Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jan 18, 2013

Saul

Saul telah gagal menjalani ujian iman di dalam keadaan yang sulit di Gilgal, dan telah mendatangkan celaan kepada pelayanan akan Allah; tetapi kesalahan‑kesalahannya itu belumlah merupakan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki kembali, dan Tuhan akan memberikan kepadanya suatu kesempatan yang lain untuk mempelajari pelajaran tentang iman yang teguh dalam Firman‑Nya, dan penurutan atas perintah‑Nya.

Pada waktu ditegur oleh nabi di Gilgal, Saul tidak menyadari adanya dosa yang besar di dalam jalan yang ditempuhnya. Ia merasa bahwa ia telah diperlakukan dengan tidak adil, dan berusaha membenarkan tindakannya, serta memberikan dalih atas kesalahannya itu. Sejak waktu itu ia jarang berhubungan dengan nabi. Samuel mengasihi Saul seperti anaknya sendiri, sementara Saul, yang sifatnya berani dan bersemangat, memandang nabi itu dengan sikap hormat; tetapi ia marah terhadap teguran Samuel, dan oleh sebab itu menjauhkan diri sedapat‑dapatnya daripadanya.

Tetapi Tuhan mengutus hamba‑Nya dengan satu pekabaran kepada Saul. Oleh penurutan ia sebenarnya dapat membuktikan kesetiaannya kepada Allah dan kelayakannya untuk berjalan di hadapan Israel. Samuel datang kepada raja dan menyampaikan Firman Tuhan. Agar supaya raja itu dapat menyadari pentingnya memperhatikan perintah itu, Samuel dengan tegas mengatakan bahwa ia berbicara atas perintah Ilahi, oleh wewenang yang sama yang telah memanggil Saul menjadi raja. Nabi itu berkata, "Beginilah Firman Tuhan semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." Bangsa Amalek pertama kali telah berperang dengan Israel di padang belantara; karena dosa ini, bersama‑sama dengan perlawanan mereka kepada Allah dan penyembahan berhala mereka yang merusak itu, Tuhan, melalui Musa, telah menjatuhkan hukuman atas diri mereka. Oleh perintah Ilahi sejarah kekejaman mereka terhadap Israel telah dicatat, dengan perintah, "Maka haruslah engkau menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kolong langit. Janganlah lupa!" Ulangan 25:19. Selama empat ratus tahun pelaksanaan hukuman ini telah ditunda; akan tetapi bangsa Amalek tidak berpaling dari dosa‑dosa mereka. Tuhan mengetahui bahwa bangsa yang jahat ini akan, jika dapat, melenyapkan umat‑Nya dan perbaktian‑Nya dari permukaan bumi ini. Sekarang waktunya telah tiba menjatuhkan hukuman, yang sudah lama ditunda itu untuk dilaksanakan.

Kesabaran yang telah ditunjukkan Allah kepada orang jahat itu, telah memberanikan manusia dalam pelanggaran; tetapi hukuman mereka sekali‑pun sudah lama ditunda pasti akan dilaksanakan dengan amat mengerikan. "Sebab Tuhan akan bangkit seperti di gunung Perasim, Ia akan mengamuk seperti di lembah dekat Gibeon, untuk melakukan perbuatan-Nya--ganjil perbuatan-Nya itu; dan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya--ajaib pekerjaan-Nya itu." Yesaya 28:21. Bagi Allah kita yang penuh rahmat tindakan menjatuhkan hukuman adalah suatu tindakan yang asing. "Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup." Yehezkiel 33:11. Tuhan adalah "penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, . . . yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa." Namun demikian Ia "tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman." Keluaran 34:6, 7. Sekalipun Ia tidak bersuka‑suka dalam pembalasan, Ia akan melaksanakan hukuman‑Nya ke atas orang‑orang yang melanggar hukum‑Nya. Ia terpaksa berbuat hal ini, untuk memelihara penduduk bumi dari kemerosotan dan kehancuran yang menyeluruh. Agar dapat menyelamatkan beberapa orang maka Ia harus menumpas mereka yang telah menjadi keras di dalam dosa. "Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah." Nahum 1:3. Oleh perkara‑perkara hebat di dalam kebenaran Ia akan membenarkan wewenang hukum‑Nya yang diinjak-injak itu. Dan kenyataan yang sama bahwa Ia merasa enggan melaksanakan hukuman yang adil itu menyaksikan betapa kejinya dosa-dosa yang telah menyebabkan datangnya hukuman‑Nya, dan betapa hebatnya pembalasan yang menunggu orang yang melanggar.

Tetapi sementara menjatuhkan hukuman, Allah juga mengingat rahmat. Bangsa Amalek harus dibinasakan, tetapi bangsa Keni, yang tinggal di antara mereka, dibiarkan hidup. Bangsa ini, sekalipun tidak sama sekali bebas daripada penyembahan berhala, adalah orang‑orang yang berbakti kepada Allah dan bersahabat dengan orang Israel. Dari suku bangsa inilah asalnya saudara mantu Musa, Hobab, yang telah menyertai Israel dalam perjalanan mereka melalui padang belantara, dan oleh pengetahuannya akan negeri itu ia telah memberikan pertolongan yang amat berguna.

Sejak kekalahan orang Filistin di Mikhmas, Saul telah mengadakan peperangan dengan bangsa Moab, Amon, Edom, dan melawan bangsa Amalek dan Filistin; dan ke mana saja ia mengarahkan senjatanya, ia memperoleh kemenangan‑kemenangan yang baru. Pada waktu menerima perintah untuk berperang melawan bangsa Amalek, dengan segera ia mengumumkan perang. Kepada wewenangnya itu ditambahkan pula perintah nabi, dan pada waktu menerima panggilan untuk berperang bangsa Israel berkumpul di bawah panji‑panjinya. Peperangan ini tidak boleh diadakan untuk kesombongan diri. bangsa Israel tidak akan memperoleh kehormatan daripada kemenangan ini atau pun barang rampasan dari musuh mereka. Mereka harus melibatkan diri dalam peperangan hanya sebagai suatu tindakan penurutan kepada Allah, dengan maksud untuk melaksanakan hukuman‑Nya ke atas diri bangsa Amalek. Tuhan bermaksud agar semua bangsa harus melihat kehancuran bangsa yang telah menentang pemerintahan‑Nya, dan harus mengingat bahwa mereka dibinasakan oleh bangsa yang mereka telah hinakan.

"Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir. Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka."

Kemenangan melawan bangsa Amalek adalah kemenangan yang paling gemilang yang pernah diperoleh Saul, dan hal ini telah membangkitkan kembali kesombongan hatinya yang merupakan bahaya yang paling besar baginya. Perintah Ilahi untuk membinasakan sama sekali akan musuh Allah itu hanya dilaksanakan sebagian saja. Dengan cita‑cita untuk menambahkan kehormatan pada waktu mereka kembali dari perang dengan hadirnya seorang raja sebagai tawanan, Saul telah memberanikan diri meniru kebiasaan bangsa‑bangsa sekelilingnya, dan membiarkan Agag itu hidup, raja bangsa Amalek yang bengis dan suka berperang itu. Orang banyak itu telah mengambil bagi diri mereka Yang terbaik dari kawanan kambing dan domba dan hewan untuk mengangkut barang, sambil memberikan dalih atas dosa mereka itu dengan alasan bahwa ternak itu dibiarkan hidup untuk dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan. Namun demikian, mereka bermaksud menggunakan semuanya ini sebagai suatu pengganti, agar ternak mereka sendiri bisa disimpan.

Sekarang Saul telah dikenakan di bawah ujian yang terakhir. Sikapnya yang takabur terhadap kehendak Allah, dengan menunjukkan tekadnya untuk memerintah sebagai seorang raja yang bebas, membuktikan bahwa ia tidak dapat diberi kepercayaan dengan kekuasaan seorang raja sebagai wakil Tuhan. Sementara Saul dan tentaranya sedang berbaris hendak pulang dengan dipenuhi suasana kemenangan, ada kesedihan yang dalam di rumah Samuel nabi itu. Ia telah menerima satu berita dari Tuhan yang mencela tindakan raja itu: "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan Firman-Ku." Nabi itu merasa susah sekali atas tindakan raja yang keras kepala itu, dan ia menangis sambil berdoa sepanjang malam agar supaya hukuman yang mengerikan itu bisa ditegahkan.

Penyesalan Allah tidaklah sama dengan penyesalan manusia. "Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal." Penyesalan manusia berarti suatu perubahan dalam pikiran. Penyesalan Allah berarti suatu perubahan dalam keadaan dan hubungan. Manusia dapat mengubah hubungannya dengan Allah dengan menyelaraskan diri dengan syarat‑syarat atas mana ia bisa dibawa kepada keadaan yang diperkenankan Allah, atau ia dapat, melalui tindakannya, menempatkan dirinya di luar keadaan yang diperkenankan itu; tetapi Tuhan adalah sama "baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." Ibrani 13:8. Pelanggaran Saul telah mengubahkan hubungannya dengan Allah; tetapi syarat penerimaan kepada Allah tidaklah berubah tuntutan Allah masih tetap sama--karena Ia "tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." Yakobus 1:17.

Dengan hati yang luka nabi itu pergi menemui raja yang bersalah itu pada keesokan harinya. Samuel mempunyai harapan bahwa, bilamana ia dinasihati, Saul bisa menjadi sadar akan dosanya, dan oleh pertobatan dan kerendahan hati bisa dikembalikan kepada keadaan yang diperkenankan Allah. Tetapi bilamana langkah yang pertama diadakan di dalam pelanggaran maka jalan itu akan menjadi mudah. Saul, yang telah rusak oleh karena pelanggarannya, datang menemui Samuel dengan satu dusta di bibirnya. Ia berseru, "Diberkatilah kiranya engkau oleh Tuhan; aku telah melaksanakan Firman Tuhan."

Bunyi yang jatuh di telinga nabi itu menyatakan dusta daripada ucapan raja yang tidak menurut itu. Atas pertanyaan yang menusuk, "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?" Saul menjawab, "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas." Orang banyak itu telah menuruti perintah Saul; tetapi untuk melindungi dirinya sendiri, ia telah rela untuk menuduh mereka atas dosa pelanggarannya itu.

Kabar tentang penolakan Saul ini telah mendatangkan kesedihan yang mendalam di hati Samuel. Hal ini harus disampaikan kepada segenap bala tentara Israel, pada waktu mereka sedang dipenuhi oleh kesombongan dan kegembiraan atas kemenangan mereka yang telah dianggap sebagai hasil daripada keberanian dan kepemimpinan raja mereka, karena Saul tidak pernah menghubungkan Allah dengan kemenangan Israel di dalam peperangan itu; tetapi pada waktu nabi melihat bukti pemberontakan Saul, ia telah dipenuhi oleh kemarahan dimana dia, yang amat dikasihi oleh Allah, harus melanggar perintah Surga dan memimpin Israel ke dalam dosa. Samuel tidak bisa ditipu oleh dalih raja itu. Dengan rasa sedih bercampur marah ia berkata, "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan Tuhan kepadaku tadi malam.... Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?" Ia mengulangi kembali perintah Tuhan sehubungan dengan bangsa Amalek, dan menuntut alasan pelanggarannya itu.

Saul berkeras hendak membenarkan dirinya: "Aku memang mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti jalan yang telah disuruh Tuhan kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allahmu, di Gilgal."

Dengan kata‑kata yang tegas dan khidmat nabi itu telah menghancurkan benteng dusta itu, dan mengucapkan satu hukuman yang tidak akan dapat dicabut kembali: "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak Firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."

Apabila raja mendengar hukuman yang menakutkan ini ia berseru, "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah Tuhan dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka." Karena merasa gentar mendengar hukuman yang diucapkan oleh nabi itu, Saul mengakui kesalahannya, yang sebelumnya telah ia sangkal dengan keras kepala; tetapi ia tetap berkeras dalam mempersalahkan orang banyak itu, sambil menyatakan bahwa ia telah berdosa oleh karena takut terhadap mereka.

Bukanlah kesedihan atas dosa, tetapi takut akan hukumannya, yang telah mendorong raja Israel itu apabila ia memohon kepada Samuel, "Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada Tuhan." Andaikata Saul telah menunjukkan pertobatan yang sejati, ia tentu akan mengadakan pengakuan di hadapan umum atas dosanya itu; tetapi adalah kekhawatirannya yang terutama untuk mempertahankan wewenangnya dan memperoleh kesetiaan bangsa itu. Ia menghendaki kehormatan atas kehadiran Samuel untuk menguatkan pengaruhnya kepada bangsa itu.

"Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak Firman Tuhan; sebab itu Tuhan telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel." Apabila Samuel berpaling hendak pergi, raja itu dengan penuh ketakutan, telah memegang jubahnya hendak menahan dia, tetapi jubah itu robek di tangannya. Melihat hal ini, nabi itu berkata, "Tuhan telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu."

Saul merasa lebih takut terhadap kemarahan Samuel daripada murka Tuhan. Ia mengetahui bahwa orang banyak itu mempunyai kepercayaan yang lebih besar kepada nabi itu daripada kepada dirinya sendiri. Jikalau sekarang ini seseorang yang lain oleh perintah Ilahi dilantik sebagai raja, maka Saul merasa bahwa mustahillah mempertahankan wewenangnya sendiri. Kalau Samuel meninggalkannya sama sekali ia khawatir akan adanya pemberontakan yang segera. Saul memohon kepada nabi itu untuk menghormati dia di hadapan tua‑tua dan orang banyak itu, dengan bergabung bersama‑sama dengan dia di hadapan umum dalam upacara keagamaan. Oleh perintah Ilahi Samuel mengabulkan permintaan raja, agar supaya tidak ada kesempatan timbulnya pemberontakan. Tetapi ia tinggal sebagai seorang saksi yang diam atas upacara itu.

Suatu tindakan keadilan, yang keras dan hebat, akan dilaksanakan. Di hadapan umum Samuel harus membenarkan kehormatan Tuhan dan menegur tindakan Saul. Ia memerintahkan agar raja bangsa Amalek itu dibawa menghadap padanya. Di atas semua orang yang sudah binasa oleh pedang Israel, Agag adalah orang yang paling bersalah dan paling kejam; seorang yang membenci dan berusaha menghancurkan umat Allah, dan yang pengaruhnya paling kuat di dalam meneguhkan penyembahan berhala. Atas perintah nabi ia datang, sambil menghibur hatinya bahwa bahaya maut telah berlalu. Samuel berkata, "'Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan.' Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan Tuhan." Setelah hal ini diperbuat, Samuel kembali ke rumahnya di Rama, Saul ke Gibea. Setelah peristiwa ini hanya satu kali nabi itu bertemu dengan raja.

Waktu Saul dipanggil untuk menduduki takhta, ia merasa bahwa kesanggupannya tidak ada, dan ia mau diperintah. Ia kurang dalam ilmu pengetahuan dan pengalaman, dan mempunyai kekurangan‑kekurangan yang besar dalam tabiatnya. Tetapi Tuhan telah memberikan kepadanya Roh Kudus sebagai suatu penuntun dan penolong, dan menempatkan dia di dalam suatu kedudukan di mana ia akan dapat memperkembang kesanggupan‑kesanggupan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang raja Israel. Andaikata ia tetap rendah hati, senantiasa berusaha supaya dipimpin oleh hikmat Ilahi, maka ia akan disanggupkan untuk melaksanakan tanggung jawab jabatannya yang tinggi itu dengan berhasil, dan disertai kehormatan. Di bawah pengaruh anugerah Ilahi setiap kesanggupan yang baik akan memperoleh kekuatan, sementara kecenderungan‑kecenderungan yang jahat akan kehilangan kuasanya. Inilah pekerjaan yang dimaksudkan Tuhan bagi semua orang yang menyerahkan diri kepada‑Nya. Banyak orang yang sudah dipanggil oleh‑Nya kepada suatu jabatan di dalam pekerjaan‑Nya oleh sebab mereka mempunyai satu roh yang rendah hati dan bisa diajar. Di dalam pimpinan‑Nya Ia menempatkan mereka dimana mereka akan dapat belajar tentang Dia. Ia akan menyatakan kepada mereka kekurangan‑kekurangan tabiatnya, dan kepada semua orang yang mencari pertolongan‑Nya Ia akan memberikan kekuatan untuk memperbaiki kesalahannya.

Tetapi Saul telah bertindak ceroboh demi kesombongan dirinya, dan telah menghinakan Allah dengan sikap tidak percaya dan pelanggaran. Sekalipun pada waktu mula‑mula diangkat menjadi raja ia bersikap rendah hati dan tidak berharap kepada dirinya, maka sukses telah menjadikan dirinya percaya kepada diri sendiri. Kemenangan yang pertama dalam pemerintahannya telah membangkitkan kesombongan hatinya yang merupakan bahaya yang terbesar bagi dirinya. Keberanian dan keahliannya dalam peperangan yang telah ditunjukkannya di dalam membebaskan Yabesy Gilead telah membangkitkan semangat seluruh bangsa itu. Orang banyak itu menghormati raja mereka, dengan melupakan bahwa ia hanyalah sekadar alat yang telah digunakan Allah, dan sekalipun pada pertama kalinya Saul memberikan kehormatan itu kepada Allah, pada hari‑hari kemudiannya ia telah mengambil kehormatan itu bagi dirinya. Ia kehilangan pandangan atas ketergantungannya kepada Allah, dan di dalam hatinya ia telah berpaling dari Tuhan. Dengan demikian jalan tersedia bagi dosa kecerobohan dan kekejamannya di Gilgal. Sikap percaya diri yang buta yang sama itu telah menuntun dia untuk menolak teguran Samuel. Saul mengakui Samuel sebagai seorang nabi yang diutus Allah; oleh sebab itu seharusnya ia menerima tegurannya, sekalipun ia sendiri tidak dapat melihat dosanya itu. Jikalau ia mau melihat dan mengakui dosanya, maka pengalaman yang pahit ini akan menjadi sebagai suatu pelindung untuk masa depannya.

Jikalau Tuhan telah memisahkan diri‑Nya sama sekali dari Saul pada waktu itu, maka Ia tidak lagi akan berkata‑kata kepadanya melalui nabi‑Nya, sambil memberikan kepercayaan kepadanya dengan suatu tugas untuk dilaksanakan, agar ia dapat memperbaiki kesalahannya pada waktu yang telah silam. Apabila seorang manusia yang mengaku sebagai anak Allah menjadi lalai dalam melakukan kehendak‑Nya, dengan demikian mempengaruhi orang lain untuk bersikap tidak hormat dan tidak memperhatikan nasihat‑nasihat Tuhan, adalah mungkin kegagalannya itu diubah menjadi kemenangan, jikalau ia mau untuk menerima teguran dengan hati yang remuk redam dan kembali kepada Allah dalam kerendahan hati dan iman. Hinanya kekalahan sering menjadi suatu berkat dengan menunjukkan kepada kita akan ketidak‑sanggupan kita menurut kehendak Allah tanpa pertolongan-Nya.  Apabila Saul memalingkan diri dari teguran yang diberikan Allah kepadanya melalui Roh Kudus‑Nya, dan berkeras dalam membenarkan diri, ia telah menolak satu‑satunya alat oleh mana Allah dapat bekerja untuk menyelamatkan dia dari dirinya sendiri. Ia dengan sengaja telah memisahkan diri dari Allah. Ia tidak dapat menerima pertolongan atau pimpinan Ilahi sebelum ia kembali kepada Allah melalui pengakuan akan dosanya.

Di Gilgal, Saul telah berpura‑pura baik, apabila ia berdiri di hadapan bala tentara Israel sambil mempersembahkan satu korban kepada Allah. Tetapi peribadatannya itu tidaklah sejati. Satu upacara keagamaan yang diadakan bertentangan dengan perintah Allah hanyalah melemahkan tangan Saul, menempatkan dirinya di luar jangkauan pertolongan yang Allah ingin berikan kepadanya.

Di dalam peperangannya dengan bangsa Amalek, Saul berpikir bahwa ia telah berbuat segala sesuatu yang perlu dari apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya; tetapi Tuhan tidak merasa senang dengan penurutan yang separuh‑separuh, dan tidak mau membiarkan begitu saja apa yang telah dilalaikan melalui satu motivasi yang masuk di akal sekalipun. Allah tidak memberikan kepada manusia kebebasan untuk menyimpang dari tuntutan‑tuntutan‑Nya. Tuhan telah menyatakan kepada Israel, "Jangan kamu melakukan . . . masing-masing berbuat segala sesuatu yang dipandangnya benar," melainkan engkau harus "dengarkanlah baik-baik segala yang kuperintahkan kepadamu." Ulangan 12:8, 28. Di dalam mengambil keputusan untuk mengadakan suatu tindakan janganlah kita memanjakan apakah kita dapat melihat sesuatu bahaya yang akan timbul sebagai akibatnya, melainkan apakah itu selaras dengan kehendak Allah. "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." Amsal 14:12.

"Menurut adalah lebih baik daripada korban." Persembahan korban‑korban itu sendiri tidak mempunyai nilai di hadapan Allah. Semuanya itu dimaksudkan untuk menyatakan di pihak orang yang mempersembahkan akan adanya pertobatan dari dosa dan iman di dalam Kristus, dan sebagai janji setia pada masa yang akan datang atas hukum Allah. Tetapi tanpa pertobatan, iman dan satu hati yang penurut, maka persembahan‑persembahan itu tidak berarti apa‑apa. Apabila, dalam pelanggaran yang langsung terhadap perintah Allah, Saul bermaksud mempersembahkan satu korban dari apa yang telah diperintahkan Allah supaya dibinasakan, maka penghinaan yang terang‑terangan telah dinyatakan terhadap wewenang Ilahi. Upacara itu akan merupakan suatu penghinaan terhadap Surga. Namun demikian dengan dosa Saul dan akibat‑akibatnya ada di hadapan kita, betapa banyaknya orang yang menempuh jalan yang serupa itu. Sementara mereka menolak mempercayai dan menurut beberapa tuntutan Tuhan, mereka terus mengadakan bentuk‑bentuk upacara keagamaan bagi Tuhan. Kepada upacara seperti itu tidak akan ada jawab dari Roh Allah. Tidak peduli berapa besar semangat seseorang dalam menjalankan upacara‑upacara keagamaan, Tuhan tidak dapat menerima semuanya itu jikalau mereka tetap berkeras dalam pelanggaran yang sengaja terhadap salah satu daripada perintah‑Nya.

"Karena degil itulah dosa hobatan dan angkara itulah menyembah dewa‑dewa dan kebaktian kepada berhala adanya." Pemberontakan berasal dari Setan, dan segala pemberontakan terhadap Allah adalah merupakan pengaruh yang langsung dari Setan. Mereka yang menetapkan diri untuk memberontak kepada pemerintahan Allah memasuki persekutuan dengan pemimpin kemurtadan itu, dan ia akan menggunakan kuasa dan tipu dayanya untuk menguasai perasaan dan menyesatkan pengertian. Ia akan menyebabkan segala sesuatu kelihatan dalam satu terang yang palsu. Seperti leluhur kita yang pertama, mereka yang berada di bawah tipu dayanya akan melihat hanya keuntungan‑keuntungan yang besar yang akan diterima melalui pelanggaran.

Tidak ada bukti yang lebih nyata dapat diberikan tentang kuasa tipu daya Setan selain daripada kenyataan bahwa banyak orang yang disesatkan olehnya menipu diri mereka sendiri dengan suatu kepercayaan bahwa mereka sedang melayani Tuhan. Pada waktu Korah, Datan dan Abiram memberontak terhadap wewenang Musa, mereka menyangka bahwa mereka sedang menentang sekadar seorang pemimpin manusia, seorang yang sama seperti diri mereka; dan mereka percaya bahwa mereka sedang melaksanakan pekerjaan Allah. Tetapi dengan menolak alat Allah yang terpilih itu mereka sedang menolak Kristus; mereka menghina Roh Allah. Demikian pula, pada zaman Kristus, para ahli taurat dan tua‑tua orang Yahudi, yang mengaku berusaha menghormati Allah, telah menyalibkan Anak‑Nya. Roh yang serupa ini masih ada di dalam hati mereka yang bertekad mengikuti kemauan mereka yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Saul mempunyai bukti yang paling nyata bahwa Samuel itu diilhami oleh Ilahi. Keberaniannya melawan perintah Allah melalui nabi itu adalah bertentangan dengan akal dan pertimbangan yang baik. Kecerobohannya yang mematikan itu berasal dari pengaruh Setan. Saul telah menyatakan semangat yang besar dalam menekan penyembahan berhala dan tenungan; tetapi di dalam pelanggarannya terhadap perintah Ilahi ia telah didorong oleh roh pertentangan yang sama kepada Allah, dan dia dipengaruhi oleh Setan sama seperti mereka yang menjalankan pekerjaan tenung; dan bilamana ditegur, ia telah menambahkan kekerasannya kepada pemberontakannya itu. Ia tidak dapat memberikan penghinaan yang lebih besar lagi kepada Roh Allah andaikata ia telah dengan terang‑terangan bersekutu dengan penyembah‑penyembah berhala.

Adalah satu langkah yang berbahaya untuk meremehkan teguran dan amaran daripada Firman Allah atau Roh‑Nya. Banyak orang, seperti Saul, menyerah kepada pencobaan sampai mereka menjadi buta kepada tabiat dosa yang sebenarnya. Mereka mendustai diri mereka sendiri dengan merasa bahwa mereka mempunyai beberapa tujuan tertentu di hadapannya, dan tidak berbuat kesalahan apapun waktu menyimpang dari tuntutan Tuhan. Dengan demikian mereka menolak Roh anugerah itu, sampai suara‑Nya tidak terdengar lagi, dan mereka pun dibiarkan kepada tipu daya yang telah mereka pilih.

Dalam diri Saul, Allah telah memberikan kepada Israel seorang raja sesuai dengan hati mereka, sebagaimana yang telah dikatakan Samuel pada waktu kerajaan itu ditetapkan kepada Saul di Gilgal, "Maka sebab itu, lihat itu raja yang telah kamu pilih, yang kamu minta." 1 Samuel 12:13. Elok parasnya, pembawaannya agung dan seperti raja, penampilannya sesuai dengan pandangan mereka tentang martabat raja; dan keberanian serta kesanggupannya di dalam memimpin tentara adalah sifat‑sifat yang mereka anggap paling perlu untuk memperoleh hormat dan disegani oleh bangsa‑bangsa lain. Mereka tidak terlalu memusingkan bahwa raja mereka itu harus memiliki sifat‑sifat yang lebih agung, yang satu‑satunya dapat melayakkan dia untuk memerintah dengan keadilan dan benar. Mereka tidak meminta seseorang yang mempunyai keagungan tabiat yang sebenarnya, yang mempunyai kasih dan takut akan Allah. Mereka tidak mencari nasihat dari Allah tentang sifat‑sifat yang harus dimiliki oleh orang pemimpin, agar supaya dapat mempertahankan tabiat mereka yang suci dan berbeda sebagai umat pilihan‑Nya. Mereka tidak mencari jalan Allah, tetapi jalan mereka sendiri. Oleh sebab itu Allah telah memberikan kepada mereka seorang raja seperti yang mereka ingini--seorang yang tabiatnya merupakan pantulan daripada tabiat mereka sendiri. Hati mereka tidak ditaklukkan kepada Allah, dan raja mereka juga tidak bisa ditaklukkan oleh anugerah Ilahi. Di bawah pemerintahan raja ini mereka akan memperoleh pengalaman yang perlu agar mereka dapat melihat kesalahan mereka, dan kembali kepada kesetiaan terhadap Allah.

Namun demikian, setelah menempatkan Saul dalam satu tanggung jawab atas kerajaan itu, Tuhan tidak membiarkan dirinya begitu saja. Ia menurunkan Roh Kudus untuk memenuhi Saul untuk menunjukkan kepadanya kelemahan dan keperluannya akan anugerah Ilahi; dan jikalau Saul telah bergantung kepada Allah, maka Allah akan menyertainya. Selama kemauannya dikendalikan oleh kehendak Allah, selama ia berserah kepada disiplin Roh‑Nya, maka Allah akan memahkotai usahanya itu dengan sukses. Tetapi apabila Saul memilih bertindak tanpa bergantung kepada Tuhan, maka Ia tidak lagi dapat menjadi pemimpinnya, dan terpaksa harus menyisihkannya. Kemudian Ia memanggil orang menduduki takhta itu "seorang yang berkenan di hati-Nya" (1 Samuel 13:14)--bukan seorang yang tidak ada cacat cela dalam tabiatnya, tetapi yang, gantinya berharap kepada dirinya sendiri, mau bergantung kepada Allah, dan dituntun oleh Roh Kudus; apabila ia berbuat dosa, akan menyerah kepada teguran dan perbaikan.

No comments: