Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Jul 31, 2015

Aleksander

Putra Philippos, Aleksander (Alexandros, 356-323 SM), dikenal sebagai Aleksander Agung (Megas Alexandros), membuktikan dirinya sebagai jenderal hebat ketika dia memimpin prajurit kavaleri (pasukan berkuda) pada pertempuran Khaironia. Setelah Philippos dibunuh pada 336 SM, Aleksander III mencoba melanjutkan rencana ayahnya untuk menaklukan Kekaisaran Persia, yang dipimpin oleh Darius III. Pertama-tama, Aleksander dihadapkan pada pemebrontakan di Trakia, Illyria dan Thebes di Boiotia, dan daerah Yunani yang lainnya juga ikut bergejolak. Aleksander merespon dengan cepat, dia meredam pemberontakan di Trakia dan Illiria dengan cepat. Sementara di Thebes, Aleksander sedikit kejam, dia memperbudak semua penduduknya. Hanya rumah Pindaros, penyair abad kelima SM, yang tidak dihancurkan di Thebes. Tindakan ini ikut menghentikan usaha pemberontakan di kota-kota lainnya, termasuk di Athena.

Dengan campuran pasukan Makedonia dan prajurit Yunani, Aleksander memasuki Kekasiaran Persia. Aleksander menyebrangi Hellespontos dan singgah di Troya. Di sana dia mengklaim dirinya sebagai keturunan langsung Akhilles lewat Neoptelemos. Aleksander menghadapi sejumlah besar pasukan Persia di Granikos, yang berhasil dia kalahkan meskipun dia terluka. Kebanyakan kesatrapan (provinsi) di Asia Minor menyerahkan diri pada kekuasaan Aleksander dan menyebutnya sebagai pembebas. Sementara kota Miletos menyerah setelah dikepung oleh pasukan Aleksander.

Dalam usahanya mengalahkan pasukan laut Persia, Aleksander berupaya menaklukan kota-kota pelabuhan alih-alih menghadapi secara langsung di laut. Dengan cara ini, armada laut Persia tidak memiliki tempat berlabuh.

Dari Kilika, pasukan Makedonia memasuki Suriah, di sana terjadi pertempuran di Issos pada 333 SM. Kali ini, Darius langsung yang menjadi komando pasukan Persia. Tak seperti Aleksander, Darius tidak terlibat dalam baku hantam, sehingga ketika Darius merasa terancam, dia langsung kabur dan meinggalkan pasukannya. Aleksander akhirnya menang dan menangkap banyak tawanan, termasuk ibu dan anak-anak Darius.

Sebagian besar Suriah menyerah pada Aleksander, kecuali dua kota, Tyre dan Gaza. Kedua kota ini berhasil ditaklukan setelah dikepung. Aleksander lalu bergerak menuju Mesir. Di Mesir, dia mendirikan kota Aleksandria/Iskandariyah (332 SM). Selain itu para pendeta Mesir juga memberinya gelar sebagai putra dewa Ammon.

Aleksander menghabiskan musim dingin di Mesir sebelum bergerak ke timur. Pada 331 SM, Aleksander mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Gaugamela. Babilonia dan Persia akhirnya menyerah pada Aleksander. Darius lagi-lagi kabur, kali ini dia pergi ke Baktria di Asia Tengah. Di sana Darius malah dibunuh oleh Bessos, salah satu gubernurnya sendiri. Akibat perbuatannya itu, Aleksander menangkap dan menghukum mati Bessus.



Pasukan Makedonia meneruskan kampanye militer di bentang alam yang keras di Asia Tengah, melawan Skithia (Kaukasus), Baktria dan Sogdiana (Afghanistan modern). Aleksander menaklukan benteng di Tebing Sogdia yang berbatu dengan cara mengerahkan para prajurit yang memanjat tebing itu pada malam hari. Di sana dia juga bertemu Roxane, putri Oxiartes, yang kemudian dia nikahi.

Setelah menguasai Persia, Aleksander mengadopsi kebudayaan Persia. Hal ini menimbulkan rasa ketidaksukaan dari para prajuritnya. Namun, pada saat yang sama, Aleksander juga menyebarkan budaya dan bahasa Yunani ke daerah Timur. Hasilnya, terbentuklah dialek Yunani yang baru, yang disebut Koine, dan banyak digunakan pada periode Hellenistik berikutnya. Koine terus digunakan ketika Romawi menguasai kerajaan-kerajaan di Timur.
Pasukan Makedonia lalu bergerak ke Hindu-Kush, sebelum turun ke sungai Indus di India. Kampanye militer Aleksander di India berakhir pada Pertempuran Hydaspes (326 SM). Tidak lama setelah pertempuran itu, pasukan Aleksander menolak pergi lebih jauh ke timur karena sudah kelelahan setelah bertahun-tahun bertempur, selain itu prajurit India ternyata lebih hebat dari dugaan mereka. Akhirnya Aleksander terpaksa kembali ke Babilonia.

Di Babilonia, pada 323 SM, Aleksander kembali menyusun rencana penaklukan, kali ini dia ingin menguasai semenanjung Arabia. Namun sebelum rencananya terlaksana, Aleksander jatuh sakit dan meninggal pada 13 Juni 323 SM.
Beberapa jenderalnya, misalnya Ptolemios dan Artistobulos, menulis catatan mengenai kampanye militer Aleksander. Tulisan mereka menjadi sumber utama bagi para sejarawan.

Setelah Aleksander meninggal, kekaisarannya tak bertahan lama. Kekaisarannya terbagi menjadi beberapa kerajaan besar, di antaranya Makedonia (Kassandros), Thrakia (Lysimakhos), kerajaan Antigonos, yang meliputi Asia Minor dan Suriah, kerajaan Seleukos (Babilonia, Persia, dan sekitarnya), sedangkan Ptolemaios memerintah Mesir dan Libya. Para penerus Aleksander saling berebut kekuasaan dan wilayah selama beberapa generasi berikutnya.

Di Yunani, dua liga terbentuk untuk melawan kekuasaan Makedonia, yakni Liga Aitolia dan liga Akhaia (Dengan ibukotanya di Korinthos).
Di Mesir, Aleksandria menjadi ibukota baru Mesir tempat Ptolemaios dan para penerusnya berkuasa. Sebuah perpustakaan besar dibangun di sana pada awal abad ketiga SM. Aleksandria menjadi pusat keilmuan. Apollonios dari Rhodos bekerja di perpustakaan ini, dan dia menulis cerita tentang petualangan Iason dalam mencari domba emas, yang dia beri judul Argonautika.

Makedonia dan Yunani ditaklukan oleh Romawi pada awal abad kedua SM. Pasukan Romawi membumihanguskan kota Korinthos pada 146 SM. Yunani dan Makedonia pun menjadi provinsi Romawi. Romawi lalu menaklukan kerajaan-kerajaan Hellenistik lainnya. Mesir adalah kerajaan besar terakhir yang jatuh dalam kekuasaan Romawi. Penguasa terakhir Mesir adalah Kleopatra, yang bunuh diri setelah dikalahkan oleh Oktavianus Augustus dari Romawi pada 31 SM. Oktavianus Augustus sendiri pada akhirnya menjadi kaisar pertama Romawi.

Sparta dan Athena

Setelah Zaman Kegelapam Yunani, periode antara periode Mikenai dan periode Klasik disebut periode Arkais. Pada periode Arkais (abad 9-6 SM), Yunani mengalami perkembangan dalam bidang tulisan, filsafat, ilmu pasti, seni, ekonomi, politik, dan militer.
Secara tradisional, Olimpiade dimulai pada periode ini (776 SM).

Pada periode Arkais, banyak negara kota (polis) menerapkan sistem pemerintahan baru yang berbeda dari sistem pemerintahan monarki. Sistem baru tersebut di antaranya adalah aristokrasi, tirani, dan oligarki.

Ada dua negara kota yang berkembang pesat pada periode Arkais, yaitu Sparta dan Athena. Bangsa Sparta adalah orang-orang yang gila perang dan suka menaklukan daerah-daerah di sekitarnya. Pertama mereka mengaklukan Messenia, lalu Arkadia, lalu Argos, dan dengan demikian menjadikan Sparta berkuasa di Peloponnesos. Sparta menerapkan sistem oligarki, dengan dua raja yang saling berbagi kekuasaan, lima efor yang memegang kekuasaan cukup besar, dan gerousia, yaitu dewan para tetua.

Pada akhir abad ke-6 SM, sebuah pemerintahan baru, bangkit. Para penduduk Athena menggulingkan kekuasaan Hippias sang tiran. Seorang pria bernama Kleisthenines menciptakan demokrasi, dan semua orang (kecuali wanita, non-wara negara, dan budak) berhak memilih sepuluh hakim atau jenderal yang disebut strategos. Setiap warga Athena berhak menjabat posisi ini, seperti misalnya sejarawan Thukidides dan dramawan Sofokles.

Namun, Athena ikut campur terhadap kekuasaan Persia di Asia Minor, akibatnya terjadilah perang antara Kekaisaran Persia yang besar, dipimpin oleh Darius I, melawan negara kota Athena yang kecil. Secara luar biasa, pasukan Athena berhasil memenangkan pertempuran yang menentukan di Marathon pada 490 SM. Sepuluh tahun kemudian, Xerxes, putra Darius, berniat membalas kekalahan ayahnya. Xerxes memimpin pasukan besar menuju Yunani. Pada 480 SM, raja Sparta (Leonidas) bersama sekelompok prajurit menahan pasukan Persia di celah sempit Thermopilai, di Thessalia, selama tiga hari, sebelum akhirnya pasukan Sparta pun dikalahkan. Ini memberi waktu bagi Athena untuk mengevakuasi rakyatnya sehingga rakyat Athena bisa menyelamatkan diri ke pulau Salamis dan Peloponnesos. Persia memaksa orang Thessalia dan Boiotia (termasuk Thebes) untuk menjadi prajurit Persia. Kota Athena pada akhirnya dengan mudah ditaklukan namun kota itu sudah kosong karena sebagian besar penduduknya sudah melarikan diri.
Di bawah pemimpinan jenderal Themistokles dari Athena, pasukan Athena beserta Sparta dan sekutu mereka berusaha menghadapi armada Persia di Salmais. Pertempuran laut yang luar biasa, terjadi di Teluk Saronik, di sana armada Yunani berhasil menghancurkan dan menenggelamkan banyak sekali kapal Persia. Setelah kalah, Xerxes membawa sisa-sisa armada lautnya meninggalkan Yunani. Sementara jenderalnya, bersama sepasukan prajurit, ditinggalkan di Yunani untuk berhadapan dengan pasukan Yunani di darat. Pasukan Yunani sendiri dipimpin oleh jenderal Pausanias dari Sparta. Pada 479 SM, sisa-sisa pasukan Persia diluluhlantakan di Plataia, dan jenderal terbaik Xerxes, Mardonius, terbunuh dalam pertempuran.

Kemenangan di Plataia bisa terwujud berkat keberanian, kedisiplinan, dan kehebatan prajurit Yunani, selain juga berkat hoplite (infantri berat) Yunani dan taktik falanga mereka.

Peta Kekaisaran Athena menjelang Perang Peloponnesos.
Rakyat Athena kembali ke kota Athena dan mulai membangun kembali kota mereka. Mereka mengembangkan armada laut yang tangguuh, dan mendirikan Liga Delos. Dalam perkumpulan ini, sebagian besar anggotanya, yang merupakan kota-kota di pulau-pulau Aigea, harus mengumpulkan uang atau kapal perang. Pada awalnya, ini merupakan cara Athena untuk menyerang kekaisaran Persia, namun strategi mereka berubah. Harta hasil sumbangan anggota-anggota Liga Delos awalnya disimpan di pulau Delos. namun setelah Perikles, jenderal dan pemimpin Athena, berkuasa, dia memindahkan semua harta itu ke kota Athena. Dengan semua kekayaan itu, Athena menjadi kekuatan maritim terbesar di Yunani. Setelah itu, Athena membubarkan Liga Delos dan mendirikan Kekaisaran Athena.

Dengan kekayaan itu pula, kota Athena menjadi semakin berkembang pada pertengahan abad kelima SM. Arsitektur dan seni mencapai level yang lebih tinggi ketika Perikles membangun kuil Parthenon di Akropolis untuk memuja dewi penjaga mereka, dewi Athena. Selain sebagai pusat kekayaan dan kekuatan, Athena juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Berbagai bidang keilmuan berkembang pesat, misalnya pengobatan, ilmu pasti, filsafat, dan sastra. Muncul banyak cendekiawan di Athena: Fidias dalam bidang seni, Iktinos dan Kallikrates dalam bidang arsitektur, Sofokles dan Euripides adalah penulis drama tragedi yang sangat terkenal, sedangkan Aristofanes menulis drama komedi. Dalam filsafat, Sofokles mengajari orang-orang melalui pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berpikir.

Karena merasa sangat kuat, Athena pun menjadi arogan. Athena menyerang kota Korinthos dan Thebes, yang merupakan sekutu Sparta. Akibatnya Sparta pun terlibat dalam konflik ini dan terjadilah perang Athena-Sparta, yang disebut Perang Perloponnesos (431-404 SM). Athena memperoleh beberapa kemenangan kecil, namun Athena kehilangan banyak orang penting, termasuk Perikles, yang mati oleh wabah ketika kota Athena dikepung.

Patung hoplite Sparta.
Athena mulai lemah, terutama setelah mereka kalah dalam pertempuran di Trakia (423 SM), dan dalam pengepungan Sirakos (414-413 BC). Athena kehilangan sebagian besar armada lautnya pada pertempuran di Notion (406 SM) dan Aigospotami (405 SM), pada saat itu Sparta dipimpin oleh jenderal Lisandros. Biasanya Sparta lemah dalam hal pertempuran laut, tapi kali ini Sparta dibantu oleh Kekaisaran Persia. Athena akhirnya dikepung dan terpaksa menyerah pada 404 SM.

Pada abad keempat SM, Sparta menjadi kekuasaan terkuat di Yunani setelah Athena menyerah. Pada awalnya, Sparta berniat menginvasi Kekaisaran Persia. Tetapi, Sparta kemudian mencoba memasukkan orang-orang Sparta ke dalam tampuk kekuasaan di kota-kota sekutunya, Korinthos dan Thebes. Akibatnya, Sparta melakukan kesalahan yang dulu dilakukan Athena. Sparta pun akhirnya dikalahkan oleh Thebes pada pertempuran dI Liuktra (371 SM) dan Mantinia (362 SM), melalui kepemimpinan jenderal Epaminondas, meskipun dia meninggal pada pertempuran Mantinia.
Tanpa Epaminondas, supremasi Thebes hanya berlangsung sebentar. Sementara itu, dengan mengadapatsi taktik Epaminondas, Filippos II dari Makedonia berhasil menaklukan Yunani. Filippos menguasai Yunani setelah menang dalam serangkaian pertempuran melawan daerah-daerah di sekitarnya (kota-kota Trakia dan Thessali), kemudian Filippos mengalahkan daerah Yunani yang lainnya, yang berujung pada Pertempuran Khaironia (338 SM).
Abad keempat SM ditandai dengan munculnya Plato dan Aristoteles, namun hanya sedikit tulisan mengenai mitologi yang dibuat pada masa ini.

Zaman Klasik Yunani Kuno

Pada 510 SM, seorang pria bernama Kleisthenes, seorang aristokrat di Athena, menciptakan bentuk pemerintahan baru, yaitu demokrasi. Kleisthenes, seperti aristokrat lainnya, ingin memperoleh lebih banyak kekuasaan. Namun sistem tiran tidak terlalu populer di Athena. Kleisthenes pun memutuskan untuk memberi lebih banyak kuasa kepada rakyat miskin. Semua pria Athena memiliki satu suara. Mereka berkumpul dan melakukan pemilu untuk mengambil keputusan. Pertemuan ini disebut Majelis.

Namun semua pria tidak dapat berkumpul setiap hari karena harus bekerja. Oleh karena itu, dibentuk dewan berisi 500 orang. Anggota dewan dipilih melalui undian dan diganti tiap tahun. Meskipun terkesan adil, Kleisthenes mengatur supaya keluarganya, keluarga Alkmaionid, memiliki lebih banyak suara daripada orang lain.

Pada 490 SM Persia menyerang Athena. Orang-orang ketakutan karena merasa bahwa Persia memiliki tentara yang hebat. Beberapa orang berpendapat bahwa Athena harus kembali menerapkan sistem pemerintahan laim, yakni oligarki, seandainya demokrasi tak bekerja dengan baik. Mereka mengatakan bahwa demokrasi membuat pengambilan keputusan berjalan lambat

Para pria Athena berarak menghadapi pasukan Persia di Marathon. Awalnya mereka mengira akan kalah. Namun pasukan Athena bertempur menggunakan dinding perisai, yang ternyata lebih unggul daripada pasukan Persia. Akhirnya pasukan Athena pun menang.
Pada 480 SM, Persia, dipimpin raja baru mereka Xerxes, menyerang lagi. Kali ini sebagian besar kota di Yunani bersatu dan membentuk persekutuan untuk menghadapi Persia. Mereka awalnya menghadang pasukan Persia di Thermopylae namun berakhir dengan kekalahan. Akan tetapi, pada pertempuran selanjutnya di Salamis dan Plataia, pasukan Yunani memperoleh kemenangan. Lagi-lagi pasukan Persia harus pulang dengan kegagalan
Athena berupaya meyakinkan kota-kota Yunani lainnya untuk mempertahankan angkatan laut yang kuat untuk berjaga-jaga seandainya Persia menyerang kembali. Pada awalnya, kota-kota lain setuju, kecuali Sparta, yang menolak. Athena lalu menyatakan bahwa, jika mereka tak sanggup mengirimkan kapal atau tentara, maka mereka boleh menggantinya dengan mengirimkan uang kepada Athena sehingga Athena dapat membuat kapal. Kota-kota Yunani pun melakukan itu sehingga Athena memperoleh banyak uang.

Akan tetapi, Persia ternyata tidak menyerang lagi dalam waktu yang lama sehingga sejumlah kota ingin berhenti mengirimkan uang kepada Athena, yang kemudian memmanfaatkan angkatan lautnya yang besar untuk memaksa kota-kota itu terus mengirimkan uang. Ketika pulau Naxos menolak, Athena menghancurkan dinding kota utama Naxos.

Athena juga menggunakan uang yang mereka peroleh untuk membangun kota mereka. Ini membuat rakyat Athena tak perlu lagi membayar pajak. Mereka menggunakan uang ini salah satunya adalah untuk membangun kuil-kuil besar, contohnya kuil Parthenon.

Tindakan Athena membuat kota-kota lain di Yunani marah. Mereka pun meminta Sparta untuk membantu menghentikan Athena. Sebagian kota memihak Sparta dan sebagian lainnya memihak Athena. Terjadi perang besar, sejak 431 SM hingga 404 SM (hampir tiga puuh tahun). Peristiwa ini disebut Perang Peloponnesis. Pada akhirnya, dengan bantuan Persia, Sparta berhasil menang dan mengalhkan Athena. Meskipun demikian, kehancuran akibat perang ini menimpa seluruh Yunani, sekaligus mengakhiri periode Yunani Klasik.



Jul 29, 2015

Assyria

Pada 510 SM, seorang pria bernama Kleisthenes, seorang aristokrat di Athena, menciptakan bentuk pemerintahan baru, yaitu demokrasi. Kleisthenes, seperti aristokrat lainnya, ingin memperoleh lebih banyak kekuasaan. Namun sistem tiran tidak terlalu populer di Athena. Kleisthenes pun memutuskan untuk memberi lebih banyak kuasa kepada rakyat miskin. Semua pria Athena memiliki satu suara. Mereka berkumpul dan melakukan pemilu untuk mengambil keputusan. Pertemuan ini disebut Majelis.

Namun semua pria tidak dapat berkumpul setiap hari karena harus bekerja. Oleh karena itu, dibentuk dewan berisi 500 orang. Anggota dewan dipilih melalui undian dan diganti tiap tahun. Meskipun terkesan adil, Kleisthenes mengatur supaya keluarganya, keluarga Alkmaionid, memiliki lebih banyak suara daripada orang lain.

Pada 490 SM Persia menyerang Athena. Orang-orang ketakutan karena merasa bahwa Persia memiliki tentara yang hebat. Beberapa orang berpendapat bahwa Athena harus kembali menerapkan sistem pemerintahan laim, yakni oligarki, seandainya demokrasi tak bekerja dengan baik. Mereka mengatakan bahwa demokrasi membuat pengambilan keputusan berjalan lambat

Para pria Athena berarak menghadapi pasukan Persia di Marathon. Awalnya mereka mengira akan kalah. Namun pasukan Athena bertempur menggunakan dinding perisai, yang ternyata lebih unggul daripada pasukan Persia. Akhirnya pasukan Athena pun menang.
Pada 480 SM, Persia, dipimpin raja baru mereka Xerxes, menyerang lagi. Kali ini sebagian besar kota di Yunani bersatu dan membentuk persekutuan untuk menghadapi Persia. Mereka awalnya menghadang pasukan Persia di Thermopylae namun berakhir dengan kekalahan. Akan tetapi, pada pertempuran selanjutnya di Salamis dan Plataia, pasukan Yunani memperoleh kemenangan. Lagi-lagi pasukan Persia harus pulang dengan kegagalan
Athena berupaya meyakinkan kota-kota Yunani lainnya untuk mempertahankan angkatan laut yang kuat untuk berjaga-jaga seandainya Persia menyerang kembali. Pada awalnya, kota-kota lain setuju, kecuali Sparta, yang menolak. Athena lalu menyatakan bahwa, jika mereka tak sanggup mengirimkan kapal atau tentara, maka mereka boleh menggantinya dengan mengirimkan uang kepada Athena sehingga Athena dapat membuat kapal. Kota-kota Yunani pun melakukan itu sehingga Athena memperoleh banyak uang.

Akan tetapi, Persia ternyata tidak menyerang lagi dalam waktu yang lama sehingga sejumlah kota ingin berhenti mengirimkan uang kepada Athena, yang kemudian memmanfaatkan angkatan lautnya yang besar untuk memaksa kota-kota itu terus mengirimkan uang. Ketika pulau Naxos menolak, Athena menghancurkan dinding kota utama Naxos.

Athena juga menggunakan uang yang mereka peroleh untuk membangun kota mereka. Ini membuat rakyat Athena tak perlu lagi membayar pajak. Mereka menggunakan uang ini salah satunya adalah untuk membangun kuil-kuil besar, contohnya kuil Parthenon.

Tindakan Athena membuat kota-kota lain di Yunani marah. Mereka pun meminta Sparta untuk membantu menghentikan Athena. Sebagian kota memihak Sparta dan sebagian lainnya memihak Athena. Terjadi perang besar, sejak 431 SM hingga 404 SM (hampir tiga puuh tahun). Peristiwa ini disebut Perang Peloponnesis. Pada akhirnya, dengan bantuan Persia, Sparta berhasil menang dan mengalhkan Athena. Meskipun demikian, kehancuran akibat perang ini menimpa seluruh Yunani, sekaligus mengakhiri periode Yunani Klasik.



Zaman Batu

Sekitar tahun 10.000 SM, orang di Asia Barat mulai menetap di satu tempat alih-alih berpindah-pindah, meskipun mereka masih berburu dan mengumpul. Kemungkinan ini berakhirnya Zaman Es membuat Asia Barat menjadi hangat, basah, dan subur sehingga orang tak perlu lagi berpindah-pindah untuk mencari makanan. Mereka dapat menghasilkan cukup makanan di satu tempat. Setelah menetap, beberapa orang, yang disebut orang Natufia, mulai bercocok tanam secara sederhana. Mereka menjinakkan anjing, melakukan barter dengan desa lain untuk obsidian, batu berharga, dan garam, serta membangun kuil untuk para dewa. Ada yang berpendapat bahwa kisah Taman Eden dalam Alkitab terinspirasi dari kehidupan pada masa ini.

Akan tetapi ketika iklim kembali menjadi lebih dingin dan kering, sekitar 8000 SM, mukanan mulai tak cukup lagi, sehingga sejumlah orang kembali berpindah-pindah untuk memperoleh makanan. Sebagian lainnya bekerja lebih keras untuk menanam gandum dan jelai, demi menghasilkan lebih banyak makanan. Orang-orang ini tidak memperoleh makanan sebanyak para pemburu-pengumpul, namun mereka mampu memberi makan lebih banyak orang.

Pada masa ini, orang mulai membangun kota yang lebih besar. Desa tertua yang diketahui, di mana para arkeolog telah menggali dan menemukan perumahan, berada di Yerikho di sepanjang sungai Yordania di Palestina modern. Pemukiman tersebut bertahun 9000 SM. Pada 8000 SM, sekitar 2000 orang tinggal di sana, di rumah bulat kecil yang dibuat dari bata-lumpur. Mereka membuat topeng tanah liat berwarna putih sebagai pengingat orang yang telah meninggal. Mereka sudah mulai menggunakan token angka. Mereka membangun tembok di sekitar desa mereka untuk menjaga dari binatang buas dan penganggu. Tembok mereka bertinggi 3,6 meter dan tebalnya hampir 3 meter.

Desa lainnya ada di Catal Huyuk, Turki. Desa itu dibangun sekitar 8000 SM dan lebih besar daripada Yerikho. Barangkali sekitar 6000 SM, Catal Huyuk dihuni oleh 6000 orang. Penduduknya telah mengetahui cara menenun dan memintal pakaian serta cara membuat tembikar. Mereka membangun rumah bata-lumpur yang cara masuknya adalah melalui jendela atau atap. Penduduk Catal juga membangun kuil bata-lumpur untuk dewi muda, dewi ibu, dan dewi tua, melambangkan fase jehidupan. Di Jarmo di Irak, lebih jauh di timur, ada sebuh desa yang dibangun sekitar 7000 SM. Desa tersebut memiliki tembok batu dan menara batu, dengant inggi 12 meter. Ini menunjukkan bahwa daerah tersebut menjadi semakin padat. Orang-orang mulai berebut lahan, sehingga penting untuk mempertahankan lahan yang dimiliki dengan tembok dan menara serta tombak bermata batu.

Setelah manusia menetap, mereka juga mulai menjinakkan hewan untuk menjaga rumah. Pada masa ini, para petani di Asia Barat mulai menanm beragam tanaman, termasuk lentil, apel, dan opium. Hewan yang dijinakkan juga sudah amat beragam, di antaranya keledai, biri-biri, kambing, sapi, babi, dan ayam.

Bangsa Amori


Sekitar 2400 SM, ada suku bangsa yang tinggal di Tukri selatan dan Suriah modern. Mereka disebut bangsa Amori, yang berarti "orang barat" dalam bahasa Sumeria, karena bangsa Amori memang tinggal di sebelah barat Sumeria. Mereka menuturkan bahasa Semit, dan sebagian tinggal di perkotaan sedangkan sebagian lainnya hidup nomaden.

Sejarah bangsa Amori diketahui dari catatan yang ditulis oleh tetangga-tetangga mereka di Mesopotamia, yang menyebutkan bahwa bangsa Amori menyerang mereka. Raja Akakdia Naram-Sin memimpin pasukan memerangi bangsa Amori sekitar 2200 SM. Setelah Akkad runtuh sekitar 1900 SM. Bangsa Amori berhasil menyerbu Mesopotamia dan sekitar 1700 SM keturunan mereka mendirikan Kekaisaran Babilonia, yang berpusat di kota Babilon (dulunya kota Akkad).

Ketika suku bangsa India-Eropa, yaitu bangsa Het, menyerbu Turki, mungkin bangsa Amori tidak secara peuh ditaklukan namun kereka berada di bawah pengaruh Het dan belajar banyak dari bangsa Het, di antarana belajar cara menunggang kuda dan mengendarai kereta perang.

Berkat pengetahuan ini, bangsa Amori mampu menyerang Mesir sekitar 1700 SM. Pada awalnya mereka mungkin menyerang wilayah Suriah yang dikuasai Mesir. Mereka sukses dan meneruskan serangan ke selatan di sepanjang pesisir Laut Tengah melalui Lebanon dan Israel hingga ke Mesir, di mana mereka menguasai mulut sungai Nil (kawasan sekitar Memphis) selama beberapa waktu. Bangsa Mesir menyebut mereka bangsa Hyksos, yang artinya "orang asing."


Ketika Kerajaan Baru berdiri di Mesir, bangsa Hyksos atau Amori dikalahkan oleh orang Mesir. Mereka pun kembali ke tempat asal mereka di Suriah dan Turki selatan. Tak banyak yang diketahui tentang mereka setelah itu, tampaknya sisa-sisa bangsa Amori diserap ke dalam Kekaisaran Assyria.

Perang Seratus Tahun

Setelah raja terakhir Prancis dari keturunan langsung Capet meninggal pada 1328 M, raja Inggris Edward III, yang telah menguasai wilayah yang besar di Prancis, mengklaim sebagai penguasa seluruh wilayah Prancis sebagai raja Prancis serta raja Inggris. Ia memanfaatkan kondisi Prancis yang sedang tanpa pemimpin. Pada masa ini Edward III sendiri baru berusia delapan belas tahun.

Perang pun pecah pada 1338 M. Menghadapai ancaman Inggris, para lord Prancis memilih seorang raja baru untuk memimpin mereka melawan pasukan Inggria. Sayangnya, raja terpilih bukanlah orang yang cakap sehingga pada awalnya justru Inggris yang mampu memenangkan beberapa pertempuran besar. Semakin lama jutru semakin banyak wilayah Prancis yang direbut Inggris, dan wilayah yang dikuasai kerajaan Prancis hanya menyisakan sedikit kawasan di Prancis utara.

Meskipun demikian, Prancis terus melawan dan peperangan terus berlanjut, bahkan setelah Edward III meninggal pada 1377 M. Sebagian karena Maut Hitam, kedua belah pihak tidak mampu untuk sepenuhnya mengakhiri peperangan. Di bawah raja baru mereka yang masih muda, Henry V, Inggris memenangkan pertempuran besar di Agincourt pada 1415 M, di mana Henry menggunakan senjata baru, meriam, yang amat membantunya memperoleh kemenangan.

Inggris berhasil merebut hampir seluruh wilayah Prancis. Akan tetapi Henry V mati muda di Paris. Setelah kematiannya, Prancis mulai mengalami kebangkitan dengan munculnya seorang perempuan bernama Jean, yang mengaku mendengar suara Tuhan di ladang ketika sedang menggembalakan domba ayahnya. Ia mengklaim bahwa Tuhan menyuruhnya mempimpin pasukan Prancis melawan Inggris. Maka Jean pun meninggalkan desanya yang disebut Arc dan mendatangi pasukan Prancis.

Pada awalnya Jean ditertawakan oleh para tentara, yang tidak percaya bahwa Jean dapat memimpin pasukan. Namun Jean akhirnya berhasil memimpin mereka, dan di bawah kepimpinpinanya, pasukan Prancis memperoleh banyak kemenangan. Ia berhasil merebut kembali kota Orleans dan Reims, serta kota-kota lainnya, demi raja Prancis, Charles VII. Sayangnya, ia kemudian ditangkap dan ditawan oleh pasukan Inggris. Pasukan Inggris menuduh Jean sebagai penyihir, dan, setelah melalui pengadilan yang panjang, membakarnya hidup-hidup di Rouen pada 1431 M.

Meskipun kehilangan Jean, Prancis terus memperoleh kemenangan dalam peperangan ini, dan pada 1453 M raja Inggris Henry VI (putra Henry V) menyerah kepada Prancis. Ia melepaskan seluruh wilayah kekuasaannya di Prancis kecuali pelabuhan di Calais

Abad Pertengahan Perang Salib

Setelah bangsa Norman menetap di Prancis dan menaklukan Inggris, baik Prancis dan Inggris, serta Kekaisaran Romawi Suci, lebih kuat dibanding pada masa Charlemagne. Para raja dan ratu mereka mulai berpikir, seperti yang dulu pernah terpikir oleh Charlemagne,untuk menaklukan seluruh Mediterania dan mendirikan kembali Kekaisaran Romawi kuno. Secara khusus, mereka ingin merebut Yerusalem, kota Yesus Kristus, dari tangan Fatimiyah Islam yang menguasainya.

Pada 1095 M Paus Urbanus berpidato di Clermont di Prancis selatan, di mana ia menyeru orang-orang untuk mengangkat senjata dan berperang untuk membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Fatimiyah. Orang-orang begitu bersemangat, bahkan anak-anak dan orang tua juga ingin ikut pergi.

Saking bersemangatnya, beberapa kelompok berangkat ke Yerusalem sebelum kelompok utama diorganisir. Mereka meyakini bahwa Tuhan akan meruntuhkan tembok Yerusalem begitu mereka tiba di sana, jadi mereka tidak perlu bertempur atau membawa senjata. Beberapa dari mereka bahkan tak membawa uang sedikit pun. Sebagian besar kelompok kemudian mendapati bahwa berkelana dan bertempur itu lebih sulit dari dugaan mereka, dan sebagian besar di antara mereka akhirnya meninggal dalam perjalanan. Satu kelompok memutuskan bahwa terlalu sulit untuk pergi ke Yerusalem dan memerangi Fatimiyah, dan lebih memilih untuk berhenti di Jerman untuk memerangi Yahudi. Ribuan orang Yahudi dirampok dan dibunuh oleh pasukan salib ini, hanya karena mereka bukan orang Kristen.

Pada akhirnya pada musim gugur 1096, pasukan salib utama berangkat ke Yerusalem. Mereka menggunakan rute yang berbeda-beda, sebagian pergi lewat darat dan sebagian lewat laut, menuju Konstantinopel. Di sana Kaisar Alexio cukup terkejut melihat mereka dan tidak terlalu senang. Dia sempat takut pasukan itu akan menyerang kekaisarannya, tapi akhirnya ia mengirim mereka menuju Yerusalem.

Fatimiyah tidak terlalu waspada karena mereka mengira bahwa yang datang adalah pasukan kecil Romawi dari Konstantinopel yang hanya ingin bertempur sedikit di Suriah.

Pasukan salib tiba di Yerusalem pada Mei 1098. Mereka terkejut melihat betapa beradabnya kota itu, dengan adanya masjid Kubah Batu, pemandian air panas, dan kedokteran Islam yang maju.

Pasukan salib membuat banyak kesalahan dalam peperangan mereka. Namun Fatimiyah sedang bertempur juga melawan Seljuk, sehingga mereka tak mampu mempertahankan Yerusalem dengan baik. Pasukan salib berhasil merebut Yerusalem, serta beberapa kota penting lainnya di pesisir Mediterania. Mereka menetap di sana sebagai raja-raja Yerusalem, di negara baru mereka. Banyak orang Eropa yang pergi bolak-balik Eropa-Timur Tengah, mempelajari matematika dan pengobatan dari para ilmuwan Islam, serta membawa makanan baru, seperti gula, ke Eropa. Dengan demikian, Perang Salib Pertama merupakan suatu kesuksesan bagi orang Eropa, dan kemunduran bagi Fatimiyah.

Setelah Perang Salib Pertama pada 1096 M berhasil mendirikan kerajaan-kerajaan Kristen di sepanjang pesisir Israel dan Lebanon, para khalifah Fatimiyah yang dulunya menguasai daerah itu menjadi kesal. Pada 1144 M, seorang jenderal mamluk, Imaduddin Zangi, berhasil menyatukan cukup banyak tentara Turk dan Arab dalam pasukannya untuk kemudian menyerang kerajaan-kerajaan Kristen. Zangi tidak merebut Yerusalem, namun ia merebut kota Edessa di dekatnya di Suriah.

Di Eropa, orang-orang Kristen marah ketika mengetahui bahwa Edessa telah direbut oleh Turk. Paus lalu menyuruh Bernard dari Clairvaux (di Prancis) untuk menyerukan Perang Salib Kedua untuk mengalahkan Zangi. Raja muda Prancis, Louis VII, setuju untuk berangkat, bersama dengan ratunya, Eleanor dari Aquitaine. Begitu pula Conrad III dari Jerman, Kaisar Romawi Suci. Pada masa ini, Louis berusia 23 tahun, Eleanor 22 tahun, dan Conrad 51 tahun

Dari awal hingga akhir, perang ini mengalami banyak hambatan. Sebagian besar tentara Conrad terbunuh ketika berarak melalui Turki. Ketika Louis dan Conrad tiba di Yerusalem, mereka memutuskan untu menyerang Damaskus, sebagai pembalasan atas direbutnya Edessa. Akan tetapi, serangan mereka gagal dan pasukan salib pun harus pulang tanpa membawa kemenangan.

Ketika jenderal Mamluk Imaduddin Zangi meninggal, ia digantikan oleh putranya Nuruddin, yang berhasil menaklukan Damaskus. Setelah Nururddin meninggal pada 1174 M, seorang jenderal Kurdi yang kuat bernama Salahuddin berkuasa. Salahuddin merebut Mesir dari Fatimiyah, dan ia bahkan cukup kuat untuk memulai peperangan dengan kerajaan-kerajaan Kristen di Israel dan Lebanon. Pada 1187 M, Salahuddin menaklukan Yerusalem.

Sekali lagi bangsa Eropa pun marah. Paus kembali menyeru para raja Eropa untuk bersatu dan memerangi Salahuddin. Akhirnya Richard Hati Singa, raja Inggris; Philippe Auguste, raja Prancis; dan Friedrich Barbarossa, raja Jerman sekaligus Kaisar Romawi Suci, bersama-sama memimpin pasukan menuju Yerusalem. Sementara di Prancis dan Inggris ditetapkan pajak khusus untuk menghasilkan uang demi membiayai perang.

Akan tetapi, Perang Salib Ketiga, seperti yang kedua, menemui banyak permasalahan. Friedrich meninggal dalam perjalanan ke Yerusalem. Ia tenggelam ketika sedang mandi di sebuah sungai. Akibatnya sebagian besar tentaranya memilih untuk pulang.

Richard dan Philippe melanjutkan perjalanan ke Yerusalem melalui laut. Richard berhasil menaklukan pulau Siprus dalam perjalanannya, namun ia merebutnya dari kerabat Kaisar Bizantium, sehingga sejak itu Bizantium memusuhi Richard. Pasukan Prancis dan Inggris kemudian melanjutkan perang dengan mengepung Akre, pelabuhan utama di kawasan tersebut. Setelah mengepung selama hampir dua tahun, mereka baru berhasil menaklukannya. Richard membunuh 2700 tawanan di Akre karena tebusan mereka tidak dibayar hingga batas waktu yang ia tetapkan.

Setelah menang di Akre, Philippe tak mau lagi melanjutkan perang. Ia memilih untuk pulang ke Prancis, di mana kemudian ia sibuk menyerang wilayah-wilayah milik Richard di Prancis. Dengan demikian hanya Richard dan pasukan Inggrisnya yang masih bertahan untuk melanjutkan perang. Dalam keadaan seperti itu, Richard tak mampu mengalahkan Salahuddin sehingga akhirnya pada 1192 M, ia dan Salahuddin menyepakati kesepakatan damai. Isi kesepakatan itu adalah bahwa peziarah Kristen diperbolehkan keluar-masuk Yerusalem secara bebas, dan Salauddin tidak menyerang sisa-sisa kerajaan Kristen selama bertahun-tahun tahun ke depan. Dengan disepakatinya perjanjian itu, Richard pun pulang ke Inggris.

Namun ketika melintasi Jerman, Richard ditangkap oleh kaisar baru Jerman, Heinrich VI. Heinrich tak menyukai Richard karena Richard pernah berjanji akan membantu Raja Tancred dari Sisilia untuk melawan Heinrich. Heinrich memenjarakan Richard dan mengirim pesan kepada saudara Richard, John, yang isinya meminta tebusan untuk ditukarkan dengan Rihcard. Tebusan yang diminta Heinrich amat besar, bahkan pada akhirnya John harus membayar uang sejumlah tiga kali pendapatan tahunan Inggris. Untuk memeroleh uang tebusan, John menyuruh rakyat membayar pajak tambahan. Richard akhirnya berhasil pulang ke Inggris pada 1194 M.

Pada 1200 M, Paus Innosentius mulai meminta para penguasa Eropa untuk melancarkan Perang Salib Keempat, lagi-lagi sebagai upaya untuk merebut Yerusalem dari Ayyubiyah yang menguasainya. Sementara Salahuddin sudah meninggal pada 1193 M, dan pasukan salib merasa bahwa penerusnya lebih lemah sehingga akan mudah dikalahkan. Kali ini mereka melakukan sesuatu yang berbeda. Alih-alih menyerang dari utara, pasukan Eropa akan berlayar ke selatan menuju Mesir, kemudian dari sana mereka akan bergerak ke Yerusalem.

Untuk memperoleh cukup banyak kapal untuk mengangkut pasukan salib ke Mesir, dibutuhkan bantuan dari negara bahari yang kuat. Oleh karena itu pada 1022 M pasukan salib datang ke Venesia untuk menyewa kapal. Namun mereka tak memiliki cukup uang, sehingga Venesia menawarkan suatu kesepatan. Venesia mengizinkan pasukan salib membayar biaya sewa kapal seusai perang namun sebagai gantinya pasukan salib harus terlebih dahulu membantu Venesia merebut kembali kota Zara (di Hongaria modern), yang direbut oleh Hongaria beberapa tahun sebelumnya. Pasukan salib setuju utuk menyerang Zara meskipun Zara adalah kota Kristen. Sementara itu Paus tidak suka denga tindakan mereka sehingga ia pun memutuskan untuk mengucilkan pasukan salib yang melakukan penyerangan ke Zara.

Pasukan salib berhasil menaklukan Zara, dan hendak melanjutkan perjalanan ke Mesir dengan kapal. Akan tetapi Alexios Komnenos, yang baru saja digulingkan dari posisinya sebagai kaisar Bizantium, meminta pasukan salib untuk membantunya berkuasa lagi. Ia berjanji bahwa ia akan membayar mereka jika ia berhasil bertahta kembali. Akhirnya, alih-alih berperang ke Mesir, pasukan salib setuju untuk membantu Alexios. Pada 1203 M, dengan dibantu oleh Venesia, pasukan salib menyerbu Konstantinopel, ibukota Bizantium, dan mengangkat Alexios sebagai kaisar lagi. Namun Alexios tidak memiliki uang untuk membayar pasukan salib. Untuk memperoleh uang, ia pun menarik pajak tambahan dari rakyat sehingga ia menjadi dibenci oleh rakyat. Saking dibencinya, Alexios dan ayahnya akhirnya dibunuh, dan seorang kaisar baru, Alexios V, naik tahta.

Pada 1204 M pasukan salib dan Venesia kembali menyerang, dan kali ini menjarah Kostantinopel. Seluruh wilayah Bizantium diambil alih oleh Venesia. Pasukan salib tak pernah tiba di Yerusalem, dan tak pernah berperang melawan Ayyubiyah. Mereka menjarah uang dan harta benda di Konstantinopel, kemudian pulang. Paus pun akhirnya mengizinkan mereka kembali ke Gereja.

Pada 1216 M, Paus Honorius III berhasil mendorong sejumlah orang Eropa untuk kembali melancarkan serangan ke Yerusalem agar bisa merebutnya dari Ayyubiyah. Kali ini, Paus yang akan memimpin pasukan salib alih-alih para raja Eropa. Friedrich II dari Kekaisaran Romawi Suci ingin ikut, namun Paus menolaknya. Paus menekankan bahwa perang salib ini untuk Paus, bukan untu raja. Beberapa pasukan Hongaria ikut serta.

Pasukan salib pergi ke selatan, mengikuti rencana awal Perang Salib Keempat. Pada 1218 M, pasukan salib bersekutu dengan sultan Seljuk Kay Kaus I, dan menyerang pelabuhan Damietta di Mesir. Mereka melakukan pengepungan yang lama, dan banyak orang di kedua pihak yang meninggal akibat penyakit. Pada 1219 M, pasukan salib berhasil merebut Damietta, namun kemudian malah saling bertikai memperebutkan kekuasaan di sana.

Pada 1221 M, pasukan salib bergerak ke Kairo dan berupaya merebut lebih banyak wilayah Mesir. Ayubiyyah memanfaatkan sungai nil untuk membanjiri jalan-jalan, membuat pasukan salib terperangkap. Agar dapat bebas, pasukan salib pun menyepakati perjanjian. Mereka menyerahkan kembali Damietta kepada Ayubiyyah kemudian kembali ke Eropa.

Tak lama setelah gagalnya Perang Salib Kelima, Friedrich II, Kaisar Romawi Suci, memutuskan bahwa ia ingin ikut serta dalam Perang Salib, karena ia tak dapat ikut dalam perang salib sebelumnya.

Friedrich memimpin pasukannya ke Akre, di Suriah. Ketika itu Akre dikuasai oleh Mamluk. Akan tetapi, Friedrich menghadapi permasalahan. Di negara asalnya, terjadi sengketa politik antara kelompok Guelf dan Ghibellin. Sengketa ini terus mengikutinya bahkan hingga ke Akre

Friedrich kemudian memperleh tawaran dari Al-Kamil, saultan Ayyubiyah. Al-Kamil ingin menempatkan saudaranya sebagai penguasa Suriah sebagai pengganti Mamluk, dan ia membutuhkan bantuan dari pasukan Friedrich. Sebagai imbalannya, Al-Kamil akan menyerahkan Yerusalem, Nazareth, dan Bethlehem kepada Friedrich. Friedrich setuju dan akhirnya ia pun dinobatkan sebagai Raja Yerusalem pada 1229 M.

Akan tetapi, hanya beberapa bulan setelahnya, Friedrich harus kembali ke Jerman untuk menyelesaikan permasalahan di sana. Ia meninggalkan Yerusalem tanpa menempatkan pasukan untuk melindungi kota itu. Kesepakatan Friedrich berlangsung untuk sementara, namun Ayyubiyah lama-kelamaan menjadi lemah. Akhirnya pada 1244, Mamluk, yang mulai bangkit di Asia Barat, berhasil merebut Yerusalem.

Perang Salib Ketujuh tidak dimulai oleh Paus, melainkan oleh Raja Louis IX dari Prancis, yang kelak dikenal atas ketaatannya kepada Tuhan. Setelah Mamluk merebut Yerusalem pada 1244 M, Louis mengumumkan perang salibnya (pada 1245 M). Louis mengumpulkan uang dari sedekah untuk gereja dan kemudian berlayar menuju Siprus pada 1248 M (pada usia 34 tahun).

Dari Siprus, Louis menyerang dan merebut pelabuhan Damietta di Mesir, yang pernah menyebabkan banyak permasalahan pada Perang Salib Kelima. Ayyubiyah kini amat lemah dan tak mampu menghentikan Louis. Memanfaatkan Damietta sebagai basis, Louis berusah menyerang Kairo, namun Mamluk tiba dan mengalahkannya. Louis ditawan, dan untuk menebusnya, Prancis harus membayar banyak emas serta menyerahkan kembali Damietta.

Louis dan pasukannya pergi ke Akre di Suriah. Di sana, ia bernegosiasi dengan Mongke, Khan Mongol, untuk meminta bantuan melawan Mamluk, namun Mongke tidak tertarik. Pada 1254 M, Louis, kini berusia 40 tahun, telah kehabisan uang. Selain itu, ibunya, Blanche dari Castile, telah meninggal. Blanche memerintah Prancis selama Louis pergi, dengan dengan meninggalnya Blanche, Louis harus pulang untuk mengurus negaranya.

Setelah ibunya meninggal, Louis IX dari Prancis harus menstabilkan negaranya. Setelah itu, Louis ingin melancarkan perang salib lagi. Perang Salib Ketujuh, yang dipimpin oleh Louis, berakhir dengan kegagalan pada 1254 M, sehingga pada 1270, ketika berusia 56 tahun, Louis mencoba kembali. Kali ini ia memulai dengan menyerang Tunis, untuk memperoleh basis di Afrika Utara. Akan tetapi, disentri menjangkiti perkemahan pasukannya, bahkan Louis sendiri meninggal akibat penyakit ini. Akhirnya pasukan salib pun mundur dan kembali ke Eropa.

Konstantius dan Yulianus

Konstantinus meninggal pada tahun 337 M. Ketiga putranya membagi-bagi Kekaisaran Romawi, namun mereka malah saling berperang, ditambah lagi terjadi pemberontakan di Galia (Prancis). Pada tahun 350 M putranya yang bernama Konstantius II adalah satu-satunya yang mampu bertahan hidup. Seperti ayahnya, Konstantius adalah penganut Kristen.


Dengan meninggalnya Konstantinus, Sasan, yang berhasil mengakhiri perang saudaranya, kembali menyerang Kekaisaran Romawi. Constantius membutuhkan seseorang untuk memimpin pasukan ke Timur sementara dia menghadapi serangan Jermanik. Awalnya dia menunjuk sepupuny Gallus, namun Gallus ternyata tidak capak dan malah bersikap kejam. Konstantius terpaksa membunuhnya. Kemudian Konstantius menunjuk adik lelaki Gallus, yakni Yulianus. Kali ini Konstantius berperang melawan Sasan, sementara Yulianus dikirim untuk menghadapi Jermanik.

Tidak disangka, Yulianus ternyata mampu berperang dengan baik melawan Jermanik. Akibatnya pasukannya di Paris mengangkatnya sebagai kaisar. Konstantius bergegas kembali untuk menghadapi Yulianus, namun dia keburu meninggal akibat serangan jantung di perjalanan. Akhirnya pada tahun 361 M, Yulianus menjadi kaisar Romawi.


Hal pertama yang Yulianus lakukan adalah mengumumkan bahwa dia hanya berpura-pura menganut Kristen. Dia sebenarnya membenci Kristen. Dia berusaha membawa kembali agama Romawi tradisional, namun gagasan ini tidak dianggap baik dan membuatnya tak disukai. Pada tahun 363 M Yulianus terbunuh (barangkali oleh anak buahnya sendiri) ketika sedang bertempur melawan Sasan di Timur.

Awal Republik Romawi Kuno

Sekitar tahun 500-an SM, ketika demokrasi sudah dimulai di Athena, para aristokrat Romawi memutuskan bahwa mereka tak mau lagi dipimpin oleh raja-raja Etruria. Para raja memang bertugas secara baik untuk rakyat miskin, namun golongan orang kaya menginginkan lebih banyak kekuasaan. Akan tetapi kelompok kaya tidak bisa begitu saja menyingkirkan raja. Mereka memerlukan bantuan dari orang miskin. Jadi mereka berjanji kepada kaum miskin bahwa orang miskin akan memperoleh lebih banyak kekuasaan dalam pemerintahan yang baru, jika mereka bersedia membantu menyingkirkan raja. Kaum miskin bersedia membantu, dan bersama-sama mereka menggulingkan kekuasaan raja.

Akan tetapi, kaum miskin tetap saja tidak memperoleh kekuasaan seperti halnya kaum miskin di Athena. Bukannya melakukan pemungutan suara mengenai apa yang harus dilakukan, orang Romawi malah melakukan pemungutan suara untuk memilih pemimpin, yang berhak menentukan apa yang akan dilakukan, sama seperti sistem pemilihan Presiden dan DPR di Indonesia saat ini. Namun hanya orang kaya yang boleh dipilih ke dalam Senat Romawi.

Setelah beberapa tahun, kaum miskin Romawi tetap merasa bahwa mereka kurang diperhatikan. Mereka memaksa para aristokrat setuju bahwa kaum miskin dapat ikut memilih Tribunus. Tribunus sendiri harus dipilih dari golongan miskin, dan mereka mengikuti rapat Senat. Mereka berhasil memveto keputusan Senat yang sekiranya dapat berakibat buruk bagi kaum miskin. Veto artinya "Aku melarangnya" dalam bahasa Latin, dan itu bermakna bahwa Tribunus dapat mencegah diberlakukannya hukum apapun yang sekiranya buruk bagi orang miskin.

Kaum miskin juga memaksa aristokrat untuk menuliskan hukum dan meletakannya di alun-alun supaya dapat dibaca semua orang (meskipun tidak banyak orang yang bisa membaca). Ini disebut Dua Belas Lembaran. Seperti halnya Kode Hammurabi di Babilonia, ini berhasil mencegah para pejabat mengada-adakan hukum yang sebenarnya tidak ada.

Sementara itu, pasukan Romawi sedikit demi sedikit mulai menaklukan kota-kota di sekitar mereka. Sebagian besar orang pada masa itu, ketika mereka menaklukan suatu kota, hanya mengambil segala barang yang inginkan, meruntuhkan beberapa bangunan, dan kemudian meninggalkan kota taklukan itu lalu pulang. Namun orang Romawi berbeda, ketika mereka menaklukan suatu kota, mereka melakukan sesuatu yang baru; mereka menjadikan kota tersebut bagian dari Romawi. Kadang-kadang orang yang tinggal di kota tersebut dapat memperoleh hak memilih di kota Romawi, dan mereka juga harus membayar pajak untuk Romawi, dan mereka juga harus mengirim tentara untuk pasukan Romawi. Karena gagasan baru ini, semakin banyak wilayah yang ditaklukan Romawi, maka semakin kaya pula Romawi, dan semakin banyak pula jumlah tentara dalam pasukan Romawi, sehingga semakin mudah pula bagi Romawi untuk menaklukan wilayah-wilayah lainnya. Dengan cepat, Romawi berhasil menguasai sebagian besar wilayah di Italia tengah.

Namun setelah raja disingkirkan, para aristokrat Romawi tetap tak mau membagi kekuasaan dengan kaum miskin. Akibatnya orang-orang miskin pun pergi dari kota Roma dan melakukan pemogokan. Mereka tak mau lagi bekerja kecuali diberikan sedikit kekuasaan. Aristokrat Romawi terpaksa menyerah, dan mereka pun memberikan hak suara kepada kaum miskin pria (namun tidak kepada wanita dan budak).

Krisis Abad Ketiga Romawi Kuno

Pada tahun 200-an M (abad ketiga), Kekaisaran Romawi mengalami masa-masa sulit. Para sejarawan memiliki banyak pendapat mengenai alasannya, namun satu alasan yang pasti adalah bahwa Romawi terus-menerus diserang oleh Sasan di Timur dan pada saat yang sama diserang juga oleh orang-orang Jermanik di utara. Sangat sulit dan mahal menghadapi dua peperangan sekaligus, akibatnya pajak harus dinaikkan menjadi sangat tinggi, dan rakyat tidak senang ketika harus membayar pajak yang tinggi.

Selain itu, kaisar Romawi tidak dapat memimpin dua pasukan pada saat yang sama. Jadi dia harus memilih seorang jenderal untuk memimpin separuh lainnya dari pasukan Romawi. Seorang kaisar harus memilih untuk melawan Sasan, dan pasukan yang melawan suku Jermanik dipimpin oleh seorang jenderal, atau sebaliknya. Namun pasukan manapun yang dipimpin oleh seorang jenderal sering merasa iri. Mereka bahkan sering mengangkat jenderal mereka menjadi kaisar. Kadang mereka menang, kadang mereka kalah, namun itu membuat dua paruh pasukan Romawi menghabiskan banyak waktu berperang satu sama lain alih-alih melawan Sasan dan suku Jermanik.

Dan, karena rakyat jelata tidak senang dengan pajak yang tinggi, sangat mudah untuk membuat mereka memberontak. Oleh karena itu banyak pemberontakan kecil selama tahun 200-an M, dan pasukan Romawi selalu berhasil menghentikannya.

Salah satu pemberontakan ini terjadi di Palmyra, sebuah kota dagang besar di dekat Jazirah Arab di Asia Barat (Suriah modern). Raja di daerah ini, yakni Odoenathus, dikuasai oleh Romawi selama bertahun-tahun, namun kemudian dia memutuskan untuk memberontak. Setelah dia meninggal, istrinya Zenobia berkuasa atas nama putranya yang masih muda. Pada akhirnya Romawi merebut Palmyra kembali, dan mereka juga membawa Zenobia ke Roma sebagai tawanan. Dia dibawa dengan rantai emas. Di Romawi, Zenobia nampaknya menjadi sensasi pada pesta-pesta. Akhirnya dia hidup senang hingga tua.

Karena banyak kaisar yang terbunuh dalam pertempuran atau oleh tentara yang berkhianat, ada banyak kaisar pada abad ini. Hampir tidak ada kaisar yang bertahan lebih dari lima tahun.

Perang Punisia

Pada tahun 274 SM, Romawi telah mengusai seluruh Italia. Kemudian sebuah kota Yunani yang tidak berada di Italia meminta Romawi untuk membantunya dalam perang. Kota ini adalah Sisilia, sebuah pulau besar di dekat Italia di laut Tengah. Senat Romawi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa senator berpendapat bahwa mereka harus membantu, dan juga menaklukan Sisilia. Beberapa lainnya mengatakan bahwa Sisilai terlalu jauh untuk dibantu. Namun akhirnya Romawi memutuskan untuk mengirimkan pasukan ke Sisilia.

Sisilia pada masa ini terbagi menjadi dua bagian. Separuhnya ditempati oleh kota-kota Yunani, sedangkan separuhnya lagi terdiri atas kota-kota Kartago. Ketika Kartago mengetahui bahwa pasukan Romawi mendatangi Sisilia, mereka takut Romawi akan berusaha menaklukan mereka juga, jadi mereka pun menyerang Romawi. Pada percobaan pertama ini, Romawi menderita kekalahan, karena mereka harus pergi ke Sisilia dengan kapal, sedangkan bangsa Romawi bukanlah pelaut yang handal. Akan tetapi, Romawi belajar dari kekalahan itu. Mereka mulai mempelajari teknik pelayaran, salah satunya dengan cara merampas kapal Kartago (Punisia) dan menirunya. Dengan usaha keras mereka, Romawi pada akhirnya berhasil mengalahkan Kartago dan memenangkan Perang Punisia Pertama. Kini Romawi menguasai seluruh pulau Sisilia, dan memaksa semua kota di pulau itu membayar pajak kepada Romawi. Romawi juga menempatkan gubernur Romawi di pulau itu.

Romawi belum berhasil menaklukan kota Kartago, yang terletak di Afrika utara. Namun Romawi berhasil memaksa Kartago untuk membayar sejumlah besar uang kepada Romawi, sebagai biaya ganti rugi perang.

Sejarah perang ini sebagian besar diketahui dari tulisan Polybius dan Livius.

Bangsa Kartago, di bawa jenderal mereka Hamilcar, memperoleh banyak msalah dalam membayar uang kepada Romawi. Mereka memutuskan untuk menaklukan sebagian Spanyol selatan, dimana banyak terdapat tambang perak, untuk membantu mereka membayar uang kepada Romawi. Namun pada saat yang sama, Romawi juga mulai memasuki sebagian Spanyol selatan, dimana terdapat pertambangan emas. Romawi dan Kartago membuat perjanjian untuk tidak memasuki wilayah masing-masing. Akan tetapi pada tahun 219 SM sebuah kota Saguntum, yang berada di Spanyol namun dikuasai oleh Kartago, meminta bantuan Romawi dalam melawan Kartago. Romawi mengirim pasukan untuk membantu mereka. Akibatnya, pemimpin Kartago, Hannibal, memutuskan untuk membalas menyerang Romawi.

Hannibal membawa pasukan besar dan banyak gajah perang serta kuda. Dia memimpin pasukannya menyeberangi pegunungan Alpen ke Italia. Hannibal mengira bahwa jika dia berhasil sampai di Italia maka semua kota di sana akan dengan senang hati menerimanya dan membantu melawan Romawi. Akan tetapi, kenyataanya justru sebaliknya dan tidak ada kota yang bersedia membantu Hannibal. Beberapa kota merasa bahwa mereka diperlakukan cukup baik oleh Romawi, beberapa lainnya terlalu takut untuk menentang Romawi.

Ketika Romawi tahu bahwa Hannibal akan segera tiba, mereka mempersiapkan separuh pasukan mereka untuk menghadapi Hannibal di Italia, lalu mereka mengirim separuh lainnya ke Spanyol untuk merebut tambang perak sehingga Kartago tidak mampu membayar tentara mereka. Jenderal Romawi yang memimpin serangan ke Spanyol adalah Skipio.

Perang ini berlangsung lama. Hannibal tidak berhasil menaklukan Romawi, dan Romawi juga tidak mampu mengusir Hannibal keluar dari Italia. Ribuan orang terbunuh di kedua pihak. Semua gajah perang Hannibal mati. Bangsa Yunani mengirim beberapa kapal untuk membantu Kartago.

Akan tetapi pada akhirnya Skipio berhasil mengambil alih Spanyol. Kemudian Scipuo membawa pasukannya ke Afrika dan menyerang langsung ke ibukota Kartago. Senat Kartago ketakutan dan meminta Hannibal untuk pulang dan membantu mereka. Terjadi pertempuran besar di Zama, dekat kota Kartago, pada tahun 202 SM, dan pasukan Hannibal dikalahkan.

Lagi-lagI Romawi tidak menguasai Kartago. Tapi mereka tetap mengambil alih Spanyol dan menempatkan sejumlah tentara Romawi di tempat kini disebut Maroko dan Aljazair di Afrika Utara. Lalu mereka memaksa Kartago untuk berjanji untuk tidak melakukan perang lagi kecuali atas izin Romawi.

Sejarah perang ini sebagian besar diketahui dari tulisan Polybius dan Livius.

Setelah Perang Punisia Kedua pada tahun 202 SM, Italia mengalami kerusakan. Pasukan Hannibal memasuki Italia dan melakukan pengrusakan selama lebih dari sepuluh tahun. Semua pria dipanggil untuk berperang, dan banyak di antara mereka terbunuh, sedangkan beberapa lainnya memutuskan untuk bermukim di Spanyol atau Afrika. Tidak banyak yang mau kembali bertani. Banyak orang yang kembali ke ladang mereka mendapati bahwa ladang mereka sudah hancur atau sudah dijual kepada orang kaya untuk membayar pajak. Akibatnya adalah banyak orang miskin yang pindah ke kota Roma. Sebagian besar dari mereka tidak berhasil memperoleh pekerjaan di sana, Mereka akhirnya malah menimbulkan masalah dan meminta Senat memberi mereka makanan gratis. Akibat lainnya adalah bahwa orang kaya membeli banyak budak untuk menggarap ladang-ladang baru yang telah mereka peroleh dari orang miskin.

Permasalahan itu membuat Romawi merasa perlu untuk menyerang Yunani dan Asia Barat. Yunani pernah membantu Kartago pada Perang Punisia Kedua, yang membuat Romawi punya alasan untuk menyerang mereka. Memerangi Yunani akan memberi banyak pekerjaan bagi banyak pria pengangguran di Romawi sebagai tentara, sekaligus membuat para pengangguran keluar dari kota Roma. Selain itu, jika Romawi menang, mereka akan memperoleh banyak tawanan untuk dijual sebagai budak. Ini dapat menyelesaikan permasalahan Romawi.

Dengan demikian Romawi pun mulai bertempur di Yunani, dan dengan cepat mereka bergerak ke Asia Barat. Mereka memperoleh kemenangan di semua tempat yang mereka datangi.

Sementara itu, sekutu-sekutu Romawi di Afrika mulai mengganggu Kartago, yang tidak diizinkan untuk melawan balik. Kartago meminta bantuan Romawi namun Romawi tak mau membantu. Akhirnya pada tahun 146 SM, Kartago memutuskan untuk melawan balik. Ketika Romawi mengetahui hal ini mereka sangat marah. Salah satu Senator senior, Kato, yang masih ingat Perang Punisia Kedua, bersikeras bahwa "Kartago harus dihancurkan" (dalam bahasa Latin, Carthago delendum est). Pasukan Romawi berarak menuju Kartago, menghancurkan kota itu, dan memperbudak semua penduduknya.

Pada tahun yang sama, Romawi juga berhasil menguasai seluruh Yunani dan menghancurkan kota Korinthos, tentunya mereka tidak lupa merampas semua harta berharga dari kota tersebut dan memperbudak semua penduduknya.

Pemberontakan Yahudi Pertama

Penaklukan Romawi atas Israel dan Mesir pada akhir abad pertama SM membuat banyak orang Yahudi tinggal di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi (meskipun banyak juga Yahudi yang tinggal di Babilon atau di tempat lainnya di Kekaisaran Parthia). Banyak yang tetap tinggal di Israel, namun yang lainnya pindah ke Roma atau ke berbagai tempat di Romawi. Karena mereka menganut agama yang berbeda dan menjalankan cara hidup yang berbeda, dan karena mereka tak mau menyembah kaisar Romawi sebagai dewa, orang Romawi selalu mencurigai orang Yahudi.

Namun orang Romawi, seperti halnya orang Persia, mengizinkan orang Yahudi melaksanakan agama mereka. Kaisar Romawi, Kaligula, memiliki kebijakan anti-Yahudi, dan pada tahun 40 M berusaha untuk menaruh patungnya sendiri di Kuil Besar Yahudi di Yerusalem, namun ketika ada kericuhan terkait hal ini oleh orang Yahudi di Alexandria, di Mesir, penerus Kaligula, Klaudius, memperbolehkan orang Yahudi melaksanakan agama mereka.

Akan tetapi, pada tahun 66 M, pada masa pemerintahan kaisar Nero, orang Yahudi memutuskan untuk memberontak melawan Romawi seperti yang mereka lakukan di bawah pimpinan Makabe dan berusaha memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Nero mengirim salah satu jenderal minornya, yakni Vespasianus, yang kelak menjadi kaisar, untuk menghentikan pemberontakan. Ketika Vespasianus menjadi kaisar pada tahun 69 M, putranya, Titus, meneruskan tugas untuk menghentikan pemberontakan Yahudi.

Titus memerangi orang Yahudi hingga dia menang. Salah satu pertahanan terakhir adalah benteng Masada, di sana sekelompok Yahudi berhasil bertahan hingga Romawi membuat jalan landai menuju benteng dan meruntuhkan dindingnya. Ketika Titus kembali ke Roma, saudaranya Domitianus membangun sebuah pelengkung kejayaan besar dari batu untuk memperingatinya, dan dihiasi dengan ukiran yng menggambarkan Titus sedang membawa benda-benda suci Yahudi, termasuk sebuah menorah. Pada tahun 70 M, Titus juga menghancurkan Kuil Kedua Yahudi di Yerusalem, yang masih belum dibangun kembali. Sejarah mengenai pemberontakan ini sebagian besar ditulis oleh penulis Yahudi bernama Yosephus

Perbudakan Romawi Kuno

Beberapa orang di Romawi menjadi budak milik orang lainnya, atau milik pemerintah Romawi. Banyak dari para budak ini, terutama di Spanyol dan Prancis selatan, bekerja di ladang dan menggarap lahan pertanian miliki orang kaya. Di ladang ini, yang disebut latifundia, seorang mandor mengawasi ratusan atau ribuan budak bekerja sepanjang hari di bawah terik matahari. Pada malam hari, para budak tidur di barak, dengan pria dan wanita dipisahkan.

Budak-budak lainnya harus bekerja di bawah tanah di pertambangan untuk mencari emas, perak, tembaga, timah, atau besi. Tekanan pekerjaan ini juga berat dan banyak budak yang meninggal setelah bekerja beberapa tahun. Pemerintah Romawi, juga para saudagar, memanfaatkan banyak budak pria untuk mengayuh dayung pada kapal laut. Mereka dirantai pada dayung. Banyak dari pekerja tambang dan pengayuh dayung ini adalah orang-prang yang dihukum.

Ada pula budak yang bekerja di rumah orang kaya. Mereka biasanya bertugas sebagai pengasuh anak, juru masak, pelayan, pembersih, pengurus kuda, pencuci, pengajar, dan akuntan. Para budak jenis ini ada yang memiliki keluarga, meskipun mereka tidak pernah memiliki kepastian untuk mengurus keluarga mereka. Anak-anak yang terlahir dari budak seringkali dijual dan dijauhkan dari orang tua mereka. Para budak ini juga sering dipukuli dan jarang memperoleh makanan yang layak.

Banyak juga budak yang bekerja di pabrik atau toko kerajinan tangan. Mereka biasanya bekerja sebagai penenun, pencelup, pembuat tembikar, atau pembuat mosaik, Beberapa budak bekerja di bidang konstruksi, dan beberapa lainnya dipekerjakan di toko pakaian atau toko minyak wangi. Selain itu, budak dapat pula bekerja untuk pemerintah Romawi sebagai akuntan atau penjaga, atau memotong kayu untuk tempat pemandian air panas.

Para pria pemilik budak wanita dapat secara bebas melakukan hubungan seksual dengan budaknya, sehingga kadang-kadang pria kaya membeli budak wanita yang cantik dengan tujuan menikmati tubuhnya.

Banyak budak yang dibebaskan jika sudah tua, itu pun jika mereka dapat hidup sampai usia tua. Budak yang sudah bebas dapat menjadi warga Romawi dan disebut "orang yang dimerdekakan" atau "mantan budak."

Mantan budak

"Pria terbebas" dan "wanita terbebas", atau disebut juga "mantan budak", adalah orang-orang yang dulunya adalah budak tapi akhirnya dimerdekakan. Kadang-kadang mereka bebas karena sudah terlalu tua dan pemiliknya tak mau lagi mengurusnya. Pengasuh dan suster biasanya dimerdekakan setelah anak yang diasuhnya beranjak dewasa. Ada juga budak yang bebas karena berhasil mengumpulkan uang dan menebus kebebasannya sendiri. Pemilik budak juga kadang-kadang memerdekakan budak yang telah melakukan sesuatu yang istimewa. Budak yang dibebaskan kebanyakan adalah budak yang bekerja untuk orang kaya atau pemerintah. Budak yang bekerja di ladang dan perkebunan jarang dimerdekakan.

Meski sudah tidak berstatus sebagai budak, mantan budak masih harus melaksanakan perintah mantan tuan mereka, dan tetap harus bekerja secara gratis untuk tuan mereka jika disuruh. Mantan budak wanita tidak boleh menolak tawaran pernikahan dari mantan tuan mereka. Mantan budak juga tidak boleh memegang jabatan politik dan keagamaan, tapi anak-anak mereka diperbolehkan. Meski begitu, banyak mantan budak yang berhasil menjadi orang kaya dan sejahera. Setelah bebas, mereka membuat toko atau mengelola bisnis, atau bahkan membeli ladang. Beberapa mantan budak memperoleh uang pensiun dari mantan tuan mereka. Pada diansti Yulius-Klaudius, beberapa orang penting di kekaisaran adalah mantan budak.

Bangsa Etruria

Sekitar tahun 700 SM, orang Zaman Perunggu yang disebut orang Villanova mulai dipengaruhi oleh orang Yunani dan Fenisians yang berlayar di sekitar Laut Tengah. Mereka mulai melakukan berbagai hal dengan meniru orang Yunani dan Fenisia. Sejarawan menyebut suku bangsa ini sebagai bangsa Etruria. Diduga orang Etruria datang dari Asia Barat, karena sejarawan Herodotos menceritakan kisah mengenai sejumlah orang yang datang dari Asia barat, yaitu bangsa Lydia, yang mungkin merupakan bangsa Etruria. Dia menulis bahwa orang-orang ini mengalami masa-masa sulit, dan tidak memiliki cukup makanan, bahkan untuk melupakan rasa lapar, mereka sering melakukan perjudian. Wabah kelaparan berlangsung selama bertahun-tahun, dan Herodotos mengatakan bahwa pada akhirnya orang-orang ini merasa bahwa mereka harus mencari tempat tinggal yang baru. Beberapa sejarawan menduga bahwa mereka adalah orang-orang Etruria, namun sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa bangsa Etruria adalah orang asli Italia.

Bangsa Etruria tinggal di Italia utara. Karena mereka belajar dari orang Yunani dan Fenisia, mereka berhasil mengetahui cara melakukan berbagai hal yang tidak diketahui oleh orang Latin di kota Roma dan sekitarnya. Orang Etruria membangun kota-kota dengan tembok batu. Mereka juga membangun kuil batu besar dan menempatkan patung besar di dalamnya. Mereka menggali kanal dan parit untuk mengairi ladang-ladang mereka. Mereka mengorganisir pemerintahan yang dipimpin oleh raja. Dengan cepat, bangsa-bangsa lainnya di Italia mulai meniru cara-cara Etruria dalam melakukan berbagai hal.

Pada masa yang sama dengan bangsa Etruria, banyak pula orang Yunani yang datang ke Italia dan mendirikan kota-kota Yunani di sana. Pada awalnya, kota-kota itu barangkali hanya merupakan pos perdagangan, namun seiring waktu semakin banyak orang Yunani yang berdatangan ke sana dan mereka pun mulai melakukan pertanian. Orang Yunani mendirikan kota Napoli, yang kemudian menjadi pelabuhan penting hingga masa kini.

Bangsa Etruria banyak melakukan perdagangan dengan orang Yunani dan Fenisia, Etruria menjual kayu, bulu, dan kemungkinan budak ke Timur. Mereka membeli perhiasan, rempah-rempah, minyak wangi, dan guci Yunani di Timur, dan memang sebagian besar guci Yunani kuno ditemukan di Italia, tepatnya di makam-makan Etruria.

Kota Roma terletak antara bagian utara dan selatan Italia tempat bangsa Etruria tinggal. Karena daerah itu adalah tempat yang bagus untuk menyeberangi sungai Tiber, bansga Etruria ingin menguasainya. Untuk beberapa waktu, Romawi kemungkinan dipimpin oleh raja-raja Etruria. Raja-raja ini, seperti halnya raja-raja Etruria lainnya, membangun tembok batu kuat dan kuil batu dan kanal untuk pengairan.

Italia Zaman Batu

Sekitar 200.000 tahun silam, ada sedikit orang yang tinggal di Italia. Kita mengetahui tentang mereka dari kapak batu mereka, dan dari salah satu desa mereka yang telah digali di sebelah barat Roma di Torrimpietra. Namun, mereka bukanlah manusia modern, melainkan spesies manusia berbeda yang disebut Homo Erectus. Sementara itu, spesies Homo Neanderthal, hidup di suatu daerah yang kelak menjadi Roma sekitar 100.000 tahun silam.

Namun orang pertama yang secara genetis sama dengan orang Italia modern, yaitu Homo Sapiens Sapiens, muncul pada masa Paleolitikum Atas (Zaman Batu Lama) sekitar 12.000 tahun silam (10.000 SM). Silsilah genetis orang-orang ini menunjukkan bahwa mereka berasal dari Asia Barat. Mereka meninggalkan beberapa peralatan batu, dan beberapa lukisan hewan pada dinding gua dan tulang, namun tidak ada yang semaju lukisan gua besar di Prancis dan Spanyol pada masa ini. Pasti tidak banyak orang yang ada di Italia saat itu.

Ada perubahan besar sekitar tahun 5000 SM ketika orang-orang Neolitikum (Zaman Batu Baru) tiba di Italia. Mereka nampaknya datang dari Yunani, dengan perahu menyeberangi lautan, dan mereka telah memiliki teknologi Zaman Batu Baru ketika mereka tiba; mereka tahu cara beternak dan bertani serta cara membuat tembikar dan membangun rumah. Mereka membawa serta gandum, dan sapi, dan kambing. Mereka menggali parit di sekitar desar mereka untuk di Italia untuk melindungi mereka dari hewan liar dan orang asing. Tulang-tulang dari salah desa ini, Ripa Tetta, menunjukkan beberapa hal menarik: perempuan di desa ini mencabut gigi mereka untuk suatu tujuan, kemungkinan untuk terlihat lebih cantik (seperti ditindik pada masa sekarang, atau mengikat kaki di cina pada). Secara umum, mereka memiliki rongga mengerikan pada gigi mereka, karena hidup dengan memakan roti dan bubur. Ada banyak kekerasan dan tulang patah di desa itu, di antara pria dan wanita. Namun mereka nampak lebih sehat daripada orang-orang setelahnya; mereka banyak berolahraga dengan cara berjalan-jalan, dan mereka tinggal dalam kelompok kecil sehingga mereka tidak terjangkit penyakit menular.

Sekitar tahun 3500 SM, pada Neolitikum Akhir, orang-orang ini telah secara bertahap menyebar ke Italia utara, bahkan sampai ke lembah Po. Namun cuaca yang makin hangat saat itu membuat Italia selatan terlalu kering untuk bertani, dan dengan demikian mereka secara berangsur meninggalkan Italia selatan dan berpindah ke utara. Beberapa dari mereka bermukim di dekat daerah yang kelak akan menjadi kota Roma.

Pada tahun 3000 SM, pada akhir Zaman Batu, orang-orang ini mulai mempelajari cara menenun dan menjahit dari tetangga mereka di Yunani, dan mereka juga mulai melakukan perdagangan kepingan-kepingan logam kecil.

Italia Zaman Perunggu

Orang-orang Italia belajar menggunakan perunggu dari orang Asia Barat, barangkali dari bangsa Fenisia, yang melakukan perdagangan dengan mereka. Namun perunggu sangatlah mahal. Penempa membuat perunggu dari campuran tembaga dan timah, dan tidak ada timah di Italia. Untuk mendapatkan timah, mereka harus pergi ke Inggris atau Asia Barat. Jadi sebagian besar orang masih menggunakan batu, kayu, atau peralatan tulang. Hanya orang kaya yang memiliki benda perunggu. Pada Zaman Perunggu, Italia memiliki banyak kota kecil mandiri, yang kadang-kadang saling bersekutu bersama-sama dan membentuk suatu perkumpulan atau liga dengan tujuan bertempur bersama-sama.

Sekitar tahun 2000-an SM, Italia, seperti halnya Yunani dan Jerman, kemungkinan diserbu oleh bangsa India-Eropa yang datang dari Asia barat. Bahasa yang dituturkan oleh bangsa ini secara perlahan menjadi bahasa-bahasa yang dituturkan di Italia, contohnya bahasa Latin, Oscan, Sabin, dll. Pada masa kini, bahasa-bahasa tersebut sudah tak lagi digunakan untuk berkomunikasi. Orang India-Eropa ini membawa serta kuda, gagasan tentang roda tembikar, dan kemungkinan juga bebagai macam penemuan lainnya.

Keruntuhan Romawi

Ketika Theodosius meninggal pada tahun 395 M, dia mewariskan Kekaisaran Romawi kepada dua putranya, Honorius dan Arkadius. Honorius menjadi kaisar di Barat sedangkan Arkadius menjdi kaisar di Timur. Mereka berdua tidak cakap dalam memimpin, bahkan mungkin tidak terlalu berminat. Sebagian besar urusan pemerintahan diatur oleh para penasehat mereka.

Sebagian besar tugas Honorius ditangani oleh seorang Vandal bernama Stilikho, yang merupakan jenderal penting dalam pasukan Romawi.

Tidak butuh waktu lama bagi suku Jermanik dan Goth untuk menyadari bahwa kaisar baru yang masih muda itu lemah dan ini merupakan waktu yang tepat untuk menyerang. Para jenderal juga melihat kelemahan ini dan memutuskan untuk memberontak. Yang pertama, Konstantinus III, seorang jenderal di Inggris mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar di York pada tahun 405 M. Dia memimpin seluruh pasukan Romawi dari Inggris, menyeberangi selat Channel ke Prancis, dan bergerak melalui Prancis, mengumpulkan pasukan Romawi di Prancis supaya mereka dapat bersama-sama bergerak menuju Roma.

Namun ketika Konstantinus III sedang melakukan ini, tidak ada yang mengawasi perbatasan Romawi. Pada Januari 409 M, banyak suku Alan, Vandal, dan Suevi menyeberangi sungai Rhine, yang ketika itu sedang membeku, dan masuk ke Kekaisaran Romawi. Tidak ada pasukan Romawi yang menghentikan mereka, sehingga mereka begitu bebas menjelajahi Prancis dan menjarah segala yang mereka temukan. Mereka datang dalam keadaan lengkap, terdiri atas pria, wanita, dan anak-anak. Ini berarti bahwa mereka datang untuk bermukim.

Suku-suku barbar menyeberangi sungai Rhine
Sementara itu Konstantinus III sedang berusaha mengambil alih Spanyol. Dia mengirim jenderalnya Gerontius ke Spanyol, namun Gerontius kemudian memutuskan untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar alih-alih bekerja bagi Konstantinus III. Untuk memperoleh pasukan dalam jumlah banyak, Gerontius membuat kesepakatan dengan suku Alan, Vandal, dan Suevi. Dia membiarkan mereka memasuki Spanyol dan mereka berjanji akan membantunya berperang.

Pemerintah Romawi mengirim seorang jenderal untuk menghentikan Konstantinus III. Konstantinus III berhasil dibunuh, begitu juga Gerontius. Semua prajuritnya (yang berasal dari Inggris dan dari Prancis, dan mungkin dari Spanyol juga) dibawa kembali ke Italia untuk menghadapi serangan Visigoth. Ini membuat Inggris, Prancis, dan Spanyol tidak terjaga dan mudah diserang oleh suku Jermanik.

Di Italia, Visigoth mulai menyerang. Orang Visigoth sendiri sudah tinggal di dalam Kekaisaran Romawi sejak Pertempuran Adrianopel pada tahun 378 M. Namun mereka tidak diperlakukan dengan baik. Romawi membuat mereka kesulitan memperoleh makanan atau rumah yang layak. Di bawah raja baru mereka, Alarik, suku Visigoth meminta bayaran emas kepada Honorius. Ketika Honorius menolak, suku Visigoth bergerak menuju kota Roma. Meskipun orang Romawi berusaha melawan, suku Visigoth berhasil menang. Oang Visigoth tidak hanya berhasil memasuki kota Roma namun pada tahun 410 M mereka merebut kota itu dan mengacak-acaknya (mereka merusak bangunan, membantai orang-orang, merampas benda-benda berharga, memperkosa para wanita). Orang Romawi sangat terkejut. Mereka kebingungan bagaimana mungkin kota Roma, yang mereka anggap sangat kuat dan abadi, bisa ditaklukan.


Orang-orang Visigoth tidak bermukim di Romawi. Mereka meneruskan perjalanan ke Italia selatan dan bermaksud menuju Afrika. Namun Alaric meninggal dalam perjalanan, dan badai besar menghadang mereka. Pada akhirnya orang Visigoth mengalihkan tujuan dan bermukim di Prancis. Sementara itu suku Burgundia sudah menguasai Prancis timur, sedangkan suku Vandal dan Suevi bermukim di Spanyol (suku Alan sudah dimusnahkan).

Pada tahun 429 M suku Vandal berlayar menyeberangi Selat Gibraltar dan merebut Afrika. Ini membuat suku Suevi menjadi satu-satunya penguasa di Spanyol, dan suku Visigoth sendiri secara perlahan-lahan mulai menguasai Spanyol. Sementara itu suku Pikt dan kelompok-kelompok lainnya menginvasi Inggris. Orang Inggris meminta bantuan Romawi, namun Romawi sendiri sedang kesusahan sehingga tak dapat membantu.

Selama bertahun-tahun para kaisar Romawi terlalu lemah untuk menangani tindakan suku-suku yang bebas dan merajalela di Romawi, dan pada tahun 476 M kaisar Romawi terakhir di Barat, yaitu Romulus Augustulus, ditangkap dan tahtanya dirampas oleh seorang raja Jermanik bernama Odoaker.

Jul 14, 2015

Presiden AS Meninggal karena Kolera

Presiden ke-12 Amerika Serikat Zachary Taylor meninggal secara tiba-tiba akibat serangan kolera morbus, pada 9 Juli 1850. Dia digantikan oleh Millard Fillmore.

Dilansir dari laman History, Taylor yang dibesarkan di Kentucky, Texas, menerima komisi militer AS pada 1808, mendapat pangkat kapten pada 1810, naik menjadi mayor saat Perang 1812.



Dia mendapat kenaikan pangkat dengan cepat, sebagai pengakuan atas kesuksesannya, mempertahankan Benteng Harrison dari serangan suku Indian Shawnee.

Namun Taylor baru menjadi kolonel 20 tahun kemudian, pada 1832, terlibat dalam Perang Elang Hitam, serta kampanye melawan Indian Seminole di Florida, mendapat julukan "Old Rough and Ready."

Julukan itu disematkan padanya, sebagai pujian atas ketahanan fisiknya. Taylor kemudian ditunjuk untuk memimpin militer AS di perbatasan Texas, dengan pecahnya perang AS-Meksiko pada 1846.

Pasukannya berhasil mengalahkan Meksiko dalam perang Palo Alto dan Resaca de la Palma. Dia sukses merebut kota Monterrey, pada September. Kemenangan terbesarnya di Buena Vista, pada 1847.

Perang Buena Vista membuatnya populer, karena pasukannya berhasil mengalahkan musuh, yang jumlahnya tiga kali lipat. Kemenangan itu membuatnya dianggap sebagai pahlawan.

Walau tidak memiliki pengetahuan politik, Taylor dinominasikan sebagai kandidat presiden pada 1848, hingga meninggal secara tiba-tiba dua tahun kemudian.

Revolusi Prancis

Revolusioner Paris dan pasukan-pasukan milisi menyerang Bastille, benteng kerajaan Prancis yang menjadi simbol tirani monarki Bourbon. Peristiwa dramatis itu, sekaligus menandai dimulainya revolusi Prancis.

Dilansir dari laman History, 14 Juli 2015, penyerangan terjadi setelah satu dekade gejolak politik, di mana Raja Louis XVI digulingkan, lalu dieksekusi mati bersama istrinya, Marie Antoinette.

Bastille merujuk pada kata "bastide" atau benteng dibangun pada 1370, untuk melindungi kota Paris dari serangan Inggris. Tapi, kemudian difungsikan menjadi benteng independen, namanya pun berubah menjadi Bastille.

Sempat digunakan sebagai penjara pada abad ke-17, bagi para terpidana kelas atas dan musuh politik, yang sebagian besar dipenjara tanpa melalui pengadilan, berdasarkan perintah langsung raja.

Kekurangan pangan pada musim panas 1789, dengan cepat memicu antipati terhadap kekuasaan Raja Louis XVI, berubah menjadi kemarahan yang kemudian mendorong terjadi gerakan revolusi.

Pada Juni 1789, pilar ketiga yang mewakili rakyat jelata dan ulama, mendeklarasikan diri menjadi Majelis Nasional, lalu menyerukan disusunnya sebuah konstitusi.

Louis awalnya menganggap dapat mengambil keuntungan, melegalkan berdirinya Majelis Nasional. Tapi, dia juga mengerahkan pasukan untuk mengepung Paris, serta memberhentikan Jacques Necker, seorang menteri yang populer.

Diberhentikannya Necker yang merupakan pendukung reformasi, mendorong terjadinya kerusuhan di Paris. Gubernur Militer Bastille, Bernard-Jordan de Launay, melihat kemungkinan terjadi revolusi, meminta tambahan pasukan.

Satu kompi tentara bayaran Swiss dikirim pada 7 Juli 1789, untuk memperkuat Bastille yang hanya dijaga 82 tentara. Pada 13 Juli, milisi mulai menyerang para penjaga menara Bastille.

Kelompok-kelompok milisi terus bertambah, hingga terkumpul kekuatan besar pada 14 Juli. Mereka mengepung Bastille, walau hanya dengan senjata buatan seadanya. Launay menerima delegasi milisi, tapi menolak menyerahkan Bastille.

Pada pertemuan kedua dengan delegasi milisi, Launay berjanji tidak akan mengeluarkan tembakan pada orang-orang yang mengepung Bastille. Dia juga memperlihatkan meriam-meriamnya untuk meyakinkan milisi.

Tapi informasi tentang tidak terisinya meriam-meriam dengan mesiu, malah semakin mengagitasi massa untuk menyerang Bastille. Sedikitnya 300 orang menyerang masuk, sekitar 100 orang tewas ditembak pasukan Launay.

Ratusan orang kemudian mundur, hingga datangnya satu kompi tentara Prancis yang menjadi desertir. Mereka berhasil menyusup ke Bastille, merebut lima meriam dan mengarahkannya pada pasukan Launay, yang kemudian menyerah.

Direbutnya Bastille menjadi simbol, yang segera disusul membelotnya hampir 80 persen pasukan Prancis. Raja Louis XVI terpaksa menerima pemerintahan konstitusional. Monarki dihapuskan pada 1792.

Louis dan istrinya Marie Antoinette, dieksekusi mati dengan guillotine pada 1793. Hari Bastille, 14 Juli, kemudian diperingati sebagai Hari Nasional Prancis.

Jul 13, 2015

Bintang Betlehem yang pernah muncul saat Yesus lahir, akan kembali muncul di tahun 2017

Hal penting yang Alkitab sendiri tuliskan dengan begitu jelas, yaitu mengenai tanda-tanda langit sebelum kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja. Untuk mengerti rahasia besar ini, kita perlu memahami mengenai tanda langit yang Tuhan sendiri maksudkan.

Heaven Wonders

Mari kita lihat kalender Tuhan berikut :

Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. ~Kejadian 1:14-17

Pada beberapa artikel sebelumnya, admin membahas 2 tanda besar yang  akan muncul sebelum kedatangan kedatangan Tuhan Yesus. Namun menurut lanjutan ayat diatas, kita melihat bahwa bintang-bintang juga akan mengambil bagian dalam tanda-tanda langit sebelum Tuhan datang.

Perhatikan nubuatan nabi Yoel berikut :

Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu ~Yoel 30-31

Ayat di atas menggambarkan 2 tanda besar yang akan muncul mendekati kedatangan Tuhan Yesus, yaitu tanda di langit dan di bumi. Tanda-tanda ini akan terjadi bersamaan, baik tanda-tanda di langit ataupun dengan tanda-tanda di bumi. Tanda-tanda langit meliputi gerhana matahari dan gerhana bulan (blood moon), sedangkan tanda-tanda di bumi ialah darah, api, dan gumpalan asap, yang berbicara mengenai aniaya, perang, dan bencana.

Sekarang, mari kita lihat penjelasan Yesus

dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit ~Lukas 21:11

Sekali lagi Yesus sendiri menekankan akan tanda besar di langit. Itu sebabnya Ia juga berkata :

"Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu (ἀνακύπτω: look up: lihat ke atas), sebab penyelamatanmu sudah dekat.

Sebelum membahas khusus mengenai peran bintang-bintang sebagai tanda kedatangan Tuhan Yesus, mari kita perhatikan dengan seksama 7 tanda langit lainnya.



Pola ini begitu jelas, sehingga dengan berani kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita sudah berada di materai ke 6.

Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. ~Wahyu 6:12

Yang paling luar biasa ialah semua tanda-tanda langit yang muncul selalu bertepatan dengan hari-hari raya umat Israel.

Saudara, perlu ditekankan bahwa tanda-tanda langit seperti gerhana matahari dan gerhana bulan ditulis oleh 5 penulis yang berbeda, bahkan beberapa di antara mereka hidup di zaman yang berbeda, yakni Nabi Yoel, Lukas, Yohanes, Petrus, dan Yesus sendiri. Penekanan mereka mengenai tanda langit sangat tidak mungkin membawa pesan yang dangkal
Tanda bintang-bintang di langit

#2016#


Steve Cioccolanti mengutip pernyataan dari Gill Broussard bahwa pada tahun 2016 nanti sebuah planet yang dikenal sebagai planet X akan mendekati bumi pada 26 Maret 2016. Pengaruh dari melintasnya planet X ini di orbit bumi akan mengakitbatkan, kedatangan komet yang tidak bisa diprediksi, demikian juga dengan asteroid. Selain itu, akan terjadi reruntuhan dan gempa bumi, sinkholes (lubang di daratan), terbentuknya gas metane yang membunuh mahluk laut, hujan es batu, gelombang pasang dan banjir pesisir. Planet X sendiri dilaporkan setiap 316-377 tahun sekali. Terahkir dilaporkan oleh nasa tahun 1988 dan 1992.
#2017#

Wahyu 12 menyimpan sebuah rahasia besar mengenai peran bintang-bintang mendekati kedatangan Yesus Kristus.

Kedatangan Yesus Pertama


dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." ~Mat 2:2

Bintang ini bukanlah bintang biasa. Kata bintang di sini berasal dari kata Yunani ἀστήρ: astēr, yang dalam bentuk jamak berasal dari kata astron, persis dengan bintang yang Yesus maksudkan dalam Lukas 21:25. Ini yang kita kenal sebagai razi bintang-bintang. Kita lebih mengenalnya dengan sebutan constellation atau astronomi. Saya tidak ingin mengajarkan saudara-saudara tentang horoskop, tetapi kebenaran yang memang bisa dibuktikan dengan ilmu sains. NASA mengkonfirmasi bahwa di langit memang terdapat banyak gugusan bintang, dan itu tidak bisa dipungkiri.

Jika anda teliti membaca kisah orang majus ini, anda akan menemukan bahwa bintangNya itu tidak muncul begitu saja, tetapi bintangNya itu menuntun orang majus itu, sehingga berhenti persis di tempat Yesus lahir.

Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. ~Matius 2:9

Bagaimana dengan tahun 2017?

Perhatikan penglihatan Yohanes berikut:

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. ~Wahyu 12:1-2

Jelas sekali bahwa tanda ini berlangsung di langit! Perempuan itu adalah bintang Virgo atau yang dikenal dengan Virgin (perawan).



Kita patut bersyukut kepada Tuhan karena Tuhan sendiri menyingkapkan banyak rahasia di zaman akhir ini. Salah satunya menganai pola astronomi yang muncul saat kedatanganNya pertama kali ke dunia sama persis dengan yang akan terjadi di tahun 2017 nanti. Itulah sebabnya mengapa bintang yang akan muncul di tahun 2017 nanti disebut sebagai Star of Bethlehem, atau Bintang Betlehem.

Perhatikan dengan seksama gambar di atas. Pada tanggal 23 September 2017, bertepatan dengan akhir dari perayaan Rosh Hashana, bulan berada persis di kaki Virgo, matahari di pundak Virgo dan 12 bintang ada di atas kepalanya, persis wahyu 12:1-2.

Berikut ini simaklah sebuah pernyataan dari Scottie Clarke yang dikutip oleh Rev. Steve Cioccolanti:

"Jupiter yang dikenal sebagai raja planet mulai 'dibenihkan' pada 20 November 2016, masuk dengan gerakan berjalan surut ke Virgo selama 41 minggu atau sepanjang periode kehamilan normal, kemudian 'dilahirkan' atau keluar dari rahim tersebut pada 23 September 2017."



Catatan penting untuk kita semua. Pada tahun 2017 nanti akan tergenapi 2 peristiwa besar bagi bangsa Israel, yaitu yang pertama peringatan 70 tahun terbentuknya Negara Israel, persis saat Tuhan membebaskan Israel sebagai tawanan Babel (1947+70=2017), dan kedua perayaan 50 tahun perebutan kota suci Yerusalem (1967+50=2017) seperti yang dinubuatkan oleh Rabi Judah ben Samuel. (Negara Israel terbentuk tahun 1947 oleh mandat Britania, dan memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948).

Pembangunan Bait Suci ke-3

Salah satu topik yang paling hangat dibicarakan berkaitan dengan Akhir Zaman ialah pembangunan Bait Suci ke-3 di Yerusalem.  Pembangunan Bait Suci ini merupakan salah satu nubuatan yang akan segera digenapi.  Namun, terdapat banyak kendala yang menghambat pembangunannya, sebut saja Lokasi persis bangunan Bait Suci ke-3, apakah tabut perjanjian sudah ditemukan, dan bagaimana perkakas-perkakas Bait itu.  Bagaimana sebenarnya  kisah dan kelanjutannya, berikut adalah penjelasannya.

Pada 7 Juni 1967, selang beberapa hari setelah Israel mengambilalih kekuasaan atas Yerusalem, Moshe Dayan selaku Menteri Pertahanan Israel kala itu datang untuk pertama kalinya berdoa di Tembok Barat dari Bukit Bait Suci, dan ia menyatakan: "Kami telah mengembalikan tempat Maha Kudus kami dan kami tidak akan pernah meninggalkannya kembali". Shlomo Gorn, Rabbi kepala dari tentara Israel kemudian meniup "shofar" sebagai symbol yang dipercaya bahwa "oleh suara sangkakala Bait Suci roboh, dan oleh suara sangkakala juga itu akan dibangun kembali".

Ariel Sharon

Pada 14 Maret 1999, Uni eropa memberikan keterangan yang provokatif dengan berkata bahwa Yerusalem bukan Ibu kota Israel dan bukan milik Israel. PM Israel kala itu, Ariel Sharon, mengatakan bahwa :"Pemerintahan kami tidak memberikan kelonggaran apapun dalam hal status Yerusalem. Yerusalem adalah Ibukota bangsa Yahudi selama 3000 tahun, kota besar Negara Israel selama 50 tahun, dan akan tetap untuk selamanya." Bahkan ia mempertegasnya dihadapan KTT Dunia di New York dengan mengatakan bahwa Israel tidak akan pernah dibagi!



Beberapa bulan berselang,  Ariel Sharon mengunjungi area Bait Suci Yerusalem ini, tepatnya pada 26 September 2000. Ia ditentang habis-habisan oleh umat Muslim di sekitar area tersebut, mengingat orang Yahudi dilarang keras oleh mereka menginjakan kaki di situs suci mereka.

Hal ini disebabkan oleh karena di lahan tersebut telah berdiri 2 situs bersejarah bagi kaum muslim mengingat di sana terdapat Dome Of the Rock dan Masjid Al-Aqsa. Masjid ini sempat menjadi kiblat sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah tahun 624M. Apakah mungkin bisa membangun Bait Suci di area situs bersejarah ini? Bukankah nantinya akan menimbulkan perang besar bagi dunia?

Bait Suci ke-2 (Bait Salomo)

Alkitab mencatat bahwa sebelumnya telah di bangun 2 Bait Suci yang sama, yakni yang pertama oleh Raja Salomo, anak raja Daud dan telah dihancurkan oleh Nebukadnezar saat ia menginvasi Israel pada tahun 586 SM. Bait Allah yang kedua dibangun oleh Zerubabbel antara tahun 520-516 SM.



Injil mencatat bahwa saat Yesus datang ke dunia pertama kali, bait kedua ini masih ada. Ia bersabda : "Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan." ~Matius 24:2

38 tahun kemudian, Jenderal Titus dan tentara romawi membakar Bait Suci ini. Semua perabotan Bait Suci yang terbuat dari emas dan perak dirampas dan dibawa oleh mereka. Saat itu, jendral Titus sudah mundur, tapi pasukannya terus menyerbu. Sejumlah 600.000 mayat orang Yahudi dilempar ke lembah-lembah di selatan kota Yerusalem, yaitu lembah Kidron dan Ben Hinom. Demikian juga dengan segala emas yang menempel pada dinding batu Bait Suci, sehingga genaplah apa yang dikatakan oleh Yesus, bahwa tidak ada satupun batu dari Bait Suci tersebut akan tinggal.

Mengenai lokasi pembangunan Bait Suci ke-3

Lokasi Bait Allah yang pertama maupun yang kedua, adalah di tanah milik Ornan Arauna, orang Yebus di Yerusalem.  Deklarasi atau "Perjanjian Balfour" yang dimotori oleh Inggris pada akhirnya mendorong gerakan Zionisme, gerakan kembali ke Bukit Zion. Nyatanya, bahwa Masjid Al Aqsa telah berdiri megah di wilayah tanah milik Ornan Arauna yang telah dibeli oleh Daud dengan harga 50 syikal perak. Oleh sebab itu, muncul konflik antara kedua negara mengingat bagi umat muslim di dunia, tempat ini merupakan tempat bersejarah bagi mereka. Lalu, dimanakah lokasi yang tepat? Simak penglihatan Yohanes berikut:

Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya." ~Wahyu 11:1-2

Yohanes mendapat penglihatan dan wahyu pada tahun 90M, sedangkan bait kedua dihancurkan di tahun 70M. Itulah sebabnya, bait yang ia maksudkan pasti Bait Suci ke-3.

Ingatlah, bahwa lebih dari 1900 tahun yang lalu, Yohanes telah melihat adanya 2 Bait Suci di lokasi tersebut. Spekulasi yang paling ramai diangkat ialah mengenai perang antara bangsa-bangsa karena Israel akan memaksakan pembangunan bait ke-3 ini dengan cara menghancurkan Dome Of The Rock. Namun, penglihatan Yohanes tersebut memberikan pengertian yang berbeda. Pelataran sebelah luar merupakan milik bangsa lain. Itu artinya Dome Of The Rock akan tetap berada di lokasi itu. Hal ini turut di dukung setelah para pakar Alkitab menghitung kembali letaknya berdasarkan Yeh 40.

Menurut Rabbi Moses ben Maimon (maimonides) tercatat dalam Talmud pada waktu sebelum penghancuran (titus pada tahun 70 M) Bait Suci yang di renovasi oleh Herodes. Bait Suci tidak dibangun ditengah (di lokasi Dome Of The Rock) [Encyclopedia Judaica CD, "Temple Mount"]

Bahwa Lokasi Bait Suci memang tidak tepat ditengah-tengah Bait Suci tetapi jauh dari dinding sebelah selatan dibandingkan dengan jarak ke dinding yang lain [Mishnah, Middot 2:1] ini menjelaskan bahwa lokasi tepatnya Bait Suci adalah sebelah utara dari Dome of the Rock dan Sebelah barat dari Gerbang timur yang ada sekarang.

Di FP Catatan Akhir Zaman, pernah diposting mengenai pembangunan Bait Suci sebagai hasil akhir dari kesepakatan damai Israel dan Negara-negara Arab, khususnya Palestina. Sudah beberapa pemimpin dunia yang berusaha menjadi penengah kesepakatan damai tersebut, tetapi sampai saat ini masih nihil. Akan datang waktunya, sang pemimpin yang Alkitab tuliskan sebagai "pembinasa keji" akan membuat kesepakatan damai tersebut. Perjanjian itu akan berat sebelah, dimana Israel tetap akan menyetujuinya, dengan alasan pembangunan tersebut tetap bisa dikerjakan.



Lokasi bangunan persis berada di belakang Pintu Gerbang Timur jika dilihat dari Bukit Zaitun. Seperti yang kita tahu bahwa pintu ini masih disegel karena Yesus akan datang dari pintu gerbang ini. Ia akan turun di Bukit Zaitun pertama kali.

Dr Asher Kaufman memberikan kesimpulan setelah ia memperlajari kasus ini bertahun-tahun lamanya. Ia mengatakan bahwa ruang maha kudus Bait Suci Salamo persis berada di atas Dome of the Spirit, bukan di tempat Dome of The Rock. Ruang maha kudus tersebut berada pada 322 kaki kearah utara dari Dome of the Spirit. Beliau menulis bahwa Lantai disekitar "Dome of the rock" sudah di paving. Lantai tersebut dikenal dengan nama "Eben Shetiyyah" (Fondasi batu) yang merupakan tempat Tabut Perjanjian.

Yesus Akan Datang Dari Bukit Zaitun

Kedatangan Pertama

700 Tahun sebelum Yesus lahir, Nabi Maleakhi mengatakan ketika Yesus datang, Dia akan menuju bait Allah dan segera.

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. ~ Maleakhi 3:1

Saat kedatanganNya pertama kali ke dunia, Ia memasuki Bait Suci saat masih bayi. Nubuat selanjutnya, bahwa ketika Ia datang untuk kedua kalinya, Ia akan menginjakkan kaki di Bukit Zaitun.

Kedatangan Kedua

"Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." ~Kis 1:11

Saat Yesus menginjakan kakiNya di bukit Zaitun nanti (second coming), akan terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga lempengan atau kerak bumi akan bergeser dan patah.

Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan. ~ Zakharia 14:4

Pintu Gerbang Timur

Pintu Gerbang timur merupakan Pintu gerbang penting di Yerusalem, dan hanya lewat sini untuk masuk ke kota Yerusalem dari timur. Pintu gerbang Timur merupakan Pintu Gerbang yang tertua dan tidak dibangun kembali oleh penguasa Islam Sulaiman Agung pada tahun 1539-1542. Sulaiman mengerti dari injil, Bahwa Mesias akan datang kembali melintasi Gerbang ini ketika dia kembali ke bumi jadi Pintu Gerbang bagian Timur ditutup oleh penguasa islam tersebut pada tahun 810. Penutupan ini menggenapi Yehezkiel pasal 44.


Orang-orang Arab yang menghuni Palestina menggunakan lahan di depan pintu gerbang Timur ini sebagai kuburan. Mereka tahu persisi bahwa Mesias mereka akan merasa najis menginjakan kaki di tempat najis seperti kuburan.

Persiapan Menjelang Pembangunan

Pada tanggal 8 Oktober 1989, di Israel diselenggarakan pertemuan penting antara para rabi Yahudi dan ahli arkeologi. Dalam pada itu, dijelaskan mengenai tata cara penggunaan pelatan Bait Suci ini nantinya. Alat-alat tersebut dipersiapkan untuk 200 orang yang sedang ditraining menjadi Imam-Imam (Cohanim) yang akan bertugas pada saat Bait Allah selesai dibangun. Rabi Nehman Kahane, pemimpin dari Institute of Talmudic Commentaries membenarkan bahwa telah disiapkan 200 orang yang akan ditraining menjadi imam-iman di Bait Suci ini.

Ditengah kesulitan politik dan tekanan bangsa-bangsa, Israel telah mengumumkan  Pada tanggal 12 Juli 1997, melalui Departemen Kehakiman bahwa mereka akan memulai  proses hukum untuk membuka Temple Mount bagi orang Yahudi. Beberapa grup dan organisasi seperti "The Temple Mount Faithful" terus meningkatkan kerja mereka untuk membangun kembali Bait Suci Allah ke 3. Bahkan bangsa Yahudi telah mempersiapkan tata cara pengorbanan seperti pada Bait Suci lama (1 dan 2). Beberapa group lain berusaha membangun Bait Allah ketiga dengan jalan damai dan kompromi sedangkan yang lain berusaha untuk menghancurkan "Dome Of The Rock"

Pemilihan Para Imam

"Demikianlah harus engkau mentahirkan mereka dari tengah-tengah orang Israel, supaya orang Lewi itu menjadi kepunyaan-Ku." (Bil. 8:14).

Saat ini orang-orang Yahudi sedang mencari Cohanim, atau mereka yang memang memiliki genetic Imam-iman. Mereka mendirikan Sekolah Agama (Yeshiva) seperti adalah Ataret Cohanim dan Institute for Talmudic Commentaries, dimana mereka dipersiapkan untuk tugas di Bait Suci nanti. Rabi Nahman Kahane sebagai pemimpin institusi tersebut mengatakan betapa sulitnya mencari  keturunan Lewi atau keturunan Imam.



Dengan perjalanan waktu ribuan tahun semenjak tidak ada kebaktian di Bait Suci lagi, ditambah dengan asimilasi atau perkawinan campur, sekarang mereka begitu sulit menemukan keturunan Iman dan keturunan Lewi yang benar-benar murni atau disebut "gen-priestly", sesuai tuntutan hukum Taurat. Tapi tahukah anda, sampai saat ini orang Israel benar-benar setia mencarinya, hanya untuk mereka dapat beribadah kepada Tuhan. Terbukti sejak tahun 1999, Rabbi Nachman Kahana mengatakan bahwa 17 Kohanim sudah diuji; hasilnya 13 diuji positif, satu negatif, dan 3 kasus tidak meyakinkan. Sekarang Temple Institute telah membuat penawaran kepada semua orang Yahudi dengan nama Cohen untuk menerima pakaian imam untuk Bait Suci yang baru.

Persiapan Perkakas Bait Allah.

Rabi Israel yang bernama Ariel mendirikan Temple Mount Institute di tahun 1988 mengatakan bahwa ada 103 jenis perkakas yang ada di Bait Suci. Tahukan anda bahwa semua perkakas tersebut sudah ada dan siap pakai?

Menorah

Salah satu contoh perkakas yang dibuat ialah Menorah. Menorah lebih kita kenal dengan sebutan kaki dian. Untuk membuatnya diperlukan 94,6 pound emas murni, atau lebih dari 47 kg emas murni dengan total biaya lebih dari $10 juta. Selain itu perkakas lain yang sudah ada ialah  Mahkota dari emas untuk Imam Besar, jubah para Imam, Kaki Dian atau Pelita Emas, Ikat Pinggang, dll. Jadi anda bisa bayangkan berapa biaya membangun Bait Suci ini.



Haruslah engkau membuat kandil dari emas murni; dari emas tempaan harus kandil itu dibuat…. Enam cabang harus timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain…. Haruslah kaubuat pada kandil itu tujuh lampu dan lampu-lampu itu haruslah dipasang di atas kandil itu, sehingga diterangi yang di depannya…. Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu (kutipan Keluaran 25:31-40).

Pembiayaan ini dari talangan bangsa Yahudi Internasional. Namun Yerusalem Post mengabarkan pada 27 Januari 1996, bahwa tidak perlu untuk mengumpulkan dana bagi pembuatan perkakas Bait Suci, mengingat Jenderal Titus yang menginvasi Yerusalem kala itu tidak menghancurkan perkakas bait Allah, tetapi justru menyimpannya dalam kubah yang disebut Arch of Titus, sebagai bukti kemengangannya. Kubah ini dibangun di kota Roma pada tahun 81 M, dan dipindahkan ke Vatican sebagai koleksi benda berharga.

Pada 20 Januari 1996, Shimon Shetreet selaku Religious Affair Minister of Israel meminta kepada Paus John Paul II di Roma untuk mengembalikan Menorah seberat 60 kg emas murni yang diambil dari Bait Suci Kedua oleh Jenderal Titus di tahun 70 M. Pernyataan itu dinyatakan Shimon Shetreet berdasarkan data-data riset oleh Universitas Florence, yang telah memastikan bahwa Menorah Bait Suci Kedua saat ini berada diantara koleksi barang berharga di museum bawah tanah Vatican. Secara politis menteri Israel tersebut menyatakan "saya tidak mengatakan itu pasti, tetapi saya minta Paus untuk menolong mencarinya sebagai suatu bentuk niat baik Vatican untuk suatu hubungan yang lebih baik antara Katolik dan Yahudi. Tentunya seorang pejabat tinggi Israel tidak akan "berspekulasi" untuk sesuatu yang tidak pasti. Kala itu Paus John Paul II bersedia mengembalikan menorah kuno itu  ke Yerusalem, namun tidak ada lagi kabar menganai hal ini sampai dibuatlah menorah baru dengan berat 47 kg.

Batu Penjuru (Corner Stone)

Sebuah Batu Penjuru seberat 4 ton sudah dipersiapkan, tanpa memakai peralatan yang terbuat dari besi. Sedang untuk fondasi Bait Allah, dipersiapkan batu yang diharapkan cukup kuat bila terjadi gempa bumi. Batu itu seberat 458 ton! Sedangkan khusus untuk fondasi Ruang Maha Kudus, sudah tersedia Batu Karang besar. Kayu, kain sutrera, dsb, dipersiapkan secara teliti dan dalam jumlah yang lebih dari cukup. Hal ini seperti yang terjadi di zaman raja Daud, ketika bahan-bahan untuk pembagunan Bait Allah yang pertama dipersiapkan (I Taw. 22:1-5).

Pemerintah Israel juga telah melakukan arak-arak batu yang akan dijadikan batu pertama pada pembangunan bait ini. Batu ini mengandung emas murni. Batu ini telah diarak keliling Israel di tahun 2005, sebagai tanda bahwa mereka siap membangunnya.

Mujizat-Mujizat Yang Tuhan siapkan untuk Melancarkan Pembangunan Bait Suci ke-3

Siput Sigulit.

TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu." ~Bil. 15:37-40
Siput Sigulit

Banyak dari kita yang mungkin tidak mengetahui darimana benang ungu kebiruan yang digunakan pada jumpai pakaian imam yang melayani di Bait Suci. Rabi Isaac Herzog mengatakan bahwa warna itu diambil dari hewan yang bernama Siput Sigulit. Hewan ini muncul biasanya 70 tahun sekali, bahkan lebh dari 2000 sudah punah. Ajaibnya, di akhir tahun 1990 yang lalu, siput ini mendadak muncul dalam jumlah yang sangat banyak di daerah Mediterania. Harga siput ini mencapai lebih dari 192.000 US Dollar (diatas 2M)/kg. Keberadaan siput ini sama persis dengan spesies burung pemakan bangkai yang kini populasinya bertambah di daerah Megido, lembah peperangan terakhir.

Kecapi / Harpa Mesianik.

Instrumen ini sering juga disebut sebagai harpa. Alkitab mencatat bahwa saat menyembah Daud menggunakannya. Demikian juga saat kebaktian berlangsung, alat ini dimainkan oleh suku Lewi. Catatan sejarah yang cukup akurat memberikan data, bahwa selama Bait Allah yang pertama sampai dengan Bait Allah yang kedua, ada 38.000 pemain musik (dari suku Lewi) dan kurang lebih 50%nya menggunakan alat ini. Yang paling menarik mengenai instrumen ini ialah, bahwa ternyata ada lagu-lagu yang hanya bisa dinyanyikan dengan alat musik yang satu ini. Lagu-lagu tersebut disebut sebagai Lagu Instrumentalia. Tercatat sejak Bait Suci kedua dibakar di tahn 70M hingga tahun 1990, lagu Instrumentalia tersebut menghilang alias punah. Kitab Talmud mencatata bahwa jika Harpa atau Kecapi Daud kembali muncul beserta dengan lagu Instrmentalianya, maka keadatangan Mesias sudah dekat. Itulah sebabnya mengapa alat musik ini disebut sebagai Harpa Mesianik.



Lembu Merah.

Menurut Bil 19:1-10, pentahiran baru bisa dilakukan menggunakan air yang dicampur abu dari lembu merah. Lembu yang telah punah ini juga mencul secara bersamaa dengan Siput Sigulit dan Harpa Mesianik. Untuk membaca artikel mengenai lembu merah ini, silahkan kunungi FP Catatan Akhir Zaman.



Tabut Allah

Di zaman ratu Syeba dari Etiopia dibertkan bahwa tabut Allah disembunyikan di ruang rahasia yang 9 lapis di bawah tanah. 24 Mei 1991, dgn sandi "Oprerasi Salomo" 14.300 org Falasha (Yahudi – Etiopia) dari Addis Ababa, exodus ke Israel. Konon Tabut Allah dibawa pulang ke Israel. Mungkin benar, tapi hanya duplikatnya saja.

Tabut Perjanjian

Pembangunan Bait Suci ke-3 ini semakin mencuat kepermukaan setelah seorang Arkeolog yang bernama Ron Wyatt yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di Israel menemukan Tabut Perjanjian persis di bawah bukit Golgota tempat Yesus di Salib.



Ron telah menemukan tabut ini persis dibawah bukit tengkorak tempat Yesus di salib. Yang yang paling luar biasa ialah jika di jama PL tabut Allah harus dipercikkan dengan darah binatang agar dosa ditutupi, keberadaan tabut dibawah bukit tengkorak juga ternyata terpercik oleh darah Yesus. Anda tentu tahu bagaimana injil mencatat bahwa saat Yesus disalib terjadi gempa bumi yang dahyat. Dari celah bebatuan yang terkena dampak oleh gempa bumi tersebut, darah Yesus mengalir dari atas hingga menetesi tabut perjanjian tersebut. Haleluya!

Kembalinya Sanhedrin Kuno

70 tetua Israel yang disebut dengan Imam Sanhedrin telah tiada sejak tahun 358M. Namun di tahun 2004, muncul sekelompok Rabi Tiberius yang diduga kuat sebagai Sanhendrin. Situs berita terkenal, Aritz 7, mengabarkan pada tanggal 13 Oktober 2004 bahwa Sanhendrin telah memilih 71 rabi, dimana tambahan 1 rabi akan memainkan peran utama seperti Imam Besar. Mereka mengklaim keabsahannya berdasarkan aturan kebijakan kuno, Maimonides. Kelompok ini akan memainkan peran yang sangat vital dalam mngatur masalah hukum dan agama Bangsa Israel. Kandidat yang paling kuat yang pernah diberitakan akan mengepalai Imam sanhedrin ialah Rabbi Chaim Richman. Beliau berprofesi sebagai direktur Internasional Temple Institute.

Sampai saat ini, bangsa yahudi membangun sinagoge untuk berdoa dan mempelajar tentang Totah atau taurat, namun rasanya kurang sempurna sesuai tuntutan hukum taurat, dimana 1/3 dari kitab Talmud mereka adalah berisi ritual yang patut dilakukan di Bait Suci. Kerinduan mereka sangatlah besar akan kehadiran Bait Suci ini, mengingat telah ribuan tahun mereka mengingini kehadirannya. Selama lebih dari seribu sembilan ratus tahun, dalam masa pembuangan ke bangsa-bangsa (diaspora), tiga kali sehari mereka berdoa: "May it be Thy will that the Temple be speedily rebuilt in our days…" ("…biarlah itu menjadi kehendak-Nya bahwa Bait Suci akan segera dibangun di hari-hari kita ini…"). Perintah dalam kitab Torah, sebagaimana yang dijabarkan di dalam perintah nomor 613 kitab Yahudi, Talmud, tentang tata cara ritual ibadah yang benar, sangat berkaitan dengan keberadaan Bait Suci yang menjadi pusat dari semua bentuk penyembahan bahkan kehidupan bangsa Yahudi. Karenanya, keinginan ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, keinginan ini begitu kuat sehingga apapun akan dipertaruhkan untuk menghadirkan Bait Suci ini.