Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Jul 14, 2017

Raja Israel Purba

Daud (1 Taw 18)1050-1010 sm
Pencapaian militer Daud adalah sebagai berikut menghancurkan kota Gat milik bangsa Filistin - kata menghancurkan ini kurang tepat karena bukti sejarah arkeologi menunjukkan bahwa Gat (Tell es-safi) kemungkinan dihancurkan oleh Hazael raja Aram dimasa pemerintahan Yoahas bin Yehu sekitar tahun 814-798 sm.

Mengalahkan bangsa Moab, Ammon, Amalek, Edom, serta raja Hadadezer dari Aram - Zoba dekat Hamath di sungai Efrat, juga menundukkan Aram - Damaskus dan menarik upeti dari mereka, atau dengan kata lain negeri tersebut menjadi negri vassal Israel.
Raja Tou (Raja Tou ini belum terkonfirmasi secara arkeologis) dari Hamath juga membayar upeti kepada Daud karena mengalahkan musuhnya raja Hadadezer.

Salomon bin Daud (2 Taw 1) 1010 - 970 sm
  • Salomon memperistri anak Firaun sehingga ia menjadi menantu raja Mesir.
  • Salomon menguasai wilayah dari Sungai Eufrat di utara (Phoenician, Aram, Hammath) hingga perbatasan Mesir di selatan (Wilayah Edom), dari Filistin di Barat, hingga Amon, Moab di Timur, mereka semua takluk dan membayar upeti ke Solomon.
  • Mempunyai 40.000 kuda, 1400 kereta perang, 12.000 tentara kavaleri.
  • Raja Hiram dari Tyre/Tirus menyumbang kayu untuk pembangunan bait Allah.
  • Pembangunan ini dimulai pada tahun ke-4 pemerintahan Salomon, dan 480 thn setelah orang Israel keluar dari Mesir.
  • Fisik bait Allah versi Salomon mirip dengan kuil di daerah Ain Dara.
  • Raja Hiram dari Tirus dikatakan sebagai anak dari janda suku Naftali dan berayahkan orang Tirus, seorang ahli tembaga. Hiram dikatakan mengerjakan segala yang berhubungan dengan logam pada pembangunan bait Allah. (1 Raja 7:13-47)
  • Membalas jasa raja Hiram, Salomon memberikan 20 kota di negeri Galilea, namun Hiram kurang berkenan dan menamai wilayah tersebut tanah Kabul.
  • Salomon lalu menggunakan budak rodi untuk memperkuat Tembok kota Yerusalem, Hazor, Meggido dan Gezer.
  • Gezer adalah kota yang direbut, dibakar dan penduduknya (bangsa Kanaan) dimusnahkan oleh Firaun, yang lalu diberikan kepada Salomon sebagai mas kawin anaknya, yang diperistri.
  • Selain 3 kota utama, Salomon juga membuat kota-kota perbekalan disepanjang wilayah kekuasaannya.
  • Budak rodi ini adalah sisa-sisa bangsa Amori, Het/Hatti/Hittite, Feris, Hewi, Yebus, dan non-Israel yang luput dari penumpasan bangsa Israel.
  • Salomon mendirikan pelabuhan dan galangan kapal di Ezion-Geber di dekat wilayah Elat, di tepi laut Teberau (Teluk Abaqa). Atas bantuan raja Hiram para pelaut phoenician membimbing pelaut Israel menuju negeri "misterius" Ofir disana mereka berhasil mengambil (atau berdagang?) emas sebanyak 420 talenta emas (1 talenta = 33 kg, 420 talenta = 13.860 kg), kayu cendana, dan batu permata.
  • Ia dikunjugi oleh ratu Sheba (negeri Sheba ini dalam perdebatan lokasinya).
  • Dalam setahun Salomon mendapatkan upeti & penghasilan pajak dari para penguasa dan pedagang Arab, sebanyak 666 talenta = 21.978 kg emas.
  • Selain mempunyai kapal menuju Ofir, Salomon juga memiliki kapal menuju negeri "misterius" Tarshis, juga atas bantuan pelaut Hiram (Phoenician), dari Tarshis Salomon mendapatkan emas, perak, kera, dan burung Merak. (Barang yang sama diperoleh para raja Assyrian dari negeri Tyre)
  • Salomon membeli kuda dan kereta perang para pedagang negeri Misraim (Mesir) dan negeri Kue/Kewe/Keve. Dikisahkan pula bahwa para raja Aram dan Hittite/Het juga memberi dari pedagang ini. Negeri Misraim dan Keve ini dalam perdebatan lokasinya, apakah Misraim (mesir) atau Musri yang terletak di daerah moderen Turki. Dalam kasus ini terjadi kesulitan dalam menerjemahkan teks Masorets.
  • Salomon memperistri 700 wanita dari kaum bangsawan dan gundik sebanyak 300 orang, beberapa berasal dari Sidon, Moab, Amon, Edom dan Het/Hitti.
  • Salomon jatuh kedalam penyembahan berhala dari para wanitanya, seperti dewi Asytoret milik bangsa Sidon, Milkom/Molokh dewa bangsa Amon, Kamos/Chemos dewa bangsa Moab.
  • Setelah Salomon jatuh kedalam penyembahan berhala, Yahweh membuat musuh bagi Salomon yaitu Hadad dari Edom, ia adalah keturunan raja yang berhasil mengungsi ke Mesir ketika bangsanya ditumpas oleh Daud dan Yoab. (ada yang berpendapat Hadad ini mungkin dari Aram, dan anak "Firaun" yang diperistri Salomon adalah anak Hadad)
  • Musuh lainnya bernama Rezon bin Elyada orang Aram, yang memberontak dari raja Hadadezer raja Aram-Zoba. (tokoh ini belum terkonfirmasi secara arkeologi) Rezon ini lolos dari penumpasan oleh Daud karena ia melarikan diri ke Damaskus, disana ia diangkat menjadi raja Aram-Damascus.
  • Musuh berikutnya adalah Yerobeam bin Nebat, ia awalnya adalah pegawai Salomon, tetapi oleh Nabi Ahia ia dinubuatkan akan menjadi raja atas 10 suku Israel. Salomon hendak membunuh Yerobeam akibat hal ini, dan Yerobeam lalu mengungsi ke Mesir dibawah perlindungan Firaun Shishak.
Setelah Salomon wafat, anak Salomon bernama Rehabeam di plot sebagai penerusnya, Namun ditentang oleh 10 suku Israel yang lebih mendukung Yerobeam bin Nebat, hal ini menyebabkan perpecahan kerajaan. Pemberontakan suku 10 Israel terhadap Rehabeam bin Salomon dikarenakan ia tidak menurunkan pajak yang ditetapkan oleh ayahnya yang dianggap memberatkan, ia malah menambah beban pajak. Hal ini membuat 10 Suku Israel mengalihkan dukungan kepada Yerobeam bin Nebat.

Yerobeam bin Nebat (1 Raja 12) (931-910 sm)
  • Memerintah selama 22 thn dan berasal dari suku Efraim.
  • Memperkuat Sikhem di wilayah Efraim yang berbatasan dengan Yerusalem, Sikhem adalah ibu kota Israel pasca Salomon.
  • Ia lalu memperkuat dan memindahkan ibu kota Israel ke Pnuel di lembah Yordan.
  • Ia membuat altar persembahan untuk patung lembu dari emas di Betel dan Dan, sebagai saingan untuk bait Allah di Yerusalem.
  • Ia sering mengalami kekalahan perang melawan Yehuda dibawah pemerintahan Abiah, dimana bala tentaranya yang 2x lebih banyak (Abiah 400.000 vs Yerobeam 800.000) ditumpas hingga 500.000 prajuritnya mati didalam peperangan.
  • Ia kehilangan beberapa kota termasuk Bethel dimana patung lembu emasnya berada.
Nadab bin Yerobeam (1 Raja 15) (910-909 sm)
  • Memerintah selama 2 thn.
  • Ia di khianati dan dibunuh oleh perwira militernya sendiri yaitu Baesa bin Ahia, ketika sedang mengepung kota bangsa Filistin yang bernama Gibeton.
  • Baesa membunuh seluruh keturunan Nadab dan Yerobeam.
Baesa bin Ahia (1 Raja 15) (909-886 sm)
  • Memerintah selama 24 thn, berasal dari suku Isakhar.
  • Ibu kota Israel berada di Tirza
Ela bin Baesa (1 Raja 16) (886-885 sm)
  • Memerintah selama 2 thn.
  • Ia di kudeta oleh panglimanya yang bernama Zimri.
  • Seluruh keturunan Ela dan Baesa ditumpas oleh Zimri.
Zimri (1 Raja 16) (885 sm)
  • Memerintah selama 7 hari.
  • Ketika ia mengkudeta raja di Tirza. Panglima Israel lainnya yang sedang mengepung kota Gibeton di wilayah Filistin diangkat menjadi raja oleh rakyat dan separuh tentara Israel. Seketika itu mereka berbalik menuju Tirza dan mengepung ibu kota, Zimri yang berada di dalam istana ketakutan ia pun membakar istana dan mati di dalam kobaran api.
Omri (1 Raja 16) (885-874 sm)
  • Memerintah selama 12 thn.
  • Sewaktu Zimri membunuh raja Ela, ada dukungan rakyat selain Omri, yaitu pada Tibni bin Ginat.
  • Omri membutuhkan waktu 4 thn untuk menumpas Tibni hingga akhirnya ia menjadi raja tunggal.
  • Omri diperkirakan adalah salah satu serdadu bayaran dari bangsa asing, ada yang mengatakan dari bangsa Arab.
  • Ia memerintah di Tirzah selama 6 Tahun, kemudian ia membeli gunung Samaria dari Semer sebanyak 2 Talenta (66 Kg) Perak.
  • Di gunung Samaria ia membangun ibu Kotanya, dan ibu kota ini bertahan selama Israel berdiri.
Ahab bin Omri (1 Raja 16) (874-853 sm)
  • Ahab memerintah selama 22 thn.
  • Ia memperistri Izebel/Jezebel anak Ethbaal raja Sidon (Phoenician/Fenesian), raja Sidon merangkap pula sebagai Imam dewa Baal, dan anaknya Izebel adalah penyembah Baal dan Asherah (istri Baal) yang taat.
  • Ahab mendirikan mezbah dan kuil Baal di Samaria, ibu kota Israel.
  • Pada zaman Ahab, kota Jericho dibangun kembali oleh Abiram dari Bethel, dengan mengorbankan 2 anaknya (sulung dan bungsu) sebagai dasar kota, dan pintu gerbang.
  • Nabi Elia dari Tisbe-Gilead hidup pada zaman Ahab, dikisahkan perseteruan sengit antara Nabi Yahweh dan Baal dalam meminta hujan. Nabi Yahweh (Eliah) akhirnya berhasil mengalahkan nabi Baal, dan ia akhirnya membantai 450 orang nabi Baal di gunung Karmel. Izebel sangat murka akan tindakan Elia dan berniat membunuhnya, Elia kemudian melarikan diri dari Israel, dan menuju Aram-Damaskus, disana ia mengurapi Hazael yang akan menjadi raja Aram. Selain itu ia juga mengurapi Yehu (cucu Nimsi) yang akan menjadi raja Israel, dan juga mengangkat pengganti dirinya yaitu nabi Elisa dan Abel-Mehola. (Elisa dikemudian hari menubuatkan Hazael akan menjadi raja, dan Benhadad yang sedang sakit akan mati terbunuh, oleh nubuat ini Hazael lalu membunuh Benhadad dan mengklaim diri sebagai raja Aram-Damaskus).
  • Benhadad raja Aram, lalu berperang memerangi Israel dan mengepung Samaria - berdasarkan kitab 2 Tawarik raja Asa dari Yehuda, membayar sejumlah uang kepada Benhadad agar menyerang Israel, tetapi pasukan Benhadad dapat dipukul mundur oleh Ahab.
  • Ditahun berikutnya Benhadad ingin membalas kekalahan sebelumnya, kali ini Benhadad berperang dengan Ahab di wilayah Afek, dan ia kembali kalah. Benhadad lalu berjanji mengembalikan kota-kota Israel yang telah dianeksasi oleh leluhurnya kepada Ahab, dan Israel boleh berdagang di  Damaskus, seperti leluhur Benhadad berdagang di Samaria.
  • Ahab lalu mengadakan perjanjian damai dengan Yehuda, ia dengan raja Yosafat bin Asa mengikat persaudaraan dengan perkawinan antar anak Ahab yang bernama Atalya dengan Anak Yosafat bernama Yoram.
  • Setelah merasa kuat atas Aram, Ahab menyetujui ajakan Yosafat untuk merebut Ramot-Gilead yang dikuasai Aram, dan menurut mereka dahulu itu adalah wilayah Israel/Yehuda. Kali ini gabungan kekuatan Israel dan Yehuda kalah dan raja Ahab wafat. Efek dari kekalahan ini menyebabkan Mesa raja Moab melepaskan diri sebagai negeri vassal Israel.
Ahaz bin Ahab (1 Raja 22) (853-852 sm)
  • Ahaz memerintah selama 2 thn.
  • Ahaz mati karena sakit dan ia tidak mempunyai keturunan lelaki, raja Israel berikut diteruskan oleh Saudaranya yang bernama Yoram.
Yoram bin Ahab (2 Raja 3) (852-841 sm)
  • Ada masalah kronologi dalam informasi kapan Yoram menjadi raja atas Israel.
  • 2 Raja 1:17 dikatakan "Yoram bin Ahab menjadi raja menggantikan Ahaz bin Ahab pada tahun kedua Zaman Yoram bin Yosafat" 
  • 2 Raja 3:1 dikatakan "Yoram bin Ahab menjadi raja di Samaria atas Israel dalam tahun kedelapan belas zaman Yosafat raja Yehuda"
Dalam hal ini kita konteks sejarah lebih cocok pada ayat 2 Raja 3:1.
  • Yoram memerintah selama 12 thn.
  • Kisah Nabi Elia naik ke Surga terjadi pada era Ahaz -> Yoram, demikian juga dengan kisah-kisah mujizat nabi Elisa seperti mengutuk anak-anak yang memperoloknya yang kemudian diterkam beruang, memperbanyak minyak, membangkitkan orang mati, memberimakan 100 orang, menyembuhkan penyakit kusta yang diderita oleh panglima perang negeri Aram, membuat kapak besi mengapung diatas sungai Yordan, dll (2 Raja 4-8).
  • Pada zaman ini pula Elisa menubuatkan Hazael akan menjadi raja Aram menggantikan raja Benhadad yang sedang sekarat, setelah pertemuan ini Hazael lalu membunuh Benhadad dan mengangkat diri menjadi raja Aram. (2 Raja 8:7-15)
  • Mesa raja Moab, menolak membayar upeti tahunan kepada Israel sebesar 100.000 ekor domba dan bulu domba, dan memberontak terhadap Israel atas status mereka sebagai negeri vassal. Yoram lalu mengajak Yosafat untuk bergabung menghukum Mesa. Mereka ingin menyerang melalui Edom yang berada diselatan Yehuda dan kebetulan pada waktu itu termasuk wilayah Yehuda (negeri vassal - pada kitab Tawarik di-informasikan bahwa Edom adalah dalam status negeri tanpa raja, dan dikuasai oleh pejabat level bupati dari Yehuda).
  • Pertempuran berlangsung dengan korban tewas yang banyak pada pihak Moab. Dimana ketika raja Mesa sudah tersudut, diatas tembok kota ia lalu mengorbankan anak sulungnya yang juga merupakan putra mahkota, sebagai korban bakaran bagi para dewa. Melihat hal tersebut pihak Israel dan Yehuda secara mengejutkan mengundurkan diri dari peperangan.
  • Pada tahun ke 5 masa pemerintahan Yoram bin Ahab menjadi raja Israel, anak Yosafat yang juga bernama Yoram menjadi raja atas Yehuda, dan ada 2 Yoram yang menjadi raja. Pada Masa Yoram bin Yosafat inilah Edom lalu memberontak dan mengangkat raja atas negeri mereka setelah sekian lama dikuasai Yehuda. Yoram bin Yosafat hanya berkuasa selama 8 thn, kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Ahazia bin Yoram bin Yosafat.
  • Pada tahun ke 18 Yoram raja Israel, Ahazia menjadi raja atas Yehuda, Ahazia adalah Kemenakan Yoram bin Ahab, anak dari saudarinya yang bernama Atalya binti Ahab.
  • Melihat pergantian kekuasaan di Aram dari Benhadad ke Hazael, Ahazia dan Yoram bergabung menyerang Aram. Mereka mengulang Koalisi sebelumnya oleh Ahab dan Yosafat melawan Benhadad, di Ramot-Gilead. Lagi-lagi mereka dapat dikalahkan oleh pihak Aram, Dan lagi-lagi raja Israel-Yoram terluka parah, Yoram lalu mundur ke wilayah Yizreel untuk berobat.
  • Ketika peperangan berlangsung di Ramot-Gilead, Nabi Elisa mengutus anak buahnya agar mengurapi salah satu panglima Israel yang bernama Yehu, dan membujuknya untuk mengkudeta raja Yoram, serta menghabisi seluruh keturunan Omri (2 Raja 9).
  • Yehu lalu bergegas ke Yizreel menyusul Yoram yang terluka. Di sana ia bertemu dengan Yoram dan Ahazia (Keduanya adalah keturunan Omri)
  • Yehu lalu membunuh Yoram dengan panah menembus jantung, tetapi Ahaz yang juga terpanah dapat meloloskan diri ke Meggido dan mati disana (2 Raja, di versi kitab 2 Tawarikh 22:9 Ahaz melarikan diri ke Samaria, tetapi ditangkap lalu dibawa kepada Yehu lalu ia dibunuh.
  • Yizreel adalah sebuah lembah di sekitar Samaria, di sana raja Ahab membangun kediamannya.
Yehu cucu Nimsi (2 Raja 10) (841-814 sm)
  • Memerintah selama 28 thn, selama hidupnya ia memberantas penyembahan Baal di Israel dan membunuh seluruh keluarga Omri/Ahab.
  • Setelah membunuh raja di Yizreel, Yehu menuju kediaman izebel, disana ia memerintahkan agar pelayan istana membunuh ratu dengan melemparnya dari jendela, mayat Izebel lalu terinjak-injak oleh kuda hingga hancur dan menyisakan kepala dan kedua telapak kaki dan tangan saja. Yehu lalu menyuruh para pengasuh anak-anak Yoram yang berjumlah 70 lelaki agar membunuh mereka, karena takut akan hukuman dari Yehu mereka lalu memenggal anak-anak tersebut dan mengirim kepala mereka kepada Yehu, ia lalu menyusun kepala tersebut dipintu gerbang sepanjang hari. Setelah itu Yehu lalu membunuh semua keluarga Ahab di Yizreel, orang-orang kepercayaannya, termasuk pula keluarga Ahazia yang kebetulan sedang berada di Samaria. Ia kemudian membunuh seluruh nabi Baal diseluruh Israel, dan membakar kuil mereka.
  • Implikasi dari pembersihan keturunan Omri di Israel, membuat raja Atalya (ibu raja Ahazia) yang menjadi ratu di Israel menjadi gila ia malah membunuh anak dan cucu2nya sendiri, dan mengklaim diri sebagai ratu Yehuda.
  • Namun Yehu tidak menghancurkan mezbah untuk anak lembu emas yang berada di Betel dan di wilayah Dan. Atas dosa ini penulis kitab menganggap hukumannya adalah sebagian besar wilayah Israel akan direbut oleh raja Hazael dari Aram, nampaknya Yehu bukanlah seorang pemimpin militer yang tangguh. Walau digambarkan sebagai pembela Yahweh dan mengikuti perintah nabi Elisha, ia nampak tunduk pada penguasa Assyria.
Yoahas bin Yehu (2 Raja 10:35; 13:1-9) (814-798 sm)
  • Memerintah selama 17 thn.
  • Yoahas bukanlah tandingan raja Hazael dari Aram. di zamannya Aram semakin berkuasa atas Israel, ia bahkan dapat melintas secara bebas di wilayah Israel menuju kearah selatan dan merebut kota Gat milik bangsa Filistin serta mengepung Yerusalem dan memaksa Yoas bin Ahazia raja Yehuda membayar upeti dengan sangat besar hingga menguras kas bait Allah.
  • Nabi Elisa wafat pada zaman Yoahas, dan dikisahkan saking lemahnya Israel pada zaman ini pula bangsa Moab kerap merampok kota-kota di Israel pada setiap pergantian tahun. Pada suatu saat ketika terjadi prosesi penguburan mayat, bangsa Moab tiba-tiba menyerang, orang-orang seketika berlarian dan melempar mayat yang kebetulan bersentuhan dengan tulang-belulang Elisha, dan pada saat itu juga mayat tersebut hidup kembali. (2 Raja 13:20-21)
  • Pada saat Hazael raja Aram wafat dan digantikan oleh anaknya bernama Benhadad bin Hazael, Yoas berhasil memukul mundur kekuatan Aram dari Israel.
  • Amazia raja Yehuda menantang Yoahas bin Yehu untuk berperang, mungkin didasari balas dendam karena Yehu ayah Yoahas telah membunuh kakeknya (Ahaz bin Ahab), namun Yoas mempu mengalahkan dan menawan Amazia dan Yerusalem beserta bait Allah pun tidak luput dari aksi penjarahan.
  • Yoas bin Yoahas (2 Raja 13:10) (798-782 sm)
  • Memerintah selama 16 thn.
  • Berperang melawan Amazia raja Yehuda.
Yerobeam II bin Yoas (2 Raja 14) (782-753 sm)
  • Memerintah selama 41 thn.
  • Ia merebut wilayah Hamat dan teluk Arabah, wilayah Aram termasuk diantaranya Damaskus.
  • Nabi Yunus bin Amitai dari Gat-Heger hidup pada era Yerobeam II.
Zakharia bin Yerobeam II (2 Raja 15:8) (753-752 sm)
  • Memerintah selama 6 bln.
  • Ia dibunuh oleh komandan militernya sendiri yang bernama Salum bin Yabesh dihadapan rakyat Israel, dan berakhirlah garis keturunan Yehu dari tahta kerajaan Israel (Yehu-Yoahas-Yerobeam II-Zakharia).
Salum bin Yabesh (2 Raja 15:13-16) (752 sm)
  • Memerintah selama 1 bln.
  • Setelah membunuh raja ia lalu mengklaim sebagai raja Israel, namun kemudian dibunuh oleh sesama komandan militer raja Zakharia, yang bernama Menahem bin Gadi.
Menahem bin Gadi (2 Raja 15:17-22) (752-742 sm)
  • Memerintah selama 10 thn.
  • Setelah mendengar kematian raja Zakharia yang dibunuh oleh teman sejawatnya. Ia menolak mengakui keabsahan si pemberontak, dari wilayah Tirza ia lalu memimpin pasukannya mengepung Samaria.
  • Invasi Tiglath Pileser III (Pul) raja Assyria telah sampai di Israel, raja Menahem menaikkan pajak dengan sangat tinggi sebagai upeti kepada Assyria.

Pekahya bin Menahem (2 Raja 15:23) (742-740 sm)
  • Memerintah selama 2 thn.
  • Ia digulingkan oleh salah satu bawahannya yang bernama Pekah bin Remalya yang didukung oleh 50 orang dari suku Gilead di Istana raja.
Pekah bin Remalya (2 Raja 15:27) (740-732 sm)
  • Memerintah selama 20 thn.
  • Bersama-sama dengan Rezin raja Aram, Pekah menyerang Yehuda pada zaman Yotham bin Uzia dan Ahaz bin Yotham.
  • Karena ada pergantian kekuasaan di Israel maka perjanjian damai dengan Tiglath-Pileser III menjadi batal, raja Assyria kembali memerangi Israel, benteng-benteng Israel berjatuhan diantaranya adalah Lyon, Abel-Bet-Maakha, Yanoah, Kadesh, Hazor, Gilead, dan Galilea, serta seluruh wilayah Naftali. Penduduknya ini dibawa ke Assyia dan diperbudak. Aram ditaklukkan dan raja Rezin dibunuh.
  • Ia kemudian digulingkan oleh Hosea bin Ela.
Hosea bin Ela (2 Raja 17) (732-712 sm)
  • Memerintah selama 9 thn.
  • Kali ini Assyria dibawah pemerintahan raja Salmaneser kembali menginvasi Levant, Hosea takluk dan membayar upeti. Ketika beberapa waktu berlalu Hosea berhenti memberi upeti kepada Assyria dan bekerja sama dengan Mesir, maka majulah raja Assyria menyerbu Israel, ia lalu membuang sebagian besar penduduk Israel ke tanah Assyria, mereka mendiami kota Halah, dan di negeri Mede/Madai/Persia. Raja Assyria lalu memindahkan orang dari berbagai negeri lain ke wilayah Israel (Samaria) seperti dari Kutha, Awa, Hamat, Sefarwaim.
  • Penduduk baru Samaria ini adalah penyebab orang Yahudi tidak ramah terhadap orang Samaria dizaman Yesus.

Jul 11, 2017

Penyaliban

“apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati lalu dia dihukum mati lalu dia dihukum mati kemudian kau gantung dia pada sebuah tiang , maka janganlah mayatnya dibiarkan semalaman pada tiang itu , tetapi haruslah menguburkan dia pada hari itu juga sebab seorang yang digantungkan terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajis kan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, Kepada mu menjadi milik pusakamu” ULANGAN 21:22-23

Penyaliban merupakan sebuah bentuk hukuiman mati pada saman kuno, dimana korbannya diikat atau dipaku pada ting kayu atau salib. Alkitab menyinggung tentang penyaliban dalam Ulangan 21:22-23.
Namun pada zaman Musa dalam sejarah Yahudi, korbannya biasanya dilempari batu terlebih dahulu kemudian setelah mati digantung dipohon, sebagai tontonan umumtentang kutukan Allah dan Manusia. Tindakan penyaliban dimana tertuduh diikat dipohon ting atau salib sebagai sarana kematian kemudian diperkenalkan oleh budaya non-Yahiudi.
         
Hukuman mati pada zaman kono sangat brutal, bahkan tiga bentuk eksekusi paling barbar dikatakan adalah crux ( Latin :salib , siksaan ; penyaliban) cremation (membakar hidup-hidup dengan api) dan decollation ( penggal kepala) dari ketiganya penyaliban dipandang paling brutal. Cicero merupakan “kematian merupakan kematian paling kejam dan mengerikan”. Penyaliban tampaknya berasal dari budaya Asyur dan Babel yang menarik kedua bangsa inilah yang membawa kedua orang Yahudi kepembuangan. Bangsa Asyur menaklukan kerajaan Utara (Israel) pada 722 SM dan bangsa babel menaklukan Kerajaan Selatan (Yhudea) Pada 605 SM.
         
Namun penyaliban kemungkinan juga dipakai sebagai sarana eksekusi secara rutin oleh bangsa Persia pada abad 6 SM. Bangsa Persia 600 tahun tahun sebelum Yesus Disalibkan oleh bangsa romawi , secara khusus mengikat korban pada pohon atau menyulakan pada tiang vertiaka, dalam kitab Ezra raja Persia Koresy, mengeluarkan putusan
         
“Selanjutnya telah dikeluarkan perintah oleh ku, supaya setiap orang yang melanggar keputusan ini akan dicabut sebatang tiang dari rumahnya untuk menylakannya pada ujung tiang itu , dan supaya rumahnya dijadikan reruntuhan oleh karnba hal itu”, (Ezra 6:11)
         
Hukuman penylaan pada tiang atau tonggak yang yang brutal ini merupakan contoh crux simplex.  Sama halnya dalam Ester 2, ketika raja Persia Ahasyweros mendengar persekongkolan yang direncanakan oleh 2 penjaga untuk membunuhnya, dia menyuruh dua orang itu disulakan ditiang, dan haltersebut merupakan bentuk setandar penyaliban di Persia kuno. Ayah Ahasyweros raja Darius. Satu kali menghukum mati 3000 orang melalui penyulaan diatas tiang crux simplex dicatat dalam Ester 5 Haman dan isrtinya berencana untuk menyluhkan Mordekhai pada ting setinggi 22 meter yang akan terlihat dari seluruh penjuruh, mereka mungkin merupakan bentiuk penyaliban primitif yang melibatkan penyulaan atau pengan tungan di Ting kayu. Baru belakangan dalam sejarah salib yang digunakan untuk penyaliban memakai bentuk yang kita pandang “tradisional”.
Alexander Agung (356-323 SM) raja Makedonia yang mepopulerkan zaman Helenistik , membuat bahasa yunani sebagai bahasa universal dipemerintahan meupun dikesusahstraan. Ia diduga belajar penyaliban dari budaya yang sudah disebutkan sebelumnya dan akibatnya memperkenalkan penyaliban diwilayah di Mediterania pada abad ke 4 SM , setelah itu penyaliban dipelajari dan dilakukan di Mesir, Syiria,Fenisia dan Kartago. Selama perang Punik antara Kartago dan Roma, bangsa Roma belajar tentang teknik penyaliban dan dengan cepat memakainya sebagai hukuman mati. Bangsa Romawi Menggunakan penyaliban sebagai hukuman mati beberapa ratus tahun sampai dihapuskan oleh kaisar Konstantin I karena cara tersebut dipandang kejam. Otang Yunani tidak melakukan penyaliban karena mereka memandang penyaliban adalah tindakan yang brutal dan tidak manusiawi.

Bangsa Romawi Menyempurnakan Tekniknya
         
Pada zaman Yesus Kristus, Romawi merupakan budaya yang dominan  dan secara rutin mengunakan mengunakan penyaliban sebagai metode utama hukuman mati. Cara ini trutama diterapkan pada bangsa non- Romawi, kecuali dalam situasi khusus sepertio desersi militer. Bangsa romawi menyalibkan orang Keristen, orang asing, pemberontak dan budak. Pada zaman Kristus, Roma secara rutin menyalibkan para pemberontak, terutama orang Yahudi. Misalnya , pada zaman 4 SM bangsa romawi menyalibkan sekitar 4000 orang bangsa Yahuidi.
         
Di Palestina, pada abad pertama yang diduduki oleh Romawi, pemberontakkan terhadap pendudukan pendudukan Romawi merupakan hal yang biasa, khususnya oleh para pejuang agama. Bangsa Romawi membuanuh banyak orang karena meperotes pemerintah. Tidak semuanya adalah penjahat, seperti pencuri dan pembunuh. Sesungguhnya tuduhan terhadap Kristus, mencangkup pemberontakan dan rencana untuk mengulingkan pemerintahan Romawi dengan meneguhkan dirinya sebagai Raja. Para pemimpin agama juga menuduh Dia melakukan penghujatan, ketika Yesus berdiri didepan Pilatus Para pemimpin menyatakan “jikalau Dia bukan seorang penjahat, kami tidak akan meyerahkan kepadamu”  (YOH 18:3). Namun bangsa Yahudi dibawah Romawi tidak memiliki otoritas untuk melakukan hukuman mati, sehingga mereka harus memohon kepada pemerintah Romawi . itulah sebabnya Yesus tampil dihadapan Pilatus setelah dituduh oleh iman besar dan MAhkama Agama, atau dewan pemerintah yahudi.
         
Bangsa Romawi meneruskan hukuman penyaliban lama setelah Yesus mati. Yosephus mencatat bahwa, selama bangsa Romawi mengambil alih Yerusalem pada 70 M, ratusan tahanan Yahudi disalibkan, setelah mereka bangkit menetang Romawi yang menahan Mereka. “mereka pertama dicambuk kemudian disiksa dengan segala macam siksaan sebelum mereka mati dandisalibkan didepan tembok kota…. Para perajurit, karena mara dan benci terhadap orang Yahudi, menyalibkan orang orang yang mereka tangkapdikayu salib dengan posisi berbeda-beda,sebagai bahan lelucon”
Yosephus juga mencatat tindakan kasus tidak manusiawi yang dilakukan oleh Antiokhus IV dimana anak korban dicekik dan digantungkan disekeliling lehernya, kekejaman ini terjadio selama penghancuran Yerusalemdan bait suci pada 70 M oleh Romawi dan telah dinubuatkan oleh Yesus dalam LUKAS 23: 28-30, sementara memikul salibnya ke Golgota sebagai respon kepada permpuan –perempuan yang meratapi dan menangisi Dia.
         
Nubuat ini tidak diragukan dan diingat oleh orang – orang yang hadir saat penyaliban ketika itu digenapi sekitar 30 tahun kemudian, saat jendral Romawi Vespasianus menyerahkan kepemimpinan atas Yerusalem pada 69 M kepada anaknya Titus. Titus merampok dan membakar kota Yerusalem , situasinya begitu memiluhkan. Ibu-ibu melihat anak laki-laki mereka dibunuh dan mayat mereka ditumpuk dijalan –jalan. Dikataka ibu-ibu yang bahawa kelaparan membunuh dan memakan bayi mereka sendiri untuk bertahan hidup. Kristus menubuatkan bahwa Invasi Romawi yang akan dating begitu mengerikansehingga kaum perempuan berharap agar mereka tidak mempunyai anak supaya mereka tidak melihat kematian anak mereka yang mengerikan itu. Orang-orang yang bertahan hidup dijual sebagai budak jika berusai dibawah 17 M sehingga tidak ada cukup ruang untuk semua salib itu dan tidak cukup salib untuk seluruh tubu mereka.
Penyaliban masal oleh Romawi dicatat oleh Tentara Romawijuga dicatat oleh Lucius Anneus Seneca (4-65SM): “saya melihat salib-salib disan bukan hanya 1 jenis, tetapi tebuat dalam banyak cara berbeda. Beberapa menyalibkan korban mereka dengan dengan kepala dibawah menghadap ketanah beberapa menylakan bagian tubuh pribadi mereka, yang lain merentangkan tangan mereka”.

Aspek Teknis Penyaliban

Setelah koban dipandang bersalah dan dihukum mati dengan cara disalibkan satu tim tentara memimpin dia dalam prosesi yang penuh penghinaan ketempat kematian. Hal ini dilakukan supaya orang takut, bahakan untuk memikirkan melakukan kejahatan yang sama seperti tertuduh. Prajurit pada bagian depan prosesi membawa plakat yang dikena dengan istilah  titulus yang memuat nama korban dan kejahatannnya. Prajurit itu menempelkan  titulus  pada bagian atas tiang kayu yang panjangnya ditempat yang cukup tinggi sehingga orang yang lewat bisa melihatnya dengan jelas. Korban biasanya ditelanjangi saat disiksa sebelum penyaliban dan dipaksa memikul  patibulum  dalam keadaan telanjang. Ini merupakan taktik yang dimaksudkan untuk menimbulkan rasa malu lebih lanjut. Hukum Romawi mewajibkan korban penyaliban untuk dicambuk, atau dipakasa untuk dicambuk sebelum dieksekusi hanya perempuan yang dikecualikan. Pencambukan dimaksudkan untuk membuat korban lemah bukan untuk membunuh. Namun, beberpa korban sudah mati karana pencambukan. Selain itu orang romawi menggunakan bentuk siksaan lainnya seperti pemenggalan lidan dan pencungkilan mata para koraban.
Setelah tertuduh dibawa kelokasi, dipakukan di  patibulum dan didirikan diistipes seorang pemimpin romawi memimpin penyiksaan sampai mati, yang bisa memakan waktu 3 sampai 4 hari. Kadang-kadang orang mati tersebut ditingalkan disalib hingga dimakan burung-burung buas atau kutu. Pembusukan dalam iklim yang hangat akan terjadi dengan cepat, dan menghasilkan bau buasuk yang menembus perbatasan. Namun, hukumn Romawi mengisinkan keluarga korban untuk menurunkan mayat itu dan harus diturunkan sebelum matahari tengelam “maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi engkau harus menguburkan dia pada hari itu juga”  (ULANGAN 21:22). Kadang – kadang jika kematian harus dipercepat, tulangkaki yang panjang akan dipatahkan, satu proses yang dikenal sebagai pematahan tulang. Karena orang yang disalib menggunakan kakinya untuk mendorong tubuhnya keatas kayu salib untuk bernapas, mamatahkan tulang kaki membuat orang itu tidak mungkin bernapas dan mengeluarkan napas dengan semestinya, akibatnya terjadi sesaknapas dan kematian yang cepat.

Penyaliban Dihapuskan

Penyaliban diperkirakan dilakukan selama beberapa abad sebelum keristus dilahirkan dan tumbuh subur diseluruh kekaisaran Romawi sampai dihapus sampai bentuk hukuman mati, oleh kaisar Romawi Kristen pertama, Konstantin I pada 337 M. meskipun demikian tidak terhitung berapa banyak orang yang dihukum mati dengan cara demikian, yang tidak hanya menderita secara jasmani melaikan juga menanggung olokan dan secara malu secara sosial, sesungguhnya karena sifat cabul dan dan rasa malu yang berkaitan denga prosesi penyaliban,hal itu bukan merupakan topic yang akan dibahas dalam penyaliban. Cicero mencatat” kata salib harus dijaukan, bukan hanya untuk Bangsa Romawi, melainkan dari pikiran, mata dan telinga mereka” kita sebagai orang keristen sebaiknya mengingat kutukan penyaliban yang dijalani Yesus dengan sukarela untuk menebus semua orang yang menaruh Iman mereka kepada-Nya. Rasul Paulua meringkaskan semua ini dengan baik dalam Galatia 3:13 “ Kristus telah menebus kita dari kutuk hokum taurat dengan jalan menjadin kutuk karna kita seban ada tertulis: “terkutuklah orang yang digantung dikayu salib”.

Tradisi Penyaliban

Penyaliban mungkin pertama dimulai di Persia. Alexander Agung memperkenalkan praktek ke Mesir dan Carthage, dan Roma tampaknya telah belajar dari orang Carthage. Meskipun Roma tidak menciptakan penyaliban, mereka menyempurnakannya sebagai bentuk penyiksaan dan hukuman mati yang dirancang untuk menghasilkan suatu kematian perlahan-lahan dengan nyeri maksimum dan penderitaan. Itu adalah salah satu metode yang paling tercela dan eksekusi  yang kejam dan biasanya disediakan hanya untuk budak, orang asing, revolusioner, dan penjahat. Hukum Romawi biasanya melindungi warga Roma dari penyaliban, kecuali mungkin dalam hal pembelotan tentara.

Dalam bentuknya yang paling awal di Persia, korban diikat ke pohon atau diikat atau tertusuk pada posisi tegak, biasanya untuk menjaga kaki korban bersalah dari menyentuh tanah yang kudus. Baru kemudian digunakan salib ditandai dengan sebuah tonggak tegak lurus (stipes) dan palang horisontal (patibulum), dan memiliki beberapa variasi:

Infelix Lignum - pohon
* Crux simpleks - tonggak tegak lurus
* Crux composita - stipes dan patibulum
* Crux humilis - palang rendah
* Crux sublimis -palang tinggi
* Crux commissa - palang berbentuk T (Tau)
* Crux immissa - palang berbentuk t (Latin)
* Crux capitata - palang berbentuk t (Latin)
Crux decussata - palang berbentuk silang, X

Meskipun bukti-bukti arkeologi dan sejarah kuat mengindikasikan bahwa salib berbentuk T (Crux commissa)  - Gambar 1,  lebih disukai oleh orang Romawi di Palestina pada zaman Kristus (Gambar 1), namun praktek penyaliban sering bervariasi di wilayah geografis tertentu dan sesuai dengan imajinasi para algojo, dan bentuk-bentuk salib dan Latin lainnya mungkin juga telah digunakan.

Telah menjadi tradisi bagi si terhukum untuk memikul salib sendiri dari pos cambuk ke tempat penyaliban luar tembok kota. Dia biasanya telanjang, kecuali ini dilarang oleh adat istiadat setempat. Karena berat seluruh salib itu mungkin lebih dari £ 300 (136 kg), hanya mistar gawang dilakukan (Gambar 1). The patibulum, beratnya 75-125 lb. (34-57 kg) ditempatkan di tengkuk korban dan seimbang di kedua bahu. Biasanya, lengan terentang diikat pada mistar gawang. Prosesi ke tempat penyaliban dipimpin oleh penjaga Romawi lengkap militer, dipimpin oleh seorang perwira. Salah satu tentara membawa tanda (titulus) di mana nama si terhukum dan kejahatan yang ditampilkan (Gambar 1). Kemudian, titulus akan dipasang di puncak salib, dengan paku atau tali, tepat di atas kepala korban.

Di lokasi eksekusi, oleh hukum, korban diberi minum anggur pahit dicampur dengan mur (empedu) sebagai analgesik ringan. Pidana tersebut kemudian dibuang ke tanah, memunggung dengan lengan terentang sepanjang patibulum tersebut.

Tangan bisa dipaku atau diikat ke palang, tapi dipaku tampaknya lebih disukai oleh Roma. Lokasi paku di pergelangan tangan, antara tulang pergelangan tangan dan tulang lengan (Gambar 2). Mungkin melewati antara unsur-unsur tulang dan dengan demikian tidak menghasilkan cedera ke batang arteri utama dan tanpa patah tulang.

Para ahli arkeologi menemukan sisa-sisa tubuh yang disalibkan, ditemukan di sebuah osuarium dekat Yerusalem dan berasal dari masa Kristus, menunjukkan penggunaan paku besi yang runcing sekitar 5 sampai 7 inch (13 sampai 18 cm) panjang dengan poros persegi 3 / 8 inch (1 cm). Selanjutnya, temuan osuarium dan Kain Kafan dari Turin telah mendokumentasikan bahwa paku umumnya didorong melalui pergelangan tangan bukan telapak tangan (Gambar 2).

Setelah kedua lengan yang tetap ke palang, patibulum dan korban, bersama-sama, diangkat ke stipes. Pada salib rendah, empat tentara bisa dengan relatif mudah mencapainya. Namun, pada salib tinggi, para prajurit menggunakan garpu kayu atau tangga.

Posisi kaki diatur bersusun, kaki kanan di atas, baik dengan paku atau tali. Temuan Osuarium dan Kain Kafan dari Turin menunjukkan bahwa dipaku adalah praktik yang disukai Romawi. Meskipun kaki bisa tetap ke sisi stipes atau ke pijakan kaki kayu (suppedaneum), kaki biasanya dipakukan langsung ke depan stipes (Gambar 3).

Para prajurit dan orang sipil sering mengejek dan mencemooh si terhukum, dan para prajurit lazim membagi pakaian terhukum di antara mereka sendiri. Panjang hidup umumnya berkisar dari tiga atau empat jam untuk tiga atau empat hari dan dapat berbanding terbalik tergantung tingkat keparahan pencambukan. Namun, bila pencambukan relatif ringan, para prajurit Romawi bisa mempercepat kematian dengan mematahkan kaki di bawah lutut (erurifragium atau skelokopia).

Penusukkan Dada

Sudah menjadi tradisi bahwa salah satu penjaga Romawi akan menembus tubuh terhukum dengan pedang atau tombak infanteri standar, yang  panjangnya 5 sampai 6 kaki (1,5-1,8 m), agar bisa dengan mudah mencapai dada orang yang disalibkan di kayu salib rendah. Tombak melukai jantung melalui sisi kanan dada - luka fatal.

Setiap luka tampaknya dimaksudkan untuk menghasilkan penderitaan yang intens, dan memberikan kontribusi penyebab kematian.

Dari luar saja, luka-luka penyesahan akan menyakitkan saat menggesek kayu kasar stipes. Akibatnya, darah akan semakin mengalir dari belakang dan terus berlanjut sepanjang siksaan penyaliban. Terhukum kehilangan darah yang cukup besar. Ketika korban dilemparkan dengan punggung di tanah untuk persiapan penusukan tangan, luka cambukan yang menganga pun terkontaminasi dengan kotoran. Tidak jarang, serangga akan terbang di atas luka terbuka atau mata, telinga, dan hidung korban  yang sekarat dan tak berdaya, dan burung-burung pemangsa akan mengoyaknya.

Selain itu, adalah merupakan tradisi pula untuk meninggalkan mayat di kayu salib untuk dilahap oleh hewan buas. Namun hukum Romawi membolehkan keluarga dari orang yang terkutuk itu mengambil jenazahnya untuk dimakamkan, setelah mendapat izin dari hakim Romawi. Tetapi itu hanya bisa dilakukan bila tentara itu yakin bahwa korban sudah mati. Penjaga Romawi tidak akan meninggalkan korban sampai mereka yakin kematiannya.

Penyaliban Yesus

Berikut ini adalah hasil penelitian dari dr. C. Truman Davis yang dipublikasikan dalam Majalah New Wine (April 1982) dan awalnya diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Arizona (Maret 1965):

Penyaliban diciptakan oleh Bangsa Persia pada 300 SM, dan disempurnakan oleh Orang Romawi pada tahun 100 SM. Ini adalah kematian yang paling menyakitkan yang pernah diciptakan oleh manusia. Istilah “menyiksa” dalam bahasa Inggris “excruciating” berasal dari peristiwa ini.

Penyaliban hanya ditujukan untuk penjahat laki-laki yang paling kejam. Yesus menolak anggur yang berfungsi sebagai anestesi (penghilang rasa sakit) yang ditawarkan kepada-Nya oleh tentara Romawi. Hal ini sesuai janji-Nya dalam Matius 26: 29, “Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku. “

Yesus ditelanjangi dan pakaian-Nya dibagi dengan para penjaga Romawi. Ini adalah pemenuhan dari Mazmur 22:18, “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”

Penyaliban Yesus dijamin mengerikan, lambat, dan merupakan kematian yang menyakitkan. Karena dipaku Salib, Yesus mustahil mempertahankan posisi anatominya.

Lutut Yesus tertekuk sekitar 45 derajat, dan Dia terpaksa menanggung beban-Nya dengan otot paha-Nya, yang bukan merupakan posisi anatomis yang mungkin untuk menjaga lebih dari beberapa menit tanpa kram parah pada otot dari paha dan betis.

Berat Yesus ditanggung di kaki-Nya, dengan paku didorong melalui mereka. Sebagai kekuatan otot-otot anggota badan Yesus lebih rendah lelah, berat tubuh-Nya harus dipindahkan ke pergelangan tangan-Nya, tangan-Nya, dan bahu-Nya.

Dalam beberapa menit ditempatkan di kayu Salib, bahu Yesus terkilir. Beberapa menit kemudian siku dan pergelangan tangan Yesus menjadi terkilir.
Hasil dari dislokasi ekstremitas atas adalah bahwa Lengannya 9 inci lebih panjang dari biasanya, dengan jelas ditampilkan pada Kain Kafan.

Hal ini menggenapi nubuatan dalam Mazmur 22:14, “Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;”

Setelah pergelangan tangan, siku, dan bahu Yesus terkilir, berat tubuh bagian atas-Nya menyebabkan traksi pada otot Mayor Pectoralis dari dinding dada-Nya.

Kekuatan traksi ini disebabkan rusuk-Nya harus ditarik ke atas dan keluar, dalam keadaan yang paling tidak wajar. Dinding Dadanya permanen dalam posisi pernapasan inspirasi maksimal. Untuk menghembuskan napas, Yesus harus memaksa tubuh-Nya secara fisiologis.

Untuk bernapas keluar, Yesus harus menekan pada paku di kaki-Nya untuk menaikkan tubuh-Nya, dan memungkinkan tulang rusuk-Nya bergerak ke bawah dan ke dalam untuk menghembuskan udara dari paru-Nya.

Paru-paru-Nya berada dalam posisi istirahat inspirasi maksimum yang konstan. Penyaliban merupakan bencana medis.

Masalahnya, Yesus tidak bisa dengan mudah menekan paku di kaki-Nya karena otot-otot kaki-Nya membungkuk di 45 derajat, sehingga menjadi sangat lelah, kram parah, dan dalam posisi anatomis tidak dapat lagi bergerak.

Seperti semua film Hollywood tentang Penyaliban, korban menjadi sangat aktif. Korban yang disalib fisiologis dipaksa untuk bergerak ke atas dan ke bawah (jarak sekitar 12 inci) untuk bernapas.

Proses respirasi menyebabkan sakit luar biasa, dicampur dengan teror sesak napas mutlak.

Enam jam Penyaliban berlalu, Yesus makin tidak mampu menanggung beban-Nya pada kaki-Nya, karena pahaNya dan otot betis menjadi semakin kecapaian. Ada peningkatan dislokasi pergelangan tangan-Nya, siku dan bahu, dan elevasi lebih lanjut dari dinding dada-Nya, membuat Napasnya semakin sulit. Dalam beberapa menit penyaliban Yesus menjadi sangat dyspnoeic (sesak napas).

Gerakan naik turun Salib untuk bernapas menyebabkan sakit luar biasa di pergelangan tangan-Nya, kaki-Nya, dan siku-Nya terkilir dan bahu.

Yesus dipaksa untuk makin sering bergerak seiring Ia makin kecapaian, tetapi kematian makin dekat karena sesak napas memaksa Dia untuk melanjutkan upaya-Nya untuk bernapas.

Terjadi kram yang sangat menyiksa pada otot tubuh bagian bawah Yesus secara ekstrim karena upaya menekan kaki-Nya, untuk meningkatkan tubuh-Nya, sehingga Dia bisa bernapas keluar.

Ledakan rasa sakit dari dua saraf median di pergelangan tangan-Nya yang hancur terjadi seiring tiap gerakan yang dilakukanNya.
Yesus berlumuran darah dan keringat.

Darah adalah akibat dari pencambukan yang hampir membunuh-Nya, dan keringat akibat Nya upaya untuk secara paksa menghembuskan udara dari paru-Nya. Selama kejadian ini berlangsung Dia benar-benar telanjang, dan para pemimpin Yahudi, orang banyak, dan pencuri di kedua sisi-Nya yang mencemooh, memaki dan menertawakan Dia. Selain itu, ibu Yesus sendiri sedang menonton.

Secara fisiologis, tubuh Yesus menjalani serangkaian peristiwa bencana.

Karena Yesus tidak dapat mempertahankan ventilasi yang memadai bagi paru-Nya, Dia sekarang dalam keadaan hipoventilasi (kekurangan pernapasan).

Kadar oksigen dalam darah-Nya mulai turun, dan terjadi Hipoksia (oksigen darah yang rendah).

Selain itu, karena gerakan pernapasan dibatasi, tingkat karbon dioksida darah (CO2) tingkat meningkat, kondisi yang dikenal sebagai hiperkapnia.
CO2 yang meningkat merangsang jantungNya untuk berdetak lebih cepat untuk meningkatkan kadar oksigen, dan mengurangi CO2.

Pusat pengaturan pernapasan di otak Yesus mengirim pesan penting ke paru-paru untuk bernapas lebih cepat, dan Yesus mulai terengah-engah.

Refleks fisiologis Yesus membuatNya harus mengambil napas lebih dalam, dan tanpa sadar Ia bergerak naik turun jauh lebih cepat, meskipun rasa sakit luar biasa. Gerakan spontan mulai menyiksa beberapa kali per menit, untuk menyenangkan orang banyak yang mencemooh-Nya, serta para prajurit Romawi, dan Sanhedrin.

Namun, karena Yesus dipaku di Salib serta meningkatnya kelelahan di tubuh Nya, Dia tidak dapat memberikan lebih banyak oksigen ke tubuhNya.

Serangan kembar Hipoksia (terlalu sedikit oksigen) dan hiperkapnia (terlalu banyak CO2) menyebabkan jantung-Nya untuk berdetak lebih cepat, dan Yesus mengembangkan Takikardia. Jantung Yesus berdetak lebih cepat dan lebih cepat, dan denyut nadi Nya mungkin sekitar 220 denyut / menit, kondisi ini adalah kondisi normal maksimal yang dapat dipertahankan.

Yesus tidak minum selama 15 jam, sejak jam enam malam sebelumnya. Yesus telah mengalami pencambukan yang hampir membunuh-Nya.

Dia berdarah di seluruh tubuh-Nya (akibat pencambukan, mahkota duri, paku di pergelangan tangan dan kaki-Nya, serta lecet akibat Ia jatuh).

Yesus sudah sangat dehidrasi, dan tekanan darahnya merosot tekanan darahnya mungkin sekitar 80/50.

Mengalami Syok Pertama, dengan Hipovolemia (volume darah yang rendah), Takikardia (Detak jantung berlebihan), takipnea (Tingkat pernapasan berlebihan), dan hiperhidrosis (keringat berlebih).

Pada siangnya, jantung Yesus mungkin mulai gagal.Mungkin terjadi Edema pada paru-paru Yesus.

Hal ini memperburuk napasNya, yang sebelumnya sudah tidak normal. Yesus mengalami di Gagal Jantung dan Kegagalan pernapasan. Yesus berkata, “Aku haus” karena Tubuhnya sangat membutuhkan cairan. Yesus membutuhkan infus darah intravena dan plasma untuk menyelamatkan nyawa-Nya. Yesus tidak bisa bernapas dengan baik dan perlahan-lahan tercekik sampai mati.

Pada tahap ini Yesus mungkin mengalami hemoperikardium (Plasma dan darah berkumpul di ruang di sekitar jantung-Nya).

Cairan ini menyebabkan Cardiac Tamponade (berkumpulnya cairan di sekitar jantung yang mencegah jantung Yesus untuk berfungsi secara normal).

Karena hal ini jantung Yesus Pecah. JantungNya benar-benar meledak. Hal ini mungkin merupakan penyebab kematian-Nya.

Untuk memperlambat proses kematian tentara menaruh kursi kayu kecil di kayu Salib, yang akan memungkinkan Yesus untuk membagi berat tubuhnya dalam bantalan di sakrum nya.

Efeknya adalah bahwa ini bisa menahan kematian hingga sembilan hari. Ketika bangsa Romawi ingin mempercepat kematian mereka hanya akan mematahkan kaki korban, menyebabkan korban mati lemas dalam hitungan menit. Ini disebut Crucifragrum.

Pada pukul tiga sore Yesus berkata, “Tetelastai,” yang berarti, “Sudah selesai.” Pada saat itu, Ia menyerahkan Roh-Nya, dan Ia mati.

Ketika tentara datang kepada Yesus untuk mematahkan kaki-Nya, Ia telah mati. Tidak ada tulang TubuhNya yang rusak. Ini menggenapi nubuat di atas.


Yesus meninggal setelah enam jam penyiksaan yang merupakan proses kematian paling menyiksa dan mengerikan yang pernah diciptakan. Yesus mati sehingga orang-orang biasa seperti Anda dan saya bisa pergi ke Surga.

Yesus melakukannya karena Ia mengasihi kita. Ia adalah Tuhan yang tidak punya kewajiban apapun atas hidup kita, tapi Ia memberikan nyawaNya untuk kita. Ia layak untuk menerima yang terbaik dari hidup kita, karena yang terbaik telah diberikanNya bagi kita.