Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Dec 2, 2016

Bangunan Peradaban Kuno

Bangunan Peradaban Kuno tersebut mengacu pada Tujuh keajaiban dunia. dan Tujuh Keajaiban Dunia biasanya menunjuk ke Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Pencetus awal daftar ini adalah Antipater Sidon, yang membuat daftar struktur dalam sebuah puisi (sekitar 140 SM).

“Aku telah melihat tembok Babilonia yang agung yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di Alfeus, dan taman-taman gantung, dan Kolosus Matahari, dan karya besar yang membangun piramida-piramida tinggi, serta kuburan yang besar dari Mausolus; namun ketika aku melihat rumah Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, ‘Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.’” (Antipater, Greek Anthology IX.58) Sejarawan Herodotus, orang pintar Callimachus dari Kirene (kira-kira 305 SM – 240 SM), teknisi Filon dari Bizantium telah membuat daftar yang lebih awal namun tulisan-tulisan ini tidak ada yang terselamatkan, kecuali hanya sebagai referensi.

Keajaiban Dunia Kuno

Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, dengan Pharos Aleksandria, berasal dari zaman Pertengahan. Menurut daftar Antipater tertulis Tembok Babylon dan bukan menara lampu. Dalam urutan sesuai huruf:

  • Kolosus di Rodos– patung Helios yang sangat besar, dibuat sekitar tahun 292-280 SM oleh Chures, sekarang Yunani.
  • Taman Gantung Babilonia– dibuat oleh Nebukadnezar II, sekitar abad ke-8 SM-abad ke-6 SM, sekarang Irak.
  • Mausoleum Mausolus– makam Mausolus, satrap Persia, Caria, dibuat pada tahun 353-351 SM, di kota Halicarnassus, sekarang Bodrum, Turki.
  • Mercusuar Iskandariyah– mercusuar dibangun sekitar tahun 270 SM di pulau Pharos dekat 
  • Alexandria pada masa pemerintahan Ptolemeus II oleh arsitek Yunani Sostratus, sekarang Mesir.
  • Piramida Giza– dipakai sebagai makam untuk firaun Mesir Khufu, Khafre, dan Menkaure, sekarang 
  • Mesir. Dibangun pada dinasti ke-4 Mesir (sekitar 2575- sekitar 2465 SM)
  • Patung Zeus– berada di Olympia, dipahat oleh pemahat Yunani Fidias, kira-kira 457 SM sekarang Yunani.
  • Kuil Artemis – 550 SM, di Efesus, sekarang Turki.

Dua dari masing-masing keajaiban dunia sekarang berada di wilayah Yunani, Mesir, dan Turki, dan satu berada di Irak. Satu satunya keajaiban dunia kuno yang masih bertahan adalah pembuatan pertama, Piramid Giza. Keajaiban dunia kuno yang berumur paling pendek adalah Kolosus di Rodos, yang hanya bertahan selama 56 tahun sebelum dihancurkan oleh gempa bumi. Ada beberapa perdebatan tentang apakah Taman Gantung Babilonia pernah dibangun.

Peradaban India Kuno

Peradaban India Kuno yang Musnah

Perang Mahabharata pada masa India kuno kemungkinan besar merupakan sebuah perang berteknologi tinggi semacam perang nuklir. Bukti-bukti kerusakan akibat perang itu menunjukkan hal itu. Mahabharata, adalah sebuah wiracarita India kuno yang terkenal, berbahasa Sansekerta, yang melukiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam memperebutkan takhta kerajaan. 

Bersama dengan Ramayana disebut sebagai 2 besar wiracarita India, yang ditulis pada tahun 1500 SM, dan hingga kini sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun. Fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut, masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadiannya hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang silam.

Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga, serta dua kali perang hebat antara kerajaan Alengka dan Astina. Namun yang membuat orang tidak habis pikir, kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang begitu besar. Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir!

Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal, roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, kekuatannya sangat dahsyat. Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup, wuuus…. wuuus…., disertai dengan debu pasir, burung-burung bercicit panik… seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.

Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke-3 kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Spekulasi perang Mahabharata sebagai perang nuklir diperkuat dengan adanya penemuan arkeologis. Para arkeolog menemukan banyak puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun, kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Sebagai perbandingan, reaktor nuklir pada 2 miliar tahun silam pernah dimanfaatkan di Oklo, Afrika Selatan. Manusia dapat memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai, sekaligus memanfaatkan topografi alam menimbun limbah nuklir, peradaban materiil taraf tinggi ini jelas dikembangkan melalui peradaban jiwa yang relatif tinggi, beroperasi selama 500 ribu tahun, mewakili perdamaian dan kemakmuran 500 ribu tahun. Kalau tidak, penggunaan senjata nuklir yang saling menyerang seperti wiracarita yang dilukiskan dalam peradaban India kuno, mungkin jika tidak hancur dalam 50 tahun, akan mengalami penghancuran dengan sendirinya!

Teknologi reaktor nuklir pada manusia modern baru beberapa dasawarsa saja ditemukan, hanya demi masalah limbah nuklir saja telah berdebat tiada henti, apalagi memperdebatkan yang lainnya, kita benar-benar harus merasa malu dengan manusia zaman prasejarah untuk hal seperti ini.

Dec 1, 2016

Kristologis

Masalah Kristologis dapat didekati dari segi teologi dan dari segi soteriology. Walaupun Bapak Gereja yang terdahulu tidak kehilangan pandangan mengenai landasan soteriologis mengenai doktrin Kristus, tetapi mereka tidak menonjolkan hal tersebut dalam pembahasan-pembahasan pokoknya. Napas dari kontroversi trinitarian merupakan landasan pendekatan studi  mengenai  Kristus  dari  segi  teologi  saja. Keputusan-keputusan   yang   menimbulkan   kontroversi trinitarian, yakni bahwa Kristus sebagai putra Allah (Allah anak) adalah konsubstansial dengan Father (Allah Bapak) dan oleh karena itu merupakan very God, hal ini menimbulkan pertanyaan  mengenai  hubungan  antara  ketuhanan  dan kemanusiaan dalam Kristus

Kontroversi Kristologis yang terdahulu tidak menyajikan suatu pembaharuan yang mendatangkan kebaikan. Nafsu sering dituruti, intrik-intrik yang tidak layak  juga  sering memainkan suatu bagian penting, dan bahkan kekerasan juga kadang-kadang dilakukan. Jadi dapat dilihat bahwa suasana seperti tersebut di atas hanya dapat menimbulkan error, dan kontroversi ini menimbulkan suatu formulasi mengenai doktrin dari person of Christ yang masih dianggap sebagai standar sekarang ini. Holy Spirit (Rohul Kudus) telah membimbing Gereja, ke dalam suasana kebenaran yang nyata, walaupun bimbingan tersebut sering shame dan confuse (membingungkan). Ada beberapa klaim bahwa Gereja tersebut terlalu banyak berusaha mendefinisikan atau menjelaskan  misteri  yang berasal dari seluruh definisi terdahulu. Namun demikian, akan lahir dalam pemikiran bahwa early Church (Gereja terdahulu) tidak mengklaim mampu untuk menembus kedalaman
dari doktrin yang maha besar ini, dan tidak berpura-pura untuk memberikan suatu solusi mengenai masalah inkarnasi dalam rumusan Chalcedon. Hal tersebut hanya  merupakan
kebenaran  terhadap  kesalahan  teori  saja, dan untuk memberikan suatu rumusan mengenai konstruksi kebenaran yang Gereja  melakukan  penelitian mengenai konsepsi tentang Kristus, yang dipertimbangkan terhadap hal-hal berikut:

(a) Kebenaran tentang kematian Kristus;
(b) Kebenaran mengenai kemanusiaan Kristus;
(c) Gabungan dan kematian dan kemanusiaan dalam satu person, dan
(d) Perbedaan nyata dari kematian dan kemanusiaan dalam satu person.

Jelas bahwa sepanjang requirement ini tidak dipenuhi atau hanya sebagian dipenuhi maka konsepsi mengenai Kristus akan menjadi  tidak  sempurna  (defective).  Seluruh  bid'ah Kristologis yang timbul dalam Gereja terdahulu berasal dari kegagalan untuk menggabungkan seluruh elemen-elemen ini dalam doctrinal statement mengenai kebenaran. Ada beberapa orang yang menyangkal secara keseluruhan atau sebagian mengenai kebenaran kematian Kristus, dan ada yang membantah secara keseluruhan atau sebagian mengenai kebenaran dari kemanusiaan Kristus. Beberapa orang menekankan keesaan dari person dengan mengorbankan dua nature lainnya, dan yang lainnya menekankan perbedaan karakter dari dua nature dalam Kristus dengan mengorbankan keesaan dari person.

Kontroversi Tahap Pertama

Kontroversi ini juga mempunyai akar-akar di masa lalu. Monarki-monarki Ebionites, Alogi, dan Dynamic membantah kematian Kristus, dan monarki Docetae, Gnostics  serta Modalests menolak kemanusiaan Kristus. Secara sederhana mereka menolak salah satu bentuk problem. Sedangkan yang lainnya, yang kurang radikal, membantah baik kematian maupun kemanusiaan yang sempurna dari  Kristus.  Bangsa  Aria membantah bahwa Son-Logos , yang berinkarnasi dalam diri Kristus, memiliki  Ketuhanan  yang  mutlak.  Sebaliknya Apollinaries, yang merupakan seorang Bishop dari Laodicea (390 dc), membantah kebenaran kemanusiaan  dari  Yesus Kristus. Dia (Apollinaries) membuat konsep mengenai man (manusia) yang terdiri atas raga, jiwa dan roh,  dan merupakan solusi masalah mengenai dua nature dalam Kristus menurut teori yang ditempatkan Logos pada human pneuma (spirit).  Menurut  pendapatnya  lebih  mudah  untuk
mempertahankan keesaan dari person of Christ, jika Logos diakui sebagai orang yang lebih banyak menempatkan prinsip rasional dalam man. Terhadap Arius dia  mempertahankan kebenaran dari ketuhanan Kristus, dan mempertahankan atau memperkokoh  ketidakberdosaan  Kristus  dengan  jalan mensubstitusi Logos pada human pneuma yang dianggapnya sebagai tempat dosa. Menurut pendapatnya suatu human nature yang lengkap secara alamiah haruslah sinfulness (penuh dengan dosa). Lagi pula, dia berusaha  untuk  membuat inkarnasi yang dapat dipikirkan dengan jalan mengasumsikan suatu kecenderungan eternal pada kemanusiaan dalam Logos himself  sebagai  archetypal  man.  Tetapi solusi dari Apollinares ini tidak memuaskan, oleh karena sebagaimana yang dikatakan Shedd "bilamana bagian rasional dipisahkan dari bagian manusia, maka manusia tersebut menjadi idiot dan brutal." Namun demikian tujuannya dapat dipuji dalam hal usahanya untuk memperkokoh  keesaan  dari  person  dan ketidakberdosaan Kristus.

Akan tetapi ada oposisi terhadap solusi permasalahan yang diajukan oleh Apollinaries. Cappadocians dan Hilary of Poitiers mempertahankan bahwa jika logos tidak dianggap human nature dalam integritasnya, maka dia tidak mungkin menjadi redeemer yang sempurna bagi kita. Sejak seluruh orang yang berdosa diperbaharui (ditebus), maka Kristus dianggap sebagai human nature secara keseluruhan, dan bukan merupakan bagian sederhana yang tidak penting dari human nature tersebut.

Mereka juga menunjukkan bagian atau unsur docetic dalam pengajaran Apollinaries. Jika tidak ada real human dalam diri Kristus, maka tidak akan ada real probation dan tidak ada real advance dalam kemanusiaan Kristus. Akan tetapi, para penentang Apollinaries bahkan menekankan kemanusiaan yang lengkap dari Kristus, membuat konsep atau menganggap hal ini sebagai yang tertutupi oleh bayang-bayang Ketuhanan dari Kristus. Gregory of Nyssa berkata bahwa daging Kristus telah diubah dan hilang seluruh sifat-sifat awalnya karena bersatu dengan Ketuhanan.

Salah satu hasil dari preliminary dari kekecauan ini adalah bahwa Synod of Alexandria pada tahun 362 menunjukkan adanya jiwa manusia dalam Kristus. Kata "jiwa" (soul) dipergunakan oleh Synod sebagai unsur nasional yang inklusif, yang disebut oleh Apo,llinaries sabagai pneum atau nous.

Pembagian Kontroversi

Nestorian Party

Beberapa di antara Gereja terdahulu mempergunakan ekspresi yang tampaknya menyangkal adanya dua nature dalam Kristus dan mempostulasikan suatu nature  yang  tunggal  yakni "inkarnasi yang menarik." Dari segi pandangan ini Maria sering dinamakan sebagai theotokos, ibu dari tuhan. Sekolah Alexandria khususnya menolak kecenderungan ini. Sebaliknya, sekolah Antioch berada pada kutub pandangan yang lain.

Hal ini khususnya terjadi dalam pengajaran dari Theodore of Mopsuestia. Dia mengambil titik awalnya dalam kemanusiaan yang utuh dari Kristus serta  realita  sempurna  dari pengalaman  kemanusiaan  Kristus.  Menurut  pendapatnya (Theodora), sebenarnya Kristus  berjuang  dengan  human passion,  melalui  berbagai godaan, dan keluar sebagai pemenang. Dia (Kristus) mempunyai kekuasaan untuk mencegah dirinya dari dosa atau membebaskan dirinya dari dosa melalui (a) kelahirannya yang suci,  dan  (b)  kesatuan  dari kemanusiannnya dengan ketuhanan Logos. Theodora menyangkal perlunya indwelling dari Kristus, dan membolehkannya hanya untuk indwelling moral. Dia tidak melihat adanya perbedaan yang penting tetapi hanya ada perbedaan derajat antara indwelling of God dalam Kristus dan yang percaya (believer). Pandangan ini benar-benar mensubstitusi inkarnasi moral indwelling pada Logos dalam diri Yesus. Meskipun begitu,
Theodore enggan untuk membuat kesimpulan apakah pandangannya tak dapat dihindarkan, bahwa ada personalitas yang ganda dalam Kristus, dua person di mana terdapat suatu gabungan
moral. Dia berkata bahwa gabungan tersebut sangat erat sehingga kedua-duanya dapat berbicara sebagai satu person, sebagaimana halnya suami dan istri dapat disebut satu tubuh.

Pengembangan logika dari pandangan Antiochian dapat dilihat dalam Nestorianism. Nestorius mengikuti jejak Theodore yang menyangkal  bahwa  bentuk  theotokos  dapat benar-benar
diterapkan pada Maria dengan alasan yang sederhana bahwa dia hanya  melahirkan  seorang  anak  laki-laki yang telah ditetapkan oleh Logos. Walaupun Logos tidak melukiskan kesimpulan yang layak bahwa diikuti dari posisi ini, namun penentangnya yaitu Cyril memberikan kepadanya tanggung jawab atas kesimpulan tersebut. Dia menunjukkan bahwa, 

(a) jika Maria bukan theotokos, yakni ibu seorang, dan orang itu adalah tuhan maka asumsi dari seorang human being tunggal pada fellowship dengan Logos disubstitusikan dari inkarnasi dari God; 

(b) jika Maria bukan theotokos, maka hubungan antara Kristus dengan kemanusiaan akan berubah, dan dia tidak  lebih  dari redeemer of mankind. Para pengikut Nestorius tidak ragu-ragu untuk membuat kesimpulan tersebut di atas.

Nestorianism   adalah   defektif  (tidak  sempurna), ketidaksempurnaan ini bukan dalam doktrin dari dua nature dalam Kristus, tetapi dalam satu person. Baik kebenaran dari kematian ataupun kebenaran dari kemanusiaan adalah diakui, tetapi kedua hal tersebut tidak dikonsep dengan suatu cara sebagaimana halnya membentuk suatu kesatuan yang nyata dan mengkonstitusi seorang person yang tunggal. Kedua nature tersebut juga merupakan dua person. Pentingnya perbedaan antara nature sebagai substansi yang dimiliki secara umum dan person sebagai suatu substansi yang relatif independen dari nature tersebut, adalah benar-benar tidak diakui.

Perihal perpaduan dua nature (sifat) dalam kesadaran akan diri yang tunggal, maka Nestorianism menempatkan perpaduan tersebut berdampingan dengan setiap lainnya tanpa melebihi
gabungan moral dan simpatik di antaranya. The man Christ bukanlah God, tetapi God-bearer, theophoros, yaitu pemilik Godhead. Kristus dipuja, bukan karena Kristus adalah God, tetapi  karena  God ada dalam diri Kristus. Pendirian Nestorianism yang kuat ini yaitu pendirian yang melakukan pencarian keadilan sepenuhnya akan kemanusiaan Kristus. Pada waktu yang bersamaan tersebut pendirian  itu  bertolak belakang dengan seluruh scriptural proofs untuk kesatuan person dalam mediator. Pendirian tersebut mengabaikan Gereja dengan contoh agung akan kesalehan sejati dan moralitas akan human person of Yesus, tetapi menggali pendirian divine human Redeemer, menggali sumber seluruh kekuasaan atau kekuatan spiritual, keagungan, dan penyelamatan.

The Cyrillian Party

Oponen Nestorianism yang paling menonjol adalah Cyril of Alexandria. Menurutnya Logos mengasumsikan sifat itu dalam keesaannya, agar mendapatkan kembali, walaupun demikian hanya  membentuk  personal  subject  dalam  Godman. Terminologinya tidak selalu jelas atau benar. Di salah satu pihak  dia  menjelaskan  kesederhanaan  bahwa  Logos mengasumsikan sifat kemanusiaan, agar ada dua sifat dalam diri Kristus, yang menyimpulkan gabungan mereka yang tak dapat dipisahkan dalam satu person of the logos, tanpa adanya perubahan dalam sifat-sifat tersebut. Tetapi dia juga menggunakan pernyataan dengan menekankan kesatuan dua sifat dalam Kristus dengan menggunakan mutual communication of attributes, dan penjelasan akan person of Christ seakan-akan merupakan keesaan resultan. Pengertiannya ini sungguh jelas menentang Nestorianism, karena dia menekankan keesaan person of Christ. Sesungguhnya tiga ketentuan di atas yang dia jelaskan tersebut sesuai dengan catholic doctrine of the day, yaitu: 
(a) the inseparable conjunction of the two natures; 
(b) the impersonality and dependence of  the manhood,  di  mana  Logos  menggunakannya  sebagai His instrument; dan 
(c) keesaan dan keabadian person in Christ.

Walaupun   kadang-kadang   dia   menyatakan,   untuk mempertimbangkan kesalahan  Eutychian selanjutnya. Dia menggunakan istilah phusis (nature) hanya pada Logos, dan tidak pada kemanusiaan Kristus, sehingga  penggunaannya sebagai  sinonim  hypostases.  Ini  memberikan beberapa kesempatan untuk menggunakan doktrinnya, setelah inkarnasi, yaitu  hanya ada satu sifat divine human Kristus dan memungkinkannya bagi Monophysites mempertimbangkan dirinya, apabila  mereka ingin untuk membuktikannya, sebagaimana adanya hanya satu person, maka oleh karena itu ada juga hanya  sifat mediator yang tunggal. Mereka melanjutkan pertimbangan atas dirinya walaupun penolakan kuat akan beberapa gabungan sifat tersebut.

The Council of Ephesus melakukan suatu kompromi dengan mempertahankan bahwa di  satu pihak  theotokos  dapat diberlakukan bagi Maria dan di lain pihak menegaskan doktrin mengenai dua nuture Kristus yang berbeda.

Eutycian Party

Banyak di antara pengikut Cyrill merasa tidak puas. Banyak di antara mereka yang tidak menghargai doktrin mengenai dua nature yang berbeda. Eutyches mendukung penyebab dari teolog Alexandrian di Konstantinopel, Euthyches merupakan seorang rahib tua yang mempunyai pendirian yang tidak seimbang dan merupakan  seorang  antinestorian. Menurut Theodora dia
mempertahankan pengaruh atribut manusia yang berassimilasi dengan Tuhan dalam Kristus baik dengan jalan penyerapan human nature dalam Ketuhanan maupun fusi dari dua nature tersebut, dengan demikian maka dia (Kristus) punya tubuh tidak konsubstansial dengan apa yang kita miliki (tubuh) dan dia (Kristus) bukan merupakan human yang seperti dalam pengertian sehari-hari. Dia memohon  kepada  Leo  yang merupakan  seorang  Bishop di Roma karena dia dihukum (dikucilkan) oleh Council of Constantinople pada tahun 448. Setelah Leo menerima laporan lengkap mengenai kasus ini dari Flavian yang merupakan Bishop Konstantinopel dan telah mengemukakan  pendapatnya  maka  dia mengalamatkan atau menunjukkan celebrated tome-nya kepada Plavian. Oleh karena tome ini sangat berpengaruh kepada formula Kaledonia, maka perlu diketahui poin-poin utamanya yakni sebagai berikut:
  •  Ada dua nature dalam Kristus, kedua nature ini berbeda   secara permanen;
  •  Kedua nature tersebut bersatu dalam satu person, masing- masing nature tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri   dalam kehidupan inkarnasi;
  • Dari kesatuan nature dalam person tersebut terjadi   komunikasi (comunicatio idio-matum);
  • Pekerjaan atau tugas penebusan membutuhkan suatu mediator baik manusia dan Tuhan, passible dan impassible, mortal dan immortal. Inkarnasi merupakan suatu tindakan merendahkan diri dari Tuhan, tetapi dalam merendahkan diri tersebut Logos tidak berlaku seperti very God. Forma servi tidaklah mengurangi atau menurunkan formadei;
  • Kemanusiaan dari Kristus adalah permanen, dan penyangkalannya mengimplikasikan suatu penyangkalan docetic yang realitas dari penderitaan Kristus. Hal ini benar-benar merupakan suatu ikhtisar dari Kristologi Barat.     
Keputusan dari Council Chalcedon

Setelah beberapa Council lokal menemukan, membenarkan, dan menyalahkan   Eutyches,  maka  ecumenical  Chalcedon (Council-nya) melakukan sidang  pada  tahun  451,  dan permasalahan utama dalam sidang tersebut adalah doktrin mengenai person of Christ. Hal ini dibaca sebagai berikut:

"Kita, pengikut Holy Father's seluruhnya  dengan  satu consent, mengajar orang untuk mengakui satu dan Same Son yakni Yesus Kristus (Tuhan Yesus Kristus), yang sempurna dalam Godhead dan juga sempurna dalam manhood; dia merupakan truly God dan juga merupakan truly man, karena mempunyai jiwa  dan  tubuh; konsubstansial dengan Father menurut Godhead, dan konsubstansial dengan kita menurut manhood; dalam segala hal dia sama dengan kita, tapi dia tanpa dosa; diperanakkan sebelum all ages dari Father sesuai dengan Godhead, dan pada hari-hari terakhir ini, untuk kita dan untuk keselamatan kita, maka dia dilahirkan dari perawan Maria, yakni Mother of God, sesuai dengan manhood; one and the same Christ, Son, Lord, (hanya diperanakkan untuk berada dalam dua nature, inconfusedly (assugutos), kekal (tidak berubah-ubah/atreptos), tak dapat dipisahkan (adiairetos), inseparable  (tidak  dapat  dipisahkan  = archoristos), perbedaan dari nature tersebut tidak berarti oleh karena mereka bersatu, tetapi sifat-sifat dari masing-masing nature tetap tampak dan bergabung dalam satu person dan satu
substansi, tidak terpisah atau terbagi dalam dua person tetapi hanya dalam one and the same Son, yang hanya dilahirkan, God the Word, the Lord Yesus Christ sebagai rasul telah diberitakan dari sejak mula, dan Lord Yesus Christ Himself memikirkan manusia dan Creed of Holy Fathers telah menurunkan dia untuk kita!"

Implikasi-implikasi yang paling penting dalam statement ini adalah sebagai berikut:
  1. Sifat-sifat dari kedua nature tersebut disandang oleh satu person, misalnya keterbatasan pengetahuan dan kemahatahuan.
  2. Penderitaan dari Godman dapat dianggap sebagai penderitaan yang truly dan really infinited, sedangkan menurut nature ketuhanan hal tersebut tidaklah mungkin;
  3. Yang merupakan dasar dari basis yang membentuk personalitas Kristus adalah divinity (ketuhanan) bukan humanity (kemanusiaan);
  4.  Logos tidak bersatu dalam seorang human individual yang berbeda, tetapi bersatu dengan satu human nature. Tidak ada seorang individual man yang pertama dengan siapa second person dalam Godhead bersatu dalam diri-Nya. Kesatuan tersebut dipengaruhi dengan substansi humanitas dalam diri perawan. 
Kontroversi Tahap Kedua

Kekacauan setelah keputusan Council

Council Chalcedon tidak menetapkan akhir dari perselisihan Kristologis, berbeda dengan Council of Nicaea yang berhenti pada kontroversi trinitarian. Mesir, Syria dan Palestina merupakan tempat tinggal banyak di antara pengikut fanatik dari penentang Eutychian, sedangkan Roma bahkan semakin menjadi  pusat  Orthodoxy.  Dalam  kenyataannya, proses perkembangan dogmatis pertama-tama berasal dari Timur dan berkembang ke Barat. Setelah Council Chalcedon mengikuti Cyrill dan Eutychus, maka mereka disebut Monophysites, oleh karena mereka mengakui union Christ mempunyai suatu nature yang komposit, tetapi menolak bahwa Kristus mempunyai dua nature karena mereka menganggap bahwa dua nature yang berbeda tersebut haruslah melibatkan suatu dualitas person.

Ada suatu perjuangan yang berkepanjangan dan berliku-liku antara kedua pihak yang berbeda ini. Bahkan kaum Monophisit tidak seluruhnya sepakat atau sependapat dengan mereka sendiri. Oleh karena itu mereka terbagi-bagi dalam beberapa sekte, yang mempunyai nama sendiri-sendiri kata Dr. Orr, "hal tersebut telah cukup memberikan cold shifer kepada seseorang." Theophaschisitis menekankan kenyataan bahwa God menderita; Phthartolatrists adalah sekte yang paling dekat dengan formulasi Chalcedon, dan menekankan fakta bahwa human nature dari Kristus sama dengan human nature yang kita miliki yaitu yang dapat menderita, dan oleh karena itu dikatakan bahwa merupakan human nature dapat disuap; dan sekte Aphthartodocetists adalah  sekte  yang  mewakili pandangan  sebaliknya, katakanlah bahwa pandangan tersebut menganggap human nature dari Kristus tidak konsubstansial dengan human nature kita tetapi merupakan human nature yang diberkati dengan nama tuhan, dan oleh karena itu merupakan human nature yang tidak berdosa, imperishable dan tidak dapat disuap.

Yang paling gigih mempertahankan Teologi Chalcedon adalah Leontius of Bizantium. Dia menambahkan suatu unsur ke dalam konstruksi dogmatis dari doktrin Kristus, hal ini lebih banyak dilakukan oleh John of Damascus. Point-point dari hal tersebut adalah penolakan atas Nestorianism akan menimbulkan ide mengenai adanya impersonal independent dalam human nature dari Kristus. Hal tersebut dilaksanakan  dengan menggunakan bentuk-bentuk Anuposthasis dan Anupostesia. Oleh karena itu Leontias menegaskan bahwa human nature dari Kristus  adalah  Enupostasia,  bukan  impersonal tetapi inpersonal, memiliki substansi personalnya dalam Person of the Son of God dari inkarnasi yang singkat.

Pada  tahun  553 kaisar Justinianus memanggil oikumene (konsultannya) ke V di Konstantinopel, yang  merupakan monophisites dalam pengucilannya dalam tulisan Theodore, tetapi tidak disukai karena dikutuk oleh penganggap bahwa konsul Kaledonia melakukan hal yang sangat salah dengan pengucilan tersebut.

Asas tunggal yang bertentangan

Di dalam asas tunggal selalu ada pertentangan-pertentangan, pada lembaga-lembaga tersebut terdapat tanda yang menjadikan di sekitar itu adanya suatu percakapan atau diskusi yang tidak harmonis. Setiap pertanyaan yang penting tidak dapat dijawab, bukan saja mengenai alam tetapi juga masalah pembangkitan di dalam Kristen, masalah ini yang harus dipecahkan di setiap pertanyaan yang seringkali disampaikan oleh seseorang dan sering pula yang disampaikannya itu tentang alam.

Dalam hubungan ini atau keadaan yang semacam ini sangat penting pertanyaan tersebut selalu dilontarkan sekalipun yang sudah lampau apalagi yang baru terjadi, hal ini adalah suatu pertanyaan yang wajar meskipun di sana terdapat dua Kristen (KP-KK), apabila kita yang mengatakan hal semacam itu berarti sama saja dengan merampas hak mereka (jemaat Kristen) yang betul-betul sudah ada dalam asasi itu, lagi akan mempengaruhi dan merindukan terhadap alam tersebut. Itulah salah satu hal kemanusiaan Kristen yang  telah menjadikan suatu inkarnasi pada Tuhan.

Bentuk doktrin yang dicetuskan oleh John of Damascus

John Damascus adalah seorang ahli agama dari gereja Yunani dan dia mencapai puncaknya dalam perkembangan sesuatu agama yang terpenting untuk dibuat  sebagaimana  yang  telah
dilakukan dari doktrin pribadi Kristen. Menurut dia bahwa logos itu adalah salah satu pemasukan dari kemanusiaan alam dan tidak ragu-ragu bahwa Yesus bukan pemasukan dari logos (bukan simbol), artinya logos itu adalah satu formalitas untuk mengoreksi pada kesatuan dari dua alam tadi, Logos juga bukan pemasukan dari kemanusiaan perorangan dan bukan pemasukan  kemanusiaan  alam  yang utama, akan tetapi, merupakan suatu kemanusiaan pribadi,  kemanusiaan  alam tatkala seseorang yang jiwanya belum berkembang atau sebagai hipotesis mereka, melalui persatuan pada Logos tadi adalah sesuatu kekuatan kepada orang bahwa Logos itu datangnya dari Bunda Maria. Kemudian kekuatan wujud manusia dalam diri Kristus mempunyai kemerdekaan pribadi bagi mereka, wujud pribadi itu melalui Logos dan ilustrasi dua alam tersebut dalam Kristen.

Menyatukan badan dengan jiwa pada seseorang, itulah asal mulanya ibadah dalam kemanusiaan Kristen yang menghubungkan tanda-tanda ibadah pada perikemanusiaan alam kelak kemudian
mereka boleh berkata bahwa Tuhan itu yang menghukum atau mengazab disebabkan ibadah tersebut.

Alam  perikemanusiaan  itu  hanya mempunyai efek yakni mendapatkan kemurnian secara pasif (ibadah yang tidak sampai karena kurang khusuk, anak Tuhan itu mempunyai suatu hal yang lengkap dalam pribadi kemanusiaannya, maka dia itu adalah menjadi pujian atau pujaan dalam Gereja. Menurut pendapat itu adalah suatu ikatan yang besar dari kemanusiaan pada Yesus bagaikan kedudukan suatu organ, hal itu diizinkan atau disepakati oleh  dua  kajian  alam  tadi dimana undang-undang dari salah satunya akan menyangkut pada setiap alam dan hal ini pula segala sesuatu yang ada di dalam agama Kristen adalah hak kemanusiaannya. Selain dari itu, kedua yang sama tadi dianggap benar oleh Prosodium Nastarion.

Akibatnya atau hasil permasalahan itu akan membangkitkan atau membuahkan ilmu "Asas Tunggal" sebagai indikasi mereka yang memulai dari satu persatuan pribadi menjadi sesuatu hal yang dikehendakinya. Doktrin ini juga mengambil dari bentuk kemanusiaan yang akan dianugerahkan sebagai tanda ucapan terima kasih di dalam memuja kelak kemudian hari, maka ucapan itu akan mendapat pahala  atau  diterima  jika benar-benar dan akan ada sanksinya jika salah atau tidak khusuk, hal itu adalah suatu cara dari mereka beribadah yang mengandung perikemanusiaan, ilmu dari asas tunggal itu disebut Duothlites. Hal itu mereka ambil dari dua keyakinan, keyakinan alam dan keyakinan yang terpilih pada waktu sekarang dalam dua keinginan atau anugerah dalam Kristen. Jadi ilmu dari asas tunggal tadi adalah suatu peluang dari mereka untuk mempersatukan dari kehidupan seseorang dalam umat Kristen.

Pada  suatu waktu, bentuk kekuatan yang dipakai dalam kontroversi dalam penyempurnaan kehendak hal itu akan segera menjelma sebagai bentuk yang lebih definitif, hal itu akan timbul di dalam pikiran tetapi, kata-kata will (kabul) dipakai dalam hayalan di luar dugaan segeralah diucapkan artinya kabul atau will itu merasa sudah menjelma untuk menentukan hal itu, maka kita pilih di antara benar dan salah. Sekalipun sering kali menggunakan istilah will di luar hayalan semata-mata hanyalah untuk mengisi insting, nafsu biasa atau juga nafsu yang berlebihan, yang membawa efek bagi mereka itu terserah mana yang ingin dilakukannya. Semuanya itu diliputi dalam bentuk rasa selalu dikabulkan, pada kontroversi kuno dengan demikian akan menimbulkan suatu pertanyaan, apakah Kristen itu sempurna sepanjang zaman, tidak menakutkan atau mengagetkan dalam penderitaan dan mati. Di dalam jenis kemanusiaan maka Kristen itu akan
memberikan perikemanusiaan di dalam tingkah laku mereka.

Pada abad ke 6 salah satu lembaga di Konstantinopel (680) merupakan salah satu anjuran dari Pastur di Roma, dia mengadakan doktrin tentang dua keinginan dan dua kekuatan sebagaimana kedudukan pada masa Ortodox, akan tetapi juga diputuskan bahwa kemanusiaan harus selalu disamakan sebagai induk ibadah. Pendapat yang dicetuskan di dalam kemanusiaan atau persatuan ini dengan ibadah tidak menjadi kurang dalam kemanusiaan tetapi tingkat kesempurnaannya dari persatuan itu pun selalu menjadi pemegang peranan untuk menyempurnakan keharmonisan.

Ilmu kekristenan dalam Gereja Barat

Perbandingan Gereja Barat masih kurang sempurna tanpa adanya kajian oleh bangsa Timur. Seluruh pemikiran Barat tidak memuaskan di dalam hubungannya baik di waktu mendiskusikan
pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara mendalam oleh berbagai macam ahli filosof Barat yang terampil dan tidak diragukan keaktifannya beribadah di dunia Barat.
Perpindahan baru dari ilmu Kristen telah ditemukan dan timbul di Spanyol pada abad ke 7 & 8, namanya disebut Adoptionist Controversy, bentuk itu memaparkan keakraban orang Prancis sejak utusan dari Toloda mengumumkan pada tahun 676, bahwa Kristen adalah salah  satu perintis pengangkatan  Doktrin Kelix, salah seorang Pastur dari Urgela, dia mengatakan bahwa Kristen merupakan pelaksanaan ibadah manusia secara alami (agama tauhid) bahwa itu adalah Logos. Dia hanya sebagai anak dari Tuhan dalam bayangan alam saja tetapi Kristen adalah kemanusiaan di samping anak Allah yang diangkat atau dinobatkan. Kini  ia  dicari  oleh sekelompok manusia atau oleh perorangan pribadi dan pada kenyataannya merupakan suatu penekanan dari waktu ke waktu, padahal, kenyataannya dia itu adalah anak manusia dan diambil sebagai pribadi anak Allah. Teori ini membuat suatu perdebatan di antara alam dan anak Allah dahulu, jadi hal ini dapat dijelaskan tujuan mereka itu  adalah  untuk melestarikan yang dua tadi, agar dirinya diakui sebagai anak Allah. Di dalam tuntunan naskah yang menunjukkan bahwa Kristen itu adalah seorang anak kepada ayahnya dan pada kenyataannya kepercayaan itu dijadikan anak pada ayah dan selalu disebut persaudaraan atau persahabatan pada Kristen. Umumnya di dalam Kristen disebut anak Allah dan itu hanya bayangan belaka, supaya penerangan tersebut dapat dimengerti dan diterima. Dan supaya menerangkan dalam arti lebih lanjut serta menimbulkan rasa kepercayaan atau keyakinan pada umat manusia, tatkala Kristus dilahirkan di Betlehem dan sebagai tempat kelahirannya agama itu maka pada waktu itu pula dibaptis; Baptisan itu mengandung pengertian bahwa Kristus diangkat sebagai anak Allah.

Trinitas

Trinitas, yang menimbulkan pertentangan pendapat antara Arius dan Athanasius berakar pada masa lampau. Seperti diketahui bahwa para Bapak Gereja dulu, tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang Trinitas. Sebagian di antara mereka membenarkan Logos sebagai "akal non manusiawi" (impersonal reason), yang menjadi manusiawi pada saat penciptaan, sementara yang lain memandang Dia sebagai manusia yang ko-eternal dengan Bapak yang memiliki sifat esensi kekekalan, dan sebagian lagi memandangnya sebagai suruhan (subordination) atau kedudukannya di bawah Bapak Roh Kudus tidak mendapat tempat penting dalam pembicaraan mereka. Mereka membicarakan Dia (Yesus Kristus) dalam kaitannya dengan pekerjaan penebusan jiwa dan hidup manusia. Sebagian orang memandang Dia sebagai "yang tunduk" bukan hanya kepada Bapak tetapi juga kepada Anak. Tertullian adalah orang pertama yang secara gamblang menyatakan tri-personalitas Tuhan serta mempertahankan pendapat tentang keesaan substansial ketiga person tersebut. Namun dia belum mampu menerangkan dengan jelas tentang doktrin Trinitas.

Sementara itu muncullah aliran Monarkianisme yang menekankan keesaan Tuhan dan sifat ketuhanan Kristus, yang meliputi penyangkalan Trinitas (jadi Trinitas tidak diartikan seperti yang terkandung dalam arti kata tersebut). Tertullian dan Hippolytus memperjuangkan pandangan-pandangan mereka di Barat sementara Origen menentangnya habis-habisan di Timur. Mereka membela kedudukan kaum trinitarian sebagaimana diperlihatkan dalam keyakinan rasul (Kisah Rasul). Walaupun demikian, pandangan Origen tentang Trinitas tidak seluruhnya memuaskan. Dia berkeyakinan kuat bahwa baik Bapak maupun anak merupakan hipostases abadi (kekal) atau personal subsistence di dalam Tuhan. Sementara dia adalah orang pertama yang menerangkan hubungan Bapak dengan anak dengan menggunakan ide eternaI generation, dia menganggap hal ini meliputi subordinasi orang kedua (second person) terhadap orang pertama (first person) dalam kaitannya dengan esensi. Bapak berkomunikasi dengan anak dan anak adalah sebagai spesies sekunder kekekalan, yang dinamakan Theos, tetapi bukan Ho Theos. Bahkan anak kadang-kadang dipanggil sebagai Theos Deuteros. Ini merupakan cacat paling radikal dalam doktrin Origen tentang Trinitas dan memberikan batu loncatan bagi Arius. Cacat lain yang terdapat dalam pendapatnya bahwa, penciptaan anak bukanlah perbuatan perlu (necessary act) dari Bapak tetapi bersumber pada kehendak-Nya yang berdaulat. Akan tetapi dia tidak melontarkan ide suksesi
temporal. Dalam doktrinnya tentang Roh Kudus dia masih mengesampingkan representasi Kitab Injil. Dia bukan nanya menempatkan Roh Kudus sebagai "bawahan" terhadap anak,tetapi dia juga mengartikannya sebagai ciptaan anak. Bahkan salah satu pernyataannya berimplikasi bahwa Dia hanyalah sebagai suata ciptaan belaka.

Arius dan Arianisme

Perselisihan pendapat terbesar di kalangan pemikir Trinitas adalah  kontroversi  pandangan  Arius,  karena pandangan-pandangan "anti-trinitas" yang dilontarkan Arius, seorang presbyter Alexandrux yang daya debatnya besar walaupun jiwanya atau imannya diragukan. Ide dominan Arius adalah asas monoteistis aliran Monarkianisme bahwa hanya ada satu Tuhan (tidak mempunyai anak). Ada yang tidak mempunyai asal usul, tanpa keberadaan sebelumnya. Dia membedakan antara Logos yang tetap ada di dalam Tuhan, yang merupakan kekuatan yang kekal dengan Anak atau Logos yang pada akhirnya berinkarnasi. Anak atau Logos terakhir ini diciptakan oleh Bapak yang dalam pandangan Arius berarti bahwa dia diciptakan. Dia diciptakan sebelum alam semesta ini diciptakan, dan dengan alasan ini berarti dia bukanlah esensi yang kekal. Dia hanyalah yang terbesar dan pertama di antara ciptaan-ciptaan lainnya dan melalui dialah alam semesta ini diciptakan. Karena itu dia dapat diganti, tetapi dia dipilih Tuhan demi keselamatan umat manusia, dan dia dinamakan anak Tuhan. Dalam pengangkatannya sebagai anak dialah yang disembah oleh manusia.

Dalam mendukung pandangan-pandangannya, Arius mencari; sejumlah ayat Alkitab yang memperlihatkan anak berkedudukan di bawah atau inferior terhadap Bapak seperti "Prov 8:22, Mateus 28:18, Markus 13:32, Lukas 18:19, Johannes 5:19;14:28,1 Korintus 15:28."

Bantahan terhadap Arianisme

Arius mendapat bantahan pertama dari bishop Alexander yang meyakini sifat ketuhanan yang sesungguhnya dimiliki anak dan dalam waktu yang sama mempertahankan doktrin anak kekal yang diciptakan. Akan tetapi sesuai dengan perjalanan waktu, penentangnya ternyata adalah uskup Alexandria sendiri, yakni Athanasius, yang dalam sejarah dikenal sebagai tokoh kebenaran yang tegar, kukuh, dan tidak pernah ragu-ragu, Seeberg mengemukakan tiga kekuatan atau kelebihan utama Athanasius, yakni:

1. Keteguhan dan keaslian atau kemurnian karakternya;
2. Landasannya yang pasti di atas mana dia susun konsepsi  tentang keesaan Tuhan;
3. Kebijaksanaannya dalam menerangkan kepada umatnya agar  mengakui hakikat dan makna Kristus.

Dia berpendapat bahwa memandang Kristus sebagai ciptaan sama dengan menyangkal pandangan bahwa iman terhadap dia membawa keselamatan bagi umat manusia.

Dia sangat menekankan keesaan Tuhan dan mau mengakui doktrin Trinitas yang tidak membahayakan konsep keesaan ini. Sementara bapak dan anak sama-sama memiliki sifat atau esensi kekekalan yang sama, sesungguhnya tidak ada pembagian atau pemisahan dalam The essential being of God, dan adalah salah bila disebutkan Theos Deuteros. Tetapi di samping menekankan keesaan Tuhan, dia juga mengakui adanya tiga hipostases dalam Tuhan. Dia menolak untuk meyakini "Anak yang diciptakan sebelum yang lain diciptakan" seperti yang dianut Arius dan mempertahankan eksistensi kekal dan independen anak. Dalam waktu yang sama dia berpendapat bahwa ketiga hipostases dalam Tuhan jangan dilihat sebagai hal yang sendiri-sendiri, karena jika demikian, bisa bermuara kepada politeisme. Menurut dia, keesaan Tuhan maupun perbedaan-perbedaan dalam keberadaan-Nya paling tepat dinyatakan dengan "keesaan esensi." Ini berarti bahwa anak mempunyai substansi sama dengan substansi Bapak, tetapi juga berarti bahwa keduanya bisa berbeda dalam aspek lain, misalnya dalam personal subsistensinya. Seperti Origen, dia mengajarkan bahwa anak adalah hasil penciptaan (begotten by generation), tetapi berbeda dari Origen, dia menerangkannya penciptaan ini merupakan tindakan kerahasiaan Tuhan, bukan sebagai tindakan yang semata-mata bergantung kepada kedaulatan Tuhan.
   
Dewan Nicaea

Dewan Nicaea dibentuk tahun 325 untuk memecahkan pertentangan pandangan ini. Persoalan atau kontroversi ini diperjelas agar pembahasannya lebih mudah. Pengikut Arius menolak pandangan tentang penciptaan eternal (penciptaan yang bebas dari dimensi waktu), sementara Athanasius mempertahankannya. Pengikut Arius mengatakan bahwa anak diciptakan dari tidak ada, sementara Athanasius mengatakan bahwa dia diciptakan dari esensi Bapak. Pengikut Arius berpendapat bahwa anak tidak sama substansinya dengan Bapak sementara Athanasius berpendapat bahwa anak adalah homoousios dengan Bapak.

Di samping kedua pihak yang bertentangan itu masih ada pihak tengah yang merupakan mayoritas yang dipimpin oleh ahli sejarah gereja, yakni Eusebius dari Caesarea, dan juga dikenal sebagai pihak Origenistik dan landasan pandangannya adalah asas-asas yang dikemukakan Origen. Pihak ini condong kepada pihak Arius dan menentang doktrin bahwa anak sama substansinya dengan Bapak (homoousios). Pihak ini mengajukan suatu pernyataan yang telah diketengahkan Eusebius, yang menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak Alexander dan Athanasius dengan satu pengecualian yakni doktrin di atas; dan menyatakan bahwa istilah homoousios hendaknya diganti dengan homoiousios; jadi mereka mengajarkan bahwa anak sama substansinya dengan Bapak. Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya pihak Athanasius berhasil memenangkannya. Dewan Nicaea akhirnya mengeluarkan pernyataan: Kita percaya kepada Tuhan Yang Esa, Bapak yang Mahabisa, Pencipta yang tampak maupun tidak tampak. Dan percaya pada satu tuhan Yesus Kristus yang sama substansinya (homoousios) dengan Bapak dan seterusnya. Ini merupakan pernyataan yang tegas, dimana esensi anak dinyatakan identik dengan esensi Bapak; sama tingginya dengan Bapak serta mengakui Kristus sebagai autotheos.

Akibat-akibatnya

Dampak negatif keputusan tersebut

Keputusan yang dihasiIkan Dewan Nicaea tidak menyelesaikan kontroversi Trinitas, bahkan ternyata merupakan awal dari kontroversi tersebut. Penyelesaian yang diberlakukan Gereja dengan dukungan kerajaan tidaklah memuaskan dan juga diragukan tidak akan bertahan lama. Hal ini berakibat penentuan keimanan orang Kristen bergantung kepada pandangannya atau kekuasaan kerajaan dan bahkan bergantung kepada intrik-intrik pengadilan. Athanasius sendiri, walaupun memenangkan perdebatan, tidak puas dengan cara atau metode pemecahan masalah kegerejaan atau kerohanian seperti itu. Dia cenderung berusaha meyakinkan para penentangnya dengan kekuatan argumen-argumen yang diajukan karena dari kenyataan di atas nyatalah bahwa pergantian kaisar atau raja, perubahan suasana, bisa mengubah seluruh aspek kontroversi tersebut. Pihak yang dimenangkan sekarang bisa menjadi pihak yang dikalahkan atau dipersalahkan di kemudian hari oleh kerajaan. Dan inilah yang sering terjadi dalam sejarah selanjutnya.

Para penganut temporer semi-arianisme dalam Gereja  Timur

Figur sentral terbesar dalam masalah kontroversi Trinitas pasca-Nicaea adalah Athanasius. Dia merupakan tokoh terbesar pada zaman tersebut; dia seorang cendekiawan yang pintar, karakternya teguh, dan teguh terhadap keyakinannya, serta rela mati atau menderita demi kebenaran. Gereja semakin cenderung menerima pandangan Arianisme, tetapi masih didominasi pandangan semi-arianisme, dan penguasa (kerajaan) biasanya berpihak kepada pandangan kaum mayoritas, sehingga akibatnya timbullah pernyataan atau desas-desus Unus Athanasius contra orbem yang artinya "Satu Athanasius melawan dunia." Lima kali hamba Tuhan ini mendapat hukuman pengasingan serta mendapat perlakuan-perlakuan buruk, serta dikucilkan dari gereja.

Tantangan terhadap Pernyataan Nicaea (Nicene Creed) berasal dari beberapa pihak yang berbeda. Ujar Cunningham: "Para pengikut Arius yang lebih ekstrim mengatakan bahwa anak adalah heteroousios, substansinya tidak sama dengan substansi Bapak; yang lain menyatakan bahwa anak adalah anomoios, tidak seperti Bapak, dan sebagian lagi, yang biasanya dinamakan semi-arianisme menyatakan bahwa: dia adalah homoiousios, artinya substansinya mirip substansi Bapak; tetapi mereka semuanya menolak fraseologi Nicaea karena mereka menentang doktrin Nicaea tentang ketuhanan anak dan mereka melihat serta berkeyakinan bahwa fraseologi tersebut secara akurat dan tegas menyatakan hal itu, walaupun mereka kadang-kadang menambah-nambahkan keberatan lain terhadap pemakaian fraseologi tersebut (lihat Historical Theology I halaman 290). Aliran semi-arianisme mendapat pengikut di daerah Timur wilayah Gereja. Akan tetapi, daerah Barat mempunyai pandangan yang berbeda tentang masalah tersebut, dan mereka setia kepada Dewan Nicaea. Hal ini terutama dapat kita lihat dari kenyataan bahwa sementara Gereja Timur didominasi oleh pandangan Origen bahwa anak lebih rendah daripada Bapak, Gereja Barat sebagian besar dipengaruhi oleh pandangan Tertullian serta mengembangkan suatu jenis teologi yang lebih serasi dengan pandangan-pandangan yarg diperjuangkan oleh Athanasius. Akan tetapi, di samping itu persaingan atau rivalitas antara Roma dan Konstantinopel hendaknya diperhitungkan juga. Pada waktu Athanasius diusir dari Timur, dia diterima dengan tangan terbuka di Barat; dan Dewan Roma (341) dan Sardica (343) secara tanpa syarat mengesahkan doktrin yang diperjuangkan oleh Athanasius.

Akan tetapi, kehadirannya di Barat diperlemah serta dihambat oleh naiknya posisi Marcellus dan Ancyra dalam tokoh-tokoh teologi Nicaea. Dia kembali meyakini perbedaan antara eternal Logos dan impersonal Logos yang terdapat dalam hakikat Tuhan, yang menyatakan diri di dalam bentuk kekuatan kekal (divine energy) dalam pekerjaan penciptaan, dan Logos menjadi personal pada saat reinkarnasi; menyangkal bahwa istilah generation (kelahiran) dapat diterapkan terhadap Logos yang tidak ada sebelumnya (pre-existent Logosi) dan karena itu membatasi penggunaan nama "Anak Tuhan" hanya kepada Logos yang berinkarnasi; dan berkeyakinan bahwa pada akhir masa hidup inkarnasinya, Logos akan kembali kepada hubungan premundanenya (premundane relation) dengan Bapak. Teorinya ini jelas membenarkan tindakan para pengikut atau penganut paham Origenis atau Eusebius dalam menghadapi pandangan sabellianisme, dan karena itu juga merupakan faktor yang memperlebar perbedaan antara Barat (Roma) dengan Timur (Konstantinopel).

Ada berbagai usaha yang telah dilakukan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat atau perselisihan tersebut. Berbagai Dewan telah mengadakan persidangan di Antiokia; yaitu dewan-dewan yang mengakui definisi-definisi yang dikeluarkan Dewan Nicaea, walaupun dengan dua pengecualian penting. Mereka mengakui konsepsi homoiousios dan kelahiran anak sebagai perbuatan kehendak Bapak. Hal ini, sudah tentu tidak memuaskan pihak Barat. Sinode-sinode dan Dewan-dewan lain mengikut, di mana pengikut Eusebius mencari pengakuan Barat akan deposisi Athanasius, dan membentuk mazhab-mazhab lain sebagai perantara. Tetapi, semua usaha ini sia-sia sampai naiknya Constantius sebagai kaisar tunggal dan dengan berbagai taktik cerdik dalam menarik para bishop Barat ke garis Eusebius pada Sinode di Arles dan Milan (355).

Pembalikan pasang

Sekali lagi terbukti bahwa kemenangan adalah hal yang berbahaya jika landasan kemenangan itu adalah keburukan. Ternyata hal serupa merupakan sinyal atau pertanda bagi kekacauan pihak anti-Nicene (penentang doktrin Nicaea). Unsur-unsur heterogen yang membentuk pihak ini, dipersatukan oleh sikap menentang mereka terhadap pihak Nicene (Nicaea). Tetapi, segera setelah tekanan-tekanan dari luar mereda, kelemahannya; yakni tidak adanya kesatuan intern menjadi semakin nyata dan menonjol. Penganut paham Arianisme dan semi-arianisme mulai berselisih, sementara kelompok terakhir ini sendiri tidak mampu bersatu. Pada Dewan Sirmium (357) ada usaha untuk mempersatukan semua pihak dengan mengesampingkan masalah-masalah penggunaan istilah-istilah tertentu seperti ousia, homoousios, dan homoiousios, dengan menyatakannya sebagai di luar jangkauan pengetahuan manusia. Tetapi perpecahan sudah terlanjur terjadi. Para penganut Arianisme sejati mulai memperlihatkan belangnya, dan mereka memaksa penganut semi-arianisme yang paling konservatif ke dalam kamp Nicene.

Sementara itu muncullah suatu pihak baru di Nicene, yang terdiri atas orang-orang yang merupakan murid Mazhab Origenis, tetapi cenderung dikelompokkan sebagai pengikut Athanasius dan Nicene Creed (Pernyataan Nicaea) karena mereka mempunyai interpretasi yang lebih sempurna tentang kebenaran. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Tiga Bersaudara yaitu: Cappadocians, Basil yang Agung, Gregory dari Nyssa, dan Gregory dari Nazianzus. Mereka melihat sumber kesalahpahaman di dalam pemakaian istilah hipostases; istilah ini dianggap sinonim dengan ousia (esensi) maupun prosopon (person), dan karena itu mereka membatasi penggunaan istilah ini hanya untuk arti personal subsistence dari Bapak dan anak (personal subsistence of Father and Son). Tidak seperti Athanasius yang mengambil titik tolak keesaan ousia abadi dari Tuhan (one divine ousia of God), mereka mencari titik tolak dari ketiga hipostases (person) dalam ada-kekal (divine being), dan mereka berusaha memasukkannya di dalam konsepsi ousia kekal atau ousia abadi (divine ousia). Gregory memperbandingkan hubungan ketiga person dalam Godhead dengan ada-kekal dengan hubungan ketiga orang tersebut dan dengan humanitasnya.

Dengan penekanan mereka terhadap ketiga hipostases dalam ada-kekal nyatalah bahwa mereka membebaskan doktrin Nicaea dari noda Sabellianisme di mata pengikut Eusebius, dan bahwa
personalitas Logos adalah cukup jelas. Bersamaan dengan itu dipertegas dan dipertahankannya ide keesaan ketiga person tersebut di dalam Godhead serta mengilustrasikan pengertian ini dengan berbagai cara.

Perselisihan tentang roh kudus

Hingga kini, roh kudus belum banyak mendapat perhatian dan pembahasan, walaupun telah muncul berbagai opini yang simpang-siur tentang subyek tersebut. Arius berpendapat bahwa roh kudus adalah sesuatu yang pertama diciptakan oleh anak, suatu pendapat yang dalam banyak hal sesuai dengan pandangan Origen. Athanasius berpendapat bahwa esensi roh kudus sama dengan esensi Bapak tetapi pernyataan Nicene hanya mengeluarkan satu pernyataan yang tidak pasti tentang hal ini, "Dan (saya percaya) di dalam roh kudus." Kelompok Cappadocian mengikuti atau menganut opini atau pandangan Athanasius dan dengan penuh semangat mempertahankan opini yang menyatakan homoousios roh kudus. Hilary dari Poitiers di Barat berpendapat bahwa roh kudus sebagai pencarian ke dalam Tuhan, bukanlah sesuatu yang di luar esensi kekal (divine essence). Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Macedonius, bishop Kota Konstantinopel, yang menyatakan bahwa roh kudus adalah suatu ciptaan yang lebih rendah (subordinate) daripada anak (tunduk terhadap anak), akan tetapi pendapat ini pada umumnya dianggap heretik (berbau murtad), dan para pengikutnya digelari aliran Pneumatokis (pneuma = spirit, machomai = ucapan iblis). Pada waktu Dewan Umum Konstantinopel mengadakan pertemuan pada tahun 381, dewan ini mengumumkan bahwa mereka mengakui pernyataan Nicaea, yang dipimpin Gregory dari Nazianzus menerima perumusan berikut tentang roh kudus: "Dan kami percaya di dalam roh kudus, Tuhan Pemberi Kehidupan, yang berasal dari Bapak yang akan dimenangkan oleh Bapak dan anak, dan yang berbicara melalui para nabi."

Penyempurnaan doktrin Trinitas

Pernyataan Dewan Konstantinopel ternyata tidak lengkap dalam dua hal: pertama, istilah homoousios tidak digunakan, sehingga konsubstansialitas roh dengan Bapak tidak dipastikan secara langsung; kedua, hubungan roh kudus dengan kedua person lain tidak didefinisikan. Pernyataan ini berimplikasi bahwa roh kudus berasal dari Bapak, sementara tidak ada sangkalan maupun pembenaran bahwa dia (roh kudus) juga berasal dari anak. Tidak ada kesepakatan pendapat tentang masalah ini. Mengatakan bahwa roh kudus berasal dari Bapak saja, seakan-akan menyangkal keesaan anak dengan Bapak; dan mengatakan roh kudus juga berasal dari anak, bagaikan menempatkan roh kudus pada kedudukan yang lebih dependen daripada kedudukan anak dan sekaligus merupakan sangkalan akan sifat ketuhanan roh kudus itu sendiri. Athanasius, Basil dan Gregory dari Nyssa meyakini keberasalan roh kudus dari Bapak tanpa menentang doktrin bahwa roh itu juga berasal dari anak. Tetapi Epiphanius dan Marcellus dari Ancyra secara positif membenarkan doktrin ini.

Ahli-ahli teologi Barat meyakini bahwa roh kudus berasal dari Bapak dan anak; dan pada sinode di Toledo pada tahun 589, filioque yang terkenal itu ditambahkan ke dalam lambang aliran Konstantinopel (Constantinopolitan Symbol). Di Timur, perumusan akhir doktrin itu dibuat oleh Johannes dari Damascus (John of Damascus). Menurut dia, hanya ada satu esensi kekal (divine essence), tetapi ada tiga person atau hipostases. Ketiga hipostases atau person ini dipandang sebagai realitas dalam ada-kekal (divine being), tetapi satu sama lain berhubungan tidak seperti tiga orang. Mereka (ketiga orang) tersebut adalah satu dalam segala hal, kecuali dalam cara penampakannya (pola eksistensinya). Bapak dicirikan oleh non-generation, anak dicirikan oleh generation dan roh kudus dicirikan oleh prosesi (procession). Hubungan antarperson itu disebutkan sebagai satu mutual interprenetation (circumincession). Dengan tidak menyangkal penolakannya atas pandangan subordinasionisme, Johannes dari Damascus masih menyebutkan Bapak sebagai sumber Godhead, dan menggambarkan roh kudus sebagai yang dianugerahkan Bapak melalui Logos. Ini masih tetap merupakan subordinasionisme dalam tafsir Yunani. Gereja Timur tidak pernah memberlakukan filioque Sinode Toledo. Inilah sumber perbedaan pandangan antara gereja Timur dan Barat.

Konsepsi Barat tentang Trinitas mencapai fase akhir di tangan Augustine melalui karya besarnya yang berjudul De Trinitate. Dia juga menekankan atau menitikberatkan keesaan esensi dan trinitas person tersebut. Masing-masing person tersebut memiliki esensi keseluruhan dan sebegitu jauh identik dengan esensi person lainnya. Mereka tidak seperti tiga manusia, karena masing-masing manusia hanya memiliki sebagian dari sifat generik manusia. Lebih lanjut, satu person tidak, dan tidak akan pernah terpisah dari person yang lain; hubungan kebergantungan di antara ketiga person tersebut adalah hubungan mutual. Esensi kekal dimiliki ketiga person itu dilihat dari sudut yang berbeda; yakni sebagai yang menimbulkan, yang ditimbulkan, atau yang diberi jiwa. Di antara ketiga hipostases tersebut terjalin suatu hubungan interpenetrasi dan saling-pendiaman mutual. Istilah person menurut Augustine tidak cocok untuk menyatakan hubungan di mana ketiga person itu ada saling menempati; dia tetap menggunakan istilah itu bukan untuk menggambarkan hubungan itu, tetapi untuk tidak berdiam. Dalam konsepsi ini tentang Trinitas, roh kudus diakui sebagai berasal (proceeding) bukan hanya dari Bapak, tetapi juga dari anak.

Sejarah Kristen

Pendiri agama Kristen adalah seorang Yahudi bernama Yesus, yang lahir di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4 SM. Tradisi biasanya menyebutkan bahwa dia lahir dalam bulan Desember tahun pertama era Kristen yaitu, tahun 1 M, akan tetapi telah diketahui sekarang bahwa hal ini salah. Dalam catatan-catatan yang menyangkut Yesus -yakni Injil, empat di antaranya terdapat dalam perjanjian baru yang  ditulis Matius, Markus, Lukas, dan Yahya- kita diberi tahu bahwa dia lahir selama berkuasanya Raja Herodes dan pada saat Kerajaan Romawi  melaksanakan  sensus  penduduk. Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk empat belas tahun sekali. Sensus pertama berlangsung tahun 6 M; ini berarti bahwa sensus sebelumnya dimulai tahun 8 SM, selama pemerintahan Kaisar Augustus dan tanah Judea diperintah Kerenius yang dapat kita baca dalam Lukas 2:1-5. Kita juga diberi tahu tentang bintang yang menuntun orang Majus ke tempat Yesus berada, dan astronom Keppler, menghitung bahwa  timbul konjungsi antara Saturnus, Jupiter, dan Mars kira-kira tahun 7 SM yang menampakkan kesan sebagai bintang baru yang terang benderang. Semua data ini mendukung kesimpulan bahwa Yesus lahir antara tahun 8 hingga 4 SM. Kita juga dapat menentang pendapat bahwa Yesus lahir bulan Desembers karena dalam Injil Lukas terdapat gembala yang menggembalakan ternaknya pada malam hari (2:8). Namun di Palestina pun cuaca dingin dan turun sadju, jadi saat kelahiran itu pastilah di luar musim dingin karena para gembala tidak akan keluar pada saat tersebut. Musim yang lebih mungkin adalah musim semõ atau musim rontok.

Penganut ajaran Kristen percaya bahwa ibu Yesus, yakni Maria, melahirkan Yesus dalam keadaan masih perawan dan belum bersetubuh dengan suaminya yaitu Yusuf. Anak tersebut lahir karena kekuasaan Tuhan melalui roh kudus. Kaum Katolik bahkan  berkeyakinan bahwa Maria tetap perawan setelah kelahiran Yesus. Saudara laki-laki dan perempuan Yesus yang disebutkan dalam Markus 6:1-6 adalah anak-anak Yusuf dari perkawinannya yang terdahulu.

Tidak banyak yang kita ketahui tentang Yesus di masa kanak-kanak;  kisahnya  mulai  banyak diungkapkan untuk perjalanan hidupnya setelah berusia  tigapuluhan,  saat dibaptis  oleh  Yahya. Yahya membaptis manusia sebagai persiapan mereka untuk menerima kedatangan "juru selamat;" pada waktu Yesus datang, dia menolak membaptis Yesus dengan menyatakan bahwa Yahya tidak pantas membaptis Yesus, bahkan sebaliknya dialah yang pantas dibaptis. Namun Yesus tetap meminta Yahya membaptis dirinya; setelah dibaptis  dia mengasingkan diri selama 40 hari dan memikirkan "juru selamat" yang bagaimanakah sebenarnya. Selama itu iblis menggoda dia, membujuk Yesus agar menjadi pahlawan bagi bangsa Yahudi, atau memenangkan dukungan bangsanya lewat perbuatan kegaiban atau dengan memenuhi kepuasan material bangsa Yahudi. Yesus menolak godaan ini, karena Dia sadar bahwa Dia haruslah "juru selamat" yang menderita, yang akan mati demi bangsanya.

Setelah meninggalkan gurun, dia memilih dua belas orang sebagai teman dan muridnya. Murid-murid ini mempunyai latar belakang yang beragam: Petrus dan Andreas adalah bersaudara dan nelayan miskin; Yacob dan Yahya, juga bersaudara, adalah nelayan juga, namun lebih makmur; Matius (atau Levi) adalah pengumpul pajak yang bekerja bagi orang Romawi; ada anggota kelompok Zealot yang fanatik; dan Yudas Iskariot, orang yang pada akhirnya mengkhianati Yesus dan menyerahkannya kepada musuhnya. Dari kedua belas muridnya, Petrus, Yacob dan Yahya merupakan teman Yesus yang paling dekat.

Dalam Markus 6:1-6 Yesus disebut "tukang kayu," dan dari sini diasumsikan bahwa sebelum terkenal, Yesus meneruskan profesi ayahnya sebagai tukang kayu. Kita tidak mengetahui latar belakang pendidikannya walaupun mungkin dia memperoleh pendidikan dari cendekiawan monastik Yahudi, yakni kaum Essenes, yang ajarannya banyak mirip dengan ajaran Kristen. Namun dari kitab-kitab Injil dapat kita lihat bahwa dia adalah manusia yang cerdas, arif dan penuh humor. Ajarannya dia sampaikan lewat perumpamaan, dongeng, kisah-kisah pendek yang mengandung makna mendalam. Teknik pengajaran seperti inilah yang ditempuh para rabbi karena lebih mudah menangkap makna  lewat  kisah-kisah  pendek  dibandingkan  lewat kisah-kisah panjang, atau lewat diskusi formal yang panjang. Kisah-kisah atau perumpamaan Yesus adalah sederhana dan langsung kena, kisah yang mudah disimak oleh siapa pun. Akan tetapi, dia juga menggunakan kotbah, dan kotbah  yang terkenal adalah kotbah bukit (kotbah ini bukanlah satu kotbah panjang, melainkan adalah intisari yang diambil dari ucapan-ucapan Yesus dalam berbagai kejadian).

Di samping memberikan ajaran, Yesus juga menyembuhkan banyak penyakit dan bahkan menghidupkan kembali  orang  mati. Perlahan-lahan namanya termasyhur ke seluruh negeri dan
orang mulai berbisik-bisik mempersoalkan siapakah  dia. Pertama kali Yesus mengaku sebagai "juru selamat" yang telah lama dinanti-nantikan di Caesarea Phillippi. Setelah dia menanyakan  kepada  murid-muridnya tentang siapakah dia disebut khalayak ramai, dia bertanya tentang siapakah dia di mata para muridnya? Petrus, yang merupakan orang pemberani, menjawab, "Engkau adalah juru selamat." Semenjak itu Yesus mulai memperkenalkan ajaran-ajaran dan perintah-perintahnya kepada kedua belas muridnya tentang tujuan kedatangannya. Lalu dia diberi nama Kristus yang berarti "orang yang diurapi." Segera setelah pengakuan oleh Petrus tentang dia (Yesus) sebagai "juru selamat," dia mengajak Petrus, Yahya dan Yacob ke suatu bukit, di mana pakaian dan wajah Yesus menjadi bercahaya putih mengkilap dan dia berkomune dengan Nabi Elisa dan Musa. Peristiwa ini disebut Transfigurasi (perubahan tubuh).

Namun selama tiga tahun misi Yesus, tantangan terhadap ajarannya meningkat terutama dari pihak Parisi dan Saduki. Kaum Saduki adalah kelompok kecil aristokrat yang sangat berpengaruh yang mengaku  sebagai  keturunan  Sulaiman. Kelompok Parisi terbentuk pada saat Kekaisaran Yunani ingin menanamkan pengaruhnya di Palestina, dan Kaum Parisilah yang sangat menentang pengaruh (Helenisasi) ini. Kedua kelompok ini, dengan alasan yang berbeda, memusuhi Yesus; kaum Parisi menolak karena ajaran-ajaran Yesus menentang sikap kaum Parisi. Kita tahu orang Yahudi sangat berpegang erat kepada 10 perintah Allah, sementara Yesus memperbaharui penafsiran tentang  makna  kesepuluh  perintah  tersebut.  Selama bertahun-tahun  hukum itu berubah menjadi doktrin yang mendasari ajaran Yudaisme, yang menjadi dasar bagi orang Yahudi untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Bagi kebanyakan orang Parisi, tradisi lebih penting daripada hukum, dan Yesus sangat lantang menentang sikap orang Parisi ini. Kaum Saduki menentang Yesus karena mereka bekerja sama dengan bangsa Romawi, dan karena itu mereka sangat berpengaruh dan menikmati hak-hak istimewa. Mereka khawatir Yesus bisa menimbulkan  kesulitan yang berakhir pada situasi yang mengancam pada prestise dan kekuasaan mereka.

Setelah kira-kira tiga tahun, Yesus pergi ke Yerusalem menunggang keledai dan disambut sebagai pembebas dan "juru selamat," karena saat itu bertepatan dengan berlangsungnya pesta paskah dan Yerusalem dipadati oleh banyak manusia. Paskah adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi kedatangan "juru selamat" bangsa Yahudi, sehingga suasana saat Yesus memasuki kota amatlah eksplosif. Lalu dia masuk ke Bait Allah  dan mengusir semua pedagang, pembunga uang dan orang-orang lain yang dia anggap mengotori tempat suci tersebut. Penduduk menunggu tindakannya yang selanjutnya, yakni hal mengumumkan dirinya sebagai Raja yang  akan mengusir  penjajah  Romawi;  namun  tindakan  yang ditunggu-tunggu itu tidak pernah muncul. Sebaliknya Yesus mengadakan perjamuan dengan murid-muridnya, yang dinamakan perjamuan  terakhir  (sebagian  cendekiawan  menyebutnya perjamuan paskah), sesudah itu dia pergi ke Taman Getsemane. Di sana dia ditangkap serdadu yang dipimpin oleh Yudas Iskariot.

Pertama kali setelah ditangkap, Yesus diajukan ke hadapan para imam dan dituduh menghujat Allah, suatu kejahatan besar dalam  hukum  Yahudi, namun karena mereka tidak dapat menjatuhkan hukuman mati, keputusan mereka harus disahkan oleh penguasa Romawi. Lalu Yesus dihadapkan kepada penguasa, Pontius Pilatus, dan  dituduh  melakukan  pemberontakan subversi  dan  menghindari  pajak; Pilatus tidak ingin menghukum orang yang tidak bersalah, namun  disebabkan tekanan para imam dan amarah bangsa Yahudi -yang merasa tertipu kalau Yesus tidak memperlihatkan dirinya sebagai "juru selamat" dalam arti penuh kemenangan dalam peperangan- dia terpaksa membuat keputusan yang tidak menyenangkan dan Yesus dihukum dengan penyaliban. Putusan itu dilaksanakan, dan Yesus mati setelah penuh penderitaan selama tiga jam di kayu salib.

Akan tetapi, bagi Gereja Kristen, itu bukanlah akhir, melainkan adalah awal. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari kematian (tiga hari berdasarkan perhitungan Yahudi -Yesus meninggal hari Jumat dan bangkit hari Minggu). Para wanita yang pergi ke makamnya pada Minggu pagi menemukan makamnya sudah kosong, namun pakaiannya masih terlipat di dalam kubur. Kemudian Yesus sendiri menampakkan dirinya kepada mereka; kemudian mereka berlari untuk memberitahukan hal itu kepada  murid-murid  Yesus  yang  sebelumnya  meragukan kebangkitan Yesus; namun kemudian mempercayainya. Beberapa saat  kemudian  Yesus mengajak mereka ke suatu bukit, memberkati mereka lalu mereka terangkat ke surga. Semenjak itu Yesus tidak pernah menampakkan diri lagi di bumi ini.

Sementara  itu murid-murid Yesus tidak bisa menentukan langkah-langkah  mereka  seterusnya.  Namun  pada  hari Pantekosta, pada saat mereka semua berkumpul di Yerusalem, Roh Kudus turun dari surga dan hinggap pada masing-masing mereka. Sejak itu mereka diubahkan, tidak lagi cemas dan takut, melainkan sudah menjadi rasul-rasul yang berani yang menjelajahi dunia ini untuk menyampaikan kabar gembira tentang Tuhan Yesus Kristus. Pada awalnya mereka berharap Yesus segera muncul kembali, namun hal itu tidak terjadi demikian.

Iman baru ini segera menyebar di seluruh dunia lama. Hebatnya, misi penyebaran Injil yang paling spektakuler bukanlah oleh salah satu murid Yesus melainkan adalah oleh Saul (Paulus) dari Tarsus, yang mengalami pertobatan pada saat dia dalam perjalanan ke Damascus untuk menangkapi orang-orang Kristen; sebagai hasil pertobatan ini, dia banyak melakukan perjalanan untuk pekabaran Injil, mengalami penderitaan yang berat, bahkan mati martir demi imannya Dia menuliskan banyak surat nasihat dan penguatan iman kepada gereja-gereja baru yang dia dirikan, dan dokumen-dokumen ini, yang terdapat dalam PerjanJian Baru, sangat penting karena merupakan salah satu tulisan Kristen pertama yang kita miliki.

Pada tahun-tahun awal tersebut, ajaran baru ini masih dianut orang  Yahudi,  namun  ternyata agama baru ini segera menghilang dari antara orang-orang Yahudi dan dianut oleh orang-orang di luar Yahudi. Pemisahan antara ajaran Yahudi dan Kristen mulai nyata dan akhirnya tak dapat dihindarkan; para penganut Kristen tidak lagi merayakan hari-hari besar Yahudi serta tidak mempertahankan tradisi dan budaya Yahudi. Pemisahan ini diakui pada Dewan Yerusalem pada tahun 48 M, pada  saat  pembatasan-pembatasan  Yudaistis  terhadap orang-orang Kristen yang bukan Yahudi diberlakukan.

Mula-mula dengan enggan diberi toleransi oleh Kerajaan Romawi, faham Kristen di bawah masa pemerintahan Kaisar Nero yang  sangat  membenci  ajaran  Kristen. Nero berusaha memojokkan orang Kristen dengan menuduh bahwa kebakaran besar kota Roma disebabkan oleh orang Kristen (64 M), serta membunuh orang-orang Kristen, di antaranya Petrus  dan Paulus. Banyak orang Kristen berkeyakinan bahwa dengan kematian rasul-rasul ini, dan kematian orang-orang yang secara  pribadi mengenai Kristus, perlu dibuat rekaman tertulis tentang kehidupan Kristus. Selama empat puluh tahun berikutnya masih banyak tulisan tentang Yesus, namun hanya empat di antaranya diakui dalam Perjanjian Baru. Akan tetapi tindakan pembunuhan ini bukanlah yang terakhir, bahkan meningkat selama pemerintahan Kaisar Domitian (81-96 M). Selama dua ratus tahun ajaran Kristen merupakan doktrin yang ilegal hingga akhirnya Kaisar Konstantin, setelah melihat cahaya  terang  di malam hari sebelum melakukan suatu pertempuran, yang meliputi salib dengan tulisan "dengan tanda ini kamu ditaklukkan," memberikan hak legal kepada orang-orang Kristen pada tahun 313 M dan menjadikan agama Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi.

Apa yang terjadi kepada gereja muda ini selama masa yang penuh kesulitan tersebut? Tantangan muncul dari berbagai arah, namun penyebarannya makin pesat. Walaupun pada mulanya
Yerusalem dianggap sebagai  pusat  suci,  namun  sikap permusuhan  yang  diperlihatkan orang-orang Yahudi yang menguasai Yerusalem mendorong pemindahan pusat Kristen; mula-mula ke Antiokia, bergeser ke Roma. Selama periode Konstantine, Agama Kristen makin kuat dan melembaga.

Salah satu masalah pertama yang harus dipecahkan adalah masalah Trinitas, keyakinan umat Kristen akan Bapak, Anak, dan Roh Kudus, yang pada hakikatnya identik namun terpisah satu sama lain. Banyak pendapat yang berbeda diajukan untuk menjawab masalah Trinitas, dan tahun 325 Konstantin meminta Dewan Pertama Nicaea untuk membahas masalah ini dengan saksama, yakni 'Aryan Heresy' yang menyatakan bahwa Kristus diciptakan Tuhan untuk membantu dalam penciptaan dunia ini, dan menerima status ketuhanan dari Tuhan, jadi tidak sama esensinya dengan Tuhan. Status ketuhanannya dapat dicabut Tuhan. Dewan ini melahirkan Nicene Creed suatu bentuk yang digunakan hingga dewasa ini dan mencakup kata-kata: 
  • Kami percaya akan satu Tuhan, Tuhan Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
  • Kami percaya akan Yesus Kristus, anak tunggal Allah, yang diturunkan oleh Allah Bapak, bukan diciptakan, yang satu dengan Allah Bapak.
  • Kami percaya akan Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapak dan anak. 
Lalu gereja dihadapkan dengan sekumpulan masalah, terutama masalah intern. Romawi Barat dan Timur mulai terpisah semakin jauh dan akhirnya benar-benar terpisah. Memang sebab pemisahan ini bukan hanya hal di atas, karena masih banyak titik-titik perpecahan antara Barat dan Timur. Dibandingkan dengan  Kristen  Barat, Kristen Timur lebih menekankan ikon-ikon. Ikon merupakan gambar flat pada kayu, gading atau bahan-bahan lain, yang memperlihatkan Yesus, Perawan Maria, atau orang suci yang lain dan melembaga dalam Gereja Yunani. Selama abad kedelapan, ikon-ikon dilarang oleh Kaisar Leo III, namun protes keras menyebabkan larangan ini dicabut pada Sidang Umum ketujuh yang berlangsung di Nicaea tahun 787. Ini tampaknya merupakan kemenangan Gereja Timur. Namun perpecahan di antara keduanya tidak akan diatasi oleh sidang tersebut dan masalah ini mengemuka pada abad ke 11 pada waktu Roma menerima pemberian suatu tambahan ke dalam Nicene Creed, suatu hal yang tidak disetujui Gereja Timur. Tambahan itu adalah "dan anak" setelah frasa "kami percaya dalam Roh Kudus, Tuhan pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapak ..." Jadi, Gereja-gereja Timur tidak menerima bahwa Roh Kudus diturunkan dari Allah Bapak dan Anak, melainkan hanya dari Allah Bapak. Tentang masalah ini Timur dan Barat sama sekali tidak mempunyai titik temu dan menimbulkan pemisahan  tahun  1054,  karena wakil Paus menempatkan surat-surat ekskomunikasi pada  altar  St.  Sophia  di Konstantinopel. Sejak itulah muncul Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Yunani. Unsur-unsur doktrinal membuat mereka tetap terpisah: Gereja Katolik dipimpin oleh satu tampuk pimpinan yang disebut Paus, sementara Gereja  Ortodoks menyerahkan  kepemimpinan  di  tangan para bishop atau patriark; pandangan tentang Roh Kudus juga berbeda, Gereja Ortodoks tetap memberikan kedudukan penting bagi ikon-ikon dalam pemujaan, para pelayan gerejanya dibolehkan menikah, dan lain-lain.

Segera  kemudian,  yakni  tahun 1096, Paus Urbanus II mengorganisasi Gereja Katolik ke dalam satu pola seragam yang bertahan selama hampir 200 tahun -tentara salib. Mula-mula dibentuk untuk dua tujuan, yakni  mengurangi tekanan Turki atas Kekaisaran Timur dan untuk menjamin keamanan para peziarah yang berkunjung ke Yerusalem, tentara salib segera mengalami degradasi cita-cita; mereka ingin membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Muslim.

Gereja Katolik  tetap  berperan  penting  hingga  abad pertengahan. Berpusat di Roma, Paus memegang kekuasaan tertinggi, yang melampaui kekuasaan raja dan ratu. Namun sejak akhir abad keempat belas mulailah timbul tantangan terhadap kekuasaan Paus yang begitu besar. Timbullah gerakan reformasi yang dimulai Lollards dan Hussites; gerakan ini berubah menjadi ancaman serius terhadap supremasi Gereja Katolik ketika tahun 1617, seorang imam bernama Martin Luther menentang keras penjualan surat aflat oleh gereja. Dia   lalu   menolak  supremasi  Paus,  menyangkal transubstantiation, serta mendorong para bangsawan Jerman untuk memberontak dan memisahkan kekuasaan mereka. Para bangsawan, yang sebelumnya terdisilusi dengan kontrol oleh Gereja dan Paus, membutuhkan sedikit dorongan dan banyak di antara mereka segera bergabung dengan Martin Luther.

Tindakan Luther merupakan awal tumbuhnya berbagai sekte yang didasari kepada doktrin pokok Luther namun berkembang sesuai dengan jalan yang ditempuh masing-masing sekte. Pandangan
Luther mendapat formalisasi dalam Gereja Lutheran yang tumbuh subur di Jerman, Skandinavia dan Amerika. Namun Luther pun bertentangan dengan bekas sekutunya menentang Paus. Salah satu bekas pendukungnya, Zwingli, mengembangkan pandangan Eukaristi yang menyebabkan Luther dan Zwingli berpisah.

Pengaruh Reformasi menyebar ke seluruh Eropa. Pembaharu yang lain, John Calvin, memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma tahun 1533. Pandangannya hampir sama dengan Luther, namun dia yakin akan adanya karunia tertentu untuk kelompok tertentu. Pengikut Calvin menyebar di  Jerman,  Negeri Belanda,  Skotlandia,  Swiss,  Amerika Utara dan cukup berpengaruh di Inggris.

Inggris juga mengikuti anjuran para pembaharu namun dengan motif yang agak berbeda. Tahun 1521 Raja Henry VIII telah mengeluarkan suatu traktat yang menyerang Luther  yang menyebabkan dia mendapat titel 'Pembela Iman" dari Paus. Akan tetapi Raja Henry VIII sangat ingin menikahi putri Anne Boleyn  namun  sebelum  bisa menikahi Anne, dia harus menceraikan Catherine of Aragon. Sayangnya Paus  tidak merestui  perceraian  itu  (Roma  dipengaruhi  oleh saudara-saudara Catherine yang ada di Spanyol, negeri asal Catherine) dan Henry terpaksa mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534. Lalu dia menyatakan dirinya sebagai kepala Gereja Inggris, dan dapat membatalkan perkawinannya dengan Catherine. Ajaran "Tiga puluh  sembilan  pasal,"  yang menyangkut hal-hal yang kontroversial serta mengungkapkan bagaimana kedudukan  Gereja  Inggris  mengenai  masalah perceraian  tersebut,  dikeluarkan  tahun  1571  selama pemerintahan Ratu Elizabeth I, anak perempuan Henry. Gereja Inggris mengakui kerajaan sebagai kepala gereja, bukan Paus, juga menolak transubstantiation, meniadakan biara serta menggantikan  bahasa Latin dengan bahasa Inggris untuk dipakai di Gereja.

Tetapi reaksi terhadap Roma masih belum mencapai bentuknya yang paling ekstrim. Dalam abad ketujuh belas, George Fox, dari Leicestershire (Inggris), mulai menyebarkan ajaran bahwa manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa melakukan suatu 'hiasan' (upacara) ritualis yang ditetapkan oleh gereja-gereja Katolik, dan bahwa gereja-gereja yang telah diperbaharui belum cukup jauh melangkah dalam penolakan mereka terhadap upacara dan hierarki gerejawi. Seorang kristen, menurut George Fox tidak membutuhkan imam atau pendeta/pastor, dan juga tidak membutuhkan bait suci. Tidak ada gunanya ketujuh  sakramen  Gereja  Katolik;  tidak dibutuhkan  suatu  sakramen  apa  pun. Fox lalu mulai menyebarkan ajarannya dan melakukan berbagai perjalanan ke daerah-daerah  pedalaman. Pada umumnya, saat berdirinya gerakan Fox ini dianggap terjadi pada tahun 1652, yakni saat terjadinya kebaktiannya yang sangat berhasil untuk pertama kalinya. Pengikutnya disebut "Quakers," atau "Perkumpulan Sahabat-sahabat."  Sampai  sekarang  juga  mereka tidak mempunyai bait suci kecuali rumah-rumah kebaktian, dan dalam kebaktian mereka tidak ada liturgy, tetapi sebaliknya, setiap orang dapat berbicara bila mereka merasa bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bermanfaat untuk diutarakan, tanpa memperhatikan atau mempedulikan berapa usia  yang  mau berbicara tersebut dan apa kedudukannya dalam masyarakat.

Berbagai perkembangan baru telah terjadi di Inggris pada periode setelah Perang Saudara. Banyak orang merasa tidak senang dengan penyatuan gereja dan negara yang dilakukan oleh Henry VIII, tetapi selama  periode  persemakmuran (Commonwealth  period) di Inggris, mereka menjadi lega melihat bahwa kedua hal tersebut (gereja dan negara) telah dipisahkan kembali. Akan tetapi, dengan naiknya Charles II menjadi pangeran, Undang-undang Uniformitas dikeluarkan pada tahun  1662  yang  memulihkan status quo tersebut dan memerintahkan semua pastor untuk  menerima  "Buku  Doa Bersama." Imam-imam yang menolak untuk menerima (oleh karena itu disebut Non-Conformis) ketentuan-ketentuan Undang-undang ini akan dikeluarkan dari Jemaah mereka dan dianiaya. Hal ini berlangsung sampai dengan  keluarnya  Undang-undang Toleransi pada tahun 1689 yang memberikan mereka beberapa hak hukum (legal). Akibatnya, perkembangan Gereja Baptis dan Gereja  Reformasi bersatu mengalami perkembangan cepat. Gereja Baptis, yang didirikan oleh John Smith, menganggap bahwa pembaptisan bayi adalah melawan perintah Alkitab. Hanya orang dewasa yang telah mengerti makna sumpah yang diucapkannyalah yang dapat dibaptis. Mereka juga mencoba untuk meyakinkan bahwa jemaat ikut aktif dalam perjalanan Gereja, dan mencontoh Kisah rasul-rasul dengan mengangkat deakonis dari antara jemaatnya (lihat Kisah Rasul-Rasul 6: 1-6)  untuk  membantu  mengarahkan dan menuntun gereja tersebut. Gereja Reformasi Bersama adalah suatu koalisi dari GereJa Presbiterian Inggris (yang dikembangkan dari ajaran Calvin) dan gereja-gereja Jemaat Inggris dan Wales yang didasarkan pada ajaran-ajaran dari tokoh pembaharu lainnya yang telah menyebarkan ajarannya pada zaman Calvin, yakni Robert Browne (1550-1633). Terlepas dari pandangan-pandangan mereka yang sangat sama, tetapi usaha-usaha untuk menyatukan kelompok-kelompok ini barulah berhasil pada tahun 1972 dengan pembentukan Gereja Reformasi Bersatu.

Gereja Metodis pada mulanya adalah merupakan suatu gerakan dalam Gereja Inggris. Pendirinya, John Wesley (1703-1791), tetap menolak untuk berpisah dari gereja induknya. Akan tetapi, setelah kematiannya, disadari bahwa Gereja Metodis tidak dapat lagi dimasukkan dalam Gereja Inggris, dan lalu memisahkan diri pada tahun 1795. John Wesley dan saudaranya Charles, melalui studi mereka yang ketat dan  metodis terhadap  InJil  (sehingga  mereka disebut dengan nama Metodis), merasa bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih dan karunia Tuhan, bukan karena suatu perbuatan atau kebaikan manusia.

Menjelang akhir abad kesembilan belas, ada gelombang atau kegairahan  lain mengenai perhatian keagamaan. Hal ini sebagian disebabkan penemuan-penemuan ilmiah dalam abad tersebut yang mengancam berbagai keyakinan yang hingga waktu itu telah diterima sebagai kebenaran religius yang tidak dapat dibantah (misalnya, mengenai taman firdaus dan masalah penciptaan). Dalam hal  ini,  reaksi  dari  Pencerahan (Enlightement) dalam tahun-tahun sebelumnya turut berperan. Akibatnya adalah bermunculannya banyak sekte yang memisahkan diri dari gereja induk mereka, sebagaimana yang terjadi dalam Reformasi  yang  memunculkan  gereja-gereja  yang diperbaharui yang memisahkan diri dari iman Katolik. Di Inggris, Bala Keselamatan berkembang sebagai suatu kekuatan besar, bukan saja karena ketaatan beragamanya, tetapi juga karena  reformasi  dan  bantuan  sosialnya.  Di  bawah kepemimpinan William Booth (1829-1912), Bala Keselamatan tersebut memisahkan diri dari gereja Metodis dalam tahun 1865 dan membentuk sendiri suatu organisasi yang bergaya militer karena kelompok tersebut menganggap dirinya sebagai laskar perang Tuhan dan memerangi ketidakadilan sosial. Dibandingkan dengan kebanyakan sekte Gereja, mereka sangat sedikit memperhatikan sakramen, walaupun mereka menerima bahwa beberapa orang Kristen mungkin melihat sakramen itu merupakan pertolongan dan bantuan.

Di  Amerika juga terjadi suatu gejolak keagamaan yang demikian. Pada tahun 1830, Mormon, atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Hari Terakhir, dibentuk oleh Joseph Smith (1805-1844) yang mengklaim telah mengalami suatu wahyu Tuhan, menemukan tablet-tablet emas yang tertulis dalam Buku Mormon, yakni yang merupakan kitab suci penganut Mormon. Pada  mulanya  ajaran  Mormon  ini  terlarang  karena pandangan-pandangan mereka yang menyimpang dari  ajaran Kristen dan praktek poligami mereka, tetapi Mormon ini merayap ke seluruh Amerika dan akhirnya menetap di Salt Lake City, tempat markas mereka terletak hingga kini.

Aliran spiritual mulai ada tahun 1848 ketika dua orang perempuan, yakni saudara perempuan Fox yang berumur dua belas dan lima belas tahun, menyebabkan suatu kegemparan di antara, penduduk kota mereka, Arcadia, New York State, dengan mengklaim bahwa mereka telah dapat berkomunikasi dengan roh-roh. Walaupun  ada  yang  menyatakan  bahwa suara-suara gaduh tersebut adalah suara gabungan dari suara kedua anak perempuan tersebut, tetapi mereka (penduduk kota tersebut)  berkumpul sedemikian banyak mendukung supaya Gereja Spiritual didirikan. Penganut aliran Spiritual yakin, selain  pada  pandangan-pandangan Kristen biasa, bahwa, melalui mereka, nasihat dan tuntunan dapat diperoleh.

Advent Hari Ketujuh juga mulai ada di Amerika,  yang membangun reputasinya dalam tahun 1860, dan setelah itu sekte ini cepat menyebar ke seluruh dunia. Berbeda dengan sekte-sekte Kristen lainnya, mereka membuat hari ketujuh sebagai Sabat (yaitu, mereka menjalankannya seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi, dimulai dari saat matahari terbenam pada hari Jumat sampai matahari terbenam hari Sabtu). Sama seperti Gereja Baptis, mereka hanya membaptis orang-orang dewasa, dan juga membuat pembatasan-pembatasan mengenai apa yang dapat dimakan dan diminum oleh jemaatnya. Misalnya, mereka tidak boleh minum alkohol dan memakan makanan kerang-kerangan.

Sebelum mengakhiri ulasan ini, tiga kelompok Kristen lainnya harus disebut yakni: Christian Science, Saksi Jehova, dan gerakan Pantekosta.  Christian Science didirikan oleh Mrs. Mary Baker Eddy pada tahun 1879, yang mempertahankan bahwa satu-satunya realitas hanyalah pikiran dan semua yang lainnya adalah illusi. Oleh karena itu penyakit jangan dirawat dengan obat, tetapi harus disembuhkan dengan mempraktekkan pemikiran yang benar.

Saksi Jehova, yang didirikan oleh C.T. Russell, yakin bahwa kedatangan kedua kalinya Yesus serta akhir dunia ini akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, dan bila hal itu terjadi maka hanya suatu kelompok elit saja yang selamat, yaitu kelompok Saksi Jehova itu sendiri. Mereka mempunyai Al-Kitab  dengan  terjemahan mereka sendiri dan mereka menyisihkan  banyak  waktu,  usaha,  dan  uang  untuk kegiatan-kegiatan missionaris.

Yang terakhir, yakni gerakan Pantekosta, yang bermula dari suatu missi di Los Angeles dalam tahun 1906 yang dilakukan oleh W.J. Seymour, mengajarkan bahwa setiap orang Kristen dapat mengalami kehadiran Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri dan menerima hadiah-hadiah roh. Oleh karena itu kebaktian Pantekosta adalah merupakan upacara yang sangat emosional, di mana jemaatnya menjadi dirasuki oleh Rohul Kudus dan tampak berbicara dalam lidah (berbahasa roh), sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Yesus yang pertama. Walaupun gerakan Pantekosta telah mempunyai gereja sendiri,  tetapi  gerakan  ini telah juga mempengaruhi aspek-aspek lain dari Gereja (Kristen), dan dalam GereJa Katolik gerakan tersebut juga berpengaruh dengan munculnya apa yang disebut gerakan Karismatik, orang-orang Katolik bermaksud menerima Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri.