Sejarah Dunia Kuno

The Year of God Opening the Doors for Miracles

Jan 21, 2013

Daud dan Goliat

Pada waktu raja Saul menyadari bahwa ia telah ditolak oleh Allah, dan pada waktu ia merasakan kekuatan daripada kata‑kata hukuman yang telah diucapkan kepadanya oleh nabi itu, ia dipenuhi oleh kekecewaan dan pemberontakan yang getir. Bukanlah pertobatan yang sejati yang telah menjadikan kepala raja yang sombong itu tertunduk. Ia tidak mempunyai pandangan yang jelas tentang sifat dosanya yang keji itu, dan tidak bangkit untuk mengadakan pekerjaan pembaharuan dalam hidupnya, akan tetapi terus memikir‑mikirkan apa yang ia rasa sebagai ketidak‑adilan Allah dalam menyisihkan dia dari takhta kerajaan Israel, dan dengan mengambil penggantinya bukan dari keturunannya. Ia senantiasa memikir‑mikirkan kehancuran yang telah menimpa rumah tangganya. Ia merasa keberaniannya yang telah ditunjukkannya di dalam menghadapi musuh‑musuhnya haruslah menghapuskan dosa pelanggarannya itu. Ia tidak menerima dengan kerendahan hati akan hukuman Allah itu; tetapi rohnya yang congkak itu menjadi kecewa sekali, sehingga hampir‑hampir ia kehilangan pikirannya. Para penasihatnya menganjurkan agar ia mencari bantuan dari seorang ahli musik, dengan pengharapan bahwa lagu‑lagu yang merdu dari satu alat musik akan dapat menenangkan pikirannya yang kacau itu. Di dalam pimpinan Allah, Daud, sebagai seorang pemain kecapi yang ahli, dibawa ke hadapan raja. Permainan musiknya yang amat merdu dan diilhami oleh surga itu memberikan hasil yang diinginkan. Kesedihan yang seperti awan gelap yang menudungi pikiran Saul telah dihapuskan.

Bilamana tenaganya tidak diperlukan lagi di istana Saul, Daud kembali kepada kawanan dombanya di antara bukit‑bukit dan terus mempertahankan kesederhanaan Roh dan pembawaannya. Kalau dia diperlukan, ia akan dipanggil untuk melayani raja, untuk menenangkan pikiran raja yang dalam kesusahan itu sampai Roh jahat itu meninggalkan dirinya. Tetapi sekalipun Saul merasa senang kepada Daud dan musiknya, gembala yang muda itu pergi meninggalkan istana raja ke padang rumput dan bukit‑bukit itu dengan perasaan lega dan gembira.

Daud bertumbuh dalam keadaan yang diperkenan oleh Allah dan manusia. Ia telah diajar dalam jalan Tuhan, dan sekarang ia menetapkan hatinya dengan lebih teguh lagi untuk melakukan kehendak Allah daripada sebelumnya. Ia telah berada di dalam istana raja dan telah melihat segala tanggung jawab seorang raja. Ia telah mendapati beberapa daripada pencobaan‑pencobaan yang mengganggu Saul dan telah memahami beberapa dari antara rahasia‑rahasia tabiat dan cara perlakuan raja Israel yang pertama itu. Ia telah melihat kemuliaan raja ditudungi oleh awan kesedihan yang gelap, dan ia mengetahui bahwa rumah tangga Saul, di dalam kehidupan pribadi mereka, tidak berbahagia. Semua hal ini telah menimbulkan pikiran yang menyusahkan dia yang telah diurapi untuk menjadi raja Israel. Tetapi sementara ia sedang asyik dalam meditasi, dan dipenuhi oleh kecemasan, ia berpaling kepada kecapinya, dan memainkan lagu‑lagu yang mengangkat pikirannya kepada Sumber segala yang baik, dan awan gelap yang kelihatan menudungi cakrawala masa depannya itu telah dilenyapkan.

Allah sedang mengajarkan kepada Daud suatu pelajaran untuk berharap. Sebagaimana Musa telah dilatih untuk pekerjaannya, demikian pula Allah sedang mendidik anak Isai ini agar layak menjadi pemimpin umat‑Nya. Di dalam penjagaannya terhadap kawanan dombanya itu, ia sedang memperoleh suatu sikap penghargaan terhadap penjagaan dari Gembala Yang Agung itu terhadap domba‑dombanya di padang.

Bukit‑bukit yang sunyi dan bukit‑bukit liar tempat Daud mengembara bersama dengan kawanan dombanya merupakan tempat berkeliaran binatang‑binatang buas. Tidak jarang singa dari hutan di tepi sungai Yordan, atau beruang dari gua di antara bukit‑bukit, datang dengan ganas oleh karena lapar, menyerang kawanan domba itu. Sesuai dengan kebiasaan pada zaman itu, Daud hanya bersenjatakan ali‑ali dan tongkat gembala; namun demikian semenjak mudanya ia telah memberikan bukti akan kekuatan dan keberaniannya dalam melindungi domba‑dombanya itu. Pada waktu menceritakan perkelahian‑perkelahiannya dengan binatang‑binatang itu, ia berkata, "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya." 1 Samuel 17:34, 35. Pengalamannya dalam hal ini membuktikan hati Daud dan memperkembangkan di dalam dirinya keberanian dan kekuatan serta iman.

Bahkan sebelum ia dipanggil ke istana Saul, Daud telah membuat dirinya menonjol oleh karena perbuatan‑perbuatannya yang perkasa. Pegawai yang membawa dia kepada perhatian raja menyatakan bahwa dia adalah "seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan Tuhan menyertai dia," katanya.

Pada waktu peperangan diumumkan oleh Israel terhadap orang Filistin, ketiga anak Isai menggabungkan diri dalam ketentaraan di bawah pimpinan Saul; tetapi Daud tetap tinggal di rumah. Namun demikian, setelah beberapa waktu, ia telah pergi untuk mengunjungi perkemahan Saul. Oleh perintah bapanya ia harus membawa satu kabar dan satu pemberian untuk kakak‑kakaknya dan untuk menyelidiki apakah mereka masih sehat dan selamat. Tetapi, dengan tidak setahu Isai, gembala yang masih muda ini telah diberi suatu kepercayaan dengan satu tugas yang lebih penting. Bala tentara Israel sedang berada dalam bahaya besar, dan Daud telah diperintahkan oleh seorang malaikat untuk menyelamatkan bangsanya.

Apabila Daud mendekati tentara itu, ia mendengar suara kegaduhan, seolah‑olah satu peperangan akan segera berlangsung. Dan "tentara ke luar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang." Israel dan Filistin saling berhadapan dalam barisan yang teratur, tentara melawan tentara. Daud berlari menggabungkan diri ke dalam bala tentara itu, dan datang memberi salam kepada saudara‑saudaranya. Sementara ia berkata‑kata dengan mereka, Goliat, pahlawan orang Filistin itu, maju dan dengan kata‑kata hinaan mengejek Israel dan menantang mereka untuk menyediakan seseorang dari bala tentara mereka yang mau bertarung dengan dia dalam perkelahian satu lawan satu. Ia mengulangi kembali tantangannya, dan pada waktu Daud melihat bahwa segenap Israel dipenuhi oleh kegentaran, dan mengetahui bahwa ejekan orang Filistin itu dilemparkan kepada mereka dari hari ke hari, tanpa membangkitkan seorang pahlawan untuk membungkamkan mulut orang yang sombong itu, jiwanya bergumul. Ia dibakar oleh semangat mempertahankan kehormatan Allah yang hidup, dan kehormatan bangsanya.

Bala tentara Israel merasa tertekan. Semangat mereka hancur. Mereka saling berkata satu dengan yang lain, "Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel!" Dengan rasa malu dan marah Daud berseru, "Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?"

Eliab, saudara Daud yang tertua, pada waktu mendengar kata‑kata ini, mengetahui benar akan perasaan yang sedang berkecamuk di dalam jiwa anak muda ini. Sekalipun hanya seorang gembala, Daud telah menyatakan keberanian, semangat dan kekuatan, cuma jarang disaksikan; dan kunjungan rahasia Samuel ke rumah bapanya, dan keberangkatannya yang diam‑diam itu, telah menimbulkan kecurigaan di dalam pikiran kakak‑kakaknya itu akan apa sebenarnya yang menjadi tujuan kedatangannya itu. Kecemburuan mereka telah dibangkitkan waktu mereka melihat Daud telah dihormati lebih dari mereka, dan mereka tidak memandang dia dengan sikap hormat dan kasih yang harus dinyatakan oleh karena kejujuran dan kelemahlembutannya. Mereka menganggap dia hanya sekadar sebagai seorang gembala yang masih muda, dan sekarang pertanyaan yang dikemukakannya itu dianggap oleh Eliab sebagai suatu kecaman terhadap sifat pengecutnya yang tidak mau berusaha untuk membungkam raksasa Filistin itu. Dengan marah kakaknya itu berteriak, "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." Jawab Daud diberikan dengan sikap hormat tetapi tegas: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!"

Kata‑kata Daud diulangi kembali kepada raja, yang memanggil dia supaya menghadap. Saul mendengarkan dengan penuh rasa heran atas kata‑kata gembala ini, apabila ia mengatakan, "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." Saul berusaha mencegah Daud dari niatnya itu, tetapi orang muda itu tidak dapat digoyahkan. Ia menjawab dengan cara yang sederhana dan rendah hati, sambil menceritakan pengalaman‑pengalamannya sementara menjaga kawanan domba bapanya. Dan ia berkata, "'Tuhan telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.' Kata Saul kepada Daud: 'Pergilah! Tuhan menyertai engkau.'"

Empat puluh hari lamanya bala tentara Israel gemetar di hadapan tantangan raksasa Filistin yang sombong ini. Semangat mereka pudar apabila mereka melihat bentuk tubuh yang amat kukuh itu, yang tingginya enam hasta lebih sejengkal. Di kepalanya terdapat sebuah topi terbuat dari baja, ia mengenakan pakaian zirah yang bersisik yang beratnya lima ribu syikal tembaga, dan ia memakai penutup tembaga di kedua kakinya. Jubahnya terbuat dari lempeng‑lempeng tembaga yang saling bersusun satu dengan yang lain, seperti sisik seekor ikan, dan semuanya itu terjalin dengan rapat sekali sehingga tidak akan ada tombak ataupun panah yang dapat menembusnya. Di punggungnya ia memakai sebuah lembing yang juga terbuat dari tembaga. "Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya."

Pagi dan petang Goliat mendekati perkemahan orang Israel, sambil berseru dengan suara yang keras, "'Mengapa kamu ke luar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami.' Pula kata orang Filistin itu: 'Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang."

Sekalipun Saul telah memberikan izin kepada Daud menerima tantangan Goliat, raja hanya mempunyai pengharapan yang tipis bahwa Daud akan berhasil di dalam usahanya yang berani itu. Perintah telah diberikan untuk memakaikan pakaian perang raja sendiri kepada anak muda itu. Ketopong tembaga yang berat itu diletakkan di atas kepalanya, dan jubah bersisik dikenakan kepada tubuhnya; pedang raja disandangkan pada pinggangnya. Dengan perlengkapan seperti ini, ia melangkah maju untuk bertarung, tetapi tidak lama sesudah itu ia mundur kembali. Pikiran yang pertama timbul di dalam hati orang banyak yang sedang menonton itu ialah bahwa Daud telah mengambil keputusan untuk tidak mengambil risiko dengan mempertaruhkan hidupnya menghadapi seorang musuh yang amat tidak seimbang itu. Tetapi hal ini adalah jauh daripada pikiran anak muda yang amat berani itu. Pada waktu ia kembali kepada Saul ia meminta izin untuk menanggalkan pakaian perang yang berat itu, sambil berkata, "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Ia menanggalkan pakaian raja itu, dan sebagai penggantinya ia hanya membawa di tangannya tongkatnya, dengan kantong gembalanya dan sebuah ali‑ali yang sederhana. Setelah memilih lima butir batu yang licin dari sebuah sungai, ia memasukkannya ke dalam kantongnya, dan dengan ali‑ali itu pada tangannya, pergi mendekati orang Filistin itu. Raksasa itu dengan beraninya melangkah maju, sambil mengharapkan akan berhadapan dengan tentara yang paling kuat di antara orang Israel. Pembawa senjatanya berjalan di hadapannya, dan ia melihat seolah‑olah tidak ada sesuatu yang dapat bertahan di hadapannya. Apabila ia datang lebih dekat lagi kepada Daud ia hanya melihat seorang remaja, yang disebut anak‑anak oleh karena masih amat muda. Wajah Daud nampak kemerah‑merahan oleh karena sehat, dan perawakannya yang kekar, tidak dilindungi oleh senjata, telah dipertunjukkan untuk memperoleh keuntungan; namun demikian, di antara anak yang masih muda dan orang Filistin yang berperawakan kukuh ini, ada suatu perbedaan yang mencolok.

Goliat dipenuhi oleh rasa heran dan marah. "Anjingkah aku," teriaknya, "maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Kemudian ia menghujani Daud dengan kutuk‑kutuk daripada segala dewa yang diketahuinya. Sambil mengejek ia berseru, "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang."

Daud tidak menjadi gentar di hadapan pahlawan Filistin itu. Sambil melangkah maju ia berkata kepada lawannya itu, "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Di dalam nada suaranya tercetus suatu perasaan yang tidak gentar, dan pada wajahnya terlukis suatu gambaran kemenangan dan kesukaan. Kata‑kata ini, yang diucapkan dengan suara yang jelas dan merdu, mendengung di udara, dan dengan jelas terdengar oleh ribuan orang yang telah maju ke medan perang. Kemarahan Goliat berkobar‑kobar sampai kepada puncaknya. Di dalam kemarahannya itu ia mengangkat ketopongnya yang melindungi dahinya, dan dengan cepat bergerak maju untuk mengadakan pembalasan kepada lawannya. Anak Isai ini mempersiapkan diri untuk menghadapi musuhnya itu. "Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah."

Rasa heran memenuhi kedua barisan bala tentara itu. Mereka telah merasa yakin bahwa Daud akan terbunuh; akan tetapi bilamana batu itu melayang di udara, langsung kena kepada sasarannya, mereka melihat tentara yang gagah perkasa itu bergetar, dan merentangkan kedua belah tangannya, seakan‑akan ia diserang oleh kebutaan yang mendadak. Raksasa itu terhuyung‑huyung, dan seperti pohon kayu ek yang ditebang, terjerembab ke atas bumi. Daud tidak menunggu sedikit pun. Ia melompat ke atas tubuh raksasa Filistin yang terbaring itu, dan dengan kedua belah tangannya memegang pedang Goliat yang berat itu. Sesaat sebelumnya, raksasa itu telah menyombongkan bahwa dengan pedang itu ia akan menceraikan kepala Daud dari tubuhnya dan memberikan tubuhnya kepada unggas yang di udara. Sekarang pedang itu diangkat ke atas, dan kemudian kepala orang yang sombong itu terpisah dari tubuhnya, dan suatu teriakan kegembiraan menggema dari kemah‑kemah Israel.

Orang Filistin dipenuhi kegentaran, dan kekacauan yang mengikutinya telah mengakibatkan mereka lari tunggang‑langgang. Teriakan kemenangan dari orang‑orang Ibrani itu menggema di atas puncak‑puncak gunung, sementara mereka mengejar musuh mereka yang sedang melarikan diri itu; dan mereka "mengejar orang-orang Filistin sampai dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai Gat dan sampai Ekron. Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka. Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata orang itu ditaruhnya dalam kemahnya."

No comments: