Sejarah Dunia Kuno

Lion of Judah Open Doors 2019

Jun 5, 2014

Mengapa Al-Quran Diragukan Sebagai Firman Allah

Ada tiga agama yang disebut "agama dari Abraham," yaitu, Yahudi,  Kristen, dan Islam.  Agama Yahudi memakai Kitab Tanakh [Taurat dan Nabi]. Pengikut Kristen memakai Kitab Perjanjian Baru. Pengikut Islam memakai Al-Quran. Masing-masingnya mengakui Nabi Abraham. Namun,  melihat Firman Allah dengan cara pandang yang berbeda.

Agama Yahudi - Tanakh

Ada dua puluh orang nabi yang diwahyukan Allah menulis Tanakh dalam waktu lebih dari 1,000 tahun. Dalam prosesnya, setiap wahyu baru harus dicek dengan wahyu yang telah diterima menjadi Firman Allah. Misalnya, Musa menulis Taurat dan menceritakan tentang Abraham. Kehidupannya sering dirujuk sebagai contoh oleh nabi lainnya. Umat Yahudi percaya, kisah Abraham harus berjalan beriringan.

Demikianlah, dalam Tanakh, ada ratusan ribu persetujuan antara ayat satu dan yang lain. Walaupun Tanakh ditulis selama 1,000 tahun, tidak ada wahyu yang merubah atau mengoreksi dari wahyu yang sebelumnya. "Menurut hukum-hukum-Mu semuanya itu ada sekarang, sebab segala sesuatu melayani Engkau" (Kitab Mazmur 119:91).

Agama Kristen - Perjanjian Baru

Kitab Suci Kristen disebut  Perjanjian Baru. Diwahyukan selama 50 tahun kepada sembilan rasul keturunan Yahudi. Nabi Kristen memandang Tanakh sebagai firman Allah yang tidak dapat dirubah. Mereka juga tetap melanjutkan tradisi Yahudi tentang wahyu Allah.

Isa Al-Masih sendiri sering mengutip tulisan dari Tanakh. Dia berkata, "Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi" (Injil, Rasul Besar Matius 5:18).

Setujukah Al-Quran dengan Tulisan Para Nabi Sebelumnya?

Al-Quran seringkali merujuk nabi-nabi Yahudi dan Kristen, terutama Nabi Abraham dan Kalimat Allah, Al-Masih. Setidaknya ada kira-kira lima puluh cerita dari Tanakh dan Perjanjian Baru / Injil yang dirujuk. Bahkan salah satu ayat Al-Quran mengatakan  "Dia menurunkan Al Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil" (Qs 3:3).

Namun, ada perbedaan antara Muhammad dan nabi-nabi yang sebelumnya. Muhammad tidak mengutip Tanakh atau Perjanjian Baru secara teliti. Justru apa yang diceritakan dalam Al-Quran berbeda dibandingkan Taurat dan Injil.  Sungguh membingungkan, bukan?

Berita Utama dalam Kitab Allah

Tulisan ini membahas kejernihan wahyu Allah. Namun demikian, janganlah kita melupakan berita utama yang termuat dalam kitab-kitab ini. Yaitu, Isa Al-Masih datang ke dunia sebagai "rahmat dari Allah"! (Qs 19:21). Tanakh mencatat "segala kejahatan kita ditimpakan kepada Dia" (Kitab Nabi, Yesaya 53:6). Injil dengan jelas menekankan "Isa menanggung dosa kita dan menjadi Juruselamat Dunia" (Injil, 1 Petrus 2:24, 3:18).  Saudara diundang menerima keselamatan yang disediakan-Nya.

1 comment:

Tawangalun said...

Bagaimana Pandangan Al-Quran Tentang Allah?

Menurut Sura 113 Allah adalah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tetapi kita juga dapat menemukan dalam Al-Quran beberapa kata-kata yang menandakan bahwa Allah adalah Allah yang menakutkan, diantaranya Sura 32:12 “Dan kalau kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya, akan tetapi telah tetaplah perkataanKu: Sesungguhnya akan Aku penuhi jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama”. Sura 42:44 “Dan siapa-siapa yang disesatkan Allah maka baginya tidak ada seorang pemimpin sesudah itu.“ dan Sura 35:8 “Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya dan menunjuk siapa yang dikehendakiNya…”

* Jika benar Allah adalah Allah yang kejam seperti yang dikatakan pada ayat diatas, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi dan menyembah “Allah” semacam itu? Sangat berbeda dari Allah di dalam Alkitab, yang sungguh mengasihi manusia sehingga bersedia mati dikayu salib supaya dapat menyelamatkan manusia yang berdosa, bukan malah mau menyesatkan mereka!