Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Jan 29, 2018

Perang Salib

Perang Salib adalah serangkaian perang agama yang direstui Gereja Latin pada Abad Pertengahan. Perang Salib yang paling umum diketahui adalah kampanye-kampanye militer di kawasan timur Laut Tengah yang bertujuan membebaskan Tanah Suci dari penjajahan Islam, namun istilah "Perang Salib" juga digunakan untuk menyebut kampanye-kampanye militer lainnya yang direstui Gereja. Perang Salib dikobarkan dengan berbagai alasan, baik untuk memberantas penyembahan berhala dan ajaran sesat, untuk menyelesaikan pertikaian di antara pihak-pihak yang sama-sama beragama Katolik, maupun demi keuntungan politik dan wilayah. Ketika perang-perang semacam ini pertama kali berkobar, belum ada istilah "Perang Salib". Istilah ini baru mengemuka sekitar 1760.

Pada 1095, Paus Urbanus II menyeru dunia Kristen untuk mengobarkan Perang Salib Pertama dalam khotbahnya pada penyelenggaraan Konsili Clermont. Ia mengimbau para hadirin untuk memberi bantuan militer kepada Kekaisaran Bizantium dan Kaisarnya, Aleksios I, yang memerlukan kekuatan tambahan dalam menghadapi orang-orang Turki yang telah bermigrasi ke barat dan menjajah Anatolia. Salah satu sasaran yang ingin dicapai oleh Sri Paus adalah jaminan akses bagi para peziarah menuju tempat-tempat suci di kawasan timur Laut Tengah yang telah dikuasai kaum Muslim, namun para pakar tidak sependapat mengenai apakah jaminan akses bagi para peziarah adalah motif utama dari Sri Paus ataukah motif utama dari pihak-pihak yang menanggapi seruannya. Mungkin saja Sri Paus bermaksud untuk mempersatukan kembali belahan Timur dan belahan Barat dunia Kristen yang terpisah sejak peristiwa Skisma Timur-Barat pada 1054, serta menjadikan dirinya sendiri sebagai kepala Gereja bersatu. Kemenangan awal Perang Salib menghasilkan pendirian empat Negara Tentara Salib yang pertama di kawasan timur Laut Tengah, yakni Kabupaten Edessa, Kepangeranan Antiokhia, Kerajaan Yerusalem, dan Kabupaten Tripoli. Tanggapan yang antusias terhadap seruan Paus Urbanus dari seluruh kalangan masyarakat Eropa Barat menjadi preseden bagi perang-perang Salib selanjutnya. Para sukarelawan menjadi Tentara Salib dengan mengikrarkan kaul di muka umum dan menerima indulgensi paripurna dari Gereja. Sebagian berharap akan diangkat beramai-ramai ke surga dari Yerusalem atau mendapatkan ampunan Allah atas segala dosanya. Sebagian yang lain ikut serta demi menunaikan kewajiban feodal, untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, atau untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik.

Upaya dua abad untuk membebaskan Tanah Suci berakhir dengan kegagalan. Sesudah Perang Salib Pertama, masih ada lagi enam Perang Salib besar dan banyak Perang Salib yang kurang penting. Setelah kubu-kubu Katolik terakhir ditaklukkan pada 1291, tidak ada lagi Perang Salib, tetapi keuntungan yang berhasil dikumpulkan bertahan lebih lama di kawasan utara dan barat Eropa. Perang Salib Wendi dan perang-perang Salib yang dikobarkan oleh Uskup Agung Bremen berhasil mempersatukan seluruh kawasan timur laut Baltik serta suku-suku di Mecklenburg dan Lausitz di bawah kendali Katolik pada penghujung abad ke-12. Pada permulaan abad ke-13, Ordo Teutonik mendirikan sebuah Negara Tentara Salib di Prusia, dan monarki Perancis memanfaatkan Perang Salib Albigensia untuk memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Laut Tengah. Sepak terjang Imperium Osmanli pada penghujung abad ke-14 ditanggapi pihak Katolik dengan perang-perang Salib yang berakhir dengan kekalahan di Nikopolis pada 1396 dan di Varna pada 1444. Eropa Katolik berada dalam keadaan kacau-balau, dan simpul terakhir pertalian Kristen–Islam ditandai oleh dua peristiwa yang menggetarkan: jatuhnya Konstantinopel ke tangan Imperium Osmanli pada 1453, dan kemenangan akhir Spanyol atas bangsa Moro dengan takluknya Granada pada 1492. Gagasan Perang Salib terus hidup, sekurang-kurangnya dalam wujud Ordo Kesatria Hospitalis, sampai akhir abad ke-18, namun fokus minat orang Eropa Barat telah beralih ke Dunia Baru.

Perang Salib Rakyat memicu pembunuhan ribuan orang Yahudi, yang dikenal sebagai pembantaian Rhineland. Konstantinopel dijarah selama Perang Salib Keempat, sehingga usaha penyatuan kembali dunia Kristen pada saat itu mustahil terjadi. Pengepungan tersebut mengakibatkan melemahnya Kekaisaran Bizantium dan akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Kesultanan Ottoman pada tahun 1453. Para penguasa Eropa Barat tidak memberikan tanggapan yang jelas ketika kubu pertahanan Katolik yang terakhir di wilayah tersebut, Akko, jatuh pada tahun 1291. 

Ada beragam pendapat terkait perilaku tentara salib, mulai dari yang sifatnya pujian sampai yang sangat kritis. Dampak dari perang-perang salib sangat besar; mereka membuka kembali Laut Mediterania untuk perdagangan dan perjalanan, memungkinkan perkembangan Genoa dan Venesia. Para tentara salib melakukan perdagangan dengan penduduk lokal selama perjalanan mereka, dan para kaisar Romawi Ortodoks seringkali mengorganisir pasar-pasar bagi para tentara salib yang bergerak melalui wilayah mereka. Perang-perang Salib menggabungkan identitas bersama dari Gereja Latin di bawah kepemimpinan paus, dan dianggap sebagai suatu simbol kepahlawanan, sikap kesatria, dan kesalehan. Hal ini karenanya melahirkan sastra, filsafat, dan roman abad pertengahan. Bagaimanapun berbagai perang salib semakin mengukuhkan hubungan antara militerisme, feodalisme, dan Katolikisme Barat, yang mana bertentangan dengan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah yang dipromosikan Paus Urbanus. 

Crusade (Perang Salib) adalah sebuah istilah modern yang berasal dari kata Perancis croisade dan Spanyol cruzada; pada tahun 1750 bentuk-bentuk dari kata "crusade" telah terbentuk sendiri dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman. Oxford English Dictionary mencatat penggunaannya pertama kali dalam bahasa Inggris oleh William Shenstone pada tahun 1757. Ketika seorang tentara salib mengucapkan suatu sumpah (votus) untuk pergi ke Yerusalem, ia akan menerima sehelai kain salib (crux) untuk dijahitkan di pakaiannya. Hal "mengenakan salib" ini menjadi terkait dengan keseluruhan perjalanan, dan para tentara salib memandang diri mereka melakukan suatu iter (perjalanan) atau peregrinatio (ziarah bersenjata). Inspirasi akan "mesianisme kaum miskin" ini merupakan suatu pengilahian (apotheosis) massal yang diharapkan di Yerusalem. 

Penomoran Perang-perang Salib menjadi bahan perdebatan, beberapa sejarawan menghitung ada tujuh Perang Salib besar dan sejumlah kecil lainnya antara tahun 1096–1291. Kalangan lain menganggap Perang Salib Kelima yang melibatkan Frederik II sebagai dua perang salib, sehingga perang salib yang dilakukan oleh Louis IX pada tahun 1270 menjadi Perang Salib Kedelapan. Terkadang Perang Salib Kedelapan ini dianggap dua, sebab yang kedua dianggap sebagai Perang Salib Kesembilan.

Pandangan pluralistik mengenai Perang-perang Salib berkembang selama abad ke-20, "Perang Salib" dianggap mencakup semua kampanye militer di Asia Barat atau di Eropa yang direstui oleh kepausan. Perbedaan utama antara Perang-perang Salib dan perang suci lainnya adalah bahwa pengesahan untuk melakukan Perang-perang Salib bersumber langsung dari paus, yang mengaku melakukannya atas nama Kristus. Dikatakan demikian karena mempertimbangkan pandangan Gereja Katolik Roma dan mereka yang hidup pada zaman abad pertengahan, seperti Santo Bernardus dari Clairvaux, yang mana memberikan prioritas setara untuk kampanye militer yang dilakukan untuk alasan politik dan untuk memerangi paganisme dan bidah. Definisi yang luas ini mencakup penganiayaan terhadap kaum bidah di Perancis Selatan, konflik politik antara umat Kristen di Sisilia, penaklukan kembali Iberia oleh kaum Kristen, dan penaklukan atas kaum pagan di Baltik. Suatu pandangan yang lebih sempit adalah bahwa Perang-perang Salib merupakan perang pertahanan diri di Levant terhadap kaum Muslim untuk membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim. 

Para paus secara periodik menyatakan perang-perang salib politik sebagai sarana penyelesaian konflik di antara kaum Katolik Roma; dari pengertian ini, yang pertama dinyatakan oleh Paus Innosensius III terhadap Markward von Annweiler pada tahun 1202. Yang lain misalnya perang salib melawan kaum Stingers, beberapa perang salib (yang dinyatakan oleh sejumlah paus) melawan Kaisar Frederik II dan para putranya, dan dua perang salib melawan para musuh Raja Henry III dari Inggris yang mana mendapatkan keistimewaan-keistimewaan setara sebagai para peserta dalam Perang Salib Kelima. 

Suatu istilah umum bagi kaum Muslim adalah Saracen; sebelum abad ke-16, kata-kata "Muslim" dan "Islam" jarang digunakan oleh orang Eropa. Dalam bahasa Yunani dan Latin, kata "Saracen" berasal dari awal milenium pertama untuk merujuk pada orang-orang selain bangsa Arab yang mendiami daerah gurun di sekitar Provinsi Romawi Arabia.  Istilah tersebut berkembang sehingga mencakup suku-suku Arab, dan pada abad ke-12 menjadi penanda religius dan etnis yang disamakan artinya dengan "Muslim" dalam literatur berbahasa Latin abad pertengahan. Istilah orang Latin dan Franka digunakan selama Perang-perang Salib bagi orang Eropa Barat, untuk membedakan mereka dari orang Yunani. 

Penulisan sejarah

Selama masa Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi pada abad ke-16, para sejarawan memandang Perang-perang Salib melalui kaca mata keyakinan religius mereka masing-masing. Kaum Protestan memandangnya sebagai suatu wujud dari kejahatan kepausan, dan kaum Katolik memandangnya sebagai pemaksaan kekuatan demi kebaikan. Para sejarawan Abad Pencerahan cenderung melihat Abad Pertengahan secara umum, dan Perang-perang Salib tersebut secara khusus, sebagai berbagai upaya dari budaya-budaya barbar yang didorong oleh fanatisme. Saat awal periode Romantik pada abad ke-19, pandangan keras seputar Perang-perang Salib dan zamannya telah melunak; keilmuan di kemudian hari pada abad tersebut menekankan pengkhususan dan detail. 

Para akademisi Abad Pencerahan dari abad ke-18 dan para sejarawan Barat modern mengungkapkan kemarahan moral atas perilaku para tentara salib. Pada tahun 1950-an Steven Runciman menulis, "Cita-cita yang tinggi ternoda oleh kekejaman dan keserakahan ... Perang-perang Suci tersebut tidak lebih dari suatu tindakan intoleransi yang lama dalam nama Allah". Abad ke-20 menghasilkan tiga tulisan sejarah yang penting tentang Perang-perang Salib: oleh Runciman, René Grousset, dan suatu karya dari berbagai penulis yang disunting oleh K. M. Stetton. Selama abad itu, dikembangkan dua definisi mengenai Perang-perang Salib; salah satunya mencakup semua upaya yang dipimpin oleh paus di Asia Barat dan Eropa, namun sejarawan Thomas Madden menulis, "Perang salib, yang pertama dan terutama, merupakan suatu perang terhadap kaum Muslim demi membela iman Kristen ... Mereka memulainya sebagai suatu akibat dari penaklukan kaum Muslim atas wilayah-wilayah kaum Kristen." Madden menuliskan bahwa tujuan dari Paus Urbanus adalah bahwa "umat Kristen dari Timur harus terbebas dari kondisi-kondisi yang memalukan dan kejam di bawah kekuasaan Muslim." 

Setelah jatuhnya Akko pada tahun 1291, dukungan Eropa untuk Perang-perang Salib terus berlanjut meskipun ada kritikan dari berbagai orang pada zaman tersebut (misalnya Roger Bacon, yang percaya bahwa perang-perang itu tidak efektif: "Mereka yang bertahan hidup, bersama-sama dengan anak-anak mereka, adalah lebih dan lebih lagi disakiti hatinya terhadap iman Kristen"). Menurut sejarawan Norman Davies, Perang-perang Salib bertentangan dengan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah yang didukung oleh Paus Urbanus dan memperkuat hubungan antara militerisme, feudalisme, dan dunia Kristen Barat. Pembentukan ordo-ordo religius militer mengejutkan kaum Bizantium Ortodoks, dan para tentara salib menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan mereka ke timur. Dengan melanggar sumpah mereka untuk mengembalikan wilayah kepada kaum Bizantium, mereka seringkali mempertahankan wilayah tersebut untuk dimilki sendiri. Permulaan Perang Salib Rakyat memprakarsai terjadinya suatu pogrom di Rhineland dan pembantaian ribuan orang Yahudi di Eropa Tengah; selama abad ke-19 akhir, perang salib ini digunakan oleh beberapa sejarawan Yahudi untuk mendukung Zionisme. Perang Salib Keempat mengakibatkan perampokan atas Konstantinopel, sehingga secara efektif mengakhiri segala kesempatan mendamaikan Skisma Timur–Barat dan menyebabkan jatuhnya Kekaisaran Bizantium kepada kekuasaan Ottoman. Para sejarawan Abad Pencerahan mengkritik salah sasarannya Perang-perang Salib—khususnya Perang Salib Keempat—yang mana menyerang suatu kekuasaan Kristen (Kekaisaran Bizantium) bukannya kekuasaan Islam. David Nicolle menyebutkan kontroversi Perang Salib Keempat dalam "pengkhianatan" atas Bizantium karyanya, dan dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire Edward Gibbon menuliskan bahwa upaya-upaya para tentara salib akan lebih efektif jika memperbaiki negara-negara mereka sendiri. 

Latar belakang

Setelah pasukan Muslim mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Palestina berada di bawah kendali Kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah. Hubungan politik, perdagangan, dan toleransi antara negara-negara Arab dan Kristen Eropa mengalami pasang surut hingga tahun 1072, ketika Fatimiyah kehilangan kendali atas Palentina dan beralih ke Kekaisaran Seljuk Raya yang berkembang pesat. Kendati kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus, penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangunnya kembali. Para penguasa Muslim mengizinkan peziarahan oleh umat Katolik ke tempat-tempat suci. Para pemukim Kristen dianggap sebagai dzimmi dan perkawinan campur tidaklah jarang terjadi. Budaya dan keyakinan hidup berdampingan dan saling bersaing, namun kondisi-kondisi daerah perbatasan tidak bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik. Gangguan atas peziarahan oleh karena penaklukan bangsa Turk Seljuk memicu dukungan bagi Perang-perang Salib di Eropa Barat. 

Kekaisaran Bizantium melakukan ekspansi wilayah pada awal abad ke-10 melalui Basilius II yang menghabiskan sebagian besar kekuasaannya selama setengah abad dengan melakukan berbagai penaklukan. Meskipun ia mewariskan peningkatan harta benda, ia menelantarkan urusan-urusan domestik dan mengabaikan tugas untuk menggabungkan hasil-hasil penaklukannya ke dalam ekumene Bizantium. Tak ada satu pun penerus Basilius yang memiliki bakat politik atau militer, dan tugas mengatur Kekaisaran semakin banyak diserahkan kepada pelayanan sipil. Upaya-upaya mereka untuk mengembalikan perekonomian Bizantium ke dalam kemakmuran bahkan memicu inflasi. Untuk menyeimbangkan anggaran yang semakin tidak stabil, tentara tetap Basilius dibubarkan dan tentara thematiknya digantikan dengan tagmata. Setelah kekalahan pasukan Bizantium pada tahun 1071 dalam Pertempuran Manzikert, bangsa Turk Seljuk menguasai hampir keseluruhan Anatolia dan kekaisaran tersebut kerap kali mengalami perang saudara. 

Penaklukan kembali Semenanjung Iberia dari kekuasaan kaum Muslim dimulai pada abad ke-8, mencapai titik baliknya dengan direbutnya kembali Toledo pada tahun 1085. Kendati dalam Konsili Clermont tahun 1095 Paus Urbanus II telah memperbandingkan peperangan Iberia dengan Perang Salib Pertama yang dimaklumkannya, namun status perang salib baru diperoleh melalui ensiklik Paus Kallistus II tahun 1123. Setelah ensiklik ini, kepausan tersebut menyatakan perang-perang salib Iberia pada tahun 1147, 1193, 1197, 1210, 1212, 1221, dan 1229. Hak-hak istimewa tentara salib juga diberikan kepada mereka yang membantu ordo-ordo militer utama (Kesatria Templar dan Kesatria Hospitalis) dan ordo-ordo Iberian yang pada akhirnya bergabung dengan kedua ordo utama: Ordo Calatrava dan Ordo Santiago. Dari tahun 1212 hingga 1265 kerajaan-kerajaan Kristen Iberia mendesak kaum Muslim sampai ke Keamiran Granada di ujung selatan semenanjung tersebut. Pada tahun 1492 keamiran ini ditaklukkan, kaum Muslim dan Yahudi dipaksa keluar dari semenanjung tersebut. 

Suatu kepausan reformis yang agresif mengalami perselisihan dengan monarki-monarki sekuler Barat dan Kekaisaran Timur, menyebabkan Skisma Timur–Barat dan Kontroversi Penobatan (yang dimulai sekitar tahun 1075 dan berlanjut selama Perang Salib Pertama). Kepausan tersebut mulai menegaskan kemerdekaannya dari para penguasa sekuler dan menyusun alasan-alasan penggunaan kekuatan bersenjata secara tepat oleh kalangan Katolik. Hasilnya adalah kesalehan yang ketat, suatu minat dalam hal-hal keagamaan, dan propaganda keagamaan yang menganjurkan suatu perang yang benar untuk merebut kembali Palestina dari kaum Muslim. Pandangan mayoritas adalah bahwa umat non-Kristen tidak dapat dipaksa untuk menerima baptisan Kristen atau diserang secara fisik karena memiliki iman yang berbeda, namun ada kaum minoritas yang meyakini bahwa konversi paksa dan pembalasan dapat dibenarkan karena penolakan atas pemerintahan dan iman Kristen. Partisipasi dalam perang seperti demikian dipandang sebagai suatu bentuk penitensi yang mana dapat mengganti kerugian akibat dosa. Di Eropa, bangsa Jerman melakukan ekspansi dengan mengorbankan bangsa Slavia dan Sisilia ditaklukkan oleh seorang petualang Norman bernama Robert Guiscard pada tahun 1072. 

Kaisar Alexius I Komnenus meminta bantuan militer (kemungkinan tentara bayaran untuk memperkuat tagmatanya) dari Paus Urbanus II pada Konsili Piacenza tahun 1095 untuk memerangi Seljuks; ia secara berlebihan menceritakan bahaya yang dihadapi Kekaisaran Timur agar dapat memperoleh pasukan yang dibutuhkannya. Pada tanggal 27 November 1095, dalam Konsili Clermont yang dihadiri hampir 300 klerus Perancis, Paus Urbanus mengangkat isu-isu mengenai masalah yang terjadi di Timur dan perjuangan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) melawan kaum Muslim. Lima sumber utama seputar informasi terkait konsili ini adalah: Gesta Francorum (Perbuatan-perbuatan Bangsa Franka), sebuah karya anonim bertarikh antara tahun 1100–1101; Fulcher dari Chartres, seorang imam yang menghadiri konsili ini; Robert sang Rahib, yang mungkin menghadirinya; Baldric, Uskup Agung Dol, dan Guibert dari Nogent (yang mana tidak menghadirinya). Laporan-laporan tersebut berupa tulisan tinjauan ke belakang yang sangat jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dalam Historia Iherosolimitana karyanya tahun 1106–1107, Robert sang Rahib menuliskan bahwa Paus Urbanus meminta kaum Kristen barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium karena "Deus vult" ("Allah menghendakinya") dan menjanjikan absolusi bagi para pesertanya; menurut sumber-sumber lainnya, paus tersebut menjanjikan suatu indulgensi. Dalam laporan-laporan itu, Paus Urbanus menekankan untuk merebut kembali Tanah Suci daripada sekadar membantu sang kaisar dan ia mendaftar pelanggaran-pelanggaran mengerikan yang diduga dilakukan oleh kaum Muslim. Perang salib tersebut diserukan di seluruh Perancis; Paus Urbanus menulis kepada mereka "yang menanti di Flandria" bahwa bangsa Turk, selain menghancurkan "gereja-gereja Allah di wilayah-wilayah timur", telah merebut "Kota Suci Kristus, yang dihiasi oleh sengsara dan kebangkitan-Nya—dan merupakan penghujatan untuk mengatakannya—telah menjualnya dan gereja-gerejanya ke dalam perbudakan keji". Meskipun sang paus tidak secara eksplisit menyebut penaklukan kembali Yerusalem, ia menyerukan "pembebasan" militer atas Gereja-gereja Timur dan menunjuk Adhemar dari Le Puy untuk memimpin perang salib ini (yang mana dimulai pada tanggal 15 Agustus, pada peringatan Maria Diangkat ke Surga). 

Sejarah

Pada tahun 1095 Paus Urbanus II di Roma menerima seorang utusan Kaisar Bizantium Alexius I dari Konstantinopel yang mencari bantuan darurat untuk menghadapi ancaman bangsa Turk. Paus tersebut bertindak segera dan melangsungkan suatu perang salib dengan tujuan mengamankan akses menuju tempat-tempat suci. Sejarawan Paul Everett Pierson mengatakan kalau ia juga "berharap bahwa jika para tentara salib membantu Gereja Timur dengan mengalahkan bangsa Turk, Gereja akan bersatu kembali di bawah kepemimpinannya." Karena terinsiprasi oleh khotbah Paus Urbanus II, Peter sang Pertapa memimpin sebanyak 20.000 orang, sebagian besar petani, menuju Tanah Suci tak lama setelah Paskah tahun 1096. Ketika mereka tiba di Jerman pada musim semi tahun 1096, unit-unit tentara salib memulai pembantaian Rhineland di kota Speyer, Worms, Mainz, dan Cologne, kendati ada upaya-upaya oleh para uskup Katolik untuk melindungi orang-orang Yahudi. Para pemimpin utamanya misalnya Emicho dan Peter sang Pertapa. Aktivitas anti-Yahudi ini memiliki kisaran yang luas, mulai dari kekerasan spontan secara terbatas sampai dengan serangan militer skala penuh terhadap komunitas-komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne. Hal ini merupakan peristiwa besar pertama terkait kekerasan anti-Yahudi di Eropa, dan dikutip oleh kaum Zionis pada abad ke-19 sebagai kebutuhan akan suatu negara Yahudi. Ketika kelompok tersebut sampai di Kekaisaran Bizantium, Kaisar Alexius mendesak mereka agar menunggu para bangsawan barat, tetapi mereka bersikeras untuk melanjutkan dan jatuh dalam suatu penyergapan oleh bangsa Turk di luar kota Nicea, di mana hanya sekitar 3.000 orang yang berhasil meloloskan diri. 

Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel. Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang. Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium. Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia. Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari Bouillon, Robert Curthose, Hugues I dari Vermandois, Baudouin dari Boulogne, Tancred dari Hauteville, Raymond IV dari Toulouse, Bohemond dari Taranto, Robert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis dan Heinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi. 

Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Ketika mereka memasuki Antiokhia, para tentara salib membantai penduduk Muslim dan menjarah kota tersebut. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius. Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka. 

Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Mereka mulai melakukan pembantaian penduduk sipil Muslim dan Yahudi, serta menjarah atau menghancurkan masjid-masjid atau kota itu sendiri. Dalam Historia Francorum qui ceperunt Iherusalem karyanya, Raymond D'Aguilers meninggikan tindakan-tindakan yang mana akan dianggap sebagai kekejaman dari suatu sudut pandang modern. Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem. Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks "skismatik" dari timur. 

Setelah Perang Salib Pertama berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan I mengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah. 

Abad ke-12

Pada awal abad ke-12, praktik perang salib dengan skala yang lebih kecil terus berlangsung. Paus Kallistus II memaklumkan Perang Salib Venesia yang berlangsung pada tahun 1122–1124; kunjungan Foulques V, Comte Anjou, pada tahun 1120 dan 1129 serta Konrad III dari Jerman pada tahun 1124 menghasilkan pengakuan atas Kesatria Templar oleh Paus Honorius II. Pemberian indulgensi oleh Paus Innosensius II pada tahun 1135 atas keterlibatan dalam perang salib bagi mereka yang menentang musuh-musuh kepausan dipandang oleh beberapa sejarawan sebagai awal mula perang-perang salib yang bermotif politik. Negara-negara tentara salib pada awalnya aman, tetapi Imad ad-Din Zengi, setelah ditunjuk sebagai gubernur Mosul pada tahun 1127, merebut Aleppo pada tahun 1128 dan Edessa (Urfa) pada tahun 1144. Kekalahan-kekalahan ini menyebabkan Paus Eugenius III menyerukan perang salib lainnya pada tanggal 1 Maret 1145. Perang salib baru ini didukung oleh berbagai pengkhotbah, yang paling terkenal ialah Bernardus dari Clairvaux. Para pasukan dari Perancis dan Jerman, masing-masing dipimpin oleh Raja Louis VII dan Konrad III, bergerak menuju Yerusalem pada tahun 1147 dan juga melakukan pengepungan atas Damaskus, tetapi gagal meperoleh satu pun kemenangan penting.  Sementara itu sekelompok tentara salib dari Eropa utara berhenti di Portugal dan bersekutu dengan raja Portugal, yakni Afonso I, untuk merebut kembali Lisbon dari kaum Muslim pada tahun 1147. Sebuah detasemen dari grup tentara salib ini membantu Comte Ramón Berenguer IV dari Barcelona untuk menaklukkan kota Tortosa pada tahun berikutnya. 

Di Tanah Suci, baik raja Perancis maupun Jerman telah kembali ke negara mereka masing-masing pada tahun 1150 tanpa ada satu pun perubahan berarti. Bernardus dari Clairvaux, yang melalui khotbah-khotbahnya mendorong keikutsertaan dalam Perang Salib Kedua, kecewa dengan terjadinya kekerasan dan pembantaian terhadap penduduk Yahudi di Rhineland. Pada tahun 1172 Heinrich sang Singa, Adipati Sachsen, melakukan suatu peziarahan yang terkadang dianggap sebagai suatu perang salib. Pada saat yang sama, bangsa Saxon dan Dane berperang melawan orang Wendi dalam Perang Salib Wendi. Kaum Wendi mengalahkan Dane; Saxon tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perang salib tersebut. Perang-perang salib terus berlanjut padahal tidak ada bulla kepausan resmi yang dikeluarkan untuk memberikan wewenang berlangsungnya perang-perang salib baru. Heinrich memulai kembali upaya untuk menaklukkan kaum Wendi pada tahun 1160, dan mereka dikalahkan olehnya pada tahun 1162. 

Saladin membangun suatu kesatuan kekuatan oposisi dan memberikan ancaman baru kepada negara-negara Latin. Setelah kemenangannya di Pertempuran Hattin, ia dengan mudah mengalahkan para tentara salib yang tercerai berai pada tahun 1187 dan merebut kembali Yerusalem pada tanggal 29 September tahun itu. Syarat-syarat perjanjian diatur dan kota itu menyerah; Saladin memasuki kota pada tanggal 2 Oktober. Menurut Benediktus dari Peterborough, Paus Urbanus III meninggal dunia karena kesedihan yang mendalam pada tanggal 19 Oktober 1187 setelah mendengar berita mengenai kekalahan tersebut. Pada tanggal 29 Oktober Paus Gregorius VIII mengeluarkan sebuah bulla kepausan, Audita tremendi, yang memaklumkan dilangsungkannya Perang Salib Ketiga. Friedrich I, Kaisar Romawi Suci, Philippe II dari Perancis, dan Richard I dari Inggris berencana untuk merebut Yerusalem kembali dan mereka mengorganisir pasukan masing-masing. Friedrich meninggal dunia dalam perjalanan ke Yerusalem; beberapa pasukannya dapat mencapai Tanah Suci. Dua pasukan lainnya berhasil sampai tetapi dilanda pertengkaran politik. Philippe kembali ke Perancis, meninggalkan sebagian besar pasukannya. Richard menaklukkan Pulau Siprus dari kaum Bizantium pada tahun 1191 karena para korban kapal karam termasuk saudarinya ditawan oleh penguasa pulau itu, Isaakius Komnenos. Ia kemudian merebut kembali kota Akko setelah suatu pengepungan yang lama. Bala tentara salib melakukan perjalanan ke selatan di sepanjang pantai Mediterania, mengalahkan kaum Muslim di dekat Arsuf, dan merebut kembali kota pelabuhan Yafo. Mereka telah berada di dekat Yerusalem, tetapi kekurangan perbekalan memaksa mereka untuk mengakhiri perang salib ini tanpa merebut Yerusalem. Richard meninggalkannya pada tahun berikutnya setelah menegosiasikan suatu perjanjian dengan Saladin. Ketentuan-ketentuan itu mengizinkan kaum Katolik yang tidak bersenjata untuk berziarah ke Yerusalem dan mengizinkan para pedagang untuk berdagang. Heinrich VI, Kaisar Romawi Suci, memprakarsai Perang Salib Jerman pada tahun 1197 untuk memenuhi janji-janji yang dibuat oleh ayahnya, Friedrich. Dengan dipimpin oleh Konrad dari Wittelsbach, Uskup Agung Mainz, pasukan tersebut tiba di Akko dan merebut kota Sidon dan Beirut. Namun sebagian besar tentara salib itu kembali ke Jerman setelah Heinrich meninggal dunia. 

Abad ke-13

Ketika Paus Selestinus III menyerukan suatu perang salib terhadap kaum pagan di Eropa Utara pada tahun 1193, Uskup Berthold dari Hanover memimpin sejumlah besar pasukan untuk mengalahkannya dan ia meninggal dunia tahun 1198. Menanggapi kekalahan tersebut, Paus Innosensius III mengeluarkan sebuah bulla kepausan yang menyatakan suatu perang salib terhadap etnis Livonia yang mana kebanyakan menganut paganisme. Albrecht von Buxthoeven, setelah dikonsekrasi sebagai uskup pada tahun 1199, tiba pada tahun berikutnya dengan suatu kekuatan yang besar dan menjadikan Riga sebagai takhta keuskupannya pada tahun 1201. Pada tahun 1202 ia membentuk Kesatria Livonian untuk membantunya mengkonversi kaum pagan ke dalam Katolikisme dan, yang lebih penting, untuk melindungi perdagangan Jerman. Etnis Livonia tersebut ditaklukkan dan dikonversi antara tahun 1202 dan 1209. Pada tahun 1217 Paus Honorius III menyatakan suatu perang salib terhadap orang Prusia, dan pada tahun 1226 Konrad I dari Masovia memberikan Chełmno kepada para Kesatria Teutonik sebagai sebuah basis bagi perang salib ini. Pada tahun 1236 para Kesatria Livonia dikalahkan oleh orang Lithuania di Saule, dan pada tahun 1237 Paus Gregorius IX menggabungkan sisa-sisa dari ordo militer tersebut ke dalam Kesatria Teutonik sebagai Ordo Livonian. 

Pada tahun 1249 para Kesatria Teutonik menyelesaikan penaklukan mereka atas orang Prusia Lama, dan memerintahnya sebagai para lord dari kaisar Jerman. Mereka kemudian menaklukkan dan mengkonversi orang Lithuania, suatu proses yang berlangsung sampai tahun 1380-an. Ordo tersebut gagal menaklukkan bangsa Rusia Ortodoks, khususnya Republik Pskov dan Novgorod (dengan dukungan dari Paus Gregorius IX), sebagai bagian dari Perang Salib Utara. Pada tahun 1240 pasukan Novgorod mengalahkan bangsa Swedia dalam Pertempuran Neva, dan dua tahun kemudian mereka mengalahkan Ordo Livonian dalam Pertempuran di Es. 

Paus Innosensius III mulai berkhotbah di Inggris, Jerman, dan khususnya Perancis, tentang apa yang kemudian menjadi Perang Salib Keempat pada tahun 1200. Ini menjadi semacam kendaraan bagi ambisi politik Doge Enrico Dandolo dari Venesia (suatu negara vasal dari Bizantium pada saat itu) dan Raja Jerman Philip dari Swabia, yang beristrikan Irene dari Bizantium. Dandolo melihat suatu kesempatan untuk memperluas kekuasaan Venesia di Timur Dekat dan melepaskan diri dari keterikatan Bizantium; Philip melihat perang salib tersebut sebagai suatu kesempatan untuk mengembalikan keponakannya yang diasingkan, Alexius IV Angelus, ke singgasana Bizantium. Meskipun para tentara salib membuat kontrak dengan orang Venesia untuk suatu armada dan perbekalan untuk mengangkut mereka ke Tanah Suci, mereka tidak mampu membayar karena jumlah kesatria yang tiba di Venesia terlalu sedikit. Karenanya mereka sepakat untuk mengalihkan perang salib ke Konstantinopel dan berbagi apa yang dapat dirampas sebagai pembayaran. Sebagai jaminannya para tentara salib merebut kota Kristen Zara pada tanggal 24 November 1202, dan mereka semua yang terlibat diekskomunikasi oleh Paus Innosensius yang terkejut karena peristiwa itu. Mereka mendapat perlawanan terbatas dalam pengepungan awal mereka atas Konstantinopel, dengan berlayar menyusuri Dardanelles dan menembus tembok-tembok laut. Alexius IV Angelus mati dicekik setelah suatu kudeta kekaisaran, sehingga menggagalkan usaha mereka, dan mereka mengulangi pengepungan itu pada bulan April 1204. Kali ini kota tersebut dijarah, gereja-gereja dirampok, dan banyak penduduk dibunuh; para tentara salib membagi kekaisaran ini menjadi berbagai fief Latin dan koloni Venesia. Yang terakhir, pertahanan La Cava dan Nikosia dititikberatkan. Pada bulan April 1205 para tentara salib dikalahkan oleh kaum Bulgar dan sisa-sisa orang Yunani di Adrianopel, di mana Kaloyan dari Bulgaria menangkap dan memenjarakan kaisar Latin yang baru, yaitu Baudouin dari Flandria.  Kendati menyesalkan tindakan-tindakan itu, kepausan tersebut pada awalnya mendukung penyatuan kembali gereja-gereja Timur dan Barat secara paksa. Perang Salib Keempat secara efektif menyebabkan adanya dua Kekaisaran Romawi di Timur: suatu kekaisaran Latin di selat tersebut (Konstantinopel) yang bertahan sampai tahun 1261 dan suatu enklave Bizantium yang memerintah dari Nicea, yang mana kemudian berhasil menguasainya kembali dengan memanfaatkan tidak adanya armada Venesia. Bagaimanapun Venesia adalah pewaris atau penerima manfaat satu-satunya. 

Meskipun Perang Salib Albigensian dilangsungkan pada tahun 1208 untuk mengatasi kaum Katar (Albigens) dari Ositania (Perancis selatan masa kini), perjuangan panjang selama beberapa dekade menyimpan banyak keinginan dari Perancis utara untuk memperluas kontrolnya ke selatan sebagaimana dilakukannya dengan memerangi bidah tersebut. Kaum Katar akhirnya berhasil dihalau ke bawah tanah, dan Perancis selatan kehilangan kemerdekaannya. Pada tahun 1221 Paus Honorius III meminta Raja András II untuk mengatasi para bidat di Bosnia, dan pasukan Hungaria menanggapi tambahan permintaan kepausan pada tahun 1234 dan 1241; kampanye yang belakangan berakhir dengan adanya invasi Mongol di Hungaria pada tahun 1241. Gereja Bosnia merupakan Katolik secara teologis, tetapi skismanya dengan Gereja Katolik Roma berlangsung hingga melewati akhir Abad Pertengahan. Paus Innosensius III menyatakan bahwa suatu perang salib baru akan dimulai pada tahun 1217, dan ia menyelenggarakan Konsili Lateran IV pada tahun 1215. Tentara salib ini sebagian besar berasal dari Jerman, Flandria, dan Frisia, dengan sejumlah besar pasukan dari Hungaria yang dipimpin oleh András II dan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Adipati Luitpold VI dari Austria. András dan Luitpold tiba di Akko pada bulan Oktober 1217, namun hanya sedikit hasil yang dicapai dan András kembali ke Hungaria pada bulan Januari 1218. Setelah kedatangan lebih banyak tentara salib, Luitpold dan Raja Yerusalem Jean dari Brienne mengepung Damietta di Mesir; mereka merebutnya pada bulan November 1219. Upaya-upaya lanjutan oleh Pelagio Galvani, seorang legatus kepausan, untuk bergerak lebih jauh ke Mesir tidak membuahkan hasil. Karena diblokir oleh pasukan Sultan Ayyubiyyah Al-Kamil, para tentara salib terpaksa menyerah. Al-Kamil memaksa dikembalikannya Damietta, setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 8 tahun, dan para tentara salib meninggalkan Mesir. 

Setelah berulang kali melanggar sumpahnya dalam perang salib, Kaisar Friedrich II diekskomunikasi. Ia akhirnya berlayar dari Brindisi, mendarat di Akko pada bulan September 1228 setelah suatu perhentian di Siprus. Friedrich menyepakati suatu perjanjian damai dengan Al-Kamil yang mana memungkinkan kaum Kristen Latin untuk menguasai sebagian besar Yerusalem dan sejalur wilayah dari Akko menuju Yerusalem, dengan kaum Muslim menguasai daerah-daerah suci mereka di Yerusalem. Sebagai imbalannya, Friedrich berjanji untuk melindungi Al-Kamil terhadap semua musuh sekalipun mereka kaum Kristen. Setelah Perang Salib Keenam berlangsung Perang Salib Para Baron, yakni suatu upaya oleh Raja Thibaut I dari Navarre pada tahun 1239 dan 1240 yang berawal dari panggilan Paus Gregorius IX pada tahun 1234 untuk kembali berhimpun pada bulan Juli 1239 setelah gencatan senjata berakhir. Selain Thibaut, Peter dari Dreux, Hugues IV dari Bourgogne dan bangsawan Perancis lainnya juga berpartisipasi. Mereka tiba di Akko pada bulan September 1239. Setelah suatu kekalahan pada bulan November di Gaza, Thibaut mengatur dua perjanjian—satu perjanjian dengan kaum Ayyubiyyah dari Damaskus dan perjanjian lainnya dengan kaum Ayyubiyyah dari Mesir—yang mana mengembalikan wilayah kepada negara-negara yang tergabung dalam perang salib tetapi menyebabkan ketidakpuasan di kalangan tentara salib. Thibaut kembali ke Eropa pada bulan September 1240; Richard dari Cornwall, adik Raja Henry III dari Inggris, mengambil salib tersebut dan tiba di Akko beberapa minggu kemudian. Setelah menegakkan perjanjiannya Thibaut, Richard meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke Eropa pada bulan Mei 1241. 

Selama musim panas tahun 1244 pasukan Khwarezmia yang dikirim oleh putra al-Kamil, yaitu as-Salih Ayyub, menyerang dan mengambil alih Yerusalem. Kaum Franka bersekutu dengan Ismail, paman Ayyub, dan al-Mansur Ibrahim, amir dari Ḥimṣ; pasukan gabungan mereka memasuki pertempuran di La Forbie di Gaza. Pasukan salib dan sekutunya dikalahkan dalam waktu 48 jam oleh pasukan Khwarezmia. Raja Louis IX dari Perancis mengorganisir suatu perang salib setelah mengambil salib tersebut pada bulan Desember 1244, memberitakan dan melakukan perekrutan antara tahun 1245 sampai 1248. Pasukan Louis berlayar dari Perancis pada bulan Mei 1249, mendarat di Mesir dekat Damietta pada tanggal 5 juni 1249. Setelah banjir dari sungai Nil surut, pasukan tersebut bergerak ke pedalaman pada bulan November dan pada bulan Februari telah berada di dekat Mansura. Mereka dikalahkan, dan Louis ditangkap saat ia mundur kembali ke Damietta. Ia ditebus dengan harga 800.000 bezant, dan disepakati suatu gencatan senjata selama 10 tahun. Louis pergi ke Suriah, menetap di sana sampai tahun 1254 untuk memperkuat dan memperkokoh kerajaan Yerusalem. 

Pada tahun 1256 orang Venesia terusir dari Tirus, menggerakkan terjadinya Perang Santo Sabas atas wilayah di Akko yang diklaim oleh Genoa dan Venesia. Meskipun orang Venesia menaklukkan wilayah yang disengketakan itu (dengan menghancurkan benteng pertahanan Santo Sabas), mereka tidak dapat mengusir orang Genoa. Selama blokade 14 bulan, Genoa bersekutu dengan Philippe dari Montfort, John dari Arsuf, dan Kesatria Hospitalis; sementara Venesia didukung oleh Comte Yafo dan Kesatria Templar. Pada tahun 1261 orang Genoa dapat diusir tetapi Paus Urbanus IV, karena khawatir atas dampak perang tersebut pada pertahanan terhadap orang Mongol, mengorganisir suatu konsili perdamaian. Konflik tersebut berlanjut pada tahun 1264 ketika orang Genoa mendapat bantuan dari Mikhael VIII Palaiologos, Kaisar Nicea, dan Venesia tidak berhasil dalam usahanya menaklukkan Tirus. Kedua belah pihak menggunakan serdadu Muslim (terutama Turkopol) untuk melawan musuh Kristen mereka, dan orang Genoa menjalin aliansi dengan Sultan Mesir Baibars. Perang ini secara signifikan mengganggu kemampuan kerajaan tersebut dalam menghadapi ancaman eksternal. Selain bangunan-bangunan keagamaan, kebanyakan bangunan berkubu di Akko dihancurkan; pada satu titik, kota itu dikatakan tampak seperti telah dirusak oleh pasukan Muslim. Menurut Rothelin, yang melanjutkan Sejarah karya William dari Tirus, 20.000 orang tewas dalam konflik tersebut (sementara negara-negara tentara salib sangat kekurangan prajurit). Perang ini berakhir pada tahun 1270, dan pada tahun 1288 Genoa mendapatkan kembali kawasannya di Akko. 

Pada tahun 1266 saudara Louis IX, Charles, merebut Sisilia yang sebelumnya menguasai sebagian daerah di Laut Adriatik timur, yaitu Kerkyra, kota-kota Butrinto, Avlona, dan Suboto. Perjanjian Viterbo disepakati dengan pengasingan Baudouin II dari Konstantinopel dan Guillaume dari Villehardouin; para ahli waris dari kedua pangeran Latin ini akan dinikahkan dengan anak-anak Charles, dan jika tidak ada ahli waris maka Charles akan memperoleh kepangeranan dan kekaisaran tersebut. Charles memalingkan perang salib saudaranya demi kepentingannya sendiri, ia membujuk Louis untuk mengarahkan yang disebut Perang Salib Kedelapan itu untuk melawan vasal yang memberontak dari Charles, yakni Tunis. Namun wafatnya Louis, penyakit yang menyebar di kalangan tentara salib, dan badai yang menghancurkan armada kapalnya memaksa Charles untuk menunda rencana yang telah disusunnya atas Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos khawatir dengan perang salib yang telah direncanakan Charles untuk memulihkan Kekaisaran Latin, yang mana telah jatuh pada tahun 1261, dan terhadap ekspansi Charles di Mediterania. Rencana Charles tertunda karena Michael memulai negosiasi dengan Paus Gregorius X demi persatuan gereja-gereja Yunani dan Latin. Dalam Konsili Lyon II, penyatuan gereja-gereja tersebut dideklarasikan sehingga Charles dan Philippe dari Courtenay terpaksa menjalin gencatan senjata dengan kaum Bizantium. Penyatuan ini nantinya terbukti tidak dapat diterima oleh kalangan Yunani. Michael juga mendanai Genoa untuk mendorong pemberontakan di wilayah-wilayah Italia utara yang dikuasai Charles. Pada tahun 1268 Charles mengeksekusi Konradin, cicit Isabella dari Jerusalem dan pretender utama atas singgasana Yerusalem, ketika ia merebut Sisilia dari Kekaisaran Romawi Suci. Charles membeli hak penguasaan Yerusalem dari Maria dari Antiokhia, satu-satunya cucu yang masih hidup dari Ratu Isabella, sehingga menciptakan suatu klaim untuk menandingi Hugues III dari Siprus (cicit Isabella).

Charles menghabiskan hidupnya dengan upaya-upaya untuk menghimpunkan suatu kekaisaran Mediterania; ia dan Louis memandang diri mereka sebagai instrumen Allah untuk menegakkan kepausan. Louis IX mengabaikan para penasihatnya sehingga pada tahun 1270 ia kembali menyerang bangsa Arab di Tunis. Cuacanya panas, dan pasukannya hancur oleh penyakit. Louis meninggal dunia, sehingga mengakhiri upaya besar yang terakhir untuk mengambil alih Tanah Suci. Dari tahun 1265 sampai 1271, para mamluk yang dipimpin oleh Sultan Baibars mendesak kaum Franka ke beberapa pos pesisir kecil. Yang kemudian menjadi Edward I dari Inggris berjanji untuk ikut serta dengan Louis IX dalam perang salib, namun ia terlambat dan baru sampai di Afrika Utara pada bulan November 1270. Setelah wafatnya Louis, Edward pergi ke Sisilia dan kemudian ke Akko pada bulan Mei 1271. Bagaimanapun pasukannya kecil, dan ia tidak senang dengan gencatan senjata antara Baibars dan Raja Hugues dari Yerusalem. Edward belajar dari kematian ayahnya dan suksesinya ke singgasana terjadi pada bulan Desember 1272, tetapi ia tidak kembali ke Inggris hingga tahun 1274 (walau ia meraih sedikit pencapaian di Tanah Suci). Konklaf pada tahun 1281 yang memilih seorang paus Perancis, yaitu Paus Martinus IV, membawa kekuasaan kepausan sepenuhnya ke lini belakang Charles. Ia berkampanye di Albania dan Akhaya, namun tidak berhasil, menjelang persiapan untuk melangsungkan perang salibnya (dengan 400 kapal yang membawa 27.000 kesatria berkuda) terhadap Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos bersekutu dengan Pero III dari Aragon untuk memicu suatu pemberontakan, yang kemudian disebut Vespers Sisilia, di mana armada kapal tentara salib ditinggalkan dan dibakar. Orang-orang Sisilia mengangkat Pero sebagai raja, dan Wangsa Anjou Kapetia diasingkan dari Sisilia. Paus Martinus mengekskomunikasi Pero dan melangsungkan suatu perang salib terhadap Aragon sebelum Charles wafat pada tahun 1285, yang mana memungkinkan Henri II dari Siprus untuk merebut kembali Yerusalem. Salah satu faktor kemunduran para tentara salib adalah perpecahan dan konflik seputar kepentingan kaum Kristen Latin di Mediterania timur. Paus Martinus dipandang membahayakan kepausan dengan mendukung Charles dari Anjou, dengan ceroboh melangsungkan "perang-perang salib" sekuler terhadap Sisilia dan Aragon sehingga menodai gemerlap spiritualnya. Jatuhnya otoritas moral kepausan dan bangkitnya nasionalisme membunyikan lonceng kematian bagi praktik perang salib, yang akhirnya mengarah pada Kepausan Avignon dan Skisma Barat. Perang Salib Aragon dinyatakan oleh Paus Martinus terhadap Pero III pada tahun 1284 dan 1285, di mana Pero mendukung pasukan anti Angevin ("dari Anjou") di Sisilia setelah Vespers Sisilia dan Paus Martinus mendukung Charles dari Anjou. Paus Bonifasius VIII menyatakan suatu perang salib terhadap Federico III dari Sisilia (putra bungsu Pero) pada tahun 1298, namun ia tidak mampu menghalangi pengakuan dan pemahkotaan Federico sebagai raja Sisilia. 

Tanah daratan negara-negara Tentara Salib dari outremer tersebut lenyap dengan jatuhnya Tripoli pada tahun 1289 dan Akko pada tahun 1291. Kebanyakan kaum Kristen Latin yang tersisa pergi ke berbagai tempat tujuan dalam Frankokratia ("pemerintahan Franka"), dibunuh, atau diperbudak. Upaya-upaya praktik perang salib kecil masih ada pada abad ke-14; Pierre I dari Siprus merebut dan menjarah Aleksandria pada tahun 1365 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Salib Aleksandria, namun motivasinya lebih kepada kepentingan ekonomi daripada religius. Louis II memimpin Perang Salib Mahdiya untuk melawan bajak laut Muslim di Afrika Utara; setelah pengepungan selama 10 minggu, para tentara salib menyepakati gencatan senjata selama 10 tahun. 

Abad ke-14 dan ke-15

Sejumlah perang salib dilangsungkan selama abad ke-14 dan ke-15 untuk menghadapi ekspansi Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah); yang pertama (pada tahun 1396) dipimpin oleh Sigismund dari Luxemburg, raja Hungaria. Banyak bangsawan Perancis yang bergabung dengan Sigismund, misalnya Jean II dari Bourgogne (putra Adipati Bourgogne). Kendati Sigismund menyarankan para tentara salib untuk berfokus pada pertahanan ketika mereka sampai di Donau, mereka mengepung kota Nikopol. Ottoman mengalahkan mereka dalam Pertempuran Nikopolis pada tanggal 25 September, menawan 3.000 orang. Perang Salib Hussit, dikenal juga dengan sebutan Peperangan Hussit atau Peperangan Bohemian, merupakan aksi militer terhadap pengikut Jan Hus di Bohemia dari tahun 1420 sampai 1431. Berbagai perang salib dinyatakan sebanyak lima kali selama periode ini: tahun 1420, 1421, 1422, 1427, dan 1431. Ekspedisi-ekspedisi tersebut memaksa pasukan Hussit, yang mana tidak setuju dengan banyak hal doktrinal, untuk bersatu mengusir penjajah. Peperangan ini beakhir tahun 1436 dengan ratifikasi Compactata Iglau oleh Gereja. 

Raja Polandia-Hungaria Władysław Warneńczyk menyerang wilayah yang baru ditaklukkan Ottoman, sampai ke Beograd pada bulan Januari 1444; Sultan Murad II menolak suatu negosiasi gencatan senjatan beberapa hari setelah ratifikasinya. Upaya-upaya lanjutan oleh para tentara salib berakhir dalam Pertempuran Varna pada tanggal 10 November, suatu kemenangan mutlak Ottoman yang menyebabkan mundurnya para tentara salib. Penarikan ini, menyusul upaya terakhir pihak Barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium, mengakibatkan kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453. János Hunyadi dan Yohanes dari Capistrano mengorganisir suatu perang salib pada tahun 1456 untuk membebaskan Beograd dari pengepungan Ottoman. Pada bulan April 1487 Paus Innosensius VIII menyerukan suatu perang salib terhadap kaum Waldensian dari Savoy, Piemonte, dan Dauphiné di Perancis selatan dan Italia utara. Satu-satunya upaya yang benar-benar dilakukan, yang mana menghasilkan sedikit perubahan, adalah di Dauphiné. 

Negara-negara tentara salib

Perang Salib Pertama mendirikan empat negara tentara salib yang pertama di Mediterania Timur: County Edessa (1098–1149), Kepangeranan Antiokhia (1098–1268), Kerajaan Yerusalem (1099–1291), dan County Tripoli (1104—kendati Tripoli belum ditaklukkan hingga 1109—sampai 1289). Kerajaan Armenia Kilikia telah ada sebelum Perang-perang Salib, tetapi status kerajaan diperolehnya dari Paus Innosensius III dan kemudian mendapat pengaruh barat sepenuhnya oleh Wangsa Lusignan. Menurut sejarawan Jonathan Riley-Smith, negara-negara ini merupakan contoh awal dari "Eropa di luar negeri". Mereka umumnya dikenal dengan sebutan outremer, dari bahasa Perancis outre-mer ("luar negeri", bahasa Inggris: overseas). 

Perang Salib Keempat mendirikan sebuah Kekaisaran Latin di timur dan memungkinkan pembagian wilayah Bizantium oleh para pesertanya. Kaisar Latin mengendalikan seperempat wilayah Bizantium, Venesia tiga perdelapannya (termasuk tiga perdelapan kota Konstantinopel), dan sisanya dibagi-bagi di antara para pemimpin perang salib lainnya. Peristiwa ini mengawali periode sejarah Yunani yang dikenal sebagai Frankokratia atau Latinokratia ("pemerintahan Franka [atau Latin]"), sedangkan para bangsawan Eropa Barat Katolik—terutama dari Perancis dan Italia—mendirikan negara-negara di bekas wilayah Bizantium dan memerintah bangsa Yunani Bizantium Ortodoks di wilayah-wilayah tersebut. Partitio terrarum imperii Romaniae merupakan suatu catatan penting tentang properti keluarga dan pembagian administratif Bizantium (episkepsis) pada awal abad ke-13. 

Keuangan

Perang-perang salib menghabiskan banyak biaya; seiring dengan bertambah banyaknya perang, biayanya semakin meningkat. Paus Urbanus II meminta kaum kaya untuk membantu para lord Perang Salib Pertama, seperti Adipati Robert dari Normandia dan Comte Raymond dari St. Gilles, yang mensubsidi para kesatria dalam pasukan mereka. Total biaya yang dikeluarkan Raja Louis IX dari Perancis selama perang-perang salib tahun 1284–1285 diperkirakan 1.537.570 livre, yakni enam kali penghasilan tahunan sang raja. Ini mungkin konservatif, sebab catatan-catatan menunjukkan bahwa Louis menghabiskan 1.000.000 livre di Palestina setelah kampanye Mesir. Para pemimpin perang meminta subsidi dari para subjek mereka, dan derma serta hibah yang dimintakan saat penaklukan Palestina merupakan sumber-sumber penghasilan tambahan. Para paus memerintahkan supaya kotak-kotak kolekte ditempatkan di gereja-gereja dan, sejak pertengahan abad ke-12, memberikan indulgensi sebagai ganti sumbangan dan hibah yang diberikan. 

Ordo-ordo militer

Ordo-ordo militer, terutama ordo Templar dan Hospitalis, memainkan peranan penting dalam pemberian dukungan bagi Negara-negara Tentara Salib, karena mereka menyediakan pasukan para prajurit yang sangat terlatih dan termotivasi yang menjadi penentu pada saat-saat kristis. Kesatria Hospitalis dan Templar menjadi organisasi internasional, dengan berbagai depot di seluruh Eropa Barat dan di Timur. Kesatria Teutonik berfokus di Baltik, dan ordo-ordo militer Spanyol dari Santiago, Calatrava, Alcántara, dan Montesa terkonsentrasi di Semenanjung Iberia. Ordo Hospitalis (Para Kesatria dari Ordo Rumah Sakit Santo Yohanes Yerusalem) didirikan di Yerusalem sebelum Perang Salib Pertama namun misinya jauh lebih diperluas sejak Perang-perang Salib dimulai. Setelah jatuhnya Akko mereka pindah ke Pulau Siprus, menaklukkan dan memerintah Pulau Rodos (1309–1522) dan Malta (1530–1801). Ordo Templar (Para Sesama Prajurit Miskin dari Kristus dan dari Bait Salomo) didirikan pada tahun 1118 untuk melindungi para peziarah dalam perjalanan mereka ke Yerusalem. Mereka menjadi kaya dan berkuasa melalui perbankan dan realestat. Pada tahun 1322 Raja Perancis menekan ordo ini seolah-olah karena kasus sodomi, sihir, dan bidah, tetapi kemungkinan karena alasan-alasan politik dan keuangan. 

Peranan perempuan, anak-anak, dan kelas

Kaum perempuan terkait erat dengan Perang-perang salib; mereka membantu dalam perekrutan, mengambil alih tanggung jawab para tentara salib dalam ketidakhadiran mereka, juga menyediakan dukungan moral dan keuangan. Para sejarawan berpendapat bahwa peranan paling signifikan yang dimainkan oleh kaum perempuan di Barat adalah mempertahankan status quo. Para pemilik lahan yang pergi ke Tanah Suci meninggalkan kendali atas properti mereka kepada para pengawas yang mana seringkali merupakan para istri atau ibu mereka. Karena Gereja menyadari adanya risiko terhadap keluarga dan properti yang mungkin melemahkan semangat para tentara salib, perlindungan khusus dari kepausan merupakan suatu hak istimewa dalam praktik perang salib. Sejumlah perempuan aristokrat berpartisipasi dalam perang-perang salib, misalnya Aliénor dari Aquitaine (yang bergabung dengan suaminya, Louis VII). Perempuan non-aristokrat juga melayani dalam posisi-posisi seperti tukang cuci. Yang lebih kontroversial adalah kaum perempuan yang mengambil peranan aktif (bertentangan dengan feminitas mereka); laporan-laporan tentang kaum perempuan yang ikut bertempur terutama diceritakan oleh para sejarawan Muslim, yang mana menggambarkan kaum perempuan Kristen yang membunuh secara kejam dan amoral. 

Perang Salib Anak-anak dikatakan sebagai suatu gerakan Katolik di Perancis dan Jerman pada tahun 1212 yang berupaya untuk mencapai Tanah Suci. Narasi tradisionalnya mungkin berupa paduan dari beberapa pengertian faktual dan mitos dari periode tersebut yang mencakup visiun dari seorang pemuda Jerman atau Perancis, suatu niat untuk secara damai mengkonversi kaum Muslim di Tanah Suci menjadi penganut Kristen, sekelompok yang terdiri dari beberapa ribu pemuda yang melakukan perjalanan ke Italia, dan anak-anak yang dijual sebagai budak. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 1977 meragukan keberadaan peristiwa-peristiwa ini, dan banyak sejarawan meyakini bahwa mereka (atau utamanya) bukan anak-anak tetapi sekelompok "kaum miskin yang mengembara" di Jerman dan Perancis, yang mana sebagian dari mereka berupaya untuk mencapai Tanah Suci dan sebagian lainnya yang tidak pernah berniat untuk melakukannya. 

Tiga upaya untuk bergabung dalam perang salib dilakukan oleh kaum petani selama pertengahan tahun 1250-an dan awal abad ke-14. Yang pertama, Perang Salib Para Gembala (1251), diserukan di Perancis utara. Setelah suatu pertemuan dengan Blanca dari Kastilia, gerakan tersebut menjadi tidak terorganisir dan dibubarkan oleh pemerintah.  Yang kedua, pada tahun 1309, terjadi di Inggris, Perancis timur laut, dan Jerman; sebanyak 30.000 petani tiba di Avignon sebelum kemudian dibubarkan. Yang ketiga, pada tahun 1320, menjadi serangkaian serangan terhadap kaum klerus dan Yahudi sehingga akhirnya dibubarkan secara paksa. Bagaimanapun "perang salib" ini terutama dipandang sebagai suatu pemberontakan terhadap monarki Perancis. Kaum Yahudi telah diizinkan untuk kembali ke Perancis, setelah sebelumnya diusir pada tahun 1306; semua hutang kepada kaum Yahudi sebelum pengusiran mereka ditagih oleh monarki tersebut, sehingga memicu terjadinya Pastoureaux (istilah yang digunakan untuk menyebut gerakan ini). 

Peninggalan

Orang Eropa Barat yang berada di Timur mengadopsi adat istiadat setempat, memandang diri mereka sebagai warga dari rumah baru mereka dan terjadi perkawinan campur. Hal ini menyebabkan adanya orang-orang dan budaya yang diturunkan dari sisa-sisa penduduk Eropa di negara-negara tentara salib, terutama kaum Levantin Perancis di Lebanon, Palestina, dan Turki. Para pedagang dari republik maritim di sekitar Laut Tengah atau Mediterania (Venesia, Genoa, Ragusa) melanjutkan kehidupan mereka di Konstantinopel, Smirna, dan bagian-bagian lain Anatolia serta pantai Mediterania timur selama pertengahan era Bizantium dan Ottoman. Orang-orang ini, yang dikenal dengan sebutan Franko-Levantin (Levantin Perancis; Frankolevantini; bahasa Italia: Levantini; bahasa Yunani: Φραγκολεβαντίνοι; dan bahasa Turki: Levantenler, Tatlısu Frenkleri), merupakan umat Katolik Roma.

Perang-perang Salib pada saat itu mempengaruhi sikap Gereja Barat terhadap peperangan; panggilan secara rutin untuk melangsungkan perang salib dikatakan membiasakan para klerus terhadap tindak kekerasan. Mereka juga memicu suatu perdebatan seputar legitimasi merebut tanah dan kepemilikan dari kaum pagan dengan alasan murni keagamaan yang mana kembali muncul ke permukaan selama Zaman Penjelajahan pada abad ke-15 dan ke-16. Kebutuhan akan praktik perang salib mendorong perkembangan pemerintahan sekuler, yang mana tidak semuanya berdampak positif; sumber daya yang digunakan dalam peperangan seharusnya dapat digunakan oleh negara-negara berkembang untuk kebutuhan lokal maupun regional. 

Karena prestise dan kekuasaannya diangkat oleh Perang-perang Salib, kuria kepausan pada saat itu menjadi memiliki kendali yang lebih besar atas Gereja barat dan memperluas sistem perpajakan kepausan melalui struktur gerejawi Barat. Sistem indulgensi bertumbuh signifikan di Eropa pada abad pertengahan akhir dan memicu Reformasi Protestan pada awal abad ke-16. 

Meskipun Perang Salib Albigensian dimaksudkan untuk menghilangkan Katarisme di Languedoc, namun Perancis mengakuisisi daratan dengan ikatan bahasa dan budaya yang lebih dekat dengan Catalunya. Perang salib ini juga berperan dalam pembentukan dan pelembagaan Ordo Dominikan dan Inkuisisi Abad Pertengahan. Penganiaan terhadap orang Yahudi dalam Perang Salib I menjadi bagian dari sejarah panjang antisemitisme di Eropa. Kebutuhan untuk meningkatkan, mengangkut, dan mensuplai pasukan dalam jumlah besar menyebabkan kenaikan aktivitas perdagangan antara Eropa dan outremer tersebut. Genoa dan Venesia mengalami perkembangan dengan adanya koloni-koloni perdagangan yang menguntungkan di negara-negara tentara salib di Tanah Suci dan (kemudian) di wilayah Bizantium yang direbutnya. 

Abad Pertengahan

Abad Pertengahan atau Zaman Pertengahan dalam sejarah Eropa, berlangsung dari abad ke-5 sampai abad ke-15. Abad Pertengahan bermula sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan berlangsung sampai dengan Abad Pembaharuan dan Abad Penjelajahan. Sejarah Dunia Barat secara tradisional dibagi menjadi tiga kurun waktu, yakni Zaman Antik Klasik, Zaman Pertengahan, dan Zaman Modern. Dengan kata lain, Abad Pertengahan merupakan kurun waktu peralihan dari Zaman Antik Klasik ke Zaman Modern. Abad Pertengahan terbagi lagi menjadi Awal Abad Pertengahan, Puncak Abad Pertengahan, dan Akhir Abad Pertengahan.

Penurunan jumlah penduduk, kontraurbanisasi, invasi, dan perpindahan suku-suku bangsa, yang bermula sejak Akhir Abad Antik, masih berlanjut pada Awal Abad Pertengahan. Perpindahan-perpindahan penduduk berskala besar pada Zaman Migrasi meliputi perpindahan suku-suku bangsa Jermani, yang mendirikan kerajaan-kerajaan baru di bekas-bekas wilayah Kekaisaran Romawi Barat. Pada abad ke-7, Afrika Utara dan Timur Tengah—yang pernah menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Bizantium—dikuasai oleh Khilafah Umawiyyah, sebuah kekaisaran Islam, setelah ditaklukkan oleh para penerus Muhammad. Meskipun pada Awal Abad Pertengahan telah terjadi perubahan-perubahan mendasar dalam struktur kemasyarakatan dan politik, pengaruh Zaman Antik Klasik belum benar-benar hilang. Kekaisaran Bizantium yang masih cukup besar tetap sintas di kawasan timur Eropa. Kitab undang-undang Kekaisaran Bizantium, Corpus Iuris Civilis atau "Kitab Undang-Undang Yustinianus", ditemukan kembali di Italia Utara pada 1070, dan kelak mengundang decak kagum dari berbagai kalangan selama Abad Pertengahan. Di kawasan barat Eropa, sebagian besar dari kerajaan yang ada melembagakan segelintir pranata Romawi yang tersisa. Biara-biara didirikan seiring gencarnya usaha mengkristenkan kaum penyembah berhala di Eropa. Orang Franka, dipimpin raja-raja wangsa Karoling, mendirikan Kekaisaran Karoling pada penghujung abad ke-8 dan permulaan abad ke-9. Meskipun wilayahnya kekuasaannya meliputi sebagian besar daratan Eropa Barat, Kekaisaran Karoling kelak terpuruk akibat perang-perang saudara di dalam negeri dan invasi-invasi dari luar negeri, yakni serangan-serangan orang Viking dari arah utara, orang Hongaria dari arah timur, dan orang Saraseni dari arah selatan.

Pada Puncak Abad Pertengahan, yang bermula selepas tahun 1000, populasi Eropa mengalami peningkatan besar-besaran berkat munculnya inovasi-inovasi di bidang teknologi dan pertanian yang memungkinkan berkembangnya perniagaan, serta perubahan iklim selama Periode Suhu Hangat Abad Pertengahan yang memungkinkan meningkatnya hasil panen. Ada dua cara menata masyarakat pada Puncak Abad Pertengahan, yakni Manorialisme dan Feodalisme. Manorialisme adalah pengaturan rakyat jelata menjadi pemukim di desa-desa, dengan kewajiban membayar sewa lahan dan bekerja bakti bagi kaum bangsawan; sementara feodalisme adalah struktur politik yang mewajibkan para kesatria dan bangsawan-bangsawan kelas bawah untuk maju berperang membela majikan mereka sebagai ganti anugerah hak atas sewa lahan dan manerium. Perang Salib, yang mula-mula diserukan pada 1095, adalah upaya militer umat Kristen Eropa Barat untuk merebut kembali kekuasaan atas Tanah Suci dari umat Muslim. Raja-raja menjadi kepala dari negara-negara bangsa yang tersentralisasi. Sistem kepemimpinan semacam ini mengurangi angka kejahatan dan kekerasan, namun membuat cita-cita untuk menciptakan suatu Dunia Kristen yang bersatu semakin sukar diwujudkan. Kehidupan intelektual ditandai oleh skolastisisme, filsafat yang mengutamakan keselarasan antara iman dan akal budi, dan ditandai pula oleh pendirian universitas-universitas. Teologi Thomas Aquinas, lukisan-lukisan Giotto, puisi-puisi Dante dan Chaucer, perjalanan-perjalanan Marco Polo, dan katedral-katedral bergaya arsitektur Gotik semisal Katedral Chartres, adalah beberapa dari capaian-capaian yang menakjubkan menjelang akhir dari kurun waktu Puncak Abad Pertengahan dan permulaan dari kurun waktu Akhir Abad Pertengahan.

Akhir Abad Pertengahan ditandai oleh berbagai musibah dan malapetaka yang meliputi bencana kelaparan, wabah penyakit, dan perang, yang secara signifikan menyusutkan jumlah penduduk Eropa; antara 1347 sampai 1350, Wabah Hitam menewaskan sekitar sepertiga dari penduduk Eropa. Kontroversi, bidah, dan Skisma Barat yang menimpa Gereja Katolik, terjadi bersamaan dengan konflik antarnegara, pertikaian dalam masyarakat, dan pemberontakan-pemberontakan rakyat jelata yang melanda kerajaan-kerajaan di Eropa. Perkembangan budaya dan teknologi mentransformasi masyarakat Eropa, mengakhiri kurun waktu Akhir Abad Pertengahan, dan mengawali permulaan Zaman Modern.

Abad Pertengahan adalah salah satu dari tiga kurun waktu utama dalam skema terlama yang digunakan untuk menganalisis Sejarah Eropa. Ketiga kurun waktu utama tersebut adalah Zaman Peradaban Klasik atau Zaman Antik, Abad Pertengahan, dan Zaman Modern. 

Para pujangga Abad Pertengahan membagi sejarah menjadi sejumlah kurun waktu, misalnya "Enam Zaman" atau "Empat Kekaisaran", dan menganggap zaman hidup mereka sebagai zaman terakhir menjelang kiamat. Bilamana mengulas zaman hidup mereka, maka zaman itu akan mereka sebut sebagai "zaman modern". Pada era 1330-an, tokoh humanis dan penyair Petrarca menyebut kurun waktu pra-Kristen sebagai zaman antiqua (kuno) dan kurun waktu Kristen sebagai sebagai zaman nova (baru). Leonardo Bruni adalah sejarawan pertama yang menggunakan periodisasi tripartit dalam karya tulisnya, Sejarah Orang Firenze (1442). Bruni dan para sejarawan sesudahnya berpendapat bahwa Italia telah banyak berubah semenjak masa hidup Petrarca, dan oleh karena itu menambahkan kurun waktu ketiga pada dua kurun waktu yang telah ditetapkan oleh Petrarca. Istilah "Abad Pertengahan" pertama kali muncul dalam bahasa Latin pada 1469 sebagai media tempestas (masa pertengahan). Mula-mula ada banyak variasi dalam pemakaian istilah ini, antara lain, medium aevum (abad pertengahan), pertama kali tercatat pada 1604, dan media saecula (kurun pertengahan), pertama kali tercatat pada 1625. Istilah "Abad Pertengahan" adalah terjemahan dari frasa medium aevum. Periodisasi tripartit menjadi periodisasi standar setelah sejarawan Jerman abad ke-17, Christophorus Cellarius, membagi sejarah menjadi tiga kurun waktu: Kuno, Pertengahan, dan Modern. 

Tarikh yang paling umum digunakan sebagai tarikh permulaan Abad Pertengahan adalah tarikh 476, pertama kali digunakan oleh Bruni. Bagi Eropa secara keseluruhan, tarikh 1500 seringkali dijadikan tarikh penutup Abad Pertengahan, akan tetapi tidak ada kesepakatan yang universal mengenai tarikh penutup Abad Pertengahan. Tergantung konteksnya, tarikh peristiwa-peristiwa penting seperti pelayaran pertama Kristoforus Kolumbus ke Benua Amerika pada 1492, penaklukan Konstantinopel oleh orang Turki pada 1453, atau Reformasi Protestan pada 1517, kadang-kadang pula digunakan. Para sejarawan Inggris seringkali menggunakan tarikh peristiwa Pertempuran Bosworth pada 1485 sebagai tarikh penutup Abad Pertengahan. Tarikh yang umum digunakan oleh Spanyol adalah tarikh peristiwa mangkatnya Raja Fernando II pada 1516, mangkatnya Isabel I, Ratu Kastila pada 1504, atau penaklukan Granada pada 1492. Para sejarawan dari negara-negara penutur bahasa-bahasa Roman cenderung membagi Abad Pertengahan menjadi dua kurun waktu: kurun waktu "Tinggi" sebagai kurun waktu yang terdahulu dan kurun waktu "Rendah" sebagai kurun waktu yang terkemudian. Para sejarawan penutur bahasa Inggris, mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Jerman, umumnya membagi Abad Pertengahan menjadi tiga kurun waktu: "Awal", "Puncak", dan "Akhir". Pada abad ke-19, seluruh Abad Pertengahan kerap dijuluki "Abad Kegelapan", namun sejak diterimanya pembagian Abad Pertengahan menjadi beberapa kurun waktu, pemakaian istilah ini pun dibatasi untuk kurun waktu Awal Abad Pertengahan saja, setidaknya di kalangan sejarawan. 

Kekaisaran Romawi Akhir

Kekaisaran Romawi meraih keberadaan teritorial terbesarnya pada abad kedua Masehi; dua abad setelah menyaksikan penurunan lambat kontrol Romawi atas wilayah pinggirannya. Masalah ekonomi, termasuk inflasi, dan tekanan eksternal pada garis-garis depan berpadu dalam menimbulkan Krisis Abad Ketiga, dengan para kaisar yang meraih tahta dengan cepat digantikan oleh para perampas kekuasaan baru. Pengeluaran militer makin meningkat pada abad ketiga, terutama dalam menanggapi perang dengan Kekaisaran Sasaniyah, yang timbul pada pertengahan abad ketiga. Tentara digandakan, danj kavaleri dan unit-unit yang lebih kecil diganti dengan legiun Romawi sebagai unit taktikal utama. Kebutuhan untuk pendapatan berujung pada meningkatkan pajak dan penurunan jumlah kurial, atau kepemilikan tanah, kelas dan penurunan jumlah orang yang memegang tampuk jabatan di kota-kota asal mereka. Para birokrat lebih dibutuhkan dalam pemerintahan pusat untuk menyepakati kebutuhan tentara tersebut, yang berujung pada gugatan dari warga sipil karena lebih banyak pemungut cukai di kekaisaran tersebut ketimbang pembayar pajak. 

Kaisar Diokletianus (memerintah 284–305) membagi kekaisaran tersebut ke dalam wilayah timur dan barat yang terpisah secara administratif pada tahun 286; kekaisaran tersebut tak dianggap terbagi oleh para penduduk atau penguasanya, karena penerapan hukum dan pemerintahan di satu divisi dianggap sah di wilayah lainnya. Pada 330, setelah masa perang saudara, Konstantinus Agung (memerintah 306-337) mendirikan kembali kota Bizantium sebagai ibukota timur yang baru berganti nama, Konstantinopel. Reformasi Diokletianus memperkuat birokrasi pemerintahan, mereformasi perpajakan, dan memperkuat ketentaraan, yang menunjang masa kekaisaran tersebut namun tak menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya: perpajakan yang berlebihan, penurunan tingkat kelahiran, dan tekanan dari pihak luar, dan lain-lain. Perang saudara antara para kaisar yang bersaing menjadi hal umum pada pertengahan abad ke-4, memecah belah prajurit dari pasukan garis depan kekaisaran tersebut dan membolehkan pasukan invasi untuk menyerang. Selama sebagian besar abad ke-4, masyarakat Romawi distabilisasi dalam bentuk baru yang berbeda dari periode klasik pada masa sebelumnya, dengan jurang besar antara kaum kaya dan kaum miskin, dan penurunan dalam vitalitas kota-kota kecil. Perubahan lainnya adalah penyebaran agama Kristen, atau peralihan kekaisaran tersebut ke agama Kristen, sebuah proses bertahap yang berlangsung dari abad ke-2 sampai ke-5.

Pada tahun 376, bangsa Goth, yang lari dari bangsa Hun, meraih ijin dari Kaisar Valens (memerintah 364–378) untuk menetap di provinsi Romawi Thracia di Balkan. Pemukiman tersebut tidaklah berjalan mulus, dan saat para pejabat Romawi salah menangani keadaan, bangsa Goth memulai penyerbuan dan menjarah. Valens, yang berupaya untuk meredam keadaan tersebut, tewas saat bertempur melawan bangsa Goth di Pertempuran Adrianopolis pada 9 Agustus 378. Selain itu, ancaman dari konfederasi suku dari wilayah utara, divisi-divisi internal dalam kekaisaran tersebut, khususnya dalam Gereja Kristen, menyebabkan masalah. Pada tahun 400, bangsa Visigoth menginvasi Kekaisaran Romawi Barat dan, meskipun cepat dipukul mundur dari Italia, pada tahun 410 merebut kota Roma. Pada 406, bangsa Alan, bangsa Vandal, dan Suevi melintasi Gaul; sepanjang tiga tahun berikutnya, mereka menyebar ke sepanjang Gaul dan pada tahun 409, melintasi Pegunungan Pirene (sekarang Spanyol). Periode Migrasi dimulai, saat berbagai suku bangsa, terutama suku bangsa Jermanik, pindah ke sepanjang Eropa. Bangsa Frank, Alemanni, dan bangsa Burgundi semuanya berakhir di utara Gaul sementara Angles, bangsa Saxon, dan Jutes bermukim di Britania, dan bangsa Vandal melintasi selat Gibraltar setelah mereka merebut provinsi Afrika. Pada dekade 430an, bangsa Hun mulai menginvasi kekaisaran tersebut; raja mereka Attila (memerintah 434–453) memimpin invasi-invasi ke Balkan pada tahun 442 dan 447, Gaul pada tahun 451, dan Italia pada tahun 452. Ancaman bangsa Hun berlangsung sampai Attila meninggal pada tahun 453, saat konfederasi Hunnik yang ia pimpin terpecah. Invasi-invasi oleh suku-suku tersebut benar-benar mengubah alam politik dan demografi dari apa yang menjadi Kekaisaran Romawi Barat. 

Pada akhir abad ke-5, bagian barat dari kekaisaran tersebut terbagi menjadi unit-unit politik yang lebih kecil, diperintah oleh suku-suku yang telah menginvasi pada bagian awal dari abad tersebut. Pelengseran kaisar terakhir di wilayah barat, Romulus Augustulus, pada tahun 476 telah secara tradisional menandai akhir Kekaisaran Romawi Barat. Pada tahun 493, semenanjung Italia direbut oleh bangsa Ostrogoth. Kekaisaran Romawi Timur, yang seringkali disebut sebagai Kekaisaran Bizantium setelah kejatuhan wilayah baratnya, memiliki kemampuan yang kecil untuk meraih kontrol atas wilayah barat yang hilang. Para kaisar Bizantium memegang klaim atas wilayah tersebut, namun meskipun tak ada raja-raja baru di barat yang sepakat untuk mengangkat diri mereka sendiri pada jabatan kaisar di wilayah barat, kekuasaan Bizantium atas sebagian besar Kekaisaran Barat tidaklah mengikat; penaklukan kembali periferi Mediterania dan Semenanjung Italia (Perang Gothik) pada masa pemerintahan Yustinianus (r. 527–565) merupakan pengecualian tunggal dan sementara.

Abad Pertengahan Awal

Struktur politik Eropa Barat berubah setelah bubarnya Kekaisaran Romawi. Meskipun gerakan suku bangsa pada masa ini biasanya disebut sebagai "invasi", peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah ekspedisi militer namun migrasi seluruh suku bangsa dalam kekaisaran tersebut. Gerakan semacam ini dibantu oleh penolakan kalangan elit Romawi Barat untuk mendukung ketentaraan atau membayar pajak yang akan membolehkan militer untuk menekan migrasi. Para kaisar abad ke-5 seringkali dikontrol oleh pihak militer seperti Stilicho (w. 408), Aetius (w. 454), Aspar (w. 471), Ricimer (w. 472), atau Gundobad (w. 516), yang sebagian atau secara menyeluruh berlatar belakang non-Romawi. Meskipun garis kaisar Barat terhenti, beberapa raja yang menggantikan mereka berasal dari latar belakang yang sama. Pernikahan campur antara raja baru dan elit Romawi menjadi umum. Ini berujung pada perpaduan budaya Romawi dengan adat istiadat suku-suku yang menginvasi, termasuk majelis-majelis populer yang mengijinkan para anggota suku laki-laki lebih bebas untuk berkata dalam materi-materi politik ketimbang rakyat biasa di negara Romawi. Artefak-artefak material yang ditinggalkan oleh bangsa Romawi dan para penginvasi seringkali serupa, dan barang-barang persukuan seringkali berdasarkan pada barang-barang Romawi. Kebanyakan budaya tertulis dan terpelajar dari kerajaan-kerajaan baru juga berdasarkan pada tradisi-tradisi intelektual Romawi. Sebuah perbedaan menonjol adalah hilangnya pendapatan pajak secara bertahap oleh kerajaan-kerajaan baru. Beberapa entitas politik baru tak lama mendukung tentara mereka melalui pajak, disamping memberikan mereka tanah atau sewaan. Hal ini menandakan terdapat kurangnya kebutuhan untuk pendapatan pajak besar dan sehingga sistem pajak terbengkalai. Perang menjadi hal umum di antara dan di dalam kerajaan-kerajaan. Perbudakan (Slavery) menurun karena suplai meningkat, dan masyarakat menjadi lebih pedesaan. 

Antara abad ke-5 dan ke-8, bangsa-bangsa dan orang-orang baru mengisi wadah politik yang ditinggal oleh pemerintahan tersentralisasi Romawi. Ostrogoth, sebuah suku Gothik, bermukim di Italia Romawi pada akhir abad kelima di bawah Teodorik Agung (w. 526) dan menghimpun sebuah kerajaan yang ditandai oleh kerjasamanya antara bangsa Italia dan Ostrogoth, setidaknya sampai tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Teodorik. Bangsa Burgundi bermukim di Gaul, dan setelah itu, sebuah kerajaan yang sebelumnya dihancurkan oleh bangsa Hun pada tahun 436 membentuk kerajaan baru apda 440an. Antara Jenewa dan Lyon pada masa sekarang, ini bertumbuh menjadi kerajaan Burgundy pada akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6. Di tempat lainnya di Gaul, bangsa Frank dan bangsa Briton Keltik menghimpun negara-negara kecil. Francia terpusat di utara Gaul, dan raja pertama yang banyak diketahui adalah Childeric I (w. 481). Makamnya ditemukan pada tahun 1653 dan dikenal karena barang-barang makamnya, yang meliputi persenjataan dan sejumlah besar emas. 

Di bawah kepemimpinan putra Childeric Clovis I (memerintah 509–511), pendiri dinasti Merovingian, kerajaan Frankish meluas dan berpindah ke agama Kristen. Bangsa Briton, yang berkaitan dengan orang-orang asli Britannia – sekarang Britania Raya – bermukim di apa yang menjadi Brittany. Monarki-monarki lainnya didirikan oleh Kerajaan Visigothik di Semenanjung Iberia, Suebi di barat laut Iberia, dan Kerajaan Vandal di Afrika Utara. Pada abad keenam, bangsa Lombard bermukim di Italia Utara, menggantikan kerajaan Ostrogothik dengan pengelompokan kadipaten-kadipaten yang secara khusus memilih seorang raja untuk memerintah mereka semua. Pada akhir abad keenam, aransemen ini digantikan oleh monarki permanen, Kerajaan Lombard. 

Invasi-invasi tersebut menimbulkan kelompok-kelompok etnis baru di Eropa, meskipun beberapa wilayah meraih pengaruh yang lebih besar dari bangsa-bangsa baru ketimbang wilayah lainnya. Di Gaul contohnya, pasukan invasi bermukim lebih ekstensif di timur laut ketimbang barat daya. Bangsa Slav bermukim di Eropa Tengah dan Timur dan Semenanjung Balkan. Pemukiman suku bangsa tersebut disertai oleh perubahan dalam bahasa-bahasa. Latin dari Kekaisaran Romawi Barat secara bertahap digantikan oleh bahasa-bahasa yang berdasarkan pada, namun berbeda dari, Latin, yang secara kolektif dikenal sebagai rumpun bahasa Romansa. Perubahan dari Latin ke bahasa-bahasa baru tersebut terjadi selama beberapa abad. Bahasa Yunani masih menjadi bahasa Kekaisaran Bizantium, namun migrasi bangsa Slav menambahkan rumpun bahasa Slavik ke Eropa Timur. 

Pertahanan Bizantium

Antara abad ke-5 dan ke-8, bangsa-bangsa dan orang-orang baru mengisi wadah politik yang ditinggal oleh pemerintahan tersentralisasi Romawi. Ostrogoth, sebuah suku Gothik, bermukim di Italia Romawi pada akhir abad kelima di bawah Teodorik Agung (w. 526) dan menghimpun sebuah kerajaan yang ditandai oleh kerjasamanya antara bangsa Italia dan Ostrogoth, setidaknya sampai tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Teodorik. Bangsa Burgundi bermukim di Gaul, dan setelah itu, sebuah kerajaan yang sebelumnya dihancurkan oleh bangsa Hun pada tahun 436 membentuk kerajaan baru apda 440an. Antara Jenewa dan Lyon pada masa sekarang, ini bertumbuh menjadi kerajaan Burgundy pada akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6. Di tempat lainnya di Gaul, bangsa Frank dan bangsa Briton Keltik menghimpun negara-negara kecil. Francia terpusat di utara Gaul, dan raja pertama yang banyak diketahui adalah Childeric I (w. 481). Makamnya ditemukan pada tahun 1653 dan dikenal karena barang-barang makamnya, yang meliputi persenjataan dan sejumlah besar emas. 

Di bawah kepemimpinan putra Childeric Clovis I (memerintah 509–511), pendiri dinasti Merovingian, kerajaan Frankish meluas dan berpindah ke agama Kristen. Bangsa Briton, yang berkaitan dengan orang-orang asli Britannia – sekarang Britania Raya – bermukim di apa yang menjadi Brittany. Monarki-monarki lainnya didirikan oleh Kerajaan Visigothik di Semenanjung Iberia, Suebi di barat laut Iberia, dan Kerajaan Vandal di Afrika Utara. Pada abad keenam, bangsa Lombard bermukim di Italia Utara, menggantikan kerajaan Ostrogothik dengan pengelompokan kadipaten-kadipaten yang secara khusus memilih seorang raja untuk memerintah mereka semua. Pada akhir abad keenam, aransemen ini digantikan oleh monarki permanen, Kerajaan Lombard. 

Invasi-invasi tersebut menimbulkan kelompok-kelompok etnis baru di Eropa, meskipun beberapa wilayah meraih pengaruh yang lebih besar dari bangsa-bangsa baru ketimbang wilayah lainnya. Di Gaul contohnya, pasukan invasi bermukim lebih ekstensif di timur laut ketimbang barat daya. Bangsa Slav bermukim di Eropa Tengah dan Timur dan Semenanjung Balkan. Pemukiman suku bangsa tersebut disertai oleh perubahan dalam bahasa-bahasa. Latin dari Kekaisaran Romawi Barat secara bertahap digantikan oleh bahasa-bahasa yang berdasarkan pada, namun berbeda dari, Latin, yang secara kolektif dikenal sebagai rumpun bahasa Romansa. Perubahan dari Latin ke bahasa-bahasa baru tersebut terjadi selama beberapa abad. Bahasa Yunani masih menjadi bahasa Kekaisaran Bizantium, namun migrasi bangsa Slav menambahkan rumpun bahasa Slavik ke Eropa Timur. 

Pertahanan Bizantium

Di Eropa Barat, beberapa keluarga elit Romawi lama meninggal sementara yang lainnya makin terlibat dalam urusan gerejawi ketimbang urusan sekuler. Nilai-nilai yang dimajukan pada pendidikan dan pembelajaran Latin kebanyakan hilang, dan meskipun kesusastraan masih berpengaruh, ini menjadi keterampilan praktikal ketimbang tanda status elit. Pada abad ke-4, Hieronimus (w. 420) memimpi bahwa Allah membujuknya untuk menjalani lebih banyak waktu membaca Cicero ketimbang Alkitab. Pada abad ke-6, Gregorius dari Tours (d. 594) memiliki mimpi serupa, namun sebagai ganti diminta untuk membaca Cicero, ia diminta untuk memahami stenografi. Pada akhir abad ke-6, alat-alat utama dari pengarahan keagamaan di Gereja telah menjadi musik dan seni ketimbang kitab. Kebanyakan upaya intelektual ingin mengimitasi pembelajaran klasik, namun beberapa karya-karya asli dibuat, bersama dengan komposisi-komposisi lisan yang sekarang hilang. Tulisan-tulisan Sidonius Apollinaris (w. 489), Cassiodorus (w. s. 585), dan Boethius (w. s. 525) adalah orang khas pada zaman tersebut. 

Perubahan juga terjadi di kaum awam, saat budaya aristokratik berfokus pada perayaan-perayaan besar yang diadakan di balai-balai ketimbang pada hal-hal kesusastraan. Busaya bagi kaum elit diperkaya dengan perhiasan dan emas. Para tuan tanah dan raja mendukung pendorongan para pejuang yang membentuk tulang punggung pasukan militer. Hubungan keluarga dalam kalangan elit menjadi penting, karena merupakan nilai-nilai kesetiaan, keberanian, dan kehormatan. Hubungan tersebut berujung pada penghindaran permusuhan dalam masyarakat arsitokratik, contoh-contoh yang meliputi adalah orang-orang yang berkaitan dengan Gregorius dari Tours yang bertempat di Merovingian Gaul. Kebanyakan permusuhan berakhir cepat dengan pembayaran sejumlah kompensasi. Kaum wanita mengambil bagian dalam masyarakat aristokratik terutama dalam peran-peran mereka sebagai istri dan ibu dari pria, dengan peran dari ibu seorang penguasa yang secara khusus berpengaruh di Merovingian Gaul. Dalam masyarakat Anglo-Saxon, kurangnya beberapa penguasa cilik menandakan sedikit peran dari wanita sebagai ibu suri, namun ini dikompensasi dengan peningkatan peran yang dimainkan oleh para abbas dari monasteri-monasteri. Hanya di Italia yang tampak bahwa wanita selalu dianggap berada di bawah perlindungan dan kontrol kerabat laki-laki. 

Masyarakat petani kurang terdokumentasi ketimbang bangsawan. Kebanyakan informasi tersedia yang masih ada dari para sejarawan datang dari arkeologi; beberapa catatan tertulis mendetil yang mendokumentasikan kehidupan petani masih dari sebelum abad ke-9. Kebanyakan deskripsi dari kelas bawah datang dari kitab hukum atau penulis dari kelas atas. Susunan kepemilikan lahan di Barat tidaklah seragam; beberapa wilayah memiliki susunan kepemilikan tanah yang sangat terfragmentasi, namun di wilayah lain, blok-blok lahan besar berkelanjutan adalah hal biasa. Perbedaan tersebut membolehkan ragam besar dari masyarakat petani, beberapa didominasi oleh para tuan tanah aristokratik dan yang lainnya memiliki kesepakatan otonomi besar. Pemukiman lahan juga sangat beragam. Beberapa petani tinggal di pemukiman besar yang berjumlah sekitar 700 penduduk. Yang lainnya tinggal dalam kelompok kecil dari beberapa keluarga dan yang lainnya tinggal di perkebunan terisolasi yang tersebar di wilayah pinggiran. Terdapat juga wilayah dimana susunannya adalah campuran dari kedua sistem tersebut atau lebih. Tak seperti periode Romawi akhir, tak ada perpecahan antara status hukum petani bebas dan aristokrat, dan ini memungkinkan keluarga petani bebas untuk ditingkatkan menjadi aristokrasi pada beberapa generasi melalui penugasan militer kepada tuan tanah berkuasa. 

Kehidupan dan budaya kota Romawi sangat berubah pada awal Abad Pertengahan. Meskipun kota-kota Italia masih ditempati, mereka dikontrak secara signifikan dalam ukuran. Contohnya, populasi Romawi turun dari ratusan ribu menjadi sekitar 30,000 pada akhir abad ke-6. Kuil-kuil Romawi diubah menjadi gereja-gereja Kristen dan tembok-tembok kota masih dipakai. Di Eropa Utara, kota-kota juga menurun, sementara monumen-monumen sipil dan gedung-gedung umum lainnya diserbu untuk diambil material-material bangunannya. Pendirian kerajaan-kerajaan baru seringkali menunjukkan beberapa pertumbuhan untuk kota-kota yang dipilih sebagai ibukota. Meskipun terdapat komunitas Yahudi di beberapa kota Romawi, Yahudi mengalami masa-masa penindasan setelah kekaisaran tersebut beralih ke agama Kristen. Secara resmi mereka ditoleransi, jika mereka bersedia berpindah agama, dan berkali-kali didorong untuk bermukim di wilayah-wilayah baru. 

Kemunculan Islam

Kepercayaan agama di Kekaisaran Timur dan Iran meningkat pada akhir abad keenam dan awal abad ketujuh. Yudaisme menjadi kepercayaan yang aktif melakukan pengabaran, dan setidaknya satu pemimpin politik Arab berpindah ke agama tersebut. Agama Kristen memiliki misi-misi aktif yang bersaing dengan Zoroastrianisme Persia dalam mencari pengikut, khususnya para pemukim Jazirah Arab. Semuanya berdiri bersamaan dengan kemunculan Islam di Arabia pada masa hidup Muhammad (w. 632). Setelah ia wafat, pasukan Islam merebut sebagian besar Kekaisaran Timur dan Persia, dimulai dengan Suriah pada 634–635 dan mencapai Mesir pada 640–641, Persia antara 637 dan 642, Afrika Utara pada akhir abad ketujuh, dan Semenanjung Iberia pada tahun 711. Pada 714, pasukan Islam menguasai sebagian besar semenanjung tersebut di sebuah kawasan yang mereka sebut Al-Andalus. 

Penaklukan-penaklukan Islam mencapai puncaknya pada pertengahan abad kedelapan. Kekalahan pasukan Muslim di Pertempuran Tours pada tahun 732 berujung pada perebutan kembali selatan Perancis oleh bangsa Frank, namun alasan utama terhambatnya pertumbuhan Islam di Eropa adalah keruntuhan Kekhalifahan Umayyah dan penggantiannya oleh Kekhalifahan Abbasiyah. Abbasiyah memindahkan ibukotanya ke Baghdad dan lebih menyoroti Timur Tengah ketimbang Eropa, kehilangan kekuasaan dari wilayah-wilayah dari tanah Muslim. Para keturunan Umayyah mengambil alih Semenanjung Iberia, Aghlabiyah menguasai Afrika Utara, dan Tuluniyah menjadi penguasa Mesir. Pada pertengahan abad ke-8, susunan dagang baru muncul di Laut Tengah; perdagangan antara bangsa Frank dan Arab menggantikan ekonomi Romawi lama. Bangsa Frank memperdagangkan kayu, bulu, pedang dan budak untuk ditukar dengan sutra dan kain lainnya, rempah-rempah, dan metal berharga dari bangsa Arab. 

Perdagangan dan ekonomi

Migrasi dan invasi pada abad ke-4 dan ke-5 mengganggu jaringan perdagangan di sekitaran Laut Tengah. Barang-barang Afrika berhenti diimpor ke Eropa, mula-mula hilang dari wilayah dalam dan pada abad ke-7 hanya ditemukan di beberapa kota seperti Roma atau Napoli. Pada akhir abad ke-7, di bawah dampak penaklukan Muslim, produk-produk Afrika tidak lagi ditemukan di Eropa Barat. Penggantian barang dari perdagangan dari tempat jauh dengan produk-produk lokal menjadi tren di seluruh wilayah Romawi lama yang terjadi pada Awal Abad Pertengahan. Ini secara khusus ditandai dengan lahan-lahan yang tak membentang di Laut Tengah, seperti utara Gaul dan Britania. Barang-barang non-lokal muncul dalam catatan arkeologi biasanya adalah barang-barang mewah. Di bagian utara Eropa, tak hanya jaringan dagang lokal, namun barang-barang yang bersifat sederhana, dengan tembikar kecil atau produk kompleks lainnya. Di sekitaran Laut Tengah, tembikar masih khas dan tampak diperdagangkan pada jaringan rangkaian menengah, tak sekadar diproduksi secara lokal. 

Berbagai negara Jermanik di barat semuanya memiliki koin-koin yang meniru bentuk-bentuk Romawi dan Bizantium yang ada. Emas masih dicetak sampai akhir abad ke-7, saat ini digantikan oleh koin-koin perak. Koin perak Frankish dasar adalah denarius atau denier, sementara versi Anglo-Saxon-nya disebut penny. Dari wilayah tersebut, denier atau penny menyebar ke seluruh Eropa sepanjang berabad-abad dari tahun 700 sampai tahun 1000. Koin-koin perunggu dan tembaga tak tersedia, meskipun emas masih ada di Eropa Selatan. Tak ada koin perak yang didenominasikan dalam unit-unit berganda yang dicetak. 

Gereja dan monastisisme

Agama Kristen menjadi sebab penyatuan besar antara Eropa Timur dan Barat sebelum penaklukan Arab, namun penaklukan Afrika Utara menghambat hubungan maritim antara wilayah tersebut. Gereja Bizantium makin berbeda dalam hal bahasa, praktik, dan liturgi dari Gereja Barat. Gereja Timur memakai bahasa Yunani menggantikan bahasa Latin Barat. Perbedaan teologi dan politik timbul, dan pada awal dan pertengahan abad ke-8, kemunculan seperti ikonoklasme, pernikahan rohaniwan, dan kontrol negara atas Gereja telah menimbulkan perbedaan budaya dan agama melebihi kesamaan. Perpecahan formal, yang dikenal sebagai Skisma Barat-Timur, terjadi pada tahun 1054, saat kepausan dan patriarkhi Konstantinopel terpecah atas supremasi kepausan dan saling mengekskomunikasi satu sama lain, yang berujung pada pembagian Kristen menjadi dua Gereja—cabang Barat yang menjadi Gereja Katolik Roma dan cabang Timur yang menjadi Gereja Ortodoks Timur. 

Struktur gerejawi Kekaisaran Romawi mengelamatkan wilayah barat dari pergerakan dan invasi, meskipun kepausan berpengaruh kecil, dan beberapa uskup Barat menyanjung uskup Roma untuk kepemimpinan agama atau politik. Beberapa paus sebelum tahun 750 lebih menyoroti urusan Bizantium dan kontroversi-kontroversi teologi Timur. Pendaftaran, atau salinan-salinan arsip dari surat-surat Paus Gregorius Agung (menjabat 590–604) masih ada, dan berjumlah lebih dari 850 surat, kebanyakan berisi soal urusan di Italia atau Konstantinopel. Satu-satunya bagian dari Eropa Barat dimana kepausan memiliki pengaruh adalah Britania, dimana Gregorius telah mengirim misi Gregorian pada tahun 597 untuk memindahkan bangsa Anglo-Saxon ke agama Kristen. Para misionaris Irlandia banyak aktif di Eropa Barat antara abad ke-5 dan ke-7, mula-mula ke Inggris dan Skotlandia kemudian ke daratan utama benua. Di bawah pengarahan para biarawan seperti Kolumba (w. 597) dan Kolumbanus (w. 615), mereka mendirikan monasteri-monasteri, mengajar dalam bahasa Latin dan Yunani, dan mengarang karya-karya sekuler dan relijius. 

Abad Pertengahan Awal diisi dengan kebangkitan monastisisme di wilayah Barat. Bentuk monastisisme Eropa bergantung pada tradisi dan gagasan yang bermula dari Bapa-Bapa Gurun di Mesir dan Suriah. Kebanyakan monasteri Eropa merupakan jenis yang berfokus pada pengalaman komunitas dari kehidupan spiritual, yang disebut senobitisme, yang dipionirkan oleh Pakhomius (w. 348) pada abad ke-4. Gagasan monastik menyebar dari Mesir ke Eropa Barat pada abad ke-5 dan ke-6 melalui sastra hagiografi seperti Kehidupan Antonius. Benediktus dari Nursia (w. 547) menulis Aturan Benediktus untuk monastisisme Barat pada abad ke-6, menjelaskan tanggung jawab administratif dan spiritual dari sebuah komunitas biarawan yang dipimpin oleh seorang abbas. Para biarawan dan monasteri-monasteri memiliki dampak mendalam pada kehidupan agama dan politik Abad Pertengahan Awal, dalam berbagai kasus bertindak sebagai pemercayaan lahan bagi para keluarga berkuasa, pusat-pusat propaganda dan dukungan kerajaan di wilayah yang baru direbut, dan basis-basis untuk misi dan proselitisasi. Mereka adalah hal utama dan terkadang satu-satunya tempat pencarian pendidikan dan kesusastraan di sebuah wilayah. Beberapa manuskrip klasik Latin yang masih ada disalin di monasteri-monsteri pada Abad Pertengahan Awal. Para biarawan juga merupakan pengarang karya-karya baru, yang meliputi sejarah, teologi, dan subyek lainnya, yang ditulis oleh para pengarang seperti Bede (w. 735), orang asal Inggris utara yang menulis pada akhir abad ke-7 dan awal abad ke-8. 

Eropa Karoling

Kerajaan Frankish di utara Gaul terpecah menjadi kerajaan-kerajaan bernama Austrasia, Neustria, dan Burgundi pada abad ke-6 dan ke-7, semuanya diperintah oleh dinasti Merovingian, yang merupakan keturunan dari Clovis. Abad ke-7 adalah periode puncak dari peperangan antara Austrasia dan Neustria. Perang semacam itu dieksploitasi oleh Pippin (w. 640), Mayor Istana untuk Austrasia yang menjadi kekuatan di balik takhta Austrasia. Para anggota berikutnya dari keluarganya mewarisi jabatan tersebut, bertindak sebagai penasehat dan wali raja. Salah satu keturunannya, Charles Martel (w. 741), memenangkan Pertempuran Poitiers pada 732, menghambat laju tentara Muslim di sepanjang Pirene. Britania Raya terbagi menjadi negara-negara kecil yang didominasi oleh kerajaan-kerajaan Northumbria, Mercia, Wessex, dan Anglia Timur, yang merupakan keturunan dari penginvasi Anglo-Saxon. Kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di Wales dan Skotlandia pada masa sekarang masih berada di bawah kekuasaan orang Briton asli dan Pict. Irlandia terbagi menjadi unit-unit politik yang lebih kecil, biasanya dikenal sebagai kerajaan-kerajaan persukuan, di bawah kekuasaan para raja. Terdapat mungkin sekitar 150 raja lokal di Irlandia, dengan beragam pengaruh. 

Dinasti Karoling, sesuai dengan yang diketahui para penerus Charles Martel, secara resmi mengambil kekuasaan kerajaan-kerajaan Austrasia dan Neustria dalam sebuah kudeta tahun 753 pimpinan Pippin III (memerintah 752–768). Sebuah kronik kontemporer mengklaim bahwa Pippin dapat meraih otoritas dari kudeta tersebut dariu Paus Stefanus II (menjabat 752–757). Pengambilalihan Pippin disertai dengan propaganda yang menyatakan dinasti Merovingian sebagai para penguasa penghisap atau kejam, lebih rendah dari Charles Martel, dan cerita-cerita yang beredar dari kekejian besar dari keluarga tersebut. Pada masa kematiannya pada 768, Pippin meninggalkan kerajaan tersebut di tangan dua putranya, Charles (memerintah 768–814) dan Carloman (memerintah 768–771). Saat Carloman meninggal karena sebab alami, Charles memblok penerus putra muda Carloman dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja Austrasia dan Neustria. Charles, yang sering dikenal sebagai Charles Agung atau Charlemagne, memajukan program ekspansi sistematis pada 774 yang menyatikan sebagian besar Eropa, kemudian menguasai Perancis, utara Italia, dan Saxony. Dalam perang yang berlangsung pada tahun 800, ia menganugerahi para sekutu dengan but perang dan komando atas parsel-parsel lahan. Pada 774, Charlemagne menaklukkan Lombard, yang membebaskan kepausan dari kekhawatiran penaklukan Lombard dan menandai permulaan Negara-Negara Kepausan. 

Koronasi Charlemagne sebagai kaisar pada Hari Natal tahun 800 dianggap sebagai titik balik dalam sejarah abad pertengahan, menandai kembalinya Kekaisaran Romawi Barat, sejak kaisar baru tersebut memerintah atas sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh para kaisar Barat. Ini juga menandai perubahan dalam hubungan Charlemagne dengan Kekaisaran Bizantium, saat pengangkatan gelar kekaisaran oleh dinasti Karoling dinyatakan setara dengan negara Bizantium. Terdapat beberapa perbedaan antara Kekaisaran Karoling yang baru berdiri dan Kekaisaran Romawi lama dan Kekaisaran Bizantium saat itu. Wilayah Frankish berkarakteristik pedesaan, dengan hanya beberapa kota kecil. Kebanyakan orang adalah petani yang bermukim di kebun-kebun kecil. Perdagangan kecil terjadi dan kebanyakan terjadi di Kepulauan Britania dan Skandinavia, berkebalikan dengan Kekaisaran Romawi lama dengan jaringan dagangnya terpusat di Laut Tengah. Kekaisaran tersebut diperintah oleh pemerintahan itineran yang dinaungi kaisar, serta sekitar 300 pejabat kekaisaran yang disebut count (bupati), yang memerintah county-county (kabupaten-kabupaten) yang terbagi dari kekaisaran tersebut. Rohaniwan dan uskup lokal menjabat sebagai pejabat, serta pejabat kekaisaran disebut missi dominici, yang menjabat sebagai inspektur dan penyelesai ketegangan. 

Renaisans Karoling

Pemerintahan Charlemagne di Aachen menjadi pusat kebangkitan kebudayaan yang terkadang disebut sebagai "Renaisans Karoling". Melek huruf meningkat, karena perkembangan dalam seni rupa arsitektur dan yurisprudensi, serta kajian-kajian sastra dan skriptura. Biarawan Inggris Alcuin (w. 804) diundang ke Aachen dan membawa pendidikan yang tersedia di monasteri-monasteri Northumbria. Kanseri Charlemagne—atau juru tulis memakai aksara baru yang sekarang dikenal sebagai minuskul Karoling, membolehkan sebuah gaya tulis umum yang memajukan komunitas di sepanjang sebagian besar Eropa. Charlemagne mensponsori perubahan dalam liturgi gereja, menghimpun bentuk layanan gereja Romawi pada domain-domainnya, serta pujian Gregorian dalam musik liturgi untuk gereja-gereja. Sebuah kegiatan penting untuk para cendekiawan pada masa ini adalah penyalinan, pengkoreksian, dan peninjauan karya-karya dasar tentang topik agama dan sekuler, dengan tujuan mendorong pembelajaran. Karya-karya baru tentang topik agama dan buku-buku pelajaran juga dibuat. Tata bahasa dari periode tersebut memodifikasi bahasa Latin, mengubahnya dari Latin Klasik dari Kekaisaran Romawi menjadi bentuk yang lebih fleksibel untuk menyelaraskan kebutuhan Gereja dan pemerintah. Pada masa pemerintahan Charlemagne, bahasa telah diragamkan dari bentuk klasiknya menjadi yang kemudian disebut Bahasa Latin Abad Pertengahan. 

Perpecahan Kekaisaran Karoling

Charlemagne berencana melanjutkan tradisi Frankish dengan membagi kerajaannya di antara seluruh pewarisnya, namun tak dapat dilakukan karena putra tunggalnya, Louis si Pius (memerintah 814–840), masih hidup pada 813. Sebelum Charlemagne wafat pada 814, ia memahkotai Louis sebagai penerusnya. Masa pemerintahan Louis selama 26 tahun ditandai dengan sejumlah perpecahan kekaisaran di antara putra-putranya dan, setelah 829, peperangan saudara antar berbagai aliansi dari ayah dan putra atas kontrol berbagai bagian dari kekaisaran tersebut. Kemudian, Louis mengakui putra sulungnya Lothair I (w. 855) sebagai kaisar dan memberikannya Italia. Louis membagi sisa kekaisaran tersebut antara Lothair dan Charles si Botak (w. 877), putra bungsunya. Lothair memegang Francia Timur, yang meliputi dua tepi Rhine dan wilayah timur, menyisakan Charles dengan Francia Barat dengan bagian barat Rhineland dan Pegunungan Alpen. Louis orang Jerman (w. 876), anak tengah, yang memberontak pada Charles, diijinkan untuk memegang wilayah Bayern di bawah kedaulatan kakaknya. Pembagian tersebut diributkan. Pepin II dari Aquitaine (w. setelah 864), cucu kaisar, memberontak untuk merebut Aquitaine, sementara Louis orang Jerman berniat untuk menganeksasi seluruh Francia Timur. Louis si Pius wafat pada 840, dengan kekaisaran tersebut masih bertikai. 

Perang saudara tiga tahun menyusul kematiannya. Melalui Traktat Verdun (843), sebuah kerajaan antara sungai Rhine dan Rhone dibuat untuk Lothair dengan wilayahnya di Italia, dan gelar kekaisarannya diakui. Louis orang Jerman menguasai Bayern dan wilayah timur di Jerman saat ini. Charles si Botak meraih wilayah Frankish barat, yang terdiri dari sebagian besar Perancis saat ini. Para cucu dan cicit Charlemagne membagi kerajaan-kerajaan mereka antar para keturunannya, kemudian seluruh perebutan internal menyurut. Pada 987, dinasti Karoling digantikan di wilayah barat, dengan pemahkotaan Hugh Capet (m. 987–996) sebagai raja. Di wilayah timur, dinasti tersebut telah mati pada masa sebelumnya, pada 911, dengan kematian Louis si Anak,  dan pemilihan yang tak ada hubungannya dari Conrad I (memerintah 911–918) sebagai raja. 

Perpecahan Kekaisaran Karoling disertai dengan invasi, migrasi, dan penyerbuan oleh pihak luar. Pantai utara dan Atlantik diserang oleh bangsa Viking, yang juga menyerbu Kepulauan Britania dan bermukim disana serta di Islandia. Pada 911, pemimpin Viking Rollo (wafat sekitar tahun 931) mendapatkan ijin dari Raja Frankish Charles si Sederhana (memerintah 898–922) untuk bermukim di apa yang menjadi Normandy. Bagian timur kerajaan-kerajaan Frankish, khususnya Jerman dan Italia, berada di bawah serangan Magyar berkelanjutan sampai penginvasi kalah di Pertempuran Lechfeld pada 955. Perpecahan dinasti Abbasiyah menandakan bahwa dunia Islam terfragmentasi dalam negara-negara politik yang lebih kecil, beberapa mulai mengekspansi sampai Italia dan Sisilia, serta Pirene sampai bagian selatan dari kerajaan-kerajaan Frankish. 

Kerajaan-kerajaan baru dan kebangkitan Bizantium

Upaya-upaya oleh para raja lokal untuk melawan penginvasi berujung pada pembentuken entitas politik baru. Di Inggris Anglo-Saxon, Raja Alfred Agung (memerintah 871–899) mengadakan perjanjian dengan penginvasi Viking pada akhir abad ke-9, menghasilkan pemukiman Denmark di Northumbria, Mercia, dan sebagian Anglia Timur. Pada pertengahan abad ke-10, para penerus Alfred menaklukkan Northumbria, dan merestorasi kekuasaan Inggris atas sebagian besar bagian selatan Britania Raya. Di utara Britania, Kenneth MacAlpin (wafat sekitar tahun 860) menyatukan suku Scot dan Pict ke dalam Kerajaan Alba. Pada awal abad ke-10, dinasti Ottonia mendirikan dirinya sendiri di Jerman, dan membuat bangsa Maygar terpinggirkan. Upaya-upayanya berujung dalam koronasi pada tahun 962 dari Otto I (memerintah 936–973) sebagai Kaisar Romawi Suci. Pada 972, ia meraih pengakuan gelarnya oleh Kekaisaran Bizantium, yang ia segel dengan pernikahan putranya Otto II (memerintah 967–983) dengan Theophanu (w. 991), putri Kaisar Bizantium sebelumnya Romanos II (memerintah 959–963). Pada akhir abad ke-10, Italia telah ditarik ke lingkup Ottonia setelah periode instabilitas; Otto III (memerintah 996–1002) menjalani sebagian besar masa pemerintahannya kemudian di kerajaan tersebut. Kerajaan Frankish barat makin terfragmentasi, dan meskipun para raja masih secara nominal berganti, kebanyakan kekuasaan politik dipegang para tuan tanah lokal. 

Upaya misionaris di Skandinavia pada abad ke-9 dan ke-10 membantu memperkuat kekuatan kerajaan-kerajaan seperti Swedia, Denmark, dan Norwegia, yang meraih kekuasaan dan teritorial. Beberapa raja berpindah ke agama Kristen, meskipun tak semuanya pada tahun 1000. Bangsa Skandinavia juga melakukan ekspansi dan mengkolonisasi seluruh Eropa. Disamping pemukiman di Irlandia, Inggris dan Normandy, pemukiman lebih lanjut terjadi di apa yang menjadi Rusia dan di Islandia. Para pedagang dan penyerbu Swedia membanjiri sungai-sungai stepa Rusia, dan bahkan berniat untuk merebut Konstantinopel pada tahun 860 dan 907. Kristen Spanyol, awalnya meliputi bagian kecil dari semenanjung tersebut di bagian utara, perlahan melebar ke selatan pada abad ke-9 dan ke-10, mendirikan kerajaan-kerajaan Asturias dan León. 

Di Eropa Timur, Bizantium membangkitkan kekayaannya di bawah Kaisar Basil I (r. 867–886) dan para penerusnya Leo VI (memerintah 886–912) dan Konstantinus VII (memerintah 913–959), para anggota dinasti Makedonia. Perdagangan bangkit dan para kaisar mengadakan perluasan pemerintahan seragam untuk seluruh provinsi. Militer direorganisasi, yang membolehkan para kaisar Yohanes I (memerintah 969–976) dan Basil II (memerintah 976–1025) untuk meluaskan garis-garis depan kekaisaran di seluruh front. Pemerintahan istana adalah pusat kebangkitan pembelajaran klasik, sebuah proses yang dikenal sebagai Renaisans Makedonia. Para penulis seperti John Geometres (dikenal pada awal abad ke-10) mengkomposisikan, himne-himne, syair-syair, dan karya-karya baru lainnya. Upaya misionaris dari rohaniwan Timur dan Barat menghasilkan perpindahan agama dari orang Moravia, orang Bulgaria, orang Bohemia, orang Polandia, orang Magyar, dan orang Slavik dari Rus' Kiev. Perpindahan agama tersebut berkontribusi terhadap pendirian negara-negara politik di wilayah suku bangsa tersebut negara-negara Moravia, Bulgaria, Bohemia, Polandia, Hongaria, dan Rus' Kiev. Bulgaria, yang berdiri sekitar tahun 680, pada puncaknya membentang dari Budapest sampai Laut Hitam dan dari Sungai Dnieper di Ukraina modern sampai Laut Adriatik. Pada tahun 1018, para bangsawan Bulgaria terakhir menyerah kepada Kekaisaran Bizantium. 

Seni rupa dan arsitektur

Beberapa bangunan batu besar dibangun antara basilika-basilika Konstantinian dari abad ke-4 dan abad ke-8, meskipun beberapa bangunan yang lebih kecil dibangun pada abad kr-6 dan ke-7. Pada permulaan abad ke-8, Kekaisaran Karoling membangkitkan bentuk aristektur basilika. Salah satu fitur basilika adalah pemakaian transept, atau "lengan-lengan" dari bangunan berbentuk palang yang berbentuk perpendikular pada nave panjang. Fitur baru lainnya dari arsitektur keagamaan meliputi menara menyilang dan sebuah bagian depan monumental pada gereja, biasanya di ujung barat bangunan tersebut. 

Seni rupa Karoling diproduksi untuk sekelompok kecil figur di sekitaran pemerintahan, dan biara-biara dan gereja-gereja yang mereka dukung. Ini didominasi oleh upaya untuk meraih kembali dignitas dan klasisisme seni rupa Bizantium dan Kekaisaran Romawi, selain juga dipengaruhi oleh seni rupa insuler dari Kepulauan Britania. Seni rupa insuler mengintegrasikan energi gaya-gaya ornamen Keltik Irlandia dan Jermanik Anglo-Saxon dengan bentuk-bentuk Laut Tengah seperti buku, dan menghimpun beberapa karakteristik seni rupa sepanjang abad pertengahan. Karya-karya keagamaan yang masih ada dari Abad Pertengahan Awal kebanyakan adalah manuskrip-manuskrip teriluminasi dan gading-gading ukir, yang awalnya dibuat untuk pengerjaan metal yang sejak itu telah dapat dicairkan. Obyek-obyek dalam metal-metal presius adalah bentuk paling prestisius dari seni rupa, namun hampir seluruhnya hilang kecuali untuk beberapa salib seperti Salib Lothair, beberapa relikui, dan temuan-temuan seperti pemakaman Anglo-Saxon di Sutton Hoo dan hoard-hoard pada Gourdon dari Perancis Merovingian, Guarrazar dari Spanyol Visigothik dan Nagyszentmiklós di dekat kawasan Bizantium. Terdapat peninggalan bros-bros besar dalam bentuk fibula atau penannular yang menjadi potongan penting dari kepemilikan pribadi dari kaum elit, terutama Bros Tara dari Irlandia. Kitab-kitab berdekorasi tinggi kebanyakan adalah Kitab-Kitab Injil dan sejumlah besar diantaranya masih ada, termasuk Kitab Kells Insuler, Kitab Lindisfarne, dan Kodeks Aureus dari St. Emmeram, yang menjadi salah satu dari beberapa "ikatan harta karun" dari emas yang dihiasi dengan perhiasan. Pemerintahan Charlemagne tampaknya bertanggung jawab atas penerimaan pahatan monumental figuratif dalam seni rupa Kristen, dan pada akhir periode tersebut, figur yang hampir berukuran orang hidup seperti Salib Gero menjadi umum di gereja-gereja penting. 

Militer dan pengembangan teknologi

Pada Kekaisaran Romawi berikutnya, pengembangan militer utama adalah upaya untuk menciptakan pasukan kavaleri efektif serta pengembangan berkelanjutan dari jenis pasukan yang sangat dikhususkan. Pembentukan katafrak berzirah keras sebagai kavaleri adalah fitur penting dari militer Romawi abad ke-5. Berbagai suku penginvasi memiliki jenis berbeda pada jenis prajurit dari penginvasi Anglo-Saxon Britania yang utamanya infanteri sampai bangsa Vandal dan Visigoth, yang memiliki sejumlah besar kavaleri dalam ketentaraan mereka. Pada awal periode invasi, stirrup tak diperkenalkan dalam perang, yang membatasi pemakaian kavaleri sebagai pasukan kejut karena ini tak memungkinkan untuk menempatkan pasukan kuda penuh dan penunggang selain ledakan yang disulut oleh penunggang tersebut. Perubahan terbesar dalam urusan militer pada periode invasi adalah adopsi busur komposit Hunnik menggantikan busur komposit Skitia. Pengembangan lainnya adalah peningkatan pemakaian pedang laras panjang dan penggantian progresif dari zirah skala oleh zirah surat dan zirah lamela. 

Pengaruh infanteri dan kavaleri ringan mulai berkurang pada masa Karoling awal, dengan pertumbuhan dominasi kavaleri berat elit. Pemakaian levi-levi jenis militia dari populasi bebas menurun di sepanjang periode Karoling. Meskipun kebanyakan tentara Karoling adalah penunggang, sebagian besar pada masa awalnya tampak adalah infanteri penunggang, ketimbang kavaleri sebenarnya . Satu pengecualian adalah Inggris Anglo-Saxon, dimana tentara masih terdiri dari levi-levi regional, yang dikenal sebagai fyrd, yang dipimpin oleh kalangan elit lokal. Dalam teknologi militer, salah satu perubahan utama adalah pengembalian busur silang, yang dikenal pada zaman Romawi dan dikembalikan sebagai senjata militer pada bagian akhir Abad Pertengahan Awal. Perubahan lainnya adalah pengenalan stirrup, yang meningkatkan keefektifan kavaleri sebagai pasukan kejut. Kemajuan teknologi yang memiliki implikasi di luar militer adalah sepatu kuda, yang membolehkan kuda untuk dipakai di tanah berbatu. 

Abad Pertengahan Tinggi

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode ekspansi populasi yang menegangkan. Perkiraan populasi Eropa bertumbuh dari 35 sampai 80 juta antara tahun 1000 dan 1347, meskipun sebab-sebabnya masih belum jelas: pengaruh teknik pertanian, penurunan perbudakan, iklim lebih bersahabat dan kurangnya invasi semuanya telah disugestikan. Sekitar 90 persen populasi Eropa masih menjadi petani desa. Beberapa orang tak bermukim lama di kebun terisolasi namun berkumpul dalam komunitas kecil, biasanya dikenal sebagai manor atau desa. Kaum petani sering menjadi subyek dari tuan tanah bangsawan dan memberikan mereka sewaan dan jasa lainnya, dalam sistem yang dikenal sebagai manorialisme. Masih ada beberapa petani bebas di sepanjang masa ini dan seterusnya, dengan jumlah mereka di wilayah Eropa Selatan melebihi jumlah mereka di wilayah utara. Praktik mengirim lahan dalam produksi dengan menawarkan insektif kepada petani yang menempatinya, juga berkontribusi pada ekspansi populasi. 

Bagian masyarakat lainnya meliputi bangsawan, rohaniwan, dan pejabat kota. Bangsawan, baik bangsawan bergelar dan kesatria sederhana, mengeksploitasi manor dan petani, meskipun mereka tak memiliki hak lahan namun meraih hak untuk pendapatan dari sebuah manor atau lahan lainnya oleh seorang tuan tanah melalui sistem feodalisme. Pada abad ke-11 dan ke-12, lahan tersebut, atau fief, dianggap menjadi warisan, dan di kebanyakan wilayah, mereka tak lama terbagi antara seluruh pewaris seperti halnya kasus dalam periode abad pertengahan awal. Sebagai gantinya, kebanyakan fief dan lahan diserahkan kepada putra sulung. Dominasi bangsawan terhimpun atas kontrol lahannya, layanan militernya sebagai kavaleri berat, kontrol istana, dan berbagai imunitas dari perpajakan atau imposisi lainnya. Istana-istana, awalnya berkayu namun kemudian berbatu, mulai dibangun pada abad ke-9 dan ke-10 dalam menanggapi wabah pada masa itu, dan menyediakan perlindungan dari pasukan penginvasi serta membolehkan para tuan tanah bertahan dari para pesaing. Kontrol kastil membolehkan para bangsawan untuk berdekatan dengan raja atau tuan tanah lainnya. Kaum bangsawan terstratifikasi; para raja dan bangsawan berpangkat tertinggi mengkontrol sejumlah besar rakyat jelata dan sebidang lahan besar, serta bangsawan lainnya. Sebaliknya, bangsawan rendah memiliki otoritas atas wilayah lahan yang lebih kecil dan orang yang sedikit. Kesatria adalah bangsawan tingkat terendah; mereka mengkontrol namun tak memiliki lahan, dan melayani bangsawan lainnya. 
Rohaniwan terbagi dalam dua jenis: rohaniwan sekuler, yang hidup dalam keduniawian, dan rohaniwan reguler, yang hidup di bawah aturan keagamaan dan biasanya menjadi biarawan. Sepanjang periode tersebut, biarawan masih meliputi bagian yang sangat kecil dari populasi, biasanya kurang dari satu persen. Kebanyakan rohaniwan reguler menari diri dari kebangsawanan, kelas sosial yang sama dijadikan sebagai landasan perekrutan untuk kelas atas dari rohaniwan sekuler. Para imam paroki lokal seringkali ditarik dari kelas petani. Pejabat kota sempat menjadi posisi tak lazim, karena mereka tak masuk dalam tiga divisi masyarakat tradisional yakni bangsawan, rohaniwan dan petani. Pada abad ke-12 dan ke-13, pangkat pejabat kota diekspansi besar-besaran karena kota-kota yang berdiri bertumbuh dan pusat-pusat populasi baru didirikan. Meskipun demikian, sepanjang Abad Pertengahan populasi kota mungkin tak pernah mencapai 10 persen dari total populasi. 

Yahudi juga menyebar di Eropa pada masa tersebut. Komunitas didirikan di Jerman dan Inggris pada abad ke-11 dan ke-12, namun Yahudi Spanyol, yang lama menetap di Spanyol di bawah kekuasaan kaum Muslim, berada di bawah kekuasaan Kristen dan makin mengalami tekanan untuk berpindah ke agama Kristen. Kebanyakan Yahudi bermukim di kota-kota, karena mereka tak boleh memiliki lahan atau menjadi petani. Di samping Yahudi, terdapat beberapa non-Kristen lain di tepi Eropa pagan Slav di Eropa Timur dan Muslim di Eropa Selatan. 

Wanita pada Abad Pertengahan resmi diwajibkan menjadi pendamping dari beberapa laki-laki, entah ayah, suami atau kerabat mereka yang lain. Janda, yang seringkali diijinkan mengkontrol kehidupan mereka sendiri, masih dibatasi secara legal. Pekerjaan wanita umumnya terdiri dari rumah tangga atau tugas terinklinsit secara domestik lainnya. Wanita petani biasanya bertanggung jawab atas perawatan rumah tangga, pengasuhan anak, serta berkebun dan beternak hewan di dekat rumah. Mereka dapat memberi pemasukan rumah tangga dengan memintal atau membuat bir di rumah. Pada masa panen, mereka juga diminta untuk membantu pekerjaan ladang. Wanita kota, seperti halnya wanita desa, bertanggung jawab atas rumah tangga, dan juga melakukan perdagangan. Perdagangan yang terbuka untuk wanita beragam tergantung pada negara dan periodenya. Wanita bangsawan bertanggung jawab atas penjalanan rumah tangga, dan secara khusus dapat memegang lahan saat kerabat laki-laki sedang tidak ada, namun mereka biasanya dibatasi dari keikutsertaan dalam urusan militer dan pemerintahan. Satu-satunya peran yang terbuka untuk wanita di Gereja adalah menjadi biarawati, karena mereka tak boleh menjadi imam. 

Di Italia Tengah dan Utara, dan di Flanders, kebangkitan kota meningkatkan pemerintahan sendiri yang menunjang pertumbuhan dan menciptakan lingkungan bagi jenis-jenis asosiasi dagang baru. Kota-kota perdagangan di pantai Baltik masuk dalam perjanjian yang dikenal sebagai Liga Hanseatik, dan republik-republik maritim Italia seperti Venesia, Genoa, dan Pisa meluaskan perdagangan mereka di sepanjang Laut Tengah. Pameran dagang besar dihimpun dan merebak di utara Perancis pada masa itu, membolehkan para pedagang Italia dan Jerman untuk berdagang satu sama lain serta para pedagang lokal. Pada akhir abad ke-13, rute darat dan luar baru ke Timur Jauh dipionirkan, terutama yang dideskripsikan dalam Perjalanan Marco Polo yang ditulis oleh salah satu pedagang, Marco Polo (w. 1324). Disamping kesempatan dagang baru, pengaruh pertanian dan teknologi membolehkan peningkatan dalam ladang penanaman, yang membolehkan jaringan dagang untuk meluas. Peningkatan dagang mendatangkan metode-metode kesepakatan uang yang baru, dan pencetakan emas kembali dilakukan di Eropa, mula-mula di Italia dan kemudian di Perancis dan negara-negara lainnya. Bentuk kontrol komersial baru timbul, membolehkan pembagian di kalangan pedagang. Metode akunting dicanangkan, terutama melalui pemakaian penjilidan buku entri ganda; Surat-surat kredit juga timbul, membolehkan transmisi uang yang mudah. 

Kebangkitan kekuatan negara

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode formatif dalam sejarah negara Barat modern. Para raja di Perancis, Inggris, dan Spanyol mengkonsolidasikan kekuasaan mereka, dan menghimpun lembaga-lembaga pemerintahan. Kerajaan-kerajaan baru seperti Hongaria dan Polandia, setelah mereka berpindah ke agama Kristen, menjadi kekuatan-kekuatan Eropa Tengah. Bangsa Magyar mendiami Hongaria pada sekitar tahun 900 di bawah Raja Árpád (wafat sekitar tahun 907) setelah serangkiaian invasi pada abad ke-9. Kepausan, yang lama memegang ideologi merdeka dari raja-raja sekuler, mula-mula memegang klaimnya atas otoritas temporal pada seluruh dunia Kristen; Monarki Kepausan mencapai puncaknya pada awal abad ke-13 di bawah kepausan Innosensius III (menjabat 1198–1216). Perang Salib Utara dan pergerakan kerajaan-kerajaan Kristen dan tatanan militer k wilayah-wilayah yang sebelumnya pagan di Baltik dan timur laut Finlandia mengirim asimilasi paksa pada sejumlah suku bangsa asli ke dalam budaya Eropa. 

Pada awal Abad Pertengahan Tinggi, Jerman dikuasai oleh dinasti Ottonia, yang berjuang untuk menguasai para adipati berkuasa yang memerintah atas kadipaten-kadipaten yang telah berdiri sejak periode Migrasi. Pada 1024, mereka digantikan oleh dinasti Salia, yang dikenal karena bentrok dengan kepausan di bawah Kaisar Henry IV (memerintah 1084–1105) atas pelantikan Gereja sebagai bagian dari Kontroversi Penobatan. Para penerusnya melanjutkan perjuangan melawan kepausan serta bangsawan Jerman. Periode tak stabil menyusul kematian Kaisar Henry V (memerintah 1111–25), yang wafat tanpa pewaris, sampai Frederick I Barbarossa (memerintah 1155–90) memegang tahta kekaisaran. Meskipun ia secara efektif berkuasa, masalah-masalah dasar masih ada, dan para penerusnya meneruskan perjuangan pada abad ke-13. Cucu Barbarossa Frederick II (memerintah 1220–1250), yang juga menjadi pewaris tahta Sisilia melalui ibunya, berulang kali bentrok dengan kepausan. Pemerintahannya dikenal karena para cendekiawannya dan ia seringkali dituduh menjadi bidaah. Ia dan para penerusnya menghadapi beberapa kesulitan, termasuk invasi bangsa Mongol ke Eropa pada pertengahan abad ke-13. Bangsa Mongol mula-mula merebut kepangeranan-kepangeranan Rus Kiev dan kemudian menginvasi Eropa Timur pada 1241, 1259, dan 1287. 

Di bawah dinasti Capetian, monarki Perancis perlahan mulai meluaskan otoritasnya atas kebangsawanan, bertumbuh dari Île-de-France menjadi kontrol atas wilayah selain negara tersebut pada abad ke-11 dan ke-12. Mereka menghadapi persaingan kuat dengan para Adipati Normandy, yang pada 1066 berada di bawah William si Penakluk (menjabat 1035–1087), menguasai Inggris (memerintah 1066–87) dan membuat kekaisaran antar selat yang berlangsung sepanjang Abad Pertengahan, dalam berbagai bentuk. Bangsa Norman juga bermukim di Sisilia dan selatan Italia, saat Robert Guiscard (w. 1085) mendarat disana pada 1059 dan mendirikan sebuah kadipaten yang kemudian menjadi Kerajaan Sisilia. Di bawah dinasti Angevin dari Henry II (memerintah 1154–89) dan putranya Richard I (memerintah 1189–99), para raja Inggris memerintah atas Inggris dan sebagian besar Perancis, mengirim keluarga tersebut melalui pernikahan Henry II dengan Eleanor dari Aquitaine (wafat 1204), pewaris sebagian besar selatan Perancis. Adik Richard John (memerintah 1199–1216) kehilangan Normandy dan sisa wilayah Perancis utara pada 1204 dari Raja Perancis Philip II Augustus (memerintah 1180–1223). Ini berujung pada keretakan antar bangsawan Inggris, sementara pengeluaran finansial John untuk membayar upaya gagalnya untuk merebut kembali Normandy berujung pada Magna Carta tahun 1215, sebuah piagam yang mengkonfirmasikan hak-hak dan pemberian kebebasan di Inggris. Di bawah Henry III (memerintah 1216–72), putra John, pelonggaran makin diberikan kepada kaum bangsawan, dan kekuasaan kerajaan menurun. Monarki Perancis masih dapat melawan kaum bangsawan pada akhir abad ke-12 dan ke-13, membawakan teritorial lebih dalam kerajaan tersebut di bawah kekuasaan pribadi raja dan mensentralisasikan pemerintahan kerajaan. Di bawah Louis IX (memerintah 1226–70), prestise kerajaan bertumbuh pada puncak barunya saat Louis bertugas sebagai mediator untuk sebagian besar Eropa. 

Di Iberia, negara-negara Kristen, yang terbentang di bagian barat laut semenanjung tersebut, mulai menekan negara-negara Islam di selatan, sebuah periode yang dikenal sebagai Reconquista. Pada sekitar 1150, umat Kristen di wilayah utara terhimpun dalam lima kerajaan besar yakni León, Kastilia, Aragon, Navarre, and Portugal. Iberia Selatan masih berada di bawah kekuasaan negara-negara Islam, yang awalnya berada di bawah Kekhalifahan Córdoba, pecah pada tahun 1031 menjadi sejumlah negara yang dikenal sebagai taifa, yang bertarung dengan Kristen sampai Kekhalifahan Almohad mendirikan kembali pemerintahan tersentralisasi atas Iberia Selatan pada 1170an. Pasukan Kristen maju kembali pada awal abad ke-13, memuncak dalam penaklukan Sevilla pada tahun 1248. 

Perang Salib

Pada abad ke-11, Turki Seljuk merebut sebagian besar Timur Tengah, menduduki Persia pada 1040, Armenia pada 1060an, dan Yerusalem pada 1070. Pada 1071, tentara Turki mengalahkan tentara Bizantium di Pertempuran Manzikert dan menangkap Kaisar Bizantium Romanus IV (r. 1068–71). Bangsa Turk kemudian bebas untuk menginvasi Asia Kecil, yang menimbulkan ledakan berbahaya bagi Kekaisaran Bizantium dengan merebut sebagian besar populasinya dan jantung ekonominya. Meskipun Bizantium menyatukan kembali dan memulihkan beberapa wilayah, mereka tak pernah sepenuhnya mendapatkan kembali Asia Kecil dan seringkali bersifat defensif. Bangsa Turk juga memiliki kesulitan, kehilangan kekuasaan atas Yerusalem dari Kekhalifahan Fatimiyah dari Mesir dan mengalami serangkaian perang saudara internal. Pasukan Bizantium juga menghadapi kebangkitan dari Bulgaria, yang pada akhir abad ke-12 dan ke-13 menyebar di seluruh Balkan. 

Perang salib bertujuan untuk merebut Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Perang Salib Pertama diproklamasikan oleh Paus Urbanus II (menjabat 1088-99) di Konsili Clermont pada 1095 dalam menanggapi sebuah permintaan dari Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos (memerintah 1081–1118) untuk bantuan melawan laju Muslim lanjutan. Urbanus menjanjikan indulgensi untuk siapapun yang ikut serta. Sepuluh ribu orang dari seluruh tingkat masyarakat dikerahkan dari sepanjang Eropa dan merebut Yerusalem pada 1099. Salah satu fitur dari perang salib adalah pogrom melawan Yahudi lokal yang seringkali terjadi saat pasukan salibis meninggalkan negara-negara mereka ke wilayah Timur. Ini secara khusus menjadi brutal saat Perang Salib Pertama, saat komunitas Yahudi di Koln, Mainz, dan Worms dihancurkan, dan komunitas lainnya di kota-kota antar sungai Seine dan Rhine mengalami penghancuran. Pertumbuhan perang salib lainnya menjadi fondasi dari jenis baru tatanan monastik, ordo militer Templar dan Hospitaller, yang memadukan kehidupan monastik dengan penugasan militer. 

Pasukan salibis mengkonsolidasikan penaklukan mereka melalui negara-negara salibis. Pada abad ke-12 dan ke-13, terdapat serangkaian konflik antara negara-negara tersebut dan negara-negara Islam di sekitarnya. Banding dari negara-negara tersebut kepada kepausan berujung pada perang salib lanjutan, seperti Perang Salib Ketiga, yang menyerukan perebutan kembali Yerusalem, yang telah direbut oleh Saladin (w. 1193) pada 1187. Pada 1203, Perang Salib Keempat terbentang dari Tanah Suci sampai Konstantinopel, dan kota tersebut direbut pada 1204, menghimpun sebuah Kekaisaran Latin Konstantinopel dan sangat membangkitkan Kekaisaran Bizantium. Bizantium merebut lagi kota tersebut pada 1261, namun tak meraih meraih kembali kekuatan lama mereka. Pada 1291, seluruh negara salibis ditaklukkan atau disingkirkan dari dataran utama, meskipun Kerajaan Yerusalem tituler masih bertahan di pulau Siprus selama beberapa tahun setelahnya. 

Para Paus menyerukan agar perang-perang salib dilakukan di tempat lainnya di samping Tanah Suci: Spanyol, selatan Perancis, dan sepanjang Baltik. Perang salib Spanyol berpadu dengan Reconquista Spanyol dari kaum Muslim. Meskipun Templar dan Hospitaller ikut serta dalam perang salib Spanyol, ordo-ordo militer relijius Spanyol serupa dihimpun, kebanyakan menjadi bagian dari dua ordo utama Calatrava dan Santiago pada permulaan abad ke-12. Eropa Utara juga masih berada di luar pengaruh Kristen sampai abad ke-11 atau pada masa berikutnya, dan menjadi tempat perang salib sebagai bagian dari Perang Salib Utara pada abad ke-12 sampai ke-14. Perang salib tersebut juga membentuk sebuah ordo militer, Order of the Sword Brothers. Ordo lainnya, Teutonic Knights, meskipun dihimpun di negara-negara salibis, kebanyakan memfokuskan kegiatannya di Baltik setelah 1225, dan pada 1309 memindahkan markas besarnya ke Marienburg di Prusia. 

Kehidupan intelektual

Pada abad ke-11, perkembangan dalam filsafat dan teologi berujung pada peningkatan kegiatan intelektual. Terdapat perdebatan antara realis dan nominalis atas konsep "universal". Sumber filsafat distimulasikan oleh penemuan kembali Aristoteles dan pemahamannya dalam empirisme dan rasionalisme. Para cendekiawan seperti Peter Abelard (w. 1142) dan Peter Lombard (w. 1164) mengenalkan logika Aristotelian ke dalam teologi. Pada akhir abad ke-11 dan awal abad ke-12, sekolah-sekolah katedral menyebar di sepanjang Eropa Barat, menandakan peralihan pembelajaran dari biara ke katedral dan kota. Sekolah katedral digantikan oleh universitas yang didirikan di kota-kota besar Eropa. Filsafat dan teologi berpadu dalam skolastisisme, sebuah upaya oleh para cendekiawan abad ke-12 dan ke-13 untuk merekonsiliasikan teks-teks otoritatif, terutama Aristoteles dan Alkitab. Gerakan tersebut berniat untuk memakai kesepakatan sistemik untuk kebenaran dan akal budi dan berpincak dalam pemikiran Thomas Aquinas (w. 1274), yang menulis Summa Theologica, atau Penjelasan Teologi. 

Kekesatriaan dan etos cinta negara berkembang dalam ranah kerajaan dan bangsawan. Budaya tersebut terekspresi dalam bahasa-bahasa vernakular ketimbang Latin, dan terdiri dari puisi, cerita, legenda, dan lagu populer yang disebarkan oleh para troubadour, atau penyair pengembara. Seringkali, cerita-cerita tersebut ditulis dalamd chansons de geste, atau "lagu-lagu perbuatan besar", seperti Lagu Roland atau Lagu Hildebrand. Catatan sejarah sekuler dan agama juga diproduksi. Geoffrey dari Monmouth (wafat sekitar tahun 1155) mengkomposisikan Historia Regum Britanniae, sebuah kumpulan cerita dan legenda tentang Arthur. Karya-karya lainnya merupakan sejarah yang lebih jelas, seperti Gesta Friderici Imperatoris karya Otto von Freising (w. 1158) yang menjelaskan perbuatan Kaisar Frederick Barbarossa, atau Gesta Regum karya William dari Malmesbury (wafat sekitar 1143) tentang raja-raja Inggris. 

Kajian-kajian hukum maju pada abad ke-12. Hukum sekuler dan hukum kanon, atau hukum gerejawi, dikaji pada Abad Pertengahan Tinggi. Hukum sekuler, atau hukum Romawi, sangat dimajukan oleh penemuan Corpus Juris Civilis pada abad ke-11, dan pada tahun 1100, hukum Romawi diajarkan di Bologna. Ini berujung pada pencatatan dan standarisasi kitab-kitab hukum di seluruh Eropa Barat. Hukum kanon juga dikaji, dan sekitar tahun 1140, seorang biarawan bernama Gratian (dikenal pada abad ke-12), seorang guru di Bologna, menulis apa yang menjadi teks standar dari hukum kanon Decretum. 

Sejumlah hasil pengaruh Yunani dan Islam pada periode ini dalam sejarah Eropa adalah penggantian penomoran Romawi dengan sistem nomor posisional desimal dan penemuan aljabar, yang membuat matematika menjadi makin maju. Astronomi menjadi maju setelah penerjemahan Almagest karya Ptolemi dari bahasa Yunani ke bahasa Latin pada akhir abad ke-12. Pengobatan juga dikaji, khususnya di selatan Italia, dimana pengobatan Islam mempengaruhi sekolah di Salerno. 

Teknologi dan militer

Pdan ke-13, Eropa memproduksi pertumbuhan ekonomi dan inovasi dalam metode produksi. Kemajuan teknologi besar meliputi penemuan kincir angin, jam mekanikal pertama, pabrik minuman berdistilasi, dan pemakaian astrolabe. Lensa cekung ditemukan sekitar tahun 1286 oleh seorang artisan Italia yang tidak diketahui, mungkin bekerja di dalam atau dekat Pisa. 

Pengembangan sistem rotasi tiga bidang untuk penanaman tanaman meningkatkan pemakaian lahan dari satu setengah pemakaian setiap tahun di bawah sistem dua bidang lama menjadi dua per tiga di bawah sistem baru, dengan peningkatan produksi yang dihasilkan. Pengembangan bajak berat yang membolehkan tanah yang keras untuk dijadikan kebun makin efisien, dibantu oleh penyebaran kerah kuda, yang berujung pada pemakaian kuda-kuda bajak menggantikan kerbau. Kuda lebih cepat ketimbang kerbau dan mengurangi pakan, fakta-faktor yang membantu implementasi sistem tiga bidang. 

Pembangunan katerdral dan istana memajukan teknologi pembangunan, berujung pada pembangunan gedung-gedung batu besar. Struktur-struktur ansilari meliputi balai kota, rumah, jembatan dan peternakan baru. Pembangunan kapal dengan pemakaian metode rib and plank lebih banyak ketimbang sistem lama Romawi mortise and tenon. Penunjangan lain untuk perkapalan meliputi pemakaian layar lateen dan stern-post rudder, keduanya meningkatkan kecepatan pada kapal yang berlayar. 

Dalam urusan militer, pemakaian infanteri dengan peran khusus meningkat. Bersama dengan kavaleri berat yang masih dominan, tentara sering meliputi pasukan busur silang penunggang dan infanteri, serta sapper dan teknisi. Busur silang, yang telah dikenal pada Akhir Zaman Kuno, makin dipakai karena peningkatan dalam perang pengepungan pada abad ke-10 dan ke-11. Peningkatan pemakaian busur silang pada abad ke-12 dan ke-13 berujung pada pemakaian helm wajah tertutup, zirah tubuh berat, serta zirah kuda. Bubuk meriam dikenal di Eropa pada pertengahan abad ke-13 dengan pemakaian tercatat dalam perang Eropa oleh Inggris melawan Skotlandia pada 1304, meskipun ini dipakai sebagai sebuah peledak dan bukannya senjata. Meriam dipakai untuk pengepungan pada 1320an, dan senapan genggam dipakai pada 1360an. 

Aristektur, seni rupa, dan musik

Pada abad ke-10, pendirian gereja-gereja dan biara-biara berujung pada pengembangan arsitektur baru yang menghimpun bentuk-bentuk Romawi vernakular, dimana istilah "Romanesque" muncul. Saat tersedia, gedung-gedung bata dan batu Romawi didaur ulang untuk material-material mereka. Dari permulaan tentatif yang dikenal sebagai Romanesque Pertama, gaya tersebut berkembang dan menyebar ke seluruh Eropa dalam bentuk homogen. Tepat sebelum tahun 1000, terdapat arus besar pembangunan gereja batu di seluruh Eropa. Gedung-gedung Romanesque memiliki dinding batu masif, diatapi oleh lengkungan semi-melingkar, jendela kecil, dan, di sebagian Eropa, kubah batu melengkung. Portal besar dengan pahatan berwarna dalam relief tinggi menjadi fitur utama dari bagian depan, khususnya di Perancis, dan capital dari kolom-kolom seringkali diukir dengan adegan naratif dari monster khayalan dan hewan. Menurut sejarawan seni C. R. Dodwell, "secara virtual seluruh gereja di Barat didekorasi dengan lukisan dinding", dimana beberapa masih ada. Diiringi pengembangan dalam arsitektur gereja, bentuk istana Eropa khas dikembangkan, dan menjadi krusial dalam politik dan perang. 

Seni rupa Romanesque, khususnya pengerjaan metah, sangat tersofistikasi dalam seni rupa Mosan, dimana tokoh-tokoh artistik khas yang meliputi Nikolas dari Verdun (w. 1205) menjadi tampak, hampir gaya klasik terlihat dalam karya-karya seperti tempat baptis di Liège, berkontras dengan hewan-gewan dari Batang Lilin Gloucester kontemporer. Alkitab dan Mazmur teriluminasi besar menjadi bentuk khas dari manuskrip mewah, dan lukisan tembok berkembang di gereja-gereja, seringkali menampilkan adegan Penghakiman Akhir di tembok barat, Yesus di Tahta di ujung timur, dan adegan Alkitab naratif di bagian bawah, atau di contoh terbaik yang masih ada, di Saint-Savin-sur-Gartempe, di atap kubah barel. 

Dari awal abad ke-12, para pembangun Perancis mengembangkan gaya Gothik, ditandai dengan memakai kubah rusuk, lengkungan berujung, buttress melayang, dan jendela kaca besar. Ini biasanya dipakai di gereja-gereja dan katedral-katedral, dan masih dipakai sampai abad ke-16 di sebagian besar Eropa. Contoh-contoh klasik dari arsitektur Gothik meliputi Katedral Chartres dan Katedral Reims di Perancis serta Katedral Salisbury di Inggris. Kaca menjadi unsur krusial dalam rancangan gereja, yang masih memakai lukisan dinding ekstensif, sekarang hampir semuanya lenyap. 

Pada periode ini, praktik iluminasi manuskrip secara bertahap beralih dari biara ke pekerjaan awam, sehingga menurut Janetta Benton "pada tahun 1300, kebanyakan biarawan membawa buku-buku mereka ke toko-toko", dan buku jam dikembangkan sebagai bentuk buku devosional untuk kaum awam. Pengerjaan metal masih menjadi bentuk seni paling prestisius, dengan enamel Limoges menjadi opsi yang relatif diterima dan populer untuk obyek-obyek seperti relikui dan salib. Di Italia, inovasi Cimabue dan Duccio, disusul oleh master Trecento Giotto (w. 1337), makin meningkatkan sofistikasi dan status lukisan panel dan fresko. Peningkatan kekayaan pada abad ke-12 menghasilkan produksi yang lebih besar dari seni sekuler; beberapa obyek ukiran gading seperti potongan permainan, komb, dan fitur relijius kecil masih ada. 

Kehidupan gereja

Reformasi monastik menjadi masalah penting pada abad ke-11, karena kalangan elit mulai mengkhawatirkan para biarawan tak mengikuti aturan yang mengikat mereka pada kehidupan relijius yang ketat. Pertapaan Cluny, yang didirikan di wilayah Mâcon, Perancis pada tahun 909, didirikan sebagai bagian dari Reformasi Kluniak, sebuah gerakan besar dari reformasi monastik dalam menanggapi kekhawatiran ini. Cluny dengan cepat mendirikan reputasi untuk austeritas dan ketelitian. Ini menunjang kualitas tinggi kehidupan spiritual dengan menempatkan dirinya sendiri di bawah perlindungan kepausan dan memilih abbasnya sendiri tanpa campur tangan kaum awam, sehingga menunjang kemerdekaan ekonomi dan politik dari para penguasa lokal. 

Reformasi monastik menginspirasi perubahan dalam Gereja sekuler. Gagasan adalah bahwa ini berdasarkan atas pembawaan kepada kepausan oleh Paus Leo IX (menjabat 1049–1054), dan memberikan ideologi kebebasan klerikal yang berujung pada Kontroversi Penobatan pada akhir abad ke-11. Ini melibatkan Paus Gregorius VII (menjabat 1073–85) dan Kaisar Henry IV, yang awalnya bentrok atas pelantikan episkopal, sebuah sengketa yang berujung pada sebuah pertikaian atas gagasan penobatan, perkawinan rohaniwan, dan simoni. Kaisar memandang perlindungan Gereja sebagai salah satu tanggung jawab serta ingin memberikan hak untuk memilih pilihannya sendiri sebagai uskup di lahannya, namun kepausan menginginkan kemerdekaan Gereja dari para penguasa sekuler. Masalah-masalah ini masih belum terpecahkan setelah kompromi tahun 1122 yang dikenal sebagai Konkordat Worms. Persengketaan tersebut mewakili tahap signifikan dalam pembuatan monarki kepausan terpisah dari dan setara dengan otoritas awam. Ini juga memiliki konsekuensi permanen dari para pangeran Jerman berkuasa atas pengeluaran para kaisar Jerman. 

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode gerakan agama besar. Disamping Perang Salib dan reformasi monastik, masyarakat didorong untuk ikut dalam bentuk-bentuk kehidupan relijius yang baru. Ordo-ordo monastik baru dibentuk, yang meliputi Kartusia dan Sistersia. Sistersia secara khusus menyebar cepat pada tahun-tahun awal mereka di bawah panduan Bernard dari Clairvaux (w. 1153). Ordo-ordo baru tersebut dibentuk dalam menanggapi perasaan dari kaum awam bahwa monastisisme Benediktin tak selalu memenuhi kebutuhan kaum awam, yang sepanjang dengan orang-orang ingin untuk memasuki kehidupan relijius yang ingin kembali ke monastisisme eremit yang lebih sederhana dari gereja perdana, atau hidup dalam kehidupan Rasuli. Peziarahan agama juga didorong. Situs-situs peziarahan lama seperti Roma, Yerusalem, dan Compostela meraih peningkatan jumlah pengunjung, dan situs-situs baru seperti Monte Sant'Angelo dan Bari makin dikenal. 

Pada abad ke-13, ordo-ordo mendikan Fransiskan dan Dominikan yang menyatakan sumpah hidup miskin dan meminta-minta, disepakati oleh kepausan. Kelompok-kelompok keagamaan seperti Waldensian dan Humiliati juga berniat untuk kembali ke kehidupan gereja perdana pada pertengahan abad ke-12 dan awal abad ke-13, namun mereka dikecam sebagai bidaah oleh kepausan. Yang lainnya bergabung dengan Katar, gerakan bidaah lain yang dikecam oleh kepausan. Pada 1209, sebuah perang salib diserukan untuk melawan kaum Katar, Perang Salib Albigensian, yang berpadu dengan Inkuisisi abad pertengahan, untuk menyingkirkan mereka. 

Abad Pertengahan Akhir

Tahun-tahun pertama abad ke-14 ditandai oleh bencana-bencana kelaparan, berpuncak pada Bencana Kelaparan Besar 1315–17. Sebab-sebab Bencana Kelaparan Besar tersebut meliputi transisi lambat dari Periode Hangat Abad Pertengahan dan Zaman Es Kecil, yang membuat populasi menurun karena suaca buruk yang menyebabkan gagal panen. Tahun 1313–14 dan 1317–21, Eropa mengalami hujan terus menerus, mengakibatkan persebaran gagal panen. Perubahan iklim yang mengakibatkan penurunan temperatur tahunan rata-rata untuk Eropa pada abad ke-14 disertai dengan penurunan ekonomi. 

Ketegangan tersebut disusul pada 1347 dengan Wabah Hitam, sebuah pandemik yang menyebar ke seluruh Eropa pada tiga tahun berikutnya. Jumlah korban tewas mungkin sekitar 35 juta orang di Eropa, sekitar sepertiga populasi. Kota-kota secara khusus diserang hebat karena kondisi kumuh mereka. Sebagian besar wilayah banyak yang ditinggal, dan di beberapa tempat, ladang-ladang dibiarkan tak terurus. Upah meningkat karena para tuan tanah kekurangan jumlah buruh yang tersedia pada ladang mereka. Masalah selanjutnya adalah penyewaan rendah dan tuntutan rendha untuk makanan, keduanya terpotong dalam pendapatan pertanian. Para buruh kota juga merasa bahwa mereka memiliki hak untuk meraih yang lebih besar, dan kebangkitan masyarakat pecah di sepanjang Eropa. Salah satu kebangkitan tersebut adalah jacquerie di Perancis, Pemberontakan Petani di Inggris, dan pemberontakan di kota-kota Firenze Italia dan Ghent dan Bruges di Flanders. Trauma wabah berujung pada peningkatan pietas di seluruh Eropa, dimanifestasikan oleh pendirian yayasan-yayasan baru, mortifikasi diri flagelan, dan penindasan Yahudi. Keadaan-keadaan tersebut kemudian digejolakkan dengan kembalinya wabah sepanjang sesi abad ke-14; ini masih menyerang Eropa secara periodikal pada sisa Abad Pertengahan. 

Masyarakat dan ekonomi

Masyarakat seluruh Eropa terganggu oleh dislokasi yang disebabkan oleh Wabah Hitam. Lahan-lahan yang menjadi produktif secara marginal telah telah tiada, karena para korban selamat dapat mengakuisisi wilayah yang lebih fertil. Meskipun buruh tani berkurang di Eropa Barat, ini menjadi sangat umum di Eropa Timur, karena para tuan tanah menempatkannya di wilayah kekuasaan mereka yang sebelumnya bebas. Kebanyakan petani di Eropa Barat mengurusi perubahan kerja yang mereka miliki sebelumnya kepada para tuan tanah mereka dalam penyewaan tunai. Persentase buruh tani di kalangan petani menurun dari lebih dari 90 menjadi 50 persen pada akhir periode tersebut. Tuan tanah juga menjadi lebih peka terhadap kepentingan umum dengan para tuan tanah lainnya, dan mereka bergabung bersama untuk menuntut hak-hak dari pemerintah mereka. Pada sebagian pendapat tuan tanah, pemerintah berniat untuk melegistasi kembalinya kondisi ekonomi yang ada sebelum Wabah Hitam. Non-rohaniwan menjadi makin melek huruf, dan penduduk kota mulai meniru kepentingan bangsawan dalam hal kekesatriaan. 

Komunitas Yahudi diusir dari Inggris pada tahun 1290 dan dari Perancis pada tahun 1306. Meskipun beberapa diijinkan kembali ke Perancis, kebanyakan tidak, dan beberapa Yahudi beremigrasi ke wilayah timur, bermukim di Polandia dan Hongaria. Yahudi diusir dari Spanyol pada 1492, dan berpindah ke Turki, Perancis, Italia dan Holland. Pebangkitan perbankan di Italia pada abad ke-13 berlanjut sepanjang abad ke-14, sebagian dipenuhi oleh peningkatan perang pada masa itu dan kebutuhkan kepausan untuk menggerakan uang antar kerajaan. Beberapa firma perbankan meminjamkan uang kepada pihak kerajaan, dalam resiko besar, karena beberapa bangkrut saat para raja menarik pinjaman mereka. 

Kebangkitan negara

Negara-negara berbasis kerajaan yang kuat berkembang di seluruh Eropa pada Abad Pertengahan Akhir, terutama di Inggris, Perancis, dan kerajaan-kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia: Aragon, Kastilia, dan Portugal. Konflik-konflik panjang dari periode tersebut menguatkan kontrol kerajaan atas kerajaan-kerajaan mereka dan sangat menyulitkan kaum petani. Para raja diuntungkan dari perang yang melebarkan legislasi kerajaan dan meningkatkan lahan yang mereka kontrol langsung. Pembayaran untuk perang mensyaratkan agar metode-metode perpajakan menjadi lebih efektif dan efisien, dan tingkat perpajakan seringkali meningkat. Persyaratan untuk mengambil konsen terhadap para pembayar pajak membolehkan badan-badan perwakilan seperti Parlemen Inggris dan Estates General Perancis meraih kekuasaan dan otoritas. 

Sepanjang abad ke-14, raja-raja Perancis berniat untuk meluaskan pengaruh mereka di pengeluaran pemegangan teritorial dari kaum bangsawan. Mereka menghadapi kesulitan saat berniat untuk menkonfiskasikan pemegangan raja-raja Inggris di selatan Perancis, berujung pada Perang Ratusan Tahun, yang berlangsung dari 1337 sampai 1453. Pada awal perang, Inggris yang berada di bawah kekuasaan Edward III (memerintah 1327–77) dan putranya Edward, Pangeran Hitam  memenangkan pertempuran-pertempuran Crécy dan Poitiers, merebut kota Calais, dan memenangkan kontrol atas sebagian besar Perancis.[AF] Hasilnya hampir menyebabkan disintegrasi kerajaan Perancis pada tahun-tahun awal perang. Pada abad ke-15, Perancis nyaris kembali menghadapi pembubaran, namun pada akhir 1420an, kesuksesan militer Joan dari Arc (wafat 1431) memimpin kemenangan Perancis dan merebut wilayah Inggris terakhir di selatan Perancis pada 1453. Harga meningkat, karena populasi Perancis pada akhir Perang tampaknya telah menjadi permulaan konflik. Sebaliknya, perang tersebut memiliki efek positif pada identitas nasional Inggris, dimana berbagai identitas lokal masuk ke dalam gagasan Inggris nasional. Konflik dengan Perancis tersebut juga membantu pembentukan budaya nasional di Inggris yang terpisah dari budaya Perancis, yang sebelumnya telah menjadi pengaruh dominan. Dominasi busur panjang Inggris dimulai pada tahap-tahap awal Perang Ratusan Tahun, dan meriam muncul pada medan tempur di Crécy pada 1346. 

Di Jerman modern, Kekaisaran Romawi Suci melanjutkan pemerintahan, namun alam eletif dari takhta kekaisaran menandakan bahwa tak ada dinasti yang membuat sebuah negara yang kuat dapat terbentuk. Di sebelah timur, kerajaan-kerajaan Polandia, Hongaria, dan Bohemia bertumbuh kuat. Di Iberia, kerajaan-kerajaan Kristen kembali meraih kekuasaan dari kerajaan-kerajaan Muslim di semenanjung tersebut; Portugal mengkonsekrasikan perluasan wilayah seberang laut pada abad ke-15, sementara kerajaan lainnya dihadapikan oleh kesulitan atas sukses kerajaan dan perhatian lainnya. Setelah kekalahan Perang Ratusan Tahun, Inggris mengalami perang saudara panjang yang dikenal sebagai Perang Mawar, yang berlangsung pada 1490an dan baru berakhir saat Henry Tudor (memerintah 1485–1509 sebagai Henry VII) menjadi raja dan mengkonsolisasikan kekuasaan dengan kemenangannya atas Richard III (m. 1483–85) di Bosworth pada 1485. Di Skandinavia, Margaret I dari Denmark (memerintah di Denmark 1387–1412) mengkonsolidasikan Norwegia, Denmark, dan Swedia dalam Uni Kalmar, yang berlangsung sampai 1523. Kekuatan besar di sekitaran Laut Baltik adalah Liga Hanseatik, sebuah konfederasi komersial dari negara-negara kota yang berdagang dari Eropa Barat ke Rusia. Skotlandia timbul dari dominasi Inggris di bawah Robert the Bruce (memerintah 1306–29), yang menyatakan pengakuan kepausan dari kekerabatannya pada 1328. 

Keruntuhan Bizantium

Meskipun para kaisar Palaeologi merebut kembali Konstantinopel dari bangsa Eropa Barat pada 1261, mereka tak pernah dapah merebut kembali kontrol sebagian besar bekas wilayah kekaisaran. Mereka biasanya hanya menguasai sebagian kecil Semenanjung Balkan di dekat Konstantinopel, kota itu sendiri, dan beberapa wilayah pantai di Laut Hitam dan sekitaran Laut Aegea. Bekas wilayah Bizantium di Balkan terbagi antara Kerajaan Serbia baru, Kekaisaran Bulgaria Kedyua dan kota-negara Venesia. Kekuasaan para kaisar Bizantium diancam oleh sebuah suku Turki baru, Utsmaniyah, yang menghimpun diri mereka sendiri di Anatolia pada abad ke-13 dan cepat meluas sepanjang abad ke-14. Utsmaniyah meluas ke Eropa, membuat Bulgaria menjadi negara vasal pada 1366 dan merebut Serbia setelah kekalahannya di Pertempuran Kosovo pada 1389. Bangsa Eropa Barat mengerahkan pasukan Kristen di Balkan dan menyerukan perang salib baru pada 1396; tentara besar dikirim ke Balkan, dimana pasukan tersebut kalah di Pertempuran Nicopolis. Konstantinopel akhirnya direbut oleh Utsmaniyah pada 1453. 

Kontroversi dalam Gereja

Pada abad ke-14, persengketaan kepemimpinan Gereja berujung pada Kepausan Avignon tahun 1309–76, juga disebut "Pembuangan Babilonia dari Kepausan" (sebuah rujukan kepada pembuangan Babilonia dari Yahudi), dan kemudian Skisma Besar, yang berlangsung dari 1378 sampai 1418, saat terdapat dua dan kemudian tiga paus pesaing, masing-masing didukung oleh beberapa negara. Para pejabat gereja dikumpulkan di Konsili Konstans pada 1414, dan pada tahun berikutnya, konsili tersebut mendepak salah satu paus pesaing, meninggalkan dua pengklaim. Pendepakan lanjutan berlanjut, dan pada November 1417, konsili tersebut memilih Martinus V (menjabat 1417–31) sebagai paus. 

Disamping skisma, Gereja Barat dihadapkan oleh kontroversi teologi, beberapa berujung pada bidaah. John Wycliffe (w. 1384), seorang teolog Inggris, dikecam sebagai bidaah pada 1415 karena mengajarkan bahwa kaum awam harus mengakses teks Alkitab serta memegang pandangan tentang Ekaristi yang berlawanan dengan doktrin Gereja. Pengajaran Wycliffe mempengaruhi dua gerakan bidaah besar dari Abad Pertengahan Akhir: Lollardy di Inggris dan Husitisme di Bohemia. Gerakan Bohemia diinisiasikan dengan pengajaran Jan Hus, yang dibakar di perapian pada 1415 setelah dikecam sebagai heretik oleh Konsili Konstans. Gereja Husite, meskipun menjadi target sebuah perang salib, bertahan sampai setelah Abad Pertengahan. Bidaah lainnya timbul, seperti tuduhan melawan Kesatria Templar yang mengakibatkan penekanan mereka pada 1312 dan perpecahan kekayaan besar mereka antara Raja Perancis Philip IV (m. 1285–1314) dan Hospitaller. 

Kepausan kemudian merefinisasikan praktik dalam Misa pada Abad Pertengahan Akhir, menyatakan bahwa hanya rohaniwan yang diijinkan untuk mengangkat anggur dalam Ekaristi. Ini kemudian menjauhkan awam sekuler dari rohaniwan. Kaum awam masih mempraktikkan peziarahan, pemuliaan relik, dan keyakinan akan kekuatan Jahat. Para mistikus seperti Meister Eckhart (w. 1327) dan Thomas à Kempis (w. 1471) menulis karya-karya yang mengajarkan kaum awam untuk berfokus pada kehidupan spiritual dalam mereka, yang menjadi karya landasan bagi Reformasi Protestan. Disamping mistisisme, keyakinan akan penyihir dan sihir menjadi merebak, dan pada akhir abad ke-15, Gereja mulai memegang kekhawatiran umum atas sihir dengan mengecam sihir pada 1484 dan publikasi pada tahun 1486 dari Malleus Maleficarum, sebuah buku pegangan paling populer untuk para pemburu penyihir. 

Cendekiawan, intelektual, dan penjelajahan

Pada Abad Pertengahan Akhir, para teolog seperti John Duns Scotus dan William dari Ockham (wafat sekitar tahun 1348), berujung pada sebuah reaksi melawan skolastisisme, yang menempatkan aplikasi akal budi kepada iman. Upaya mereka menimbulkan gagasan Platonik dari "alam semesta". Insistensi Ockham bahwa akal budi beroperasi secara terpisah dari iman membolehkan sains terpisah dari teologi dan filsafat. Kajian-kajian hukum ditandai oleh kemajuan dari hukum Romawi dalam wilayah yurisprudensi yang sebelumnya diperintah oleh hukum adat. Pengecualian tunggal untuk tren ini adalah di Inggris, dimana hukum umum masih didahulukan. Negara-negara lain mengkitabkan hukum-hukum mereka; kitab-kitab hukum dipromulgasikan di Kastilia, Polandia, dan Lithuania. 

Pendidikan masih banyak berfokus pada pelatiohan rohaniwan masa depan. Pembelajaran dasar dari huruf dan angka masih menjadi penanganan dari keluarga atau seorang imam desa, namun pelajaran-pelajaran menengah dari trivium tata bahasa, retorika, logika dipelajari di sekolah-sekolah katedral atau sekolah-sekolah yang disediakan oleh kota-kota. Sekolah-sekolah menengah komersial merebak, dan beberapa kota Italia memiliki lebih dari satu wirausaha semacam itu. Universitas-universitas juga merebak di sepanjang Eropa pada abad ke-14 dan ke-15. Tingkat melek huruf kaum awam meningkat, namun masih rendah; satu perkiraan menyatakan bahwa tingkat melek hurufnya adalah sepuluh persen laki-laki dan satu persen perempuan pada tahun 1500. 

Pada awal abad ke-15, negara-negara di semenanjung Iberia mulai mensponsori penjelajahan di luar perbatasan Eropa. Pangeran Henry si Navigator dari Portugal (w. 1460) mengirim penjelajahan-penjelajahan yang menemukan Kepulauan Kanari, Azores, dan Tanjung Verde pada masa hidupnya. Setelah kematiannya, penjelajahan berlanjut; Bartolomeu Dias (w. 1500) datang ke sekitaran Tanjung Harapan pada tahun 1486 dan Vasco da Gama (w. 1524) berlayar ke sekitaran Afrika sampai India pada tahun 1498. Monarki-monarki Spanyol terpadu dari Kastilia dan Aragon mensponsori perjalanan penjelajahan oleh Christopher Columbus (w. 1506) pada tahun 1492 yang menemukan benua Amerika. Takhta Inggris di bawah Henry VII mensponsori perjalanan John Cabot (w. 1498) pada tahun 1497, yang mendarat di Pulau Tanjung Breton. 

Pengembangan teknologi dan militer

Salah satu pengembangan besar dalam bidang militer pada Abad Pertengahan Akhir adalah peningkatan pemakaian infanteri dan kavaleri ringan. Inggris juga mengerahkan pasukan busur panjang, namun negara lainnya tak dapat membuat pasukan serupa dengan kesuksesan yang sama. Zirah masih dimajukan, disertai oleh peningkatan kekuatan busur silang, dan zirah plat dikembangkan untuk melindungi para prajurit dari busur-busur silang serta senapan genggam yang dikembangkan. Senjata tiang meraih ketenaran baru dengan pengembangan infanteri Flemish dan Swiss yang bersenjatakan dengan tombak dan busur panjang lainnya. 

Dalam pertanian, peningkatan pemakaian domba dengan wol berserat panjang membolehkan pengolahan yang lebih kuat. Selain itu, alat tenun menggantikan alat tradisional untuk menenun wol, melipatgandakan produksi menjadi tiga kali lipat. Kurangnya penyempurnaan teknologi yang masih sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari adalah pemakaian kancing sebagai penutup untuk garmen, yang membolehkan untuk fitting yang lebih baik tanpa merenda busana pada pemakainya.  Kincir angin disempurnakan dengan pembuatan kincir menara, membolehkan bagian atas dari kincir angin berputar di sekitaran wajah pengarahan dari angin yang berhembus.  Tanur tiup muncul pada sekitar tahun 1350 di Swedia, meningkatkan kuantitas besi yang diproduksi dan menunjang kualitasnya. Hukum paten pertama pada 1447 di Venesia melindungi hak para penemu atas penemuan mereka. 

Seni rupa dan arsitektur abad pertengahan akhir

Abad Pertengahan Akhir di Eropa secara keseluruhan disertai dengan periode kebudayaan Trecento dan Renaisans Awal di Italia. Eropa Utara dan Spanyol masih memakai gaya Gotik, yang menjadi makin padu pada abad ke-15, sampai menjelang akhir periode tersebut. Gotik Internasional adalah sebuah gaya khas yang mencapai sebagian besar Eropa pada dekade-dekade sekitar 1400, menghasilkan adi-adikarya seperti Très Riches Heures du Duc de Berry. Seluruh seni rupa sekuler Eropa masih meningkat dalam kuantitas dan kualitas, dan pada abad ke-15, kelas-kelas merkantil Italia dan Flanders menjadi patron-patron menonjol, mengkomisikan potret-potret kecil dari diri mereka sendiri dalam minyak serta tingkat pertumbuhan barang-barang mewah seperti perhiasan, ukiran gading, kotak cassone, dan tembikar maiolica. Barang-barang tersebut juga meliputi perangkat Hispano-Moresque yang dibuat oleh sebagian besar pembuat tembikar Mudéjar di Spanyol. Meskipun kerajaan memiliki kumpulan plat tingkat tinggi, sedikit yang masiha da kecuali untuk Royal Gold Cup. Pabrik sutra Italia dikembangkan, sehingga gereja-gereja dan kalangan elit Barat tak perlu mengimpor dari Bizantium atau dunia Islam. Di Perancis dan Flanders, tapestri yang menampilkan set-set seperti Gadis dan Unicorn menjadi industri mewah besar. 

Skema-skema pahatan eksternal besar dari gereja-gereja Gotik Timur memberikan jalan untuk pemahatan lebih di dalam bangunan tersebut, karena makam-makam menjadi makin banyak dan fitur-fitur lainnya seperti pulpit-pulpit terkadang diukir, seperti dalam Pulpit karya Giovanni Pisano di Sant'Andrea. Melukis atau mengukir meja alter kayu menjadi hal umum, khususnya saat gereja-gereja membuat beberapa kapel sampingan. Lukisan Belanda Awal karya para seniman seperti Jan van Eyck (w. 1441) dan Rogier van der Weyden (w. 1464) bersaing di Italia, sesuai yang tertulis dalam manuskrip-manuskrip teriluminasi utara, yang pada abad ke-15 mulai dikoleksi sejumlah besar kalangan elit sekuler, yang juga mengekomisikan buku-buku sekuler, khususnya sejarah. Dari sekitar tahun 1450, buku-buku cetak makin populer, meskipun masih mahal. Terdapat sekitar 30,000 edisi berbeda dari incunabula, atau karya-karya yang dicetak sebelum tahun 1500, dimana manuskrip-manuskrip teriluminasi hanya dikomisikan oleh kaum kerajaan dan sedikit orang lainnya. Cukil-Cukil kayu yang sangat kecil, hampir semuanya keagamaan, dipegang oleh para petani di bagian Eropa Utara dari pertengahan abad ke-15. Engravir yang lebih mahal disuplai ke pasar yang lebih kaya dengan beragam gambar. 

Persepsi modern

Abad Pertengahan kemudian dikarikaturkan sebagai "zaman penghirauan dan penjunjungan" yang menempatkan "firman otoritas relijius atas pengalaman pribadi dan kegiatan rasional." Ini adalah sebuah warisan dari Renaisans dan Abad Pencerahan, saat para cendekiawan tampak mempertentangkan budaya intelektual mereka dengan abad pertengahan. Para cendekiawan Renaisans memandang Abad Pertengahan sebagai periode penurunan dari budaya dan peradaban tinggi dari dunia Klasik; para cendekiawan Abad Pencerahan memandang akal budi lebih tinggi ketimbang iman, dan kemudian memandang Abad Pertengahan sebagai masa penghirauan dan penjunjungan. 

Pihak lainnya berpendapat bahwa akal budi justru dijunjung sangat tinggi pada Abad Pertengahan. Sejarawan sains Edward Grant menyatakan, "Jika pemikiran rasional revolusioner yang dialami [pada abad ke-18], kami hanya membuat kemungkinan karena tradisi abad pertengahan yang panjang mendirikan pemakaian akal budi sebagai salah satu kegiatan manusia paling penting". Selain itu, berlawanan dengan keyakinan umum, David Lindberg menulis, "cendekiawan abad pertengahan akhir abad pertengahan jarang mengalami kekuatan koersif Gereja dan akan menganggap dirinya sendiri bebas (terutama dalam ilmu alam) untuk mengikuti akal budi dan pengamatan yang mereka tuju". 

Karikatur periode tersebut juga terefleksi dalam beberapa catatan yang lebih spesifik. Salah satu kesalahpahaman, yang pertama kali timbul pada abad ke-19  dan masih sangat umum, adalah bahwa semua orang pada Abad Pertengahan meyakini bahwa Bumi itu datar. Ini tidak benar, karena para pengajar di universitas-universitas abad pertengahan umumnya berpendapat bahwa bukti menunjukkan Bumi itu bulat. Lindberg dan Ronald Numbers, cendekiawan lain dari periode tersebut, menyatakan bahwa "hampir tak ada seorang cendekiawan Kristen dari Abad Pertengahan yang tak meyakini kebulatan [Bumi] dan bahkan mengetahui perkiraan kelilingnya". Kesalahpahaman lainnya seperti "Gereja melarang otopsi dan pembedahan pada Abad Pertengahan", "kebangkitan Kekristenan membunuh ilmu kuno", atau "Gereja Kristen abad pertengahan menekan pertumbuhan filsafat alam", semuanya dikutip oleh Numbers sebagai contoh-contoh mitos populer yang masih dianggap sebagai kebenaran sejarah, meskipun mereka tak didukung oleh riset sejarah saat ini.