Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Jun 26, 2014

“Batu Hitam” dan “Batu Penjuru” di Injil

"Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." (Injil, Rasul Besar Matius 21:42)

Batu Penjuru dalam ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan Batu Hitam (al-Hajr al-Aswad) yang ada di salah satu pojok Ka'bah!

Ka'bah Dalam Al-Quran

Tidak diketahui dengan pasti dari mana asal-usul Batu Hitam yang kini terdapat di bangunan Ka'bah. Menurut tradisi Islam, batu tersebut jatuh dari Surga. Ketika air bah di zaman Nuh melanda, batu itu hilang. Tetapi dikemudian hari ditemukan oleh Ibrahim. Sebagian umat Muslim juga percaya batu itu adalah meteorit.

Sebuah Hadits mengatakan, saat batu hitam itu jatuh dari Firdaus, warnanya lebih putih dari susu. Tetapi kemudian hitam karena dosa keturunan Adam.  Menurut sejarah, Batu Hitam pernah dihancurkan oleh tentara-tentara pemberontak Islam hingga berkeping-keping.

Mencium Batu Hitam (al-Hajr al-Aswad) adalah kerinduan semua Muslim. Nyata jelas kerinduan itu ketika mereka menunaikan ibadah haji.  Mereka berlomba bahkan rela saling dorong agar dapat mencium, atau paling tidak menyentuhnya. Sementara di sisi lain, Islam sangat melarang pemujaan berhala.

Apakah Batu Hitam atau Isa Al-Masih Merupakan "Batu Penjuru"?

Injil, Rasul Besar Matius 21:42 bicara tentang "Batu Penjuru". Seorang memberi komentar mengenai "Batu Penjuru". Menurutnya, "Batu Penjuru" adalah Batu Hitam (al-Hajr al-Aswad), sehingga ayat ini menjadi bukti bahwa Injil-pun bicara tentang Ka'bah.

Jelas "Batu Penjuru" yang disebut pada ayat di atas tidak sama dengan Batu Hitam yang terdapat di Ka'bah. Batu Penjuru yang terdapat dalam Injil merujuk pada Isa Al-Masih. Dia telah menjadi Batu Penjuru yang dibuang (ditolak) dan dihancurkan (disiksa) oleh orang-orang yang menolak-Nya. "Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri, namun ia telah menjadi batu penjuru" (Injil, Surat Para Rasul 4:11)

Melalui kehancuran-Nya (penyaliban-Nya) disediakan jalan untuk menghilangkan dosa manusia.  "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan Allah" (Injil, Surat 2 Korintus 5:21).

Keselamatan oleh Batu Penjuru (Isa Al-Masih)

Jutaan umat manusia berlomba mencium Batu Hitam (al-Hajr al-Aswad). Sayangnya, batu hitam itu tidak dapat memberi keselamatan dan hidup kekal bagi mereka. Hanya Sang Batu Penjuru, yaitu Isa Al-Masih, yang dapat memberi pelepasan dari dosa.

Apakah Muslim yang benar-benar rindu untuk mencium batu hitam?  Tidak perlu pergi ke Mekah dan menghabiskan banyak dana untuk menghilangkan dosa. Datanglah pada Isa Al-Masih. Mintalah supaya darah-Nya yang kudus dapat memutihkan kembali hati saudara yang hitam karena dosa. Mujizat pembersihan hati ini tidak dapat dihasilkan dengan mencium Batu Hitam.

"firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Kitab Nabi Besar Yesaya 1:18).

Ilahi Kurban Idul Adha

Idul Adha merupakan hari raya kedua bagi umat Muslim setelah Idul Fitri. Idul Adha, atau disebut juga Hari Raya Kurban, tidak dirayakan semeriah Hari Raya Idul Fitri.

Ketika Idul Adha tiba, seluruh umat Muslim, terutama bagi mereka yang mampu, akan memberi kurban. Satu orang wajib mempersembahkan satu kambing atau satu sapi untuk tujuh orang. Biasanya, hewan-hewan kurban ini akan dibagi-bagikan kepada fakir miskin, anak yatim, atau mereka yang dianggap berkekurangan secara ekonomi.

Latar Belakang Kurban

Umat Muslim percaya, perayaan kurban adalah bentuk teladan pada ketaatan Nabi Ibrahim ketika Allah memerintahkan dia untuk mengorbankan anaknya yang tunggal. Sayangnya, Al-Quran tidak menjelaskan dengan pasti siapakah anak Nabi Ibrahim tersebut. Ismail-kah seperti yang dipercaya umat Muslim, ataukah Ishak?

Namun Taurat berkata dengan jelas, anak yang dikorbankan Nabi Ibrahim adalah Ishak. "Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu" (Taurat, Kitab Kejadian 22:2).

Umat Muslim percaya, berkurban ketika Idul Adha merupakan amalan yang paling dicintai Allah, sebagaimana yang dikatakan Muhammad. "Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih qurban" (HR. Tirmidzi).

Bila kurban Idul Adha adalah amalan yang paling dicintai Allah, lalu bagaimana nasib pahala mereka yang tidak mampu berkurban?

Kurban Pertama Dalam Sejarah Manusia

"Kurban"  bukanlah hal yang baru ditemukan setelah Islam ada. Sejak awal keberadaan manusia, "kurban" sudah ada. "Dan Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka" (Taurat, Kitab Kejadian 3:21). Inilah peristiwa "kurban" pertama dalam kehidupan manusia. Allah harus "mengorbankan" seekor binatang untuk menutupi dosa ketelanjangan Adam dan Hawa kala itu.

Kurban lainnya ialah ketika Allah ingin membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Allah memberi mandat kepada Musa, agar bangsa Israel memberi tanda pada pintu-pintu rumah mereka, untuk membedakan rumah bangsa Israel dengan Mesir. Supaya bangsa Israel luput dari tulah yang akan Allah turunkan bagi bangsa Mesir.

"Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop [tumbuhan Timur Tengah] dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu [bokor], dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi" (Taurat, Kitab Keluaran 12:22).

Dua peristiwa di atas menjelaskan, bagaimana manusia "terbebas" karena bantuan dari seekor kurban. Adam dan Hawa terbebas dari rasa malu karena telanjang. Bangsa Israel terbebas dari tulah Allah.

Kekurangan Kurban Masa Taurat

Bila kita membaca Alkitab secara keseluruhan, khususnya Taurat dan Kitab Para Nabi, kita dapat melihat bagaimana manusia sangat tergantung pada kurban persembahan. Dalam Kitab Imamat (di Taurat) kita dapat melihat ada lima jenis kurban yang harus dipersembahkan imam kepada Allah: Kurban Bakaran, Kurban Sajian, Kurban Keselamatan, Kurban Penghapusan Dosa, dan Kurban Penebusan Salah.

Tapi kita patut bersyukur memiliki Allah yang Maha Tahu dan penuh kasih. Dia berfirman, ". . . tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa" (Injil, Surat Ibrani 10:4).  Kurban-kurban pada zaman Taurat hanya merupakan ". . . bayangan saja dari keselamatan yang akan datang" (Injil, Surat Ibrani 10:1).  Keselamatan yang dimaksudkan ialah Kalimat-Nya yang datang ke dunia untuk dipersembahkan sebagai "Kurban Agung."

Identifikasi Kurban Agung yang Dibayangi di Taurat

Kalimat Allah, yaitu Isa Al-Masih, telah mempersembahkan diri-Nya mati di kayu salib. Dia telah menjadi kurban untuk mendamaikan Allah dengan manusia. Darah-Nya yang tertumpah di atas kayu salib telah membebaskan manusia dari hukuman dosa, dan juga membedakan mereka yang telah menerima anugerah keselamatan dengan yang tidak.

Sehingga melalui pengorbanan Kalimat Allah, manusia tidak perlu lagi memberi persembahan-persembahan sebagaimana yang telah ditetapkan pada zaman para nabi. Sebab Kitab Suci berkata, "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya" (Injil, Surat Roma 3:25).

"Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia" (Injil, Surat Ibrani 9:27-28).

Demikianlah Isa Al-Masih telah menjadi Kurban Agung bagi kita. Pada Hari Idul Adha yang saudara rayakan, kiranya dapat diingat bahwa Dia dapat memberi anugerah keselamatan bagi Anda, bila Anda mau mempercayai-Nya.

Berkah Idul Adha

Mengenai peringatan hari raya Idul Adha, Al-Quran mencatat sebuah ayat yang menarik.  Ayat ini tentang pengurbanan Nabi Ibrahim AS.  Ia mengurbankan seekor domba jantan sebagai pengganti anak lelaki yang disayanginya. "Kami tebusi anaknya itu sembelihan yang besar (seekor kambing / domba)." (QS 37:107).

Al-Quran Menggambarkan Sembelihan Dengan "Adzim" (Besar)

"Adzim" (Besar) adalah nama yang digunakan bagi Allah. Tapi ayat diatas juga menggunakan nama tersebut bagi korban sembelihan yang nilainya lebih kecil dibandingkan anak Ibrahim. Apa maksud Al-Quran dengan ayat tersebut?

"Sembelihan besar" ini adalah sebuah simbol yang melambangkan keagungan. "Sembelihan besar" menjadi alat penebusan Allah bagi anak lelaki Ibrahim.  Inilah merupakan kemurahan hati Allah. Kematian domba jantan itu telah menebus manusia dan memberikan hidup kepadanya.

Allah yang Menebus dan Menyediakan

Karena Allah yang menebus anak lelaki Ibrahim melalui sembelihan. Sembelihan yang Allah sediakan ialah sebuah domba jantan yang benar-benar murni dan tanpa cacat sedikitpun.

Al-Quran tidak bicara mengenai tempat penyembelihan tersebut.  Namun Kitab Taurat, Kejadian 22:3 menulis: Allah memerintahkan Ibrahim untuk pergi ke Gunung Moria. Ratusan tahun kemudian, Raja Sulaiman membangun Bait Allah di atas gunung yang sama.

Apa Tujuan Berkurban Pada Idul Adha?

Beberapa orang berpendapat tujuan berkurban supaya orang miskin dapat mengambil manfaat dengan makan dagingnya. Pendapat itu tidak salah.  Tetapi benarkah tujuan Allah atas kurban semata-mata hanya itu?

Tidak ada perintah dalam Al-Quran untuk berkurban saat Idul Adha. Satu-satunya alasan adalah meneladani ketaatan Nabi Ibrahim saat berkurban (QS 37:100-113). Dan saat itu dia tidak berada diantara orang-orang miskin.

Karena dia takut kepada Allah dan menyadari dosa-dosanya, maka dia memerlukan tebusan dari Allah. Al-Quran mencatat "Dan yang amat kuinginkan (Nabi Ibrahim) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat" (QS 26:82). Maka seharusnya tujuan seseorang berkurban adalah karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya serta memohon pengampunan dan penebusan-Nya.

Kurban Seperti Apakah Yang Layak Menggantikan Kita Dihadapan Allah?

Sapi Kurban"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.  " (QS 22:37)

Kurban yang layak menggantikan kita dihadapan Allah haruslah lebih tinggi dari seekor hewan. Karena Allah hanya menerima ketaqwaan yang hanya dimiliki oleh manusia, maka kurban yang dapat diterima Allah hanyalah kurban seorang manusia.

Ciri-ciri "Kurban Besar"

Jelas, harus manusia suci, tanpa dosa, dan dikirim Allah. Beberapa orang berpendapat bahwa semua nabi tidak berdosa. Benarkah demikian?  Al-Quran mencatat: Adam dan Hawa berdosa (QS 7:23 ); Nuh berdosa (QS 11:47 ); Ibrahim berdosa (QS 26:82; 14:41 ); Musa berdosa (QS 28:15-16); Harun berdosa (QS 20:93); Daud berdosa (QS 38:24 ); Sulaiman berdosa (QS 38:32,35 ); Yunus berdosa (QS 21:87 ); Muhammad berdosa (QS 48:2; 47:19).

Bagaimana dengan Isa Al-Masih? Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang mengatakan Isa Al-Masih berdosa. Sebaliknya Al-Quran mencatat: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci."  Kata "suci" hanya ditujukan kepada Isa Al-Masih. Kedatangan-Nya disebut ajaib karena Dia satu-satunya yang dilahirkan oleh seorang perawan (QS 21:91; 66:12), juga memiliki Kebesaran  (QS 3:45; 4:171) dan disebut "Kalimat-Nya dan roh dari pada-Nya".

Isa Al-Masih "Kurban" yang Besar

Dengan demikian Isa Al-Masih adalah satu-satunya yang dapat menjadi kurban yang sebenarnya. Mengapa? Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dan dikirim Allah.

Seperti halnya kurban yang harus terlebih dahulu hidup lama sebelum siap dikurbankan, demikian juga Isa Al-Masih. Ia hidup cukup lama sebelum mengurbankan diri-Nya sebagai tebusan. Kematian-Nya di kayu salib telah membuat darah-Nya tertumpah. Dia adalah lambang tebusan Allah seperti yang dikatakan oleh Nabi Yahya, anak Zakaria: "Ini adalah Anak Domba Allah, yang akan dikurbankan untuk menebus dosa-dosa dunia."

Kematian-Nya telah memberikan hidup kepada manusia.  Ia membangkitkan orang dari kematian sebelum Dia sendiri mati. Dia, yang tidak berdosa telah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa. Dan menjadi tebusan serta memberi hidup bagi orang berdosa.

Rahasia Berkah Idul Adha

Isa Al-Masih bukan hanya satu-satunya yang dapat menjadi kurban, tetapi Dia adalah "kurban besar" itu karena menggambarkan semua sifat kurban itu.

Dengan demikian kita dapat mengerti dalam pengertian yang lebih luas arti rahasia dari ayat "Kami tebusi anaknya itu dengan sembelihan yang besar (seekor domba)" (QS 37:107). Mengapa dia "besar?" Karena pengurbanan besarnya mencakup seluruh umat manusia.

Kematian domba jantan itu telah menebus dan memberikan hidup bagi anak lelaki Nabi Ibrahim. Tujuan berkurban karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya, memohon pengampunan dan penebusan-Nya.Kurban yang dapat diterima Allah adalah kurban seorang manusia yang suci dan tanpa dosa.Isa Al-Masih satu-satunya yang dapat menjadi kurban 'kurban besar'. Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dikirim Allah dan kematian-Nya memberikan hidup kepada manusia sebagai tebusannya. Jelas, Isa Al-Masih mengorbankan diri-Nya bagi seluruh manusia termasuk Saudara.  Hari ini, dengan menerima Isa Al-Masih sebagai Juruselamat, Saudara dapat menikmati hidup yang kekal. Kiranya Saudara mendoakan doa keselamatan dalam "Tindakan Ke-Enam" pada seksi tentang Jalan Keselamatan di situs ini.

Ibadah Mencium Batu Hitam

Batu Hitam, al-Hajr al-Aswad, adalah peninggalan pusaka orang Islam. Menurut tradisi, batu ini peninggalan sejak zaman Adam dan Hawa. Batu ini terletak di pojok Timur Ka'bah, yaitu bangunan batu tua berbentuk kubik di Mekah.

Apakah Batu Hitam itu? Mengapa begitu penting bagi orang Islam? Jawabannya terdapat pada tradisi kuno.

Tradisi Islam dan Batu Hitam

Menurut tradisi Islam, Batu ini jatuh dari Surga. Tujuannya, menunjukkan kepada Adam dan Hawa tempat untuk membangun altar, yaitu altar pertama di bumi. Batu ini semula berwarna putih.

Menurut Hadits: "(Batu) ini jatuh dari Firdaus lebih putih dari susu, namun dosa dari keturunan  Adam membuatnya menjadi hitam".  Tradisi Islam mengatakan, ketika air bah melanda dan Nuh serta keluarganya memasuki Bahtera, Batu ini hilang. Di kemudian hari, tradisi mengklaim bahwa Abraham menemukan Batu Hitam ini. Dia meminta Ismail, anak yang dinyatakan orang Islam sebagai leluhur Muhammad, untuk membangun Ka'bah. Ismail menempatkan Batu ini di pojok sebelah Timur Ka'bah.

Batu Hitam bila bukan batu basal, sejenis batu akik, adalah merupakan kaca alamiah, yaitu batu bintang.

Batu Hitam Ziarah Umat Muslim

Batu Hitam yang ada sekarang sudah dipoles licin. Batu ini terdiri dari berbagai keping yang disatukan dalam bingkai perak. Ini karena pada sejarah Islam mula-mula, satu pemberontak balatentara Islam memecahkan Batu itu berkeping-keping. Batu ini sekarang menjadi bundar dan usang, sebab jutaan orang Islam telah menyentuh dan menciumnya selama berabad-abad.

Selama menunaikan ibadah haji, para jemaah mengitari Ka'bah selama tujuh kali. Setiap kali mengitari, mereka harus mencoba mencium Batu Hitam. Mereka meniru apa yang dulu Muhammad (nabi mereka) lakukan. Karena besar sekali jumlah jemaah yang datang, banyak orang tidak bisa mencium Batu Hitam. Sebagai gantinya, mereka menjulurkan tangan dan menunjuk ke arah Batu Hitam ketika mereka mengitari Ka'bah. Ritual ini memegang peranan yang penting selama ibadah haji.

Mengapa Orang Islam Mencium Batu Hitam?

Mengapa Anda ingin mencium sebuah batu? Jawabannya berasal dari Muhammad. Orang Islam mengklaim bahwa Muhammad mencium Batu Hitam. Orang Islam mencium Batu ini untuk meniru apa yang nabi mereka lakukan. Mengapa Muhammad mencium Batu Hitam? Ketika Muhammad datang ke Mekah, dia menyuruh agar berhala-berhala dikeluarkan dari Ka'bah sebelum dia memasukinya. Sayangnya dia sendiri tidak konsisten. Dia terlihat mencium Batu Hitam, yang merupakan kebiasaan penyembah berhala.

Di kemudian hari, Umar bin al-Khattab, rekan Muhammad terusik dengan apa yang dilihatnya. "Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan, 'Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Allah mencium kau, aku tidak akan menciummu" (Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor 680).

Apakah Mencium Batu Itu Pemujaan Berhala?

Islam dengan ketat melarang pemujaan berhala, dan melihat Batu Hitam tidak lebih dari sekedar simbol. Mungkinkah ada orang-orang yang berpikir, Muhammad tertangkap basah menyembah berhala!? Menurut Anda bagaimana?

Kebanyakan orang Islam tidak menyembah Batu Hitam. Namun beberapa orang melihat Batu Hitam sebagai berhala yang akan muncul di Hari Penghakiman, dengan mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara. Ini berbahaya! Sebab telah membuat Batu Hitam sebagai berhala daripada memuja sang Pencipta Alam Semesta!

'Hitam' Melambangkan Apa?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, orang Islam merasa batu ini menjadi hitam karena dosa. Apakah ini berarti dosa dari orang-orang yang melewati Batu Hitam ditransfer kepadanya? Beberapa orang merasa demikian. Jelas orang Islam, demikian juga semua manusia, mencari jalan untuk menghapus dosa mereka.

Perhatikan percakapan di surga berikut, di antara makhluk surgawi untuk melihat bagaimana Injil memperlakukan dosa: "Salah seorang dari pemimpin-pemimpin [makhluk surgawi] itu bertanya kepada saya, 'Orang-orang yang berjubah putih ini, siapa mereka dan dari mana mereka datang?' 'Saya tidak tahu, Tuan. Tuan sendiri yang tahu,' jawab saya. Maka dia berkata kepada saya, 'Inilah orang-orang yang sudah dengan selamat melalui masa penganiayaan yang hebat. Mereka sudah mencuci jubah mereka dan membuatnya menjadi putih dengan darah Anak Domba itu." (Injil, Wahyu Yohanes, 7:13 – 14). Karena cucuran darah Isa Al-Masih, jubah (hidup) mereka menjadi putih, bukan hitam.

Kunci untuk Menghilangkan Dosa

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah "Anak Domba". Dia yang menanggung dosa dunia di atas kayu salib. Hanya Dia, bukan Batu Hitam, yang dapat membersihkan hati kita dari dosa.

Allah, yang datang menjelma sebagai manusia kepada kita, mati sehingga kita dapat dibersihkan dari noda dosa. Walaupun kita dulu hitam (karena dosa), sekarang kita dapat menjadi seputih salju. Ini akan terjadi jika kita mengijinkan Isa Al-Masih mencuci noda dosa kita dengan darah-Nya, yaitu darah yang dicucurkan-Nya bagi Anda dan saya.

Naik Haji, Apakah Keselamatan Sorgawi?

"Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya." (Qs. 2:158)

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Hal ini wajib dilakukan bagi mereka yang mampu. Seseorang yang sudah menunaikan ibadah haji disebut sebagai "Haji/Hajjah".

Bagi seorang Muslim, sebutan "Haji/Hajjah" mempunyai arti tersendiri.  Itulah sebabnya tidak sedikit umat Muslim setiap tahunnya berlomba-lomba menunaikan ibadah haji. Mereka sangat menghargai ritual ibadah naik haji.

Ritual Saat Menunaikan Ibadah Haji

Dalam menunaikan ibadah haji, seseorang diwajibkan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Selain itu juga mencium batu hitam yang disebut Al-Hajr al-Aswad.  Mereka juga diharuskan berlari bolak-balik antara bukit As-Safa dan Al-Marwa.

Sebagai ritual, mereka juga harus melemparkan tujuh batu pada tiga tiang (jamarat).  Tiap tiang diyakini merupakan Setan.

Ritual Haji Dan Agama Pra-Islam

Ritual mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bukanlah ritual pertama yang dilakukan oleh umat Muslim. Ritual ini sudah dilakukan oleh penyembah berhala di Arab, jauh sebelum Muhammad mendirikan agama Islam.

Saat itu, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bertujuan untuk menyembah Hubal dan Shams (dewa bulan dan matahari). Sedangkan mencium batu hitam merupakan acuan kepada Hubal. Mereka meyakini, para Dewa dan Dewi mempunyai batu khusus yang akan menggantikan perwujudan diri mereka. Sementara melempar batu, juga merupakan ritual yang berhubungan dengan dewa-dewa palsu.

Sedangkan bukit-bukit kecil yang disebut bukit As-Safa dan Al-Marwa, dipercaya merupakan tempat dewa Isaf dan Naila. Sering orang bertanya, mengapa pengikut haji harus berlari bolak-balik di antara bukit itu.  Bukankah ini juga dilakukan para penyembah Isaf dan Naila di zaman Jahiliah?

Menurut pakar Islam, Yusuf Ali, "Keseluruhan ziarah penyembah berhala dirohanikan dalam Islam" (Yusuf Ali, catatan kaki no 223, hal. 80, terjemahan Al-Quran dalam Bahasa Inggris).

Apakah Naik Haji Dapat Menyelamatkan?

Bila dilihat dari sisi lain, naik haji merupakan ritual ziarah ke makam Muhammad. Pertanyaannya, dapatkah orang yang sudah mati dapat memberikan keselamatan?

Jelas ritual menunaikan ibadah haji tidak dapat memberi jaminan keselamatan bagi seseorang. Walaupun tidak sedikit haji/hajjah merasa dirinya sudah layak untuk mendapatkan keselamatan.

Keselamatan Menurut Injil Terpisah dari Ritual

Seseorang yang merindukan keselamatan hanya perlu memintanya kepada Allah, bukan melalui ritual-ritual. Keselamatan yang diterima umat percaya berdasar pada iman akan Isa Al-Masih.

Keselamatan itu merupakan anugerah (pemberian cuma-cuma) dari Allah, bukan upah.  Anugerah adalah "kemurahan Allah dan kasih-Nya kepada manusia bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya" (Injil, Surat Titus 3:4-5).

Keselamatan Bukti Kasih Allah

Isa Al-Masih mengajarkan berita yang sempurna. Ia mati tersalib untuk menggantikan dan membayar hukuman dosa manusia. Allah melakukan ini karena Dia mengasihi manusia. Dia ingin manusia menikmati kekekalan bersama dengan Dia di sorga!

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya [Kalimat-Nya] yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16).

Jun 24, 2014

Asal Usul Domba Terpisah Dari Kambing

Studi unik ini memecahkan kode genetik domba untuk mengungkap bagaimana asal usul domba awalnya terpisah dari spesis kambing. Asal mula pemisahan spesis domba dan kambing terjadi sekitar 4 juta tahun yang lalu. Penelitian ini merupakan yang pertama kali dalam membuktikan perbedaan genetik domba dan kambing.

Penelitian asal usul genetik domba dari kambing melibatkan 26 lembaga penelitian di delapan negara berbeda. Tim ilmuwan dipimpin oleh peneliti dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation, BGI dan Kunming Institute of Zoology-Australia, Utah State University-Cina dan Baylor College of Medicine-USA dan The Roslin Institute. 

Asal Usul Domba 4 Juta Tahun Lalu

Fasilitas BBSRC didanai ARK-Genomics, salah satu bagian dari Edinburgh Genomics di University of Edinburgh. Fasilitas ini mendukung sebagian besar data, termasuk informasi mengenai gen yang diekspresikan dalam spektrum 40 jaringan berbeda. Keseluruhan hasil penelitian asal usul domba yang terpisah dari kambing diterbitkan dalam jurnal  Science edisi Juni 2014.
Profesor Alan Archibald, kepala Genetika dan Genomics-Roslin Institute mengatakan, bahwa domba merupakan salah satu hewan pertama yang didomestikasi (diternakkan) untuk keperluan pertanian dan masih merupakan bagian penting dari ekonomi pertanian global. 

Dengan memahami perkembangan genetik domba akan membantu imuwan meningkatkan perkembang biakan agar lebih sehat dan ternak lebih produktif. Analisa studi ini dapat membantu pengembangan DNA untuk mempercepat program pemuliaan selektif, dan membantu petani/peternak dalam meningkatkan ternak mereka. 

Penelitian mengidentifikasi gen yang menurunkan bulu domba dan mengungkap fitur dalam sistem pencernaan. Identifikasi ini membuat spesis domba mampu mengkonsumsi rumput berkualitas rendah dan tanaman lainnya, dimana proses ini telah terjadi sejak 4 juta tahun lalu.

Dalam riset gen domba dan kambing, telah menghasilkan gambaran paling lengkap tentang biologi dan asal usul domba. Penelitian ini menggunakan sumber daya yang bisa mengungkapkan wawasan baru dalam hal penyakit hewan ternak. Tim ilmuwan terdiri dari University of Edinburgh Roslin Institute didanai oleh Biotechnology and Biological Sciences Research Council, dimana tim global telah mengurutan genom seluruh genetik domba domestik pertama dunia. 

Para ilmuwan membandingkan gen domba dengan hewan lain seperti sapi, kambing, babi, juga termasuk manusia. Analisis asal usul domba dan kambing mengidentifikasi beberapa gen yang berhubungan dengan produksi wol, juga mengungkapkan gen yang mendukung evolusi Rumen (pencernaan perut yang memecah makanan agar siap dicerna).

Jun 14, 2014

Injil Dan Al-Quran Sepakat: “Isa Al-Masih Ada di Sorga”

Satu lagi kesaksian yang sama diberikan Al-Quran dan Injil atas Isa Al-Masih, yaitu tentang keberadaan-Nya saat ini di sorga. Qs 19:33 menulis, "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al-Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (Isa Al-Masih) meninggal dan pada hari aku (Isa Al-Masih) dibangkitkan hidup kembali" Juga terdapat pada ayat lain, "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku" (Qs 3:55) Hal sama juga terdapat dalam Injil, "Sesudah Ia (Isa Al-Masih) mengatakan demikian, terangkatlah Ia (Isa Al-Masih) disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka." (Injil, Kisah Para Rasul 1:9)

Stepanus, Martir Pertama Murid Isa Al-Masih

Stepanus adalah murid pertama Isa Al-Masih yang menjadi martir. Dia seorang yang diberkati Allah dan selalu berbicara dengan penuh hikmat. Banyak orang yang mendengar pengajarannya dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Melihat hal ini, pemuka-pemuka agama Yahudi sangat marah dan ingin membunuhnya. Berbagai usaha dilakukan agar Mahkamah Agama memutuskan Stepanus bersalah. Akhirnya, Stepanus-pun dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Sebelum Stepanus menerima hukumannya, dia melihat Isa Al-Masih di sorga, menampakkan diri padanya, "Lalu katanya: Sungguh, aku (Stepanus) melihat langit terbuka dan Anak Manusia (Isa Al-Masih) berdiri di sebelah kanan Allah." (Injil, Kisah Para Rasul 7:56)
Demikianlah, bukan hanya Injil dan Al-Quran yang memberi kesaksian keberadaan Isa Al-Masih di sorga. Stepanus, salah satu pengikut-Nya pun melihat Dia ada di sorga.

Isa Mengajarkan Pengampunan, Stepanus Mengampuni Penganiayanya

Berulangkali Injil mencatat bagaimana Isa Al-Masih mengajarkan tentang pengampunan. Bahkan hukum yang kedua adalah Kasih. "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Injil, Rasul Markus 12:31)
Isa Al-Masih tidak hanya mengajarkan tentang kasih dan pengampunan. Tetapi Dia juga melakukannya, yaitu pada orang-orang yang telah menyalibkan-Nya. "Isa Al-Masih berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Injil, Rasul Lukas 23:34)
Hal yang sama juga dilakukan Stepanus pada orang-orang yang merajamnya, "Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia." (Injil, Kisah Para Rasul 7:60)
Stepanus telah meneladani ajaran Isa Al-Masih. Dia mampu melakukannya karena dia telah menerima Keselamatan dari Isa Al-Masih.

Isa Al-Masih Jalan Menuju Ke Sorga

Injil, Al-Quran, dan Stepanus telah memberi kesaksian bahwa Isa Al-Masih berada di sorga. Isa Al-Masih berasal dari sorga, maka Dia tahu jalan ke sorga, itulah sebabnya saat ini Dia berada di sorga, menyediakan tempat bagi orang-orang yang telah menerima Keselamatan dari-Nya.
Karena Isa Al-Masih saat ini telah berada di sorga, maka Dia tidak memerlukan doa shalawat nabi untuk keselamatan-Nya. Karena Dia adalah Keselamatan itu.
"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Injil, Kisah Para Rasul 4:12)
"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:2)

Muhammad Adalah Ciptaan Allah, Bagaimana Isa Al-Masih?

Setiap makhluk hidup yang ada di alam semesta adalah ciptaan Allah. Pada saatnya nanti, semua akan mati, dan kembali ke asalnya. Demikianlah, setiap makhluk hidup mempunyai awal dan akhir.
Memang jelas bahwa semua makhluk hidup diciptakan Allah. Tetapi ternyata ada satu Pribadi yang datang ke dunia tanpa diciptakan Allah. Dia tidak berawal dan tidak berakhir. Dia Kekal.  Dia disebut "Alfa dan Omega".
Pribadi itu bukanlah Adam. Sebab Adam diciptakan Allah dari tanah dan debu. "Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Taurat, Kitab Kejadian 2:7).
Bukan pula Muhammad. Muhammad lahir karena adanya hubungan biologis antara wanita dan pria.

Siapakah Pribadi Yang Tidak Diciptakan?

Pribadi itu adalah Isa Al-Masih!. Dia tidak pernah diciptakan. Sebab Kalimat Allah kekal. Seperti halnya Allah. Dia bukan manusia biasa, yang lahir karena hubungan wanita dan pria. Sebab wanita yang melahirkan Dia adalah seorang perawan suci.
"Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus (Isa Al-Masih). Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, {qluetip title=[Anak Allah]} dalam arti kiasan {/qluetip}" (Injil, Rasul Lukas 1:31;34-35).
"Ingatlah, ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)" (Qs 3:45).

Isa Al-Masih Kembali Ke Sorga

Jika Isa Al-Masih tidak pernah diciptakan Allah, lalu dari manakah asalnya? Dari sorga! Itulah sebabnya, Dia kembali ke sorga.
"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al-Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (Isa Al-Masih) meninggal dan pada hari aku (Isa Al-Masih) dibangkitkan hidup kembali" (Qs 19:33).
Kesaksian yang sama dalam Injil, "Sesudah Ia (Isa Al-Masih) mengatakan demikian, terangkatlah Ia [Isa Al-Masih] disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka" (Injil, Kisah Para Rasul 1:9).

Tujuan Isa Al-Masih Datang Ke Dunia

Lalu, mengapa Dia datang ke dunia? Menurut Al-Quran, Isa Al-Masih adalah suatu "tanda" bagi manusia. " Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami" (Qs 19:21).
Demikianlah, Isa Al-Masih datang ke dunia untuk memberi Keselamatan bagi setiap orang, "Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16).
Dan Keselamatan hanya ada dalam nama-Nya, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Isa Al-Masih], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Injil, Kisah Para Rasul 4:12).

Terkemuka di dunia dan di akhirat

Nabi Besar Isa Al-Masih sebagai Juruselamatnya,Al-Quran Surat Ali 'Imran 45:
Malaikat berkata: "Hai Maryam Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat. Dengan kutipan, "terkemuka di dunia dan di akhirat." Jikalau seseorang disebut "terkaya" di kampungnya ini berarti tidak ada seorangpun di kampung tersebut yang lebih kaya daripada dia. Jikalau si anu disebut pemain sepak bola terbaik di Indonesia, ini berarti tidak ada seorangpun di Indonesia yang lebih pandai bermain sepak bola daripada si anu.

Isa Al-Masih nabi terkemuka di dunia dan di akhirat

Dalam Ali 'Imran 45 kita membaca bahwa Nabi Besar Isa Al-Masih adalah "terkemuka" bukan hanya di dunia ini tetapi juga di akhirat. Ini berarti tidak ada seorang nabipun atau siapapun yang pernah hidup atau yang akan hidup yang melebihi Dia di bumi maupun di sorga. Intinya "terkemuka" tidak berarti nomor dua atau nomor tiga. Jelas "terkemuka" berarti "Nomor Satu!"
Namun demikian seorang pakar agama berani menulis, "tiap-tiap Nabi dan Rasul itu adalah sama, sama mulianya, sama kebenaran yang dibawanya, sama kedudukannya" (Maria, Yesus, dan Muhammad, H. Bey Arifin, Hal. 75). Bagaimanakah pandangan ini dapat dipertahankan mengingat isi kutipan dari Ali' Imran tadi, "namanya Al-Masih terkemuka di dunia dan di akhirat"?

Alasan mengapa Isa Al-Masih disebut sebagai terkemuka

Mungkin Saudara bertanya, "Mengapa Isa Al-Masih dikatakan 'terkemuka'?" Ada beberapa sebabnya!! Pertama karena ibuNya, Ibu Maryam disebut perempuan terkemuka daripada semua perempuan yang pernah hidup (Ali Imran 42; Injil, Lukas 1:42, 48). Jikalau Maryam seorang ibu yang terkemuka, bukankah Ia yang menjelma menjadi manusia melalui rahim Maryam juga patut disebut "terkemuka?" Lagi Nabi Besar Isa Al-Masih satu-satunya nabi yang tidak mempunyai ayah jasmani. Tidakkah ini melebihkanNya di atas semua nabi lain? Juga Al-Quran, pakar Islam, dan Alkitab menekankan berulang kali bahwa Ia satu-satunya yang tidak pernah berdosa. Bukankah itu melebihkan Dia di atas semua nabi lain? Malahan Ia satu-satunya nabi yang tidak mempunyai kuburan di dunia ini. Ia di sorga. Ia akan kembali, menurut kepercayaan Islam atau Kristen, untuk menghakimi dan memimpin dunia ini. Bukankah ini membuktikan bahwa Ia melebihkan semua Nabi lain yang pernah hidup?
Semuanya benar. Bukti lagi akan kenyataan bahwa Kalimah Allah, Nabi Besar Isa Al-Masih "terkemuka" terdapat dalam ayat-ayat Allah ini:
Dia jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. (Injil, Surat Efesus 1:20-21).
Kita ingin hidup berkenan kepada Allah. Karena demikian bukankah kita wajib mengutamakan siapa yang diutamakan Allah di dunia ini dan di akhirat? Sebaiknya kita memperhatikan proklamasi sbb:
terdengarlah suara-suara yang nyaring di dalam sorga, katanya: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya [Isa Al-Masih], dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." ..... Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan namaNya ialah: "Firman [Kalimah] Allah." ....Dan pada jubahNya dan pahaNya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan." (Injil, Wahyu 11:15, 19:13, 16).

Injil Barnabas Injil Palsu

Tidak sedikit umat Muslim mengutip ayat-ayat dari Injil Barnabas untuk menyerang ke-Kristenan. Terkadang juga mereka mengutip ayat dari Injil ini. Tujuannya untuk memperkuat pernyataan mereka, bahwa nabi mereka adalah benar nabi terakhir dan penyempurna. Sayangnya, hal tersebut tidak sesuai dengan pendapat mendiang Dr. Abbas Mahmoud Al Aqqad. Seorang guru besar terkenal di Universitas Al Azhar di Cairo, Mesir. Dia mengajak umat Muslim sedunia untuk menjauhkan diri dari Injil Barnabas. Dalam bukunya "Hayatul Masih fit Tarikh was Kusyufil 'ashril Hadiets", (Cairo: Darul Hilal) ia menguraikan kepalsuan Injil tersebut.  Ia berkesimpulan kitab ini bukan saja menyerang ajaran agama Kristen tetapi juga Islam.

Injil Barnabas Bertentangan Dengan Al-Quran

Sangat masuk akal bila mendiang Dr. Abbas Mahmoud Al Aqqad mengatakan Injil Barnabas palsu. Sebab terdapat beberapa ajaran dalam Injil Barnabas yang bertentangan dengan Al-Quran.
  • Mesias adalah Isa, Bukan Muhammad

    Al-Quran dengan jelas mengatakan Mesias adalah Isa Al-Masih. Bukan Muhammad. Sebaliknya, Injil Barnabas mengatakan "Muhammad adalah Mesias, dan Isa selalu menyangkal bahwa Ia bukan Mesias" (Lihat bab 3, 42, 82). Sungguhkah Mesias itu adalah Muhammad, anak Abdullah dan bukan Isa Al-Masih anak Maryam?
  • Langit Ada Tujuh, Bukan Sembilan

    Sura Al-Baqarah ayat 29 mengatakan langit ada tujuh. Juga Sura Al-Isra ayat 44 memberi pernyataan yang sama. Tetapi Injil Barnabas bab 178 dengan tegas mengatakan bahwa langit ada sembilan.
    Sepertinya penulis kitab ini membaca tulisan Dante yang mengarang khayalan terkenal "Divina Commedia" tentang sembilan langit menuju Firdaus.
    Mana yang benar – sembilan atau tujuh?
  • Seorang Pria Dapat Menikahi Berapa Wanita?

    Menurut Qs 4:3, "seorang laki-laki dapat menikahi dua, tiga, empat wanita" sekaligus. Bahkan Qs 70:30 menambahkan keempat isteri tersebut adalah "selain budak-budak yang mereka miliki". Hal ini bertentangan dengan ajaran Injil Barnabas. Menurutnya "hendaklah seorang lelaki puas dengan seorang wanita yang dikaruniakan Allah baginya dan hendaklah dia melupakan wanita lainnya" (Injil Barnabas bab 115).  Manakah petunjuk Allah yang sesungguhnya – empat atau satu?
  • Adakah Maryam Mengalami Sakit Saat Melahirkan?

    Saat melahirkan Isa Al-Masih, "Maryam mengalami rasa sakit saat melahirkan" (Qs 19:23). Sedangkan Injil Barnabas bab 13 mengatakan, "Maryam 'dikelilingi oleh cahaya terang yang luar biasa, seraya melahirkan puteranya tanpa sakit". Manakah yang benar – Siti Maryam sakit pada waktu melahirkan atau tidak?
  • Allah Membutuhkan Manusia?

    "Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya" (Qs 17:13).
    "Ketika Allah menciptakan manusia dengan kebebasan agar dia boleh mengetahui bahwa Allah tidak membutuhkan manusia, sama seperti seorang raja yang memberikan kebebasan kepada hamba-hambanya" (Injil Barnabas bab 155). Perhatikanlah dua ayat di atas, bukankah keduanya saling bertentangan? Injil Barnabas Bertentangan Dengan Alkitab 

Sangat jelas bahwa Injil Barnabas bertentangan dengan Alkitab. Inti Injil adalah Kabar Baik yang dibawa oleh Isa Al-Masih. Kabar Baik ini menegaskan sia-sialah segala usaha amal manusia untuk meraih keselamatan. Hal tersebut tidak dapat melepaskan manusia dari ikatan dosa dan iblis. Keselamatan hanya terdapat dalam Isa Al-Masih.
Bila amal ibadah dapat menghapus dosa, seberapa banyakkah amal yang harus dilakukan manusia agar dapat mengampuni dosa-dosanya?  Jelas hal itu mustahil!

Isa Al-Masih Menghancurkan Kuasa Setan

Injil yang benar memberikan jawaban yang indah. Sesungguhnya manusia yang terikat oleh dosa tidak dapat mematahkan rantai iblis. Tetapi Isa Al-Masih, Tuhan yang turun dari sorga, sudah menghancurkan kuasa setan. "Bagi Dia (Isa Al-Masih), yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya dan telah membuat kita menjadi suatu kerajaan bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin" (Injil, Kitab Wahyu 1:6).
Kembali Injil Barnabas menyangkal fakta dalam Injil. Menurutnya, Isa Al-Masih tidak pernah mati disalib, melainkan Judas-lah yang dibuat Allah menyerupai wajah Isa Al-Masih. Sedangkan Isa sendiri diangkat Allah ke sorga.
Benarkah Isa Al-Masih takut menghadapi maut sehingga harus melarikan diri? Inilah perkataan Isa Al-Masih, "Sekarang jiwa-Ku (Isa Al-Masih) terharu dan apakah yang akan Ku katakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini (yaitu dari salib). Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, memuliakan nama-Mu!" (Injil, Rasul Besar Yohanes 12:27, 28).
Isa Al-Masih tidak pernah melarikan diri dari maut. Dia bersedia mengorbankan diri sebagai "Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:29). Ia menghapus dosa semua manusia yang percaya kepada-Nya. Injil yang benar menawarkan keselamatan cuma-cuma sebagai anugerah dari Allah. "Karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, (Isa Al-Masih) Tuhan kita" (Injil, Surat Roma 6:23). Sambutlah Dia! Yakinlah akan janji Isa Al-Masih, "Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan dibuang" (Injil, Rasul Yohanes 6:37).

Berkah Idul Adha

Mengenai peringatan hari raya Idul Adha, Al-Quran mencatat sebuah ayat yang menarik.  Ayat ini tentang pengurbanan Nabi Ibrahim AS.  Ia mengurbankan seekor domba jantan sebagai pengganti anak lelaki yang disayanginya. "Kami tebusi anaknya itu sembelihan yang besar (seekor kambing / domba)." (QS 37:107).

Al-Quran Menggambarkan Sembelihan Dengan "Adzim" (Besar)

"Adzim" (Besar) adalah nama yang digunakan bagi Allah. Tapi ayat diatas juga menggunakan nama tersebut bagi korban sembelihan yang nilainya lebih kecil dibandingkan anak Ibrahim. Apa maksud Al-Quran dengan ayat tersebut?

"Sembelihan besar" ini adalah sebuah simbol yang melambangkan keagungan. "Sembelihan besar" menjadi alat penebusan Allah bagi anak lelaki Ibrahim.  Inilah merupakan kemurahan hati Allah. Kematian domba jantan itu telah menebus manusia dan memberikan hidup kepadanya.

Allah yang Menebus dan Menyediakan

Karena Allah yang menebus anak lelaki Ibrahim melalui sembelihan. Sembelihan yang Allah sediakan ialah sebuah domba jantan yang benar-benar murni dan tanpa cacat sedikitpun.

Al-Quran tidak bicara mengenai tempat penyembelihan tersebut.  Namun Kitab Taurat, Kejadian 22:3 menulis: Allah memerintahkan Ibrahim untuk pergi ke Gunung Moria. Ratusan tahun kemudian, Raja Sulaiman membangun Bait Allah di atas gunung yang sama.

Apa Tujuan Berkurban Pada Idul Adha?

Beberapa orang berpendapat tujuan berkurban supaya orang miskin dapat mengambil manfaat dengan makan dagingnya. Pendapat itu tidak salah.  Tetapi benarkah tujuan Allah atas kurban semata-mata hanya itu?

Tidak ada perintah dalam Al-Quran untuk berkurban saat Idul Adha. Satu-satunya alasan adalah meneladani ketaatan Nabi Ibrahim saat berkurban (QS 37:100-113). Dan saat itu dia tidak berada diantara orang-orang miskin.

Karena dia takut kepada Allah dan menyadari dosa-dosanya, maka dia memerlukan tebusan dari Allah. Al-Quran mencatat "Dan yang amat kuinginkan (Nabi Ibrahim) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat" (QS 26:82). Maka seharusnya tujuan seseorang berkurban adalah karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya serta memohon pengampunan dan penebusan-Nya.

Kurban Seperti Apakah Yang Layak Menggantikan Kita Dihadapan Allah?

Sapi Kurban"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. " (QS 22:37)

Kurban yang layak menggantikan kita dihadapan Allah haruslah lebih tinggi dari seekor hewan. Karena Allah hanya menerima ketaqwaan yang hanya dimiliki oleh manusia, maka kurban yang dapat diterima Allah hanyalah kurban seorang manusia.

Ciri-ciri "Kurban Besar"

Jelas, harus manusia suci, tanpa dosa, dan dikirim Allah. Beberapa orang berpendapat bahwa semua nabi tidak berdosa. Benarkah demikian?  Al-Quran mencatat: Adam dan Hawa berdosa (QS 7:23 ); Nuh berdosa (QS 11:47 ); Ibrahim berdosa (QS 26:82; 14:41 ); Musa berdosa (QS 28:15-16); Harun berdosa (QS 20:93); Daud berdosa (QS 38:24 ); Sulaiman berdosa (QS 38:32,35 ); Yunus berdosa (QS 21:87 ); Muhammad berdosa (QS 48:2; 47:19).

Bagaimana dengan Isa Al-Masih? Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang mengatakan Isa Al-Masih berdosa. Sebaliknya Al-Quran mencatat: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci."  Kata "suci" hanya ditujukan kepada Isa Al-Masih. Kedatangan-Nya disebut ajaib karena Dia satu-satunya yang dilahirkan oleh seorang perawan (QS 21:91; 66:12), juga memiliki Kebesaran  (QS 3:45; 4:171) dan disebut "Kalimat-Nya dan roh dari pada-Nya".

Isa Al-Masih "Kurban" yang Besar

Dengan demikian Isa Al-Masih adalah satu-satunya yang dapat menjadi kurban yang sebenarnya. Mengapa? Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dan dikirim Allah.

Seperti halnya kurban yang harus terlebih dahulu hidup lama sebelum siap dikurbankan, demikian juga Isa Al-Masih. Ia hidup cukup lama sebelum mengurbankan diri-Nya sebagai tebusan. Kematian-Nya di kayu salib telah membuat darah-Nya tertumpah. Dia adalah lambang tebusan Allah seperti yang dikatakan oleh Nabi Yahya, anak Zakaria: "Ini adalah Anak Domba Allah, yang akan dikurbankan untuk menebus dosa-dosa dunia." 

Kematian-Nya telah memberikan hidup kepada manusia.  Ia membangkitkan orang dari kematian sebelum Dia sendiri mati. Dia, yang tidak berdosa telah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa. Dan menjadi tebusan serta memberi hidup bagi orang berdosa.

Rahasia Berkah Idul Adha

Isa Al-Masih bukan hanya satu-satunya yang dapat menjadi kurban, tetapi Dia adalah "kurban besar" itu karena menggambarkan semua sifat kurban itu.

Dengan demikian kita dapat mengerti dalam pengertian yang lebih luas arti rahasia dari ayat "Kami tebusi anaknya itu dengan sembelihan yang besar (seekor domba)" (QS 37:107). Mengapa dia "besar?" Karena pengurbanan besarnya mencakup seluruh umat manusia.

Kematian domba jantan itu telah menebus dan memberikan hidup bagi anak lelaki Nabi Ibrahim 
Tujuan berkurban karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya, memohon pengampunan dan penebusan-Nya. Kurban yang dapat diterima Allah adalah kurban seorang manusia yang suci dan tanpa dosa.Isa Al-Masih satu-satunya yang dapat menjadi kurban 'kurban besar'. Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dikirim Allah dan kematian-Nya memberikan hidup kepada manusia sebagai tebusannya. Jelas, Isa Al-Masih mengorbankan diri-Nya bagi seluruh manusia termasuk Saudara.  Hari ini, dengan menerima Isa Al-Masih sebagai Juruselamat, Saudara dapat menikmati hidup yang kekal. 

Umat Kristen Beribadah Pada Hari Minggu

Apakah ada hari "terbaik" yang dapat digunakan untuk beribadah? Pertanyaan ini sering muncul ketika umat Muslim mempertanyakan, " Mengapa orang Kristen ke gereja hari Minggu? Di Injil tidak ada perintah untuk sembahyang pada hari Minggu! " Sesungguhnya setiap hari baik sebagai hari ibadah. Allah tidak pernah meninggikan satu hari tertentu di antara hari-hari lainnya. Sehingga, hari apa pun kita beribadah, tidak menjamin ibadah kita diterima atau ditolak Allah.

Al-Quran Mengkuduskan Hari Jumat

Namun sepertinya Islam mempunyai pandangan lain terhadap "hari" untuk beribadah. Satu ayat Al-Quran berkata, "Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" (Qs 62: 9).
Demikian juga Muhammad mempertegas ayat di atas melalui sebuah hadist yang ditulis sahabatnya. "Bahwa Rasulullah saw menyebut hari Jumat.  Beliau bersabda: Di hari itu ada saat-saat, di mana bila seorang Muslim salat dan meminta sesuatu tepat pada saat itu, pasti Allah memberinya" (Shahih Muslim No.1406).
Menurut Muhammad, seorang Muslim yang sholat hari Jumat, apapun yang dimintanya Allah pasti memberi. Bagaimana dengan sholat selain hari Jumat, apakah Allah tidak pasti memberi apa yang diminta?

Taurat Memberi Perintah Beribadah Hari Sabtu

Taurat memang memberi satu perintah untuk beribadah pada hari Sabat. "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat" (Taurat, Kitab Keluaran 20:8). Perintah ini hanya terdapat dalam Taurat, tidak pernah disebut dalam Injil. Selain itu, Isa Al-Masih tidak memberikan perintah untuk beribadah pada hari Sabat. Bahkan dalam keseharian-Nya, Isa Al-Masih tidak hanya mengajar hari Sabat/Sabtu. Dia mengajar "tiap-tiap hari" (Injil, Rasul Besar Matius 26:55). Kebiasaan Isa Al-Masih tidak terletak pada hari, tetapi pada tindakan-Nya, yaitu mengajar di Bait Allah. Dia tidak memberi pengajaran untuk meninggikan satu hari dari hari lainnya.

Isa Al-Masih Bangkit dari Kematian Hari Minggu

Lalu mengapa orang Kristen beribadah ke gereja pada hari Minggu dan bukan hari lainnya?
Orang Kristen beribadah pada hari Minggu akibat karya Isa Al-Masih. Ia menjadi kurban agung untuk menyelamatkan manusia dari dosa dengan mati di kayu salib. Pada hari ketiga, hari Minggu, Ia bangkit dari kematian (Injil, Rasul Lukas 24:46).  Umat Kristen sedunia merayakan kebangkitan-Nya setiap Hari Minggu!
Secara tidak langsung, sebenarnya umat Muslim sedunia juga merayakan kebangkitan Isa Al-Masih. Dalam bahasa Arab, Hari Minggu disebut "Hari Ahad," hari pertama dalam satu minggu. Mengapa Hari Minggu dirayakan sebagai "Hari Ahad"  di dunia Islam? Hari Minggu dipuji sebagai hari utama dalam minggu, karena pada hari itu Isa Al-Masih bangkit dari antara orang mati.
Jadi, alasan utama Orang Kristen beribadah hari minggu, karena hari Minggu adalah hari kebangkitan Isa Al-Masih. Mereka berkumpul untuk merayakannya. "Setelah hari Sabat lewat, pada hari pertama [ahad] minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu" (Injil, Rasul Besar Matius 28:1).

"Keselamatan" Jiwa Lebih Penting  dari "Hari"

Pada hari apa kita berdoa bukanlah hal terpenting. Yang terpenting adalah Allah hadir ketika orang-orang berkumpul bersama dan menyembah Dia. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Injil, Rasul Besar Matius 18:20). Sehingga, di manapun dan kapanpun kita beribadah, kehadiran Allah adalah jauh lebih penting dibanding hari apa kita beribadah.

Nyanyian Baru Dari Allah

Orang Kristen Suka Bernyanyi

Semua orang tahu bahwa orang Kristen suka bernyanyi. Setiap hari Minggu, orang Kristen beribadah di gereja dengan menaikkan lagu-lagu pujian bagi Allah. Bagi orang Kristen, nyanyian juga merupakan doa, pujian, dan penyembahan bagi Allah.
Bernyanyi bagi Allah telah dilakukan para nabi di zaman sebelum kedatangan Isa Al-Masih. Alkitab mencatat bagaimana Nabi Daud dan seluruh bangsa Israel menari-nari di hadapan Allah diiringi nyanyian dan berbagai macam alat musik. Hal itu mereka lakukan sebagai ucapan syukur karena Allah telah melepaskan mereka dari cengkeraman musuh-musuhnya. "Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap" (Kitab Nabi 2 Samuel 6:5).
Nyanyian Nabi Daud tidak hanya disampaikan pada saat dia senang. Ketika menyampaikan kesedihannya pada Allah, dia pun menyampaikannya dengan nyanyian. "Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya" (Kitab Nabi 2 Samuel 1:17).

Nyanyian Bagi Allah di Sorga

Nyanyian, pujian dan penyembahan tidak hanya diterima Allah dari mereka yang ada di dunia. Di sorga, pengikut Isa Al-Masih juga akan menyanyikan pujian dan penyembahan bagi Allah. Untuk selama-lamanya!  "Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru" (Injil, Kitab Wahyu 5:9), yaitu nyanyian baru Keselamatan yang telah mereka terima dari penebusan Isa Al-Masih.
Demikianlah Allah disenangkan oleh umat-Nya melalui setiap nyanyian, pujian, dan penyembahan yang dinaikkan dengan penuh ucapan syukur.

Natal Nyanyian Baru dari Allah

Bagi orang Kristen, Natal merupakan nyanyian baru dari Allah. Yaitu nyanyian baru keselamatan yang diberikan oleh Allah sendiri. Dan intisari nyanyian baru itu adalah tentang Isa Al-Masih sebagaimana yang tertulis dalam Injil. "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! " (Injil, Surat Filipi 2:6-11).
Inilah nyanyian baru yang diberikan Allah. Dimana Kalimat Allah – Isa Al-Masih – telah datang ke dunia. Dia menjadi manusia dan mati disalib, untuk memberi "nyanyian" keselamatan bagi setiap manusia, "supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:15).
Itulah sebabnya orang Kristen merayakan hari kelahiran Isa Al-Masih dengan nyanyian.

Mencium Batu Hitam (al-Hajr al-Aswad )

Batu Hitam, al-Hajr al-Aswad, adalah peninggalan pusaka orang Islam. Menurut tradisi, batu ini peninggalan sejak zaman Adam dan Hawa. Batu ini terletak di pojok Timur Ka'bah, yaitu bangunan batu tua berbentuk kubik di Mekah. Apakah Batu Hitam itu? Mengapa begitu penting bagi orang Islam? Jawabannya terdapat pada tradisi kuno.

Tradisi Islam dan Batu Hitam

Menurut tradisi Islam, Batu ini jatuh dari Surga. Tujuannya, menunjukkan kepada Adam dan Hawa tempat untuk membangun altar, yaitu altar pertama di bumi. Batu ini semula berwarna putih. Menurut Hadits: "(Batu) ini jatuh dari Firdaus lebih putih dari susu, namun dosa dari keturunan  Adam membuatnya menjadi hitam".  Tradisi Islam mengatakan, ketika air bah melanda dan Nuh serta keluarganya memasuki Bahtera, Batu ini hilang. Di kemudian hari, tradisi mengklaim bahwa Abraham menemukan Batu Hitam ini. Dia meminta Ismail, anak yang dinyatakan orang Islam sebagai leluhur Muhammad, untuk membangun Ka'bah. Ismail menempatkan Batu ini di pojok sebelah Timur Ka'bah. Batu Hitam bila bukan batu basal, sejenis batu akik, adalah merupakan kaca alamiah, yaitu batu bintang.

Batu Hitam Ziarah Umat Muslim

Batu Hitam yang ada sekarang sudah dipoles licin. Batu ini terdiri dari berbagai keping yang disatukan dalam bingkai perak. Ini karena pada sejarah Islam mula-mula, satu pemberontak balatentara Islam memecahkan Batu itu berkeping-keping. Batu ini sekarang menjadi bundar dan usang, sebab jutaan orang Islam telah menyentuh dan menciumnya selama berabad-abad. Selama menunaikan ibadah haji, para jemaah mengitari Ka'bah selama tujuh kali. Setiap kali mengitari, mereka harus mencoba mencium Batu Hitam. Mereka meniru apa yang dulu Muhammad (nabi mereka) lakukan. Karena besar sekali jumlah jemaah yang datang, banyak orang tidak bisa mencium Batu Hitam. Sebagai gantinya, mereka menjulurkan tangan dan menunjuk ke arah Batu Hitam ketika mereka mengitari Ka'bah. Ritual ini memegang peranan yang penting selama ibadah haji.

Mengapa Orang Islam Mencium Batu Hitam?

Mengapa Anda ingin mencium sebuah batu? Jawabannya berasal dari Muhammad. Orang Islam mengklaim bahwa Muhammad mencium Batu Hitam. Orang Islam mencium Batu ini untuk meniru apa yang nabi mereka lakukan. Mengapa Muhammad mencium Batu Hitam? Ketika Muhammad datang ke Mekah, dia menyuruh agar berhala-berhala dikeluarkan dari Ka'bah sebelum dia memasukinya. Sayangnya dia sendiri tidak konsisten. Dia terlihat mencium Batu Hitam, yang merupakan kebiasaan penyembah berhala. Di kemudian hari, Umar bin al-Khattab, rekan Muhammad terusik dengan apa yang dilihatnya. "Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan, 'Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Allah mencium kau, aku tidak akan menciummu" (Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor 680).

Apakah Mencium Batu Itu Pemujaan Berhala?

Islam dengan ketat melarang pemujaan berhala, dan melihat Batu Hitam tidak lebih dari sekedar simbol. Mungkinkah ada orang-orang yang berpikir, Muhammad tertangkap basah menyembah berhala!? 
Kebanyakan orang Islam tidak menyembah Batu Hitam. Namun beberapa orang melihat Batu Hitam sebagai berhala yang akan muncul di Hari Penghakiman, dengan mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara. Ini berbahaya! Sebab telah membuat Batu Hitam sebagai berhala daripada memuja sang Pencipta Alam Semesta!

'Hitam' Melambangkan Apa?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, orang Islam merasa batu ini menjadi hitam karena dosa. Apakah ini berarti dosa dari orang-orang yang melewati Batu Hitam ditransfer kepadanya? Beberapa orang merasa demikian. Jelas orang Islam, demikian juga semua manusia, mencari jalan untuk menghapus dosa mereka.
Perhatikan percakapan di surga berikut, di antara makhluk surgawi untuk melihat bagaimana Injil memperlakukan dosa: "Salah seorang dari pemimpin-pemimpin [makhluk surgawi] itu bertanya kepada saya, 'Orang-orang yang berjubah putih ini, siapa mereka dan dari mana mereka datang?' 'Saya tidak tahu, Tuan. Tuan sendiri yang tahu,' jawab saya. Maka dia berkata kepada saya, 'Inilah orang-orang yang sudah dengan selamat melalui masa penganiayaan yang hebat. Mereka sudah mencuci jubah mereka dan membuatnya menjadi putih dengan darah Anak Domba itu." (Injil, Wahyu Yohanes, 7:13 – 14). Karena cucuran darah Isa Al-Masih, jubah (hidup) mereka menjadi putih, bukan hitam.

Kunci untuk Menghilangkan Dosa

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah "Anak Domba". Dia yang menanggung dosa dunia di atas kayu salib. Hanya Dia, bukan Batu Hitam, yang dapat membersihkan hati kita dari dosa. Allah, yang datang menjelma sebagai manusia kepada kita, mati sehingga kita dapat dibersihkan dari noda dosa. Walaupun kita dulu hitam (karena dosa), sekarang kita dapat menjadi seputih salju. Ini akan terjadi jika kita mengijinkan Isa Al-Masih mencuci noda dosa kita dengan darah-Nya, yaitu darah yang dicucurkan-Nya bagi Anda dan saya.

Adakah Naik Haji Menjamin Keselamatan Sorgawi?

"Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya" (Qs. 2:158)
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Hal ini wajib dilakukan bagi mereka yang mampu. Seseorang yang sudah menunaikan ibadah haji disebut sebagai "Haji/Hajjah". Bagi seorang Muslim, sebutan "Haji/Hajjah" mempunyai arti tersendiri.  Itulah sebabnya tidak sedikit umat Muslim setiap tahunnya berlomba-lomba menunaikan ibadah haji. Mereka sangat menghargai ritual ibadah naik haji.

Ritual Saat Menunaikan Ibadah Haji

Dalam menunaikan ibadah haji, seseorang diwajibkan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Selain itu juga mencium batu hitam yang disebut Al-Hajr al-Aswad.  Mereka juga diharuskan berlari bolak-balik antara bukit As-Safa dan Al-Marwa. Sebagai ritual, mereka juga harus melemparkan tujuh batu pada tiga tiang (jamarat).  Tiap tiang diyakini merupakan Setan.

Ritual Haji Dan Agama Pra-Islam

Ritual mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bukanlah ritual pertama yang dilakukan oleh umat Muslim. Ritual ini sudah dilakukan oleh penyembah berhala di Arab, jauh sebelum Muhammad mendirikan agama Islam. Saat itu, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali bertujuan untuk menyembah Hubal dan Shams (dewa bulan dan matahari). Sedangkan mencium batu hitam merupakan acuan kepada Hubal. Mereka meyakini, para Dewa dan Dewi mempunyai batu khusus yang akan menggantikan perwujudan diri mereka. Sementara melempar batu, juga merupakan ritual yang berhubungan dengan dewa-dewa palsu. Sedangkan bukit-bukit kecil yang disebut bukit As-Safa dan Al-Marwa, dipercaya merupakan tempat dewa Isaf dan Naila. Sering orang bertanya, mengapa pengikut haji harus berlari bolak-balik di antara bukit itu.  Bukankah ini juga dilakukan para penyembah Isaf dan Naila di zaman Jahiliah? Menurut pakar Islam, Yusuf Ali, "Keseluruhan ziarah penyembah berhala dirohanikan dalam Islam" (Yusuf Ali, catatan kaki no 223, hal. 80, terjemahan Al-Quran dalam Bahasa Inggris).

Apakah Naik Haji Dapat Menyelamatkan?

Bila dilihat dari sisi lain, naik haji merupakan ritual ziarah ke makam Muhammad. Pertanyaannya, dapatkah orang yang sudah mati dapat memberikan keselamatan? Jelas ritual menunaikan ibadah haji tidak dapat memberi jaminan keselamatan bagi seseorang. Walaupun tidak sedikit haji/hajjah merasa dirinya sudah layak untuk mendapatkan keselamatan.

Keselamatan Menurut Injil Terpisah dari Ritual

Seseorang yang merindukan keselamatan hanya perlu memintanya kepada Allah, bukan melalui ritual-ritual. Keselamatan yang diterima umat percaya berdasar pada iman akan Isa Al-Masih. Keselamatan itu merupakan anugerah (pemberian cuma-cuma) dari Allah, bukan upah.  Anugerah adalah "kemurahan Allah dan kasih-Nya kepada manusia bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya " (Injil, Surat Titus 3:4-5).

Keselamatan Bukti Kasih Allah

Isa Al-Masih mengajarkan berita yang sempurna. Ia mati tersalib untuk menggantikan dan membayar hukuman dosa manusia. Allah melakukan ini karena Dia mengasihi manusia. Dia ingin manusia menikmati kekekalan bersama dengan Dia di sorga!

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya [Kalimat-Nya] yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16).

Islam Dan Kristen Bagaimana Dosa Diampuni

Al-Quran dan Alkitab mempunyai pandangan berbeda tentang dosa. Al-Quran membedakan dosa dalam dua hal. Dosa kecil dan dosa besar.
Berzinah, membunuh, dan perbuatan keji lainnya dikategori dosa besar. "Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar" (Qs 6:151) Alkitab tidak mengenal dosa kecil ataupun besar. Alkitab menjelaskan dosa adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum Allah, "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (Injil, Surat 1 Yohanes 3:4).

Masuknya Dosa dalam Dunia

Sebagaimana kita ketahui makhluk hidup tidak berasal dari jenis yang berbeda. Anjing tidak berasal dari kucing. Mangga tidak berasal dari pohon rambutan. Hukum ini juga berlaku bagi manusia. Adam, bapa umat manusia telah kehilangan kebenaran karena ketidak-taatannya. Dia dikeluarkan dari Taman Firdaus yang kudus ke tanah terkutuk, karena dosanya. Di tempat ini Adam beranak cucu. Keturunannya tidak lagi memahami kekudusan Taman yang semula ditempati Adam.
Kitab Suci Allah menyatakan, "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang [Adam], dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Injil, Surat Roma 5:12). Anak cucu Adam dilahirkan dalam hukuman. Dosa yang diwariskan Adam membuat tidak seorangpun benar di hadapan Allah. Sehingga, pada hakekatnya manusia dilahirkan dalam dosa, dan lingkungan menunjang pertumbuhan dosa tersebut. Benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi Daud, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku" (Kitab Mazmur 51:7).

Amal Ibadah Dapatkah Mengampuni Dosa Saya?

Bagaimana dosa saya dapat diampuni? Ini adalah pertanyaan penting bagi setiap umat beragama! Karena Allah tidak mentolerir dosa masuk dalam sorga-Nya.
Menurut Al-Quran, dosa dapat ditebus melalui tiga hal, yaitu: Sedekah, puasa, dan sholat. "Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Qs 2:271). Sayangnya, ayat tersebut bertentangan dengan hadist yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, "Bukan amal seseorang yang memasukannya ke Surga atau melepaskannya dari neraka, termasuk juga aku, tetapi ialah semata-mata rahmat Allah belaka" (HSM 2412-2414).

Isa Al-Masih Menyediakan Pengampunan

Semua manusia hidup di bawah penghukuman. Tidak seorangpun yang dapat menebus nyawanya sendiri. Pertobatan tidak dapat menghilangkan dosa masa lalu.
Cara lain untuk mendapat pengampunan adalah melalui penebusan. Inilah yang dilakukan Kalimat Allah - Isa Al-Masih - ketika Dia datang ke dunia dalam wujud manusia. Dikatakan, "Dan sama seperti Musa meninggikan ular dipadang gurun demikian juga Anak Manusia [Isa Al-Masih] harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:14-15). Agar dapat datang ke hadirat Allah, manusia membutuhkan kekudusan. Tanpa kekudusan tidak seorangpun dapat melihat Allah. Amal baik adalah satu kewajiban yang harus dilakukan. Namun tidak dapat menghasilkan pengampunan untuk dosa masa lalu. Juga tidak menjadikan kita kudus. Kekudusan diberikan kepada orang beriman yang sudah dilahirkan oleh Roh Allah. Al-Masih berkata: "Jika seorang tidak dilahirkan dengan air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:5-6).

Menganalisa Muhammad Dengan Isa Al-Masih

Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam sangat mencintai nabinya. Kenyataan penghargaan dan pujian mereka sungguh diakui umat lain di dunia.
Saya, seorang non-Muslim, dibingungkan oleh penghargaan ini. Mengapa? Saya tidak meremehkan kepercayaan orang Islam. Namun, menurut hemat saya, ada baiknya kita menganalisa Muhammad dan Isa Al-Masih. Ijinkanlah kami menjelaskan maksud kami.

Muhammad Manusia Mulia Bagi Muslim

Penganut agama Islam mengatakan, "Muhammad adalah manusia mulia, hatinya sudah disucikan ketika masih anak-anak."  Yang lain berkata, "Muhammad adalah manusia paling mulia."  Lagi, "Allah menjaga Muhammad dari hal-hal yang tidak sesuai. Hatinya sudah dibersihkan dan disucikan ketika masih anak-anak." Mereka percaya pada hadits Rasulullah SAW ini: "Allah memerintahkan Jibril membawa Muhammad  Mula-mula Jibril membelah dada Rasulullah SAW, setelah itu dikeluarkanlah hati beliau dan dicuci dengan air surga" (HR.Bukhari).  

Al-Quran dan Hadits Mengemukakan Nabi Islam Berdosa

Namun ada perkataan Muhammad dalam hadits lain, "Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi"  (Sahih Bukhari Vol. 5 Book 59 No. 715). Menurut hadist ini, Muhammad berdosa berdosa.
Di sisi lain umat Muslim juga setuju bahwa Muhammad, walaupun nabi, adalah manusia biasa yang berdosa.  Hal ini diakui Al-Quran.  "Maka ketahuliah ya (Muhammad)  mohonlah ampunan (kepada-Nya) bagi dosamu dan bagi dosa-dosa orang Mu'min" (Qs 47:19).  Lagi Qs 48:2 menekankan hal yang sama, "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu (Muhammad) terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. "Dua ayat ini menjelaskan bahwa Muhammad telah berdosa ketika dewasa dan akan terus berdosa. Sekali lagi, umat Islam memaklumi bahwa Muhammad pasti berdosa, karena ia manusia biasa.

Hanya Allah yang Mahasuci

Orang Islam dan Kristen sependapat dalam banyak dogma.  Diantaranya, percaya pada kesucian Allah. Berikut beberapa ayat suci tentang kesucian-Nya dari Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi:  "Siapakah yang seperti Engkau  mulia karena kekudusan-Mu   Tidak ada yang kudus seperti TUHAN 
Akulah TUHAN, Yang Mahakudus, Allahmu." (Kitab Keluaran 15:11, I Samuel 2:2, Yesaya 43:15).

Ajaran Islam dan Kristen Tentang Kesucian Isa Al-Masih

Al-Quran dengan jelas mengatakan setiap manusia berdosa. Umat Islam dan Kristen setuju akan hal ini. Ayat lain dalam Al-Quran menjelaskan ada satu Pribadi yang tidak berdosa.  "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini memberimu seorang anak laki-laki yang suci" (Qs 19:19).  Menurut ayat ini Isa Al-Masih, yaitu Kalimat Allah, diakui sebagai satu-satunya Pribadi yang suci. Al-Bukari menekankan hal yang sama, "Setiap anak yang lahir dijamah iblis sehingga menangis kecuali Isa, anak Maryam" (Bukhari-Anbiya, Bab 44, Tafsir sura3, b.2). Kita dapat melihat banyak ayat suci dalam Injil yang mengatakan hal sama: "Dia [Isa Al-Masih] tidak mengenal dosa  seperti Dia [Isa Al-Masih] yang adalah suci  .di dalam Dia [Isa Al-Masih] tidak ada dosa  Ia [Isa Al-Masih] suci; pada-Nya tidak terdapat kesalahan atau dosa apa pun "  (II Korintus 5:21, I Yohanes 3:3, I Yohanes 3:5, Ibrani 7:26). Mungkinkah Isa Al-Masih disebut, "seorang terkemuka di dunia dan di akhirat " (Qs 3:45) karena – selain Allah – Ia satu-satunya Pribadi yang tidak pernah berdosa?

Nabi Islam dan Isa, Siapakah Paling Suci?

Jawaban pertanyaan di atas ini sangat jelas! Bila demikian adanya, bukankah perlu bagi umat Islam untuk lebih memperhatikan siapakah Isa Al-Masih?  Bukankah kita perlu mempelajari lebih dalam mengenai pribadi-Nya? Isa Al-Masih adalah Kalimat Allah yang kekal adanya, yang berasal dari sorga.  Ia datang ke dunia, hidup dalam kesucian dan rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib.  Ia  tersalib untuk membuat jalan bagi kita untuk ditebus dari dosa dan dijadikan anak Allah. Injil Allah mempersilakan saudara menerima hadiah keselamatan yang disediakan-Nya, Juruselamat Dunia.
 

Kenajisan Hati, Perhatikan Atau Abaikan?


Umat Muslim dalam melakukan sholat lima waktu dan sholat Jumat. Dalam hati saya bertanya, apakah mereka benar-benar melakukan sholat dengan hati suci? Mungkinkah hanya badan yang sholat? Apakah orang-orang yang datang ke mesjid, dalam hati mereka tidak tersimpan kenajisan?

Allah Melihat Hati

Setiap umat beragama percaya bahwa Allah Maha melihat. Dia Maha tahu hingga isi hati seseorang. Allah tidak hanya melihat perbuatan umat-Nya [bersembahyang].  Tapi Allah cenderung melihat ke dalam hati. "sesungguhnya Allah Maha mengetahui isi hati (mu)" (Qs 5:7).
Hati yang kotor dan najis, dapat membawa manusia masuk dalam dosa yang sangat dibenci Allah.  Dosa ini tidak dapat diatasi hanya dengan bersembahyang. Sebab ada kalanya sikap hati kita pun saat sembayang tidak sepenuhnya bersih.

Pengertian Dan Dampak Dosa

Dosa adalah keadaan hati dan perbuatan yang tidak taat dan melanggar hukum Allah. Kitab suci Injil berkata, "Sebab upah dosa ialah maut" (Injil, Surat Roma 6:23). Hal yang sama juga tertulis dalam Al-Quran, "barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" (Qs 2:81).
Maka dapat disimpulkan, dosa bukan hanya pelanggaran-pelanggaran yang kita lakukan. Tetapi hati yang menyimpan kebencian, atau sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah, lebih menajiskan.

Bahaya Hati Yang Najis

Dari penglihatan dan pendengaran yang kotor dapat menimbulkan dosa perzinahan. Beberapa contoh dosa yang bermula dari hati seperti: pembunuhan berencana, pelecehan seksual, atau hati seorang wanita yang tidak ikhlas menjalankan syariat Islam. Ini  membuktikan betapa bahayanya kejahatan yang timbul dari hati, sebab dapat melahirkan perbuatan yang sangat dibenci Allah. Menjadi murtad terhadap hukum-hukum Allah. Dengan kata lain, dosa dalam hati tidak dapat diabaikan!

Anugerah Keselamatan Dari Allah

Allah memberikan karunia keselamatan kepada umat-Nya.  Karena Allah mengetahui tidak ada satupun usaha manusia, termasuk bersembahyang yang sanggup menyelamatkan mereka.  Hanya beriman pada-Nya dengan segenap hati yang dapat menyelamatkan.
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Injil, Surat Efesus 2:8). Kalimat Allah yang dikenal dengan nama Isa Al-Masih, datang ke dunia untuk melepaskan manusia dari ikatan belenggu dosa. Termasuk dosa dan kenajisan dalam hati. Sehingga, seseorang yang telah menerima karunia keselamatan dari-Nya dapat terhindar dari kenajisan.

Muhammad Berdosa

Muhammad adalah orang yang membawa agama Islam. Umat Muslim percaya bahwa Muhammad adalah nabi terakhir di antara dua puluh lima nabi yang harus mereka imani.

Semua Manusia Termasuk Muhammad Berdosa

Tentu tidak ada manusia yang tidak berdosa. Semua manusia yang pernah ada di muka bumi ini pasti pernah melakukan dosa. Baik itu dosa kecil, besar, disengaja, maupun tidak. Demikian halnya Muhammad. Dengan jelas Al-Quran mencatat bahwa Dia juga berdosa: "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu (Muhammad) terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus" (Qs 48:2)

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu (Muhammad) dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan " (Qs 47:19)

Makam Muhammad di Madinah juga merupakan satu bukti bahwa dia benar berdosa. Sebab, bila Dia tidak berdosa, jelas Allah akan langsung mengangkatnya ke sorga.

Pertolongan Tuhan Untuk Mengampuni Dosa

Setiap orang berdosa membutuhkan kasih karunia Allah untuk mengampuni dosa-dosanya. Sepertinya hal ini juga berlaku pada Muhammad. Doa shalawat yang selalu dipanjatkan pengikutnya memperkuat pernyataan tersebut. "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" (Qs 33:56)

Demikianlah, setiap manusia, termasuk Muhammad, membutuhkan pertolongan agar dapat diampuni dosa-dosanya. Setiap usaha telah dilakukan manusia agar dosa-dosanya dapat terampuni, namun semuanya sia-sia. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Injil, Surat Efesus 2:8-9)

Pembawa Syafaat Yang Suci, Nabi yang Tidak Berdosa

Al-Quran dan Injil telah menjelaskan bahwa setiap manusia, termasuk Muhammad, berdosa. Al-Quran juga menjelaskan bagaimana Muhammad membutuhkan dosa syafaat dari umatnya.Walaupun Al-Quran mengatakan bahwa setiap manusia berdosa, pada ayat lain, Al-Quran juga menjelaskan ada satu Pribadi yang tidak berdosa, "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci" (Qs 19:19).

Isa Al-Masih, yaitu Kalimat Allah, satu-satunya Pribadi yang suci. Dan, kata "suci" itu hanya ditujukan bagi-Nya. Karena Isa Al-Masih adalah suci, Dia tidak berdosa. Sehingga Dia tidak memerlukan pertolongan dari Allah untuk mengampuni dosa-dosa-Nya. Juga Dia tidak memerlukan doa syafaat dari pengikut-Nya. Sebaliknya, justru Dia yang membawa syafaat bagi pengikut-Nya. Mendoakan mereka, agar mereka memperoleh hidup kekal dan keselamatan (Injil, Rasul Besar Yohanes 17:1-26). Isa Al-Masih sendirilah yang memberikan keselamatan sorgawi itu (Injil, Rasul Besar Yohanes 5:24, 5:28 14:1-3, 14:6; Lukas 23:43).

Isa Al-Masih adalah Jalan menuju pada Kemuliaan Allah. Dengan menerima Dia sebagai Juruselamat, maka setiap manusia juga nabi dapat kembali pada Kemuliaan Allah. Dia datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa mereka.

Huss Dan Jerome

Benih Injil telah ditanam di Bohemia pada abad kesembilan. Alkitab telah diterjemahkan, dan perbaktian umum telah dilaksanakan dalam bahasa penduduk setempat. Akan tetapi, sementara kuasa paus bertambah, demikianlah firman Allah semakin tesembunyi. Paus Gregory VII, yang telah merendahkan harga diri raja‑raja, tidak kurang niatnya untuk memperbudak orang‑orang. Dan untuk itu ia mengeluarkan keputusan melarang perbaktian umum diadakan di dalam bahasa Bohemia. Paus mengatakan bahwa "adalah menyenangkan kepada Yang Maha Kuasa kalau perbaktian kepada‑Nya dilakukan dalam satu bahasa yang tidak diketahui, dan bahwa banyak kejahatan dan bida'ah telah timbul karena tidak mematuhi peraturan ini." Dengan demikian Roma telah mendekritkan bahwa terang firman Allah harus dipadamkan, dan orang‑orang harus ditutup dalam kegelapan. Tetapi Surga telah menyediakan agen‑agen lain untuk memelihara gereja.  Banyak orang‑orang Waldenses yang diusir oleh penganiayaan dari rumah‑rumah mereka di Perancis dan Italia datang ke Bohemia.  Meskipun mereka tidak berani mengajar secara terang‑terangan, mereka dengan bersemangat bekerja secara sembunyi‑sembunyi. Dengan demikian iman yang benar itu telah dipelihara dari abad ke abad.
      
Sebelum zamannya Huss, ada orang‑orang di Bohemia yang bangkit mempersalahkan dengan terang‑terangan kebejatan di dalam gereja dan kemerosotan moral orang‑orang. Usaha mereka itu membangkitkan perhatian dikalangan paus. Timbullah kekuatiran hirarki, dan penganiayaanpun dilakukan ke atas murid‑murid Injil itu. Mereka diusir ke hutan‑hutan dan ke gunung‑gunung dimana mereka mengadakan perbaktian. Mereka diburu oleh tentera dan banyak yang dibunuh. Setelah beberapa lama dikeluarkanlah dekrit bahwa semua yang berpaling dari perbaktian Romaisme harus dibakar. Akan tetapi sementara orang‑orang Kristen menyerahkan hidup mereka, mereka mengharapkan kepada kemenangan jauh dihadapan mereka. Salah seorang dari mereka yang "mengajarkan bahwa keselamatan hanya didapat oleh iman dalam Juru Selamat yang telah disalibkan itu," mengatakan waktu mau meninggal, "Kemarahan musuh‑musuh kebenaran sekarang leluasa melawan kita, tetapi itu tidak akan berlangsung selama‑lamanya. Akan ada seseorang yang bangkit dari orang‑orang biasa, tanpa pedang dan kekuasaan; dan melawan dia mereka tidak akan bisa sewenang‑wenang."Wylie, b. 3, ch. 1. Zamannya Luther masih jauh di depan. Tetapi telah bangkit seseorang, yang kesaksiannya melawan Roma akan menggemparkan bangsa‑bangsa.
      
John Huss dilahirkan sebagai orang yang hina, dan secara dini telah menjadi anak yatim karena ditinggal mati ayahnya. Ibunya yang saleh, yang menganggap pendidikan dan takut akan Allah sebagai harta milik paling berharga, berusaha membuat ini sebagai warisan bagi anaknya. Huss belajar di sekolah propinsi, kemudian melanjutkan ke universitas di Praha yang diterima sebagai mahasiswa amal, tenpa membayar. Ia disertai ibunya dalam perjalanan ke Praha. Sebagai seorang janda miskin ia tak mempunyai sesuatu harta dunia yang bisa diberikan kepada anaknya. Tetapi sementara mereka semakin dekat ke kota besar itu, ibunya berlutut di samping pemuda yang tidak berayah ini, dan memohon berkat Bapa Surgawi baginya. Ibu tidak begitu menyadari bagaimana doanya itu akan dijawab.
      
Di universitas itu Huss segera menonjol karena ketekunannya yang tak mengenal lelah dan kemajuannya yang pesat, sementara kehidupannya yang tidak bercacad dan kelemah lembutannya, dan kelakuannya yang baik memberikan kepadanya penghargaan universal. Ia adalah seorang penganut Gereja Roma yang sungguh‑sungguh, dan seorang yang sungguh‑sungguh mencari berkat‑berkat rohani yang dijanjikan akan diberi. Pada suatu perayaan jubileum, ia mengadakan pengakuan dosa, membayarkan uangnya yang terakhir, dan mengikuti arak‑arakan agar mudah‑mudahan mendapat bagian pengampunan yang dijanjikan. Setelah ia menyelesaikan pendidikan tinggi, ia memasuki keimamatan, dan dengan segera memperoleh kedudukan yang tinggi. Ia segera bertugas di istana raja. Ia juga diangkat menjadi profesor dan kemudian menjadi rektor universitas dimana ia dulu memperoleh pendidikannya. Dalam beberapa tahun saja, mahasiswa amal yang hina ini telah menjadi kebanggaan negaranya, dan namanya telah terkenal di seluruh Eropa.
      
Tetapi Huss memulai pekerjaan pembaharuan dalam bidang lain. Beberapa tahun setelah ia menjadi imam, ia ditunjuk sebagai pengkhotbah di kapel Betlehem. Pendiri kapel ini telah melakukan pengkhotbahan Alkitab dalam bahasa masyarakat setempat, sebagai sesuatu yang sangat penting. Walaupun Roma menentang tindakan seperti itu, belum sepenuhnya dihentikan di Bohemia. Tetapi mereka sangat buta mengenai Alkitab, dan kejahatan merajalela disemua lapisan masyarakat. Kejahatan ini sangat dicela oleh Huss, dan menghimbau untuk memperhatikan firman Allah dan menjalankan prinsip‑prinsip kebenaran dan kesucian yang ia telah ajarkan berulang‑ulang.
      
Seorang warga Praha yang bernama Jerome, yang kemudian begitu dekat berhubungan dengan Huss, telah membawa tulisan‑tulisan Wycliffe pada waktu ia kembali dari Inggeris. Ratu Inggeris, yang telah bertobat kepada pengajaran Wycliffe, adalah putri Bohemia. Dan melalui pengaruhnya juga pekerjaan Reformasi itu  telah disebarkan secara luas di negara asalnya. Tulisan‑tulisan itu dipelajari oleh Huss dengan minat yang besar. Ia percaya pengarang tulisan‑tulisan itu adalah seorang Kristen yang sungguh‑sungguh, sehingga ia cenderung mengakui pembaharuan‑pembaharuan yang dilancarkannya. Huss sebenarnya telah memasuki suatu jalan yang membawanya jauh dari Roma, walaupun ia tidak menyadarinya.
      
Pada waktu itu ada dua orang orang asing yang baru tiba di Praha dari Inggeris. Orang‑orang itu adalah orang‑orang terpelajar, yang telah menerima terang. Mereka datang untuk menyebarkan terang di negeri itu. Mereka memulai dengan serangan terbuka terhadap supremasi paus, dan oleh karena itu mereka segera dibungkam oleh para penguasa. Tetapi oleh karena mereka tidak mau membatalkan niatnya, maka mereka terpaksa mencari cara lain. Oleh karena mereka adalah artis‑artis yang sekali gus pengkhotbah, mereka mulai menggunakan kemahiran mereka. Di suatu tempat yang terbuka untuk umum mereka melukis dua gambar. Yang satu menggambarkan Kristus memasuki Yerusalem, "lemah lembut dan mengenderai seekor keledai" (Matius 1: 5), dan diikuti oleh murid‑murid‑Nya dengan pakaian yang sudah kumal dan dengan kaki telanjang. Lukisan yang satu lagi menggambarkan prosesi kepausanpaus berhias diri dengan jubah yang mewah dan dengan mahkota tiga tingkat, duduk di atas kuda yang dihiasi dengan agungnya, yang didahului oleh peniup sangkakala dan diikuti oleh para kardinal dan pejabat‑pejabat tinggi agama dalam suatu kemegahan.
      
Ini merupakan suatu khotbah yang menarik perhatian semua golongan. Orang ramai berkerumun melihat lukisan itu. Tak seorangpun yang gagal membaca makna moral lukisan itu, bahkan banyak yang terkesan secara mendalam oleh perbedaan menyolok antara kelemah‑lembutan dan kerendahan hati Kritus, Tuhan itu,  dengan kesombongan dan keangkuhan paus, yang mengatakan dirinya hamba Kristus. Terjadilah keributan di Praha. Dan demi keselamatan mereka, kedua orang asing itu merasa perlu untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi pelajaran yang mereka telah ajarkan tidak dilupakan. Lukisan itu memberikan kesan mendalam dalam pikiran Huss, sehingga menuntun dia untuk mempelajari Alkitab dan tulisan‑tulisan Wycliffe lebih teliti. Meskipun pada waktu itu ia belum siap untuk menerima semua pembaharuan yang dicetuskan oleh Wycliffe, ia melihat semakin jelas tabiat kepausan. Dan dengan semangat yang lebih besar ia mencela kesombongan, ambisi dan kebejatan moral para hirarki.
      
Dari Bohemia terang itu meluas ke Jerman, karena gangguan yang terjadi di Universitas Praha menyebabkan ratusan mahasiswa Jerman ditarik dari sana. Banyak dari antara mereka telah menerima pengetahuan pendahuluan Alkitab dari Huss. Dan pada waktu mereka kembali, mereka menyiarkan Injil itu di negeri mereka.
      
Berita mengenai pekerjaan di Praha telah sampai ke Roma. Dan Huss dipanggil untuk menghadap paus di Roma. Memenuhi panggilan seperti itu berarti Huss membuka diri kepada kematian. Raja dan ratu Bohemia, universitas, kaum bangsawan dan pejabat‑pejabat pemerintah bersatu untuk mengajukan suatu permohonan kepada paus, agar Huss diizinkan tetap tinggal di Praha, dan memberikan jawaban di Roma melalui wakil atau utusan. Gantinya memenuhi permintaan itu paus melanjutkan mengadili dan menghukum Huss dan menyatakan Praha sebagai kota terlarang (tidak boleh mengadakan upacara kudussakramen). Pada masa itu hukuman seperti ini, bila diumumkan, akan menimbulkan kegemparan dan ketakutan. Upacara yang diadakan bersamaan dengan pengumuman disesuaikan benar untuk menimbulkan teror kepada seseorang yang memandang paus sebagai wakil Allah sendiri, yang memegang anak kunci surga dan neraka, dan mempunyai kuasa untuk mengadakan pengadilan duniawi maupun rohani. Dipercayi bahwa pintu surga telah tertutup bagi daerah yang dinyatakan terlarang, sehingga orang‑orang mati di daerah yang terlarang seperti itu tidak akan masuk ke tempat yang berbahagia sampai paus dengan senang hati mencabut larangan itu. Sebagai tanda bencana yang mengerikan ini, semua upacara agama dihentikan. Gereja‑gereja ditutup. Upacara pernikahan dilaksanakan di halaman gereja saja. Orang‑orang mati dilarang dikuburkan di tempat pemakaman yang telah ditahbiskan. Mereka dikuburkan di parit‑parit atau di ladang‑ladang tanpa upacara penguburan. Dengan demikian, oleh hal‑hal yang menarik kepada imaginasi orang‑orang, Roma berusaha menguasai hati nurani manusia.
      
Kota Praha dipenuhi kegemparan dan kekacauan. Sebagian besar menuduh Huss sebagai penyebab dari semua malapetaka ini dan menuntut agar ia menyerah saja kepada tindakan balas dendam Roma. Untuk menenangkan gejolak tersebut, untuk sementara Pembaharu itu mengundurkan diri ke kampung halamannya. Ia menulis kepada teman‑temannya di Praha,  "Jika saya mengundurkan diri dari tengah‑tengah Anda sekalian, adalah mengikuti ajaran dan teladan Yesus Kristus, untuk memberikan kesempatan kepada orang‑orang yang sudah sakit pikiran mengambil bagi dirinya hukuman yang kekal, dan agar supaya jangan menjadi penyebab kepicikan dan penganiayaan bagi orang‑orang saleh. Saya juga mengasingkan diri dengan pengertian agar imam‑imam yang tidak saleh itu boleh terus melarang pengkhotbahan firman Allah lebih lama di tengah‑tengah kamu. Tetapi saya tidak membebaskan kamu untuk menyangkal kebenaran ilahi, untuk mana, dengan pertolongan ilahi, saya bersedia mati."Bonnechose, "The Reformers before the Reformation," Huss tidak berhenti beusaha. Ia menjelajahi negeri‑negeri disekitarnya, berkhotbah kepada orang‑orang yang berminat mendengar. Dengan demikian usaha‑usaha yang dimaksudkan paus untuk menekan penyebaran Injil itu, justru menyebabkan lebih luas menyebar. "Karena kami tidak dapat berbuat apa‑apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran" (2 Kor. 13:8).  "Sampai sejauh ini dalam karirnya, pikiran Huss tampaknya dipenuhi oleh pertentangan yang sengit.  Meskipun gereja menyerang dia bagaikan petir,  tetapi ia tidak menyangkal kekuasan gereja itu. Baginya Gereja Roma masih tetap isteri Kristus, dan paus adalah utusan dan wakil Allah. Yang ditentang oleh Huss ialah penyalah‑gunaan kekuasaan, bukan prinsipnya.  Hal ini membawa pertentangan besar antara keyakinan pengertiannya dengan tuntutan hati nuraninya. Jikalau kekuasaan itu benar dan mutlak, sebagaimana yang dipercayainya demikian, bagaimana mungkin sampai ia merasa terpaksa untuk menolaknya? Ia melihat, bahwa menuruti kuasa itu berarti dosa. Tetapi mengapa penurutan kepada gereja yang mutlak seperti itu menuntun kepada masalah? Inilah masalah yang tidak bisa dipecahkannya. Inilah keragu‑raguan yang menyiksanya setiap saat. Penyesuaian yang paling mungkin, yang bisa dilakukannya, ialah bahwa hal itu terjadi lagi,  sebagaimana pernah terjadi pada zaman Juru Selamat. Imam‑imam gereja telah menjadi jahat dan menggunakan wewenangnya yang legal untuk sesuatu hasil yang tidak legal. Ini menuntunnya untuk mengambil satu pedoman bagi dirinya, dan mengkhotbahkan kepada orang‑orang lain, bahwa peribahasa ajaran Alkitab yang disampaikan melalui pengertian, itulah yang mengendalikan hati nurani. Dengan perkataan lain, bahwa Allah berbicara di dalam Alkitab, dan bukan gereja berbicara melalui imam‑imam. Inilah penuntun yang mutlak."  
      
Bilamana pada suatu waktu kegemparan di Praha telah reda, maka Huss kembali kekapelnya di Betlehem, untuk meneruskan mengkhotbahkan firman Allah dengan lebih berani dan lebih bersemangat. Musuh‑musuhnya terus aktif dan kuat, tetapi ratu dan beberapa orang bangsawan adalah teman‑temannya, dan banyak orang memihak kepadanya. Dengan membandingkan pengajarannya yang murni dan yang mengangkat jiwa serta kehidupannya yang kudus,  dengan dogma‑dogma yang menurunkan martabat yang diajarkan oleh pengikut‑pengikut Gereja Roma dan keserakahan dan kerakusan yang dilakukan mereka, banyaklah yang merasa suatu kehormatan kalau berpihak kepada Huss.
      
Sampai sejauh ini Huss masih sendirian dalam pekerjaannya. Tetapi sekarang Jerome, yang pada waktu di Inggeris telah menerima pengajaran Wycliffe, menggabungkan diri kepada pekerjaan pembaharuan (reformasi). Sejak waktu itu keduanya bersatu didalam hidup, dan dalam kematianpun mereka tidak mau dipisahkan. Jerome mempunyai kecerdasan dan kepintaran yang menonjol, kebolehan‑kebolehan yang membuat seseorang mudah populer. Tetapi dalam kualitas yang membentuk kekuatan tabiat yang sebenarnya, Huss lebih unggul. Pertimbangannya yang tenang dapat menjadi pengekang kepada semangat Jerome yang suka meledak‑ledak, yang dengan kerendahan hati, menerima kata‑kata dan nasihatnya. Dengan usaha mereka yang bersatu, pekerjaan pembaharuan itu lebih cepat berkembang.
      
Allah membiarkan terang yang besar bersinar ke dalam pikiran orang‑orang piliha ini, menyatakan kepada mereka kesalahan‑kesalahan Roma yang banyak. Tetapi mereka tidak menerima semua terang yang harus diberikan kepada dunia ini. Melalui hamba‑hambanya ini Allah telah menuntun orang‑orang keluar dari kegelapan Romanisme. Tetapi banyak dan besarlah rintangan yang mereka hadapi. Dan Tuhan memimpin mereka terus langkah demi langkah didalam pekerjaannya sebagaimana yang  sanggup mereka pikul. Mereka tidak dipersiapkan untuk menerima semua terang itu sekali gus. Seperti kemuliaan sinar matahari pada waktu tengah hari kepada orang‑orang yang sudah lama tinggal di dalam kegelapan, jika diberikan dengan serta‑merta, akan menyebabkan mereka meninggalkan kebenaran itu. Itulah sebabnya, Allah menyatakannya sedikit demi sedikit kepada para pemimpin, sebagaimana kesanggupan orang‑orang menerimanya. Dari abad ke abad, pekerja‑pekerja yang setia susul‑menyusul menuntun orang‑orang lebih jauh kedalam jalan pembaharuan.
      
Perpecahan dalam gereja masih terus berlangsung. Sekarang tiga orang paus bersaing untuk mendapatkan supremasi, dan persaingan mereka itu memenuhi dunia Kekristenan dengan kejahatan dan keributan. Tidak puas dengan saling mengutuk, mereka juga menggunakan senjata. Masing‑masing membeli senjata dan membentuk pasukan tentera. Sudah barang tentu mereka memerlukan uang untuk ini. Dan untuk memperoleh uang mereka menjual hadiah‑hadiah, jabatan dan berkat‑berkat gereja (Lihat Lampiran). Para imam juga meniru atasan mereka, memperjual‑belikan pangkat gereja dan berperang menjatuhkan martabat lawan dan memperkuat kekuasaan sendiri. Dengan keberanian yang semakin bertambah setiap hari, Huss mencela kekejian yang dilakukan dengan kedok agama. Dan orang‑orang menuduh para pemimpin Roma sebagai penyebab penderitaan yang menimpa dunia Kekristenan.
      
Sekali lagi kota Praha nampaknya berada di tepi jurang pertikaian berdarah. Seperti pada zaman‑zaman dahulu, hamba‑hamba Allah dituduh sebagai "yang mencelakakan Israel" ( 1 Raja‑raja 18:17).  Kota itu sekali lagi dinyatakan sebagai kota terlarang, dan Huss mengundurkan diri ke kampung halamannya. Berakhirlah sudah kesaksian setia yang keluar dari kapelnya di Betlehem. Ia akan berbicara dari podium yang lebih luas kepada semua dunia Kekristenan, sebelum menyerahkan nyawanya sebagai saksi kebenaran.
      
Untuk mengatasi kejahatan‑kejahatan yang mengganggu Eropa, maka diadakanlah konsili umum di Constance. Konsili itu diadakan atas kemauan kaisar Sigismund, oleh salah seorang paus yang bersaing, Yohanes XIII. Sebenarnya Paus Yohanes tidak menyukai diadakannya konsili itu oleh karena tabiat pribadinya dan kebijaksanaannya tidak tahan pemeriksaan, baik oleh pejabat‑pejabat tinggi gereja, yang kurang bermoral sebagaimana juga para anggota gereja pada masa itu. Namun, ia tidak berani melawan keinginan kaisar Sigismund. (lihat Lampiran).
      
Tujuan utama yang hendak dicapai konsili itu ialah untuk memulihkan perpecahan didalam gereja, dan untuk membasmi bida'ah atau aliran yang menyimpang. Oleh karena itu kedua orang yang anti paus telah dipanggil menghadap serta propagandis utama pemikiran‑pemikiran baru John Huss. Kedua orang anti paus tidak mau menghadap oleh karena alasan keselamatan, tetapi mengirim utusannya untuk mewakili. Paus Yohanes, sementara berpura‑pura sebagai seorang yang mengadakan konsili itu, ia datang dengan keragu‑raguan, menduga bahwa kaisar berencan secara diam‑diam untuk menggulingkannya. Ia takut diminta pertanggungan jawab atas kejahatan‑kejahatan yang merendahkan mahkota kepausan, serta kejahatan‑kejahatan yang telah dilakuka untuk mendapatkannya. Namun begitu ia memasuki kota Constance dengan suatu kebesaran dan keagungan disertai para pendeta golongan atas dan diikuti oleh iring‑iringan panjang pegawai tinggi istana. Semua pendeta dan para pejabat kota bersama kerumunan massa keluar menyambut dan mengelu‑elukan dia. Di atas kepalanya terbentang penutup singgasana keemasan yang diusung oleh empat orang pejabat tinggi. Roti Suci dibawa dihadapannya, dan kemegahan pakaian para kardinal dan para bangsawan membuat suatu pameran yang mengagumkan.
      
Sementara itu seorang lain yang mengadakan perjalanan juga sedang mendekati kota Constance. Huss sadar akan bahaya yang mengancam dia. Ia berpisah dengan teman‑temannya, seolah‑olah ia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Dan ia menjalani perjalanannya dengan perasaan seolah‑olah berjalan menuju tiang gantungan. Walaupun ia telah mendapatkan surat pas jalan dari raja Bohemia dan kaisar Sigismund untuk perjalanannya ini, ia telah mengatur sedemikian rupa oleh karena kemungkinan kematiannya.
      
Dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada teman‑temannya di Praha ia berkata, "Saudara‑saudaraku Saya pergi dengan surat pas jalan dari raja, untuk menemui musuh‑musuh saya yang banyak. Saya menaruh kepercayaan penuh pada kuasa Allah, pada Juru Selamatku;  saya percaya bahwa Ia akan mendengarkan doamu yang sungguh‑sungguh, agar Dia memasukkan kebijaksanaan‑Nya dan akal budi‑Nya kedalam mulutku, agar supaya saya boleh bertahan terhadap mereka. Dan agar Dia memberikan Roh Suci‑Nya untuk menguatkan aku didalam kebenaran‑Nya, agar supaya saya dapat menghadapi dengan berani segala pencobaan dan penjara, dan jikalau perlu, kematian yang kejam. Yesus Kristus menderita untuk semua yang dikasihi‑Nya, dan oleh sebab itu bukankah kita patut bergembira karena Ia telah memberikan teladan‑Nya bagi kita, agar supaya kita tabah menanggung segala sesuatu demi keselamatan kita? Ia adalah Allah, dan kita adalah makhluk‑Nya. Ia adalah Tuhan, dan kita adalah hamba‑hamba‑Nya. Ia adalah Tuhan dunia ini, dan kita adalah manusia berdosa yang hina dan kejinamun Dia telah menderita untuk kita!  Kalau begitu, mengapa kita juga tidak menderita, terutama kalau penderitaan itu bagi kita adalah penyucian? Oleh sebab itu, Saudara‑saudara yang kekasih, jikalau kematianku untuk kemuliaan‑Nya, berdoalah supaya kematian itu cepat datang, dan agar Dia menyanggupkan aku menanggung semua malapetaka dengan keteguhan hati. Akan tetapi jika adalah lebih baik aku kembali ke tengah‑tengah kamu, baiklah kita berdoa kepada Allah agar aku boleh kembali tanpa noda,yaitu, agar aku jangan menyembunyikan satupun kebenaran Injil, agar aku dapat meninggalkan suatu teladan bagi saudara‑saudaraku untuk diikuti.  Oleh sebab itu, mungkin Saudara‑saudara tidak akan memandang mukaku lagi di Praha.  Tetapi jika menjadi kehendak Allah yang maha kuasa berkenan mengembalikan aku kepada kamu, marilah kita  maju terus dengan hati yang semakin teguh dalam pengetahuan dan kecintaan kepada hukum‑Nya." 
      
Dalam surat lain, kepada seorang imam yang telah menjadi murid Injil, Huss berbicara dengan kerendahan hati yang mendalam mengenai kesalahan‑kesalahannya sendiri, menuduh dirinya sendiri, "telah menikmati kesenangan dalam memakai pakaian yang mewah, dan telah menghabiskan waktu dalam pekerjaan yang sia‑sia."  Lalu ia menambahkan nasihat yang menyentuh hati ini: "Biarlah kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa‑jiwa menempati pikiranmu, dan bukan kedudukan dan harta kekayaan. Berhati‑hatilah, jangan menghiasi rumahmu melebihi jiwamu. Dan diatas segalanya, berikanlah perhatianmu kepada pembangunan kerohanian. Berlakulah saleh dan rendah hati kepada orang miskin, dan jangan menghabiskan hartamu dalam pesta pora. Jikalau engkau tidak mengubah kehidupanmu dan berhenti dari segala yang berlebihan, saya khawatir bahwa engkau akan dihukum seperti saya ini. Engkau mengetahui ajaranku, karena engkau telah menerima petunjukku sejak dari masa kanak‑kanakmu. Oleh sebab itu tidak ada gunanya bagiku menulis kepadamu lebih jauh. Tetapi saya meminta kepadamu, oleh rahmat Tuhan kita, agar tidak  meniruku dalam kesombongan yang sia‑sia, kedalam mana engkau saksikan aku jatuh."  Pada sampul suratnya itu ia menambahkan, "Saya menghimbaumu, Saudaraku, jangan membuka surat ini sampai engkau sudah mendapat kepastian bahwa saya sudah mati."
      
Dalam perjalanannya, Huss melihat dimana‑mana tanda‑tanda tersebarnya ajaran‑ajarannya, dan dukungan demi perkembangan ajaran itu. Orang‑orang berduyun‑duyun menemuinya, dan di beberapa kota pejabat‑pejabat menyambutnya di jalan‑jalan mereka.
      
Setelah tiba di Constance, Huss diberikan kekebasan penuh. Kepada surat pas jalan yang diberikan oleh kaisar telah ditambahkan jaminan perlindungan pribadi oleh paus.  Tetapi pelanggaran kepada deklarasi yang sungguh‑sungguh dan diulang‑ulang ini, menyebabkan Pembaharu itu ditangkap dalam waktu singkat, atas perintah paus dan para kardinal, dan menjebloskannya kedalam penjara bawah tanah yang menjijikkan. Kemudian dipindahkan ke kastil yang kokoh di seberang Rhine sebagai tawanan. Tidak berapa lama kemudian, paus, oleh karena pengkhianatannya telah dijebloskan kedalam penjara yang sama. Dihadapan konsili, ia telah terbukti melakukan kejahatan yang paling mendasar, disamping pembunuhan, memperjual‑belikan kedudukan gereja dan perzinahan,  "dosa‑dosa yang tidak pantas disebut namanya."  Jadi konsili mengeluarkan pernyataan; dan demikianlah akhirnya mahkota dicopot dari padanya, dan ia dijebloskan kedalam penjara. Orang‑orang yang anti paus juga dicopot dan paus barupun dipilih.
    
Meskipun paus sendiri telah melakukan kesalahan yang lebih besar daripada yang pernah dituduhkan Huss kepada para imam, dan untuk itu ia menuntut diadakan reformasi, namun konsili yang sama yang menurunkan martabat paus, juga meneruskan menumpas Pembaharu. Dengan dipenjarakannya Huss telah menimbulkan kemarahan di Bohemia. Kaum bangsawan yang berkuasa mengajukan protes keras kepada konsili menentang perbuatan biadab itu.  Kaisar, yang tidak suka mengizinkan pelanggaran ini kepada surat pas jalan yang diberikannya, menentang tindakan yang dilakukan kepada Huss. Tetapi musuh‑musuh Pembaharu begitu ganas dan bersikeras. Mereka memohon perhatian raja mengenai prasangkanya, ketakutannya dan semangatnya terhadap gereja. Mereka mengajukan argumentasi yang panjang lebar untuk membuktikan bahwa "iman tidak boleh dipelihara dengan bida'ah atau orang‑orang yang dicurigai menganut kepercayaan yang menyimpang, walaupun mereka dilengkapi dengan surat‑surat pas jalan dari kaisar atau raja‑raja.", "History of the Councils of Constance,"  Maka dengan demikian merekapun berhasil.
      
Dilemahkan oleh penyakit dan penahanannya didalam penjara bawah tanah yang lembab dengan udara yang bau busuk, telah menyebabkan ia menderita demam yang nyaris mengakhiri hidupnya. Akhirnya Huss dihadapkan kedepan konsili. Dibebani dengan rantai‑rantai, ia berdiri dihadapan kaisar yang mulia dan yang mempunyai iman yang baik, yang telah berjanji melindunginya. Selama pemeriksaannya yang memakan waktu lama, dengan teguh ia mempertahankan kebenaran, dan di hadapan perkumpulan para pejabat tinggi gereja dan negara ia mengeluarkan protes yang sungguh‑sungguh dan jujur menentang kebejatan para hirarki.

Rahmat Allah mendukung dia. Selama minggu‑minggu yang telah berlalu sebelum keputusan terakhirnya, damai Surga memenuhi jiwanya.  "Saya menulis surat ini," katanya kepada seorang temannya,  "di dalam ruang penjara saya, dan dengan tangan saya yang terbelenggu, menanti pelaksanaan hukuman mati saya besok. Bilamana, dengan pertolongan Yesus Kristus, kita kan bertemu lagi dikedamaian kehidupan yang akan datang, engkau akan tahu bagaimana Allah yang berbelas kasihan itu telah ditunjukkan‑Nya sendiri kepadaku, dan betapa besar pertolongan‑Nya kepadaku dalam pencobaan dan pengadilanku." 

Didalam kegelapan penjara ia melihat kemenangan iman yang benar. Dalam mimpi ia kembali ke kapel di Praha dimana ia mengkhotbahkan Injil, ia melihat paus dan para uskupnya menghapus gambar Kristus yang telah dilukisnya di dinding kapel itu. "Penglihatan ini menyusahkan hatinya, tetapi hari berikutnya ia melihat banyak pelukis melukis kembali gambar itu dalam jumlah yang lebih besar dan dengan warna yang lebih terang. Segera setelah tugas mereka selesai, para pelukis itu, yang telah dikelilingi oleh banyak sekali orang, berseru, 'Sekarang biarlah para paus dan para uskup datang. Mereka tidak akan pernah lagi bisa menghapus gambar itu!' "  Pembaharu itu berkata pada waktu ia menghubungkan mimpinya, "Saya merasa pasti, bahwa gambar Kristus tidak akan pernah dihapus. Mereka ingin memusnahkannya, tetapi akan dilukis baru di dalam semua hati oleh para pengkhotbah yang jauh lebih baik dari saya." 

Untuk terakhir kalinya, Huss dibawa kembali kehadapan konsili. Mahkamah sekali ini adalah mahkamah yang brilian dan luasdihadiri oleh kaisar, para pangeran kerajaan, para deputi kerajaan, para kardinal, uskup‑uskup dan imam‑imam; dan orang banyak yang datang sebagai penonton kejadian hari itu. Dari seluruh dunia Kekristenan telah berkumpul untuk menyaksikan korban besar yang pertama ini yang telah lama memperjuangkan kebebasan hati nurani.
      
Setelah dipanggil untuk mendengarkan keputusan terakhir, Huss menyatakan penolakannya untuk menyangkal keyakinannya, dan sambil menujukan pandangannya yang tajam kepada kaisar yang kata‑kata janjinya telah dilanggar dengan tidak mengenal malu, ia mengatakan, "Saya memutuskan atas kemauan saya sendiri, untuk hadir dihadapan konsili ini dibawah perlindungan umum dan jaminan keelamatan kaisar yang hadir di sini."  Wajah kaisar Sigismund menjdi merah padam pada waktu semua  mata orang yang hadir di mahkamah itu memandang kepadanya.
      
Keputusan telah diumumkan, upacara penurunan pangkatpun dimulai. Para uskup mengganti pakaiannya dan memakaikan pakaian keimamatan. Dan pada waktu ia mengenakan pakaian keimamatan itu, ia berkata, "Tuhan kita Yesus Kristus telah dibungkus dengan kain putih sebagai penghinaan, pada waktu Herodes memerintahkan menghadapkannya kepada Pilatus."Bonnechose, Vol. II, p. 86. Pada waktu sekali lagi ia diminta untuk menarik kembali pernyataannya, ia menjawab sambil berbalik kepada orang banyak, "Lalu dengan muka apa saya harus memandang Surga?  Bagaimana saya melihat orang banyak itu kepada siapa saya sudah khotbahkan Injil yang sejati? Tidak. Saya lebih menghargai keselamatan mereka daripada tubuh saya yang hina ini, yang sekarang telah diputuskan untuk dibunuh."  Pakaiannya ditanggalkan satu persatu; setiap uskup mengatakan kata‑kata kutukan sementara mereka melakukan tugasnya dalam upacara itu. Akhirnya, "mereka mengenakan diatas kepalanya sebuah topi atau semacam topi yang dipakai oleh uskup dalam upacara, yang berbentuk piramida dan terbuat dari kertas. Dikertas itu dilukiskan gambar‑gambar Setan dengan kata‑kata, 'Kepala Bida'ah,' dituliskan dengan menyolok dibagian depan. 'Sangat senang' kata Huss, 'akan saya  pakaikah mahkota yang memalukan ini demi Engkau, O, Yesus, yang telah mengenakan mahkota duri untukku?'"
      
Setelah itu, "para pejabat tinggi gereja berkata, 'Sekarang kami serahkan jiwamu kepada Setan.'  'Dan aku,' kata John Huss, dengan menengadah kelangit, 'menyerahkan rohku kedalam tangan‑Mu, O, Tuhan Yesus, oleh karena Engkau telah menebus aku.'"

Sekarang ia diserahkan kepada pejabat‑pejabat pemerintah, dan dibawa ketempat pelaksanaan hukuman mati. Suatu arak‑arakan besar mengikuti dia, ratusan orang bersenjata, para imam dan para uskup dengan berpakaian yang mahal‑mahal, dan penduduk kota Constance. Pada waktu ia diikat ketiang gantungan, dan semua sudah siap untuk menyalakan api, orang martir (mati syahid) ini sekali lagi dihimbau untuk menyelamatkan dirinya dengan meninggalkan kesalahannya. "Kesalahan apa," kata Huss, "yang saya harus tinggalkan? Saya tahu saya tidak bersalah. Saya memohon Allah untuk menyaksikan bahwa semua yang saya telah tuliskan dan khotbahkan adalah demi penyelamatan jiwa‑jiwa dari dosa dan kebinasaan. Dan oleh sebab itu, dengan sangat senang saya akan pastikan dengan darahku, kebenaran yang telah kutuliskan dan kukhotbahkan."  Ketika api menyala disekelilingnya, ia mulai menyanyi, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku," dan demikianlah seterusnya ia menyanyi sampai suaranya terdiam untuk selamanya.
      
Musuh‑musuhnya sendiripun merasa terpukul melihat keperkasaannya. Seorang pengikut paus yang bersemangat, menerangkan kematian Huss dan Jerome, yang mati segera sesudah itu, demikian:  "Keduanya mereka menetapkan hati pada waktu saat‑saat terakhir datang menjelang. Mereka telah bersedia menghadapi api itu seperti mereka menghadapi pesta pernikahan. Mereka tidak mengeluh kesakitan. Ketika nyala api menjulang, mereka menyanyikan nyanyian puji‑pujian. Dan kehebatan api tidak dapat menghentikan nyanyian mereka."
      
Setelah tubuh Huss seluruhnya hangus terbakar, maka abunya bersama tanah tempat abu itu, dikumpulkan dan dibuangkan ke Sungai Rhine, yang kemudian dihanyutkan arus ke laut. Para penganiaya membayangkan bahwa mereka telah berhasil membasmi kebenaran yang telah dikhotbahkan Huss. Tidak terbayang bagi mereka bahwa abu jenazah yang dihanyutkan arus ke laut akan menjadi benih yang tersebar keseluruh negeri di dunia ini. Dan bahwa negeri yang belum diketahui itu akan memberikan buah‑buah yang limpah sebagai saksi kebenaran.
      
Kata‑kata yang diucapkan di gedung konsili di Constance telah membahana, dan gaungnya akan terdengar sampai ke masa‑masa yang akan datang. Huss tidak ada lagi, tetapi kebenaran yang diperjuangkannya dengan kematiannya  tidak akan pernah binasa. Teladan iman dan ketetapan hatinya akan mendorong banyak orang untuk berdiri teguh demi kebenaran, dalam menghadapai siksaan dan kematian. Kematiannya telah membeberkan kepada seluruh dunia  tentang kekejaman pengkhianatan Roma. Musuh‑musuh kebenaran, meskipun mereka tidak menyadarinya, telah memajukan kebenaran itu, yang dengan sia‑sia mereka berusaha memusnahkannya.
      
Satu lagi tiang gantungan pembakaran akan didirikan di kota Constance. Darah saksi yang lain harus menyaksikan kebenaran itu. Jerome, yang mengucapkan selamat jalan kepada Huss waktu ia pergi untuk menghadiri konsili, telah mendorong semangat dan menguatkan pendirian Huss. Jerome menyatakan akan datang menolongnya jika Huss harus menghadapi bahaya. Setelah mendengar penahanan Pembaharu itu, murid yang setia ini segera menyiapkan diri memenuhi janjinya. Tanpa surat pas jalan ia berangkat ke Constance dengan seorang teman. Setelah tiba di Constance ia merasa pasti bahwa ia hanya membuka dirinya kepada bahaya tanpa adanya kemungkinan bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan Huss. Ia melarikan diri dari kota itu, tetapi tertangkap dalam perjalanan pulang. Ia dibawa kembali ke Constance dengan dirantai dan dengan pengawalan sepasukan tentera. Pada penampilan pertama di konsili, dalam usahanya menjawab tuduhan‑tuduhan yang dilontarkan kepadanya, telah disambut dengan teriakan,  "Bakar dia! bakar dia!"  Ia dijebloskankan kedalam penjara bawah tanah, dirantai dalam posisi yang menyebabkannya sangat menderita, dan diberi makan roti dan air saja. Setelah beberapa bulan kekejaman yang dilakukan kepada Jerome, ia menderita penyakit yang mengancam nyawanya. Musuh‑musuhnya takut kalau‑kalau ia melarikan diri, memperlakukannya tidak sekejam sebelumnya, meskipun ia tetap meringkuk dalam penjara selama setahun.
      
Kematian Huss tidak berakibat seperti yang diharapkan oleh pengikut‑pengikut kepausan. Pelanggaran terhadap surat pas jalan telah membangkitkan badai kemarahan. Dan sebagai cara yang lebih aman, konsili memutuskan untuk memaksa Jerome, kalau mungkin, untuk menarik mundur pernyataannya, sebagai ganti membakarnya. Ia dibawa menghadap mahkamah, dan memberikan pilihan untuk menarik kembali pernyataannya, atau mati di tiang gantungan pembakaran. Kematian pada permulaan penahanannya adalah merupakan belas kasihan jika dibandingkan dengan penderitaan hebat yang telah dialaminya. Tetapi sekarang, setelah dilemahkan oleh penyakit, oleh kekakuan penjaranya, dan siksaan  kecemasan dan ketegangan, dipisahkan dari teman‑temannya, dan terpukul oleh kematian Huss, maka keteguhan hati Jeromepun luluhlah sudah. Dan ia setuju untuk menyerah kepada konsili. Ia berjanji kepada dirinya untuk mematuhi imam Katolik, dan menerima tindakan konsili dalam melarang ajaran‑ajaran Wycliffe dan Huss, namun kecuali  "kecuali kebenaran kudus," yang mereka telah ajarkan. 
      
Dengan cara ini Jerome berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya dan melepaskan diri dari kebinasannya. Akan tetapi didalam keterasingannya di penjara bawah tanah ia melihat lebih jelas apa yang telah dilakukannya. Ia memikirkan keberanian dan kesetiaan Huss, bertolak belakang dengan penyangkalannya akan kebenaran itu. Ia memikirkan Tuhannya yang kepada‑Nya ia telah berjanji untuk melayani, dan demi kepentingannya sendiri bersedia menanggung kematian di kayu salib. Sebelum menarik kembali pernyataannya ia memperoleh penghiburan atas semua penderitaannya, dan kepastian memperoleh kasih Allah. Tetapi sekarang, penyesalan yang dalam dan keragu‑raguan menyiksa jiwanya. Ia tahu bahwa masih banyak penarikan pernyataan yang harus dilakukannya sebelum ia berdamai dengan Roma. Jalan yang sekarang ia lalui bisa berakhir hanya dengan kemurtadan penuh. Akhirnya ia membuat keputusan: ia tidak akan menyangkal Tuhannya hanya untuk kelepasan sementara dari penderitaan.
      
Kemudian ia dibawa kembali menghadap konsili.Penyerahannya belum memuaskan para hakimnya. Kehausan mereka akan darah yang dirangsang oleh kematian Huss, mendesak mereka untuk mendapatkan korban baru. Hanya dengan penyerahan tanpa syarat kebenaran itu Jerome dapat mempertahankan hidupnya. Tetapi ia telah menetapkan untuk berpegang pada imannya, dan mengikuti jejak saudara martirnya Huss ke pembakaran.
      
Ia membatalkan penarikan pernyataannya yang sebelumnya. Dan sebagai seorang yang sedang sekarat, dengan sungguh‑sungguh ia memohon kesempatan untuk memberikan pembelaannya. Takut akan pengaruh kata‑katanya, para pejabat tinggi gereja bertahan agar ia hanya menguatkan atau menolak kebenaran tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Jerome memprotes perlakuan yang begitu kejam dan tidak adil. "Kamu telah menutup saya di penjara yang mengerikan selama tiga ratus empat puluh hari," katanya, "di tengah‑tengah kekotoran, di dalam ruangan yang pengap dan bau busuk, dan dimana sangat kekurangan segala sesuatu. Dan sekarang kamu membawa saya menghadap dan mendengarkan musuh‑musuhku , tetapi kamu tidak mau mendengarkan aku. Jikalau kamu benar‑benar orang bijaksana dan terang dunia ini, hati‑hatilah jangan berdosa kepada keadilan. Bagiku, aku hanya seorang manusia yang lemah. Hidupku tidak begitu penting. Dan bilamana saya menghimbau kamu agar jangan mengucapkan satupun kalimat yang tidak adil, saya bukan berkata‑kata untuk diriku, tetapi untuk kamu."
      
Akhirnya permohonannya disetujui. Dihadapan hakimnya Jerome berlutut dan berdoa agar Roh ilahi dapat kiranya menguasai pikirannya dan kata‑katanya, agar ia dapat berbicara dengan tidak bertentangan dengan kebenaran atau yang tidak menghormati Tuhannya.  Baginya pada hari itu telah digenapi janji Allah kepada murid‑murid yang pertama itu:  "Karena Aku kamu akan digiring kemuka penguasa‑penguasa dan raja‑raja. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang kamu harus katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata‑kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang berkata‑kata di dalam kamu "  (Matius 10:18‑20.).
      
Kata‑kata Jerome menimbulkan keheranan dan kekaguman juga kepada musuh‑musuhnya. Karena sepanjang tahun ia telah dikurung di dalam penjara bawah tanah, ia tidak bisa membaca bahkan melihat. Ia menanggung penderitaan fisik yang berat dan kecemasan mental. Namun argumen‑argumennya disampaikan dengan begitu jelas dan dengan kuasa seolah‑olah ia tidak pernah mengalami gangguan kesempatan belajar. Ia menunjukkan kepada para pendengarnya barisan panjang orang‑orang kudus yang telah dihukum oleh hakim‑hakim yang tidak adil. Hampir di setiap generasi terdapat orang‑orang yang, sementara berusaha mengangkat derajat orang‑orang pada zamannya, telah dipersalahkan dan dibuang, tetapi yang dikemudian hari ternyata berhak mendapat kehormatan. Kristus sendiri telah dihukum sebagai penjahat oleh pengadilan yang tidak adil.
      
Pada waktu Jerome menarik kembali pernyataannya, ia setuju dengan keputusan pengadilan yang menghukukm mati Huss. Tetapi sekarang ia menyatakan pertobatannya, dan bersaksi mengenai ketidak‑bersalahan dan kesalehan orang yang mati syahid itu. "Saya mengenal dia sejak masa kanak‑kanaknya," katanya. "Ia adalah orang yang paling baik, jujur dan saleh. Ia telah dihukum walaupun ia tidak bersalah . . . . Saya juga, saya sudah sedia untuk mati. Saya tidak akan mundur menghadapi siksaan yang telah disediakan bagiku oleh musuh‑musuhku dan para saksi palsu. Pada suatu hari kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan tipuan mereka di hadirat Allah yang maha agung, yang tak seorangpun bisa menipu."  

Dalam penyesalan dirinya  sendiri karena  menyangkal kebenaran, Jerome  selanjutnya berkata,  "Dari semua dosa yang aku lakukan sejak masa mudaku, tidak ada yang lebih berat membebani pikiranku dan yang menyebabkanku begitu sangat menyesal, daripada apa yang kulakukan di tempat celaka ini, pada waktu aku menyetujui keputusan yang tidak adil yang dijatuhkan kepada Wycliffe, dan kepada syuhada saleh John Huss, tuanku dan sahabatku. Ya! Aku mengakuinya dari dalam hatiku, dan menyatakan dengan kengerian bahwa aku merasa malu dan takut pada waktu saya mempersalahkan ajaran‑ajaran mereka oleh karena takut mati. Oleh sebab itu, aku memohon Allah Mahakuasa sudi mengampuni aku dari dosa‑dosaku, terutama yang satu ini, yang paling mengerikan dari semua."  Sambil menunjuk kepada hakimnya, ia berkata dengan tegas, "Kamu telah mempersalahkan Wycliffe dan John Huss, bukan karena menggoncangkan doktrin gereja, tetapi hanya oleh karena mengutuk kejahatan yang dilakukan para pendeta kesombongan dan keangkuhan mereka, dan semua kebusukan para pejabat tinggi gereja dan para imam. Hal‑hal yang mereka sudah kuatkan, yang tidak dapat dibantah lagi, aku juga berpikir dan mengatakan demikian, seperti mereka."
      
Kata‑katanya disela. Para pejabat tinggi gereja gemetar dalam kemarahannya, dan berteriak, "Bukti‑bukti apa lagi yang diperlukan? Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri seorang bida'ah yang keras kepala!"
      
Tanpa terpengaruh oleh keributan itu, Jerome menyerukan, "Apa? Apakah kamu menyangka aku takut mati? Kamu telah mengurung aku dipenjara bawah tanah yang mengerikan setahun penuh, yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. Kamu telah memperlakukan saya lebih buruk dari orang‑orang Turki, Yahudi atau orang kafir. Dan dagingku sebenarnya telah membusuk dan terlepas dari tulang‑tulangku selagi aku masih hidup. Namun begitu, saya tidak mengeluh, karena ratap tangis akan menyakitkan hati dan jiwa. Tetapi aku tak dapat mengutarakan keherananku atas kebiadaban besar seperti itu terhadap seorang Kristen." 
      
Sekali lagi topan amarah menolak, dan Jerome dilarikan kepenjara. Namun ada beberapa orang di dalam mahkamah yang  sangat terkesan dengan kata‑kata Jerome, dan yang ingin untuk meyelamatkan nyawanya. Ia dikunjungi oleh para pejabat tinggi gereja dan mendorongnya untuk menyerahkan dirinya kepada konsili. Hari depan yang paling gemilang telah ditawarkan kepadanya sebagai imbalannya jika ia meninggalkan perlawanannya kepada Roma. Tetapi seperti Tuhannya pada waktu ditawarkan kemuliaan dunia, Jerome tetap teguh menolak.
  • Butikanlah kepadaku dari Alkitab bahwa aku ini salah," katanya, "dan aku akan meninggalkannya untuk selama‑lamanya.
  • Alkitab!" seru seorang yang mencobainya, "apakah semuanya harus diadili oleh Alkitab? Siapa yang bisa mengertinya sampai gereja menafsirkannya?
  • Apakah tradisi manusia lebih layak untuk dipercaya daripada Injil Juru Selamat kita?" jawab Jerome.  " Paulus tidak menasihatkan orang‑orang yang dikirimi surat untuk mendengarkan tradisi manusia, tetapi katanya, 'Selidiklah Alkitab.
  • Bida'ah!" teriak seseorang, "Saya menyesal telah membujuk engkau begitu lama. Saya melihat bahwa engkau telah didorong oleh Setan.      
Tidak lama kemudian keputusan hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Ia dituntun ke tempat yang sama dimana Huss menyerahkan nyawanya. Sepanjang jalan ia menyanyi, wajahnya bercahaya penuh sukacita dan kedamaian. Pandangannya tertuju kepada Kristus, dan baginya kematian telah kehilangan kengeriannya. Pada waktu petugas, yang hampir menyalakan onggokan kayu api, berjalan dibelakangnya, syuhada itu berkata,   "Majulah dengan berani, taruhlah api itu diwajahku. Kalau saya takut saya tidak akan berada di sini."
      
Kata‑katanya yang terakhir yang diucapkan sementara nyala api membesar disekelilingnya adalah sebuah doa,  "Tuhan Yang Mahakuasa," katanya, "kasihanilah aku, dan ampunilah dosa‑dosaku, karena Engkau tahu, aku selalu mencintai kebenaran‑Mu."  Suaranya lenyap, tetapi bibirnya tetap komat‑kamit berdoa. Setelah api membakar seluruh tubuhnya, abu syuhada itu bersama tanah tempatnya, dikumpulkan dan, seperti abu jenazah Huss, dibuangkan ke Sungai Rhine.
      
Demikianlah binasa para pembawa terang Allah yang setia. Tetapi terang kebenaran yang disiarkan mereka, terang teladan keperkasaan mereka tidak bisa dipadamkan. Bagaikan manusia yang paling kuat berusaha menahan peredaran matahari agar matahari fajar tidak menyingsing, tetapi bagaimanapun juga,  fajar tetap terbit bagi dunia.  Pelaksanaan hukuman mati Huss telah menyulut api kemarahan dan kengerian di Bohemia. Hal itu dirasakan segenap bangsa itu, bahwa ia telah menjadi mangsa kebencian para imam dan pengkhianatan kaisar. Ia dinyatakan sebagai seorang guru kebenaran yang setia, dan konsili yang memutuskan hukuman mati itu dituduh bersalah sebagai pembunuh. Ajaran‑ajaran Huss sekarang menarik perhatian orang lebih banyak daripada sebelumnya.  Atas perintah kepausan tulisan‑tulisan Wycliffe telah dibakar. Tetapi yang lolos dari pemusnahan sekarang dibawa keluar dari tempat persembunyiannya dan dipelajari bersama Alkitab, atau bagian‑bagiannya yang bisa didapat. Dan banyaklah yang dituntun menerima iman yang diperbaharui itu.
Para pembunuh Huss tidak tinggal diam dan menyaksikan kemenangan‑kemenangan Huss. Paus dan kaisar bersatu untuk menumpas gerakan itu, dan tentera Sigismund menyerang Bohemia.
Tetapi bangkit seorang penyelamat. Ziska, yang segera sesudah perang mulai telah menjadi buta sama sekali, namun adalah seorang jenderal yang paling mahir pada zamannya, menjadi pemimpin orang Bohemia. Percaya pada pertolongan Allah dan kebenaran perjuangan mereka, sehingga orang‑orang dapat menahan tentera musuh yang kuat yang menyerang mereka. Berulang‑ulang kaisar mengirim tentera baru untuk menyerang Bohemia hanya untuk dipukul mundur secara memalukan. Pengikut‑pengikut Huss sekarang tidak takut mati, dan tak ada yang tahan melawan mereka. Beberapa tahun setelah perang meletus, Ziska, sipemberani itu wafat. Tetapi tempatnya digantikan oleh Procopius, yang juga adalah seorang jenderal pemberani dan trampil, dan dalam berbagai hal, seorang pemimpin yang lebih berkemampuan.
     
Musuh‑musuh orang Bohemia, mengetahui bahwa pejuang yang buta itu telah meninggal, merasa sudah saatnya untuk menebus kekalahan mereka selama ini. Paus mengumumkan perang suci melawan pengikut‑pengikut Huss. Dan tentera yang besar jumlahnya segera dikirimkan menyerang Bohemia, tetapi hanya untuk menderita kekalahan yang mengerikan. Perang suci lain diumumkan. Disemua negara kepausan di Eropa, tentera, uang dan perlengkapan perang dikumpulkan. Orang banyak berduyun‑duyun menggabungkan diri kebawah panji‑panji kepausan. Mereka merasa pasti bahwa akhirnya para bida'ah pengikut Huss akan dapat ditumpas. Dengan keyakinan akan menang, pasukan besar itupun memasuki Bohemia. Orang‑orang Bohemia bertempur mengusir mereka. Kedua pasukan saling mendekat, sehingga hanya dipisahkan oleh sebuah sungai saja.  "Tentera kepausan jauh lebih unggul, tetapi sebagai gantinya mereka langsung menyeberangi sungai utnuk memerangi pengikut‑pengikut Huss, mereka berdiri memandangi dengan diam prajurit‑prajurit Huss. Sebenarnya mereka jauh‑jauh datang hanya untuk memerangi pengikut‑pengikut Huss ini."  Tiba‑tiba ketakutan yang misterius melanda pasukan kepausan. Tanpa membuat sesuatu untuk melawan, pasukan yang kuat ini tercerai berai dihalau oleh kekuatan yang tidak kelihatan.  Banyak yang disembelih oleh pasukan pengikut‑pengikut Huss, yang mengejar musuh yang lari itu. Dan banyaklah barang‑barang rampasan yang jatuh ke tangan pasukan yang menang, sehingga sebagai gantinya, perang itu membuat kemiskinan, justru membuat orang‑orang Bohemia lebih kaya.
      
Beberapa tahun kemudian, perang suci yang lain direncanakan dibawah pimpinan paus yang baru. Seperti yang sebelumnya, tentera dan peralatan diambil dari negara‑negara kepausan di Eropa. Banyaklah janji diberikan untuk membujuk orang‑orang untuk bergabung kepada pekerjaan yang berbahaya ini. Pengampunan penuh atas kejahatan yang paling keji telah dijanjikan bagi setiap orang tentera kepausan. Semua yang tewas dalam peperangan itu dijanjikan upah besar di Surga dan mereka yang selamat akan memperoleh penghormatan dan kekayaan di medan pertempuran. Sekali lagi pasukan besar telah terkumpul, dan melintasi perbatasan memasuki Bohemia. Pasukan pengikut Huss menggunakan taktik mundur dihadapan pasukan penyerang, sehingga musuh semakin jauh masuk ke negeri itu. Hal ini membuat penyerang mengira bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Akhirnya tentera Procopius bertahan dan berbalik menghadapi musuh, maju menyerang mereka. Tentera musuh, menyadari kesalahannya, menunggu serangan diperkemahannya. Sementara suara pasukan yang mendekat terdengar, bahkan sebelum pasukan pengikut Huss terlihat, kembali kepanikan melanda pasukan kepausan. Para pangeran, para jenderal dan tentera biasa membuangkan senjata mereka, lalu lari kesegala pejuru. Sia‑sia utusan kepausan, yang memimpin penyerangan itu, berusaha untuk mengumpulkan pasukannya yang sudah ketakutan dan kucar‑kacir tak teratur lagi itu. Walaupun ia berusaha keras, ia sendiripun juga ikut hanyut dalam arus pelarian. Kekalahan itu sempurna. Dan sekali lagi barang‑barang rampasan yang banyak jatuh ketangan pemenang.
      
Demikianlah untuk kedua kalinya pasukan yang jumlahnya besar, yang dikirim oleh bangsa‑bangsa kuat di Eropa, pasukan yang berani yang siap tempur, dan yang dilatih dan diperlengkapi untuk berperang, lari tanpa perlawanan dari hadapan para pembela bangsa yang kecil dan lemah. Disinilah manifestasi kuasa ilahi. Para penyerang telah dipukul mundur dengan teror gaib. Ia yang mengalahkan tentera Firaun di Laut Merah, yang membuat lari tentera Midian dari hadapan Gideon dan pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang itu, yang pada suatu malam melumpuhkan pasukan Assur yang angkuh, kembali merentangkan tangan‑Nya melumpuhkan kekuatan penindas. "Disanalah mereka di timpa kejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan tulang‑tulang para pengepungmu; mereka akan dipermalukan, sebab Allah telah menolak mereka" (Mazmur 53:5).
      
Setelah putus asa tidak berhasil menguasai Bohemia dengan kekuatan senjata, para pemimpin kepausan akhirnya manggunakan saluran‑saluran diplomasi. Mereka mengadakan kompromi. Sementara mereka mengatakan memberikan kemerdekaan hati nurani kepada Bohemia, tetapi sebenarnya mereka dikhianati untuk masuk kedalam kekuasaan Romawi. Orang‑orang Bohemia mengajukan empat tuntutan sebagai syarat perdamaiannya dengan Roma:  Kebebasan mengkhotbahkan Alkitab;  hak seluruh gereja atas roti dan anggur dalam perjamuan kudus dan penggunaan bahasa sendiri dalam perbaktian ilahi; penarikan imam‑imam dari kuasa dan jabatan pemerintahan; dan dalam hal perkara kejahatan, jurisdiksi pengadilan sipil sama terhadap para pendeta dan orang awam. Penguasa kepausan akhirnya "menyetujui menerima keempat tuntutan pengikut‑pengikut Huss, akan tetapi hak untuk menjelaskannya, yaitu menentukan makna yang sebenarnya, haruslah menjadi hak konsilidengan perkataan lain, hak paus dan hak kaisar." Atas dasar ini dibuatlah suatu perjanjian. Dengan menyembunyikan tipu muslihatnya dan kecurangannya Roma memperoleh apa yang tidak bisa diperolehnya dengan peperangan, oleh karena, dengan memberikan interpretasinya atas tuntutan pengikut Huss itu, seperti juga atas Alkitab, ia dapat memutar‑balikkan artinya sesuai dengan maksud dan kemauannya.
      
Segolongan besar orang di Bohemia, yang melihat bahwa kemerdekaan mereka telah dikhianati, tidak setuju dengan perjanjian itu. Timbullah perselisihan dan perpecahan yang menjurus kepada bentrokan dan pertumpahan darah diantara mereka sendiri. Dalam perselisihan ini bangsawan Procopius jatuh, dan lenyaplah kebebasan Bohemia.
      
Sigismund, yang mengkhianati Huss dan Jerome, sekarang menjadi raja Bohemia. Dan tanpa mengingat sumpahnya untuk mendukung hak‑hak orang Bohemia, ia mulai mendirikan kepausan. Tetapi ketakutannya kepada Roma tidak memberi keuntungan banyak baginya. Selama dua puluh tahun kehidupannya telah dipenuhi dengan kerja keras dan bahaya. Balatenteranya dikalahkan dan hartanya habis terkuras oleh perjuangan yang lama dan yang tak membawa hasil. Dan sekarang, setelah ia memerintah selama setahun iapun mangkat, meninggalkan kerajaannya ditepi jurang perang saudara, dan mewariskan kepada generasi yang akan datang suatu nama kekejian.
      
Kerusuhan, perselisihan, dan pertumpahan darah berkepanjangan. Sekali lagi pasukan dari luar menyerang Bohemia, dan perselisihan di dalam negeri berlanjut mengalihkan perhatian bangsa itu. Mereka yang tetap setia kepada Injil dihadapkan kepada penganiayaan berdarah.
      
Sementara saudara‑saudara mereka yang terdahulu, mengadakan perjanjian dengan Roma, dan menelan keksalahannya, mereka yang memberi perhatian kepada iman yang mula‑mula itu membentuk suatu gereja yang berbeda sifatnya, yang diberi nama, "United Brethren" (Perserikatan Saudara‑saudara). Tindakan ini mengundang kutukan dari semua golongan kepada mereka. Namun, mereka tidak dapat digoyahkan. Meskipun terpaksa mencari perlindungan di hutan‑hutan dan di gua‑gua, mereka masih tetap berkumpul untuk membaca firman Allah dan bersatu dan berbakti bersama kepada Tuhan.
      
Melalui pesuruh‑pesuruh yang dikirim secara rahasia keberbagai negeri, mereka mengetahui bahwa disana‑sini terdapat "saksi‑saksi kebenaran yang terpisah‑pisah, sedikit di kota ini dan sedikit disana yang menjadi sasaran penganiayaan seperti mereka. Dan ditengah‑tengah pegunungan Alpen ada gereja tua, yang beralaskan Alkitab,  dan yang memprotes kebejatan moral Roma." Pesuruh‑pesuruh intel ini telah diterima dengan sukacita yang besar, dan surat menyuratpun diadakan dengan orang Kristen Waldenses.
      
Sambil tetap teguh berpegang kepada Injil, orang‑orang Bohemia menunggu sepanjang malam penganiayaa mereka. Di malam yang paling gelap mereka masih mengalihkan matanya ke ufuk timur seperti orang‑orang yang sedang menantikan terbitnya matahari pagi. "Mereka mengalami nasib buruk pada hari‑hari yang jahat, tetapi mereka mengingat kata‑kata yang diucapkan oleh Huss, dan yang diulangi oleh Jerome, bahwa seabad harus berlalu sebelum fajar menyingsing. Kata‑kata ini ditujukan kepada bangsa‑bangsa didalam perhambaan: 'Saya akan mati, dan Allah pasti akan melawat kamu, dan membawa kamu keluar.' ".  "Selama masa  penutupan abad ke lima belas terlihat perkembangan yang lambat tetapi pasti gereja  Brethren. Walaupun tidak jauh dari gangguan, namun mereka masih mengalami kedamaian yang sebanding. Pada permulaan abad ke enambelas, gereja mereka telah berjumlah dua ratus gereja di Bohemia dan Moravia."Gillett, "Life and Times of John Huss," ("Betapa bersukacitanya perasaan umat yang sisa, yang terlepas dari keganasan api dan pedang, melihat terbitnya fajar yang telah diramalkan oleh Huss."