Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Oct 10, 2020

Kekaisaran Babilonia Baru

Istilah Babilonia Baru atau Kasdim berarti Babilonia yang berada di bawah kekuasaan dinasti Kasdim atau dinasti ke-11, yang dimulai dari revolusi Nabopolassar pada tahun 626 SM hingga invasi Koresh Agung pada tahun 539 SM, dengan penguasa terkenal di antaranya adalah Nebukadnezar II.

Nabopolassar 626 SM – 605 SM

Setelah matinya raja Ashurbanipal pada tahun 627 SM, kerajaan Asyur terpecah oleh persaingan di dalam. Seorang jenderal Asyur, Sin-shum-lishir, memberontak dan menguasai Babilon, tetapi langsung digulingkan oleh tentara Asyur yang setia pada raja Ashur-etil-ilani. Babilon kemudian dikuasai oleh putra Ashurbanipal yang lain, Sin-shar-ishkun, yang mengangkat diri menjadi raja. Namun tidak lama kemudian Babilon memberontak dengan bantuan suku Kasdim (Bit Kaldu), yang dipimpin oleh Nabopolassar. Nabopolassar merebut tahta dan memulai dinasti Neo-Babilonian.

Selama 3 tahun pertama, Nabopolassar tidak diganggu dalam memperkuat Babilon, karena ada perang saudara sengit antara raja Asyur Ashur-etil-ilani dan saudaranya Sin-shar-ishkun di Mesopotamia selatan.

Tahun 623 SM, Sin-shar-ishkun membunuh saudaranya dalam Perang di Nippur, merebut tahta dan berusaha merebut Babilon dari Nabopolassar. Selama 7 tahun, Nabopolassar memukul mundur serangan Asyur, dan tahun 616 SM malah menyerang Assur dan Arrapha, tetapi tidak berhasil. Kemudian bersama sekutunya, bekas tentara Asyur, orang-orang Media, Persia, Elam dan Scythian, ia menyerang lagi pada tahun 615 dan 614 SM, kali ini Assur dan Arrapha berhasil direbut. Selama tahun 613 SM tentara Asyur mencoba memukul mundur tentara Babilonia dan Media. Namun sebaliknya pada tahun 612 SM Nabopolassar dan raja Media, Cyaxares, memimpin tentara gabungan menyerang Niniwe, mengepungnya selama 3 bulan dan merebutnya. Sejak itu Babilon menguasai Asyur dan wilayah bagian utara maupun baratnya.

Seorang jenderal Asyur, Ashur-uballit II, menjadi raja Asyur dan mendirikan ibukotanya di Harran. Nabopolassar dan sekutunya mengepung Ashur-uballit II di Harran tahun 608 SM dan merebutnya; Ashur-uballit II menghilang setelah ini.

Raja Mesir, Firaun Nekho II menyerang pada tahun 609 SM dalam upaya yang terlambat untuk membantu sekutunya di Asyur. Nabopolassar (dibantu putra dan kelak penggantinya, Nebukadnezar II) selama tahun-tahun terakhir pemerintahannya terus mengusir orang-orang Mesir, yang dibantu tentara bayaran dari Yunani dan sisa tentara Asyur, dari Siria, Asia Kecil, bagian utara Arabia dan Israel. Nebukadnezar membuktikan kehandalannya dengan akhirnya mengalahkan tentara Mesir beserta sekutunya dalam perang di Carchemish tahun 605 SM.

Nebukadnezar II 604 SM – 562 SM

Nebukadnezar II menjadi raja setelah ayahnya mati. Ia membangun semua kota-kota besar Babilonia dengan mewahnya. Ibukotanya, Babilon, meliputi wilayah seluas 3 mil persegi, dikelilingi oleh rawa-rawa dan dua lapis dinding tebal. Sungai Eufrat mengalir di tengah kota, dihubungkan dengan jembatan batu yang indah. Di tengah kota ada ziggurat raksasa yang disebut Etemenanki, "Rumah perbatasan langit dan bumi," di sebelah kuil dewa Marduk.

Nebukadnezar berhasil menaklukkan Siria dan Fenisia, memaksa upeti dari Damaskus, Tirus dan Sidon. Ia juga menyerang Asia Kecil, di tanah "Hatti". Tahun 605 SM ia menduduki Yerusalem (penyerbuan pertama) dan mendapatkan upeti dari Yoyakim, raja Yehuda.

Seperti Asyur, orang Babilonia berperang setiap tahun untuk menguasai jajahannya. Tahun 601 SM Nebukadnezar berperang lagi melawan Mesir. Tahun 599 SM ia menyerang Arabia dan mengalahkan mereka di Qedar. Tahun 597 SM ia menyerang Kerajaan Yehuda (penyerbuan pertama) dan merebut Yerusalem serta menawan raja Yoyakhin, membawanya dalam pembuangan, dan menempatkan Zedekia, paman Yoyakhin menjadi raja. Mengambil kesempatan perang antara Mesir dan Babilon, raja Zedekia mencoba memberontak. Setelah dikepung 18 bulan Yerusalem (penyerbuan pertama) direbut lagi tahun 587 SM, ribuan orang Yahudi dibuang ke Babel dan Bait Suci dihancurkan sampai rata tanah.

Pada tahun 572 Nebukadnezar menguasai penuh Babilonia, Asyur, Fenisia, Israel, Filistin, Arabia utara dan sebagian Asia Kecil.

Nebukadnezar terus berperang dengan Firaun Psamtik II dan Hofra (Apries) selama pemerintahannya, dan pada zaman Firaun Amasis II tahun 568 SM, ia diduga menginjakkan kaki di tanah Mesir.

Ewil-Merodakh (Amel-Marduk) 562 SM – 560 SM

Ewil-Merodakh adalah putra dan penerus Nebukadnezar II. Ia memerintah hanya 2 tahun (562 – 560 SM). Menurut Kitab 2 Raja-raja di Alkitab, ia mengampuni dan melepaskan raja Yoyakhin, dari Kerajaan Yehuda, yang ditawan di Babel selama 37 tahun (sejak tahun 597 SM). dimana ditulis bahwa:

"           Kemudian dalam tahun ke-37 sesudah Yoyakhin, raja Yehuda dibuang, dalam bulan yang ke-12, pada tanggal 27 bulan itu, maka Ewil-Merodakh, raja Babel, dalam tahun ia menjadi raja, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberikan kedudukan kepadanya lebih tinggi daripada kedudukan raja-raja yang bersama-sama dengan dia di Babel.           "

— 2 Raja-raja 25:27-28

Menurut Kitab Yeremia pasal 52:31-32 Ewil-Merodakh melepaskan Yoyakhin tanggal 25.

Diduga karena berusaha mengubah kebijakan ayahnya, Ewil Merodakh dibunuh oleh Nergal-sarezer atau Neriglissar, iparnya yang kemudian merebut tahtanya.

Nergal-sarezer 560 SM – 556 SM

Nergal-sarezer atau Neriglissar memerintah dengan stabil, melakukan banyak pekerjaan umum, termasuk memperbaiki kuil dan sebagainya. Ia juga berhasil menyerang Silisia, yang mengancam Babilon. Neriglissar hanya bertahta 4 tahun sebelum diganti putranya, Labashi-Marduk yang masih muda. Tidak jelas apakah Neriglissar dari suku Kasdim atau penduduk asli kota Babilon.

Lbashi-Marduk 556 SM

Labashi-Marduk adalah putra Nergal-sarezer atau Neriglissar, yang meneruskan tahta ketika masih kecil. Ia dibunuh dalam satu persepakatan 9 bulan setelah dinobatkan. Ia digantikan oleh Nabonidus.

Nabonidus 556 SM – 539 SM

Latar belakang Nabonidus tidak jelas. Dalam satu tulisan peninggalannya, ia menyebut latar belakangnya tidak penting. Ibunya yang hidup sampai usia tua dan tinggal di kuil dewa bulan Sîn di Harran juga tidak menyebut asal-usulnya. Menurut Tawarikh Nabonidus mulai tahun ke-7 pemerintahannya (549 SM) ia mengasingkan diri ke kota Tema di Arabia dan menyerahkan pemerintahannya pada putra sulungnya, Belsyazar.

Belsyazar 549 SM - 539 SM

Belsyazar menjadi raja atas nama ayahnya, Nabonidus, selama 10 tahun ayahnya di pengasingan (menurut Tawarikh Nabonidus). Kitab Daniel mencatat bahwa Nebukadnezar disebut sebagai ayahnya. Istilah "ayah" dapat berarti "kakek" atau "leluhur", termasuk juga "ayah angkat". Pada tahun 539 SM, Nabonidus pulang ke Babilon untuk menghadapi ancaman serangan Koresh, raja Persia, tetapi tidak berhasil menahan serbuan ini. Menurut Kitab Daniel, Belsyazar mati terbunuh pada malam tentara Persia berhasil masuk dan merebut ibukota Babilon yang berdasarkan perhitungan waktu sejarah terjadi pada tanggal 15 Oktober 539 SM. Dalam catatan-catatan Babel maupun Persia, namanya tidak disebutkan lagi setelah tanggal ini.

Kerajaan Yehuda

Kerajaan Yehuda (bahasa Ibrani: מַלְכוּת יְהוּדָה, Modern Malḫut Yəhuda Tiberias Malḵûṯ Yəhûḏāh) hidup pada dua periode dalam sejarah Yahudi. Menurut Alkitab Ibrani, kerajaan muncul di Yehuda setelah wafatnya Saul, saat suku Yehuda mengangkat Daud, yang berasal dari Suku Yehuda, untuk memerintah wilayah tersebut. Setelah tujuh tahun Daud menjadi raja Kerajaan Israel serikat. Selama masa-masa ini, Yerusalem menjadi ibu kota dari kerajaan serikat. (2 Samuel 5:6-7) Namun, pada sekitar 930 SM, kerajaan serikat terpecah, dengan sepuluh dari dua belas suku Israel menolak cucu Daud Rehabeam sebagai raja mereka. Kerajaan Yehuda yang baru muncul sebagai salah satu pemerintahan, dan pemerintahan lainnya yang dikenal dengan Kerajaan Israel, atau Israel. Kerajaan Yehuda ini sering disebut sebagai Kerajaan Selatan, sedangkan Kerajaan Israel karena perpecahan tersebut disebut Kerajaan Utara. Yehuda bertahan hingga 586 SM, saat kerajaan tersebut diserbu oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Nebukadnezar. (2 Raja-raja 25:8-21) Dengan pengasingan penduduk dan penghancuran Kuil dan Yerusalem, penghacuran kerajaan selesai sudah.

Dinasti Daud dimulai ketika suku Yehuda mengangkat Daud sebagai raja setelah wafatnya Saul. Garis Daud berlanjut saat ia menjadi raja Kerajaan Israel serikat. Saat kerajaan serikat terpecah, suku Yehuda dan Benyamin tetap mengikuti garis Daud, yang memerintah hingga kerajaan dihancurkan pada tahun 586 SM. Walau begitu, garis Daud tetap dihormati oleh para buangan di Babilonia, yang menghormati Rosh Galut sebagai raja dalam pembuangan.

Wilayah

Wilayah yang menyusun kerajaan terdiri dari wilayah yang dikenal sebagai Har Yehudah ("pegunungan (wilayah) curam"). Wilayah tersebut dulunya merupakan kediaman bangsa Keni, Kaleb, Otniel, dan di Yerusalem bangsa Yebus.

Sejarah

Kerajaan serikat merupakan kesatuan dari dua belas suku Israel yang hidup di wilayah yang saat ini merupakan Israel dan Palestina modern. Kerajaan ini berdiri dari sekitar 1030-930 SM.

Setelah wafatnya Salomo (Sulayman) pada 931 SM, sepuluh suku di utara menolak menerima Rehabeam sebagai raja mereka, dan sebagai gantinya memilih Yerobeam, yang bukan dari garis Daud, sebagai raja mereka. Kerajaan utara kemudian dikenal dengan Kerajaan Israel atau Israel. Pemberontakan terjadi di Sikhem, dan suku Yehuda merupakan yang tersisa pertama kali yang menerima Keluarga Daud. Kemudian, setelah suku Benyamin bergabung dengan Yehuda, Yerusalem (yang terletak di teritori Benyamin: Yosua 18:28) menjadi ibu kota kerajaan baru tersebut. Kerajaan selatan disebut dengan kerajaan Yehuda atau Yehuda. 2 Tawarikh 15:9 juga menyebutkan bahwa anggota suku-suku Efraim, Manasye, dan Simeon "melarikan diri" ke Yehuda selama pemerintahan Asa dari Yehuda.

Selama enam puluh tahun pertama, raja-raja Yehuda berusaha mengembalikan otoritas mereka terhadap kerajaan utara, dan terjadi perang yang terus berkecamuk di antara mereka. Selama delapan puluh tahun berikutnya, sudah tidak terjadi lagi perang terbuka di antara mereka, dan kemudian menjadi saling bersekutu, bekerja sama melawan musuh mereka, khususnya Damaskus.

Israel berdiri sebagai sebuah negara merdeka hingga sekitar tahun 720 SM saat terjadi penaklukkan oleh Kekaisaran Asyur. Alkitab mengisahkan bahwa seluruh orang Israel dibuang, yang kemudian dikenal dengan "Sepuluh suku yang hilang". Namun, diperkirakan hanya seperlima populasi (sekitar 40.000) yang benar-benar dipindahkan dari wilayah mereka selama dua periode pengasingan di bawah Tiglat-Pileser III dan Sargon II.  Banyak orang Israel juga melarikan diri ke selatan ke Yerusalem, yang menjadi lima kali lipat lebih luas selama periode ini, sehingga didirikan sebuah tembok baru dan sebuah mata air (Siloam) yang disediakan oleh Raja Hizkia.

Setelah kehancuran Israel, Yehuda masih bertahan hingga sekitar satu setengah abad hingga ditaklukkan oleh bangsa Babilonia.

Raja Hizkia dari Yehuda (727-698 SM) dalam Alkitab disebutkan sebagai pemrakarsa pembaharuan yang memaksa hukum Yahudi menolak penyembahan berhala (dalam hal ini, penyembahan terhadap Ba'alim and Asyera di antara dewa-dewa tradisional Timur Dekat).  Selama kekuasaannya juga dibuat "Inskripsi Siloam", yang ditulis dalam abjad Ibrani Kuno 

Manasye dari Yehuda (698-642 SM), mengorbankan putranya kepada Molokh (2 Raja-raja 21). Dia dan putranya Amon (berkuasa 642-640 SM) membalikkan reformasi Hizkia dan secara resmi mengadakan kembali pemberhalaan. Menurut cerita-cerita kenabian, Manasye meletakkan sebuah berhala berwajah empat di Tempat Maha Kudus dari Tempat-tempat Kudus.

Pada pemerintahan raja Yosia (640-609 SM) terjadi reformasi agama. Menurut Alkitab, saat pemulihan dilakukan di Bait Suci, sebuah 'Kitab Hukum' ditemukan (kemungkinan Kitab Ulangan).

Pada 586 SM, bangsa Babilonia, di bawah raja Nebukadnezar II, mengepung Yerusalem. Kuil Pertama dihancurkan begitu pula kota Yerusalem. Hingga saat ini, penghancurkan diperingati oleh orang Yahudi pada 9 Abib, atau Tisha B'Av.

Akibat penaklukkan ini, banyak penduduk Yehuda diasingkan dari tanah mereka dan disebar ke seluruh Kekaisaran Babilonia, dan kerajaan Yehuda merdeka berakhir. Keluarga Daud masih tetap dihormati dan diterima sebagai pemimpin komunitas Yahudi Babilonia sebagai Rosh Galut. Kerajaan Yahudi dikembalikan oleh para Makabe empat abad kemudian dalam bentuk yang telah dimodifikasi.

 

Provinsi Romawi yang meliputi daerah geografis Yudea, Samaria, dan Idumea,

Yudea (bahasa Inggris: Judea, Judæa, dari bahasa Ibrani: יהודה, Standard Yəhuda Tiberian Yəhûḏāh, bahasa Yunani: Ἰουδαία, Ioudaía; bahasa Latin: IVDÆA, bahasa Arab: يهودا‎, Yahudia) adalah nama biblika, Romawi, dan modern dari bagian selatan Palestina yang bergunung-gunung. Nama ini berasal dari nama Ibrani, Kanaan, Babilonia Baru kelak, dan Persia, "Yehuda" atau "Yehud" untuk menyebut Suku Yehuda dari Israel biblika serta berhubungan dengan Kerajaan Yehuda, yang mana Ensiklopedia Yahudi tahun 1906 memberinya tarikh 934 sampai 586 SM. Nama dari wilayah ini tetap diintegrasikan pada sepanjang periode penaklukkan Babilonia, Persia, Helenistik, dan Romawi sebagai Yehud, Yehud Medinata, Yudea Hashmonayim, dan konsekuensinya, berturut-turut, Yudea Herodian dan Yudea Romawi.

 

Salah satu akibat dari Perang Bar Kokhba, pada tahun 135 M wilayah ini diganti namanya dan digabungkan dengan Siria Romawi untuk membentuk Palaestina Siria oleh Kaisar Romawi Hadrianus yang berjaya pada saat itu. Suatu bagian besar dari Yudea termasuk dalam Tepi Barat Yordania dari tahun 1948 sampai 1967 (yaitu "Tepi Barat" dari Kerajaan Yordania). Istilah Yudea sebagai suatu istilah geografis dihidupkan kembali oleh pemerintah Israel pada abad ke-20 sebagai bagian dari nama distrik administratif Israel Wilayah Yudea dan Samaria untuk wilayah yang umumnya disebut sebagai Tepi Barat.

 

Samaria, atau Shomron (bahasa Ibrani:שֹׁמְרוֹן}}, bahasa Ibrani standar Šoməron bahasa Ibrani Tiberias Šōmərôn; bahasa Arab: سامريّون, Sāmariyyūn or ألسامرة, as-Samarah – juga dikenal sebagai جبال نابلس, Jibal Nablus; bahasa Yunani: Σαμαρεία) adalah sebuah istilah geografis yang digunakan untuk wilayah pegunungan antara Galilea di utara dan Yudea di selatan. Nama ini digunakan untuk wilayah alam, historis, dan politik. Daerah ini terletak di tengah Tanah Israel di dalam Alkitab. Kebanyakan wilayah ini berada di Tepi Barat sebelah utara dari Sungai Yordan.

 

Nama ini mungkin berasal dari shâmar, 'mengamati' atau 'mengawasi' sehingga artinya mungkin seperti 'pos penjagaan'; tetapi, menurut 1 Raja-raja 16:24, nama ini berasal dari nama seseorang (atau klan) Semer. Dari Semer inilah Omri membeli tempat ini.

 

Samaria adalah salah satu "wilayah" statistik standar yang digunakan oleh Biro Pusat Statistik Israel.   "Biro Pusat Statistik juga mengumpulkan statistik dari wilayah Yudea-Samaria dan Distrik Gaza. Biro ini menghasilkan berbagai seri statistik di wilayah ini, yang memuat data populasi, pekerjaan, gaji, perdagangan luar, laporan nasional, dan berbagai topik lainnya." Samaria digunakan oleh orang-orang yang ingin menekankan hubungan Israel dan orang Yahudi dengan tanah mereka. Misalnya, Samaria, bersama-sama dengan Yudea, kini lebih luas dikenal di luar Israel dengan istilah baru "Tepi Barat." Lihat Yudea dan Samaria.

 

Lokasi geografis

Di sebelah utara, Samaria berbatasan dengan lembah Esdraelon; di sebelah timur dengan Sungai Yordan; di sebelah barat dengan Pegunungan Karmel (di bagian utara) dan dataran Sharon (di barat); di sebelah selatan dengan Yudea (bukit-bukit Yerusalem). Bukit-bukit Samaria tidak begitu tinggi, jarang yang tingginya lebih dari 800 meter. Iklim Samaria lebih ramah daripada iklim Yudea.

 

Kontrol politik

Sejarah Samaria di zaman modern, yang dimulai ketika wilayah Samaria, yang tadinya dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman, dipercayakan kepada Britania Raya untuk menjalankan administrasinya pada masa setelah Perang Dunia I sebagai Mandat Britania atas Palestina, oleh Liga Bangsa-Bangsa. Akibat dari Perang Arab-Israel 1948, wilayah ini jatuh ke tangan kekuasaan Yordania dan para penduduknya belakangan menerima paspor Yordania.

 

Samaria direbut oleh pasukan-pasukan Israel dari Yordania pada masa Perang Enam Hari 1967. Baru pada 1988 Yordania menarik klaimnya atas Tepi Barat, termasuk Samaria, dan belakangan dikukuhkan oleh perjanjian perdamaian Israel-Yordania tahun 1993. Sebaliknya Yordania mengakui Otoritas Palestina sebagai pihak yang berkuasa atas wilayah ini. Dalam Persetujuan Oslo 1994, tanggung jawab untuk melaksanakan administrasi atas sebagian wilayah Samaria (Wilayah 'A' dan 'B') dialihkan kepada Otoritas Palestina.

 

Israel telah dikritik karena kebijakannya membangun pemukiman di Samaria. Posisi Israel ialah bahwa status hukum tanah itu tidak jelas, sementara PBB tidak setuju. Lihat pemukiman Israel.

 

Orang Samaria

 

Secara etnis, orang Samaria adalah penduduk Samaria setelah awal pembuangan orang Israel di Israel (2 Raja-raja 17 dan Yosefus   Ketika Asyur mengalahkan Kerajaan Utara (Israel) pada 722 SM, sebagian penduduknya dideportasi, dan orang-orang lain dari Kekaisaran Asyur ditempatkan di Israel. Sargon mengklaim dalam catatan-catatan sejarah Asyur bahwa ia mengangkut 27.290 penduduk dari Samaria, ibukota Israel Utara. Para penduduk yang baru menyembah dewa-dewa mereka sendiri, tetapi ketika di wilayah yang mulanya jarang penduduknya itu merajalela binatang-binatang buas yang berbahaya, mereka meminta kepada raja Asyur untuk mengirimkan para imam Israel untuk mengajar mereka tentang bagaimana menyembah "dewa wilayah itu." Hasilnya adalah sebuah agama sinkretistik – kelompok-kelompok nasional menyembah Tuhan, tetapi mereka juga melayani dewa-dewa mereka sendiri sesuai dengan kebiasaan bangsa-bangsa asal usul mereka. Sebagian orang Samaria mengklaim sebagai keturunan orang Israel dari Kerajaan Utara yang lolos dari deportasi dan pembuangan.

 

Sebuah studi genetik menyimpulkan dari analisis kromosom-Y bahwa orang Samaria adalah keturunan dari orang Israel (termasuk Kohen, atau para imam), dan analisis DNA mitokondrial menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan dari perempuan-perempuan Asyur dan asing lainnya, hingga praktis menegaskan bahwa orang-orang Samaria adalah keturunan masyarakat lokal maupun asing. (Shen et al, 2004)

 

Agama Samaria adalah agama yang berkaitan dengan Yudaisme dalam segala aspeknya. Agama ini menerima Torah sebagai kitab sucinya, meskipun tidak banyak dari teologi Yahudi yang belakangan. Bait suci mereka terletak di Bukit Gerizim, bukan Yerusalem, dan dihancurkan oleh Yohanes Hirkanus dari kelompok Makabe (Hasmoni) belakangan pada abad ke-2 SM, meskipun keturunan mereka masih beribadah di antara reruntuhan-reruntuhannya. Antagonisme antara orang Samaria dengan orang Yahudi penting untuk memahami cerita-cerita Perjanjian Baru tentang "Orang Samaria yang Baik Hati" dan Perempuan Samaria.

 

Sejarah

 

Shomron (Samaria) secara harafiah adalah sebuah bukit pengintai atau menara pengintai. Di pusat gunung-gunung Israel, beberapa kilometer di barat laut Sikhem, berdiri "bukit Shomeron," sebuah bukit sendirian, sebuah "mamelon" raksasa. Ini adalah sebuah bukit persegi empat, dengan lereng yang curam namun masih dapat didaki, dan puncaknya yang panjang dan datar.

 

Omri, raja Israel, membeli bukit ini dari Semer pemiliknya dengan dua talenta perak, dan membangun di puncaknya yang luas sebuah kota yang dianaminya "Shomeron", yaitu, Samaria, sebagai ibukota baru kerajaannya, ketimbang Tirzah (1 Raja-raja 16:24). Karena itu, kota ini mempunyai sejumlah keuntungan. Omri tinggal di sini selama enam tahun terakhir pemerintahannya.

 

Akibat dari perang yang tidak perlu dengan Suriah, Omri terpaksa memberikan hak kepada Suriah untuk "membangun jalan-jalan di Samaria", artinya, kemungkinan memberikan izin kepada para pedagang Suriah untuk meneruskan perdagangan mereka di ibukota Israel. Ini menyiratkan kehadiran populasi Suriah yang cukup besar.

 

Ini adalah satu-satunya kota besar di Palestina yang dibangun oleh yang berkuasa. Yang lain-lainnya telah disucikan oleh tradisi leluhur atau merupakan milik sebelumnya. Tetapi Samaria adalah pilihan Omri sendiri. Memang, ia memberikan kepada kota yang dibangunnya itu nama dari pemilik sebelumnya, tetapi hubungan khusus dengan dirinya sendiri sebagai pendirinya dibuktikan oleh nama yang tampaknya diberikan kepada Samaria dalam prasasti-prasasti Asyur, "Beth-khumri" ("rumah atau istana Omri").

 

Samaria seringkali dikepung. Pada masa Ahab, Benhadad II bangkit menyerangnya dengan 32 raja vasal, tetapi dikalahkan dengan pembantaian hebat (1 Raja-raja 20:1-21). Kali yang kedua, tahun beriuktnya, ia menyerangnya; tetapi kembali ia dikalahkan habis-habisan, dan terpaksa meneyrah kepada Ahab (20:28-34), yang pasukannya, dibandingkan dengan pasukan Benhadad, tidak lebih daripada "segelintir anak kecil."

 

Pada masa Yoram, Benhadad kembali mengepung Samaria. Tetapi tepat ketika ia tampaknya akan berhasil, mereka tiba-tiba membubarkan pengepungan, karena mereka ketakutan ketika mendengar suara kereta-kereta perang dan kuda-kuda serta sejumlah besar pasukan, lalu melarikan diri, meninggalkan perkemahan mereka dengan segala isinya. Penduduk kota yang kelaparan segera merasa lega karena berlimpahnya jarahan dari perkemahan orang Suriah. Menurut kata-kata Elisa, "sesukat tepung yang terbaik berharga sesyikal dan dua sukat jelai berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria" (2 Raja-raja 7:1-20).

 

Salmaneser V menyerang Israel pada masa Hosea, dan menjadikannya negara vasalnya. Ia mengepung Samaria (723 SM), yang bertahan selama tiga tahun, dan akhirnya ditangkap oleh Sargon II, yang menyelesaikan penaklukan yang telah dimulai oleh Salmaneser (2 Raja-raja 18:9-12; 17:3), serta membuang sejumlah besar suku-suku di sana ke pembuangan. Lihat Sepuluh suku yang hilang.

 

Rujukan Perjanjian Baru

 

Perjanjian Baru menyebutkan Samaria dalam Injil Lukas pasal 17:11-20, dalam mujizat penyembuhan terhadap sepuluh penderita kusta, yang terjadi di perbatasan Samaria dan Galilea. Injil Yohanes 4:1-26 mencatat perjumpaan Yesus di sumur Yakub dengan seorang perempuan dari Sikhar. Di situ ia menyatakan dirinya sebagai sang Mesias. Dalam Kisah 8:5-14, dicatat bahwa Filipus pergi ke kota Samaria dan memberitakan Injil di sana. Pada masa Yesus, Syria Iudaea yang merupakan wilayah Roma dibagi menjadi tiga provinsi, Yudea, Samaria, dan Galilea. Samaria berada di pusat Syria Iudaea (Yohanes 4:4). (Syria Iudaea belakangan diganti namanya menjadi Syria Palaestina pada 135, setelah pemberontakan Bar Kokhba.) Dalam Talmud, Samaria disebut "negeri orang Kutim".

 

Edom merupakan nama tempat yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir. Tanah dan penghuni dari Edom ini ditemukan di dataran bagian selatan dan tenggara dari Laut Mati. Edom juga bertetangga dengan Israel di timur dan selatan. Di dalam Alkitab nama 'Edom' memiliki tiga makna. Makna yang pertama (Kejadian 25:30; 36:1, 8, dan 19) yaitu nama lain dari Esau sebagai peringatan bahwa ia menukar hak kesulungannya dengan sup merah. Makna yang kedua (kitab Bilangan 20:18, 20, 21; kitab Amos 1:6, 11; 9:12; kitab Maleakhi 1:4) yaitu Edom sebagai suatu kelompok bangsa. Makna yang ketiga (kitab Kejadian 32:3; 36:20, 21, 30; kitab Bilangan 24:18) yaitu tanah yang diduduki oleh keturunan Esau, yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir. Kata Edom sendiri berarti 'merah'. Kata ini menunjuk pada sup yang diberikan sebagai ganti hak kesulungannya. Selain itu, kata ini juga berkaitan dengan kelahiran Esau yang terdapat dalam kitab Kejadian 25:25. Selain itu, kata "merah" ini juga muncul karena warna kemerah-merahan yang ada pada tanah Edom yang di dalam Akitab disebutkan terdiri dari batu yang berwarna merah. Dalam zaman Romawi atau Perjanjian Baru, wilayah Edom dikenal dengan nama Idumea.

 

Wilayah Edom mempunyai panjang kurang lebih 160 Km. Daerah ini terbentang mulai dari Wadi Zered sampai ke Teluk Aqaba. Edom mempunyai empat batas wilayah. Batas utara adalah Wadi Zered dan teluk Akaba, batas timur adalah Wadi Araba, batas selatan adalah Wadi el-Hesea(yang juga batas dari Moab), dan batas barat adalah padang gurun Araba. Ia meluas sampai ke sisi Araba, suatu daerah seperti lembah yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mati. Daerah Edom merupakan daerah yang berbukit-bukit dengan tinggi 1607 m.  Dataran tinggi pada Edom mencapai 5000 m, bahkan bisa mencapai 5600 m. Tanah yang terdapat di daerah Edom bukanlah tanah yang subur. Namun, ada beberapa tanah di daerah timurlaut yang baik untuk ditanami. Salah satu hasil pertaniannya adalah anggur (kitab Bilangan 20:17, 19). Di tanah ini juga hewan ternak dapat merumput. Tanah Edom sendiri terbagi atas tiga bagian.

 

Hutan Edom

Jarak hutan Edom ada 70 mil dari utara ke selatan serta kurang lebih 50 mil dari timur ke barat.  Batas utara dari hutan ini adalah Wadi el-Hesea yang memisahkan Edom dari Moab.  Batas timur dari hutan ini adalah padang gurun yang berada beberapa mil dari barat.  Batas selatan dari hutan ini adalah sebuah lereng yang terjal yang bernama Neqb esh-Shtar.  Batas barat dari hutan ini adalah beberapa bukit.  Hutan ini disebut sebagai daerah merah karena terdiri dari tanah merah dan juga batu yang berwarna merah. Daerah ini juga masih merupakan bagian dari Edom. Hutan Edom ini juga ditandai dengan beberapa deretan hutan, terutama hutan yang ada pada perbatasan utara.  Daerah ini juga menjadi batas bagi dataran tinggi dan cukup dekat untuk memberi sinyal apabila ada serangan ke Edom.

 

Daerah-daerah kecil Edom

Daerah kecil ini terletak dari Arabah sampai daerah selatan Neqb esh-Shtar sejauh teluk Akaba. Daerah ini berada dekat dengan hutan Edom dan berada di bawah kekuasaan Edom. Daerah ini biasa digunakan sebagai jalur perdagangan untuk pertukarang barang seperti besi dan sebagainya.  Hal inilah yang menyebabkan daerah ini menjadi penting.  Bangsa Edom juga menggunakan daerah ini untuk berdagang besi dan tembaga untuk menambah kekayaan mereka.

 

Pedalaman Edom

Daerah ini berada dalam wilayah Edom tetapi tidak dikuasai oleh Edom seluruhnya. Daerah ini biasa ditempati oleh suku-suku yang hidup berpindah-pindah. suku-suku ini adalah suku Amalek dan suku Kenas.  Dalam kitab Bilangan 20:16 diceritakan bahwa Musa sebagai pemimpin Israel meminta izin untuk dapat melewati daerah ini. Israel tidak menemukan kesulitan ketika melewati pedalaman Edom dan daerah-daerah kecil di Edom.

 

Data Arkeologis

Data arkeologis mengenai Edom sangat sedikit atau bisa dikatakan jarang. Data-data arkeologis mengenai Edom menunjukkan bahwa penduduk Edom baru muncul di akhir zaman perunggu yaitu sekitar 1300 SM. Ketika awal zaman besi baru ditemukan adanya sebuah kota. Sebuah materai dari Tell el-Kheleifeh memperlihatkan bahwa naskah yang digunakan oleh orang Edom tidak sama dengan naskah yang dipakai orang Ibrani maupun orang Moab.  Beberapa artefak yang ditemukan dari hasil penelitian arkeologis adalah puisi, alat-alat, dan beberapa ornamen yang mungkin dipakai untuk peribadahan.

 

Masyarakat Edom

Di dalam Kitab Nabi-nabi diceritakan mengenai hubungan yang erat antara penduduk Edom dengan Israel, hal ini dikarenakan leluhur Edom merupakan Esau (Saudara kembar Yakub yang disebut Israel). Sejak kecil Esau sudah sering disakiti oleh Yakub seperti dicuri hak kesulungan kemudian dicuri pula hak berkatnya dari Ishak, tetapi demikian Esau pun akhirnya tetap mengampuni Yakub (Kejadian 33), bahkan diayat 4 tertulis bahwa Esau berlari menghampiri, memeluk, mencium dan mereka bertangis-tangisan. Dalam dunia Psikologi ini merupakan sebuah rekonsiliasi keluarga yang baik. Semenjak pulihnya hubungan antara kedua saudara kembar ini, hubungan keduanya pun menjadi baik. bahkan Esau tidak segan memberi bantuan kepada Yakub (Kejadian 3:15), hal ini yang kemudian secara turun temurun menjadi budaya saling tolong menolong antara keturunan kedua saudara ini. Kemungkinan besar masyarakat Edom berasal dari Aram.  Mereka melakukan perkawinan campur dengan orang Kanaan (Kejadian 26:34), Orang-orang Ismael (Kejadian 28:9), dan suku-suku asli Hori dari Seir (Kejadian 36:20). Masyarakat Edom merupakan masyarakat yang bergerak dalam bidang pertanian. Mereka memperkaya diri dengan perdagangan besi dan tembaga. Hal ini dikarenakan pada masa itu besi dan tembaga sangat diperlukan. Perdagangan tersebut biasa mereka lakukan dengan bangsa Babilonia, Siria, Arab, dan Mesir. Masyarakat Edom memakai bahasa Ibrani sebagai bahasa sehari-sehari. mereka juga menganut paham politeis dan dewa-dewa mereka terdapat dalam nama raja-raja mereka.  Sistem pemerintahan mereka adalah monarki. Sistem ini juga telah dipraktikkan jauh sebelum Israel melakukannya. Pengangkatan raja dilakukan dengan cara pemilihan oleh orang-orang tertentu seperti imam.

 

Sejarah

Menurut data arkeologis, Edom telah berpenghuni jauh sebelum zaman Esau. Kemudian, Esau bermigrasi ke Edom dan menjadi kelompok yang dominan dengan cara bergabung dengan beberapa kelompok, salah satunya adalah suku Hori. Pada tahun 1850 SM, Edom mengalami kemunduruan budaya karena pada saat itu tanah Edom diduduki oleh bangsa-bangsa pengembara seperti bangsa Filistin. Berdasarkan keterangan Alkitab, bangsa Edom merupakan bangsa yang sangat sering berperang dengan Israel.  Dalam masa pemerintahan raja Saul, ia juga berperang melawan bangsa Edom walaupun di antara hamba-hambanya terdapat orang Edom (kitab 1 Samuel 14:47; 21:7; 22:19, 18).  Pada masa pemerintahan raja Daud, hal yang sama pun terjadi.  Ia menaklukkan Edom dan menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di seluruh negeri itu (kitab 2 Samuel 8:13-14).  Pada masa pemerintahan ini juga banyak orang Edom yang meninggal. Yoab yang merupakan panglima Daud turut membantai orang-orang Edom ketika ia tinggal di Edom selama beberapa bulan (kitab 1 Raja-raja 11:15-16).  Namun, tidak semua orang Edom pada saat itu meninggal karena ada yang melarikan diri yaitu Hadad yang kemudian menyebabkan kesulitan-kesulitan pada masa pemerintahan Salomo (kitab 1 Raja-raja 11:14-22).  Pada masa kerajaan Yosafat, orang Edom bersekutu dengan kerajaan Moab dan Amon untuk berperang melawan Yehuda (kitab 2 Tawarikh 20:1).  Namun, pasukan sekutu ternyata justru saling membunuh. Pada waktu itu, seorang raja Edom (ia mengakui keunggulan Yehuda) memutuskan untuk bergabung dengan Yehuda untuk berperang melawan Mesa, raja Moab (kitab 2 Raja-raja 3:4-27). Pada masa pemerintahan raja Yoram, Edom kembali memberontak tetapi bisa ditaklukkan (kitab 2 Raja-raja 8:20-22;kitab 2 Tawarikh 21:8-10). Setelah masa itu, Amazia menyerbu Edom dan membunuh 10.000 orang Edom (kitab 2 Raja-raja 14:7). Setelah itu, dalam pemerintahan Ahas ketika Yehuda diserang oleh Pekah dan Rezin, orang Edom masuk ke Yehuda dan membawa para tawanan (2 Tawarikh 28:17. Setelah itu, Edom tidak pernah lagi ditaklukkan oleh Yehuda.  Ketika Yehuda jatuh, para nabi mulai menubuatkan kejatuhan Edom sebab Edom bersukacita atas kejatuhan Yehuda. Edom sendiri jatuh dalam kekuasaan Arab selama abad ke-5 SM dan pada abad ke-3 SM diserbu oleh orang Nabatea.

 

Pada masa Asyur

Pemberontakan Siria dan sekutu melawan Asyur berakhir pada saat Tiglath-Pileser III menaklukkan mereka pada tahun 732 SM. Setelah pemberontakan itu Edom jatuh ke dalam perbudakan di bawah Asyur. Namun tidak berarti bahwa perbudakan di Asyur membawa dampak yang buruk bagi perkembangan Edom. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa beberapa kota yang menjadi sumber kemakmuran bagi Edom dibangun pada zaman bangsa Asyur berkuasa. Kota-kota tersebut adalah Tawilan, Bozrah, dan Umm el-Biyarah. Pada masa bangsa Asyur berkuasa, Edom juga menguasai daerah selatan Yehuda. Pada tahun 735 Sebelum Masehi, Edom menjarah daerah yang bernama Elat.  Dalam Perjanjian Lama, daerah Edom disebutkan mulai dari selatan Yehuda sampai daerah barat Wadi Arabah.

 

Pada masa Babilonia

Setelah bangsa Asyur mulai berkurang kekuasaannya, Edom mendapat keringanan untuk bebas dari pajak serta pemerintahan Asyur. Pada masa itu yang berkuasa adalah Nebukadnezar. Ia memegang kuasa atas wilayah barat setelah tahun 605 SM. Pada masa itu juga terjadi perbudakan dan salah satu bangsa yang termasuk dalam perbudakan adalah Yehuda.  Dalam masa kejayaan Babilonia, beberapa kali terjadi pemberontakan yang diakukan oleh bangsa Yehuda, Moab, Amon, Tirus, dan Sidon. Di bawah pemerintahan Babilonia, Edom juga beberapa kali dituduh mengambil kesempatan untuk merampas dan merampok Yehuda. Hal inilah yang menjadi pembahasan dari beberapa kitab nabi-nabi kecil, salah satunya adalah Kitab Obaja. Dua hal yang menjadi keluhan dalam kitab-kitab tersebut adalah Edom telah menyerobot tanah Israel dan juga melakukan kesalahan yaitu kekerasan terhadap umat Israel. Pada sisi lain, Edom juga memberikan tempat perlindungan kepada orang Yahudi untuk melarikan diri dari kekuatan Babilonia. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa Edom membantu bangsa Babilonia secara militer pada tahun 587 SM. Edom tidak menyerang Babilonia. Sejarawan Yahudi-Romawi yang bernama Yosefus menyebutkan bahwa Nebukadnezar menaklukkan Moab dan Amon, lima tahun setelah kejatuhan Yerusalem. Namun, Yosefus tidak menyebutkan bahwa Edom juga diserang dalam peristiwa tersebut. Akhir dari kerajaan Edom adalah hasil dari suatu operasi militer yang dilakukan oleh Nabonidus pada tahun 552 SM.

 

Pada masa Persia

Sejarah mengenai Edom dan penduduk Edom pada masa Persia kurang diketahui dengan pasti. Kebanyakan dari penduduk Edom pada saat itu melanjutkan tradisi yang berkaitan dengan cara hidup mereka. Beberapa dari mereka hidup di gua dan di kemah. Mereka juga memanfaatkan tanah mereka dengan memelihara ternak.

 

Pada masa Romawi

Penduduk Edom dikenal dengan nama Idume selama masa Hellenistik atau periode Romawi. Salah satu keturunan Edom yang terkenal pada masa itu adalah Herodes Agung. Cukup sulit untuk menelusuri mengenai Edom atau keturunan Edom setelah masa Roma. Hal ini dikarenakan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Sesudah Masehi.  Dalam masa Romawi, kata Edom menjadi suatu bentuk kata yang dipakai untuk musuh. Kata ini dipakai Romawi selama aksi penekanan yang dilakukan pihak Romawi terhadap Yahudi dan Kristen. Penggunaan kata ini disebabkan oleh rasa benci terhadap bangsa Edom. Setelah masa pemerintahan Romawi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang Idumea masih ada.

Perang Yahudi-Romawi Pertama

 

Perang Yahudi-Romawi Pertama (66–73 Masehi), terkadang dijuluki Revolusi Besar (bahasa Ibrani: המרד הגדול, ha-Mered Ha-Gadol), adalah salah satu dari tiga pemberontakan besar Yahudi di Provinsi Iudaea terhadap Kekaisaran Romawi.

 

Batu peringatan Romawi menyebutkan kehancuran sejumlah jalan raya akibat pemberontakan orang Yahudi.

Perang ini meletus karena ketegangan agama Yunani dan Yahudi, yang selanjutnya berkembang menjadi penentangan pajak dan penyerangan terhadap penduduk Romawi.[1] Perang berakhir setelah legiun Romawi mengepung dan menghancurkan pusat pemberontakan di Yerusalem, serta menaklukan benteng-benteng Yahudi lainnya. Banyak orang menjadi korban.

 

Periode Bait Suci Kedua

Periode Bait Suci Kedua (Second Temple period) dalam sejarah Yahudi berlangsung antara tahun 530 SM sampai 70 M, ketika Bait Suci Kedua berdiri di Yerusalem. Sekte Farisi, Saduki, Eseni, dan Zelot terbentuk selama periode ini. Periode Bait Suci Kedua berakhir pada waktu Perang Yahudi-Romawi Pertama dan penghancuran Yerusalem serta Bait Suci oleh orang Romawi.

 

Setelah kematian nevi'im (nabi-nabi Yahudi) kuno terakhir dan ketika bangsa itu masih di bawah pemerintahan Persia, kepemimpinan orang-orang Yahudi berada berturut-turut di tangan lima generasi zugot ("pasangan") pemimpin. Mereka berkembang pertama kali pada di bawah pemerintahan Persia (~ 539 – ~ 332 SM), kemudian pada di bawah pemerintahan Yunani (~ 332-167 SM), selanjutnya di bawah Hasmonea Raya yang independen (140-37 SM), dan akhirnya di bawah pemerintahan Romawi (63 SM – 132 M).

 

Selama periode ini, Yudaisme Bait Kedua dapat dilihat sebagai hasil dari tiga krisis besar dan akibat-akibatnya, karena berbagai kelompok orang-orang Yahudi bereaksi secara berbeda. Pertama, kehancuran Kerajaan Yehuda pada tahun 587/6 SM, ketika orang Yahudi kehilangan kemerdekaan, kerajaan, kota suci dan Bait Suci Pertama, malahan sebagian besar dibuang ke Babel. Akibatnya mereka menghadapi krisis teologis yang melibatkan hakikat, kekuasaan, dan kebaikan Allah serta juga menghadapi ancaman secara budaya, ras, dan seremonial karena mereka dilemparkan ke dalam kedekatan dengan bangsa-bangsa dan kelompok agama lain. Tidak adanya para nabi yang diakui pada periode kemudian meninggalkan mereka tanpa versi bimbingan ilahi pada saat mereka merasa paling membutuhkan dukungan dan arahan. Krisis kedua adalah kuatnya pengaruh Hellenisme dalam Yudaisme, yang memuncak pada Pemberontakan Makabe 167 SM. Krisis ketiga adalah pendudukan Romawi atas daerah itu, dimulai dari kedatangan Jenderal Pompeius dan direbutnya Yerusalem pada tahun 63 SM. Ini termasuk penunjukan Herodes Agung sebagai "Raja orang Yahudi" oleh Senat Romawi, dan pembentukan Kerajaan Herodes di Yudea yang terdiri dari bagian-bagian apa yang saat ini adalah Israel, Otoritas Palestina, Gaza, Yordania, Lebanon dan Suriah.

 

Pembangunan Bait Suci Kedua

Pembangunan Bait suci Kedua selesai di bawah kepemimpinan tiga Nabi terakhir orang Yahudi, yaitu: Hagai, Zakharia dan Maleakhi dengan persetujuan dan pembiayaan kekaisaran Persia.

 

Berdasarkan catatan Alkitab, setelah kembali dari pembuangan di Babel di bawah pimpinan Zerubabel, pengaturan segera dilakukan untuk menata kembali Provinsi Yehud yang ditinggalkan kosong setelah runtuhnya Kerajaan Yehuda tujuh puluh tahun sebelumnya. Rombongan jemaah, terdiri dari 42,360 orang, setelah menyelesaikan perjalanan panjang dan suram selama sekitar empat bulan, dari tepi sungai Efrat ke Yerusalem, sangat dibangkitkan dalam semua tindakan mereka oleh dorongan agama yang kuat, dan oleh karena itu salah satu keprihatinan pertama adalah mengembalikan rumah ibadah kuno mereka dengan membangun kembali Bait Suci yang telah dihancurkan dan menjalankan kembali ritual pengorbanan yang dikenal sebagai korbanot.

 

Atas undangan Zerubabel, gubernur wilayah saat itu, yang menunjukkan sebuah teladan luar biasa dalam hal kemurahan hati dengan memberikan kontribusi secara pribadi 1,000 emas darics, selain hadiah-hadiah lain, maka orang-orang memberikan persembahan mereka ke dalam kas suci dengan antusiasme yang besar. Pertama, mereka membangun dan mendedikasikan altar bagi Allah di tempat yang tepat di mana sebelumnya pernah berdiri, dan mereka kemudian membersihkan tumpukan puing-puing hangus yang menutupi lokasi Bait Suci kuno; dan di bulan kedua tahun kedua (535 SM), di tengah kegembiraan dan sukacita publik yang besar, dasar-dasar Bait Suci Kedua diletakkan. Berbagai minat dirasakan dalam gerakan besar, meskipun hal itu dipandang dengan perasaan bercampur aduk oleh para penonton.

 

Orang-orang Samaria, penduduk dari apa yang dulunya merupakan ibu kota Kerajaan Israel (Utara), membuat proposal untuk kerjasama dalam pekerjaan. Namun, Zerubabel dan para tua-tua menolak semua kerjasama tersebut, merasa bahwa orang-orang Yahudi harus membangun Bait Suci tanpa bantuan. Segera laporan jahat menyebar mengenai orang-orang Yahudi. Menurut Ezra 4:5, orang-orang Samaria berusaha untuk "menggagalkan tujuan mereka" dan mengirim utusan ke Ekbatana dan Susa, yang mengakibatkan pekerjaan pembangunan itu ditangguhkan.

 

Tujuh tahun kemudian, Koresh yang Agung, yang mengizinkan orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka dan membangun kembali Bait Suci itu, meninggal, dan digantikan oleh putranya Kambisus II. Saat Kambisus mati, seorang penipu berkedok "Smerdis (Bardiya)" palsu, menduduki takhta selama sekitar tujuh atau delapan bulan, dan kemudian Darius I dari Persia menjadi raja (522 SM). Pada tahun kedua pemerintahannya, pekerjaan pembangunan kembali Bait Suci dilanjutkan dan dilakukan sampai penyelesaiannya, di bawah stimulus nasihat-nasihat dan petuah-petuah serius dari para nabi Hagai dan Zakharia. Bangunan itu siap untuk menjalani konsekrasi pada musim semi tahun 516 SM, lebih dari dua puluh tahun setelah kembali dari pembuangan. Bait Suci itu selesai pada hari ketiga bulan Adar, dalam tahun keenam pemerintahan Raja Darius, di tengah perayaan besar sebagian besar penduduk, meskipun terbukti bahwa orang-orang Yahudi tidak lagi menjadi orang-orang yang independen, tetapi tunduk pada kekuatan asing. Dalam Kitab Hagai tercatat suatu nubuat bahwa kemuliaan Bait Suci Kedua itu akan lebih besar dari yang pertama.

 

Era Helenistik

 

Pada tahun 332 SM, Persia dikalahkan oleh Aleksander Agung. Setelah kematiannya, dan pembagian kekaisaran Aleksander di antara jenderalnya, terbentuklah Kekaisaran Seleukia.

 

Selama periode ini aliran Yudaisme dipengaruhi oleh filsafat Helenistik yang dikembangkan sejak abad ke-3 SM, terutama diaspora Yahudi di Alexandria (Iskandariyah), yang berpuncak pada kompilasi dari Septuaginta. Advokat penting dari simbiosis teologi Yahudi dan pemikiran Helenistik adalah Filo.

 

Dinasti Hasmonayim

 

Memburuknya hubungan antara orang-orang Yahudi Helenis dan orang-orang Yahudi religius menyebabkan raja Seleukus, Antiokhos IV Epiphanes, memberlakukan dekrit yang melarang ritual keagamaan dan tradisi Yahudi tertentu. Akibatnya, orang-orang Yahudi ortodoks memberontak di bawah pimpinan keluarga wangsa Hasmonayim, (juga dikenal sebagai Makabe). Pemberontakan ini pada akhirnya menyebabkan pembentukan independen Yudea raya, di bawah Dinasti Hasmonayim, yang berlangsung sejak tahun 165 SM sampai 37 SM. Dinasti Hasmonayim (Hasmonean) akhirnya hancur sebagai akibat perang saudara antara anak-anak Salome Aleksandra Hyrcanus II dan Aristobulus II. Orang-orang, yang tidak mau diperintah oleh seorang raja, melainkan oleh para imam teokratis, mengajukan banding dalam semangat ini ke penguasa Romawi. Romawi kemudian melakukan intervensi dalam perang saudara di Yudea diikuti oleh penaklukan dan aneksasi Suriah, yang dipimpin oleh Pompeius. Saudara yang bersaing dalam keluarga Hasmonayim yang Pro-Parthia segera membawa dukungan Parthia dan takhta beralih sampai akhirnya Herodes Agung menetapkan dirinya sebagai raja Yudea baru yang pro-Romawi.

 

Dinasti Herodian

 

Yudea raya di bawah Herodes mengalami masa pertumbuhan dan ekspansi. Sebagai sekutu Roma yang dekat dan setia, Herodes memperluas kekuasaannya sejauh Arabia, menciptakan proyek-proyek pembangunan ambisius dan memperindah Bait Suci.

 

Setelah Herodes mati pada tahun 4 SM, kerajaan itu dibagi menjadi beberapa bagian untuk masing-masing dari tiga putranya (awalnya empat bagian), membentuk Tetrarki. Bagian utama Tetrarchy diberikan kepada Herodes Arkhelaus, termasuk seluruh Yudea, Edom dan Samaria. Dalam tahun 6 M, negeri ini menjadi rusuh, dan penguasaan Herodes atas Yudea diambil alih menjadi suatu Provinsi Romawi yaitu: Yudea Romawi. Filipus memerintah wilayah Iturea dan Trakhonitis sampai kematiannya pada tahun 34 M ketika ia digantikan sebagai raja oleh Herodes Agripa I, yang sebelumnya adalah penguasa Khalkis. Agripa menyerahkan Khalkis kepada saudaranya yang juga bernama Herodes dan memerintah di negeri yang pernah diperintah oleh Filipus. Setelah kematian Herodes Antipas pada tahun 39 M, Herodes Agripa juga menjadi penguasa Galilea, dan pada tahun 41 M, sebagai tanda dukungan dari kaisar Claudius, menggantikan Prefek Romawi, Marullus, sebagai penguasa Iudaea. Dengan akuisisi ini, Kerajaan Herodian orang Yahudi adalah secara nominal berdiri sampai tahun 44 M meskipun tidak ada indikasi bahwa statusnya sebagai provinsi Romawi pernah dihentikan.

 

Herodes Agung

 

Herodes Agung adalah raja Yudea Romawi. Karakternya membingungkan dan dikenal dari berbagai hal yang baik dan buruk. Ia mungkin paling dikenal sebagai "orang gila" yang membunuh beberapa istri dan anak-anaknya sendiri. Herodes juga seorang raja yang sukses dan melakukan proyek pembangunan besar di seluruh Yudea, termasuk perluasan Bait Suci Kedua di Yerusalem. Banyak tujuan wisata paling populer di Israel hari ini, termasuk Dinding Barat dan Menara Daud, dibangun oleh Herodes.

 

Kematian Herodes pada tahun 4 SM meletupkan rasa frustrasi orang-orang yang ditindas oleh kebrutalannya. Banyak orang menjadi miskin karena Herodes menarik pajak yang tinggi untuk pengeluarannya yang besar. Ketika dia meninggal, proyek-proyek pembangunan yang menyediakan banyak lapangan pekerjaan dihentikan, dan banyak orang kehilangan pekerjaan mereka. Ini membangun rasa frustrasi yang pada akhirnya memberikan kontribusi terjadinya Perang Yahudi-Romawi Pertama.

 

Yudea Romawi

 

Bagian provinsi Romawi Yudea diperluas meliputi bagian bekas wilayah kerajaan Hasmonean dan Herodian. Provinsi ini dibentuk pada tahun 6 M dengan Sensus Kirenius dan digabung menjadi Siria Palaestina setelah tahun 135 M.

Talmud

Pada hakikatnya Tanak adalah catatan riwayat pasang surut hubungan antara bangsa Israel dan Tuhan sedari permulaan sejarah sampai dengan pembangunan Haikal ke-2 (ca. 535 SM). Abraham dimuliakan sebagai orang Ibrani utama dan pitarah bangsa Yahudi. Sebagai pahala atas pembuktian keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia dianugerahi janji Tuhan bahwa Ishak, putra keduanya, akan mewarisi Tanah Israel (kala itu masih disebut Tanah Kanaan). Kemudian hari, keturunan dari Yakub bin Ishak diperbudak di Tanah Mesir, dan Tuhan mengutus Musa untuk memimpin penghijrahan mereka dari Mesir. Di Tur Sina, mereka menerima Torah, kelima susastra yang ditulis Musa. Torah (Sifrut Taurat), Nebi'im (Sifrul Anbiya), dan Ketubim (Sifrul Kitabat), disebut Torah Syebiktab (Taurat Tersurat), kebalikan dari Torah Syebe'alpeh (Taurat Tutur), yakni Misnah dan Talmud. Pada akhirnya, bangsa Israel dituntun Tuhan memasuki Tanah Israel, dan mendirikan Kemah Suci di kota Silo, yang tegak selama lebih dari 300 tahun sebagai pengobar semangat melawan musuh. Seiring berlalunya waktu, ketakwaan bangsa Israel merosot sampai-sampai Tuhan mengizinkan bangsa Filistin merebut Kemah Suci. Bangsa Israel kemudian menyampaikan kepada Nabi Samuel bahwa mereka perlu dipimpin seorang raja tetap, sehingga Nabi Samuel menobatkan Saul dari suku Benyamin menjadi raja atas mereka. Ketika Raja Saul menuruti desakan rakyatnya untuk melanggar arahan Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Samuel, Tuhan pun memerintahkan Nabi Samuel untuk menobatkan Daud dari suku Yehuda menjadi raja pengganti Saul.

 

Setelah berjaya menduduki singgasana, Raja Daud mengutarakan niatnya kepada Nabi Natan untuk mendirikan sebuah bangunan peribadatan yang permanen. Sebagai pahala atas pengungkapan niat suci ini, Tuhan berjanji akan mengizinkan putra Daud, Salomo, untuk mendirikan tempat ibadat yang dikehendaki Daud, serta berjanji akan mengizinkan anak cucu Daud untuk mewarisi singgasana.

 

Menurut tradisi Rabani, penjabaran dan tafsir hukum agama Yahudi, yang disebut Taurat Tutur atau Hukum Lisan, mulanya adalah tradisi tak tertulis yang didasarkan pada firman Tuhan kepada Musa di Tur Sina. Lantaran persekusi terhadap umat Yahudi semakin marak terjadi, dan banyak perincian yang terancam lekang dari ingatan orang, hukum-hukum lisan ini akhirnya dibukukan oleh Rabi Yehudah Ha Nasi (Yehudah Sang Penghulu) menjadi Misnah sekitar tahun 200 M. Talmud adalah kumpulan Misnah beserta Gemara, ulasan-ulasan Rabani yang dikumpulkan selam tiga abad berikutnya. Gemara berasal dari dua pusat keilmuan Yahudi, yakni Palestina dan Babel. Dua pusat keilmuan ini mengkaji Misnah sendiri-sendiri, sehingga memunculkan dua kitab Talmud. Talmud yang lebih tua disebut Talmud Yerusalem, dan yang lebih muda disebut Talmud Babel. Talmud Yerusalem disusun pada abad ke-4 M di Palestina, sementara Talmud Babel adalah hasil diskusi di balai-balai perguruan yang dibukukan oleh tiga ulama besar Yahudi, yakni Rabina I, Rabina II, dan Rab Asyi pada tahun 500 M, kendati masih terus disunting sepeninggal mereka.

 

Menurut para ahli telaah teks, Taurat terdiri atas ayat-ayat tak konsisten yang disunting bersama-sama sedemikian rupa sehingga menarik perhatian orang pada riwayat-riwayat yang saling bertolak belakang.  Beberapa dari ahli-ahli ini, misalnya Profesor Martin Rose dan John Bright, menduga bahwa pada zaman Haikal pertama, bangsa Israel meyakini bahwa tiap-tiap bangsa memiliki ilahnya masing-masing, tetapi Ilah mereka mengatasi semua ilah lain. Sebagian pihak menduga bahwa keimanan murni akan keesaan Tuhan berkembang saat bangsa Israel hidup dalam pembuangan di Babel, mungkin sebagai tanggapan terhadap paham dualisme agama Majusi. Menurut pandangan ini, sebagian besar umat Yahudi baru percaya bahwa Tuhan mereka adalah satu-satunya Tuhan pada zaman Yunani, dan pada zaman Yunani pula bangsa Yahudi dengan jati diri yang jelas dan keterkaitan yang erat dengan agama Yahudi terbentuk.  John Day berpendapat bahwa Yahweh, El, Asyera, dan Ba'al dalam Alkitab mungkin saja berasal dari agama asli orang Kanaan, yakni pemujaan terhadap dewa-dewi dengan kadar kekuasaan berjenjang, mirip dengan jenjang kadar kekuasaan dewa-dewi Yunani.

 

Abad Kuno

 

Alkitab Ibrani meriwayatkan bahwa negara kesatuan Kerajaan Israel, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya, terbentuk di bawah kepemimpinan Saul, dan bertahan sampai ke masa pemerintahan Daud maupun Salomo. Sepeninggal Salomo, negara kesatuan ini pecah menjadi dua kerajaan, yakni Kerajaan Israel yang beribu kota Samaria di utara, dan Kerajaan Yehuda yang beribu kota Yerusalem di selatan. Kerajaan Israel ditaklukkan pada penghujung abad ke-8 SM oleh Sargon II, Raja Asyur. Sejumlah besar warga Samaria ditawan dan dibuang ke Media dan daerah lembah Sungai Kebar. Kerajaan Yehuda tetap merdeka sampai akhirnya ditaklukkan pada permulaan abad ke-6 SM oleh bala tentara Babel. Bangunan Hailkal yang pertama diluluhlantakkan, dan kalangan elit Kerajaan Yehuda dibuang ke Babel. Pembuangan warga Yehuda ke Babel dianggap sebagai Diaspora Yahudi yang pertama. Banyak dari mereka akhirnya pulang ke tanah leluhur sesudah Babel ditaklukkan bangsa Persia tujuh puluh tahun kemudian. Kurun waktu tujuh puluh tahun ini disebut zaman Pembuangan Babel. Di tanah leluhur, mereka membangun Haikal yang kedua dan menggelar lagi upacara-upacara ibadat seperti sediakala.

 

Pada tahun-tahun permulaan berdirinya Haikal ke-2, kewenangan tertinggi di bidang agama dipangku oleh Majelis Akbar yang diketuai Ezra, penulis Kitab Ezra. Majelis Akbar banyak berjasa bagi perkembangan agama Yahudi karena di bawah pengawasan lembaga inilah kitab-kitab terakhir dalam Alkitab ditulis, dan kanon Alkitab ditetapkan.

 

Sejak abad ke-3 SM, ajaran Yahudi Yunani menyebar sampai ke Mesir. Seusai pemberontakan besar-besaran bangsa Yahudi (66–73 M), bangsa Romawi menghancurkan Haikal. Kaisar Hadrian menegakkan sebuah patung berhala di pelataran Haikal dan mengharamkan khitan. Kebijakan etnosida ini memicu Pemberontakan Bar Kokba (132–136 M), yang berkobar setelah bangsa Romawi melarang kajian Taurat dan perayaan hari-hari besar bangsa Yahudi, serta memindahkan hampir semua orang Yahudi dari Yudea secara paksa. Meskipun demikian, pada tahun 200 M, bangsa Yahudi dianugerahi kewarganegaraan Romawi, dan agama Yahudi diakui sebagai salah satu religio licita (agama yang sah) di wilayah Kekaisaran Romawi sampai dengan munculnya Gnostisisme dan Gereja Perdana pada abad ke-4.

 

Seusai penghancuran Yerusalem dan pengusiran bangsa Yahudi, kegiatan ibadat Yahudi tidak lagi berkisar di seputar Haikal. Sembahyang menggantikan upacara kurban, ibadat berjemaah ditegakkan kembali di dalam komunitas-komunitas umat Yahudi (diwakili oleh sekurang-kurangnya sepuluh orang laki-laki dewasa), dan kewenangan rabi selaku guru sekaligus kepala komunitas Yahudi pun terlembagakan (baca artikel Diaspora Yahudi).

 

Mazhab-mazhab masa lampau (sampai tahun 1700)

 

Sekitar abad pertama tarikh Masehi, sudah ada beberapa mazhab dalam agama Yahudi, yakni Perusim (kaum Farisi), Seduqim (kaum Saduki), Kana'im (kaum Zelot), Isiyim (kaum Eseni), dan Notsri'im (kaum Nasrani). Mazhab-mazhab ini menghilang sesudah Haikal ke-2 dihancurkan pada tahun 70 M. Kaum Nasrani memang sintas, tetapi pecah dari agama Yahudi dan menjadi agama baru. Kaum Farisi juga sintas, tetapi bersalin rupa menjadi mazhab Yahudi Rabani. Mazhab Saduki menolak Sifrul Anbiya maupun Sifrul Kitabat sebagai susastra yang ditulis berdasarkan ilham ilahi, dan hanya berpegang pada Taurat sebagai satu-satunya Kitab Suci, sehingga beberapa akidah mazhab Farisi (yang menjadi landasan agama Yahudi modern) juga ditolak oleh mazhab Saduki. Kaum Samiri juga menganut keyakinan serupa, tetapi tidak dianggap sebagai bagian dari agama Yahudi.

 

Seperti kaum Saduki yang hanya berpegang pada Taurat, sejumlah komunitas Yahudi pada abad ke-8 dan ke-9 menolak Hukum Lisan (yang kelak dibukukan menjadi Misnah dan dikembangkan oleh para rabi menjadi dua Talmud) sebagai susastra bertuah yang diilhamkan Tuhan, dan hanya berpegang pada Tanak (Sifrut Taurat, Sifrul Anbiya, dan Sifrul Kitabat). Komunitas-komunitas yang menolak Hukum Lisan ini adalah umat Isuni, umat Yudgani, umat Maliki, dan lain-lain. Mereka kemudian mengembangkan tradisi-tradisi tutur sendiri, yang berbeda dari tradisi-tradisi Rabani, dan akhirnya membentuk mazhab Yahudi Karayi. Umat Yahudi Karayi kini tinggal sedikit jumlahnya, sebagian besar menetap di Israel. Umat Rabani menganggap umat Karayi sebagai umat Yahudi yang keliru keimanannya, demikian pula sebaliknya.

 

Seiring berlalunya waktu, umat Yahudi membentuk kelompok-kelompok etnis yang berlainan di berbagai tempat, misalnya umat Yahudi Askenasi di Eropa Tengah dan Eropa Timur, umat Yahudi Sefardi di Spanyol, Portugal, dan Afrika Utara, umat Beta Israel di Etiopia, serta umat Yahudi Yamani di ujung selatan Jazirah Arab. Kelompok-kelompok etnis ini mengembangkan doa-doa, adat-istiadat, dan kanon Alkitab yang berlainan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan di antara mereka hanyalah dampak dari jauhnya jarak yang memisahkan mereka dari agama Yahudi normatif (Yahudi Rabani), dan bukan lantaran pertentangan akidah.

 

Aniaya

 

Antisemitisme muncul pada Abad Pertengahan dalam bentuk aniaya, kerusuhan anti-Yahudi, murtad paksa, pengusiran, batasan-batasan sosial, dan lokalisasi ke kampung Yahudi.

 

Antisemitisme berbeda kualitasnya dari penindasan-penindasan terhadap orang Yahudi dahulu kala. Penindasan-penindasan pada masa lampau dilatarbelakangi alasan-alasan politik, dan orang Yahudi diperlakukan sama dengan orang-orang dari suku-suku bangsa lainnya. Seiring bangkitnya Gereja-Gereja, biang keladi utama serangan terhadap orang Yahudi beralih dari alasan-alasan politik ke alasan-alasan agama, karena serangan terhadap orang Yahudi secara khusus berpangkal dari pandangan umat Kristen terhadap bangsa dan agama Yahudi. Pada Abad Pertengahan, bangsa Yahudi yang hidup di bawah daulat Muslim pada umumnya menikmati toleransi dan integrasi, tetapi adakalanya mengalami penganiayaan besar-besaran, semisal aniaya dari Khilafah Muwahidin.

 

Mazhab Yahudi Hasidi

 

Pendiri mazhab Yahudi Hasidi adalah Rabi Yisroel ben Eliezer (1700–1760) alias Ba'al Syem Tob (Empunya Nama Baik). Mazhab ini muncul pada masa-masa penganiayaan terhadap orang Yahudi, ketika orang-orang Yahudi Eropa tergerak untuk mendalami Talmud. Banyak yang merasa bahwa penghayatan agama mereka sudah terlampau "akademis", dan bahwasanya mereka tidak lagi menaruh perhatian pada spiritualitas maupun sukacita. Para pengikut mazhab ini lebih suka berhimpun di rumah-rumah ibadat kecil dan informal yang disebut stibel. Tidak seperti sinagoga tradisional, stibel dapat digunakan sebagai tempat sembahyang berjemaah maupun sebagai tempat menggelar acara-acara perayaan yang dimeriahkan dengan menari-nari, makan minum, dan beramah-tamah.  Murid-murid Ba'al Syem Tob menarik banyak pengikut baru, dan mendirikan banyak aliran Hasidi di seluruh Eropa. Tidak seperti agama-agama lain yang lazimnya disebarluaskan melalui pemberitaan lisan atau media cetak, mazhab Yahudi Hasidi tersebar luas berkat jasa-jasa para Tsadikim (sadikin), yang menggunakan kewibawaan mereka untuk mendorong orang lain ikut bergabung. Mazhab Yahudi Hasidi disambut baik oleh masyarakat Yahudi Eropa karena mudah dipelajari, tidak serta-merta mewajibkan keterikatan penuh, dan menyajikan tontonan yang memukau.  Mazhab Yahudi Hasidi akhirnya menjadi jalan hidup bagi banyak orang Yahudi Eropa Timur. Gelombang imigrasi orang Yahudi pada era 1880-an mendatangkan mazhab ini ke Amerika Serikat. Mazhab ini mengaku bukanlah sesuatu yang baru, melainkan penyegaran agama Yahudi asli. Sebagaimana yang dikatakan sebagian pihak, "mereka hanya mengangkat kembali hal-hal yang sudah hilang dari generasi ke generasi". Meskipun demikian, pada mulanya timbul perpecahan serius di antara umat Yahudi Hasidi dan non-Hasidi. Orang Yahudi Eropa yang menolak mazhab Yahudi Hasidi dijuluki misnagdim (harfiah: lawan). Alasan-alasan yang melatarbelakangi penolakan terhadap mazhab Yahudi Hasidi antara lain adalah semangat meluap-luap yang mewarnai persembahyangannya, dinilai menyimpang dari tradisi lantaran memuliakan pemimpin sebagai susuhunan yang mahabenar dan bermukjizat, serta kekhawatiran bahwa mazhab ini lama-kelamaan akan menjadi mazhab yang memuliakan tokoh tertentu sebagai Al Masih. Seiring berlalunya waktu, perbedaan-perbedaan antara umat Hasidi dan pihak yang berseberangan dengan mereka lambat laun memudar, dan kedua belah pihak kini dianggap sebagai bagian dari mazhab Yahudi Haredi.

 

Abad Pencerahan dan mazhab-mazhab baru

 

Menjelang akhir abad ke-18 M, Eropa diriuhkan oleh berbagai gerakan intelektual, sosial, dan politik yang dikenal dengan sebutan Pencerahan. Berkat gerakan ini, sejumlah pasal yang menghalangi interaksi umat Yahudi dengan dunia luar dihapuskan, sehingga umat Yahudi akhirnya berkesempatan mengenyam pendidikan dan pergaulan sekuler. Gerakan serupa juga muncul di kalangan umat Yahudi, yakni Haskalah alias "Pencerahan Yahudi", khususnya umat Yahudi Eropa Tengah dan Eropa Barat, sebagai tanggapan terhadap Pencerahan maupun keleluasaan-keleluasaan yang baru saja mereka nikmati. Haskalah menganjurkan integrasi dengan masyarakat sekuler dan ikhtiar menuntut ilmu pengetahuan nonagamawi dengan nalar. Banyak orang Yahudi terpikat pada cita-cita emansipasi politik yang didengungkan Haskalah sehingga merasa tidak perlu lagi menjalankan syariat, dan jumlah orang Yahudi yang berasimilasi ke dalam masyarakat Kristen Eropa kian hari kian meningkat. Semua mazhab modern dalam agama Yahudi terbentuk sebagai reaksi terhadap kecenderungan semacam ini.

 

Mazhab Yahudi Pembaharuan atau Yahudi Liberal mula-mula muncul dan berkembang di Eropa Tengah, kemudian juga di Britania Raya dan Amerika Serikat. Mazhab ini melonggarkan amalan-amalan wajib (khususnya yang amalan-amalan yang membatasi pergaulan orang Yahudi dengan orang non-Yahudi), meniru kesantunan Protestan dalam bersembahyang, dan menitikberatkan nilai-nilai etika yang terkandung dalam tradisi kenabian Yahudi. Mazhab Yahudi Ortodoks Modern dibentuk sebagai reaksi terhadap Mazhab Yahudi Pembaharuan, oleh para pemuka agama yang berpendapat bahwa orang Yahudi dapat saja melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat selaku warga negara yang setara dengan umat Kristen sambil tetap menjalankan syariat. Sementara itu, di Amerika Serikat, para hartawan Yahudi Pembaharuan membantu para ulama Eropa, yang Ortodoks dalam amalan tetapi bersikap kritis (dan skeptis) dalam mengkaji Alkitab dan Talmud, untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan ulama yang menghasilkan rabi-rabi bagi kaum imigran dari Eropa Timur. Rabi-rabi Yahudi Ortodoks berhaluan kiri ini bergabung dengan rabi-rabi Yahudi Pembaharuan berhaluan kanan yang merasa bahwa tidak semua hukum agama Yahudi boleh dibuang, dan akhirnya membentuk mazhab Yahudi Konservatif. Umat Yahudi Ortodoks yang menentang Haskalah membentuk mazhab Yahudi Ortodoks Haredi. Dengan berpindahnya warga Yahudi Eropa secara besar-besaran selepas Holokaus, dan berdirinya negara Israel, mazhab-mazhab ini pun saling bersaing menarik pengikut baru dari kalangan umat Yahudi tradisional di atau dari negara-negara lain.

 

Spektrum ketaatan beragama

 

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Israel, Kanada, Inggris Raya, Argentina, dan Afrika Selatan memiliki populasi Yahudi yang besar. Ketaatan beragama umat Yahudi sangat beragam. Menurut Survei Populasi Yahudi Nasional edisi tahun 2001, dalam komunitas Yahudi Amerika Serikat, yakni komunitas Yahudi terbesar nomor dua di dunia, 4,3 juta dari 5,1 juta orang Yahudi memiliki satu dua kaitan dengan agama Yahudi.  80% dari populasi Yahudi yang memiliki keterkaitan dengan agama Yahudi turut serta melaksanakan satu dua amalan agama Yahudi, tetapi hanya 48% yang terdaftar sebagai anggota suatu jemaat, dan kurang dari 16% yang mengikuti sembahyang berjemaah secara teratur.

 

Tingkat kelahiran di kalangan umat Yahudi Amerika mengalami penurunan dari 2,0 menjadi 1,7 (tingkat penggantian adalah 2,1). Tingkat perkawinan berkisar antara 40–50% di Amerika Serikat, dan hanya sekitar sepertiga dari anak-anak pasangan kawin campur yang dibesarkan sebagai pemeluk agama Yahudi. Lantaran kawin campur dan rendahnya tingkat kelahiran, populasi Yahudi Amerika Serikat merosot dari 5,5 juta jiwa pada tahun 1990 ke 5,1 juta jiwa pada tahun 2001. Angka-angka ini mencerminkan kecenderungan-kecenderungan populasi Yahudi diaspora pada umumnya, tetapi pengamatan terhadap total populasi Yahudi memperlihatkan kecenderungan-kecenderungan pertambahan jumlah anggota dalam beberapa mazhab dan komunitas, misalnya komunitas Yahudi Haredi. Gerakan ba'al tesyubah adalah semacam gerakan "hijrah rohani" di kalangan umat Yahudi, yakni perubahan sikap dari acuh tak acuh menjadi lebih taat beragama.

 

Hubungan dengan agama lain

 

Yahudi dan Kristen

 

Agama Kristen mula-mula adalah salah satu mazhab agama Yahudi era Haikal ke-2, tetapi kemudian terpisah dari agama Yahudi pada abad pertama tarikh Masehi. Perbedaan-perbedaan antara agama Kristen dan agama Yahudi awalnya berkisar seputar soal benar tidaknya Yesus adalah Al Masih bangsa Yahudi, tetapi perbedaan-perbedaan ini akhirnya mustahil terukunkan. Perbedaan-perbedaan utama adalah perbedaan pandangan tentang fitrah Al Masih, penebusan, dosa, status titah-titah Tuhan kepada bangsa Israel, bahkan hakikat Tuhan itu sendiri. Lantaran perbedaan-perbedaan ini, agama Yahudi secara tradisonal menganggap agama Kristen sebagai syituf (syirik), yakni agama yang menyembah Tuhan bangsa Israel dengan cara dan pemahaman yang tidak mencerminkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, agama Kristen secara tradisional menganggap agama Yahudi tidak lagi diperlukan sesudah wujudnya agama Kristen, dan bahwasanya bangsa Yahudi sudah tergantikan oleh Gereja, kendati keyakinan Kristen mengenai teologi dua perjanjian muncul sebagai fenomena sesudah umat Kristen merenungkan dampak teologi agama mereka terhadap Holokaus Nazi.

 

Sedari Abad Pertengahan, Gereja Katolik berpegang teguh pada Constitutio pro Judæis (pernyataan resmi mengenai umat Yahudi), yang berbunyi:

 

Dengan ini kami maklumkan bahwa tak seorang Kristen pun dibenarkan memaksa mereka untuk dibaptis dengan menggunakan kekerasan, jika mereka tidak rela dan menolak dibaptis. ... Tanpa keputusan pejabat politik setempat, tak seorang Kristen pun dibenarkan untuk mencelakai, membunuh, dan merampas uang mereka, maupun mengubah kebiasan-kebiasaan baik yang sudah lumrah diamalkan di tempat mereka bermukim.

 

Sebelum beremansipasi pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19, orang Yahudi yang berdiam di negeri Kristen harus tunduk pada perintah-perintah dan larangan-larangan hukum yang merendahkan martabat mereka, antara lain perintah mengenakan pakaian tertentu sebagai tanda Yahudi semisal topi Yahudi dan lencana kuning, larangan menetap selain di kota-kota besar dan kota-kota kecil tertentu atau bermukim di luar kawasan-kawasan tertentu (kampung Yahudi) di dalam sebuah kota, dan larangan berkecimpung di bidang-bidang usaha tertentu semisal usaha dagang pakaian baru di Swedia pada Abad Pertengahan. Selain itu, orang Yahudi juga dikenai pajak-pajak khusus, disisihkan dari kehidupan bermasyarakat, dihalang-halangi menunaikan ibadat, dan dilarang berbahasa asing. Ada pula negara-negara yang mengusir umat Yahudi dari wilahnya, seperti Inggris pada tahun 1290 (diizinkan masuk kembali pada tahun 1655), dan Spanyol pada tahun 1492 (diizinkan masuk kembali pada tahun 1868). Pemukim-pemukim Yahudi pertama di Amerika Utara tiba di Nieuw Amsterdam, koloni Belanda, pada tahun 1654. Warga-warga Yahudi pertama ini tidak dibenarkan menjadi pejabat publik, membuka toko pengecer, maupun mendirikan sinagoga. Sesudah Nieuw Amsterdam direbut Inggris pada tahun 1664, hak-hak warga Yahudi tidak mengalami peningkatan, tetapi Asser Levy menjadi orang Yahudi pertama yang duduk sebagai anggota dewan juri pengadilan di Amerika Utara pada tahun 1671. Pada tahun 1791, negara Prancis yang baru saja mengalami revolusi menjadi negara pertama yang menghapus segala macam aturan khusus bagi orang Yahudi, disusul oleh Prusia pada tahun 1848. Emansipasi orang Yahudi Inggris Raya terwujud pada tahun 1858, sesudah hampir 30 tahun lamanya diperjuangkan oleh Isaac Lyon Goldsmid. Orang Yahudi akhirnya diperbolehkan menjadi anggota parlemen dengan disahkannya Undang-Undang Keleluasaan Orang Yahudi tahun 1858. Kekaisaran Jerman menghapus segala macam aturan khusus bagi orang Yahudi di Jerman pada tahun 1871, yang kelak diberlakukan kembali dengan Undang-Undang Nürnberg pada tahun 1935.

 

Ketenteraman hidup umat Yahudi di negeri-negeri Kristen sering kali dirongrong dengan aksi-aksi fitnah darah, pengusiran, paksaan berpindah agama, bahkan pembantaian. Prasangka buruk terhadap agama Yahudi merupakan biang keladi persekusi terhadap umat Yahudi di Eropa. Retorika dan antipati Kristen terhadap umat Yahudi muncul pada tahun-tahun permulaan sejarah agama Kristen dan disuburkan oleh aksi-aksi anti-Yahudi yang kian lama kian marak pada abad-abad selanjutnya. Perlakuan umat Kristen terhadap umat Yahudi juga mencakup tindak kekerasan bahkan pembunuhan yang berpuncak pada Holokaus.  Perlakuan semacam ini dipicu oleh dakwah Kristen, dalam seni rupa dan ajaran-ajaran yang memasyarakat selama dua milenia, yang mengungkap pandangan hina terhadap orang Yahudi, serta dalam statuta-statuta yang sengaja dirancang untuk mempermalukan dan melekatkan citra buruk pada orang Yahudi. Partai Nazi dikenal gemar menindas komunitas-komunitas umat Kristen; beberapa di antaranya, semisal Gereja Bersaksi, Gereja Katolik, Kaum Quaker, dan Saksi Yehuwa, menolong dan menyelamatkan orang-orang Yahudi yang menjadi incaran rezim antiagama itu.

 

Sikap umat dan denominasi-denominasi Kristen terhadap bangsa dan agama Yahudi sudah berubah ke arah yang lebih positif semenjak Perang Dunia II. Paus Yohanes Paulus II dan Gereja Katolik "menjunjung tinggi pengakuan Gereja akan status terpilih yang bersifat permanen dan berkesinambungan dari bangsa Yahudi" maupun pengukuhan kembali perjanjian antara Tuhan dan bangsa Yahudi. Pada bulan Desember 2015, Vatikan mengeluarkan antara lain sepucuk dokumen berisi 10.000 kata, yang menegaskan bahwa umat Katolik harus bahu-membahu dengan umat Yahudi dalam memerangi antisemitisme.

 

Yahudi dan Islam

 

Baik agama Yahudi maupun agama Islam mengaku berasal dari Abraham Sang Pitarah, sehingga dianggap sebagai agama-agama Abrahamik. Menurut tradisi Yahudi maupun tradisi Muslim, bangsa Yahudi adalah keturunan Ishak bin Abraham, dan bangsa Arab adalah keturunan Ismael bin Abraham. Kendati sama-sama percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki banyak amalan yang serupa, kedua agama ini berbeda karena umat Yahudi tidak mengakui kenabian Yesus dan Muhammad. Umat Yahudi dan umat Muslim sudah saling kenal sejak abad ke-7 M, yakni sedari awal kemunculan dan penyebaran agama Islam di Jazirah Arab, bahkan kurun waktu mulai tahun 712 sampai tahun 1066 M di bawah daulat Bani Umayah dan Bani Abas dianggap sebagai Zaman Keemasan kebudayaan Yahudi di Spanyol. Umat non-Muslim yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa di wilayah kedaulatan khilafah, termasuk umat Yahudi, disebut dzimmi. Umat dzimmi diizinkan mengamalkan ajaran agamanya dan mengatur diri sendiri, tetapi dibebani aturan-aturan khusus yang tidak diberlakukan atas umat Muslim. Sebagai contoh, umat dzimmi wajib membayar jizya, pajak per kapita yang dibebankan kepada kaum lelaki non-Muslim berstatus merdeka,  serta dilarang memanggul senjata dan bersaksi di hadapan mahkamah sehubungan dengan perkara-perkara yang melibatkan umat Muslim. Sejumlah pasal hukum yang berkaitan dengan umat dzimmi pada hakikatnya sangatlah simbolis. Sebagai contoh, umat dzimmi di negeri-negeri tertentu diwajibkan untuk mengenakan pakaian khusus, kendati aturan ini tidak terdapat di dalam Al Quran maupun hadits, malah baru diciptakan di Bagdad pada Awal Abad Pertengahan, dan tidak diterapkan secara konsisten.  Umat Yahudi di negara-negara Muslim tidak sepenuhnya bebas dari persekusi. Sebagai contoh, banyak umat Yahudi yang dibunuh, dihukum buang, atau dipaksa masuk Islam pada abad ke-12 di Persia, serta mengalami perlakuan yang sama dari Khilafah Muwahidin di Afrika Utara dan di Al Andalus,  maupun dari para imam Zaidiyah di Yaman pada abad ke-17. Adakalanya umat Yahudi juga diwajibkan membentuk perkampungan sendiri. Sebagai contoh, umat Yahudi Maroko diwajibkan sejak abad ke-15 untuk tinggal di dalam kampung-kampung bertembok (melah), yang kian padat penghuni sejak permulaan abad ke-19.

 

Pada pertengahan abad ke-20, umat Yahudi diusir keluar dari hampir semua negara Arab. Sebagian besar dari mereka memutuskan untuk menetap di Israel. Sekarang ini, tema-tema antisemit, antara lain penyangkalan Holokaus, sudah lumrah dijumpai dalam propaganda gerakan-gerakan Islam semisal Hizbulah dan Hamas, dalam pernyataan-pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga pemerintah negara Republik Islam Iran, bahkan dalam surat-surat kabar dan terbitan-terbitan lain dari Partai Refah.

 

Sinkretisme

Ada sejumlah gerakan yang berusaha menggabungkan unsur-unsur agama Yahudi dengan unsur-unsur agama lain. Yang paling terkenal dari gerakan-gerakan semacam ini adalah mazhab Yahudi Masehi, sebuah gerakan keagamaan dari era 1960-an  yang menggabungkan unsur-unsur agama Yahudi dengan akidah agama Kristen.  Secara garis besar, mazhab ini mengajarkan bahwa Yesus adalah Al Masih bangsa Yahudi serta salah satu dari Tiga Pribadi Ilahi, dan bahwasanya keselamatan hanya dapat diperoleh dengan cara menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi. Beberapa tokoh gerakan ini menyatakan bahwa Yahudi Masehi adalah salah satu mazhab agama Yahudi.  Organisasi-organisasi dari semua mazhab agama Yahudi menentang pernyataan ini, dan menegaskan bahwa mazhab Yahudi Masehi sesungguhnya adalah salah satu sempalan Kristen, karena mengajarkan akidah yang identik dengan ajaran Kristen Paulusiyah.

 

Contoh-contoh lain dari sinkretisme yang melibatkan usur-unsur agama Yahudi adalah Neopaganisme Semit, kelompok penghayat kepercayaan dengan tatanan organisasi longgar yang menggabungkan kepercayaan pagan atau Wicca dengan sejumlah amalan agama Yahudi; Umat Buddha Yahudi, kelompok penghayat kepercayaan dengan tatanan organisasi longgar yang memasukkan unsur-unsur spiritualitas Asia ke dalam kepercayaan mereka; dan sejumlah jemaat Yahudi Pembaharuan yang secara bebas dan terbuka menggabungkan akidah agama Yahudi dengan ajaran-ajaran agama Buddha, Sufi, agama-agama pribumi Amerika, dan agama-agama lain.

 

Sentra Kabalah, yang mempekerjakan pengajar-pengajar dari berbagai macam agama, adalah sebuah gerakan Zaman Baru yang mengaku hendak memasyarakatkan kabalah, salah satu bagian dari tradisi suluk agama Yahudi.