Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Apr 3, 2018

Peradaban Kuno Tertua

Delapan peradaban kuno yang banyak diadopsi dalam perkembangan budaya masyarakat sekarang ini. Apa sajakah delapan peradaban tersebut : 

Maya

Peradaban Maya kuno berkembang di Amerika Tengah dari sekitar 2600 SM. Setelah peradaban didirikan, Maya menjadi salah satu peradaban paling canggih dengan populasi besar sekitar 19 juta pada puncaknya. Pada 700 SM, bangsa Maya sudah merancang sendiri penulisan yang mereka gunakan untuk membuat kalender surya mereka sendiri yang diukir di batu.

Mesir

Mesir kuno dikenal karena budayanya yang luar biasa yakni piramida dan sphinx menjadi bukti kemajuan mereka. Peradaban Firaun yang megah ini berada di tepi Sungai Nil. Peradaban Mesir bersatu sekitar 3150 SM (menurut kronologi Mesir konvensional). Meskipun demikian telah ada pemukiman awal di sekitar lembah Nil pada awal 3500 SM.

Yunani

Yunani bukanlah peradaban tertua di dunia, tetapi menjadi salah satu peradaban paling berpengaruh di dunia. Periode peradaban Yunani kuno telah banyak mengundang banyak perhatian. Orang-orang Yunani menciptakan Olimpiade kuno, konsep demokrasi dan senat. Mereka menciptakan dasar modern geometri, biologi, fisika dan lainnya.

Mesopotamia

Mesopotamia dianggap merupakan peradaban tertua di muka bumi sejak evolusi manusia. Mesopotamia kuno berlangsung sekitar 3.300 SM - 750 SM. Mesopotamia umumnya dikreditkan menjadi tempat pertama dimana masyarakat beradab benar-benar mulai terbentuk.Mereka hidup makmur di wilayah yang sekarang disebut Irak modern. Peradaban Mesopotamia kemudian dikenal sebagai Babilonia, Sumeria dan Asyur.

China

Kekaisaran China Kuno dikenal sebagai Han dimana dinasti ini memiliki sejarah paling beragam di antara dinasti China yang pernah ada. Peradaban Sungai Kuning sangat penting bagi seluruh peradaban China karena di tempat inilah dinasti awal China didirikan. Saat itu sekitar 2700 SM, Kaisar Kuning yang legendaris memulai pemerintahannya.

Inca

Inca merupakan peradaban terbesar di Amerika Selatan pada era pra-Columbus. Wilayahnya membentang di daerah yang sekarang ini menjadi negara Ekuador, Peru, dan Chile. Pusat administrasi militer dan politik terletak di Cusco (sekarang berada dalam wilayah Peru). Sisa-sisa kejayaan peradaban Inca bisa dilihat dari situs-situs seperti Machu Pichu dan Kota Cusco.

Persia

Ada suatu masa ketika peradaban Persia kuno menjadi kerajaan paling kuat di dunia. Meskipun hanya berkuasa selama kurang lebih 200 tahun, Persia berhasil menaklukan banyak daerah hingga seluas 2 juta mil persegi. Mulai dari wilayah Mesir ke Yunani, kemudian ke India bahkan seluruh wilayah Asia Tengah.

Aztec

Suku Aztec di negara Meksiko saat ini muncul hampir bersamaan dan menjadi pesaing kuat bagi peradaban Inca. Pada 1200M-1300 M, penduduk Meksiko tinggal di 3 kota yang saling bersaing yaitu Tenochtitlan, Texcoco, dan Tlacopan. Pada sekitar 1325, ketiga kota ini menciptakan aliansi dengan mendirikan sebuah negara baru di Lembah Meksiko. Pada 1500-an awal, peradaban Aztec berada pada puncak kejayaannya.

Peradaban Afrika Kuno

1.Kekaisaran Axum 

Perdagangan dan militer Kekaisarn Axum merupakan yang terpenting di kawasan yang sekarang bernama Eritrea dan Ethiopia utara pada tahun 100-940 M.
Pada masa puncak kejayaannya, Kekaisaran Axum pernah menjadi empat negara adidaya bersama Persia, Romawi, dan Cina pada masanya. Kekaisaran Axum mengendalikan beberapa wilayah Ethiopia Utara, Eritrea, Sudan utara, Mesir selatan, Djibouti, Yaman barat, dan Arab Saudi bagian selatan. Total luas wilayah kekaisaran axum mencapai 1,25 juta km atau (setara dengan setengah luas negara India). Aktivitas perdagangan Kekaisaran Axum telah sampai jauh ke wilayah timur ,yaitu Cina dan India. Kota aksum pernah menjadi kota metropolis yang ramai, pusat budaya dan pusat perekonomian.

2.Kerajaan Benin 

Benin merupakan negara Afrika pra-kolonial yang berdiri pada 1300 M. Wilayah kerajaan ini terletak di selatan bagian tengah dari Nigeria yg kita kenal sekarang. Sampai akhir abad ke-19 kekaisarn ini menjadi salah satu kekuatan utama di Afrika Barat. Menurut salah satu saksi sejarah yang bernama Olfert Dapper, dalam satu hari Raja Benin dapat menyiapkan 20.000 orang untuk berperang , bahkan dalam keadaan genting dapat menyiapkan sampai 180.000 orang, kerajaan benin memiliki pengaruh besat di antara bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Kekuasaanya membentang di kota-kota dan pelosok desa. Tidak ada raja lain di sekitarnya saat itu yang memiliki banyak kota indah seperti milik Raja Benin.
Ketika kapal dagang Eropa mulai mengunjungi Afrika Barat mulai abad ke-15 dan seterusnya, Kekaisaran Benin yang memiliki kendali untuk mengontrol perdagangan antara masyarakat pedalaman Afrika dan Eropa sewaktu Ketika Inggris mencoba untuk memperluas perdagangan mereka sendiri di abad ke-19, para prajurit Benin membunuh utusan kerajaan inggris 

3.Kerajaan Kuno Ghana 

Kerajaan ini berpusat di wilayah yang sekarang disebut Senegal dan Mauritania. Pengaruh Kerajaan Ghana mendominasi di daerah Afrika Barat dari 750-1078M. Bangsa-bangsa yang ada wilayah Afrika Utara menyebut kerajaan ini sebagai “Tanah Emas”. Ghana dapat dikatakan telah memiliki sistem metode administrasi yang rapi dan tertata, kekuatan tentara yang besar, dan terkenal atas monopolinya terhadap tambang emas.

Soninke merupakan raja yang mendirikan Kerajaan Ghana, Meskipun dia tidak pernah sepenuhnya memeluk Islam, hubungan baik dengan pedagang Islam tetap dapat terjaga. Kekayaan Kerajaan Ghana ini berasal dari tambang emas dan menjadikan unta sebagai moda pengangkutnya. Al-Hamdani, seorang penulis Arab mengatakan bahwa Kerajaan ini memiliki tambang emas terkaya di dunia. Ghana juga kekuatan militer yang besar, raja memiliki memiliki 200.000 prajurit dan 40.000 pemanah

4.Kekaisaran Mali Kuno

Setelah jatuhnya Kerajaan Ghana, Kekaisaran Mali mendominasi di wilayah Afrika Barat. Terletak di Sungai Niger dan di sebelah barat Ghana (saat ini dikenal dgn Nigeria dan Mali), kekaisaran ini mencapai puncaknya pada 1350-an.

Kekaisaran Mali didirikan oleh Mansa (Raja) Sundiata Keita dan menjadi terkenal karena kekayaannya, terutama Mansa Musa yang adalah cucu dari saudara tiri Sundiata. Mansa Musa inilah yang berhasil membawa Mali kepada kajayaanya, di mana perdagangan mencapai tiga kali lipat dari masa sebelumnya. Selama pemerintahannya, Mansa Musa telah berhasil memperluas wilayahnya hingga dua kali lipat lebih luas sehingga kerajaan ini lebih besar daripada kerajaan-kerajaan Eropa pada saat itu.

Kota-kota Mali menjadi pusat perdagangan penting di semua Afrika Barat, serta terkenal dengan pusat-pusat kekayaan, budaya dan pendidikan. Timbuktu, sebuah kota penting di Mali, menjadi salah satu pusat budaya yang penting tidak hanya bagi bangsa Afrika, tetapi dari seluruh dunia. Karna Perpustakaan yang luas dan universitas Islam dibangun membuat kota ini menjadi tempat pertemuan para penyair terbaik, ulama dan seniman dari Afrika dan Timur Tengah.

5. Peradaban NOK 

Sekitar 2.500 tahun yang lalu diduga hadir sebuah peradaban yang disebut dengan Nok, peradaban Nok ini pernah tumbuh dan berkembang di wilayah Nigeria, namun sayangnya peradaban Nok ini tidak dapat bertahan hingga saat ini dan hilang ditelah oleh waktu. Bukti dari kehadiran peradaban Nok ada dengan ditemukannya sebuah artefak berupa patung tanah liat pada tahun 1928. Peradaban Nok diyakini tidak memiliki sistem penulisan, namun telah memiliki sistem sosial yang maju serta menjadi pelopor pembuat patung tanah liat dengan ukuran besar di wilayah Sub-Sahara pada masanya.

Beberapa teori menyebutkan penyebab hancurnya peradaban ini adalah eksploitasi sumber daya alam berlebihan yang mengakibatkan turunnya jumlah populasi. Meskipun diyakini sebagai salah satu peradaban paling tua di Afrika, bukti keberadaan mereka sangat sedikit dan karenanya sulit untuk diteliti. 

Para arkeolog modern percaya kalau kebudayaan Nok memiliki peran penting dalam pengembangan budaya lain di sekitarnya seperti Yoruba dan Benin. Bangsa Nok tampaknya memiliki pengetahuan dan jiwa seni yang tinggi, terlihat dari bukti peninggalan sejarah berupa patung-patung terakota yang di sekitar situs pemukiman kuno Nok.

Mereka juga orang Afrika pertama yang mengenal teknik peleburan besi, meskipun diyakini bahwa teknologi itu diperkenalkan budaya lain, kemungkinan Karthago

Peradaban Asia Afrika

Peradaban Asia Afrika dikenal sebagai awal mulanya manusia hidup dan bertingkah laku layaknya manusia modern.

Sebagai peradaban tertua yang pernah dikenal, amatlah layak kita mengenal dan memahami bagaimana kehidupan mereka saat itu.

Para ahli sejarah mencatat  pusat peradaban Asia Afrika  yang tersebar di Benua Asia Afrika. Yaitu, peradaban di Lembah Sungai Indus dan Gangga (India), Lembah Sungai Kuning (Cina), Lembah Sungai Eufrat dan Tigris (Mesopotamia), dan Lembah Sungai Nil (Mesir). Peradaban di sekitar sungai-sungai besar tersebut menjadi peradaban awal umat manusia.

Jika dilihat, semua peradaban tersebut bermula dari sungai sebagai pusat mereka membangun kehidupan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peradaban-peradaban tertua di dunia adalah jenis peradaban sungai. Termasuk di dalamnya adalah peradaban Asia Afrika.

Berbicara tentang peradaban manusia di zaman kuno pasti akan menjadi sebuah bahasan yang menarik. Salah satunya peradaban Asia Afrika. Dengan mengetahui cerita tersebut, setidaknya kita bisa membayangkan  bagaimana kehidupan masyarakat yang hidup di zaman dulu.

Dari peradaban-peradaban tersebut, seperti peradaban Asia Afrika, peradaban Cina Kuno juga banyak meninggalkan berbagai penemuan yang berguna bagi masyarakat yang hidup di zaman sekarang. Penemuan tersebut biasanya meliputi bidang-bidang seperti bidang pertanian, atau persenjataan.

Peradaban Lembah Sungai Indus dan Gangga

Peradaban Asia Afrika tidak lepas dari cerita masa lalu yang dimiliki oleh sungai-sungai besar di dua benua itu. Daerah sekitar Sungai Indus dan Gangga telah lama dikenal dengan kesuburan tanahnya.

Hal inilah yang menarik beberapa bangsa untuk mendiami daerah tersebut, yaitu bangsa Dravida dan Arya (Indo German) sejak sebelum 2000 SM. Melalui dua bangsa ini, lahirlah peradaban Hindu dan Budha.

Kedua agama tersebut menjadi sumber inspirasi munculnya beberapa kerajaan terkemuka. Salah satunya adalah Kerajaan Gupta yang didirikan oleh Raja Candragupta I (320-330 M).

Ia menetap di Kota Ayodhia sebagai ibu kota kerajaan dan mengambil lembah Sungai Gangga sebagai pusat pemerintahan. Kerajaan menjadi sebuah sistem pemerintahan yang wajar di peradaban Asia Afrika.

Sungai Indus dan Gangga menjadi bagian yang takterpisahkan dari sejarah peradaban Asia Afrika. Sungai Indus sendiri terletak di antara Cina dan India.

Tepatnya sebelah utara berbatasan dengan Cina dan Gunung Himalaya. Bagian selatan berbatasan dengan Srilanka dan Samudera Indonesia. Sebelah barat dengan Pakistan serta sebelah timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh.

Sebagai salah satu tempat munculnya peradaban tertua (awal) di dunia, khususnya di Asia, daratan (jazirah) India bagian utara memang jadi “lahan subur”.

Setiap kota yang dilalui oleh Sungai Indus (Shindu) dan Gangga dipadati penduduknya dengan tingkat kesejahteraan yang terbilang tinggi. Kondisi ini yang memungkinkan munculnya peradaban tingkat dunia di wilayah tersebut.

Peradaban Asia Afrika pun menajdi sebuah peradaban yang sempurna. Pusat peradaban Asia Afrika di Lembah Sungai Indus dan Gangga terletak di kota Mohenjodaro dan Harappa.

Dan penduduknya dikenal dengan sebutan Bangsa Dravida. Peradaban masyarakat yang tinggal di Mohenjodaro dan Harappa ini sudah terbilang sangat maju. Pembangunan dilakukan atas dasar perencanaan, rumah-rumah sudah terbuat dari batu bata, sudah terdapat jalan raya yang bagus dan saluran air yang juga bagus.

Sistem kasta atau strata sosial juga mulai dikenal pada peradaban Asia Afrika di Lembah sungai ini. Sistem kasta yang dikenal yaitu kasta Brahmana yang berasal dari kaum pendeta, kasta Ksatria yang berasal dari kaum raja dan tentara, kasta Waisya yang berasal dari kaum petani dan pengusaha, serta kasta terakhir yaitu kasta Sudra yang berasal dari kaum buruh atau petani.

Peradaban Lembah Sungai Kuning

Di Lembah Sungai Kuning yang subur, pada 2500 SM, tumbuh peradaban manusia yang didominasi oleh bangsa Han. Bangsa tersebut merupakan campuran ras Mongoloid dengan ras Kaukasoid.

Mengembangkan kebudayaan yang berbasiskan peralatan dari perunggu. Sistem sosial juga telah tertata dengan baik walaupun masyarakatnya belum mengenal aksara. Mereka adalah para pelaku peradaban Asia Afrika yang juga takkalah terkenal.

Dari bangsa Han, peradaban Cina berkembang hingga mencapai puncak kejayaan dengan munculnya dinasti-dinasti besar di Cina hingga ratusan abad kemudian.

Dari bangsa Han ini jugalah, peradaban Asia Afrika meninggalkan berbagai warisan bermanfaat bagi dunia, seperti sistem pemerintahan, sistem pertanian dan perdagangan, aksara, kepercayaan, teknologi, kalender, filsafat, dan sastra.

Peradaban Asia Afrika yang ada di sekitaran Sungai Kuning ini “bermarkas” di daerah pegunungan Kwen Lun yang terletak di Tibet. Kemudian meluas hingga pegunungan Cina Utara. Peradaban ini juga dekat dengan Sungai Yang Tse Kiang yang hulunya terletak di Pegunungan Kwen Lun tersebut.

Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris
Peradaban Asia Afrika memang berbicara tentang banyak peradaban yang terjadi di dua benua tersebut, Asia dan Afrika. Takheran jika peradaban ini “melibatkan” banyak cerita peradaban di dalamnya. Satu lagi peradaban yang menjadi “saksi” dari majunya peradaban Asia Afrika adalah peradaban di Sungai Eufrat dan Tigris.

Sungai Eufrat dan Tigris terletak di wilayah Mesopotamia (negara Irak sekarang). Mesopotamia berasal dari kata mesos yang artinya ‘tengah’ dan potamos yang artinya ‘sungai’. Kata ini diambil dari bahasa Yunani. Mesopotamia adalah peradaban berbasis pertanian dengan sistem irigasi yang tertata rapi. Sebuah peninggalan peradaban Asia Afrika yang luar biasa.

Sumeria dan Semit tercatat sebagai bangsa yang pertama kali membangun peradabannya di lembah Sungai Eufrat dan Tigris. Bangsa ini dikenal melahirkan banyak nabi dalam kitab suci agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam). Tak heran jika banyak ahli sejarah yang beranggapan bahwa kawasan Mesopotamia merupakan awal mula kehidupan manusia beradab. Bahwa dari peradaban Asia Afrika inilah hadir manusia-manusia pintar yang menjadi cikal bakal manusia lainnya.

Kegemilangan Mesopotamia kemudian berlanjut dengan munculnya peradaban-peradaban besar yang berkuasa hingga ratusan tahun. Yaitu, peradaban Sumeria, Akkadia, Babylonia, dan Assyria. Keempat peradaban akbar ini banyak meninggalkan kebudayaan bagi dunia, seperti sistem kepercayaan, hukum, ilmu pengetahuan, dan tulisan. Peradaban-peradaban baru mulai muncul dari peradaban Asia Afrika ini.

Apr 2, 2018

Gaius Suetonius Paulinus

Gaius Suetonius Paulinus adalah seorang jenderal Romawi yang umum dikenal sebagai komandan yang mengalahkan pemberontakan Boudica.

Kehidupan awal

Sedikit yang diketahui dari keluarga Suetonius, tetapi mereka mungkin berasal dari Pisaurum (modern Pesaro), sebuah kota di pantai Adriatik Italia. Tidak diketahui apakah ia terkait dengan penulis biografi Gaius Suetonius Tranquillus.

Kampanye Mauretanian

Setelah menjabat sebagai praetor di 40M, Suetonius diangkat sebagai gubernur Mauretania tahun berikutnya. Bekerjasama dengan Gnaeus Hosidius Geta ia menumpas pemberontakan di provinsi pegunungan, yang timbul akibat penbunuhan penguasa lokal oleh Gayus Caligula.  Di tahun 41 M, Suetonius menjadi komandan Romawi pertama yang memimpin pasukan di Pegunungan Atlas, dan Pliny the Elder mengutip keterangan dari area ini dalam bukunya Natural History. 

Gubernur Inggris

Di tahun 58M, setelah agaknya menjadi konsul, ia diangkat gubernur di Inggris, menggantikan Quintus Veranius, yang telah meninggal. Ia melanjutkan kebijakan agresif Veranius menundukkan suku-suku modern Wales, dan berhasil selama dua tahun pertamanya diposisi tersebut. Reputasinya sebagai seorang jenderal datang untuk menyaingi Gnaeus Domitius Corbulo. Dua calon gubernur masa depan pernah melayani di bawahnya: Quintus Petillius Cerialis sebagai wakil dari Legio IX Hispana, dan Gnaeus Julius Agricola sebagai militer tribune melekat II Augusta, tetapi kemudian diperbantukan untuk staf Suetonius.

Di tahun 60 atau 61 Suetonius membuat serangan di pulau Mona (Anglesey), tempat perlindungan bagi buronan Inggris dan benteng suku bangsa druid. Suku-suku dari tenggara mengambil keuntungan dari ketidakhadiran-nya dan mengadakan pemberontakan, yang dipimpin oleh ratu Boudica dari Iceni. Dimana kota colonia Camulodunum (Colchester) hancur, penghuninya disiksa, diperkosa, dan dibantai, dan legiun Petillius Cerialis dialihkan. Suetonius menggiring Mona kearah gencatan senjata dan berbaris di sepanjang jalan Romawi dari Watling Street menuju Londinium (London), target pemberontak berikutnya, tapi ia dinilai tidak memiliki anggaran untuk mempertahankan kota dan memerintahkan untuk mengevakuasi kota tersebut. Suku-suku Inggris menghancurkan kota itu, warga Londinium menderita nasib yang sama seperti orang-orang dari Camulodunum, dan kemudian hal yang sama terjadi untuk kota Verulamium (St Albans). 

Suetonius berkumpul kembali dengan XIV Gemina, beberapa detasemen XX Valeria Victrix, dan semua prajurit yang tersedia. II Augusta, yang berbasis di Exeter, bersedia membantu tapi prefek, Poenius Postumus, menolak untuk mengindahkan panggilan. Meskipun demikian, Suetonius mampu merakit kekuatan sekitar sepuluh ribu orang. Sangat kalah jumlah (Suku-suku Inggris berjumlah kria-kira 230,000 orang menurut Cassius Dio), dengan bangsa Romawi yang berdiri di tanah mereka. Pertempuran berlangsung di sebuah lokasi yang teridentifikasi dalam defile dengan kayu di belakangnya, mungkin di West Midlands di suatu tempat di sepanjang Watling Street - di Cuttle Mill, 2 km sebelah tenggara dari Towcester di Northamptonshire, di depan defile sempit yang menjawab topografi sesuai keterangan Tacitus, tulang manusia telah ditemukan di wilayah yang luas;  Lintas tinggi di Leicestershire dan Manduessedum dekat kota modern Atherstone di Warwickshire juga telah disarankan - di mana taktik dan disiplin Romawi menang atas jumlah pasukan Inggris yang lebih besar. Pasukan Inggris itu terhambat oleh kehadiran keluarga mereka sendiri, dimana mereka ditempatkan membentuk cincin dari gerobak di tepi medan perang, dan kekalahan pasukan Inggris berubah menjadi pembantaian. Tacitus mendengar laporan bahwa hampir delapan puluh ribu warga Inggris tewas, dibandingkan dengan hanya empat ratus Roma. Boudica meracuni dirinya sendiri, dan Postumus, yang telah menolak panggilan untuk berbagi dalam kemenangan, dibunuh dengan pedangnya sendiri. 

Suetonius memperkuat pasukannya dengan legiun dan auxiliaries dari Germania dan melalukan operasi hukuman terhadap setiap sisa kantong-kantong perlawanan, tapi ini terbukti kontraproduktif. Prokurator baru, Gaius Julius Alpinus Classicianus, menyatakan keprihatinan tentang aksi Suetonius ini kepada Kaisar Nero yang hanya akan menyebabkan permusuhan berkelanjutan. Penyelidikan dibuat di bawah freedman Nero, Polyclitus, dan alasan, bahwa Suetonius telah kehilangan beberapa kapal, ditemukan untuk membebaskannya dari kedudukannya. Ia digantikan oleh jenderal yang lebih damai Publius Petronius Turpilianus. Tapi Suetonius tidak dipermalukan: sebuah tessera penting ditemukan di Roma yang berisi fitur kedua nya Suetonius dan Nero beserta simbol-simbol kemenangan, dan seorang pria bernama Gaius Suetonius Paulinus menjadi konsul ke 66, baik kemungkinan putranya  atau dirinya yang ditunjuk untuk kedua kalinya. 

Tahun Empat Kaisar

Di tahun 69M, selama tahun perang sipil yang diikuti kematian Nero (lihat Tahun empat kaisar), dia adalah salah satu dari jendelal senior Otho dan penasihat militer. Dia dan Publius Marius Celsus mengalahkan Aulus Caecina Alienus, salah satu jenderal Vitellius, dekat Cremona, tapi Suetonius tidak membiarkan orang-orangnya untuk menindaklanjuti keuntungan tersebut sehingga dituduh melakukan pengkhianatan sebagai akibatnya. Ketika Caecina dan pasukannya bergabung dengan orang-orang dari Fabius Valens, Suetonius disarankan Otho untuk tidak mengambil risiko pertempuran tapi ditolak, yang mengarah ke penentu kekalahan Otho di Bedriacum. Suetonius ditangkap oleh Vitellius dan memperoleh pengampunan dengan mengklaim bahwa ia telah sengaja kehilangan pertempuran untuk Otho, meskipun hal ini adalah hampir pasti benar. Akhir nasibnya masih belum diketahui.

Domitianus

Titus Flavius Domitianus (lahir di Roma, 24 Oktober 51 – meninggal di Roma, 18 September 96 pada umur 44 tahun) adalah Kaisar Romawi yang berkuasa dari tahun 81 hingga 96.

Sebagai seorang kaisar, ia memperkuat ekonomi negara dengan merevaluasi uang Romawi. Domitianus juga memperkuat pertahanan kekaisaran dan memulai program pembangunan besar untuk merestorasi kota Roma. Peperangan meletus di Britania, ketika Jenderal Agricola mencoba menaklukkan Skotlandia, dan di Dacia, ketika Domitianus gagal mengalahkan Raja Decebalus.

Pemerintahan Domitianus memiliki ciri totalitarian: ia menganggap dirinya sebagai Kaisar Augustus yang baru, yang akan membawa Romawi pada era kegemilangan yang baru. Kultus individu dilakukan melalui propaganda religius, militer, dan budaya. Domitianus menjadi populer di antara rakyat, tetapi dianggap sebagai tiran oleh anggota senat.

Masa kekuasaannya berakhir pada tahun 96 ketika ia dibunuh oleh pejabat-pejabat istana.

Publius

Publius (atau Gaius) Cornelius Tacitus (~56 – 117 M) adalah seorang Senator dan penulis sejarah Kerajaan Romawi. Sejumlah tulisannya yang ditemukan termasuk 2 karya besarnya, Annals dan Histories meliput zaman pemerintahan Kaisar Romawi Tiberius, Claudius, Nero dan pada zaman 4 Kaisar. Karya ini meliputi sejarah Kerajaan Romawi mulai dari matinya Kaisar Augustus tahun 14 M sampai kematian Kaisar Domitian tahun 96. Ia adalah sahabat pena Plinius yang Muda. Tacitus diangkat menjadi quaestor pada zaman pemerintahan Kaisar Titus. Karena batas usia termuda untuk jabatan ini adalah 25 tahun, dari sini orang menetapkan tahun kelahirannya.
Ia menjadi penjabat di berbagai provinsi tahun ~89 samapi 93 M. Istrinya adalah putri Jendral Julius Agricola. Meskipun tidak mengalami akibat buruk dari tindakan sewenang-wenang Kaisar Domitian, Tacitus menjadi benci terhadap kekuasaan tirani yang tampak dalam karya-karya tulisannya, misalnya Agricola. Saat menjabat sebagai senator, ia menjadi Konsul Suffek tahun 97 pada zaman pemerintahan Nerva, orang pertama dari keluarganya yang memegang jabatan ini. Ia pun dikenal sebagai orator ulung terutama saat berpidato pada pemakaman tentara veteran terkenal Lucius Verginius Rufus. Pada tahun-tahun kemudian, ia memusatkan pada penulisan Agricola dan Germania, dan mulai menjadi penulis sampai akhir hayatnya. Ia sempat bekerja lagi sebagai pejabat pada zaman Kaisar Trajan. Pada tahun 100, bersama sahabatnya Plinius yang Muda, ia menjadi jaksa penuntut untuk Marius Priscus, prokonsul Afrika, dengan tuduhan korupsi. Priscus diputuskan bersalah dan dihukum ke pembuangan. Plinius menulis beberapa hari kemudian bahwa Tacitus berbicara dengan segala kefasihan yang menjadi ciri pidato-pidatonya. Di saat absen dari politik dan hukum, ia menyelesaikan 2 karya besarnya: Histories dan Annals. Pada tahun 112 atau 113 ia diangkat untuk jabatan tertinggi bagi orang sipil, yaitu gubernur provinsi Romawi untuk Asia di sebelah barat Anatolia, yang tercatat dalam prasasti di Mylasa. Ia meninggal setelah Plinius yang Muda dan Trajan, tahun terakhir tulisannya adalah 116 M, tetapi mungkin meninggal beberapa tahun kemudian. Tidak diketahui jelas mengenai anak-cucunya. Kaisar Marcus Claudius Tacitus mengaku sebagai salah satu keturunannya dan menjaga pengawetan tulisan-tulisannya. 

Salah satu tulisannya yang saat ini banyak dikenal adalah Annals, buku 15, pasal 44 yang ditulis tahun 116 M, dimana terdapat satu bagian mengenai Kristus, Pontius Pilatus, dan pembunuhan massal terhadap orang-orang Kristen setelah kebakaran 6 hari yang menghanguskan sebagian besar kota Roma di bulan Juli 64 M yang disulut oleh Kaisar Nero. 

"Akibatnya, untuk menyingkirkan laporan itu, Nero menimpakan kesalahan dan memberikan siksaan yang paling berat untuk suatu kelompok yang dibenci karena ketidaksalehan mereka (terhadap dewa-dewa Romawi), disebut "Kristen" oleh masyarakat. Kristus, orang yang menjadi asal dari nama itu, menderita hukuman ekstrem dalam pemerintahan Tiberius di tangan seorang procurator kita, Pontius Pilatus, dan takhayul yang sangat menyesatkan, seperti telah diteliti saat ini, menyebar lagi tidak hanya di Yudea, sumber pertama kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana semua hal yang menjijikkan dan memalukan dari berbagai bagian dunia menemukan pusatnya dan menjadi populer. Karenanya, dilakukan penahanan kepada semua yang mengaku bersalah; kemudian, berdasarkan informasi mereka, orang-orang berjumlah banyak didakwa, bukan hanya untuk kejahatan membakar kota, tetapi pula untuk kebencian terhadap manusia. Segala bentuk pengejekan juga ditambahkan kepada kematian mereka. Ditutupi dengan kulit binatang, mereka dicabik-cabik oleh anjing-anjing dan binasa, atau dipakukan di kayu salib, atau dilemparkan ke dalam api dan dibakar, menjadi terang pada waktu malam, ketika hari sudah berakhir." 

Narasi ini mengandung referensi terhadap sejarah kekristenan dari sudut pandang non-Kristen, termasuk kisah kematian Kristus, yang mengkonfirmasi catatan-catatan Injil, serta penganiayaan orang-orang Kristen pada abad pertama dalam Kerajaan Romawi. Meskipun ditulis 52 tahun setelah peristiwanya, pakar sejarah menghargai tulisannya otentik. Ada juga beberapa kesalahan, misalnya jabatan Pontius Pilatus yang ditulisnya sebagai prokurator, padahal pada masa Pontius Pilatus jabatan itu disebut prefek, seperti yang ditulis dalam Injil dan dibuktikan dengan penemuan prasasti yang dibuat Pontius Pilatus sendiri di provinsi Iudaea.

Kaisar Romawi

Kaisar Romawi adalah pemimpin Romawi selama periode kekaisaran (dimulai sekitar 27 SM). Bangsa Romawi tidak punya satu istilah tertentu untuk jabatan ini: gelar latin seperti imperator, augustus, caesar (asal kata kaisar dalam Bahasa Indonesia), dan princeps dapat dikaitkan terhadap jabatan ini. Dalam praktiknya, kaisar adalah penguasa tertinggi Romawi dan panglima tertinggi legiun Romawi.

Sebagai pemegang jabatan princeps Senatus, kaisar dapat membuka dan menutup setiap sesi senat, menyusun agenda senat, membuat aturan untuk dipatuhi oleh senat, dan bertemu dengan duta besar asing atas nama senat. Menjabat sebagai pontifex maximus membuat kaisar menjadi pemimpin tertinggi keagamaan, memberikan dia wewenang untuk memimpin semua upacara keagamaan, menyucikan kuil, mengatur kalender Romawi (menambahkan atau menghapus hari jika diperlukan), menunjuk perawan vesta dan flamine, memimpin Collegium Pontificum (perkumpulan pendeta), dan meringkas dogma agama Romawi.

Caligula

Caligula atau Gaius Caesar (lahir di Antium, 31 Agustus 12 – meninggal di Roma, 24 Januari 41 pada umur 28 tahun) adalah seorang Kaisar Romawi. Ia mulai naik takhta pada tahun 37 hingga dibunuh seorang serdadu pada tahun 41. Masa pemerintahannya yang pendek ditandai dengan kekejaman yang luar biasa. Sayangnya masa pemerintahannya juga salah satu masa pemerintahan yang kurang didokumentasikan.

Putra seorang prajurit

Caligula adalah putra termuda pasangan Germanicus dan Vipsania Agrippina maior. Ia masih cicit dari Kaisar Agustus. Caligula besar di perkemahan tentara. Oleh karena itu ia di kemudian hari disebut Caligula (sandal (prajurit) kecil dari bahasa Latin: caligae).

Masa kecil di Capri

Sestertius dicetak pada tahun 37 mengingat Agrippina, ibu Gaius "Caligula". Sebelah kiri adalah gambar Agrippina, sedangkan sebelah kanan adalah kereta yang mengangkut abunya (sisi balik koin).
Ayahnya Germanicus meninggal dunia pada tahun 19 di wilayah Timur dalam keadaan mencurigakan. Ibunya Vipsania Agrippina, yang bertahun-tahun membela suaminya yang dibunuh dan akhirnya menuduh Tiberius akhirnya dibuang oleh Tiberius dan tewas kelaparan. Lalu Tiberius juga menyuruh membunuh kedua kakak Caligula (Nero dan Drusus). Caligula sendiri tidak dibunuh oleh Tiberius karena ia masih muda. Kala itu Caligula harus secara terpaksa hidup dengan pamannya; Tiberius di Capri.

Sudah jelas Caligula menderita pada masa kecilnya. Oleh karena itu salah satu perintahnya ketika menjadi kaisar ialah mengambil abu ibunya dan diarak pada sebuah kereta mengelilingi Roma. Lalu ia memerintahkan untuk mencetak uang koin demi memperingati peristiwa yang dinamainya Memoriae Agrippinae (Mengenang Agrippina). Abu kedua kakaknya dan ayahnya juga diambilnya.

Popularitas

Naiknya Caligula menjadi kaisar merupakan harapan baru orang romawi maupun seluruh dunia, caligula memiliki panggilan kesayangan dari bangsa romawi seperti "bintang", "anak kesayangan", "sayang" dan "anak manis"

Caligula melakukan perubahan di sistem pemerintahan pada saat itu seperti mempublikasikan anggaran kekaisaran yang tidak dilakukan oleh Tiberius, menerbitkan kembali sejarah karya Titus Labienus, Cremetius Cordus, dan Cassius Severus, ia memperbaiki sistem pemilihan umum yang dirancang untuk mengembalikan hak suara bagi rakyat

Pertunjukan kesenian merupakan kesukaan Caligula, Ia memberikan sejumlah pertunjukan teater di Syracuse, aneka pertandingan di Lugdunum, menyelesaikan proyek teater Pompey dan membangun amfiteater di Saepta dan membangun kembali reruntuhan tembok serta kuil Didymaen Apollo di Miletus

Kehidupan aneh Caligula

Berikut beberapa keanehan dari Caligula
Pada masa hidupnya, Caligula melakukan inses dengan beberapa saudari kandungnya termasuk Drusilla. Karena Drusilla sudah menikah, Caligula memaksanya untuk meninggalkan suaminya. Ia lalu memberitahukan masyarakat Roma yang terkejut bahwa ini adalah sangat pantas dan tidak seorang pun perlu mengeluh. Ia memberi alasan bahwa para firaun telah melakukan hal seperti ini dan karena Roma memerintah Mesir, maka perbuatanya adalah sesuatu yang benar-benar sah bagi dia.
Pada saat Gemellus datang untuk makan malam, mulutnya menyebarkan bau obat batuk. Dengan segera Caligula menuduh Gemellus meminum obat penawar racun, dan karena hal itu jelas tercermin pada dirinya, maka Caligula memerintahkan Gemellus untuk segera bunuh diri. Pemuda yang berusia delapan belas tahun itu menurut dan menjatuhkan diri di atas pedangnya. Ini dilakukannya karena Gemellus adalah saingan Caligula sebagai pewaris takhta Roma dari Tiberius, kakek mereka.
Memerintahkan orang untuk bunuh diri sekarang menjadi kegemaran Caligula. Bermacam-macam orang dari berbagai lapisan masyarakat telah diperintahkannya untuk mengakhiri hidup mereka sendiri. Dengan memerintahkan hal itu, rasa kedewaan Caligula semakin bertambah. Ketika suatu malam dia duduk dalam acara perjamuan bersama kawan-kawannya, ia sekonyong-konyong meledak tertawa. Lalu ia menjawab pertanyaan atas tingkahnya itu, ia berkata," Aku sedang berpikir bahwa hanya dengan satu anggukan kepala, aku dapat menitahkan leher kalian digorok!" Pernyataan itu langsung menghilangkan suasana riang pesta.
Penghinaan Caligula terhadap orang banyak meliputi segala hal. Untuk membesar-besarkannya, ia secara resmi mengumumkan kuda kesayangannya, Incitatus menjadi konsul. Lalu ia menyediakan rumah yang mewah, lengkap dengan sejumlah pelayan, untuk mengurus kuda itu. Pesta-pesta besar diadakan dengan kuda itu sebagai tuan rumahnya.Semua itu belum memuaskan rasa humor Caligula yang sudah tidak beres, maka ia menunjuk kuda itu sebagai imam di sebuah kuil.
Ketika ia menghadiri suatu pernikahan seorang kawan, ia memutuskan bahwa ia sendirilah yang harus menjadi suami dari wanita itu sedangkan pengantin prianya hanya duduk membisu keheranan. Ketika kemudian ia bosan dengan istrinya ini, ia menceraikannya.

Tiberius

Tiberius (bahasa Latin: Tiberius Julius Caesar Augustus; 16 November 42 SM – 16 Maret 37 M) adalah seorang Kaisar Romawi yang memerintah dari tahun 14 sampai 37 Masehi. Tiberius adalah putra dari Tiberius Claudius Nero (dinasti Claudian) dan Livia Drusilla. Ibunya menceraikan ayahnya dan menikah dengan Agustus tahun 39 SM, sehingga Tiberius menjadi anak tiri Agustus. Tiberius menikah dengan putri Agustus, Yulia (dari pernikahan Agustus dengan Scribonia) dan kemudian diadopsi serta dijadikan ahli waris Agustus, dengan nama Tiberius Julius Caesar. Kaisar-kaisar Romawi setelah Tiberius melanjutkan dinasti campuran ini selama 40 tahun lagi, yang oleh para ahli sejarah disebut dinasti Julio-Claudian. Tiberius adalah kakek-paman dari kaisar Caligula, paman (dari pihak ayah) kaisar Claudius, dan kakek buyut-paman Kaisar Nero.

Pemerintahan ( 14 - 37 M )
Tiberius memerintah mulai dari tanggal 18 September 14 M sampai dengan tanggal 16 Maret 37 M. Pada zaman pemerintahannya:

Hanas dan Kayafas menjabat sebagai Imam Besar yang mengadili Yesus Kristus, yang dicatat dalam Alkitab Perjanjian Baru. Pada zaman pemerintahannya, Yesus Kristus mati disalibkan, kemudian bangkit dari antara orang mati dan naik ke sorga. 
Awal pemerintahan

Tiberius
Tiberius Senat bersidang pada tanggal 18 September, untuk memvalidasi posisi Tiberius sebagai Princeps dan, seperti yang telah dilakukan dengan Augustus sebelumnya, memperpanjang kekuasaan posisi kepadanya. proses ini sepenuhnya ditanggung oleh Tacitus. Tiberius sudah memiliki kekuasaan administratif dan politik Princeps, semua ia tidak memiliki adalah judul-Augustus, Pater Patriae, dan Civic Crown (mahkota yang terbuat dari laurel dan ek, untuk menghormati Augustus setelah menyelamatkan nyawa warga negara Romawi.

Tiberius, bagaimanapun, berusaha untuk memainkan peran yang sama seperti Augustus: Bahwa dari pegawai negeri enggan yang ingin tidak lebih dari untuk melayani negara Hal ini akhirnya melemparkan seluruh urusan dalam kebingungan, dan bukannya rendah hati, ia menemukan sebagai mengejek; bukannya seakan ingin melayani negara, ia tampak obstruktif. Ia mencontohkan usianya sebagai alasan mengapa dia tidak bisa bertindak sebagai Princeps, menyatakan dia tidak ingin posisi, dan kemudian melanjutkan untuk meminta hanya bagian dari negara. Tiberius akhirnya mengalah dan menerima kekuasaan dia, meskipun menurut Tacitus dan Suetonius ia menolak untuk menanggung judul Pater Patriae, Imperator, dan Augustus, dan menolak lambang yang paling padat dari Princeps, Civic Crown dan kemenangan.

Pertemuan ini tampaknya telah mengatur nada untuk seluruh aturan Tiberius ini. Dia tampaknya telah berharap untuk Senat dan negara untuk hanya bertindak tanpa dia dan perintah langsung nya yang agak kabur, inspirasi perdebatan lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya ia maksudkan daripada meloloskan undang-undang itu. Dalam beberapa tahun pertama, Tiberius tampaknya menginginkan Senat untuk bertindak sendiri, bukan sebagai hamba kepada kehendak-Nya karena sudah di bawah Augustus. Menurut Tacitus, Tiberius mencemoohkan Senat sebagai "laki-laki cocok menjadi budak."

Naik turunnya Germanicus
Masalah muncul dengan cepat untuk Princeps baru. Legiun Romawi yang diposting di Pannonia dan di Germania belum dibayar bonus yang dijanjikan mereka dengan Augustus, dan setelah waktu singkat memberontak ketika itu jelas bahwa respon dari Tiberius tidak akan datang. Germanicus dan anak Tiberius ini, Drusus Julius Caesar, dikirim dengan kekuatan kecil untuk memadamkan pemberontakan dan membawa legiun kembali sejalan.

Bukan hanya memadamkan pemberontakan Namun, Germanicus rally pemberontak dan memimpin mereka pada kampanye singkat di Rhine ke wilayah Jerman, menyatakan bahwa harta apa pun yang mereka bisa ambil akan dihitung sebagai bonus mereka. pasukan Germanicus menyeberangi sungai Rhine dan cepat menduduki semua wilayah antara Rhine dan Elbe. Selain itu, Tacitus mencatat penangkapan hutan Teutoburg dan reklamasi standar Romawi yang hilang tahun sebelumnya oleh Publius Quinctilius Varus,  ketika tiga legiun Romawi dan kohort tambahan yang telah disergap oleh suku-suku Jermanik.

Germanicus berhasil menghadapi pukulan yang signifikan terhadap musuh Roma, menumpas pemberontakan tentara, dan mengembalikan standar Roma, tindakan yang meningkatkan ketenaran dan legenda yang sudah sangat populer Germanicus dengan orang-orang Romawi.

Setelah ditarik dari Germania, Germanicus merayakan kemenangan di Roma pada tahun 17, kemenangan penuh pertama bahwa kota itu telah terlihat sejak Augustus sendiri di 29 SM. Akibatnya, di AD 18 Germanicus diberikan kontrol atas bagian timur kekaisaran, seperti kedua Agripa dan Tiberius telah menerima sebelumnya, dan jelas penerus Tiberius Germanicus selamat. Sedikit lebih dari satu tahun sebelum meninggal, karena menuduh Gnaeus Calpurnius Piso, gubernur Suriah, meracuni dirinya.

The Pisones telah pendukung lama dari Claudians, dan telah bersekutu dengan Oktavianus muda setelah pernikahannya dengan Livia, ibu dari Tiberius. Kematian dan tuduhan Germanicus yang didakwa Princeps baru. Piso ditempatkan di percobaan dan, menurut Tacitus, mengancam akan melibatkan Tiberius Apakah gubernur benar-benar bisa menghubungkan Princeps kematian Germanicus tidak diketahui.; daripada terus diadili ketika menjadi jelas bahwa Senat adalah melawan dia, Piso bunuh diri.

Tiberius tampaknya sudah bosan politik pada saat ini. Dalam 22 M , ia berbagi otoritas tribunician dengan anaknya Drusus, dan mulai membuat kunjungan tahunan ke Campania yang kabarnya menjadi lebih lama dan lebih lama setiap tahun. Dalam 23 M, Drusus meninggal secara misterius, dan Tiberius tampaknya tidak ada usaha untuk mengangkat pengganti. Akhirnya, pada tahun 26, Tiberius pensiun dari Roma lalu ke pulau Capri.

Tiberius di Capri, dengan Sejanus di Roma
Lucius Aelius Sejanus telah melayani keluarga kekaisaran selama hampir dua puluh tahun ketika ia menjadi Praetorian Prefect dalam 15 M. Sebagai Tiberius menjadi lebih sakit hati dengan posisi Princeps, ia mulai lebih bergantung dan lebih pada sekretariat terbatas kiri kepadanya oleh Augustus, dan khususnya pada Sejanus dan Praetorians. Dalam 17 M atau 18 M, Tiberius telah dipangkas jajaran Praetorian menkadi penjaga bertanggung jawab atas pertahanan kota, dan pindah dari perkemahan di luar tembok kota ke kota itu sendiri, memberikan akses Sejanus ke suatu tempat antara 6000 dan 9000 tentara.

Kematian Drusus ditinggikan Sejanus, setidaknya di mata Tiberius, yang kemudian merujuk kepadanya sebagai 'Socius Laborum' (Mitra kerja saya). Tiberius memiliki patung Sejanus didirikan di seluruh kota, dan Sejanus menjadi lebih dan lebih terlihat sebagai Tiberius mulai menarik diri dari Roma sama sekali. Akhirnya, dengan penarikan Tiberius dalam 26 M, Sejanus yang tersisa bertugas dari mekanisme negara seluruh dan kota Roma.

Posisi Sejanus itu tidak cukup bahwa penggantinya; ia telah meminta pernikahan di 25 M sampai keponakan Tiberius ini, Livilla, meskipun di bawah tekanan dengan cepat menarik permintaan. Sementara Sejanus ini Praetorians menguasai pos kekaisaran, dan karena itu informasi yang Tiberius diterima dari Roma dan informasi Roma yang diterima dari Tiberius,  kehadiran Livia tampaknya telah memeriksa kekuatan nyata nya untuk sementara waktu. Kematiannya pada tahun 29 mengubah semua itu.

Sejanus memulai serangkaian percobaan pembersihan Senator dan equestrians kaya di kota Roma, menghapus mereka mampu menentang kekuasaannya serta memperluas kekaisaran (dan sendiri) treasury. Germanicus Janda Agrippina Tua dan dua putranya, Nero Caesar dan Drusus Caesar ditangkap dan diasingkan pada tahun 30 dan kemudian semua meninggal dalam keadaan mencurigakan. Dalam pembersihan Sejanus murah dari Agrippina Tua dan keluarganya, Caligula, Agrippina Muda , Julia Drusilla, dan Julia Livilla adalah satu-satunya yang selamat.

Reruntuhan dari Villa Jovis di pulau Capri, di mana Tiberius menghabiskan banyak tahun-tahun terakhirnya, meninggalkan kendali kerajaan di tangan prefek Lucius Aelius Sejanus.

Plot oleh Sejanus melawan Tiberius
Pada 31, Sejanus memegang konsul dengan Tiberius in absentia, dan mulai bermain untuk kekuasaan dengan sungguh-sungguh. Justru apa yang terjadi sulit untuk menentukan, tetapi Sejanus tampaknya telah diam-diam berusaha ke pengadilan keluarga-keluarga yang diikat ke Julians, dan berusaha mengambil hati dengan garis keluarga Julian dengan mata terhadap menempatkan dirinya, sebagai Julian diadopsi, di posisi Princeps, atau sebagai bupati mungkin. Livilla kemudian terlibat dalam plot ini, dan mengungkapkan telah menjadi kekasih Sejanus untuk beberapa tahun.

Plot tampaknya telah melibatkan mereka berdua menggulingkan Tiberius, dengan dukungan dari Julians, dan baik asumsi Kepangeranan sendiri, atau melayani sebagai bupati untuk kaum muda Tiberius Gemellus atau bahkan mungkin Gayus Caligula. Mereka yang berdiri di nya cara diadili karena pengkhianatan dan cepat ditangani.

Dalam 31 M Sejanus dipanggil ke pertemuan Senat, di mana surat dari Tiberius dibacakan mengutuk Sejanus dan memesan eksekusi langsungnya. Sejanus diadili, dan ia dan beberapa rekannya dieksekusi dalam waktu seminggu. Sebagai komandan Praetorian Guard, ia digantikan oleh Naevius Sutorius Makro. Tacitus mengklaim bahwa percobaan pengkhianatan lebih diikuti dan bahwa sementara Tiberius telah ragu-ragu untuk bertindak pada awal pemerintahannya, sekarang, menjelang akhir hidupnya, ia tampaknya melakukannya tanpa rasa bersalah. Paling terpukul adalah keluarga-keluarga yang memiliki hubungan politik dengan Julians. Bahkan kehakiman kekaisaran dipukul, karena setiap dan semua yang telah dikaitkan dengan Sejanus atau bisa dalam beberapa cara dikaitkan dengan rencananya yang ringkasnya diadili dan dieksekusi, sifat mereka disita oleh negara (dengan cara yang sama, dalam beberapa tahun setelah Valeria kematian Messalina ini, Agrippina Muda dihapus siapa pun dia dianggap loyal ke memori Messalina ini, banyak cara yang sama bahwa para pengikut Sejanus itu dieksekusi). Sebagai Tacitus jelas menggambarkan,

Eksekusi yang sekarang menjadi stimulus akan geram-Nya, dan ia memerintahkan kematian semua orang yang berbaring di penjara bawah tuduhan keterlibatan dengan Sejanus. Ada berbaring, tunggal atau dalam tumpukan, yang bernomor mati, setiap usia dan jenis kelamin, yang terkenal dengan jelas. Kaum kerabat dan teman-teman tidak diizinkan berada di dekat mereka, menangis atas mereka, atau bahkan untuk menatap pada mereka terlalu lama. Spies yang ditetapkan di sekeliling mereka, yang mencatat kesedihan masing-masing berkabung dan mengikuti mayat membusuk, sampai mereka diseret ke Tiber, di mana, mengambang atau didorong di bank, tidak ada yang berani untuk membakar atau menyentuh mereka.

Namun, penggambaran Tacitus 'dari tirani, kaisar dendam telah ditentang oleh beberapa sejarawan modern. Menonjol sejarawan kuno Edward Togo Salmon catatan dalam karyanya, A sejarah dunia Romawi dari 30 SM hingga 138:

"Seluruh 22 tahun pemerintahan Tiberius ', tidak lebih dari lima puluh dua orang yang dituduh melakukan pengkhianatan, di antaranya hampir setengah lolos keyakinan, sementara empat orang yang tidak bersalah harus dikutuk jatuh korban untuk semangat berlebihan Senat, tidak tirani Kaisar ". ] Sementara Tiberius berada di Capri, rumor berlimpah untuk apa sebenarnya yang dilakukannya di sana. Suetonius mencatat rumor cerita seram perilaku sexual yang menyimpang, termasuk penggambaran grafis dari penganiayaan anak, dan kekejaman, dan sebagian besar dari semua paranoia. Sementara berat sensasional, cerita Suetonius 'setidaknya melukis gambar bagaimana Tiberius dianggap oleh orang-orang Romawi, dan apa dampaknya pada Kepangeranan selama 23 tahun pemerintahan.

Tahun terakhir
Perselingkuhannya dengan Sejanus dan tahun-tahun terakhir percobaan pengkhianatan rusak secara permanen citra dan reputasi Tiberius '. Setelah jatuhnya Sejanus ini, penarikan Tiberius 'dari Roma itu selesai; kekaisaran terus berjalan di bawah inersia birokrasi yang didirikan oleh Augustus, bukan melalui kepemimpinan Princeps. Suetonius mencatat bahwa ia menjadi paranoid, dan menghabiskan banyak waktu merenung atas kematian anaknya. Sementara itu, selama periode ini invasi singkat oleh Parthia, serangan oleh suku-suku dari Dacia dan dari seberang sungai Rhine oleh beberapa suku-suku Jermanik terjadi.  

Sedikit dilakukan baik aman atau menunjukkan bagaimana suksesi adalah untuk mengambil tempat; yang Julians dan pendukung mereka telah jatuh ke murka Sejanus, dan anak-anaknya sendiri dan keluarga dekat sudah mati. Dua kandidat yang baik Caligula, anak yang masih hidup tunggal Germanicus, atau cucunya sendiri, Tiberius Gemellus. Namun, hanya upaya setengah hati di akhir kehidupan Tiberius 'dibuat untuk membuat Caligula quaestor, dan sehingga memberinya beberapa kredibilitas sebagai calon pengganti, sementara gemellus sendiri masih hanya remaja dan dengan demikian benar-benar tidak cocok untuk beberapa tahun yang akan datang.

Kematian (37 M)
Tiberius meninggal di Misenum pada tanggal 16 Maret 37 M, pada usia 77. Tacitus mencatat bahwa setelah berita kematiannya kerumunan bersukacita, hanya menjadi tiba-tiba diam setelah mendengar bahwa ia telah sembuh, dan bersukacita lagi di berita bahwa Caligula dan Makro telah menahan dia. ini tidak dicatat oleh sejarawan kuno lainnya dan kemungkinan besar diragukan kebenarannya, tetapi beberapa sejarawan menganggapnya menunjukkan bagaimana kelas senator merasa menuju Kaisar pada saat kematiannya. Setelah kematiannya, Senat menolak untuk memilih dia kehormatan ilahi, dan massa memenuhi jalan-jalan berteriak "Untuk Tiber dengan Tiberius!" -. Mengacu pada metode pembuangan disediakan untuk mayat penjahat Alih-alih tubuh kaisar dikremasi dan abunya diam-diam meletakkan di Mausoleum Augustus, yang kemudian tersebar di 410 M selama Jatuhnya Roma.

Dalam wasiatnya, Tiberius telah meninggalkan kekuasaannya ke Caligula dan Tiberius Gemellus. tindakan pertama Caligula untuk menjadi Princeps adalah untuk membatalkan kehendak Tiberius 'dan memiliki gemellus dieksekusi.

Pewaris Tiberius, Caligula tidak hanya menghabiskan kekayaan Tiberius 2700000000 sestertium tetapi juga akan memulai rantai peristiwa yang akan membawa tentang kejatuhan dinasti Julio-Claudian di 68 M.

Palmyra

Tadmur atau Palmyra adalah kota kuno di Suriah tengah. Pada masa antikuitas, Tadmur merupakan kota penting yang terletak di sebuah oasis 215 km timur laut Damaskus dan 180 km barat daya Efrat di Deir ez-Zor. Kota ini sejak lama telah menjadi perhentian kafilah yang penting bagi para pengelana yang melintasi gurun Suriah dan dikenal sebagai Jembatan Gurun. Rujukan terdokumentasi tertua kepada kota ini dengan nama Semitnya, yaitu Tadmor, Tadmur atau Tudmur (yang bermakna "kota yang menghalau" dalam bahasa Amori, "kota yang gigih" dalam bahasa Aram) tercatat dalam lembaran Babilonia yang ditemukan di Mari. 

Meskipun situs kunonya tak lagi dihuni setelah abad ke-16, kota ini hingga kini tetap dkenal sebagai Tadmor dalam bahasa Arab (Tedmor), dan ada sebuah kota baru dengan nama sama di dekat reruntuhannya. Orang Tadmur membangun serangkaian monumen bersakala besar yang menampilkan seni pemakaman seperti lempengan batu kapur dengan patung manusia yang menggambarkan orang yang telah wafat.

Zaman kuno
Etimologi pasti dari nama "Palmyra" tidak diketahui, meskipun beberapa sejarawan meyakini bahwa nama tersebut berkaitan dengan pohon palem yang banyak terdapat di daaerah tersebut. Akan tetapi, beberapa sejarawan lainnya meyakini bahwa nama itu berasal dari terjemahan yang salah dari kata "Tadmor." Kota ini pertama kali disebutkan dalam arsip Mari pada milenium kedua SM. Tadmur merupakan koda dagang dalam jaringan dagang yang luas yang menghubungkan Mesopotamia dengan Suriah utara. Tadmor disebutkan dalam Injil Ibrani (Kitab 2 Tawarikhs 8:4) sebagai sebuah kota gurun yang dibangun (atau dibentengi) oleh Raja Salomo dari Yudea. 

Flavius Josephus juga menyebutkan bahwa Tadmor dibangun oleh Salomo, dalam karyanya, Antikuitas Yahudi (Buku VIII), bersama dengan nama Yunani untuk Tadmur, meskipun ini bisa jadi merupakan penyalahrtian dengan "Tamara" dalam alkitab. Beberapa rujukan dalam traktat Talmud dan Midrash juga merujuk kepada kota ini di gurun Suriah (terkadang menggantikan hurud "d" dengan "t" - menjadi "Tatmor" alih-alih "Tadmor").

Periode Yunani-Romawi
Ketika Seleukia merebut Suriah pada 323 SM, kota ini diabaikan sehingga dapat merdeka. Tadmur pun berkembang sebagai perhentian kafilah pada abad ke-1 SM. Pada tahun 41 SM, Marcus Antonius mengirim pasukan penyerbu menuju Tadmur, namun penduduk Tadmur sudah mengetahui kabar kedatangan mereka dan menyelamatkan diri ke seberang sungai Efrat, menunjukkan bahwa pada masa itu Tadmur masih merupakan pemukiman nomad dan sumber dayanya yang berharga dapat dipindahkan dalam waktu singkat. 

Pada pertengahan abad ke-1 M, Tadmur telah menjadi kota yang makmur dan elegan yang terletak di rute kafilah yang menghubungkan Persia dengan pelabuhan Suriah Romawi dan Fenisia di Mediterania. Kota ini dikuasai oleh Romawi dan mengalami periode kemakmuran.

Para pedagang Tadmur memiliki kapal-kapal di perairan Italia dan mengendalikan jalur perdagangan India. Berkat perdagangan, Tadmur menjadi salah satu kota terkaya di Timur Dekat. Sejarawan Terrry Jones dan Alan Erieira menyebutkan bahwa orang Tadmur merupakan satu-satunya orang non-Romawi yang mampu hidup bersama-sama dengan orang Romawi tanpa teromawisasi. 

Tadmur menjadi bagian dari provinsi Romawi Syria pada masa pemerintahan Tiberius (14–37 M). Kota ini secara perlahan-lahan tumbuh menjadi bagian penting dalam rute perdagangan yang menghubungkan Persia, India, China, dan Kekaisaran Romawi. Pada tahun 129 M, Kaisar Romawi, Hadrianus, mengunjungi Tadmur dan begitu terpesona sehingga ia menyatakannya sebagai kota bebas dan menamainya Palmyra Hadriana.

Sejak tahun 212 M, perdagangan Tadmur mulai terhenti ketika Sassania menduduki mulut sungai Tigris dan Efrat. Septimius Odaenathus, seorang pangeran Tadmur, ditunjuk oleh Kaisar Romawi, Valerianus, sebagai gubernur provinsi Suriah. Setelah Valerianus ditangkap oleh Sassania dan meninggal dalam kurungan di Bishapur, Odaenathus melancarkan kampanye militer hingga sejauh Ktesiphon (dekat Baghdad modern) sebagai tindakan balasan. Ia menyerbu Ktesiphon dua kali. Setelah Odaenathus dibunuh oleh keponakannya Maconius, istrinya Septimia Zenobia naik tahta. Ia memerintah Tadmur atas nama putranya, Vabalathus.

Zenobia memberontak melawan otoritas Romawi dengan bantuan Cassius Longinus dan merebut Busra dan wilayah-wilayah ke arah barat hingga sejauh Mesir, mendirikan Kekaisaran Tadmur yang berumur pendek. Selanjutnya, dia merebut Antiokia dan wilayah yang besar di Asia Kecil di utara. Pada 272 M, Kaisar Romawi, Aurelianus, pada akhirnya berhasil memulihkan kekuasaan Romawi di Tadmur, yang dalam prosesnya ia mengepung dan menjarah Tadmur, sehingga kota itu tak pernah berjaya kembali. Aurelianus juga menangkap Zenobia, membawanya ke Roma. Ia memamerkan Zenobia dalam parade kemenangan dalam keadaan terikat rantai emas di hadapan Marcellus Petrus Nutenus, namun kemudian memperbolehkan Zenobia menjalani sisa hidupnya di sebuah vila di Tibur, di mana ia aktif dalam masyarakat selama bertahun-tahun. Sebuah benteng legiuner didirikan di Tadmur dan, meskipun tak lagi menjadi pusat perdagangan, kota ini tetap menjadi persimpangan jalan Romawi yang penting di gurun Suriah. 

Kaisar Romawi, Diocletianus, memperluas Tadmur untuk menampung lebih banyak legiun dan membentenginya dengan tujuan melindunginya dari ancaman Sassania. Periode Bizantium, yang meneruskan Kekaisaran Romawi, hanya berakibat pada pembangunan beberapa gereja, sementara sebagian besar kota sudah menjadi reruntuhan.

Kekuasaan Islam
Tadmur ditaklukan oleh pasukan Arab Mulsim di bawah Khalid bin Walid pada tahun 634 M namun dibiarkan utuh. Setelah tahun 800 M dan terjadi perang saudara menyusul runtuhnya Kekhalifahan Umayyah, orang-orang mulai mengabaikan kota ini. Pada masa Perang Salib, Tadmur dikuasai oleh Keamiran Buriyun, kemudian dikuasai oleh Toghtekin, lalu Mohummad putra Shirkuh, dan akhirnya berada di bawah kendali Keamiran Homs. Pada tahun 1132 M, Buriyun mengubah Kuil Ba'al di Tadmur menjadi benteng. Pada aabd ke-13 M kota ini diserahkan kepada sultan Mamluk, Baybars. Pada tahun 1401 M, Kota ini dijarah oleh Timur Lenk, namun dapat pulih kembali dengan cepat, sehingga pada abad ke-15 M Ibu Fadlallah al-Omari menyebutkan bahwa Tadmur memiliki "taman-taman yang luas, perdagangan yang maju, dan monumen-monumen yang aneh."