Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Jun 26, 2009

Batu Penjuru

"Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? -- Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya? Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang Batu Penjurunya pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim? -- ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya; ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu; ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan! Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya?" (Ayub 38:4-13)

Dalam pelajaran kali ini kita ingin membahas tentang Batu Penjuru, apakah Kristus adalah Batu Penjuru yang dimaksud dalam ayat-ayat ini. Kristus tentu saja telah membuat pembayaran penuh bagi upah dari dosa orang-orang yang percaya sebelum dunia diciptakan (Matius 25:34, Efesus 1:4, Roma 8:29, 1 Korintus 2:7, 1 Petrus 1:20, 2 Timotius 1:9, Ibrani 4:3, Wahyu 13:8, Wahyu 17:8). Akan tetapi pada saat itu, tidak satupun dari kita telah hidup dan ayat tersebut sedang berbicara tentang "anak-anak Allah", yang menunjuk kepada manusia. Sedang malaikat bukanlah anak-anak Allah, malaikat tidak diciptakan menurut "gambar dan rupa" Allah, hanya manusia saja yang diciptakan menurut gambar atau citra Allah. Sekarang bagaimana mungkin bahwa sewaktu Dia memasang Batu Penjuru, semua anak-anak Allah bersorak-sorai?

Sekarang untuk menjawab pertanyaan itu kita harus melihat pada kitab Matius 21:41 dimana Tuhan Yesus sedang berbicara kepada orang-orang Farisi dan menyatakan bahwa mereka adalah "kebun anggur" yang dimaksud dan karena orang-orang Farisi itu telah berencana untuk membunuh pemilik kebun anggurnya. Dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."

Disini Tuhan sedang berbicara mengenai "kebun anggur", yaitu organisasi sinagoga-sinagoga umat Yahudi yang akan dialihkan kepada organisasi gereja Perjanjian Baru. Dan ayat tersebut berlanjut di ayat 42 demikian:

"Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita."

Batu, yaitu Tuhan Yesus, yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, yaitu orang-orang Farisi, telah menjadi Batu Penjuru. Dengan kata lain, Allah sedang menyatakan bahwa sekarang Kristus telah datang ke dunia ini untuk memperlihatkan bagaimana Dia telah membuat pembayaran bagi upah dosa-dosa kita. Sekarang Allah berbicara mengenai Dia sebagai Batu Penjuru yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan dan Dia telah menjadi Batu Penjuru.

Kemudian Tuhan melanjutkan di dalam ayat-ayat 43-44 demikian:

"Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.)"

Dengan kata lain, Allah sedang menggunakan bahasa yang menyatakan tentang peletakan suatu Batu Penjuru. Secara kekal, hal itu sesungguhnya telah dilakukan sebelum dunia dijadikan. Akan tetapi disini Allah sedang memusatkan perhatian pada peletakan Batu Penjuru ketika Dia datang untuk memperlihatkan bagaimana Dia telah menderita untuk membuat pembayaran bagi upah dosa-dosa umat-Nya.

Kemudian dikatakan, "pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama". Sekarang siapakah yang dimaksud dengan "bintang-bintang fajar" ? Nah, kita harus membiarkan Alkitab untuk menuntun kita sekali lagi dengan cara membandingkan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Alkitab adalah kamus bagi dirinya sendiri. Di dalam kitab Wahyu 2:28 Allah sedang berkata kepada orang-orang percaya yang sejati demikian: "dan kepadanya akan Kukaruniakan Bintang Timur"

Apa yang Allah berikan kepada kita adalah Tuhan Yesus Kristus, Dia adalah Bintang Timur itu. Dan sesungguhnya di dalam kitab Wahyu 22:16 kita membaca demikian:

"Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, Bintang Timur yang gilang-gemilang."

Maka cukup jelaslah bahwa Kristus adalah "bintang fajar" (bintang pagi) yang dimaksud. Ingatlah bahwa Matahari selalu terbit dari sebelah Timur. Kemudian dikatakan disini di dalam kitab Ayub: "bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama"

Nah, apakah Tuhan menyanyi? Jawabannya adalah Ya, kitab Zefanya 3:16-17 berkata demikian:

"Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai [yaitu dengan bernyanyi - KJV]" ** harap diperhatikan bahwa dalam bahasa aslinya ungkapan "sorak-sorai" pada akhir kalimat ini sebenarnya adalah ungkapan "menyanyi".

Dengan kata lain, Tuhan bernyanyi. Jadi hal itu sesuai dengan kitab Ayub 38 dimana dikatakan: "bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama". Akan tetapi ayat ini menyebut "bintang-bintang fajar" yang merupakan suatu kata jamak. Yesus adalah kata tunggal, akan tetapi Allah adalah kata jamak. Dalam ungkapan "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kejadian 1:1), kata "Allah" yang digunakan dalam ayat ini adalah suatu kata jamak, "Elohim", yang berarti Allah-allah. Itu menyangkut Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Sehingga seluruh ke-Allahan terlibat di dalam sukacita, karena Allah sedang mempertunjukkan bahwa Dia adalah sang Batu Penjuru. Dan batunya sedang diletakkan, dan batu tersebut telah menjadi Batu Penjuru. Kristus adalah Batu Penjuru itu.

Kemudian dikatakan di dalam kitab Ayub 38:7 demikian:"pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai..."

Nah, siapakah mereka itu? Ayat ini sedang berbicara tentang saat ketika Kristus datang untuk memperlihatkan bagaimana Dia menderita untuk membayar upah dari dosa-dosa umat-Nya, walaupun secara prinsip Dia telah menyelesaikan seluruh karya penebusan itu sejak sebelum dunia diciptakan.

Tetapi anda lihat, anak-anak Allah adalah orang-orang percaya sejati yang bersukacita ketika Kristus diletakkan sebagai Batu Penjuru pada peristiwa kayu salib. Pertama-tama, terdapat Henokh, pada saat itu dia telah berada di dalam Surga. Ia adalah seorang anak Allah yang sejati. Kemudian terdapat Musa, kita mengetahui bahwa dia juga telah berada di dalam Surga. Dan kita mengetahui bahwa ada orang-orang lain yang telah mati dalam keadaan diselamatkan, jadi mereka berada di Surga dalam keberadaan jiwa mereka. Dan ingatlah bahwa pada saat Kristus bangkit pada hari Minggu pagi di tahun 33 Masehi ada kubur-kubur yang terbuka dan banyak dari tubuh orang-orang percaya sejati diangkat ke atas ke dalam Surga (Matius 27:53).

Sekarang kita dapat menyusun seluruh hal ini dengan sesuai bersama-sama. Telah terdapat sukacita yang sangat besar di dalam Surga sewaktu orang-orang ini diangkat ke dalam Surga tepat ketika Kristus dibangkitkan dari antara orang mati. Di dalam tubuh rohani mereka yang mulia, mereka telah diangkat ke atas untuk berada bersama-sama dengan Kristus. Maka orang-orang yang telah sampai kesana sebelumnya, entah di dalam keberadaan jiwa atau sebagai suatu kepribadian yang utuh seperti halnya Henokh dan Elia, mereka sangat bersukacita. Allah sedang menyanyi dan Dia adalah "bintang-bintang fajar". Dan orang-orang percaya sejati juga bersukacita karena telah ditunjukkan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dunia bahwa Dia merupakan Batu Penjuru dari Kerajaan Allah. Jadi Kristus-lah yang telah membuat Kerajaan Allah menjadi kenyataan, tanpa Dia seluruhnya tidak akan ada.

Kitab Kolose 1:13-17 menjelaskan kepada kita demikian:
"Ia [yaitu Allah] telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia [yaitu Kristus] kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."

Jun 24, 2009

Suatu Sisa

"Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia [anugrah]. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan [pekerjaan], sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

Jadi bagaimana? Israel [yaitu bangsa Israel yang ada di Timur Tengah] tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, seperti ada tertulis: "Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini." (Roma 11:5-8) 

Pada titik kapanpun di dalam perjalanan waktu terdapat hanya "suatu sisa" orang-orang percaya sejati yang sangat sedikit jumlahnya disepanjang masa Perjanjian Lama (Yesaya 10:20-21, Yesaya 17:6, Yeremia 6:9, Yeremia 31:7, Mikha 2:12, Mikha 5:7-8, Zefanya 2:9, Zefanya 3:13, Roma 9:27).

Contohnya, di dalam zaman Nuh dari jumlah total seluruh penduduk dunia yang ada pada waktu itu hanya ada 8 orang percaya yang masuk ke dalam bahtera dan diselamatkan. Ini adalah fakta sejarah yang sangat penting untuk kita perhatikan. Kemudian kita juga membaca tentang Abraham dimana hanya ada sangat sedikit orang-orang percaya sejati yang hidup pada masanya.

Di dalam kitab Ibrani pasal 3 Tuhan berbicara mengenai umat Israel yang telah mati dalam perjalanan mereka dari Mesir menuju ke tanah Perjanjian di Kanaan. Dengan tangan-Nya yang kuat Allah memang telah membebaskan mereka dari perbudakan yang kejam di tanah Mesir, akan tetapi mereka binasa di padang gurun oleh karena ketidak-percayaan mereka.

Bangsa Israel merupakan Umat Tuhan, tetapi pada hakekatnya hampir tidak satupun dari mereka yang diselamatkan. Dari umat Israel yang berumur 20 tahun ke atas hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan untuk menginjakkan kakinya di tanah Kanaan. 

Dalam Perjanjian Lama pusat perhatian Tuhan yang utama bukanlah pada hal menyelamatkan orang-orang walaupun terdapat beberapa orang percaya sejati seperti Abraham, Musa, Rut, Daud, Rahab, Abigail, Uria orang Het, Ebed-Melekh orang Etiopia, dan keluarga dari kaum Rekhab, serta orang-orang lainnya, tetapi mereka sangat sedikit jumlahnya dari total seluruh penduduk dunia yang ada.

Dalam masa Perjanjian Lama titik utamanya adalah pada "buah sulung" dari tuaian yang akan dihasilkan, dan itu merupakan buah sulung Paskah, yang menunjuk kepada --

Tuhan Yesus Kristus. Dia adalah yang terbaik dari buah bungaran (atau yang terbaik dari hasil yang pertama). Sewaktu Yesus tampil di depan umum Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba Paskah di tahun 33 Sesudah Masehi, dan itu merupakan penyelesaian dari tuaian pertama itu.

Jadi itu adalah akhir dari musim "hujan kebenaran awal" yang Tuhan bicarakan di dalam kitab Yoel 2:22-24 demikian:"Jangan takut, hai binatang-binatang di padang, sebab tanah gembalaan di padang gurun menghijau, pohon menghasilkan buahnya, pohon ara dan pohon anggur memberi kekayaannya.

Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak." Menyusul dari hal itu terdapat dua musim hujan lainnya di Perjanjian Baru yaitu "hujan awal" dan "hujan akhir" (hujan musim semi).

Kita telah mempelajari bahwa terdapat tiga musim untuk "hujan dari Injil", sebuah "hujan kebenaran awal", sebuah "hujan awal" dan kemudian "hujan akhir" (hujan musim semi) -- dan setiap musim hujan rohani ini akan menghasilkan sebuah tuaian yang dihubungkan dengan sebuah hari raya dari hukum upacara Perjanjian Lama. 

Sekarang marilah kita meninjau hari-hari raya tersebut, yang pertama adalah hari raya tujuh hari atau hari raya Roti Tidak Beragi, yang dimulai dengan Paskah Perjanjian Lama pada hari ke-14 dari bulan yang pertama pada penanggalan Yahudi dimana umat Israel menyembelih Anak Domba Paskah. Dan tepat pada hari raya yang sama itu juga Kristus telah pergi ke kayu salib. Dengan kata lain Allah telah bekerja dengan ketepatan waktu yang sangat sempurna. 

Jadi hari raya itu berhubungan dengan Kristus yang datang sebagai buah sulung dari tuaian Perjanjian Lama yang juga berhubungan dengan "hujan kebenaran awal". Hari raya tujuh hari itu juga disebut sebagai "hari raya menuai" di dalam kitab Keluaran 23:16 dan "hari raya Tujuh Minggu" di dalam Keluaran 34:22. Hari raya itu telah diperingati pertama kalinya sewaktu tuaian yang pertama dibawa masuk sebagai suatu hasil dari penanaman yang dilakukan oleh bangsa Israel. 

Kemudian tepat 50 hari setelah Paskah Perjanjian Lama terdapat Hari Raya Pentakosta sebagai tuaian dari "hujan awal" di sepanjang masa kerja gereja. Dimulai dari hari itu (yaitu tepat tujuh minggu setelah Kristus bangkit dari kubur) ada banyak orang yang diselamatkan melalui Injil. Dan itulah sebabnya kitab Wahyu 14 berbicara mengenai 144.000 (12 x 12.000) sebagai buah-buah sulung; dan itulah sebabnya mengapa kitab Yakobus 1:18 berbicara mengenai seluruh dari orang-orang yang diselamatkan di sepanjang masa kerja gereja Perjanjian Baru sebagai buah-buah sulung. Mereka merupakan buah-buah sulung dari tuaian Pentakosta. 

Hari raya yang ketiga disebut sebagai hari raya Pondok Daun di dalam kitab Imamat 23:34 dan disebut sebagai "hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun" di dalam kitab Keluaran 23:16. Hari raya tersebut dimulai pada hari ke-15 dari bulan yang ke-7 pada penanggalan Yahudi, dan hari raya itu menunjuk kepada tuaian jiwa-jiwa yang terakhir yang disebut sebagai "himpunan besar orang banyak yang tak terhitung jumlahnya" yang pada saat ini sedang dikumpulkan sepanjang masa Kesusahan Besar Yang Terakhir tepat sebelum akhir dari dunia ini. Tuaian yang terakhir ini merupakan hasil dari "hujan akhir" (hujan musim semi) dan tidak berhubungan dengan buah-buah sulung.

Sekarang kita dapat melihat betapa indahnya hal-hal ini sangat berhubungan satu dengan yang lain dan telah diantisipasi di dalam hukum-hukum Perjanjian Lama yang berbicara tentang upacara-upacara ibadat sewaktu Tuhan menyatakan tentang ketiga hari raya tersebut di dalam kitab Keluaran 23:14-17 demikian: "Tiga kali setahun haruslah engkau mengadakan perayaan bagi-Ku. Hari raya Roti Tidak Beragi haruslah kaupelihara; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi, seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu, pada waktu yang ditetapkan dalam bulan Abib, sebab dalam bulan itulah engkau keluar dari Mesir, tetapi janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa. Kaupeliharalah juga hari raya menuai, yakni menuai buah bungaran dari hasil usahamu menabur di ladang; demikian juga hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang. Tiga kali setahun semua orangmu yang laki-laki harus menghadap ke hadirat Tuhanmu TUHAN." Semua laki-laki dari umat Israel harus pergi ke Yerusalem 3 kali setahun untuk memperingati hari-hari raya tersebut.

Satu hal yang perlu kita perhatikan kita menemukan bahwa terdapat suatu masa kekeringan yang sangat dahsyat di antara setiap dari musim-musim tersebut. Di dalam kitab Ulangan 11:13-15 Tuhan memperingatkan demikian: "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang." Terdapat tiga musim yang Tuhan maksudkan, dan Dia sedang membahas hal itu di dalam ayat ini. Akan tetapi, disini Tuhan pada khususnya sedang berbicara mengenai musim-musim Perjanjian Baru yang terdiri atas hujan awal dan hujan akhir.

Tentu saja hal ini harus dipahami secara rohani di mana selagi hujan Injil yang sejati mengairi bumi, akan ada sebuah tuaian dengan cukup makanan rohani karena Kristus pada hakekatnya merupakan Roti Hidup. Kemudian datanglah suatu peringatan di dalam kitab Ulangan 11:16-17 demikian: "Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu."Dengan kata lain, jika umat Israel murtad dan beribadah kepada allah-allah lain maka murka Tuhan akan bangkit, dan akan terdapat suatu masa kekeringan rohani yang besar. Tuhan akan menutup hujan sebelum Dia memulai musim hujan yang berikutnya.

Satu hal yang harus kita sadari adalah bagaimana masa tiga setengah tahun dari pelayanan Yesus di bumi ternyata sangat berkaitan dengan masa tiga setengah tahun dari musim kemarau yang melanda Israel di zaman Elia. Di sepanjang masa tiga setengah tahun sewaktu Kristus berkhotbah, hanya ada sangat sedikit orang yang menjadi diselamatkan. 

Kita memiliki catatan mengenai si perempuan yang tertangkap di dalam perzinahan, dan si laki-laki yang diturunkan melalui atap, dan si pencuri yang telah disalibkan bersama Yesus, serta para muridnya, dan beberapa orang lain yang menjadi diselamatkan. Tetapi Tuhan memberi kita beberapa contoh tersebut karena Dia sedang menguraikan sifat dari Injil yang sejati dan memastikan supaya kita memahaminya. Disisi yang lain, Tuhan telah membuat beberapa pernyataan yang sangat buruk mengenai orang-orang di dalam sebagian kota-kota Israel yang ada pada zaman Yesus.

Di dalam kitab Matius 11:21-24 Yesus berkata bahwa mereka berada di dalam keadaan yang lebih buruk daripada kota-kota Perjanjian Lama yang dikutuk seperti Sodom, Tirus dan Sidon. Dalam ayat itu Tuhan berkata demikian: "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat [dunamis] yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu." Hal tersebut adalah seperti seakan-akan bahwa tidak ada seorangpun yang menjadi diselamatkan di Khorazim, yang telah merupakan sebuah kota tepat di sebelah Utara dari Danau Galilea, dan Betsaida merupakan sebuah kota pelabuhan di tepi danau tersebut. Dan Kapernaum itu adalah kota dimana Kristus telah melayani selama beberapa bulan.

Kota-kota itu terletak di dalam daerah utama di mana Dia telah mengajar selama tiga setengah tahun. Sesungguhnya Kristus, yang adalah Allah Yang Kekal, merupakan pengkhotbah yang sangat sempurna, dan Dia telah memberitakan Injil dengan tekun kepada umat Israel. Tetapi pada akhir dari masa tiga setengah tahun itu, Alkitab menyatakan bahwa hanya terdapat 120 murid di dalam ruang atas di Yerusalem, dan mungkin sedikit lebih dari 500 orang yang berkumpul di Galilea untuk menyaksikan kenaikan-Nya. Dan banyak dari orang-orang ini sebenarnya telah menjadi diselamatkan sebelum Kristus mulai untuk berkhotbah. 

Jadi apakah yang sedang terjadi? Telah terdapat suatu kekeringan rohani yang sangat parah di Israel pada zaman Yesus yang telah diperlambangkan oleh musim kemarau secara fisik di zaman Elia. Kemudian apakah yang telah terjadi pada akhir dari pelayanan Kristus? Dia pergi ke kayu salib untuk menanggung murka Allah bagi Umat-Nya. Dan apakah yang terjadi di zaman Elia? Api telah turun dari langit dan menghabiskan lembu jantannya, yang merupakan sebuah gambaran dari Kristus di dalam peristiwa Penebusan. Kristus adalah kurban bakarannya. Dia adalah "Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Dia yang tidak berdosa telah menerima penghakiman penuh dari Allah oleh karena dosa-dosa umat-Nya. 

Sekarang kita dapat melihat bagaimana masa tiga setengah tahun dari musim kemarau dan kelaparan di zaman Elia telah memperlambangkan masa kekeringan rohani selama tiga-setengah tahun di sepanjang pelayanan Yesus di bumi. Masa kekeringan itu bukan merupakan suatu kelaparan akan makanan dan air, tetapi itu merupakan suatu kekeringan dari Injil yang sejati, seperti yang dibicarakan di dalam kitab Amos 8:11 demikian: "Sesungguhnya, waktu akan datang," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan [kekeringan] akan mendengarkan firman TUHAN." Pada masa sekarang ini ada banyak terdapat Alkitab dimana-mana, tetapi Tuhan memperingatkan bahwa akan terjadi masa kekeringan rohani yang sangat dahsyat. Ingatlah ada dua syarat dasar untuk keselamatan, pertama orang tersebut harus berada di bawah pendengaran dari Firman Tuhan yang sejati, dan Allah Roh Kudus harus memberikan "telinga rohani" untuk mendengarkan Firman tersebut kepada orang-orang yang Tuhan telah rencanakan untuk Ia selamatkan dengan cara menanamkan Firman itu ke dalam hati mereka sebagai bagian dari proses keselamatan. Tuhan Yesus adalah Allah Yang Kekal, dan Dia telah memberitakan Injil dengan sempurna di sepanjang tiga setengah tahun pelayanan-Nya di bumi, akan tetapi pada hakekatnya hampir-hampir tidak ada seorangpun yang menjadi diselamatkan pada saat itu karena telah terdapat suatu kekeringan rohani akan mendengar Firman Tuhan yang sejati.

Injil-injil palsu telah merajalela dengan sangat dahsyat. Jadi Allah Roh Kudus hanya menanamkan Firman Tuhan ke dalam hati dari sangat sedikit orang. Beberapa orang telah diselamatkan karena Tuhan akan menggunakan mereka sebagai gambaran tentang sifat dasar dari Injil Kristus dan bagaimana Allah bekerja, tetapi si Iblis juga telah berada disana untuk mengambil Firman dari hati kebanyakan orang seperti yang kita baca di dalam kitab Lukas 8:12 demikian:"Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil Firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan."

Jun 18, 2009

Talenta

"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri [yaitu ke negeri yang jauh - KJV], yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat." (Matius 25:14-15)

Ungkapan "talenta" disini menunjuk kepada "Injil", dan orang yang memberikan Injil adalah Tuhan Yesus Kristus. Sekarang Ia telah pergi ke "negeri yang jauh" yaitu Surga, tetapi Kristus akan datang kembali untuk yang kedua kalinya di akhir zaman.

Dan pertanyaannya adalah "Apakah yang sudah kita lakukan dengan Injil?"
Hamba dengan lima talenta menggunakannya untuk beroleh laba lima talenta (Matius 25:16). Dengan kata lain, dia telah menjadi diselamatkan, lalu ia menggunakan Injil supaya orang lain mungkin dapat diselamatkan juga sehingga Injil tersembunyi di dalam hati orang-orang tersebut.

Jadi, ada laba atau keuntungan dari Injil. Dan inilah yang diharapkan terjadi dari semua orang yang menjadi orang-orang yang percaya.
Disisi yang lain, orang yang hanya menerima satu talenta, menyembunyikannya di dalam tanah atau "di dalam gua" (Matius 25:18, Wahyu 6:15).

Ini adalah seperti seseorang yang mendengarkan Injil tetapi tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, ia masih berada dalam keadaan mati rohani. Dia tidak dapat menjadi saksi yang baik untuk siapapun, jadi dia masih belum diselamatkan.
Ia adalah sama seperti lima gadis bodoh dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis di dalam Matius 25, atau seperti seorang yang mendirikan rumahnya di atas pasir, bukan di atas Batu, seperti yang Kristus katakan dalam kitab Matius 7:26 demikian: "Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir [yaitu Injil yang sejati], lalu angin [yaitu Roh Kudus atau Roh Kristus atau Roh Tuhan] melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Sesungguhnya Injil dapat dikabarkan melalui radio, internet, buku-buku, selebaran-selebaran, misonaris-misionaris, dll. Pertanyaannya apakah yang akan kita lakukan dengan Injil? Dan yang lebih penting lagi, apakah kita sudah berlaku setia kepada Alkitab atau kita hanya setia kepada kelompok kita sendiri. Bila "akarnya" tidak baik maka seluruh pohon tidak akan baik.
Dan Allah sudah memberikan kepada kita perumpamaan di Matius pasal 25 ini untuk menganalisa pertanyaan tersebut. Dan orang yang menyembunyikan Injil itu masih berada di bawah murka Allah karena ia tidak mengasihi sesamanya manusia dan akan berakhir di dalam kematian kedua, kutukan yang kekal.

Kalau kita tidak percaya kepada Injil Alkitab, dan tidak percaya kepada Allah sebagai satu-satunya yang dapat membuat kita menerima Injil, maka kita harus bertanggung-jawab atas dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita. Dan hukuman dari satu buah dosa yang paling kecil saja adalah maut, dan maut yang dimaksud disini adalah kutukan yang kekal (Roma 6:23).
Tetapi ingatlah kecuali Allah berkenan untuk membuka mata rohani kita, maka kita akan tetap berada di bawah murka Allah.

Jun 16, 2009

Ciptaan baru

" ... barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)

Dalam ayat ini Tuhan Yesus sedang berbicara tentang orang-orang percaya yang sejati, dan kata Yunani untuk ungkapan "sudah mati" adalah apothnesko (G599). Ungkapan ini menunjukkan bahwa mereka "telah" mati pada masa yang lampau. Jadi hal ini menunjuk kepada fakta bahwa pada dasarnya seluruh umat manusia adalah "mati secara rohani" karena mereka memberontak terhadap Tuhan, dan Tuhan sudah mengutuk seluruh umat manusia dan bumi ini di Taman Eden (Kejadian 3). Ingatlah bahwa kita menyebut kondisi tersebut sebagai "kematian pertama" walaupun istilah ini tidak digunakan di dalam Alkitab.

Akan tetapi, sewaktu Tuhan memberikan orang-orang pilihan-Nya "kebangkitan jiwa yang sama sekali baru" atau "hati yang baru", Tuhan berkata dalam kitab Yohanes 11:25 bahwa sebetulnya mereka "sudah mati" pada masa yang lalu, dan mereka "akan hidup" pada masa yang mendatang karena mereka telah diberikan hidup yang kekal. Setiap dari orang-orang ini telah menjadi "mahluk yang baru" (ciptaan yang baru) di dalam Roh Kristus (Roh Kudus = Roh Tuhan), seperti yang kita baca dalam kitab 2 Korintus 5:17 demikian:

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang [yaitu semuanya telah menjadi sama sekali baru seperti halnya seorang anak yang baru dilahirkan]."

Tuhan Yesus juga menggunakan kata apothnesko (G599) sebagai ungkapan "telah mati" dalam kitab Yohanes 6:48-51 dimana Ia berkata demikian:

"Akulah roti hidup [yaitu Yesus sebagai roti rohani]. Nenek moyangmu telah makan manna [yaitu roti secara harafiah] di padang gurun dan mereka telah mati [apothnesko]. Inilah roti yang turun dari sorga [yaitu Firman Kristus]: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

Sangat jelas sekali bahwa orang-orang Yahudi yang sedang berbicara dengan Yesus pada waktu itu mengetahui kalau nenek moyang mereka dalam masa Perjanjian Lama telah mati secara fisik. Jadi disini Tuhan menggunakan gaya bahasa simbolis untuk menjelaskan bahwa nenek moyang mereka, yaitu bangsa Israel kuno, kebanyakan dari mereka "masih mati secara rohani" (atau belum diselamatkan), karena upacara-upacara keagamaan yang mereka lakukan sendiri bagaimanapun terlihat kudusnya hal tersebut tidak dapat menyelamatkan mereka.

Mereka hanya makan roti (manna) secara fisik di padang gurun, bukan "roti rohani" atau "roti kehidupan" yang menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus yang merupakan "satu-satunya" yang dapat memberikan hidup yang kekal. Dalam kitab Yohanes 6:35 kita membaca demikian:

"Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi."

Bahkan Kristus adalah "anak domba" yang telah disembelih sejak sebelum dunia dijadikan seperti yang kita baca dalam kitab Wahyu 13:8:

"Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya [yaitu menyembah binatang atau si Iblis], yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih."

Dan ayat yang pararel dalam kitab Wahyu 17:8 menyatakannya demikian:

"Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada [yaitu diikat pada peristiwa kayu salib dan pada akhir zaman], ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi [yaitu ia akan dilepaskan lagi untuk "sedikit" waktu lamanya pada akhir zaman -- Wahyu 20:3]."

Selanjutnya Yesus berkata pada bagian akhir dari kitab Yohanes 11:25 bahwa, "ia [yaitu orang yang percaya kepada-Nya] akan hidup". Kata Yunani untuk ungkapan "akan hidup" atau "zao" (G2198), adalah bentuk pernyataan yang digunakan untuk menunjuk kepada peristiwa yang akan terjadi di masa depan, yang adalah kata yang umum untuk menunjuk kepada ungkapan "untuk hidup"; dan di dalam konteks-nya itu juga berarti "untuk hidup selama-lamanya" yang merupakan referensi kepada kehidupan yang kekal.

Tuhan Yesus juga berbicara tentang mereka-mereka yang "hidup" secara kontras dengan mereka-mereka yang "mati" dalam kitab Matius 22:31-32 demikian:

"Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."

Sekarang kita telah mempelajari bahwa sesungguhnya ungkapan "orang-orang mati" (nekros) menunjuk kepada orang-orang yang masih hidup secara fisik tetapi mereka belum diselamatkan, dan ungkapan "orang-orang hidup" (zao) menunjuk kepada orang-orang yang sudah diselamatkan karena mereka telah menerima anugrah kebangkitan jiwa yang baru. Akan tetapi sebenarnya, orang-orang percaya yang sejati sebelumnya adalah bagian dari "orang-orang yang mati" tersebut, dan kemudian pada suatu saat yang Tuhan tentukan mereka "dihidupkan" (anazao:G326).

Kita juga melihat kata "anazao" muncul sebagai ungkapan "hidup kembali" dalam kitab Roma 14:9 yang kita baca demikian:

"Sebab untuk itulah Kristus telah mati [, bangkit - KJV] dan hidup kembali [anazao:326], supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup."

Dan kata Yunani untuk ungkapan "menjadi Tuhan" yang digunakan disini sebenarnya adalah kata "kurieuo" (G2961) yang memiliki ide bahwa Kristus "memiliki kekuasaan atas" atau "memerintah atas" seluruh umat manusia -- baik yang belum diselamatkan maupun yang sudah diselamatkan.

Kristus adalah "RAJA DARI SEGALA RAJA DAN TUAN DARI SEGALA TUAN" [katakurieuo:G2634] seperti yang kita baca dalam kitab Wahyu 17:14:

"Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja [katakurieuo]. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."

Dan Wahyu 19:16 menambahkan demikian:

"Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."

Yesus seringkali menyebut diri-Nya dengan ungkapan "Anak Manusia" karena sebagai "Adam yang akhir" Ia mewakili umat manusia yang Ia datang untuk Ia selamatkan, dan Ia telah menderita penderitaan "rohani" yang setara dengan kutukan yang kekal (yang dimulai pada hari Kamis malam di Taman Eden). Dalam kitab 1 Korintus 15:45-47 kita membaca demikian:

"Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir [yaitu Kristus] menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah [yaitu Adam sebagai gambaran dari umat manusia]; kemudian barulah datang yang rohaniah [yaitu Kristus]. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua [yaitu Kristus] berasal dari sorga."

Karena "upah dosa ialah maut", yaitu kutukan yang kekal (Roma 6:23), maka Tuhan Yesus harus mati di dalam keberadaan jiwanya tetapi Ia dibangkitkan kembali dari kematian. Itulah sebabnya mengapa kitab Roma 14:9 berkata bahwa Kristus "hidup kembali" (anazao:G326). Dan peristiwa ini telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya dalam kitab Perjanjian Lama di kitab Mazmur 16:10-11 yang kita baca demikian:

"sebab Engkau [yaitu Allah Bapa] tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati [yaitu maut yang kekal], dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan [yaitu maut yang kekal]. Engkau memberitahukan kepadaku Jalan Kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa."

Jun 15, 2009

Nyanyian Baru

"Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN." (Mazmur 40:3) Nyanyian baru yang dimaksud disini ada hubungannya dengan pemberitaan Injil yang sejati, dan nyanyian ini tidak dapat dipelajari oleh orang-orang yang belum diselamatkan (Wahyu 14:3).

Di dalam Alkitab ungkapan "menyanyi" secara rohani sangat berhubungan dengan "bernubuat" (yaitu untuk menyatakan Firman Tuhan atau Hukum Tuhan) yang secara khusus dinyatakan untuk memegahkan dan mengagungkan pekerjaan Tuhan (Injil Anugrah). Salah satu ayat kuncinya ada dalam kitab Mazmur 101:1 dimana kita membaca demikian: "Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan Hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN." Raja Daud yang berada dibawah inspirasi dari Allah Roh Kudus juga menyatakan dalam Mazmur 40:3-4 demikian: "Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.

Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN. Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN [yaitu kepada Firman Tuhan], yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!" Ini berarti Tuhan menempatkan nyanyian baru ini di dalam mulut semua umat Kristen yang sejati, dan nyanyian ini disebut karena nyanyian ini selalu baru setiap hari.

Kita menemukan referensi lainnya tentang bernyanyi dalam Mazmur 96:1-7, 11-13 (yang mengutip dari 1 Tawarikh 16:23), dalam ayat itu kita membaca demikian: "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib [yaitu keajaiban kelahiran kembali atau dunamis] di antara segala suku bangsa.

Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit. Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya. Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah Kemuliaan dan Kekuatan! ..........

Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan Keadilan, dan bangsa-bangsa dengan Kesetiaan-Nya." Nyanyian ini juga berhubungan erat dengan kitab Wahyu 15:3 yang menjelaskan puji-pujian untuk pekerjaan Tuhan, dalam ayat itu kita baca: "Dan mereka [yaitu orang-orang percaya] menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!" 

Dan Wahyu 5:9 menambahkan demikian: "Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau [yaitu Kristus] layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa." 

Pada hari sekarang ini ketika kita sudah berada sangat dekat dengan Hari Penghakiman, meterai-meterai dari kitab itu telah dibuka (Daniel 12:9). Sehingga pada hari sekarang ini kita bisa mendapatkan begitu banyak informasi baru dari Alkitab yang merupakan satu-satunya Kebenaran. Kunci dari semua itu adalah Tunas Daud, Singa dari Yehuda, yaitu Tuhan Yesus Kristus seperti yang Ia katakan dalam kitab Yohanes 5:39 demikian: "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku" 

Dan kitab Lukas 24:44-45 mencatat demikian: "..... yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci." Kristus adalah "rahasia" Allah yang tidak dapat dimengerti oleh setiap orang, kitab Kolose 2:2 menjelaskan demikian: "supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan." 

Ungkapan "rahasia" berarti hal itu disembunyikan di dalam Kitab Suci, dan Kristus atau Anak Domba itu adalah "rahasia yang agung dari ibadah kita", seperti yang dinyatakan dalam 1 Timotius 3:16 demikian: "Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat [aggelos -- messenger, yaitu pembawa berita] ...." 

Disisi yang lain dalam kitab Lukas 8:10 dan banyak ayat-ayat yang mirip Tuhan menjelaskan demikian: "Lalu Ia menjawab: "Kepadamu [yaitu kepada murid-murid] diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam PERUMPAMAAN, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti." Dan Matius 13:13-15 menekankan yang hal yang sama demikian: "Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam PERUMPAMAAN kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap."

Orang-orang yang percaya hidup dibawah "hukum kasih karunia" bukan dibawah "hukum Taurat" (Galatia 3:10-11), karena sesungguhnya hukum-hukum Allah diberikan bukan untuk menyelamatkan tetapi justru untuk memberitahukan manusia bahwa pelanggaran mereka banyak, bahkan sangat-sangat banyak, baik dosa di dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Jadi dengan sangat gawat kita semua membutuhkan Seorang Juruselamat untuk menebus upah dosa-dosa kita. Untuk melihat segi rohaninya, marilah kita memeriksa beberapa bagian dari sepuluh perintah yang kita baca dalam kitab Keluaran 20:12-16: 

"Hormatilah ayahmu [rohani yaitu Bapa surgawi] dan ibumu [rohani yaitu para mempelai Kristus], supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu [yaitu Kerajaan Allah]. Matius 12:50 menyatakan demikian: "Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Jangan membunuh [rohani].Kitab 1 Yohanes 3:15 menyatakan demikian: "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya."

Jangan berzinah [rohani].Yehezkiel 23:37 menyatakan demikian: "Sebab mereka berzinah, tangan mereka berlumuran darah dan mereka berzinah dengan menyembah berhala-berhalanya ...." Hosea 9:1 menyatakan demikian: "Janganlah bersukacita, hai Israel! Janganlah bersorak-sorak seperti bangsa-bangsa! Sebab engkau telah berzinah dengan meninggalkan Allahmu, engkau telah mencintai upah sundal di segala tempat pengirikan gandum [= bahan untuk membuat roti]."

Jangan mencuri [yaitu mencuri dari Allah dengan tidak turut mengumpulkan jiwa-jiwa masuk ke dalam kerajaan Allah]. Efesus 4:28 menyatakan demikian: "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri [yaitu dengan kehendaknya], supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan."

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang [terhadap] sesamamu [yaitu jangan menyebarkan injil-injil palsu]." Mazmur 119:29, 163 menyatakan demikian: "Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu

Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi Taurat-Mu kucintai." Dan akhirnya kitab Roma 13:9-10 menyimpulkan sepuluh perintah demikian: "Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat [=hukum Tuhan]."

Sekarang bagaimana caranya kita mengasihi sesama kita manusia "seperti kita mengasihi diri sendiri" ? Jawabannya tidak terlalu sulit, kita harus menginginkan yang terbaik untuk sesama kita manusia, dan hal yang paling baik yang dapat terjadi kepada mereka adalah bilamana mungkin mereka juga boleh diselamatkan, sehingga mereka bebas dari hukuman kekal dan mendapatkan hadiah hidup kekal.

Inilah kasih yang seharusnya terlihat dalam kehidupan setiap orang-orang yang percaya. Bila kita tidak mau dihukum maka kita juga harus memberitahukan orang-orang bahwa ada Jalan keluar dari masalah dosa. 

Dengan demikian cukup jelaslah bahwa "nyanyian baru" yang dinyanyikan oleh orang-orang percaya menekankan peran dari kepatuhan -- yaitu inti dari kasih -- yang terbentuk dari keinginan anak-anak Tuhan untuk mematuhi perintah-perintah Tuhan. Dalam kitab Yohanes 14:15 Tuhan berkata demikian: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."


Biarlah Allah memberikan kepada kita belas kasihan-Nya untuk terus bersyukur kepada-Nya dan mengingat berkat-Nya yang terbesar, yaitu oleh kasih karunia-Nya yang agung kita telah dibebaskan dari hukuman kutukan yang kekal. Biarlah Allah menguatkan hati kita untuk terus hidup bagi kemuliaan-Nya.

Jun 12, 2009

Kegenapan kasih

"Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!" (Roma 13:10-12)

Kita membaca penyataan yang sangat menarik dari ayat ini "bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur". Ayat itu cocok dengan perumpamaan tentang ke-sepuluh gadis yang tertidur, tetapi kemudian bangun karena mempelai laki-laki (yaitu Kristus) datang kembali untuk yang kedua kalinya (lihat Matius 25). Dan kalimat "keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya" berarti keselamatan tersebut akan digenapi pada saat pengangkatan (rapture). Kemudian Kristus akan memberikan kepada kita semua tubuh rohani yang baru yang sudah dimuliakan dan tidak dapat binasa (1 Korintus 15:48-55).

Jadi ayat ini sedang berbicara tentang saat sewaktu pengangkatan di akhir zaman telah sangat dekat, itulah sebabnya dikatakan "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang". Hari yang dimaksud disini berhubungan dengan Hari Penghakiman. Ini secara serempak merupakan hari kemuliaan Allah sewaktu Dia mengangkat umat pilihan dan menggenapi keselamatan mereka. Oleh karena itu, Allah memperingatkan kita untuk "menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan" dan "mengenakan perlengkapan senjata terang". Firman Allah adalah "pedang" bermata dua yang sangat tajam yang harus kita gunakan untuk mengalahkan tipu muslihat Iblis (Efesus 6:13-17, Ibrani 4:12, Wahyu 1:16, Wahyu 2:12).

Dalam kitab Efesus 6:3-17 kita membaca demikian:

"Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu Firman Allah"

Dengan kata lain, Allah memanggil kita untuk memeriksa diri kita sendiri. Apakah yang benar-benar menarik perhatian kita? Apakah kita tertarik di dalam perbuatan-perbuatan kegelapan dari dunia ini sehingga kita harus bersembunyi dari Allah, atau apakah kita tertarik di dalam Yesus Kristus sebagai terang Injil? Telah tiba saatnya untuk melihat pada diri kita sendiri dengan sangat jujur, kita perlu untuk memeriksa seberapa banyak kita telah membuat persediaan bagi pengejaran hasrat kita sendiri daripada untuk mencari kehendak-kehendak Allah.

Lalu bagaimanakah "kasih" itu bisa menjadi kegenapan dari hukum Taurat (yaitu hukum Allah)? Sedangkan tidak ada seorangpun kecuali Tuhan Yesus yang dapat memenuhi semua persyaratan dari Hukum Allah (seluruh Alkitab), seperti yang kita baca dalam Yakobus 2:10 demikian:

"Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya."

Dan kitab Roma 2:21-22 menjelaskan demikian:

"Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri [rohani]? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah [rohani]? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?"

Kita harus mengerti bahwa hanya ada Satu Orang Manusia yang dapat memenuhi seluruh syarat untuk menggenapi Hukum Allah, karena Ia sempurna dan sama sekali tidak pernah berbuat dosa, baik dosa di dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Dalam kitab Matius 5:17 Tuhan Yesus berkata demikian:

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

Dan kitab Lukas 24:44 menambahkan demikian:

"Ia [Kristus] berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."

Kemudian dalam kitab Markus 12:33 kita menemukan seorang Farisi menyatakan pernyataan yang sangat menarik ini:

"Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."

Bagaimanapun juga semua kurban-kurban yang diperintahkan Tuhan untuk dijalankan selama masa Perjanjian Lama secara sederhana melayani sebagai "tanda" atau bayangan atau gambaran atau perumpamaan dari fakta rohani yang sebenarnya yang akan muncul ke permukaan. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis bernubuat tentang Yesus dalam kitab Yohanes 1:29 demikian:

"Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia"

Yesus adalah Anak Domba Allah yang telah disembelih "sejak sebelum dunia dijadikan" untuk menebus dosa-dosa umat-Nya (Wahyu 13:8, Wahyu 17:8), dengan kata lain seluruh karya keselamatan untuk orang-orang yang percaya telah diselesaikan jauh sebelum orang-orang tersebut dilahirkan. Alasan utama untuk hal ini adalah supaya kita memberikan segala kemegahan dan kemuliaan atas keselamatan hanya kepada Tuhan dan bukan kepada diri kita sendiri atau orang yang lain.

Dalam kitab Mazmur 40:6-8 yang merupakan Mazmur Mesianic (yaitu Mazmur yang berbicara tentang Kristus) kita membaca demikian:

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."

Dan kitab Ibrani 10:8-10 yang mengutip ayat ini menjelaskan demikian:

"Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--. Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua."

Sekarang kita mengerti mengapa Yesus berkata dalam kitab Matius 9:13 demikian:

"Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Kasih adalah "buah" dari pekerjaan Allah Roh Kudus yang akan bermanifestasi di dalam kehidupan anak-anak Tuhan seperti yang dinyatakan dalam 1 Korintus 13:4-8a demikian:

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi [=menanggung] segala sesuatu, percaya segala sesuatu [yang ada tertulis dalam Alkitab], mengharapkan segala sesuatu [yang ada tertulis di dalam Alkitab], sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan "

Biarlah Allah berkenan untuk membuat kita mampu mengasihi sesama kita manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri, setelah pertama-tama kita memeriksa hati kita di dalam cermin Firman Tuhan untuk melihat bahwa sesungguhnya kita adalah para penerima yang tidak pantas dari anugrah kasih yang kekal, seperti yang ditunjukkan dalam Injil Anak-Nya, Yesus Kristus.

Kebangkitan orang mati

"Pada waktu itu [yaitu pada akhir zaman] juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu. Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal." (Daniel 12:1-2)

Pada hari yang terakhir ketika pengangkatan (rapture) terjadi, orang-orang akan dibangkitkan, sebagian akan bangun untuk mendapatkan hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan yang kekal. Bagi orang-orang percaya yang sejati kemuliaan mereka adalah pada hari pengangkatan, sewaktu kita diangkat ke atas awan-awan untuk beradabersama Kristus selama-lamanya. 

Orang-orang yang percaya akan dibangkitkan sebagai suatu tubuh rohani yang baru yang sudah dipermuliakan dan tidak dapat binasa. Secara pasti semua orang-orang percaya yang pernah hidup akan dibangkitkan kepada hidup kekal di dalam langit yang baru dan bumi yang baru.
Disisi yang lain, tentang kebangkitan orang-orang yang tidak benar, kitab Kisah Para Rasul, Yohanes 5 dan Daniel 12 mengatakan bahwa orang yang diselamatkan akan dibangkitkan pada kehidupan, dan orang-orang yang tidak diselamatkan akan dibangkitkan pada penghakiman. Nah penghakiman apakah itu?

Mikhael adalah Kristus itu sendiri, Ia adalah sang Pemimpin besar itu, Ia bukan Penghulu malaikat, tetapi Ia adalah Pemimpin para pembawa pesan. Dan ungkapan "bangsamu yang akan terluput" menunjuk kepada umat pilihan atau "umat Israel rohani milik Allah" (Roma 2:28-29, Galatia 3:29). Orang-orang yang bangun untuk mendapat hidup yang kekal adalah orang-orang percaya sejati. 

Dan orang-orang yang dibangkitkan untuk mengalami kehinaan yang kekal, bukan berarti bahwa mereka akan dibangkitkan untuk mendapatkan hidup. Kehinaan (dipermalukan) merupakan bagian yang besar dari peristiwa penghakiman yang akan terjadi atas orang-orang yang tidak diselamatkan.
Kitab Roma 10:11 menyatakan demikian:
"Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan [yaitu kehinaan yang kekal]."
Mereka akan dihina di hadapan Allah dan para penghuni surgawi. Kubur-kubur mereka akan dibuka dan tubuh-tubuh mereka, atau apapun yang tersisa dari jasad mereka, akan dilemparkan ke luar dan diserakkan di bumi. Itulah kebangkitan yang dimaksud ketika berbicara mengenai kebangkitan dari orang-orang yang tidak benar. 
Mereka sama sekali tidak akan dibangkitkan kepada kehidupan. Hal itu tidak diajarkan dimanapun di dalam Alkitab, dan sebenarnya pandangan tradisional tentang siksaan yang kekal juga tidak kita temukan di dalam Alkitab, karena yang Allah maksudkan adalah "kehinaan yang
kekal" bukan siksaan yang kekal.

Seperti misalnya di dalam kitab Yesaya pasal 66, orang-orang percaya yang sejati akan memandangi "bangkai" dari orang-orang yang tidak diselamatkan. Dan ungkapan "mereka akan keluar" sedang berbicara tentang orang-orang percaya sejati. Dalam kitab Yesaya 66:24 kita membaca demikian:
"Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan pinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup."
Itu adalah gaya bahasa tentang kehinaan (dipermalukan), dan merupakan bagian dari proses penghakiman Allah yang telah Ia siapkan bagi orang-orang yang tidak diselamatkan. Ungkapan "ulat" disini menggambarkan "kehinaan yang kekal" (dipermalukan). Dan ungkapan "api yang kekal" digambarkan sebagai api yang membakar kota Sodom dan Gomora pada zaman dahulu. Kitab Yudas 1:7 menekankan demikian:
"sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang."Karena pada akhirnya Alkitab mengajarkan bahwa kematian dan neraka, atau kematian dan kubur, akan dicampakkan ke dalam lautan api. Dalam 1 Korintus 15:26 kita membaca demikian:"Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut."
Kita telah mempelajari bahwa lautan api disebut sebagai "kematian kedua" dan hal itu menekankan bahwa orang yang tidak diselamatkan tidak akan pernah, tidak akan pernah lagi menjadi sadar kembali atau hidup kembali. Mereka akan musnah untuk selama-lamanya. Kata yang paling sering dihubungkan dengan penghakiman Allah atas dosa ialah "neraka". 

Apa yang dapat kita pelajari dari Alkitab tentang kata ini? Dalam Perjanjian Lama, kata ini dapat ditemukan lebih dari 30 kali dan selalu dalam kata Ibrani "sheol". Kata ini diterjemahkan lebih dari 30 kali sebagai "kubur" dan tiga kali sebagai kata "liang kubur".
Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani "hades" biasanya diterjemahkan sebagai "neraka", tetapi juga dapat diterjemahkan sebagai "kubur". Lagi pula, beberapa kali, kata "neraka" berasal dari kata Yunani "gehenna" dan sekali dari kata Yunani "tartaroo".

Kata Ibrani "sheol" dan kata Yunani "hades" dapat diterjemahkan sebagai "neraka" atau sebagai "kubur", tergantung pada konteksnya. Pada saat-saat tertentu konteknya akan mengizinkan terjemahan yang manapun, yang menunjukkan hubungan yang erat dari kata "kubur" dan "neraka". Jadi kedua kata itu secara erat berhubungan dengan kematian.

Hal ini dapat dipahami ketika kita membaca, "Sebab upah dosa ialah maut" (Roma 6:23), dan "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati..." (Yehezkiel 18:20).
Hal itu sejalan dengan konsep yang diberikan dalam 1 Korintus 15:26 bahwa "Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut". Hal itu juga membuat kitab Wahyu 21:1 dapat dipahami, dan disitu kita membaca demikian:
"Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi."
Kata "laut" di dalam Alkitab sering digunakan sebagai sebuah gambaran atau lambang dari "neraka". Misalnya, 2000 babi, yang dirasuki oleh roh-roh jahat, mati dalam danau (Markus 5:13 dalam bahasa aslinya adalah laut). Ketika rencana penghakiman Allah telah selesai, tidak akan ada lagi kematian, tidak ada lagi neraka. Kematian dan neraka tidak akan ada lagi.

Demikianlah kita harus memahami bahwa neraka itu sama dengan kubur --, dan dalam hal itu kubur sepenuhnya disamakan dengan kematian. Kenyataan ini membawa kita kepada pertanyaan berikutnya: Apakah lautan api itu? Kita menemukan rujukan kepada lautan api dalam ayat-ayat berikut ini:
Wahyu 19:20: "Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh elerang."
Wahyu 21:8: "Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."
Wahyu 20:14,15: "Lalu maut [yaitu orang-orang yang sudah mati dan belum diselamatkan] dan kerajaan maut [yaitu orang-orang hidup yang belum diselamatkan] itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu."

Yang penting kitab Wahyu 20:14 menyatakan bahwa kematian dan neraka (atau kematian dan kubur) akan dicampakkan ke dalam lautan api. Ingatlah kita telah belajar dari 1 Korintus 15:26 bahwa "Musuh yang terakhir yang dibinasakan ialah maut". Namun di dalam ayat-ayat ini kita belajar bahwa maut kemudian akan dicampakkan ke dalam lautan api, yang selanjutnya disebut sebagai "kematian kedua" (Wahyu 20:14). Lagi pula, kita telah mempelajari dari Wahyu 21:1 bahwa ketika langit yang baru dan bumi yang baru diciptakan, lautan (yaitu neraka dan maut) tidak akan ada lagi. 

Demikianlah, lautan api sudah berakhir untuk selama-lamanya. Perhatikanlah dengan seksama bagaimana ayat-ayat berikut ini telah ditulis:
Mazmur 31:17: "TUHAN, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu; biarlah orang-orang fasik mendapat malu dan turun ke dunia orang mati dan bungkam [yaitu kematian kedua]."
Yesaya 38:18: "Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada-Mu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaan-Mu."
Dan kitab Yohanes 3:16 menjelaskan demikian:
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa [yaitu tidak mengalami kematian kedua], melainkan beroleh hidup yang kekal."
Sedangkan untuk dibakar dengan api berkaitan dengan kitab 2 Petrus 3:10, dimana kita membaca:
"Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap."
Pembakaran dengan api yang yang menunjuk kepada kematian kedua dan berkaitan dengan lautan api. Itu adalah akhiran yang menjamin bahwa tidak pernah akan ada lagi kemungkinan apapun untuk hidup. Hal itu berkaitan dengan kata Yunani "gehenna" yang diterjemahkan sebagai "neraka". Misalnya kita membaca dalam Markus 9:43-44:
"Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka [gehenna], ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]"

Api yang tidak pernah padam adalah lautan api. Rujukan kepada api dalam Alkitab berhubungan dengan kitab Ibrani 12:9, di mana Allah disebut sebagai "api yang menghanguskan". Ketika seseorang terbakar oleh api yang berasal dari Allah ini, orang itu tidak pernah dapat hidup kembali.

Kemudian, kita akan mempelajari bahwa dalam ungkapan "ulatnya tidak akan mati", kata "ulat" disamakan dengan rasa malu. Bahwa kematiannya bukan sekedar berarti bahwa orang yang tidak diselamatkan itu dihukum dengan rasa malu tetapi juga tidak pernah mungkin rasa malu itu dihilangkan. Demikian juga dengan ungkapan "apinya tidak akan padam", itu berarti bahwa ia tidak akan pernah hidup kembali.

Kita harus ingat bahwa di dalam Adam, umat manusia diciptakan untuk hidup selama-lamanya, walaupun dengan syarat-syarat tertentu. Akan tetapi, karena dosa, umat manusia menjadi tunduk pada kematian. Tetapi karena ia diciptakan dalam citra Allah untuk hidup selamanya, apakah mungkin bahwa pada suatu saat kelak di masa depan, setelah ia sendiri membayar atas upah dosa-dosanya, ia dapat hidup kembali? Jawabannya ialah tidak 

Untuk menekankan fakta ini, Allah berbicara tentang sebuah lautan api, api yang tidak dapat dipadamkan, penghukuman kekal, tentang ulat yang tidak akan mati, dan asap dari siksaan mereka membumbung ke atas untuk selamanya. Semua ungkapan ini berhubungan dengan kematian kedua, lautan api. Ungkapan api, penghukuman, asap, dan ulat yang kekal, menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada kehidupan lagi.

Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa hal itu merupakan jaminan mutlak bahwa tidak akan pernah ada lagi kehidupan bagi mereka yang belum diselamatkan. Faktanya ialah bahwa mereka seutuhnya terbakar sehingga tidak ada kemungkinan mereka bisa hidup kembali. Konsep penghentian dari eksistensi orang-orang yang tidak diselamatkan ditekankan dalam banyak ayat Alkitab, seperti misalnya dalam bagian-bagian berikut ini.

Nahum 1:6,8: "Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh di hadapan-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap."

Maleakhi 4:1: "Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka."
Yesaya 10:23: "Sungguh, kebinasaan yang sudah pasti akan dilaksanakan di atas seluruh bumi oleh Tuhan, TUHAN semesta alam."
Lagi pula, ungkapan "binasa" digunakan kira-kira 100 kali dalam Perjanjian Lama dan kira-kira 30 kali dalam Perjanjian Baru. Dan dalam setiap ayat, hal itu menekankan suatu penghentian dari hidup. Misalnya kitab Ayub 4:20 menyatakan demikian:
"Di antara pagi dan petang mereka dihancurkan, dan tanpa dihiraukan mereka binasa untuk selama-lamanya."
Selanjutnya bentuk-bentuk dari kata "hancur" dan "penghancuran" digunakan lebih dari 500 kali dalam Alkitab. Di pihak lain, kata "siksaan" sama sekali tidak ditemukan dalam Perjanjian Lama, dan hanya 22 kali dalam Perjanjian Baru. Dan kita akan menemukan bahwa dalam konteks dimana kata "siksaan" ini digunakan berada dalam rangka ayat-ayat berikut ini:
1.Siksaan dari orang yang belum diselamatkan sementara mereka mendengar Injil yang sejati (Wahyu 11:10).
2.Siksaan sebagai dampak dari penderitaan suatu penyakit (Matius 8:6; Matius 4:24).
3.Siksaan akibat disengat kalajengking (Wahyu 9:5).
4.Kata Yunani yang biasanya diterjemahkan sebagai "siksaan" juga diterjemahkan sebagai "mengalami kesulitan", ketika Alkitab berbicara tentang jiwa Lot orang benar yang "mengalami kesulitan" oleh karena dosa-dosa orang Sodom (2 Petrus 2:8).
5.Kata Yunani yang diterjemahkan "siksaan" juga diterjemahkan sebagai "kesedihan" (Lukas 2:48; Kisah Para Rasul 20:38).
6. Siksaan dengan api (Wahyu 14:10; Lukas 16:24).

Kita telah mempelajari bahwa akhir yang penghabisan dari proses penghakiman Allah adalah kematian. Konsep ini didukung sepenuhnya oleh Alkitab yang banyak menggunakan kata-kata seperti "binasa", "hancur", dan "penghancuran". Lagipula dapat kita perhatikan bahwa penggunaan kata seperti "kematian", "mati", dan "maut" dapat ditemukan lebih dari 1.300 kali di dalam Alkitab. Kalau begitu tidaklah mengherankan Alkitab menyatakan bahwa musuh terakhir yang harus dihancurkan ialah maut (1 Korintus 15:26).

" every knee should bow, of things in heaven, and things in earth, and things under the earth; And that every tongue should confess that Jesus Christ is Lord, to the glory of God the Father." (Philippians 2:10-11)

Lukisan Yesus

Ada banyak orang yang kurang peka kepada fakta bahwa Yesus adalah Allah. Yesus tidak pernah berhenti menjadi Allah (Yohanes 10:30, Yohanes 14:9-10, Ibrani 1:8, Kolose 2:9, Filipi 2:6, 2 Petrus 1:1). Dan hukum Tuhan menyatakan bahwa kita jangan membuat patung tiruan dari Tuhan. Dalam kitab Keluaran 20:3-6 Tuhan berfirman demikian:
"Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku "
Sebuah lukisan adalah semacam gambar dua-dimensi, dan film juga adalah semacam gambar. Jika ada seseorang yang berperan sebagai Kristus, orang itu sedang berusaha untuk membuat semacam tiruan yang menyerupai Tuhan Yesus. Manusia ingin untuk mempunyai semacam ilah dimana mereka dapat berhubungan secara langsung. Sebagai contoh, dalam kebudayaan penyembah berhala, mereka mengambil sepotong kayu dan memahatnya menjadi bentuk semacam mahluk, melapisinya dengan emas atau perak, dan
kemudian mereka berkata, "Inilah Allahku!".

Salah satu alasan mereka melakukan hal ini adalah karena mereka menginginkan allah yang dapat terlihat dan dapat dipahami dengan mudah. Sekarang ada banyak orang yang mengaku sebagai orang yang percaya namun mereka membuat lukisan-lukisan dan menyebutnya sebagai lukisan Yesus, meskipun mereka sebenarnya tidak mempunyai ide sedikitpun mengenai rupa Yesus yang sesungguhnya ketika Dia berada di bumi. Lukisan-lukisan itu adalah bukan rupa Kristus yang sesungguhnya, jadi mereka sedang berbohong (band. Yesaya 53).
Tuhan Yesus mengambil rupa seorang manusia selama periode waktu tertentu, tetapi sekarang Dia sudah berada di Surga dalam keagungan-Nya yang kekal. Dia hadir di segala tempat, Dia tidak terbatas. Dialah yang menciptakan alam semesta ini. Bagaimana mungkin kita bisa melukiskan Dia?

Oleh karena itu janganlah kita berurusan dengan film, lukisan, atau gambar apapun yang dianggap sebagai Tuhan Yesus. Saya sudah pernah merobek gambar-gambar yang ada di dalam Alkitab tidak ada sesuatu yang aneh mengenai hal itu. 

Adalah sangat penting untuk diperhatikan bahwa Tuhan tidak menaruh gambar apapun di dalam Firman-Nya, Alkitab. Bila Alkitab anda memiliki gambar-gambar itu adalah gambar-gambar yang ditambahkan disitu oleh manusia. Tetapi Tuhan mengunakan kata-kata sebagai firman-Nya, Dia memberikan kepada kita tulisan untuk dibaca. Tuhan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Dia-lah yang menciptakan bunga mawar yang indah, ikan-ikan, burung-burung, anak bayi, dll. Jadi pastilah Tuhan sanggup mengisi Alkitab dengan gambar-gambar artistik yang indah bila Dia menginginkannya. Tetapi Tuhan tidak melakukannya, alasannya adalah karena Dia telah memberikan Firman-Nya dalam bentuk tulisan kepada kita supaya kita baca dan pelajari dengan sangat teliti dan berhati-hati, membandingkan ayat yang satu dengan ayat yang lain di dalam Alkitab.

Dalam kitab Ulangan 4:15-20 Tuhan memperingatkan kepada kita demikian:
"Hati-hatilah sekali sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api-- supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan; yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang
terbang di udara, atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi; dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit [yaitu orang-orang yang mengaku sebagai percaya], engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka, sedangkan TUHAN telah mengambil kamu dan membawa kamu keluar dari dapur peleburan besi, dari Mesir, untuk menjadi umat milik-Nya sendiri, seperti yang terjadi sekarang ini."



Talenta

"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri [yaitu ke negeri yang jauh - KJV], yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat." (Matius 25:14-15)
Ungkapan "talenta" disini menunjuk kepada "Injil", dan orang yang memberikan Injil adalah Tuhan Yesus Kristus. Sekarang Ia telah pergi ke "negeri yang jauh" yaitu Surga, tetapi Kristus akan datang kembali untuk yang kedua kalinya di akhir zaman. Dan pertanyaannya adalah "Apakah yang sudah kita lakukan dengan Injil?"
Hamba dengan lima talenta menggunakannya untuk beroleh laba lima talenta (Matius 25:16). Dengan kata lain, dia telah menjadi diselamatkan, lalu ia menggunakan Injil supaya orang lain mungkin dapat diselamatkan juga sehingga Injil tersembunyi di dalam hati orang-orang tersebut. Jadi, ada laba atau keuntungan dari Injil. Dan inilah yang diharapkan terjadi dari semua orang yang menjadi orang-orang yang percaya.

Disisi yang lain, orang yang hanya menerima satu talenta, menyembunyikannya di dalam tanah atau "di dalam gua" (Matius 25:18, Wahyu 6:15). Ini adalah seperti seseorang yang mendengarkan Injil tetapi tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, ia masih berada dalam keadaan mati rohani. Dia tidak dapat menjadi saksi yang baik untuk siapapun, jadi dia masih belum diselamatkan.
Ia adalah sama seperti lima gadis bodoh dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis di dalam Matius 25, atau seperti seorang yang mendirikan rumahnya di atas pasir, bukan di atas Batu, seperti yang Kristus katakan dalam kitab Matius 7:26 demikian:
"Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir [yaitu Injil yang sejati], lalu angin [yaitu Roh Kudus atau Roh
Kristus atau Roh Tuhan] melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Sesungguhnya Injil dapat dikabarkan melalui radio, internet, buku-buku, selebaran-selebaran, misonaris-misionaris, dll. Pertanyaannya apakah yang akan kita lakukan dengan Injil? Dan yang lebih penting lagi, apakah kita sudah berlaku setia kepada Alkitab
atau kita hanya setia kepada kelompok kita sendiri. Bila "akarnya" tidak baik maka seluruh pohon tidak akan baik.
Dan Allah sudah memberikan kepada kita perumpamaan di Matius pasal 25 ini untuk menganalisa pertanyaan tersebut. Dan orang yang menyembunyikan Injil itu masih berada di bawah murka Allah karena ia tidak mengasihi sesamanya manusia dan akan berakhir di dalam kematian kedua, kutukan yang kekal.

Kalau kita tidak percaya kepada Injil Alkitab, dan tidak percaya kepada Allah sebagai satu-satunya yang dapat membuat kita menerima Injil, maka kita harus bertanggung-jawab atas dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita. Dan hukuman dari satu buah dosa yang paling kecil saja adalah maut, dan maut yang dimaksud disini adalah
kutukan yang kekal (Roma 6:23). Tetapi ingatlah kecuali Allah berkenan untuk membuka mata rohani kita, maka kita akan tetap berada di bawah murka Allah.