Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 1, 2016

Kristologis

Masalah Kristologis dapat didekati dari segi teologi dan dari segi soteriology. Walaupun Bapak Gereja yang terdahulu tidak kehilangan pandangan mengenai landasan soteriologis mengenai doktrin Kristus, tetapi mereka tidak menonjolkan hal tersebut dalam pembahasan-pembahasan pokoknya. Napas dari kontroversi trinitarian merupakan landasan pendekatan studi  mengenai  Kristus  dari  segi  teologi  saja. Keputusan-keputusan   yang   menimbulkan   kontroversi trinitarian, yakni bahwa Kristus sebagai putra Allah (Allah anak) adalah konsubstansial dengan Father (Allah Bapak) dan oleh karena itu merupakan very God, hal ini menimbulkan pertanyaan  mengenai  hubungan  antara  ketuhanan  dan kemanusiaan dalam Kristus

Kontroversi Kristologis yang terdahulu tidak menyajikan suatu pembaharuan yang mendatangkan kebaikan. Nafsu sering dituruti, intrik-intrik yang tidak layak  juga  sering memainkan suatu bagian penting, dan bahkan kekerasan juga kadang-kadang dilakukan. Jadi dapat dilihat bahwa suasana seperti tersebut di atas hanya dapat menimbulkan error, dan kontroversi ini menimbulkan suatu formulasi mengenai doktrin dari person of Christ yang masih dianggap sebagai standar sekarang ini. Holy Spirit (Rohul Kudus) telah membimbing Gereja, ke dalam suasana kebenaran yang nyata, walaupun bimbingan tersebut sering shame dan confuse (membingungkan). Ada beberapa klaim bahwa Gereja tersebut terlalu banyak berusaha mendefinisikan atau menjelaskan  misteri  yang berasal dari seluruh definisi terdahulu. Namun demikian, akan lahir dalam pemikiran bahwa early Church (Gereja terdahulu) tidak mengklaim mampu untuk menembus kedalaman
dari doktrin yang maha besar ini, dan tidak berpura-pura untuk memberikan suatu solusi mengenai masalah inkarnasi dalam rumusan Chalcedon. Hal tersebut hanya  merupakan
kebenaran  terhadap  kesalahan  teori  saja, dan untuk memberikan suatu rumusan mengenai konstruksi kebenaran yang Gereja  melakukan  penelitian mengenai konsepsi tentang Kristus, yang dipertimbangkan terhadap hal-hal berikut:

(a) Kebenaran tentang kematian Kristus;
(b) Kebenaran mengenai kemanusiaan Kristus;
(c) Gabungan dan kematian dan kemanusiaan dalam satu person, dan
(d) Perbedaan nyata dari kematian dan kemanusiaan dalam satu person.

Jelas bahwa sepanjang requirement ini tidak dipenuhi atau hanya sebagian dipenuhi maka konsepsi mengenai Kristus akan menjadi  tidak  sempurna  (defective).  Seluruh  bid'ah Kristologis yang timbul dalam Gereja terdahulu berasal dari kegagalan untuk menggabungkan seluruh elemen-elemen ini dalam doctrinal statement mengenai kebenaran. Ada beberapa orang yang menyangkal secara keseluruhan atau sebagian mengenai kebenaran kematian Kristus, dan ada yang membantah secara keseluruhan atau sebagian mengenai kebenaran dari kemanusiaan Kristus. Beberapa orang menekankan keesaan dari person dengan mengorbankan dua nature lainnya, dan yang lainnya menekankan perbedaan karakter dari dua nature dalam Kristus dengan mengorbankan keesaan dari person.

Kontroversi Tahap Pertama

Kontroversi ini juga mempunyai akar-akar di masa lalu. Monarki-monarki Ebionites, Alogi, dan Dynamic membantah kematian Kristus, dan monarki Docetae, Gnostics  serta Modalests menolak kemanusiaan Kristus. Secara sederhana mereka menolak salah satu bentuk problem. Sedangkan yang lainnya, yang kurang radikal, membantah baik kematian maupun kemanusiaan yang sempurna dari  Kristus.  Bangsa  Aria membantah bahwa Son-Logos , yang berinkarnasi dalam diri Kristus, memiliki  Ketuhanan  yang  mutlak.  Sebaliknya Apollinaries, yang merupakan seorang Bishop dari Laodicea (390 dc), membantah kebenaran kemanusiaan  dari  Yesus Kristus. Dia (Apollinaries) membuat konsep mengenai man (manusia) yang terdiri atas raga, jiwa dan roh,  dan merupakan solusi masalah mengenai dua nature dalam Kristus menurut teori yang ditempatkan Logos pada human pneuma (spirit).  Menurut  pendapatnya  lebih  mudah  untuk
mempertahankan keesaan dari person of Christ, jika Logos diakui sebagai orang yang lebih banyak menempatkan prinsip rasional dalam man. Terhadap Arius dia  mempertahankan kebenaran dari ketuhanan Kristus, dan mempertahankan atau memperkokoh  ketidakberdosaan  Kristus  dengan  jalan mensubstitusi Logos pada human pneuma yang dianggapnya sebagai tempat dosa. Menurut pendapatnya suatu human nature yang lengkap secara alamiah haruslah sinfulness (penuh dengan dosa). Lagi pula, dia berusaha  untuk  membuat inkarnasi yang dapat dipikirkan dengan jalan mengasumsikan suatu kecenderungan eternal pada kemanusiaan dalam Logos himself  sebagai  archetypal  man.  Tetapi solusi dari Apollinares ini tidak memuaskan, oleh karena sebagaimana yang dikatakan Shedd "bilamana bagian rasional dipisahkan dari bagian manusia, maka manusia tersebut menjadi idiot dan brutal." Namun demikian tujuannya dapat dipuji dalam hal usahanya untuk memperkokoh  keesaan  dari  person  dan ketidakberdosaan Kristus.

Akan tetapi ada oposisi terhadap solusi permasalahan yang diajukan oleh Apollinaries. Cappadocians dan Hilary of Poitiers mempertahankan bahwa jika logos tidak dianggap human nature dalam integritasnya, maka dia tidak mungkin menjadi redeemer yang sempurna bagi kita. Sejak seluruh orang yang berdosa diperbaharui (ditebus), maka Kristus dianggap sebagai human nature secara keseluruhan, dan bukan merupakan bagian sederhana yang tidak penting dari human nature tersebut.

Mereka juga menunjukkan bagian atau unsur docetic dalam pengajaran Apollinaries. Jika tidak ada real human dalam diri Kristus, maka tidak akan ada real probation dan tidak ada real advance dalam kemanusiaan Kristus. Akan tetapi, para penentang Apollinaries bahkan menekankan kemanusiaan yang lengkap dari Kristus, membuat konsep atau menganggap hal ini sebagai yang tertutupi oleh bayang-bayang Ketuhanan dari Kristus. Gregory of Nyssa berkata bahwa daging Kristus telah diubah dan hilang seluruh sifat-sifat awalnya karena bersatu dengan Ketuhanan.

Salah satu hasil dari preliminary dari kekecauan ini adalah bahwa Synod of Alexandria pada tahun 362 menunjukkan adanya jiwa manusia dalam Kristus. Kata "jiwa" (soul) dipergunakan oleh Synod sebagai unsur nasional yang inklusif, yang disebut oleh Apo,llinaries sabagai pneum atau nous.

Pembagian Kontroversi

Nestorian Party

Beberapa di antara Gereja terdahulu mempergunakan ekspresi yang tampaknya menyangkal adanya dua nature dalam Kristus dan mempostulasikan suatu nature  yang  tunggal  yakni "inkarnasi yang menarik." Dari segi pandangan ini Maria sering dinamakan sebagai theotokos, ibu dari tuhan. Sekolah Alexandria khususnya menolak kecenderungan ini. Sebaliknya, sekolah Antioch berada pada kutub pandangan yang lain.

Hal ini khususnya terjadi dalam pengajaran dari Theodore of Mopsuestia. Dia mengambil titik awalnya dalam kemanusiaan yang utuh dari Kristus serta  realita  sempurna  dari pengalaman  kemanusiaan  Kristus.  Menurut  pendapatnya (Theodora), sebenarnya Kristus  berjuang  dengan  human passion,  melalui  berbagai godaan, dan keluar sebagai pemenang. Dia (Kristus) mempunyai kekuasaan untuk mencegah dirinya dari dosa atau membebaskan dirinya dari dosa melalui (a) kelahirannya yang suci,  dan  (b)  kesatuan  dari kemanusiannnya dengan ketuhanan Logos. Theodora menyangkal perlunya indwelling dari Kristus, dan membolehkannya hanya untuk indwelling moral. Dia tidak melihat adanya perbedaan yang penting tetapi hanya ada perbedaan derajat antara indwelling of God dalam Kristus dan yang percaya (believer). Pandangan ini benar-benar mensubstitusi inkarnasi moral indwelling pada Logos dalam diri Yesus. Meskipun begitu,
Theodore enggan untuk membuat kesimpulan apakah pandangannya tak dapat dihindarkan, bahwa ada personalitas yang ganda dalam Kristus, dua person di mana terdapat suatu gabungan
moral. Dia berkata bahwa gabungan tersebut sangat erat sehingga kedua-duanya dapat berbicara sebagai satu person, sebagaimana halnya suami dan istri dapat disebut satu tubuh.

Pengembangan logika dari pandangan Antiochian dapat dilihat dalam Nestorianism. Nestorius mengikuti jejak Theodore yang menyangkal  bahwa  bentuk  theotokos  dapat benar-benar
diterapkan pada Maria dengan alasan yang sederhana bahwa dia hanya  melahirkan  seorang  anak  laki-laki yang telah ditetapkan oleh Logos. Walaupun Logos tidak melukiskan kesimpulan yang layak bahwa diikuti dari posisi ini, namun penentangnya yaitu Cyril memberikan kepadanya tanggung jawab atas kesimpulan tersebut. Dia menunjukkan bahwa, 

(a) jika Maria bukan theotokos, yakni ibu seorang, dan orang itu adalah tuhan maka asumsi dari seorang human being tunggal pada fellowship dengan Logos disubstitusikan dari inkarnasi dari God; 

(b) jika Maria bukan theotokos, maka hubungan antara Kristus dengan kemanusiaan akan berubah, dan dia tidak  lebih  dari redeemer of mankind. Para pengikut Nestorius tidak ragu-ragu untuk membuat kesimpulan tersebut di atas.

Nestorianism   adalah   defektif  (tidak  sempurna), ketidaksempurnaan ini bukan dalam doktrin dari dua nature dalam Kristus, tetapi dalam satu person. Baik kebenaran dari kematian ataupun kebenaran dari kemanusiaan adalah diakui, tetapi kedua hal tersebut tidak dikonsep dengan suatu cara sebagaimana halnya membentuk suatu kesatuan yang nyata dan mengkonstitusi seorang person yang tunggal. Kedua nature tersebut juga merupakan dua person. Pentingnya perbedaan antara nature sebagai substansi yang dimiliki secara umum dan person sebagai suatu substansi yang relatif independen dari nature tersebut, adalah benar-benar tidak diakui.

Perihal perpaduan dua nature (sifat) dalam kesadaran akan diri yang tunggal, maka Nestorianism menempatkan perpaduan tersebut berdampingan dengan setiap lainnya tanpa melebihi
gabungan moral dan simpatik di antaranya. The man Christ bukanlah God, tetapi God-bearer, theophoros, yaitu pemilik Godhead. Kristus dipuja, bukan karena Kristus adalah God, tetapi  karena  God ada dalam diri Kristus. Pendirian Nestorianism yang kuat ini yaitu pendirian yang melakukan pencarian keadilan sepenuhnya akan kemanusiaan Kristus. Pada waktu yang bersamaan tersebut pendirian  itu  bertolak belakang dengan seluruh scriptural proofs untuk kesatuan person dalam mediator. Pendirian tersebut mengabaikan Gereja dengan contoh agung akan kesalehan sejati dan moralitas akan human person of Yesus, tetapi menggali pendirian divine human Redeemer, menggali sumber seluruh kekuasaan atau kekuatan spiritual, keagungan, dan penyelamatan.

The Cyrillian Party

Oponen Nestorianism yang paling menonjol adalah Cyril of Alexandria. Menurutnya Logos mengasumsikan sifat itu dalam keesaannya, agar mendapatkan kembali, walaupun demikian hanya  membentuk  personal  subject  dalam  Godman. Terminologinya tidak selalu jelas atau benar. Di salah satu pihak  dia  menjelaskan  kesederhanaan  bahwa  Logos mengasumsikan sifat kemanusiaan, agar ada dua sifat dalam diri Kristus, yang menyimpulkan gabungan mereka yang tak dapat dipisahkan dalam satu person of the logos, tanpa adanya perubahan dalam sifat-sifat tersebut. Tetapi dia juga menggunakan pernyataan dengan menekankan kesatuan dua sifat dalam Kristus dengan menggunakan mutual communication of attributes, dan penjelasan akan person of Christ seakan-akan merupakan keesaan resultan. Pengertiannya ini sungguh jelas menentang Nestorianism, karena dia menekankan keesaan person of Christ. Sesungguhnya tiga ketentuan di atas yang dia jelaskan tersebut sesuai dengan catholic doctrine of the day, yaitu: 
(a) the inseparable conjunction of the two natures; 
(b) the impersonality and dependence of  the manhood,  di  mana  Logos  menggunakannya  sebagai His instrument; dan 
(c) keesaan dan keabadian person in Christ.

Walaupun   kadang-kadang   dia   menyatakan,   untuk mempertimbangkan kesalahan  Eutychian selanjutnya. Dia menggunakan istilah phusis (nature) hanya pada Logos, dan tidak pada kemanusiaan Kristus, sehingga  penggunaannya sebagai  sinonim  hypostases.  Ini  memberikan beberapa kesempatan untuk menggunakan doktrinnya, setelah inkarnasi, yaitu  hanya ada satu sifat divine human Kristus dan memungkinkannya bagi Monophysites mempertimbangkan dirinya, apabila  mereka ingin untuk membuktikannya, sebagaimana adanya hanya satu person, maka oleh karena itu ada juga hanya  sifat mediator yang tunggal. Mereka melanjutkan pertimbangan atas dirinya walaupun penolakan kuat akan beberapa gabungan sifat tersebut.

The Council of Ephesus melakukan suatu kompromi dengan mempertahankan bahwa di  satu pihak  theotokos  dapat diberlakukan bagi Maria dan di lain pihak menegaskan doktrin mengenai dua nuture Kristus yang berbeda.

Eutycian Party

Banyak di antara pengikut Cyrill merasa tidak puas. Banyak di antara mereka yang tidak menghargai doktrin mengenai dua nature yang berbeda. Eutyches mendukung penyebab dari teolog Alexandrian di Konstantinopel, Euthyches merupakan seorang rahib tua yang mempunyai pendirian yang tidak seimbang dan merupakan  seorang  antinestorian. Menurut Theodora dia
mempertahankan pengaruh atribut manusia yang berassimilasi dengan Tuhan dalam Kristus baik dengan jalan penyerapan human nature dalam Ketuhanan maupun fusi dari dua nature tersebut, dengan demikian maka dia (Kristus) punya tubuh tidak konsubstansial dengan apa yang kita miliki (tubuh) dan dia (Kristus) bukan merupakan human yang seperti dalam pengertian sehari-hari. Dia memohon  kepada  Leo  yang merupakan  seorang  Bishop di Roma karena dia dihukum (dikucilkan) oleh Council of Constantinople pada tahun 448. Setelah Leo menerima laporan lengkap mengenai kasus ini dari Flavian yang merupakan Bishop Konstantinopel dan telah mengemukakan  pendapatnya  maka  dia mengalamatkan atau menunjukkan celebrated tome-nya kepada Plavian. Oleh karena tome ini sangat berpengaruh kepada formula Kaledonia, maka perlu diketahui poin-poin utamanya yakni sebagai berikut:
  •  Ada dua nature dalam Kristus, kedua nature ini berbeda   secara permanen;
  •  Kedua nature tersebut bersatu dalam satu person, masing- masing nature tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri   dalam kehidupan inkarnasi;
  • Dari kesatuan nature dalam person tersebut terjadi   komunikasi (comunicatio idio-matum);
  • Pekerjaan atau tugas penebusan membutuhkan suatu mediator baik manusia dan Tuhan, passible dan impassible, mortal dan immortal. Inkarnasi merupakan suatu tindakan merendahkan diri dari Tuhan, tetapi dalam merendahkan diri tersebut Logos tidak berlaku seperti very God. Forma servi tidaklah mengurangi atau menurunkan formadei;
  • Kemanusiaan dari Kristus adalah permanen, dan penyangkalannya mengimplikasikan suatu penyangkalan docetic yang realitas dari penderitaan Kristus. Hal ini benar-benar merupakan suatu ikhtisar dari Kristologi Barat.     
Keputusan dari Council Chalcedon

Setelah beberapa Council lokal menemukan, membenarkan, dan menyalahkan   Eutyches,  maka  ecumenical  Chalcedon (Council-nya) melakukan sidang  pada  tahun  451,  dan permasalahan utama dalam sidang tersebut adalah doktrin mengenai person of Christ. Hal ini dibaca sebagai berikut:

"Kita, pengikut Holy Father's seluruhnya  dengan  satu consent, mengajar orang untuk mengakui satu dan Same Son yakni Yesus Kristus (Tuhan Yesus Kristus), yang sempurna dalam Godhead dan juga sempurna dalam manhood; dia merupakan truly God dan juga merupakan truly man, karena mempunyai jiwa  dan  tubuh; konsubstansial dengan Father menurut Godhead, dan konsubstansial dengan kita menurut manhood; dalam segala hal dia sama dengan kita, tapi dia tanpa dosa; diperanakkan sebelum all ages dari Father sesuai dengan Godhead, dan pada hari-hari terakhir ini, untuk kita dan untuk keselamatan kita, maka dia dilahirkan dari perawan Maria, yakni Mother of God, sesuai dengan manhood; one and the same Christ, Son, Lord, (hanya diperanakkan untuk berada dalam dua nature, inconfusedly (assugutos), kekal (tidak berubah-ubah/atreptos), tak dapat dipisahkan (adiairetos), inseparable  (tidak  dapat  dipisahkan  = archoristos), perbedaan dari nature tersebut tidak berarti oleh karena mereka bersatu, tetapi sifat-sifat dari masing-masing nature tetap tampak dan bergabung dalam satu person dan satu
substansi, tidak terpisah atau terbagi dalam dua person tetapi hanya dalam one and the same Son, yang hanya dilahirkan, God the Word, the Lord Yesus Christ sebagai rasul telah diberitakan dari sejak mula, dan Lord Yesus Christ Himself memikirkan manusia dan Creed of Holy Fathers telah menurunkan dia untuk kita!"

Implikasi-implikasi yang paling penting dalam statement ini adalah sebagai berikut:
  1. Sifat-sifat dari kedua nature tersebut disandang oleh satu person, misalnya keterbatasan pengetahuan dan kemahatahuan.
  2. Penderitaan dari Godman dapat dianggap sebagai penderitaan yang truly dan really infinited, sedangkan menurut nature ketuhanan hal tersebut tidaklah mungkin;
  3. Yang merupakan dasar dari basis yang membentuk personalitas Kristus adalah divinity (ketuhanan) bukan humanity (kemanusiaan);
  4.  Logos tidak bersatu dalam seorang human individual yang berbeda, tetapi bersatu dengan satu human nature. Tidak ada seorang individual man yang pertama dengan siapa second person dalam Godhead bersatu dalam diri-Nya. Kesatuan tersebut dipengaruhi dengan substansi humanitas dalam diri perawan. 
Kontroversi Tahap Kedua

Kekacauan setelah keputusan Council

Council Chalcedon tidak menetapkan akhir dari perselisihan Kristologis, berbeda dengan Council of Nicaea yang berhenti pada kontroversi trinitarian. Mesir, Syria dan Palestina merupakan tempat tinggal banyak di antara pengikut fanatik dari penentang Eutychian, sedangkan Roma bahkan semakin menjadi  pusat  Orthodoxy.  Dalam  kenyataannya, proses perkembangan dogmatis pertama-tama berasal dari Timur dan berkembang ke Barat. Setelah Council Chalcedon mengikuti Cyrill dan Eutychus, maka mereka disebut Monophysites, oleh karena mereka mengakui union Christ mempunyai suatu nature yang komposit, tetapi menolak bahwa Kristus mempunyai dua nature karena mereka menganggap bahwa dua nature yang berbeda tersebut haruslah melibatkan suatu dualitas person.

Ada suatu perjuangan yang berkepanjangan dan berliku-liku antara kedua pihak yang berbeda ini. Bahkan kaum Monophisit tidak seluruhnya sepakat atau sependapat dengan mereka sendiri. Oleh karena itu mereka terbagi-bagi dalam beberapa sekte, yang mempunyai nama sendiri-sendiri kata Dr. Orr, "hal tersebut telah cukup memberikan cold shifer kepada seseorang." Theophaschisitis menekankan kenyataan bahwa God menderita; Phthartolatrists adalah sekte yang paling dekat dengan formulasi Chalcedon, dan menekankan fakta bahwa human nature dari Kristus sama dengan human nature yang kita miliki yaitu yang dapat menderita, dan oleh karena itu dikatakan bahwa merupakan human nature dapat disuap; dan sekte Aphthartodocetists adalah  sekte  yang  mewakili pandangan  sebaliknya, katakanlah bahwa pandangan tersebut menganggap human nature dari Kristus tidak konsubstansial dengan human nature kita tetapi merupakan human nature yang diberkati dengan nama tuhan, dan oleh karena itu merupakan human nature yang tidak berdosa, imperishable dan tidak dapat disuap.

Yang paling gigih mempertahankan Teologi Chalcedon adalah Leontius of Bizantium. Dia menambahkan suatu unsur ke dalam konstruksi dogmatis dari doktrin Kristus, hal ini lebih banyak dilakukan oleh John of Damascus. Point-point dari hal tersebut adalah penolakan atas Nestorianism akan menimbulkan ide mengenai adanya impersonal independent dalam human nature dari Kristus. Hal tersebut dilaksanakan  dengan menggunakan bentuk-bentuk Anuposthasis dan Anupostesia. Oleh karena itu Leontias menegaskan bahwa human nature dari Kristus  adalah  Enupostasia,  bukan  impersonal tetapi inpersonal, memiliki substansi personalnya dalam Person of the Son of God dari inkarnasi yang singkat.

Pada  tahun  553 kaisar Justinianus memanggil oikumene (konsultannya) ke V di Konstantinopel, yang  merupakan monophisites dalam pengucilannya dalam tulisan Theodore, tetapi tidak disukai karena dikutuk oleh penganggap bahwa konsul Kaledonia melakukan hal yang sangat salah dengan pengucilan tersebut.

Asas tunggal yang bertentangan

Di dalam asas tunggal selalu ada pertentangan-pertentangan, pada lembaga-lembaga tersebut terdapat tanda yang menjadikan di sekitar itu adanya suatu percakapan atau diskusi yang tidak harmonis. Setiap pertanyaan yang penting tidak dapat dijawab, bukan saja mengenai alam tetapi juga masalah pembangkitan di dalam Kristen, masalah ini yang harus dipecahkan di setiap pertanyaan yang seringkali disampaikan oleh seseorang dan sering pula yang disampaikannya itu tentang alam.

Dalam hubungan ini atau keadaan yang semacam ini sangat penting pertanyaan tersebut selalu dilontarkan sekalipun yang sudah lampau apalagi yang baru terjadi, hal ini adalah suatu pertanyaan yang wajar meskipun di sana terdapat dua Kristen (KP-KK), apabila kita yang mengatakan hal semacam itu berarti sama saja dengan merampas hak mereka (jemaat Kristen) yang betul-betul sudah ada dalam asasi itu, lagi akan mempengaruhi dan merindukan terhadap alam tersebut. Itulah salah satu hal kemanusiaan Kristen yang  telah menjadikan suatu inkarnasi pada Tuhan.

Bentuk doktrin yang dicetuskan oleh John of Damascus

John Damascus adalah seorang ahli agama dari gereja Yunani dan dia mencapai puncaknya dalam perkembangan sesuatu agama yang terpenting untuk dibuat  sebagaimana  yang  telah
dilakukan dari doktrin pribadi Kristen. Menurut dia bahwa logos itu adalah salah satu pemasukan dari kemanusiaan alam dan tidak ragu-ragu bahwa Yesus bukan pemasukan dari logos (bukan simbol), artinya logos itu adalah satu formalitas untuk mengoreksi pada kesatuan dari dua alam tadi, Logos juga bukan pemasukan dari kemanusiaan perorangan dan bukan pemasukan  kemanusiaan  alam  yang utama, akan tetapi, merupakan suatu kemanusiaan pribadi,  kemanusiaan  alam tatkala seseorang yang jiwanya belum berkembang atau sebagai hipotesis mereka, melalui persatuan pada Logos tadi adalah sesuatu kekuatan kepada orang bahwa Logos itu datangnya dari Bunda Maria. Kemudian kekuatan wujud manusia dalam diri Kristus mempunyai kemerdekaan pribadi bagi mereka, wujud pribadi itu melalui Logos dan ilustrasi dua alam tersebut dalam Kristen.

Menyatukan badan dengan jiwa pada seseorang, itulah asal mulanya ibadah dalam kemanusiaan Kristen yang menghubungkan tanda-tanda ibadah pada perikemanusiaan alam kelak kemudian
mereka boleh berkata bahwa Tuhan itu yang menghukum atau mengazab disebabkan ibadah tersebut.

Alam  perikemanusiaan  itu  hanya mempunyai efek yakni mendapatkan kemurnian secara pasif (ibadah yang tidak sampai karena kurang khusuk, anak Tuhan itu mempunyai suatu hal yang lengkap dalam pribadi kemanusiaannya, maka dia itu adalah menjadi pujian atau pujaan dalam Gereja. Menurut pendapat itu adalah suatu ikatan yang besar dari kemanusiaan pada Yesus bagaikan kedudukan suatu organ, hal itu diizinkan atau disepakati oleh  dua  kajian  alam  tadi dimana undang-undang dari salah satunya akan menyangkut pada setiap alam dan hal ini pula segala sesuatu yang ada di dalam agama Kristen adalah hak kemanusiaannya. Selain dari itu, kedua yang sama tadi dianggap benar oleh Prosodium Nastarion.

Akibatnya atau hasil permasalahan itu akan membangkitkan atau membuahkan ilmu "Asas Tunggal" sebagai indikasi mereka yang memulai dari satu persatuan pribadi menjadi sesuatu hal yang dikehendakinya. Doktrin ini juga mengambil dari bentuk kemanusiaan yang akan dianugerahkan sebagai tanda ucapan terima kasih di dalam memuja kelak kemudian hari, maka ucapan itu akan mendapat pahala  atau  diterima  jika benar-benar dan akan ada sanksinya jika salah atau tidak khusuk, hal itu adalah suatu cara dari mereka beribadah yang mengandung perikemanusiaan, ilmu dari asas tunggal itu disebut Duothlites. Hal itu mereka ambil dari dua keyakinan, keyakinan alam dan keyakinan yang terpilih pada waktu sekarang dalam dua keinginan atau anugerah dalam Kristen. Jadi ilmu dari asas tunggal tadi adalah suatu peluang dari mereka untuk mempersatukan dari kehidupan seseorang dalam umat Kristen.

Pada  suatu waktu, bentuk kekuatan yang dipakai dalam kontroversi dalam penyempurnaan kehendak hal itu akan segera menjelma sebagai bentuk yang lebih definitif, hal itu akan timbul di dalam pikiran tetapi, kata-kata will (kabul) dipakai dalam hayalan di luar dugaan segeralah diucapkan artinya kabul atau will itu merasa sudah menjelma untuk menentukan hal itu, maka kita pilih di antara benar dan salah. Sekalipun sering kali menggunakan istilah will di luar hayalan semata-mata hanyalah untuk mengisi insting, nafsu biasa atau juga nafsu yang berlebihan, yang membawa efek bagi mereka itu terserah mana yang ingin dilakukannya. Semuanya itu diliputi dalam bentuk rasa selalu dikabulkan, pada kontroversi kuno dengan demikian akan menimbulkan suatu pertanyaan, apakah Kristen itu sempurna sepanjang zaman, tidak menakutkan atau mengagetkan dalam penderitaan dan mati. Di dalam jenis kemanusiaan maka Kristen itu akan
memberikan perikemanusiaan di dalam tingkah laku mereka.

Pada abad ke 6 salah satu lembaga di Konstantinopel (680) merupakan salah satu anjuran dari Pastur di Roma, dia mengadakan doktrin tentang dua keinginan dan dua kekuatan sebagaimana kedudukan pada masa Ortodox, akan tetapi juga diputuskan bahwa kemanusiaan harus selalu disamakan sebagai induk ibadah. Pendapat yang dicetuskan di dalam kemanusiaan atau persatuan ini dengan ibadah tidak menjadi kurang dalam kemanusiaan tetapi tingkat kesempurnaannya dari persatuan itu pun selalu menjadi pemegang peranan untuk menyempurnakan keharmonisan.

Ilmu kekristenan dalam Gereja Barat

Perbandingan Gereja Barat masih kurang sempurna tanpa adanya kajian oleh bangsa Timur. Seluruh pemikiran Barat tidak memuaskan di dalam hubungannya baik di waktu mendiskusikan
pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara mendalam oleh berbagai macam ahli filosof Barat yang terampil dan tidak diragukan keaktifannya beribadah di dunia Barat.
Perpindahan baru dari ilmu Kristen telah ditemukan dan timbul di Spanyol pada abad ke 7 & 8, namanya disebut Adoptionist Controversy, bentuk itu memaparkan keakraban orang Prancis sejak utusan dari Toloda mengumumkan pada tahun 676, bahwa Kristen adalah salah  satu perintis pengangkatan  Doktrin Kelix, salah seorang Pastur dari Urgela, dia mengatakan bahwa Kristen merupakan pelaksanaan ibadah manusia secara alami (agama tauhid) bahwa itu adalah Logos. Dia hanya sebagai anak dari Tuhan dalam bayangan alam saja tetapi Kristen adalah kemanusiaan di samping anak Allah yang diangkat atau dinobatkan. Kini  ia  dicari  oleh sekelompok manusia atau oleh perorangan pribadi dan pada kenyataannya merupakan suatu penekanan dari waktu ke waktu, padahal, kenyataannya dia itu adalah anak manusia dan diambil sebagai pribadi anak Allah. Teori ini membuat suatu perdebatan di antara alam dan anak Allah dahulu, jadi hal ini dapat dijelaskan tujuan mereka itu  adalah  untuk melestarikan yang dua tadi, agar dirinya diakui sebagai anak Allah. Di dalam tuntunan naskah yang menunjukkan bahwa Kristen itu adalah seorang anak kepada ayahnya dan pada kenyataannya kepercayaan itu dijadikan anak pada ayah dan selalu disebut persaudaraan atau persahabatan pada Kristen. Umumnya di dalam Kristen disebut anak Allah dan itu hanya bayangan belaka, supaya penerangan tersebut dapat dimengerti dan diterima. Dan supaya menerangkan dalam arti lebih lanjut serta menimbulkan rasa kepercayaan atau keyakinan pada umat manusia, tatkala Kristus dilahirkan di Betlehem dan sebagai tempat kelahirannya agama itu maka pada waktu itu pula dibaptis; Baptisan itu mengandung pengertian bahwa Kristus diangkat sebagai anak Allah.

No comments: