Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Sep 19, 2017

Kota Daud

Kota Daud (bahasa Inggris: City of David; (bahasa Ibrani: עיר דוד, Ir David; Arab: مدينة داوود‎) adalah nama yang diberikan oleh orang Israel untuk daerah pemukiman tertua di Yerusalem dan situs arkeologi utama di kota itu. Merupakan suatu tebing sempit yang memanjang ke arah selatan dari Al-Haram asy-Syarif (tempat berdirinya Bait Suci dahulu. Sekarang terletak di wilayah "Silwan" yang sebagian besar dihuni oleh orang Palestina di bagian Yerusalem Timur. Pada Zaman Perunggu merupakan sebuah kota bertembok, dan menurut tradisi, adalah tempat di mana raja Daud mendirikan istananya dan membangun ibukotanya. Kota Daud memiliki keuntungan pertahanan dari posisinya yang dikelilingi oleh lembah Tyropoeon di sebelah barat, sekarang sudah banyak ditimbun; lembah Hinom di sebelah selatan, dan lembah Kidron di sebelah timur.
Dalam zaman purba sebelum ditempati orang Israel, daerah ini terpisah dari Al-Haram asy-Syarif oleh suatu tempat yang disebut Ofel, yaitu suatu wilayah tak berpenghuni yang kemudian menjadi pusah pemerintahan orang Israel. Selama pemerintahan raja Hizkia, tembok-tembok kota ini dikembangkan ke arah barat, menutupi daerah yang sebelumnya tidak terlindung tembok, yang sekarang dikenal sebagai daerah Kota Lama Yerusalem, sebelah barat Al-Haram asy-Syarif.

Nahal Kidron, yang memisahkan Ofel dari Kota Tua sekarang, terletak tersembunyi di bawah puing-puing selama berabad-abad. Eksplorasi arkeologi daerah ini dimulai pada abad ke-19. Yang digali termasuk beberapa situs terkenal, antara lain Terowongan Hizkia (sistem pengadaan air), di mana ditemukan Inskripsi Siloam, Warren's shaft (struktur yang lebih tua, diduga merupakan sistem pengadaan air yang lebih kuno), dan Kolam Siloam (sekarang yang ada berasal dari zaman Bizantin, dan yang baru diketemukan berasal dari periode Bait Suci Herodes). Semua sistem pengadaan air ini bersumber dari mata air Gihon yang terletak di lereng sebelah timur Ofel, dan umumnya dianggap sebagai alasan dibangunnya Kota ini di lokasi tersebut.
Lokasi mata air Gihon dan Kolam Siloam telah dimasukkan ke dalam suatu Taman Arkeologi yang terbuka untuk umum. Pengunjung dapat berjalan melalui Terowongan Hizkia, di mana air masih mengalir sejak zaman purba.

Daud

Daud (bahasa Ibrani: דָּוִד; bahasa Inggris Davíd; bahasa Tiberia Dāwíð; bahasa Arab: داوود (transliterasi: Daawuud) atau داود Dā'ūd; bahasa Tigrinya: Dāwīt) merupakan seorang nabi dalam agama Islam, Kristen dan Yahudi dan merupakan raja kedua dan yang paling populer dalam kerajaan Israel. Dalam agama Islam Nabi Daud menerima kitab Zabur, sementara dalam agama Kristen Daud menuliskan banyak Mazmur yang dikumpulkan ke dalam kitab Mazmur. Daud adalah moyang dari Yesus atau Isa al-masih menurut Injil Matius, Injil Lukas dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Masa hidupnya secara umum diperkirakan bertarikh ~1040–970 SM, pemerintahannya atas Kerajaan Yehuda di Hebron ~ 1010–1002 SM, dan pemerintahannya atas seluruh Israel ~ 1002–970 SM.

Daud menurut pandangan Yahudi dan Kristen

Masa muda dan pengurapan sebagai raja

Menurut catatan Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, Daud dilahirkan di Betlehem, Efrata, di wilayah Yehuda. Ayahnya bernama Isai. Ia adalah putra bungsu dari 8 anak laki-laki Isai. Ia mempunyai 2 saudara perempuan. Masa remajanya dilewatinya sebagai seorang gembala kambing domba.

Pada waktu ia masih muda, datanglah Samuel ke Betlehem. Ketika itu Samuel sedang berdukacita karena Saul yang diurapinya menjadi raja pertama Kerajaan Israel melakukan sejumlah pelanggaran terhadap perintah Allah, sehingga telah ditolak oleh Allah sebagai raja atas Israel. Karena itu Samuel disuruh Allah untuk mengisi "tabung tanduk"-nya dengan minyak, untuk mengurapi raja yang baru, dan pergi kepada Isai, orang Betlehem, sebab di antara anak-anaknya Allah telah memilih seorang raja bagi-Nya. Samuel kuatir kalau Saul mengetahui rencana kepergiaannya dan akan menghalang-halangi bahkan membunuhnya, tetapi Allah telah menyediakan suatu alasan yang kuat supaya Samuel dengan aman pergi melaksanakan pengurapan itu, yaitu dengan membawa seekor lembu muda dan mengatakan: "Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN". Ini bukanlah suatu alasan yang dicari-cari, melainkan suatu upacara pengurapan penting, apalagi pengurapan raja, harus disertai persembahan korban kepada Allah.
Setibanya di Betlehem, Samuel menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu. Lalu Isai memanggil putra-putranya satu per satu dan menyuruhnya lewat di depan Samuel. Mulanya Samuel kagum melihat putra sulung Isai, Eliab, dan mengira dialah bakal raja yang harus diurapinya, tetapi Allah berfirman:
"Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Tujuh putra Isai sudah lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawab Isai: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari." Kemudian disuruhnyalah orang menjemput putra bungsu itu. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." Hanya dengan disaksikan oleh keluarga terdekat Daud, Samuel mengurapi Daud menjadi raja Israel, sementara Saul masih menjabat sebagai raja. Lalu Samuel pulang ke Rama.
Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. 1 Samuel 16:13

Bermain kecapi untuk raja Saul

Bersamaan dengan berkuasanya Roh Tuhan atas Daud, maka raja Saul yang telah ditolak oleh Tuhan ditinggalkan oleh Roh Tuhan, sehingga mulai diganggu oleh roh-roh jahat. Untuk mengurangi gangguan itu, para pegawai Saul mengusulkan agar raja memanggil seorang pemain kecapi, sekaligus mengusulkan Daud bin Isai sebagai pemain kecapi tersebut. Setiap kali apabila roh yang daripada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur daripadanya. Sejak itu Daud selalu pulang pergi daripada Saul untuk menggembalakan domba ayahnya di Betlehem.

Membunuh Goliat

Suatu kali, ketika sedang menggembalakan dombanya, Daud diperintahkan ayahnya mengantarkan bekal makanan kepada ketiga abangnya, anak Isai yang besar-besar yaitu Eliab, anak sulung, Abinadab, anak yang kedua dan Syama, anak yang ketiga, yang sedang bersiap berperang bersama Saul melawan tentara-tentara Filistin. Orang Filistin mengumpulkan tentaranya untuk berperang di Sokho yang di tanah Yehuda dan berkemah antara Sokho dan Azeka di Efes-Damim. Sedangkan Saul dan orang-orang Israel berkumpul dan berkemah di Lembah Tarbantin; mereka mengatur barisan perangnya berhadapan dengan orang Filistin. Jadi medan pertempuran itu tidak jauh dari rumah Daud. Isai berkata kepada Daud, anaknya: "Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu. Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka. Saul dan mereka itu dan semua orang Israel ada di Lembah Tarbantin tengah berperang melawan orang Filistin." Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga, lalu mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya.

"Daud dan Goliat"

Daud sampai ke perkemahan tentara Israel, ketika tentara keluar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang. Orang Israel dan orang Filistin itu mengatur barisannya, barisan berhadapan dengan barisan. Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah mereka selamat. Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju seorang pendekar bernama Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang Filistin. Tingginya 6 hasta sejengkal (3,5 meter). Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini 5.000 syikal tembaga. Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu 600 syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya. Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami. Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang."

Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan 40 hari lamanya. Ia selalu mengucapkan kata-kata yang sama, dan kali ini Daud mendengarnya. Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka daripadanya dengan sangat ketakutan. Berkatalah orang-orang Israel itu: "Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel! Orang yang mengalahkan dia akan dianugerahi raja kekayaan yang besar, raja akan memberikan anaknya yang perempuan kepadanya dan kaum keluarganya akan dibebaskannya dari pajak di Israel." Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan daripada Allah yang hidup?" Rakyat itupun menjawabnya dengan perkataan tadi: "Begitulah akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan dia."

Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." Tetapi jawab Daud: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!" Lalu berpalinglah ia daripadanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul.

Raja Saul menyuruh memanggil Daud menghadap kepadanya. Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." Tetapi Daud berkata kepada Saul:
"Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu daripada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan daripada Allah yang hidup. TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."

Maka Saul berkata kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya.

Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud dan berkata pula kepada Daud: "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang." Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: :"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka. Maka bangkitlah orang-orang Israel dan Yehuda, mereka bersorak-sorak lalu mengejar orang-orang Filistin sampai dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai Gat dan sampai Ekron. Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka. Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata Goliat ditaruhnya dalam kemahnya.

Menjadi pemimpin tentara Saul

Ketika Saul melihat Daud pergi menemui orang Filistin itu, berkatalah ia kepada Abner, panglima tentaranya: "Anak siapakah orang muda itu, Abner?" (menurut para rabbi Yahudi maksudnya: dari keluarga bangsawan mana Daud itu berasal) Jawab Abner: "Demi tuanku hidup, ya raja, sesungguhnya aku tidak tahu." Kemudian raja berkata: "Tanyakanlah, anak siapakah orang muda itu." Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sedang kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya. Kata Saul kepadanya: "Anak siapakah engkau, ya orang muda?" Jawab Daud: "Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu."

Pada hari itu Saul menahan Daud untuk menjadi prajuritnya dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya. Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, maka Yonatan putra Saul bersahabat karib dengan Daud. Dikatakan "berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri". Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya. Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul.

Pada waktu Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Keesokan harinya roh jahat itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Saul memegang tombak dan melemparkan tombak itu, karena pikirnya: "Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding." Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali. Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud, sedang daripada Saul Ia telah undur. Sebab itu Saul menjauhkan Daud dari dekatnya dan mengangkat dia menjadi kepala pasukan seribu, sehingga ia berada di depan dalam segala gerakan tentara. Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia. Ketika dilihat Saul, bahwa Daud sangat berhasil, makin takutlah ia kepadanya; tetapi seluruh orang Israel dan orang Yehuda mengasihi Daud, karena ia memimpin segala gerakan mereka.

Menjadi menantu raja Saul

Berkatalah Saul kepada Daud: "Ini dia anakku perempuan yang tertua, Merab; dia akan kuberikan kepadamu menjadi isterimu, hanya jadilah bagiku seorang yang gagah perkasa dan lakukanlah perang TUHAN." Sebab pikir Saul: "Janganlah tanganku memukul dia, tetapi biarlah ia dipukul oleh tangan orang Filistin." Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Siapakah aku dan siapakah sanak saudaraku, kaum ayahku, di antara orang Israel, sehingga aku menjadi menantu raja?" Tetapi ketika tiba waktunya untuk memberikan Merab, anak Saul itu, kepada Daud, maka anak perempuan itu diberikan kepada Adriel, orang Mehola, menjadi isterinya.

Tetapi Mikhal, anak perempuan Saul, jatuh cinta kepada Daud; ketika hal itu diberitahukan kepada Saul, maka iapun menyetujuinya; sebab pikir Saul: "Baiklah Mikhal kuberikan kepadanya; biarlah ia menjadi jerat bagi Daud, dan biarlah tangan orang Filistin memukul dia!" Lalu berkatalah Saul kepada Daud untuk kedua kalinya: "Pada hari ini engkau boleh menjadi menantuku." Lagi Saul memerintahkan kepada para pegawainya: "Katakanlah kepada Daud dengan diam-diam, demikian: Sesungguhnya, raja suka kepadamu dan para pegawainya mengasihi engkau; maka sebab itu, jadilah engkau menantu raja." Lalu para pegawai Saul menyampaikan perkataan itu kepada Daud, tetapi Daud menjawab: "Perkara ringankah pada pemandanganmu menjadi menantu raja? Bukankah aku seorang yang miskin dan rendah?" Para pegawai Saul memberitahukan kepada raja, katanya: "Demikianlah jawab yang diberi Daud." Kemudian berkatalah Saul: "Beginilah kamu katakan kepada Daud: Raja tidak menghendaki mas kawin selain dari 100 kulit khatan orang Filistin sebagai pembalasan kepada musuh raja." Saul bermaksud untuk menjatuhkan Daud dengan perantaraan orang Filistin. Ketika para pegawainya memberitahukan perkataan itu kepada Daud, maka setujulah Daud menjadi menantu raja. Waktunya belum genap, tetapi Daud sudah bersiap, ia pergi dengan orang-orangnya dan menewaskan dari orang Filistin itu 200 orang serta membawa kulit khatan mereka; dan dalam jumlah yang genap diberikan merekalah semuanya itu kepada raja, supaya Daud menjadi menantu raja. Kemudian Saul memberikan Mikhal, anaknya, kepadanya menjadi isterinya. Namun, Mikhal tidak mempunyai anak dari Daud.

Lalu mengertilah Saul dan tahulah ia, bahwa TUHAN menyertai Daud, dan bahwa seluruh orang Israel mengasihi Daud. Maka makin takutlah Saul kepada Daud. Saul tetap menjadi musuh Daud seumur hidupnya. Apabila raja-raja orang Filistin maju berperang, setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih berhasil dari semua pegawai Saul, sehingga namanya sangat masyhur.

Menjadi raja Israel

Akhirnya Allah tidak lagi berkenan atas Saul dan menyerahkan Saul untuk dibunuh orang-orang Filistin. Daud pun menggantikannya menjadi raja Israel yang kedua. Mula-mula Isyboset, putra Saul yang masih hidup, diangkat oleh pegawai-pegawai Saul menjadi raja setelah kematian Saul. Daud diangkat oleh pengikutnya menjadi raja atas kaum Yehuda (Kerajaan Yehuda) selama tujuh tahun enam bulan dan bertahta di Hebron sebagai ibukotanya.
Setelah Isyboset mati dibunuh pegawai-pegawainya sendiri, bangsa Israel mengangkat Daud menjadi raja mereka, dan Daud memerintah di Yerusalem selama 33 tahun.

Jadi Daud menjadi raja seluruhnya selama 40 tahun.

Dosa Daud

Kitab Suci Ibrani dan Kristen tidak melihat Daud sebagai tokoh yang serba sempurna, karena ternyata ia pun pernah terjatuh ke dalam dosa. Suatu hari Daud sedang berjalan-jalan di atap istananya. Dari atas ia melihat Batsyeba yang cantik jelita. Sayang sekali ternyata Batsyeba adalah istri Uria orang Het, seorang perwira Daud sendiri. Dengan berbagai tipu muslihat Daud akhirnya berhasil menyingkirkan Uria, dan ia pun memperistri Batsyeba. Namun Allah mengetahui kebusukan Daud, dan melalui nabi Natan, Allah menegur Daud. Daud menyesali dosa-dosanya.

Rencana Pembangunan Bait Allah

Daud bermaksud hendak mendirikan "rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN" dan "untuk tumpuan kaki Allah", dalam bentuk "Bait Allah". Ia juga telah membuat persediaan untuk mendirikannya. Tetapi Allah telah berfirman kepadanya: "Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah." Namun TUHAN, Allah Israel, telah memilih Daud dari antara segenap puaknya untuk menjadi raja atas Israel selama-lamanya; sebab Ia telah memilih Yehuda menjadi pemimpin, dan puak Daud dari antara kaum Yehuda, dan dari antara anak-anak ayahnya Ia berkenan kepada Daud untuk mengangkatnya sebagai raja atas seluruh Israel. Dan dari antara anak-anak Daud sekalian sebab banyak anak telah dikaruniakan TUHAN kepadanya Ia telah memilih Salomo untuk duduk di atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel. Allah telah berfirman kepada Daud: "Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku."

Kematian

Daud berumur 30 tahun, pada waktu ia menjadi raja; 40 tahun lamanya ia memerintah; jadi Daud meninggal pada usia 70 tahun. Ia "mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya" (wafat) pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, lalu ia dikuburkan di kota Daud, maka kemudian naik rajalah Salomo, anaknya, menggantikan dia.

Keluarga Daud

Silsilah Daud mulai dari Adam
Adam  · Set  · Enos · Kenan · Mahalaleel · Yared · Henokh · Metusalah · Lamekh · Nuh · Sem  · Arpakhsad · Selah · Eber · Peleg · Rehu · Serug · Nahor · Terah · Abraham  · Ishak  · Yakub  · Yehuda  · Peres · Hezron · Ram · Aminadab · Nahason · Salmon  · Boas  · Obed · Isai · Daud

Saudara-saudara Daud
Isai, ayah Daud, mempunyai 8 putra dan 2 putri. Dalam Alkitab, nama 1 putra tidak disebutkan.
Kedelapan putranya adalah:
* Eliab, anak sulungnya
* Abinadab
* Simea atau Syama
* Netaneel
* Radai
* Ozem
tidak disebutkan

Daud, anak yang bungsu
Kedua putrinya adalah:
Zeruya. Zeruya melahirkan tiga orang putra yang menjadi perwira-perwira utama Daud:
* Abisai
* Yoab
* Asael
Abigail. Abigail melahirkan seorang putra, Amasa. Ayah Amasa ialah Yeter (atau Yitra), orang Ismael.
Daftar anak-anak
(Sumber: Kitab 1 Tawarikh 3:1-9; 2 Samuel 3:2-5; 2 Samuel 5:14-16; 1 Tawarikh 14:4-7)

Lahir di Hebron
Daud memerintah 7 tahun 6 bulan lamanya di kota Hebron. Selama itu ia dikaruniai 6 orang putra:
* Amnon (anak sulung), dari Ahinoam, perempuan Yizreel
* Kileab atau Daniel, dari Abigail, perempuan Karmel, bekas istri Nabal
* Absalom, anak Maakha, yakni anak perempuan Talmai, raja Gesur
* Adonia, anak Hagit
* Sefaca, dari Abital
* Yitream, dari Egla, isterinya itu.

Lahir di Yerusalem
Daud memerintah 33 tahun lamanya di Yerusalem. Selama itu Ia dikaruniai sejumlah putra dan putri
Empat orang putra dari Batsyua binti Amiel
* Syamua atau Simea
* Sobab
* Natan (dari keturunannya, lahirlah Maria binti Eli, yang melahirkan Yesus Kristus)
* Salomo (dari keturunannya, lahirlah raja-raja Yehuda dan Yusuf, suami Maria yang melahirkan Yesus Kristus)
Sembilan orang putra dari istri-istri lain yang tidak disebutkan namanya
* Yibhar
* Elisua atau Elisama
* Elifelet atau Elpelet
* Nogah
* Nefeg
* Yafia
* Elisama
* Elyada atau Beelyada
* Elifelet

Semuanya itu anak-anak Daud, belum terhitung anak-anak dari gundik-gundik.
Tamar ialah saudara perempuan mereka

Anak-anak yang mempunyai sejarah khusus

Dari Batsyeba, Daud mendapatkan seorang anak yang dinamainya Salomo yang kelak menggantikannya sebagai raja Israel yang ketiga. Daud mempunyai sejumlah anak lainnya. Antara lain adalah Absalom, seorang pemuda yang sangat tampan, yang sangat disayangi oleh Daud. Suatu kali Amnon, anak sulung Daud, memperkosa Tamar, adik perempuan Absalom. Absalom sangat marah. Dua tahun kemudian ia membalas dendam dengan menyuruh anak buahnya membunuh Amnon. Daud marah karena Amnon dibunuh, namun kemudian ia mengampuni Absalom.
Belakangan Absalom mengadakan pemberontakan terhadap Daud. Dalam pemberontakan ini Absalom mati dibunuh oleh Yoab, panglima Daud.
Di hari tuanya, Adonia, putranya yang keempat mengangkat diri menjadi raja tanpa sepengetahuan Daud. Saat diberitahu, Daud segera memerintahkan untuk mengurapi Salomo sebagai raja. Setelah Daud wafat, Salomo menghukum mati Adonia.

Mazmur Daud

Menurut tradisi Kitab Mazmur (Zabur dalam Islam) disebut sebagai karangan Daud. Sebenarnya kitab ini merupakan kumpulan 150 syair nyanyian (mazmur) yang berisi berjenis-jenis puisi berupa doa, nyanyian pujian, ratapan, doa penyesalan, dll. Banyak gubahan Daud termasuk ke dalamnya, bersama dengan mazmur gubahan Musa, Asaf bin Berekhya dan beberapa penggubah lainnya. Salah satu mazmur gubahan Daud yang terkenal adalah Mazmur 23 "Tuhan adalah gembalaku".

Anak Daud

Anak Daud adalah salah satu gelar Yesus Kristus, karena Ia berasal dari keturunan Raja Daud.

Daud dalam Islam

Daud ( داود Dāwūd) ialah nabi sekaligus raja Bani Israil. Semenjak masih muda telah menyertai tentara Bani Israil di bawah pimpinan Thalut melawan pasukan bangsa Palestin yang dipimpin Jalut . Daudlah yang berhasil membunuh Jalut, sehingga dipuji sebagai pahlawan perang. Setelah Raja Thalut meninggal, Daud menggantikannya sebagai raja. Allah mengangkat Daud sebagai nabi dan rasul-Nya. Kepadanyalah diturunkan kitab Zabur. Ia memiliki sejumlah mukjizat, kecerdasan akal, mengerti bahasa burung, dan melembutkan besi hanya dengan menggunakan tangan kosong dan Daud juga memiliki suara yang paling merdu dari semua suara umat manusia, sama seperti Yusuf yang diberikan wajah yang paling tampan.
Daud yang mulai pembangunan Bait Suci yaitu Baitul Muqaddis yang telah diselesaikan oleh anaknya Sulaiman, yang kemudian sekarang menjadi tempat Masjid Al-Aqsa. Daud meninggal dalam usia 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.
Nabi Daud dalam islam di kenal dengan puasanya yaitu puasa Daud,(sehari puasa sehari tidak)

Fakta sejarah

Prasasti Tel Dan yang memuat nama "Rumah Daud".

Sejumlah penemuan arkeologi, yang terutama adalah Prasasti Tel Dan dan Mesha Stele, mempunyai hubungan langsung dengan bukti kehidupan Daud dalam sejarah umum. Prasasti Tel Dan adalah batu bertulis yang memuat peringatan kemenangan orang Aram, ditemukan pada tahun 1993 di situs Tel Dan dan bertarikh ~850–835 SM. Prasasti ini memuat frasa ביתדוד (bytdwd), dibaca "Bait Daud" atau "Rumah Daud" dan ini "sekarang diterima luas".  Mesha Stele berasal dari Moab, bertarikh kurang lebih pada masa yang sama, juga diyakini memuat nama "Daud" pada baris ke-12, di mana penafsirannya masih diperdebatkan, dan pada baris ke-31, di mana ada satu huruf yang rusak.
Ada pula bukti-bukti dari penelitian di permukaan tanah yang mengindikasikan bahwa Kerajaan Yehuda pada zaman Daud memang merupakan suatu kerajaan suku yang kecil. Peninggalan Zaman Perunggu dan Zaman Besi pada Kota Daud, yaitu pusat kota asli dari Yerusalem, diidentifikasi berasal dari pemerintahan Daud dan Salomo, telah diteliti besar-besaran pada tahun 1970-an dan 1980-an di bawah pimpinan Yigal Shiloh dari Hebrew University, tetapi gagal menemukan bukti kediaman selama abad ke-10 SM. Pada tahun 2005 Eilat Mazar melaporkan penemuan Struktur Batu Besar yang diklaimnya berasal dari istana Daud, tetapi situs itu dianggap terkontaminasi dan tidak dapat ditentukan tarikhnya secara tepat.

Bintang Daud

Perisai Daud atau dalam bahasa Ibrani: Magen David, מָגֵן דָּוִד dengan nikkud atau tanpa nikkud דוד, diucapkan Magen David [ma.'gen da.'vid] dalam Ibrani modern dan Mogein Dovid ['mɔ.geɪn 'dɔ.vid] atau Mogen Dovid ['mɔ.gen 'dɔ.vid] dalam bahasa Ibrani Ashkenazi dan Yiddish adalah sebuah lambang yang umumnya dikenali dari Komunitas Yahudi dan Yudaisme. Nama ini diambil dari nama raja Israel kuno, dan mulai digunakan pada Abad Pertengahan, bersama-sama dengan lambang yang lebih tua lagi yaitu menorah.
Dengan terbentuknya negara Israel pada 1948 Bintang Daud pada Bendera Israel juga telah menjadi lambang Israel.

Sebagai lambang Yahudi

Menurut sejumlah sumber Yudais, Bintang/Perisai Daud melambangkan angka tujuh: yaitu, keenam ujungnya ditambah dengan pusatnya. Teks Yahudi tertua yang masih ada yang menyebutkannya adalah Eshkol Ha-Kofer oleh seorang Karait bernama Judah Hadassi, dari abad ke-12M: "Tujuh nama malaikat mendahuli mezuzah: Mikail, Gabriel, dll. Kiranya Tetragrammaton melindungi engkau! Demikian pula dengan tanda ini, yang disebut 'Perisai Daud', diletakkan di samping nama masing-masing malaikat."

Angka tujuh mempunyai makna keagamaan dalam Yudaisme, mis. enam hari Penciptaan ditambah dengan istirahat pada hari ketujuh, enam hari kerja ditambah Sabat, Ketujuh Roh Allah, serta Menorah di Bait Suci kuno, yang ketujuh lampu minyaknya diletakkan di atas ketujuh cabangnya. Dan seterusnya. Mungkin Bintang Daud akhirnya digunakan sebagai lambang standar di sinagoga karena susunannya memperlihatkan 3+3+1, sesuai dengan Menorah Bait Suci, yang merupakan lambang yang lebih tradisional untuk Yudaisme pada zaman dulu.
Asal-usul yang pasti dari hubungan lambang ini dengan identitas Yahudi tidak diketahui. Beberapa teori dikemukakan. Menurut sebuah hipotesis, Bintang Daud membentuk dua dari tiga huruf dalam nama Daud. Dalam ejaan Ibrani (דוד), kata ini hanya mengandung tiga huruf, dua di antaranya adalah "D" (atau "Dalet", dalam bahasa Ibrani). Di zaman dulu, huruf ini ditulis dalam bentuk yang sangat mirip dengan segitiga, serupa dengan huruf Yunani Delta (Δ), yang memiliki kemiripan bunyi dan posisi (keempat) dalam abjadnya masing-masing. Lambang ini mungkin mulanya merupakan sebuah perisai keluarga yang dibentuk dengan membalikkan dan menyandingkan dua huruf yang paling penting dalam nama ini.

Magen David Adom

Magen David Adom (MDA) (Bintang Daud Merah atau, terjemahan harafiahnya, Perisai Merah Daud) adalah satu-satunya dinas medis darurat, kecelakaan dan ambulans Israel. Ia adalah anggota resmi dari Komite Palang Merah Internasional.

Menara Daud

Menara Daud (bahasa Inggris: Tower of David; bahasa Ibrani: מגדל דוד, Migdal David, برج داود, Burj Daud), juga dikenal sebagai Benteng Yerusalem (bahasa Inggris: Jerusalem Citadel), adalah sebuah benteng kuno yang terletak di dekat jalan masuk ke Gerbang Jaffa di tepi barat dari Kota Lama Yerusalem.

Benteng yang berdiri hari ini bertarikh pembuatan pada zaman Mamluk dan Utsmani. Dibangun di lokasi yang sebelumnya merupakan fortifikasi kuno dari zaman Hashmonayim, Herodian, Bizantium dan Islam awal, setelah dihancurkan berulang kali selama dekade terakhir pada Perang Salib di Tanah Suci oleh penguasa Ayyubiyah dan Mamluk. Benteng ini memuat penemuan arkeologi penting bertarikh lebih dari 2.000 tahun lalu termasuk tambang yang bertarikh zaman Bait Pertama, merupakan tempat populer untuk menyelenggarakan acara amal, pameran kerajinan tangan, konser, dan pertunjukan suara-dan-cahaya.

Dan Bahat menulis bahwa tiga menara asli Hasmonean diubah oleh Herodes, dan "menara di timur laut digantikan oleh menara yang lebih besar dan kokoh, dinamai "Menara Daud" ("Tower of David") di awal abad ke-5 Masehi" Nama "Menara Daud" diberikan oleh orang Kristen Bizantium yang meyakini tempat itu sebagai situs istana Raja Daud. Mereka meminjam nama "Menara Daud" dari Kitab Kidung Agung, yang ditulis oleh raja Salomo, anak raja Daud, yang memuat kata-kata: "Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya." (Kidung Agung 4:4).

Sebagaimana dibuktikan oleh penemuan arkeologi Tembok Lebar, Raja Hizkia adalah orang pertama yang secara khusus membentengi daerah ini. Penguatan kota ini menunjukkan bahwa pada akhir abad kedelapan SM kota itu telah diperluas untuk mencakup bukit di sebelah barat dari kompleks Baitul Maqdis. Motivasi pembangunan tembok fortifikasi ini adalah persiapan menghadapi invasi Yudea oleh Sanherib. Tembok ini mungkin dirujuk dalam Nehemia 3:8 dan Yesaya 22:9-10.
Selama abad ke-2 SM, Kota Tua Yerusalem diperluas lebih jauh ke bagian yang disebut Bukit Barat (Western Hill). Perbukitan setinggi 773 meter ini sekarang meliputi Kuartir Armenia dan Yahudi serta Gunung Sion, dibatasi oleh lembah-lembah curam di semua sisi kecuali bagian utara. Pemukiman pertama di daerah ini didirikan sekitar tahun 150 SM pada zaman raja-raja Hasmonea dengan pembangunan apa yang dinamakan oleh Flavius Yosefus sebagai Tembok Pertama.

Herodes Agung, yang merampas kekuasaan dari dinasti Hasmonea, menambahkan tiga menara besar ke benteng di 37-34 SM. Ia membangunnya pada bagian rentan di sudut barat laut dari Bukit Barat, di mana benteng ini sekarang berada. Tujuannya adalah tidak hanya untuk mempertahankan kota, tetapi untuk menjaga istananya sendiri yang terletak di dekatnya di Gunung Sion. Herodes menamakan menara tertinggi, 145 meter tingginya, Phasael untuk mengenai saudara laki-lakinya yang bunuh diri saat dalam pengasingan. Menara lain dinamai Mariamne, untuk mengenang istri keduanya yang dihukum mati olehnya sendiri dan dimakamkan di sebuah gua di sebelah barat menara. Menara ketiga dinamakan Hippicus yaitu nama salah satu temannya. Dari tiga menara, hanya dasar dari salah satu dari antaranya yang bertahan sampai hari ini - entah Phasael atau Hippicus, seperti yang dikatakan oleh arkeolog Hillel Geva yang melakukan penggalian pada benteng ini. Dari menara kuno (yang sekarang disebut Menara Dauh), enam belas baris dari batu ashlars asli masih dapat dilihat muncul di atas permukaan tanah, dan di atasnya ditambahkan batu-batu kecil di periode selanjutnya, yang menambah tingginya secara signifikan. Selama perang Yahudi dengan Roma, Simon bar Giora membuat menara ini tempat tinggalnya.

Setelah penghancuran Yerusalem oleh Romawi pada tahun 70 M, tiga menara itu dilestarikan sebagai kesaksian kekuatan benteng yang berhasil diatasi oleh legiun Romawi, dan situs dipakai sebagai barak pasukan Romawi.

Ketika kekaisaran mengadopsi Kekristenan sebagai agama favoritnya pada abad ke-4 Masehi, suatu komunitas para biarawan berdiri sendiri dalam benteng ini. Dalam zaman Bizantium inilah menara Herodian yang tersisa, dan termasuk pula benteng secara keseluruhan, memperoleh nama alternatif - Menara Daud - karena orang Bizantium keliru mengidentifikasi bukit itu sebagai Gunung Sion, sehingga menduga benteng itu adalah istana Daud yang disebutkan dalam 2 Samuel 5:11, 11:1-27, 16:22.

Setelah penaklukan Yerusalem oleh orang Arab pada tahun 638, penguasa Muslim yang baru memperbaiki benteng itu. Struktur yang kuat itu mampu bertahan dari serangan tentara Salib pada tahun 1099, dan baru menyerah ketika orang yang bertahan di sana dijamin ke luar dari kota dengan selamat.

Citadel (Menara Daud) dengan temuan arkeologis di halaman dan minaret zaman Ottoman, seperti yang terlihat saat ini

Selama periode perang Salib, ribuan peziarah melakukan ziarah ke Yerusalem dengan melalui pelabuhan laut di Jaffa. Untuk melindungi umat dari ancaman perampok jalan raya, tentara Salib membangun sebuah menara yang dikelilingi oleh parit pada benteng itu, dan menempatkan para pengintai untuk menjaga jalan ke Jaffa. Benteng ini juga melindungi istana baru untuk raja-raja Yerusalem dari tentara Salib, yang terletak langsung di sebelah selatan benteng tersebut.
Pada tahun 1187, Sultan Saladin merebut kota termasuk benteng ini. Pada tahun 1239 emir Ayyubiyah Karak, An-Nasir Dawud, menyerang garnisun tentara Salib dan menghancurkan benteng ini. Pada tahun 1244 orang Khwarazmia mengalahkan dan mengusir tentara Salib dari Yerusalem untuk terakhir kalinya, menghancurkan seluruh kota dalam pertempuran itu. Orang Mamluk menghancurkan benteng itu pada tahun 1260.
Pada tahun 1310 benteng ini dibangun kembali oleh sultan Mamluk Al-Nasir Muhammad bin Qalawun, dengan banyak bentuk yang terlestarikan sampai sekarang.

Benteng ini dipe rluas antara 1537 dan 1541 oleh sultan Utsmaniyah, Suleiman, di mana para arsiteknya merancang pintu masuk yang besar, dengan landasan meriam tepat di belakangnya.[diragukan – diskusikan] Selama 400 tahun, benteng ini menjadi garnisun pasukan Turki. Kesultanan Utsmaniyah juga mendirikan sebuah masjid di dekat sudut barat daya benteng, dan membangun sebuah minaret dalam tahun-tahun 1635-1655. Pada abad ke-19 minaret yang mencolok tersebut, yang masih berdiri hingga saat ini, mengambil alih nama "Menara Daud", sehingga nama itu sekarang dapat merujuk pada seluruh benteng atau pada minaret itu sendiri.

Selama Perang Dunia I, pasukan Inggris di bawah Jenderal Edmund Allenby merebut Yerusalem. Jenderal Allenby secara resmi mengumumkan peristiwa tersebut dengan berdiri di atas platform di luar gerbang timur benteng tersebut.
Selama periode Mandat Inggris (1917-1948), Komisaris Tinggi membentuk Masyarakat Pro-Yerusalem (Pro-Jerusalem Society) untuk melindungi kawasan cagar budaya kota. Organisasi ini membersihkan dan merenovasi benteng tersebut dan membukanya kembali untuk umum sebagai tempat untuk konser, acara amal dan tempat pameran para seniman lokal. Pada tahun 1930-an, museum rakyat Palestina dibuka di benteng, menampilkan kerajinan tradisional dan pakaian daerah.

Setelah Perang Arab–Israel 1948, Legiun Arab merebut Yerusalem dan mengembalikan peran sejarah benteng itu kembali sebagai pos militer, karena memberikan pandangan yang dominan di garis gencatan senjata Yahudi ke Yerusalem. Dengan kemenangan Israel 1967 setelah Perang Enam Hari, peran budaya benteng itu dihidupkan kembali.

Museum Menara Daud

Museum Menara Daud mengenai Sejarah Yerusalem ("Tower of David Museum of teh History of Jerusalem") dibuka pada tahun 1989 oleh Yerusalem Foundation. Terletak di sebuah rangkaian kamar-kamar asli dalam benteng, museum ini meliputi suatu halaman yang berisi reruntuhan arkeologi bertarikh sejak 2.700 tahun lalu.

Isi museum ini menggambarkan 4.000 tahun sejarah Yerusalem, dari awal sebagai kota orang Kanaan sampai zaman modern. Menggunakan peta, rekaman video, hologram, gambar dan model, masing-masing ruangan menggambarkan Yerusalem di bawah pemerintahan berbagai penguasa. Pengunjung juga dapat naik ke atas benteng, dengan pemandangan 360 derajat ke arah Kota Tua dan Kota Baru Yerusalem.
Pada tahun 2002, Yerusalem Foundation melaporkan bahwa lebih dari 3,5 juta pengunjung telah mendatangi museum ini.

Ranting Daud

Ranting Daud adalah sebuah kelompok keagamaan yang berasal dari sebuah skisma (perpecahan) pada tahun 1950-an dari kelompok "Tongkat Gembala", yang mulanya merupakan anggota-anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang dikucilkan pada tahun 1930-an. Dari awal terbentuknya pada tahun 1930-an, "Tongkat Gembala" mewarisi pandangan apokaliptisisme, yang membuat mereka percaya bahwa mereka hidup di suatu zaman di mana nubuat-nubuat Kristen tentang penghakiman ilahi yang terakhir akan segera terjadi. Mereka menjadi sangat terkenal karena pengepungan pada 1993 atas Mount Carmel Center (Pusat Gunung Karmel) dekat Waco, Texas, oleh agen-agen BATF (Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata) dan FBI, yang mengakibatkan tewasnya 82 orang anggota gereja tersebut, termasuk pemimpinnya, David Koresh. Namun, pada waktu pengepungan itu, Koresh menganjurkan para pengikutnya agar menganggap diri mereka sebagai "siswa-siswa dari Ketujuh Meterai" dan bukan sebagai anggota-anggota "Ranting Daud", sementara faksi-faksi Ranting Daud lainnya tidak pernah mengakui kepemimpinannya.

Pada 1929, Victor Houteff, seorang imigran Bulgaria, mengklaim bahwa ia mendapatkan sebuah pesan baru untuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Pesan itu disampaikannya dalam sebuah buku yang berjudul Tongkat Gembala. Klaim-klaimnya tidak diterima dan dianggap memecah-belah oleh pimpinan Gereja itu karena ia menuding apa yang dilihatnya sebagai penyimpangan mereka dari ajaran-ajaran dan standar dasar Gereja. Karenanya, ia dikucilkan dari Gereja itu.

Pada 1935, Houteff mendirikan markasnya di luar Waco, Texas. Hingga 1942, gerakannya dikenal sebagai Tongkat Gembala, namun ketika Houteff merasa perlu untuk meresmikannya sebagai organisasi sehingga anggota-anggotanya dapat mengklaim status sebagai pembangkang perang karena hati nurani, ia menamai kelompoknya Persekutuan Advent Hari Ketujuh Davidian. Istilah "Davidian" di sini merujuk kepada pemulihan kerajaan Daud. Houteff memimpin kelompok Pengikut Daud ini untuk secara eksklusif menginjili kaum Adventis.
Pada 1955, setelah meninggalnya Houteff, sebuah kelompok pecahan dari gerakan ini membentuk Advent Hari Ketujuh Ranting Daud, yang mulanya dipimpin oleh Benjamin L. Roden. "Ranting" di sini merujuk kepada nama baru Kristus. Kelompok ini membangun sebuah pemukiman di luar Waco, Texas, di sebuah lahan yang sebelumnya didiami oleh kelompok Pengikut Daud. Pada 1977, istri Benjamin Roden, Lois mengklaim memperoleh pesannya sendiri, yang salah satu unsurnya mengatakan bahwa Roh Kudus adalah feminin. Hal ini menimbulkan kegemparan di kelompok ini. Ketika Ben Roden meninggal tahun berikutnya, anak mereka, George, berusaha mengambil alih pimpinan, dengan mengklaim bahwa dialah nabi yang tepat dari kelompok ini, namun Lois mengalahkan usahanya.
Pada 1981, Vernon Wayne Howell (yang belakangan mengganti namanya menjadi David Koresh) bergabung dengan kelompok ini sebagai anggota biasa. Pada 1983, Lois Roden mengizinkan Howell untuk mulai menyampaikan ajarannya sendiri, sehingga membuka pintu baginya untuk membangun pengikutnya sendiri sebelum akhirnya mereka berpisah pada awal 1984. Lois juga menghadapi perlawanan dari Charles Pace, seorang Kanada. Selama Paskah 1984, diadakan sebuah rapat umum di Gn. Carmel yang dihadiri semua anggota Ranting Daud, dan hasil akhirnya ialah bahwa kelompok itu terpecah ke dalam beberapa faksi, yang salah satunya setia kepada Howell. Pada saat ini, George Roden memaksa Howell, dan belakangan Pace, meninggalkan properti itu.
Howell membawa pengikut-pengikutnya ke Palestine, Texas, swementara Pace pergi ke Gadsden, Alabama. Namun pada 1988, pendukung George Roden telah kian berkurang, dan sementara ia dipenjarakan karena membangkang terhadap pengadilan, Howell menangani tanah yang dipertikaikan itu sementara Roden tidak ada. Sementara itu, Lois Roden telah meninggal dunia pada 1986, dan ia meninggalkan pesan terakhirnya yang menunjuk Teresa Moore, bersama Irmine Sampson, untuk melanjutkan pekerjaannya.
Pada 1990, Howell mengganti namanya menjadi David Koresh, dengan mengambil nama-nama Alkitab, yaitu Raja Daud dan Raja Koresh. Koresh memusatkan ajaran-ajarannya pada Ketujuh Meterai dan kemampuannya sebagai "Anak Domba" yang akan membukanya. Koresh mendukung keyakinannya dengan penafsiran-penafsiran Alkitab, dengan menggunakan Kitab Wahyu sebagai lensa untuk memahami seluruh Alkitab.

Penyerangan dan pengepungan
Beberapa bekas anggota dari kelompok Koresh menuduh bahwa ia mempraktikkan poligami dengan pengantin-pengantin di bawah umur, secara fisik menyakiti dan menyiksa anak-anak, dan mengumpulkan senjata ilegal. Akhirnya pemerintah meneliti tuduhan-tuduhan ini.
Pada 28 Februari 1993, Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata api (BATF) menyerang Mount Carmel, hingga meneybabkan tewasnya tempat orang agen dan enam anggota Ranting Daud. Pengepungan selama 51 hari berikutnya oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) berakhir pada 19 April ketika kompleks itu terbakar sama sekali, hingga menyebabkan tewasnya 76 anggota Ranting Daud, dan di antaranya 27 orang anak-anak dan Koresh sendiri.
Dengan menyebutkan bukti-bukti fisik yang ditemukan di tempat kejadian, para skeptis menuduh bahwa dari permulaan FBI telah dengan sengaja memulai api itu dengan melemparkan granat-granat api ke dalam gedung. Pemerintah melakukan penyelidikan khusus terhadap Komisi Danforth, dan dalam kesaksian resmi FBI menyangkal bahwa mereka telah menggunakan, atau bahkan memiliki akses, terhadap alat-alat bakar dari jenis apapun. Komisi Danforth mengeluarkan sebuah laporan yang menyimpulkan bahwa api itu dimulai di dalam oleh para anggota Ranting Daud. Namun,, pada 1999, FBI dipaksa untuk mengakui bahwa kesaksian yang mereka sampaikan di hadapan Komisi Danforth adalah palsu. FBI kini mengakui bahwa mereka telah menggunakan granat-granat api Flite-Rite pada hari kebakaran itu, namun waktu penggunaannya masih tetap dipertikaikan. Pengakuan FBI tentang kesaksian palsu di hadapan Komisi Danforth menimbulkan pertanyaan tentang kesahihan kesimpulan-kesimpulan Komisi tersebut, namun pemerintah belum melakukan penelitian-penelitian lebih jauh.
Pemerintah mengajukan beberapa orang yang selamat ke pengadilan. Semuanya dibebaskan dari tuduhan melakukan permufakatan untuk membunuh agen-agen federal, namun sebagian dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan dengan sengaja.
Untuk informasi lebih jauh, lihat Pengepungan Waco.

Perebutan tanah
Dilumpuhkannya kelompok Koresh memberikan kesempatan kepada yang lain-lainnya untuk mempertikaikan penguasaan mereka atas lahan di Mt. Carmel. Dalam beberapa bulan, Amo Bishop Roden, bekas istri George, pindah ke tanah itu untuk mulai mendudukinya sendirian. Charles Pace, yang memimpin sebuah kelompok non-Koresh, bergabung dalam perebutan lahan tersebut pada 1994.
Kebanyakan orang yang bertahan hidup dan pendukung mengakui Clive Doyle sebagai anggota pengurus organisasi itu dan sebagai orang yang dipercayai lahan tersebut. Renos Avraam, salah seorang anggota Ranting Daud yang dipenjarakan telah menaytakan bahwa ia telah menerima sebuah terang nubuat baru, sebagai “Bejana Pilihan dari Pengantin yang Tersisa.” Namun, kebanyakan orang yang tersisa menentang faksi “Manna Tersembunyi” nya.
Pada 1996, penagdilan memutuskan bahwa tanah itu adalah milik Gereja Advent Hari Ketujuh, Ranting Daud. Namun, pengadilan hingga saat ini menolak untuk memutuskan siapa yang sesungguhnya berhak mewakili “gereja” itu.
Juga pada 1996, beberapa dari sisa pengikut Koresh mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk mengklaim hak atas properti gereja itu berdasarkan klaim bahwa merekalah yang berhak atas tanah itu.
Seorang pemimpin lain yang tidak terkait dengan kelompok Ranting Daud di bawah Koresh, Doug Mitchell, bergabung dalam kasus ini pada 1998. Mitchell menyatakan bahwa ketika Koresh meninggalkan Mt. Carmel pada 1984, ia menggunakan nama "Adventis Hari Ketujuh Pengikut Daud dari Ranting Daud" untuk para pengikutnya, dan dengan demikian ia "menghapuskan" nama gereja, sehingga melepaskan klaim mereka sebagai Ranting Daud sejati. Pada proses pra-peradilan, upaya-upaya Mitchell untuk mendapatkan keputusan pengadilan terhadap sisa-sisa pengikut Koresh yang akan melarang mereka menggunakan nama dan properti gereja itu ditolak dengan alasan "kurangnya yurisdiksi". Hakim Alan Mayfield merasa bahwa masalahnya melibatkan masalah-masalah gereja yang pengadilan tidak berhak mempertimbangkannya.
Mereka yang selamat telah membatalkan klaim mereka untuk mengubah pemilikan lahan itu sehari sebelum pengadilan dimulai, dan mereka hanya melanjutkan klaim mereka sebagai pewaris sah gereja itu. Klaim Doug Mitchell sebagai ahli waris yang ash atas properti gereja itu tidak diizinkan dipertimbangkan oleh juri, sementara klaim-klaim mereka yang bertahan dan klaim-klaim Amo Roden dipertimbangkan, namun ia diizinkan untuk membela diri terhadap klaim-klaim orang lain. Pada 2000, sebuah juri memutuskan melawan mereka yang bertahan dan Amo Roden. Namun mereka tetap bertahan di atas lahan itu, bersama-sama dengan Charles Pace.
Karena cara penggambaran pemerintah yang telah bertindak dalam konfrontasi 1993 itu, para pengikut Koresh yang selamat telah mendapatkan banyak simpati dan dukungan dari bebagai orang dan kelompok yang merasa bahwa tindakan pemerintah keliru. Dukungna ini telah memberikan kepada mereka sarana untuk melanjutkan identitas dan lahan gereja itu, hingga merugikan para anggota Gereja Advent Hari Ketujuh Ranting Daud, yang menentang Koresh. Lawan-lawannya tidak dapat menggunakan lahan itu dengan sah tanpa berkonflik dengan mereka yang selamat dan lainnya yang menentang atau bermasa bodoht erhadap klaim-klaim mereka. Mereka juga bekerja keras di belakang nama buruk yang dihasilkan oleh Koresh dan para pengikutnya terhadap nama Ranting Daud.
Sebuah kapel baru telah dibangun oleh mereka yang selamat dan pendukung mereka dekat tempat kompleks yang semula. Reruntuhan dari gedung yang lama, termasuk tempat perlindungan dari tornado serta kolam renang yang belum selesai, dapat dilihat oleh para pengunjung. Ada juga beberapa kenang-kenangan tentang para korbannya - baik para korban Ranting Daud, maupun para agen Federal yang tewas. Pohon-pohon perlindungan dengan plakat-plakat berisi nama dari masing-masing anggota Ranting Daud yang tewas telah ditanam di lahan itu. Akhirnya, untuk memperlihatkan simpati mereka yang mendalam terhadap para korban pengeboman Oklahoma City, sebuah tugu peringatan telah didirikan pula di Mt. Carmel.

Sekitar lima puluh  hingga tujuh puluh  orang menghadiri peringatan kenangan tahunan pada 19 April 2005.
Pada saat ini, Clive Doyle yang bertahan hidup, masih tinggal di Mt. Carmel Center dengan pendukung Ron Goins, yang mengoperasikan sebuah museum pengunjung kecil serta mengadakan penelaahan Alkitab pada setiap hari Sabat. Keluarga Pace juga tinggal diproperti itu dan menyelenggarakan ibadah-ibadah kebaktian.
Namun, hubungan-hubungan mulai berantakan. Pada bulan Agustus, Pace melakukan upacara baptisan bagi anggota-anggotanya di Mt. Carmel, yang diikuti oleh Goins. Hal ini membuat Doyle sebagai satu-satunya pengikut Koresh yang berada di lahan itu, dan ia megnatakan bahwa ia semakin ditekan untuk berpindah gereja atau pergi dari situ. Pada Februari 2006, ia memutuskan untuk pindah ke kota, dan juga mengosongkan museum pengunjungnya.
Hal ini membuat kelompok Pace menguasai Mt. Carmel. Pace telah menolak penanaman sekumpulan pohon peringatan dan menyebutkan sebagai kebiasaan kafir. Kelompoknya juga telah menebang pohon David Koresh, dan menghancurkan plakatnya, untuk mencegah kemungkinan digunakan sebagai berhala. Mereka juga telah menyingkirkan plakat-plakat dari pohon-pohon lain, dengan rencana untuk mengikutsertakan batu-batunya ke dalam bagian dari peringatan mereka yang tewas. Sementara itu, mereka yang selamat menyimpan harapan untuk mengklaim kembali properti itu.

Sep 10, 2017

Koresh Agung

Koresh Agung (atau Koresy Agung; bahasa Inggris: Cyrus the Great) adalah pendiri Kekaisaran Persia. Ia memulai kariernya selaku pejabat rendahan di bagian barat daya Iran, dia mendapat banyak kemenangan lewat pertempuran dan menguasai tiga kerajaan besar yaitu; Media, Lydia dan Babilonia. Ia juga menyatukan hampir seluruh daerah Timur Tengah lama menjadi satu negara yang membentang mulai India hingga Laut Tengah. Raja ini disebut namanya dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen karena titahnya untuk mengembalikan orang-orang buangan, termasuk bangsa Yahudi, kembali ke tanah air masing-masing, serta mengizinkan orang-orang Yahudi membangun kembali Bait Suci di Yerusalem (Yesaya 45:13; 2 Tawarikh 36:22-23; Ezra 1:1-8). Titah itu ditulis antara lain dalam Silinder Koresh, yang ditulis tahun 539 SM dan saat ini disimpan di British Museum, London.

Koresh (atau Kurush nama Persianya, dalam bahasa Inggris Cyrus) dilahirkan sekitar tahun 576 SM di provinsi Persis (kini Fars), di barat daya Iran. Daerah ini saat itu merupakan provinsi kerajaan Media. Koresh berasal dari keturunan penguasa lokal yang merupakan bawahan Raja Media.

Kudeta Kerajaan Media oleh Koresh

Meskipun ayahnya, Cambyses I, mati tahun 551 SM, Koresh sudah memerintah sejak tahun 559 SM sebagai raja muda. Bersama panglima kerajaan Media yang membelot, Harpagus, Koresh memberontak terhadap raja Astyages mulai musim panas tahun 553 SM, dengan peperangan pertama pada awal tahun 552 SM. Harpagus dan Koresh merebut ibukota Media, Ekbatana, tahun 549 SM, dan menjadi raja atas seluruh tanah Media dan Persia. Raja Asyages diberi ampun dan dijadikan gubernur salah satu provinsi. Pada tahun 546 SM, Koresh resmi memakai gelar "Raja Persia". Pamannya, Arsames, yang menjadi raja kota Persepolis (Parsa) di bawah kerajaan Media, tampaknya dengan damai menyerahkan kekuasaannya kepada Koresh dan menjabat sebagai gubernur Parsa di bawah kekuasaan Koresh. Putra Arsames, Hystaspes (ayah dari Darius I), yang juga sepupu Koresh, dijadikan wakil raja (satrap) dari Parthia dan Phrygia. Jadi Koresh menyatukan kerajaan kembar Akhemeniyah yaitu Parsa dan Anshan menjadi Kekaisaran Persia. Arsames masih hidup saat cucunya Darius I menjadi raja Persia, setelah matinya kedua anak Koresh.

Penyerangan ke Kerajaan Lydia

Croesus on the pyre. Attic red-figure amphora, 500–490 BC, Louvre (G 197)
Saudara ipar Astyages, raja Kroesus dari Lydia, pertama-tama menyerang kota Pteria (sekarang di Turki), rupanya sebagai balas dendam atas kekalahan Astyages. Koresh membawa tentara untuk menyerang Pteria tahun 546 SM. Kroesus mundur ke Sardis, ibukotanya pada keesokan harinya. Koresh kemudian mengepung kota Sardis. Harpagus menasehatkan Koresh untuk menempatkan onta-ontanya di depan tentaranya. Kuda-kuda Lydia tidak terbiasa membau onta, menjadi takut, sehingga Koresh dapat mengalahkan tentara Lydia dengan mudah. Koresh menangkap Kroesus dan menguasai kota Sardis. Menurut penulis sejarah Yunani, Herodotus, Koresh mengampuni Kroesus dan menjadikannya penasehat, namun menurut Tawarikh Nabonidus, raja Lydia dibunuh oleh Koresh.

Penyerangan ke Kerajaan Babilonia

Tahun 540 SM, Koresh merebut Elam (Susiana) dan ibukotanya, Susan. Tawarikh Nabonidus mencatat bahwa sebelum perang itu, Nabonidus memindahkan patung-patung dewa ke dalam ibukota Babilon, sehingga diperkirakan perang dimulai pada musim dingin 540 SM. Harran Stelae H2 - A, dan Tawarikh Nabonidus (tahun ke-17) menunjukkan Nabonidus merayakan tahun baru Akitu pada tanggal 1 Nissanu (4 April 539 SM) di Babilon. Di awal Oktober 539 SM, Koresh mengalahkan tentara Babel dalam Perang Opis, dengan sungai Tigris, di utara Babilon. Tanggal 10 Oktober, kota Sippar jatuh tanpa perlawanan berarti. Tanggal 15 Oktober, Gubaru, panglima Koresh, memasuki ibukota Babilon, tanpa perlawanan berarti dari tentara Babel. Herodotus menjelaskan bahwa tentara Persia menggunakan danau yang dibuat oleh ratu Babel, Nitokris, tadinya untuk melindungi Babilon dari serangan kerajaan Media, untuk membelokkan aliran sungai Efrat ke dalam kanal sehingga tinggi air tinggal selutut. Ini memudahkan tentara Persia untuk masuk kota melalui sungai pada waktu malam. Hal ini tidak berbeda dengan catatan dalam Kitab Daniel, bahwa raja Belsyazar dibunuh oleh tentara Persia pada waktu malam tanpa peperangan besar (Daniel 5:28). Pada tanggal 29 Oktober, Koresh masuk kota Babilon.

Politik dan pemerintahan

Koresh adalah seorang pemimpin yang punya kebolehan bidang militer. Tetapi itu cuma satu sisi dari seorang manusia. Yang lebih menonjol, mungkin, adalah kebijakan cara memerintahnya. Dia terkenal amat toleran terhadap agama-agama setempat dan juga adat-istiadat mereka. Dan dia senantiasa menjauhkan diri dari sikap kejam dan ganas seperti lazimnya para penakluk. Orang-orang Babilonia, misalnya, bahkan lebih kentara lagi orang Assyria, telah membunuh beribu-ribu manusia dan mengusir semua penduduk yang dikuatirkan bakal berontak. Misalnya, ketika Babilonia menaklukkan Yudea tahun 586 SM, mereka memboyong orang Yudea ke Babilonia. Tetapi lima puluh tahun kemudian, sesudah Koresh menaklukkan Babilonia, dia beri izin orang-orang Yahudi kembali ke kampung halamannya. Kalau tidak karena Koresh, rasanya orang-orang Yahudi akan musnah sebagai kelompok yang terasing pada abad ke-5 SM.

Akhir hayat

Tulisan kuneiform dari Babilon memberi bukti bahwa Koresh mati sekitar Desember 530 SM, yaitu dari tulisan terakhir mengenai pemerintahannya, (lempengan dari Borsippa tertanggal 12 Agustus 530 SM) dan referensi pertama mengenai pemerintahan putranya, Cambyses II (lempengan dari Babilon tertanggal 31 Agustus 530 SM) yang menggantikannya sebagai raja.

Makamnya terletak di ibukota Pasargadae (dibangun sekitar 530 SM) yang masih ada sampai sekarang. Penulis sejarah, Strabo dan Arrian mencatat gambaran yang hampir sama tentang makam ini berdasarkan laporan Aristobulus dari Cassandreia, yang atas perintah Iskandar Agung (Alexander the Great) mengunjungi makam ini 2 kali. Menurut Plutarch, batu nisannya bertuliskan,
“O insan, siapapun engkau dan darimanapun engkau datang, karena aku tahu engkau akan datang, akulah Koresh yang memenangkan kerajaan untuk orang-orang Persia. Karenanya janganlah berkeberatan terhadapku akan sedikit tanah ini untuk menutupi tulang-tulangku.

Daerah kekuasaan pada puncak kejayaannya
  • Kerajaan Media (wilayah Iran sekarang ini) dan provinsi Persis di barat daya Iran
  • Kerajaan Babilonia di Mesopotamia (wilayah Irak sekarang ini)
  • Suriah dan Palestina
  • Mesir
  • beberapa daerah di timur laut dari kerajaan Media (Asia Tengah), didapatnya dari menaklukkan Massage Tae, suku nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Kaspia
  • Kerajaan Lidia di Asia Kecil (wilayah Turki sekarang ini)
  • sebagian negara Pakistan dan Afganistan sekarang ini
  • Sedikit daerah India

Al-Aqsa dari tahun 4000 SM sampai 2010

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra ayat 1)

Ayat di atas adalah bukti kesucian Mesjid Al-Aqsa dan Yerusalem, kota tempat mesjid itu didirikan sebagai tempat yang disucikan bagi umat Islam sedunia, sebagaimana Mekah yang disucikan karena terdapat Baitullah atau Kabah di dalamnya. Selain itu dari Mesjid Al-Aqsa inilah Rasulullah Saw bermiraj menghadap Allah Swt untuk menerima perintah shalat, dan kemudian dijadikan arah tujuan shalat (kiblat) pertama sebelum kemudian dialihkan ke Kabah di Mekah berdasarkan perintah Allah pada surat Al-Baqarah ayat 144.

Sebagai kota suci bagi umat Islam, kota Yerusalem beserta mesjid Al-Aqsa-nya telah dinodai oleh kejahatan Pemerintah Israel yang bermaksud menguasai dan menghancurkannya, dan mendirikan tempat ibadah mereka di atas reruntuhannya, meskipun keyakinan tradisional mereka melarang untuk beribadah di wilayah itu.

Kesucian Mesjid Al-Aqsa bukan hanya karena pernah dijadikan arah kiblat pertama dan tempat ibadah bagi kaum Muslimin, tapi ia merupakan simbol harga diri umat Islam di mata dunia. Sudah selayaknya kaum Muslimin seluruh dunia membela kesuciannya, dengan mempertahankan keberadaannya.

Berikut ini sejarah kota Yerusalem dan Mesjid Al-Aqsa yang berada di dalamnya.

4000 – 3000 SM (Zaman Tembaga)

Sebelum bernama Yerusalem kota ini bernama Ofel dengan penemuan arkeologi berupa keramik

3000 – 2800 SM (Awal Zaman Perunggu)

Ditemukan bukti-bukti keberadaan pemukiman tetap

2600 SM

Diyakini para ahli bahwa kota ini didirikan oleh masyarakat Semitik Barat dengan pemukiman yang terorganisir.

Abad ke-9 SM

Menurut Teks Kebencian (Execration Texts), atau disebut juga Daftar Pelarangan, adalah teks-teks keramat Mesir kuno yang berisi nama-nama orang yang dibenci atau musuh negara, kota itu disebut dengan nama Roshlamem atau Rosh-ramen.

1000 SM

Yerusalem ditaklukkan oleh Raja Daud dari tangan orang Yebus dan dijadikan ibukota Kerajaan Israel.

970 SM

Masa akhir kekuasaan Raja Daud (Nabi Daud As), kemudian dilanjutkan oleh anaknya Salomo (Sulaiman As) yang membangun Bait Suci di Gunung Moria. Bait Salomo (kemudian dikenal sebagai Bait Pertama), memainkan perang penting dalam sejarah bangsa Yahudi sebagai tempat singgahnya Tabut Perjanjian (Ten Commandments atau 10 Firman Tuhan yang diterima oleh Nabi Musa).

930 M

Raja Sulaiman wafat. 10 suku utara memisahkan diri membentuk kerajaan Israel. Di bawah wangsa (dinasti) Daud dan Sulaiman, Yerusalem menjadi ibukota Kerajaan Yehuda.

722 SM

Bangsa Assyria menaklukkan Kerajaan Israel, Yerusalem dikuatkan oleh serombongan besar pengungsi dari kerajaan utara. Periode Bait Pertama berakhir sekitar tahun 586 SM, saat bangsa Babilonia menaklukkan Yehuda dan Yerusalem, dan menelantarkan Bait Salomo.

587 M

Masa 450 tahun dari 970 SM Yerusalem menjadi ibukota politik Kerajaan Israel bersatu, sedang Kerajaan Yehuda dan Baitnya menjadi pusat keagamaan bangsa Israel. Era ini dikenal dalam sejarah sebagai Periode Bait Pertama.

538 M

Setelah lima puluh tahun dalam pembuangan ke Babilonia, Raja Persia Koresh Agung mengajak orang Yahudi untuk kembali ke Yehuda membangun Bait. Pembangunan Bait Kedua selesai di tahun 516 SM, selama kekuasaan Darius Agung, 70 tahun setelah hancurnya Bait Pertama.

455 SM

Raja Artaxerxes I dari Persia mengeluarkan dekrit yang mengizinkan kota dan tembok dibangun kembali. Yerusalem kembali menjadi ibukota Yehuda dan pusat peribadatan orang Yahudi. Saat pengasa Makedonia Aleksander Agung menaklukkan Kekaisaran Persia, Yerusalem dan Yudea jatuh ke tangan Makedonia, segera setelahnya jatuh ke kekuasaan Dinasti Ptolemaik di bawah Ptolemy I.

198 SM

Ptolemy V kehilangan Yerusalem dan Yudea dari bangsa Seleukus di bawah Antiochus III. Kekaisaran Seleukus yang berusaha mengisi Yerusalem sebagai polis yang dihelenisasi menjadi gawat di tahun 168 SM dengan keberhasilan penuh Revolusi Makabe Mattathias sang Pendeta Tinggi dan kelima putranya atas Antiochus Epiphanes, dan terbentuknya Kerajaan Hasmonea mereka di tahun 152 SM dengan Yerusalem kembali sebagai ibukotanya.

6 M

Saat Roma menjadi semakin kuat, Herodes diangkat sebagai raja boneka Yahudi. Herodes Agung mengabdikan dirinya untuk membangun dan memperindah kota. Dia membangun tembok, menara, dan kuil, dan memperluas Bukit Bait, menopang halaman istana dengan balok batu yang beratnya mencapai 100 ton. Selama Herodes berkuasa, wilayah Bukit Bait bertambah luas. Di tahun ini, kota dan wilayah-wilayah di sekitarnya oleh penguasa Romawi dijadikan sebagai Provinsi Iudaea dan keturunan Herodes hingga Agrippa II masih memangku gelar raja boneka Yudea hingga 96 M.

70 M

Penguasa Romawi atas Yerusalem dan wilayah sekitarnya mulai tertantang dengan adanya Perang Yahudi-Romawi pertama, yang menyebabkan kehancuran Bait Kedua.

132

Dimulainya pemberontakan orang Yahudi terhadap penguasa Romawi yang dikenal dengan Revolusi Bar Kokhba, dan selama tiga tahun pemberontakan itu Yerusalem sekali lagi menjadi ibukota dari Yudea.

135

Orang-orang Romawi terus menekan revolusi di tahun 135. Kaisar Hadrianus meromawisasi kota dan mengganti namanya menjadi Aelia Capitolina, dan melarang orang Yahudi memasukinya. Hadrianus mengganti keseluruhan nama Provinsi Iudaea menjadi Syria Palaestina menurut kata Filistin dalam Alkitab untuk menjauhkan orang Yahudi dari negara mereka. Larangan orang Yahudi memasuki Aelia Capitolina berlanjut hingga abad ke-4 M.

Abad ke-4

Lima abad setelah revolusi Bar Kokhba, kota masih berada dibawah kekuasaan Romawi kemudian Bizantium. Selama abad ke-4, Kaisar Romawi Konstantin I membangun tempat-tempat Kristen di Yerusalem seperti Gereja Makam Kudus. Luas wilayah dan populasi Yerusalem mencapai puncak di akhir Periode Bait Kedua: Kota mencakup dua kilomoter persegi dan memiliki populasi 200.000. Dari dari-hari Konstantin hingga abad ke-7, Yerusalem dilarang bagi orang Yahudi.

Dalam rentang beberapa dekade, Yerusalem berganti penguasa dari Romawi menjadi Persia dan kembali dikuasai Romawi sekali lagi. Dengan adanya tekanan Khosrau II dari Sassania di awal abad ketujuh terhadap Bizantium hingga ke Syria, Jendral Sassania Shahrbaraz dan Shahin menyerang kota yang dikendalikan Bizantium, Yerusalem (bahasa Farsi: Dej Houdkh). Mereka

614

Pada pengepungan Yerusalem, setelah 21 hari peperangan tanpa ampun, Yerusalem direbut. Riwayat Bizantium menceritakan bahwa tentara Sassana dan orang Yahudi membantai puluhan dari ribuan orang Kristen di dalam kota, ini menjadi episode yang masih diperdebatkan para sejarawan. Kota yang ditaklukkan masih berada di tangan Sassania hingga sekitar lima belas tahun saat Kaisar Bizantium Heraklius merebutnya kembali di tahun 629.

621

Masjid Al-Aqsa atau disebut juga Bait Al-Muqaddas (Al-Quds) artinya rumah suci. Sedangkan pengertian Masjid Al-Aqsa adalah mesjid terjauh. Atau oleh Nabi Muhammad Saw disebut juga mesjid berkubah biru.

Mesjid Al-Aqsa ini terletak di Kota Yerusalem Timur atau dikenal dengan nama wilayah Al-Haram Asy-Syarif bagi umat Islam atau Har Ha-Bayit (Bukit Bait Allah atau Temple Mount/Kuil Bukit) bagi umat Yahudi dan Nasrani.  Mesjid ini berukuran 1/6 dari seluruh area Al-Haram Asy-Asyarif di dalam tembok Kota Lama Yerusalem. Ketika Rasul melakukan Isra pengertian Al-Aqsa adalah keseluruhan wilayah Al-Haram Asy-Syarif ini, sedangkan bangunan Mesjid Al-Aqsa seperti sekarang ini secara permanen dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H.

Bait yang pertama kali dibangun oleh Raja Sulaiman ini menjadi tempat singgahnya 10 Firman Tuhan, di sini juga Nabi Isa As. menerima wahyu kenabian, dan setelah itu dijadikan persinggahan Nabi Muhammad Saw sebelum Mi’raj ke langit. Masjid Al-Aqsa kemudian merupakan tempat suci ketiga setelah Mekah dan Madinah, dan pernah dijadikan arah kiblat shalat umat Islam selama 13 tahun penyebaran Islam di Mekah dan 17 bulan setelah hijrah di Madinah.

638

Di tahun 638, Kekhalifahan Islam membentangkan kekuasaannya hingga Yerusalem. Dengan adanya penaklukkan Arab, orang Yahudi diizinkan kembali ke kota. Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani kesepakatan dengan Patriakh Kristen Monofisit Sophronius untuk meyakinkan dia bahwa tempat-tempat suci dan umat Kristen Yerusalem akan dilindungi di bawah kekuasaan orang Muslim. Umar memimpin dari Batu Fondasi di Bukit Bait, yang sebelumnya telah ia bersihkan untuk mempersiapkan bangunan masjid. Menurut uskup Gaul Arculf, yang tinggal di Yerusalem dari 679 hingga 688, Masjid Umar merupakan bangunan kayu persegi yang dibangun di atas sisa-sisa bangunan yang dapat menampung 3.000 jamaah. Khalifah Abdul Malik dari Umayyah mempersiapkan pembangunan Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock) pada akhir abad ke-7. Sejarawan abad ke-10 al-Muqaddasi menulis bahwa Abdul Malik membangun altar untuk menyelesaikan kemegahan gereja-gereja monunental Yerusalem. Selama lebih dari empat ratus tahun berikutnya, ketenaran Yerusalem berkurang saat wilayah itu direbut dan menjadi wilayah kekuasaan Arab.

Kubah Al-Shakhrah inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Israel kepada dunia internasional sebagai Masjid Al-Aqsa untuk menipu umat Islam dunia, dan menjauhkannya dari pengetahuan dan pengawasan kaum Muslimin. Kubah ini letaknya di dalam wilayah yang sama dengan Masjid Al-Aqsa atau di area Al-Haram Asy-Syarif.

Tujuan utama media Yahudi menyamarkan Masjid Sakhra (Dome of the Rock) sebagai Masjid Aqsa adalah agar Yahudi bisa menghancurkan Al Aqsa dan membangun “Solomon Temple” (Kuil Sulaiman) pada bekas reruntuhan Al Aqsa. Umat Yahudi meyakini dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) bahwa akan datang di akhir zaman seorang yang mereka anggap sebagai dewa penolong Yahudi yang dinamakan “Messiah” (Al Masih, dalam bahasa Arab) apabila mereka mengadakan ritual agama di Solomon Temple dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah (Al Baqarah). (The Guardian Magazine).

1099

Tahun 1099, penguasa Fatimiyah mengusir penduduk Kristen asli sebelum Yerusalem ditaklukkan oleh Tentara Salib. Tentara Salib sendiri kemudian membantai sebagian besar penduduk Muslim dan Yahudi; lalu Tantara Salib membuat Kerajaan Yerusalem. Pada awal Juni 1099 populasi Yerusalem menurun dari 70.000 hingga kurang dari 30.000.

1187

Kota Yerusalem direbut dari Tentara Salib oleh Saladin atau Salahuddin Al-Ayyubi yang mengizinkan orang Yahudi dan Muslim kembali dan bermukim di dalam kota. Di bawah pemerintahan Dinasti Ayyubiyyah, Salahuddin Al-Ayyubi, periode investasi besar dimulai dengan pembangunan rumah-rumah, pasar, kamar-mandi umum, dan pondok-pondok bagi peziarah, begitu pula ditetapkannya sumbangan keagamaan. Meski demikian, selama abad ke-13, Yerusalem turun status menjadi desa karena jatuhnya nilai strategis kota perjuangan Ayyubiyyah yang gagal.

1244

Tahun 1244, Yerusalem dikepung oleh Kharezmian bangsa Tartar, yang mengurangi penduduk Kristen kota dan mengusir orang Yahudi. Khwarezmia dari bangsa Tatar diusir oleh Ayyubiyyah tahun 1247. Dari 1250 hingga 1517, Yerusalem dikusasai oleh Mamluk. Selama periode ini banyak pertentangan terjadi antara Mamluk di satu sisi dan tentara salib dan suku Mongol di sisi lain. Wilayahnya juga terimbas dari banyak gempa dan wabah hitam.

1517

Yerusalem dan sekitarnya jatuh ke tangan Turki Ottoman yang masih mengambil kendali hingga 1917. Yerusalem menikmati periode pembaruan dan kedamaian di bawah kekuasaan Suleiman I – termasuk pembangunan ulang tembok-tembok yang mengelilingi Kota Tua. Selama masa penguasa-penguasa Ottoman, Yerusalem berstatus provinsi, jika dalam hal keagamaan kota ini menjadi pusat yang sangat penting, and tidak menutup diri dari jalur perdagangan utama antara Damaskus dan Kairo. Orang-orang Muslim Turki melakukan banyak pembaharuan: sistem pos modern diterapkan oleh berbagai konsulat; penggunaan roda untuk mode transportasi; kereta pos dan kereta kuda, gerobak sorong dan pedati; dan lentera minyak, merupakan tanda-tanda awal modernisasi di dalam kota. Pada paruh abad ke-19, bangsa Ottoman membangun jalan aspal pertama dari Jaffa hingga Yerusalem, dan pada 1892 jalur rel mulai mencapai kota.

1831

Setelah aneksasi Yerusalem oleh Muhammad Ali dari Mesir, misi dan konsulat asing mulai menapakkan kakinya di kota. Tahun 1836, Ibrahim Pasha mengizinkan penduduk Yahudi Yerusalem memperbaiki empat sinagoga besar, termasuk di antaranya Sinagoga Hurva.

1834

Saat Revolusi Arab di Palestina, Qasim al-Ahmad memimpin penyerangan dari Nablus dan menyerang Yerusalem, dibantu oleh klan Abu Ghosh, dan memasuki kota pada 31 Mei 1834. Orang Kristen dan Yahudi di Yerusalem menjadi target penyerangan. Tentara Mesir Ibrahim menaklukkan serangan Qasim di Yerusalem bulan berikutnya.

1840

Kekuasaan Ottoman kembali lagi di tahun 1840, namun banyaknya orang Islam Mesir yang ada di Yerusalem dan orang Yahudi dari Algeria dan Afrika Utara yang berdatangan menyebabkan meningkatnya jumlah populasi di dalam kota. Di tahun 1840-an dan 1850-an, kuasa internasional mulai tarik tambang di Palestina saat mereka meminta perpanjangan perlindungan atas umat beragama minoritas di dalam negeri, sebuah perjuangan yang diangkat terutama oleh wakil konsuler di Yerusalem. Menurut konsul Prussia, populasi di tahun 1845 adalah 16.410 dengan 7.120 orang Yahudi, 5.000 Muslim, 3.390 Kristen, 800 tentara Turki dan 100 orang Eropa. Volume peziarah Kristen semakin meningkat selama kekuasaan Ottoman, dan menyebabkan populasi kota bertambah menjadi dua kali lipat selama Paskah.

1860

Pemukiman baru mulai berkembang di luar tembok Kota Tua sebagai tempat menetap para peziarah dan untuk mengurangi tingkat kepadatan dan sanitasi yang buruk di dalam kota. Kamp Rusia dan Mishkenot Sha'ananim didirikan di tahun 1860. Tahun 1867 Misionaris Amerika melaporkan populasi kira-kira Yerusalem 'diatas' 15.000 yang terdiri dari: 4.000 hingga 5.000 orang Yahudi dan 6.000 umat Muslim. Setiap tahun ada sekitar 5.000 hingga 6.000 Peziarah Kristen Rusia.

1917

Setelah Pertempuran Yerusalem, Tentara Britania dipimpin General Edmund Allenby mengepung kota, dan di tahun 1922, LBB (Liga Bangsa-bangsa bentuk pertama PBB, Persatuan Bangsa-bangsa) pada Konferensi Lausanne mempercayakan Britania Raya untuk mengatur Mandat bagi Palestina.

Dari tahun 1922 hingga tahun 1948 total populasi kota meningkat dari 52.000 menjadi 165.000 dengan dua pertiganya orang Yahudi dan sepertiga orang Arab (umat Muslim dan Kristen). Situasi antara orang Arab dan Yahudi di Palestina tidak tenang. Di Yerusalem, kerusuhan terjadi tahun 1920 dan tahun 1929. Di bawah pemerintahan Britania, taman-taman baru dibuat di pinggir kota di bagian utara dan barat kota dan institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Ibrani didirikan.

Saat masa jabatan Mandat Britania untuk Palestina berakhir, Rencana Pembagian Palestina oleh PBB tahun 1947 mengusulkan “pembuatan rezim internasional khusus di Kota Yerusalem, mengesahkannya sebagai corpus separatum di bawah administrasi PBB”. Rezim internasional (yang juga termasuk kota Bethlehem) tetap berlaku selama satu periode berkisar sepuluh tahun, kemudian sebuah referendum diadakan untuk memutuskan rezim masa depan kota. Namun, rencana ini tidak dilaksanaan karena perang tahun 1948 meletus, sementara Britania menarik diri dari Palestina dan Israel menyatakan kemerdekaannya. Perang memicu pemindahan populasi Arab dan Yahudi di kota. 1.500 penduduk Perempat Yahudi di Kota Tua terusir dan beberapa ratus dipenjara saat Legiun Arab mengepung Perempat itu pada 28 Mei. Legiun Arab juga menyerang Yerusalem Barat dengan sniper.

1948

Tanah tak berpemilik antara Yerusalem Barat dan Timur mulai diurus pada November 1948: Moshe Dayan, komandan tentara Israel di Yerusalem bertemu dengan rekan Yordanianya Abdullah el Tell di sebuah tempat tinggal gurun di lingkungan Musrara Yerusalem dan menandai posisi mereka masing-masing: posisi Israel berwarna merah dan Yordania berwarna hijau. Peta kasar, yang tidak berarti sebagai suatu yang resmi, menjadi garis gencatan senjata final dalam Kesepakataan Gencatan senjata 1949, yang membagi kota dan meninggalkan Gunung Scopus sebagai daerah kantong Israel. Kawat berduri dan pagar beton penghalang dipasang di pusat kota dan tembak-tembakan militer sering pecah di wilayah gencatan senjata. Setelah proklamasi Negara Israel, Yerusalem dideklarasikan sebagai ibukotanya. Yordan yang meaneksasi Yerusalem Timur tahun 1950, memberlakukan hukum Yordania di wilayah itu. Hanya Britania Raya dan Pakistan yang mengakui aneksasi tersebut, yang, terkait Yerusalem, berada atas dasar de facto. Adalah meragukan jika Pakistan dikatakan melakukan pencaplokan terhadap Yordania.

Yordania mengambil kendali tempat-tempat suci di Kota Tua. Bertolak-belakang dengan syarat-syarat perjanjian, orang Israel tidak diperkenankan masuk ke tempat-tempat suci, banyak diantaranya yang dinajiskan. Yordania mengizinkan akses sangat terbatas ke tempat-tempat suci Kristen. Selama periode ini, Kubah Shakhrah dan Masjid al-Aqsa direnovasi besar-besaran.

Para pendoa Yahudi di Tembok hanya mungkin berada di beberapa titik di sepanjang gang sempit di pinggiran wilayah orang-orang Maroko yang padat penduduknya, sebuah daerah yang diwariskan pada abad kedua belas untuk pengikut Saladin oleh putranya Malik al-Afdhal.

1967

Setelah Israel merebut Yerusalem Timur pada Perang Enam Hari di tahun 1967, orang Yahudi dan Kristen diperbolehkan memasuki kembali tempat-tempat suci, sementara Bukit Bait masih menjadi yurisdiksi wakaf Islam. Wilayah orang Maroko yang berbatasan dengan Tembok Barat, dikosongkan dan dihancurkan untuk membuat jalan bagi sebuah plaza bagi mereka mengunjungi dinding. Sejak perang, Israel telah memperluas lingkar kota dan menetapkan lingkar pemukiman Yahudi di tanah kosong sebelah timur Garis Hijau.

Namun, pengambilalihan Yerusalem Timur dikritik oleh dunia internasional. Setelah penyampaian Hukum Yerusalem Israel, yang menyatakan Yerusalem “sepenuhnya dan kesatuan” ibukota Israel, Dewan Keamanan PBB menyampaikan resolusi yang menyatakan terjadi “pelanggaran hukum internasional” dan meminta semua negara-negara anggota menarik semua duta besarnya dari kota.

Status kota ini, khususnya tempat-tempat suci, masih menjadi masalah inti konflik Israel-Palestina. Pemukim Yahudi telah mengambil alih situs-situs bersejarah dan membangun di tanah yang disita dari orang Arab untuk meluaskan kehadiran orang Yahudi di Yerusalem Timur, sementara pemimpin-pemimpin Islam terkemuka mengklaim orang Yahudi tidak memiliki hubungan sejarah dengan Yerusalem, menganggap Tembok Barat yang telah berusia 2500 tahun dibangun sebagai bagian dari masjid. Orang Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina di masa mendatang.

Di akhir perang pada Juni 1967, saat pasukan Israel memasuki Kota Tua, pemerintah Israel diberi kesempatan tidak hanya untuk memulihkan keberadaan Yahudi ke kota bertembok namun menciptakan wilayah baru Yahudi yang diperluas, yang terdapat Tembok Barat sebagai pusatnya.

1970

Sekelompok rabi ekstremis – dipimpin oleh Shlomo Goren, yang kemudian menjadi kepala rabi Israel – mulai melobi agar orang Yahudi diizinkan masuk ke kompleks mesjid untuk berdoa, walaupun keputusan rabbi tradisional bertenangan dengan praktek seperti.

Kelompok-kelompok Yahudi segera muncul menuntut lebih: bahwa masjid akan diledakkan untuk mencari jalan untuk pembangunan sebuah kuil ketiga yang akan membawa lebih dekat kepada kedatangan Mesias mereka.

1996

Di saat menjabat perdana menteri, Netanyahu membuka terowongan di Tembok Barat, penggalian lainnya mendekati kompleks masjid, sehingga terjadi bentrokan yang menewaskan 75 orang Palestina dan 15 tentara Israel.

Israel, yang mengatakan masjid berada di atas reruntuhan dua kuil Yahudi kuno, yang dibangun oleh Salomo dan Herodes, mengacu pada situs di Gunung Bait dan telah menyampaikan pengakuan untuk mendapatkan kedaulatan atas wilayah tersebut dalam perundingan damai baru-baru ini.

2000

Sebelumnya kekacauan yang oleh Israel pada otoritas Islam di situs ini telah memicu bentrokan antara polisi Israel dan Palestina. Kunjungan pasukan bersenjata lengkap ke kompleks mesjid oleh Ariel Sharon pada tahun 2000, lama sebelum ia menjadi perdana menteri, untuk menyatakan hak Israel ada memicu Intifada kedua.

Pada perundingan Camp David di tahun 2000, Bill Clinton, kemudian menjadi presiden AS, mengusulkan membagi kedaulatan sehingga Israel akan memiliki kontrol atas “ruang bawah tanah” dari kompleks masjid dan Tembok Barat. Selama pembicaraan Ehud Barak, perdana menteri Israel sekarang, pengamat mengkhawatirkan sebutan atas keseluruhan kompleks Yahudi dengan “Mahakudus”, istilah yang sebelumnya digunakan hanya mengacu pada tempat suci di dalam candi yang telah hancur.

Meskipun undang-undang kemurnian agama Yahudi telah melarang orang Yahudi secara tradisional memasuki Mount Temple (Kuil Bukit), namun semakin banyak rabi Yahudi menuntut agar diizinkan untuk berdoa di dalam kompleks tersebut. Lebih lagi kelompok fanatik yang diketahui mendukung peledakan masjid-masjid dan membangun sebuah kuil ketiga di tempat mereka.

2004

Terjadi kerusakan kecil di jalan batu menuju Gerbang Mughrabi di depan kompleks mesjid oleh sebuah badai kecil. Kerusakan bertambah luas karena Israel membongkar jalan itu kemudian.

Menurut bukti yang ditunjukkan ke pengadilan Yerusalem, saat ini para pejabat Israel menggunakan kerusakan jalan tersebut sebagai dalih untuk membongkarnya enam tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk menggantikan jalan dengan jembatan logam permanen dan kemudian memperluas plaza doa Yahudi ke daerah dimana jalan itu.

Skema ini adalah gagasan Shmuel Rabinowitz, rabi yang bertanggung jawab atas Tembok Barat, yang menyatakan kerusakan jalan pada tahun 2004 adalah sebuah “keajaiban” yang mana Israel ditawari kesempatan untuk menguasai lebih banyak tanah yang dikuasai Islam di Kota Tua .

2007

Rencana Shmuel Rabinowitz itu disetujui oleh sebuah komite menteri khusus yang dipimpin oleh Ehud Olmert, yang kemudian menjadi perdana menteri. Proyek ini juga mendapat dukungan dari Netanyahu, meskipun ia membekukan pekerjaan konstruksinya pada bulan Juli atas perintah pengadilan Yerusalem.

Hakim, Moussia Arad, mengusulkan pada bulan Januari agar jalan dikembalikan, atau paling tidak jembatan mengikuti rute jalan yang tepat, dan semua pendoa dilarang di lokasi. Posisi itu mendapatkan dukungan dari pejabat PBB yang memantau pekerja Israel di Gerbang Mughrabi.

Pendekatan ilmiah untuk penggalian itu disorot pada awal tahun 2007 ketika muncul tiga tahun sebelumnya arkeolog-arkeolog Israel telah menemukan di sebuah situs ruang berdoa muslim dari masa Saladin, berasal dari abad ke-11, tapi penemuan itu tidak dihiraukan.

Pada bulan Februari 2007, ketika Israel membawa alat berat untuk penggalian di Gerbang Mughrabi, ratusan warga Palestina bentrok dengan polisi sementara Gerakan Islam di Israel menggelar demonstrasi besar-besaran. Jihad Islam mengatakan telah menembakkan dua roket Qassam dari Gaza sebagai jawaban, dan Brigade Martir al-Aqsa mengancam akan melakukan serangan jika pekerjaan itu tidak dihentikan.

Otoritas Islam juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa bagian masjid mungkin akan rusak oleh buldoser, dan mesin berat mungkin juga akan menghancurkan Masjid Al-Buraq yang masih belum ditemukan, yang diyakini terletak dekat dengan Gerbang Mughrabi, yang menandai situs di mana Nabi Muhammad menambatkan kudanya pada malam perjalanan dari Mekah menuju Yerusalem (Isra’).

Untuk menenangkan situasi, Israel mengizinkan pakar dari Turki untuk memeriksa penggalian beberapa waktu kemudian. Mereka melaporkan bahwa Israel sedang berusaha mengenyampingkan sejarah Islam di Yerusalem sehingga aspek Yahudi bisa lebih ditonjolkan.

2009

Pada bulan Desember, bertepatan dengan bulan Ramadhan, Israel mulai melakukan penggalian untuk membangun sejumlah terowongan di dekat Mesjid Al-Aqsa. Terowongan-terowongan itu dibangun saling terhubung di bawah lingkungan Arab Silwan, berkedalaman 120 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 3 meter, dan diarahkan menuju bagian utara Mesjid Al-Aqsa.

Pihak Palestina meyakini Israel ingin meng-yahudinisasi Yerusalem dan menghancurkan Mesjid Al-Aqsa, kemudian membangun kuil kedua di atas reruntuhan Mesjid. Namun pihak Israel berdalih melakukan penggalian terowongan untuk fasilitas pariwisata yang pembangunannya dimulai di bawah tanah.

Sementara itu 100.000 orang Palestina tidak bisa mencapai mesjid Al-Aqsa untuk shalat Jum’at (11/12/09) karena dilarang tentara pendudukan Israel. Sejak pagi Jumat ribuan orang Palestina tersebut yang berdatangan dari seluruh kota-kota Tepi Barat mengantri untuk diizinkan masuk ke dalam areal mesjid.

2010

Pemerintah Israel telah berkeras meneruskan rencana untuk memperbesar alun-alun doa Yahudi di Tembok Barat di Kota Lama Yerusalem, meskipun diperingatkan akan beresiko memicu intifadhah ketiga.

Para pejabat Israel menolak proposal pengadilan Yerusalem minggu ini (Maret 2010) untuk mengesampingkan rencananya setelah hakim menerima pendapat bahwa perluasan alun-alun doa akan melanggar “status quo” yang meliputi pengaturan tempat-tempat suci Kota Tua. Otoritas Islam menyetujui pengaturan tersebut setelah Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967.

Situs yang dimaksud oleh pejabat Israel terletak di Gerbang Mughrabi, sebuah pintu masuk ke kompleks masjid yang dikenal sebagai Haram al-Sharif, situs yang paling sensitif dalam konflik antara Israel dan Palestina. Di dalamnya ada Masjid Al-Aqsa dan Dome oh the Rock dengan kubah berlapis emasnya. 

Tembok Ratapan Yerusalem

Tembok Ratapan atau juga disebut Tembok Barat tidak lain adalah sisa dari bangunan besar Bait Suci Kedua yang dibangun Herodes. Bait Suci sendiri ialah tempat peribadatan paling sentral dan sakral dari puncak spiritualitas keyakinan Yahudi dan persatuan bangsanya.
Sejarah pembangunan Bait Suci tidak bisa dilepaskan dari konteks Kerajaan Israel kuno dan keyakinan akan keberadaan Tabut Perjanjian yang dibawa oleh Musa, sosok sentral dalam agama Yahudi.

Tabut Perjanjian berisi 10 Perintah Tuhan yang diturunkan kepada Musa ini dalam narasi keagamaan Yahudi kemudian secara berkala dipindahkan di beberapa tempat-tempat yang diyakini suci oleh para penerusnya.

Ensiklopedia Britannica menyebut bahwa di masa kepemimpinan Raja Daud, Kerajaan Israel merasa perlu membangun tempat khusus untuk sebuah kuil atau bait, guna meletakkan Tabut Perjanjian warisan Musa tersebut. Daud kemudian memilih sebuah bukit bernama Gunung Moriah, tempat yang diyakini dalam keyakinan Yahudi sebagai lokasi Abraham membangun altar ketika hendak mengorbankan anaknya Ishak.

Namun, bukan Daud yang kemudian membangun sebuah kuil atau bait tempat Tabut Perjanjian diletakkan. Anaknya Salomo-lah yang membangun sebuah Bait Suci yang selesai pada 957 SM. Bait Suci yang pertama dibangun ini berfungsi utama sebagai tempat tinggal Tabut Perjanian dan perkumpulan seluruh rakyat.

Bangunan itu sendiri digambarkan tidak besar, tapi halamannya luas. Bangunan menghadap ke timur, berbentuk persegi panjang dan terdiri dari tiga kamar yaitu teras, ruang utama sebagai ibadah, dan ruang mahakudus tempat Tabut Perjanjian disimpan. Sebuah tempat penyimpanan berada mengelilingi area Bait Suci dengan pengecualian di bagian depan.

Bangunan Bait Suci pertama atau juga umum disebut Bait Suci Salomo ini hancur ketika Raja Nebukadnezar II dari Kekaisaran Babilonia menyerang Yerusalem. Kala itu, Raja Israel adalah Yoyakim. Peristiwa penghancuran kuil ini terutamanya dicatat oleh Kitab Ibrani ketika pasukan dari Nebukadnezar membakar Bait Suci tersebut pada 587 SM.

Narasi Kitab Ibrani menyebutkan masa restorasi Bait Suci Salomo yang hancur dilakukan ketika Koresh yang Agung dari Persia memasuki Yerusalem. Buku William Albirght berjudul The Biblical Period from Abraham to Ezra: An Historical Survey menyebut pada 559 SM Raja Koresh mulai menata kembali kota Yerusalem.

Pada 515 SM bangunan Bait Suci Kedua yang direstorasi ini selesai dilakukan. Ketika itu, Kekaisaran Babilonia telah jatuh dan mengizinkan para tawanan Yahudi yang selama ini dibawa ke Babilonia untuk membangun reruntuhan dari Bait Suci Salomo itu dengan versi yang lebih sederhana.

Apa yang disebut sebagai pembangunan Bait Suci Kedua justru datang ketika Herodes memerintah Kerajaan Israel. Dalam buku Leen Ritmeyer berjudul Secrets of Jerusalem's Temple Mount, pembangunan yang dimulai pada 20 SM ini memperluas wilayah dari Bait Suci Salomo hingga dua kali lipat dan menurut narasi Kitab Ibrani berlangsung selama 46 tahun.

Namun, beberapa laporan menyebut banyak dari benda-benda Kuil Pertama Salomo hilang, termasuk Tabut Perjanjian sehingga, tidak terdapat lagi dalam Bait Suci Kedua yang dibangun Herodes. Maka, fungsi utama yang tersisa adalah pusat peribadahan Yahudi beserta tradisi-tradisinya.

Alföldy Géza dalam bukunya berjudul A Building Inscription from the Colosseum menyebut pada tahun 66 Masehi banyak penduduk Yahudi memberontak terhadap Kekaisaran Romawi yang telah lama menduduki mereka, bahkan di era Herodes yang dianggap sebagai boneka Kekaisaran Romawi.

Empat tahun kemudian, legiun Romawi di bawah Kaisar Titus merebut kota Yerusalem dan banyak menghancurkan bangunan kota tersebut, termasuk Bait Suci Kedua. Gerbang Titus bahkan dibangun di Yudea untuk memperingati kemenangan Roma dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Beberapa artefak bersejarah dalam Bait Suci Kedua juga turut dijarah tentara Roma, termasuk Menorah yang kemudian digunakan untuk mendanai pembangunan Koloseum. Saat ini, yang tersisa dari kehancuran Bait Suci Kedua adalah bangunan dari Tembok Barat yang juga disebut sebagai Tembok Ratapan juga beberapa bagian lainnya.

Tahun 691 M, Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah didirikan di bagian dalam dari Tembok Barat.

Dalam narasi kepercayaan Yahudi, Bait Suci Ketiga masih diyakini untuk dibangun di tempat yang sama menggantikan Bait Suci Pertama dan Kedua yang telah hancur seperti merujuk kembali pada kitab suci mereka. Moses Maimonides, filsuf Yahudi yang eksis di Andalusia adalah salah satu yang membenarkan tentang pembangunan Bait Suci Ketiga.

Meski begitu, kalangan kelompok-kelompok Yahudi masih memiliki perdebatan tentang kapan dan perlunya pembangunan kembali Bait Suci Ketiga sebagai wadah puncak tempat peribadatan. Berdirinya situs-situs Islam seperti Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah di lokasi kompleks reruntuhan Bait Suci juga menjadi kendala pembangunan di masa sekarang.

Tembok Ratapan Yerusalem, Saksi Berbagai Konflik dan Perangshare infografik

Kekristenan sendiri juga memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat Bait Suci Ketiga yang umumnya tidak berupa bangunan fisik lagi.
Penggalian arkeologi di masa modern menemui kesulitan manakala kompleks tersebut telah menjadi bagian suci dari agama-agama Abrahamik seperti Kristen dan Islam. Ekspedisi dari Charles Warren dari tahun 1867-1870 hanya terbatas di permukaan dari kompleks Temple Mount atau dikenal dengan Kompleks al-Haram.

Beberapa penelitian arkeologi berikutnya masih menemukan bukti-bukti artefak tentang peradaban ketika masa Bait Suci Salomo berdiri. Tahun 2007 lalu misalnya, artefak yang menunjukkan umur abad ke 8 dan ke 6 SM kemungkinan menjadi bukti fisik pertama dari aktivitas manusia di area Bait Suci Salomo.

Batu Magdala yang ditemukan pada 2009 lalu juga dianggap sebagai representasi dari ukiran masa Bait Suci Kedua sebelum penghancuran.

Kini keberadaan Yerusalem sebagai kota tua lebih diakui sebagai kota suci bagi tiga agama Abrahamik lantaran baik Kekristenan dan Islam yang muncul setelah peradaban Yahudi memiliki riwayat dan wilayah sakral di Yerusalem.

Secara politik, status Yerusalem juga masih menjadi rebutan layaknya yang terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Selama Perang Arab-Israel 1948 misalnya, Yerusalem Barat menjadi daerah yang dikuasai Israel, sementara Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua dikuasai oleh Yordania.

Perebutan berlanjut saat Perang Enam Hari 1967 yang dimenangkan oleh Israel dan membawa wilayah besar Yerusalem bersama-sama dengan wilayah tambahan di sekitarnya. Saat ini, Yerusalem menjadi bagian dari konflik Israel dan Palestina. 

Sep 7, 2017

Hawa

Wanita Dan Tujuan Penciptaannya.

Ketika Adam membuka matanya untuk pertama kali, dan melihat dunia, ia lalu memuji Allah, "Betapa besar pekerjaan-Mu, Ya Tuhan!" Tetapi kekaguman terhadap dunia olehnya, tidak melebihi kekaguman semua mahluk terhadap Adam. Mereka menganggapnya sebagai pencipta mereka, dan mereka berduyung-duyung menghadap dan memujanya. Namun ia berkata : "Mengapa kalian menyembah saya? Tidak, kalian dan aku, bersama-sama seharusnya menyembah yang Maha Agung dan Kuasa, yang menciptakan kita semua. Allah Sang Raja, Ia adalah yang berselimut keagungan."

Dan bukan pula segala mahluk di dunia, bahkan para malaikat mengira Adam adalah tuan dari segalanya, dan mereka mulai memujinya : "Kudus, kudus, kuduslah, Tuan dari surgawi," ketika Allah membuat Adam jatuh tertidur, segeralah para malaikat menyadari bahwa ia hanyalah manusia.

Tujuan dari membuat Adam tertidur adalah untuk memberinya seorang istri, hingga manusia dapat berkembang biak, dan juga agar semua mahluk menyadari perbedaan antara Allah dan manusia. Ketika bumi mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Allah, ia mulai bergerak dan berguncang, dan berkata "Aku tidak punya kekuatan, untuk menyediakan makanan dan ternak untuk keturunan Adam."

Namun Allah menenangkannya dengan firman, "Aku dan engkau bersama-sama, kita akan menyediakan makanan dan ternak." Dengan demikian, waktu dibagi antara Allah dan bumi; Allah mengambil malam hari, dan bumi siang hari. Kesegaran dari tidur, memperkaya dan menguatkan manusia, ia memberi waktu istirahat dan hidup, sementara bumi menghasilkan tanaman darinya, dengan bantuan Allah yang mengairi bumi. Dan manusia harus bekerja untuk mendapatkan makanan dari bumi.

Lilith - Istri pertama Adam.

Kehendak illahi untuk memberi Adam teman hidup, sesuai dengan keinginan manusia, yang diliputi perasaan kesepian ketika para binatang yang mendatanginya untuk diberi nama, muncul secara berpasangan. Untuk menghilangkan rasa kesepiannya, Lilith adalah yang pertama diberikan kepada Adam sebagai istrinya. Seperti Adam, ia diciptakan dari debu tanah. Namun hanya bersama Adam dalam waktu yang singkat, karena ia bersikeras memiliki kesetaraan yang sama dengan suaminya. Menurutnya, Hak-hak tersebut adalah sama berdasarkan kesamaan asal-usul.

Dengan bantuan dari nama yang tidak terucapkan, yang ia sebut, Lilith lalu terbang meninggalkan Adam, dan ia lenyap diudara. Adam mengeluh kepada Allah bahwa istri yang diberikan Allah, telah meninggalkan dirinya, dan Allah mengutus tiga malaikat untuk mencarinyas. Mereka menemukannya di Laut Merah, dan berusaha membuatnya kembali dengan ancaman, bahwa jika ia pergi, ia akan kehilangan anak-anaknya setiap hari akibat kematian (100 anak-anak setan).

Namun Lilit lebih memilih dijatuhi hukuman dibanding hidup bersama Adam. Ia kemudian membalas dendam dengan mencelakai bayi-bayi -- bayi lelaki yang lahir, pada malam pertama mereka, sedangkan bayi perempuan akan terkena pengaruh jahatnya setelah 20 hari. Salah satu cara untuk menangkal pengaruh jahatnya, adalah mengenakan jimat yang bertulis nama malaikat yang menangkapnya, pada anak-anak tersebut, karena ini adalah perjanjian diantara mereka.

Wanita ditakdirkan untuk menjadi pendamping pria, karena ia diambil dari bagian tubuh Adam, untuk bergabung dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Penciptaan wanita dari lelaki dimungkinkan karena Adam pada mulanya mempunyai dua sisi, yang dipisahkan pada saat penciptaan Hawa.

Ketika Allah dalam pembuatan hawa, ia berkata: "Saya tidak akan membuatknya dari kepala Adam, agar ia tidak mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan kesombongan; tidak dari mata, agar ia tidak menjadi mata yang nakal; tidak dari telinga, agar ia tidak gemar menguping; tidak dari leher, agar ia tidak kurang-ajar; tidak dari mulut, agar ia tidak menjadi pembuka rahasia seseorang; tidak dari hati, agar ia tidak iri dan dengki; tidak dari tangan, agar ia tidak mencampuri urusan; tidak dari kaki, agar ia tidak menjadi petualang. Aku akan membuat ia dari bagian suci dari tubuh," dan kepada setiap organ tubuh yang dibentuk-Nya, Allah berfirman, "Menjadi sucilah! jadilah suci!" Namun yang terjadi, walau ia dibuat dengan kehati-hatian, wanita adalah penyebab kejatuhan, sesuatu yang Allah ingin hindari.

Puteri Zion menjadi tinggi hati dan berjalan dengan mengulurkan leher dan mata nakal; Sarah adalah tukang nguping di  dalam tendanya sendiri, ketika malaikat berbicara kepada Abraham; Miriam adalah tukang adu (pengadu), menuduh Musa, Rahel iri terhadap saudaranya Leah; Hawa menjulurkan tangan mengambil buah terlarang, dan Dinah adalah petualang.

Perbedaan lelaki dan wanita, berdasarkan bahan pembuatannya.

Pembentukan fisik wanita jauh lebih rumit dibanding lelaki, karena ia harus berfungsi untuk melahirkan anak, dan juga kecerdasan wanita mencapai kematangan lebih cepat dibanding pria. Banyak dari perbedaan fisik dan psikis antara kedua jenis kelamin ini, yang diatributkan pada fakta bahwa lelaki diciptakan dari tanah dan wanita dari tulang lelaki.

Wanita memerlukan wangi-wangian, sedangkan lelaki tidak; debu tanah tetap sama tidak peduli berapa lama ia disimpan, namun dagin, memerlukan garam untuk tetap dalam kondisi baik.

Suara wanita melengking, tidak begitu dengan suara lelaki; ketika makanan lunak dimasak, tidak ada suara yang terdengar, tapi biarkan tulang di dalam panci, dan akan terdengar bunyi.

Lelaki mudah ditenangkan, tidak begitu untuk wanita; beberapa tetes air cukup untuk melunakkan gumpalan tanah; tulang tetap keras, bahkan jika direndam berhari-hari.

Lelaki harus meminta kepada wanita untuk menjadi istrinya, dan wanita tidak meminta lelaki untuk menjadi suaminya; karena lelaki yang merasakan kehilangan rusuk, dan ia yang bergegas mencari bagiannya yang hilang.

Perbedaan mendasar antar ke dua jenis kelamin ini, terdapat pada cara berpakaian dan norma sosial, yang jika harus dilihat pada asal usul lelaki dan wanita untuk mengetahui penyebabnya. Wanita menutupi rambutnya, dikarenakan Hawa
yang membawa dosa kedalam dunia; ia mencoba menutupi aib nya; dan wanita mendahului lelaki dalam iring-iringan pemakaman, karena wanita yang membawa kematian ke dalam dunia. Dan hukum-hukum agama yang diberlakukan terhadap wanita saja, berhubungan dengan sejarah Hawa.

Adam adalah persembahan khusus bagi dunia, dan hawa menajiskannya. Sebagai penebusan, semua wanita diperintahkan untuk memberikan persembahan yang berbeda dan itu adalah adonan (dalam yudaisme adonan khusus dipersembahkan oleh wanita).
Dan karena wanita memadamkan cahaya dari jiwa manusia, ia diperintahkan untuk menyalakan lampu Sabbath.

Adam dibuat dalam keadaan tertidur nyenyak ketika tulang rusuknya untuk Hawa diambil. Sebab, jika ia menyaksikan proses penciptaannya, ia tidak akan dapat mencintainya. Dan benarlah hingga hari ini, bahwa seorang lelaki tidak akan terpesona pada wanita yang ia kenal sejak masa kecil.

Sesungguhnya, Allah telah menciptakan seorang istri bagi Adam sebelum Hawa, namun ia tidak akur dengannya, karena ia menyaksikan bagaimana ia di ciptakan. Diketahui dengan rinci semua bentuknya, Adam ditolak olehnya.

Ketika Adam terbangun dari tidur nyenyaknya, ia menemukan Hawa disampingnya, dalam kecantikan dan keindahannya, ia berseru. "Dia lah yang membuat jantungku berdenyut setiap malam." Setelah dilihatnya pembawaan wanita itu, yang berusaha mencari perhatian Adam, demi sanjungan dan belaian, Adam mengatakan, "Inilah loncengku yang tak pernah diam."

Pernikahan Adam & Hawa

Pernikahan pasangan pertama dirayakan dengan kemegahan yang tidak akan pernah diulang dalam sejarah. Allah sendiri, yang menyandingkan Hawa kepada Adam, dan menghiasi Hawa sebagai pengantin. Dan, Ia berkata kepada para malaikat: "Mari, kita rayakan penyatuan Adam dan teman hidupnya, dimana dunia beristirahat atas penyatuan ini, dan hal ini bahkan lebih menyenangkan hati-Ku, dibanding pengorbanan yang akan dilakukan oleh Israel diatas altar."

Para malaikat berkumpul mengelilingi tenda pernikahan, dan Allah mengucapkan pemberkatan atas pasangan pengantin, seperti Hazan (penyanyi) dibawah Huppah (kanopi). Para malaikat menari dan memainkan alat musik kepada Adam dan Hawa pada 10 kamar pengantin yang terbuat dari emas, mutiara, dan batu mulia, yang disiapkan oleh Allah untuk mereka.

Adam & Hawa di Taman Eden/Firdaus.

Taman Eden adalah tempat tinggal Adam & Hawa, dan jiwa setiap orang harus melewati taman ini setelah kematian, sebelum mencapai tujuan akhir mereka. Setiap jiwa yang meninggal harus melalui 7 gerbang seblum mencapai surga "Arabot".
Disana jiwa para orang kudus akan diubah menjadi malaikat, dan berdiam disana selamanya, memuji Allah, berdiam ditempat kemuliaan Allah.

Gerbang ke-1, adalah gua Machpelah, di dekat Firdaus, yang berada dalam perawatan Adam. Jika jiwa yang melewaatinya di dapati adalah jiwa yang layak, maka terdengar seruan "Sediakan tempat! Engkau diterima!" gerbang ini di jaga oleh kerub dengan pedang menyala. Namun jiwa yang tidak pantas melaluinya akan terbakar oleh nyala api dari pedang, dan yang layak akan melanjutkan perjalanannya kedalam alam firdaus. Disana terdapat pilar kabut dan cahaya yang membentang dari firdaus ke gerbang Surga (ke-2), dan tergantung dari karakter sang jiwa, apakah ia mampu mencapai hingga ke gerbang surga.

Gerbang ke-3, Zebul, ia adalah pintu masuk ke wilayah surga. Jika jiwa tersebut didapat layak oleh penjaganya, maka ia dapat meneruskan perjalanannya ke kuil surgawi (Kembaran bait Allah di Yerusalem). Michael mengantar jiwa tersebut ke hadapan Allah, dan menemaninya hingga ke gerbang ke-7, Arabot, disana lah jiwa dari orang kudus akan diubah menjadi malaikat.

Di Taman Firdaus berdirilah pohon pengetahuan, lalu terdapat pagar, dan melewati pagar tersebut terdapatlah pohon kehidupan. Hanya jiwa tertentu yang telah diberi izin melalui pohon pengetahuan, yang dapat mendekati pohon kehidupan, yang sangat besar dan dibutuhkan 500 tahun untuk melintasi jarak yang sama dengan diameter pohon tersebut. Dari bawahnya mengalirlah air yang akan mengairi seluruh bumi, aliran tersebut kemudian terpisah menjadi 4 sungai, Gangga, Nil, Tigris & Eufrat. Namun hanyalah pada masa penciptaan, dunia tanaman mencari makanannya dari air bumi. Kemudian Allah membuat  dunia tanaman bergantung pada hujan, air yang berada dilangit.

Awan naik dari bumi ke langit, dimana air dituangkan ke bumi yang nampak seperti sebuah saluran. Para Tanaman baru mulai merasakan sentuhan air hanya ketika Adam di ciptakan. Walau mereka telah diciptakan pada hari ke-3, Allah tidak mengizinkan mereka untuk tumbuh dan muncul diatas permukaan bumi, sampai adam berdoa kepada-Nya untuk memberikan makanan kepada mereka, karena Allah menantikan doa orang-orang kudus.

Sesungguhnya kondisi taman Firdaus, tidak memerlukan usaha keras dari Adam untuk mengolahnya. Karena, Allah menempatkan manusia kedalam Taman Eden sebagai penghuni dan menjaganya, sebagai tempat untuk mempelajari Torah dan menjalankan segala perintah Allah.

Ada 6 Perintah khusus yang diharapkan kepada setiap manusia untuk dipatuhi; Tidak menyembah berhala, tidak menghujat Allah, tidak melakukan pembunuhan, tidak melakukan incest, tidak mencuri dan merampok, dan menegakkan peraturan dan ketertiban. Terdapat beberapa perintah lain disana, namun hal itu hanyalah berlaku sementara. Adam hanya diperbolehkan memakan sayur-sayuran dari kebun. Dan larangan untuk memakan daging binatang baru dicabut setelah masa banjir Nuh. Namun hal ini tidak berarti Adam tidak pernah memakan daging, para malaikat lah yang menyajikan daging dan anggur, dan menjamunya seperti halnya seorang tamu. Para malaikat dan binatang melayani segala kebutuhan Adam. Mereka berada dibawah kendali Adam dan Hawa. Pada saat itu, hubungan dunia binatang dan Adam berbeda, mereka memahami bahasa manusia, mereka menghormati gambar dan rupa Allah, dan mereka gentar akan pasangan manusia pertama, segalanya berubah semenjak kejatuhan manusia.