Sejarah Dunia Kuno

Lion of Judah Open Doors 2019

Apr 2, 2018

Publius

Publius (atau Gaius) Cornelius Tacitus (~56 – 117 M) adalah seorang Senator dan penulis sejarah Kerajaan Romawi. Sejumlah tulisannya yang ditemukan termasuk 2 karya besarnya, Annals dan Histories meliput zaman pemerintahan Kaisar Romawi Tiberius, Claudius, Nero dan pada zaman 4 Kaisar. Karya ini meliputi sejarah Kerajaan Romawi mulai dari matinya Kaisar Augustus tahun 14 M sampai kematian Kaisar Domitian tahun 96. Ia adalah sahabat pena Plinius yang Muda. Tacitus diangkat menjadi quaestor pada zaman pemerintahan Kaisar Titus. Karena batas usia termuda untuk jabatan ini adalah 25 tahun, dari sini orang menetapkan tahun kelahirannya.
Ia menjadi penjabat di berbagai provinsi tahun ~89 samapi 93 M. Istrinya adalah putri Jendral Julius Agricola. Meskipun tidak mengalami akibat buruk dari tindakan sewenang-wenang Kaisar Domitian, Tacitus menjadi benci terhadap kekuasaan tirani yang tampak dalam karya-karya tulisannya, misalnya Agricola. Saat menjabat sebagai senator, ia menjadi Konsul Suffek tahun 97 pada zaman pemerintahan Nerva, orang pertama dari keluarganya yang memegang jabatan ini. Ia pun dikenal sebagai orator ulung terutama saat berpidato pada pemakaman tentara veteran terkenal Lucius Verginius Rufus. Pada tahun-tahun kemudian, ia memusatkan pada penulisan Agricola dan Germania, dan mulai menjadi penulis sampai akhir hayatnya. Ia sempat bekerja lagi sebagai pejabat pada zaman Kaisar Trajan. Pada tahun 100, bersama sahabatnya Plinius yang Muda, ia menjadi jaksa penuntut untuk Marius Priscus, prokonsul Afrika, dengan tuduhan korupsi. Priscus diputuskan bersalah dan dihukum ke pembuangan. Plinius menulis beberapa hari kemudian bahwa Tacitus berbicara dengan segala kefasihan yang menjadi ciri pidato-pidatonya. Di saat absen dari politik dan hukum, ia menyelesaikan 2 karya besarnya: Histories dan Annals. Pada tahun 112 atau 113 ia diangkat untuk jabatan tertinggi bagi orang sipil, yaitu gubernur provinsi Romawi untuk Asia di sebelah barat Anatolia, yang tercatat dalam prasasti di Mylasa. Ia meninggal setelah Plinius yang Muda dan Trajan, tahun terakhir tulisannya adalah 116 M, tetapi mungkin meninggal beberapa tahun kemudian. Tidak diketahui jelas mengenai anak-cucunya. Kaisar Marcus Claudius Tacitus mengaku sebagai salah satu keturunannya dan menjaga pengawetan tulisan-tulisannya. 

Salah satu tulisannya yang saat ini banyak dikenal adalah Annals, buku 15, pasal 44 yang ditulis tahun 116 M, dimana terdapat satu bagian mengenai Kristus, Pontius Pilatus, dan pembunuhan massal terhadap orang-orang Kristen setelah kebakaran 6 hari yang menghanguskan sebagian besar kota Roma di bulan Juli 64 M yang disulut oleh Kaisar Nero. 

"Akibatnya, untuk menyingkirkan laporan itu, Nero menimpakan kesalahan dan memberikan siksaan yang paling berat untuk suatu kelompok yang dibenci karena ketidaksalehan mereka (terhadap dewa-dewa Romawi), disebut "Kristen" oleh masyarakat. Kristus, orang yang menjadi asal dari nama itu, menderita hukuman ekstrem dalam pemerintahan Tiberius di tangan seorang procurator kita, Pontius Pilatus, dan takhayul yang sangat menyesatkan, seperti telah diteliti saat ini, menyebar lagi tidak hanya di Yudea, sumber pertama kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana semua hal yang menjijikkan dan memalukan dari berbagai bagian dunia menemukan pusatnya dan menjadi populer. Karenanya, dilakukan penahanan kepada semua yang mengaku bersalah; kemudian, berdasarkan informasi mereka, orang-orang berjumlah banyak didakwa, bukan hanya untuk kejahatan membakar kota, tetapi pula untuk kebencian terhadap manusia. Segala bentuk pengejekan juga ditambahkan kepada kematian mereka. Ditutupi dengan kulit binatang, mereka dicabik-cabik oleh anjing-anjing dan binasa, atau dipakukan di kayu salib, atau dilemparkan ke dalam api dan dibakar, menjadi terang pada waktu malam, ketika hari sudah berakhir." 

Narasi ini mengandung referensi terhadap sejarah kekristenan dari sudut pandang non-Kristen, termasuk kisah kematian Kristus, yang mengkonfirmasi catatan-catatan Injil, serta penganiayaan orang-orang Kristen pada abad pertama dalam Kerajaan Romawi. Meskipun ditulis 52 tahun setelah peristiwanya, pakar sejarah menghargai tulisannya otentik. Ada juga beberapa kesalahan, misalnya jabatan Pontius Pilatus yang ditulisnya sebagai prokurator, padahal pada masa Pontius Pilatus jabatan itu disebut prefek, seperti yang ditulis dalam Injil dan dibuktikan dengan penemuan prasasti yang dibuat Pontius Pilatus sendiri di provinsi Iudaea.

No comments: