Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Oct 30, 2015

Agama Buddha dan Islam di Afghanistan

Beragam aliran Buddha Hinayana hadir di Afghanistan sejak masa-masa paling awal, di sepanjang kerajaan-kerajaan yang terletak di jalur dagang ke Asia Tengah. Dua kerajaan besar di sana adalah Gandhara dan Baktria. Gandhara mencakup wilayah-wilayah baik di Punjab Pakistan dan Celah Khyber sisi Afghanistan. Potongan wilayah bagian Afghanistan ini, dari Celah Khyber ke Lembah Kabul, kemudian akhirnya bernama Nagarahara; sementara sisi Punjab tetap bernama Gandhara. Baktria membentang dari Lembah Kabul ke arah utara dan mencakup Uzbekistan sebelah selatan dan Tajikistan. Ke arah utaranya, di Uzbekistan tengah dan Tajikistan sebelah barat laut, adalah Sogdiana. Bagian sebelah selatan Baktria, persis di utara Lembah Kabul, bertempat Kapisha; sementara bagian sebelah utara kelak bernama Tokharistan.

Pembangunan Awal Agama Buddha
Menurut catatan-catatan Hinayana mengenai hikayat Buddha, seperti naskah Sarvastivada The Sutra of Extensive Play ( Sutra Lelakon Panjang, Skt. Lalitavistara Sutra ), Tapassu dan Bhallika, dua pedagang bersaudara dari Baktria, menjadi murid pertama yang menerima sumpah orang awam. Ini terjadi delapan minggu setelah pencerahan Shakyamuni, yang secara turun-temurun dianggap terjadi pada tahun 537 SM. Bhallika kemudian menjadi seorang biksu dan membangun sebuah wihara di dekat kota tinggalnya, Balkh, yang bertempat di dekat Mazar-i-Sharif sekarang. Ia membawa serta delapan helai rambut sang Buddha sebagai pusaka, yang untuknya sebuah tugu stupa ia dirikan. Kira-kira di masa ini, Baktria menjadi bagian dari Kekaisaran Iran Akhaemeniyyah.

Pada tahun 349 SM, beberapa tahun setelah Sidang Dewan Buddha Kedua, aliran Mahasanghika memisahkan diri dari Theravada. Banyak dari kaum Mahasanghika pindah ke Gandhara. Di Hadda, kota utama di sisi Afghanistan, yang bertempat di dekat Jalalabad sekarang, mereka akhirnya mendirikan Wihara Nagara; dan mereka membawa serta tengkorak dari jasad sang Buddha sebagai pusaka.

Tak lama, seorang tetua Theravada, Sambhuta Sanavasi, ikut pindah dan mencoba membangun alirannya di Kapisha. Ia tidak berhasil, dan Mahasanghika menancapkan akar sebagai aliran Buddha utama di Afghanistan.

Pada akhirnya, kaum Mahasanghika terbelah menjadi lima cabang-aliran. Salah satu yang besar di Afghanistan adalah Lokottaravada, yang kemudian memapankan diri di Lembah Bamiyan di Pegunungan Kush Hindu. Di sana, pada suatu masa antara abad ke-3 dan ke-5 M, para pengikutnya membangun patung Buddha berdiri terbesar, dalam rangka menjaga keyakinan mereka bahwa Buddha adalah sosok lintas-fana dan adimanusia. Taliban menghancurkan karya raksasa ini pada tahun 2001 M.

Pada 330 SM, Alexander Agung dari Makedonia menaklukkan sebagian besar Kekaisaran Akhaemeniyyah, termasuk Baktria dan Gandhara. Ia bertepa-selira dengan agama-agama di daerah-daerah ini dan tampak minatnya hanya terpusat pada penaklukan militer. Para penerusnya membangun Wangsa Seleukia. Akan tetapi, di tahun 317 SM, Wangsa Maurya India merebut Gandhara dari Seleukia dan oleh karena itu wilayah tersebut hanya ter-Helenisasi secara permukaan saja selama kurun yang singkat ini.

Kaisar Maurya Ashoka (memerintah 273 – 232 SM) menyukai ajaran Buddha Theravada. Pada masa pemerintahannya kelak, ia mengirimkan utusan Theravada ke Gandhara, yang dipimpin oleh Maharakkhita. Ke selatan sampai sejauh Kandahar, utusan ini mendirikan “sakaguru Ashoka” dengan maklumat yang didasarkan pada asas-asas Buddha. Lewat utusan-utusan ini, Theravada menapakkan jejak kecil kehadirannya di Afghanistan.

Aliran Sarvastivada dan Kerajaan Graeko-Baktria
Menjelang akhir pemerintahan Ashoka, setelah Sidang Dewan Buddha Ketiga, Aliran Hinayana Sarvastivada juga memisahkan diri dari Theravada. Setelah kematian Ashoka, putranya Jaloka memperkenalkan Sarvastivada di Kashmir.

Pada 239 SM, kaum bangsawan Yunani di Baktria melakukan pemberontakan melawan pemerintahan Seleukia dan memperoleh kemerdekaannya. Pada tahun-tahun setelahnya, mereka menaklukkan Sogdiana dan Kashmir, dan membangun kerajaan Graeko-Baktria. Para biksu Kashmir segera saja menyebarkan Aliran Hinayana Sarvastivada ke Baktria.

Pada 137 SM, kaum Graeko-Baktria merebut Gandhara dari kaum Maurya. Kemudian, Sarvastivada datang ke bagian sebelah tenggara Afghanistan pula. Dari persentuhan lekat antara kebudayaan Yunani dan India yang mengikutinya, gaya Helenistik dengan kuat mempengaruhi seni Buddha, khususnya dalam hal representasi bentuk manusia dan busana jubah menjuntai.

Walaupun Theravada tidak pernah kuat di kerajaan Graeko-Baktria, salah satu rajanya, Menandros (Pali: Milinda, memerintah 155 – 130 SM), merupakan seorang pengikut Theravada akibat pengaruh Nagasena, biksu India yang berkunjung ke sana. Sang Raja melontarkan banyak pertanyaan pada guru India ini dan percakapan mereka dikenal kemudian sebagai Pertanyaan-Pertanyaan Milinda (Pali: Milindapanho). Tak lama sesudahnya, negara Graeko-Baktria membangun hubungan dengan Sri Lanka dan mengirimkan serombongan perwakilan biksu ke upacara pentahbisan stupa besar yang dibangun di sana oleh Raja Dutthagamani (memerintah 101 – 77 SM). Dari persentuhan kebudayaan yang berlangsung itu, para biksu Graeko-Baktria secara lisan menyiarkan Pertanyaan-Pertanyaan Milinda ke Sri Lanka. Ini yang kemudian menjadi naskah resmi tambahan dalam aliran Theravada.

Kurun Kushan
Antara tahun 177 dan 165 SM, perluasan Kekaisaran Han Cina yang mengarah ke barat, Gansu dan Turkistan Timur (Cin. Xinjiang ), mendesak banyak dari suku-suku bangsa pengembara Asia Tengah pribumi lebih jauh ke barat. Salah satu dari suku-bangsa ini, Xiongnu, menyerang yang lainnya, Yuezhi (Wades-Giles: Yüeh-chih) dan mengasimilasi sebagian besar dari mereka. Orang Yuezhi adalah orang Kaukasia yang berbicara dalam bahasa Indo-Eropa barat kuno dan mewakili perpindahan ke arah paling timur dari ras Kaukasia. Menurut beberapa sumber, salah satu dari lima suku-bangsa ningrat Yuezhi, dikenal dalam sumber-sumber Yunani sebagai kaum Tokharia, berpindah ke wilayah Kazakhstan sekarang, mendesak ke selatan kaum Shaka (Iran Lama: Saka), suku pengembara pribumi di sana, yang dikenal oleh orang Yunani sebagai bangsa Skithia. Akan tetapi, orang Tokharia maupun Shaka berbicara dalam bahasa-bahasa Iran. Karena perbedaan dalam hal bahasa ini, terjadi selisih-paham dalam menentukan apakah orang Tokharia yang ini berhubungan dengan para keturunan Yuezhi, yang juga dikenal sebagai orang “Tokharia”, yang membangun peradaban-peradaban yang tumbuh subur di Kucha dan Turfan di Turkistan Timur pada abad ke-2 SM. Akan tetapi, sudah jelas bahwa orang Shaka tidak ada kaitannya dengan suku Shakya di India utara pusat, yang menjadi tempat lahir Buddha Shakyamuni.

Orang-orang Shaka pertama-tama merebut Sogdiana dari Graeko-Baktria dan kemudian, pada 139 SM, selama masa pemerintahan Raja Menandros, merebut Baktria juga. Di sana, orang-orang Shaka beralih menganut ajaran Buddha. Pada 100 SM, orang-orang Tokharia merebut Sogdiana dan Baktria dari Shaka. Bermukim di wilayah-wilayah ini, mereka juga mengasimilasi ajaran Buddha. Inilah permulaan Wangsa Kushan, yang pada akhirnya meluas ke Kashmir, Pakistan sebelah utara, dan India sebelah barat daya.

Raja Kushan paling terpandang adalah Kanishka (memerintah 78 – 102 M), yang ibukota sebelah baratnya berkedudukan di kapisha. Ia mendukung Aliran Hinayana Sarvastivada. Vaibhashika, anak-cabang dari Sarvastivada, amat menonjol di Tokharistan. Ghoshaka, seorang biksu Tokharia, merupakan salah seorang penyusun tinjauan-tinjauan Vaibhashika atas abhidharma (pokok-pokok pengetahuan istimewa) diterima di Sidang Dewan Buddha Keempat yang diselenggarakan di Kanishka. Ketika Ghoshaka kembali ke Tokharistan setelah sidang dewan tersebut, ia mendirikan Aliran Vaibhashika (Balikha) Barat. Wihara Nava, wihara utama di Balkh, segera saja menjadi pusat pendidikan ajaran Buddha tertinggi di Asia Tengah, sebanding dengan Wihara Nalanda di India sebelah utara pusat. Wihara Nava menekankan pendidikan terutama pada abhidharma Vaibhashika dan hanya menerima biksu-biksu yang telah menulis naskah-naskah tentang pokok bahasan itu. Karena juga merupakan tempat penyimpanan gigi peninggalan dari sang Buddha, wihara itu juga menjadi salah satu dari pusat peziarahan utama di sepanjang Jalur Sutera dari Cina ke India.

Balkh adalah tempat lahir Zarathustra pada kira-kira tahun 600 SM. Kota itu adalah kota suci agama Zarathustra, agama Iran yang tumbuh dari ajaran-ajarannya dan yang menekankan pemujaan terhadap api. Kanishka menerapkan kebijakan tepa-selira keagamaan Grakeo-Baktria. Oleh karena itu, agama Buddha dan Zarathustra hidup berdampingan dengan damai di Balkh, dimana mereka saling mempengaruhi perkembangan satu sama lain. Di wihara-wihara gua dari kurun ini, misalnya, terdapat lukisan-lukisan dinding Buddha dengan aura lidah api dan prasasti yang menamai lukisan-lukisan itu “ Buddha-Mazda”. Ini merupakan sebuah perpaduan Buddha dan Ahura Mazda, dewa agung agama Zarathustra.

Pada 226 M, Kekaisaran Sassaniyyah Persia menggulingkan kekuasaan Kushan di Afghanistan. Walaupun merupakan pendukung kuat agama Zarathustra, kaum Sassaniyyah bertepa-selira dengan agama Buddha dan mengizinkan pembangunan lebih banyak lagi wihara-wihara Buddha. Selama masa pemerintahan mereka inilah para pengikut Lokottaravada mendirikan dua patung raksasa Buddha di Bamiyan.

Satu-satunya pengecualian untuk tepa-selira Sassaniyyah terhadap agama Buddha adalah selama kurun paruh kedua abad ke-3, ketika pendeta tinggi agama Zarathustra, Kartir, menguasai kebijakan keagamaan negara. Ia memerintahkan penghancuran beberapa wihara Buddha di Afghanistan, karena perpaduan agama Buddha dan Zarathustra baginya adalah bentuk ajaran sesat. Akan tetapi, agama Buddha pulih dengan cepat setelah kematiannya.

Kaum Hun Putih dan Shahi Turki
Pada awal abad ke-5, kaum Hun Putih – yang oleh bangsa Yunani dikenal sebagai kaum Heftha dan oleh bangsa India dikenal sebagai kaum Turushka – merebut sebagian besar bekas wilayah kekuasaan Kushan dari kaum Sassaniyyah, termasuk Afghanistan. Pertama-tama, kaum Hun Putih mengikuti agama mereka sendiri, yang mirip dengan agama Zarathustra. Akan tetapi, tak lama kemudian mereka menjadi pendukung agama Buddha. Peziarah Cina Han, Faxian (Fa-hsien) bepergian melalui wilayah kekuasaan mereka antara 399 dan 414 M dan melaporkan perihal mekarnya beberapa aliran Hinayana di sana.

Para Shahi Turki adalah bangsa Turki yang diturunkan dari kaum Kushan. Setelah kejatuhan Wangsa Kushan ke tangan Sassaniyyah, mereka mengambil-alih banyak bagian dari kekaisaran tersebut yang terbentang di India sebelah barat laut dan utara. Mereka memerintah di sana sampai pada saat berdirinya Wangsa Gupta India di awal abad ke-4, dan kemudian mereka melarikan diri ke Nagarahara. Mereka merebut berbagai wilayah kekuasaan di sana dari tangan Hun Putih dan, pada pertengahan abad ke-5, mereka memperluas kekuasaan sampai ke Lembah Kabul dan Kapisha. Seperti kaum Kushan dan Hun Putih, kaum Shahi Turki pun mendukung agama Buddha di Afghanistan.

Pada 515, raja Hun Putih, Mihirakula, di bawah pengaruh faksi-faksi non-Buddha yang iri hati di istananya, menindas agama Buddha. Ia menghancurkan wihara-wihara dan membunuh banyak biksu di seluruh India sebelah barat laut, Gandhara, dan khususnya di Kashmir. Penganiayaan ini masih tidak separah yang terjadi di berbagai bagian Nagarahara yang ia kuasai. Putranya membalikkan kebijakan ini dan membangun wihara-wihara baru di semua wilayah tersebut.

Bangsa Turki Barat
Berasal dari Turkistan Barat, Bangsa Turki Barat merebut bagian sebelah barat dari Jalur Sutera Asia Tengah pada tahun 560. Perlahan-lahan, mereka meluas ke Baktria, membuat Shahi Turki terdesak lebih jauh ke Timur di Nagarahara. Banyak dari pemimpin Turki Barat yang menganut agama Buddha dari masyarakat setempat dan, pada 590, mereka membangun sebuah wihara Buddha baru di Kapisha. Pada 622, penguasa Turki Barat, Tongshihu Qaghan secara resmi menganut agama Buddha di bawah bimbingan Prabhakaramitra, seorang biksu India sebelah utara yang datang berkunjung.

Peziarah Cina Han, Xuanzang (Hsüan-tsang), mengunjungi bangsa Turki Barat kira-kira pada tahun 630 dalam perjalanannya menuju India. Ia melaporkan bahwa ajaran Buddha tumbuh-mekar di wilayah Baktria dari kekaisaran mereka, khususnya di Wihara Nava di Balkh. Ia mengutip perguruan tinggi kewiharaan itu bukan hanya untuk kesarjanaannya saja, tapi juga atas patung-patung Buddha-nya yang indah, yang dibalut dengan jubah sutera dan dihias dengan hiasan permata, sesuai dengan adat Zarathustra di tempat itu. Wihara tersebut pada saat itu berhubungan erat dengan Khotan, sebuah kerajaan Buddha yang kuat di Turkistan Timur, dan mengirimkan banyak biksu ke sana untuk mengajar. Xuanzang juga menggambarkan sebuah wihara di dekat Wihara Nava yang dimaksudkan sebagai tempat latihan vipashyana (Pali: vipassana ), sebuah latihan meditasi Hinayana tingkat lanjut – pemahaman istimewa atas ketidaktetapan dan tiadanya jati-diri mandiri seseorang.

Xuanzang mendapati ajaran Buddha berada dalam keadaan yang jauh lebih buruk di Nagarahara, di bawah Shahi Turki. Seperti di sisi Punjab dari Gandhara, wilayah ini tampak belum sepenuhnya pulih dari penganiayaan oleh Raja Mihirakula lebih dari satu abad sebelumnya. Walaupun Wihara Nagara, dengan pusaka tengkorak sang Buddha, merupakan salah satu tempat ziarah paling suci di dunia Buddha, ia melaporkan bahwa para biksunya telah mengalami kemerosotan. Mereka membebani para peziarah dengan biaya satu keping emas untuk satu kali melihat pusaka tersebut dan tidak terdapat pusat pendidikan di seluruh wilayah itu pula.

Lebih lagi, walaupun Mahayana telah meluas dari Kashmir dan Gandhara Punjab sampai ke Afghanistan selama abad ke-5 dan ke-6, Xuanzang mencatat aliran itu hadir hanya di Kapisha dan di wilayah-wilayah Kush Hindu di barat Nagarahara. Sarvastivada tetap menjadi aliran Buddha terkuat di Nagarahara dan Baktria sebelah utara.

Kurun Ummaiyyah dan Pengenalan Islam
Lima tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, bangsa Arab mengalahkan kaum Sassaniyyah Persia pada 637 dan mendirikan Kekalifahan Ummaiyyah pada 661. Kekalifahan ini menguasai Iran dan sebagian besar wilayah Timur Tengah. Pada 663, mereka menyerang Baktria, yang direbut Shahi Turki dari Bangsa Turki Barat pada saat ini. Wilayah di sekitar Balkh, termasuk Wihara Nava, jatuh ke tangan pasukan-pasukan Ummaiyyah; dan ini memaksa Shahi Turki mundur ke Lembah Kabul.

Bangsa Arab mengizinkan para pengikut agama-agama non-Muslim di tanah-tanah taklukan mereka untuk tetap menjaga iman mereka jika mereka secara menyerah tanpa perlawanan dan bersedia membayar pajak perseorangan (Ar. jizya). Walau beberapa umat Buddha di Baktria dan bahkan seorang kepala wihara di Wihara Nava pindah ke agama Islam, sebagian besar umat Buddha di wilayah itu menerima status dhimmi sebagai seorang kawula non-Muslim yang setia dan dilindungi di sebuah negara Islam. Wihara Nava tetap buka dan menjalankan tugasnya. Peziarah Cina han, Yijing (I-ching) mengunjungi Wihara Nava pada tahun 680an dan melaporkan bahwa wihara tersebut tumbuh-mekar sebagai sebuah pusat pendidikan Sarvastivada.

Seorang pengarang Persian Ummaiyyah, al-Kermani, menulis sebuah catatan rinci tentang Wihara Nava di permulaan abad ke-8, yang diabadikan di dalam karya abad ke-10 Kitab Tanah-Tanah (Ar. Kitab al-Buldan) oleh al-Hamadhani. Ia menggambarkan wihara itu dengan istilah-istilah yang sedianya dapat dipahami oleh umat Muslim dengan mengumpamakannya dengan Kabah di Mekkah, tempat paling suci bagi Islam. Ia menjelaskan bahwa kuil utama memiliki batu berbentuk kubus di tengah-tengahnya, dibalut dengan kain menjuntai, dan bahwa para umat mengelilinginya dan membuat sujud-sembah, seperti halnya Kabah. Kubus batu yang dimaksud adalah mimbar tempat berdirinya sebuah stupa, seperti halnya adat di kuil-kuil Baktria. Kain yang membungkusnya itu sesuai dengan adat Iran dalam hal menunjukkan pemujaan, diterapkan sama pada patung-patung Buddha dan juga stupa-stupa. Penggambaran al-Kermani menunjukkan suatu sikap terbuka dan hormat oleh orang Arab Ummaiyyah dalam usaha mereka memahami agama non-Muslim, seperti Buddha, yang mereka temui di wilayah-wilayah taklukan mereka yang baru.

Persekutuan Tibet
Pada 680, Husayn memimpin sebuah pemberontakan yang gagal di Irak melawan kaum Ummaiyyah. Perseteruan ini telah mengalihkan pusat perhatian bangsa Arab dari Asia tengah dan melunglaikan kendali mereka di sana. Dengan mengambil keuntungan dari keadaan ini, Tibet membentuk sebuah persekutuan dengan Shahi Turki pada 705 dan, bersama-sama, mereka mencoba mendesak pasukan-pasukan Ummaiyyah keluar dari Baktria; namun gagal. Orang-orang Tibet telah belajar agama Buddha dari Cina dan Nepal sekitar enam puluh tahun sebelumnya, walau pada masa ini mereka belum memiliki wihara. Pada 708, pangeran Shahi Turki, Nazaktar Khan, berhasil mengusir Ummaiyyah dan membangun sebuah pemerintahan Buddha fanatik di Baktria. Ia bahkan memancung mantan kepala Wihara Nava yang menjadi mualaf itu.

Pada 715, panglima Arab, Qutaiba, merebut kembali Baktria dari kaum Shahi Turki dan sekutu Tibet mereka. Ia mengakibatkan kerusakan parah di Wihara Nava sebagai hukuman atas pemberontakan sebelumnya. Banyak biksu yang melarikan diri ke arah timur ke Khotan dan Kashmir. Dan hal ini merangsang pertumbuhan ajaran Buddha, khususnya di Kashmir. Tibet kini mengalihkan keberpihakannya dan, demi keuntungan politis, bersekutu dengan pasukan Ummaiyyah yang baru saja diperanginya.

Wihara Nava pulih dengan cepat dan segera saja menjalankan tugasnya seperti sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa penghancuran wihara-wihara Buddha di Baktria oleh kaum Muslim bukanlah tindakan yang didorong oleh alasan keagamaan. Kalau memang demikian, mereka pasti tidak akan mengizinkan wihara-wihara tersebut dibangun kembali. Kaum Ummaiyyah hanya mengulangi kebijakan terhadap agama Buddha yang mereka terapkan sebelumnya di abad itu ketika mereka menaklukkan daerah-daerah Sindh dari Pakistan sebelah selatan sekarang. Mereka hanya menghancurkan wihara-wihara tertentu yang mereka curigai menentang pengambil-alihan kekuasaan. Namun kemudian mereka mengizinkan pembangunan kembali wihara yang hancur dan membiarkan wihara yang lain makmur. Rencana utama mereka adalah penghisapan secara ekonomi dan karena itu mereka memungut pajak perseorangan pada orang-orang Buddha dan pajak peziarah pada para pengunjung kuil-kuil suci.

Terlepas dari kecenderungan umum para khalifah Ummaiyyah sebelumnya yang bertepa-selira terhadap agama lain, Umar II (memerintah tahun 717 – 720) menitahkan bahwa seluruh sekutu Ummaiyyah harus menganut agama Islam. Akan tetapi, mereka harus secara sukarela menerima Islam. Penerimaan itu haruslah hasil dari belajar asas-asas agama tersebut. Untuk menyenangkan hati sekutu-sekutu mereka, orang Tibet mengirimkan seorang utusan ke istana Ummaiyyah pada 717 untuk mengundang seorang guru Muslim. Sang Khalifah mengirimkan al-Hanafi. Kenyataan bahwa guru ini tidak mencatatkan keberhasilan dalam memualafkan umat di Tibet menunjukkan bahwa kaum Ummaiyyah tidak bersikeras dalam upaya syiar agama mereka. Lebih jauh lagi, penyambutan yang terkesan dingin yang diterima al-Hanafi di Tibet utamanya disebabkan oleh suasana anti-orang-asing yang ditebar oleh faksi oposisi di istana Tibet.

Selama dasawarsa-dasawarsa berikutnya, persekutuan politik dan militer kerap bergonta-ganti saat bangsa Arab, Cina, Tibet, Shahi Turki, dan berbagai suku-suku bangsa Turki lainnya berebut kendali atas Asia Tengah. Kaum Shahi Turki merebut Kapisha dari tangan kaum Ummaiyyah dan, pada 739, orang Tibet membangun kembali persekutuan mereka dengan Shahi Turki lewat sebuah kunjungan oleh kaisar Tibet ke Kabul untuk merayakan sebuah persekutuan pernikahan antara Shahi Turki dan Khotan. Kaum Ummaiyyah tetap memerintah Baktria sebelah utara.

Kurun Awal Abbasiyyah
Pada 750, sebuah faksi Arab melengserkan Kekhalifahan Ummaiyyah dan mendirikan Wangsa Abbasiyyah. Mereka mempertahankan kuasa atas Baktria sebelah utara. Kaum Abbasiyyah bukan hanya meneruskan penerapan kebijakan pemberian status dhimmi bagi umat Buddha di sana, tapi mereka juga menaruh minat yang luar biasa terhadap kebudayaan asing, terutama yang dari India. Pada 762, Khalifah al-Mansur (memerintah tahun 754 – 775) melibatkan para arsitek dan insiyur India untuk merancang ibukota Abbasiyyah yang baru, Baghdad. Ia mengambil nama tersebut dari kata bahasa Sanskerta Bhaga-dada , yang berarti “Karunia Tuhan”. Sang Khalifah juga membangun sebuah Rumah Pengetahuan (Ar. Bayt al-Hikmat ), dengan sebuah biro penerjemahan. Ia mengundang para cendekiawan dari berbagai latar kebudayaan dan agama untuk menerjemahkan naskah-naskah ke dalam bahasa Arab, khususnya naskah-naskah yang berkenaan dengan pokok-pokok kenalaran dan keilmuan.

Para khalifah Abbasiyyah masa awal merupakan pelindung bagi Perguruan Islam Mu’tazila yang memusatkan kajiannya pada upaya menjelaskan asas-asas Quran dari sudut pandang nalar. Titik pusat utamanya ada pada pembelajaran hal-ihwal Yunani kuno, tapi juga memberi perhatian pada tradisi-tradisi Sanskerta. Akan tetapi, di Rumah Pengetahuan, bukan hanya naskah-naskah ilmiah saja yang diterjemahkan. Para cendekiawan Buddha juga menerjemahkan ke bahasa Arab beberapa sutra Mahayana dan Hinayana yang berkenaan dengan tema-tema kebaktian dan budi-pekerti.

Khalifah berikutnya, al-Mahdi (memerintah tahun 775 – 785), memerintahkan pasukan Abbasiyyah di Sindh untuk menyerang Saurashtra di sebelah tenggara. Di hadapan salah satu pesaing di Arabia yang juga mendaku diri sebagai Mahdi, ratu adil Islam, penyerangan itu merupakan bagian dari pawai-tempur sang Khalifah untuk membangun pamor dan kedaulatannya sebagai pemimpin dunia Islam. Tentara Abbasiyyah menghancurkan wihara-wihara Buddha dan kuil-kul Jain di Valabhi. Akan tetapi, seperti halnya penaklukan Sindh oleh Ummaiyyah, mereka tampaknya hanya menghancurkan tempat-tempat yang dicurigai sebagai pusat perlawanan terhadap kekuasaan mereka. Bahkan di bawah Khalifah al-Mahdi, kaum Abbasiyyah membiarkan wihara-wihara Buddha yang tersisa di daerah kekuasaan kekaisaran mereka. Mereka lebih suka memanfaatkan wihara-wihara tersebut sebagai sumber pemasukan. Lebih jauh lagi, al-Mahdi terus memperluas kegiatan-kegiatan penerjemahan di Rumah Pengetahuan di Baghdad. Ia tidak berniat menghancurkan budaya India. Alih-alih, ia ingin mempelajarinya.

Yahya ibn Barmak, cucu laki-laki beragama Islam dari salah satu kepala tata-usaha (Skt. pramukha, Ar. barmak) Wihara Nava, merupakan menteri dari khalifah Abbasiyyah berikutnya, al-Rashid (memerintah tahun 786 – 808). Di bawah pengaruhnya, sang Khalifah mengundang lebih banyak lagi cendekiawan dan guru dari India, khususnya yang beragama Buddha, ke Baghdad. Sebuah katalog naskah-naskah Muslim maupun non-Muslim dipersiapkan di masa ini, Kitab al-Fihrist, yang mencakup sebuah daftar karya-karya Buddha. Di antaranya adalah sebuah catatan berbahasa Arab tentang kehidupan-kehidupan lampau sang Buddha, Kitab Buddha (Ar. Kitab al-Budd).

Di masa ini, Islam mulai naik daun di Baktria di kalangan para pemilik tanah dan masyarakat kota terdidik golongan atas oleh karena daya tarik kebudayaan dan pendidikan tingkat tingginya. Untuk belajar agama Buddha, orang perlu masuk ke sebuah wihara. Wihara Nava, meski masih berjalan selama kurun ini, terbatas dalam hal daya tampungnya dan mensyaratkan pelatihan panjang sebelum seseorang dapat masuk untuk belajar. Di sisi lain, kebudayaan dan pendidikan tinggi Islam lebih dapat dan siap dimasuki. Agama Buddha tetap kuat utamanya di antara golongan petani miskin di pinggir kota, sebagian besar dalam bentuk laku kebaktian di kuil-kuil keagamaan.

Agama Hindu juga hadir di seluruh wilayah tersebut. Saat berkunjung di tahun 753, seorang peziarah Cina Han, Wukong (Wu-k’ung) melaporkan adanya kuil-kuil Hindu dan Buddha khususnya di Lembah Kabul. Ketika agama Buddha menemui senjakala di antara golongan masyarakat pedagang, agama Hindu pun tumbuh lebih kuat.

Pemberontakan Melawan Kaum Abbasiyyah
Kaum Abbasiyyah di masa-masa awal dirongrong banyak pemberontakan. Khalifah al-Rashid wafat pada 808 dalam perjalanan untuk memadamkan satu pemberontakan di Samarkand, ibukota Sogdiana. Sebelum kematiannya, ia membagi kekaisarannya untuk dua putranya. al-Ma’mun, yang menemani ayahnya dalam pawai tempur di Sogdiana, menerima bagian sebelah timur, termasuk Baktria. Al-Amin, yang lebih kuat dari saudaranya, menerima bagian sebelah barat yang lebih prestisius, termasuk Baghdad dan Mekah.

Untuk memperoleh dukungan rakyat dalam upayanya mengambil alih bagian Kekaisaran Abbasiyyah milik al-Amin, al-Ma’mun membagi-bagikan lahan dan kekayaan di Sogdiana. Ia kemudian menyerang saudaranya. Selama peperangan yang meruyaki kedua belah pihak Abbasiyyah ini, orang-orang Shahi Turki dari Kabul, bersama para sekutu Tibet mereka, memadukan kekuatan dengan para pemberontak anti-Abbasiyyah di Sogdiana dan Baktria untuk memanfaatkan keadaan dan mencoba menggulingkan kekuasaan Abbasiyah. Menteri dan panglima al-Ma’mun, al-Fadl, mendorong atasannya untuk menyatakan jihad, perang suci melawan persekutuan ini untuk mengangkat pamor sang Khalifah lebih tinggi lagi. Hanya para penguasa yang menjunjung iman murni yang boleh menyatakan jihad untuk melawan siapapun yang menyerang Islam.

Setelah mengalahkan saudaranya, al-Ma’mun menyatakan perang jihad ini. Pada 815, ia menaklukkan penguasa Shahi Turki, yang dikenal sebagai Shah Kabul, dan memaksanya menjadi penganut Islam. Hal yang paling menyinggung keyakinan Muslim adalah penyembahan berhala. Masyarakat pagan Arab yang sebelum masa Muhammad menyembah berhala dan menyimpan patung-patung mereka di Mekah dan tempat suci Kabah. Dalam upayanya membangun Islam, sang Nabi menghancurkan semua patung ini. Oleh karena itu, sebagai tanda pengabdiannya, al-Ma’mun memaksa Shah untuk mengirimkan sebuah patung Buddha emas ke Mekah. Tentunya untuk tujuan-tujuan propaganda untuk mengamankan hak kekuasaannya, al-Ma’mun membiarkan patung tersebut dapat dilihat oleh khalayak umum di Kabah selama dua tahun, dengan pengumuman bahwa Allah telah membimbing Raja Tibet masuk Islam. Orang-orang Arab keliru mengira Shah Turki dari Kabul sebagai Raja Tibet. Padahal sebetulnya ia adalah bawahannya. Pada 817, kaum Abbasiyyah mencairkan patung Buddha tersebut untuk dipakai sebagai bahan membuat keping emas.

Setelah keberhasilan mereka melawan kaum Shahi Turki, kaum Abbasiyyah menyerang wilayah Gilgit, di Pakistan sebelah utara sekarang, yang dikuasai oleh Tibet. Dalam waktu singkat, mereka pun mencaplok wilayah itu. Mereka mengirimkan seorang komandan Tibet yang tertangkap untuk dipermalukan di Baghdad.

Wangsa Tahiriyyah, Saffariyyah, dan Shahi Hindu
Kira-kira pada masa ini, para pemimpin militer setempat di berbagai bagian wilayah Kekaisaran Abbasiyyah mulai membangun negara-negara Islam berdaulat, yang hubungan kekuasaannya dengan khalifah di Baghdad hanya berupa kesetiaan nominal. Daerah pertama yang menyatakan kedaulatannya adalah Baktria sebelah utara, tempat Panglima Tahir mendirikan Wangsa Tahiriyyah pada 819.

Karena kaum Abbasiyyah mundur dari Kabul dan Gilgit, mengalihkan perhatian mereka pada perkara-perkara yang lebih berat ini, orang Tibet dan Shahi Turki memperoleh kembali kendali mereka. Terlepas dari pemualafan paksa terhadap para pemimpin di wilayah-wilayah ini, kaum Abbasiyyah tidak menindas agama Buddha di sana. Malah, bangsa Arab memelihara perdagangan dengan Tibet di sepanjang kurun ini.

Panglima Islam berikutnya yang menyatakan kedaulatan di bawah Abbasiyyah adalah al-Saffar. Pada 861, penggantinya mendirikan Wangsa Saffariyyah di Iran sebelah tenggara. Setelah merebut kendali atas wilayah Iran yang tersisa, kaum Saffariyyah menyerang Lembah Kabul pada 870. Di ambang kekalahannya, para penguasa Shahi Turki yang beragama Buddha dilengserkan oleh menteri brahman mereka, Kallar. Setelah membiarkan Kabul dan Nagarahara jatuh ke tangan Saffariyyah, Kallar membangun Wangsa Shahi Hindu di Gandhara Punjab.

Kaum Saffariyyah secara khusus merupakan para penakluk pendendam. Mereka menjarah wihara-wihara Lembah Kabul dan Bamiyan, dan mengirimkan patung-patung “berhala-Buddha” dari wihara-wihara tersebut sebagai piala perang kepada sang khalifah. Pendudukan militer yang keras ini adalah hantaman kuat pertama terhadap agama Buddha di wilayah Kabul. Kekalahan sebelumnya dan pemualafan oleh Shah Kabul pada 815 hanya memberi riak-riak kecil bagi keadaan umum agama Buddha di daerah itu.

Kaum Saffariyyah meneruskan pawai tempur penaklukan dan penghancuran mereka ke arah utara, merebut Baktria dari tangan kaum Tahiriyyah pada 873. Akan tetapi, pada 879, kaum Shahi Hindu merebut Kabul dan Nagarahara. Mereka melanjutkan kebijakan perlindungan terhadap agama Hindu dan Buddha di antara rakyat mereka, dan wihara-wihara Buddha di Kabul segera memperoleh kembali kekayaan masa lampau mereka.

Wangsa Samaniyyah, Ghaznawiyyah, dan Sejuk
Ismail bin Ahmad, adipati Sogdiana dari Persia, berikutnya menyatakan kedaulatan dan mendirikan Wangsa Samaniyyah pada 892. Ia merebut Baktria dari tangan Saffariyyah pada 903. Kaum Samaniyyah mengusung kebijakan kembali ke kebudayaan Iran, namun tetap bertepa-selira terhadap agama Buddha. Selama masa pemerintahan Nasr II (memerintah tahun 913 – 942), misalnya, pahatan patung-patung Buddha masih dibuat dan dijual di ibukota Samaniyyah, Bukhara. Pembuatan pahatan-pahatan ini tidak dilarang, dan tidak dianggap sebagai “berhala-Buddha”.

Kaum Samaniyyah memperbudak orang-orang suku Turki di wilayah mereka dan mewajibkan mereka menjadi tentara. Jika para tentara ini menjadi mualaf, mereka dimerdekakan dari status budak. Akan tetapi, kaum Samaniyyah mengalami kesulitan dalam mempertahankan kendali atas orang-orang ini. Pada 962, Alptigin, salah satu pemimpin militer Turki yang telah menganut Islam, merebut Ghazna (Ghazni sekarang), selatan Kabul. Di sana, pada 976, penerusnya, Sabuktigin (memerintah tahun 976 – 997), mendirikan kekaisaran Ghaznawiyyah sebagai negara bawahan Abbasiyyah. Tak lama kemudian, ia merebut Lembah Kabul dari tangan kaum Shahi Hindu, mendesak mereka kembali ke Gandhara.

Agama Buddha telah tumbuh-mekar di Lembah Kabul di bawah kekuasaan Shahi hindu. Asadi Tusi, dalam karyanya Nama Garshasp yang ditulis pada 1048 menggambarkan kemegahan wihara utamanya, Subahar (Wihara Su), ketika kaum Ghaznawiyyah menyerbu Kabul. Tidak tampak bahwa kaum Ghaznawiyyah menghancurkan wihara itu.

Pada 999, penguasa Ghaznawiyyah berikutnya, Mahmud dari Ghazni (memerintah 998 – 1030) menjungkalkan kaum Samaniyyah, dengan bantuan para serdadu budak Turki yang bertugas di bawah Samaniyyah. Kekaisaran Ghaznawiyyah kini mencakup Baktria dan Sogdiana sebelah selatan. Mahmud Ghazni juga menaklukkan sebagian besar wilayah Iran. Ia tetap memberlakukan kebijakan Samaniyyah dalam hal mengusung kebudayaan Persia dan bertepa-selira terhadap agama-agama non-Muslim. Al-Biruni, seorang cendekiawan dan penulis Persia yang bekerja di istana Ghaznawiyyah, melaporkan bahwa, pada peralihan milenium, wihara-wihara Buddha di Baktria, termasuk Wihara Nava, masih berfungsi.

Akan tetapi, Mahmud dari Ghazni tidak bertepa-selira terhadap aliran-aliran Islam selain aliran Sunni ortodoks yang didukungnya. Penyerangan-penyerangan yang dilakukannya atas Multan di Sindh sebelah utara pada 1005 dan lagi pada 1010 merupakan pawai tempur melawan aliran Isma’ili Islam Syiah yang didukung negara, yang juga didukung oleh Samaniyyah. Wangsa Fatimiyyah Isma’ili (910 – 1171), berpusat di Mesir dari 969, adalah pesaing utama dari kaum Abbasiyyah Sunni dalam hal kedaulatan kekuasaan atas dunia Islam. Mahmud juga berniat menyelesaikan penggulingan kekuasaan Shahi Hindu yang telah dimulai oleh ayahnya. Oleh karena itu, ia menyerang dan mengusir kaum Shani Hindu dari Gandhara, dan kemudian maju dari Gandhara untuk merebut Multan.

Selama tahun-tahun berikutnya, Mahmud memperluas kekaisarannya dengan menaklukkan daerah-daerah ke arah timur sejauh Agra di India sebelah utara. Penjarahan dan pengerusakan yang dilakukannya atas kuil-kuil Hindu dan wihara-wihara Buddha kaya di sepanjang perjalanannya merupakan bagian dari siasat penyerangannya. Sebagaimana layaknya dalam kebanyakan peperangan, pasukan-pasukan penyerang kerap menyebabkan sebanyak mungkin kerusakan untuk meyakinkan penduduk setempat agar menyerah, khususnya jika mereka mengadakan perlawanan. Selama pawai tempurnya di anak-benua India, Mahmud Ghazni membiarkan wihara-wihara Buddha di bawah kekuasaannya di Kabul dan Baktria tetap berdiri.

Pada 1040, negara-negara Turki Seljuk, yang merupakan bawahan Ghaznawiyyah di Sogdiana, memberontak dan membangun Wangsa Seljuk. Tak lama, mereka merebut Baktria dan sebagian besar wilayah Iran dari tangan kaum Ghaznawiyyah, yang mundur ke Lembah Kabul. Lambat-laun, Kekaisaran Seljuk meluas ke Baghdad, Turki, dan Palestina. Orang-orang Seljuk merupakan “kaum kafir” terkenal yang terhadap merekalah Paus Urbanus II menyatakan Perang Salib Pertama pada 1096.

Dalam pemerintahannya kaum Seljuk bersifat pragmatis. Mereka membangun pusat-pusat pendidikan Islami (madrasah) di Baghdad dan Asia Tengah untuk mendidik pejabat-pejabat sipil untuk menangani masalah ketata-usahaan di berbagai wilayah kekuasaan kekaisaran mereka. Mereka bertepa-selira terhadap kehadiran agama-agama non-Islam, seperti Buddha, di wilayah mereka. Oleh karena itu, al-Shahrastani (1076 – 1153) menerbitkan Kitab al-Milal wa Nihal karyanya di Baghdad – sebuah naskah yang ditulis dalam bahasa Arab tentang agama-agama dan aliran-aliran non-Muslim. Naskah itu mengandung penjelasan sederhana tentang ajaran-ajaran Buddha dan mengulangi catatan-catatan tangan-pertama milik al-Biruni tentang kisah satu abad sebelumnya mengenai orang-orang India yang menerima Buddha sebagai seorang nabi.

Banyaknya rujukan-rujukan Buddha dalam kepustakaan Persia pada kurun waktu tersebut juga menjadi bukti atas persentuhan kebudayaan Islam-Buddha ini. Syair-syair Persia, misalnya, kerap menggunakan perumpamaan kiasan “seindah Nowhahar (Wihara Nava)” untuk melukiskan keindahan istana-istana. Lagi, di Wihara Nava dan Bamiyan, patung-patung Buddha, khususnya Maitreya, Buddha masa depan, digambarkan memiliki cakram bulan di belakang kepala mereka. Pencitraan ini berujung pada pelukisan puitis atas keindahan murni, yang diumpamakan sebagai seseorang yang memiliki “wajah Buddha yang berbentuk rembulan”. Oleh karena itu, syair-syair Persia abad ke-11, seperti Varge dan Golshah karya Ayyuqi, menggunakan kata bot dengan makna positif untuk “Buddha”, bukan dengan makna kedua “berhala”, yang terkesan merendahkan. Ungakapan ini menyiratkan keindahan tuna-kelamin yang sempurna bagi pria maupun wanita. Rujukan-rujukan semacam itu menunjukkan bahwa baik wihara maupun patung-patung Buddha terdapat di wilayah-wilayah kebudayaan Iran ini setidaknya sampai kurun Mongol awal di abad ke-13. Atau, sedikitnya dapat dinyatakan bahwa warisan Buddha yang kuat tetap bertahan selama berabad-abad di antara umat Buddha di sana yang telah berpindah ke agama Islam.

Wangsa Qaraqitan dan Ghuriyyah
Pada 1141, kaum Qaraqitan, masyarakat berbahasa Mongol yang menguasai Turkistan Timur dan Turkistan Barat sebelah utara, mengalahkan kaum Seljuk di Samarkand. Penguasa mereka, Yelu Dashi, mencaplok Sogdiana dan Baktria ke dalam kekaisarannya. Kaum Ghaznawiyyah masih menguasai wilayah dari Lembah Kabul ke arah timur. Kaum Qaraqitan menganut perpaduan antara ajaran Buddha, Tao, Konghucu, dan budaya perdukunan. Akan tetapi, Yelu Dashi amat sangat bertepa-selira dan melindungi semua agama di wilayahnya, termasuk Islam.

Pada 1148, Ala-ud-Din dari suku-bangsa pengembara Turki Guzz dari pegunungan Afghanistan tengah merebut Baktria dari kaum Qaraqanitan dan membangun Wangsa Ghuriyyah. Pada 1161, ia beranjak merebut Ghazna dan Kabul dari Ghaznawiyyah. Ia menunjuk saudaranya, Muhammad Ghori, menjadi adipati Ghazna pada 1173 dan mendorongnya untuk menyerbu anak-benua India.

Seperti Mahmud Ghazni sebelum dirinya, Muhammad Ghori pertama sekali pada 1178 merebut kerajaan Multan Isma’ili di Sindh sebelah utara, yang telah memperoleh kembali kemerdekaannya dari kekuasaan Ghaznawiyyah. Ia kemudian maju untuk menaklukkan seluruh daerah Punjab Pakistan dan India utara dan, setelah itu, Dataran Gangga, sampai sejauh Bihar dan Benggali Barat sekarang. Selama masa pawai tempurnya ini, ia menjarah dan menghancurkan banyak wihara-wihara Buddha, termasuk Vikramashila dan Odantapuri pada 1200. Ini karena Sena, raja daerah itu, mengalih-gunakan kedua wihara tersebut menjadi garnisun tempur dalam upaya menghadang serangan pasukan musuh.

Para pemimpin Ghuriyyah mungkin telah menyuntikkan paham dan semangat keagamaan ke dalam diri para serdadu mereka, sama dengan yang dilakukan negara manapun dengan propaganda politik atau kepahlawanan. Akan tetapi, tujuan utama mereka, selayaknya hampir semua penakluk, adalah untuk memperoleh wilayah, kekayaan, dan kekuasaan. Oleh karena itu, kaum Ghuriyyah hanya menghancurkan wihara-wihara yang terletak di sepanjang garis depan serangan mereka. Wihara Nalanda dan Bodh Gaya, misalnya, berkedudukan di luar jalur utama serangan. Maka dari itu, ketika penerjemah Tibet, Chag Lotsawa berkunjung pada 1235, ia mendapati kedua wihara tersebut rusak dan dijarah, tapi masih berfungsi dengan sejumlah kecil biksu. Wihara Jagaddala di Benggali sebelah utara malah tidak tersentuh sama sekali dan tetap berkembang baik.

Lebih jauh lagi, kaum Ghuriyyah tidak berniat menaklukkan Kashmir dan memualafkan umat Buddha di sana. Kashmir miskin pada saat itu, dan wihara-wiharanya hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki kekayaan untuk dirampas. Lebih lagi, kaum Ghuriyyah tidak membayar atau menyediakan pasokan bagi para panglima dan adipati. Mereka diharapkan dapat menyokong diri dan serdadu mereka sendiri dari hasil-hasil yang diperoleh di wilayah taklukan. Kalau para adipati secara paksa memualafkan setiap orang di bawah kekuasaan mereka, mereka tidak bisa memanfaatkan sebagian besar dari penduduk setempat sebagai sumber pajak tambahan. Oleh karena itu, seperti di Afghanistan, kaum Ghuriyyah tetap mempertahankan kebiasaan lampau dalam hal pemberian status dhimmi bagi umat non-Muslim di India dan memungut pajak perseorangan dari para jizya tersebut.

Kurun Mongol
Pada 1215, Chinggis (Genghis) Khan, pendiri Kekaisaran Mongol, merebut Afghanistan dari tangan kaum Ghuriyyah. Seperti kebijakan yang diberlakukannya di tempat manapun, Chinggis menghancurkan siapa saja yang menentang penaklukannya dan meluluh-lantakkan tanah-tanah mereka. Tidak jelas bagaimana sisa-sisa ajaran Buddha masih berlanjut di Afghanistan pada masa ini. Chinggis bertepa-selira terhadap semua agama, selama para pemimpinnya mendoakan umur panjang dan keberhasilan tempur baginya. Pada 1219, misalnya, ia memanggil seorang guru Tao terpandang dari Cina ke Afghanistan untuk mengadakan upacara-upacara demi umur panjang dan untuk menyiapkan ramuan hidup abadibaginya.

Setelah kematian Chinggis pada 1227 dan pembagian kekaisarannya kepada para ahli warisnya, putranya Chagatai mewarisi kekuasaan di Sogdiana dan Afghanistan dan membangun Kekhaganan Chagatai. Pada 1258, Hulegu, cucu laki-laki Chinggis, menaklukkan Iran dan melengserkan Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad. Ia mendirikan Kerajaan Ilkhan (garis kerajaan ini disebut juga Wangsa Ilkhaniyyah) dan segera saja mengundang para biksu Buddha dari Tibet, Kashmir, dan Ladakh ke istananya di Iran sebelah barat laut. Ilkhaniyyah lebih kuat dari Kekhaganan Chagatai dan, pada awalnya, menguasai para sepupunya di sana. Karena para biksu Buddha harus melewati Afghanistan dalam perjalanan mereka ke Iran, mereka tentunya menerima dukungan resmi dalam perjalanan mereka.

Menurut beberapa cendekiawan, para biksu Tibet yang datang ke Iran kemungkinan besar berasal dari Aliran Drigung (Drikung) Kagyu dan alasan Hulegu mengundang mereka boleh jadi merupakan alasan politis. Pada 1260, sepupunya Khubilai (Kublai) Khan, penguasa Mongol atas Cina sebelah utara, menyatakan diri sebagai Khan Agung dari semua bangsa Mongol. Khubilai mendukung agama Buddha Tibet Aliran Sakya dan memberikan para pemimpinnya kekuasaan mutlak di atas Tibet. Sebelumnya, para pemimpin Drigung Kagyu memiliki kedudukan politik tinggi di Tibet. Pesaing utama Khubilai adalah sepupunya yang lain, Khaidu, yang menguasai Turkistan Timur dan mendukung garis Drigung Kagyu. Hulegu mungkin berniat untuk merapatkan diri ke Khaidu dalam persaingan kekuasaan ini.

Ada juga yang menduga bahwa alasan Khubilai dan Khaidu beralih ke aliran Buddha Tibet adalah untuk memperoleh sokongan gaib Mahakala, pelindung Buddha yang dipraktikkan oleh aliran Sakya dan Kagyu. Mahakala telah menjadi pelindung kaum Tangut, yang memerintah wilayah di antara Tibet dan Mongolia. Lagi pula, kakek mereka, Chinggis Khan, terbunuh dalam pertempuran dengan kaum Tangut, yang pastinya telah menerima pertolongan gaib. Kecil kemungkinan bahwa para pemimpin Mongol tersebut, termasuk Hulegu, memilih aliran Buddha Tibet karena ajaran-ajaran filsafatnya yang mendalam.

Setelah kematian Hulegu pada 1266, Kekhaganan Chagatai menjadi lebih merdeka dari kaum Ilkhan dan membentuk persekutuan langsung dengan Khaidu dalam perjuangannya melawan Khubilai Khan. Sementara itu, para penerus Hulegu berganti-gantian mendukung aliran Buddha Tibet dan Islam, yang rupa-rupanya juga didasari alasan keuntungan politik. Putra Hulegu, Abagha, melanjutkan dukungan ayahnya terhadap aliran Buddha Tibet. Akan tetapi, Takudar, saudara laki-laki Abagha, yang menggantikannya pada 1282, menjadi mualaf untuk memperoleh dukungan rakyat setempat saat ia menyerang dan menaklukkan Mesir. Putra Abagha, Arghun, mengalahkan pamannya dan menjadi Ilkhan pada 1284. Ia membuat Buddha menjadi agama negara Iran dan mendirikan beberapa wihara di sana. Ketika Arghun wafat pada 1291, adiknya Gaihatu menjadi Ilkhan. Para biksu Tibet memberikan nama Tibet Rinchen Dorje bagi Gaihatu, namun ia merupakan seorang pemabuk bobrok dan bukan satu contoh baik untuk agama Buddha. Ia memperkenalkan uang kertas ke Iran dari Cina, yang menyebabkan terjadinya bencana ekonomi di sana.

Gaihatu meninggal pada 1295, satu tahun setelah wafatnya Khubilai Khan. Putra Arghun, Ghazan, mewarisi tahta. Ia menyatakan kembali Islam sebagai agama resmi Wangsa Ilkhaniyyah dan menghancurkan wihara-wihara Buddha baru di sana. Beberapa cendekiawan menyatakan bahwa berpalingnya Ghazan Khan dari kebijakan keagamaan ayahnya adalah untuk membatasi diri dari reformasi dan keyakinan pamannya, dan untuk menyatakan kemerdekaannya dari Cina Mongol.

Terlepas dari perintahnya untuk menghancurkan wihara-wihara Buddha, tampaknya Ghazan Khan tidak berniat untuk menghancurkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ajaran Buddha. Contohnya, ia menugaskan Rashid al-Din untuk menulis Sejarah Semesta (Ar. Jami’ al-Tawarikh ), dengan corak Persia dan Arab. Di bagian sejarah kebudayaan bangsa-bangsa taklukan Mongol dari kitab tersebut, Rashid al-Din menyertakan Kisah Hidup dan Ajaran Buddha . Untuk membantu si sejarawan ini dalam penelitiannya, Ghazan Khan mengundang seorang biksu Buddha dari Kashmir, Bakshi Kamalshri, ke istananya. Seperti karya sebelumnya yang ditulis oleh al-Kermani, karya Rashid menyajikan ajaran Buddha dalam istilah-istilah yang dengan mudah dapat dipahami oleh umat Muslim; contohnya, dengan menyebut Buddha sebagai Nabi, dewa sebagai ilah dan malaikat, dan Mara sebagai Setan.

Rashid al-Din melaporkan bahwa di masanya, sebelas naskah Buddha dalam terjemahan Arabnya beredar di Iran; termasuk naskah-naskah Mahayana seperti Sutra tentang Larik dari Tanah Murni Sukacita (Skt. Sukhavativyuha Sutra , mengenai Tanah Suci Murni Amitabha), Sutra tentang Larik Bagai keranda (Skt. Karandavyuha Sutra , mengenai Avalokiteshvara, perwujudan welas asih) dan Suatu Karangan tentang Maitreya (Skt. Maitreyavyakarana , mengenai Maitreya, Buddha masa depan dan perwujudan kasih). Naskah-naskah ini tentunya merupakan bagian dari naskah-naskah yang diterjemahkan di bawah perlindungan para khalifah Abbasiyyah di Rumah Pengetahuan di Baghdad yang dimulai pada abad ke-8.

Rashid al-Din menyelesaikan buku sejarahnya pada 1305, selama masa pemerintahan Oljaitu, penerus Ghazan. Akan tetapi, tampaknya biksu-biksu Buddha masih ada di Iran setidaknya sampai pada kematian Oljaitu pada 1316, karena para biksu mencoba namun gagal untuk mengajak pemimpin Mongol kembali ke ajaran Buddha. Oleh karenanya, setidaknya sampai saat itu, para biksu Buddha masih bolak-balik melewati Afghanistan dan mungkin pula masih disambut di istana Chagatai.

Pada 1321, Kekaisaran Chagatai terbagi jadi dua. Kekhaganan Chagatai Barat mencakup Sogdiana dan Afghanistan. Sudah sejak awal, para khannya berpindah agama menjadi Islam. Wangsa Ilkhaniyyah di Iran pecah dan runtuh pada 1336. Setelah ini, tidak ada lagi tanda bagi berlanjutnya kehadiran ajaran Buddha di Afghanistan. Ajaran tersebut telah bertahan di sana selama hampir seribu sembilan ratus tahun. Akan tetapi, pengetahuan tentang ajaran Buddha tidak padam. Timur (Tamerlaine) menaklukkan Kekhaganan Chagatai Barat pada 1364 dan kemudian menaklukkan negara-negara kecil penerus Ilkhaniyyah pada 1385. Putra dan penerus Timur, Shah Rukh, menugaskan sejarawan Hafiz-I Abru untuk menulis dalam bahasa Persia Kumpulan Sejarah (Ar. Majma’ al-Tawarikh ). Selesai dikerjakan pada 1425 di Herat, ibukota Shahrukh di Afghanistan, kitab sejarah itu mengandung sebuah catatan tentang ajaran Buddha yang didasarkan pada karya Rashid al-Din seabad sebelumnya.

Oct 23, 2015

Kerajaan Tanah Kanaan

Kepemilikan tanah Kanaan dijanjikan oleh Tuhan kepada nabi Ibrahim (Abraham) pada kurun waktu 2000 SM. Tanah Kanaan ini luas wilayahnya meliputi Israel, Lebanon, Yordania, Suriah dan Sebagian Timur Laut Mesir. Sepeninggalnya nabi Ibrahim (Abraham) generasi penerusnya adalah Ismail (Bani Arab), Ishaq, Yaqub (Israel), Yehuda, Yusuf, Benyamin, Daud, Sulaiman (Solomon), Rehabeam (Suku Yehuda) dan Yerobeam (Suku Efraim, Yusuf).

Pada masa Rehabeam menjadi raja Israel (922-915 SM), Kerajaan Israel Serikat (bersatu) terpecah menjadi 2 kerajaan, yaitu Kerajaan Israel Utara (Samaria/Israel, yang dipimpin oleh Yerobeam) dan Kerajaan Israel Selatan (Yerussalem/Yehuda, yang dipimpin oleh Rehabeam). Dua kerajaan Israel ini pecah dilatar belakangi oleh :
  1. Nabi Sulaiman (Solomon) telah melanggar janji Tuhan Israel untuk tidak memperisteri wanita asing yang berpaham Polytheisme, sementara Solomon sendiri menganut ajaran paham Monotheisme (satu tuhan/satu Illah).
  2. Adanya Nubuat dari seorang Nabi Israel yang bernama Ahia, orang silo. Nubuat Ahia itu berisi tentang akan terbelahnya kerajaan Israel yang dipimpin oleh Solomon menjadi dua kerajaan Israel, yang disebabkan bangsa Israel sudah menyembah Illah lain akibat dari istri-istri Raja Solomon.
  3. Nubuat lain dari Ahia adalah, dari 2 kerajaan Israel tersebut, Yerobeam akan diberikan dan didukung oleh 10 Suku bani Israel dan Rehabeam akan didukung oleh 2 suku Bani Israel saja. Mendengar kabar nubuat dari Ahia ini, lalu raja Solomon memerintahkan untuk membunuh Yerobeam, usaha pembunuhan tersebut gagal, karena Yerobeam lari ke Mesir dan minta perlindungan (suaka) raja Firaun bernama Sisak, sampai wafatnya raja Solomon.
  4. Adanya kebijakan dari Raja Rehabeam (anak Solomon) yang membuat aturan pajak yang sangat memberatkan bagi suku bani Israel.
Sepeninggalnya Raja Rehabeam (anak Solomon), lalu generasi selanjutnya sampai ke tangan Abia, Asa, Yosafat, Yoram, Ahazia, Atalya, Yoas, Yosia (609SM), Yoahas, Elyakim (597 SM), dan Zedekia (586 SM). Sementara Raja Yerobeam (Suku Efraim, Yusuf anak Yaqub) generasi penerusnya hanya sampai ditangan Nadab (anak Yerobeam), pada tahun 909 SM raja Nadab pun tewas di bunuh oleh Baesa kemudian seluruh keturunan generasi Yerobeam pun musnah. Maka Kerajaan Israel Utara berpindah tangan tampuk kepemimpinannya ke tangan Raja Baesa (Keturunan Suku Isakhar, anak Yaqub), Baesa wafat pada tahun 877 SM. Posisi raja digantikan oleh anak Baesa yaitu Ela (raja ke 4 kerajaan israel utara Samaria). Raja Ela selama berkuasa dia memiliki dua orang panglima perang kerajaan yaitu Zimri dan Omri. Tapi Zimri mengkudeta raja Ela dan berhasil membunuh raja Ela. Dalam kudeta pemberontakan tersebut, semua keturunan laki-laki dari raja Ela dibunuh dan tak bersisa satupun generasi penerus dari Raja Ela. Zimri pun lalu menjadi Raja Israel Utara menggantikan Ela, tapi tak bertahan lama raja Zimri kemudian mati bunuh diri dengan cara membakar diri di dalam puri istananya sendiri, karena mendengar kota dan istananya telah direbut dan dikuasai oleh Omri (panglima perang setia raja Ela). Raja Zimri pun tewas lalu digantikan oleh Raja Omri. Dimasa kepemimpinan raja Omri ini lah Kerajaan Israel Utara yang semula berada di kota Tirza lalu dipindahkan kekota Samaria (Bit Omri). Kemudian raja Omri pun wafat pada tahun 869 SM, lalu digantikan oleh anaknya yang bernama Ahab. Raja Ahab adalah raja ke-8 kerajaan Israel Utara (Samaria), Raja Ahab adalah seorang raja lemah yang selalu dikuasai dan dipengaruhi oleh isterinya yaitu Izebel (Puteri Etbaal, raja orang Sidon). Tetapi meskipun begitu, raja Ahab merupakan pengikut setia Nabi Elia (Ilyas), Ahab selalu mendengarkan perkataan Nabi Elia untuk berbakti kepada Tuhan Israel. Sementara itu Izebel isterinya raja Ahab adalah penyembah berhala-berhala, Ahab akhirnya lemah dan dikuasai oleh Izebel (sang raja takut isteri). Akhirnya kerajaan Israel jatuh ditangan Izebel, kemudian Tuhan mengutus Nabi Elia (Ilyas) tadi untuk menentang Izebel dan Raja Ahab. Sepeninggal Raja Ahab dan Izebel, tahta kerajaan dikuasai oleh putra raja Ahab yaitu Ahazia (Raja Ke-9 Kerajaan Israel Utara Samaria). Pada masa raja Ahazia memerintah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Raja Moab (Kerajaan Moab yang berada di pegunungan timur dan tenggara Laut Mati, Yordania). Raja Moab tidak lain adalah keturunan dari Lot (Nabi Luth, keponakan dari Ibrahim). Dalam ajaran agama Islam Lot (Nabi Luth) tak memiliki keturunan laki-laki, hanya memiliki 2 orang anak perempuan saja (Puteri Sulung dan Bungsu). Sementara dalam Torah (Taurat), Lot memiliki keturunan laki-laki dari hubungan badan kedua puteri sulung dan bungsunya itu. Kedua puteri Lot tersebut khawatir dan kasihan akan penerus keturunan dari ayah mereka, akhirnya mereka memberikan minuman anggur kepada ayah mereka sampai Lot mengalami mabuk berat, setelah itu terjadi lah hubungan badan antara anak dan ayah. Puteri Sulung melahirkan seorang putera bernama Moab dan puteri bungsu melahirkan putera bernama Amon.

Pemberontakan Raja Moab pun berhasil terhadap raja Ahazia, akhirnya Ahazia pun mati ditangan Moab, tapi malangnya raja Ahazia tak memiliki keturunan laki-laki sebagai penerus kerajaannya nanti. Pemberontakan Moab tersebut dapat ditaklukkan oleh Yoram. Maka sepeninggal Raja Ahazia digantikan oleh saudara kandungnya yaitu Yoram (Raja ke-10 kerajaan Israel Utara, Samaria). Raja Yoram dan Ahazia ini merupakan keturunan dari dinasti Raja Ahab tadi. Setelah kematian raja Yoram pada tahun 842 SM, keturunan dan dinasti Raja Ahab pun pupus dan berakhir. Selanjutnya Kerajaan Israel Utara dipegang kendali oleh Raja Yehu (Raja ke-11 kerajaan Israel Utara, Samaria). Yehu tak lain merupakan seorang Panglima perangnya raja Yoram.

Berikut akan dipaparkan silsilah (Genealogi) raja-raja kerajaan Israel Utara (Samaria) : Yerobeam I · Nadab · Baesa · Ela · Zimri · Tibni · Omri · Ahab & Izebel · Ahazia · Yoram · Yehu · Yoahas · Yoas · Yerobeam II · Zakharia · Salum · Menahem · Pekahya · Pekah · Hosea (721 SM).

Selanjutnya Adalah Silsilah Raja-raja Kerajaan Israel Selatan (Yerussalem) : Rehabeam · Abia · Asa · Yosafat · Yoram · Ahazia · Atalya · Yoas · Amazia · Uzia (atau Azarya) · Yotam · Ahas · Hizkia · Manasye · Amon · Yosia · Yoahas · Yoyakim (atau Elyakim) · Yekonya (atau Yoyakhin) · Zedekia (587 SM).

Kemudian dibawah ini akan dipaparkan Silsilah Raja-raja Kerajaan Israel Bersatu : Saul · Isyboset · Daud · Salomo · Rehabeam.

Dua kerajaan Israel Utara dan Selatan masih berdiri kokoh dalam kurun waktu berabad-abad lamanya. Sampai pada kurun waktu 586 SM, tiba waktunya ekspansi besar-besaran yang dilakukan oleh Raja Babilonia Modern (Nebukadnezar II, Orang Kasdim). Maka berakhirlah kerajaan Israel (Yehuda Yerussalem) kemudian tanah Yerussalem ini dipimpin oleh seorang Gubernur atas perintah dari Raja Nebukadnezar II. Ke-12 suku bangsa Israel kemudian eksodus (suaka) ke tanah Parsi (Iran), dan sebahagian lagi ke pembuangan Babilonia (Iraq), karena seluruh tanah Kanaan yang dimiliki oleh 12 suku bani Israel ini telah dikuasai oleh Nebukadnezar II. Perlu untuk diketahui, bahwa tanah Kanaan ini luas sekali cakupan wilayahnya, mulai dari Israel, Lebanon, Yordania, Suriah sampai sebagian kecil Mesir timur laut. Tak heran tanah Kanaan ini juga merupakan tanah yang telah dijanjikan oleh Tuhan Israel kepada 12 suku penerus bani Israel (Yaqub). Tak ada jalan lain bagi ke 12 suku bani Israel tersebut untuk menetap di Parsi (Iran) dan di tanah pembuangan bani Israel Yaitu Babel (Iraq).

Sampai pada era kepemimpinan Raja Koresh Yang Agung atau sering dikenal dengan nama CYRUSS THE GREAT, dari kerajaan Parsi (Iran) melakukan penaklukkan dan invansi besar-besaran ke tanah Babel, kerajaan Babilonia Modern (Neo Babilonia) yang dipimpin oleh raja NEBUKADNEZAR II. Raja Cyruss The Great menguasai tanah babilonia (Babel) kemudian membebaskan semua keturunan suku bani Israel yang ada dikota tersebut.

Berikut adalah daerah kekuasaan Raja Cyruss The Great dari Kerajaan Persia (Parsi, Iran) :
  • Kerajaan Media (wilayah Iran sekarang ini) dan provinsi Persis di barat daya Iran
  • Kerajaan Babilonia di Mesopotamia (wilayah Irak sekarang ini)
  • Suriah dan Palestina
  • Mesir
  • Beberapa daerah di timur laut dari kerajaan Media (Asia Tengah), didapatnya dari menaklukkan Massage Tae, suku nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Kaspia
  • Kerajaan Lidia di Asia Kecil (wilayah Turki sekarang ini)
  • Sebagian negara Pakistan dan Afganistan sekarang ini
  • Sedikit daerah India.
Demikianlah ulasan sejarah kerajaan Israel yang dipimpin oleh anak keturunan dari suku bani Israel yaitu Yaqub. Selama dua kerajaan Israel tersebut berdiri, para raja diantara kedua belah pihak kerajaan saling jatuh menjatuhkan, memberontak dan membunuh untuk memperebutkan tanah kekuasaan kerajaan Israel. 

Zaman Perang Salib (1095 - 1291 M)

Awal mula Perang Salib adalah perang defensif bukan ofensif. Selama lima abad lamanya, Timur Tengah merupakan bagian dari Israel-Palestina, Yordan, Mesir, Lebanon dan Syria yang adalah wilayah Kristen. Hal itu terjadi karena pemberitaan Injil yang menyebabkan pertobatan penduduk dan para penguasa. Oleh karena itu, setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen, maka agama Kristen berubah menjadi kekuatan politik, sehingga makin lama semakin kehilangan kuasa rohaninya. Ke dalam situasi seperti ini, maka tentara jihad dari Arab Saudi mengubah peta politik dan agama utama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara. Perubahan ini terjadi melalui penumpahan darah dan pembantaian terhadap banyak sekali orang Kristen.

Alasan pertama Perang Salib adalah untuk membela dan membebaskan orang-orang Kristen yang dijajah oleh orang-orang Islam. Sebagaimana sudah kita selidiki dan ketahui bahwa dalam waktu kurang dari satu abad Islam berhasil merebut dua pertiga dari dunia Kristen: Palestina, Syria, Mesir, Turki, Spanyol, Portugal dll. Di bawah Khalifah Fatimid Kalif al-Hakim, dua ribu gereja dihancurkan termasuk Gereja Makam Kudus pada tahun 1009. Jadi, Paus Innocent III menulis: “Apakah kamu tidak tahu bahwa ribuan orang Kristen diperbudak dan ditawan oleh orang Islam, disiksa dengan siksaan yang tak dapat terhitung?” Itulah sebabnya, Perang Salib dianggap sebagai kewajiban umat Kristen untuk mengungkapkan kasih mereka kepada saudara-saudaranya yang menderita dan untuk mengungkapkan kasih kepada Kristus. Pada waktu itu, Islam dipandang sebagai musuh Kristus dan Gereja. Tujuan dari Perang Salib adalah untuk mengalahkan Islam dan membebaskan umat Kristen dari jajahannya. Berdasarkan pada pandangan itu, maka Gereja membuat sumpah kudus sehingga banyak orang yang rela berangkat ke Israel untuk memerdekakan Tanah Kudus dari tangan orang Islam.

Sebab kedua terjadi Perang Salib, adalah supaya umat Kristen merebut kembali Yerusalem, kota kudus, dari tangan dan kuasa orang Islam. Sejak Konstantin, banyak orang Kristen berziarah ke Tanah Suci. Walaupun daerah itu dikuasai oleh Islam sejak tahun 638, mereka masih bisa mengunjunginya. Tetapi pada abad kesebelas, orang Seljuk dari Turki menguasi Yerusalem dan melarang kunjungan Umat Kristen ke sana.

Jadi, pada tahun 1095, Paus Urban II menyerukan adanya Perang Salib untuk menghentikan serangan Islam terhadap wilayah-wilayah Kristen. Dalam pidatonya di Musyawarah Clermont di Perancis pada November 27, 1095, ia memanggil orang Kristen dari semua Negara Kristen untuk berziarah ke Tanah Suci dan mengadakan Perang Salib. 

Tujuh Perang Salib
  • Yang pertama, 1095-1099, dicanangkan oleh Paus Urban II
  • Yang kedua: 1147-1149, dipimpin oleh Raja Louis VII yang gagal, dan yang mengakibatkan kehilangan salah satu dari empat Kerajaan Latin, yaitu, Edessa.
  • Yang ketiga: 1188-1192, dicanangkan oleh Paus Gregory VIII sesudah kegagalan perang salib yang kedua. Dipimpin oleh Emperor Frederick Barbarossa, Raja Philip Augustus dari Perancis dan Raja Richard "Coeur-de-Lion" dari Inggris.
  • Yang keempat: di mana Konstantinopel dihancurkan, 1202-1204
  • Yang kelima: termasuk yang direbutnya Damietta, 1217-1221.
  • Yang keenam: di mana Frederick II ikut berperang (1228-1229); juga Thibaud de Champagne dan Richard dari Cornwall (1239).
  • Yang ketujuh: dipimpin oleh St. Louis (Raja Louis IX dari Perancis), 1248-1250. 
Kerajaan Perang Salib (1099 sampai 1187)

Pada tahun 1099, Yerusalem diduduki oleh para Laskar Salib. Banyak orang Yahudi yang dibunuh dan hampir semua diusir. Ada empat “Kerajaan Krusader” yang didirikan di Israel pada waktu itu. Salah satu Kerajaan Krusader didirikan di Yerusalem dan Baldwin I diangkat sebagai Raja Yerusalem. Selama adanya kerajaan itu, banyak sekali perubahan yang terjadi di Yerusalem dan sekitarnya. Orang-orang Yahudi diusir, sehingga mayoritas penduduk Yerusalem menjadi orang Kristen. Yerusalem menjadi kota besar, ibu kota kerajaan, bahkan menjadi kota penting bagi orang Kristen. Jadi, terjadilah perubahan besar dari yang sebelumnya hanya merupakan sebuah kota kecil di pedalaman.

Banyak pembangunan terjadi pada masa itu yang menghasilkan gedung-gedung besar dan membentuk tata kota yang masih bertahan bentuknya sampai sekarang. Yang paling utama dibangun adalah gereja, biara dan asrama bagi peziarah. Dome of the Rock diubah fungsinya dari mesjid menjadi gereja, mesjid al-Aqsa, diberi nama baru, Bait Salomo, dan menjadi tempat tinggal raja. Harus diakui bahwa walaupun awalnya Perang Salib bersifat defensif, makin lama semakin jahatlah perbuatan yang dilakukan oleh Tentara Salib, termasuk pembunuhan atas banyak orang Yahudi dan Muslim. Karena itu, tanggapan umum yang terjadi di hampir semua kalangan terhadap Perang Salib sampai masa kini adalah sangat negatif. 

Dampaknya atas orang Yahudi

Walaupun banyak orang Yahudi yang dibunuh dan diusir dari Yerusalem, tetapi masih ada yang tetap tinggal di daerah Palestina dan sekitarnya. Pada 1165, Benjamin dari Tudela, seorang Spanyol yang terkenal, melaporkan bahwa "Akademi Yerusalem" sudah didirikan di Damsyik. Meskipun banyak orang Yahudi yang diusir dari Jerusalem, Acre, Kaisaria dan Haifa, tetapi masih ada yang tetap tinggal di desa-desa di Galilea.

Pada abad ketigabelas, Acre juga memiliki suatu akademi Yahudi. Dilaporkan bahwa selama abad keduabelas dan ketigabelas, masih ada orang-orang Yahudi yang tetap masuk daerah Palestina dari daerah Islam lain, khususnya dari Afrika Utara. 

1187 -1291 Zaman Islam di bawah Khalifah Ayyoubite

Pada tahun 1187, Salah al-Din (Saladin) seorang Kurdi, sesudah mendirikan pemerintahan Abbasid atas Fatimid Mesir, ia merebut kota Yerusalem dalam Perang Hattin. Tentaranya mengalahkan tentara Kristen dan kota-kota Kristen lain pun mulai menyerah. Benteng Krusader terakhir, yakni Acre pun jatuh pada tahun 1291. Pada waktu itu, tidak ada lagi sisa-sisa kerajaan dari Perang Salib karena semuanya dibunuh atau pun diusir. Walaupun ada berbagai usaha dan rencana lagi, namun orang Kristen tidak pernah lagi berkuasa di daerah itu sampai abad kesembilanbelas.

Akhirnya, orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam diizinkan untuk kembali tinggal di Yerusalem. Pada tahun 1192, Richard “the Lion Heart” berusaha merebut kembali Yerusalem, namun tetap gagal. Jadi, diadakanlah perjanjian dengan Salah al-Din (Saladin) yang mengizinkan orang Kristen mengunjungi dan beribadah di tempat-tempat kudus mereka. Sesudah Yerusalem direbut kembali, Salah al-Din tidak mau membunuh penduduknya dan juga tidak menghancurkan gedung-gedungnya. Ada usaha besar dari orang Kristen selama Perang Salib untuk menghapuskan tanda penguasaan Islam di sana, tetapi tidak bisa. Di dalam pemerintahan baru Islam, gedung seperti Dome of the Rock, dijadikan mesjid lagi dan banyak gedung lain dijadikan sebagai institusi Islam.

Ketika Salah al-Din diancam dengan Perang Salib ketiga, ia membangun kembali tembok Yerusalem. Namun pada tahun 1219, al-Malik al Mu’azzam ‘Isa, memerintahkan agar tembok tersebut dihancurkan kembali. Pada waktu itulah hampir semua penduduk Yerusalem meninggalkan kota tersebut. Sampai zaman Ottoman, 320 tahun kemudian, kota Yerusalem tetap tidak memiliki tembok.

1244, Orang Turki Khawariz merebut Yerusalem.

Waktu orang Turki Khawariz merebut Yerusalem, sekitar 7.000 orang Kristen yang tinggal di Yerusalem dibunuh selain 300 orang yang lari ke Yafa. Bukan hanya itu, serentetan serangan di seluruh daerah itu dari orang Mongol yang menyebabkan banyak penduduk mengungsi untuk mencari ke tempat yang aman. Pada tahun 1260, orang-orang Mamluk mengalahkan orang-orang Mongol pada Perang Ein Jalut di Lembah Yizril di depan Lembah Harmagedon. Setelah terjadinya serangan Khawariz dan Mongol, maka kota Yerusalem hampir kosong dan tidak berpenduduk. Hanya sesudah orang Mamluk menetapkan pemerintahan, maka kota itu dapat diduduki lagi. Tapi, karena pemerintahan Mamluk tidak mengembangkan ekonomi Yerusalem, maka kota itu tidak berkembang. Ia hanya membangun institusi agamawi, seperti mesjid, madrasah, zawia (biara), khanakah (pusat mistik Sufi) dan rumah sakit.

Setelah semua peristiwa itu terjadi, maka Yerusalem bukan lagi menjadi ibu kota kerajaan. Karena itulah, Yerusalem kembali menjadi kota kecil di pedalaman yang tanpa tembok dengan penduduknya sangat sedikit. Keadaan seperti inilah yang terus-menerus terjadi di Yerusalem sampai awal abad ke-20.

Nama Dan Tugas Malaikat Dalam Alkitab

Allah adalah kebenaran sejati dan itu yang terjadi ketika mempelajari firman Allah yang tertulis dalam Alkitab. Semakin dalam mempelajari semakin terbukti bahwa memahami Alkitab dengan menerapkan evaluasi rasional dan analitis akan gagal memahami kebenaran sejati itu. Karena berhubungan dengan Allah tidak melalui otak kita, melainkan dengan roh yang ada pada jiwa kita. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24).

Ketika menuliskan tentang "Mencari Iblis" ini, ada yang menyarankan saya untuk belajar teologi tingkat awam agar mengerti bahasa asli Alkitab, dan saya tidak menolaknya juga tidak menurutinya, saya hanya merasa aneh. Untuk mengenal Allah apakah penting MENGUASAI bahasa Ibrani dan Yunani? Apakah seseorang yang sudah meraih gelar Ph.D. di bidang Teologi dan gelar-gelar akademis lainnya menjadi jaminan akan membawa banyak kehangatan rohani? Apakah memiliki gelar-gelar terhormat itu berarti memiliki urapan atau kuasa surgawi?

Bukankah kita sebagai umat Allah seharusnya tidak perlu mengagungkan gelar atau jabatan, tetapi lebih penting menjaga agar Injil TETAP MUDAH DIPAHAMI dan SEDERHANA, seperti yang dikehendaki Tuhan? Sebagai anak Allah, Roh Kudus tinggal dalam diri kita, tentu Dia akan memimpin kita kepada segala kebenaran. Bukankah hal ini merupakan pencerahan rohani yang membuat seseorang melihat dengan lebih jelas, tanpa perlu meraih gelar-gelar terhormat itu? Dengan adanya ALKITAB ELEKTRONIK sangat membantu semua orang dalam mempermudah kita untuk belajar Alkitab, bukankah ini karunia yang luar biasa dari Allah?

Rohlah yang memberi hidup,daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.(Yoh. 6:63).

Puncak ciptaan Allah adalah manusia, para malaikat tidak dapat mandat atas otoritas bumi. Manusia adalah peringkat tertinggi, itulah kebenaran yang tertulis dalam Alkitab. Bahkan Rasul Paulus mengatakan akan menghakimi malaikat. Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari. (1 Kor.6:3). Walau para malaikat ada yang ditugaskan selama 
manusia hidup di bumi atas perintah Allah, namun kita akan menghakimi para malaikat itu, entah malaikat yang jatuh atau malaikat lainnya, Alkitab tidak menjelaskannya.

apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia , sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat (Mzm. 8:5-6).

Ayat di atas semakin meneguhkan bahwa manusia berada pada posisi yang lebih tinggi dari malaikat. Dan ketika Sang Firman, yang semula bersama Allah dalam persekutuan dan kesatuan, mengambil rupa sebaga manusia untuk menebus umat manusia yang terhilang untuk kembali menjadi milik Allah. Allah dan manusia menjadi satu dalam diri Yesus Kristus. Dan Dia adalah pengantara antara Allah dan manusia, karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantaranya.

Dengan demikian penafsiran bahwa Iblis adalah penguasa dunia tidak benar. Lalu dimanakah kerajaan Iblis itu? Apakah di Sheol (neraka)? Ataukah Iblis itu tidak punya kekuasaan sama sekali? Dalam Matius 12:26 disebutkan,

Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, iapun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Artinya Iblis ada kerajaannya dan roh-roh jahat tunduk kepadanya, tapi Tuhanlah yang memberi izin kepada Iblis untuk bergerak dan beroperasi di bawah perintah dan batasan Allah. Namun apakah NERAKA itu kerajaannya Iblis? Bisa jadi, tapi perlu diingat bahwa Neraka juga diperintah Allah. Allah adalah penguasa neraka, bukan Iblis. Allah adalah penguasa segala sesuatu, termasuk surga dan neraka, coba simak Matius 25:41,46.

Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku,hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api   yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Lalu siapa yang dimaksud malaikat-malaikat yang berhasil dihasut mengikuti Iblis itu?

Kembali kita menelusuri para malaikat yang ada dalam Alkitab. Malaikat Gabriel nama itu berarti UTUSAN ALLAH, ia diutus untuk menyampaikan kabar gembira atau diperkenalkan sebagai pengajar untuk memahami penampakan dan kebijaksanaan. Malaikat Gabriel berpenampilan santun dan mengagumkan, itulah yang membuat Zakharia dan Maria terkejut.

dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: "Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!"(Dan. 8:16).

sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: "Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti(Dan. 9:21-22)

Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.(Luk.1:11-13)

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.(Luk. 1:26-27).

Gabriel sebagai pengajar dan pembawa kabar gembira, juga menjadi pembimbing pada sikap iman yang harus dikembangkan oleh tokoh yang mau dekat dengan Allah. Namun Gabriel sekaligus bisa menjatuhkan SANKSI sebagai tanda kuasa Ilahi.

Malaikat Mikael mengandung arti SIAPA SEPERTI ALLAH? Figurnya ditampilkan sebagai pembela kebenaran dan pelindung mereka yang terancam. Ia adalah pejuang yang siap membela kedaulatan Ilahi dan pelindung jemaat Allah. Perjuangannya melawan Iblis tetap ditempatkan dalam posisi sebagai hamba Allah.

Tetapi penghulu malaikat,Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa,  tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!"(Yud. 1:9)

Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku ; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia.Namun demikian, aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran.  Tidak ada satupun yang berdiri di pihakku dengan tetap hati melawan mereka, kecuali Mikhael, pemimpinmu itu, (Dan. 10:13,21).

"Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael,pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.(Dan.12:1).

Maka timbullah peperangan di sorga . Mikhael  dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,(Why. 12:7).

Namun jangan menganggap bahwa nama-nama Mikael di Alkitab selalu menunjuk pada malaikat, bisa-bisa mengulangi kembali seperti tafsiran bintang timur adalah Lucifer, coba simak ayat-ayat di bawah ini, nama-nama Michael di sini tidak menunjuk kepada sosok malaikat.

dari suku Asyer: Setur bin Mikhael;(Bil. 13:13).

Saudara-saudara mereka menurut puak-puak mereka ialah Mikhael, Mesulam, Syeba, Yorai, Yakan, Ziya dan Eber, tujuh orang. Itulah anak-anak Abihail bin Huri bin Yaroah bin Gilead bin Mikhael bin Yesisai bin Yahdo bin Bus.(1 Taw.5:13-14)

bin Mikhael bin Baaseya bin Malkia (1 Taw. 6:40).

Keturunan Uzi ialah Yizrahya dan anak-anak Yizrahya ialah Mikhael, Obaja, Yoel dan Yisia, lima orang, semuanya mereka adalah kepala-kepala. (1 Taw. 7:3).

 Mikhael, Yispa dan Yoha ialah anak-anak Beria.(1 Taw.8:16)

untuk suku Yehuda ialah Elihu, salah seorang saudara Daud; untuk suku Isakhar ialah Omri bin Mikhael;(1 Taw.27:18).

Saudara-saudaranya, anak-anak Yosafat, ialah: Azarya, Yehiel, Zakharia, Azariahu, Mikhael dan Sefaca. Mereka semua anak-anak Yosafat, raja Israel.(2 Taw. 21:2)

dan dari bani Sefaca: Zebaja bin Mikhael, dan bersama-sama dia delapan puluh orang laki-laki; (Ezr 8:8).

Malaikat Rafael namanya berarti ALLAH MENYEMBUHKAN. Dalam Kitab Tobit peranan Rafael dilukiskan mengajak keluarga Tobit untuk melambungkan pujian dan doa bagi Allah, yang telah mengaruniakan banyak hal dalam hidup mereka. Dalam kehidupan iman bangsa Rafael dianggap sebagai pemandunya.

"Jangan takut; damai sejahtera dengan kamu. Pujilah Allah selama-lamanya! Waktu aku ada dengan kamu, maka bukan karena kerelaanku sendirilah terjadi demikian, melainkan karena Allah. Maka pujilah Dia seumur hidup, bernyanyi-nyanyilah kepada-Nya! Telah kamu perhatikan bahwa aku tidak makan apa-apa. Hanya suatu penglihatan yang kamu lihat. Oleh sebab itu, pujilah Tuhan di atas bumi dan muliakanlah Allah! Camkanlah! Aku naik kepada Dia yang mengutus aku. Tuliskanlah semuanya yang telah terjadi pada kamu." (Tobias 12:17-29).

Dari ayat di atas Rafael merupakan salah satu tokoh Malaikat Agung yang tidak hanya sebagai teman sejati dalam suka duka perjalanan hidup, namun mampu menyembuhkan bukan hanya dalam hal fisik, melainkan juga terhadap kelemahan rohani.

Malaikat Raguel namanya ini berarti TEMAN ALLAH, perannya sebagai pelindung keluarga, menjaga keselamatan seluruh keluarga jangan sampai mengalami bencana. Ia juga berperan dalam menjaga kesucian perkawinan agar jangan hanya didorong oleh nafsu syahwat sehingga menghilangkan nilai kemanusiaan yang utuh. Dalam Bilangan 10:29 disebutkan sebagai nama mertua Musa, Rehuel orang Midian.

Malaikat Uriel atau Phanuel berarti CAHAYA ALLAH. Inilah MALAIKAT TERANG atau sebagai pembawa cahaya bagi Israel, sumber utamanya dari Kitab Henokh. Disebutkan sebagai utusan Allah bagi Nuh. Juga dipakai sebagai nama yang sama pada zaman Daud sebagai salah satu anak Kohat (1 Taw. 6:24). Juga sebaga nama warga di Gibeah (2 Taw. 13:2). Ketika Iblis menyamar menjadi malaikat terang, apakah malaikat Uriel yang ditirunya? Karena Malaikat Terang diutus Allah untuk memberikan terang iman kepada manusia sebagai anugerah istimewa. Sementara Iblis menyamar bermaksud menyesatkan anugerah istimewa itu, apakah 
malaikat Uriel sangat tepat sebagai pilihan untuk menyembuyikan jati dirinya?

Dalam Kitab Henokh para malaikat yang memberontak disebutkan sebagai MALAIKAT PENGINTAI. Dan malaikat Semyaza adalah pimpinan dari semua komandan malaikat pengintai itu, yang melakukan pemberontakan kepada Allah dengan menginginkan anak-anak perempuan yang rupawan dan cantik untuk diperistrinya. Inilah menurut saya pelanggaran para malaikat di langit, melanggar ketetapan-Nya sebagai malaikat. Apakah Iblis ini malaikat Semyaza yang memberontak itu? Karena kisah ini diambil dari Kitab Henokh, barangkali tidak dijadikan standard 
pemahaman para ahli tafsir Alkitab. Tetapi memilih malaikat Semyaza sebagai Iblis lebih menarik kisahnya daripada memilih bintang timur Lucifer sebagai Iblis, apakah sudah ada yang mengajarkan hal demikian? Saya tidak tahu.

Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu   dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus , yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. (1 Ptr. 1:12)

Ayat di atas menunjukkan bukti bahwa malaikat tidak diperbolehkan Allah untuk berbuat diluar kodratnya dan ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa para malaikat mempunyai minat yang besar tentang berita keselamatan dan pengalaman kelahiran baru. Karena pada dasarnya malaikat tidak dapat dilahirkan kembali, karena memang itu bukan pilihan yang Allah berikan kepada malaikat-malaikat itu. Malaikat telah murni dan 
kudus, sehingga tidak diciptakan untuk mengalami rencana penebusan. Inilah yang coba saya pahami  menjadi sebab Iblis dan malaikat-malaikatnya dikutuk selamanya saat ia memberontak melawan Allah. Tipu daya Iblis telah meluluhkan 1/3 malaikat untuk menolak memuji dan menyembah Allah, kapan itu terjadi?

Fallen Angels

Menurut Kitab Enoch/Henokh (Muslim's name : Idris). Ada 200 malaikat yang jatuh ke Bumi, disebut "Fallen angels" atau "The Sons of God".Beberapa diantara mereka adalah kelompok "Pengintai"/The Watchers/Grigori (Aramik, עִיר., Yunani ἐγρήγοροι). The Watcher merupakan kelompok pengintai yang diutus Tuhan untuk memantau kehidupan dibumi secara langsung. Cucu Adam yang bernama Henokh mencatat dengan rinci kejadian itu, namun nama malaikat-malaikat yang ia catat hanya para pemimpinnya saja.

Nama-nama malaikat yang ada dalam catatannya yaitu : 

1. Azazel (Arab: عزازيل 'Azazil Hebrew: עֲזָאזֵל, Azazel)

Azazel dahulu adalah salah 1 malaikat yang menyembah Allah dari antara jajaran para malaikat. Pada suatu waktu dia membantah perintah Allah untuk sujud kemudian menggoda Hawa untuk memakan buah dari pohon terlarang. pada saat itu ia berjanji untuk menggoda manusia ke dalam dosa dan memimpin mereka semua yang tersesat , mereka yang lalai dari tanda-tanda Allah (Tuhan). Kata Setan sendiri berarti "putus asa" dan Azazil sendiri berarti putus asa dari rahmat Allah, sehingga dia produktif dengan gelar itu. 

Menurut Kitab Henokh yang membawa Azazel ke dalam hubungan dalam kisah Bibel "jatuhnya para malaikat", terletak di Gunung Hermon, tempat pertemuan para setan dan the watcher (para pengintai) (Henokh xiii,. Membandingkan Brandt, "Mandäische Theologie," 1889, hal. 38). Azazel diwakili dalam Kitab Henokh sebagai salah satu pemimpin pemberontak di kerajaan surga, ia mengajar manusia di bumi seni perang, pembuatan pedang, pisau, perisai, dan baju besi, dan mengajari perempuan seni penipuan dengan menghiasi tubuh, rambut, melukis wajah dan alis, dan mengungkapkan kepada orang-orang rahasia sihir, dan juga memimpin mereka ke dalam kejahatan dan kenajisan. Sampai pada akhirnya Tuhan memerintahkan Archangel Raphael untuk mengikat tangan dan kakinya kemudian dirantai ke batu raksasa, di mana ia harus tinggal di dalam gelap gulita sampai hari kiamat tiba, ketika ia akan dilemparkan ke dalam api untuk dibinasakan selamanya. (Enoch viii 1, ix 6, x 4-6, liv 5 1;lihat Geiger,"Jud Zeit"1864,hlm196-204).
"Seluruh bumi telah rusak melalui karya-karya yang diajarkan oleh Azazel: Dia (Yahweh) menganggap semuanya itu dosa. " (1 Henokh 10:08)

Menurut 1 Henokh (buku Apocrypha), Azazel adalah salah satu kepala Grigori/The Watchers. Sekelompok malaikat yang jatuh dan menikah dengan wanita di bumi. Ini cerita yang sama (tanpa menyebutkan Azazel) diceritakan dalam kitab Kejadian 6:2-4 "maka anak-anak Allah (Fallen Angel) melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka [...] Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah (Fallen Angel) menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan."

Dalam kitab 1 Henokh menggambarkan Azazel bertanggung jawab mengajar manusia untuk membuat senjata dan kosmetik. 1 Henokh 08:01-03a berbunyi: "dan Azazel mengajar manusia untuk membuat pedang dan pisau dan perisai dan breastplates, dan diberitahukan kepada mereka logam [bumi] dan seni bekerja mereka, dan gelang dan ornamen, dan penggunaan antimon dan mempercantik dari kelopak mata; dan segala macam batu mahal dan semua tincture mewarnai. Kemudian muncullah banyak kefasikan, sehingga mereka berzinah, disesatkan dan menjadi korup dalam segala hal."

Perlakuan yang disebabkan oleh Azazel sangat merendahkan umat manusia. Malaikat Michael, Gabriel, dan Raphael melihat banyak darah yang ditumpahkan diatas bumi dan semua pelanggaran hukum yang ditimbulkan diatas bumi dan berkata "Bawalah tujuan kita sebelum Mahatinggi  Tidakkah kamu perhatikan apa yang Azazel lakukan, siapakah yang mengajarkan segala kejahatan di bumi dan mengungkapkan rahasia abadi yang berada di surga" 

Allah melihat dosa dibawa oleh Azazel. Raphael-pun bertindak menangkap Azazel dan melemparkan dia ke dalam kegelapan. Raphael kemudian membuat sebuah lubang di padang pasir - di wilayah Dudael - dan melempar Azazel kedalamnya kemudian menutupi dia dengan kegelapan dan membiarkannya tinggal di sana selamanya. Raphael memastikan bahwa dia tidak dapat melihat cahaya lagi.

Nasib Azazel yang diramalkan pada akhir 1 Henokh 2:8, di mana Allah berkata, "Pada hari penghakiman besar ia akan dilemparkan ke dalam api. Seluruh bumi telah rusak melalui karya-karya yang diajarkan oleh Azazel: Dia (Yahweh) menganggap segalanya itu adalah dosa ".

Azazel juga dikenal sebagai baphomet yaitu suatu sosok imajinasi dewa pagan yang dihidupkan kembali pada abad ke-19 sebagai figur okultisme dan satanisme.

2. Araqiel (Aramik: פלא פקתן, Yunani: ‘Αραθάκ Κιμβρά)

Araqiel adalah salah satu malaikat yang jatuh merupakan Watcher ke-2 yang disebutkan dalam Kitab Henokh. Beberapa sumber mendaftarnya sebagai Araqiel atau Arâkîba dan merupakan yang kedua dalam daftar pemimpin dari sekelompok 200 malaikat yang jatuh yang disebut Grigori atau "Para Pengintai." Namanya berarti "Bumi Tuhan," dan dalam Kitab Henokh dia mengajarkan "tanda-tanda di Bumi" (yang memberi kesan geomansi) selama masa/zaman kehidupan Yared. Araqiel juga disebut Aretstikapha berarti "dunia yang terkotori" [kombinasi arets + kafah] di pasal 69. Namanya biasanya diartikan Tanah Tuhan; kombinasi araq (berasal dari bahasa Babilonia) dan 'El' (Tuhan). Michael Knibb mendaftarnya sebagai kombinasi dua nama "negri dia yang perkasa” atau “negri itu perkasa”.

3.Samyaza (Aramaic: שמיחזה, Yunani: Σεμιαζά)

Samyaza juga Semihazah, Shemyazaz, Sêmîazâz, Semjâzâ,Samjâzâ, Shemyaza, Shemhazai, dan Amezarak (perubahan dalam bahasa Ethiopia) adalah malaikat yang jatuh dalam tradisi Kekristenan yang pernah ditempatkan dalam hirarki surgawi sebagai salah satu Grigori (berarti "Para Pengintai"/the watcher ). Nama 'Shemyazaz' berarti 'pemberontakan bernama buruk', kombinasi dari 'syem' berarti 'nama' atau 'popularitas' (baik positif atau negatif) + 'azaz' yang berarti 'pemberontakan' atau 'arogansi' sebagai sebuah partikel negatif. Hal yang menarik perhatian tentang intepretasi kedua adalah adanya kisah tentang Semjâzâ yang mengetahui secara eksplisit nama Tuhan dan tawar menawar dengan seorang Istahar untuk memberitahu nama itu padanya.

Menurut kitab Henokh Samyaza kemungkinan besar nama lain untuk setan yang awalnya merupakan identitas yang diciptakan dalam pelayanan Allah, ia adalah penjaga takhta Allah, namun kemudian jatuh dari langit karena kesombongannya sendiri menurut beberapa tradisi Ibrahim.

Samyaza tidak mungkin salah sebagai nama lain untuk setan, yang sebagian orang percaya artinya adalah "mengusir/terusir" dari langit sebelumnya (alasan yang ditawarkan meliputi penolakan untuk sujud kepada Adam ). Interpretasi poin dari Bible Wahyu 12: 9 dan Kejadian 6:4 menggambarkan bahwa Samyaza memiliki 2 objek/jiwa yang jatuh terpisah dari surga, ketika jatuh di bumi salah 1 jiwanya pengikut iblis (Wahyu 12:9) yang menyesatkan manusia di bumi, dan jiwa yang satunya lagi yang jatuh ke bumi adalah sebagai anak-anak Allah (Kej 6:4) yang memilih datang ke bumi untuk memperistri seorang manusia.

Dalam Kitab Henokh Samyaza digambarkan sebagai pemimpin ke-3 dari sebuah kelompok malaikat yang disebut Watchers. Samyaza memiliki hawa nafsu untuk wanita fana dan menjadi Malaikat Jatuh.

Didalam kitab Henokh Semyaza membuat sumpah yang mengikat dirinya sendiri dan kelompoknya.
"Dan Semyâzâ, yang adalah pemimpin mereka, berkata kepada mereka: Aku takut kamu tidak akan setuju untuk melakukan perbuatan ini, dan saya sendiri akan harus membayar hukuman dosa besar. Dan mereka semua menjawab dan berkata: . Marilah kita semua bersumpah, dan semua mengikat diri kita dengan kutukan bersama untuk tidak membuang rencananya ini tetapi untuk melakukan hal ini." Kemudian bersumpah mereka semua bersama-sama dan mengikat diri dengan kutukan mereka sendiri. (Henokh 6:3-5)

Allah-pun Geram dan memerintahkan malaikat Jibril ( Gabriel ) untuk menyebabkan manusia raksasa pada waktu itu mengobarkan Perang Saudara:

dan Tuhan berkata kepada Gabriel : 'Lakukanlah perlawanan terhadap orang-orang terkutuk itu, dan juga terhadap anak-anak zina itu: dan musnahkan [anak-anak percabulan dan] anak-anak dari Watchers itu dari semua laki-laki diantara mereka [dan menyebabkan mereka untuk pergi]: Buatlah agar mereka berperang satu sama lain sehingga mereka dapat saling menghancurkan dalam pertempuran: untuk hari yang panjang yang tidak pernah mereka miliki'. (Henokh 10:09)

4. Kokabiel (Aramaik: כוכבאל, Yunani: χωβαβιήλ)

Kôkhabîêl dianggap sebagai 'malaikat bintang, merupakan Pengintai (Watcher) ke-4 sekaligus pemimpin 200 malaikat yang jatuh yang disebutkan dalam Kitab Henokh. Namanya berarti "Bintang Tuhan," yang sesuai sejak dikatakan bahwa Kokabiel mengajarkan astrologi kepada kerabatnya. Kokabiel juga dikenal sebagai nama Tarotios oleh beberapa orang.

Menurut kitab "The Angel Raziel", Kokhabiel adalah malaikat suci. Dalam cerita Apokrif, dia termasuk malaikat yang jatuh ke bumi karena Kokhabiel dinyatakan mengumpulkan dan memimpin Tentara roh 365.000 jiwa melawan Michael, dimana roh itu harus diserahkan kepada Allah. Dalam peperangan itu, Michael menang dan melemparkan Kokhabiel ke bumi, sementara 365.000 jiwa roh yang tersesat itu dibawa ke hadapan takhta Tuhan untuk diadili.

5. Tamiel (Aramaic: Unknown, Greek: Ταμιήλ)

Tamiel adalah malaikat yang jatuh yang merupakan Watcher ke-5 dan sala satu pemimpin 200 malaikat yang jatuh dalam Kitab Henokh. Namanya umumnya diterjemahkan sebagai "kesempurnaan Tuhan" (kombinasi tamiym dan El-Allah) tetapi Tamiel juga disebut Kasdeja atau Kasyade (berarti "pengamat dari tangan") dalam Kitab Henokh, Bab 69.
Micheal Knibb menerjemahan Tamiel sebagai "God is Perfect" atau "Perfection of God." Tamiel mengajarkan anak-anak manusia tentang mengatasi semua serangan roh jahat, pengguguran embrio di dalam rahim, Serangan jiwa, gigitan ular, dan serangan ilmu sihir.

6. Ramiel (Aramaic: דעמאנל, Yunani: Ραμιήλ)

Ramiel adalah Watcher yang jatuh ke bumi dalam Kitab apokrif Henokh, salah satu dari pemimpin Watcher, dia disebutkan sebagai yang ke-6. Ramiel berarti "Thunder of God", berasal dari bahasa Ibrani elemen Ra'am dan El merupakan "Tuhan". Remiel adalah salah satu malaikat dari tradisi Kristen dan Islam, nama Ibrani yang berarti "rahmat Allah" atau "Kasih Allah" (lihat Yerahmeel).

Ada 20 pemimpin dalam Kitab Henokh, juga disebut 1 Henokh. Bagian yang menyebutkan mereka berbunyi:
"Dan ini adalah nama-nama pemimpin mereka: Sêmiazâz, Arâkîba, Râmêêl, Kôkabîêl, Tâmîêl, Ramiel, Danel, Êzêqêêl, Barâqîjâl, Asael, Armârôs, Batârêl, Anânêl, Zaqîêl, Samsâpêêl, Satarêl, Tûrêl, Jômjâêl, Sariel. . Mereka masing-masing memimpin 10 malaikat. " (- RH Charles terjemahan, Kitab Watchers, Bab VI.")

Seperti dijelaskan dalam 1 Henokh, itulah pemimpin 200 malaikat yang berubah menjadi malaikat jatuh karena mengikuti hawa nafsunya dan kimpoi dengan perempuan-perempuan manusia, dan mengajarkan mereka pengetahuan yang terlarang.

Sebelum Remiel dilempar ke bumi, dia adalah malaikat harapan, dan dia dikreditkan dengan dua tugas: dia bertanggung jawab untuk visi ilahi, dan dia membimbing jiwa-jiwa orang beriman ke dalam surga. Menurut kalangan Yudaisme, Dia disebut Jeremiel atau Uriel dalam berbagai terjemahan Esdras IV, dan digambarkan sebagai "salah satu malaikat suci dimana Allah telah menetapkan sebagai pengawas atas mereka yang bangkit" dari antara orang mati. Pada dasarnya malaikat yang mengawasi orang-orang yang dibangkitkan.

Dia dikatakan telah menjadi malaikat bertanggung jawab atas penghancuran tentara Sanherib, serta menjadi pembawa petunjuk dari 7 Archangel.
Dia disebutkan juga dalam 2 Baruch mana ia memimpin visi yang benar (55:3)

7. Danel/Gadrel (Aramaic: רניאל, Yunani: Δανειήλ) 

Seorang malaikat dari surga, Gadrel dikenal juga dengan nama Danel diduga memiliki sejumlah kemampuan yang tidak ditentukan. Agaknya kebal terhadap serangan sihir, ia juga bisa menghidupkan orang mati (dalam keadaan tertentu, dengan mengorbankan sebagian dari esensi kehidupan sendiri) dan mengilhami kekuatan magis pada orang lain. Dia bisa terbang melalui sayap besar di pundaknya dan bisa memanggil pedang magis yang dapat digunakan untuk melakukan pertempuran.

Setelah Danel membantu azazel mengajarkan manusia bagaimana membuat senjata, dia dikeluarkan dari pekerjaannya di sorga.

Danel adalah salah satu Grigori ke-7, malaikat dikirim ke bumi oleh Allah untuk mengawasi kemanusiaan. Namun, seperti banyak dari Grigori lainnya dia malah memilih untuk menggunakan manusia untuk kesenangan sendiri. Dia terlibat dengan hawa nafsu dan perzinahan di bumi oleh pengaruh Azazel.

Danel/Gadrel dipuja sebagai dewa fisik / rohani oleh banyak kelompok teistik / Spiritual sebagai pembawa Promethean pengetahuan terlarang, sehingga menafsirkan Gadriel sebagai pembebas Gnostik

8. Shamsiel (Aramaic: שמשין אל, Greek: Σεμιήλ)

Shamsiel juga dieja Samsâpêêl, Shamshel, Shashiel atau Shamshiel, adalah Watcher ke-8 dan pemimpin 200 malaikat yang jatuh yang disebutkan dalam sebuah kitab kuno yang disebut Kitab Henokh. Namanya berarti "Matahari Allah", yang sangat sesuai karena telah dikatakan bahwa Shamsiel mengajarkan pria lagu-lagu dari matahari setiap hari pada zaman Jared / Yered.

Beberapa orang babilonia berpendapat bahwa Shamash (dewa matahari Babilonia) dapat berbagi beberapa dasar mitologis dengan Shamsiel.

Shamsiel pernah menjadi pelindung taman eden, di Zohar, menjabat sebagai salah satu dari 2 pembantu kepala dari Archangel Uriel. ketika Uriel menanggung tugasnya ke medan perang membantu Michael (Perang pemberontakan oleh malaikat Kokabiel), Shamsiel memimpin kepala 365 pasukan malaikat dan juga doa mahkota, menemani mereka menuju surga ke 5.
Shamsiel disebut dalam Yobel sebagai salah satu Grigori/The Watcher (pengintai). Dalam I Henokh dia adalah malaikat jatuh yang mengajarkan tanda-tanda matahari sebagai pengukuran waktu.

9. Baraqiel (Aramic: ברקאל, Greek: Βαρακιήλ)

Baraqiel adalah Watcher ke-9 dan memimpin 200 malaikat yang jatuh yang disebutkan dalam sebuah karya kuno yang disebut Kitab Henokh. Namanya berarti "petir Allah", sangat pas karena telah dikatakan bahwa Baraqiel mengajarkan manusia ilmu astrologi selama zaman Jared / Yered. Beberapa sarjana percaya bahwa ia adalah Sanat Kumara dari teosof seperti Benjamin Creme dan Madame Blavatsky, yang lain percaya bahwa Sanat Kumara adalah makhluk yang terpisah.

Hal ini juga telah diusulkan berdasarkan rekonstruksi oleh Schniedewind dan Zuckerman bahwa Baraqiel adalah nama ayah Hazael, disebutkan dalam abad ke-9 SM prasasti dari Tel Dan.

10. Sariel (Aramic: זהריאל, Greek: ‘Ατριήλ, 'Command of God')

Sariel adalah salah satu malaikat terutama dari tradisi Yahudi. Mungkin versi lain namanya adalah Suriel, Suriyel (in some Dead Sea Scrolls translations), Esdreel, Sahariel, juriel, seriel, Sauriel, Surya, Saraqael, Sarakiel, Jariel, Suruel, Surufel dan Sourial.

Suriel kadang-kadang diidentifikasi dengan Ariel, Metatron, dan Uriel. Dalam 1 Henokh, ia adalah salah satu dari empat malaikat suci yang memiliki julukan "Keabadian dan kegentaran". Dalam pengetahuan Kabbalistik, ia adalah salah satu dari tujuh malaikat bumi yang diidentifikasikan sebagai malaikat yang berkekuatan Primordial. Dalam Gnostisisme, Suriel dipanggil untuk kekuatan pelindung nya. Ia diperingati dalam kalender Gereja Ortodoks Koptik pada 27 Tubah.

Menurut Kitab Henokh, Sariel adalah salah satu pemimpin Watcher yang termasuk malaikat bernafsu kepada anak perempuan manusia. Mereka turun ke puncak Gunung Hermon, pada zaman Jared, untuk memperoleh istri dan memimpin sesat laki-laki. Sariel khusus mengajarkan kepada manusia pengetahuan tentang bulan. Terjemahan nama-nama Kitab Henokh mengatakan Sariel merupakan "terang Allah" atau "bulan Allah" namun ia terdaftar sebagai Araziel. Namanya juga tercatat sebagai Arazyal dan Asaradel dalam beberapa terjemahan 1 Henokh. Namanya menjadi kombinasi Sa'ar dan 'Allah'. Dalam kitab 2 Henokh dia biasanya terdaftar sebagai malaikat keempat dengan nama Samuil atau Sariel.

Teks Yahudi-Kristen mengatakan Sariel adalah malaikat maut dikaitkan dengan malaikat Apollyon/Abbadon, yang datang pada akhir zaman nanti untuk membinasakan jiwa2 yang tersesat (Wahyu 9)

Pada masa/zaman purba dulu tepatnya Zaman sebelum air bah terdapat jenis2 manusia raksasa (dalam bahasa Ibrani disebut Nefilim) yang ukuran tubuhnya melebihi dari ukuran biasanya. Jika dikaitkan dengan kitab taurat (kejadian), menurut "kitab Henokh" Nefilim ini merupakan hasil perkimpoian antara Malaikat yang jatuh dengan manusia pada saat itu. Ada tercatat dalam kitab Kejadian 6:2 maka anak-anak Allah (Para malaikat) melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Kej 6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah (Malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa (Nefilim/Gigantes) di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.