak perkampungan kemudian berubah menjadi kota-kota kecil disepanjang Mesopotamia seperti Erech, Eridu, Lagash, Ur, Nippur dan yang lainnya, ada yang menyebutkan sekitar  abad 3500 SM dan ada juga yang berpendapat sekitar 4000 tahun SM.

A.    SEJARAH SINGKAT PERADABAN MESOPOTAMIA
Mesopotamia berasal dari bahasa Yunani dari kata “Mesos (Tengah)” dan Patmos (Sungai), yang artinya “daerah diantara sungai-sungai”. Sungai yang dimaksud adalah sungai Trigis dan sungai Eufrat.
Kawasaan di lembah sungai Eufrat dan Tigris di bagi secara alami menjadi dua kawasaan yaitu Mesopotamia atas dan Mesopotamia bawah (Babilonia). Pada zaman dahulu Mesopotamia atas memiliki dua pusat peradaban utama, satu berada diwilayah Eufrat atas dan pusat yang lama terletak dimuara Zab (sungai Tigris atas). Mesopotamia bawah yang merupakan situs bangsa Sumeria dan Akkadia, secara alami juga terbagi menjadi bagian utara dan selatan. Bagian utara terpusat disekitar Babillon, sedang bagian selatan terpusat di kota-kota Sumeria seperti Lama, Esidu, dan Ur. Bangsa ini hidup pada 4000 SM dan dapat bertahan dengan melakukan irigasi.
Dilihat dari kondisi Geografi disebelah Utara Mesopotamia dibatasi oleh bukit-bukit, gunung-gunung batu, dan area pertanian. Sedangkan disebelah Selatan Mesopotamia dihiasi dengan rawa yang luas dan tanah tandus
Tahun 3500 SM – 600 SM di wilayah Irak khusunya lembah sungai Trigis berdiri beberapa kerajaan besar yang membangun peradaban dunia paling awal, seperti Sumeria, Akkad, Assyiria dan Babilonia.
Tahun 539 SM wilayah ini (Mesopotamia) dikuasai kerajaan Persia setelah mengalahkan Babilonia Baru.
Tahun 331 SM Iskandar Agung (Iskandar Dzulkarnain/Alexander The Great) mengusir bangsa Persia yang kemudian pemerintahan Yunani berkuasa di wilayah ini (Orang Yunani menyebutnya Mesopotamia).
Tahun 115 SM wilayah itu menjadi bagian dari kekaisaran Roma selama 500 tahun. Kemudian sebagian daerahnya dikuasai Persia daerah lain tetap dikuasai roma hingga datangnya Islam.
Daerah Mesopotamia ini, sekarang lebih dikenal dengan Republik Irak. Dikawasaan Mesopotamia ini, terdapat berbagai macam bangsa (suku).

B.     BANGSA-BANGSA YANG PERNAH BERKUASA

1.      Bangsa  Sumeria
Bangsa Sumeria merupakan bangsa pribumi Mesopotamia mereka telah ada sejak 5000 SM, peradaban Sumeria berhasil kepada titik puncak pada tahun 2000 SM sekaligus abad kehancurannya, pada fase berikutnya Bangsa Sumeria bercampur baur dengan peradaban yang datang kemudian ke Mesopotamia semisal Akkadia, Babylonia (amori) dan Asyyiria.
Bangsa Sumeria terkenal akan kemampuannya dalam bidang agraris dan ternak hewan, selain itu mereka mampu menciptakan teknik penulisan “paku” sekitar tahun 3000 SM. Mereka menggunakan ± 350 tanda gambar, setiap gambar merupakan satu suku kata. Huruf-huruf itu dituliskan pada papan tanah liat yang digoresi/ditulisi menggunakan karang yang keras dan berujung tajam. Mereka pun ahli dalam masalah ukiran kayu.
Bangsa Sumeria mendirikan kota-kota, antara lain adalah kota Ur dan Sumer. Dimana pusat pemerintahan pada saat itu berada di kota Ur (kota tertua pada masa bangsa Sumeria). Raja yang memerintah adalah Ur Nanseh (2500SM) setelah itu Raja Gudea (2400SM). Selama kurang lebih 500 tahun bangsa sumeria mengalami beberapa tragedi perebutan kekuasaan, akhirnya bangsa itu lemah dalam hal persatuan. Dalam kelemahan itu, bangsa Akkadia dipimpin oleh Raja Sargon melakukan penyerangan dan berhasil menaklukan sumeria pada tahun kurang lebih 2000 SM.

2.      Bangsa Akkadia
Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Sumeria, bangsa Akkadia menjadi penguasa di Mesopotamia. Bangsa Akkadia adalah bangsa semit yang berimigrasi dari Jazirah Arab ke wilayah Irak Tengah (Akkad) pada millennium ke-3 SM, masa keemasan Dinasti Sumeria berakhir dengan penyatuan wilayah kerajaan-kerajaan tersebut dalam satu kesatuan dibawah kekuasaan Raja Kish yang dikenal dengan masa Lugalzagezi. Seperempat abad setelah itu Munculah King Sargon (Shargoni-Shar-Ali), raja pertama dari Imperium Akkadia. Ia mendirikan sebuah kota yang bernama Akkadah sekaligus menjadikannya Ibu Kota dari Mesopotamia.
Pada masa pemerintahan bangsa Akkadia, sebagian kebudayaannya diambil dari kebudayaan bangsa Sumeria. Maka muncullah sebuah istilah Summer-Akkad berbahasa Semit. Namun secara teori peradaban Akkadia banyak dipengaruhi oleh peradaban Sumeria seperti perhitungan kalender tahunan berdasarkan bulan, hitungan bilangan, timbangan, jarak dan lainnya, bahkan bangsa Akkadia mampu membuat alat-alat dari bahan tembaga dan merakit kendaraan perang. Bangsa Akkadia tidak pernah mengenal tulisan, karena mereka terbiasa dengan tradisi oral (percakapan) akan tetapi lambat laun mereka mulai mengerti akan pentingnya sebuah aksara untuk menulis bahasa mereka yaitu Bahasa Arami.
Selama kurang lebih 400 tahun berkuasa di Mesopotamia, akhirnya kekuasaan Akkadia berhasil ditaklukkan oleh bangsa Amorit (dari syiria sekarang), yang bergerak masuk ke wilayah Mesopotamia melalui arah barat daya kemudian menyeberangi sungai Eufrat dan melakukan penyerangan.

3.      Bangsa   Babilonia
Ketika bangsa Amorit ( salah satu dari Rumpun suku bangsa Haimiah) menaklukkan bangsa Akkadia. Sejarawan mengatakan bahwa kerajaan babilonia didirikan oleh bangsa Amorit. Kata babilonia berasal dari kata “Babilu” yang artinya ( Gerbang Menuju Tuhan).
Sekitar tahun 1800 SM, kerajaan Babilonia diperintahkan oleh seseorang yang bernama Hammurabi. Serangan yang datang dari bangsa Hittite telah memperlemah keadaan (1600 SM). Serangan itu terjadi pada masa pemerintahan Samsu Iluna (putera Hammurabi) pada 1595 SM, raja Mursilis memimpin penyerangan terhadap kerajaan Babillonia lama dan menguasainya serta membuat keadaan dalam abad gelap selama 150 tahun.

4.      Bangsa  Assyria
Babilonia ditaklukkan oleh bangsa Assyria. Bangsa Assyira adalah bangsa semit yang hijrah dari semenanjung Arab pada millennium ke-3 SM dan menetap disebuah tempat yang dikenal dengan (benteng Sharqat atau Asyur) diwilayah timur Laut Mesopotamia. Pada Masa Akkadia, Assyiria merupakan sektor politik dan kebudayaan Akkadia, barulah pada millennium ke-2 SM bangsa Assyria tampil sebagai kekuatan politik terbukti ketika mereka barhasil menundukkan bangsa Mitanni, Hitties, Alcahien. Mereka membangun kota yaitu kota Asshur dan kota Niniveh yang dijadikan ibu kota dari kekuasaan bangsa Asyria. Kekuasaan ini disebut dengan corak militer. Hal ini dikarenakan Bangsa ini telah menaklukkan daerah-daerah disekitar.
Shalmaneser I adalah orang pertama yang mendirikan Negara Assyria (1206-1280 SM) putranya, Tukulti-Ninurta I, termasuk salah satu raja Assyiria yang paling terkemuka terutama ketika memerangi Babylon. Imperium Assyiria mencapai puncaknya selama pemerintahan Sargon II. Bangsa Assyiria dikenal sebagai bangsa yang pandai membuat kendaran, tank, dan berbagai alat pendobrak, selain itu gaya arsitektur Assyiria memiliki ciri khas tersendiri dan sangat Indah.
Lambat laun kerajaan Assyria lemah dan kelemahannya itu diketahui oleh bangsa Chaldea yang berkembang didaerah Mesopotamia selatan. Bangsa ini menyerang kerajaan Assyria. Pada tahun 612 SM, ibu kota Niniveh berhasil dikuasai sehingga mengakibatkan runtuhnya kerajaan Assyria.

5.      Bangsa  Babilonia baru
Setelah Babilonia berhasil merebut kekuasaanya kembali dari Asyria dibawah pimpinan Raja Nebukhadnezer (Bukkhtanasar). Kini babilonia menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan lagi. Kerajaan ini disebut dengan Babilonia Baru karena Raja Nebukhadnezer membangun kembali babilonia sehingga menjadi pusat pemerintahan kembali dan di sebut dengan Babilonia Baru.
Namun kekuasaan politik babilonia ke dua ini tidak bertahan lama, sepeninggalan Raja Nebukhadnezer wilayah ini ditaklukkan oleh Sirus Agung dari Persia.


C.    BABILONIA

a.            Sejarah Babilonia
Babilon dalam bahasa Akkadia disebut “Babilani” artinya “the Gate of God” (Gerbang Tuhan/Dewa), namun pada kenyataannya Babilon berasal dari bahasa Yunani bentuk dari istilah yahudi yaitu “Babel” yang sekaligus menjadi ibukota babilonia. Disebelah utara babilon berbatasan dengan Assyria, di sebelah Timur ada Elam, bagian Selatan berbatasan dengan Gurun Arab dan di bagian Tenggara berbatasan dengan Teluk Persia.
Penduduk asli babilonia berasal dari bangsa Amori yaitu rumpun ras semit yang berimigrasi dari Jazirah Arab pada millennium ke-3 SM kemudian mereka menetap di wilayah yang dikenal dengan daerah Mari yang sebelumnya dikuasai oleh bangsa Sumeria dan Akkadia. Lambat laun bangsa Amori mulai menggerogoti imperium Akkadia dan berhasil mendirikan sebuah kota yang diberi nama Babylon, sekaligus ibu kota dari bangsa Amori, Sosok Samuabi sering disebut-sebut sebagi pendiri pertama Dinasti Amori pada tahun 1830 SM.
Ada tiga periode dalam masa perkembangan dan peradaban Babylon yaitu :
1.      The Old Babylonian Periode (2000-1595 BC)
2.      Midle Babylonian Periode (1595-1000 BC)
3.      Neo Babylonian Periode (1000-539 BC)

b.            Perkembangannya
Kehidupan dan peradaban bangsa Amori yang menjadi Cikal bangsa Babylon sangatlah berbeda dengan pola peradaban bangsa Mesopotamia lainnya, bangsa Amori mampu menciptakan sebuah model civil-peradaban baru hingga mencapai puncaknya pada masa Raja Amori yang terkenal yaitu Hammurabi (1728-1686).
Pada masa pemerintahan Hamurabi, Babylon sangat dikenal oleh bangsa lain karena kekuatan ekspansi-militernya, Hamurabi berhasil menghalau orang-orang Elam (Iran) dan menguasai wilayah pegunungan diarah Utara dan Timur laut Mesopotamia. Tidak hanya itu Hamurabi terus berupaya memperkuat kekuasaannya dengan cara beraliansi dengan bangsa-bangsa kuat lainnya, dibidang pemerintahan ia pun membuat model Undang-undang yang mengatur tata kehidupan masyarakat dan kerajaan yang dikenal dengan istilah “Codex Hammurabi”. Disisi lain kuil-kuil tempat penyembahan pun dibangun oleh hamurabi, kesejahteraan para pendeta dan ahli agama juga turut menjadi perhatiannya.
Sepeninggal kekuasaan Hamurabi, Babylonia semakin melemah hingga pada akhirnya Bangsa Hitties yang berasal dari Asia kecil dan utara Syiria menyerang Babylon dan menaklukannya namun mereka kembali lagi ke Negara asalnya,  namun malangnya Babylon mendapat serangan kedua dari bangsa Khaskhi yang berasal dari pegunungan timur laut Mesopotamia sekitar tahun 1550 SM dan berhasil dikuasainya.
Setelah beradab-abad lamanya Babylon mengalami kekalahan dan dikuasai oleh bangsa Khaskhi, bangsa Assyiria dan Elam, akan tetapi ada saatnya dimana bangsa Babylon yang berasal dari suku Kaldan bangkit dan memberontak pemerintahan yang ada, saat itu bangsa Assyiria yang telah berkuasa. Gubernur Babylon Nabopolassar memanfaatkan kelengahan bangsa Assyiria paska kematian Raja mereka Ashurbanipal (Asshur-bel-nisheshu) sehingga berhasil merebut Babylon pada tahun 622 SM.
Pemerintahan Nabopolassar cukup mengesankan dimata Bangsa Babylonia karena berhasil memukul mundur dan menguasai Bangsa Assyiria dan Syiria berkat upaya aliansinya dengan bangsa Media, akan tetapi Masa Pemerintahan yang dianggap paling gemilang adalah periode kekuasaan Nebukadnezar putra dari Nabopolassar.
Sepeniggal Nebukadnezar Babylon dipegang oleh Amel Marduk anak dari Nebukadnezar, namun sayangnya  Marduk  terlalu lemah dalam memimpin sehingga Babylon jatuh ketangan Yahudi hingga akhirnya Babylon berhasil ditaklukan oleh Bangsa Persia.

D.    SOSIAL-BUDAYA, POLITIK, DAN KEPERCAYAAN PERADABAN MESOPOTAMIA

1.      Kepercayaan (Agama)
Bangsa Sumeria adalah bangsa yang merintis peradaban Mesopotamia. Maka, kepercayaan yang dianut bangsa ini pun menjadi sebuah dasar dari kepercayaan-kepercayaan bangsa yang menguasai Mesopotamia lainnya. Bangsa ini menganut kepercayaan politeisme atau mempercayai adanya banyak dewa.
Pertama kali bangsa Sumeria masuk ke wilayah Mesopotamia, mereka sudah memiliki system kepercayaan. Yang mana bangsa Sumeria sudah menyebah para Dewa (Politheisme). Hingga bangsa Babilonia semasa kejayaannya mengadopsi kepercayaan tersebut. System dari peradaban Mesopotamia yang dianut yaitu, ketika suatu Imperial menguasai wilayah Mesopotamia maka seluruh Imperial atau bangsa yang lain harus mengikuti apa yangn di perintah oleh Raja dari Imperial tertinggi, baik itu mengenai system kepemerintahan maupun system keyakinan.
Bangsa Babilonia sejak masa purbanya sampai pada masa perkembangannya menganut faham keTuhanan yang Politeistik. Sekalipun faham ini cukup lama di anut bangsa Babilonia, tetapi bangsa itu tidak mmpu merubah faham dan kepercayaannya. Dewa pertama atau dewa tertinggi adalah dewa Marduk. Selain itu ada dewa-dewa alam yang mereka sembah yakni:
1.  Enlil    (Dewa Bumi)            
2. Ea        (Dewa Air)               
3. Anu     (Dewa Langit)           
4. Sin       (Dewa Bulan)
5. Samas  (Dewa matahari)
6. Ereskigal   (Dewa Kematian)

Di jelaskan pula, bahwa masyarakat Mesopotamia harus selalu memenuhi kewajibannya kepada Dewa, yaitu:

  • Memberikan Dewa Rumah ( kuil )
  • Patung dewa harus berpakaian mahal
  • Harus mengelolah tanah dan memasak untuk para Dewa dari jagung dan buah-buahan yang dittanam di tanah kuil dan kebun.
  • Harus merayakan Festival untuk menyengakan para dewa

Salah satu kepercayaan agama Sumeria adalah bahwa kehidupan dibumi adalah kehidupan hakiki, tidak ada kebahagiaan dan kesenangan setelah dibumi. Sementara kehidupan kedua mirip dengan kematian sekalipun bukan kematian yang sebenarnya, kehidupan tersebut adalah tempat kembali setiap manusia, tidak ada perbedaan antara yang baik dengan yang jahat siapapun tidak dapat mengelak hal itu, kecuali Dewa.
Kepercayaan bangsa Sumeria ini terus berkembang dan dianut oleh masyarakat yang tinggal di daerah Mesopotamia. Tetapi ketika bangsa Persia menguasai daerah Mesopotamia, berkembanglah ajaran agama Persia. Kitab Suci Awesta ini merupakan firman-dewa dengan perantara nabi diturunkan kepada bangsa Persia.

2.      Pemerintahan (Politik)
Sejak peradaban Mesopotamia berkembang, banyak terjadi persaingan atau perebutan kekuasaan, yang mana tejadi konflik internal antar bangsa (rumpun). Mulai dari pemimpin kekuasaan bangsa Sumeria,  terus dikalahkan oleh bangsa Akkadia, dan setelah Akkadia berkuasa, terkalahkan oleh bangsa Babilonia. Namun ketika Babilonia kehilanggan pemimpin yang kuat, maka terkalahkan oleh bangsa Asyri, tak lama akhirnya Babilonia mampu untuk menguasai Mesopotamia kembali dengan sedikit perubahan nama menjadi Babilonia Baru. Masa kejayaan bangsa Babilonia yaitu pada masa kepemimpinan Raja Hamurabbi. Selain sebagai raja, Hamurabbi juga seorang pemimpin agama masyarakat Babilonia. Ia senantiasa memerintahkan kaumnya untuk menaati aturan yang telah ditetapkan demi berjalannya roda kehidupan danpemerintahan.
Sejak awal pemerintahannya, Hammurrabbi telah memeperkenalkan sistem hukuman dalam kehidupan masyarakat yang peraturannya didasarkan pada nilai-nilai tradisional. Hukum tersebut lebih dikenal sebagai hukum Hammurrabbi yang ditulis pada prasasti batu yang tingginya kurang lebih 2,5 meter dan ditempatkan ditengah-tengah ibu kota Babilonia.Hukum tersebut merupakan hokum tertulis pertama di dunia. Kitab Undang-Undang Hammurabi ini sebagai "sebuah monumen kebijaksanaan dan keadilan”.
Dalam hukum itu tertulis tentang peraturan-peraturan yang menyangkut bidang pertanian, perdagangan, agama, pemerintahan, dan kemasyarakatan. Hukum itu terdiri dari 300 pokok UU. Pada setiap bagian tercantum jenis-jenis pelanggaran dan hukumannya. Hukum tersebut dijalankan dengan tegas dan keras sehingga tercipta suatu keadaan yang aman.
Hukum Hammurabi menggambarkan tentang struktur ideal masyarakat Babilonia Lama. Diatas adalah raja, yang merupakan penguasa segala sesuatu dikerajaannya. Kemudian dibawahnya terdapat tiga kelas sosial, awilum (bangsawan), mushkenum (rakyat biasa), dan wardum (budak). Kesemuanya memiliki tingkatan hukum yang berbeda menurut tingkat masyarakat yang ada.

3.      Masyarakat (Sosial-Budaya)
Daerah daerah di sekitar daerah Mesoptamia didiami oleh bangsa –bangsa yang termasuk rumpun bangsa semit. Kehidupannya bersifat seminomadik. Mereka Hidup dari beternak dan berdagang, namun setelah mendapat tanah–tanah yang subur, mereka mulai hidup dari hasil pertanian (sudah mengenal sistem irigasi). Para pedagang dapat melakukan aktivitas perdagangannya melalui sungai Eufrat dan Tigris.
Kira kira tahun 3000 SM, daerah Mesopotamia didiami oleh bangsa Sumeria. Orang–orang Mesopotamia Lebih banyak bertempat tinggal pada kota kota besar dan juga pada ibu kotanya yang bernama Uruk (Ur). Bangsa Sumeria telah mengenal ilmu hitung, lingkaran 360 derajat, dan bangunan dari tanah liat yang dikeringkan dengan panas matahari.
Daerah ini (Mesopotamia) juga merupakan lalu lintas perdagangan yang strategis antara Laut Tengah dan Sungai Shindu. Dengan demikian aktivitas perdagangan di Mesopotamia sangat ramai. Begitu pula sistem pertanian dijalankan dengan baik dan sudah terdapat irigasi yang teratur, hasil utamanya yaitu gandum dan kapas.

Mesopotamia merupakan peradaban pertama di dunia. Yang mana wilayah ini memiliki lima imperial :

  1. Sumeria, bangsa yang pertama kali memasuki dan menakhlukkan wilayah Mesopotamia. Masa ini sudah mempunyai tatanan kepemerintahan yang terkoordinir, masyarakat yang hidup dengan cara bertani, dan sudah mengenal tulisan. Tulisan dari bangsa Sumeria disebut dengan “Tulisan Paku”.
  2. Akkadia, bangsa yang telah mengalahkan kekuasaan bangsa Sumeria dan mengadopsi budaya bangsa Sumeria, sehingga muncullah kebudayaan baru yakni “Sumer Akkad” yang berbahasa Semit.
  3. Babilonia, masa puncak kejayaan Babilonia yaitu pada masa Raja Hammurabi. Hammurabi yang pertama kali mencetuskan sebuah Undang-Undang yang mengatur tatanan hidup masyarakat pada waktu itu atau “Codex Hammurabi”.
  4. Asyiria, pada millennium ke-2 SM bangsa Assyria tampil sebagai kekuatan politik terbukti ketika mereka barhasil menundukkan bangsa Mitanni, Hitties, Alcahien. Tukulti-Ninurta I, termasuk salah satu raja Assyiria yang paling terkemuka terutama ketika memerangi Babylon. Namun ketika bangsa Asyiria lengah, Babilonia mudah untuk merebut dan menguasai wilayah Mesopotamia kembali. Namun bukan lagi disebut dengan Imperial Babilonia melainkan “Babilonia Baru”.

Wilayah Mesopotamia berkembang dengan maju. Hingga mampu untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang terkondisirkan. Kepercayaan yang dianut yaitu politeisme, mempercayai Dewa-Dewa, namun di balik itu ada dewa yang tertinggi yaitu “Dewa Marduk” atau Dewa Matahari.
Peninggalan dari peradaban ini sebagian masih ada dan terlestarikan, sebagian juga ada yang mengalami evolusi sesuai dengan perkembangan zaman. Tak bisa di pungkiri lagi bahwa ilmu yang telah kita dapat adalah evolusi dari pemikiran dan kerja keras masyarakat peradaban. Yakni munculnya pengetahuan berasal dari peradaban Mesopotamia.