Sejarah Dunia Kuno

Year 2020, God’s Open Hands

Dec 9, 2019

Sejarah budaya Natal

Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen terdahulu. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus)

Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tidak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, banyak yang pergi ke gereja untuk mengikuti perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, mereka bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly, mistletoe, dan pohon Natal.

SEJARAH DAN PERAYAAN NATAL DI MASA LALU
Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada.

Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan di tahun 1500-an . Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.

Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

PERAYAAN KEAGAMAAN
Bagi kebanyakan orang Kristen, masa Xmas mulai pada hari Minggu yang paling dekat dengan tanggal 30 November. Hari ini adalah hari raya Santo Andreas, salah satu dari keduabelas rasul Kristus. Hari Minggu tersebut disebut hari pertama masa Adven, yaitu masa 4 minggu saat umat Kristiani mempersiapkan perayaan Natal. Kata adven berarti datang, dan mengacu pada kedatangan Yesus pada hari Natal. Untuk merayakan masa Adven, empat buah lilin, masing-masing melambangkan hari Minggu dalam masa Adven, diletakkan dalam suatu lingkaran daun-daunan. Pada hari Minggu pertama, keluarga menyalakan satu lilin dan bersatu dalam doa. Mereka mengulangi kegiatan ini setiap hari Minggu dalam masa Adven, dengan menambahkan satu lilin lagi setiap kalinya. Sebuah lilin merah besar yang melambangkan Yesus, ditambahkan pada lingkaran daun-daunan itu pada Hari Natal.

Untuk kebanyakan umat Kristiani, masa Adven memuncak pada Misa tengah malam atau peringatan keagamaan lain pada malam sebelum Natal (Malam Natal), tanggal 24 Desember. Gereja-gereja dihiasi dengan lilin, lampu, dan daun-daunan hijau dan bunga pointsettia. Kebanyakan gereja juga mengadakan perayaan pada hari Natal. Masa Natal berakhir pada hari Epifani, tanggal 6 Januari. Untuk gereja Kristen Barat, Epifani adalah datangnya para majus di hadirat bayi Yesus. Menurut umat Kristen Timur, hari tersebut adalah perayaan pembaptisan Kristus. Epifani jatuh 12 hari setelah hari Natal.

TUKAR MENUKAR KADO
Kebiasaan untuk tukar menukar kado pada sanak-saudara dan teman-teman pada hari khusus di musim dingin kemungkinan bermula di Romawi Kuno dan Eropa Utara. Di daerah-daerah tersebut, orang-orang memberikan hadiah pada satu sama lain sebagai bagian dari perayaan akhir tahun. Pada tahun 1100, di banyak negara-negara Eropa, Santo Nikolas menjadi lambang usaha saling memberi. Menurut legenda, Santo Nikolas membawakan hadiah-hadiah untuk anak-anak pada malam sebelum perayaannya, tanggal 6 Desember. Tokoh-tokoh yang bukan keagamaan menggantikan Santo Nikolas di berbagai negara tak lama setelah reformasi, dan tanggal 25 Desember menjadi hari untuk tukar-menukar kado. Kini di Amerika Serikat, Santa Claus membawakan hadiah untuk anak-anak.

MALAM NATAL 24 Desember , Hari libur keagamaan dan sekuler
Karena pada dasarnya malam Natal adalah hari raya keagamaan, hari tersebut tidak dianggap sebagai hari libur resmi. Gereja-gereja mengadakan perayaan pada malam itu. Orang-orang memperhatikan gua Natal (replika dari kandang domba tempat Yesus lahir, dengan patung-patung Yesus, Maria, Yosef, gembala-gembala dan hewan-hewan) sambil menyanyikan lagu-lagu Natal.

Orang-orang dewasa minum eggnog, semacam susu telur madu, yaitu campuran krim, susu, gula, telur kocok dan brandy (semacam minuman beralkohol) atau rum. Menurut kisahnya, pada malam Natal, Santa Claus menaiki kereta salju penuh hadiah, ditarik oleh delapan ekor rusa kutub. Santa Claus lalu terbang menembus awan untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu kepada anak-anak di seluruh dunia. Untuk mempersiapkan kunjungan Santa, anak-anak Amerika mendengarkan orangtuanya membacakan The Night Before Christmas (Malam Sebelum Natal) sebelum tidur pada Malam Natal. Puisi tersebut dikarang oleh Clement Moore di tahun 1832.

Dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian. Santa turun dari cerobong asap dan meninggalkan permen dan hadiah-hadiah dalam kaus kaki itu untuk anak-anak. Kini, tradisi itu tetap diteruskan, namun kaus kakinya digantikan oleh tas kain merah berbentuk kaus kaki. Xmas juga secara tradisi merupakan saat untuk berhenti bertengkar. Hari Raya Natal (Pesta Natal) 25 Desember Hari ini merupakan hari libur keagamaan maupun sekuler. Umat Kristiani merayakan peringatan kelahiran Yesus dari Nazareth.

SEJARAH NATAL
Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kisah Natal berasal dari Perjanjian Baru dari Alkitab. Seorang malaikat menampakkan diri pada para gembala dan memberitahu mereka bahwa Sang Juru Selamat telah lahir ke dalam keluarga Maria dan Yusuf di sebuah kandang domba di Betlehem. Tiga orang bijak dari Timur, yang disebut para majus, mengikuti bintang istimewa yang menuntun mereka kepada bayi Yesus, yang mereka sembah dan beri hadiah emas, kemenyan dan mur.

PERAYAAN NATAL
Karena sebetulnya Natal merupakan hari raya keagamaan, hari tersebut bukan merupakan hari libur resmi. Namun, karena kebanyakan orang Amerika Serikat adalah orang Kristen, hari itu adalah hari di saat kebanyakan bisnis tutup dan hari di mana paling banyak pekerja, termasuk karyawan pemerintah, diliburkan. Pulang ke rumah (termasuk pulang kampung) merupakan kebiasaan yang sangat dihormati. Selain dari tradisi yang sangat bersifat keagamaan, kebanyakan kebiasaan di saat Xmas juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak relijius atau tidak memeluk agama Kristen. Biasanya, umat Kristiani merayakan Xmas menurut tradisi gereja mereka masing-masing.

Ada berbagai macam ibadah keagamaan di gereja yang dilakukan oleh keluarga-keluarga sebelum mereka keliling untuk mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman.

Natal menurut tradisi Amerika:Tukar menukar kado
Mengirim kartu ucapan kepada sanak-saudara dan teman-teman. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Lagu-lagu Natal, yang disebut carol, dinyanyikan dan didengarkan selama masa liburan. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Menghias rumah. Kebanyakan orang Amerika menghias pohon Natal, yaitu pohon cemara atau pohon buatan, di rumah-rumah mereka. Lampu-lampu dan lingkaran daun-daunan dari pohon empat musim, mistletoe dan ucapan Selamat Natal diletakkan di dalam dan di luar banyak rumah. Menjadi populer sejak tahun 1800-an.

Makan Malam Natal, seringkali dengan kalkun. Selain itu, banyak yang mengadakan pesta perjamuan persis sebelum dan sesudah Natal.

Santa Claus. Tokoh ini berasal dari kisah lama tentang seorang Santo Kristiani bernama Nikolas dan dari dewa Norwegia yang bernama Odin. Para imigran membawa Bapa Natal atau Santo Nikolas ke Amerika Serikat. Namanya lambat laun berubah menjadi Santa Claus, dari nama Belanda untuk Bapa Natal abad ke-empat, Sinter Claas. Sekalipun asalnya dari mitologi Norwegia sebelum ajaran Kristen, Santa Claus baru menjadi tokoh yang kita kenal sekarang di Amerika Serikat. Orang Amerika memberikannya janggut berwarna putih, mendandaninya dengan baju merah dan menjadikannya seorang tua yang riang dengan pipi yang merah dan sinar di matanya. Santa Claus adalah tokoh mitos yang dikatakan tinggal di Kutub Utara, di mana beliau membuat mainan sepanjang tahun.

Amal. Natal juga merupakan saat di mana orang Amerika menunjukkan kemurahan hati kepada orang-orang yang kurang beruntung. Uang dikirimkan ke rumah sakit dan panti asuhan atau dibuat dana khusus untuk membantu fakir miskin.Xmas secara tradisi merupakan saat untuk menghentikan segala macam pertempuran dan pertikaian.

Asal Usul Kado Natal

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Mat 2:1-2, 11)

Bahkan saat ini semua pun tahu bahwa emas adalah harta yang paling diburu di dunia. Saat kelahiran Kristus, bisa jadi logam mulia ini jauh lebih berharga. Persembahan emas menunjukkan bahwa hadiah itu sangatlah penting. Orang yang menerimanya adalah orang yang dikasihi atau orang yang terkemuka. Tidak pernah terdengar kabar bahwa ada orang yang memberikan emas kepada bayi, kecuali jika bayi itu adalah seorang raja. Ketiga orang majus ini pastinya telah diberikan pemahaman ilahi tentang masa depan Yesus sehingga mereka tergerak mempersembahkan hadiah tersebut kepada Sang Anak. Mereka pasti tahu bahwa emas akan digunakan untuk membantu pekerjaan terpenting dalam dunia.

Orang majus yang mempersembahkan kemenyan membawa simbol penting penyembahan. Peristiwa ini menandakan bahwa Anak ini adalah tokoh utama dalam rencana Allah. Pada masa kelahiran Yesus, pohon kemenyan ini dianggap sangat suci sehingga hanya orang dengan hati dan pikiran yang murnilah yang bisa mendekati pohon ini. Orang majus itu pasti tahu bahwa pohon ini akan digunakan untuk menyambut Kristus. Kemenyan terbuat dari getah pohon dan digunakan sebagai bahan dari minyak untuk peminyakan suci yang bersifat religius. Kemenyan juga dibakar dalam persembahan khusus. Orang majus itu pasti percaya bahwa kemenyan itu menandakan misi Kristus dalam dunia.

Mur, damar yang digunakan dalam upacara-upacara pemakaman, sangatlah langka dan mahal. Mur adalah persembahan terunik dari ketiga persembahan orang majus lainnya. Jika diberikan pada masa sekarang, persembahan ini sama seperti memberikan peti mati sebagai hadiah untuk perayaan selamatan seorang anak. Mengapa "bumbu kematian" yang harum terseut diberikan bersamaan dengan emas dan kemenyan? Tidak disebutkan dalam Alkitab. Akan tetapi, banyak orang percaya bahwa persembahan ini adalah tanda bahwa orang-orang majus mengerti rahasia kehidupan, pekerjaan dan kematian Raja yang baru lahir ini. Kita tidak tahu apakah mur itu disimpan dan digunakan saat penguburan Kristus tiga puluh tahun kemudian, namun hal itu bisa saja terjadi.

Kebanyakan orang saat ini menganggap bahwa kebiasaan memberi kado pada hari Natal berasal dari persembahan orang Majus kepada Yesus. Tentu saja hadiah-hadiah ini, serta perjalanan panjang dan penuh resiko yang ditempuh para pemberinya, adalah contoh-contoh pemberian dan pengorbanan yang mengagumkan bagi orang Kristen saat ini. Akan tetapi, ada kisah rumit dibalik berubahnya persembahan ketiga orang majus ini menjadi kebiasaan yang memermak industri perdagangan di saentro dunia setelah seribu sembilan ratus tahun kemudian.

Bahkan sebelum Kristus dilahirkan, ada kebiasaan tukar kado saat upacara Romawi, Saturnalia. Pada hari raya "perpindahan musim" kuno ini, orang-orang yang menukarkan kado percaya bahwa kebaikan mereka akan membuat mereka beruntung pada tahun mendatang. Selama abad kekristenan mula-mula, orang yang baru memeluk agama Kristen masih sering merayakan tradisi dan perayaan Romawi ini. Mereka masih membeli dan menukarkan kado saat Saturnalia. Pada abad ke-4, saat tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari peringatan kelahiran Kristus, perayaan Saturnalia mulai redup. Karena tanggal resmi Natal jatuh pada periode yang sama dengan perayaan Romawi, mungkin saja beberapa orang Kristen menerapkan kebiasaan tukar kado saat merayakan kelahiran Kristus. Akan tetapi, kebiasaan tukar kado saat itu tidak berakar pada tradisi itu. Pada masa itu, hadiah dan Natal tidak saling terkait, dan kebiasaan itu lenyap saat perayaan Saturnalia dihiraukan.

Akan tetapi, tradisi Roma yang terus berlangsung pada periode tersebut adalah kebiasaan memberi kado Tahun Baru. Tukar kado pada hari pertama tahun baru terus berlanjut selama Abad Kegelapan dan Abad Pertengahan dan sampai pemerintahan ratu Victoria. Tradisi memberi kado inilah yang akhirnya menyatu dengan tradisi memberi kado pada hari Natal, tetapi ada beberapa peristiwa lain yang menyebabkan penyatuan itu terjadi.

Legenda Santo Nicholas, yang menjadi uskup di Myra di awal abad keempat, adalah mata rantai pemberian kado berikutnya. Legenda menuturkan bahwa selama hidupnya pastor itu berkeliling melewati Asia Kecil dan memberikan kado-kado kepada anak-anak miskin. Santa Klaus dan kaus kaki Natal dapat ditelusuri langsung dari kisah kehidupan Nicholas. Dia sangat dihormati dan dikasihi oleh mereka yang mengenalnya, sehingga peringatan kematiannya pada tanggal 6 Desember, menjadi hari untuk memberikan kado-kado istimewa bagi anak-anak. Jadi selama abad Pertengahan, Hari Santo Nicholas adalah hari yang paling menyenangkan bagi ribuan anak-anak Kristen di Eropa Timur dan Tengah.

Memberi kado kepada anak-anak memang merupakan tindakan yang murah hati. Akan tetapi, banyak juga pemimpin Eropa yang memelajari persembahan orang Majus kepada Yesus dalam Alkitab. Mereka benar-benar mengabaikan teladan Nicholas, dan memutarbalikkan Alkitab supaya sesuai dengan keinginan-keinginan egois mereka. Mereka menggunakan Alkitab sebagai alasan dibalik pungutan mereka. Banyak raja dan ratu di Eropa menulis hukum bahwa masyarakat perlu menyediakan persembahan Natal setiap tahun kepada penguasa mereka. Sebab itu, setiap orang yang paling miskin pun di Eropa wajib memberikan milik mereka yang terbaik kepada keluarga terkaya di wilayah mereka setiap tahun pada tanggal 25 Desember. Kemudian, keluarga jauh kerajaan dan pejabat daerah yang diangkat meminta upeti Natal juga. Orang-orang miskin secara terang-terangan diperdaya dalam nama iman Kekristenan. Bahkan gerejapun perlu membayar penguasa. Jadi, alih-alih menjadikan natal waktu perayaan dan sukacita, tuntutan kaum elit Eropa ini menodai makna "kado Natal". Pada abad kesepuluh, seorang bangsawan Bohemian, dikenal juga sebagai King Wnceslas, mulai mengubah kebiasaan upeti natal ini. Alih-alih memungut upeti dari warganya, Wenceslas meniru peranan orang-orang majus. Dia mengelilingi kerajaannya selama hari perayaan dan membagikan kayu bakar, makanan, dan pakaian. Bangsawan yang menjangkau kaum papa setiap tahun itu menginspirasi banyak orang di wilayahnya untuk melakukan hal serupa.

Pada Desember 25, 1067, William Sang Penakluk juga memilih untuk mengubah tradisi pemberian kado Natal dengan menyumbangkan uang dalam jumlah yang besar kepada Paus. William dan Wenceslas memulai perubahan yang berakar di Eropa Timur dan kemudian di Inggris dan Amerika.

Pada masa Martin Luther, orang-orang Jerman memasang palang tentang contoh-contoh yang mereka temukan dari cerita-cerita Santo Nicholas dan Wenceslas. Banyak orang percaya bahwa seharusnya kado Natal diberikan tanpa nama. Jadi ide memberi hadiah kepada teman dan orang yang dikasihi secara diam-diam pada hari Natal diawali dari kebiasaan memberikan kado di Jerman.

Beberapa orang Belanda melaksanakan tradisi ini dengan cara yang jauh berbeda. Mereka menyembunyikan kado-kado Natal dan meninggalkan pesan yang menunjukkan tempat kado itu disembunyikan. Orang-orang Belanda menciptakan suasana yang menyenangkan di hari raya bagi anak-anak dengan membuat permainan dari kebiasaan memberi kado ini.

Orang-orang Denmark melaksanakannya dengan cara yang berbeda juga, yaitu dengan membungkus kado-kado itu. Mereka memunyai tradisi unik, yaitu meletakan kotak kecil yang dibungkus dengan kotak yang lebih besar. Lalu mereka membungkus dan membungkus lagi dan meletakannya di kotak dan kotak lagi sampai kado itu tampak besar. Biasanya, terdapat nama yang berbeda di setiap lapisan kertas kado itu. Alhasil, kado itu berpindah banyak tangan sebelum kado itu terbuka dan diberikan kepada orang yang dituju.

Tradisi memberi kado ini tidak menyebar ke Inggris atau Amerika (Negara Baru) pada masa ini. Hadiah, terutama bagi anak-anak, bukanlah bagian dari perayaan natal di wilayah di bawah pemerintahan Inggris. Hal ini sebagian kecil disebabkan oleh sejarah Inggris tentang perayaan hari raya yang gaduh dan kasar. Akan tetapi, kado jarang dibagikan pada Natal di Inggris kemungkinan besar karena kepercayaan Puritan. Saat anak-anak di Eropa membuka kado mereka, anak-anak Puritan di Inggris dan Amerika diajarkan bahwa orang-orang majus memberikan hadiah kepada Yesus saja, tidak kepada keluarga ataupun satu sama lain. Oleh karena itu, mereka berpikir bahwa Allah tidak mau perayaan Kelahiran Anaknya menjadi waktu memberi kepada orang lain, selain kepada Kristus. Dia juga tidak mau orang-orang berpesta hari ini, pikir orang-orang Puritan. Natal adalah hari untuk perenungan dengan hikmat, bukannya untuk suka ria. Oleh karena itu, kado dilarang sampai Revolusi Amerika terjadi.

Kado-kado Natal bukanlah bagian dari hari Raya natal di Amerika Serikat dan Inggris, tetapi banyak orang menerima kado pada minggu-minggu setelah Natal. Tukar kado biasanya terjadi di kalangan kelas atas, seperti halnya di Roma. Beberapa keluarga juga memberikan "amplop" kepada anak-anak pada tanggal 6 Januari, hari "kedua belas" atau hari terakhir natal, hari Epiphany. Orang-orang Kristen yang mengikuti tradisi "12 hari Natal" memberi kado pada hari Epiphany itu. Mereka percaya itulah harinya orang majus tiba dengan hadiah- hadiah mereka, dua belas hari setelah Kristus lahir. Walaupun hadiah-hadiah ditukarkan pada bulan Januari di Amerika, memberi kado saat natal masih terbilang asing bagi kebanyakan orang Kristen.

Pada tahun 1820, ketika puisi karya Clement Clarke Moore "The Night Before Christmas" mulai disebarluaskan melalui majalah, koran dan buku- buku, semua berubah. Anak-anak melihat tulisan bahwa hadiah- hadiah seharusnya tiba pada Malam Natal atau pada subuh hari Natal. "A Christmas Carol" Karya Charles Dickens membenarkan konsep ini. Para pedagang, yang mengendus keuntungan, langsung melangkah. Santa mulai membuat hiasan dalam toko-toko. Pada tahun-tahun setelah perang saudara, Amerika menjadi pusat kado-natal di dunia. Kado-kado natal menyusul di Inggris selama tahun 1880. Setelah abad itu, Natal menggantikan Tahun Baru sebagai hari kado, demikian pula di Inggris. Saat Natal mengambil alih, kebiasaan selama 2000 tahun memberi kado lenyap.

Pada tahun 1900, dengan dibukanya toko-toko besar, pelayanan surat yang terpercaya dan pekerjaan yang gajinya bagus, hari Natal menjadi waktu penjualan terpenting dalam satu tahun bagi sebagian besar supermarket. Oleh karena itu, perusahaan iklan, pembuat mainan, dan perusahaan pakaian melengkapi kampaye dan produk utama mereka pada bulan Desember. Waktu Natal diperpanjang paling tidak selama dua minggu berkat waktu belanja ini.

Waktu Natal diperpanjang lagi saat orang-orang membeli hadiah untuk tentara-tentara yang bertempur pada perang dunia. Selama Perang Dunia II para pria ditempatkan jauh dari rumah mereka. Kantor pos menyarankan pihak keluarga mengirimkan kiriman mereka lebih cepat agar pasukan itu menerima hadiah Natal mereka tepat waktu. Oleh karena itu, toko-toko memasang hiasan hari raya bahkan sebelum awal Desember. Oleh karena itu, waktu belanja diperpanjang sebulan penuh menyambut "Hari-Ucapan-Syukur-sampai-Natal".

Kini, saat hari haya di Amerika Serikat saja, para pembeli menghabiskan lebih dari $4 milyar setiap hari untuk belanjaan natal, atau sekitar $2,8 juta per menit. Setiap orang di Amerika rata-rata menghabiskan lebih dari $100 untuk hadiah natal pada tahun 2002. Orang-orang Puritan tentu saja mencemaskan fenomena hadiah natal yang tidak hanya menjadi daya pikat hari raya tetapi ekonomi orang Amerika juga. Akan tetapi, kebiasaan ini lebih dari sekadar uang saja

Banyak orang berpikir bahwa kado Natal semata-mata hanyalah komersial dan sumber stres berat. Akan tetapi, ketika dipandang dari perspektif yang baik, hadiah-hadiah ini dapat dipakai untuk mengajarkan makna hari raya itu sebenarnya. Kristus adalah Raja yang datang bukan untuk mengambil, tetapi untuk memberi. Hadiah-Nya adalah sebuah pengorbanan terbesar. Itulah fokus setiap hadiah natal. Walaupun kebiasaan menukar kado Natal pribadi merupakan tradisi yang cukup baru, dalam tradisi ini kita dapat mengingat beberapa orang majus yang percaya bahwa perjalanan mereka yang panjang dan melelahkan untuk memberi persembahan tidaklah mereka kepada Yesus tidaklah sia-sia.

Sejarah budaya Natal

Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada.

Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

Pada tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan pada tahun 1500-an . Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.

Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

Asal kata
Dalam bahasa Inggris, kata Christmas (Hari Natal) dipastikan berasal dari kata Cristes maesse, frasa dalam bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Christos). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Tradisi Natal diawali oleh Gereja Kristen terdahulu untuk memperingati sukacita kehadiran Juru Selamat "Mesias" di dunia. Sampai hari ini, Hari Raya Natal adalah hari raya umat Kristen di dunia untuk memperingati hari kelahiran "Raja Damai" Yesus Kristus. Secara tarikh, tidak ada tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, tetapi kalender masehi telah menetapkan tanggal memperingati/merayakan Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, gereja kemudian mengadakan ibadah perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, umat Kristen mengekspresikan cinta-kasih dan sukacita mereka dengan bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly, mistletoe dan pohon Natal.

Perayaan keagamaan
Kata adven berarti datang, di mana masa-masa menyambut kedatangan 'Mesias' Yesus Kristus ke dunia. Ragam tradisi merayakan masa Adven. Untuk kebanyakan umat Kristiani, masa Adven memuncak pada malam sebelum Natal (Malam Natal), tanggal 24 Desember. Gereja-gereja dihiasi dengan lilin, lampu, dan daun-daunan hijau dan bunga pointsettia.

Tukar kado
Meski kebiasaan ini bukan esensi dari Hari Raya Natal, kebiasaan untuk tukar menukar kado pada sanak-saudara dan teman-teman pada hari Natal kemungkinan bermula di Romawi Kuno dan Eropa Utara. Di daerah-daerah tersebut, orang-orang memberikan hadiah pada satu sama lain sebagai bagian dari perayaan akhir tahun.

Malam Natal
Karena pada awalnya malam Natal adalah hari raya keagamaan Umat Katholik, hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur resmi. Gereja-gereja mengadakan perayaan pada malam itu. Mereka mengadakan prosesi keagamaan di gua Natal (replika dari kandang domba tempat Yesus "Mesias" Kristus lahir, yang telah dihiasi dengan dengan patung-patung tokoh Yesus, Mariam, Yusuf, para gembala) sambil menyanyikan lagu-lagu Natal.

Di Eropa, konon ada tradisi tersendiri dalam perayaan Natal, di mana orang-orang dewasa minum eggnog, semacam susu telur madu, yaitu campuran krim, susu, gula, telur kocok dan brandy (semacam minuman beralkohol) atau rum. Konon, pada malam Natal, Santa Claus menaiki kereta salju penuh hadiah, ditarik oleh delapan ekor rusa kutub. Santa Claus lalu terbang menembus awan untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu kepada anak-anak di seluruh dunia. Untuk mempersiapkan kunjungan Santa, anak-anak mendengarkan orangtuanya membacakan The Night Before Christmas (Malam Sebelum Natal) sebelum tidur pada Malam Natal. Puisi tersebut dikarang oleh Clement Moore pada tahun 1832. Konon, para anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian. Santa turun dari cerobong asap dan meninggalkan permen dan hadiah-hadiah dalam kaus kaki itu untuk anak-anak. Kini, tradisi itu tetap diteruskan, tetapi kaus kakinya digantikan oleh tas kain merah berbentuk kaus kaki.

Perayaan Natal
Kalender masehi menetapkan 25 Desember sebagai hari raya keagamaan Kristen maupun Katholik, maka hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur resmi. Namun umat Kristen masa kini, merayakan Natal dengan berakjak dari sisi esensinya, yaitu merayakan "Anugrah" terbesar yang Allah sediakan, yaitu datangnya "Juru Selamat" sang Raja Damai ke dalam dunia. Mitos maupun dongeng-dongeng atau sejarah bukanlah esensi Natal. Karena sejarah akan selalu membuahkan polemik maupun pro-kontra. Bersyukur atas anugrah dan meneladani Yesus sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Natal menurut tradisi Amerika
Tukar menukar kado, mengirim kartu ucapan
Aktivitas ini menjadi populer sejak tahun 1800-an. Lagu-lagu Natal, yang disebut carol, dinyanyikan dan diperdengarkan selama masa liburan. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Menghias rumah. Kebanyakan orang Amerika menghias pohon Natal, yaitu pohon cemara atau pohon buatan, di rumah-rumah mereka. Lampu-lampu dan lingkaran daun-daunan dari pohon empat musim, mistletoe dan ucapan Selamat Natal diletakkan di dalam dan di luar banyak rumah. Menjadi populer sejak tahun 1800 an.

Makan Malam Natal
Seringkali dengan kalkun. Selain itu, banyak yang mengadakan pesta perjamuan persis sebelum dan sesudah Natal.

Santa Claus
Umat Katholik memiliki legenda tentang Santa Claus, seorang bernama Santo Nikolas, kemudian menjadi legenda sebagai Bapa Natal yang suka memberi hadiah kepada anak-anak. Santa Claus adalah tokoh mitos yang dikatakan tinggal di Kutub Utara, di mana dia membuat mainan sepanjang tahun.

Amal
Saat ini, momen Natal juga untuk mewujudkan cinta-kasih dan amal pemberian. Pemberian sumbangan khusus bagi ke rumah sakit dan panti asuhan atau dibuat dana khusus untuk membantu mereka yang membutuhkan. Di Indonesia sendiri, momen Natal juga menjadi berkah, di mana para Narapidana mendapatkan potongan hukuman atau remsi. Bahkan konon, pada saat Hari Raya Natal, pertempuran juga dihentikan

Dec 5, 2019

Plato

Plato (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.  Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal".  Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua. Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).

Ciri-ciri karya Plato

Bersifat Sokratik
Dalam Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya.

Berbentuk dialog
Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu.  Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.

Pandangan Plato tentang ide, dunia ide dan dunia indrawi
Idea-idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai ide. Pandangan Plato terhadap ide-ide dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja.  Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea adalah dunia yang melampaui manusia maka ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada dunia ide.  Ide adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita.  Ide-ide ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, ide tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari ide dua, ide dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan ide genap.  Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan ide-ide tersebut. Puncak inilah yang disebut ide yang “indah”. Ide ini melampaui segala ide yang ada.

Dunia indrawi
Dunia indrawi adalah dunia nyata yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indra kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal.  Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini.  Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.

Dunia ide
Dunia ide adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita.  Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua ide bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu ide “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia ide semuanya sangat sempurna.  Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".

Pandangan Uphy tentang karya seni dan keindahan
Pandangan Cippe Plato tentang karya seni
Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide.  Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik). Plato memandang negatif karya seni. Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide.  Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.

Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus.  Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide. Ia berpendapat bahwa Kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni.  Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.

Dialog-dialog Plato

Dialog awal

Apologi
Kharmides
Krito
Euthyphro
Alcibiades Pertama
Hippias Mayor
Hippias Minor
Ion
Lakhes
Lysis
Dialog awal/pertengahan
Euthydemus
Gorgias
Menexenus
Meno
Protagoras
Dialog pertengahan

Kratylus
Phaedo
Phaedrus
Republik
Simposium
Dialog pertengahan-akhir

Parmenides
Theaetetus
Dialog akhir

Sang Sofis
Sang Negarawan
Timaeus
Kritias
Philebus
Hukum
Yang diragukan otentisitasnya

Klitophon
Epinomis
Surat-surat
Hipparkhus
Minos
Para Kekasih yang Bersaing
Alcibiades Kedua
Theages

Neoplatonisme

Neoplatonisme dibangun oleh Plotinus (204-70 SM) yang merupakan filosof besar fase terakhir Yunani.  neoplatonisme merupakan rangkaian terakhir dari fase Helenisme Romawi, yaitu suatu fase pengulangan ajaran Yunani yang lama, jadi aliran ini masih berkisar pada filsafat Yunani, yang teramu dalam mistik (tasawuf Timur), dan juga digabung dengan berbagai aliran lain yang mendukung. Akibatnya, di dalamnya kadang terjadi tabrakan antara filsafat Yunani dengan agama-agama samawi. neoplatonisme ini terdapat unsur-unsur Platonisme, Phytagoras, Aristoteles, Stoa, dan mistik Timur, jadi, berpadu antara unsur-unsur kemanusiaan, keagamaan dan mistik.

Sejarah Neoplatonisme

Aliran yang berupaya menggabungkan ajaran Plato dan Aristoteles dikenal dengan sebutan neoplatonisme, yang merupakan puncak terakhir dalam sejarah filsafat Yunani. aliran ini bermaksud menghidupkan kembali filsafat Plato. tetapi itu tidak berarti bahwa pengikut-pengikutnya tidak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf lain, seperti Aristoteles misalnya dan aliran Stoa. sebenarnya ajaran ini merupakan semacam sintesis dari semua aliran filsafat sampai saat itu, dimana Plato diberi tempat istimewa. yang berpengaruh aliran ini adalah Ammonius Saccas. Saccas adalah filsuf yang mengajar di Alexandria, Mesir, pada paro pertama abad ketiga.

Tokoh neoplatonisme yang dianggap representatif ialah Plotinus, murid Ammonius Saccas.  plotinus lahir di Lycopolis, Mesir, pada tahun 205 dan meninggal di Campania pada tahun 270 M. plotinus berguru pada Saccas selama 11 tahun.  ia mempelajari falsafah Yunani sejak berusia 27 tahun, terutama karya-karya Plato.  ia datang ke Roma sekitar tahun 244 M dan mengajar falsafah sekitar 25 tahun. plotinus yang berupaya memadukan ajaran Aristoteles dan Plato, hanya saja pada praktiknya, ia lebih condong pada ajaran-ajaran Plato.  aliran baru yang dirintisnya mencakup berbagai pemikiran dari berbagai negara dan menjadi pusat bagi peminat falsafah, ilmu, dan sastra.

Plotinus juga mendalami ajaran-ajaran mistik India dan Persia, yang saat itu sedang populer. plotinus dikenal sebagai guru yang sangat dihormati, bahkan di antara murid-murid Plotinus ada yang mendewakannya. meski demikian, ia tetap bersikap rendah hati.  plotinus tidak berniat mendirikan aliran falsafah sendiri, ia hanya ingin mendalami filosofi Plato, sehingga filosofinya dinamakan neoplatonisme.  plotinus tidak menuliskan ajarannya hingga ia berusia 50 tahun.  sebelum Plotinus meninggal, ia mewariskan 54 karangan yang dikumpulkan dan diedit oleh salah satu muridnya, Porphyry, dalam enam kelompok yang dikenal dengan Enneads.

Plotinus menyesuaikan filsafat Plato dalam cara-cara yang penting dan karyanya diterbitkan oleh muruidnya Porphyry (±232-305). filsafat ini kemudian dikenal sebagai neoplatonisme. plotinus percaya bahwa ciptaan melimpah (atau mengalir) dari Yang Esa yang adalah Yang Baik.  segala sesuatu yang ada pasti baik, atau memuat kebaikan, kalau tidak ia tidak dapat ada sama sekali.

Dialektika
Seluruh sistem filsafat Plotinus berkisar pada konsep kesatuan, yang disebutnya dengan nama “Yang Esa”, dan semua yang ada berhasrat untuk kembali kepada “Yang Esa”. Oleh karenanya, dalam realitas seluruhnya terdapat gerakan dua arah: dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas , yaitu:

a. Dialektika menurun (a way down)
b. Dialektika menaik (a way up)

Dialektika Menurun
Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskan “Wujud Tertinggi” dan cara keluarnya dari-Nya. Penjelasannya terhadap Wujud tertinggi itu, Plotinus terkenal dengan teorinya “Yang Esa”, yaitu keluarnya alam dari “Yang Esa”, ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua yang wujud, termasuk di dalamnya wujud pertama (Yang Esa), merupakan rangkaian mata rantai yang kuat dan erat, dan kemudian dalam studi kegamaan dikenal dengan istilah “kesatuan wujud”.

Plotinus sangat mementingkan kesatuan. Semua makhluk yang ada, bersama-sama merupakan keseluruhan yang tersusun sebagai suatu hierarki. Pada puncak hierarki terdapat “Yang Esa” (bahasa Yunani: to hen). Setiap taraf dalam hierarki berasal dari taraf lebih tinggi yang paling berdekatan dengannya. Taraf satu berasal dari taraf lain melalui jalan pengeluaran atau “emanasi” (bahasa Inggris: emanation). Dengan istilah “emanasi” ditunjukkan bahwa pengeluaran itu secara mutlak perlu, seperti air sungai secara mutlak perlu memancar dari sumbernya. Taraf lebih tinggi tidak bebas dalam mengeluarkan taraf berikutnya, tetapi dalam proses pengeluaran ini taraf yang lebih tinggi tidak berubah dan kesempurnaannya tidak hilang sedikit pun. Proses pengeluaran digambarkan Plotinus sebagai berikut: dari “Yang Esa” dikeluarkan Akal (Nous). Akal ini sama dengan ide-ide Plato yang dianggap Plotinus sebagai suatu intelek yang memikirkan dirinya sendiri. Jadi, akal sudah tidak satu lagi, karena di sini terdapat dualitas: pemikiran dan apa yang dipikirkan. Dari akal itu, jiwa (psykhe) berasal, dan akhirnya dari jiwa dikeluarkan materi (hyle), yang bersama jiwa merupakan jagad raya. Selaku taraf yang paling rendah dalam seluruh hierarki, materi adalah makhluk yang paling kurang kesempurnaannya dan sumber segala kejahatan.

Dialektika menaik
Dialektika menaik digunakan untuk menjelaskan soal-soal akhlak dan jiwa, dengan maksud untuk menentukan kebahagiaan manusia.

Setiap taraf hierarki mempunyai tujuan untuk kembali kepada taraf lebih tinggi yang paling dekat dan kerena itu secara tidak langsung menuju ke “Yang Esa”. Karena hanya manusia mempunyai hubungan dengan semua taraf hierarki, sialah yang dapat melaksanakan pengembalian kepada “Yang Esa”. Hal ini dapat dicapai melalui tiga langkah. Langkah pertama adalah penyucian, di mana manusia melepaskan diri dari materi dengan laku tapa. Langkah kedua adalah penerangan, dimana ia diterangi dengan pengetahuan tentang Idea-idea akal budi. Akhirnya, langkah ketiga adalah penyatuan dengan “Yang Esa” yang melebihi segala pengetahuan. Langkah terakhir ini ditunjukkan Plotinus dengan nama “ekstase” (ecstacy). Porphyry menceritakan bahwa selama 6 tahun ia bersama Plotinus, empat kali ia menyaksikan gurunya mengalami ekstase tersebut.

Dua dialektika itu, oleh Plotinus dikembangkan teori tentang asal usul alam semesta yang tampaknya juga merupakan gabungan dari teori-teori Plato dan Aristoteles, yang kemudian dikenal sebagai sistem emanasi. Dunia tidak lagi dipandang sebagai suatu wujud yang diciptakan dari materi yang ada sejak sebelumnya (pre-existent matter), yang mana dia itu sendiri, kekal bersama-sama “Yang Baik” (menurut Plato), dan juga bukan dipandang sebagai wujud yang keseluruhan dan kesempurnaannya kekal bersama-sama “Yang Esa” (menurut Aristoteles); sekarang dia dipandang sebagai wujud yang dihasilkan atau dipancarkan dari hakikat kesejatian “Yang Esa” secara kekal, jadi pandangan yang baru ini berusaha menafsirkan kepercayaan kepada penciptaan alam dari tiada (ex nihilo) sebagai suatu tindak penciptaan dunia yang melibatkan waktu dari hakikat “Yang Esa”.

Emanasi
Jika ajaran Plato berpangkal pada “Yang Baik”, yang meliputi segala-galanya, maka ajaran Plotinus berpangkal pada “Yang Esa”. Menurut Plotinus, “Yang Esa” itulah pangkal dari segala-galanya. Filosofi Plotinus berpusat pada keyakinan bahwa “Yang Esa” adalah satu dengan tidak ada pertentangan di dalamnya. “Yang Esa” adalah “Yang Asal”, dan itulah permulaan dan sebab Yang Esa dari segala yang ada. “Yang Esa” itu sempurna, tidak mencari dan tidak memiliki apa-apa. Dari “Yang Esa” itulah keluar sesuatu dari kemudian mengalir menjadi barang-barang yang ada. Dalam menerangkan munculnya keragaman dari “Yang Esa”, Plotinus menyebutkan dengan emanasi dari Dia. Plotinus inilah Yang Esa kali memunculkan konsep emanasi.

Dalam pandangan filsuf terdahulu, “Yang Asal” disebut Penggerak Pertama. Dalam konsep Penggerak Pertama terdapat dua pemahaman yang dapat dimengerti, yakni yang bekerja dan yang dikerjakan, jiwa dan benda. Penggerak Pertama berada di luar alam lahir dan bersifat transedental. Alam sendiri terjadi atas limpahan dari “Yang Asal” dan yang mengalir tetap merupakan bagian dari “Yang Asal”. Oleh karena itu, “Yang Asal” tidak berada di dalam alam akan tetapi sebaliknya alam berada di dalam “Yang Asal”. “Yang Asal” dan yang mengalir selalu berhubungan, semakin jauh mengalir dari asalnya maka yang mengalir semakin tidak sempurna. Alam bukan ciptaan “Yang Asal”, melainkan terjadi menurut pelimpahan dari-Nya. Alam raya ini adalah bayangan yang tidak sempurna dari asalnya, dan kesempurnaan bayangan alam ini bertingkat sesuai jaraknya dari sumbernya. Proses pemancaran dari “Yang Asal” ini dapat dianalogikan dengan proses pancaran cahaya, semakin jauh pancarannya itu dari sumber cahaya maka semakin redup dan berkurang tingkat kejelasan pancaran cahayanya. Semakin jauh dari sumbernya maka akan semakin redup dan akhirnya gelap. Emanasi alam tidak tunduk dalam dimensi ruang dan waktu, sebab dimensi itu berada pada posisi terbawah dari proses emanasi. Dimensi ruang dan waktu adalah konsep yang terjadi di dunia lahir.

Tahap-tahap Wujud
Salah satu persoalan dasar paling pokok dalam ajaran neoplatonisme adalah bagaimana mendamaikan dua macam hal, yakni “Yang Esa” dan segala macam wujud yang fana, sementara mereka sama-sama tidak mempunyai apa pun yang serupa antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu model emanasi, dirancang untuk menjelaskan bagaimana segala sesuatu yang tidak memiliki unsur kesamaan antara satu dengan yang lain, pada saat yang sama, juga benar-benar saling berhubungan. Dengan teori emanasi itulah, akhirnya terdapat apa yang disebut unity of being, kesatuan wujud.

Aristoteles, dalam metafisikanya juga hendak menghubungkan kedua alam itu, sambil berupaya menghindarkan kekurangan-kekurangan yang ada dalam sistem filsafat Plato. Aristoteles menggunakan teori form dan matter, dan kadang teori potensial being dan actual being. Ia mengatakan bahwa form murni (pure form) diambil dari “matter murni” (pure matter). Atau penggambaran “wujud yang ajaib” diambil dari “wujud yang mungkin”. Jadi form murni (zat yang ada dengan sendirinya) menjadi sumber bagi “benda murni” atau “wujud yang mungkin” (yakni alam yang bisa disaksikan). Dengan begitu, maka Aristoteles telah mencoba menghubungkan kedua macam wujud yang ada, yaitu wujud sempurna yang berdiri sendiri dengan alam lain yang membutuhkannya. Aristoteles juga menekankan bahwa yang sempurna (form murni) menarik “yang tidak sempurna” (alam benda). Alam yang terakhir ini bergerak menuju ke arah wujud Yang Esa, karena ingin menjadi sempurna juga. Jadi menurut Aristoteles, Yang Esa bersifat menggerakkan, dan dengan begitu ia tidak bergerak.

Plotinus yang datang kemudian, juga mencoba menyempurnakan ajaran keterhubungan antara dua wujud tersebut. Hanya saja cara yang ditempuhnya lain. Ia menggunakan pokok pikiran bahwa di antara semua wujud ini, ada wujud tertinggi, yang disebut “Yang Esa” atau “Wujud Tertinggi”, dan ada pula wujud yang terendah, yaitu alam materi. Sementara di antara kedua wujud tersebut, terdapat wujud-wujud yang lain. Menurut Plotinus, wujud keseluruhannya ada empat, yaitu:

a. Yang Esa (to hen)
b. Akal (nous)
c. Jiwa (psykhe)
d. Materi (hyle)

Yang Esa (To Hen)
Menurut filosofi Plotinus, alam semesta bukanlah ciptaan “Yang Esa”, melainkan limpahan dari “Yang Esa” melalui proses emanasi2. tujuan akhir dari semua wujud adalah terserap kembali ke dalam “Yang Esa”, tempat asalnya. Sifat “Yang Esa” adalah di luar jangkauan pemahaman manusia.

Menurut ajaran Plotinus, ada tiga tahap proses emanasi dan reabsorsi yang berbeda. Reabsorsi atau remanasi sendiri merupakan tujuan setiap jiwa. Menurut Plotinus, ada tiga tahap penyatuan kembali manusia dengan “Yang Esa”: pertama melakukan amal saleh; kedua, berfilsafat; dan ketiga, dengan jalan mistik.

Selain persoalan teologis dan kosmologis, Plotinus juga mengembangkan ajaran tentang etika.Ajaran Plotinus terfokus dalam tiga kajian inti, yakni “Yang Esa” (The One), akal (intellect), dan jiwa (soul). “Yang Esa”adalah sumber wujud melalui emanasi. Dia merupakan object yang tak terpahami dan semuanya bergerak menuju kepada-Nya. “Yang Esa” dan materi adalah dua kutub utama alam semesta. “Yang Esa” sebagai kekuatan aktif dan alam sebagai penerima pasif. Materi tidak mempunyai realitas hakiki dengan sendirinya, dan hanya ada satu prinsip tertinggi, yaitu “Yang Esa” (waajib al wujuud). “Yang Esa” tidak dapat dibagi-bagi. Yang Esa adalah sumber segala wujud yang ada, tetapi bukan merupakan bagian.

“Yang Esa” tidak memiliki kehendak dan intelegen, sebab Dia tidak dibatasi oleh kebodohan dan hasrat. “Yang Esa” tidak bebas ataupun terikat. Menyifati “Yang Esa” dengan sifat-sifat tertentu tidak mudah. Dia transeden pada semua wujud yang terbatas. Tuhan melebihi manusia dalam berpikir. Berpikir adalah sesuatu yang tidak terelakkan sebagai wahana untuk sampai ke pintu gerbang penyucian. Berpikir juga merupakan awal menuju dunia mistik dan menyatu dengan “Yang Esa”. Alam semesta merupakan emanasi “Yang Esa”, seperti tungku dan cahaya yang memancar dari pusat api: semakin dekat ke api, semakin terang cahaya dan sinarnya, dan sebaliknya, semakin jauh dari sumber api maka cahaya dan sinarnya, dan sebaliknya, semakin jauh dari sumber api maka cahaya dan sinarnya menjadi kurang. Bahkan jika jarak dari api semakin jauh dan menjauh maka panas dan cahaya pun akan hilang sama sekali.

Akal (Nous)
Akal keluar langsung dari “Yang Esa” dengan kedudukan sebagai asal pertama. Keesaan “Yang Esa” dari segala segi, menjadi berbilang dengan akal, sebab dengan adanya akal, maka ada lagi yang menjadi objek pemikiran (ma’qul). Akal keluar dari “Yang Esa” bukan dalam proses waktu, sebagaimana dengan wujud abstrak lainnya. Akal keluar dari “Yang Esa” tidak mempengaruhi kesempurnaan-Nya, demikian pula keluarnya yang kurang sempurna dari yang lebih sempurna. Kesempurnaan ini tidak terpengaruh, sebab apa yang keluar daripada-Nya hanya berarti ikut pada-Nya, dan kepada-nya pula tergantung adanya. Seperti halnya dengan bilangan eka (satu) yang menjadi sebab adanya bilangan-bilangan yang lain, yang keluarnya tidak mempengaruhi keesaan bilangan itu. Akal keluar dari “Yang Esa” dengan sendirinya, tidak perlu mengandung paksaan atau perubahan pada-Nya, sebab penetapan kehendak berarti merusak keesaan-Nya, sebab dengan sendirinya ada yang dikehendaki. Dengan alasan “keluar dengan sendirinya”, maka keesaan “Yang Esa” teteap terpelihara tanpa menimbulkan bilangan. Dalam hal ini, Plotinus mengiaskan “Yang Esa” dengan matahari, yang menyinari alam sekelilingnya tanpa mempengaruhi keadannya sendiri.

Kedudukan akal di antara semua wujud ialah sebagai pembuat alam (shani’ al-alam). Akal ini juga mengandung ide-ide dari Plato. Menurut plotinus, kalau alam abstrak, yaitu alam itu tidak terdapat di dalam akal, maka akal tidak mempunyai hakikat, tetapi hanya gambaran dari hakikat. Dan ini suatu tanda ketidaksempurnaan, sedangkan seharusnya akal ini sempurna. Dengan jalan menjadi “Yang Esa”, sama dengan idea of God dari Plato, maka Plotinus telah mengambil ide Plato seluruhnya, dan dipakainya untuk menafsirkan wujud pertama dan urut-urutan wujud lainnya.

Jiwa (Psykhe)
Jiwa memandang akal sebagai yang menciptakannya dan jiwa tersebut memberi sinar pada alam indrawi (sensual world) dengan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Kedudukan jiwa adalah sesudah akal, dan merupakan akhir wujud alam abstrak, serta menjadi penghubung, antara alam indrawi dan dunia gaib, atau alam ketuhanan.

Karena kedudukannya itu, maka jiwa alam dari satu segi terbagi, dan dan dari segi lain tidak terbagi. Ia tidak terbagi, karena jiwa adalah sesuatu yang abstrak. Ia tidak terbagi menurut banyaknya tempat, tetapi terbagi karena ia masuk alam indrawi dan terdapat dimana-mana meskipun wujud tersebut adalah wujud keseluruhan tanpa dibagi-bagi sebagai wujud yang menggerakkan dan sebagi kekuatan pemeliharaan. Karena tabiatnya itu, yaitu bisa dibagi dan bisa tidak terbagi, maka Plotinus tidak menganggap jiwa tergolong dalam alam azali yang supersensual sama sekali. Ia juga tidak menggolongkan dalam alam materi sama sekali, tetapi hanya mengatakan bahwa itu terdapat padanya.

Adanya tingkatan-tingkatan wujud ini menyebabkan Plotinus mengatakan adanya dua macam jiwa , yaitu:
a. jiwa yang tidak berhubungan langsung dengan alam indrawi, yaitu jiwa yang dekat dengan akal.
b. Jiwa yang merupakan wakil jiwa Yang Esa, yang menjadikan alam indrawi dan disebut tabiat alam ini.

Nama-nama ini dipilihnya untuk menghindari adanya suatu jiwa yang mempunyai dua arah: arah ke atas, yaitu kepada akal, dan arah ke bawah, yaitu ke arah alam materi. Jiwa adalah wakil akal dalam memelihara dan mempengaruhi alam di bawahnya, dan sebagaimana akal itu sendiri menjadi wakil “Yang Esa”. Karenanya, Plotinus mengharuskan alam materi ini mensyukuri akal, bukan mensyukuri jiwa atas nikmat wujud yang diberikan kepadanya. Plato sebelumnya juga telah mengharuskan alam materi ini mensyukuri alam ide, dengan alasan yang sama. Ide Plato ini sudah dimasukkan oleh Plotinus ke dalam akal, maka Plato dan Plotinus sependapat bahwa yang mempunyai kekuatan untuk mewujudkan dan memelihara adalah wujud kedua, yaitu “ide” menurut Plato, atau “akal” menurut Plotinus. Persamaan pendapat ini bukan karena kebetulan, tetapi memang karena Plotinus mengikuti Plato.

Materi (Hyle)
Tingkatan alam materi adalah sesudah alam jiwa, dan menjadi asal (sumber) bagi alam lahir ini. Atau dengan kata lain, alam ini adalah refleksinya, sebab materi tersebut adalah di luar hakikat (reality), disebabkan oleh ketidaksempurnaannya, sedangkan alam abstrak semuanya adalah hakikat. Demikian pula halnya dengan alam ini, ia tidak mempunyai hakikat dan tidak sempurna. Hakikat dan kesempurnaan yang ada padanya hanyalah bayangan belaka, atau salinan dari alam abstrak.

Materi menjadi sebab ketidaksempurnaan dan kekurangan. Karenanya, ia merupakan mata rantai tertinggi dan puncaknya. Sinar yang keluar dari “Yang Esa” ini, dengan melalui akal dan jiwa, kemudian berangsur-angsur menjadi kegelapan pada alam materi. Hakikat yang ada pada pada “Yang Esa” berangsur-angsur juga menjadi ketiadaan hakikat (irreality). Demikian pula kebaikan “Yang Esa” berangsur-angsur menjadi keburukan. Maka, alam materi ini adalah kumpulan kegelapan, keburukan, dan ketiadaan hakikat. Pikiran Plotinus terhadap materi tersebut bertemu dengan pikiran Plato. Pada bukunya Timaeus, Plato mengatakan bahwa materi sebagai pihak yang berhadapan dengan akal, merupakan faktor kedua dalam kejadian alam ini. Materi ini menerima pengaruh dan menjadi tempat segala pengaruh. Bagi Plato, materi ini menjadi penjara bagi jiwa.

Plotinus menganggap ada materi lain yang terdapat di dalam alam abstrak, sedangkan alam lahir ini merupakan cermin (gambaran) dari alam abstrak. Maka, yang akhir ini pun materi pula, hanya saja materi terakhir ini tidak mengandung keburukan dan ketidakhakikatan, seperti yang terdapat dalam alam lahir. Pikiran Plotinus ini juga tidak terlepas dari Plato yang mengatakan bahwa alam lahir ini adalah gambaran (salinan) dari alam logos atau dari alam nonmateri.

Kritik terhadap Neoplatonisme
Pada abad ke-9, Abu Haran a Ash’ari, seorang teolog Irak, menjelaskan argumen bahwa alam semesta ini diatur oleh pengaturan langsung oleh Penyebab Awal atau Tuhan, seluruh kejadian-kejadian - dari yang paling kecil hingga yang paling besar - adalah menurut penciptaan-Nya, sepanjang waktu, Tuhan berada dalam kesibukan-Nya.

Pendapat ini juga didukung oleh filsuf Irak abad ke-11 lain yang terkenal, Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad al Ghazali. Dalam bukunya, Tahaafut al Falaasifah, yang dalam terjemahan Inggris berjudul The Inconherence of the Philosophers, Al Ghazali menyampaikan kritik pada filsafat Neoplatonisme yang mempengaruhi pemikiran Timur Tengah lainnya, seperti Al-Farabi dan Ibn Sina.  untuk menjawab pendapat para filsuf bahwa kejadian alam semesta ini akibat perbuatan ciptaan-Nya (termasuk hukum-hukumnya), Al-Ghazali menyatakan bahwa hal yang tampak sebagai kejadian yang teratur secara sebab-akibat sebenarnya tidak lepas dari perbuatan Tuhan secara terus-menerus.  jadi, tidak ada kejadian yang bebas (independent) dari perbuatan Tuhan. Posisi Tuhan tetap transeden, dengan kehendak yang dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kehendak-Nya dan kehendak-Nya pasti terjadi, seperti yang terjadi pada kejadian yang dilami oleh para Nabi (mukjizat).

Aristotelianisme

Aristotelianisme merupakan pandangan filsafat yang berasal dari Aristoteles (384-322 SM), yang dibandingkan dengan aliran Plato yang sebelumnya lebih bersifat realis. Pada mulanya gereja tidak mengindahkannya atau melawannya, namun kemudian etika, logika dan teori kausalitas serta pandangan Aristoteles mengenai jiwa manusia sebagai forma tubuh (tidak sama dengan Platonisme yang memandang tubuh sebagai penjara jiwa), besar pengaruhnya selama abad pertengahan, melalui dukungan para ahli filsafat Arab (Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina), Moses Maimonides (1135-1204) dan Thomas Aquinas (1255-1274). Thomas Aquinas mengembangkan bukti-bukti adanya Allah atas dasar pemikiran Aristoteles, tetapi juga merintis pandangan bahwa jiwa itu kodratnya tidak dapat mati, hal yang tampaknya ditolak dalam Aristotelianisme.

Arti dasar dari Aristotelianisme adalah aliran yang mengikuti ajaran Aristoteles. Meski demikian filsafat para pengikut Aristoteles tidak seluruhnya seragam. Untuk menunjuk para pengikut Aristoteles biasanya digunakan istilah netral “Aristotelian” dan bukan “paripatetik”. Alasannya, istilah yang belakangan bisa saja menimbulkan kesan keliru bahwa metode pengajaran Aristoteles adalah percakapan sambil jalan-jalan.

Sejarah Aristotelianisme
Aristoteles mendirikan sebuah sekolah, Lyceum, yang hidup selama 139 tahun (339 SM - 200 SM). Sekolah itu semula berfungsi sebagai pusat penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah tetap merupakan tema utama selama berdirinya, walau kadang-kadang perhatian pada ilmu dikalahkan oleh perhatian pada polemik dengan aliran-aliran filsafat yang lain dan monograf-monograf tentang sejarah filsafat. Sekolah ini mundur sejak pertengahan abad ke-3 SM. Aristotelianisme bangkit kembali di Aleksandria pada abad pertama SM. Gerakan ini berpusat sekitar Andronikos dari Rodi. Dia inilah yang menemukan kembali tulisan-tulisan Aristoteles yang hilang selama setahun. Tokoh penting lain ialah Ariston dari Aleksandria dan Nikolas dari Damaskus. Dalam arti umum, Ptolemaeus yang astronominya diterima selama 1400 tahun dan Galen yang analisis-analisis medisnya berlangsung cukup lama merupakan anggota mahzab tersebut.

Antara abad keempat dan ketujuh Masehi aliran Neoplatonisme di Athena dan Aleksandria sering mempelajari Aristoteles bersamaan dengan Plato. Dan malah sering ada anggapan bahwa dua sistem pemikiran itu cocok. Aristotelianisme dan Neoplatonisme cenderung berfungsi selama kurun waktu ini.

Tokoh terkemuka dalam filsafat Islam antara abad ke-9 dan abad ke -13 (yang berpusat pada penafsiran atas Aristoteles) adalah Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina. Filsuf Yahudi pengikut Aristoteles adalah Avicebron dan Maimonides.

Sintetis Abad Pertengahan (sejak abad 13) sebetulnya merupakan filsafat Aristoteles yang dimodifikasi oleh implikasi komitmen terhadap iman Kristiani, terutama melalui karya Albertus Agung dan Thomas Aquinas, ajaran ini berpengaruh besar di dalam pemikir Kristiani Barat, di mana, bagaimanapun, mengalami beberapa perubahan pokok karena kontaknya dengan iman Kristiani (skolastisisme).

Aliran Thomisme muncul dengan kukuh dari Abad Pertengahan dan hidup terus sampai sekarang, tetapi pandangan Thomas Aquinas bukanlah satu-satunya bentuk Aristotelianisme yang muncul dari Abad Pertengahan. Tak ketinggalan pula Scotisme, filsafat Duns Scotus, dan secara tidak langsung, filsafat Suarez yang lahir abad ke-16.

Pengetahuan
Aristoteles mendasarkan kebenaran pengetahuan manusia bukan pada dunia gagasan yang transeden terpilah dan terpisah dari hal-hal pengalaman sehari-hari seperti dalam Platonisme, melainkan pada forma (ide) yang termuat dalam benda-benda dan yang berhubungan dengan konsep-konsep manusia yang objektif dan nyata. Pengalaman inderawi dan abstraksi intelektual bekerja sama dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan manusia.

Metafisika
Filsafat pertama atau metafisika, yang merupakan ilmu mengenai yang-ada dan bentuk-bentuknya, adalah mahkota dari semua ilmu. Yang-ada yang kontingen, yang berubah-ubahyang tunduk kepada “menjadi” dan perubahan, tersusun dari prinsip potensial dan prinsip aktual yang disebut Aristoteles materi dan forma. “Menjadi” bukanlah awal dari sesuautu yang sama sekali baru yang tidak ada sebelumnya, melainkan perubahan esensial. Di sini materi, yang diduga merupakan bagian yang kekal, tak diciptakan, dapat menentukan, kehilangan bentuk esensial awalnya; dan di bawah pengaruh sebuah sebab efisien mendapat bentuk yang lain, determinasi formal yang baru (hal ini berkaitan dengan teori Aristoteles hilemorfisme).

Kosmologi dan Antropologi Filosofis
Terdapat sejumlah penjelasan yang bertentangan mengenai apa persis hakikat komponen-komponen ini khususnya tentang forma (bentuk) dan bagaimana bentuk ini berbeda dari ide Platonis. Forma (ide) adalah prinsip batiniah determinasi dan tujuan (tolos, entelechy). Ini menunjukkan khususnya prinsip-prinsip formal dalam benda-benda hidup: jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Jiwa manusia juga menjalankan fungsi-fungsi kehidupan vegetatif dan kehidupan hewani. Manusia memperoleh pengetahuan rohani bukan dengan menghasilkannya secara murni keluar dari dirinya sendiri, melainkan karena determinasi-determinasi yang sampai padanya melalui pancainderanya. Dalam proses ini, ia sama sekali tidak pasif melainkan bekerja melalui kekuatan intelek spontan yang kekal; ia tidak dihasilkan dengan kelahiran melainkan datang “dari luar”. Filsuf Arab menafsir teks Aristoteles yang tidak jelas sebagai monopsikisme. Mereka mengatakan bahwa terdapat satu intelek pelaku (agent intellect) yang berfungsi dalam semua manusia. Keempat, mengenai etika. Berhubungan dengan kehendak, Aristoteles mengajarkan bahwa manusia mempunyai kebebasan pilihan, tetapi ia tidak membuat suatu perbedaan tajam (jelas) antara kebebasan dan kerelaan. Dalam etikanya tujuan hidup manusia dilukiskan sebagai kebahagiaan yang dapat dicapai dalam kontemplasi (perenungan) tentang kebenaran.

Mengenai Allah
Allah dipandang sebagai pikiran murni (noesis noeseos = pikiran dari pikiran) dan penggerak pertama dari benda-benda langit.

Politik dan Masyarakat
Dalam politiknya ia juga mengajarkan bahwa keluarga dan negara, sebagai komunitas sosial, pada mulanya bersifat alami. Demikian pula ia menolak gagasan utopis Plato tentang isteri-isteri dan milik-milik umum dalam suatu negara ideal. Ajaran Aristoteles pada umumnya dikembangkan dalam suatu pertentangan alam pikiran antara gagasan-gagasannya sendiri dengan gagasan-gagasan dari para pendulunya, khususnya Plato.

Nov 29, 2019

Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd  Abu Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd‎; 1126 – 11 Desember 1198), sering dilatinkan sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dan pemikir dari Al-Andalus yang menulis dalam bidang disiplin ilmu, termasuk filsafat, akidah atau teologi Islam, kedokteran, astronomi, fisika, fikih atau hukum Islam, dan linguistik. Karya-karya filsafatnya termasuk banyak tafsir, parafrase, dan ringkasan karya-karya Aristoteles, yang membuatnya dijuluki oleh dunia barat sebagai "Sang Penafsir" (Bahasa Inggris: The Commentator). Ibnu Rusyd juga semasa hidupnya mengabdi sebagai hakim dan dokter istana untuk Kekhalifahan Muwahhidun.

Ibnu Rusyd lahir di Kordoba dari keluarga yang melahirkan hakim-hakim terkenal; kakeknya adalah qadhi al-qudhat (hakim kepala) dan ahli hukum terkenal di kota itu. Pada tahun 1169 ia bertemu dengan khalifah Abu Yaqub Yusuf, yang terkesan dengan pengetahuan Ibnu Rusyd. Sang khalifah kemudian mendukung Ibnu Rusyd dan banyak karya Ibnu Rusyd adalah proyek yang ditugaskannya. Ibnu Rusyd juga beberapa kali menjabat sebagai hakim di Sevilla dan Kordoba. Pada 1182, ia ditunjuk sebagai dokter istana dan hakim kepala di Kordoba. Setelah wafatnya Abu Yusuf pada tahun 1184, ia masih berhubungan baik dengan istana, hingga 1195 saat dia dikenai berbagai tuduhan dengan motif politik. Pengadilan lalu memutuskan bahwa ajarannya sesat dan Ibnu Rusyd diasingkan ke Lucena. Setelah beberapa tahun di pengasingan, istana memanggilnya bertugas kembali, tetapi tidak berlangsung lama karena Ibnu Rusyd wafat.

Ibnu Rusyd adalah pendukung ajaran filsafat Aristoteles (Aristotelianisme). Ia berusaha mengembalikan filsafat dunia Islam ke ajaran Aristoteles yang asli. Ia mengkritik corak Neoplatonisme yang terdapat pada filsafat pemikir-pemikir Islam sebelumnya seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang ia anggap menyimpang dari filsafat Aristoteles. Ia membela kegiatan berfilsafat dari kritik yang dilancarkan para ulama Asy'ariyah seperti Al-Ghazali. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa dalam agama Islam berfilsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk kalangan tertentu. Ia juga berpendapat bahwa teks Quran dan Hadis dapat diinterpretasikan secara tersirat atau kiasan jika teks tersebut terlihat bertentangan dengan kesimpulan yang ditemukan melalui akal dan filsafat. Dalam bidang fikih, ia menulis Bidayatul Mujtahid yang membahas perbedaan mazhab dalam hukum Islam. Dalam kedokteran, ia menghasilkan gagagan baru mengenai fungsi retina dalam penglihatan, penyebab strok, dan gejala-gejala penyakit Parkinson, serta menulis buku yang kelak diterjemahkan menjadi sebuah buku teks standar di Eropa.

Pengaruh Ibnu Rusyd ke dunia Barat jauh lebih besar dibanding dunia Islam. Ibnu Rusyd menulis banyak tafsir terhadap karya-karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin dan beredar di Eropa. Terjemahan karya-karya Ibnu Rusyd memicu para pemikir Eropa Barat untuk kembali mengkaji karya-karya Aristoteles dan pemikir Yunani lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya kekaisaran Romawi. Pendapat-pendapat Ibnu Rusyd juga menimbulkan kontroversi di dunia Kristen Latin, dan menginspirasi sebuah gerakan filsafat yang disebut Averroisme. Salah satu doktrinnya yang kontroversial di dunia Barat adalah teori yang disebut "kesatuan akal" (unitas intellectus dalam bahasa Latin), yang menyatakan bahwa semua manusia bersama-sama memiliki satu akal atau "intelek". Karya-karyanya dinyatakan sesat oleh Gereja Katolik Roma pada tahun 1270 dan 1277, dan pemikir Kristen Thomas Aquinas menulis kritik-kritik tajam terhadap doktrin Ibnu Rusyd. Sekalipun demikian, Averroisme tetap memiliki pengikut di dunia Barat hingga abad ke-16.

Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd lahir pada tahun 1126 M/520 H di Kordoba, yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Murabithun.  Keluarga Ibnu Rusyd dikenal sebagai tokoh masyarakat di Kordoba, terutama atas peran mereka dalam bidang hukum dan agama.  Kakek Ibnu Rusyd, yang juga bernama Abu al-Walid Muhammad (wafat 1126) menjabat qadhi al-qudhat (hakim kepala) di kota tersebut, dan juga merupakan imam Masjid Agung Kordoba. Ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad, juga menjabat sebagai kadi atau hakim pada masa kekuasaan Murabithun, hingga Kordoba jatuh ke tangan Kekhalifahan Muwahidun.

Menurut biografi-biografi klasik, Ibnu Rusyd menerima pendidikan yang istimewa, dimulai dari pelajaran ilmu Hadis, fikih (hukum Islam), kedokteran maupun ilmu akidah (teologi Islam). Guru fikihnya adalah Al-Hafiz Abu Muhammad ibn Rizq yang bermazhab Maliki dan guru hadisnya adalah Ibnu Basykuwal, yang merupakan murid dari kakeknya.  Ia juga belajar fikih dari ayahnya, yang mengajarkannya kitab Muwatta karya Imam Malik, buku teks Maliki yang paling terkenal, yang kemudian dihafalkan oleh Ibnu Rusyd. Guru kedokterannya adalah Abu Jafar Jarim at-Tajail, yang kemungkinan juga mengajarkannya ilmu filsafat. Ia juga mempelajari karya-karya dari Ibnu Bajjah (juga dikenal dengan nama Avempace) yang mungkin juga merupakan salah satu gurunya.  Ia mengikuti pertemuan rutin para filsuf, dokter dan sastrawan di kota Sevilla, yang juga dihadiri oleh filsuf Ibnu Thufail dan Ibnu Zuhri serta Abu Yusuf Yaqub yang kelak akan menjadi khalifah. Ibnu Rusyd muda juga mempelajari akidah atau teologi kalam dari Mazhab Asy'ariyah, walaupun kelak ia akan mengkritik mazhab ini.  Menurut penulis abad ke-13 Ibnu al-Abbar, Ibnu Rusyd lebih tertarik dengan ilmu hukum dan ushul fiqh (kaidah-kaidah hukum) dibanding ilmu hadis dan sunnah.  Salah satu spesialisasi yang ditekuninya adalah masalah ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam hukum Islam.  Ibnu Al-Abbar juga menyebutkan ketertarikan Ibnu Rusyd muda pada "ilmu-ilmu orang terdahulu" (al-'ulum al-awa'il), yang kemungkinan maksudnya adalah ilmu alam dan filsafat yang dikembangkan para ilmuwan Yunani.

Karier

Pada tahun 1147, gerakan Muwahhidun yang dipimpin oleh Ibnu Tumart (yang menyebut dirinya sebagai al-Mahdi) menggulingkan kekuasaan Murabithun di ibukota Marrakesh, dan tak lama kemudian Al-Andalus juga jatuh ke tangan Muwahhidun. Setelah berkuasa, gerakan Muwahhidun mendeklarasikan sebuah kekhalifahan. Selain dikenal dengan misinya untuk memurnikan ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, Ibnu Tumart dan para pemimpin Muwahhidun juga ingin agar masyarakat umum lebih mengenal syariah atau hukum Islam. Bersamaan dengan ini, pemerintahan Muwahhidun banyak menggalakkan berbagai bidang ilmu seperti filsafat, fikih dan akidah.

Pada tahun 1153, Ibnu Rusyd melakukan pengamatan astronomi di Marrakesh dan membantu pembangunan perguruan-perguruan tinggi yang sedang dilakukan pemerintah.  Ia berusaha mencari hukum-hukum fisika yang mengendalikan pergerakan benda-benda langit, tetapi penelitian ini tidak berhasil. Pada saat itu ia kemungkinan pertama kali bertemu dengan Ibnu Thufail, filsuf terkenal dan penulis novel Hayy ibn Yaqzhan, yang saat itu menjabat sebagai dokter istana.  Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail kelak berteman, walaupun mereka kadang berselisih dalam masalah filsafat.

Pada tahun 1169, Ibnu Thufail memperkenalkan Ibnu Rusyd kepada Khalifah Abu Yaqub Yusuf.  Menurut laporan sejarawan Abdulwahid al-Marakisyi, pada pertemuan ini sang khalifah bertanya kepada Ibnu Rusyd apakah langit selalu ada sejak dahulu (qadim) atau memiliki awal mula (hadits). Ketika itu, topik ini adalah topik kontroversial dan Ibnu Rusyd awalnya tidak menjawab karena takut memancing bahaya dan kontroversi.  Sang khalifah lalu mengemukakan pendapat Plato, Aristoteles, dan para filsuf Muslim tentang topik ini dan mendiskusikannya dengan Ibnu Thufail. Melihat sang khalifah juga suka berfilsafat, Ibnu Rusyd menjadi tenang dan mengemukakan pendapatnya. Sang khalifah terkesan dengan pendapat Ibnu Rusyd, dan begitupun Ibnu Rusyd juga terkesan dengan pengetahuan sang khalifah dan kelak mengatakan bahwa Khalifah Abu Yaqub Yusuf memiliki "pengetahuan berlimpah yang tak saya duga".

Sejak perkenalan ini, Ibnu Rusyd memiliki hubungan baik dengan Abu Yaqub Yusuf hingga khalifah tersebut wafat.  Ketika sang khalifah mengeluh ke Ibnu Thufail bahwa karya-karya Aristoteles terlalu susah dimenegerti, Ibnu Thufail menyarankan agar Ibnu Rusyd ditugaskan untuk menerangkannya. Inilah awal dari proyek besar Ibnu Rusyd menulis tafsir karya-karya Aristoteles. Pada tahun 1169, Ibnu Rusyd menulis tafsir Aristoteles pertamanya.

Pada tahun yang sama, Ibnu Rusyd diangkat sebagai kadi di Sevilla. Dua tahun kemudian, ia menjadi kadi di Kordoba, kota kelahirannya. Tugasnya sebagai kadi adalah memutuskan kasus pengadilan dan memberikan fatwa atau pendapat hukum sesuai hukum Islam.  Pada saat itu ia semakin aktif menulis, walaupun tugasnya semakin banyak dan mengharuskannya melakukan banyak perjalanan. Kesempatan mengunjungi berbagai tempat ia gunakan untuk melakukan penelitian astronomi. Antara 1169 dan 1179, banyak karyanya yang tercantum keterangan ditulis di Sevilla.  Pada tahun 1179 ia kembali menjabat sebagai kadi di Sevilla. Pada tahun 1182 ia diangkat menjadi dokter istana untuk menggantikan Ibnu Thufail yang telah pensiun. Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai hakim kepala di Kordoba, jabatan bergengsi yang sebelumnya pernah dipegang oleh kakeknya.

Pada tahun 1184, Khalifah Abu Yaqub wafat dan digantikan oleh Abu Yusuf Yaqub al-Mansur. Awalnya Ibnu Rusyd tetap memiliki hubungan baik dengan istana, dan tetap menjabat sebagai dokter istana tetapi pada 1195 situasinya berubah. Ia mendapat berbagai tuduhan, termasuk tuduhan mengajarkan aliran sesat, dan ia harus menghadapi pengadilan di Kordoba. Pengadilan memutuskan Ibnu Rusyd bersalah, menyatakan ajarannya sesat dan memerintahkan agar tulisan-tulisannya dibakar. Ibnu Rusyd diasingkan ke kota kecil Lucena, sebuah permukiman Yahudi yang berada di sekitar Kordoba. Biografi-biografi klasik menyebutkan berbagai sebab memburuknya situasi Ibnu Rusyd ini, salah satunya karena Ibnu Rusyd dianggap menghina khalifah dalam tulisannya. Namun para sejarawan modern menganggap bahwa perlakuan keras terhadap Ibnu Rusyd ini bermotif politik. Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa khalifah berusaha menjauhkan dirinya dari Ibnu Rusyd untuk mendapat simpati dan dukungan dari para ulama tradisional yang banyak menentang ajaran Ibnu Rusyd. Pada saat itu, khalifah sedang butuh dukungan para ulama untuk melancarkan perang melawan kerajaan-kerajaan Kristen.  Sejarawan Majid Fakhry menulis bahwa banyak fukaha atau ahli fikih tradisional pada saat itu menentang Ibnu Rusyd dan menekan sang khalifah.

Setelah beberapa tahun, Ibnu Rusyd kembali didukung khalifah dan ia bertugas lagi di istana kekhalifahan. Namun tak lama kemudian ia meninggal pada tanggal 11 Desember 1198 (atau 5 Safar 595 H). Awalnya ia dikuburkan di Maroko, tetapi kemudian jenazahnya dipindahkan ke Kordoba.  Pemakamannya di Kordoba dihadiri oleh Ibnu Arabi (1165–1240) yang kelak akan menjadi tokoh sufi terkemuka.

Ibnu Rusyd adalah penulis yang amat produktif dan tulisan-tulisannya mencakup banyak topik. Menurut Fakhry, karyanya "mencakup lebih banyak bidang ilmu" dibanding para pendahulunya di Dunia Timur. Bidang-bidang ilmu yang ia bahas di antaranya filsafat, kedokteran, teori hukum, serta linguistik. Kebanyakan tulisannya adalah tafsir atau uraian terhadap karya-karya Aristoteles, yang juga sering mengandung pemikiran baru dari Ibnu Rusyd sendiri.  Menurut penulis Prancis Ernest Renan, selain tafsir-tafsir Aristoteles dan Plato Ibnu Rusyd menulis sedikitnya 67 buku yang merupakan karya baru (bukan tafsir), termasuk 28 buku mengenai filsafat, 20 buku mengenai kedokteran, 8 buku mengenai hukum, 5 buku mengenai teologi atau akidah, 4 buku mengenai tata bahasa, dan 2 buku mengenai astronomi. Teks asli dari banyak karya Ibnu Rusyd yang berbahasa Arab telah hilang, dan yang masih ada hanyalah terjemahannya dalam bahasa Latin atau Ibrani.

Tafsir Aristoteles

Ibnu Rusyd menulis tafsir atau uraian pada hampir semua karya Aristoteles yang ada pada masa hidupnya. Yang tidak ia tulis tafsirnya hanya Politika, karena ia tidak bisa mendapatkan buku tersebut, dan ia menggantinya dengan menulis tafsir buku Republik karya Plato.  Ia membagi karya-karya ini menjadi tiga tipe, dan sekarang para pakar menyebutnya "tafsir panjang", "tafsir menengah" dan "tafsir pendek" (long, middle dan short commentary dalam bahasa Inggris). Tipe yang terpendek, disebut jami' dalam bahasa Arab, berisi ringkasan doktrin-doktrin Aristoteles, dan kebanyakan ditulis pada awal karier Ibnu Rusyd. Yang menengah (disebut talkhis) berisi parafrase atau uraian yang gunanya untuk memperjelas dan menyederhanakan bahasa dalam buku-buku Aristoteles. Tafsir menengah ini kemungkinan ditulis setelah Khalifah Abu Yaqub Yusuf mengeluh bahwa buku-buku Aristoteles rumit dan susah dibaca, dan Ibnu Rusyd ingin membantu sang khalifah dan orang-orang lain yang memiliki masalah yang sama. Tafsir panjang (disebut tafsir atau syarh dalam bahasa Arab) adalah tafsir baris per baris, yang berisi teks asli Aristoteles ditambah analisis rinci di tiap baris. Tafsir panjang ini berisi banyak pemikiran asli Ibnu Rusyd, dan kemungkinan besar bukan ditujukan untuk khalayak umum tetapi hanya untuk para pakar dan peminat Aristoteles. Untuk kebanyakan buku Aristoteles, Ibnu Rusyd hanya menulis satu atau dua dari tiga tipe tafsir ini. Namun untuk lima buku: Fisika, Metafisika, De Anima ("Mengenai Jiwa"), De Caelo ("Mengenai Langit"), dan Analytica Posteriora ia menulis ketiga tipe tafsirnya.

Makalah filsafat
Ibnu Rusyd juga menulis makalah-makalah (Bahasa Arab: tunggal maqalah, jamak maqālāt) dalam berbagai topik filsafat, di antaranya tentang akal atau intelek, waktu, dan benda-benda langit (yang ketika itu termasuk topik filsafat). Ia juga menulis beberapa makalah polemik atau perdebatan, termasuk mengkritik Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali dalam beberapa topik.

Teologi
Ibnu Rusyd juga menulis karya bertopik akidah atau teologi. Sumber-sumber akademis seperti Fakhry dan buku Encyclopedia of Islam menyebut tiga di antara karya Ibnu Rusyd yang dianggap mengandung inti pemikiran Ibnu Rusyd dalam topik ini. Yang pertama adalah Fashl al-Maqal fi ma baina al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal, sebuah tulisan yang mengajukan kesesuaian antara filsafat dan syariat Islam. Ia juga menulis Al-Kasyf 'an Manahij al-'Adillah ("Penjelasan Metode Pembukitan") yang berisi argumen Ibnu Rusyd untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah), pendapat Ibnu Rusyd mengenai sifat-sifat dan perbuatan-Nya, dan juga beberapa kritik terhadap ajaran akidah Asy'ariyah. Selain itu, karya utamanya dalam bidang ini adalah kitab Tahafut at-Tahafut ("Kerancuan dari Kerancuan") yang merupakan balasan terhadap kitab terkenal Tahafut al-Falasifah ("Kerancuan para Filsuf") karya Al-Ghazali. Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali mengkritik ilmu filsafat (terutama yang dibawakan Ibnu Sina) yang ia anggap tidak sesuai dengan akidah Islam.  Al-Ghazali sendiri hidup pada tahun 1058–1111 dan telah wafat sebelum kelahiran Ibnu Rusyd, tetapi bukunya masih sangat berpengaruh pada masa Ibnu Rusyd. Tahafut karya Ibnu Rusyd mencoba membalas kritik Al-Ghazali dengan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan Ibnu Rusyd di karya-karyanya sebelumnya. Selain membalas kritik, kitab ini juga mengkritik Ibnu Sina dan filsafatnya yang bercorak Neoplatonisme, bahkan kadang ia setuju dengan kritik Al-Ghazali terhadap Ibnu Sina.

Kedokteran

Ibnu Rusyd yang pernah menjabat sebagai dokter istana khalifah, menulis beberapa buku di bidang kedokteran. Yang paling terkenal berjudul al-Kulliyah fit-Thibb ("Prinsip Umum Kedokteran") yang ditulis kr. 1162, sebelum ia menjabat di istana.  Buku ini terdiri dari 7 jilid, yang berturut-turut membahas soal anatomi, fisiologi, patologi umum, diagnosis, obat-obatan, kebersihan, dan pengobatan umum. Kelak buku ini diterjemahkan dalam Bahasa Latin (judulnya berubah menjadi Colliget) dan menjadi salah satu buku teks kedokteran di Eropa selama berabad-abad.  Bersama Ibnu Zuhr, ia mengarang Al-Umur Al-Juz'iyyah, sehingga menurut Ibnu Abu Ushaybi'ah, karya bersama mereka menjadi sebuah karya lengkap tentang seni pengobatan. Ia juga menulis ringkasan karya-karya dokter Yunani Galenus (wafat kr. 210) dan uraian terhadap karya Ibnu Sina Urjuzah fit-Thibb ("Puisi Mengenai Kedokteran"),

Hukum

Ibnu Rusyd juga adalah seorang hakim dan menulis beberapa buku di bidang fikih atau hukum Islam, termasuk ushul fiqh yang membahas kaidah-kaidah atau teori hukum. Satu-satunya karyanya yang masih ada teksnya sampai sekarang adalah buku Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid ("Permulaan Seorang Mujtahid dan Akhir Seorang Muqtashid").  Buku ini bertopik fikih perbandingan atau ikhtilaf, yaitu perbedaan-perbedaan dalam hukum Islam.  Ia menjelaskan perbedaan antara mazhab-mazhab Sunni, baik dari segi ushul (teori dan kaidah) maupun dalam praktiknya.  Ibnu Rusyd adalah pengikut mazhab Maliki, tetapi buku ini juga membahas mazhab-mazhab lain, serta pendapat-pendapat yang beragam termasuk ulama konservatif dan liberal. Selain buku ini, pada daftar-daftar pustaka juga disebutkan karya-karya lain yang teksnya sudah tidak ditemukan lagi. Di antaranya adalah rangkuman dari Al-Mustashfa min 'ilm al-Ushul, sebuah buku ushul fiqh karya Al-Ghazali serta buku-buku kecil tentang Qurban dan pajak terhadap tanah.

Gagasan filsafat dan ilmu agama

Filsafat Aristoteles dalam tradisi pemikiran Islam
Dalam tulisan-tulisan filsafatnya, Ibnu Rusyd berusaha mengembalikan Aristotelianisme ke jalur utama pemikiran di dunia Islam. Menurutnya, filsafat Aristoteles telah disalahartikan oleh pemikir-pemikir Muslim sebelumnya yang terpengaruh filsafat Neoplatonisme, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Ia menolak gagasan-gagasan Al-Farabi yang menggabungkan filsafat Plato dan Aristoteles, dan Ibnu Rusyd merujuk pada perbedaan antara kedua filsuf Yunani tersebut, di antaranya penolakan Aristoteles terhadap teori ide yang diajukan Plato.  Ia juga mengkritik karya-karya Al-Farabi mengenai logika karena dianggap menyalahartikan sumber-sumbernya yang berasal dari Aristoteles. Ia juga panjang lebar mengkritik Ibnu Sina, yang merupakan tokoh utama Neoplatonisme di dunia Islam abad pertengahan.  Ia berpendapat bahwa teori Ibnu Sina mengenai emanasi (faydh) memiliki banyak kesalahan dan tidak berasal dari Aristoteles.  Ibnu Rusyd tidak setuju dengan pendapat Ibnu Sina bahwa keberadaan (wujud) hanyalah aksiden ('ard) dari esensi (dzat).  Ibnu Rusyd berpendapat sebaliknya, bahwa sesuatu ada terlebih dahulu, dan esensi hanyalah sesuatu yang diabstraksikan dari hal yang telah ada tersebut.  Ia juga menolak teori modalitas Ibnu Sina serta argumen Burhan ash-Shiddiqin yang diajukan Ibnu Sina untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah) sebagai sesuatu yang Wajib Ada (wajib al-wujud).

Hubungan antara Islam dan filsafat

Pada masa Ibnu Rusyd, filsafat banyak diserang oleh para ulama Sunni, terutama dari mazhab-mazhab teologi seperti mazhab teologi Hanbali dan Asy'ariyah.  Al-Ghazali, ulama terkemuka yang bermazhab Asy'ariyah, menulis Tahafut al-Falasifah ("Kerancuan para Filsuf"), buku yang sangat berpengaruh dan berisi kritik pedas terhadap tradisi filsafat terutama filsafat bercorak Neoplatonisme di dunia Islam, terutama terhadap karya dan pemikiran Ibnu Sina. Al-Ghazali berpendapat bahwa beberapa teori para filsuf bertentangan dengan ajaran Islam dan merupakan bentuk kekafiran, dan juga berusaha membuktikan kesalahan teori-teori tersebut dengan argumen logika. Dalam buku Tahafut at-Tahafut itu sendiri, ada 20 persoalan yang dicermati Ibnu Rusyd yang dijadikan pangkal kritik Al-Ghazali.

Dalam buku Fashl al-Maqal, Ibnu Rusyd memaparkan bahwa filsafat yang merupakan metode mengambil kesimpulan berdasarkan akal dan cara yang cermat—tidak mungkin bertentangan dengan ajaran Islam.  Keduanya hanyalah dua cara untuk memperoleh kebenaran yang sama, dan "kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran".   Ketika kesimpulan yang didapat dari filsafat terlihat bertentangan dengan teks kitab suci agama Islam, menurut Ibnu Rusyd teks tersebut harus ditafsirkan ulang atau diartikan secara kiasan sehingga tidak lagi bertentangan.  Penafsiran ini haruslah dilakukan oleh "orang yang berakal" (ulil albab), istilah yang ia kutip dari Quran Surat 3:7. Menurut Ibnu Rusyd, pada masanya para filsuflah yang menyandang status ini karena mereka menguasai metode tertinggi dalam ilmu pengetahuan.  Ia juga berpendapat bahwa Al-Qur'an menganjurkan umat Islam untuk mempelajari filsafat, karena mempelajari alam akan mendekatkan seseorang dengan Sang Pencipta. Ia mengutip beberapa ayat Al-Quran yang menyerukan umat Islam untuk mempelajari alam sekitar (misalnya QS 59:2 dan 88:17-18) dan kemudian memberikan fatwa (pendapat hukum) bahwa filsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk mempelajarinya.

Ibnu Rusyd juga membedakan tiga metode membuktikan kebenaran. Yang pertama adalah metode retorika (khatab), yaitu melalui kepandaian menggunakan kata-kata, yang dapat dipahami oleh kebanyakan orang awam. Metode kedua adalah dialektika (jidāl), yaitu melalui argumen dan perdebatan, yang dilakukan oleh para ulama mutakallimun[c] pada zaman Ibnu Rusyd. Metode ketiga adalah metode demonstratif (burhan) atau melalui pembuktian dengan kaidah-kaidah logika. Menurut Ibnu Rusyd, Al-Qur'an menggunakan metode retorika untuk menyerukan manusia pada kebenaran, karena Al-Qur'an ditujukan kepada semua orang termasuk orang awam. Sedangkan filsafat menggunakan metode demonstratif yang hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang berilmu, tetapi dapat menghasilkan pengetahuan dan pengertian yang lebih baik bagi orang yang mampu

Ibnu Rusyd juga berusaha menjawab kritik Al-Ghazali terhadap filsafat dengan menunjukkan bahwa kritik-kritik tersebut hanya spesifik menyangkut filsafat Ibnu Sina, dan bukan filsafat Aristoteles, Menurut Ibnu Rusyd, filsafat Aristoteles adalah filsafat paling asli dan benar, dan Ibnu Sina telah menyimpang darinya.

Bukti keberadaan Tuhan

Ibnu Rusyd menulis mengenai bukti keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya di dalam bukunya Kitab al-Kasyf 'an Manahij al-Adillah ("Buku Pengungkapan Cara-Cara Pembuktian").  Ia meneliti dan mengkritik doktrin-doktrin berbagai kelompok dalam Islam: Kelompok Asy'ariyah, Mu'tazilah, Sufi, dan "Hasyawiyah" (para literalis). Ia juga menguji dan mengkritik masing-masing bukti-bukti yang mereka ajukan untuk keberadaan Tuhan. Menurut Ibnu Rusyd, ada dua dalil atau argumen untuk keberadaan Tuhan yang ia anggap sahih secara logika dan sesuai dengan Al-Quran, yaitu argumen inayah ("pemberian [Tuhan]") dan ikhtira' ("penciptaan"). Dalam argumen pemberian, ia berpendapat bahwa dunia dan alam semesta terlihat diatur untuk kehidupan dan kemakmuran manusia. Ia memberi contoh matahari, bulan, sungai-sungai, lautan, dan planet bumi, yang semuanya mendukung kehidupan manusia dan menunjukkan adanya Sang Pencipta yang sengaja mengaturnya demikian. Dalam argumen penciptaan, ia berargumen bahwa hal-hal yang ditemukan di dunia, seperti hewan dan tumbuhan, memiliki bentuk dan struktur yang merupakan hasil penciptaan. Hal ini menunjukkan adanya Sang Pencipta yang merancangnya.  Kedua argumen yang diajukan Ibnu Rusyd ini merupakan argumen teleologis, berbeda dengan argumen Aristoteles maupun kebanyakan ulama Muslim pada masa itu yang cenderung menggunakan argumen kosmologis untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Sifat-sifat Tuhan

Ibnu Rusyd menjunjung doktrin tauhid atau keesaan Tuhan dan menyebutkan 7 sifat-sifat Tuhan (Allah): mengetahui, hidup, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berfirman—sifat-sifat ini juga sesuai dengan pendapat ulama-ulama pada masa itu. Di antara tujuh sifat ini, ia paling banyak membahas sifat mengetahui ('ilm), dan berpendapat bahwa pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia: Tuhan mengetahui alam semesta karena Ia adalah sebab dari segala sesuatu, sedangkan manusia mengetahui hal-hal di alam semesta hanya dari akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Ibnu Rusyd lalu melanjutkan bahwa Tuhan dapat disimpulkan bersifat hidup karena hidup adalah prasyarat untuk mengetahui, dan juga karena Tuhan menyebabkan benda-benda menjadi ada. ibnu Rusyd menyimpulkan Tuhan bersifat berkuasa karena Ia mampu menciptakan. Selanjutnya, karena Tuhan bersifat mengetahui dan berkuasa, menurut Ibnu Rusyd sudah tentu Tuhan juga dapat berfirman. Mengenai sifat melihat dan mendengar, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa karena Tuhan menciptakan dunia, Ia mengetahui seluruh bagian dunia tersebut dengan jelas sebagaimana seorang seniman mengetahui karya ciptaannya. Karena mendengar dan melihat adalah dua cara untuk mengetahui alam semesta, Tuhan sebagai pencipta pastilah memiliki dua sifat tersebut.

Qadimnya alam semesta

Pada beberapa abad sebelumnya, terjadi perdebatan di kalangan cendekiawan Muslim tentang apakah alam semesta selalu ada sejak dahulu (qadim) atau memiliki awal mula (hadits). Pemikir bercorak Neoplatonisme seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina berpendapat bahwa alam semesta selalu ada. Pendapat ini ditolak oleh ulama dan filsuf dari golongan Asy'ariyah. Contohnya, Al-Ghazali menolak pendapat bahwa alam semesta selalu ada dan menyatakan orang yang berpendapat demikian adalah kafir lewat karyanya Tahafut al-Falasifahnya.

Ibnu Rusyd menjawab Al-Ghazali di Tahafut at-Tahafutnya. Pertama, ia menyatakan bahwa perbedaan antara dua kubu ini tidak terlalu besar dan tidak seharusnya berakibat tuduhan kafir. Ia menyatakan bahwa doktrin Ibnu Sina dan Al-Farabi belum tentu bertentangan dengan Al-Quran. Ia menyebutkan ayat-ayat Al-Quran seperti 11:7, 41:11, 65:48 yang menyebutkan 'Arsy, air dan asap yang telah ada sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Menurut penafsiran Ibnu Rusyd, alam semesta selalu ada, dan saat Allah melakukan penciptaan, Ia memberi bentuk kepada zat-zat yang sudah ada. Ibnu Rusyd juga mengkritik ulama yang menafsirkan ayat-ayat tentang penciptaan, topik yang seharusnya merupakan ranah para filsuf.

Politik

Ibnu Rusyd menyampaikan filsafat politiknya di tafsirnya terhadap buku Republik karya Plato (gambar).
Ibnu Rusyd menyampaikan filsafat politiknya di tafsirnya terhadap karya Plato Republik.  Ia menggabungkan gagasannya sendiri dengan gagasan Plato dan dengan ajaran Islam. Menurut Ibnu Rusyd, negara yang ideal adalah negara yang berlandaskan hukum-hukum Islam atau syariah. Seperti Al-Farabi, ia menafsirkan konsep "filsuf raja" yang diajukan Plato sebagai seorang imam, khalifah, dan pembuat hukum di negara yang ia pimpin. Sifat-sifat seorang filsuf raja yang dijelaskan Ibnu Rusyd mirip dengan penjelasan Al-Farabi, yaitu ia harus mencintai ilmu, memiliki hafalan yang baik, suka belajar, suka kebenaran, tidak suka kenikmatan duniawi, tidak suka menumpuk harta, berhati besar, berani, sabar, pintar berbicara dan ahli dalam menerapkan silogisme.  Ibnu Rusyd menyatakan, sekalipun saat para filsuf tidak bisa berkuasa—ia memberikan contoh pada zaman dinasti Murabithun dan Muwahidun saat ia hidup—para filsuf tetap harus berusaha memengaruhi para penguasa ke arah negara yang ideal.

Menurut Ibnu Rusyd, ada dua cara untuk mengajarkan kebaikan kepada warga, yaitu dengan ajakan dan paksaan. Ajakan adalah cara yang lebih normal, yaitu dengan menggunakan metode retorika, dialektika, dan demonstrasi. Namun kadang cara paksaan terpaksa dipakai untuk orang-orang yang tidak mau menerima ajakan, misalnya kepada musuh negara.  Menurut Ibnu Rusyd, perang hanya boleh digunakan sebagai jalan terakhir, sebagaimana diajarkan Al-Quran. Ia juga berpendapat seorang penguasa harus memiliki baik kebijaksanaan maupun keberanian, karena keduanya diperlukan dalam pemerintahan dan pertahanan negara.

Seperti Plato, Ibnu Rusyd berpendapat bahwa wanita harus juga berperan dalam pemerintahan negara, baik sebagai tentara, filsuf atau penguasa. Ia menyesalkan bahwa negara-negara Islam pada zamannya berusaha membatasi peran wanita, menurut Ibnu Rusyd pembatasan ini berakibat buruk untuk kemakmuran negara.  Ia menganjurkan kesetaraan wanita dan pria baik dalam urusan perang maupun damai, dan mencontohkan adanya prajurit-prajurit wanita dalam bangsa Yunani, Arab, dan Afrika.

Ibnu Rusyd menerima gagasan Plato tentang adanya proses-proses yang dapat merusak negara ideal. Ia memberi contoh dari sejarah Islam, bahwa Kekhalifahan Rasyidin—yang menurut ajaran Muslim Sunni merupakan negara ideal—berubah menjadi sistem kerajaan di bawah Muawiyah dan Dinasti Umayyah. Ia juga menyatakan bahwa negara Murabithun dan Muwahidun berawal dari negara yang ideal dan berbasis syariah, tetapi berubah menjadi negara bersistem timokrasi, oligarki, demokrasi dan tirani.

Hukum Islam
Dalam pekerjaannya sebagai hakim dan ahli hukum, Ibnu Rusyd kebanyakan mengikuti Mazhab Maliki yang merupakan mazhab dominan di daerah Spanyol dan Maghrib. Salah satu sumbangan besarnya terhadap pemikiran hukum Islam adalah penjelasannya di buku Bidayat al-Mujtahid mengenai perbedaan mazhab dalam hukum Islam, khususnya pembahasan sistematis mengenai prinsip dan sebab-sebab yang mendasari perbedaan tersebut, sesuatu yang jarang dilakukan pada saat itu.  Menurutnya, perbedaan pendapat dalam hukum Islam bukan hanya wajar, tapi tidak dapat dihindarkan. Sekalipun mazhab-mazhab hukum Islam sama-sama berdasar pada Al-Qur'an dan Hadis, selalu ada sebab-sebab perbedaan (al-asbab al-lati awjabat al-ikhtilaf). Contohnya adalah perbedaan dalam memahami atau menafsirkan bahasa, atau perbedaan mengenai bagaimana dan pada masalah apa metode analogi atau kias dapat digunakan

Ilmu-ilmu alam

Astronomi
Seperti Ibnu Bajjah dan Ibnu Thufail sebelumnya, Ibnu Rusyd juga mengkritik Model Ptolemaik dengan berdasarkan filsafat. Ketiga pemikir Al-Andalus ini menganggap model Ptolemaik tidak sesuai dengan prinsip-prinsip filsafat Aristoteles yang menyimpulkan bahwa benda-benda langit tersebut mengitari bumi dengan orbit lingkaran sempurna. Mereka mengkritik konsep episiklus atau "lingkaran dalam lingkaran" yang digunakan oleh model Ptolemaik untuk menjelaskan keanehan pergerakan bulan, matahari dan planet-planet. Ia membagi gerakan planet-planet menjadi tiga: gerakan yang bisa dilihat dengan mata, gerakan yang baru bisa dilihat dengan peralatan astronomi, dan gerakan yang hanya bisa diketahui dengan mempelajari filsafat. Ibnu Rusyd berusaha mereformasi ilmu astronomi supaya memiliki dasar fisika; pada saat itu praktik astronomi di dunia Islam banyak didasari rumus-rumus matematika saja tanpa dasar fisika. Pada masa tuanya ia mengakui bahwa upaya reformasinya ini gagal.

Fisika
Pendekatan Ibnu Rusyd terhadap fisika adalah menggunakan metode eksegesis atau penafsiran: ia mengeluarkan tesis-tesis baru mengenai alam melalui pembahasan teks-teks pemikir sebelumnya, terutama Aristoteles.  Ia tidak menggunakan metode induksi seperti halnya ilmu fisika sekarang dan ketika itu sedang dikembangkan oleh Al-Biruni di dunia Islam.  Karena metodenya ini, Ibnu Rusyd sering digambarkan hanya sebagai pengikut Aristoteles yang tidak banyak bersumbangsih di bidang fisika. Namun sejarawan ilmu pengetahuan Ruth Glasner berpendapat bahwa Ibnu Rusyd sebenarnya juga menghasilkan teori-teori baru di bidang fisika, terutama penjelasannya mengenai teori minima naturalia Aristoteles dan teori geraknya yang menggunakan konsep forma fluens. Kedua teori ini kemudian diserap oleh para pemikir Barat dan memiliki andil dalam sejarah perkembangan ilmu fisika. Ibnu Rusyd juga mengajukan sebuah pengertian gaya yang mendekati pengertian daya dalam ilmu fisika modern.

Psikologi

Ibnu Rusyd menjabarkan pemikirannya di bidang psikologi dalam tiga tafsirnya mengenai karya Aristoteles De Anima ("Mengenai Jiwa").  Ibnu Rusyd berusaha menjelaskan akal manusia dengan metode filsafat dan dengan menafsirkan gagasan-gagasan Aristoteles.  Posisi yang ia ambil berubah-ubah sepanjang kariernya seiring perkembangan intelektualnya. Pada tafsirnya yang pertama (disebut "tafsir pendek"), ia mengikuti teori Ibnu Bajjah bahwa sesuatu yang disebut "akal material" menyimpan bayangan dari hal-hal yang dialami seseorang.  Bayangan-bayangan spesifik tentang suatu konsep menjadi dasar "penyatuan" akal material dengan "akal agen" yang bersifat universal. Ketika penyatuan ini terjadi, orang tersebut akan memiliki pengetahuan umum tentang konsep tersebut.

Pada tafsirnya yang kedua atau menengah, Ibnu Rusyd mengajukan teori yang lebih dekat dengan gagasan Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan menyebutkan bahwa akal agen memberi manusia kemampuan untuk memiliki pengetahuan umum terhadap suatu konsep. Saat seseorang telah memiliki pengalaman yang cukup tentang suatu konsep, kemampuan ini menjadi aktif dan orang tersebut dikatakan memiliki pengetahuan umum (lihat logika induktif)

Pada tafsirnya yang terakhir dan terpanjang, ia mengajukan teori baru yang kemudian dikenal sebagai teori "kesatuan akal". Ibnu Rusyd berpendapat bahwa hanya ada satu akal material, yang bersama-sama dimiliki semua manusia dan tidak bercampur dengan badan atau jasad manusia. Untuk menjelaskan alasan orang-orang bisa memiliki pemikiran yang berbeda, ia mengajukan konsep yang ia sebut fikr (diterjemahkan cogitatio dalam bahasa Latin), sebuah proses yang terjadi di otak manusia dan tidak memiliki pengetahuan umum tetapi hanya perhatian aktif terhadap hal-hal khusus yang dialami manusia tersebut. eori ini memicu kontroversi ketika karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan di dunia Kristen Eropa. Pujangga Gereja Thomas Aquinas menulis makalah De unitate intellectus contra Averroistas yang isinya mengkritik teori ini secara rinci.

Kedokteran

Secara garis besar, teori-teori medis yang digunakan Ibnu Rusyd di Al-Kuliyyah fit-Thibb-nya mengikuti doktrin medis Galenus, dokter dan penulis terkemuka pada abad ke-2. Doktrin Galenus sangat berpengaruh pada masa itu, dan didasari oleh teori humoralisme yaitu adanya empat "humor" atau cairan darah, empedu kuning, empedu hitam dan flegma—yang keseimbangannya memengaruhi kesehatan manusia.  Namun Ibnu Rusyd juga mengajukan konsep-konsep baru di dunia kedokteran.  Walaupun hingga saat ini masih diperdebatkan, menurut sebagian sejarawan Ibnu Rusyd adalah orang pertama yang menyatakan bahwa retina merupakan bagian mata yang berfungsi menerima cahaya (dan bukan lensa). Selain itu, Ibnu Rusyd menolak penjelasan Galenus bahwa strok adalah tertutupnya gerakan darah dan "roh" dari jantung ke anggota tubuh. Berdasarkan pengamatan terhadap pasien dan teori fungsi otak dari Aristoteles, sebagai gantinya Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa penyakit ini berasal dari otak dan terhambatnya jalur arteri dari jantung ke otak. Penjelasan ini lebih mirip dengan penjelasan modern.  Ia juga adalah orang pertama yang mengidentifikasi gejala-gejala penyakit Parkinson, walaupun ia tidak menamainya secara khusus.

Pada tradisi Yahudi

Moshe ben Maimon (1135–1204, dikenal juga dengan nama "Moses Maimonides" dalam bahasa Yunani) adalah salah satu cendekiawan Yahudi yang paling awal menerima karya-karya Ibnu Rusyd dengan antusias, dan menulis bahwa ia membaca hal-hal yang ditulis Ibnu Rusyd tentang Aristoteles dan berpendapat bahwa Ibnu Rusyd "sangatlah benar". Penulis-penulis Yahudi abad ke-13, seperti Samuel ben Tibbon, Yehuda ben Salomo Ha-Kohen dan Shem-Tov ben Falaquera, banyak mengandalkan tulisan-tulisan Ibnu Rusyd sebagai sumber untuk tulisan mereka. Pada masa ini, banyak cendekiawan Yahudi yang bisa membaca bahasa Arab sehingga karya Ibnu Rusyd dapat langsung dibaca. Pada tahun 1232, buku Ibnu Rusyd pertama kali sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa Ibrani, yaitu ketika Yosef ben Abba Mari menerjemahkan tafsir Ibnu Rusyd mengenai Organon karya Aristoteles.  Pada tahun 1260 Moses ben Tibbon menerbitkan terjemahan dari hampir semua tafsir-tafsir karya Ibnu Rusyd, serta sebagian tulisannya di bidang kedokteran. Pengikut ajaran Ibnu Rusyd, yang kemudian disebut Averroisme, mencapai puncaknya di kalangan Yahudi pada abad ke-14. Penulis-penulis Yahudi yang menerjemahkan dan banyak dipengaruhi oleh tulisan Ibnu Rusyd di antaranya adalah Kalonymus ben Kalonymus dari Arles, Samuel ben Judah dari Marseilles, Todros Todrosi dari Arles, serta Lewi ben Gerson dari Languedoc.
Pada tradisi Kristen di Barat

Sumbangan Ibnu Rusyd yang paling besar pada tradisi Kristen di Eropa Barat adalah tafsir-tafsirnya terhadap karya Aristoteles. Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat, Eropa Barat mengalami kemunduran budaya yang menyebabkan hilangnya hampir seluruh peninggalan intelektual dari para cendekiawan Yunani Klasik, termasuk Aristoteles. Tafsir-tafsir yang ditulis Ibnu Rusyd menyebarkan kembali karya Aristoteles dan melengkapinya dengan pemikiran Ibnu Rusyd sebagai seorang pakar.  Tafsir-tafsir ini mulai diterjemahkan ke bahasa Latin dan dipelajari di Eropa Barat abad ke-13.  Karena tafsir-tafsir ini begitu dikenal, penulis-penulis Kristen selanjutnya sering tidak menyebut Ibnu Rusyd dengan namanya tetapi cukup dengan gelar "Sang Penafsir" (Latin: Commentatoris , Inggris Modern: The Commentator).

Cendekiawan Skotlandia Michael Scot (1175 - kr. 1232) adalah orang pertama yang menerjemahkan karya Ibnu Rusyd ke Bahasa Latin. Sejak 1217, ia menerjemahkan tafsir panjang Fisika, Metafisika, De Anima dan De Caelo, serta banyak tafsir pendek dan menengah. Setelah itu, para penulis Eropa lainnya, seperti Hermannus Alemannus, William de Luna, dan Armengaud dari Montpellier, menerjemahkan karya-karya Ibnu Rusyd yang lain, kadang bekerja sama dengan penulis-penulis Yahudi. Tak lama kemudian, karya-karya Ibnu Rusyd menyebar di kalangan cendekiawan Kristen, terutama dari kelompok Skolastis. Lalu muncul gerakan yang mengikuti tulisan-tulisan ini, yang disebut Averroisme Latin. Paris dan Padova (sekarang di Italia) menjadi pusat intelektual Averroisme Latin, dengan tokoh-tokoh utama seperti Sigerus de Brabantia dan Boetius de Dacia.

Otoritas Gereja Katolik Roma kemudian berusaha membendung penyebaran Averroisme. Pada tahun 1270, Uskup Paris Étienne Tempier mengeluarkan larangan terhadap 15 doktrin—kebanyakan merupakan ajaran Aristoteles atau Ibnu Rusyd—yang dianggap bertentangan dengan doktrin Katolik. Pada tahun 1277, sesuai permintaan Paus Yohanes XXI, Tempier mengeluarkan larangan baru, kali ini terhadap 219 tesis dari berbagai sumber, dan sebagian besar merupakan ajaran Aristoteles atau Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd diterima dengan reaksi yang berbeda-beda oleh pemikir Katolik lainnya. Thomas Aquinas yang merupakan salah satu pemikir Katolik terkemuka abad ke-13, sangat mengandalkan Ibnu Rusyd dalam mempelajari dan menafsirkan tulisan Aristoteles, tetapi juga banyak tidak setuju dengan pendapat Ibnu Rusyd. Contohnya, ia menulis kritik yang rinci terhadap teori Ibnu Rusyd bahwa semua manusia bersama-sama memiliki satu akal. Ia juga menentang doktrin Ibnu Rusyd mengenai keabadian alam semesta dan keterlibatan Allah di dunia.

Larangan yang dikeluarkan Gereja Katolik pada tahun 1270 dan 1277, serta kritikan keras dari Aquinas memperlemah penyebaran Averroisme di Dunia Kristen Barat. Namun Averroisme tetap memiliki pengikut hingga abad ke-16. Tokoh-tokoh utama Averroisme di Eropa di antaranya Jean de Jandun, Marsilius dari Padova (abad ke-14), Gaetano da Thiene dan Pietro Pomponazzi (abad ke-15), serta Agostino Nifo dan Marcantonio Zimara (abad ke-16).  Sejak abad ke-16, Averroisme banyak ditinggalkan karena Dunia Barat sudah mulai meninggalkan tradisi intelektual Aristoteles.

Pada tradisi Islam

Ibnu Rusyd tidak memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran filsafat di dunia Islam hingga zaman modern.  Salah satu alasannya adalah geografi: Ibnu Rusyd berasal dari Al-Andalus atau Spanyol yang berada di ujung Barat peradaban Islam dan terletak jauh dari pusat intelektual Islam di Timur Tengah.  Selain itu, filsafatnya juga tidak terlalu cocok dengan filsafat yang umum pada cendekiawan Islam saat itu. Fokusnya terhadap Aristoteles dianggap terlalu usang oleh para pemikir Islam, karena Aristoteles sudah banyak dipelajari sejak abad ke-9 dan pada masa Ibnu Rusyd banyak pemikiran-pemikiran yang lebih baru dan populer, seperti pemikiran Ibnu Sina.  Pemikir Muslim baru mulai banyak mempelajari Ibnu Rusyd lamgi pada abad ke-19.  Pada masa ini, terjadi An-Nahdah atau kebangkitan budaya di dunia Arab, dan karya-karya Ibnu Rusyd menjadi inspirasi untuk memodernkan tradisi intelektual umat Islam.

Dalam budaya populer

Ibnu Rusyd disebutkan dalam berbagai karya budaya baik di dunia Barat maupun di dunia Islam. Puisi Divina Commedia karya penulis Italia Dante Alighieri yang terbit pada 1320, menyebutkan Ibnu Rusyd "yang menulis Tafsir-Tafsir Besar", dan menggambarkannya terjebak di limbo atau tepi neraka bersama Salahuddin Ayyubi dan beberapa pemikir Islam dan pemikir Yunani non-Kristen. Pembukaan buku The Canterbury Tales (1387) karya Geoffrey Chaucer memasukkan Ibnu Rusyd dalam daftar ahli-ahli kedokteran yang diketahui di Eropa pada masa itu. Ibnu Rusyd juga muncul di lukisan fresko Mazhab Athena karya Raffaello Sanzio.  Karya ini dilukis di dinding sebuah ruangan di Istana Kepausan di Vatikan, dan berisi tokoh-tokoh penting dalam filsafat. Ibnu Rusyd digambarkan dengan gamis hijau dan sebuah sorban, mengintip dari belakang bahu Pythagoras yang sedang menulis buku.  Ibnu Rusyd adalah tokoh utama film Mesir Al-Massir ("Takdir") pada tahun 1997. Film ini disutradarai Youssef Chahine dan dibuat untuk memperingati 800 tahun meninggalnya Ibnu Rusyd. ] Dalam film ini, Ibnu Rusyd digambarkan sebagai seorang yang bijak di Kordoba abad ke-12.

Nama Ibnu Rusyd (atau Averroes) dipakai untuk genus tanaman Averrhoa. Genus ini dikenali dengan dua tanamannya yang masyhur, yaitu belimbing sayur dan belimbing biasa. Selain itu pula, ada kawah bulan bernama Ibn-Rushd dan asteroid 8318 Averroes.