Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Sep 17, 2018

Seni bangunan Yunani Kuno

Sistem kepercayaan yang di anut oleh bangsa Yunani telah mendorong bangsa itu membuat bangunan indah untuk memuja dewa-dewa. Dalam masa permulaan (776-476 SM) bangunan Yunani banyak di buat di daerah daerah koloni. Misalnya di Italia selatan ditemukan kuil Hera dan Zeus. Sedangkan didaerah koloni di Asia ditemukan bangunan di Ephesos yang berupa kuil Arthemis, semuanya dengan gaya Ionia. Di Yunani, bangunan-bangunan yang terdapat di Korinthos dan Aigina bergaya Doria. 

Pada massa kejayaan Yunani (476-338 SM) banyak bangunan kuil dengan gaya Doria. Salah satu peninggalannya yang tersisa adalah Akropolis yang merupakan bagian kota Athena. Akropolis telah dihancurkan pasukan Persia dalam Perang Persia (480 479 SM). 

Bangunan lain yang terkenal pada masa kejayaan Yunani adalah kuil Zeus di bukit Olympus. Bangunan disebut Altis yang dipergunakan sebagai tempat pemujaan zeus sebagai dewa utama bangsa Yunani. Penghormatan kepada dewa Zeus dilakukan dengan mengadakan pertandingan olah raga yang disebut Olimpiade. pertandingan itu dilaksaakan empat tahun sekali. Cabang olah raga yang dilombakan antara lain lari cepat, gulat, lempar cakram, dan lompat galah. Bagi para pemenang akan memperoleh lambang kemenangan berupa daun zaitun yang menyerahkan dilakukan di Preytaneion.

Sep 16, 2018

Penduduk Yunani Kuno

Bangsa Yunani merupakan keturunan bangsa India-Jerman yang masuk ke wilayah itu sekitar tahun 2000 SM. Pulau kereta yang merupakan asal peradaban wilayah itu di duduki sekitar tahun 1250 SM.

Tempat tinggal bangsa Yunani terpecah oleh pegunungan yang banyak terdapat di negaranya. Ada 3 golongan besar penduduk Yunani, yaitu bangsa Ionia, bangsa Aiolia, dan bangsa Doria. Bangsa Ionia tinggal diJazirah Attoi dan kepulauan sekitarnya dengan pusatnya di Athena. Bangsa Aiolia tinggal di bagian utara Yunani dengan pusatnya di Olympia dan Delphi. Sedangkan bangsa Doria tinggal di daerah Peloponesos dengan pusatnya di Sparta.

Pemerintahan Yunani Kuno

Pada zaman kuno bangsa Yunani masih terpecah. Mereka mendirikan pemerintahan kota yang disebut polis. Kota yang dikelilingi oleh tembok pertahanan merupakan tata pemerintahan gaya Sparta dan Athena.

Tata pemerintahan di Sparta digariskan oleh Lykurgos (sekitar 900 SM) dan bersifat aristoklatis militer. Kaum bangsawan memegang peranan dalam pemerintahan. Sejak berumur tujuh tahun, anak-anak sudah dijadikan sebagai anak negara dan memproleh pendidikan militer. Mereka memiliki dewan penasihat yang anggotanya terdiri dari orang-orang tua (ephoros). Dewan rakyat tidak memiliki peranan dalam tata pemerintah di Sparta. Sedangkan tata pemerintahan Athena digariskan Solon (sekitar 600 SM) dan sifatnya oligarkis demokratis. Pemerintahan berada ditangan orang baik-baik, tetapi kekuasaan berada ditangan rakyat. Solon mengeluarkan peraturan yang menguntungkan rakyat.misalnya, melarang perbudakan kepada rakyat kecil di beri wakil dalam Dewan Rakyat Yunani memilki seorang negarawan lain yang bernama Perikles (460-429 SM) untuk menjamin keamanan negerinya dari gangguan bangsa asing, ia mengadakan perjanjian dengan Asia (448 SM) dan Sparta (446 SM) Untuk memakmurkan rakyatnya perdagangan di atur dengan baik, sehingga Athena menjadi pusat kegiatan perdagangan di laut tengah. Kemakmuran tersebut mnyebabkan kebudayaan Yunani berkembang pesat.

Yunani Kuno Kepercayaan

Bangsa Yunani juga menyembah dewa-dewa yang di gambarkan sebagai manusia biasa tetapi lebih sempurna. Dewa tersebut adalah Zeus yang dianggap sebagai para dewa dan bapak semua manusia. Ia menguasai langit dan bumi, serta bertahta di bukit Olympus, permaisurinya bernama Hera yang merupakan dewi perkawinan.

Dewa Apollo merupakan dewa matahari dan menjadi pelindung bagi para penyair, ia tinggal di bukit Hellikon. Pallas Athena adalah dewa pelindung dan perkawinan, Aphrodite adalah dewi kecantikan, Hermes merupakan dewa perdagangan, sedangkan Poseidon merupakan dewa laut. Hades adalah menjadi dewa kematian yang tinggal di Dunia Bawah, ia di jaga oleh ajingnya yang bernama Kerberos. Selain dewa tersebut masih banyak dewa lainnya dalam kepercayaan bangsa Yunani. Di samping itu, bangsa Yunani juga percaya adanya manusia setengah dewa.

Bangsa Yunani juga percaya pada ramalan Delphi. Delphi adalah nama sebuah kota tempat tinggal sejumlah dewa. Bila bangsa Yunani akan melakukan sesuatu yang besar, mereka datang ke Delphi terlebih dahulu untuk memperoleh ramalan. Orang yang mempin upacara itu adalah pendeta-pendeta perempuan. Setelah membakar suatu bahan yang aspnya dapat memabukkan, pendeta-pendeta itu mengatakan sesuatu yang kemudian ditafsirkan memiliki hubungan dengan rencana yang akan di jalankan.

Ilmu PengetahuanYunani Kuno

Yunani melahirkan ahli-ahli pengetahuan kenamaan. Dalam bidang sejarah, ahli yang terkenal adalah Herodotos(484-425 SM). Ia banyak mengunjungi daerah-daerah lain, seperti Mesir dan Persia. Sejarawan lain adalah Thukydides. (460-393 SM) yang menulis tentang Perang Peloponnesos antara Sparta dan Athena. Penulisannya bersifat kritis sehingga ia dianggap sebagai pelopor penulisan sejarah modern. Dalam ilmu matematika yang terkenal adalah Pythagoras (750-500 SM). Ia banyak berfilsafat tentang angka. Salah satu dalil yang terkenal menyebutkan bahwa dalam segitiga siki-siku, jumlah kuadrat kedua sisinya sama dengan kuadrat sisi depan sudut siku-siku. Sedangkan ahli ilmu alam yang terkenal adalah Arkhimedes (287-212SM) Arkhimedes mengemukakan sebuah teori bahwa berat benda terapung sama dengan benda cair yang dipindahkan.

Bangsa Yunani telah memiliki berbagai macam pengetahuan dan teknologi yang tinggi, yakni menciptakan perahu layar yang ramping sebagai sarana untuk mengarungi Laut Tengah dan menghubungkan daratan Yunani dengan daerah-daerah pantai timur Pulau Sisilia, membuat barang-barang dari tanah liat. Menghasilkan karya arsitektur yang megah seperti kuil Zeus, kuil Parthenon dan Gedung Teater Raksasa, mengembangkan industri untuk menunjang perdagangannya, yakni keramik yang bentuknya beraneka ragam dan dihias dengan indah. Menghasilkan karya benda-benda logam berkembang pesat terutama untuk menyediakan alat-alat perang.

Agama Yunani Kuno

Pengetahuan mengenai agama pada Zaman Perunggu amat sangat sedikit. Terlepas dari beberapa rujukan, tulisan, dan lembaran tanah liat Linear B, informasi yang ada membuat kita hanya bisa berspekulasi. Sehingga sebagian besar informasi kita letahui dari bukti-bukti arkeologis, seperti misalnya patung, arca, miniatur, dan lukisan dinding. Bahkan dengan semua prasasti ini, kita masih belum bisa sepenuhnya mengungkap mengenai para dewa yang disembah pada masa itu.

Di kota Knossos, Faistos, dan Malllia, terdapat istana-istana yang tak disertai kuil umum. Tempat ibadahnya sangat kecil, sehingga memunculkan dugaan bahwa ritual keagamaan dilakukan di luar ruangan. Dalam tempat suci tersebut terdapat altar keci tempat tersimpannya patung-patung dewa. Hal ini berlawanan dengan Periode Klasik, ketika banyak bermunculan kuil besar.

Yang jelas adalah bahwa pada Peradaban Minoa (2000-1400 SM) di Kreta dan pulau-pulau di sekitarnya (Kyklad), masyarakatnya lebih menyembah dewi. Ada banyak sekali arca dan patung kecil dewi-dewi. Patung-patung itu dibuat dari kayu, batu, atau tanah liat. Ada dewi bumi, dewi ular, dan dewi binatang. Beberapa ahli percaya bahwa sebenarnya yang disembah oleh orang-orang Minoa hanyalah satu Dewi yang maha berkuasa. Teorinya adalah bahwa Dewi Agung tersebut memiliki banyak nama dan atribut. Dewi ular dan dewi bumi merupakan aspek yang berbeda dari dewi yang sama. Apakah teori ini benar atau tidak, itu sulit diketahui karena pada masa itu tidak ada tulisan yang menceritakan masalah keagamaan.

Sementara Peradaban Mykenai (1600-1050 SM) lebih menyembah dewa daripada dewi. Nama Poseidon ditemukan pada lemabran Lienar B yang ditemukan di pusat Mykenai. Nama Ares, Artemis, Athena, Hermes, Poseidon, Zeus, dan Dionysos, ditemukan dalam berbagai lembaran tanah liat yang berceceran. Meskipun begitu, tidak diketahui apakah nama-nama tersebut berkaitan dengan dewa-dewa dalam mitologi Yunani yang kita ketahui.

Bangsa Yunani Hellen tiba setelah Invasi Doria, dan mereka menganut agama patriarki (lelaki sebagai pemimpin), sehingga mereka menyembah Zeus sebagai dewa utama. Dalam kepercayaan mereka, Zeus adalah pemimpin semua dewa dan manusia, sekaligus sebagai dewa terpenting. Akibatnya, pada periode ini, para dewi bumi dan kesuburan dari Zaman Perunggu mulai berkurang pemujaannya dan tergantikan oleh Zeus.

Tak seperti agama Yahudi, Nasrani, atau Islam, agama Yunani tak memiliki kitab suci. Agama Yunani sebagian besar ditemukan dalam mitologi Yunani, bukan dalam suatu kitab seperti halnya Al-Qur'an. Salah satu risalah yeng menceritakan mitologi Yunani adalah Himne Homeros, yang disusun pada abad ketujuh-keenam SM, dan beberapa syair Orfeus yang tercecer dari abad keenam SM. Dan karya-karya tersebut menjelaskan tentang kisah-kisah para dewa, alih-alih cara beribadah atau ritual keagamaan.

Ada banyak tardisi dan festival di Yunani, namun itu berbeda-beda di tiap kota. Festival di Attika dan Boiotia terdokumenatsikan secara lebih baik daripada kota-kota lainnya. Banyak kegiatan yang terjadi dalam festival, antara lain ritual pengorbanan, puasa, pawai, dan kontes musik dan atletik.

Dalam suatu festival, biasanya ritual pengorbanan dipimpin oleh penguasa atau bangsawan, bukan oleh pendeta. Sementara pendeta bertugas mengurus kuil atau tempat suci. Namun semua bisa memberikan persembahan pada dewa.

Kuil-kuil Yunani merupakan prasasti penting mengenai agama Yunani kuno. Sumber paling berharga mengenai kuil dan temmpat suci ditulis oleh Pausanias, seorang geografer Yunani. Pausanias juga kadang menggabungkan informasi mengenai situs-situs keagamaan dengan mitos lokal.

Pada masa Zaman Besi, beberapa kelompok pemujaan baru, mulai bermunculan. Kelompok-kelompok ini didirikan oleh orang-orang yang tidak puas dengan agama konvensional. Kelompok-kelompok ini mengembangkan kepercayaan, pengajaran, dan ritual mereka sendiri. Hanya anggota kelompok tersebut yang mengetahui ritual kelompok masing-masing, yang dirahasiakan secara ketat dan tidak diberitahukan kepada sembarang orang. kelompok pemujaan ini disebut Agama Misteri. Salah satu kelompok yang terkenal adalah Misteri Eleusis.

Plato

Plato kini dikenal sebagai salah satu filsuf terbesar sepanjang masa. Ia lahir sekitar 429 SM, dekat dengan waktu kematian Perikels, dan ia meninggal pada 347 SM, tak lama setelah kelahiran Aleksander Agung. Plato lahir di Athena, dari keluarga yang kaya dan kuat. Banyak kerabatnya yang terlibat dalam politik Athena.

Semasa muda, ia berguru kepada Sokrates, dan belajar banyak mengenai cara berpikir serta apa yang harus dipikirkan. Setelah Sokrates dibunuh pada 399 SM, Plato menjadi berang. Plato, yang ketika itu berusia 30 tahun, mulai menuliskan beberapa percakapannya dengan Sokrates. Oleh karena itu, gagasan Sokrates pada masa kini banyak diketahui dari tulisan-tulisan Plato.

Meskipun demikian, setelah beberapa lama, Plato mulai menuliskan gagasannya sendiri. Salah satu karya pertamanya adalah Republik, yang menggambarkan gagasan Plato mengenai bentuk pemerintahan yang lebih baik daripada pemerintahan Athena. Plato menganggap bahwa sebagian besar orang cukup bodoh sehingga tak boleh memiliki hak untuk memutuskan mengenai segala sesuatu. Alih-alih, orang-orang terbaiklah yang harus menjadi pelindung orang lainnya. Plato sendiri berasal dari keluarga aristokrat sehingga ia mungkin menganggap dirinya termasuk dalam golongan orang terbaik.

Plato juga memikirkan dunia alami dan cara kerjanya. Ia menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki semacam wujud ideal, misalnya kursi ideal, dan kemudian kursi nyata hanyalah tiruan buruk dari kursi ideal yang hanya ada dalam pikiran manusia. Salah satu cara Plato untuk menjelaskan gagasan ini adalah dengan metafora terkenal mengenai gua. Ia mengatakan bahwa, misalkan ada sebuah gua, dan di dalamnya ada beberapa orang yang dirantai ke dinding gua, sehingga mereka hanya dapat melihat bagian belakang gua. Orang-orang ini tidak dapat melihat ke luar gua, atau bahkan saling melihat satu sama lain dengan jelas. Mereka hanya dapat melihat bayangan dari apa yang berada di belakang mereka. Akhinya orang-orang ini beranggapan bahwa bayangan-bayangan tersebut adalah hal nyata.

Lalu, misalkan ada seseorang yang berhasil kabur dan keluar dari dalam gua. Ia lalu melihat benda-benda nyata yang sebenarya. Jika ia kembali ke gua dan memberitahukan itu kepada orang-orang, tentu ia akan dianggapp gila dan tak akan dipercaya.

Plato mengatakan bahwa manusia adalah orang-orang yang berada di dalam gua. Manusia mengira bahwa mereka memahami dunia nyata, namun karena terjebak dalam tubuh, maka manusia hanya melihat bayangan di dinding. Salah satu tujuan Plato adalah membantu manusia memahmi dunia nyata dengan lebih baik, dengan cara mencari tahu caray memperkirakan atau memahamii dunia nyata bahkan tanpa melihatnya.

Ada kemungkinan bahwa gagasan Plato mengenai perbedaan antara dunia nyata dan ilusi yang tampak berkiatan dengan gagasan Hindu dan Buddha mengenai nrwana, yang muncul di India sekitar masa yang sama.

Jika kursi memiliki bentuk ideal, begitu pula manusia. Wujud ideal manusia, menurut Plato, adalah jiwa. Jiwa tersusun dari tiga bagian, yaitu nafsu, kehendak, dan akal. Kehendak membuat kita mampu mengendalikan nafsu, dan akal membantu menentukan kapan harus mematuhi atau menahan nafsu. Jika ketiga unsur ini seimbang, maka hidup akan menjadi bahagia.

Akan tetapi, jika ketiga unsur itu tidak seimbang, maka akan terjadi kekacauan. Jika nafsu terlalu kuat, maka seseorang bisa saja menyakiti orang lain; jika kehendak terlalu kuat, maka seseorang bisa saja menyakiti dirinya sendiri; dan jika akal tidak bekerja dengan baik, maka seseorang tak akan dapat mengendalikan nafsu dengan benar dan dapat berujung pada kelainan mental.

Gagasan Plato mengenai politik tidak terlalu diperhatikan di Athena, dengan tak lama setelah kematian Sokrates, ia pergi ke Sisilia untuk menjadi guru bagi seorang pangeran muda di sana. Ia berupaya mendidik sang pangeran menjadi pelindung yang baik bagi rakyatnya. Akan tetapi, sang pangeran tidak terlalu peduli pada ajaran Plato, dan setelah dua belas tahun mengajar, Plato, kini telah menginjak usia pertengahan empat puluh tahun, menyadari bahwa ia telah gagal. Ia akhirnya kembali ke Athena.

Di Athena, Plato membuka skeolah filsafat yang disebut Akdemi. Sekolah ini menjadi terkenal dan Plato tinggal di sana hingga wafat pada usia kira-kira delapan puluh tahun. Salah satu murid Plato di Akademi ini adalah Aristoteles. Plato menghabiskan sisa hidupnya dengan menulis karya lainnya tentang politik yang berjudul Hukum, yang lebih bernuansa pesimis daripada Republik, dan isinya lebih banyak membicarakan mengenai betapa korupnya para polirisi, dan betapa mereka harus terus diawasi.

Plato meninggal pada 347 SM. Murid-muridnya di Akademi merawat dan menyalin semua tulisn Plato, sehingga pada masa kini kita memiliki catatan yang cukup lengkap mengenai gagasan-gagasan Plato.

Afrika

Afrika adalah tempat asal manusia, jadi sejarah Afrika berlangsung lebih lama dibanding tempat lainnya di bumi. Pada awalnya, sekitar dua juta tahun silam, mungkin hanya ada sekitar dua ribuan orang di seluruh Afrika (atau di manapun di dunia), dan mereka hidup dengan mengumpulkan tumbuhan liar serta mengambil daging sisa makanan hewan buas. Sekitar 1,9 juta tahun silam, mereka mulai mengggunakan peralatan batu, dan kira-kira 800 ribuan tahun silam mereka mulai menggunakan api. Memasak makanan dengan api, yang mempermudah mencerna makanan, mungkin adalah penyebab orang-orang awal memperoleh energi tambahan untuk menumbuhkan otak lebih besar dan menjadi manusia modern. Para manusia modern awal ini barangkali muncul di Afrika tenggara.

Sekitar 100 ribuan tahun silam, orang hidup di Gua Blombos, di pesisir Afrika Selatan, mereka mengumpulkan keerang untuk dimakan. Mereka juga memancing ikan menggunakan kail dari tulang ikan. Pada 75 ribuan tahun silam, orang di Gua Blombps mencampur mineral untuk membuat cat dan menciptakan gambar abstrak pada blok okhre merah. Mereka juga membuat kalunng manik-manik dari kerang.

Bukti genetika menunjukkan bahwa hingga masa ini, setelah 100 ribuan tahun silam, Afrika adalah satu-satunya tempat di bumi yang dihuni manusia. Kemudian orang menyebar di sepanjang pantai, pergi ke Jazirah Arab, India, hingga Australia. Sebagian besar orang masih hidup di Afrika tapi pada akhir Zaman Es, orang mulai berpindah ke Asia Barat, mengikuti kawanan hewan.

Bangsa India-Eropa

Sekitar tahun 1500 SM, India diserang oleh bangsa India-Eropa. Bangsa ini datang dari daerah di antara Laut hitam dan Laut Kaspia. Antara 2500 dan 2000 SM, banyak orang India-Eropa bermigrasi ke seluruh Eurasia. Beberapa pergi ke Eropa dan menjadi bangsa Romawi dan Yunani, sebagian bermukim di Turki dan menjadi bangsa Het. Yang lainnya bermigrasi ke barat daya. Beberapa dari mereka berhenti di Iran, sedangkan yang lainnya melanjutkan ke tenggara ke Pakistan dan India. Migrasi yang lambat ini tiba di India sekitar tahun 1500 SM. Di India, bangsa India-Eropa ini biasanya disebut bangsa Arya atau bangsa Weda, sedangkan periode ini disebut sebagai periode Weda. 

Beberapa orang memperdebatkan kedatangan bangsa India-Eropa, dan banyak pula yang mengatakan bahwa tidak pernah terjadi invasi sama sekali. Namun ada catatan bahasa tulisan yang dibawa oleh bangsa India-Eropa ini ke India, yaitu bahasa Sansakerta. Kita dapat membaca bahasa Sansakerta, dan kita dapat dengan mudah melihat bahwa banyak kata dalam bahasa Sansakerta pada dasarnya sama dengan bahasa-bahasa India-Eropa lainnya. Selain itu bukti genetis terkini mendukung kedatangan bangsa India-Eropa. Selain bahasa mereka, bangsa Arya juga membawa serta dewa-dewi mereka ke India. Dewa-dewi ini menjadi basis Rig Weda dan saga-saga lainnya yang pertama kali ditulis dalam bahasa Sansakerta. Mereka juga membawa kuda terdomestikasi. 

Bangsa Arya pada awalnya bermukim di sepanjang sungai Indus, di tempat yang sama dimana orang Harappa tinggal. Mereka bermukim dan bercampur dengan orang India lokal. Mereka tinggal di sana sejak sekitar 1500 SM hingga 800 SM. Nampaknya pada masa ini sistem kasta mulai muncul di India. 

Sekitar 800 SM, bangsa Arya mempelajari cara menggunakan besi untuk membuat senjata dan peralatan. Mereka kemungkinan belajar menempa besi dari orang Asia Barat, yaitu bangsa Assyria, yang mempelajarinya dari orang India-Eropa lainnya, yaitu bangsa Het. Setelah bangsa Assyria tahu cara menggunakan besi, mereka menggunakan senjata baru mereka untuk menaklukan India, dan berpindah ke selatan dan timmur ke lembah sungai Gangga. Mereka bermukim di sana tidak lama setelah 800 SM.

Pasca-Gupta

Orang-orang penghuni India awalnya berasal dari Afrika sekitar 40.000 SM. Pada awalnya mereka adalah pemburu dan pengumpul, seperti orang-orang lainnya di seluruh dunia pasa masa itu. Namun sekitar tahun 4000 SM, orang-orang ini mulai bertani dan pada 2500 SM bermukim di lembah sungai Indus. Di sana mereka mulai tinggal di kota-kota dan menggunakan air irigasi untuk mengairi ladang mereka. Ini berlangsung lebih telat daripada di Asia Barat, kemungkinan karena India tidak seramai Asia Barat pada masa itu. Ada pendapat bahwa mereka mulai bertani, dan kemudian membangun kota-kota adalah tren pemanasan berangsur yang menjadikan lebih sulit untuk memperoleh air, dan lebih sulit untuk menemukan tanaman liar untuk dimakan, setiap tahunnya. Jadi tiap tahun semakin banyak orang yang pindah ke lembah sungai Indus, dimana masih ada cukup banyak air. Ketika mulai banyak orang, orang-orang mulai membangun kota-kota.

Peradaban Harappa disebut juga peradaban Lembah Sungai Indus. Ada dua kota utama yang kita ketahui, Harappa dan Mohenjo-Daro, yang terpisah sekitar sekitar 400 kilometer. Keduanya kini ada di negara Pakistan. Orang-orang di kedua kota ini tinggal di rumah batu dengan dua dan tiga lantai, dan memiliki sistem pembuangan. Mereka menggunakan peralatan perunggu. Mereka mungkin mempelajari cara membuat perunggu dari bangsa Sumeria. 

Orang Harappa menggunakan bentuk tulisan awal yang berdasarkan hieroglif, seperti bangsa Mesir. Sayangnya kita tidak dapat membacanya, karena tidak banyak yang tersisa. 

Sekitar 2000 SM, peradaban Harappa runtuh secara tiba-tiba. Kita tidak tahu apa penyebab keruntuhannya. Beberapa berpendapat bahwa penyebabnya adalah tren pemanasan yang terus berlanjut hingga tak ada lagi air bahkan di lembah sungai Indus untuk mendukung keberlangsngan kota-kota. Beberapa orang kemungkinan kelaparan hingga mati, sedangkan yang lainnya pindah ke perbukitan, dimana lebih dingin dan memperoleh air hujan. 

Pada 1500 SM, lembah sungai Indus dilanda invasi oleh bangsa India-Eropa. Invasi serupa juga pernah terjadi di Yunani dan Italia beberapa waktu sebelumnya. 

Setelah Kekasaran Gupta runuh pada 500-an M, India kembali diisi oleh banyak kerajaan kecil. Terjadi banyak peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil ini, namun ada pula perkembangan arsitektur dan seni yang pesat pada masa ini. Di India utara, Raja Harsha berhasil memimpin kerajaan yang lumayan besar, namun setelah ia meninggal pada 600-an M, kerajaannya juga terpecah menjadi banyak kerajaan yang lebih kecil. 

Kekaisaran Harsha

Sementara itu, India selatan memiliki kerajaan-kerajaan yang lebih besar dan kuat dibanding India utara. Kerajaan terpenting di selatan adalah Kekaisaran Chola, yang menjadi kaya berkat penjualan lada, kayu manis, serta rempah-rempah lainnya ke para pedagang Arab, yang kemudian menjualnya kembali di Kekhalifahan Islam dan Eropa Abad Pertengahan. 

Wilayah Kekaisaran Chola

Namun, sekitar 800 M, beberapa kerajaan kecil di India utara mulai menjadi lebih kuat. Para rajanya berasal dari suatu kelompok yang disebut Rajput, sehingga kerajaan-kerajaan ini disebut kerajaan-kerajaan Rajput. Kerajaan-kerajaan Rajput bekerja keras menghalau serbuan Abbasiyah yang berupaya menguasai India utara.

Mughal

Sekitar tahun 1500 SM, India diserang oleh bangsa India-Eropa. Bangsa ini datang dari daerah di antara Laut hitam dan Laut Kaspia. Antara 2500 dan 2000 SM, banyak orang India-Eropa bermigrasi ke seluruh Eurasia. Beberapa pergi ke Eropa dan menjadi bangsa Romawi dan Yunani, sebagian bermukim di Turki dan menjadi bangsa Het. Yang lainnya bermigrasi ke barat daya. Beberapa dari mereka berhenti di Iran, sedangkan yang lainnya melanjutkan ke tenggara ke Pakistan dan India. Migrasi yang lambat ini tiba di India sekitar tahun 1500 SM. Di India, bangsa India-Eropa ini biasanya disebut bangsa Arya atau bangsa Weda, sedangkan periode ini disebut sebagai periode Weda. 

Beberapa orang memperdebatkan kedatangan bangsa India-Eropa, dan banyak pula yang mengatakan bahwa tidak pernah terjadi invasi sama sekali. Namun ada catatan bahasa tulisan yang dibawa oleh bangsa India-Eropa ini ke India, yaitu bahasa Sansakerta. Kita dapat membaca bahasa Sansakerta, dan kita dapat dengan mudah melihat bahwa banyak kata dalam bahasa Sansakerta pada dasarnya sama dengan bahasa-bahasa India-Eropa lainnya. Selain itu bukti genetis terkini mendukung kedatangan bangsa India-Eropa. Selain bahasa mereka, bangsa Arya juga membawa serta dewa-dewi mereka ke India. Dewa-dewi ini menjadi basis Rig Weda dan saga-saga lainnya yang pertama kali ditulis dalam bahasa Sansakerta. Mereka juga membawa kuda terdomestikasi. 

Bangsa Arya pada awalnya bermukim di sepanjang sungai Indus, di tempat yang sama dimana orang Harappa tinggal. Mereka bermukim dan bercampur dengan orang India lokal. Mereka tinggal di sana sejak sekitar 1500 SM hingga 800 SM. Nampaknya pada masa ini sistem kasta mulai muncul di India. 

Sekitar 800 SM, bangsa Arya mempelajari cara menggunakan besi untuk membuat senjata dan peralatan. Mereka kemungkinan belajar menempa besi dari orang Asia Barat, yaitu bangsa Assyria, yang mempelajarinya dari orang India-Eropa lainnya, yaitu bangsa Het. Setelah bangsa Assyria tahu cara menggunakan besi, mereka menggunakan senjata baru mereka untuk menaklukan India, dan berpindah ke selatan dan timmur ke lembah sungai Gangga. Mereka bermukim di sana tidak lama setelah 800 SM. 

Timur Lenk meninggal pada 1405 M, dan kematiannya membuat kekaisarannya runtuh, sekaligus membuat Mongol kehilangan kendali atas India. Para pemimpin Muslim di India pun mendirikan negara-negara kecil di India utara. Akan tetapi, beberapa puluh tahun kemudian, Mongol kembali menyerbu India dan mendirikan suatu kerajaan di sana. Kerajaan ini yang disebut Kekaisaran Mughal. 

Kaisar Mughal pertama adalah seorang Muslim bernama Babur. Babur awalnya memerintah Kabul (di Afghanistan modern), dan pada 1504 M ia memutuskan untuk menaklukan kembali wilayah bekas Timur Lenk di India utara. Pada 1526 M, Babur menggunakan senjata bubuk mesiunya dan berhasil menaklukan Delhi. Babur menguasai wilayah yang amat luas, berbatasan dengan Kekaisaran Ming di timur (Tiongkok), dan Dinasti Safawiyah di barat (Iran). 

Babur

Setelah Babur meninggal pada 1530 M, putranya Humayun naik tahta. Akan tetapi, rakyat India melakukan pemberontakan sehingga ia harus bersembunyi ke istana Safawiya. Ketika telah mulai memperoleh kembali kekuasaannya, Humayun meninggal pada 1545 M. Setelah itu jenderalnya Bairam Khan dan jandanya, Hamida Banu, berkuasa atas nama putra Humayun, Akbar, yang baru berusia 13 tahun. Pada 1560 M Akbar tumbuh dewasa, dan ia bersama ibunya mengambil alih kekuasaan. Akbar berhasil membawa Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang amat luas, meliputi kawasan yang kini menjadi India, Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh. Hamida meninggal pada 1604 M sedangkan Akbar setahun kemudian. 

Akbar

Putra Akbar, Jahangir, naik tahta pada 1605 M, meskipun sebenarnya kekuasaan mungkin lebih dipegang oleh istrinya Nur Jahan. Pada masa ini, Mughal kehilangan kota Kandahar (di Afghanistan selatan) akibat direbut oleh Safawiyah. Ini membuat Mughal kehilangan kendali atas Jalur Sutra di Asia Tengah. Meskipun demikian, Nur Jahan berhasil memimpin Mughal merebut lebih banyak wilayah di India utara. Pada 1613 M, para pelaut Portugal menangkap sebuah kapal Mughal yang mengangkut para peziarah Muslim yang hendak melaksnakan hji ke Mekah. Peristiwa ini membuat Nur Jahan menangkapi semua pedagang Portugal di Mughal, serta menyita gereja-gereja Yesuit. 

Nur Jahan

Menjelang akhir hidupnya dalam keadaan sakit, Nur Jahan mengedarkan koin dengan namanya. Ia juga berupaya menjalin persekutuan dengan ratu Utsmaniyah Kosem Sultan dan dengan suku Uzbek untuk melawan musuhnya, Safawiyah, Akan tetapi, Jahangir meninggal pada 1627 M sebelum serangan sempat dilakukan. 

Jahangir digantikan oleh putra ketiganya, Syah Jahan, yang langsung mengurung ibu tirinya Nur Jahan supaya ia dapat berkuasa seorang diri. Syah Jahan menikahi keponakan Nur Jahan, Mumtaz Mahal. Mereka amat dekat dan memiliki empat belas anak. Selama pemerintahannya, Syah Jahan sibuk menghadapi berbagai ancaman terhadap Kekaisaran Mughal, di antaranya pemberontakan Sikh, para pedagang Portugal dan Britania, dan para pendeta Yesuit. Ia juga merebut kembali Kandahar dari Safawiyah. Mumtaz Mahal meninggal ketika melahirkan anak terakhirnya pada 1631 M. Untuk mengenang istrinya, Syah Jahan membangun Taj Mahal yang berisi makam Mumtaz Mahal. 

Syah Jahan

Pada 1668 M, putra ketiga Syah Jahan, Aurangzeb, meerebut tahta Mughal dari ayahnya. Aurangzeb berupaya melakukan sentralisasi kekuasaan dan mengendalikan lebih banyak urusan kekaisaran daripada para pendahulunya. Aurangzeb juga membatasi kebebasan bergama dan menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang boleh dianut oleh rakyatnya. Pada masa pemerintahannya, Aurangzeb berhasil menaklukan sebagian besar India selatan, membuat Mughal mencapai wilayah terluasnya. 

Aurangzeb meninggal pada 1707 M dalam usia 88 tahun. Ia digantikan oleh putranya, Bahadur, yang saat itu berusia 63 tahun. Bahadur hanya memerintah selama lima tahun sebelum meninggal. Setelah itu, Kekaisaran Mughal mengalami perpecahan karena banyak wilayahnya yang memisahkan diri. Kekaisaran Maratha, yang dikuasai oleh orang Hindu, di India tengah, perlahan-lahan menyebar hingga menguasai sebagian besar India. Orang Sikh juga mendirikan negaranya sendiri, yang disebut Kekaisaran Sikh, di Punjab di India timur laut. Lama-kelamaan Kekaisaran Mughal pun tak lagi dianggap penting. 

Aurangzeb

Pada 1739 M, pemimin Iran Nader Syah menyadari bahwa Mughal telah menjadi amat lemah. Ia pun menyerbu India dan menjarah Delhi, merampok berton-ton emas dan harta. Nader Syah tidak lama menguasai India, namun tindakannya membuat para pedagang Britania menyadari betapa lemahnya Mughal. Setelah itu Afghanistan, di bawah Ahmed Syah Durrani, melakukan perluasan ke selatan untuk menguasai seluruh Lembah Indus (Pakistan modern). Ini membuat pasukan Britania cemas bahwa perdagangan mereka dengan India, yang menghasilkan keuntungan amat besar, akan terganggu oleh negara-negara kecil dan baru ini. Akhirnya, Britania pun melancarkan serangan untuk menaklukan India.

Maurya

Setelah Aleksander kembali ke Babilon pada 324 SM, seorang pria bernama Chandragupta mengalahkan Kerajaan Weda Nanda dan mendirikan kekaisaran baru yang besar di India utara. Kekaisaran ini disebut Maurya dan wilayah kekuasaannya bahkan mencapai Afghanistan. Para sejarawan Yunani menyebut bahwa Chandragupta terinspirasi oleh Aleksander, namun Chandragupta, seperti halnya Aleksander, lebih mungkin terinspirasi untuk mendirikan kekaisaran oleh Persia, atau dari kekaisaran-kekaisaran Weda yang lebih awal di India. Chandragupta berhasil memperoleh Lembah Indus dari genggaman Yunani, dan sebagai bagian dari perjanjian damainya, ia menikahi anak perempuan Seleukos dan memberikan 200 gajah. Seleukos sendiri adalah salah satu penerus Aleksander di Persia. 

Chandragupta meninggal pada 298 SM dan digantikan oleh putranya Bindusara. Putra Bindusara, Asoka, memimpin Kekaisaran Maurya mencapai puncak kejayaannya. Di bawah Asoka, Maurya berhasil memperluas wilayahnya hingga menguasai sebagian India selatan. 

Namun suatu hari Ashoka mengalami peperangan yang amat brutal di Orissa. Menurut tradisi, meskipun berhasil menang, konflik tersebut membuat Ashoka tak mau lagi terlibat dalam peperangan. Ashoka juga berpindah agama dari agama India tradisional, Hindu, ke agama baru, Buddha. Ia berperan dalam mendorong rakyanya memeluk agama Buddha, sehingga Buddha mengalami perkembangan pesat di India, bahkan hingga ke Asia Tengah. 

Setelah Ashoka meninggal pada 231 SM, para penerusnynya bukanlah pemimpin yang cakap sehingga Kekaisaran Maurya perlahan-lahan mengalami kemunduran dan perpecahan.

Bangsa Harappa

Orang-orang penghuni India awalnya berasal dari Afrika sekitar 40.000 SM. Pada awalnya mereka adalah pemburu dan pengumpul, seperti orang-orang lainnya di seluruh dunia pasa masa itu. Namun sekitar tahun 4000 SM, orang-orang ini mulai bertani dan pada 2500 SM bermukim di lembah sungai Indus. Di sana mereka mulai tinggal di kota-kota dan menggunakan air irigasi untuk mengairi ladang mereka. Ini berlangsung lebih telat daripada di Asia Barat, kemungkinan karena India tidak seramai Asia Barat pada masa itu. Ada pendapat bahwa mereka mulai bertani, dan kemudian membangun kota-kota adalah tren pemanasan berangsur yang menjadikan lebih sulit untuk memperoleh air, dan lebih sulit untuk menemukan tanaman liar untuk dimakan, setiap tahunnya. Jadi tiap tahun semakin banyak orang yang pindah ke lembah sungai Indus, dimana masih ada cukup banyak air. Ketika mulai banyak orang, orang-orang mulai membangun kota-kota. 

Peradaban Harappa disebut juga peradaban Lembah Sungai Indus. Ada dua kota utama yang kita ketahui, Harappa dan Mohenjo-Daro, yang terpisah sekitar sekitar 400 kilometer. Keduanya kini ada di negara Pakistan. Orang-orang di kedua kota ini tinggal di rumah batu dengan dua dan tiga lantai, dan memiliki sistem pembuangan. Mereka menggunakan peralatan perunggu. Mereka mungkin mempelajari cara membuat perunggu dari bangsa Sumeria. 

Orang Harappa menggunakan bentuk tulisan awal yang berdasarkan hieroglif, seperti bangsa Mesir. Sayangnya kita tidak dapat membacanya, karena tidak banyak yang tersisa. 

Sekitar 2000 SM, peradaban Harappa runtuh secara tiba-tiba. Kita tidak tahu apa penyebab keruntuhannya. Beberapa berpendapat bahwa penyebabnya adalah tren pemanasan yang terus berlanjut hingga tak ada lagi air bahkan di lembah sungai Indus untuk mendukung keberlangsngan kota-kota. Beberapa orang kemungkinan kelaparan hingga mati, sedangkan yang lainnya pindah ke perbukitan, dimana lebih dingin dan memperoleh air hujan. 

Pada 1500 SM, lembah sungai Indus dilanda invasi oleh bangsa India-Eropa. Invasi serupa juga pernah terjadi di Yunani dan Italia beberapa waktu sebelumnya.

Gupta

Pada 319 M, Raja Chandragupta I berhasil menyatukan kembali seluruh India selatan dalam satu negara, yang disebut Kekaisaran Gupta. Ia tidak berkerabat dengan Chandragupta Maurya (pendiri Kekaisaran Maurya), namun ia ingin dianggap demikian. Para raja Gupta bukanlah penganut Buddha, melainkan Hindu, agama lama India. 

Pada masa Gupta, India menjadi kuat dan makmur. Gupta juga mampu menciptakan kedamaian di India sehingga perdagangan dengan Tiongkok, melalui Sogdiana di Asia Tengah, berkembang pesat. Peziarah Buddha dan ilmuwan juga saling bepergian antara Tiongkok dan India. Ini membuat ilmu pengetahuan India mengalami kemajuan, salah satunya adalah penemuan angka nol. Ilmuwan India juga berhasil mengolah tebu menjadi gula sekitar 350 M. Para pedagang India menjual gula ini ke Tiongkok. Salah satu hasil dari perdagangan dengan Tiongkok adalah dibawanya versi awal permainan catur ke India. 

Pada 455 M suku Hun menyerbu India dari utara dan menghancurkan Kekaisaran Gupta. Setelah itu India kembali terpecah menjadi banyak kerajaan kecil hingga datangnya serbuan oleh Muslim sekitar

Ekspansi Weda

Setelah bangsa Weda berpindah ke lembah Gangga sekitar 800 SM, mereka menjadi semakin jauh dari Asia Barat dan Tengah, sehingga semakin mengurangi kontak dengan orang-orang di kawasan tersebut. Bangsa Weda juga mulai bercampur dengan orang India, sedangkan dewa-dewi India dicampurkan dengan dewa-dewi India-Eropa. Penaklukan Weda di Gangga dikenang dalam Mahabharata, yang pertama kali dituturkan pada masa ini. 

Akan tetapi, bangsa Weda tidak menguasai seluruh India. India Selatan dikuasai oleh sekumpulan raja merdeka yang tidak mau tunduk kepada bangsa Weda. Kisah mengenai peperangan antara bansga Weda melawan para raja selatan diceritakan dalam Ramayana. 

Pada 500 SM, sebagian India barat laut (Pakistan modern) ditaklukan oleh Persia di bawah para rajanya, Koresh dan Darius. Sama seperti bangsa Weda, bangsa Persia juga merupakan keturunan bangsa India-Eropa yang dulu meninggalkan tempat asal mereka. Ketika leluhur bangsa Weda masuk ke India, leluhur bangsa Persia memilih untuk menetap di Iran. Persia tak pernah benar-benar menguasai India. Mereka berhasil memaksa orang India memberi upeti, namun orang India tidak benar-benar tunduk terhadap segala perintah Persia. 

Sementara itu, bangsa Weda terus menguasai India timur laut. Ingin meniru Persia, bangsa Weda berupaya membuat sebuah kekaisaran yang besar. Disebutkan dalam Mahabharata bahwa ini adalah masa ketika "ikan besar memangsa ikan kecil." Pada 400-an SM, Siddhartha Gautama, yang kemudian lebih dikenal sebagai Buddha, hidup dan menyebarkan agama Buddha.

Sejarah Delhi

Sekitar 1100 M, Mamluk, yang telah menaklukan Persia (Iran modern), menyerbu India untuk menaklukan kawasan itu juga. ada 1192 M, Mamluk berhasil mengalahkan para raja Rajput dan merebut India utara (dan Pakistan modern). 

Pada tahun itu pula, jenderal Muslim menguasai Delhi dan mendirikan suatu dinasti yang, bersama beberapa dinati setelahnya, disebut Kesultanan Delhi. Dinasti pertama disebut Dinasi Budak karena para pemimpinnya adalah tentara budak atau Mamluk. Lama-kelamaan, banyak penganut Hindu dan Buddha di Kesultanan Delhi yang memeluk Islam. 

Wilayah Dinasti Budak

Pada masa ini, Mongol sempat melakukan beberapa penyerbuan ke Delhi dan menguasai beberapa kota di India utara. Namun, Kesultanan Delhi berhasil merebut kembali kota-kota tersebut berkat membaiknya hubungan diplomatik dengan Mongol dan perhatian Mongol yang lebih terfokus ke Asia Barat. 

Ketika Dinasti Budak berakhir akibat perang saudara pada 1290 M, Dinasti Khalji (atau Khilji) mengambil alih Kesultanan Delhi. Dinasti Khalji digantikan oleh Dinasti Tughluq (atau Tughlaq), yang berhasil memperluas kekuasaan Delhi hingga meliputi sebagian India selatan. Akan tetapi, pada masa Dinasti Tughluq pula, Kesultanan Delhi mulai mengalami kemunduran. Ini dimulai pada 1325 SM ketika Muhammad bin Tughluq naik tahta. Muhammad bin Tughluq bukanlah raja yang cakap sehingga di bawah kepemimpnannya, Kesultanan Delhi mulai melemah. 

Wilayah Dinasti Tughluq

Pada masa tersebut terjadi banyak pemberontakan dan perang saudara, dan pada 1351 M, India selatan berhasil memerdekakan diri sebagai sebuah negara Hindu. Dekkan, atau India tengah, juga memisahkan diri dari Delhi dan menjadi sebuah negara Islam merdeka. Pada akhirnya, pada 1398 M, Delhi ditaklukan dan dihancurkan oleh pemimpin Mongol, Timur Lenk, yang mendirikan Kekaisaran Timuriyah. Semenjak itu, Keksultanan Delhi menjadi negara bawahan Kekaisaran Timuriyah.

Zaman Batu

Sekitar tahun 10.000 SM, orang di Asia Barat mulai menetap di satu tempat alih-alih berpindah-pindah, meskipun mereka masih berburu dan mengumpul. Kemungkinan ini berakhirnya Zaman Es membuat Asia Barat menjadi hangat, basah, dan subur sehingga orang tak perlu lagi berpindah-pindah untuk mencari makanan. Mereka dapat menghasilkan cukup makanan di satu tempat. Setelah menetap, beberapa orang, yang disebut orang Natufia, mulai bercocok tanam secara sederhana. Mereka menjinakkan anjing, melakukan barter dengan desa lain untuk obsidian, batu berharga, dan garam, serta membangun kuil untuk para dewa. Ada yang berpendapat bahwa kisah Taman Eden dalam Alkitab terinspirasi dari kehidupan pada masa ini. 

Akan tetapi ketika iklim kembali menjadi lebih dingin dan kering, sekitar 8000 SM, mukanan mulai tak cukup lagi, sehingga sejumlah orang kembali berpindah-pindah untuk memperoleh makanan. Sebagian lainnya bekerja lebih keras untuk menanam gandum dan jelai, demi menghasilkan lebih banyak makanan. Orang-orang ini tidak memperoleh makanan sebanyak para pemburu-pengumpul, namun mereka mampu memberi makan lebih banyak orang. 

Pada masa ini, orang mulai membangun kota yang lebih besar. Desa tertua yang diketahui, di mana para arkeolog telah menggali dan menemukan perumahan, berada di Yerikho di sepanjang sungai Yordania di Palestina modern. Pemukiman tersebut bertahun 9000 SM. Pada 8000 SM, sekitar 2000 orang tinggal di sana, di rumah bulat kecil yang dibuat dari bata-lumpur. Mereka membuat topeng tanah liat berwarna putih sebagai pengingat orang yang telah meninggal. Mereka sudah mulai menggunakan token angka. Mereka membangun tembok di sekitar desa mereka untuk menjaga dari binatang buas dan penganggu. Tembok mereka bertinggi 3,6 meter dan tebalnya hampir 3 meter. 

Desa lainnya ada di Catal Huyuk, Turki. Desa itu dibangun sekitar 8000 SM dan lebih besar daripada Yerikho. Barangkali sekitar 6000 SM, Catal Huyuk dihuni oleh 6000 orang. Penduduknya telah mengetahui cara menenun dan memintal pakaian serta cara membuat tembikar. Mereka membangun rumah bata-lumpur yang cara masuknya adalah melalui jendela atau atap. Penduduk Catal juga membangun kuil bata-lumpur untuk dewi muda, dewi ibu, dan dewi tua, melambangkan fase jehidupan. Di Jarmo di Irak, lebih jauh di timur, ada sebuh desa yang dibangun sekitar 7000 SM. Desa tersebut memiliki tembok batu dan menara batu, dengant inggi 12 meter. Ini menunjukkan bahwa daerah tersebut menjadi semakin padat. Orang-orang mulai berebut lahan, sehingga penting untuk mempertahankan lahan yang dimiliki dengan tembok dan menara serta tombak bermata batu.

Sejarah Troya

Selama ribuan tahun, banyak orang yang telah membaca Iliad karya Homeros dan mengetahui kisah Perang Troya. Akan tetapi, tidak diketahui apakah kisah tersebut pernah benar-benar terjadi, atau apakah kota Troya pernah benar-benar ada, hingga pada 1800-an M, orang Jerman bernama Heinrich Schliemann memutuskan untuk mencari Troya melalui arkeologi, dan akhirnya di dekat daerah Hissarlik (Turki utara), Heinrich berhasil menemukan reruntuhan Troya. 

Kota Troya kemungkinan mulai dihuni sekitar 3000 SM. Pada awalnya Troya hanyalah sebuah desa kecil, yang disebut Troya I oleh para arkeolog. Di sana terdapat sebuah benteng di mana ketua suku dan keluarganya tinggal, sedangkan penduduk desa lainnya tinggal di luar benteng di rumah-rumah dari bata lumpur. Desa ini hancur oleh suatu kebakaran besar sekitar 2500 SM. 

Setelah kota Troya I hancur terbakar sekitar 2500-an SM, penduduknya membangun kembali kota itu di atas reruntuhan bangunan-bangunan lama. Namun kali ini mereka membangun kota yang lebih baik dan lebih besar. Dibangun pula dinding batu besar dengan gerbang besar. Dinding ini mengelilingi sebuah kuil atau istana yang bergaya megaron. Meskipun demikian, sebagian besar penduduk masih tinggal di rumah-rumah kecil di luar dinding batu. 

Kota ini kini disebut Troya II, dan penduduknya mampu membuat tembikar menggunakan roda tembikar tapi belum menggunakan perunggu. Mereka juga melakukan perdagangan dengan bangsa Yunani di sebelah barat Troya, di seberang Laut Aigea. 

Sekitar 2300-an SM, istana atau kuil di Troya mengalami kehancuran dan digantikan oleh rumah biasa. Kemudian pada 2250 SM, Troya mengalami suatu kebakaran besar yang menghancurkan kota ini. 

Kebakaran besar yang menghancurkan Troya II, sekitar 2250 SM, kemungkinan merupakan bagian dari serangan terhadap kota itu. Setelah kebakaran itu, Troya mungkin dibangun oleh kelompok orang yang berbeda, meskipun tetap terkait dengan penduduk Troya II, barangkali Troya ditaklukan oleh kota saingannya. Penduduk Troya II yang mengubur harta mereka ketika mengetahui kedatangan musuh tak pernah kembali dan menggali lagi harta mereka, mungkin karena mereka terbunuh dalam perang atau ditawan. 

Penduduk Troya III melakukan beberapa hal yang berbeda dari penduduk Troya II. Mereka tidak membangun istana ataupun benteng. Alih-alih, mereka membangun kota kecil yang padat, dengan jalanan sempit di antara blok-blok perumahan. Rumah-rumah di Troya dibangun dari batu, bukan lagi dari bata lumpur. 

Akan tetapi orang Troya III terkenal berantakan. Mereka meninggalkan tumpukan cangkang kerang dan tulang rusa di lantai rumah mereka (dan mungkin banyak sampah lainnya tapi sudah membusuk). Saat sampahnya sudah terlalu tinggi, orang Troya III hanya meinggikan dinding dan atap dan terus tinggal di sana. 

Banyaknya tulang rusa juga menunjukkan bahwa orang Troya III memiliki senjata baru, yaitu panah. Panah mempermudah berburu rusa. Troya III berlangsung selama 100-an tahun hingga sekitar 2150-an SM. 

Tidak diketahui penyebab perubahan Troya III menjadi Troya IV, sekitar 2150-an SM. Penduduknya masih sama, tapi kini mereka memiliki kota yang lebih besar dan kuat dengan dinding batu besar di sekelilingnya. Orang-orang tinggal di rumah-rumah kecil, dengan jalanan sempit. Mereka tidak berantakan seperti orang Troya III. Banyak rumah yang memiliki oven memasak. Troya IV bertahan sekitar 150-an tahun, hingga 2000-an SM. 

Troya V bemula sejak 2000-an SM. Penduduknya masih keturunan dari penduduk Troya IV tapi kehidupannya tampak lebih baik dan teratur. Rumah-rumahnya lebih besar, lebih rapi, dan lebih bersih. Di dalam rumah terdapat kursi, bangku, oven, dan perapian. 

Penduduk Troya V tidak banyak memakan rusa. Alih-alih berburu, mereka kini lebih mengandalkan peternakan, dan lebih banyak memakan daging sapi dan babi. Mereka melakukan   perdagangan dengan orang Asia Barat dan Laut Tengah timur. Mereka juga telah menggunakan perunggu. 

Troya V berlangsung selama 100-150-an tahun hingga sekitar 1900-an SM. Tidak diketahui apa yang terjadi pada penduduk Troya IV, tapi kemudian mereka digantikan oleh penduduk baru yang lalu membangun Troya VI. 

Sekitar 1900 SM, kelompok orang baru menghuni Troya. Tidak diketahui apa yang terjadi pada penduduk Troya V, tapi penduduk Troya VI membangun kembali kota ini. Penduduk baru ini menggunacakan jenis tembikar yang berbeda dari penduduk Troya V, termasuk Benda Minyan yang dibawa oleh orang Yunani ke Yunani sekitar masa itu. Selain itu, penduduk Troya IV telah menggunakan kuda. Mungkin mereka adalah keturunan bangsa India-Eropa, yang datang dari kawasan antara Laut Hitam dan Laut Kaspia di Georgia modern. 

Troya VI lebih besar dan lebih baik daripada yang sebelumnya. Dinding batunya dibangun lagi lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih luas, barangkali penduduknya sudah memiliki keahlian membangun dinding batu sebelum datang ke sini. Di dalam kota, jalan terhubung antar petak satu dengan petak lainnya hingga ke arah atas menuju istana, yang disebut Rumah Tiang. Bangunan ini begitu luas sehingga beberapa ribu penduduk Troya VI harus tinggal di luar dinding seperti di Troya II. 

Pada 1400-an SM, penduduk Torya VI berdagang dengan bangsa Yunani Mykenai di barat, serta dengan bangsa Het di timur. Telah ditemukan banyak tembikar Mykenai di Troya. Mungkin penduduk Troya VI mengekspore kuda ke Mykenai, apalagi Homeros menyebut Troya sebagai "kota kuda baik," atau mungkin juga pakaian, karena banyak pula ditemukan alat penenun di Torya. 

Sekitar 1250-an SM, sebuah gempa hebat menghancurkan Troya VI. 

Setelah Troya VI hancur karena gempa besar, penduduknya membangun kembali kota itu dan mendirikan Troya VII di atas reruntuhan kota lama. Kota inilah yang diserang oleh pasukan Yunani pada Perang Troya. 

Banyak pendapat mengenai keadaan Troya VII. Beberapa sejarawan menyatkan bahwa Troya VII lebih kecil dan miskin daripada Troya VI, tapi penggalian terkini menunjukkan bahwa banyak pemukiman di luar dinding Troya VII, menunjukkan bahwa kota ini adalah sebuah kota yang besar.

Akkad

Sargon dari Akkad secara berangsur-angsur menaklukan wilayah di antara sungai Tigris dan Efrat sekitar 2300 SM. Orang Akkad menuturkan bahasa Semit, seperti orang Amori. Sargon, menurut kisah Sumer, adalah anak seorang lelaki misin, kemungkinan tukang kebun, dengan seorang pendeta tinggi wanita Akkad. Ibunya membuangnya dengan menaruhnya dalam sebuah keranjang gelagah dan menghanyutkannya ke sungai, mirip dengan kisah Musa seribu tahun setelahnya. Sargon diselamatkan, bertemawan dengan dewi Ishtar, dan dibesarkan di istana raja. 

Setelah dewasa, Sargon mendirikan sebuah kota baru yang disebut Akkad, dan menjadi rajanya. Ia kemudian menaklukan satu per satu wilayah di sekitarnya. Pada akhirnya, ia berhasil mendirikan kekaisaran pertama di dunia, yaitu Kekaisaran Akkad. Sargon juga membawa gagasan baru bahwa raja harus diteruskan oleh putranya. Sebelumnya raja di Asia Barat dipilih oleh orang-orang kaya di kota yang bersangkutan. 

Ia juga membantu menyatukan kekiasarannya dengan menjadikan putrinya, Enheduanna, sebagai pendeta tinggi seumur hidup untuk dewa bulan Nanna di Ur, serta pendeta tinggi dewa langit An di Uruk. Enheduanna pun menjadi sangat berkuasa. Ia menulis dua himne panjang, yang isinya menyatakan bahwa kekaisaran Sargon memang sudah ditakdirkan untuk bersatu. Ia adalah penulis pertama di dunia yang namanya kita ketahui. 

Anak-anak Sargon menggantikan dia menjadi raja Akkad setelah ia meninggal. Akan tetapi mereka dibunuh, sehingga cucu Sargon, Naram-Sin naik tahta. Ia berkuasa lama, yakni 56 tahun, dan amat berhasil. Kekaisaran Akkadnya terbentang dari Lebnon hingga pesisir Laut Tengah, ke utara hingga Turki dan ke selatan hingga Teluk Persia. 

Naram-Sin digantikan oleh putranya Shar-kali-Sharri, namun Shar-kali-Sharri gagal mempertahankan Kekaisaran Akkad, dan sekitar 2100 SM kekaisaran ini secara perlahan-lahan terpecah menjadi banyak kerajaan dan kota kecil, seperti pada masa Sumer. 

Sargon dari Akkad secara berangsur-angsur menaklukan wilayah di antara sungai Tigris dan Efrat sekitar 2300 SM. Orang Akkad menuturkan bahasa Semit, seperti orang Amori. Sargon, menurut kisah Sumer, adalah anak seorang lelaki misin, kemungkinan tukang kebun, dengan seorang pendeta tinggi wanita Akkad. Ibunya membuangnya dengan menaruhnya dalam sebuah keranjang gelagah dan menghanyutkannya ke sungai, mirip dengan kisah Musa seribu tahun setelahnya. Sargon diselamatkan, bertemawan dengan dewi Ishtar, dan dibesarkan di istana raja. 

Setelah dewasa, Sargon mendirikan sebuah kota baru yang disebut Akkad, dan menjadi rajanya. Ia kemudian menaklukan satu per satu wilayah di sekitarnya. Pada akhirnya, ia berhasil mendirikan kekaisaran pertama di dunia, yaitu Kekaisaran Akkad. Sargon juga membawa gagasan baru bahwa raja harus diteruskan oleh putranya. Sebelumnya raja di Asia Barat dipilih oleh orang-orang kaya di kota yang bersangkutan. 

Ia juga membantu menyatukan kekiasarannya dengan menjadikan putrinya, Enheduanna, sebagai pendeta tinggi seumur hidup untuk dewa bulan Nanna di Ur, serta pendeta tinggi dewa langit An di Uruk. Enheduanna pun menjadi sangat berkuasa. Ia menulis dua himne panjang, yang isinya menyatakan bahwa kekaisaran Sargon memang sudah ditakdirkan untuk bersatu. Ia adalah penulis pertama di dunia yang namanya kita ketahui. 

Anak-anak Sargon menggantikan dia menjadi raja Akkad setelah ia meninggal. Akan tetapi mereka dibunuh, sehingga cucu Sargon, Naram-Sin naik tahta. Ia berkuasa lama, yakni 56 tahun, dan amat berhasil. Kekaisaran Akkadnya terbentang dari Lebnon hingga pesisir Laut Tengah, ke utara hingga Turki dan ke selatan hingga Teluk Persia. 

Naram-Sin digantikan oleh putranya Shar-kali-Sharri, namun Shar-kali-Sharri gagal mempertahankan Kekaisaran Akkad, dan sekitar 2100 SM kekaisaran ini secara perlahan-lahan terpecah menjadi banyak kerajaan dan kota kecil, seperti pada masa Sumer

Bangsa Het

Bangsa Het adalah kelompok etnis India-Eropa yang bergerak ke selatan dari Laut Kaspia ke Asia Kecil selatan sekitar 2000-an SM. Bangsa Het datang ke sana dengan membawa beberapa teknologi baru seperti kemampuan meninggang kuda serta kereta perang. Sekitar 1500-an SM, bangsa Het juga berhasil menemukan cara mengolah biji besi menjadi peralatan dan senjata besi. Mereka tahu pengetahuan ini amat berharga sehingga mereka merahasiakannya untuk waktu yang lama. Mereka menjual peralatan besi kepada bangsa-bangsa lain di Asia Barat, namun mereka tidak memberitahukan cara membuatnya. Periode ini disebut Zaman Perunggu Akhir. 

Pada 1200-an SM, Kekaisaran Het runtuh. Ada beberapa pendapat mengenai penyebabnya, salah satunya adalah kemungkinan kekeringan parah yang melanda wilayah kekuasaan Het. Keruntuhan Het membuat rahasia pembuatan besi menyebar luas, dan sekitar 1100-an SM, hampir semua bangsa di Asia Barat, termasuk bangsa Assyria, Filistin dan Yahudi, telah mengetahui cara membuat peralatan besi. 

Beberapa keturunan bangsa Het, seperti suku Lykia, meninggalkan Asia Kecil dan bergabung dengan Bangsa Laut untuk menyerang Mesir dan Israel.

Sep 10, 2018

Sejarah Berdirinya Kota Baghdad


Rasanya kurang lengkap membahas sejarah Islam tanpa membahas sejarah dinasti Abbasiyah. Ketika membahas dinasti Abbasiyah sudah tentu tak dapat dipisahkan dengan kota Baghdad. Kota yang di masa silam dikenal sebagai negeri metropolitan. Negeri 1001 malam.

Ketika pertama kali daulah Abbasiyah mengambil alih kekuasaan dari dinasti Umawiyah yang berpusat di Damaskus, kota itu tidak bersahabat dengan orang-orang Abbasiyah. Damaskus kota yang jauh dari Persia, basis kekuasaan Abbasiyah. Abu al-Abbas al-Saffah, khalifah pertama Daulah Abbasiyah mulai mencari tempat untuk dijadikan pusat pemerintahannya. Ia memilih Kufah, Irak, hingga dia meninggal.

Abu Ja’far al-Mansur, menggantikan Al-Saffah sebagai khalifah kedua Abbasiyah. Dia mencari kota yang baru dan akhirnya menemukan lokasi sebuah dusun kecil Persia bernama Baghdad. Baghdad yang dalam bahasa Persia berarti “Didirikan Tuhan”[1] dahulu adalah kota kuno terletak antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat. Di masa Rasulullah, kota ini menjadi sebuah kota pasar dan ketika khalifah al-Manshur mengunjunginya, pasar-pasar tersebut telah lenyap dan digantikan menjadi biara-biara Kristen. 

Pada tahun 146 H (762 M), ketika pertama kali membangun kota Baghdad, pada peletakan batu pertama khalifah al-Manshur mengatakan:
“Bismillahirrahmanirrahim. Bumi adalah milik-Nya. Dia mewariskannya bagi siapa yang Dia kehendaki kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Kemenangan adalah milik orang-orang bertakwa.”
Ratusan ribu pekerja ahli bangunan terdiri dari arsitktur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat dan lainnya yang didatangkan dari Suriah, Mosul, Basrah, dan Kufah dikerahkan untuk membangun kota seribu satu malam tersebut dengan biaya yang sangat besar. Sejarawan mengatakan bahwa Abu Ja’far al-Manshur membiayai biaya pembangunan Baghdad sebesar 18.000 dinar. Dengan dana yang begitu besar, dibangunlah bangunan-bangunan megah: Istana, masjid, jembatan, saluran air, dan berbagai benteng serta kubu pertahanan.

Istana dibangun di tengah-tengah kota Baghdad yang bundar, dan di samping istana dibangun masjid Jami’. Istana khalifah dibangun dengan megah. Pintunya diberi banyak sepuhan emas. Terbuat dari batu dan pualam serta memiliki kubah hijau besar yang dipuncaknya dipasangi patung seorang penunggang kuda yang berputar-putar seperti kincir penunjuk arah angin.

Di atas tembok dalam, sebuah balkon terentang sepanjang kubu benteng yang cukup luas bagi sang khalifah untuk menaiki kuda sembari memeriksa daerah sekilling. Terdapat empat pintu gerbang kota dengan empat jalan raya yang menandai empat penjuru mata angin, menyebar ke luar seperti jari-jari sebuah roda dengan pusatnya adalah istana khalifah. Masing-masing gerbang diberi nama sesuai kota besar atau kawasan yang ditujunya: Damaskus, Basrah, Kufah, dan Khurasan. 

Tidak lama, kota Baghdad berkembang psat melampaui rancangan awalnya, menjadi lebih luas dengan banyaknya bangunan-bangunan dan pemukiman. Ia meliputi taman-taman yang luas dan aneka tempat rekreasi. Bahkan orang-orang nonmuslim diberikan kebebasan membangun tempat tinggalnya. Terdapat sebuah kawasan Kristen, dilengkapi dengan gereja, biara, dan asrama biarawati.

Baghdad juga memiliki pelabuhan yang sangat maju untuk penggunaan komersial. Tiga jembatan berukuran besar yang terdapat di hulu, hilir, dan tengah-tengah kota. Dilekatkan ke tiang-tiang besar di kedua tepi sungai Tigris dengan rantai besi. Sekitar tiga ribu sampan juga mengangkut orang bolak-balik.

Sementara itu, di tepi timur sungai Tigris, berdiri istana al-Rusafah milik Muhammad al-Mahdi, putra khalifah al-Manshur. Sebuah pemukiman tumbuh di sekitarnya berseberangan dengan istana kedua yang dikenal sebagai al-Khuld, dibatasi oleh taman-taman luas yang terhampar sepanjang tepi barat.

Setelah beberapa waktu, kota ini memiliki lapangan-lapangan publik berukuran besar untuk balapan kuda dan polo. Sebuah istana yang dibangun di sekilling sebatang pohon perak murni dengan burung mekanis yang berkicau. Terdapat juga kebun binatang dengan kandang-kandang bertrali untuk singa, gajah, merak, macan, dan jerapah.

Baghdad yang dinamakan Madinah al-Salam (Kota Kedamaian) oleh al-Manshur seakan disulap dalam satu malam menjadi kota terbesar di dunia dan tiada bandingannya. Di dalamnya terdapat banyak ulama dan cendikiawan. Al-Manshur mengumpulkan para ulama di Baghdad dari seluruh negara dan wilayah sehingga Baghdad menjadi induk dunia, tuan negara dan tempat lahirnya peradaban Islam pada masa Daulah Abbasiyah.

Demikianlah sejarah singkat pembangunan kota Baghdad yang nantinya, di masa Khalifah Harun al-Rasyid dan setelahnya menjadi kota metropolitan dengan penduduk terbanyak di dunia mencapai dua juta orang. Saingannya adalah kota Cordoba di Spanyol dibawah pemerintahan Islam dinasti Umawiyah dengan 500.000 jiwa. Sementara itu, Paris, kota Kristen terbesar di Eropa, hanya mencapai 200.000 hingga 300.000 jiwa saja. 

Sep 8, 2018

Kekaisaran Persia Akhemenia

Kekaisaran Persia Akhemenia (sekitar 550–330 SM; bahasa Persia Lama: Parsā; dinasti yang berkuasa: Haxāmanišiya), dikenal pula sebagai Kekaisaran Persia Pertama, adalah kekaisaran Persia (Iran) di Asia Selatan dan Barat Daya yang didirikan pada abad ke-6 SM oleh Koresh Agung, yang menggulingkan Konfederasi Medes. Kekaisaran ini meluas hingga pada akhirnya menguasai wilayah yang amat besar di dunia kuno dan pada tahun 500 SM membentang dari Lembah Indus di timur, hingga ke Thrakia dan Makedonia di perbatasan timur laut Yunani. Tidak ada kekaisaran lain sebelum masa itu yang lebih besar daripada Kekaisaran Akhemenia. Kekaisaran Akhemenia pada akhirnya menguasai Mesir juga. Kekaisaran ini dipimpin oleh serangkaian raja yang menyatukan suku-suku dan bangsa-bangsanya yang terpisah-pisah dengan membangun jaringan jalan yang rumit.

Bangsa Persia menyebut diri mereka Pars, yang berasal dari nama suku Arya asli mereka Parsa, dan bermukim di daerah yang mereka beri nama Parsua, yang dibatasi oleh Sungai Tigris di barat dan Teluk Persia di timur. Tempat ini menjadi wilayah pusat mereka pada masa Kekaisaran Akhemenia. Dari daerah inilah Koresh Agung (Koresh II dari Persia) pada akhirnya muncul dan mengalahkan bangsa Mede, Lydia, dan Babilonia, membuka jalan untuk penaklukan selanjutnya ke Mesir dan Asia Kecil.

Pada puncak kejayaannya setelah penaklukan Mesir, kekaisaran ini menempati wilayah seluas kira-kira 8 juta km2, meliputi tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Pada wilayah terluasnya, kekaisaran ini juga meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Turki, sebagian Asia Tengah, Pakistan, Thrakia dan Makedonia, sebagian besar daerah pesisir Laut Hitam, Afghanistan, Irak, Arab Saudi utara, Yordania, Israel, Lebanon, Suriah, serta semua pusat pemukiman di Mesir kuno hingga ke barat sejauh Libya. Dalam sejarah Barat, Kekaisaran Akhemenia disebutkan sebagai musuh negara-negara kota Yunani selama Perang Yunani-Persia. Kekaisaran ini juga terkenal karena emansipasi terhadap terhadap perbudakan termasuk pembebasan bangsa Yahudi dari pembuangan ke Babilonia dan karena membangun infrastruktur seperti sistem pos, sistem jalan, dan penggunaan bahasa resmi di seluruh wilayah kekuasaannya. Kekaisaran ini menerapkan adminsitrasi birokrasi terpusat di bawah pimpinan Kaisar serta memiliki pasukan militer profesional dan pasukan wajib militer yang besar, mengilhami perkembangan serupa di kekaisaran-kekaisaran lain pada masa selanjutnya.

Menurut pandangan tradisional, wilayah Kekaisaran Akhemenia yang amat luas dan keragaman etnokulturalnya yang luar biasa pada akhirnya menjadi kerugian karena penyerahan kekuasaan kepada pemerintah lokal pada akhirnya melemahkan otoritas pusat milik raja, membuat banyak energi dan sumber daya terbuang akibat harus menghentikan pemberontakan lokal. Ini menjelaskan mengapa ketika Aleksander Agung (Aleksander III dari Makedpnia) menginvasi Persia pada tahun 334 SM, dia menghadapi suatu kekaisaran terpecah belah dengan pemimpin yang lemah, mudah untuk dihancurkan. Akan tetapi, sudut pandang ini ditentang oleh beberapa sejarawan modern yang berpendapat bahwa Kekaisaran Akhemenia tidak menderita krisis semacam itu pada masa Aleksander, dan bahwa hanya kericuhan pergantian kekuasaan internal yang terjadi di dalam keluarga Akhemenid yang pernah hampir melemahkan kekaisaran. Aleksander, yang merupakan pengagum Koresh Agung, pada akhirnya menyebabkan keruntuhan dan perpecahan kekaisaran sekitar tahun 330 SM, membuatnya terbagi menjadi Kerajaan Ptolemaik dan Kekaisaran Seleukia, selain juga wilayah-wilayah kecil lainnya yang memedekakan diri pada masa itu. Akan tetapi, kebudayaan Iran di dataran tinggi tengah tetap berkembang dan pada akrhinya kembali berkuasa pada abad ke-2 SM. 

Warisan sejarah Kekaisaran Akhemenia bukan hanya pengaruh teritorial dan militernya saja, melainkan meliputi pula pengaruh kebudaaan, sosial, dan keagamaan. Banyak orang Athena yang mengadopsi kebiasaan Akhemenia dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai akibat dari kontak antarbudaya, beberapa karena pernah dikerahkan oleh, atau bersekutu dengan raja Persia. Pengaruh Dekrit Pemulihan Koresh Agung disebutkan dalam naskah Yudea-Kristen, selain itu kekaisaran ini juga amat berperan dalam penyebaran agama Zoroaster hingga ke timur sejauh Tiongkok. Bahkan Aleksander Agung, yang menaklukan kekaisaran luas ini, menghormati adat-istiadanya dan memerintahkan orang Yunani untuk ikut menghormasi raja-raja Persia termasuk Koresh Agung. Aleksander bahkan melakukan proskynesis, suatu adat kerajaan Persia, meskipun banyak diprotes oleh para tentara Makedonianya. Kekaisaran Akhemenia memberikan pengaruh terhadap politik, warisan dan sejarah Persia modern (kini Iran).  Perangaruhnya meliputi pula wilayah Persia sebelumnya yang secara keseluruhan disebut Persia Besar. Prestasi teknik yang penting di Kekaisaran Akhemenia adalah sistem pengelolaan air Qanat, yang berusia lebih dari 3000 tahun dan memiliki panjang lebih dari 44 mil (71 km.) 

Pada tahun 480 SM, diperkirakan bahwa sekitar 50 juta orang tinggal di Kekaisaran Akhemenia atau sekitar 44% dari seluruh populasi dunia pada masa itu, menjadikannya kekaisaran dengan jumlah penduduk terbanyak. 

Kekaisaran Persia Sasan

Kekaisaran Persia Sasan adalah kekaisaran Iran yang ketiga dan kekaisaran Persia yang kedua. Kekaisaran Sasan merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir, dipimpin oleh Dinasti Sasan pada tahun 224 hingga 651 M. Kekaisaran Sasan, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat, Selatan, dan Tengah, bersama dengan Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.

Kekaisaran Sasan didirikan oleh Ardashir I, setelah keruntuhan Kekaisaran Parthia dan kekalahan raja Parthia terakhir, Artabanos IV. Kekaisaran Sasan berakhir ketika Syahansyah (Raja Segala Raja) Sasan terakhir, Yazdegerd III (632–651), kalah dalam perjuangan selama 14 tahun untuk menyingkirkan kekhalifahan Islam yang pertama, yang merupakan pendahulu dari kekaisaran-kekaisaran Islam lainnya. Wilayah Sssania meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, Armenia, Afganistan, Turki bagian timur, dan sebagian India, Suriah, Pakistan, Kaukasus, Asia Tengah dan Arab. Selama pemerintahan Khosrau II (590–628), Mesir, Yordania, Palestina, Israel, dan Lebanon juga sementara waktu menjadi bagian dari Sasan .

Bangsa Sasan menyebut negara mereka Eranshahr (Wilayah kekuasaan bangsa Iran (Arya)) atau Ērān dalam bahasa Persia Pertengahan, yang menghasilkan istilah Iranshahr and Iran dalam bahasa Persia Baru. Masa kekuasaan Sasan terbentang sepanjang Antikuitas Akhir), dan dianggap sebagai salah satu periode yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Iran. Dalam banyak hal periode Sasan menyaksikan pencapaian tertinggi kebudayaan Persia, dan melambangkan kemegahan Kekaisaran Iran terakhir sebelum Penaklukan Islam atas Persia|penaklukan muslim dan berkembangnya agama Islam.

Menurut legenda, panji Kekaisaran Sasan adalah Derafsh Kaviani. Diduga juga bahwa peralihan menuju Kekaisaran Sasan melambangkan akhir perjuangan etnis proto-Persia melawan kerabat etnis migran dekat mereka, yakni bangsa Parthia, yang tempat asalnya adalah di Asia Tengah.

Era Sasan dianggap sebagai salah satu periode paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Persia maupun Iran, dan Kekaisaran Sasan disebut sebagai kekaisaran Iran besar terakhir sebelum penaklukan oleh Muslim dan pengadopsian agama Islam. Dalam banyak hal, periode Sasan merupakan puncak peradaban Persia kuno.

Persia banyak berpengaruh terhadap peradaban Romawi pada periode Sasan. Selain itu, bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sasan sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang isiya bertuliskan "kepada saudaraku".

Pengaruh kebudayaan Sasan terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat, Afrika, Tiongkok, dan India, serta berperan penting dalam pembentukan seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia. 

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia. Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sasan Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas. Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sasan. 

Zaman Hellenistik - Yunani Kuno

Seusai Perang Peloponnesos, semua kota di Yunani mengalami kerusakan dan kemiskinan. Akibatnya, banyak orang Yunani yang menjadi tentara bayaran bagi Persia. Sementara sebagian lainnya berupaya membangun kembali kota-kota mereka. Pada masa inilah muncul Sokrates dan muridnya Plato, keduanya merupakan filsuf besar.

Di sebelah utara Yunani terdapat sebuah negara yang disebut Makedonia. Rajanya, Philippos, menyadari bahwa Yunani sedang lemah. Ia pun mmeutuskan untuk menyerang Yunani dan berhasil merebut satu per satu kota Yunani. Setelah Philippos dibunuh pada 336 SM, putranya Alexander diangkat sebagai raja Makedonia, yang juga berkuasa atas Yunani. Alexander baru berusia 20 tahun ketika menjadi raja. Akan tetapi, pada usia semuda itu, ia sudah berani memimpin pasukan besar Yunani-Makedinia dan menyerang Kekaisaran Persia.

Alexander adalah jenderal yang hebat, sedangkan Persia sedang lemah saat itu. Akibatnya, sedikit demi sedikit Alexander berhasil menguasai wilayah Persia, dimulai dari Anatolia, lalu berlanjut ke Fenisia, Israel, Mesir, Mesopotamia, hingga wilayah pusat Persia. Alexander bahkan terus melanjutkan serangannya hingga tiba di Afghanistan dan India. Di India, pasukan Alexander sudah amat kelelahan sehingga tak mau bertempur lagi, memaksa Alexander untuk berhenti dan pulang. Dalam perjalanan pulang, banyak tentaranya yang mati, dan pada 323 SM di Babilonia, Alexander juga meninggal pada usia 33 tahun akibat suatu penyakit.

Alexander wafat tanpa meninggalkan anak lelaki dewasa, sehingga kerajaannya dibagi-bagi oleh para jenderalnya menjadi banyak kerajaan yang lebih kecil. Ada tiga wilayah utama hasil dari pembagian ini, yaitu Mesir yang dipimpin oleh Ptolemaios, Seleukia (Israel, Suriah, Irak, Iran, dan Afghanistan modern) yang dipimpin oleh Seleukos, Anatolia-Thrakia yang dipimpin oleh Lysimakhos, dan Yunani-Makedonia yang dipimpin oleh Kassandros. Kerajaan-kerajaan ini saling berperang satu sama lain, namun periode Hellenistik merupakan masa kemakmuran dan pengetahuan. Sebuah universitas besar didirikan di Alexandria, Mesir. Filsuf Aristoteles hidup di Athena. Banyak filsuf dan ilmuwan yang bepergian ke dan dari Yunani dan India. Gabungan pengetahuan Asia Barat, India, dan Yunai mendorong munculnya banyak perkembangan dalam sains, filsafat, dan seni.

Herodotos

Herodotos sering disebut sebagai "Bapak sejarah" karena ia adalah penulis pertama yang diketahui mencari tahu peristiwa pada masa lalu "supaya perbuatan orang-orang akan dikenang kelak, supaya monumen yang besar dan luar biasa yang dibuat oleh bangsa Yunani dan orang barbar menjadi terkenal, dan selain itu, untuk mencatat alasan terjadinya peperangan."

Herodotos lahir sekitar 485 SM di Turki, di sebuah kota Yunani yang disebut. Seperti para penulis lainnya pada zamannya, Herodotos berasal dari keluarga kaya, dan dia selalu memiliki banyak uang. Dia dapat belajar di sekolah, dan semasa kecil ia mempelajari semua karya Homeros.

Peristiwa terpenting yang terjadi semasa Herodotos masih kecil adalah peperangan antara Yunani dan Persia. Persia sendiri menaklukan kota Halikarnassos tempat kelahira Herodotos tidak lama setelah kelahirannya, tapi ketika Persia menyerang Athena dan Sparta, di Yunani daratan, mereka dikalahkan. Banyak orang yang terkejut dengan kemenangan Athena dan Sparta atas Persia, dan setelah Herodotos dewasa, dia mengabdikan dirinya untuk mengetahui penyebab kemenangan tersebut.

Herodotos memutuskan bahwa penyebab utamanya adalah karena Persia dipimpin oleh raja, dan sang raja memiliki kekuasaan yang terlalu besar. Ini membuat raja menganggap bahwa dia mampu mengendalikan segala sesuatu seperti halnya para dewa. Menurut Herodotos, kesombongan mengawali kehancuran.

Herodotos juga menganggap bahwa bangsa Yunani dapat belajar banyak dari bangsa-bangsa di sekitar mereka. Oleh sebab itu Herodotos banyak menulis mengenai berbagai kebudayaan yang ia kunjungi, seperti Mesir dan Skythia. Ia juga menulis mengenai tempat-tempat yang tak pernah ia kunjungi, seperti India dan Afrika.

Seringkali Herodotos melakukan kesalahan. Terkadang ia tidak benar-benar memahami apa yang ia saksikan di negara lain, terkadang orang memberitahunya hal yang tidak benar. Meskipun demikian sebagian besar uraiannya benar.

Arsitektur Mesir Kuno

Arsitektur Mesir Kuno telah berkembang pada masa kejayaannya, dan melahirkan karya-karya besar seperti Piramida Giza dan Spinks.

Bangunan-bangunan yang ada pada masa Mesir Kuno dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Yang pertama adalah bangunan untuk kediaman masyarakat Mesir Kuno. Yang kedua adalah bangunan untuk kepentingan religius. Bangunan yang berfungsi sebagai kediaman masyarakat terbagi menjadi bangunan untuk kaum elit pemerintahan dan bangunan untuk kaum pedagang dan pekerja. Bangunan kaum elit memiliki dekorasi berupa hiasan pada tembok dan lantai. Hiasan tersebut merupakan gambar pemandangan yang indah.

Masyarakat Mesir Kuno memiliki kepercayaan yang salah satunya adalah keterpisahan antara tubuh dan jiwa. Kepercayaan ini memiliki dengan keterpisahan tubuh dan jiwa setelah terjadi kematian dan terjadinya kehidupan baru setelah kematian. Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan spiritual, atau jiwa yang teteap hidup setelah terpisah dengan tubuh. Kepercayaan ini menyebabkan masyarakat Mesir Kuno mengabadikan tubuh yang sudah terpisah dengan jiwa sebagai bentuk tempat tinggal jiwa. Proses pengabadian ini dikenal dengan proses mumifikasi. Pada masa Mesir Kuno, firaun atau raja dipercaya sebagai perantara dewa dengan manusia. Kepercayaan masyarakat Mesir Kuno inilah yang menyebabkan adanya prioritas dalam mumifikasi Firaun. Sehingga pemerintahan Mesir Kuno membangun makam-makam Firaun dengan batu. Hal ini bertujuan agar rumah bagi jiwa Firaun menjadi abadi.

Pada awalnya para pembangun memiliki keterbatasan dalam sistem teknologi mereka. Hal ini menyebabkan pembangunan makam-makam Firaun bersifat rumit dan terstruktur. Kuil-kuil tertua yang tersisa, spserti terletak di Giza, terdiri dari ruang tunggal tertutup dengan lembaran atap yang berdiri karena pilar. Pada zama kerajaan Mesir Baru, para pembangn menambahkan pilon atau halaman terbuka, serta ruangan yang bergaya hypo. Gaya ini bertahan hingga masa kejayaan Romawi dan Yunani Kuno. Arsitektur makam tertua yang berhasil ditemukan adalah mastaba. Mastaba berbentuk persegi panjang dengan atap datar yang terbuat dari batu-bata. Struktur ini biasanya terbangun untuk menutupi ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan mayat.

Karena terbatasnya kayu, bahan bangunan yang paling banyak digunakan di Mesir Kuno adalah bata lumpur dan batu, terutama batu kapur, tetapi kadang-kadang batu pasir dan granit juga digunakan.