Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Nov 29, 2021

Situs Majapahit ditemukan di Kota Malang

Sebagian benda bersejarah di situs purbakala yang diduga bangunan rumah peninggalan zaman Kerajaan Majapahit di Kabupaten Malang. telah dicuri oleh warga setempat, kata seorang saksi mata.

Situs tersebut baru saja ditemukan di salah-satu jalur pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang, Jawa Timur, persisnya di kawasan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sejak temuan situs ini diberitakan media massa secara meluas, warga mendatangi situs yang sebagian besar berupa struktur batu bata kuno tersebut.

Pengrusakan situs Majapahit: 'Ada saksi yang diancam dengan pistol'
Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam
Kepedulian arkeolog Mundardjito dan kerusakan situs Majapahit
Salah-seorang warga setempat, Mohammad Arifin, mendatangi situs yang terletak di kilometer 37 jalan tol yang menghubungkan Kota Pandaan dan Malang.

Sejak empat bulan lalu, Arifin mengaku berulangkali mendatangi situs bersejarah itu. Upaya ini juga dilakoni beberapa orang tetangganya.

Dalam jarak sekitar 300 meter dari lokasi temuan situs tersebut, Arifin mengaku menemukan pecahan gerabah, patahan keris, uang koin, perhiasan emas, serta bokor berbahan kuningan.

"Tinggal ambil saja (koin dalam jumlah puluhan). Sampai lupa pekerjaan," ungkapnya, kemudian tertawa ringan, seperti dilaporkan wartawan di Malang, Eko Widianto, untuk BBC News Indonesia.

Puluhan koin tersebut dia temukan terpisah di beberapa sudut situs tersebut. Dan ketika hujan redah, 'harta karun' itu bermunculan ke atas permukaan tanah, katanya.

Arifin lantas mengungkapkan 'keberuntungan' temannya yang menemukan perhiasan emas di situs tersebut.

"Teman saya menemukan perhiasan emas, bokor dan guci utuh," ungkapnya.

Arifin sendiri menyimpan beragam artefak, mulai pecahan keramik, koin dengan tulisan huruf Cina, serta pecahan keramik atau gerabah.

Ketika ditanya apakah temuan itu sudah diserahkan kepada Balai Pemelihara Cagar Budaya (BPCB), Arifin mengatakan: "Kalau diminta dinas purbakala, saya akan serahkan, (tapi) asal ada imbalannya. Kalau tidak (diberi imbalan), ya, untuk koleksi saja."

Sejumlah warga setempat dilaporkan masih menyimpan temuan mereka, tetapi ada yang sudah menjualnya, ungkapnya.

Di lokasi situs bersejarah itu, sampai akhir pekan lalu, sering dijumpai beberapa orang yang mendekat dan mengorek reruntuhan bangunan batu bata setinggi sekitar empat meter.

Sekitar sebulan silam, pekerja proyek jalan tol sedang menggali dan mengenai sebagian tumpukan bata setinggi empat meter yang terletak di sisi barat proyek jalan tol.

Dilihat secara fisik, batu bata itu lebih besar ketimbang batu bata yang dijualn sekarang. Ukuran panjangnya sekitar 38cm, lebar 25cm, dengan tebal tujuh cm.

Polisi dilibatkan selidiki benda cagar budaya

Petugas Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur telah turun ke lokasi situs tersebut setelah ada laporan pencurian beberapa benda yang diduga sebagai artefak.

Mereka mengaku sudah mengecek dan melakukan koordinasi dengan berbagai otoritas, termasuk kepolisian, untuk apa yang mereka sebut sebagai "menyelamatkan bangunan" tersebut.

Menyelamatkan kota tua Jakarta dari kehancuran
Mengapa sulit melindungi bangunan cagar budaya di Semarang?
Rumah-rumah 'jengki: Kembalinya selera budaya era 1950-an
"Kita sudah berkoordinasi dengan polisi, dan penyidik polisi yang akan menelusuri," kata Koordinator Wilayah Malang BPCB Trowulan Jawa Timur, Haryoto, kepada wartawan di lokasi situs tersebut.

Benda cagar budaya, kata Haryoto, merupakan barang bersejarah yang penting untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

"Sehingga ada sanksi hukum bagi siapa saya yang menyalahgunakan termasuk memperjualbelikan," katanya.

'Akan ada imbalan bagi yang mengembalikan'
Lebih lanjut Haryoto mengatakan, pihaknya menyediakan imbalan bagi warga yang secara sukarela menenyerahkan benda cagar budaya temuannya.

Menurutnya, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan kepala desa setempat untuk melaporkan jika ada temuan cagar budaya.

"Jangan sampai barang yang memiliki nilai sejarah hilang tak berbekas," katanya.

Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono juga meminta agar penemuan benda cagar budaya "harus dilaporkan agar tak rusak atau hilang".

Warga yang menemukan tidak boleh menjual ke pasar gelap, "karena akan menghilangkan informasi mengenai peradaban masa lalu," kata Dwi Cahyono.

Perkampungan kuno peninggalan Kerajaan Majapahit?

Arkeolog Dwi Cahyono mengaku bahwa dirinya sudah mendatangi lokasi dan melakukan identifikasi terhadap struktur bangunan berbahan bata tersebut.

"Diperkirakan bangunan tersebut berasal dari abad ke 14 atau 15 pada era Majapahit. Terlihat dari bentuk batu bata yang berserakan," ungkapnya, menganalisa.

"Tangga bangunan masih terlihat," ujarnya.

Menurutnya, bangunan situs bersejarah ini menghadap ke sungai Amprong yang hanya berjarak sekitar 100 meter.

"Posisinya ada di lereng atau bagian bawah perbukitan Buring atau warga menyebut Gunung Buring. Sedangkan pada masa Singhasari dan Majapahit dikenal dengan sebutan Gunung Malang," paparnya.

Masjid kuno 'multi etnik' Angke yang dirancang dan dibangun orang Cina
Cornelis Chastelein, ' Belanda Depok' dan daerah otonom zaman kolonial
Berkunjung ke museum 'pembunuh kolonialisme' di Rangkasbitung
Lebih lanjut Dwi Cahyono mengatakan, harus dilakukan eskavasi lebih lanjut untuk mengetahui bangunan benda cagar budaya tersebut.

Dilihat dari temuan artefak yang ada, Dwi memperkirakan kawasan tersebut merupakan perkampungan kuno.

"Dengan struktur penduduk yang kaya karena menyimpan perhiasan emas dan koin negara asing," ungkapnya.

'Sekarpuro kawasan penting Era Majapahit'

Dwi Cahyono mengatakan, Desa Sekarpuro merupakan kawasan penting di masa Kerajaan Majapahit masih berkuasa.

Saat itu ada dua Nagari bawahan kerajaan Majapahit, yakni Nagari Tumapel dan Kabalan. "Kedua Nagari dipisahkan sungai Amprong," katanya.

"Nagari Kabalan dipimpin Kusumawarddhani yakni putri mahkota Raja Majapahit Hayam Wuruk. Kelak suami Kusumawarddhani, Wikramawardhhana menjadi Raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk," paparnya.

Dwi meyakini situs ini merupakan peninggalan Majapahit didasarkan keberadaan batu bata yang disebutnya lazim sebagai bahan bangunan pada masa itu.

"Sedangkan koin atau uang logam dan keramik merupakan produk impor dari Cina. Ini bukti bahwa Nagari Kabalan merupakan kota dengan peradaban modern, karena sudah menjalin interaksi dengan Cina dan negera luar,"

Bagaimana rumah para pembuat Stonehenge?

Lima rumah zaman Neolitik di sekitar Stonehenge direka ulang untuk mengungkap bagaimana para pembuat monumen batu itu hidup 4.500 tahun lampau.

Rumah dengan satu kamar berukuran lima meter dibuat menggunakan kapur dan jerami berdasarkan rujukan sisa arkeologis di dinding Durrington yang dekat dengan wilayah itu.

Susan Greaney, dari English Heritage, mengatakan rumah-rumah ini adalah hasil dari "bukti arkeologi, taksiran ilmiah, dan banyak pekerjaan fisik,"

Pada pengunjung nantinya bisa mengunjungi rumah rekaan zaman Neolitik ini.

Sisa-sisa arkeologis dari dinding Durrington - yang berasal dari zaman yang sama dengan pembuatan Stonehenge - tidak hanya menunjukkan lantai bangunan tetapi juga lubang dinding yang bisa mencerminkan ukuran dan tata ruangnya.

"Kita tahu, misalnya, bahwa tiap rumah memiliki perapian dan lantai dibuat dengan menggunakan kapur," kata Greaney.

"Dan jauh dari kesan gelap dan primitif, rumah mereka sangat terang dan berudara segar dengan dinding kapur yang dirancang untuk memantulkan cahaya matahari dan menahan hangatnya api."

Dia mengatakan bahwa proyek ini merupakan sebuah "pembelajaran yang luar biasa" bagi 60 relawan yang terlibat di dalamnya.

"Sekarang pengunjung dapat melangkah masuk ke pintu rumah ini dan mendapatkan arti sebenarnya tentang kehidupan sehari-hari di zaman ketika Stonehenge dibangun."

Rumah rekaan ini dilengkapi dengan sejumlah dekorasi seperti replika kapak Neolitik, tembikar dan artefak lainnya.

Stonehenge dipetakan dari bawah tanah

Para ahli arkeologi mengungkapkan peta paling rinci yang pernah dibuat tentang tanah di bawah Stonehenge, Inggris selatan dan sekitarnya.

Mereka menggabungkan berbagai peralatan untuk mengamati daerah tersebut di kedalaman tiga meter, dengan tingkat kejelasan tinggi.

Hasil pendahuluan mengisyaratkan monumen bersejarah itu tidak berdiri sendiri, karena terdapat 17 kuil di sekitarnya, lapor wartawan BBC Maria Dasi Espuig.

Di masa depan, analisa lebih rinci data dalam jumlah besar ini akan menghasilkan gambaran yang baru tentang bagaimana perubahan yang terjadi Stonehenge.

Salah satu kejutan yang didapat penelitian ini adalah jejak sampai 60 tiang batu besar yang membentuk bagian dari "bangunan" selebar 1,5 km yang sebelumnya diidentifikasi di Dinding Durrington di dekatnya.

"Selama empat tahun terakhir kami mengamati monumen menakjubkan ini untuk berusaha mengetahui yang ada di sekitarnya," kata Profesor Vincent Gaffney, dari Universitas Birmingham pada Festival Ilmu pengetahuan Inggris.

Peta tiga dimensi baru tim ini, yang mencakup kawasan seluas 12 km2 atau setara 1.250 lapangan sepak bola, menunjukkan Stonehenge bukanlah tempat terpisah yang diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja.

Stonehenge adalah monumen prasejarah di Wiltshire, 140 km barat daya London, berupa lingkaran tiang batu dari Zaman Neolitik dan Perunggu Inggris sekitar 3.000 sampai 2.000 Sebelum Masehi.

Mengapa situs prasejarah Stonehenge dibangun?

Mengapa situs prasejarah Stonehenge dibangun?

Seiring penelitian para arkeolog tentang Stonehenge, beragam misteri muncul. Tapi satu kisah yang masuk akal perlahan mencuat.

Stonehenge merupakan atraksi turisme di Inggris yang paling sering dikunjungi wisatawan dan salah satu peninggalan masa lalu yang paling misterius. Turis datang dari seluruh penjuru dunia untuk memandangi pilar-pilar batu ikonik itu, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa dan bagaimana batu-batu itu menjadi sedemikian rupa.

Situs wisata itu mungkin mudah dikenali, tapi ada hal lain dari apa yang dapat ditangkap mata. Seiring arkeolog mempelajari Stonehenge, beragam misteri menyeruak, tapi sebuah kisah yang logis perlahan muncul.

Para peneliti kini tidak hanya mendalami Stonehenge sebagai situs tunggal, tapi juga area yang melingkupi monumen itu. Mereka berharap mendapatkan petunjuk dari bentang alam di sekitar situs prasejarah tersebut.

Pemetaan bawah tanah dan eskavasi menyingkap fakta bahwa Stonehenge pernah menjadi bagian dari jejaring yang rumit: gundukan makam purba, pemukiman yang tak teridentifikasi, jalur kirab dan bahkan kuburan berhias emas.

'Stonehenge' Islandia yang menghipnotis
Bagaimana rumah para pembuat Stonehenge?
Festival musim panas di Stonehenge, Inggris
Temuan itu menggambarkan situasi yang lebih misterius, serta mengelaborasi era neolitikum dan zaman perunggu, dibandingkan yang selama ini diperkirakan.

Proyek yang meneliti Stonehenge secara menyeluruh adalah Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge—digelar dari 2010 hingga 2014. Radar bawah tanah dan teknik pemetaan magnetik mengungkap, Stonehenge terletak di tengah kompleks seluas 12 kilometer persegi.

Proyek tersebut disorot banyak media massa pada 2015. Ketika itu para peneliti mengumumkan temuan mereka di sekitar Durrington Walls—sebuah lingkaran bebatuan besar berdiameter 500 meter. Temuan itu mereka prediksi dapat mengungkap 'Superhenge'.

Namun kehebohan media massa tidak berlangsung lama. Saat para ilmuwan mengekskavasi situs itu, mereka tak menemukan batu apapun. Sebaliknya, mereka mendapati fakta bahwa pepohonan pernah tumbuh di kawasan tersebut.

Setelah fosil pohon-pohon itu dibersihkan, para peneliti memasukkan kapur ke lubang tersebut, lalu menguburnya agar membentuk setumpuk batu. Merujuk pada pemindaian radar, celah di antara kapur-kapur itu memang terlihat seperti bebatuan.

Di luar target yang meleset, pemimpin Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, Vincent Gaffney, menyatakan timnya telah menemukan ratusan petunjuk dan situs yang belum pernah terungkap sebelumnya.

"Berdasarkan survei ini, kami akhirnya tahu lokasi sisa-sisa zaman prasejarah ini, tapi juga tempat-tempat yang tak berkaitan dengannya," ujar Gaffney, seorang arkeolog dari Universitas Bradfor.

Gaffney menyebut penyelidikan semacam ini vital karena "memberikan ruang investigasi kepada para arkeolog, tak hanya terhadap pusat monumen prasejerah yang telah diketahui publik, tapi kawasan-kawasan lainnya. Penelitian ini membebaskan kami menginterpretasikan petunjuk melalui pendekatan yang rumit.

"Apa yang telah terungkap dalam penelitian ini merupakan fase penting Durrington Walls yang sebelumnya tak diketahui.

Di antara perkampungan neolitik dan benteng raksasa terdapat pilar lingkaran yang tingginya sekitar empat sampai enam meter, jumlahnya paling sedikit 200 atau setidaknya 300 buah.

Penemuan monumen prasejarah lain di area tersebut mengubah cara para arkeolog melihat fase perubahan dan sejarah kawasan itu.

"Secara bertahap, saya menyarankan kita mulai melihat mozaik dari area yang kosong dan tugu-tugu yang ada, selagi menganjurkan perpindahan yang berarakan," kata Gaffney.

Dalam kata lain, bentang alam itu dulu biasa digunakan untuk prosesi keagamaan yang berhubungan dengan sejumlah tugu di tempat tersebut.

Mike Parker Pearson dari Institut Arkeologi University College London, yang memimpin Proyek Stonehenge Riverside dari 2003 hingga 2009, menilai penempatan pilar-pilar batu itu hanya sementara atau dapat dibongkar sewaktu-waktu.

"Batu-batu itu mungkin hanya didirikan untuk beberapa bulan sebelum digantikan tumpukan batu yang melingkar dan parit," ujarnya.

"Tujuan mereka sepertinya membuat garis lingkaran imajiner di perkampungan itu, yang sekarang telah ditinggalkan. Jadi mungkin pilar-pilar itu merupakan tugu peringatan bagi orang-orang yang tinggal di sini selama membangun Stonehenge."

Pohon tertua di dunia berusia lebih 5.000 tahun
Stonehenge dipetakan dari bawah tanah
Wajah baru kompleks Stonehenge
Apapun kegunaan monumen prasejarah itu, Stonehenge jelas bukan satu-satunya tugu di bentang alam tersebut. Memahami fungsi Stonehenge tergantung pada pemahaman terhadap benda-benda lain di sekitarnya.

Proyek Stonehenge Rverside menemukan petunjuk bahwa Stonehenge dibangun dalam dua fase berbeda. Yang pertama—terdiri dari selokan, dataran yang menjorok ke sungai, dan deretan bebatuan biru yang membentuk bulatan dibangun 500 tahun lebih awal dari yang diperkirakan peneliti. Sementara itu, batu-batu besar melingkar yang ikonik dibangun 500 tahun sesudahnya.

Adapun, kawasan itu ditinggali setidaknya 9,000 tahun lalu—penanda bahwa area itu telah dimanfaatkan sebelum Stonehenge dibangun.

Tiga puluh kilometer dari area itu berdiri tugu purbakala yang tidak begitu dikenal namun memliki kegunaan serupa Stonehenge, yakni Avebury—situs batu melingkar terbesar di Eropa.

Jangkauan zaman neolitik di area Avebury lebih jauh dibandingkan kawasan lainnya, antara lain sampai ke Wales, di mana masyarakat Britons kuno mendapatkan bebatuan biru sebagai material utama lingkaran dalam Stonehenge.

Permukiman tertua Inggris dipastikan berada di Wiltshire
Tradisi Mongolia berumur 6.000 tahun yang hampir hilang
Di sisi lain, Parker Pearson menyebut batu-batu besar Stonehenge didatangkan dari area Avebury. Ini menandakan bentang alam dari zaman neolitik tersebut saling berhubungan Plateau Salisbury, Avebury, Bukit Preseli di Wales, dan kawasan lain yang memiliki banyak tugu prasejarah.

Parker menilai, batu-batu biru dari Wales adalah batu pertama yang diletakkan di Stonehenge. Asal-muasal monumen itu sangat penting diketahui.

Batu-batu itu disebut sebagai simbol nenek moyang masyarakat Briton barat. Parker berkata, "membawa batu-batu itu ke Plateau Salisbury merupakan medium pemersatu dua masyarakat neolitik di selatan Inggris."

Kini, Bukit Preseli terlihat berbintik karena keberadaan dolmen atau meja batu datar yang ditopang tiang batu. "Massa jenis dolmen-dolmen itu menunjukkan kawasan itu merupakan area vital, baik secara politik dan religius, 700 tahun sebelum Stonehenge dibangun," kata Parker.

Pernyataan Parker itu secara tidak langsung memunculkan probabilitas Bukti Preseli sebagai daerah unggul di seantero Inggris barat pada tahun 3000 sebelum masehi.

Saatnya bertanya

Meskipun kita setuju tentang teori yang menyebut pengangkutan batu-batu dari Wales itu simbolik dan politis, teori itu menghadirkan misteri lain, yaitu tentang cara masyarakat prasejarah di Briton memindahkan batu-batu besar tersebut.

Sejumlah peneliti menyebut mereka sama sekali tak mengangkut batu-batu itu, melainkan gletser atau bongkahan es yang terbentuk dari endapan salju. Namun penemuan dua bongkah batu tambang di Preseli mengakhiri hampir seluruh perdebatan itu.

Peneliti juga telah bereksperimen tentang cara memindahkan batu-batu besar itu sejauh 260 kilometer dari Wales. Merujuk Parker Pearson, mereka mendapati fakta bahwa mengangkut benda megalitikum seperti bebatuan biru yang beratnya rata-rata dua ton, sebenarnya tidak sulit, bahkan bisa hanya dengan meletakkannya di atas kereta pengeret.

Pada temuan baru lainnya, arkeolog menemukan sisa kremasi yang dikubur di Stonehenge. Ekskavasi yang dilakukan proyek Stonehenge Riverside tahun 2008 menemukan kembali sekitar 58 pemakaman, yang terdiri dari setidaknya sembilan laki-laki dan 14 perempuan.

Merujuk pandangan bahwa orang yang dikuburkan di Stonehenge memiliki status sosial yang tinggi, temuan itu memantik pertanyaan tentang peran perempuan pada era neolitik.

"Kerap kali muncul hal baru dari Stonehenge, tapi saya tetap saja terkejut kita terus menemukan banyak hal—bahkan di area yang sudah dipelajari secara intensif selama bertahun-tahun," kata Gaffney.

Temuan terakhir dari Durrington menunjukkan, teknologi terkini tak hanya mampu menemukan situs baru, tapi juga mengubah cara kita memahami situs prasejarah tersebut.

"Temuan itu tidak cuma menegaskan keunikan Stonehenge, tapi juga betapa pentingnya bentang alam di sekitar tugu prasejarah tersebut—dan kita baru saja mulai memahami cara area itu berkembang dan arti Stonehenge bagi orang-orang yang membangunnya."

Meski demikian, tak peduli berapa temuan yang muncul, Stonehenge sepertinya akan tetap melemparkan beragam pertanyaan yang patut direnungkan para peneliti dan media massa. Masyarakat neolitik ini memiliki keterampilan dan ambisi yang besar.

Tidak mudah bagi kita yang hidup serba instan di era modern ini untuk memahami monumen besar yang didirikan secara sempurna dalam beberapa abad itu.

Vila Romawi yang terpendam 1.700 tahun ditemukan

Vila Romawi yang terpendam 1.700 tahun ditemukan di lahan pertanian, penemuan 'paling signifikan' di Inggris.

Sebuah vila Romawi dengan mosaik langka yang menggambarkan adegan-adegan dari puisi Iliad karya penulis Yunani kuno, Homer ditemukan di lahan pertanian di wilayah Rutland, Inggris.

Lembaga Historic England menggambarkan mosaik tersebut sebagai "salah satu penemuan paling luar biasa dan signifikan yang pernah ada di Inggris".

Para arkeolog dari Universitas Leicester tengah menyelidiki penemuan tersebut.

Saat ini, mosaik dan kompleks vila di sekitarnya telah dilindungi sebagai monumen bersejarah yang penting oleh Departemen Digital, Budaya, Media, dan Olahraga (DCMS) atas saran dari Historic England.

Vila Romawi ini pertama kali ditemukan oleh Jim Irvine, yang merupakan putra dari pemilik tanah bernama Brian Naylor. Dia menemukan vila ini setelah merasa ada yang aneh dari gerabah di lahan tersebut saat berjalan-jalan di atasnya selama karantina wilayah tahun 2020.

Kompleks vila ini diperkirakan ditinggali oleh seseorang yang kaya raya pada periode akhir Romawi.

Mosaik yang berbentuk seperti lantai itu berukuran 11 meter x 7 meter dan diperkirakan sebagai area makan atau hiburan.

Di wilayah Kekaisaran Romawi, mosaik biasanya digunakan di bangunan-bangunan milik pribadi maupun publik dan sering kali menampilkan tokoh-tokoh mitologi terkenal.

Namun, mosaik yang ditemukan di Rutland dianggap unik karena menampilkan sosok Achilles dan pertempurannya dengan Hector pada akhir Perang Troya.

Saat ini, mosaik itu telah kembali ditutup. Mosaik itu telah terlindung dengan baik selama 1,5 milenium pada kedalaman 0,6 meter di bawah tanah. Penutupannya kembali di bawah tanah tidak akan merusaknya lebih lanjut.

Jim Irvine, sebagai orang yang pertama kali menemukan mosaik itu, berharap orang-orang bisa berkunjung ke situs itu suatu hari nanti. Namun sejauh ini, belum ada keputusan terkait itu.

Situs ini sangat besar dan hanya sebagian kecil kompleks yang telah digali. Penggalian lebih lanjut memungkinkan akan ada lebih banyak penemuan.

Penyelidikan sejauh ini mengungkapkan bahwa vila yang besar itu dikelilingi oleh lumbung, dengan struktur melingkar yang sepertinya berupa rumah pemandian.

Kompleks ini sepertinya juga ditempati oleh seseorang yang memiliki pengetahuan sastra klasik antara abad ke-3 dan ke-4 Masehi.

Wakil Direktur Layanan Arkeologi Universitas Leicester dan manajer dari proyek penggalian ini mengatakan, "Ini adalah penemuan mosaik Romawi yang paling menarik di Inggris seabad terakhir.

"Ini memberi perspektif baru mengenai perilaku orang-orang pada masa itu, hubungan mereka dengan sastra klasik, serta memberi tahu kita banyak hal mengenai orang yang membiayai pembuatan mosaik ini.

"Orang ini memiliki pengetahuan klasik, juga memiliki uang untuk memesan pembuatan mosaik sedetail itu. Ini juga mosaik pertama yang menggambarkan kisah-kisah ini yang pernah ditemukan di Inggris."

Direktur Eksekutif Historic England, Duncan Wilson, menambahkan bahwa "penemuan mosaik langka dengan ukuran sebesar ini serta vila di sekitarnya adalah penemuan yang sungguh luar biasa.

"Penemuan seperti ini sangat penting membantu kami mengumpulkan sejarah. Dengan melindungi situs ini, kami bisa terus mempelajarinya, dan kami sangat menantikan apa yang bisa ditemukan dari penggalian lebih lanjut mengenai orang-orang yang meninggalinya lebih dari 1.500 tahun lalu."

Dia kemudian menghubungi tim arkeologi di Dewan Leicestershire.

'Penemuan menakjubkan': Arkeolog temukan monumen Neolitik berusia 4.500 tahun dekat Stonehenge
Situs Majapahit ditemukan di Kota Malang: 'Ada yang menemukan emas, lalu dijual'
Gambar hantu 'laki kurus gentayangan' pada keping tanah liat berusia 3.500 tahun ditemukan
Irvine mengatakan keluarganya telah bertani di lahan tersebut selama 50 hingga 60 tahun.

"Selama karantina wilayah tahun lalu, saya melihat beberapa tembikar di tanah tidak terlihat seperti sebelumnya.

"Kami kemudian menggalinya dengan skop dan ternyata saya berdiri tepat di atasnya.

"Rasanya sangat menakjubkan bisa melihat sesuatu yang terpendam selama lebih dari 1.700 tahun.

"Yang membuat saya semakin tertarik adalah, apa yang akan terungkap selanjutnya dari situs ini, karena sejauh ini semuanya luar biasa."

Nov 13, 2021

Cincin Berusia 1400 Tahun Ditemukan di Palestina


Sebuah cincin emas kuno bertatahkan batu kecubung ungu telah ditemukan di kilang anggur kuno terbesar di dunia. Cincin yang menakjubkan ini ditemukan saat melakukan penggalian di Kota Yavne, Palestina.

Lokasi ditemukannya cincin itu sama dengan lokasi kilang anggur Bizantium seluas 75 ribu kaki persegi, yang diresmikan awal tahun ini. Kilang anggur itu dapat menghasilkan hingga dua juta liter anggur per tahun.  

Batu cincin tersebut tampak berwarna cerah ungu. Kemungkinan cincin itu dipakai oleh seseorang yang bertubuh tinggi untuk menunjukkan kekayaannya, mungkin sekitar abad ke-7 Masehi, yang berarti usianya mencapai 1.400 tahun.

Namun, ada kemungkinan juga pemakai terakhirnya adalah seorang ahli anggur yang percaya bahwa batu ungu akan melindunginya dari efek alkohol, sebuah cerita legenda yang dipercaya secara luas pada zaman kuno.

Dalam Alkitab disebutkan bahwa batu yang dibuat menjadi cincin tersebut merupakan salah satu dari 12 jenis batu yang biasanya diletakkan di dada imam besar.

Menurut Alkitab, batu kecubung adalah salah satu dari 12 batu yang harus dikenakan dalam pakaian upacara imam besar untuk menandakan kenikmatan kekayaan, prestise, dan perbedaan dari orang lain.

Batu kecubung atau ametis juga merupakan jenis batuan mineral kuarsa. Batu kecubung biasanya berwarna ungu sampai merah muda. Dalam sejarah, ungu merupakan warna yang digunakan oleh raja, ratu, dan anggota keluarga kerajaan lain.  

Nov 4, 2021

Penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an

Penulisan dan pengumpulan Al-Qur'an melewati tiga jenjang.

Tahap Pertama.

Zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada jenjang ini penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan karena hafalan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum sangat kuat dan cepat di samping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya. Oleh karena itu siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghapal Al-Qur'an sangat banyak

Dalam kitab Shahih Bukhari dari Anas Ibn Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus tujuh puluh orang yang disebut Al-Qurra'. Mereka dihadang dan dibunuh oleh penduduk dua desa dari suku Bani Sulaim ; Ri'l dan Dzakwan di dekat sumur Ma'unah. Namun di kalangan para sahabat selain mereka masih banyak para penghapal Al-Qur'an, seperti Khulafaur Rasyidin, Abdullah Ibn Mas'ud, Salim bekas budak Abu Hudzaifah, Ubay Ibn Ka'ab, Mu'adz Ibn Jabal, Zaid Ibn Tsabit dan Abu Darda Radhiyallahu 'anhum.

Tahap Kedua

Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu tahun dua belas Hijriyah. Penyebabnya adalah : Pada perang Yamamah banyak dari kalangan Al-Qurra' yang terbunuh, di antaranya Salim bekas budak Abu Hudzaifah ; salah seorang yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil pelajaran Al-Qur'an darinya.

Maka Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an agar tidak hilang. Dalam kitab Shahih Bukahri disebutkan, bahwa Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu setelah selesainya perang Yamamah. Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu 'anhu, di samping Abu Bakar bediri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid : "Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemrerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sekarang carilah Al-Qur'an dan kumpulkanlah!", Zaid berkata : "Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur'an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar Radhiyallahu 'anhuma. Diriwayatkan oleh Bukhari secara panjang lebar.

Kaum muslimin saat itu seluruhnya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, mereka menganggap perbuatannya itu sebagai nilai positif dan keutamaan bagi Abu Bakar, sampai Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu mengatakan : "Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Qur'an adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi rahmat kepada Abu Bakar karena, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tahap Ketiga

Pada zaman Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu 'anhu pada tahun dua puluh lima Hijriyah. Sebabnya adalah perbedaan kaum muslimin pada dialek bacaan Al-Qur'an sesuai dengan perbedaan mushaf-mushaf yang berada di tangan para sahabat Radhiyallahu 'anhum. Hal itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka Utsman Radhiyallahu 'anhu memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya kemudian bertengkar pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala dan akhirnya berpecah belah.

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman Radhiyallahu 'anhu datang menghadap Utsman Ibn Affan Radhiyallahu 'anhu dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khawatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al-Qur'an, dia katakan : "Wahai Amirul Mukminin, selamtakanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti perpecahan kaum Yahudi dan Nasrani!" Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah Radhiyallahu 'anhuma : "Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!", Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut.
 
Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa'id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam Radhiyallahu 'anhum untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : "Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur'an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur'an diturunkan dengan dialek tersebut!", merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur'an selainnya.

Utsman Radhiyallahu 'anhu melakukan hal ini setelah meminta pendapat kepada para sahabat Radhiyalahu 'anhum yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud  dari Ali Radhiyallahu 'anhu bahwasanya dia mengatakan : "Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Qur'an selain harus meminta pendapat kami semuanya", Utsman mengatakan : "Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan". Kami menjawab : "Alangkah baiknya pendapatmu itu".

Mush'ab Ibn Sa'ad mengatakan : "Aku melihat orang banyak ketika Utsman membakar mushaf-mushaf yang ada, merekapun keheranan melihatnya", atau dia katakan : "Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai positif bagi Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu 'anhu yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya. Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan Khalifah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu.

Perbedaan antara pengumpulan yang dilakukan Utsman dan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar Radhiyallahu anhuma adalah : Tujuan dari pengumpulan Al-Qur'an di zaman Abu Bakar adalah menuliskan dan mengumpulkan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur'an dalam satu mushaf agar tidak tercecer dan tidak hilang tanpa membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf ; hal itu dikarenakan belih terlihat pengaruh dari perbedaan dialek bacaan yang mengharuskannya membawa mereka untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur'an saja.

Sedangkan tujuan dari pengumpulan Al-Qur'an di zaman Utsman Radhiyallahu 'anhu adalah : Mengumpulkan dan menuliskan Al-Qur'an dalam satu mushaf dengan satu dialek bacaan dan membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur'an karena timbulnya pengaruh yang mengkhawatirkan pada perbedaan dialek bacaan Al-Qur'an.

Hasil yang didapatkan dari pengumpulan ini terlihat dengan timbulnya kemaslahatan yang besar di tengah-tengah kaum muslimin, di antaranya : Persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama dan saling berkasih sayang. Kemudian mudharat yang besarpun bisa dihindari yang di antaranya adalah : Perpecahan umat, perbedaan keyakinan, tersebar luasnya kebencian dan permusuhan.

Mushaf Al-Qur'an tetap seperti itu sampai sekarang dan disepakati oleh seluruh kaum muslimin serta diriwayatkan secara Mutawatir. Dipelajari oleh anak-anak dari orang dewasa, tidak bisa dipermainkan oleh tangan-tangan kotor para perusak dan tidak sampai tersentuh oleh hawa nafsu orang-orang yang menyeleweng.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala Tuhan langit, Tuhan bumi dan Tuhan sekalian alam.

Sejarah awal penulisan Al-Quran

Penulisan Al Quran telah dimulai pada zaman Rasulullah ï·º. Namun, Al-Quran lebih banyak dihapalkan dari pada ditulis karena kemampuan menghapal para Sahabat radhiyallahu 'anhum sangat kuat dan cepat, dan jumlah penghapal sangat banyak.

Di sisi lain, pada masa itu jumlah orang yang dapat membaca dan menulis sedikit, serta sarananya masih terbatas, yakni pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta.

Pada zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu (573-634 Masehi) tahun dua belas Hijriah, banyak penghapal Al-Quran yang wafat terbunuh dalam beberapa peperangan. Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan Al-Quran agar tidak hilang.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Umar Ibn Khaththab radhiyallahu 'anhu mengemukakan gagasan untuk menulis Al-Quran kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu setelah selesainya perang Yamamah (632 Masehi).

Namun Abu Bakar radhiyallahu 'anhu tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar radhiyallahu 'anhu terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah ï·» membukakan pintu hati Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.

Kemudian, beliau memanggil Zaid Ibn Tsabit radhiyallahu 'anhu guna mencari dan mengumpulkan naskah Al-Quran yang ditulis di atas pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hapalan para sahabat.

Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu hingga wafat, kemudian dipegang oleh Umar radhiyallahu 'anhu hingga wafat, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar radhiyallahu 'anha.
 
Seiring dengan penyebaran Islam ke luar wilayah Arab, pada zaman Khalifah Utsman Ibn Affan radhiyallahu 'anhu (577-656 Masehi) pada tahun dua puluh lima Hijriah, muncul  perbedaan di antara kaum Muslimin dalam hal dialek bacaan Al-Quran. Perbedaan itu sesuai dengan mushaf-mushaf yang berada di tangan para Sahabat radhiyallahu 'anhum.

Perbedaan dialek itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, sehingga Utsman radhiyallahu 'anhu memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf guna menyamakan bacaan Al-Quran.

Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa'id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam radhiyallahu 'anhum untuk menuliskan kembali naskah-naskah Al-Quran yang telah ada sebelumnya (dipegang oleh Hafshah) dan memperbanyaknya.

Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy.

Setelah menyelesaikan penulisan Al-Quran dalam dialek Quraisy (karena Al-Quran diturunkan dengan dialek tersebut), Utsman radhiyallahu 'anhu mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam.

Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu juga memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur'an selainnya.

Kebijakan Utsman radhiyallahu 'anhu menjadikan mushaf Al-Quran tak berubah dari awal sampai sekarang, disepakati oleh seluruh kaum Muslimin serta diriwayatkan secara akuntabel menurut kaidah periwayatan dalam Islam.

Al-Quran Disusun dan Diurutkan

Ada banyak pendapat yang mengemukakan tentang metode penyusunan Al-Quran. Berikut ini adalah salah satu di antaranya.

Penyusunan al-Quran Sejak Masa Nabi Muhammad

Sebagian ulama meyakini bahwa metode penyusunan Al-Quran sebenarnya sudah dimulai sejak masa Nabi Muhammad masih hidup. Selain mengajarkan bacaan dan pemahamannya, Rasulullah juga mengajarkan bagaimana letak ayat Al-Quran tersebut nantinya di dalam Al-Quran. Hanya saja, pada saat itu, Al-Quran masih belum dibukukan menjadi kitab seperti sekarang ini.

Salah satu alasan mengapa Al-Quran tidak langsung dibukukan adalah karena wahyu masih belum selesai turun selama Nabi Muhammad masih hidup. Sedangkan, jika penulisan Al-Quran langsung dilakukan, maka kitab Al-Quran akan terus mengalami perubahan karena adanya ayat atau wahyu baru yang datang. Karena itu, proses pembukuan ayat – ayat dalam Al-Quran tidak dilakukan.

Akan tetapi, ada beberapa sahabat yang memang ditugaskan secara khusus untuk mencatat setiap ayat atau wahyu yang turun. Yaitu Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Ubay bin Ka'ab. Mereka menuliskan ayat al-Quran di berbagai media yang bisa digunakan saat itu. Mulai dari pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, hingga potongan tulang binatang.

Ayat Al-Quran Mulai Dibukukan
Setelah Nabi Muhammad wafat, tepatnya saat pemerintahan Abu Bakar, para sahabat mengumpulkan lembaran mushaf tersebut. Kebutuhan untuk menuliskan ayat Al-Quran baru dimulai setelah Perang Yamamah terjadi. Perang tersebut membuat banyak sahabat penghafal Quran syahid. Sehingga, sebagian sahabat khawatir ayat Al-Quran akan menghilang.

Salah satu sahabat yang merasa khawatir adalah Umar bin Khattab. Dia mengadukan hal tersebut kepada Abu Bakar dan mengusulkan untuk menyusun Al-Quran menjadi sebuah kitab. Sayangnya, Abu Bakar menolak karena menganggap Rasulullah tidak melaksanakan atau mengamanahkan hal tersebut.

Namun, setelah beberapa waktu, akhirnya Abu Bakar menyetujui hal tersebut. Dia lalu mengundang Zaid bin Tsabit dan menunjuknya sebagai ketua pelaksana. Zaid yang awalnya menolak seperti Abu Bakar pun akhirnya menyetujui ide tersebut.

Mengumpulkan Al-Quran tentu saja bukan tugas yang ringan. Karena itu, Zaid dibantu oleh banyak sahabat untuk menyelesaikannya. Mereka berupaya mengumpulkan lembaran Al-Quran yang tersebar di berbagai tempat dan media. Lembaran yang sudah terkumpul itu diserahkan kepada Abu Bakar hingga wafat.

Selanjutnya, tugas tersebut dilanjutkan kembali oleh Umar bin Khattab sebagai khalifah setelah Abu Bakar. Setelah Umar meninggal, lembaran Al-Quran yang sudah terkumpul tersebut dijaga oleh istri Rasulullah, Hafshah binti Umar bin Khathtab.

Sejarah Rasm Usmani
Pada masa pemerintahan Utsman, seorang sahabat yang bernama Hudzaifah datang kepada Utsman dan menyampaikan kondisi umat Islam saat itu. Dimana banyak umat Islam yang saling berselisih paham mengenai Al-Quran.

Menanggapi masalah tersebut, Utsman memutuskan untuk meminta Hafshah membawakan lembaran Al-Quran yang ada padanya. Selanjutnya, Utsman memberikan lembaran tersebut kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas, dan Abdullah bin Haris untuk menyalin al-Quran tersebut menjadi satu kitab.

Hasil dari salinan tersebutlah yang dikenal sebagai Al-Quran dengan kaidah Rasm Usmani atau Al-Quran yang ditulis dengan gaya penulisan Khalifah Utsman bin Affan. Al-Quran dengan kaidah Rasm Usmani masih terus dipakai sampai saat ini di berbagai belahan dunia.

Makam Kuno Zaman Firaun Ditemukan, Usianya 3.200 Tahun

Arkeolog menemukan sebuah makam berusia lebih dari 3.200 tahun di Saqqara. Rupanya, ini adalah makam pejabat senior salah satu Firaun paling kuat Mesir, Ramses II.
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengumumkan temuan ini pada 30 Oktober. Berdasarkan prasasti yang ditemukan di makam, disebutkan bahwa Ptah-M-Wia, orang yang dimakamkan di sana, memegang sejumlah posisi termasuk kepala perbendaharaan dan kepala pengawas ternak pada masa pemerintahan Ramses II.

Ramses II memerintah 1279-1213 SM dan berhasil mengembangkan Kerajaan Mesir sampai Suriah zaman modern. Ramses II juga dikenal karena upaya pembangunannya, termasuk perluasan Kuil Karnak.

Sementara itu, Ptah-M-Wia adalah seorang kepala perbendaharaan berabad-abad lampau sebelum zaman penemuan koin yang dicetak. Pada masa itu, orang-orang melakukan transaksi pembayaran dengan barang atau logam mulia.

Di sisa-sisa makam Ptah-M-Wia, para arkeolog menemukan serangkaian lukisan dinding yang menunjukkan orang-orang memimpin ternak dan hewan lain untuk disembelih. Adegan ini bisa jadi terkait dengan posisi Ptah-M-Wia sebagai pengawas peternakan. Sejauh ini, tidak ada sisa-sisa manusia yang ditemukan di makam tersebut.

Beberapa ukiran di makam juga menggambarkan seorang pria, kemungkinan adalah Ptah-M-Wia. Dalam satu ukiran, ia ditampilkan duduk di samping beberapa guci dan sebuah benda yang terlihat seperti tanduk.

Para peneliti saat ini sedang menganalisis hieroglif yang ditemukan di atas ukiran yang menunjukkan, antara lain, bahwa selain tugasnya yang lain, Ptah-M-Wia bertugas membuat "persembahan ilahi" di salah satu kuil yang dibangun oleh Ramses II di Thebes (sekarang bernama Luxor).

Firaun membangun atau memperluas beberapa kuil di Thebes selama masa pemerintahannya, dan tidak diketahui di mana Ptah-M-Wia memberikan persembahan.

Ola Al-Ajizi, seorang profesor arkeologi di Universitas Kairo, memimpin tim yang menemukan makam tersebut. Para arkeolog terus menggali dan menganalisis makam dan daerah sekitarnya. Penemuan ini sangat menguntungkan, karena Saqqara memiliki sejumlah besar situs arkeologi yang mencakup Piramida Djoser yang berusia 4.700 tahun.