Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Jul 10, 2015

Israel di Zaman Byzantium-Arab (638M-1099M)

Mayoritas penduduk wilayah Palestina-Israel terdiri dari orang-orang Arab. Di dalam sejarah Timur Tengah ditemukan istilah-istilah Arab Yahudi, Arab Kristen dan Arab Muslim. Proses Arabisasi kebudayaan dan bahasa di wilayah itu telah mulai dari tahun 638M, dan berangsur-angsur terjadi selama 1360 tahun. Walaupun proses itu sering disamakan dengan proses Islamisasi hal itu tidak tentu benar. Arabisasi terutama adalah berkaitan dengan kebudayaan dan bahasa namun dampak perkembangan Islam juga merupakan suatu pengaruh yang sangat besar.

Dalam bukunya, "Arab and Jew in the Land of Canaan" dijelaskan oleh Ilene Beatty bahwa ada pelbagai suku bangsa yang datang di Kanaan dan mereka "merupakan tambahan, kelompok-kelompok yang dicangkokkan pada pohon silsilah penduduk Palestina. Para penyerbu Arab di abad ke-7M telah mengislamkan sebagian besar penduduk asli dan sejak itu telah bermukim sebagai penduduk, dan kawin-campur dengan penduduk asli sehingga semua orang di sana kemudian mengalami Arabisasi sampai kita tidak dapat menyatakan kapan peradaban Kanaan berakhir dan kapan peradaban Arab mulai."

Orang-orang Yahudi dibagikan antara Yahudi Arab, Yahudi Eropa, Yahudi Asia dan Yahudi Afrika. Kenapa ada sekelompok yang disebut 'Yahudi Arab'? Ini terjadi karena di sepanjang sejarah Timur Tengah ada sejumlah besar orang Yahudi yang mengalami Arabisasi bahasa dan kebudayaan walaupun mayoritas orang Yahudi tidak menjadi penganut agama Islam.

Kemenangan dan Pemerintahan Arab di Israel (635M-638M)

Sesudah kematian Muhammad, Islam telah mulai berekspansi ke negara-negara yang lain dengan tujuan akhir, menggenapi seruan jihadnya untuk menghancurkan kekuasaan Kerajaan Bizantium dan Kekristenan dan merebut kota Konstantinopel. Tentara-tentara jihad telah masuk dan menguasai kota Yerusalem sekitar tahun 635-638. Namun pada masa itu kota Yerusalem lebih dikenal dengan nama Romawi, Aelia, sampai abad ke-10 ketika diberi nama bahasa Arab, al-Quds (Kota Kudus). Wilayah Yerusalem ataupun wilayah Palestina-Israel tidak pernah dipimpin bangsa-bangsa Arab sebagai sebuah 'bangsa'. Ketua Delegasi Syria di Konferensi Perdamaian Paris, Februari 1919 mengatakan: "Satu-satunya dominasi Arab sejak dikuasai pada tahun 635M hanya bertahan, pada dasarnya, 22 tahun".

Wilayah it hanya didominasi secara "politik" saja sehingga dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi "kehilangan tanahnya", karena tidak pernah mereka meninggalkannya sehingga kosong secara fisik, ataupun meninggalkan klaimnya atas wilayah itu sebagai bangsanya.

Selanjutnya kota Yerusalem adalah kota kudus untuk tiga agama keturunan Abraham (Yahudi, Kristen dan Islam). Waktu tentara-tentara Arab mengambil alih kota Yerusalem, mereka telah menduduki lokasi-lokasi sakral yang telah menjadi tujuan ziarah Kristen dan Yahudi. Mulai dari waktu itu sudah ditanam benih-benih konflik tentang hak milik semua lokasi sakral yang kemudian diperebutkan umat Kristiani selama Perang Salib bahkan sampai masa kini oleh kaum Yahudi, khususnya Bukit Moria, tempat Abraham mempersembahkan anaknya kepada Tuhan, yang juga adalah lokasi Bait Suci Solomo dan hari ini lokasi Quba Emas dan Mesjid Al-Aqsa.

Membangun Mesjid Umar, atau Quba Emas

Umar (kalif pertama), waktu tiba di Yerusalem meminta agar diantar ke Bukit Bait Suci, suatu pengakuan bahwa agama Islam menerima dan mengakui tradisi para nabi Ibrani. Setelah mencapai puncak Bukit itu, Kalif Umar merasa mual melihat daerah itu telah menjadi daerah pembuangan sampah oleh orang-orang Kristen sebagai penghinaannya terhadap agama orang-orang Yahudi. Umar, karena telah menghormati orang-orang Yahudi, telah memberi perintah agar lokasi itu dibersihkan. Tindakan tersebut menjadi langkah pertama untuk mempersiapkan lokasi sakral Yahudi menjadi lokasi ibadah Muslim.

Pada awal zaman Arab, mayoritas penduduk Yerusalem beragama Kristen. Konstruksi Dome of the Rock, Quba Emas itu, pada tahun 691, gedung sakral Muslim pertama di Israel, bertujuan menyaingi Gereja Makam Kudus. Baik Quba Emas, yaitu Dome of the Rock dan Gereja Makam Kudus dibangun berdasarkan gambar bentuk dan ukuran yang sama, tetapi Dome of the Rock dihiasi dengan ayat-ayat anti Ketritunggalan Allah dari Al-Qur'an. Awalnya, orang-orang Muslim seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi di Arab Saudi, telah menghadap ke Yerusalem waktu berdoa. Namun, pada waktu orang-orang Yahudi yang adalah mayoritas penduduk Medina telah menolak kerja sama secara agama dan politik dengan umat Islam bahkan menolak klaim kenabian Muhammad, maka ada pewahyuan baru yang turun dari Allah yang memerintahkannya memindahkan arah doa, kiblat, dari Yerusalem ke Mekka (John L. Esposito; Islam: the Straight Path; Oxford University Press: New York, 1991; hal.16).

Quba Emas dibangun di atas lokasi Bait Suci Herodes dan dekat dengan Tembok Ratapan, satu-satunya bagian dekat Bait Suci Solomo yang masih ada. Ajaran tradisi-tradisi Islam menunjukkan bukit batu kudus itu sebagai tempat awal kenaikan Muhammad ke Surga untuk menerima pewahyuan akhir Allah dalam bahasa Arab.

Dalam membangun Quba Emas, para pemimpin Arab di Palestina telah menyampaikan respek mereka untuk kota Yerusalem, sebagai kota para nabi dari Abraham ke Musa ke Yesus, dan berakhir dengan Muhammad, "meterai para nabi." Quba Emas adalah monumen Islam tertua di dunia dan untuk kebanyakan orang adalah yang terhebat. Pembangunan Quba Emas telah menjadi simbol kemenangan Islam atas agama Yahudi, agama Kristen, dan rasa tidak aman umat Islam di dalam sebuah kota yang mayoritas Kristen sampai Salah al-Din mengusir para Laskar Salib dari Yerusalem pada tahun 1187. Dalam membuat Quba Emas sebagai kopian Gereja Makam Kudus yang lebih tinggi dan lebih mulia agar menjadi saksi nyata kepada semua orang Yahudi dan Kristen, tentang kuasa dan keabadian agama Islam di Kota Kudus (Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 207).

Kalif Umar juga telah memenuhi aspirasi umat Yahudi dengan menolak permintaan para pemimpin Gereja untuk menolak izin untuk orang-orang Yahudi memasuki kota Yerusalem. Kebencian umat Kristen terhadap orang Yahudi di zaman itu sangat kuat karena umat Yahudi dianggap pembunuh Mesias. Pada tahun 638, setelah hampir 500 tahun orang-orang Yahudi dilarang masuk Yerusalem, maka komunitas Yahudi diizinkan lagi masuk dan tinggal di Yerusalem. Lalu sebagian kota Yerusalem dibangun kembali oleh masyarakat Yahudi di kota Solomo dan kota Daud (Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 214).

Orang Yahudi di Palestina-Israel di sepanjang zaman

Di balik propaganda bahwa orang-orang Yahudi setelah 1900 tahun meninggalkan tanah itu dan hanya belakangan "kembali lagi" ke Palestina-Israel dan menemukan tanah itu sekarang diduduki "Arab Palestina" adalah asumsi yang tidak benar. Walaupun mayoritas orang Israel telah mengungsi dari daerah Palestina-Israel, fakta sejarah menunjukkan bahwa ada seratus ribu orang Yahudi yang tidak pernah meninggalkan daerah itu bahkan ada banyak orang Yahudi yang menjadi penduduk di bangsa-bangsa lain di kawasan itu, seperti di Syria, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Irak, Iran, Turki dan Etiopia, selain yang mengungsi ke Eropa dan Afrika (Palestine Royal Commission Report (London, 1937), pp. 2-5, 7, 9, khususnya hal. 11, para. 23).

James Parkes, seorang ahli tentang hubungan Yahudi/non-Yahudi di Timur Tengah telah menganalisa "hak milik tanah" masyarakat Yahudi sebelum tahun 1948 dalam bukunya Whose Land? A History of the Peoples of Palestine (Harmondsworth, Middlesex, Great Britain: Penguin Books, 1970, p. 26,31,266). Diungkapkannya bahwa ternyata sejarah orang Yahudi setelah perlawanan Bar-Cochba di Masada tidak berakhir tetapi mereka telah mempertahankan eksistensi mereka di sepanjang sejarah walaupun ada banyak perlawanan terhadap kehadiran mereka secara fisik dan rohani di tanah tersebut, bahkan mereka tidak pernah menyerahkan klaim dan hak milik mereka yang dimilikinya sejak zaman eksodus (keluaran) dari Mesir dan masuknya Kanaan sekitar tahun 1500sM.

Pada tahun 438M orang-orang Yahudi dari Galilea dengan optimis mendeklarasikan bahwa, "masa pembuangan kami sudah berakhir" ketika Ratu Eudokia mengizinkan orang Yahudi berdoa di lokasi Bait Suci, tetapi tak lama kemudian mereka dibuang kembali dari Yerusalem (Avraham Yaari, Igrot Eretz Yisrael (Tel Aviv, 1943), p. 46).

Penemuan arkeologi telah membuktikan bahwa orang-orang Yahudi telah menyambut dengan senang bahkan bergabung dengan tentara Persia pada tahun 614M dan "telah mengalahkan pasukan Byzantium, penjaga Yerusalem," dan telah menguasai kota itu selama lima tahun (A. MaIamat, H. Tadmor, M. Stern, S. Safrai, Toledot Am Yisrael Bi'mei Kedem (Tel Aviv, 1969), p. 348, dikutip oleh Katz, Battleground, p. 88). Dua dekade kemudian, tahun 635-638, waktu tentara Arab masuk ternyata orang-orang Yahudi "telah menderita intoleransi dan kekerasan rejim Kristen selama tiga abad." (Parkes, Whose Land? p. 72.) Karena itu, harapan orang-orang Yahudi adalah mereka menjadi bebas dari dominasi rejim Kristen sehingga mereka menyambut tentara Arab sebagai tentara pemerdeka.

Tentara Arab Muslim yang masuk Yerusalem pada abad ke-7 telah menemukan masyarakat Yahudi yang sangat nyata. Pada waktu itu, "kita memiliki bukti bahwa orang-orang Yahudi telah tinggal di berbagai sudut bangsa itu dan di kedua tepi Sungai Yordan, dan bahwa mereka mendiami baik kota-kota dan desa-desa, dengan tetap melakukan perkebunan dan berbagai kerajinan tangan." Sejumlah orang Yahudi juga telah tinggal di Lydda dan Ramle."Masyarakat besar dan penting" orang-orang Yahudi telah tinggal juga di "Askalon, Kaesaria dan lebih lagi di Gaza, yang dijadikan sejenis Ibu Kota setelah mereka diusir dari Yerusalem."( Parkes, Whose Land? P.72 dan A Mediterranean Society, 3 vols. Berkeley, Los Angeles, London, 1971, vol. 2, p. 61).

Al-Waqidy, ahli sejarah Arab abad ke-9 mengatakan bahwa Yerikho juga punya masyarakat Yahudi. Pada abad ke-7 ada juga bukti masyarakat Yahudi di Yerikho (Itzhak Ben-Zvi, The Exiled and the Redeemed, Philadelphia, 1961, p. 146). Al-Waqidy yang datang dari Medina, dan telah mengunjungi Khaibar tak lama setelah terjadi suatu tragedi pembantaian Yahudi di situ pada abad ke-9. Dia mengatakan bahwa masyarakat Yahudi di Khaibar adalah mereka yang telah diusir dari Medina, dan sejak waktu itu orang-orang Yahudi tidak pernah lagi diizinkan tinggal di Medina. Dasarnya adalah implementasi dekrit Muhammad oleh Kalif Omar, "Jangan mengizinkan dua agama berada di Semenanjung Arabia" (Ibid., hal. 146). Masyarakat Yahudi yang pada waktu itu bergabung dengan Islam diizinkan tinggal di Medina sampai abad ke-13 (Dikutip dari Sheikh Abd Allah Al Meshad, dalam D.F. Green, ed., Arab Theologians on Jews and Israel (Geneva, 197 1), p. 22).

Zaman Khilafah Umayyad dan Abbasid

Khilafah Umayyad, telah meluas di seluruh Timur Tengah. Spanyol, Portugal bahkan sampai ke perbatasan Perancis dan India. Memang abad ke-7 dan ke-8 telah menyaksikan kemajuan teratorial Islam yang memulai zaman emas Islam dalam berbagai bidang. Kemajuannya telah melihat Syria jatuh pada tahun 634, Yerusalem 638, Mesir 638, Persia (Iran) 640, Afrika Utara 689, Portugal dan Spanyol 711 sampai Khilafah Umayyad diganti dengan Khilafah Abbasid pada tahun 750.

Setelah Khilafah Abbasid berkuasa di wilayah Palestina-Israel, peranan kota Yeruslem menurun drastis. Damaskus yang adalah ibu kotanya Khilafah Umayyad lalu Bagdad menjadi ibu kota Khilafah Abbasid. Daerah Palestina-Israel tidak lagi menjadi perhatian besar para sejarawan sampai muncul Perang Salib yang telah mulai tanggal 27 Nopember 1099. Masa Perang Salib itu akan dibahas di dalam artikel berikut.

Akhirnya, di sepanjang sejarah, sejak Israel menduduki wilayah Palestina di bawah pimpinan Yosua pada tahun 1500sM sampai masa jaya Islam di Timur Tengah tak pernah putus ada masyarakat Yahudi yang tetap menduduki wilayah itu, telah mengklaimnya sebagai Tanah Airnya, bahkan yang mengklaim mereka adalah korban jajahan, dari zaman Asyur, Babelonia, Yunani, Romawi, Kristen Bizantin bahkan sampai ke zaman Arab.

No comments: