Sejarah Dunia Kuno

2018 The Year of Angel Gabriel

Jul 7, 2018

Gnostisisme

Gnostisisme merujuk pada bermacam-macam gerakan keagamaan yang beraliran sinkretisme pada zaman dahulu kala. Gerakan ini mencampurkan berbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna. Secara umum dapat dikatakan Gnostisisme adalah agama dualistik, yang dipengaruhi dan memengaruhi filosofi Yunani, Yudaisme, dan Kekristenan.

Istilah gnōsis merujuk pada suatu pengetahuan esoteris yang telah dipaparkan. Dari sana manusia melalui unsur-unsur rohaninya diingatkan kembali akan asal-muasal mereka dari Tuhan yang superior. Yesus Kristus dipandang oleh sebagian sekte Gnostis sebagai perwujudan dari makhluk ilahi yang menjadi manusia untuk membawa gnōsis ke bumi.

Pada mulanya Gnostisisme dianggap sebagai cabang aliran sesat dari Kekristenan, namun sekte Gnostis telah ada sejak sebelum kelahiran Yesus[2][3]. Keberadaan kaum Gnostik sejak Abad Pertengahan semakin berkurang dikarenakan pengikutnya memeluk Islam atau akibat dari Perang Salib Albigensian (1209–1229). Gagasan Gnostis kembali muncul seiring dengan bertumbuhnya gerakan mistis esoteris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 di Eropa dan Amerika Utara.

Surat-surat Paulus

Surat-surat Paulus adalah sebutan untuk kumpulan 14 kitab dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen yang secara tradisional diyakini ditulis oleh Rasul Paulus, meskipun ada keraguan bahwa Surat Ibrani, yang tidak memuat nama penulis, termasuk kumpulan ini.

Terdapat konsensus yang hampir universal dalam studi Perjanjian Baru modern di mana kepengarangan Paulus tidak terbantahkan pada kitab-kitab berikut:

Surat Roma
Surat 1 Korintus
Surat 2 Korintus
Surat Galatia
Surat Filipi
Surat 1 Tesalonika
Surat Filemon

Sejumlah surat lain yang memuat nama Paulus sebagai penulisnya masih diperdebatkan pada zaman modern ini:

Surat Efesus
Surat Kolose
Surat 2 Tesalonika
Surat 1 Timotius
Surat 2 Timotius
Surat Titus.

Sejumlah sarjana bahkan memberi label Surat Efesus, dan tiga surat penggembalaan (1 dan 2 Timotius, serta Titus) sebagai pseudepigrafa. 

Ada pula dua contoh surat pseudonymous (bukan ditulis oleh pengarang asli) yang memuat nama Paulus di luar Perjanjian Baru yaitu Surat Laodikea dan Surat 3 Korintus.

Surat Ibrani sebenarnya anonim, tidak memuat nama penulisnya, tetapi secara tradisional dianggap bagian tulisan Paulus. Bapa gereja Origenes dari Aleksandria menolak anggapan ini, melainkan menduga bahwa surat itu ditulis orang lain, meskipun isinya memuat ajaran asli Paulus. Kebanyakan sarjana modern menerima bahwa surat itu bukan ditulis oleh Paulus dan mengusulkan berbagai kemungkinan tokoh sebagai pengarangnya. 

Kriteria yang digunakan oleh para pakar
Para pakar menggunakan sejumlah metoda historiografi dan kritisisme tinggi untuk menentukan apakah suatu teks benar-benar dikarang oleh penulis sebagaimana yang dipercayai. Metoda utama untuk meneliti surat-surat Paulus adalah sebagai berikut:

Bukti internal
Ini terdiri dari: apa yang ditulis sendiri oleh penulis mengenai dirinya dalam surat tersebut, baik secara eksplisit sang pengarang mengidentifikasi diri sendiri  atau secara implisit memberikan detail otobiografi. Bukti ini penting meskipun ada permasalahannya. Misalnya, karena penulis Surat Ibrani tidak pernah menyebutkan namanya, para pakar mulai dari yang paling awal, Origenes dari Aleksandria pada abad ke-3 meragukan bahwa Paulus adalah penulisnya.

Nama         Pengirim

Surat Roma                 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan                                               dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 
Surat 1 Korintus           Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus                                            Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita 
Surat 2 Korintus          Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari                                    Timotius saudara kita 
Surat Galatia               Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh                                                seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang                                            telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan dari semua saudara                                    yang ada bersama-sama dengan aku 
Surat Efesus               Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah 
Surat Filipi                  Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus 
Surat Kolose               Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara                                     kita 
Surat 1 Tesalonika Dari Paulus, Silwanus dan Timotius 
Surat 2 Tesalonika Dari Paulus, Silwanus dan Timotius 
Surat 1 Timotius Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita,                                         dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita 
Surat 2 Timotius Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan                                      janji tentang hidup dalam Kristus Yesus 
Surat Titus               Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman                                        orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran                                                        seperti yang tampak dalam ibadah kita, dan berdasarkan pengharapan                                          akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah                                                      dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu yang                                            dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan                                              Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah,                                            Juruselamat kita. 
Surat Filemon         Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius                                            saudara kita 

Bukti eksternal
Ini meliputi rujukan, baik eksplisit maupun implisit, pada teks tersebut, khususnya pada waktu-waktu awal dari mereka yang memiliki akses pada sumber tepercaya yang sekarang hilang. Rujukan eksplisit dapat berupa penyebutan nama teks atau surat, atau bentuk yang dapat dikenali dari teks tersebut. Contohnya adalah daftar kitab-kitab Alkitab yang diterima, misalnya Fragmen Muratori, atau isi dari naskah kuno, misalnya Papirus 46. Sayangnya, saksi-saksi semacam ini seringkali rusak atau terlalu muda tarikhnya untuk membantu pemastian.

Rujukan implisit berupa kutipan surat-surat Paulus, khususnya secara tidak langsung atau tidak disebutkan sumbernya, maupun penyampaian ide atau frasa yang muncul pada tulisan-tulisan tersebut. Penggunaan rujukan semacam ini menandakan bahwa bahan yang dikutip sudah ada pada saat bukti eksternal itu dibuat. Contohnya, Surat kedua kepada jemaat Tesalonika disebutkan namanya oleh Irenaeus pada pertengahan abad ke-2, juga oleh Yustinus Martir dan Ignatius dari Antiokhia; sehingga tidak mungkin surat tersebut ditulis setelah zaman mereka. Di sisi lain, kurangnya saksi dari sumber kuno mengindikasikan tarikh pembuatan lebih muda, suatu argumen bisu. Namun, cara berpikir demikian juga berbahaya, karena ketidaklengkapan catatan sejarah: banyak teks kuno hilang, rusak atau sudah diubah.

Tempat dalam sejarah
Suatu naratif mengenai kehidupan dan pelayanan Paulus yang ditulis independen pada Kisah Para Rasul, digunakan untuk menentukan tarikh dan kepengarangan surat-surat Paulus dengan memastikan lokasi pembuatan dalam konteks kehidupannya. Misalnya, Paulus menyebutkan bahwa ia berada dalam penjara dalam Surat Filemon 1:7; berdasarkan pernyataan ini, J. A. T. Robinson berpendapat bahwa surat itu ditulis ketika Paulus dipenjarakan di Kaisarea, sementara W. M. Ramsay berpendapat bahwa Paulus saat itu dipenjarakan di Roma, sedangkan yang lain menempatkannya di Efesus. Satu kesulitan dengan posisi ini adalah keterbatasan data yang tersedia mengenai latar belakang sejarah Paulus, dan ini terutama berkenaan dengan narasi Kisah Para Rasul sebelum kematian Paulus. Diyakini bahwa kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh teman seperjalanan Paulus.

Bahasa dan gaya
Kosakata, struktur kalimat, pemakaian kiasan dan frasa-frasa umum, dan lain-lain, dianalisis konsistensinya dengan karya-karya pengarang lainnya yang sudah dapat dipastikan. Gaya yang mirip menandakan kepengarangan yang sama, sedangkan kosakata yang sangat berbeda mengindikasikan pengarang yang berbeda. Contohnya, E. J. Goodspeed berargumen bahwa kosakata Surat Efesus menunjukkan kaitan sastra dengan Surat Klemens yang Pertama, yang ditulis di akhir abad ke-1. Demikian pula E. Percy berargumen bahwa perkataan dan gaya bahasa dalam Surat Kolose lebih kuat kemiripannya dengan kepengarangan Paulus. Tentunya gaya bahasa dapat bervariasi karena alasan-alasan lain selain kepengarangan, misalnya topik surat, penerima, keadaan penulisan, atau sekadar kedewasaan dari pihak penulis.

Isi dan teologi
Mirip dengan bukti internal, konsistensi doktrin dan perkembangannya diteliti dibandingkan karya-karya pengarang yang sudah dapat dipastikan. Topik teologi seperti eschaton atau Hukum Musa dapat muncul pada karya-karya berbeda, tetapi dengan corak yang serupa. Suatu sudut pandang yang konsisten menandakan pengarang yang sama; pengajaran yang bertolak belakang atau tidak berkaitan mengindikasikan pengarang yang berbeda. Contohnya, W. Michaelis melihat kemiripan Kristologi antara surat-surat penggembalaan dan karya-karya Paulus yang tak terbantahkan, sehingga berargumen mendukung kepengarangan Paulus. 

Surat-surat yang tidak terbantahkan

Penamaan "undisputed" (tak terbantahkan) pada sejumlah surat menunjukkan konsensus para pakar secara tradisional mengakui bahwa Paulus adalah pengarang setiap surat tersebut.  Namun, masih ada juga yang memperdebatkan Surat Galatia. Lebih lagi, kesatuan surat-surat itu juga dipertanyakan oleh sejumlah pakar. Surat 1 dan 2 Korintus pernah dicurigai oleh beberapa pakar sebagai gabungan beberapa surat pribadi. Masih ada diskusi mengenai kemungkinan interpolasi penting. Namun, korupsi tekstual semacam itu sukar dilacak maupun dipastikan.

Surat Roma
Surat 1 Korintus
Surat 2 Korintus
Surat Galatia
Surat Filipi
Surat 1 Tesalonika
Surat Filemon

Ketujuh surat tersebut dikutip dan disinggung oleh sumber-sumber paling awal, dan dimasukkan dalam setiap kanon kuno, termasuk oleh Marsion (~140).  Tidak ada catatan keraguan para pakar mengenai kepengarangannya sampai abad ke-19, yaitu sekitar 1840, pakar Jerman scholar Ferdinand Christian Baur (Tübingen School) hanya menerima empat surat bermuatan nama Paulus sebagai surat asli yang dinamakannya Hauptebriefe (Surat Roma, Surat 1 & 2 Korintus, dan Surat Galatia). Hilgenfeld (1875) dan H. J. Holtzmann (1885) menerima tujuh surat terdaftar di atas, dengan menambahkan Surat Filemon, 1 Tesalonika, dan Filipi. Pada awal 1990-an pengaruh Tübingen School merosot dan hipotesis Baur banyak ditinggalkan. Sekarang hanya sedikit pakar yang menentang daftar tujuh surat ini, yang semuanya memuat topik, penekanan, kosakata dan gaya yang mirip. Juga tampak keseragaman doktrin mengenai Hukum Musa, Kristus, dan iman.

Surat Kolose
Meskipun Surat Kolose disebutkan oleh saksi-saksi yang sama dengan surat-surat tak terbantahkan, kepengarangan Paulus diperdebatkan oleh sejumlah pakar modern. Pertama kali diragukan oleh F. C. Baur, meskipun pakar lain yang meneliti berdasarkan analisis yang sama, misalnya H. J. Holtzmann, berpendapat bahwa teks Surat Paulus yang pendek ini memuat sejumlah interpolasi dari penyunting kemudian. Dasar keberatannya adalah surat ini bertujuan membantah ajaran Gnostisisme, suatu ajaran yang tidak meluas sebelum awal abad ke-2. Pendapat ini dipertanyakan dalam analisis Gnostisisme oleh R. Wilson, yang yang menyatakan bahwa anggapan paralelisme tidak mempunyai dukungan. Terjalin hubungan penting antara Surat Kolose dan Filemon, salah satu surat tak terbantahkan. Tercatat nama Arkhipus pada kedua surat (Filemon 1:2, Kolose 4:17), dan salam untuk kedua surat itu memuat nama-nama yang mirip (Filemon 1:23-24, Kolose 4:10-14). Namun meskipun hubungan ini dapat menjadi bukti pengarang yang sama, ada yang secara skeptis menuduh hal itu dihasilkan oleh seorang pemalsu yang ulung.

Surat Efesus
Pada awal Surat Efesus tertulis nama Paulus, yang identik dengan Surat 2 Korintus dan Surat Kolose. Tidak ada keraguan pada gereja awal bahwa Paulus menulis surat itu, karena dikutip secara otoritatif oleh para bapa gereja, termasuk Tertullian, Klemens dari Aleksandria, dan Irenaeus. Surat itu juga muncul pada Kanon Marcion (tahun 140) dan Fragmen Muratori (tahun 180).

Keotentikan surat ini pertama kali diperdebatkan oleh pakar Renaissance Belanda, Desiderius Erasmus, dan kemudian oleh sejumlah pakar modern.

Surat 2 Tesalonika
Surat ini termasuk ke dalam daftar Kanon Marsion dan Fragmen Muratori; disebut namanya oleh Irenaeus, dan dikutip oleh Ignatius, Yustinus, dan Polycarpus.[36] Pada zaman modern, keraguan atas kepengarangan Paulus diajukan oleh H. J. Holtzmann dan G. Hollmann (lihat di atas).

Sejarah kanon surat-surat Paulus

Tidak ada daftar yang terlestarikan dari Perjanjian Baru Kristen dari abad ke-1 sampai awal abad ke-2. Ignatius dari Antiokhia, yang menulis sekitar tahun 110, tampaknya mengutip dari Surat Roma, 1 Korintus, Efesus, Kolose dan 1 Tesalonika, mengindikasikan bahwa surat-surat itu ada pada zaman Ignatius menulis karya-karyanya. Ignatius tampaknya tidak mengutip dari Surat 2 Tesalonika. Di sisi lain, Polikarpus (69-156 M) tidak hanya mengutip dari Surat 2 Tesalonika, tetapi juga Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Kisah Para Rasul, Surat 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Ibrani, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 3 Yohanes. Pakar Bruce Metzger menyatakan "Dapat ditemukan pada karya Klemens work[(150–215 M)] kutipan dari semua kitab dalam Perjanjian Baru kecuali Surat Filemon, Surat Yakobus, 2 Petrus, 2 Yohanes dan 3 Yohanes."

Kanon tertua yang memuat surat-surat Paulus berasal dari abad ke-2:

Sebuah kanon yang disusun oleh Marsion, pendiri Marsionisme. Ia memasukkan 10 surat Paulus, tidak memasukkan surat penggembalaan (Titus, 1 dan 2 Timotius), serta Surat Ibrani.
Papirus 46, salah satu naskah kuno Perjanjian Baru tertua (sekitar tahun 200), memuat 8 pasal terakhir Surat Roma, semua pasal Surat Ibrani, semua Surat 1 dan 2 Korintus, semua Surat Efesus, Galatia, Filipi, Kolose; dan dua pasal Surat 1 Tesalonika. Karena sebagian rusak, tidak ada konsensus bahwa surat-surat lain yang tidak dimuat itu hilang atau sengaja tidak dimuat. Pakar Young Kyu Kim memberi tarikh Papirus 46 pada abad ke-1 sebelum pemerintahan Domitian (sebelum tahun 81) meskipun pakar lain menentang pendapat itu. 

Antiokhos

Antiokhos IV Epiphanes (memerintah tahun 175-164 SM; juga dieja "Antiokhus Epifanes") merupakan seorang raja pada kekaisaran Seleukia. Ia adalah putra dari Antiokhos III yang sempat dijadikan sandera di kota Roma pada peristiwa perdamaian Aparnea. Pada tahun 177 SM ia dibebaskan dan posisinya digantikan oleh Demitrios, anak dari Seleukos IV. Antiokhos kemudian memilih untuk tinggal di Atena. Setelah Seleukos IV dibunuh akibat pengaruh dari Heliodoros, Antiokhos IV segera menjadi penguasa sesudah menyingkirkan Heliodoros terlebih dahulu. 

Pemerintahan

Hal yang ditakutkan oleh Anthiokhos IV Epifanes adalah pecahnya kerajaan. Oleh sebab itu, ia giat melakukan upaya helenisasi supaya kesatuan kerajaannya tetap terjamin. Helenisasi yang dilakukannya sangat berpengaruh besar terutama bagi kehidupan masyarakat dan budaya orang-orang Yahudi. Apalagi dalam helenisasi, orang-orang diminta ikut berpartisipasi dalam upacara persembahan korban bagi dewa-dewa. 

Akibat ulahnya sendiri yang dianggap keterlaluan, mulailah muncul pemberontakan dalam kota. Antiokhos menjadi sangat marah dan bertekad memberi pelajaran kepada orang-orang yang menentangnya terutama orang-orang Yahudi. Ia mengeluarkan sebuah larangan bagi orang-orang Yahudi menjalankan hukum-hukum dan adat-istiadat mereka. Berbagai praktik ibadah orang Yahudi tidak boleh dilakukan dan setiap pelanggarnya akan menerima hukuman mati. Puncak dari tindakan Antiokhos ini adalah saat ia menempatkan altar dewa Zeus Olympus di atas altar Bait Allah dan meletakkan daging babi untuk dipersembahkan sebagai sesajen pada tanggal 25 Kislew 168 SM, yang menyulut pemberontakan Yudas Makabe untuk menyucikan kembali Bait Allah serta dimulainya hari raya Hanukkah sejak tanggal 25 Kislew 165 SM. 

Kematian

Antiokhus IV meninggal pada tahun 164 SM (tahun ke-149 kekaisaran Seleukia) setelah mendengar kabar kekalahan pasukannya di Persia dan Yudea. Flavius Yosefus mencatat dalam bukunya "Sejarah Kuno Orang Yahudi" sebagai berikut:

"Sekitar waktu ini, raja Antiokhus, ketika pergi ke negeri-negeri sebelah atas, mendengar bahwa ada satu kota yang kaya di Persia, bernama Elymais; dan di sana ada sebuah kuil Diana yang sangat kaya, dan penuh dengan berbagai sumbangan yang diterimanya; juga senjata-senjata dan perisai-perisai dada, yang setelah diselidiki, diketahuinya telah ditinggalkan di sana oleh Alexander, putra Philip, raja Makedonia. Dan didorong oleh motif-motif ini, ia segera berangkat ke Elymais, dan menyerangnya, dan mengepungnya. Namun mereka yang di dalamnya tidak takut atas seranganya, mau pun pengepungannya, melainkan melawannya dengan gagah berani, sehingga ia kehilangan harapan; karena mereka mengusirkan dari kota itu, dan keluar dan mengejarnya, sedemikian jauhnya sehingga ia harus melarikan diri sampai sejauh Babel, dan kehilangan tentara dalam jumlah sangat besar. Dan ketika ia berduka atas kekecewaan ini, sejumlah orang mengabarkan kepadanya perihal kekalahan para komandannya yang ditinggalkannya untuk berperang melawan Yudea, dan betapa bertambah kuatnya orang Yahudi. Ketika kedukaan mengenai perkara ini ditambahkan ke persoalan sebelumnya, ia menjadi tertegu, dan karena kecemasan itu ia jatuh sakit, yang berlangsung sangat lama, dan ketika rasa sakitnya meningkat pada dirinya, maka ia akhirnya sadar bahwa ia akan segera mati; maka ia memanggil sahabat-sahabatnya, dan mengatakan bahwa penyakitnya itu parah; dan mengaku bahwa musibah ini menimpanya karena penindasan yang dilakukannya terhadap bangsa Yahudi, ketika ia menjarah bait suci mereka, dan menghina Allah mereka; dan ketika selesai berkata demikian, ia melepaskan nyawanya. Dengan demikian orang akan bertanya-tanya akan Polybius dari Megalopolis, yang, meskipun adalah orang baik, tetapi mengatakan bahwa "Antiokhus mati karena ia berniat menjarah kuil Diana di Persia;" karena berniat melakukan sesuatu, tetapi tidak benar-benar melakukannya, tidaklah patut dihukum. Namun jika Polybius berpikir bahwa Antiokhus kehilangan nyawanya karena alasan itu, adalah lebih masuk akal kalau raja ini mati karena ia menjarah dan menajiskan bait suci di Yerusalem. Namun kami tidak akan berdebat mengenai hal ini dengan mereka yang berpikir bahwa alasan yang diberikan oleh Polybius dari Megalopolis ini lebih dekat dengan kebenaran daripada yang kami berikan." "Antiokhus ini mati pada tahun ke-149" 

Antiokhia

Antiokhia  adalah sebuah kota tua yang terletak di sisi timur sungai Orontes, terletak di tempat kota modern di Antakya, Turki. Kota ini merupakan pusat agama Kristen pada abad-abad pertama Masehi dan disebut dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Di kota inilah murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut dengan istilah Kristen (artinya "Kristus kecil" atau "golongan Kristus") menurut catatan kitab Kisah Para Rasul 11. 

Kota ini didirikan sekitar akhir abad ke-4 SM oleh Seleukos I Nicator, salah satu jendral Alexander Agung, Antiokhia didirikan untuk menyaingi Alexandria. Aslinya kota ini dibangun dengan tata kota yang mirip dengan Alexandria di Mesir oleh arsitek Xenarius. Libanius menggambarkan gedung pertama dan tatanan kota ini (i. p. 300. 17). Benteng utama (citadel) terletak di Gunung Silpius. Kota itu terletak sebagian besar di tanah rendah di sebelah utara, dekat dengan sungai. Dua jalan berpilar berpotongan di tengah kota. Tidak lama kemudian kawasan ke-2 dibangun, di sebelah timurnya, oleh Antiokhos I, yang menurut tulisan Strabo, tampaknya dihuni penduduk asli, bukan orang Yunani. Kawasan ini ditutupi oleh dinding tembok sendiri.

Di sungai Orontes, sebelah utara kota, terdapat sebuah pulau besar dan di pulau ini Seleukos II Callinicus memulai kota bertembok ketiga, yang diselesaikan oleh Antiokhos III. Kawasan keempat dan terakhir ditambahkan oleh Antiokhos IV Epiphanes (175-164 SM); dan sejak itu Antiokhia dikenal sebagai Tetrapolis ("Empat kota"). Dari barat ke timur seluruhnya berdiameter sekitar 6 km dan sedikit lebih pendek dari utara ke selatan, di mana terdapat banyak taman.

Polikarpus

Polikarpus dari Smirna (mati syahid pada sekitar usia 87 tahun, sekitar 155–167 Masehi) adalah uskup Gereja di Smirna (sekarang di daerah Izmir di Turki) pada abad ke-2. Ia ditikam dan mati sebagai syahid setelah usaha untuk membakarnya hidup-hidup pada tiang pancang gagal. Polikarpus dikenal sebagai seorang santo oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur.

Menurut kisah, Polikarpus adalah murid langsung dari Yohanes. Yohanes yang dimaksud bisa merujuk pada Yohanes anak Zebedeus yang menurut tradisi merupakan penulis Injil Yohanes, atau Yohanes Sang Presbiter Eusebius berkeras bahwa koneksi apostolik dari Papius adalah dengan Yohanes Sang Penginjil yang merupakan penulis Injil keempat. Jika demikian, mungkin ialah orang terakhir yang berhubungan dengan gereja para rasul. Polikarpus tidak mengutip Injil Yohanes dalam suratnya yang masih dapat ditemukan. Hal itu dapat menjadi indikasi bahwa Yohanes yang dikenalnya bukanlah penulis Injil keempat, atau bisa jadi juga merupakan suatu indikasi bahwa Injil Yohanes belum diselesaikan selama Polikarpus berguru kepada Yohanes.

Kira-kira 40 tahun sebelumnya, ketika Polikarpus memulai pelayanannya sebagai uskup, seorang bapa gereja, Ignatius, telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri telah menulis suratnya untuk orang-orang Filipi. Meskipun surat tersebut tidak begitu cemerlang ataupun merupakan pendapatnya sendiri, namun mengandung unsur-unsur kebenaran yang ia pelajari dari para gurunya. Polikarpus tidak mengulas Perjanjian Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul kemudian, tetapi ia menyitir para rasul dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi.

Kira-kira satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup Roma. Ada cerita yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan Marcion, yang ia juluki "Anak sulung setan". Ajaran-ajaran para rasul yang ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.

Polikarpus dan Papias

Polikarpus adalah sahabat dari Papias (Irenaeus V.xxxii) yang termasuk "Pendengar Yohanes" yang lain, seperti interpretasi Ireneus dari kesaksian Papias dan sebuah surat Ignatius dari Antiokhia. Ignatius mengirimkan surat kepadanya dan menyebutkan namanya pada surat kepada jemaat Efesus dan Magnesia. Murid Polikarpus yang paling dikenal adalah Ireneus, yang menulis sejumlah kenangan mengenai Polikarpus dan menjadi mata rantai yang menghubungkannya dengan rasul-rasul terdahulu.

Ireneus menceritakan bagimana dan kapan ia menjadi seorang Kristen. Ia menyatakan pada bagian awal suratnya kepada Florinus bahwa ia bertemu dan mendengarkan Polikarpus secara pribadi di Asia Kecil. Pada keterangan-keterangan selanjutnya, ia mencatat hubungan Polikarpus dengan Yohanes Sang Penginjil dan dengan orang-orang lain yang telah bertemu Yesus. Ireneus juga melaporkan bahwa Polikarpus menerima Kristus oleh ajaran para rasul sendiri, ditahbiskan menjadi seorang uskup, dan berkomunikasi dengan banyak orang yang telah bertemu dengan Yesus.

Menjelang mati syahidnya Polikarpus, ia memberitahukan sendiri usia ketika ia mati dengan mengucapkan kalimat, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia", yang kemudian dimengerti bahwa ia telah berusia 86 tahun pada saat itu dan telah dibaptiskan ketika masih bayi.  

Kunjungan ke Anisetus, Uskup Roma

Polikarpus mengunjungi Roma saat sahabatnya Syria-nya yang bernama Anisetus menjadi uskup Gereja Roma pada sekitar tahun 150 atau 160-an Masehi. Mereka berdua merayakan perayaan Paskah Kristen secara berbeda. Polikarpus mengikuti praktik Timur dalam merayakan Paskah, yaitu pada tanggal 14 bulan Nisan, yang bertepatan dengan Paskah Yahudi, tanpa memperhatikan pada hari apa Paskah itu jatuh.

Tulisan-tulisan dan catatan-catatan awalnya

Seluruh karyanya yang tersisa adalah suratnya kepada jemaat Filipi, yang merupakan kepingan keterangan kepada Perjanjian Baru. Surat itu dan sebuah catatan Polikarpus mengenai mati syahidnya (Martyrdom of Polycarp) ditemukan sebagai surat berantai dari Gereja Smirna kepada Gereja-gereja Pontus. Surat-surat tersebut membentuk kumpulan tulisan-tulisan dari “Bapa Gereja Apostolik” (suatu istilah untuk menegaskan kedekatan mereka dengan para Rasul dalam tradisi Gereja).

Mati syahid diyakini sebagai daftar catatan asli para syahid Kristen yang ditulis paling awal, dan juga merupakan salah satu dari sedikit catatan asli dari tahun-tahun penganiayaan Kristen.

Akhir hidupnya

Kisah akhir hidup Polikarpus dicatat dalam surat dari jemaat di Smirna yang dinamai "The Martyrom of Polycarp" ("Kematian syahid Polikarpus").

Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, tetapi memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kafir."

Polikarpus, uskup yang disegani di kota itu, diburu oleh prajurit Smyrna. Para prajurit itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin. Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain. Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih berdiam di kota, teman-temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin karena mereka takut kalau-kalau kematiannya akan memengaruhi ketegaran gereja.

Ketika polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk mencari tahu tentang Polikarpus. Kemudian mereka menyerbu dengan senjata lengkap untuk menangkap uskup itu. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal di tempat, dengan tekad, "Kehendak Allah pasti terjadi." Di luar dugaan, ia menerima mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang hegitu baik. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"

Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kafir!" "

Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"

Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"

Polikarpus pun berdiri dengan tegar. Ia mengatakan kalimat terakhirnya yang terkenal, "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja [Kristus] yang telah menyelamatkanku?"

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk."

Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. "la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal." Ketika seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Kisah ini tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya.

Tanggal kematian Polikarpus diperdebatkan. Eusebius mencatat kematiannya pada masa pemerintahan Marcus Aurelius, 166–167 Masehi. Namun, sebuah catatan yang ditambahkan setelah masa Eusebius menuliskan kematian Polikarpus pada Sabtu, 23 Februari pada masa pemerintahan konsul Statius Quadratus yang berkuasa pada 155 atau 156 Masehi. Tanggal yang ditulis sebelumnya lebih cocok kepada tradisi yang memberitahukan hubungan Polikarpus dengan Ignatius dan Yohanes Sang Penginjil. Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari "kelahiran Polikarpus" masuk ke surga.

Sabat Agung

Karena surat jemaat Smirna yang dikenal sebagai mati syahidnya Polikarpus menyatakan bahwa Polikarpus dibunuh pada Sabat Agung, beberapa pihak berpendapat bahwa tulisan tersebut adalah bukti bahwa Gereja Smirna yang dipimpin oleh Polikarpus menjalankan ibadah Sabat pada hari ketujuh (Sabtu).

Pihak yang lain mengatakan bahwa Sabat Agung yang dimaksudkan merujuk kepada Paskah Kristen atau hari-hari besar yang lain. Jika hal tersebut benar, maka kematian Polikarpus terjadi antara satu dan dua bulan setelah tanggal 14 bulan Nisan (tanggal saat Polikarpus merayakan Paskah) yang tidak mungkin terjadi sebelum akhir bulan Maret. Sabat Agung yang lain (jika ingin merujuk kepada hari-hari besar Yahudi) dirayakan pada musim semi, akhir musim panas, atau musim gugur. Tidak ada perayaan pada musim dingin.

Polikarpus memegang peranan penting dalam sejarah Gereja Kristen. Dia termasuk di antara orang-orang Kristen perdana yang tulisan-tulisannya masih tersisa. Dia adalah uskup dari sebuah Gereja penting di tempat di mana para rasul bekerja. Dan dia hidup pada masa di mana ortodoksi (nilai-nilai tradisi, ajaran, dan kebiasaan turun-temurun) diterima secara luas oleh Gereja-Gereja Ortodoks, Gereja-Gereja Timur, kelompok-kelompok yang masih menjalankan Sabat pada hari ketujuh, dan kelompok-kelompok yang mirip dengan Protestan dan Katolik.

Polikarpus bukanlah seorang filsuf atau teolog. Dari catatan-catatan yang tersisa, ia muncul sebagai pemimpin ibadah dan guru yang berbakat. “Seorang dengan kelas yang lebih tinggi, dan saksi kebenaran yang tabah daripada Valentinus, dan Marsion, dan bidat-bidat yang lain”, kata Ireneus yang mengingatnya sejak masa mudanya. (Adversus Haereses III.3.4).

Ia hidup pada masa setelah wafat para rasul, ketika bermacam-macam interpretasi ajaran Yesus diajarkan. Peranannya adalah dengan menegaskan ajaran asli yang didapatkannya dari Rasul Yohanes. Catatan yang tersisa menunjukkan keberanian di wajah Polikarpus tua saat menghadapi kematian dengan dibakar pada tiang pancang menunjukkan betapa bisa dipercayanya perkataan-perkataan Polikarpus.

Kematian syahid Polikarpus sangat penting untuk memahami posisi Gereja ketika Kekaisaran Romawi masih menganut agama kafir. Ketika penganiayaan masih didukung oleh jenderal-jenderal konsul lokal, berbagai penulis mencatat betapa haus darahnya orang-orang yang meneriakkan kematian bagi Polikarpus (bab 3). Catatan-catatan tersebut juga menunjukkan kebencian tak mendasar pemerintah Romawi terhadap kekristenan, ketika orang-orang Kristen diberikan kesempatan untuk tidak dihukum jika mau mengingkari imannya dan mengaku bahwa menjadi seorang Kristen berarti telah melakukan tindakan kriminal. Sistem pengadilan yang ganjil ini di kemudian hari dicemooh oleh Tertullianus (orang yang pertama kali memperkenalkan ajaran Trinitas) dalam buku Pembelaan (Apologi)-nya.

Polikarpus adalah seorang penyebar dan pemurni wahyu Kristen yang hebat pada masa Injil dan surat-surat mulai diterima secara luas. Meskipun kunjungannya ke Roma untuk bertemu uskup Roma digunakan pihak Gereja Katolik Roma untuk memperkuat klaim keutamaan Roma (sistem kepausan), namun sumber-sumber Katolik menyatakan bahwa Polikarpus tidak menerima kuasa dari uskup Roma untuk mengganti hari Paskah (bahkan, Polikarpus dan Anicetus uskup Roma setuju untuk tidak setuju. Keduanya percaya bahwa praktik Paskah mereka sesuai dengan tradisi Rasuli) –- Penerus spiritual Polikarpus seperti Melito dari Sardis dan Polikrates dari Efesus sependapat dengan hal yang sama.

Ada empat sumber utama mengenai Polikarpus :

* Surat otentik Ignatius dari Antiokhia, yang salah satunya ditujukan kepada Polikarpus.
* Surat Polikarpus kepada Gereja Filipi
* Bagian-bagian dalam Adversus Haeresis karya Ireneus
* Dan surat dari jemaat Smirna yang menceritakan kematian syahid Polikarpus

Smirna

Smirna (bahasa Yunani Kuno: Σμύρνη or Σμύρνα, Smyrna) adalah kota kuno yang terletak di bagian tengah dan strategis di pantai Laut Aegea dari wilayah Anatolia. Karena kondisi pelabuhan yang menguntungkan, mudahnya dipertahankan dan hubungan darat yang bagus, kota Smirna berkembang menjadi penting. Lokasinya sekarang ini terletak di dalam daerah kota modern İzmir, Turki.

Ada dua lokasi bekas kota ini. Yang bertama dibangun dan menjadi besar pada masa Archaic Yunani sebagai pemukiman kuno orang Yunani di bagian Anatolia barat. Yang kedua, landasannya dihubungkan dengan Aleksander Agung, menjadi kota metropolitan pada masa Kekaisaran Romawi. Kebanyakan reruntuhan yang ditemukan sekarang ini berasal dari zaman Romawi, yaitu setelah gempa bumi pada abad ke-2 M.

Sejumlah penjelasan diberikan mengenai asal usul namanya. Salah satunya berhubungan dengan mitologi Yunani mengenai orang Amazon bernama "Σμύρνα" (Smyrna), yang juga merupakan nama satu bagian kota Efesus, dan juga dikenali dalam bentuk "Myrina", kota di Aeolis. Prasasti dan mata uang yang ditemukan sering bertuliskan "Ζμύρνα" (Zmurna), "Ζμυρναῖος" (Zmurnaios), "dari Smyrna". Smirna juga merupakan kata Yunani kuno untuk mur. 

Periode Yunani

Aleksander Agung mempunyai ilham untuk membangun kembali kota Yunani berdasarkan tata kota, yang menurut Strabo, sebenarnya dikerjakan di bawah pemerintahan Antigonus (316—301 SM) dan Lysimachus (301 SM—281 SM), yang memperluas dan memperkuat kota ini. Reruntuhan pusat kota ("acropolis") yang disebut "crown of Smyrna" (mahkota Smirna), ada pada puncak terjal dengan ketinggian sekitar 1250  kaki, yang menjulang di bagian timur laut dari teluk. Kota modern İzmir dibangun di atas kota Yunani yang kemudian, sebagian di lereng bukit bundar yang oleh orang Yunani disebut Pagos (maknanya "bukit") dekat ujung tenggara dari teluk, sebagian lagi di tanah rendah di antara bukit dan lautan. Keindahan kota Yunani, bergerombol di tanah rendah dan naik lapis demi lapis di bagian bukit, seringkali dipuji di zaman kuno dan diperingati dalam mata-mata uang.

Zaman Romawi dan Byzantine

Sebagai salah satu kota Romawi penting di provinsi Asia, Smirna bersaing dengan kota Efesus dan Pergamum untuk gelar "Kota Paling Utama di Asia."

Sebuah gereja Kristen berdiri di sini sejak awal sekali, mungkin bertumbuh dari koloni orang Yahudi. Merupakan salah satu dari "tujuh jemaat di Asia" yang disebutkan namanya dalam Kitab Wahyu. Santo Ignatius dari Antiokhia mengunjungi Smirna dan kemudian menulis surat-surat kepada uskupnya, Polikarpus. Gerombolan orang Yahudi dan Yunani menyebabkan Polikarpus mati syahid pada tahun 153 M. Ireneus, yang pernah mendengarkan Polikarpus ketika masih kecil, tampaknya berasal dari Smirna. Penduduk kota lain yang terkenal dan dari zaman yang sama adalah Aelius Aristides.

Polycrates melaporkan pergantian uskup-uskup termasuk Polikarpus dari Smryna, maupun yang lain di kota-kota terdekat misalnya Melito di Sardis.

Lalibela

Lalibela adalah sebuah kota di Ethiopia utara yang terkenal akan gereja-gerejanya yang dipahat pada batuan monolit. Lalibela adalah salah satu kota suci Ethiopia, nomor dua setelah Aksum, dan merupakan sebuah pusat peziarahan. Tidak seperti Aksum, hampir semua penduduk Lalibela adalah umat Kristen Ortodoks Ethiopia. Ethiopia adalah salah satu bangsa terawal yang menganut agama Kristen pada paruh pertama abad ke-4, dan sejarahnya berakar pada zaman para rasul.

Pada masa pemerintahan Santo Gebre Mesqel Lalibela (dari Wangsa Zagwe, yang memerintah Ethiopia pada penghujung abad ke-12 dan permulaan abad ke-13), kota Lalibela dikenal dengan nama Roha. Raja saleh ini dinamakan demikian, konon karena sekerumunan lebah beterbangan di sekelilingnya tatkala dilahirkan, yang dianggap oleh ibundanya sebagai pertanda bahwa ia kelak akan menjadi Kaisar Ethiopia. Nama beberapa tempat di Lalibela sekarang ini dan tata letak gereja-gereja pahatan itu sendiri konon meniru nama-nama dan letak tempat yang dilihat Lalibela tatkala tinggal di Yerusalem dan Tanah Suci pada masa mudanya.

Lalibela, yang dihormati sebagai orang suci, konon pernah melihat Yerusalem, dan karena itu berusaha mendirikan sebuah Yerusalem baru sebagai ibu kota kerajaannya menggantikan Yerusalem lama yang jatuh ke tangan kaum Muslim pada 1187. Masing-masing gereja dipahatkan pada batu masif utuh, perlambang kerohanian dan kerendahan hati. Iman Kristen menginspirasi penamaan berbagai hal dengan nama-nama Alkitabiah – bahkan sungai di Lalibela pun dinamakan Sungai Yordan. Lalibela menjadi ibu kota Ethiopia sejak akhir abad ke-12 sampai dengan abad ke-13.

Orang Eropa pertama yang melihat langsung gereja-gereja itu adalah pengelana Portugis, Pêro da Covilhã (1460–1526). Padri Portugis, Francisco Álvares (1465–1540), menyertai Duta Besar Portugal saat berkunjung ke Lebna Dengel pada 1520s. Ia mencatat tentang bangunan-bangunan gereja yang unik itu sebagai berikut:

Saya penat menulis lebih banyak lagi tentang bangunan-bangunan ini, karena menurut saya agaknya orang tidak akan mempercayai saya jikalau saya menulis lebih banyak lagi...Demi Tuhan, yang berkat kuasa-Nya saya ada, saya bersumpah bahwa semua yang telah saya tulis adalah kebenaran 

Meskipun Ramuso memasukkan denah-denah beberapa dari gereja-gereja itu dalam catatan Álvares yang dicetaknya pada tahun 1550, penyumbang gambar-gambar denah itu sendiri masih menjadi misteri. Pengunjung Eropa berikutnya ke Lalibela menurut laporan adalah Miguel de Castanhoso, yang bertugas sebagai seorang prajurit di bawah pimpinan Christovão da Gama dan meninggalkan Ethiopia pada 1544. Sesudah Miguel de Castanhoso, 300 tahun lebih berlalu sebelum orang Eropa berikutnya, Gerhard Rohlfs, suatu ketika mengunjungi Lalibela antara tahun 1865 sampai 1870.

Menurut Futuh al-Habasa karya Sihab ad-Din Ahmad, Ahmad Gragn membakar salah satu dari gereja-gereja di Lalibela ketika menginvasi Ethiophia. Meskipun demikian, Richard Pankhurst telah mengungkapkan keraguannya akan kebenaran catatan peristiwa itu, dengan menunjukkan bahwa sekalipun Sihab ad-Din Ahmad menyajikan deskripsi terperinci dari sebuah gereja pahatan pada batu padas ("dipahatkan pada pegunungan. Demikian pula tiang-tiangnya dipahatkan pada pegunungan." ), hanya satu gereja yang disebutkan; Pankhurst menambahkan pula bahwa "keistimewaan Lalibela, (sebagaimana yang diketahui oleh setiap wisatawan), adalah bahwasanya ia adalah situs dari sekitar sebelas gereja batu, bukan hanya satu – dan masing-masing berada dalam jarak yang kurang-lebih hanya sepelempar batu dari yang lain!" Pankhurst juga menyinggung bahwa Kronik Kerajaan, yang mencatat peristiwa penghancuran distrik itu oleh Ahmad Gragn antara Juli dan September 1531, justru tidak menyebutkan apa-apa mengenai peristiwa perusakan gereja-gereja legendaris kota itu oleh Sang Imam. Ia menyimpulkan bahwa jikalau Ahmad Gragn memang membakar sebuah gereja di Lalibela, maka kemungkinan besar gereja yang dibakar adalah Bete Medhane Alem; dan jika bala tentara Muslim telah salah sangka atau pun telah diperdaya oleh penduduk setempat, maka gereja yang dibakarnya adalah Gannata Maryam, "10 mil di timur Lalibela yang juga memiliki tiang-tiang yang dipahatkan pada pegunungan." 

Kota kecil ini terkenal di seluruh dunia akan gereja-gerejanya yang dipahat dari dalam bumi dari "batu padas utuh," yang memainkan peranan penting dalam sejarah arsitektur pahatan pada batu padas. Sekalipun penanggalan dari gereja-gereja ini belum ditetapkan secara pasti, sebagian besar diduga didirikan pada masa pemerintahan Lalibela, yakni di abad ke-12 dan ke-13. Unesco mengidentifikasi 11 gereja, yang dibagi menjadi empat kelompok:

Kelompok Utara:
Biete Medhane Alem (Rumah Juru Selamat Dunia), tempat disimpannya Salib Lalibela dan diyakini sebagai gereja monolitik terbesar di dunia, kemungkinan besar meniru bangunan Santa Maria dari Zion di Aksum.
Biete Maryam (Rumah Miriam/Rumah Maria), kemungkinan besar adalah gereja yang paling tua di antara semuanya, dan dibangun sebagai replika dari makam Adam dan Kristus. 
Biete Golgota Mikael (Rumah Golgota Mikael), terkenal akan seni rupanya dan konon berisi makam Raja Lalibela)
Biete Meskel (Rumah Salib)
Biete Denagel (Rumah Para Perawan)

Kelompok Barat:
Biete Giyorgis (Gereja Santo Georgius), diduga adalah gereja yang paling halus pengerjaannya dan yang paling terawat di antara semuanya.

Kelompok Timur:
Biete Amanuel (Rumah Imanuel), kemungkinan besar bekas kapel kerajaan.
Biete Qeddus Merkoreos (Rumah Santo Merkoreos/Rumah Santo Markus), mungkin bekas penjara
Biete Abba Libanos (Rumah Abbas Libanos)
Biete Gabriel-Rufael (Rumah Gabriel dan Rafael) kemungkinan besar bekas istana kerajaan, terhubung dengan sebuah tempat pembuatan roti suci.
Biete Lehem (Betlehem, bahasa Ibrani: בֵּית לֶחֶם, Rumah Roti). 
Jauh dari lokasi itu terletak biara Asyetan Maryam dan Gereja Yemrehana Kristos, (kemungkinan besar dari abad ke-11, dibangun dalam gaya Aksum, tetapi di dalam sebuah gua).

Terdapat kontroversi mengenai waktu pembuatan beberapa gereja. David Buxton menetapkan kronologi yang berterima-umum, yang menerangkan bahwa "dua di antaranya dibangun dengan mengikuti, sampai sekecil-kecilnya, tradisi pendirian bangunan yang tampak pada biara Debra Damo dan telah dimodifikasi di Yemrahana Kristos." karena waktu yang diperlukan untuk memahat bangunan-bangunan ini pada batu padas utuh tentunya lebih lama dari beberapa dasawarsa masa pemerintahan Raja Lalibela, maka Buxton berasumsi bahwa pengerjaannya berlanjut sampai abad ke-14. Akan tetapi, David Phillipson, profesor arkeologi Afrika di Cambridge University, berpendapat bahwa gereja Merkorios, gereja Gabriel-Rufael, dan gereja Danagel mula-mula dipahatkan pada batu padas setengah milenium sebelumnya, sebagai benteng pertahanan atau bangunan-bangunan lain dari istana pada masa-masa kemunduran Kerajaan Aksum, dan dikait-kaitkan dengan Lalibela setelah Sang Raja wafat. Di lain pihak, sejarawan lokal, Getachew Mekonnen, mendapuk Masqal Kibra, permaisuri Lalibela, sebagai tokoh pembangun salah satu di antara gereja-gereja itu, yakni gereja Abba Libanos yang didirikan sebagai monumen peringatan suaminya setelah wafatnya. 

Bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan para penulis seperti Graham Hancock, Buxton berpendapat bahwa gereja-gereja besar yang dipahatkan pada batu padas di Lalibela tidak dikerjakan dengan bantuan Ksatria Templar; ia mengemukakan banyak bukti yang ada untuk memperlihatkan bahwa gereja-gereja itu semata-mata adalah hasil karya peradaban zaman pertengahan Ethiopian. Sebagai contoh, meskipun Buxton menyinggung mengenai adanya tradisi yang mengatakan bahwa "Bangsa Abisinia meminta bantuan dari orang-orang asing" untuk membangun gereja-gereja monolitik ini, dan mengakui bahwa "ada tanda-tanda jelas pengaruh Koptik dalam beberapa detail hiasan" (tidaklah mengherankan mengingat adanya hubungan teologi, hubungan gerejawi, dan hubungan budaya di antara Gereja Ortodoks Ethiopia dan Gereja Ortodoks Koptik), ia bersikeras bahwa gereja-gereja itu dalah hasil karya masyarakat pribumi: "Tetapi fakta yang signifikan adalah bahwasanya gereja-gereja batu padas itu tetap melanjutkan ciri khas yang dimiliki prototipe-prototipe bangunan pribumi setempat, yang masih jelas menampakkan ciri khas warisan Aksum." 

Gereja-gereja itu juga merupakan sebuah bukti kepiawaian teknik, mengingat semua bangunan itu berkaitan dengan air (yang memenuhi sumur-sumur yang terletak bersebelahan dengan sebagian besar dari gereja-gereja itu), yaitu dalam pemanfaatan sebuah sistem geologi artesis yang mendorong air naik ke tebing-tebing pegunungan tempat kota itu berada. 

Laporan-laporan misi UNESCO lainnya

Dalam sebuah laporan tahun 1970 mengenai pemukiman-pemukiman bersejarah di Lalibela, Sandro Angelini mengevaluasi arsitektur pribumi berbahan baku tanah di Situs Warisan Dunia Lalibela, termasuk karakteristik-karakteristik rumah-rumah tanah tradisional, dan analisis status konservasinya.

Dalam laporannya, Angelini mendeskripsikan dua tipe rumah pribumi di Lalibela. Tipe pertama adalah sekelompok rumah yang ia sebut "tukul", yakni pondok-pondok yang terbuat dari batu dan biasanya berlantai dua. Tipe kedua adalah bangunan-bangunan "chika" berlantai satu, berbentuk bundar, terbuat dari tanah dan kayu akasia, yang menurutnya merupakan bentuk yang lebih "langka". Laporan Angelini juga memuat daftar bangunan-bangunan tradisional Lalibela, yang ia golong-golongkan ke dalam beberapa kategori menurut status konservasinya. 

Lalibela juga memiliki sebuah bandar udara (ICAO kode HALL, IATA LLI), sebuah pasar besar, dua buah sekolah dan sebuah rumah sakit.

Berdasarkan data sensus 2007, populasi Lalibela berjumlah 17.367 jiwa, terdiri atas 8.112 laki-laki dan 9.255 perempuan. Berdasarkan data sebelumnya yang dikeluarkan Central Statistical Agency pada 2005, populasi Lalibela diperkirakan berjumlah 14.668 jiwa, terdiri atas 7.049 laki-laki dan 7.619 perempuan. Berdasarkan hasil sensus nasional 1994, populasi Lalibela berjumlah 8.484 jiwa, terdiri atas 3.709 laki-laki dan 4.775 perempuan.

Jul 4, 2018

Lalibela

Lalibela adalah sebuah kota di Ethiopia utara yang terkenal akan gereja-gerejanya yang dipahat pada batuan monolit. Lalibela adalah salah satu kota suci Ethiopia, nomor dua setelah Aksum, dan merupakan sebuah pusat peziarahan. Tidak seperti Aksum, hampir semua penduduk Lalibela adalah umat Kristen Ortodoks Ethiopia. Ethiopia adalah salah satu bangsa terawal yang menganut agama Kristen pada paruh pertama abad ke-4, dan sejarahnya berakar pada zaman para rasul.

Pada masa pemerintahan Santo Gebre Mesqel Lalibela (dari Wangsa Zagwe, yang memerintah Ethiopia pada penghujung abad ke-12 dan permulaan abad ke-13), kota Lalibela dikenal dengan nama Roha. Raja saleh ini dinamakan demikian, konon karena sekerumunan lebah beterbangan di sekelilingnya tatkala dilahirkan, yang dianggap oleh ibundanya sebagai pertanda bahwa ia kelak akan menjadi Kaisar Ethiopia. Nama beberapa tempat di Lalibela sekarang ini dan tata letak gereja-gereja pahatan itu sendiri konon meniru nama-nama dan letak tempat yang dilihat Lalibela tatkala tinggal di Yerusalem dan Tanah Suci pada masa mudanya.

Lalibela, yang dihormati sebagai orang suci, konon pernah melihat Yerusalem, dan karena itu berusaha mendirikan sebuah Yerusalem baru sebagai ibu kota kerajaannya menggantikan Yerusalem lama yang jatuh ke tangan kaum Muslim pada 1187. Masing-masing gereja dipahatkan pada batu masif utuh, perlambang kerohanian dan kerendahan hati. Iman Kristen menginspirasi penamaan berbagai hal dengan nama-nama Alkitabiah – bahkan sungai di Lalibela pun dinamakan Sungai Yordan. Lalibela menjadi ibu kota Ethiopia sejak akhir abad ke-12 sampai dengan abad ke-13.

Orang Eropa pertama yang melihat langsung gereja-gereja itu adalah pengelana Portugis, Pêro da Covilhã (1460–1526). Padri Portugis, Francisco Álvares (1465–1540), menyertai Duta Besar Portugal saat berkunjung ke Lebna Dengel pada 1520s. Ia mencatat tentang bangunan-bangunan gereja yang unik itu sebagai berikut:

Saya penat menulis lebih banyak lagi tentang bangunan-bangunan ini, karena menurut saya agaknya orang tidak akan mempercayai saya jikalau saya menulis lebih banyak lagi...Demi Tuhan, yang berkat kuasa-Nya saya ada, saya bersumpah bahwa semua yang telah saya tulis adalah kebenaran 

Meskipun Ramuso memasukkan denah-denah beberapa dari gereja-gereja itu dalam catatan Álvares yang dicetaknya pada tahun 1550, penyumbang gambar-gambar denah itu sendiri masih menjadi misteri. Pengunjung Eropa berikutnya ke Lalibela menurut laporan adalah Miguel de Castanhoso, yang bertugas sebagai seorang prajurit di bawah pimpinan Christovão da Gama dan meninggalkan Ethiopia pada 1544. Sesudah Miguel de Castanhoso, 300 tahun lebih berlalu sebelum orang Eropa berikutnya, Gerhard Rohlfs, suatu ketika mengunjungi Lalibela antara tahun 1865 sampai 1870.

Menurut Futuh al-Habasa karya Sihab ad-Din Ahmad, Ahmad Gragn membakar salah satu dari gereja-gereja di Lalibela ketika menginvasi Ethiophia. Meskipun demikian, Richard Pankhurst telah mengungkapkan keraguannya akan kebenaran catatan peristiwa itu, dengan menunjukkan bahwa sekalipun Sihab ad-Din Ahmad menyajikan deskripsi terperinci dari sebuah gereja pahatan pada batu padas ("dipahatkan pada pegunungan. Demikian pula tiang-tiangnya dipahatkan pada pegunungan." ), hanya satu gereja yang disebutkan; Pankhurst menambahkan pula bahwa "keistimewaan Lalibela, (sebagaimana yang diketahui oleh setiap wisatawan), adalah bahwasanya ia adalah situs dari sekitar sebelas gereja batu, bukan hanya satu – dan masing-masing berada dalam jarak yang kurang-lebih hanya sepelempar batu dari yang lain!" Pankhurst juga menyinggung bahwa Kronik Kerajaan, yang mencatat peristiwa penghancuran distrik itu oleh Ahmad Gragn antara Juli dan September 1531, justru tidak menyebutkan apa-apa mengenai peristiwa perusakan gereja-gereja legendaris kota itu oleh Sang Imam. Ia menyimpulkan bahwa jikalau Ahmad Gragn memang membakar sebuah gereja di Lalibela, maka kemungkinan besar gereja yang dibakar adalah Bete Medhane Alem; dan jika bala tentara Muslim telah salah sangka atau pun telah diperdaya oleh penduduk setempat, maka gereja yang dibakarnya adalah Gannata Maryam, "10 mil di timur Lalibela yang juga memiliki tiang-tiang yang dipahatkan pada pegunungan." 

Kota kecil ini terkenal di seluruh dunia akan gereja-gerejanya yang dipahat dari dalam bumi dari "batu padas utuh," yang memainkan peranan penting dalam sejarah arsitektur pahatan pada batu padas. Sekalipun penanggalan dari gereja-gereja ini belum ditetapkan secara pasti, sebagian besar diduga didirikan pada masa pemerintahan Lalibela, yakni di abad ke-12 dan ke-13. Unesco mengidentifikasi 11 gereja, yang dibagi menjadi empat kelompok:

Kelompok Utara:
Biete Medhane Alem (Rumah Juru Selamat Dunia), tempat disimpannya Salib Lalibela dan diyakini sebagai gereja monolitik terbesar di dunia, kemungkinan besar meniru bangunan Santa Maria dari Zion di Aksum.
Biete Maryam (Rumah Miriam/Rumah Maria), kemungkinan besar adalah gereja yang paling tua di antara semuanya, dan dibangun sebagai replika dari makam Adam dan Kristus. 
Biete Golgota Mikael (Rumah Golgota Mikael), terkenal akan seni rupanya dan konon berisi makam Raja Lalibela)
Biete Meskel (Rumah Salib)
Biete Denagel (Rumah Para Perawan)

Kelompok Barat:
Biete Giyorgis (Gereja Santo Georgius), diduga adalah gereja yang paling halus pengerjaannya dan yang paling terawat di antara semuanya.

Kelompok Timur:
Biete Amanuel (Rumah Imanuel), kemungkinan besar bekas kapel kerajaan.
Biete Qeddus Merkoreos (Rumah Santo Merkoreos/Rumah Santo Markus), mungkin bekas penjara
Biete Abba Libanos (Rumah Abbas Libanos)
Biete Gabriel-Rufael (Rumah Gabriel dan Rafael) kemungkinan besar bekas istana kerajaan, terhubung dengan sebuah tempat pembuatan roti suci.
Biete Lehem (Betlehem, bahasa Ibrani: בֵּית לֶחֶם, Rumah Roti). 
Jauh dari lokasi itu terletak biara Asyetan Maryam dan Gereja Yemrehana Kristos, (kemungkinan besar dari abad ke-11, dibangun dalam gaya Aksum, tetapi di dalam sebuah gua).

Terdapat kontroversi mengenai waktu pembuatan beberapa gereja. David Buxton menetapkan kronologi yang berterima-umum, yang menerangkan bahwa "dua di antaranya dibangun dengan mengikuti, sampai sekecil-kecilnya, tradisi pendirian bangunan yang tampak pada biara Debra Damo dan telah dimodifikasi di Yemrahana Kristos." karena waktu yang diperlukan untuk memahat bangunan-bangunan ini pada batu padas utuh tentunya lebih lama dari beberapa dasawarsa masa pemerintahan Raja Lalibela, maka Buxton berasumsi bahwa pengerjaannya berlanjut sampai abad ke-14. Akan tetapi, David Phillipson, profesor arkeologi Afrika di Cambridge University, berpendapat bahwa gereja Merkorios, gereja Gabriel-Rufael, dan gereja Danagel mula-mula dipahatkan pada batu padas setengah milenium sebelumnya, sebagai benteng pertahanan atau bangunan-bangunan lain dari istana pada masa-masa kemunduran Kerajaan Aksum, dan dikait-kaitkan dengan Lalibela setelah Sang Raja wafat. Di lain pihak, sejarawan lokal, Getachew Mekonnen, mendapuk Masqal Kibra, permaisuri Lalibela, sebagai tokoh pembangun salah satu di antara gereja-gereja itu, yakni gereja Abba Libanos yang didirikan sebagai monumen peringatan suaminya setelah wafatnya. 

Bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan para penulis seperti Graham Hancock, Buxton berpendapat bahwa gereja-gereja besar yang dipahatkan pada batu padas di Lalibela tidak dikerjakan dengan bantuan Ksatria Templar; ia mengemukakan banyak bukti yang ada untuk memperlihatkan bahwa gereja-gereja itu semata-mata adalah hasil karya peradaban zaman pertengahan Ethiopian. Sebagai contoh, meskipun Buxton menyinggung mengenai adanya tradisi yang mengatakan bahwa "Bangsa Abisinia meminta bantuan dari orang-orang asing" untuk membangun gereja-gereja monolitik ini, dan mengakui bahwa "ada tanda-tanda jelas pengaruh Koptik dalam beberapa detail hiasan" (tidaklah mengherankan mengingat adanya hubungan teologi, hubungan gerejawi, dan hubungan budaya di antara Gereja Ortodoks Ethiopia dan Gereja Ortodoks Koptik), ia bersikeras bahwa gereja-gereja itu dalah hasil karya masyarakat pribumi: "Tetapi fakta yang signifikan adalah bahwasanya gereja-gereja batu padas itu tetap melanjutkan ciri khas yang dimiliki prototipe-prototipe bangunan pribumi setempat, yang masih jelas menampakkan ciri khas warisan Aksum." 

Gereja-gereja itu juga merupakan sebuah bukti kepiawaian teknik, mengingat semua bangunan itu berkaitan dengan air (yang memenuhi sumur-sumur yang terletak bersebelahan dengan sebagian besar dari gereja-gereja itu), yaitu dalam pemanfaatan sebuah sistem geologi artesis yang mendorong air naik ke tebing-tebing pegunungan tempat kota itu berada. 

Laporan-laporan misi UNESCO lainnya

Dalam sebuah laporan tahun 1970 mengenai pemukiman-pemukiman bersejarah di Lalibela, Sandro Angelini mengevaluasi arsitektur pribumi berbahan baku tanah di Situs Warisan Dunia Lalibela, termasuk karakteristik-karakteristik rumah-rumah tanah tradisional, dan analisis status konservasinya.

Dalam laporannya, Angelini mendeskripsikan dua tipe rumah pribumi di Lalibela. Tipe pertama adalah sekelompok rumah yang ia sebut "tukul", yakni pondok-pondok yang terbuat dari batu dan biasanya berlantai dua. Tipe kedua adalah bangunan-bangunan "chika" berlantai satu, berbentuk bundar, terbuat dari tanah dan kayu akasia, yang menurutnya merupakan bentuk yang lebih "langka". Laporan Angelini juga memuat daftar bangunan-bangunan tradisional Lalibela, yang ia golong-golongkan ke dalam beberapa kategori menurut status konservasinya. 

Lalibela juga memiliki sebuah bandar udara (ICAO kode HALL, IATA LLI), sebuah pasar besar, dua buah sekolah dan sebuah rumah sakit.

Berdasarkan data sensus 2007, populasi Lalibela berjumlah 17.367 jiwa, terdiri atas 8.112 laki-laki dan 9.255 perempuan. Berdasarkan data sebelumnya yang dikeluarkan Central Statistical Agency pada 2005, populasi Lalibela diperkirakan berjumlah 14.668 jiwa, terdiri atas 7.049 laki-laki dan 7.619 perempuan. Berdasarkan hasil sensus nasional 1994, populasi Lalibela berjumlah 8.484 jiwa, terdiri atas 3.709 laki-laki dan 4.775 perempuan.