Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Apr 21, 2017

Manusia Purba di Indonesia

Sangiran adalah sebuah situs arkeologi. Secara geografis situs Sangiran terletak antara kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Area ini memiliki luas 48 km2 15km2 sebelah utara Surakarta di lembah sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki gunung Lawu.

Dari sekitar 100 individu temuan fragmen fosil manusia purba yang didapatkan di Indonesia, hampir 65% -nya berasal dari Situs Sangiran. Mencakup sekitar 50 % dari populasi taxon Homo Erectus di dunia.

Pada umumnya fosil-fosil tersebut ditemukan secara kebetulan (temuan penduduk) dan dalam bentuk fragmenter; antara lain berupa tulang-tulang tengkorak, mandibula, dan femur.

Fosil-fosil tersebut ditemukan di beberapa tempat atau lokasi utama di Pulau Jawa, antara lain; di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong, dan Sambungmacan (Jawa Tengah) serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur).

“Mandibula: Istilah anatomi tubuh; rahang bawah, tulang berbentuk tapal kuda, tempat melekat gigi bawah; rangka bagian depan-bawah muka. 
Femur: Istilah anatomi tubuh; tulang paha.”

Secara geostratigrafis, Situs Sangiran yang posisinya berada pada depresi Solo di kaki Gunung Lawu ini dahulu merupakan suatu kubah (dome) yang ter-erosi di bagian puncaknya sehingga menyebabkan terjadinya reverse (kenampakan terbalik).

Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro, dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini; mulai dari bagian utara, tengah, dan selatan.

“Kalsedon: batu yang terdiri dari microcrystalline atau cryptocrystalline dalam berbagai batu kuarsa. Lapisan Kabuh: Formasi Kabuh merupakan lapisan stratigrafi yang paling banyak menghasilkan fossil mammalia, fosil manusia purba, dan alat-alat batu.”

Penelitian di Situs Sangiran bermula dari laporan GHR Von Koenigswald yang menemukan sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis (sejenis batu mulia) dan kalsedon di sekitar Bukit Ngebung pada tahun 1934 (Koenigswald, 1936).

Temuan alat-alat serpih yang kemudian terkenal dengan istilah “Sangiran Flakes-industry” tersebut diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen Tengah.

Namun hasil pertanggalan tersebut banyak dikritik oleh para ahli (de Terra, 1943; Heekeren, 1972) karena temuan tersebut dihubungkan dengan konteks Fauna Trinil yang tidak autochton (Bartstra dan Basoeki, 1984: 1989) atau bukan dari hasil pengendapan primer (Bemellen, 1949).

Penelitian di situs ini menjadi semakin menarik dan berkelanjutan ketika pada tahun 1936 ditemukan fragmen fosil rahang bawah (mandibula) manusia purba Homo Erectus yang kemudian disusul oleh temuan fosil-fosil lainnya.

Setelah masa pasca Koenigswald atau pada sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis di situs ini kemudian diambil alih oleh para peneliti dari Indonesia (antara lain T. Jacob dan S. Sartono) serta terus berkelanjutan sampai sekarang.

Penelitian yang sangat “spektakuler” terjadi ketika Puslit Arkenas melakukan kerjasama penelitian dengan Museum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Perancis. Mereka melakukan ekskavasi besar-besaran selama 5 tahap (tahun 1989–1993) di Bukit Ngebung yang menghasilkan sejumlah temuan secara ‘”nsitu’”dan pertanggalan absolut yang sangat menarik.

“Ekskavasi: Istilah Arkeologi; penggalian yg dilakukan di tempat yang mengandung benda purbakala; atau tempat penggalian benda purbakala.”

Penelitian Situs Sangiran semakin berkembang pesat dalam dekade lima tahun belakangan ini. Setelah Balar Yogya ikut berpartisipasi langsung dan melakukan program-program penelitian secara intensif dan terpadu.

Sejarah Penemuan dan Pengakuan

Pada 1936-1941 seorang ilmuwan antropologi dari Jerman Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald Mulai melakukan penelitian terhadap situs Sangiran tersebut. Setelah dilakukan penelitian berikutnya, ditemukan 50 fosil lebih di antaranya Pithecanthropus erectus (“Manusia Jawa”), Meganthropus palaeo javanicus.

Selain itu juga ditemukan fosil hewan seperti badak, tanduk kerbau, gading gajah, tanduk rusa dan lain-lain. Secara keseluruhan diperkirakan umur fosil yang ditemukan tersebut berusia 1 sampai 1,5 juta tahun dan diperkirakan juga umur fosil sudah terkubur sejak 2 juta tah­un yang lalu. Dari 50 fosil yang ditemukan tersebut sudah mewakili 50% fosil yang ada di dunia.

Sebelum kemunculan Koenigswald, pada awal 1930-an, masyarakat di sana hanya mengenal fosil-fosil yang banyak terdapat di lingkungan alam sekitar mereka sebagai balung buto alias tulang-tulang raksasa. Ilmuwan asal Jerman itu telah memberi pemahaman baru kepada masyarakat Sangiran terkait keberadaan fosil dan artefak purba.

Selain itu, pemahaman mereka terkait balung buto juga berkaitan dengan tradisi lisan mengenai perang besar yang pernah terjadi di kawasan perbukitan Sangiran, ribuan tahun silam. Dalam pertempuran itu banyak raksasa yang gugur dan terkubur di perbukitan Sangiran, sebagaimana “dibuktikan” lewat potongan-potongan tulang-belulang besar yang mereka namakan balung buto.

Para tetua kampung yang berusia di atas 60 tahun masih ada yang mengenal mitos tentang asal usul balung buto tersebut. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang masih percaya akan kebenarannya.

Sebelum kedatangan Koenigswald, balung buto dianggap memiliki kekuatan magis. Selain berfungsi sebagai sarana penyembuhan berbagai penyakit, pelindung diri atau sebagai jimat, nilai magis balung buto juga dipercaya dapat membantu ibu-ibu yang susah melahirkan.

Karena itu, tidak heran bila pada kurun waktu sebelum 1930-an, balung buto yang banyak banyak bermunculan di berbagai tempat—di tepi sungai dan di lereng-lereng perbukitan jarang diganggu oleh penduduk setempat.

Koenigswald mengubah pandangan itu. Luasnya cakupan wilayah situs Sangiran, dengan kondisi alam yang tandus-gersang dan bebukit-bukit, memang tidak memungkinkan peneliti asing itu bekerja sendiri. Dalam upaya untuk mengumpulkan fosil, Koenigswald minta bantuan penduduk.

Sebagai imbalan atas keterlibatan penduduk, Koenigswald menerapkan sistem upah berupa uang kepada penduduk yang menemukannya. Besaran hadiah cukup beragam, bergantung pada jenis fosil dan kelangkaannya.

Masyarakat pun mulai sadar, ternyata benda yang dulu mereka sebut balung buto memiliki nilai tukar yang cukup menjanjikan.

Setelah itu istilah balung buto perlahan lenyap digantikan fosil sebagai nama baru, pengertian dan nilainya pun berhasil diinternalisasikan oleh Koenigswald.

Sejak itu pula, masyarakat Sangiran mengenal konsep pemaknaan baru terkait keberadaan fosil alias balung buto, yang semula dikaitkan dengan keyakinan sebagai mitos yang bernilai magis menjadi semacam komoditi baru yang hanya bernilai ekonomis.

Pada tahun 1977 situs Sangiran dideklarasikan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dan pada tahun 1996 terdaftar dalam situs warisan dunia oleh UNESCO.

Masih terletak di wiliyah Sangiran terdapat museum Sangiran, di museum tu terdapat koleksi13.086 koleksi fosil ma­nusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia.

Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah.

Apr 4, 2017

Caligula, Zaman Suram Kekaisaran Romawi

Caligula, Zaman Suram Kekaisaran Romawi I Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus lahir di Antium pada tanggal 31 Agustus 12 M, dia masih keturunan dari Caesar August sebagai Buyutnya. Dia anak bungsu dari pasangan Germanicius dan Vipsania Agrippina Maior.

Gaius adalah anak tentara, dan tidak heran jika masa kecilnya banyak dibesarkan di perkemahan tentara. Sewaktu kecil dia suka sekali menggunakan seragam tentara yang khusus dibuat untuk tubuhnya yang masih kecil, lengkap dengan baju besi dan sepatu tentara pada zaman itu yang disebut "Caliga". Maka dia pun mendapakan julukan "Caligula", yang artinya bermakna "Prajuit kecil yang mengenakan Caliga". Nama panggilan itu pun menjadi lekat dengannya walau dia tidak suka dengan panggilan tersebut.

Ayahnya meniggal pada saat usianya 7 tahun, Germanicus diracun di Syiria oleh kaki tangan Tiberius (yang merupakan sepupu dari kakeknya), yang menganggap Germanicus sebagai saingan politiknya. Ibu Caligula yang menuntut Tiberius atas kematian suaminya akhirnya dibuang oleh Tiberius dan tewas kelaparan. Tiberius juga menyuruh prajuritnya untuk membunuh kedua kakak laki-laki Caligula (Nero dan Drusus) dengan alasan pengkhianatan. Caligula dan beberapa kakak-kakak perempuannya tidak dibunuh, karena Tiberius menganggapnya masih kecil. Mereka diasingkan dan dipaksa tinggal di Capri (Capreae) yang merupakan sebuah pulau di laut lepas Semenanjung Sorrentine, di bagian selatan Teluk Napoli. Capri adalah tempat peristirahatan pribadi Tiberius.

Ditahun 33 M, Tiberius memberikan Caligula sebuah gelar kehormatan "Quaestor", posisi yang dipegangnya berurusan dengan keuangan dan laporannya langsung dengan Kaisar. Caligula merupakan seorang aktor yang hebat, selama berurusan dengan Tiberius, dia dapat menyimpan dendamnya dengan sempurna, sehingga meningkatkan rasa percaya Tiberius padanya. Ditahun yang sama Caligula menikahi Junia Claudilla, sayangnya dia meninggal beberapa tahun kemudian saat melahirkan.

Karena Tiberius sangat percayaan pada Caligula, diapun mencantumkan nama Caligula untuk menjadi pewaris bersama dengan Tiberius Gemellus (Cucu Tiberius).

Pada masa-masa ini, Caligula berteman dengan seorang Komandan Praetorian, benama Naevius Cordus Sertorius Macro, yang menjadi sekutunya. Diam-diam mereka merencanakan perebutan tahta Kaisar dari tangan Tiberius.

Dalam sebuah cerita pada tanggal 16 Maret 37 M, Caligula dan Marco berhasil membunuh Tiberius yang pada saat itu telah berumur 77 tahun, dan merampas cincin lambang kekaisaran dari jari Tiberius, sehingga membuat Caligula menjadi Kaisar pengganti Tiberius. Caligula mencabut hak pewaris saingannya Tiberius Gemellus dengan menganggap Tiberius Gemellus telah menjadi gila. 

Pada awal-awal kepemimpinannya rakyat begitu gembira dan dia mendapatkan kekaguman karena royal pada rakyat. Di ceritakan dalam sejarah bahwa dia telah memberikan lebih dari 160.000 hewan yang dikorbankan selama tiga bulan yang diberikan untuk rakyat merayakan pesta pemerintahan baru. Dan, untuk mendapatkan dukungan dari militer, dia memberikan bonus besar bagi prajurit khususnya Pengawal Praetorian, yang berada di kota maupun yang ada di luar kota. Dia juga membantu orang-orang yang telah merasa telah dirugikan oleh sistem pajak kekaisaran sebelumnya. Dia sangat pandai memuaskan rakyat, seperti menyediakan pertandingan gladiator. 

Untuk mengenang keluarganya, Caligula mengumpulkan kembali tulang-tulang ibunya dan saudara-saudaranya yang telah dibunuh Tiberius, membuatnya menjadi abu dan disimpan di makam Caesar August.

Fakta Kegilaan pada Caligula

Enam bulan yang bahagia pada kepemimpinannya. Namun, sekitar bulan Oktober 37 M, Caligula mendapatkan sakit parah, penyakitnya bahkan tidak diketahui oleh ahli pengobatan. Sakitnya tersebut membuat kekhawatiran besar bagi rakyatnya. Setelah sembuh dari sakitnya, Caligula terlihat menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Dia mulai paranoid, dan ditutupinya dengan keangkuhannya. Beberapa sejarawan Yahudi, Kristen dan Muslim dari abad setelahnya bahkan beranggapan bahwa Caligula mungkin telah dirasuki setan.

Dia cemas dan mulai takut jika kekaisarannya akan direbut orang lain. Langkah pertama untuk mengokohkan Kekaisarannya adalah dengan membunuh Tiberius Gamellus yang merupakan saingannya dalam posisi pewaris tahta, sebagian para sejarah percaya bahwa Tiberius Gamellus diracun olehnya. Bahkan, dia juga memaksa Macro, sekutu yang telah membantunya naik menjadi Kaisar untuk bunuh diri, dia khawatir Marco akan membocorkan rahasia pembunuhannya pada Kaisar sebelumnya. Begitu juga Marcus Junius Silanus, ayah dari almarhum istrinya Junia Claudilla, dipaksanya untuk bunuh diri dengan alasan yang tidak jelas.

Dia mulai memerintahkan pembunuhan terhadap siapa saja yang pernah tidak sepaham dengannya, atau bahkan tidak setuju terhadap mengenai keputusannya. Gubernur yang baru pensiun dari Pannonia tidak luput diperintahkan untuk bunuh diri, karena khwatir ancaman makar.

Pernah sekali, pada saat acara Gladiator kehabisan pemain, dan acara berikutnya adalah bertarung dengan singa. Ia memerintahkan Pengawal nya untuk menyeret lima baris pertama dari penonton ke dalam arena.

Kepribadian Caligula pun menjadi semakin tidak seimbang, dia mulai mengakui dirinya sebagai Tuhan. Dia sering sekali berdandan sebagai Apollo, Venus, Mercury dan Hercules. Dia membangun sebuah altar tempat orang-orang harus menyembah dirinya. Dia juga memerintahkan agar rumah-rumah ibadat memajang patung dirinya. Tindakan Caligula telah banyak yang melebihi batas, dia menaikkan pajak yang tinggi untuk membantu membayar pengeluaran pribadinya. Rumah-rumah bordil bebas beroperasi dan harus membayar pajak. Bahkan, sebagian dari cerita sejarah dikatakan, bahwa dia telah membuat rumah bordil sendiri di sayap istana kekaisaran. Kegilaannya akan seks semakin menjadi-jadi, dia juga suka melakukan hubungan seks dimuka umum, saat perjamuan dan permainan, kadang-kadang di atas meja di tengah makanan dengan ketiga saudarinya sendiri Agrippina, Drusilla and Julia Livilla, walaupun dari dari mereka ada yang telah bersuami. 

Kebijakan Caligula sudah diluar akal sehat, dia mengajak kuda kesayangannya yang diberi nama Incitatus untuk turut serta dalam jamuan makan malam bersama tamu-tamunya yang rata-rata adalah Senator. Bentuk sayangnya pada Incitatus, kuda tersebut diberikan kalung dari batu mulia  dan mengenakan jubah ungu. Kandangnya pun dibuat khusus di dalam istana, yang terbuat dari gading yang diukir.

Para sejarahwan menggambarkan Caligula sebagai seorang Kaisar yang gila, egois, pemarah, suka membunuh hanya untuk kesenangan, suka foya-foya dan terlalu sering melakukan seks.

Kesenangannya akan membunuh dan menyiksa adalah menggunakan gergaji, dan bahkan menggigit testis pria.

Pada bulan September 39 M Caligula berangkat ke Jerman, disertai dengan Prajurit Praetorian dan saudari-saudari perempuannya Julia Agrippina, Julia Livilla dan iparnya yang bernama Marcus Aemilius Lepidus (Suami dari Saudarinya Caligula yang bernama Drusilla yang telah meninggal). Misinya adalah untuk melanjutkan ekspansi ayahnya Germanicus saat di Rhine. Sebelum berangkat dia telah tahu bahwa Komandan tentara di Jerman, Cnaeus Cornelius Lentulus Gaetulicus, telah berkonspirasi untuk membunuhnya. Setibanya di Jerman tidak hanya Gaetulicus tetapi juga Lepidus juga dihukum mati oleh Caligula. Julia Agrippina dan Julia Livilla dibuang begitu saja dan harta benda mereka disita oleh Kaisar.

Kematian Caligula dan Keluarganya

Tanpa sepengetahuan Caligula ternyata masih ada konspirasi lain yang akan segera menghancurkan semua kegilaanya itu. Caligula tidak mengetahui konspirasi pembunuhan untuknya sedang direncanakan oleh pengawal Praetorian, Marcus Arrecinus Clemens. Untuk menghindari kecurigaan, mereka mengajak beberapa dari senator untuk ikut dalam komplotan. Salah seorang dari mereka bernama Cassius Chaerea, seorang petugas Praetorian bersedia untuk menjadi pengeksekusinya, yang memang menaruh dendam karena pernah diejek didepan umum oleh Caligula saat sidang senat, Chaerea dikatakan banci karena mempunyai suara yang kecil dan tidak mampu untuk mengumpulkan pajak.

Pada tanggal 24 Januari 41, Chaerea dan pengawal lainnya mendatangi Caligula yang sedang menangani kelompok pemuda bermain drama yang diadakan untuk memperingati leluhurnya Augusts. Chaerea langsung menusuk Caligula sebagai yang pertama, diikuti oleh sejumlah konspirator lain. Kematian Caligula sangat mirip dengan Julius Caesar, dia mendapatkan 30 kali tikaman oleh komplotan yang dipimpin oleh seorang pria bernama Cassius Chaerea.

Senat berusaha untuk menggunakan kematian Caligula sebagai kesempatan untuk mengembalikan Republik. Walau sedikit mendapat perlawanan dari pasukan Jerman yang setia pada Kaisar, isu perlawanan tersebut dihembuskan dari pihak keluarga Caligula. Merasa tidak nyaman dengan berlama-lama dengan dukungan Kaisar yang semakin meluas, yang menuntut agar pembunuh Caligula di bawa ke pengadilan. Maka para pembunuh Caligula mencari dan menikam istri Caligula yang keempat, bernama Caesonia, dan membunuh anak perempuan mereka, Julia Drusila, dengan cara menghancurkan kepalanya ke dinding. 

Sayangnya mereka tidak dapat menemukan paman Caligula, yang bernama Claudius, yang diam-diam keluar dari kota. Setelah Caludius diselamatkan seorang prajurit yang setia pada Kaisar, diapun pergi ke kamp Praetorian yang terdekat dan yang masih setia pada Kaisar. Claudius menjadi kaisar setelah mendapatkan dukungan dari Praetorian yang masih setia pada Kaisar dan memerintahkan eksekusi pada Chaerea dan setiap konspirator yang terlibat dalam kematian Caligula.

Tiberius

Tiberius adalah putra tiri Augustus - dia adalah putra dari istri Augustus, Livia, dari pernikahan pertama Livia. Dia lahir pada tahun 42 SM. Ayah Tiberius juga dipanggil Tiberius - namanya adalah Tiberius Nero, dan dia berasal dari keluarga Klaudius - sebuah keluarga yang sangat kaya dan berpengaruh. Ketika Tiberius berusia tiga tahun, ibunya, Livia, bercerai dengan Tiberius Nero dan menikahi Oktavianus, yang kemudian menjadi kaisar Augustus.

Ayah kandung Tiberius, yaitu Tiberius Nero, meninggal ketika Tiberius berusia sembilan tahun. Tiberius adalah orang yang memberikan pidato kematian pada pemakaman ayahnya, padahal ketika itu dia masih anak-anak. Ketika Tiberius beranjak dewasa, ayah tirinya Augustus mengirimnya dalam berbagai misi supaya dia memperoleh banyak pengalaman dalam pemerintahan, sehingga suatu hari ini dia akan dapat memerintah Romawi. Contohnya, Tiberius dikirim bersama saudaranya, Nero Klaudius Drusus, untuk berperang melawan suku-suku Jerman di Alpen, sebelah utara Italia.

Tiberius menikah sekitar tahun 20 SM dalam usia 22 tahun dengan Vipsania Agrippina, yang merupakan putri jenderal kesukaan Augustus yaitu Agrippa. Pada tahun 13 SM, Vipsania dan Tiberius memiliki seorang anak, yang diberi nama Yulius Caesar Drusus. Namun setelah saat-saat bahagia ini, kehidupan Tiberius menjadi lebih keras. Ketika Agrippa meninggal pada tahun 12 SM, Augustus memaksa Tiberius (yang berusia 30 tahun) untuk menceraikan Vispania dan menikahi janda Agrippa, Yulia Caesaris. Tiberius sebenarnya tak mau tapi tak kuasa menolak. Mereka menikah dan tidak memiliki anak. Augustus bahkan tidak mengizinkan Tiberius menemui Vispania lagi. Tidak lama setelah itu, pada tahun 9 sM, saudara Tiberius, Drusus, meninggal mendadak.

Karena selalu menuruti Augustus, Tiberius menjadi semakin dekat dengan ayah tirinya itu. Dia lebih sering bertempur bersama pasukan, dan dia memenangkan banyak pertempuran. Tapi dia tidak bahagia, dan pada tahun 6 SM ketika Tiberius berusia 36 tahun, dia melepas semua jabatannya dan menyatakan bahwa dia akan pindah ke pulau Rhodos (Rhodes) di Laut Aigea. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi terlibat dalam urusan politik.

Augustus kesal ketika Tiberius pindah ke Rhodos, karena ini artinya dia tidak memiliki putra lagi untuk meneruskan tahtanya. Augustus memang memiliki seorang putri bernama Yulia namun dia merasa bahwa seorang perempuan tidak layak memiliki kekuasaan. Augustus tidak mengizinkan Tiberius kembali ke Roma untuk mengunjungi ibunya, Livia, dan (menurut Takitus) Tiberius merasa bahwa Augustus bisa sewaktu-waktu mengirim tentara ke Rhodos untuk membunuhnya.

Pada akhirnya, Augustus tidak memiliki orang untuk meneruskan tahtanya jika dia meninggal. Akibatnya, Augustus terpaksa mengizinkan Tiberius kembali ke Roma lalu menjadikannya pewaris tahta. Tiberius sendiri kurang lebih setuju menjadi kaisar berikutnya. Augustus juga menyuruh Tiberius mengadopsi keponakannya Germanikus (anak dari saudara Tiberius, Drusus) sebagai penerus tahta Tiberius kelak, padahal Tiberius seudah memiliki putra. Ketika Augustus meninggal pada tahun 14 M, Senat mengangkat Tiberius, yang berusia 55 tahun, sebagai kaisar. Tiberius mengatakan bahwa terlalu tua dan tidak benar-benar ingin menjadi kaisar. Walau bagaimanapun, dia tetap menjadi kaisar.

Pada awalnya, Tiberius mendukung putra angkatnya Germanikus, seperti yang Augustus amanatkan, dan Germanicus sendiri sangat terkenal di antara rakyat, bahkan lebih terkenal daripada putra kandung Tiberius, Drusus. Namun Germanikus meninggal ketika sedang bertempur di Asia Barat pada tahun 19 M, ketika dia sekarat, dia menuduh sahabat Tiberius, Piso, sebagai pelaku pembunuhannya. Orang mengira bahwa jika Piso memang benar membunuh Germanicus, maka itu pasti karena perintah Tiberius. Walau bagaimanapun, tidak ada yang tahu hal yang sebenarnya. Pada akhirnya Piso bunuh diri dalam proses persidangan, sedangkan Tiberius sama sekali tak tersentuh.

Setelah Germanikus dan Piso meninggal, Tiberius semakin enggan untuk memerintah. Dia mulai membiarkan kepada penjaga istana, Seyanus, untuk menjalankan roda pemerintahan. Seyanus meyakinkan Tiberius (yang sudah berusia 60 tahun) bahwa semua orang membencinya dan berusaha membunuhnya, dan hanya Sejanus yang dapat melindunginya. Akhirnya pada tahun 23 SM, Seyanus meracuni putra Tiberius, Drusus, hingga meninggal, tentu saja tanpa sepengetahuan Tiberius. Seyanus ingin menjadi kaisar berikutnya.

Ketika Seyanus nampaknya akan menjadi kaisar berikutnya, Tiberius tiba-tiba membunuhnya. Tidak ada yang tahu kenapa, mungkin Tiberius akhirnya sadar bahwa Seyanus selama ini telah mengelabuinya, dan bahwa Seyanus membunuh Drusus. Setelah itu, Tiberius tidak peduli lagi dengan Romawi. Dia berusia 73 tahun, putranya sudah mati, dan kawan dekatnya mengkhianatinya. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya berdiam diri di pulau Kapri di Italia selatan, berenang dan membaca dan mendengarkan musik. Dia tidak mau menentukan siapa yang akan menggantikannya.

Pada masa inilah Yesus disalib di Yerusalem, tapi kemungkinan Tiberius juga tidak terlalu peduli. Tiberius meninggal pada tahun 37 M dalam usia 78 tahun. Dia meninggalkan Romawi kepada Kaligula, putra dari keponakannya, dan Tiberius Gemellus, cucunya.

Skandal Kehidupan Seksual Para Gladiator

Banyak gladiator kondang memiliki kehidupan seks penuh skandal. Mereka dipandang sangat menarik bagi para wanita, walaupun berstatus budak. Tapi, tidak semua gladiator berstatus budak. Misalnya Commodus yang lebih menikmati perannya sebagai gladiator daripada seorang kaisar.

Sebagaimana para penguasa pada zamannya, Commodus juga bergelimang seks pada waktu-waktu senggangnya. Orang tuanya, Faustina dan kaisar Marcus Aurelius, mengalami permasalahan dalam pernikahan karena seorang gladiator. Faustina sangat bernafsu kepada seorang gladiator tertentu dan memberitahu suaminya tentang hal ini.

Sang kaisar mengadu kepada seorang dukun yang memberikan cara penyelesaian tidak biasa, yaitu agar Faustina diperintahkan untuk melakukan seks dengan gladiator itu dan harus dibunuh ketika sedang berada di atas Faustina. Kemudian, ia wajib mandi bergelimang darah sang gladiator, membersihkan diri, dan kemudian melakukan seks dengan suaminya.

Antinous

Sabina dan Kaisar Hadrian menikah karena dijodohkan. Sang istri mengikuti suaminya mengelilingi Kekaisaran Romawi selama setahun lamanya. Sang kaisar tidur dengan begitu banyak wanita dan pria lain di luar pernikahan mereka, namun pasangan itu tetap saling menghargai.

Keadaan berubah ketika, pada sekitar ulang tahunnya ke 50, sang kaisar menemukan cinta sejatinya dalam diri Antinous, seorang remaja pria dari Bithynia. Keduanya menjadi tidak terpisahkan lagi dan sang istri tidak sudi terus menyaksikan pasangan itu. Pada perjalanan terakhir, mereka bertiga tiba di Mesir. Lalu, pada Oktober 130 M, remaja itu raib.

Hadrian sangat bersedih. Ia memerintahkan pencarian remaja itu, namun sia-sia. Dalam beberapa minggu sang kaisar mendewakan sang remaja dan mendirikan sebuah kota dengan namanya.

Dibuatlah ribuan patung Antinous dan diberlakukannya perintah pemujaan kepadanya di seluruh kekaisaran. Patung setengah badan Antinous masih ada hingga sekarang di museum-museum, walaupun kadang dikira Dionysus atau Ganymede. Beberapa tahun kemudian, Hadrian juga mengangkat Sabina sebagai dewi ketika sang istri meninggal dunia.

Kisah Skandal Penguasa Romawi dan Yunani Kuno

Pada zaman Yunani Kuno dan Romawi Kuno, masyarakat tidak terlalu asing dengan inforsmasi kehidupan seks penuh skandal oleh para tokoh penting dalam masyarakat. Misalnya, Raja William III dikabarkan lebih menyenangi pria dari pada wanita.

Sementara, Tsarina Katarina Agung dari Rusia disebut-sebut memiliki banyak kekasih dan ia disebut-sebut memberikan hadiah kepada mereka  setelah perselingkuhan usai  agar mau membantunya mencari pacar baru.

Genghis Khan konon  memiliki begitu banyak kekasih sehingga sekarang ini ada 16 juta orang keturunannya yang masih hidup.
Julius Caesar tak pilih-pilih  pria dan wanita. Para lawan politiknya mengistilahkan, "Dia adalah pria dambaan kaum wanita sekaligus wanita dambaan kaum pria."

Praktik Seks Saru Tiberius

Kaisar Tiberius yang berkuasa antara 4 hingga 37 M dipandang sebagai salah satu penguasa yang paling nyeleneh secara seksual.

Penulis biografinya, Suetonius, mengatakan bahwa, pada masa akhir hidupnya, sang kaisar membangun pusat pornografi bagi dirinya di kota Capri. Di sana, kaum muda terlibat dalam tindak tanduk seksual seru. Tiberius kadang menonton saja, kadang ikut serta.

Dalam kolam-kolam pemandian sang kaisar, kaum muda yang berendam bersama telah dilatih untuk memberi layanan seks oral di bawah air, sehingga sang kaisar gaek mengistilahkan mereka sebagai "ikan-ikan kecilku."

Spekulasi dan Kecurigaan

Bangsa Yunani dan Romawi bersikap acuh terhadap ketelanjangan dan mereka memuja bentuk tubuh manusia. Namun demikian, ketika seseorang meninggal, tubuh manusia itu tidak lagi memiliki daya tarik. Karena itu, pengetahuan mereka tentang anatomi rinci manusia hanya berdasarkan kepada spekulasi.

Sebagai contoh, ada suatu kepercayaan ganjil bahwa rahim yang berkelana dalam tubuh wanita dapat menyebabkan histeria. Untuk mengatasi hal ini, para tabib menggunakan bau busuk dan suara keras untuk menakuti rahim agar kembali ke tempatnya.

Ada juga kepercayaan yang ganjil tentang klitoris wanita. Suatu klitoris berukuran besar dianggap sebagai suatu kondisi medis yang memerlukan pembedahan. Berciuman di depan umum tidak dipandang sebagai sesuatu yang positif dalam lingkungan aristokrat Yunani dan Romawi. Walaupun begitu, para suami mencium istri mereka ketika pulang ke rumah pada malam hari, usai berpesta pora.

Ciuman itu bukan dengan maksud menyampaikan rasa sayang, tapi untuk mengetahui apakah sang wanita minum-minum ketika sang suami sedang di luar rumah. Ciuman sempat ditinggalkan ketika warga Romawi di Spanyol mulai menggosok gigi menggunakan cairan kencing manusia.

Kisah Seksual Zaman Kuno

Semua hal yang ada saat ini tidak terlepas dari peran sejarah, termasuk sejarah seksual. Nah, siapa sangka jika dunia yang penuh akan hukum saat ini pernah mengalami masa saat hubungan seksual menjadi hal yang diagungkan, bahkan ketika kesetiaan menjadi barang asing.

Ada hal aneh dan unik yang telah dilansir oleh publishersweekly.com tentang 7 Kisah Seksual Zaman Kuno Paling Aneh Di Dunia. Kisah-kisah berikut datang dari Bangsa Yunani, Romania, dan Mesir kuno yang memiliki kepercayaan erotisme yang mungkin jarang kita ketahui. Yuk, simak kisahnya.

1. Raja Tiberius (4-37 SM) merupakan raja dengan sejarah seksual yang rumit dengan tak terlalu dihormati. Pasalnya, semasa hidupnya ia telah membangun pusat porno di Capri untuk para muda-mudi mempertontonkan perilaku seksual, dan sang raja pun ikut andil. Bahkan, balita yang ada dilatih untuk ‘melayani’nya di dalam kolamnya.

2. Bangsa Yunani dan Roman sangat memuja bentuk manusia, terutama pantat, sehingga masing-masing punya cara pemujaan sendiri untuk memuja pantat. Nah, makanya telanjang menjadi sangat lumrah pada masa mereka.

3. Berciuman antara pria dan wanita di tempat umum bukan menjadi hal yang disukai para aristokrat Yunani dan Roman, bahkan untuk pasangan suami-istri.

4. Kisah Bangsa Sodom sudah bukan hal baru terkait awal mulanya anal sex. Mereka adalah bangsa yang menyukai sesama jenis dan melakukan hubungan seksual melalui anus, hingga sekarang menjadi istilah sodomi. Selain itu ada juga istilah Pedico yang merupakan sebuah bagian dari hukuman bagi bangsa Yunani, yakni pihak yang bersalah menjadi korban sodomi oleh pihak yang benar.

5. Ada kepercayaan yang menjadi pegangan para pria di Mesir kuno bahwa untuk tetap menjaga perawakannya, mereka harus berhati-hati dengan makanan mereka. Bangsa Yunani percaya bahwa ada selada yang cepat melemahkan ereksi, sedangkan di Mesir ditemukan jenis selada yang memberikan kekuatan dan semangat bagi mereka untuk melayani para wanita saat festival kesuburan untuk Dewanya.

6. Kehidupan seksual para gladiator tidaklah seburuk yang banyak orang pikirkan. Meskipun kebanyakan dari mereka diperbudak, namun sekumpulan wanita justru mendatanginya. Bahkan seorang pewaris tahta bernama Commodus yang juga seorang petarung memilih untuk menjadi gladiator ketimbang mengurus kerajaan karena dengan mudah berselingkuh. Namun, di titik jenuhnya akan hubungan seksual, ia baru menguranginya dengan memerintah kerajaan.

7. Pada zaman dahulu, baik pria maupun wanita sangat memuja poliseksual, bahkan tak selalu dengan berlawanan jenis. Hadrian, seorang raja yang sudah beristri Sabina juga dikisahkan kerap bermain dengan wanita dan pria lain. Namun, saat usia Hadrian mendekati 50, ia menyadari ia menemukan cinta sejatinya, Antinoos, yang masih belia. Namun pada suatu sore di bulan Oktober, Antinoos menghilang dan tak pernah kembali. Ia pun membuat ribuan patung Antinoos dan memerintahkan bangsanya untuk memujanya.

Dewa-dewi Yunani yang memiliki nafsu besar

Dewa-dewi Yunani yang memiliki nafsu besar ini mungkin belum Anda ketahui. Mitologi Yunani adalah hal yang menarik. Ada banyak sekali peristiwa dan pembunuhan didalamnya, seperti opera sabun historis besar. Dan dalam mitologi Yunani ini, ada beberapa dewa dan dewi yang ternyata, memiliki nafsu yang cukup besar.

Aphrodite dan Hermes Jumlah Anak : 5 (lima) orang, yaitu Tyche, Rhodos, Peitho, Eunomia, dan Hermaphroditus.

Aphrodite selalu disinonimkan dengan kesenangan seksual. Dari namanya saja, kita membuat istilah aphrodisiac, yang membuat dirinya sedikit… “liar.” Dewi ini seringkali dianggap sebagai dewi cinta, tetapi tentu saja, dirinya lebih terkenal dengan cinta dalam pandangan fisik. Meskipun dewi ini menikahi Hephaestus, ternyata semua anak yang dia miliki berasal dari hubungannya dengan Hermes.

Mnemosyne Jumlah Anak : 9 (sembilan) orang, yaitu Calliope, Clio, Erato, Euterpe, Melpomene, Polyhymnia, Terpsichore, Thalia, dan Urania.

Mnemosyne, salah satu titan, dikenal sebagai dewi memori. Dia dan Zeus memiliki hubungan gelap dan menghasilkan 9 Muse, seperti pada gambar diatas. Muse adalah dewa-dewi seni, yaitu yang menginspirasi seni, musik, puisi, dunia peran, dan juga tarian.

Erebus Jumlah Anak : 14 orang, yaitu Aether, Hemera, Momus, Ponos, Moros, Thanatos, Hypnos, The Hesperides, The Keres and Fates, Nemesis, Apate, Philotes, Geras, dan Eris.

Erebus adalah personifikasi dari kegelapan, dan anak dari Chaos. Dia dan saudara perempuannya, Nyx, berpacaran dan hubungan keduanya menghasilkan 14 anak, dan diantaranya yang cukup terkenal adalah Hypnos, dewa tidur, dan Eris, dewi perselisihan.

Zeus Jumlah Anak : 21 orang, yaitu Dionysus, Heracles, Ares, Hebe, Hephaestus, Calliope, Clio, Erato, Euterpe, Melpomene, Polyhymnia, Terpsichore, Thalia, Urania, Persephone, Peaches, Aphrodite, Apollo, Artemis, Hermes, dan Athena

Dewa ini menghasilkan paling tidak 21 anak dari 9 dewi berbeda. Diantaranya adalah saudara perempuan/istrinya, Hera, dan saudara lainnya, Dementer, dan juga bibinya, Mnemosyne. Zeus ini memang terkenal sebagai dewa yang paling cabul.

Oceanus dan Tethys, yang terlihat sebagai pasangan monogami dalam keluarganya, konon katanya menghasilkan tiga ratus anak perempuan yang dikenal sebagai Oceanid. Setiap Oceanid ditugaskan untuk menjadi awan, air, dan padang rumput. Dan dari tiga ratus ini, hanya ada seratus nama yang bisa ditemukan. Dan sepertinya, semua nama-nama anak dari pasangan ini tidak perlu dimasukkan kedalam artikel ini. Biarkan imajinasi Anda yang bermain untuk membayangkan pasangan ini.

Apr 3, 2017

Sadisme Sex Romawi

Sadisme dalam seks adalah perlakuan kasar dalam berhubungan seks untuk mendapatkan kepuasan seks, kelainan ini bisa terjadi pada pria maupun wanita. berikut ini adalah 5 nama bangsawan legenda pemuja seks disertai dengan kekerasan terhadap pasangannya..

Perilaku sadis di dalam hubungan seks sudah ada bahkan semenjak jaman romawi kuno. Sadisme berasal dari kata MARQUIS de SADE. Nama seorang bangsawan Perancis yang sangat terkenal memiliki cara memuaskan nafsu sex yang disertai dengan perbuatan kejam menyiksa wanita atau yang di gaulinya.

Marquis de Sade
Marquis de Sade menampari wajah, menggigit payudara, mencekik leher, membentur-benturkan kepala dari wanita teman kencannya. Dengan cara ini tentunya membuat wanita tersebut menjerit-jerit dan melolong-lolong kesakitan dengan darah yang bercucuran dan tubuh yang babak belur. Tidak jarang korban dari perilaku sadisme bangsawan tersebut meninggal dunia.

Kaisar Nero
Nero adalah kaisar kerajaan Romawi yang memiliki nafsu seks yang sadis.
Setiap kali Nero melakukan hubungan seks kerap diakhiri pembunuhan dengan mempergunakan cara yang unik dan keji, sementara itu ia pun memiliki kebiasaan menonton jalannya pembunuhan dengan gairah birahi yang meluap-luap. 

Salah satu “mata acaranya” yang terkenal ialah : Memasukan beberapa orang laki-laki dan wanita yang sudah ditelanjangi ke dalam sebuah gelanggang arena untuk dikorbankan kepada binatang-binatang buas seperti singa atau harimau ganas yang tengah kelaparan. Atau mereka di ikat di atas kereta, korban penyiksaan ini melolong kesakitan terseret kereta sampai mati dan tubuhnya hancur.

Kaisar Tiberius
kaisar ini hanya memperoleh kepuasan seksual apabila telah melihat wanita-wanita disiksa sampai merintih-rintih, menjerit-jerit, kesakitan. Tiberius terkenal dengan permainan cambuknya. Dia perintahkan wanita yang akan menjadi korban seksnya untuk bertelanjang bulat kemudian ia mencambuki wanita tersebut sekehendak hatinya, hal ini tentunya membuat wanita tersebut menjerit kesakitan dan lari pontang-panting tanpa boleh lari keluar ruangan. 

Setelah ia merasa puas mencambuki korbannya barula ia menerkam korbannya yang malang itu sebagai titik pemuas nafsu seksnya. Jelasnya, penyiksaan yang dilakukan Kaisar Tiberius itu hanya untuk memancing gairah seksualnya saja, karena dengan mendengar jeritan, rintihan dan tangis dari wanita yang disakitinya itu, gairah seksualnya timbul. Semakin hebat lolongan atau jeritan dari korbannya maka nafsu seksnya akan semakin tinggi.

Valeria Messalina
Valeria Messalina adalah anak perempuan dari konsul Marcus V dengan Messalina Barbatus. Dia menjadi permaisuri pertama dari kaisar Claudius di Roma. Ratu ini terkenal karena kelakuannya yang melewati batas dalam soal seks. 

Dia menyiksa dengan cara-cara antara lain: memasukan sebatang tongkat besar dan panjang sedalam-dalamnya kelobang anus laki-laki. Bila laki-laki itu telah menangis dan melolong-lolong kesakitan dan hampir pingsan karena perbuatannya itu, barulah gairah seks Ratu seks itu bangkit. 

Dia menghentikan siksaannya dan mencekoki obat perangsang ke mulut laki-laki tersebut. Setelah itu barulah Valleria siap dengan nafsu birahinya yang menyala-nyala. Dan Cuma kematian belaka yang menunggu para laki-laki yang pernah bermain seks dengan ratu tersebut. Mengapa? Karena apabila Ratu sudah bosan, maka Valerioa selalu perintahkan algojonya membunuh lelaki bekas pemuas seksnya.

Catharine de Medicis
Catharine de Medicis adalah seorang Ratu di Perancis pada abad lima belas. Dialah penganjur utama dalam pembunuhan besar-beasaran di Paris pada tanggal 23-24 Agustus 1512. Peristiwa itu terkenal dalam sejarah sebagai malam Bartholomeus. Yang menjadi korban adalah kaum Hugenoot. 

Catharina menikmati banjir darah sambil bermain seks dengan beberapa pria pemuas nafsu seksnya. Kegemaran lain dari ratu ini ialah memerintahklan dua orang laki-laki saling membunuh dengan pedang di tangan masing-masing dan dalam keadaan telanjang bulat.pemenangnya sudah tentu akan disantap oleh Cathrine de Medicis, sampai akhirnya ia bosan dan laki-laki yang jadi pemenang itupun harus merelakan lehernya dipancung oleh algojo Ratu tersebut.

Prostitusi Yunani Kuno

Prostitusi merupakan hal umum di Yunani kuno. Di kota-kota penting dan terutama di banyak pelabuhan, banyak orang bekerja dalam aktivitas ini dan prostitusi merupakan bagian penting dalam kegiatan ekonomi. Prostitusi di Yunani Kuno sama sekali bukanlah hal yang dianggap buruk maupun rahasia; kota-kota tidak melarang rumah bordil, namun hanya meregulasinya.

Di Athena, Solon, seorang anggota parlemen legendaris, dikenang karena telah mendirikan rumah-rumah pelacuran milik negara dengan harga yang diatur. Prostitusi meliputi kedua jenis kelamin berbeda: perempuan dari segala usia dan laki-laki muda menjadi pelacur untuk pelanggan yang didominasi laki-laki.

Prostitusi perempuan

Pada abad ke-4 SM, Pseudo-Demosthenes menyatakan di depan majelis warga negara, "kita harus memiliki pelacur untuk kesenangan, selir untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, dan pasangan kita untuk memberi kita anak-anak yang sah dan menjadi penjaga setia rumah kita" Ada perbedaan yang jelas antara kelas-kelas ini.

Secara bersamaan, hubungan di luar nikah dengan seorang wanita bebas dapat ditangani dengan sangat berat. Dalam kasus perzinahan, seorang suami, yang istriny berzinah, memiliki hak secara hukum untuk membunuh istrinya jika memergoki sang istri berzinah; hal yang sama berlaku untuk perkosaan. Pezinah, dan dengan perpanjangan, pelacur, dilarang menikah atauikut serta dalam upacara umum.[1] Rata-rata usia pernikahan adalah 30 untuk pria, sehingga para pemuda Athena tidak punya pilihan jika ia ingin melakukan hubungan seksual selain beralih ke budak atau pelacur.

Keberadaan pelacur perempuan untuk pelanggan perempuan tidak terdokumentasikan dengan baik. Ada catatan tentang ἑταιρίστριαι (hetairistriai, "pelayan perempuan") dalam dialog Plato, Simposion, dan wanita-wanita ini dikatakan "tidak memberikan kemewahan yang besar bagi laki-laki, mereka lebih cenderung diperuntukkan bagi perempuan."[2] Dapat diduga bahwa "pelayan perempuan" yang dimaksud di sini adalah pelacur-pelayan untuk pelanggan lesbian. Lukianos membahas praktik ini dalam Dialog Pelacur-nya  namun ada kemungkinan bahwa ia hanya menyinggung bagian Plato.

Pornai

Pelacur Yunani Kuno dibagi menjadi beberapa kategori. "Pornai" πόρναι adalah pelacur paling rendah. Mereka, seperti yang disinggung oleh etimologinya-kata ini berasal dari pernemi πέρνημι "menjual"- adalah milik dari πορνοβοσκός pornoboskós, atau germo, yang menerima sebagian dari pendapatan mereka. Pemilik ini bisa saja merupakan warga negara, karena kegiatan ini dianggap sebagai sumber pendapatan seperti yang lain: Seorang orator dari abad ke-4 SM orator menyebutkan dua; Theophrastos dalam Karakter  mendaftar germo disamping pemilik penginapan dan kolektor pajak sebagai profesi biasa. Pemilik pelacur jenis ini juga bisa saja seorang metoikos pria maupun wanita.

Pada era klasik Yunani kuno, pornai adalah budak yang berasal dari kaum barbar; sejak era Helenistik, pelacur jenis ini meliputi pula perempuan muda yang ditinggalkan oleh ayah mereka yang memiliki status warga negara. Mereka dianggap menjadi budak sampai terbukti sebaliknya. Pornai biasanya dipekerjakan di rumah bordil yang terletak di distrik "lampu merah" di setiap periode, seperti Piraeus (pelabuhan Athena) atau Kerameikos di Athena.

Negarawan Athena klasik Solon dikreditkan sebagai yang pertama untuk menciptakan lembaga pelacuran umum yang legal. Dia melakukan ini sebagai ukuran kesehatan masyarakat, mengandung perzinahan. Penyair Filemon memujinya karena ukuran ini dalam istilah berikut:

[Solon], melihat Athena penuh dengan laki-laki muda, dengan di antara sebuah insting yang memaksa, dan kebiasaan menyimpang ke arah yang tidak tepat, membeli perempuan dan mereka letakkan di berbagai tempat, dilengkapi dan terbuka untuk semua secara umum. Para wanita berdiri telanjang sehingga Anda tidak tertipu. Lihatlah segalanya. Mungkin Anda tidak merasa baik. Anda harus merasakan semacam rasa sakit. Mengapa? Pintu terbuka. Satu obol. Melompat masuk. Ada hal yang memalukan dan tidak, tidak ada omong kosong, juga dia tidak merebut dirinya pergi. Tapi secara langsung, sesuai dengan keinginannya, dengan cara apa pun yang Anda inginkan.

Anda keluar. Katakan padanya untuk pergi ke neraka. Dia adalah orang asing bagi Anda.
Sebagai usaha untuk menyoroti Filemon, rumah bordil Solonian memberikan layanan dapat diakses oleh semua, terlepas dari pendapatan. (Satu obolus adalah seperenam dari satu drachma, gaji harian pegawai negeri pada akhir abad ke-5 SM. Pada pertengahan abad ke-4 SM, gaji ini adalah sampai setengah drachma) Dalam cahaya yang sama, pajak Solon digunakan olehnya dan dikenakan pada rumah pelacuran untuk membangun kuil untuk Aphrodite Pandemos (secara harfiah "Aphrodite semua orang"). Bahkan jika keakuratan sejarah anekdot ini bisa diragukan, jelas bahwa di Athena klasik dianggap prostitusi menjadi bagian dari perusahaan demokrasi.

Berkenaan dengan harga, ada sindiran banyak untuk harga satu obolus untuk pelacur murah, tidak ragu lagi untuk tindakan dasar. Sulit untuk menilai apakah ini adalah harga yang sebenarnya atau sejumlah pepatah menunjuk sebuah "good deal".

Pelacur independen yang bekerja jalan berada di tingkat yang lebih tinggi. Selain langsung menampilkan pesona mereka kepada klien yang potensial, mereka meminta bantuan publisitas; sandal dengan sol yang ditandai telah ditemukan yang meninggalkan jejak yang menyatakan ΑΚΟΛΟΥΘΙ AKOLOUTHI ("Ikuti saya") di tanah. Mereka juga menggunakan riasan wajah, tampaknya sangat cukup. Eubulus, seorang penulis komik, menawarkan sebuah ejekan pelacur:

"diplester dengan lapisan timah putih, rahangnya diolesi dengan jus murbei. Dan jika Anda pergi keluar pada hari musim panas, dua aliran air akan mengalir seperti sungai tinta dari mata Anda, dan keringat mengalir dari pipi pada tenggorokan anda. membuat alur dengan warna merah terang, sementara rambut-rambut tertiup mengenai wajah Anda yang terlihat abu-abu, mereka begitu penuh dengan timah putih".

Pelacur ini memiliki berbagai asal-usul: perempuan Metic yang tidak bisa menemukan pekerjaan lain, janda miskin, dan pornai yang lebih tua yang telah berhasil membeli kembali kebebasan mereka (sering secara kredit). Di Athena mereka harus terdaftar di kota dan membayar pajak. Beberapa dari mereka membuat keberuntungan yang secara layak melindungi perdagangan mereka. Pada abad ke-1, pada Qift di Romawi Mesir, perjalanan bagi biaya pelacur sebesar 108 drachma, sementara wanita lain yang dibayarkan sebesar 20 drachma.

Tarif mereka sulit untuk diketahui: mereka bervariasi secara signifikan. Pada abad ke-4 SM, Theopompus menunjukkan bahwa pelacur dari tingkat kedua meminta permulaan dan pada abad ke-1 SM, filsuf Epicurean Filodemus dari Gadara, dikutip dalam antologi Palatine, V 126, menyebutkan sistem berlangganan hingga lima drachma untuk setiap kunjungan secara lusinan. Pada abad ke-2, Lucian dalam Dialog dari Hetaera memiliki Ampelis pelacur mempertimbangkan lima drachma per kunjungan sebagai suatu harga biasa-biasa saja . Dalam teks yang sama seorang perawan muda bisa menuntut Mina, yaitu 100 drachma , atau bahkan dua mina jika pelanggan lebih rendah dari selera mereka. Seorang pelacur muda dan cantik bisa menetapkan harga lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang lebih rendah, bahkan jika, sebagai ikonografi pada keramik menunjukkan, pasar tertentu ada selama wanita yang lebih tua. Harga akan berubah jika klien menuntut eksklusivitas. Pengaturan menengah juga ada; sekelompok teman-teman bisa membeli eksklusivitas, dengan memiliki hak setiap paruh waktu.

Musisi dan penari bekerja di perjamuan laki-laki juga dapat diragukan lagi ditempatkan dalam kategori ini. Aristoteles, dalam Konstitusi tentang orang Athena  menyebutkan antara petunjuk khusus untuk sepuluh pengendali kota (lima dari dalam kota dan lima dari Piraeus), ἀστυνόμοι astynomoi,, bahwa "merekalah yang mengawasi seruling anak perempuan dan kecapi-kecapi anak perempuan dan perempuan untuk mencegah biaya mereka menerima lebih dari dua drachma" per malam. Layanan seksual jelas-jelas bagian dari kontrak, meskipun harga, meskipun upaya astynomoi, cenderung meningkat sepanjang masa.

Hetaera


Hetaerae ini menemukan diri mereka di puncak hierarki. Berbeda dengan yang lain mereka tidak membatasi diri untuk menawarkan layanan seksual dan mereka tidak melakukan "pekerjaan yang dibayar menurut hasil yang dikerjakan"; hetaira ἑταίρα secara harfiah berarti "pendamping", gramatikal bentuk feminin dari hetairos, istilah-analog dengan Latin datang-yang menunjukkan seorang bangsawan misalnya di dasarnya seperti perangkat khusus di militer Alexander Agung. Dalam banyak hal sebanding dengan geisha Jepang, mereka memiliki pendidikan yang sangat cermat yang memungkinkan mereka untuk mengambil bagian dalam percakapan dengan pria yang berpendidikan. Seorang diri di antara semua wanita Yunani, kecuali Sparta, mereka mandiri dan bisa mengelola urusan mereka sendiri.

Aspasia, gundik Pericles adalah wanita paling terkenal dari abad ke-5 SM. Berasal dari Miletus ia diturunkan menjadi status Metic di Athena dan tertarik pada dirinya sendiri Sophocles, Phidias, Socrates dan pengikutnya. Menurut Plutarch dalam Kehidupan Pericles  "apa karya seni yang indah atau kekuasaan wanita ini sangat memiliki, bahwa ia berhasil karena ia senang orang-orang terkemuka dari negara, dan diberikan kesempatan oleh filsuf untuk membahasnya dalam hal ditinggikan dan panjang lebar."

Kita tahu nama-nama beberapa hetaerae tersebut. Selama periode klasik ada Theodota, sahabat Alcibiades, dengan siapa Socrates berbicara dalam Kenangan  Naeara, subjek wacana terkenal pseudo-Demosthene; Phryne, model untuk Aphrodite dari Knidos, pekerjaan dari Praxiteles, di antaranya dia nyonya tetapi juga pendamping dari orator Hypereides, yang membela dirinya terhadap tuduhan ketiadaan rasa hormat, dan Leontium, pendamping dari Epicurus dan dirinya sendiri seorang filsuf. Selama periode Helenistik seseorang dapat mengutip Pythionice, gundik Harpalus, (Alexander Agung bendahara), dan Thaïs, nyonya Alexander bagi dirinya dan Ptolemus I setelah dia.

Beberapa hetaerae ini sangat kaya. Xenophon menjelaskan Theodota sebagai dikelilingi oleh budak, berpakaian mewah dan tinggal di sebuah rumah besar. Beberapa membedakan diri melalui pengeluaran boros mereka; Rhodopis, para pelacur Thracian beremansipasi oleh saudara penyair Sappho, dikatakan telah dibedakan sendiri dengan memiliki piramida dibangun. Herodotus tidak percaya ini, tetapi menggambarkan sebuah prasasti sangat mahal didirikan oleh dia di Delphi . Biaya ini pelacur bervariasi, tetapi sangat jauh lebih tinggi daripada para pelacur umum. Menurut penggambaran hetaerae in Music Baru, harganya bervariasi dari 20 hingga 60 Minas untuk jumlah yang belum ditentukan hari. Dalam Menander yang penjilat , ada disebutkan tentang pelacur mendapatkan 3 mina per hari atau lebih, sebanyak 10 pornai bersama. Jika Aulus Gellius ini bisa dipercaya, pelacur dari era klasik dapat menghasilkan hingga 10.000 drachma per malam 

Prostitusi rahasia

Yunani tidak tahu prostitusi suci pada skala yang sama yang ada di Timur Dekat kuno. Kasus-kasus yang hanya diketahui berada di pinggiran dunia Yunani (di Sisilia, Siprus, di Kerajaan Pontus dan di Cappadocia), dan kota Korintus di mana kuil Aphrodite ditempatkan sejumlah besar pegawai setidaknya sejak era klasik . Pada 464 SM, seorang pria bernama Xenophon, warga negara Korintus yang merupakan seorang pelari terkenal dan pemenang pancalomba di Olimpiade, yang mendedikasikan seratus gadis-gadis muda ke rumah dewi sebagai tanda syukur. Kita tahu ini karena dari sebuah himne dimana Pindar ditugaskan untuk menulis , merayakan "gadis-gadis yang sangat ramah, hamba Peïtho dan Korintus mewah". Selama periode Romawi, Strabo menyatakan bahwa kuil memiliki lebih dari seribu budak suci-pelacur

Kasus Sparta

Dari semua kota-kota Yunani, hanya Sparta konon tidak pernah menampung porne apapun. Plutarch, dalam bukunya (Kehidupan Lycurgus, IX, 6) menjelaskan hal ini disebabkan tidak adanya logam mulia sebagai uang; Sparta menggunakan mata uang besi dimana tidak diterima di tempat lain. Mucikari dengan demikian tidak tertarik dalam membangun diri mereka di sana. Tidak ada jejak pelacuran umum ditemukan di Sparta selama era kuno dan klasik. Satu-satunya bukti bertentangan adalah bahwa dari sebuah vas dari abad ke-6 SM yang menunjukkan perempuan memainkan seruling aulos di pesta pria. Bisa jadi ini adalah tema ikonografi sederhana daripada penjelasan harfiah hidup Spartan pada periode tersebut. Kehadiran setan bersayap, buah-buahan, tanaman dan sebuah altar juga dapat menunjukkan bahwa ini bisa menjadi jamuan ritual yang diselenggarakan untuk menghormati dewa kesuburan seperti Artemis Orthia atau Apollo Hyacinthius.

Sparta Bagaimanapun memiliki hetaera selama era klasik. Atheneus ingat pelacur yang bersama dengannya Alcibiades bermalam selama pengasingannya di Sparta (415-414 SM). Xenophon menceritakan pada Conspiracy of Cinadon menyatakan bahwa mereka akan menggunakan dalih menangkap "wanita yang dikatakan wanita paling indah di Aulon dan dianggap merusak Lacedaemonians yang datang ke sana, tua dan muda sama Mungkin hal ini merujuk kepada hetaera.

Dari setidaknya 3 abad SM karena jumlah besar mata uang asing yang beredar di Laconia, Sparta mulai meniru seluruh kota-kota Yunani. Selama periode Helenistik Polemon dari Ilion menjelaskan dalam Penawaran untuk Lacedemonia, yang dikutip oleh Atheneus, potret hetaerea pada Cottina dirayakan dan sapi perunggu yang dia dedikasikan untuk dirinya. Ia menambahkan bahwa ia menunjukkan rumah bordilnya, sebagai rasa ingin tahu, yang masih berdiri di dekat kuil Dionysus.

Kondisi sosial

Patung kuno wanita tua mabuk memegang kendi anggur, abad 2 SM, Munich, Glyptothek.
Kondisi sosial pelacur sulit untuk diketahui, sebagai perempuan, mereka sudah terpinggirkan dalam masyarakat Yunani. Kami tahu tidak ada bukti langsung dari salah satu kehidupan mereka atau rumah bordil di mana mereka bekerja. Sangat mungkin bahwa rumah bordil Yunani yang mirip dengan Roma, yang digambarkan oleh penulis banyak dan diawetkan di Pompei; gelap, tempat yang sempit, dan berbau busuk. Salah satu istilah bahasa gaul banyak pelacur adalah khamaitypếs (χαμαιτυπής), secara harfiah "orang yang menyentuh tanah", menunjukkan dengan ini bahwa tindakan seks terjadi secara langsung di suatu lapangan.

Penulis tertentu memiliki pelacur berbicara tentang diri mereka sendiri: Lucian dalam Dialog tentang pelacur atau Alciphron dalam koleksi surat; tetapi ini adalah karya fiksi. Para pelacur yang menjadi perhatian di sini adalah baik independen atau hetaera: sumber-sumber di sini tidak menyibukkan diri dengan situasi budak pelacur, kecuali untuk mempertimbangkan mereka sebagai sumber keuntungan. Hal ini sangat jelas apa pria Yunani kuno berpikir tentang pelacur: terutama, mereka mencela untuk sifat komersial dari aktivitas. Keserakahan pelacur adalah tema berjalan di komedi Yunani. Fakta bahwa pelacur adalah satu-satunya wanita Athena yang menangani uang cenderung meningkat kepahitan pria. Penjelasan untuk perilaku mereka adalah bahwa karier seorang pelacur yang cenderung pendek, dan pendapatan mereka menurun dengan berlalunya waktu: seorang pelacur muda dan cantik, di semua tingkatan perdagangan, bisa mendapatkan uang lebih dari yang lebih tua, kolega kurang menarik. Untuk menyediakan untuk hari tua, mereka dengan demikian harus mendapatkan uang sebanyak mungkin dalam jangka waktu terbatas.

Risalah medis memberikan sekilas-tetapi sangat parsial dan tidak lengkap kedalam kehidupan sehari-hari pelacur. Agar menghasilkan pendapatan, budak-pelacur harus menghindari kehamilan di biaya apapun. Teknik kontrasepsi digunakan oleh orang Yunani tidak juga dikenal sebagai orang-orang Romawi. Namun demikian, dalam risalah dikaitkan dengan Hippocrates , ia menjelaskan secara rinci kasus penari "yang memiliki kebiasaan pergi dengan laki-laki"; ia menganjurkan agar dia "melompat-lompat, menyentuh pantatnya dengan tumitnya pada lompatan masing-masing "untuk menjatuhkan sperma, dan dengan demikian menghindari risiko. Hal ini juga tampaknya mungkin bahwa pornai memiliki jalan lain untuk aborsi atau pembunuhan bayi Dalam kasus pelacur independen situasi yang kurang jelas;. Gadis setelah semua bisa dilatih "pada pekerjaan", menggantikan ibu mereka dan mendukung mereka di usia tua.

Gerabah Yunani juga memberikan wawasan tentang kehidupan sehari-hari pelacur. Keterwakilan mereka umumnya dapat dikelompokkan menjadi empat kategori: adegan perjamuan, kegiatan seksual, adegan toilet dan adegan yang menggambarkan penganiayaan. Dalam adegan toilet pelacur sering memiliki kurang dari tubuh yang sempurna; payudara kendur, gulungan daging, dll Ada Kylix menampilkan pelacur buang air kecil ke pispot. Dalam representasi dari tindakan seksual, kehadiran pelacur sering ditunjukkan dengan tas, yang menggarisbawahi sifat keuangan hubungan. Posisi yang paling sering ditampilkan adalah lompatan-atau sodomi; dua posisi yang sulit untuk membedakan secara visual. Wanita itu sering dilipat dua dengan tangan rata dengan tanah. Sodomi dianggap merendahkan untuk orang dewasa dan tampaknya posisi lompatan (yang bertentangan dengan posisi misionaris) dianggap kurang memuaskan untuk wanita. Akhirnya, sejumlah vas mewakili adegan kekerasan, di mana pelacur diancam dengan tongkat atau sandal, dan dipaksa untuk melakukan tindakan yang dianggap oleh orang Yunani untuk merendahkan: fellatio, sodomi atau hubungan seks dengan dua mitra.

Jika hetaera adalah tak dapat disangkal wanita yang paling dibebaskan di Yunani, juga perlu dikatakan bahwa banyak dari mereka memiliki keinginan untuk menjadi terhormat dan menemukan suami atau pendamping stabil. Naeara, yang kariernya dijelaskan dalam wacana hukum, berhasil membesarkan tiga anak sebelum masa lalunya sebagai seorang hetaera bisa menangkap sampai padanya. Menurut sumber, Aspasia dipilih sebagai selir atau mungkin pasangan oleh Pericles. Atheneus menyatakan bahwa "Untuk saat perempuan tersebut berubah menjadi ketenangan hidup mereka lebih baik daripada para wanita yang membanggakan diri kehormatan mereka" dan mengutip banyak pria besar Yunani yang lahir dari warga negara dan seorang pelacur, seperti Timotius Strategos, anak Conon. Akhirnya, tidak ada contoh yang diketahui seorang wanita dari kelas warga negara secara sukarela menjadi sebuah hetaera.

Prostitusi dalam literatur 

Patung Pelacur dari Komedi Baru, nomor 39 dari daftar Julius Pollux , dari abad ke-3 atau ke-2 SM, Louvre.
Selama masa Komedi Baru (komedi Yunani kuno), menjadi karakter pelacur, dengan gaya budak, bintang sesungguhnya dari acara komedi. Ini bisa jadi karena beberapa alasan: sementara Komedi Lama (dari komedi Yunani kuno) yang bersangkutan itu sendiri dengan subyek politik, Komedi Baru ditangani dengan pelajaran pribadi dan kehidupan sehari-hari orang Athena. Selain itu, konvensi sosial melarang wanita yang terlahir baik-baik terlihat di depan umum, sedangkan drama digambarkan di luar kegiatan. Para wanita yang biasanya hanya akan terlihat di jalan secara logis adalah para pelacur.

Intrik-intrik dari Komedi Baru sehingga pelacur sering dilibatkan. Ovid, dalam Amores nya, menyatakan "Budak merupakan omong kosong yang salah, Ayah yang sangat keras, dan Bauds menjadi whorish, Sementara wanita-wanita pelacur sangat datar, Menander seharusnya berkembang." Pelacur bisa menjadi teman gadis muda dari bintang muda pertama: dalam hal ini, bebas dan berbudi luhur, ia direduksi menjadi prostitusi setelah ditinggalkan atau ditangkap oleh bajak laut (misalnya Menander dari Sikyonioi). Diakui oleh orang tua kandungnya karena pernak-pernik pergi dengan dia, dia dibebaskan dan bisa menikah. Dalam peran sekunder, dia juga bisa menjadi bunga cinta aktor pembantu itu. Menander juga menciptakan, pertentangan dengan citra tradisional dari pelacur serakah, bagian dari "pelacur dengan hati emas" di Dyskolos, dimana ini memungkinkan kesimpulan yang senang bermain.

Sebaliknya, dalam dunia utopis orang Yunani, sering ada tempat bagi pelacur. Dalam drama Assemblywomen Aristophanes, pahlawan wanita Praxagora secara resmi melarang mereka dari kota yang ideal:

Mengapa, tidak diragukan lagi! Selain itu, saya mengusulkan penghapusan pelacur ... sehingga, bukan mereka, kita mungkin memiliki buah sulung dari orang-orang muda. Hal ini tidak memenuhi yang ditipu-keluar budak harus merampok gratis kelahiran wanita kesenangan mereka. Biarkan pelacur bebas untuk tidur dengan budak."

Para pelacur yang tentunya dianggap sebagai persaingan tidak sehat. Dalam sebuah genre yang berbeda, Plato, dalam Republik, melarang pelacur Korintus dengan cara yang sama sebagai kue kering Attican, baik dituduh memperkenalkan kemewahan dan perpecahan ke dalam kota yang ideal. Para krat yang sinis dari Thebes, (dikutip oleh Diodorus Siculus, II, 55-60) selama periode Helenistik menggambarkan sebuah kota utopis di mana, mengikuti contoh Plato, pelacuran juga dibuang.

Prostitusi pria

Orang Yunani juga memiliki banyak sekali pelacur laki-laki; πόρνοι pórnoi. Beberapa dari mereka ditujukan pada klien perempuan: keberadaan gigolo dikonfirmasi di era klasik. Dengan demikian, dalam Aristophanes di Plutus  seorang wanita tua mengeluh tentang setelah menghabiskan semua uangnya pada kekasih muda yang kini meninggalkannya. Sebagian besar pelacur laki-laki, bagaimanapun, juga ditujukan untuk pelanggan laki-laki.

Prostitusi dan perjantanan

Bertentangan dengan prostitusi perempuan, yang mencakup semua kelompok umur, prostitusi laki-laki pada hakikatnya terbatas pada remaja. Pseudo-Lucian, pada karyanya yaitu Hubungan Cinta dari Hati  secara tegas menyatakan:

Jadi dari perawan sampai usia pertengahan, sebelum waktu ketika keriput yang terakhir muncul di usia tua akhirnya tersebar di wajahnya, seorang wanita adalah setumpuk hal yang menyenangkan bagi seorang pria untuk dipeluk, dan bahkan jika keindahan utamanya adalah masa lalu, namun "Dengan pengalaman lidah yang lebih bijaksana adakah berbicara lebih mungkin dengan seorang anak muda." Tapi orang yang sangat yang harus membuat upaya pada anak laki-laki dua puluh tampaknya saya menjadi tidak wajar dan dengan penuh nafsu mengejar cinta samar-samar. Untuk kemudian anggota tubunya, menjadi besar dan jantan, keras, dagu yang dulu lembut yang kemudian menjadi kasar dan ditutupi dengan bulu, dan pahanya berkembang dengan baik adalah karena telah dinodai dengan rambut."

Periode di mana remaja dinilai sebagai yang diinginkan diperpanjang dari masa pubertas sampai munculnya jenggot, para pemuda yang mulai ditumbuhi rambut menjadi objek kasih yang ditandai di antara orang Yunani. Dengan demikian, ada banyak kasus laki-laki menjaga anak laki-laki yang lebih tua sebagai pecinta, tetapi dengan menghilangkan rambut mereka. Namun, anak-anak ini terus yang dipandang rendah, dan jika hal tersebut muncul ke perhatian publik mereka tidak diberi hak kewarganegaraan pada masa yang akan datang pada saat masa dewasa mereka. Dalam salah satu wacana (Against Timarkhos, I, 745), Aeschines berpendapat terhadap satu orang seperti itu di pengadilan, yang pada masa mudanya pernah menjadi pendamping terkenal.

Seperti rekan wanitanya, prostitusi laki-laki di Yunani bukan objek skandal. Rumah bordil untuk budak anak laki-laki ada secara terbuka, tidak hanya di "distrik lampu merah" dari Piraeus, Kerameikon, atau Lycabettus, tetapi di seluruh kota. Yang paling terkenal di antara pelacur muda mungkin adalah Phaedo dari Elis. Dikurangi dengan perbudakan selama penangkapan di kotanya, ia dikirim untuk bekerja di rumah bordil sampai diperhatikan oleh Socrates, yang memiliki kebebasannya dengan membelinya. Pemuda itu menjadi pengikut Socrates dan memberikan namanya menjadi dialog Phaedo, yang terkait dengan jam-jam terakhir Socrates. Pria tidak dibebaskan dari pajak kota kepada pelacur. Klien seperti itu rumah bordil tidak menerima penolakan baik dari pengadilan atau dari opini publik.

Prostitusi dan kewarganegaraan
Keberadaan prostitusi laki-laki dalam skala besar menunjukkan bahwa perjantanan tidak terbatas pada kelas sosial tunggal. Jika beberapa bagian dari masyarakat tidak punya waktu atau sarana untuk mempraktikkan ritual aristokrat yang saling berhubungan (spectating di gimnasium, masa pacaran, saling menghadiahi), mereka semua bisa memenuhi keinginan mereka dengan pelacur. Anak-anak laki-laki juga menerima perlindungan hukum yang sama dari serangan seperti rekan-rekan perempuan mereka.

Hubungan seksual dengan budak tidak tampak telah menjadi pilihan luas; Penyebutan pertama tidak terjadi sampai 390 SM. Alasan lain untuk beralih ke pelacur adalah tindakan seksual yang tabu seperti: fellatio dianggap merendahkan oleh orang Yunani. Karena itu, dalam hubungan perjantanan, erastes (kekasih dewasa) tidak dibenarkan meminta seorang warga negara pada masa yang akan datang eromenos (kekasih muda) untuk melakukan tindakan ini, dan harus mengambil jalan dengan seorang pelacur.

Akibatnya, meskipun pelacuran itu sah, secara sosial itu memalukan. Itu umumnya domain dari budak atau yang lebih umum adalah bukan warga negara. Di Athena, untuk warga negara, hal itu memiliki konsekuensi politik yang signifikan, seperti atimia (ἀτιμία); hilangnya hak-hak sipil publik. Hal ini ditunjukkan dalam Penuntutan Timarkhos: Aeschines dituduh oleh Timarkhos, untuk membela diri, Aeschines menuduh penuduhnya telah menjadi pelacur pada masa mudanya. Konsekuensinya, Timarkhos dilucuti hak-hak sipilnya, salah satunya hak untuk memiliki kemampuan untuk mengajukan tuntutan terhadap seseorang. Sebaliknya, melacurkan seorang remaja, atau menawarkan dia uang untuk kenikmatan, itu dilarang keras karena bisa menyebabkan hilangnya masa depan kaum muda yang berkaitan dengan status hukum mereka.

Alasan Yunani dijelaskan oleh Aeschines (bait 29), saat ia mengutip dokimasia (δοκιμασία): warga negara yang dilacurkan oleh dirinya sendiri (πεπορνευμένος peporneuménos) atau menyebabkan dirinya menjadi begitu dipelihara (ἡταιρηκώς hētairēkós) telah kehilangan hak untuk membuat pernyataan publik karena "dia yang telah menjual tubuhnya sendiri untuk kesenangan orang lain (ἐφ’ ὕβρει eph’ hybrei) tidak akan ragu untuk menjual kepentingan masyarakat secara keseluruhan." Menurut Polybius , tuduhan terhadap Timaeus Agathocles memerankan tema yang sama: seorang pelacur adalah seseorang yang kehilangan martabat mereka sendiri untuk keinginan lain, "pelacur umumnya (κοινὸν πόρνον koinòn pórnon) yang tersedia untuk paling bermoral, seekor gagak, seekor burung pemakan bangkai menghadirkan sesuatu di baliknya untuk siapapun yang menginginkannya."

Biaya-biaya 

Seperti pelacur perempuan, biaya sangat bervariasi. Athenaeus menyebutkan seorang anak yang menawarkan kenikmatannya untuk satu obolus; lagi, biasa-biasa saja dari harga ini menyebutnya ke dalam keraguan beberapa. Straton Sardis, seorang penulis karya sindirannya pada abad ke-2, mengingat transaksi sebesar lima drachma . Surat pseudo-Aeschines memperkirakan pendapatan satu Melanopous sebesar 3.000 drachma; mungkin sepanjang kariernya.

Kategori-kategori prostitusi laki-laki harus dapat diperoleh kembali; Aeschines, dalam Penuntutan Timarkhos (bait 29, lihat di atas) membedakan antara pelacur dan anak laki-laki yang disimpan. Dia menambahkan sedikit kemudian (bait 51-52) bahwa jika Timarkhos merasa puas untuk tinggal dengan pelindung pertama, perilakunya akan berkurang tercelanya. Bukan hanya itu Timarkhos meninggalkan orang ini yang tidak lagi memiliki dana untuk mendukung dia tetapi bahwa ia telah 'mengumpulkan' pelindung; membuktikan, menurut Aeschines, bahwa dia bukan anak yang disimpan (hêtairêkôs), tetapi pelacur vulgar (peporneumenos).

Menjadi Istri di Zaman Yunani Kuno

Ladies, zaman Yunani kuno dikenal sebagai zaman dengan peradaban yang tinggi. Akan tetapi, pada zaman ini dominasi laki-laki juga terkenal sangat luar biasa. Tidak hanya mendominasi kepemilikan harta dan budak, laki-laki juga mendominasi kepemilikan akan wanita.

Wanita pada zaman Yunani kuno memang tidak berhak memiliki apa pun. Dilansir dalam situs bigeye.com, pendidikan pada masa itu hanya diperuntukkan unuk anak laki-laki. Anak laki-laki Yunani kuno akan dikirim untuk belajar di sekolah-sekolah, tetapi anak perempuan harus tetap tinggal di rumah. Mereka tidak berhak untuk belajar membaca atau menulis.

Dalam pernikahan, ayah seorang wanita harus membayar mahar untuk lelaki yang ingin memperistri anak perempuannya. Semenjak saat itu pula, wanita menjadi properti yang dimiliki suaminya.

Wanita di Athena biasanya menikah pada usia empat belas hingga lima belas tahun, sedangkan wanita Sparta harus menunggu hingga berusia delapan belas tahun. Wanita Sparta secara umum memang lebih dihormati, tetapi wanita-wanita Yunani kuno lainnya biasanya memiliki status yang rendah dalam masyarakat.

Ladies, wanita Yunani kuno yang sudah menikah tidak boleh berjalan sendiri di jalanan, tetapi mereka harus selalu didampingi seorang budak atau penjaga. Seorang istri juga tidak boleh masuk dalam tempat-tempat hiburan, walaupun ia sedang bersama suaminya. Sebagai properti suami, para istri biasanya dikunci sendirian di rumah ketika suaminya pergi.

Wanita Yunani kuno yang terhormat harus tetap menutup tubuhnya. Bahkan dalam gambaran karya seni Yunani kuno, wanita yang sedang bercinta dengan suaminya tetap berpakaian walaupun suaminya digambarkan telanjang. Tugas utama seorang istri pada zaman itu adalah melahirkan dan membesarkan anak. Sayangnya ladies, orang-orang Yunani kuno lebih mendambakan anak laki-laki daripada perempuan. Hal ini mengakibatkan banyak bayi perempuan dibunuh sesaat setelah dilahirkan atau dijual ke rumah-rumah bordil untuk dijadikan wanita penghibur saat mereka besar.

Menjadi istri lelaki Yunani kuno memang tidak mudah. Di rumah mereka sendiri, para istri seringkali harus berebut mendapatkan suaminya dengan gundik, budak, atau para wanita penghibur. Kekerasan terhadap istri sudah umum terjadi, bahkan beberapa suami juga tega membunuh istri-istrinya. Dan tahukah, ladies, karena gadis-gadis dipaksa menikah di usia sangat muda, kematian istri-istri di usia muda juga sering terjadi. Rupanya sudah menjadi doktrin pada saat itu, jika gadis-gadis yang mati muda karena melahirkan disebut martir.

Pesta Seks Equinox, Kebiasaan 'Mesum Berbagi Istri

Peradaban Romawi Kuno yang meninggalkan banyak warisan di bidang hukum, perang, seni, literatur, arsitektur, dan bahasa untuk kehidupan modern. Tak hanya sibuk menaklukkan wilayah lain atau membangun peradaban, orang Romawi Kuno ternyata banyak menghabiskan waktu di tempat tidur untuk berhubungan seksual. Para pria digambarkan mengumbar kejantanan dan keperkasaan. Sementara, kaum hawa sibuk mengandung serta merawat anak-anak yang kelak akan memenuhi kebutuhan akan tenaga tentara hingga pekerja.

Perilaku dan sikap seksual orang-orang Romawi, juga Yunani Kuno, terindikasi lewat seni, sastra juga peninggalan arkeologi seperti artefak yang erotis dan arsitektur.

Berikut enam kebiasaan pada masa lalu yang dianggap mesum pada saat ini, seperti dikutip dari Listverse

1. Bentuk Kelamin Bertebaran di Pompeii

Pompei hancur akibat letusan Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Ironisnya, abu panas yang dimuntahkan gunung tersebut mengabadikan saat-saat terakhir apapun yang ada di kota kuno Romawi itu.
Ekskavasi yang diawali pada akhir Abad ke-16 menemukan jasad-jasad manusia yang berubah jadi 'batu'. Pun dengan lanskap kota -- bangunan, simbol-simbol misterius, rumah-rumah mewah para bangsawan, roti yang masih tergeletak dalam oven, juga tempat pelacuran yang dipenuhi fresko erotis serta patung-patung mesum. Temuan tersebut membuat Pompeii dijuluki 'kota maksiat'. Diperkirakan ada 40 rumah bordil di seantero Pompeii. Paling terkenal adalah Lupanare Grande atau 'rumah kenikmatan'. Kamar-kamar di sana kecil dan remang-remang, dengan kasur jerami kecil.

Lukisan dinding atau fresko erotis bertebaran di kamar maupun rumah pelacuran.

Para arkeolog harus berhati-hati untuk menentukan lokasi prostitusi dengan bangunan biasa. Sebab, phallus atau bentuk kelamin jantan adalah dekorasi yang umum di kota kuno itu. Perlambang keberuntungan. Simbol itu dilukis di mana pun. Di rumah, jalanan, juga pasar.

2. Berbagi Istri

Peradaban Etruscan berasimilasi ke dalam Republik Romawi pada abad keempat Sebelum Masehi. Meski demikian, budaya dan kebiasaan mereka masih dipertahankan. Para perempuan Etruscan dikenal untuk sikap bebas mereka terkait hubungan seksual dan ketelanjangan. Mereka menjaga tubuh mereka dalam kondisi sebaik mungkin, tak jarang berkeliling tanpa busana, dan menikmati kenikmatan dari pria mana pun yang datang. Perkawinan adalah konstruksi longgar. Bukan hal luar biasa ketika seorang anak sama sekali tak tahu siapa sebenarnya ayah mereka.

3. Karnaval Liar

Menurut Mikhail Bakhtin, filsuf dan sarjana sastra asal Rusia, karnaval (carnival) pada masa lalu adalah sebuah momentum kebebasan -- dalam arti sebebas-bebasnya. Kala itu, pembagian kelas dalam masyarakat, rasa hormat, dan sensitivitas dibuang jauh-jauh. Juga dilarang untuk berkata 'tidak'. Pesta pora digelar, makanan dan wine berlimpah dihidangkan. Orang-orang saling bersendau gurau dan bebas berhubungan seksual. Arthur Edward Waite, dalam bukunya, A New Encyclopedia of Freemasonry mengatakan, "Festival berarti pesta seks dan minuman anggur." Ritual karnival bisa dilacak hingga abad kelima Sebelum Masehi, yang digelar di tengah equinox musim semi. Tak mengherankan jika festival yang disebut The Dionysian Mysteries dipersembahkan untuk Dionisos -- dewa arak dan selalu diasosiasikan sebagai dewa pesta.

4. Dewa Priapus dan Viagra

Di beberapa kota kuno Romawi, ada kebiasaan memasang gambar dan patung dewa Priapus dengan penis menegang di taman-taman guna memperingatkan penerobos. Sang dewa dipercaya mengutuk para penerobos dengan hukuman seksual yang ganas. Sejumlah puisi penghormatan dewa itu masih ada hingga sekarang. Salah satunya memperingatkan, "Jika seorang wanita atau pria melakukan kejahatan melawan aku (Pripaus), sang wanita harus menyerahkan lubang kelaminnya kepadaku, pria memberikan mulutnya, dan bocah lelaki menyerahkan bokongnya." Nama dewa ini masih dipakai dalam dunia kedokteran untuk menjelaskan suatu kelainan yang dikenal sebagai Priapisme. Dalam gangguan yang jarang ini, penis tetap menegang dan tidak bisa kembali ke keadaan lunglai, walaupun sedang tidak ada rangsangan.

5. Seks Demi Perdamaian Dunia

Aristophanes, dianggap salah satu dramawan komik paling terkenal pada masa Yunani Kuno. Ia dikenal dengan komentar yang menyindir tentang situasi sosial dan politik di Athena selama Abad ke-5 dan awal Abad ke-4 Sebelum Masehi. Dalam sebuah drama, Lysistrata, Aristophanes memparodikan perang yang diwarnai pertempuran seks. Para perempuan memanfaatkan nafsu para laki-laki, untuk perdamaian antara Athena dan Spartan. Menurutnya, para perempuan berpendapat, para pria sudah melupakan 'signifikansi transendental' seks -- karena keras sikap kepala mereka dan terlalu fokus soal hal-hal yang lebih sepele, seperti perang. Pada akhirnya, 'Perdamaian' muncul ke hadapan para pria, sebagai perempuan muda telanjang yang mengingatkan orang-orang tentang keinginan seksual mereka 'untuk membajak beberapa alur' dan 'memberi banyak pupuk'. Pada akhirnya, masyarakat menyadari kebutuhan seksual mereka dan meninggalkan perang.

6. Kama Sutra ala Romawi Kuno

Ovid (43 SM–17 Masehi ) adalah seorang penyair Romawi Kuno. Ia menghasilkan sejumlah karya seperti 'Amores' (Cinta), 'Medicamina Faciei', 'Remedia Amoris' dan yang paling terkenal adalah 'Ars Amatoria' -- Seni Bercinta.  Ars Amatoria adalah panduan bagi para pecinta, juga pezinah. Ovid juga menciptakan sejumlah permainan yang membingungkan baik pria maupun wanita -- bahkan pada zaman modern.  Ia menyarankan para pria untuk membiarkan wanita merindukan mereka -- tapi jangan terlalu berlebihan. 

Ovid juga menyarankan agar para perempuan membuat prianya cemburu agar mereka tak malas. Ovid secara rinci mengimbau agar para perempuan tak memaksimalkan kenikmatan untuk dirinya sendiri, tapi juga membuat diri mereka paling memikat di pandangan pria. Dalam sebuah bagian, sang penyair berubah gagasan dari menyebut perempuan sebagai barang milik -- jadi pemain yang setara dalam permainan cinta. Di sisi lain, ia mengimbau kaum hawa untuk memperkuat taktik manipulatif agar sang kekasih terus bertekuk lutut.