Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Mar 2, 2019

Gereja Ortodoks Siria

Gereja Ortodoks Suriah (ܥܕܬܐ ܣܘܪܝܝܬܐ ܬܪܝܨܬ ܫܘܒܚܐ) adalah suatu kelompok gereja Kristen Ortodoks yang berpusat di bagian timur Laut Tengah.[7] Menurut sejarah diawali dari Yerusalem yang terdiri dari para Rasul Yesus Kristus, para penginjil dan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Gereja ini kemudian berpindah ke kota Antiokhia, dan kemudian ke Urhoy (Eddesa) ditambah dengan orang-orang Aramia yang sudah bertobat dan bangsa-bangsa non-Yahudi yang lain. Gereja ini pertama kali didirikan di Antiokhia oleh Rasul Petrus, pemimpin para rasul, yang dianggap sebagai Patriarkh pertama dari Tahta Suci Rasuliah Antiokhia. Rasul Petrus sendiri menunjuk Mar Awwad (St. Avodius) dan Mar Ignatius Sang Pencerah sebagai para pengganti dia. Mereka kemudian menggantikan tugas rasulinya setelah Rasul Petrus mati shahid di kota Roma. Kemudian, kota Antiokhia tidak saja menjadi Gereja Kristen yang pertama, tertua dan paling terkenal, tetapi juga menjadi dasar dari Kekristenan. Di kota Antiokhia-lah saat itu para rasul Yesus Kristus disebut sebagai orang-orang Kristen.

Doktrin Gereja Suriah
Asas keimanan Gereja Orthodox Syria dapat diringkas sebagai berikut: "Gereja ini percaya sepenuhnya akan Satu pribadi ganda Tuhan Yesus, dan satu sifat ganda yang terdiri dari dua sifat: yaitu ilahi dan manusiawi, yang tidak dapat bercampur, tak dapat dipisahkan dan tak berganti-ganti. Dengan kata lain, dua sifat (ilahi dan manusiawi) tergabung dalam satu sifat yang tanpa bercampur, tak terlebur dan tak berubah-ubah, tak berganti dan tak rancu. Batasan ini berlaku bagi semua sifat keilahian dan kemanusiaanNya. Berdasarkan definisi ini, keilahian-Nya menyatu dengan kemanusiaan-Nya, atau dengan tubuh-Nya, ketika Almasih disalibkan tidak pernah keilahian-Nya meninggalkan tubuh-Nya. Karena itu, salah besar dan sangat menyimpang dari iman Kristen yang universal bila orang mengatakan, "Kristus itu disalibkan tubuhNya saja." Tetapi, sebaiknya dikatakan, "Firman Allah yang telah menjelma itu adalah Tuhan Yang Mahamulia yang telah disalibkan," namun, kami mengatakan, "Ia telah menderita dan wafat dalam daging (dalam keadaannya sebagai manusia)," sebab keilahianNya tidak pernah tersentuh penderitaan dan kematiaan. Sebagai konsekuensinya, Maria adalah "Ibu dari Dia (Firman Allah yang telah menjelma) Yang Ilahi," dan ungkapan "Engkau yang telah disalibkan bagi kami" adalah benar sebagaimana diucapkan dan diyakini dalam Trisagion, yang dialami oleh sifat kedua dari-Nya, yaitu Kristus. Asas iman inilah yang dipegang teguh oleh Gereja Siria Antiokhia dan Gereja Koptik Aleksandria yang telah menolak Konsili Khalsedon dan dokumen Leo dari Roma (Buku besar yang disebut Surat Paus Leo), karena kami hanya mengakui dasar-dasar iman yang ditetapkan tiga konsili ekumenikal di Nicea tahun 325 Masehi, Konsili Konstantinopel tahun 381 Masehi dan Konsili Efesus 431 Masehi. "Orthodox" berarti "Iman Yang Benar" yang dikenal oleh umat Syrian, Koptik, Armenia dan Ethiopia. Gereja-gereja itulah yang disebut sebagai "sister Churches" (Gereja-gereja saudari mereka). Mereka bersama-sama telah mengalami berbagai penderitaan dan penganiayaan-penganiayaan yang kejam yang ditujukan kepada mereka oleh Kaisar Byzantium panganut Konsili Khalsedon tersebut."

Liturgi Bahasa Arami

Bahasa yang digunakan oleh Yesus dan Kekristenan mula-mula adalah bahasa Aramic (Syriac). Orang Yahudi juga telah menulis beberapa bagian kitab suci dengan bahasa Aram, seperti dalam gulungan kitab dari Laut Mati. Gulungan kitab itu ditemukan pada tahun 1974 oleh Yang Mulia Mar Athanasius Yashu Samuel sebagai Uskup di Yerusalem (sekarang sebagai Uskup untuk Amerika Serikat dan Canada). Para murid Yesus, pengikut-Nya dan ibadah yang dilakukan memakai bahasa Aram. Sebab para penginjil yang memberitakan Injil di Anthiokhia yang berasal dari Yerusalem itu beribadah dalam bahasa Syria (Arami), maka sudah tentu bahasa Syria (Arami) itu menjadi bahasa Liturgi gereja Anthiokhia, dan gereja ini memakai liturgi dalam bahasa Syria (Arami) yang disusun oleh Rasul Yakobus, saudara Tuhan Yesus sekaligus sebagai uskup pertama di Yerusalem. Semua orang tahu bahwa gereja di Yeruselam menggunakan Liturgi Rasul Yakobus sampai berakhirnya ketujuh-belas uskup Syria yang pertama. Namun, ketika para duta dari Konstantinopel mulai merebut kepemimpinan gereja di Antiokhia, mereka menggantikan Liturgi Rasul Yakobus dengan Liturgi Basilius dari Kaisarea (379 Masehi) dan Liturgi John Chrysostom (407 Masehi), yang diterjemahkan dalam bahasa Arami. Tetapi, Liturgi Rasul Yakobus sendiri tetap ada di gereja Antiokhia. Itu sebabnya maka Liturgi Syria (Arami) disebut sebagai Liturgi Antiokhia. Dari Liturgi ini maka dapat dilacak kembali asal-muasal semua liturgi gereja. Gereja Antiokhia sangat bangga bahwa Liturgi mereka menggunakan bahasa Syria (Arami), yaitu bahasa yang telah dikuduskan oleh lidah suci Tuhan kita, dan yang dihormati oleh lidah Maria, IbuNya dan oleh para rasulNya yang kudus. Dalam bahasa inilah Rasul Matius menuliskan Injil, dan dalam bahasa inilah Injil diwartakan pertama kali di Yudea, Syria dan daerah-daerah sekitarnya.

Baktinya bagi Injil
Gereja Syria menjalankan peranan penting dalam bidang literatur Alkitab. Para sarjana mereka mengakar dalam lautan misteri Alkitab yang begitu luas dan tak terungkapkan. Merekalah yang pertama kali menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Syria (Arami), bahasa mereka sendiri. Kemudian, mereka melakukan pengkajian-pengkajian yang mendalam yang memperkaya perpustakaan-perpustakaan di Timur dan Barat dengan berjilid-jilid buku pelajaran dan tafsir Alkitab yang tak terhitung jumlahnya sekalipun malapetaka dan nasib buruk menimpa tanah kelahiran mereka, sehingga menyebabkan banyak kerugian karena Perang Dunia I, dan karena pemusnahan ribuan buku manuskrip kitab-kitab suci yang tak ternilai harganya itu oleh para musuh mereka. Setelah mereka mempelajari Alkitab dalam bahasa Arami mereka sendiri, maka mereka melakukan usaha-usaha tanpa lelah dengan menterjemahkan karya-karya tulis mereka itu ke dalam bahasa-bahasa lain. Maka sekitar tahun 404 Masehi, Malphan Daniel orang Syria serta Mesroph orang Armenia itu bekerja sama menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Armenia. Sarjana bahasa Arami yang berasal dari Arabia dari banu Thayy, Tanukh dan banu Aqula (Al-Kuufa) menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab atas perintah Patriarkh Syria, Mar Yuhanna II, demi memenuhi permintaan Umair Ibnu Saad ibn Abi Waqqass Al-Anshari, raja di Jaziratul Arabia. Yuhanna bar Yawsef, seorang imam Syria dari kota Taphliss (selatan Rusia), menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Persia pada tahun 1221 Masehi. Pada dasawarsa pertama pada abad ke-19, Raban Philipos orang Syria dari Malabar, India, telah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Malayalam, bahasa yang dipakai di India Selatan. Pada abad lalu, abad ke-20, Chorepiscopus Mattay Konat orang Syria dari Malabar, telah menterjemahkan seluruh Perjanjian Baru kecuali kitab Wahyu, ke dalam bahasa Malabar.

Sejumlah besar manuskrip dari warisan gereja ini yang tak ternilai artinya masih tetap dilestarikan. Manuskrip-manuskrip itu termasuk yang tertua di dunia, khususnya yang dipindahkan dari perbendaharaan Biara Gereja Syria di Mesir dan kemudian dibawa ke perpustakaan-perpustakaan Vatican, London, Milan, Berlin, Paris, Oxford, Cambridge dan perpustakaan-perpustakaan lain. Beberapa di antara manuskrip-manuskrip itu ditulis pada abad kelima dan keenam Masehi. Kemudian versi Injil yang tertua adalah manuskrip Injil dalam bahasa Syria (Arami) yang ditulis oleh seorang rahib dari kota Eddesa (Urhoy atau Urfa), yaitu Ya'qub Al-Urfa, di Urhoy pada tahun 411 Masehi. Injil dalam bahasa Arami ini masih disimpan di British Museum. Dalam kaitan ini, Abuna Martin telah menghimpun 55 manuskrip Injil berbahasa Arami yang berasal dari abad kelima, keenam dan ketujuh Masehi, jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan 22 manuskrip Injil dalam bahasa Latin dan hanya 10 buah manuskrip Injil dalam bahasa Yunani. Gereja Syria Orthodox sangat teguh dalam kecintaan mereka akan Alkitab sehingga mereka berusaha menuliskan dan menghiasi Alkitab itu seindah mungkin. Mereka menggunakan huruf kaligrafi Estrangela dan Serta Barat. Di antara manuskrip terbaik yang terkenal adalah Injil yang ditulis oleh Patriarkh Rabuula dari Urhoy (Eddesa atau Urfa) yang diselesaikannya pada tahun 586 Masehi.

Kegiatan Penginjilan
Orang-orang Kristen Siria telah membawa obor Injil pertama kali ke seluruh daerah Timur. Bangsa-bangsa di Timur telah dibimbing oleh terang Injil untuk mengenal Kristus, sehingga beribu-ribu orang dari berbagai bangsa dan negara, yaitu bangsa-bangsa Arab dari berbagai suku, bangsa Persia, Afghan, India dan Tionghoa. Mereka telah mengambil bagian dalam mewartakan Injil kepada bangsa Armenia. Pada abad keenam, orang-orang Suryani itu telah membawa kepada penggembalaan Kristus sejumlah besar warga bangsa Etiopia dan Nubia melalui jerih lelah Abuna Yulian, dan sejumlah 70 – 80 ribu orang dari Asia Kecil, Qarya, Phrygia, dan Lydia melalui jerih lelah Mar Yuhanna dari Amed, yaitu uskup termasyhur dari Efesus. Bahasa Suryani (Arami) adalah bahasa liturgi dari seluruh gereja Timur selain digunakan bahasa-bahasa berbagai asal kebangsaan mereka. Gereja Armenian, misalnya, selain memakai bahasa Suryani (Arami) sehingga karena menggunakan bahasa ini mereka telah dikucilkan (oleh Gereja-gereja Byzantium), mereka menulis bahasa Armenia mereka dalam aksara Syria (Arami), sampai akhirnya Meshrope, salah seorang dari sarjana mereka, bekerja sama dengan Malfan Daniel orang Syria itu, akhirnya ia menjadi penemu aksara Armenia.

Patriark Antiokhia

Patriark Antiokhia adalah sebuah gelar tradisional yang dipegang oleh Uskup Antiokhia. Sebagai "petinggi" tradisional (ἐπίσκοπος, episkopos, asal mula dari kata bishop (bahasa Indonesia: uskup)) dari komunitas Kristen non-Yahudi pertama, sebuah jabatan yang memiliki pengaruh utama dalam gereja dari periode terawal-nya. Keuskupan tersebut adalah salah satu dari beberapa keuskupan yang nama-nama uskupnya berasal dari nama-nama rasul awal. Saat ini, lima gereja menggunakan gelar Patriark Antiokhia: Gereja Ortodoks Suriah dan Gereja Katolik Suriah, Gereja Ortodoks Yunani Antiokhia, Gereja Katolik-Yunani Melkit, dan Gereja Maronit; dan, dalam sejarah, terdapat juga Patriark Latin Antiokhia.

Menurut tradisi gereja, Kepatriarkan kuno ini didirikan oleh Rasul Santo Petrus. Suksesi patriarkal tersebut diperebutkan pada masa skisma Meletian pada 362 dan terjadi kembali setelah Konsili Kalsedon pada 451, ketika terdapat Melkite dan pengklaim non-Kalsedonia berusaha merebut tahta tersebut. Setelah berebutan tahta pada abad ke7 di gereja Melkite, bangsa Maronit juga mulai memilih seorang Patriark Maronite. Setelah Perang Salib Pertama, Gereja Katolik mulai memilih seorang Patriark Ritus Latin Antiokhia, meskipun jabatan tersebut menjadi jabatan tituler setelah Kejatuhan Antiokhia pada 1268, dan ditiadakan secara menyeluruh pada 1964. Pada abad ke-18, perebutan suksesi dalam Gereja Ortodoks Yunani dan Ortodoks Suriah di Antiokhia membuat faksi-faksi dari gereja-gereja tersebut masuk dalam komuni dengan Roma dibawah kepemimpinan para pengklaim kepatriarkan tersebut: masing-masing adalah Patriark Katolik Yunani Melkite Antiokhia dan Patriark Katolik Suriah Antiokhia. Pesaing Ortodoks mereka masing-masing adalah Patriark Ortodoks Yunani Antiokhia dan Patriark Ortodoks Suriah Antiokhia.

Sejarah

Pada zaman Romawi, Antiokhia adalah sebuah kota penting dari Provinsi Romawi Suriah, dan kota terbesar keempat di Kekaisaran Romawi, setelah Roma, Efesus dan Aleksandria.

Di kota Antiokhia (sekarang di Antakya, tenggara Turki), penganut Kristen mula-mula disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11:26. Menurut tradisi gereja, Santo Petrus mendirikan sebuah gereja di Antiokhia, dan menjadi uskup pertama di kota tersebut, sebelum pergi ke Roma untuk mendirikan Gereja disana.  Ignatius dari Antiokhia (menjadi martir pada sekitar tahun 107), yang dipilih menjadi uskup ketiga dari kota tersebut, menjadi seorang bapak apostolik berpengaruh. Pada abad ke-4, uskup Antiokhia menjadi uskup paling senior di sebuah wilayah yang pada masa sekarang meliputi timur Turki, Lebanon, Israel dan Palestina, Suriah, Yordania, Irak, dan Iran. Hierarki-nya melayani jumlah penganut Kristen terbesar yang diketahui dunia pada waktu itu.

Antiokhia di Pisidia

Antiokhia di Pisidia (Yunani: Ἀντιόχεια τῆς Πισιδίας, Latin: Antiochia Caesareia atau Antiochia Caesaria) adalah sebuah kota di Daerah Danau Turki, yang terletak di persimpangan Laut Tengah, Laut Aegea dan daerah Anatolia Tengah, dan sebelumnya di perbatasan Pisidia dan Frigia, oleh sebab itu dikenal juga sebagai Antiokhia di Frigia. Situs ini terletak sekitar 1 km timur laut Yalvac, kota modern dari Provinsi Isparta. Kota ini berada di sebuah bukit dengan titik tertinggi 1.236 m di utara.

Geografi
Kota ini dikelilingi di sebelah timur oleh ngarai dalam dari Sungai Anthius yang mengalir ke Danau Eğirdir, dengan pegunungan Sultan di sebelah timur laut, Gunung Karakuş di sebelah utara, Kızıldağ ("Gunung Merah") di sebelah tenggara, Gunung Kirişli serta pantai utara Danau Eğirdir di sebelah barat daya

Meskipun di peta kelihatan dekat dengan Laut Tengah, iklim hangat di selatan tidak dapat melampaui ketinggian Pegunungan Taurus. Karena iklim itu, tidak ada industri kayu, melainkan tanaman perkebunan yang tumbuh di daerah tersebut dengan suplai air dari Pegunungan Sultan, yang mencapai rata-rata curah hujan tahunan sekitar 1000 mm pada puncak-puncak dan 500 mm pada lereng-lerengnya. Aliran ini mengairi dataran tinggi dan kota Antiokhia. Kota-kota lain di Pisidia seperti Neapolis, Tyriacum, Laodicea Combusta (Laodiceia Katakekaumene) dan Philomelium didirikan di lereng-lereng, mengambil manfaat dari kesuburannya.

Sejarah
Selama pemerintahan kaisar Romawi, Augustus, delapan koloni didirikan di Pisidia, tetapi hanya kota Antiokhia yang diberi kehormatan dengan gelar "Kaisarea" serta mendapat hak Ius Italicum, mungkin karena posisi strategisnya. Kota ini menjadi koloni Romawi penting yang meningkat menjadi posisi ibu kota dengan nama "Colonia Caesarea".

Proses Helenisasi menjadi Latinisasi selama periode Romawi dan diterapkan dengan baik di Antiokhia. Kota ini dibagi atas tujuh kwartir yang disebut "vicus" (bentuk jamak: "vici") semuanya didirikan di atas tujuh bukit seperti kota Roma. Bahasa resmi adalah bahasa Latin sampai akhir abad ke-3. Kesuburan tanah dan suasana damai pada masa Augustus (Pax Romana: Masa Damai Romawi) memudahkan para veteran sebagai kolonis di daerah itu untuk menjalin hubungan baik dan berintegrasi dengan penduduk setempat.

Salah satu dari tiga salinan yang masih terlestarikan dari Res Gestae Divi Augusti, inskripsi terkenal yang mencatat dokumen agung dari Kaisar Agustus yang ditemukan di depan Augusteum di Antiokhia. Aslinya dipahat pada lempengan perunggu dan dipertontonkan di depan Mausoleum Augustus di kota Roma, tetapi sayangnya sudah hilang. Salinan di Antiokhia terbuat dari batu, ditulis dalam bahasa Latin, yang menunjukkan tanda pentingnya kota ini sebagai markas militer dan budaya Romawi di Asia. (Salah satu salinan, dalam bahasa Yunani dan Latin, berada di Ankara, satu lainnya, dalam bahasa Yunani di Apollonia - Uluborlu).

Masa awal Kekristenan - Bizantin
Antiokhia menjadi ibu kota banyak budaya berbeda karena aktivitas ekonomi, militer dan agamawi di daerah itu. Inilah alasan mengapa rasul Paulus menyampaikan kotbah pertamanya kepada orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 13:13–52) di sini, dan mengunjungi kota ini setiap kali dalam perjalanan misinya, membantu Antiokhia menjadi suatu pusat kekristenan di Anatolia.

Pembebasan Kekristenan oleh kaisar Konstantinus I pada tahun 311 dan dikeluarkannya hukum yang mendukung hal itu, menyebabkan banyak orang menganut agama baru tersebut. Antiokhia memainkan peranan penting sebagai kota metropolitan untuk pertemuan konsili-konsili gereja. Kota ini menjadi ibu kota Provinsi Kristen Pisidia, yang didirikan pada abad ke-4 dan menjadi tempat pemimpin negara bagian dan keuskupan agung.

Barnabas

Barnabas adalah salah satu anggota jemaat mula-mula di Yerusalem.  Nama aslinya adalah Yusuf. Ia dipanggil Barnabas oleh para rasul. Arti Barnabas adalah "anak penghiburan". Ia kemudian dikenal sebagai penginjil di Antiokhia dan Siprus, serta teman seperjalanan Paulus.

Etimologi
Nama asli Barnabas, "Yusuf", pada naskah jenis teks Bizantin ditulis Ιὠσης, Iōsēs, 'Joses', suatu variasi Yunani untuk nama "Yosef". Setelah ia menjual hartanya dan menyerahkan uang hasil penjualan kepada para rasul di Yerusalem, ia diberi nama baru "Barnabas". Nama ini tampaknya dari bahasa Aram בר נביא, bar naḇyā, artinya 'putra nabi'. Namun, teks bahasa Yunani pada Kisah Para Rasul 4:36 menjelaskan namanya sebagai υἱός παρακλήσεως, hyios paraklēseōs, artinya "putra penghiburan" atau "putra pendorong". Hubungan serupa antara "kenabian" dan "pendorongan" ditemukan pada surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, yaitu 1 Korintus 14:3.

Pertemuan dengan Paulus

Barnabas adalah orang Yahudi dari keturunan suku Lewi yang berasal dari Siprus. Barnabas dikenal sebagai orang jujur yang menjual ladangnya dan uang hasil penjualannya diletakkan di depan kaki rasul-rasul (Kisah Para Rasul 4:37). Barnabas pertama kali berjumpa dengan Paulus ketika Paulus berkunjung ke Yerusalem dan Barnabaslah yang kemudian memperkenalkan Paulus kepada para rasul (Kisah Para Rasul 9:27). Barnabaslah yang meyakinkan pengikut Yesus, jika Paulus yang saat itu dikenal sebagai Saulus yang terkenal penganiaya pengikut Yesus, sekarang sudah menjadi bagian dari murid-murid Yesus sejak Paulus melihat Tuhan dan mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 9:27).

Pelayanan
Bersama dengan Paulus, Barnabas diutus oleh jemaat di Antiokhia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Kemudian Yohanes yang disebut Markus ikut bergabung bersama mereka untuk memberitakan Injil ke Siprus. Buah dari pekabaran Injil di Siprus adalah bertobatnya Gubernur pulau itu yakni Sergius Paulus. Bernabas terus mengikut Paulus melanjutkan perjalanan demi mengabarkan Injil ke Pisidia, Ikonium, Listra dan Derbe hingga kembali ke Antiokhia. Ketika ia berada di Listra, banyak orang menganggapnya sebagai Zeus. Di Antiokhia, Barnabas bersama Paulus menghadapi keributan yang terjadi dalam jemaat mengenai sunat. Ada yang mengatakan bahwa orang yang menjadi Kristen harus disunat. Barnabas dan Paulus menolak pendapat tersebut. Barnabas terlibat dalam perselisihan dengan Paulus ketika mereka hendak melakukan perjalanan Pekabaran Injil untuk kedua kalinya. Barnabas bersikeras ingin membawa Yohanes yang disebut Markus tetapi Paulus menolak dengan alasan Markus sudah tidak setia. Akhirnya mereka berdua berpisah. Paulus pergi bersama Silas sedangkan Barnabas berangkat ke Siprus bersama Markus (Kisah Para Rasul 15:35-41). Namun demikian, Barnabas tetap berhubungan baik dengan Paulus (Galatia 2:9; 2 Timotius 4:11).

Perang Salib Pertama

Perang Salib Pertama (1096–1099) merupakan yang pertama dari sejumlah perang salib yang berupaya untuk merebut Tanah Suci, disahkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Perang ini dimulai sebagai suatu peziarahan yang meluas dalam Kekristenan Barat dan berakhir sebagai suatu ekspedisi militer oleh bangsa Eropa Katolik Roma untuk mendapatkan kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan kaum Muslim atas Levant (632–661). Pada akhirnya menyebabkan direbutnya kembali Yerusalem pada tahun 1099

Perang Salib I dimaklumkan pada tanggal 27 November 1095 oleh Paus Urbanus II dengan tujuan utama menanggapi suatu permohonan dari Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos, yang mana mengajukan permintaan agar para relawan dari barat datang untuk membantunya menghalau kaum Turki Seljuk dari Anatolia. Suatu tujuan tambahan segera menjadi sasaran utama, yaitu penaklukan kembali oleh kaum Kristen atas kota suci Yerusalem dan Tanah Suci serta membebaskan kaum Kristen Timur dari kekuasaan kaum Muslim.

Selama perang salib, para ksatria, petani, dan hamba dari banyak negara Eropa Barat melakukan perjalanan darat dan laut, pertama ke Konstantinopel dan kemudian menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, para tentara salib melancarkan serangan atas kota tersebut dan merebutnya pada bulan Juli 1099. Mereka juga mendirikan negara-negara tentara salib yaitu: Kerajaan Yerusalem, County Tripoli, Kepangeranan Antiokhia, dan County Edessa.

Perang Salib Pertama kemudian dilanjutkan dengan Perang Salib Kedua sampai Kesembilan. Peristiwa ini juga merupakan langkah besar pertama menuju pembukaan kembali perdagangan internasional sejak jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Karena Perang Salib Pertama utamanya berkaitan dengan Yerusalem, suatu kota yang tidak berada di bawah kekuasaan kaum Kristen selama 461 tahun, dan bala tentara salib menolak untuk mengembalikan tanah tersebut ke dalam kendali Kekaisaran Bizantium, maka status Perang Salib Pertama sebagai sesuatu yang sifatnya defensif atau agresif masih menjadi kontroversi.

Asal mula

Pada umumnya asal mula Perang-perang Salib, dan khususnya Perang Salib Pertama, diperdebatkan secara luas di kalangan sejarawan. Perang-perang Salib paling sering dikaitkan dengan situasi sosial dan politik di Eropa pada abad ke-11, timbulnya suatu gerakan reformasi di dalam kepausan, juga konfrontasi keagamaan dan politik antara Kekristenan dan Islam di Eropa dan Timur Tengah. Kekristenan telah menyebar di seluruh Eropa, Afrika, dan Timur Tengah pada Abad Kuno Akhir, tetapi pada awal abad ke-8 kekuasaan kaum Kristen di Eropa dan Anatolia menjadi terbatas setelah berbagai penaklukan oleh kaum Muslim.

Kekhalifahan Umayyah telah menaklukkan Suriah, Mesir, dan Afrika Utara dari Kekaisaran Bizantium yang didominasi kaum Kristen, serta Hispania dari Kerajaan Visigoth. Di Afrika Utara, Kekhalifahan Umayyah kemudian runtuh dan sejumlah kerajaan Muslim yang lebih kecil bermunculan, misalnya Aghlabiyyah yang menyerang Italia pada abad ke-9. Pisa, Genoa, dan Kepangeranan Catalunya mulai bertempur melawan berbagai kerajaan Muslim agar dapat menguasai Cekungan Mediterania, ditunjukkan dengan kampanye Mahdiya tahun 1087 serta pertempuran di Mallorca dan Sardinia.

Pada dasarnya, antara tahun 1096 dan 1011, bangsa Yunani Bizantium mengalami perang salib ini setibanya di Konstantinopel dalam tiga gelombang terpisah.

Pada awal musim panas tahun 1096, kelompok besar pertama yang sulit dikendalikan tiba di pinggiran Konstantinopel. Gelombang ini dikabarkan tidak disiplin dan tidak memiliki perlengkapan layaknya suatu pasukan sebagaimana dicatat dalam Perang Salib Rakyat. Kelompok pertama ini sering disebut sebagai Perang Salib Rakyat atau Petani, dipimpin oleh Peter sang Pertapa dan Gautier Sans-Avoir serta tidak mengetahui ataupun menghormati keinginan-keinginan Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos.

Gelombang kedua juga tidak berada di bawah komando sang Kaisar dan terdiri dari sejumlah pasukan dengan para komandan mereka masing-masing. Secara keseluruhan, kelompok ini dan gelombang pertama diperkirakan berjumlah 60.000.

Gelombang kedua dipimpin oleh Hugues I, Comte Vermandois, saudara Raja Philippe I dari Perancis. Selain itu dalam gelombang kedua juga ada Raymond IV, Comte Toulouse, dan pasukan dari Provença. "Adalah gelombang kedua para tentara salib ini yang kemudian melintasi Asia Kecil, merebut Antiokhia pada tahun 1098 dan akhirnya merebut Yerusalem pada tanggal 15 Juli 1099."

Gelombang ketiga, yang mana terdiri atas kontingen-kontingen dari Lombardia, Perancis, dan Bavaria, tiba di Yerusalem pada awal musim panas tahun 1101.

Situasi di Eropa
Di pinggiran barat Eropa dan dalam menghadapi ekspansi kaum Islam, Reconquista di Semenanjung Iberia masih terus berlangsung pada abad ke-11; hal ini sesekali merupakan isu ideologis, sebagaimana dibuktikan oleh Kodeks Vigilanus yang disusun pada tahun 881. Pada abad ke-11 semakin banyak ksatria dari luar, kebanyakan dari Perancis, yang datang ke Iberia untuk membantu kaum Kristen dalam upaya-upaya mereka. Sesaat menjelang Perang Salib Pertama, Paus Urbanus II telah mendorong kaum Kristen Iberia agar merebut kembali Tarragona dengan menggunakan banyak retorika dan simbolisme yang sama seperti yang digunakan kemudian untuk berkhotbah mengenai perang salib kepada orang-orang Eropa.

Jantung Eropa Barat dipandang telah dilakukan stabilisasi setelah Kristenisasi bangsa Hongaria, Viking, dan Saxon sampai akhir abad ke-10. Namun pemecahan Kekaisaran Karoling menimbulkan suatu kelas prajurit seluruhnya yang kini hanya sedikit melakukan sesuatu selain saling bertengkar sendiri. Kekerasan acak yang dilakukan oleh kelas kesatria ini secara teratur dikutuk oleh gereja tersebut, dan untuk menanggapinya dibuat penetapan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah (Peace and Truce of God) untuk melarang pertempuran pada hari-hari tertentu sepanjang tahun. Pada saat yang sama, kepausan yang berorientasi pada pembaharuan itu terlibat konflik dengan para Kaisar Romawi Suci, sehingga mengakibatkan Kontroversi Penobatan. Para Paus seperti Paus Gregorius VII membenarkan peperangan berikutnya untuk melawan para pedukung kaisar dalam aspek teologis. Kemudian hal ini menjadi dapat diterima bagi sang Paus untuk memanfaatkan para kesatria atas nama dunia Kristen, bukan hanya terhadap musuh-musuh politik Kepausan tersebut, tetapi juga terhadap Al-Andalus, atau, secara teoretis, terhadap Dinasti Seljuk di timur.

Di sebelah timur Eropa terdapat Kekaisaran Bizantium, terdiri dari kaum Kristen yang telah lama menggunakan suatu ritus Ortodoks tersendiri; Gereja Ortodoks Timur dan Katolik Roma telah mengalami perpecahan sejak tahun 1054. Para sejarawan berpendapat bahwa keinginan untuk memaksakan otoritas Gereja Roma di wilayah timur mungkin menjadi salah satu tujuan perang salib ini, kendati Urbanus II yang mana mengawali Perang Salib Pertama tidak pernah menyebut tujuan demikian dalam surat-suratnya mengenai praktik perang salib. Bangsa Turki Seljuk saat itu telah mengambil alih hampir seluruh Anatolia setelah kekalahan Bizantium dalam Pertempuran Manzikert tahun 1071. Bagaimanapun penaklukan mereka dilakukan satu demi satu dan dipimpin oleh para panglima perang semi-independen, bukan oleh sang sultan. Suatu keruntuhan yang dramatis atas posisi kekaisaran pada malam menjelang Konsili Clermont membawa Bizantium menuju ambang kehancuran. Pada pertengahan tahun 1090-an, wilayah Kekaisaran Bizantium utamanya hanya sebatas Eropa bagian Balkan dan pinggiran barat laut Anatolia; mereka menghadapi musuh-musuhnya dari bangsa Norman di barat serta bangsa Turki di timur. Sebagai tanggapan atas kekalahan di Manzikert dan berbagai kehilangan selanjutnya yang dialami Bizantium di Anatolia pada tahun 1074, Paus Gregorius VII memanggil milites Christi ("para prajurit Kristus") agar pergi untuk membantu Bizantium. Panggilan ini kebanyakan diabaikan dan bahkan ditentang. Alasannya adalah walaupun kekalahan di Manzikert mengejutkan, namun hanya memiliki arti penting yang terbatas dan tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan besar bagi Kekaisaran Bizanium, setidaknya dalam jangka pendek.

Situasi di Timur Tengah

Sampai kedatangan para tentara salib, kaum Bizantium terus berjuang melawan orang Seljuk dan dinasti Turki lainnya demi penguasaan atas Anatolia dan Suriah. Orang Seljuk, yang mana merupakan kaum Muslim Sunni yang ortodoks, sebelumnya memerintah Kesultanan Seljuk Raya, namun saat berlangsungnya Perang Salib Pertama telah terbagi-bagi menjadi beberapa negara kecil setelah wafatnya Malik-Shah I pada tahun 1092.

Malik-Shah digantikan oleh Kılıç Arslan I di Kesultanan Rûm di Anatolia, dan di Suriah oleh Tutuş I yang kemudian wafat pada tahun 1095 saudaranya. Para putra Tutuş, yaitu Fahrülmülk Rıdvan dan Dukak berturut-turut mewarisi Aleppo dan Damaskus; mereka selanjutnya membagi-bagi Suriah di antara para amir yang saling bermusuhan, serta Kürboğa, atabeg dari Mosul.

Mesir dan banyak daerah Palestina berada dalam kendali Kekhalifahan Fatimiyah penganut Syi'ah Arab, yang mana wilayahnya lebih kecil secara signifikan sejak kedatangan orang Seljuk. Peperangan antara Fatimiyah dan Seljuk menyebabkan gangguan yang sangat besar bagi kaum Kristen setempat dan para peziarah dari Barat. Kekhalifahan Fatimiyah, yang mana secara nominal berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Musta'li namun sesungguhnya berada di bawah kendali Wazir Al-Afdhal Syahansyah, telah kehilangan Yerusalem karena direbut Kesultanan Seljuk pada tahun 1073 (kendati beberapa catatan yang lebih lama menyebutkan tahun 1076). Mereka merebutnya kembali pada tahun 1098 dari Dinasti Artuqid, suatu suku bangsa Turki Seljuk yang lebih kecil, sesaat sebelum kedatangan para tentara salib.

Antiokhia

Antiokhia (bahasa Yunani: Αντιόχεια η επί Δάφνη, Αντιόχεια η επί Ορόντου or Αντιόχεια η Μεγάλη; bahasa Latin: Antiochia ad Orontem; juga Antiochia dei Siri, Antiokhia Suriah; bahasa Turki: Antakya; bahasa Suryani: ܐܢܛܝܘܟܝܐ Anṭiokia; bahasa Ibrani: אנטיוכיה, antiyokhya; bahasa Georgia: ანტიოქია; bahasa Armenia: Անտիոք Antiok) adalah sebuah kota tua yang terletak di sisi timur sungai Orontes, terletak di tempat kota modern di Antakya, Turki. Kota ini merupakan pusat agama Kristen pada abad-abad pertama Masehi dan disebut dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Di kota inilah murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut dengan istilah Kristen (artinya "Kristus kecil" atau "golongan Kristus") menurut catatan kitab Kisah Para Rasul 11.

Kota ini didirikan sekitar akhir abad ke-4 SM oleh Seleukos I Nicator, salah satu jendral Alexander Agung, Antiokhia didirikan untuk menyaingi Alexandria. Aslinya kota ini dibangun dengan tata kota yang mirip dengan Alexandria di Mesir oleh arsitek Xenarius. Libanius menggambarkan gedung pertama dan tatanan kota ini (i. p. 300. 17). Benteng utama (citadel) terletak di Gunung Silpius. Kota itu terletak sebagian besar di tanah rendah di sebelah utara, dekat dengan sungai. Dua jalan berpilar berpotongan di tengah kota. Tidak lama kemudian kawasan ke-2 dibangun, di sebelah timurnya, oleh Antiokhos I, yang menurut tulisan Strabo, tampaknya dihuni penduduk asli, bukan orang Yunani. Kawasan ini ditutupi oleh dinding tembok sendiri

Di sungai Orontes, sebelah utara kota, terdapat sebuah pulau besar dan di pulau ini Seleukos II Callinicus memulai kota bertembok ketiga, yang diselesaikan oleh Antiokhos III. Kawasan keempat dan terakhir ditambahkan oleh Antiokhos IV Epiphanes (175-164 SM); dan sejak itu Antiokhia dikenal sebagai Tetrapolis ("Empat kota"). Dari barat ke timur seluruhnya berdiameter sekitar 6 km dan sedikit lebih pendek dari utara ke selatan, di mana terdapat banyak taman.

Feb 5, 2019

Paus Santo Anisetus

Paus Santo Anisetus (???-17 April 167) adalah Paus Gereja Katolik Roma sejak tahun 154 hingga 17 April 167. Menurut Liber Pontificalis, Anisetus adalah seorang Suriah dari kota Emesa (sekarang kota modern Homs).

Saat kepemimpinan gereja, terjadi perselisihan penentuan tanggal hari Paskah di Asia Kecil dan daerah lainnya. Maka dari itu, ia menerima kedatangan Polikarpus, Uskup Smyrna. Di Suriah, hari Paskah dirayakan pada tanggal 14 pada kalender hari raya Yahudi. Kebiasaan hasil peninggalan rasul ini menyebabkan tanggal Paskah tidak menentu pada kalender lainnya. Hari Paskah juga mengalami perbedaan penghayatan yakni antara menekankan wafat Kristus atau kebangkitanNya. Gereja yang memilih tanggal setelah tanggal 14, karena menekankan kebangkitan Yesus. Menurut Irenaeus, pada masa kepausannya, uskup Polikarpus dari Smyrna yang sudah tua, seorang murid Yohanes, mengunjungi Roma untuk membahas hal perayaan Paskah ini dengan Anisetus.

Paus Anisetus mengakhiri perselisihan dengan menetapkan hari Minggu (3 hari setelah wafat Kristus) sebagai hari Paskah. Lama kelamaan keputusan ini diterima oleh gereja di Asia Kecil.

Meskipun ia wafat bukan karena dibunuh, tetapi memiliki jasa yang banyak. Ia ditetapkan sebagai martir.

Paus Eleutherius

Paus Santo Eleutherius, nama lahir Eleuterus/Eleutherius (???-±189), adalah Paus Gereja Katolik Roma sejak tahun ±174 hingga ±189 (Sumber Vatikan menyebutkan juga 171/177 hingga 185/193).[1] Vatikan menyebutkan tahun-tahunnya 171 atau 177 sampai 185 atau 193. MenurutLiber Pontificalis, ia adalah seorang Yunani yang dilahirkan di Nicopolis, Epirus, Yunani.[2] Ia hidup sezaman dengan Hegesippus yang menulis bahwa ia adalah seorang diaken dalam Gereja Katolik Roma dalam masa kepausan Paus Anisetus (~ 154–164), dan tetap dalam jabatan itu di bawah Paus Soter, yang digantikannya sekitar tahun 174.[3]

Ia merupakan murid dari Paus Anisetus yang berperan sebagai diakon selama kepausan Anisetus. Pada masa kepausannya, ia menghapus beberapa kewajiban adat Yahudi mengenai haram atau halalnya makanan. Saat itu terjadi pembantaian hebat yang dibiarkan saja oleh Markus Aurelius. Untuk mempertegas bahwa umat Kristen tidak terlibat, ia menyampaikan surat sebanyak empat kali kepada kaisar.

Paus Eleuterus meninggal pada tahun 189 sebagai martir.

Montanisme

Montanisme adalah sebuah gerakan sektarian Kristen perdana pada pertengahan abad ke-2 Masehi, yang dinamai seturut pendirinya Montanus. Gerakan ini berkembang umumnya di daerah Frigia dan sekitarnya; di sini sebelumnya pengikutnya disebut Katafrigia. Namun gerakan ini merebak cepat ke wilayah-wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama menang atas Montanisme dalam beberapa generasi, dan mencapnya sebagai sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di beberapa tempat terisolir hingga abad ke-8. Sebagian orang membuat paralel antara Montanisme dan Pentakostalisme (yang disebut sebagian orang Neo-Montanisme). Montanis yang paling terkenal jelas adalah Tertulianus, yang merupakan penulis gereja Latin paling terkemuka sebelum ia beralih ke Montanisme. Penganut paham Montanisme disebut dengan Montanis

Sejarah
Montanus mengunjungi pemukiman-pemukiman pedesaan di Asia Kecil setelah pertobatannya, dan mengajar serta memberikan kesaksian tentang apa yang dikatakannya sebagai Firman Allah. Namun, ajaran-ajarannya dianggap sesat oleh Gereja yang ortodoks karena sejumlah alasan. Ia mengklaim bukan saja telah menerima serangkaian wahyu langsung dari Roh Kudus, tetapi juga secara pribadi merupakan penjelmaan dari roh penghibur yang disebutkan dalam Injil Yohanes 14:16. Montanus disertai oleh dua orang perempuan, Priska, kadang-kadang disebut Priskila, dan Maksimila, yang juga mengklaim sebagai penjelmaan dari Roh Kudus yang menggerakkan dan mengilhami mereka. Kemanapun mereka pergi, "Ketiganya" demikian mereka disebut, berbicara dengan penglihatan ekstatis dan mendesak pengikut-pengikut mereka untuk berpuasa dan berdoa, sehingga mereka pun akan dapat memperoleh wahyu pribadi ini. Pemberitaan Montanus menyebar dari tempat kelahirannya Frigia (dan di sini ia menyatakan bahwa desa Pepuza adalah tempat untuk Yerusalem Baru) hingga ke dunia Kristen saat itu, ke Afrika dan Gaul.

Pada umumnya disepakati bahwa gerakan ini diilhami oleh pembacaan Injil Yohanes oleh Montanus— "Aku akan mengutus kepadamu seorang advocate parakletos, roh kebenaran" (Heine 1987, 1989; Groh 1985). Tanggapan terhadap wahyu yang berlanjut ini memecah komunitas-komunitas Kristen, dan para rohaniwan yang lebih ortodoks umumnya berjuang untuk menekannya. Uskup Apolinarius menemukan gereja di Ancyra terpecah menjadi dua, dan ia menentang "nubuat palsu" (dikutip oleh Eusebius 5.16.5). Tetapi ada keragu-raguan yang sungguh-sungguh di Roma, dan Paus Eleuterus bahkan menulis surat-surat untuk mendukung Montanisme, meskipun ia belakangan menariknya kembali (Tertulianus, "Adversus Praxean" c.1, Trevett 58-59).

Priska mengaku bahwa Kristus menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang perempuan. Ketika ia dikucilkan, ia berseru, "Aku diusir seperti serigala dari antara domba-domba. Aku bukan serigala: Aku adalah firman dan roh dan kuasa."

Pembela kaum Montanis yang paling terkenal jelas adalah Tertulianus, seorang bekas pembela keyakinan ortodoks, yang percaya bahwa nubuat yang baru itu memang tulen dan mulai meninggalkan apa yang disebutnya sebagai “gereja dengan banyak uskup" (On Modesty).

Meskipun gereja Kristen yang ortodoks menang atas Montanisme dalam beberapa generasi saja, prasasti-prasasti di lembah Tembris di Frigiia utara, yang bertanggal antara 249 dan 279, secara terbuka menyatakan kesetiaan mereka kepada Montanisme.

Sepucuk surat dari Hieronimus kepada Marsela, yang ditulis pada 385, menyangkal klaim kaum Montanis yang telah mengganggunya (surat 41) 

Sebuah kelompok "Tertulianis" terus hadir di Kartago. Pengarang Praedestinatus yang anonim mencatat bahwa seorang pengkhotbah datang ke Roma pada 388 ketika ia menghasilkan banyak pengikut dan memperoleh izin penggunaan sebuah gereja bagi jemaatnya dengan alasan bahwa para martir yang kepadanya gereja itu dipersembahkan adalah Montanis. Ia terpaksa melarikan diri setelah kemenangan Teodosius I. Augustinus mencatat bahwa kelompok Tertullianis melorot hingga hampir tidak tersisa pada masanya sendiri, dan akhirnya didamaikan dengan gereja dan menyerahkan basilika mereka. Tidak jelas apakah para Tertulianis itu Montanis atau bukan.

Pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Yustinianus, Yohanes dari Efesus memimpin ekspedisi ke Pepuza untuk menghancurkan tempat-tempat suci Montanis di sana, yang berbasis di sekitar makam Montanus, Priskila dan Maksimilia.

Sekte ini bertahan hingga abad ke-8. Columbia Encyclopedia mengklaim bahwa “di tempat-tempat terpencil dari Frigiia, di mana [Montanisme] terus bertahan hingga abad ke-7.”

Beberapa penulis modern mengusulkan bahwa sebagian dari penekanan pada pengalaman pribadi yang langsung dan ekstatis dengan Roh Kudus mempunyai kemiripan dengan semua bentuk Pentakostalisme. “Ia [Montanisme] mengklaim dirinya sebagai agama Roh Kudus dan ditandai oleh ledakan-ledakan ekstatis yang dianggapnya sebagai satu-satunya bentuk Kekristenan yang sejati.”  Sementara memang ada banyak kesamaan antara Montanisme dengan Pentakostalisme modern, tampaknya tidak ada hubungan histories antara keduanya, karena kebanyakan kaum Pentakostal mengklaim otoritasnya berdasarkan Kisah para Rasul (pasal 2).

Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks
Keyakinan-keyakinan Montanisme berbeda dengan Kekristenan ortodoks dalam hal-hal berikut:

Keyakinan bahwa nubuat-nubuat kaum Montanis mengalahkan dan menggenapi doktrin-doktrin yang diberitakan oleh para Rasul.
Dorongan untuk bernubuat secara ekstatis, membedakannya dengan pendekatan teologi yang dominan yang lebih berdisiplin dan penuh pertimbangan di kalangan Kekristenan yang ortodoks pada saat itu hingga sekarang.
Pandangan bahwa orang-orang Kristen yang jatuh dari anugerah tidak dapat ditebus, juga bertentangan dengan pandangan Kristen yang ortodoks bahwa penyesalan dapat mengembalikan orang berdosa ke dalam gereja.
Nabi-nabi Montanisme tidak berbicara sebagai utusan-utusan Allah: "Demikianlah firman Tuhan," melainkan lebih menggambarkan dirinya dikuasai oleh Allah, dan berbicara atas namanya. "Akulah Bapa, Firman, dan Sang Penghibur," kata Montanus (Didymus, De Trinitate, III, xli); Kerasukan roh ini, yang berbicara sementara nabi itu tidak mampu menolaknya, digambarkan oleh roh Montanus: "Lihatlah manusia itu bagaikan sebuah lyre, dan aku melesat seperti plectrum. Orang itu tidur, dan aku terjaga" (Epifanius, "Panarion", xlviii, 4).
Penekanan yang lebih kuat untuk menghindari dosa dan disiplin gereja daripada di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka lebih menekankan upaya menghindari dosa dan disiplin gereja daripada di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka menekankan kesucian seksual, termasuk melarang pernikahan kembali..
Sebagian Montanis juga "Quartodesiman" ("yang 14"), artinya mereka lebih suka merayakan Paskah pada tanggal 14 bulan Nisan menurut kalender Ibrani, tak peduli hari apapun dalam suatu minggu tanggal itu jatuh. Ajaran ortodoks berpendapat bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu setelah tanggal 14 Nisan. (Trevett 1996:202)
Hieronimus dan para pemimpin gereja lainnya mengklaim bahwa kaum Montanis pada masa mereka menganut keyakinan bahwa Tritunggal terdiri atas satu pribadi saja, serupa dengan Sabelianisme, jadi berlawanan dengan pandangan ortodoks bahwa Tritunggal adalah satu Allah dengan tiga pribadi, yang juga dianut oleh Tertulianus. Ada beberapa orang yang memang adalah pemeluk monarkian modalistik (Sabelian) dan beberapa lainnya yang lebih dekat dengan doktrin Tritunggal. Dilaporkan bahwa para modalis ini membaptiskan dengan meyebutkan nama Yesus Kristus, bukannya menyebutkan nama Tritunggal. Kebanyakan dari kaum Montanis di kemudian hari berasal dari kubu modalistik.

Stoisisme

Stoisisme adalah salah satu aliran atau mazhab filsafat Yunani-Romawi yang didirikan tahun 108 SM di Athena oleh Zeno dari Citium dan memperluas pengaruhnya dalam Kekaisaran Romawi. Nama mazhab ini diambil dari lokasi di Athena tempat pertama kali mazhab ini ditemukan. Dalam aliran stoisisme terdapat beberapa pokok pikiran yang dapat dijelaskan menjadi 5 bagian. Pertama, Kaum Stoa menggabungkan ajaran filsuf kuno dengan pemikiran Plato dan Aristoteles dengan keyakinan besar bahwa mereka mengajarkan etos dan sikap baru yang mempunyai pengaruh mendalam terhadap etika. Kedua, ideal Stoisisme adalah manusia bijaksana yang hidup selaras dengan alam, mengendalikan afeksinya, menanggung penderitaan secara tenang dan sebagai tujuan kehidupannya ialah rasa puas dengan kebajikan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Ketiga, Allah adalah spesies jiwa dunia. Dia memiliki di dalam diriNya sendiri benih atau daya seminal untuk setiap perkembangan sehingga setiap peristiwa seakan direncanakan dan menjadi akibat penyelenggaraan. Keempat, Stoisme bukan filsafat spekulatif dan sistematik melainkan pandangan tentang kehidupan secara mendalam memperhatikan emosi-emosi manusia. Kelima, anjuran kesamaan semua manusia merupakan karakteristik sebagaimana juga suatu kosmopolitanisme tertentu.

Tertulianus

Quintus Septimius Florens Tertullianus, atau Tertulianus, (155–230) adalah seorang pemimpin gereja dan penghasil banyak tulisan selama masa awal Kekristenan.   Ia lahir, hidup, dan meninggal di Kartago, sekarang Tunisia. Ia dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir (pagan) serta terlatih dalam kesusasteraan klasik, penulisan orasi, dan hukum. Pada tahun 196 ketika ia mengalihkan kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan kesusasteraan gereja di wilayah Barat hingga sebagai Bapa Gereja ia digelari "Bapak Teologi Latin" atau "Bapak Gereja Latin". Ia memperkenalkan istilah "Trinitas" (dari kata yang sama dalam bahasa Latin) dalam perbendaharaan kata Kristen; sekaligus kemungkinan, merumuskan "Satu Allah, Tiga Pribadi". Di dalam Apologeticusnya, ia adalah penulis Latin pertama yang menyatakan Kekristenan sebagai vera religio, dan sekaligus menurunkan derajat agama klasik Kerajaan dan cara penyembahan lainnya sebagai takhyul belaka.

Sebelumnya, para penulis Kristen umumnya menggunakan bahasa Yunani  bahasa yang agak fleksibel dan halus, yang cocok digunakan untuk berfilsafat dan berdebat tentang hal-hal sederhana. Acap kali, orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani menggunakan cara berfilsafat seperti ini terhadap keyakinan mereka.

Meskipun Tertulianus, pengacara kelahiran Afrika itu, dapat berbahasa Yunani, ia memilih menulis dalam bahasa Latin, dan karya-karyanya mencerminkan unsur-unsur moral dan praktis orang Romawi yang berbahasa Latin. Pengacara yang berpengaruh ini telah menarik banyak penulis untuk mengikuti gayanya.

Ketika orang-orang Kristen Yunani masih bertengkar tentang keilahian Kristus serta hubunganNya dengan Allah Bapa, Tertulianus sudah berupaya menyatukan kepercayaan itu dan menjelaskan posisi ortodoks. Maka, ia pun merintis formula yang sampai hari ini masih kita pegang: Allah adalah satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi.

Ketika dia menyiapkan apa yang menjadi doktrin Trinitas, Tertulianus tidak mengambil terminologinya dari para filsuf, tetapi dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia bukan berarti "bahan" tetapi "hak milik". Arti kata persona bukanlah "pribadi", seperti yang lazim kita gunakan, tetapi merupakan "suatu pihak dalam suatu perkara" (di pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat (kedaulatan ilahi).

Meskipun Tertulianus mempersoalkan "Apa urusan Athena (filsafat) dengan Yerusalem (gereja)?" namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut mempengaruhinya. Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme, kemudian diambil alih Tertulianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat. Agaknya ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu adalah sebentuk benda: seperti tubuh dibentuk ketika pembuahan, maka roh pun demikian. Dosa Adam diwariskan seperti rangkaian genetik.

Gereja-gereja Barat menyimak ide ini, tetapi ide ini tidak dialihkan ke Timur (yang mempunyai pandangan yang lebih optimistik tentang sifat manusia).

Kira-kira pada tahun 206, Tertulianus meninggalkan Gereja untuk bergabung dengan sekte Montanis. Keterlibatannya dengan Montanisme, dan karena sejumlah tulisan menjelang akhir hidupnya dianggap bertentangan dengan ajaran Gereja, kemungkinan membuat Tertulianus tidak pernah diakui sebagai seorang santo oleh Gereja, tidak seperti para Bapa Gereja lainnya.

Tulisan-tulisan Tertulianus disunting dalam jilid 1–2 Patrologia Latina, dan teks modern terdapat dalam Corpus Christianorum Latinorum. Terjemahan bahasa Inggris oleh Sidney Thelwall dan Philip Holmes dapat dibaca pada jilid III dan IV buku Ante-Nicene Fathers yang tersedia gratis online; juga muncul lebih banyak lagi terjemahan modern dari karya-karyanya.

Apologetik
Apologeticus pro Christianis.
Dissertatio Mosheim in Apol.
Libri duo ad Nationes.
De Testimonio animae.
Ad Martyres.
De Spectaculis.
De Idololatria.
Accedit ad Scapulam liber.
Dissertatio D. Le Nourry in Apologet. libr. II ad Nat. et libr. ad Scapulam.
Polemik
De Oratione.
De Baptismo.
De Poenitentia.
De Patientia.
Ad Uxorem libri duo.
De Cultu Feminarum lib. II.
Dogmatik
De Corona Militis.
De Fuga in Persecutione.
Adversus Gnosticos Scorpiace.
Adversus Praxeam.
Adversus Hermogenem.
Adversus Marcionem libri V.
Adversus Valentinianos.
Adversus Judaeos.
De Anima.
De Carne Christi.
De Resurrectione Carnis.
Mengenai moral
De velandis Virginibus.
De Exhortatione Castitatis.
De Monogamia.
De Jejuniis.
De Pudicitia.
De Pallio.
Kemungkinan kronologi
Urutan kronologis berikut diusulkan oleh John Kaye, Bishop di Lincoln pada abad ke-19:

Kemungkinan Katolik (Pra-Montanis):

1. De Poenitentia (Hal Pertobatan)
2. De Oratione (Hal Doa)
3. De Baptismo (Hal Baptisan)
4.,5. Ad Uxorem, lib. I & II, (Kepada Istrinya),
6. Ad Martyras (Kepada para Martir),
7. De Patientia (Hal Kesabaran)
8. Adversus Judaeos (Jawaban untuk orang Yahudi)
9. De Praescriptione Haereticorum (Resep melawan Ajaran Sesat/Heretik),
Tidak dapat ditentukan:

10. Apologeticus pro Christianis (Apologi untuk orang Kristen)
11.,12. ad Nationes, lib. I & II (Kepada Bangsa-bangsa)
13. De Testimonio animae (Hal Kesaksian Jiwa)
14. De Pallio (Hal Jubah Asketik)
15. Adversus Hermogenem (Melawan Hermogenes)
Mungkin Pasca-Montanis:

16. Adversus Valentinianus (Against the Valentinians)
17. ad Scapulam (To Scapula, Proconsul of Africa),
18. De Spectaculis (Of the Games),
19. De Idololatria (Of Idolatry)
20., 21. De cultu Feminarum, lib. I & II (Of Women's Dress)
Pasti Pasca-Montanis:

22. Adversus Marcionem, lib I (Melawan Marcion, Bk. I),
23. Adversus Marcionem, lib II
24. De Anima (Of the Soul),
25. Adversus Marcionem, lib III
26. Adversus Marcionem, lib IV
27. De Carne Christi (Hal Daging Kristus),
28. De Resurrectione Carnis (Hal Kebangkitan Daging)
29. Adversus Marcionem, lib V
30. Adversus Praxean (Melawan Praxeas),
31. Scorpiace (Anti racun untuk Gigitan Kalajengking)
32. De Corona Militis (Hal Mahkota Militer),
33. De velandis Virginibus (Hal Pemakaian Cara para Gadis),
34. De Exhortatione Castitatis (Hal Peringatan untuk Kemurnian Tubuh),
35. De Fuga in Persecutione (Hal Lari dari Penganiayaan)
36. De Monogamia (Hal Monogami)
37. De Jejuniis, adversus psychicos (Hal Puasa, melawan materialis),
38. De Puditicia (Hal Kepatutan)
Karya tidak jelas
Ada banyak karya yang dianggap tulisan Tertulianus di waktu lampau tetapi sekarang sudah dipastikan ditulis oleh orang lain. Namun, karena pengarang sebenarnya belum jelas, karya-karya itu tetap dipublikasikan bersama dalam koleksi karya-karya Tertulianus.

1. Adversus Omnes Haereses (Melawan Semua Ajaran Sesat) – kemungkinan karya Victorinus dari Pettau
2 De execrandis gentium diis (On the Execrable Gods of the Heathens)
3 Carmen adversus Marcionem (Sajak melawan Marcion)
4 Carmen de Iona Propheta (Sajak mengenai Nabi Yunus) – kemungkinan karya Cyprianus Gallus
5 Carmen de Sodoma (Sajak mengenai Sodom) – kemungkinan karya Cyprianus Gallus
6 Carmen de Genesi (Sajak mengenai Genesis)
7 Carmen de Judicio Domini (Sajak mengenai Penghakiman oleh Tuhan)
Naskah terkenal Passio SS. Perpetuae et Felicitatis (Kisah Martir dari SS. Perpetua dan Felicitas), kebanyakan adalah catatan harian pribadi St. Perpetua, pernah dianggap disunting oleh Tertulianus, tetapi sekarang tidak lagi diyakini demikian, sehingga biasanya diterbitkan terpisah dari karya-karya Tertulianus.

Montanisme

Montanisme adalah sebuah gerakan sektarian Kristen perdana pada pertengahan abad ke-2 Masehi, yang dinamai seturut pendirinya Montanus. Gerakan ini berkembang umumnya di daerah Frigia dan sekitarnya; di sini sebelumnya pengikutnya disebut Katafrigia. Namun gerakan ini merebak cepat ke wilayah-wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama menang atas Montanisme dalam beberapa generasi, dan mencapnya sebagai sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di beberapa tempat terisolir hingga abad ke-8. Sebagian orang membuat paralel antara Montanisme dan Pentakostalisme (yang disebut sebagian orang Neo-Montanisme). Montanis yang paling terkenal jelas adalah Tertulianus, yang merupakan penulis gereja Latin paling terkemuka sebelum ia beralih ke Montanisme. Penganut paham Montanisme disebut dengan Montanis

Sejarah

Montanus mengunjungi pemukiman-pemukiman pedesaan di Asia Kecil setelah pertobatannya, dan mengajar serta memberikan kesaksian tentang apa yang dikatakannya sebagai Firman Allah. Namun, ajaran-ajarannya dianggap sesat oleh Gereja yang ortodoks karena sejumlah alasan. Ia mengklaim bukan saja telah menerima serangkaian wahyu langsung dari Roh Kudus, tetapi juga secara pribadi merupakan penjelmaan dari roh penghibur yang disebutkan dalam Injil Yohanes 14:16. Montanus disertai oleh dua orang perempuan, Priska, kadang-kadang disebut Priskila, dan Maksimila, yang juga mengklaim sebagai penjelmaan dari Roh Kudus yang menggerakkan dan mengilhami mereka. Kemanapun mereka pergi, "Ketiganya" demikian mereka disebut, berbicara dengan penglihatan ekstatis dan mendesak pengikut-pengikut mereka untuk berpuasa dan berdoa, sehingga mereka pun akan dapat memperoleh wahyu pribadi ini. Pemberitaan Montanus menyebar dari tempat kelahirannya Frigia (dan di sini ia menyatakan bahwa desa Pepuza adalah tempat untuk Yerusalem Baru) hingga ke dunia Kristen saat itu, ke Afrika dan Gaul.

Pada umumnya disepakati bahwa gerakan ini diilhami oleh pembacaan Injil Yohanes oleh Montanus "Aku akan mengutus kepadamu seorang advocate parakletos, roh kebenaran" (Heine 1987, 1989; Groh 1985). Tanggapan terhadap wahyu yang berlanjut ini memecah komunitas-komunitas Kristen, dan para rohaniwan yang lebih ortodoks umumnya berjuang untuk menekannya. Uskup Apolinarius menemukan gereja di Ancyra terpecah menjadi dua, dan ia menentang "nubuat palsu" (dikutip oleh Eusebius 5.16.5). Tetapi ada keragu-raguan yang sungguh-sungguh di Roma, dan Paus Eleuterus bahkan menulis surat-surat untuk mendukung Montanisme, meskipun ia belakangan menariknya kembali (Tertulianus, "Adversus Praxean" c.1, Trevett 58-59).

Priska mengaku bahwa Kristus menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang perempuan. Ketika ia dikucilkan, ia berseru, "Aku diusir seperti serigala dari antara domba-domba. Aku bukan serigala: Aku adalah firman dan roh dan kuasa."

Pembela kaum Montanis yang paling terkenal jelas adalah Tertulianus, seorang bekas pembela keyakinan ortodoks, yang percaya bahwa nubuat yang baru itu memang tulen dan mulai meninggalkan apa yang disebutnya sebagai “gereja dengan banyak uskup" (On Modesty).

Meskipun gereja Kristen yang ortodoks menang atas Montanisme dalam beberapa generasi saja, prasasti-prasasti di lembah Tembris di Frigiia utara, yang bertanggal antara 249 dan 279, secara terbuka menyatakan kesetiaan mereka kepada Montanisme.

Sepucuk surat dari Hieronimus kepada Marsela, yang ditulis pada 385, menyangkal klaim kaum Montanis yang telah mengganggunya (surat 41) 

Sebuah kelompok "Tertulianis" terus hadir di Kartago. Pengarang Praedestinatus yang anonim mencatat bahwa seorang pengkhotbah datang ke Roma pada 388 ketika ia menghasilkan banyak pengikut dan memperoleh izin penggunaan sebuah gereja bagi jemaatnya dengan alasan bahwa para martir yang kepadanya gereja itu dipersembahkan adalah Montanis. Ia terpaksa melarikan diri setelah kemenangan Teodosius I. Augustinus mencatat bahwa kelompok Tertullianis melorot hingga hampir tidak tersisa pada masanya sendiri, dan akhirnya didamaikan dengan gereja dan menyerahkan basilika mereka. Tidak jelas apakah para Tertulianis itu Montanis atau bukan.

Pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Yustinianus, Yohanes dari Efesus memimpin ekspedisi ke Pepuza untuk menghancurkan tempat-tempat suci Montanis di sana, yang berbasis di sekitar makam Montanus, Priskila dan Maksimilia.

Sekte ini bertahan hingga abad ke-8. Columbia Encyclopedia mengklaim bahwa “di tempat-tempat terpencil dari Frigiia, di mana [Montanisme] terus bertahan hingga abad ke-7.”

Beberapa penulis modern mengusulkan bahwa sebagian dari penekanan pada pengalaman pribadi yang langsung dan ekstatis dengan Roh Kudus mempunyai kemiripan dengan semua bentuk Pentakostalisme. “Ia [Montanisme] mengklaim dirinya sebagai agama Roh Kudus dan ditandai oleh ledakan-ledakan ekstatis yang dianggapnya sebagai satu-satunya bentuk Kekristenan yang sejati.”  Sementara memang ada banyak kesamaan antara Montanisme dengan Pentakostalisme modern, tampaknya tidak ada hubungan histories antara keduanya, karena kebanyakan kaum Pentakostal mengklaim otoritasnya berdasarkan Kisah para Rasul (pasal 2).

Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks
Keyakinan-keyakinan Montanisme berbeda dengan Kekristenan ortodoks dalam hal-hal berikut:

Keyakinan bahwa nubuat-nubuat kaum Montanis mengalahkan dan menggenapi doktrin-doktrin yang diberitakan oleh para Rasul.
Dorongan untuk bernubuat secara ekstatis, membedakannya dengan pendekatan teologi yang dominan yang lebih berdisiplin dan penuh pertimbangan di kalangan Kekristenan yang ortodoks pada saat itu hingga sekarang.
Pandangan bahwa orang-orang Kristen yang jatuh dari anugerah tidak dapat ditebus, juga bertentangan dengan pandangan Kristen yang ortodoks bahwa penyesalan dapat mengembalikan orang berdosa ke dalam gereja.
Nabi-nabi Montanisme tidak berbicara sebagai utusan-utusan Allah: "Demikianlah firman Tuhan," melainkan lebih menggambarkan dirinya dikuasai oleh Allah, dan berbicara atas namanya. "Akulah Bapa, Firman, dan Sang Penghibur," kata Montanus (Didymus, De Trinitate, III, xli); Kerasukan roh ini, yang berbicara sementara nabi itu tidak mampu menolaknya, digambarkan oleh roh Montanus: "Lihatlah manusia itu bagaikan sebuah lyre, dan aku melesat seperti plectrum. Orang itu tidur, dan aku terjaga" (Epifanius, "Panarion", xlviii, 4).
Penekanan yang lebih kuat untuk menghindari dosa dan disiplin gereja daripada di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka lebih menekankan upaya menghindari dosa dan disiplin gereja daripada di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka menekankan kesucian seksual, termasuk melarang pernikahan kembali..
Sebagian Montanis juga "Quartodesiman" ("yang 14"), artinya mereka lebih suka merayakan Paskah pada tanggal 14 bulan Nisan menurut kalender Ibrani, tak peduli hari apapun dalam suatu minggu tanggal itu jatuh. Ajaran ortodoks berpendapat bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu setelah tanggal 14 Nisan. (Trevett 1996:202)
Hieronimus dan para pemimpin gereja lainnya mengklaim bahwa kaum Montanis pada masa mereka menganut keyakinan bahwa Tritunggal terdiri atas satu pribadi saja, serupa dengan Sabelianisme, jadi berlawanan dengan pandangan ortodoks bahwa Tritunggal adalah satu Allah dengan tiga pribadi, yang juga dianut oleh Tertulianus. Ada beberapa orang yang memang adalah pemeluk monarkian modalistik (Sabelian) dan beberapa lainnya yang lebih dekat dengan doktrin Tritunggal. Dilaporkan bahwa para modalis ini membaptiskan dengan meyebutkan nama Yesus Kristus, bukannya menyebutkan nama Tritunggal. Kebanyakan dari kaum Montanis di kemudian hari berasal dari kubu modalistik.

Eusebius dari Kaisarea

Eusebius dari Kaisarea (lahir pada tahun 275 – meninggal pada 30 Mei 339), sering disebut juga Eusebius Pamfili, "Eusebius sahabat Pamfilus dari Kaisaria", adalah seorang Uskup di Kaisarea, (sekarang di Israel). Ia sering disebut sebagai seorang Bapa Sejarah Gereja karena karyanya dalam mencatat sejarah Gereja Kristen mula-mula. Sebuah karya sejarah tulisan Hegesippus yang dijadikan referensi oleh Eusebius, yakni kelima buku Hypomnemata (Riwayat), yang sekarang hilang.

Biografi

Kapan dan di mana persisnya Eusebius dilahirkan tidak diketahui. Demikian pula masa mudanya. Ia berkenalan dengan presbiter (penatua) Dorotheus di Antiokhia dan barangkali memperoleh pendidikan eksegetis daripadanya. Pada tahun 296 ia berada di Palestina dan menyaksikan Konstantin yang mengunjungi negeri itu bersama dengan Diocletianus. Ia berada di Kaisarea ketika Agapius menjadi uskup dan bersahabat dengan Pamfilus dari Kaisarea. Tampaknya ia belajar teks Alkitab daripadanya, dengan bantuan Hexapla karya Origen dan tafsiran-tafsiran yang dikumpulkan oleh Pamfilus, dalam usaha mempersiapkan sebuah versi yang benar.

Karya

Sejumlah tulisan pentingnya antara lain:

* Onomasticon: daftar nama orang dan tempat menurut abjad dan kitab yang memuatnya.
* Pantodape historia (bahasa Yunani: Παντοδαπὴ Ἱστορία; Chronicon, bahasa Inggris: Chronicle; "Sejarah Universal") terdiri dari dua bagian. Bagian pertama,   Chronographia (bahasa Yunani: Χρονογραφία memuat sejarah dunia dari berbagai sumber yang diatur menurut bangsa. Bagian kedua, the Chronikoi kanones   (bahasa Yunani: Χρονικοὶ Κανόνες; bahasa Inggris: Canons berisi materi sejarah yang disusun dalam kolom sejajar menurut garis waktu.

* Historia Ecclesiastica ("Sejarah Gereja").

-

Jan 20, 2019

Alkitab

Alkitab adalah kitab suci umat Kristen Protestan maupun Katolik. Isi dari Alkitab itu sendiri merupakan apa yang dikehendaki Allah untuk dilakukan manusia. Penjelasan tentang Allah dan kebenaran-Nya terdapat pada kitab Perjanjian Lama. Sedangkan manusia dan keberadaannya terdapat dalam kitab Perjanjian Baru.

Pengelompokan kitab suci dibagi atas dua, yaitu:

Kitab Suci Perjanjian Lama
Berisi 39 kitab mulai dari kitab Kejadian – Maleakhi. Kitab Perjanjian Lama lebih mengarah pada pembahasan arti bersyukur dalam Alkitab dalam karya Allah untuk menyiapkan kedatangan Tuhan bagi bangsa Israel. Hal ini terlihat jelas dalam kitab Kejadian dan Yesaya.

Kitab Suci Perjanjian Baru
Berisi 27 kitab mulai dari kitab Matius – Wahyu. Kitab Perjanjian Baru lebih mengarah pada karya-karya atau mukjizat yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Mukjizat ini pun terlihat nyata dan disaksikan oleh sebagian orang. Hal ini bisa dilihat dalam Kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), Sejarah (Kisah Para Rasul), Surat-Surat Paulus (Roma – Filemon), Surat-Surat Umum (Ibrani – Yudas), dan Ramalan (Wahyu)

Siapakah yang Menulis Alkitab?

Alkitab tidak dituliskan oleh Allah. Namun, Allah yang menafaskan Alkitab hingga bisa ada dan dimengerti seperti sekarang ini. Allah menuntun dan mengilhami manusia untuk menuliskan isi dari Alkitab. Secara manusiawi, Alkitab telah dituliskan banyak kejadian yang kita kenal sebagai Paskah  kurang lebih oleh 40 orang. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Sehingga terdapat sebuah persepsi yang berbeda dalam penulisan Alkitab.

Walaupun dituliskan oleh penulis dari latar belakang yang berbeda-beda, namun isi dari Alkitab tersebut tak ada yang bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka tetap menjaga eksistensi Tuhan Yesus dan memproklamirkan bahwa hanya ada Allah yang satu dan Esa. Tidak semua kitab menyebutkan secara spesifik siapa nama penulisnya. Berikut adalah nama penulis Alkitab dan Kitab yang ditulisnya, antara lain:

Musa (1400 SM) – Menuliskan kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, dan Ayub
Yosua (1350 SM) – Yosua
Samuel / Natan / Gad (1000-900 SM) – Kitab Hakim-Hakim, Rut, 1 Samuel, dan 2 Samuel
Salomo (900 SM) – Kitab Amsal, Pengkotbah, dan Kidung Agung
Yoel (850 SM) – Kitab Yoel
Amos (750 SM) – Kitab Amos
Hosea (750 SM) – Kitab Hosea
Yesaya (700 SM) – Kitab Yesaya
Yunus (700 SM) – Kitba Yunus
Mikha (700 SM) – Kitab Mikha
Zefanya (650 SM) – Kitab Zefanya
Yeremia (600 SM) – Kitab Yeremia dan Ratapan
Obaja (600 SM) – Kitab Obaja
Habakuk (600 SM) – Kitab Habakuk
Yeremia (600 SM) – Kitab 1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja
Yehezkiel (550 SM) – Kitab Yehezkiel
Daniel (550 SM) – Kitab Daniel
Hagai (520 SM) – Kitab Hagai
Zakharia (500 SM) – Kitab Zakharia
Ezra (450 SM) – Kitab 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, dan Nehemia
Maleakhi (430 SM) – Kitab Maleakhi
Daud dan beberapa penulis lainnya (1000 SM – 400 SM) – Kitab Mazmur
Mordekhai (400 SM) – Kitab Ester
Yohanes (90 M) – Kitab Yohanes, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Wahyu
Paulus, Lukas, Barnabas, atau Apolos (65 M) – Kitab Ibrani
Lukas (65 M) – Kitab Kisah Para Rasul
Petrus (60 M) – Kitab 1 Petrus dan 2 Petrus
Yudas (60 M) – Kitab Yudas
Lukas (60 M) – Kitab Lukas
Matius (55 M) – Kitab Matius
Paulus (70 M – 50 M) – Kitab Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Efesus, Galatia, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, Filipi, Titus, Filemon, 1 Timotius, dan 2 Timotius
Markus (50 M) – Kitab Markus
Yakobus (45 M) – Kitab Yakobus
Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak langsung ada sekaligus. Isi dari Alkitab itu sendiri sangatlah banyak, sehingga makna Paskah masih belum dikenal karena membutuhkan waktu yang lama dalam penyusunannya. Dari daftar orang yang menulis Alkitab di atas, dapat kita lihat pembuatannya selama beribu-ribu tahun. Mulai dari tahun 1400 SM hingga 45 M. Agar menjadi suatu kitab yang utuh, maka diadakanlah Kanonisasi. (Baca juga: Allah Tritunggal)

Perkembangan Kanon Dalam Penyusun Alkitab

Kanon ini sendiri juga termasuk dalam sejarah penulisan Alkitab. Kanon berasal dari Bahasa Ibrani “qaneh” yang berarti “batang gelagah”. Pada tahun berikutnya, “qaneh” ini sendiri mengandung beberapa arti yaitu tukang batu, tukang kayu, dan tongkat pengukur. Namun, orang pada zaman sekarang lebih menyebutnya sebagai pedoman ataupun norma dalam menjalankan hidup. (Baca juga: Gereja Terbesar di Dunia) Beberapa kanon yang ada dalam sejarah penulisan Alkitab, antara lain:

1. Kanon Yunani

Pada masa ini, Alkitab yang digunakan ialah Alkitab Perjanjian Lama yang didalamnya tekandung  makna doa Bapa Kami. Isi dari Alkitab pun masih dalam Bahasa Yunani yang disebut denganSeptuaginta. Kitab ini dipakai oleh orang Yahudi dan orang-orang yang tinggal di luar Palestina. Penerjemahan dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani terjadi pada abad ke 3 SM – 2 SM. Kitab Suci pada kanon ini diterjemahkan oleh 70 orang Yahudi.

Pada masa itu, para nabi diperintahkan untuk menerjemahkan Alkitab yang dituliskan pada tahun 1400 SM – 400 SM. Proses penerjemahan Alkitab dilakukan secara terpisah. Setiap nabi menerjemahkan isi Alkitab di negara tempat tinggalnya masing-masing. Sehingga penyusunan kalimatnya 50% bisa berbeda. Namun, fakta uniknya adalah hasil terjemahannya sama persis bahkan tanda titik dan komanya. (Baca juga: Peran Gereja Dalam Masyarakat)

Dalam Kanon Yunani, terdapat 4 kelompok susunan, yaitu:

Taurat Tuhan, terdapat dalam kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan
Kitab-kitab sejarah, yaitu kitab Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Samuel, 2 Samuel, Ezra, Nehemia, Ester, 1 Tawarikh, dan 2 Tawarikh
Sastra, terdapat dalam kitab Mazmur, Ayub, Pengkotbah, Mazmur, dan Kidung Agung
Kitab-kitab nubuat, yaitu Yesaya, Ratapan, Yehezkiel, Yeremia, Daniel, Yoel, Amos, Hosea, Obaja, Yunus, Mikha, Hagai, Zakharia, Maleakhi, dan Zefanya

2. Kanon Yahudi

Pada tahun 90 M – 100 M, orang Yahudi menggunakan kanon kitab suci untuk pertama kalinya. Kanonisasi dilakukan oleh seorang nabi berdarah Farisi di Yamnia. Pengelompokan yang ada pada masa kanon Yahudi juga dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Antara lain:

Taurat Tuhan, terdapat pada kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan
Nabi-nabi terdahulu, yaitu Yosua, Hakim-Hakim, Raja-Raja, Samuel, Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel
Kitab-kitab, yaitu Mazmur, Amsal, Ayub, Rut, Ratapan, Kidung Agung, Ester, Daniel, Pengkotbah, Daniel, Ezra, Nehemia, dan Tawarikh

3. Kanon Deuterokanonika

Selain Bahasa Ibrani dan Yunani, Alkitab juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Pada abad ke 4 M, diadakan pembaruan Alkitab dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Beberapa isi Alkitab pada masa ini diragukan bukan merupakan sabda Tuhan. Namun, isi yang berhasil diterjemahkan pada tahun 400 SM – 100 SM dianggap baik oleh kebanyakan pemuka agama. (Baca juga: Sejarah Gereja)

Pada kanon ini, para uskup didorong untuk melakukan konsili untuk menetapkan jumlah Alkitab secara pasti. Keputusan mengenai kanon agama Katolik terjadi pada Konsili Trente melalui sebuah dekrit De Canonic is Scripturis. Pada keputusan tersebut, ditetapkanlah isi Alkitab yaitu 39 Perjanjian Lama da 27 Perjanjian Baru.

5. Kanon Protestan

Kanon ini mengakui 27 kitab Perjanjian Baru yang diakui oleh agama Katolik. Namun, tidak mengakui kitab-kitab pada Deuterokanonika. Namun, kitab tersebut masih tetap berguna dan masih baik untuk dibaca sebagai bahan perenungan. Gereja Anglikan merupakan satu-satunya yang masih sering menggunakan Deuterokanonika.