Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Jun 5, 2014

Derajat Wanita Bagaimanakah Diangkat Muhammad?

Dalam situs ini sudah cukup banyak artikel yang membahas tentang diskriminasi yang dialami wanita Muslim. Sayangnya, hampir seluruh umat Muslim (khususnya kaum pria) menolak. Menurut mereka apa yang dilakukan Muhammad justru mengangkat derajat wanita. Benarkah demikian?

Pandangan Allah Terhadap Wanita di Al-Quran

Mari kita lihat bagaimana Allah dalam Al-Quran menempatkan wanita. Siapa-siapa wanita yang dimunculkan Allah dalam wahyu-Nya di Al-Quran. Dengan mengetahui ini, berharap kita dapat melihat wanita mana yang disebut-sebut sebagai sosok teladan yang ditinggikan Allah.

Bila saudara seorang Muslim, mungkin akan sedikit kecewa. Karena hanya satu wanita disebut dalam Al-Quran. Yaitu Maryam, ibunda Isa Al-Masih. Namanya disebut sampai 34 kali!

Bagaimana nama Siti Aminah, ibunda dari Muhammad? Juga nama Khadijah yang disebut mayoritas Muslim sebagai sosok yang lebih besar kemuliaannya ketimbang Maryam? Nama mereka tidak dimunculkan sama sekali dalam Al-Quran.

Al-Quran Menempatkan Wanita di Bawah Kaki Pria

Mengapa Allah Islam tidak menempatkan wanita sejajar dengan pria? Apakah karena pria pemimpin sehingga wanita di bawah kaki pria?

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. . . . Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka" (Qs.4:34).

Ayat Lain Al-Quran yang Merendahkan Wanita

Bagaimana Al-Quran menilai wanita? Kita dapat merenungkan apakah benar ayat-ayat ini datang dari Allah sendiri: Qs 4:32 dan 38:44 mengizinkan pemukulan istri; Qs 2:228 dan 24:31 yang meletakkan wanita dibawah pria. Qs 5:6 yang menganggap wanita itu najis dalam kaitan salatnya pria; Qs 4:24 dan 33:52 yang melecehi budak wanita.

Hadis-hadis Juga Merendahkan Wanita

Terdapat juga hadis yang merendahkan martabat wanita. Hadist Bukhari 6/301 meriwayatkan alasan mengapa wanita lebih banyak di neraka, yaitu karena kurang otak dan agamanya. Hadist ini menegaskan wanita sebagai penghuni mayoritas neraka. HSB 62:81 meriwayatkan hal terpenting yang dibawa wanita ke dalam pernikahan adalah apa yang ada di antara kedua kakinya!

HSB 62:58 menjelaskan betapa wanita-wanita yang disodorkan kepadanya, apabila dia (Muhammad) tidak berkenan maka dihadiahkan kepada pria lainnya! Hadis Muslim 4:1039 meriwayatkan Aisha berkata kepada Muhammad, "Engkau telah menyamakan kami dengan anjing dan keledai."

Jadi, benarkah Muhammad membawa pembaharuan martabat wanita ketimbang jaman Jahiliah?

Wanita Masa Pra-Islam Arab

Hal-hal penting apakah yang dilakukan Muhammad dan Islam dalam meningkatkan status wanita? Apakah cocok dengan klaim para apologet Muslim? Untuk mengentahuinya, kita perlu melihat sumber sejarah yang menggambarkan kehidupan di seputar masa Muhammad.

Ada dua sejarawan Islam, Ibn Ishaq (ahli sejarah Arab pertama yang mengarang biografi Muhammad. Hidup antara 704-774 SM) dan al-Tabari yang melukiskan pelbagai peristiwa tentang kehidupan wanita di Arab sebelum Islam. Menurut Sirat Rasul Allah oleh Ibn Ishaq, yang diterjemahkan oleh Muhammad b. Yasr, ada begitu banyak suku-suku yang mendiami Arabia sebelum keberadaan Muhammad.

Suku-suku ini mempunyai tabiat dan budaya yang berbeda-beda. Di beberapa suku, wanita mempunyai kedudukan yang rendah. Di suku-suku lain, para wanitanya menikmati banyak kebebasan dan kemandirian. Kebebasan ini justru kemudian dikekang oleh pemberlakuan hukum-hukum Islam yang ditegakkan oleh Muhammad.

Wanita-wanita Berkuasa di Zaman Pra-Islam

Berikut adalah contoh wanita-wanita yang "berkuasa" pada zaman pra-Islam, yang ditulis oleh Ibn Ishaq dalam bukunya.

1.Seorang wanita bernama Salma d. 'Amr, disebutkan mempunyai kedudukan tinggi di antarakaumnya. Ketika akan menikah dia mengajukan syarat, untuk tetap mempertahankan kontrol atas pekerjaan dan urusannya (halaman 59).

2.Seorang wanita melamar untuk menikah dengan Abdullah. Dia memberikan unta-unta sebagai mas kawin jika Abdullah mau menikahinya (halaman 68). Bila wanita-wanita pra-Islam hanya sebagai budak tanpa hak (tidak mandiri) tidak mungkin mereka memiliki unta-unta. Merekapun tidak diijinkan melamar pria untuk pernikahannya.

3.Khadijah, isteri pertama Muhammad. Khadijah adalah seorang pedagang kaya yang mempekerjakan sejumlah orang pria. Muhammad sendiri mulai bekerja padanya sebagai karyawan. Bukankah akhirnya Khadijah yang melamar untuk menikahi Muhammad?

Kita dapat mencatat setidaknya ada empat kemartabatan yang dimiliki Khadijah di atas wanita Islamis Sharia: (1) Seorang wanita pedagang besar, (2) Memimpin sejumlah pegawai bawahan, (3) Melamar pria (Muhammad) yang inginkannya untuk menikahinya, (4) Dia adalah satu- satunya isteri Muhammad hingga dia meninggal.

Berdasarkan empat contoh di atas, dapatkah kita mengambil kesimpulan, Islam tidak meningkatkan martabat wanita di tanah Arab?

Reformasi Isa Al-Masih Tentang Wanita

Para pengikut Isa Al-Masih percaya akan model pembaharuan yang diserukan-Nya. Keteladanan-Nya senyawa dengan apa yang diperkatakan-Nya.
Ia memberi perhatian dan waktu khusus untuk mengajari Maria (bukan ibu-Nya), "Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya."

Kepada Marta, saudara Maria, Ia mengajar sekaligus menegur: "Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya" (Injil, Rasul Lukas 10:38-42).

Penghormatan Yesus juga didemonstrasikan kepada seorang wanita berdosa Ia datang kepada-Nya untuk mendapatkan belas kasih-Nya. Dan Dia mendapatkannya dengan cuma-cuma (Injil, Rasul Lukas 7:36-39).

Nilai Kesaksian Wanita

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus justru menyatakan diri terlebih dulu kepada murid-murid wanita-Nya. Mereka orang pertama di antara semua murid-Nya yang menjadi saksi atas kebangkitan-Nya (Injil, Rasul Besar Matius 28:8-10).

Artinya, nilai kesaksian wanita diangkat dan dihargai Yesus sama dengan pria. Kemartabatan mereka sama dengan kaum pria, tidak menjadi separuh kesaksian pria. Inilah bukti bahwa Yesus menempatkan pria-wanita adalah satu. "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus" (Injil, Surat Galatia 3:28).

Pria dan Wanita Mendapat Hak Sama Tentang Keselamatan

Yesus tidak hanya mereformasi hak-hak wanita secara jasmani. Dalam hal keselamatan, Yesus juga memberi kesempatan yang sama kepada pria dan wanita. Yesus rindu, melalui jaminan keselamatan yang dibawa-Nya, sorga Allah akan ditempati oleh pria dan wanita.

Suatu hari Yesus berkata kepada seorang wanita Samaria. Suku yang tidak bersahabat dengan bani Israel, "Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Injil, Rasul Besar Yohanes 4:14).

Melalui keselamatan yang dibawa-Nya, Yesus telah mematahkan penghalang rasial dan kultural. Kepada wanita Samaria tersebut, Dia menunjukkan identitas-Nya yang sesungguhnya sebagai Mesias. Juga Dia telah memberikan satu hidup kekal kepada wanita tersebut.

1 comment:

Anonymous said...

Mengapa Al-Quran (yang “Allah”-nya Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) begitu menurunkan derajad wanita sehingga mengajarkan poligami (Sura 4:3)? Mengapa Al-Quran ini mengajarkan laki-laki begitu mudah ”mengganti isterimu dengan isteri yang lain” (Sura 4:20, dan banyak ayat lain)? Mengapa Al-Quran ini menyuruh suami “pisahkanlah mereka (isteri) dari tempat tidur, dan pukullah mereka” (Sura 4:34)? Padahal ada hadits “Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis” (Bukhara). Kasihan sekali perempuan dalam dunia Islam, bukan saja suaranya/kesaksiannya tidak sama dengan laki-laki (semua atas dasar perintah Allah yang Maha Pengasih), tetapi mereka juga disebut “alat perangkap setan“ (Asysyihab) dan paling banyak menghuni neraka. “Aku telah menyaksikan neraka yang penghuninya paling banyak kaum wanita" (Bukhari).