Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jul 11, 2017

Penyaliban

“apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati lalu dia dihukum mati lalu dia dihukum mati kemudian kau gantung dia pada sebuah tiang , maka janganlah mayatnya dibiarkan semalaman pada tiang itu , tetapi haruslah menguburkan dia pada hari itu juga sebab seorang yang digantungkan terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajis kan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, Kepada mu menjadi milik pusakamu” ULANGAN 21:22-23

Penyaliban merupakan sebuah bentuk hukuiman mati pada saman kuno, dimana korbannya diikat atau dipaku pada ting kayu atau salib. Alkitab menyinggung tentang penyaliban dalam Ulangan 21:22-23.
Namun pada zaman Musa dalam sejarah Yahudi, korbannya biasanya dilempari batu terlebih dahulu kemudian setelah mati digantung dipohon, sebagai tontonan umumtentang kutukan Allah dan Manusia. Tindakan penyaliban dimana tertuduh diikat dipohon ting atau salib sebagai sarana kematian kemudian diperkenalkan oleh budaya non-Yahiudi.
         
Hukuman mati pada zaman kono sangat brutal, bahkan tiga bentuk eksekusi paling barbar dikatakan adalah crux ( Latin :salib , siksaan ; penyaliban) cremation (membakar hidup-hidup dengan api) dan decollation ( penggal kepala) dari ketiganya penyaliban dipandang paling brutal. Cicero merupakan “kematian merupakan kematian paling kejam dan mengerikan”. Penyaliban tampaknya berasal dari budaya Asyur dan Babel yang menarik kedua bangsa inilah yang membawa kedua orang Yahudi kepembuangan. Bangsa Asyur menaklukan kerajaan Utara (Israel) pada 722 SM dan bangsa babel menaklukan Kerajaan Selatan (Yhudea) Pada 605 SM.
         
Namun penyaliban kemungkinan juga dipakai sebagai sarana eksekusi secara rutin oleh bangsa Persia pada abad 6 SM. Bangsa Persia 600 tahun tahun sebelum Yesus Disalibkan oleh bangsa romawi , secara khusus mengikat korban pada pohon atau menyulakan pada tiang vertiaka, dalam kitab Ezra raja Persia Koresy, mengeluarkan putusan
         
“Selanjutnya telah dikeluarkan perintah oleh ku, supaya setiap orang yang melanggar keputusan ini akan dicabut sebatang tiang dari rumahnya untuk menylakannya pada ujung tiang itu , dan supaya rumahnya dijadikan reruntuhan oleh karnba hal itu”, (Ezra 6:11)
         
Hukuman penylaan pada tiang atau tonggak yang yang brutal ini merupakan contoh crux simplex.  Sama halnya dalam Ester 2, ketika raja Persia Ahasyweros mendengar persekongkolan yang direncanakan oleh 2 penjaga untuk membunuhnya, dia menyuruh dua orang itu disulakan ditiang, dan haltersebut merupakan bentuk setandar penyaliban di Persia kuno. Ayah Ahasyweros raja Darius. Satu kali menghukum mati 3000 orang melalui penyulaan diatas tiang crux simplex dicatat dalam Ester 5 Haman dan isrtinya berencana untuk menyluhkan Mordekhai pada ting setinggi 22 meter yang akan terlihat dari seluruh penjuruh, mereka mungkin merupakan bentiuk penyaliban primitif yang melibatkan penyulaan atau pengan tungan di Ting kayu. Baru belakangan dalam sejarah salib yang digunakan untuk penyaliban memakai bentuk yang kita pandang “tradisional”.
Alexander Agung (356-323 SM) raja Makedonia yang mepopulerkan zaman Helenistik , membuat bahasa yunani sebagai bahasa universal dipemerintahan meupun dikesusahstraan. Ia diduga belajar penyaliban dari budaya yang sudah disebutkan sebelumnya dan akibatnya memperkenalkan penyaliban diwilayah di Mediterania pada abad ke 4 SM , setelah itu penyaliban dipelajari dan dilakukan di Mesir, Syiria,Fenisia dan Kartago. Selama perang Punik antara Kartago dan Roma, bangsa Roma belajar tentang teknik penyaliban dan dengan cepat memakainya sebagai hukuman mati. Bangsa Romawi Menggunakan penyaliban sebagai hukuman mati beberapa ratus tahun sampai dihapuskan oleh kaisar Konstantin I karena cara tersebut dipandang kejam. Otang Yunani tidak melakukan penyaliban karena mereka memandang penyaliban adalah tindakan yang brutal dan tidak manusiawi.

Bangsa Romawi Menyempurnakan Tekniknya
         
Pada zaman Yesus Kristus, Romawi merupakan budaya yang dominan  dan secara rutin mengunakan mengunakan penyaliban sebagai metode utama hukuman mati. Cara ini trutama diterapkan pada bangsa non- Romawi, kecuali dalam situasi khusus sepertio desersi militer. Bangsa romawi menyalibkan orang Keristen, orang asing, pemberontak dan budak. Pada zaman Kristus, Roma secara rutin menyalibkan para pemberontak, terutama orang Yahudi. Misalnya , pada zaman 4 SM bangsa romawi menyalibkan sekitar 4000 orang bangsa Yahuidi.
         
Di Palestina, pada abad pertama yang diduduki oleh Romawi, pemberontakkan terhadap pendudukan pendudukan Romawi merupakan hal yang biasa, khususnya oleh para pejuang agama. Bangsa Romawi membuanuh banyak orang karena meperotes pemerintah. Tidak semuanya adalah penjahat, seperti pencuri dan pembunuh. Sesungguhnya tuduhan terhadap Kristus, mencangkup pemberontakan dan rencana untuk mengulingkan pemerintahan Romawi dengan meneguhkan dirinya sebagai Raja. Para pemimpin agama juga menuduh Dia melakukan penghujatan, ketika Yesus berdiri didepan Pilatus Para pemimpin menyatakan “jikalau Dia bukan seorang penjahat, kami tidak akan meyerahkan kepadamu”  (YOH 18:3). Namun bangsa Yahudi dibawah Romawi tidak memiliki otoritas untuk melakukan hukuman mati, sehingga mereka harus memohon kepada pemerintah Romawi . itulah sebabnya Yesus tampil dihadapan Pilatus setelah dituduh oleh iman besar dan MAhkama Agama, atau dewan pemerintah yahudi.
         
Bangsa Romawi meneruskan hukuman penyaliban lama setelah Yesus mati. Yosephus mencatat bahwa, selama bangsa Romawi mengambil alih Yerusalem pada 70 M, ratusan tahanan Yahudi disalibkan, setelah mereka bangkit menetang Romawi yang menahan Mereka. “mereka pertama dicambuk kemudian disiksa dengan segala macam siksaan sebelum mereka mati dandisalibkan didepan tembok kota…. Para perajurit, karena mara dan benci terhadap orang Yahudi, menyalibkan orang orang yang mereka tangkapdikayu salib dengan posisi berbeda-beda,sebagai bahan lelucon”
Yosephus juga mencatat tindakan kasus tidak manusiawi yang dilakukan oleh Antiokhus IV dimana anak korban dicekik dan digantungkan disekeliling lehernya, kekejaman ini terjadio selama penghancuran Yerusalemdan bait suci pada 70 M oleh Romawi dan telah dinubuatkan oleh Yesus dalam LUKAS 23: 28-30, sementara memikul salibnya ke Golgota sebagai respon kepada permpuan –perempuan yang meratapi dan menangisi Dia.
         
Nubuat ini tidak diragukan dan diingat oleh orang – orang yang hadir saat penyaliban ketika itu digenapi sekitar 30 tahun kemudian, saat jendral Romawi Vespasianus menyerahkan kepemimpinan atas Yerusalem pada 69 M kepada anaknya Titus. Titus merampok dan membakar kota Yerusalem , situasinya begitu memiluhkan. Ibu-ibu melihat anak laki-laki mereka dibunuh dan mayat mereka ditumpuk dijalan –jalan. Dikataka ibu-ibu yang bahawa kelaparan membunuh dan memakan bayi mereka sendiri untuk bertahan hidup. Kristus menubuatkan bahwa Invasi Romawi yang akan dating begitu mengerikansehingga kaum perempuan berharap agar mereka tidak mempunyai anak supaya mereka tidak melihat kematian anak mereka yang mengerikan itu. Orang-orang yang bertahan hidup dijual sebagai budak jika berusai dibawah 17 M sehingga tidak ada cukup ruang untuk semua salib itu dan tidak cukup salib untuk seluruh tubu mereka.
Penyaliban masal oleh Romawi dicatat oleh Tentara Romawijuga dicatat oleh Lucius Anneus Seneca (4-65SM): “saya melihat salib-salib disan bukan hanya 1 jenis, tetapi tebuat dalam banyak cara berbeda. Beberapa menyalibkan korban mereka dengan dengan kepala dibawah menghadap ketanah beberapa menylakan bagian tubuh pribadi mereka, yang lain merentangkan tangan mereka”.

Aspek Teknis Penyaliban

Setelah koban dipandang bersalah dan dihukum mati dengan cara disalibkan satu tim tentara memimpin dia dalam prosesi yang penuh penghinaan ketempat kematian. Hal ini dilakukan supaya orang takut, bahakan untuk memikirkan melakukan kejahatan yang sama seperti tertuduh. Prajurit pada bagian depan prosesi membawa plakat yang dikena dengan istilah  titulus yang memuat nama korban dan kejahatannnya. Prajurit itu menempelkan  titulus  pada bagian atas tiang kayu yang panjangnya ditempat yang cukup tinggi sehingga orang yang lewat bisa melihatnya dengan jelas. Korban biasanya ditelanjangi saat disiksa sebelum penyaliban dan dipaksa memikul  patibulum  dalam keadaan telanjang. Ini merupakan taktik yang dimaksudkan untuk menimbulkan rasa malu lebih lanjut. Hukum Romawi mewajibkan korban penyaliban untuk dicambuk, atau dipakasa untuk dicambuk sebelum dieksekusi hanya perempuan yang dikecualikan. Pencambukan dimaksudkan untuk membuat korban lemah bukan untuk membunuh. Namun, beberpa korban sudah mati karana pencambukan. Selain itu orang romawi menggunakan bentuk siksaan lainnya seperti pemenggalan lidan dan pencungkilan mata para koraban.
Setelah tertuduh dibawa kelokasi, dipakukan di  patibulum dan didirikan diistipes seorang pemimpin romawi memimpin penyiksaan sampai mati, yang bisa memakan waktu 3 sampai 4 hari. Kadang-kadang orang mati tersebut ditingalkan disalib hingga dimakan burung-burung buas atau kutu. Pembusukan dalam iklim yang hangat akan terjadi dengan cepat, dan menghasilkan bau buasuk yang menembus perbatasan. Namun, hukumn Romawi mengisinkan keluarga korban untuk menurunkan mayat itu dan harus diturunkan sebelum matahari tengelam “maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi engkau harus menguburkan dia pada hari itu juga”  (ULANGAN 21:22). Kadang – kadang jika kematian harus dipercepat, tulangkaki yang panjang akan dipatahkan, satu proses yang dikenal sebagai pematahan tulang. Karena orang yang disalib menggunakan kakinya untuk mendorong tubuhnya keatas kayu salib untuk bernapas, mamatahkan tulang kaki membuat orang itu tidak mungkin bernapas dan mengeluarkan napas dengan semestinya, akibatnya terjadi sesaknapas dan kematian yang cepat.

Penyaliban Dihapuskan

Penyaliban diperkirakan dilakukan selama beberapa abad sebelum keristus dilahirkan dan tumbuh subur diseluruh kekaisaran Romawi sampai dihapus sampai bentuk hukuman mati, oleh kaisar Romawi Kristen pertama, Konstantin I pada 337 M. meskipun demikian tidak terhitung berapa banyak orang yang dihukum mati dengan cara demikian, yang tidak hanya menderita secara jasmani melaikan juga menanggung olokan dan secara malu secara sosial, sesungguhnya karena sifat cabul dan dan rasa malu yang berkaitan denga prosesi penyaliban,hal itu bukan merupakan topic yang akan dibahas dalam penyaliban. Cicero mencatat” kata salib harus dijaukan, bukan hanya untuk Bangsa Romawi, melainkan dari pikiran, mata dan telinga mereka” kita sebagai orang keristen sebaiknya mengingat kutukan penyaliban yang dijalani Yesus dengan sukarela untuk menebus semua orang yang menaruh Iman mereka kepada-Nya. Rasul Paulua meringkaskan semua ini dengan baik dalam Galatia 3:13 “ Kristus telah menebus kita dari kutuk hokum taurat dengan jalan menjadin kutuk karna kita seban ada tertulis: “terkutuklah orang yang digantung dikayu salib”.

No comments: