Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 15, 2013

Rencana Jahat Para Imam

Baitani dekat sekali dengan Yerusalem sehingga kabar tentang peristiwa kebangkitan Lazarus tersiar dengan cepat ke kota itu. Dengan perantaraan mata‑mata yang telah menyaksikan mukjizat itu penghulu‑penghulu Yahudi dengan segera memperoleh fakta‑faktanya. Suatu rapat Sanhedrin diadakan dengan segera untuk memutuskan mengenai apa yang harus dilakukan. Kristus kini sudah menunjukkan sepenuhnya bahwa Ia dapat menguasai kematian dan kubur. Mukjizat yang besar itu merupakan bukti yang paling utama yang diberikan Allah kepada manusia bahwa Ia telah mengutus Anak‑Nya ke dalam dunia untuk keselamatan mereka. Itulah suatu pernyataan kuasa Ilahi yang sudah cukup untuk meyakinkan setiap pikiran yang dikuasai oleh pertimbangan dan diterangi oleh angan‑angan hati. Banyak orang yang menyaksikan kebangkitan Lazarus mulai percaya akan Yesus. Tetapi kebencian para imam terhadap‑Nya kian menghebat. Mereka telah menolak segala bukti keilahian‑Nya yang lebih kecil, dan mereka hanya bertambah marah oleh adanya mukjizat yang baru ini. Orang mati sudah dibangkitkan pada siang hari bolong, dan disaksikan oleh banyak orang. Tidak ada akal yang dapat menjelaskan bukti seperti itu. Untuk (Pasal ini dialaskan atas Yoh. 11:4 7‑54.) alasan inilah permusuhan di pihak imam‑imam bertambah hebat. Mereka lebih bertekad hendak menghentikan pekerjaan Kristus.

Orang Saduki, meski pun tidak menyukai Kristus tidak terlalu membenci‑Nya sebagaimana halnya dengan orang Farisi. Kebencian mereka tidak terlalu hebat. Tetapi kini mereka sangat gempar. Mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Dengan mengemukakan apa yang dinamakan ilmu pengetahuan, mereka memberikan pertimbangan bahwa tidaklah mungkin bagi tubuh yang sudah mati dihidupkan kembali. Tetapi oleh beberapa perkataan Kristus, teori mereka telah dikalahkan. Sudah ditunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui baik Kitab Suci mau pun kuasa Allah. Mereka tidak dapat melihat kemungkinan ditiadakannya kesan yang didapat oleh orang banyak karena mukjizat itu. Bagaimanakah orang‑orang dapat dibalikkan dari Dia yang sudah menang dalam membangkitkan orang mati dari kubur? Laporan‑laporan yang palsu disebarluaskan, tetapi mukjizat itu tidak dapat disangkal, dan bagaimana cara menentang pengaruhnya tidaklah mereka ketahui. Sampai pada saat itu Saduki belum merencanakan hendak membunuh Kristus. Tetapi sesudah kebangkitan Laurus mereka mengambil keputusan bahwa hanyalah oleh kematian‑Nya dapatlah mereka menghentikan pernyataan‑Nya yang menentang mereka tanpa gentar.

Orang Farisi percaya akan kebangkitan, dan tak dapat tiada mereka melihat bahwa mukjizat ini merupakan suatu bukti bahwa Mesias ada di antara mereka. Tetapi mereka senantiasa menentang pekerjaan Kristus. Sejak semula mereka telah membenci Dia karena Ia telah membeberkan kepura‑puraan mereka. Ia telah menyingkapkan jubah upacara yang keras yang di dalamnya cacat akhlak mereka tersembunyi. Agama sejati yang diajarkan‑Nya telah mempersalahkan pengakuan kesalehan mereka yang kosong belaka. Mereka haus akan pembalasan dendam kepada‑Nya karena tempelakan‑Nya yang tajam. Mereka telah mencoba menjengkelkan Dia agar Dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat memberi mereka kesempatan untuk mempersalahkan Dia. Beberapa kali mereka sudah mencoba melontari Dia dengan batu, tetapi Ia sudah mengundurkan diri dengan diam‑diam, dan mereka tidak dapat melihat Dia lagi.

mukjizat‑mukjizat yang diadakan‑Nya pada hari Sabat semuanya untuk meringankan penderitaan orang yang dirundung malang, tetapi orang Farisi telah berusaha mempersalahkan Dia sebagai seorang pelanggar Sabat. Mereka telah berusaha menghasut orang Herodiani untuk menentang Dia. Mereka menggambarkan bahwa Ia sedang berusaha mendirikan suatu kerajaan saingan, dan minta nasihat mereka bagaimana caranya membinasakan Dia. Untuk menghasut agar orang Roma menentang Dia, mereka menggambarkan Dia sebagai seorang yang sedang berusaha menggulingkan kekuasaan mereka. Mereka telah mencoba setiap alasan yang dibuat‑buat untuk mencegah jangan sampai Ia mempengaruhi orang banyak. Tetapi sejauh itu usaha mereka telah digagalkan. Orang banyak yang menyaksikan perbuatan kemurahan‑Nya dan mendengar ajaran‑Nya yang suci mengetahui bahwa ini bukannya perbuatan dan perkataan pelanggar Sabat atau penghujat. Hamba‑hamba yang diutus oleh orang Farisi pun sudah sangat dipengaruhi oleh perkataan‑Nya sehingga mereka tidak dapat menangkap Dia. Dalam keadaan putus asa orang Yahudi mengeluarkan suatu perintah bahwa seseorang yang mengaku percaya akan Yesus harus dikeluarkan dari rumah sembahyang.

Dengan demikian, ketika para imam, penghulu‑penghulu, dan tua‑tua berhimpun untuk bertukar pikiran, mereka bertekad hendak mendiamkan Dia yang melakukan perbuatan seajaib itu sehingga semua orang heran. Orang Farisi dan orang Saduki kini agaknya lebih bersatu daripada sebelumnya. Sampai saat itu mereka terbagi, tetapi mereka menjadi satu dalam pertentangan mereka melawan Kristus. Nikodemus dan Yusuf telah berusaha mencegah celaan terhadap Yesus dalam majelis sidang terdahulu, dan itulah sebabnya kini mereka tidak dipanggil. Dalam majelis itu hadir pula orang‑orang berpengaruh lainnya yang percaya pada Yesus, tetapi pengaruh mereka tidak dapat mengalahkan pengaruh orang Farisi yang penuh kebencian itu.

Meski pun dernikian anggota‑anggota majelis tidak semuanya setuju. Sanhedrin pada saat ini bukannya merupakan suatu rapat yang sah. Rapat itu diadakan hanya karena toleransi. Beberapa anggotanya meragukan kebijaksanaan dalam hal membunuh Kristus. Mereka takut bahwa hal ini akan menimbulkan pemberontakan di antara orang banyak, menyebabkan orang Roma tidak menyenangi lagi akan imam‑imam, serta mengambil dari mereka kuasa yang masih mereka pegang. Orang Saduki bersatu dalam kebencian mereka terhadap Kristus, namun mereka cenderung berhati‑hati dalam gerakan mereka, sebab takut jangan‑jangan orang Roma akan merampas kedudukan yang tinggi dari mereka.

Dalam majelis ini, yang berhimpun untuk merencanakan hendak membunuh Kristus, Saksi hadir yang mendengar perkataan angkuh yang diucapkan oleh Nebukadnezar, yang menyaksikan pesta penyembahan berhala oleh Belsyazar, yang hadir ketika Kristus di Nazaret mengumumkan diri‑Nya sebagai Seorang Yang Diurapi. Saksi ini kini mempengaruhi penghulu‑penghulu dengan pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Peristiwa‑peristiwa dalam kehidupan Kristus terpapar di hadapan mereka dengan jelasnya sehingga menghebohkan mereka. Mereka teringat akan peristiwa yang sama di dalam kaabah, ketika Yesus, pada saat itu baru berusia duabelas tahun, berdiri di hadapan ahli‑ahli hukum yang terpelajar, mengajukan kepada mereka pertanyaan‑pertanyaan yang mereka kagumi. Mukjizat yang baru saja diadakan menyaksikan bahwa Yesus tidak lain dari Anak Allah. Dalam maknanya yang sejati, tulisan dalam Kitab Suci mengenai Kristus terkilas dalam pikiran mereka. Karena bingung dan susah, penghulu‑penghulu itu bertanya, "Apakah daya kita?" Terjadilah perpecahan dalam majelis itu. Di bawah pengaruh Roh Kudus, para imam dan penghulu‑penghulu tidak dapat meninggalkan keyakinan bahwa mereka sedang berperang melawan Allah.

Sementara kebingungan majelis memuncak, Kayapas imam besar itu pun berdirilah. Kayapas adalah seorang sombong dan bengis, bersifat diktator dan tidak suka menerima paham lain. Di antara hubungan keluarganya terdapatlah orang Saduki yang sombong, berani, semberono, penuh cita‑cita dan kebengisan, yang mereka sembunyikan di bawah jubah kebenaran yang pura‑pura saja. Kayapas telah mempelajari nubuatan, dan meski pun tidak mengetahui arti yang sebenarnya, ia berbicara dengan kekuasaan dan jaminan yang besar, "Kamu ini tiada mengetahui barang apa pun, tiada juga kamu memikirkan bahwa berfaedah bagi kamu, jikalau satu orang mati menggantikan kamu, asalkan jangan segenap bangsa akan binasa." Meski pun Yesus tidak bersalah, desak imam besar itu, Ia harus disingkirkan. Ia menimbulkan kesusahan, menarik orang banyak kepada‑Nya, dan mengurangi kekuasaan penghulu‑penghulu. Ia hanya seorang, lebih baik Ia mati daripada kekuasaan penghulu‑penghulu dilemahkan. Jika orang banyak hilang kepercayaannya pada penghulu‑penghulu mereka, kekuasaan nasional akan dilemahkan. Kayapas menegaskan bahwa sesudah mukjizat ini para pengikut Kristus mungkin akan memberontak. Dengan demikian orang Roma akan datang, dan akan menutup kaabah kita, dan meniadakan undang‑undang kita, serta membinasakan kita sebagai suatu bangsa. Apakah nilainya hidup orang Galilea ini jika dibandingkan dengan hidup segenap bangsa? Jika Ia menghalangi kesejahteraan Israel, bukankah dengan menyingkirkan Dia kita melakukan pekerjaan bagi Allah? Lebih baik seorang binasa daripada segenap bangsa binasa.

Dalam menegaskan bahwa seorang harus mati untuk bangsa itu, Kayapas menyatakan bahwa ia mengetahui sedikit akan nubuatan, meski pun sangat terbatas. Tetapi Yohanes, dalam penjelasannya tentang peristiwa itu, mengutip nubuatan dan menunjukkan maknanya yang luas dan dalam itu. Ia berkata, "Dan bukan sahaja menggantikan bangsa itu, melainkan supaya segala anak Allah yang tercerai‑berai itu pun dihimpunkannya menjadi satu." Alangkah butanya keadaan Kayapas yang angkuh itu dalam mengakui tugas Juruselamat!

Pada bibir Kayapas kebenaran yang paling berharga ini dibalikkan menjadi dusta. Kebijaksanaan yang dianjurkannya didasarkan atas prinsip yang dipinjam dari kekapiran. Di kalangan orang kapir, kesadaran yang suram bahwa seorang harus mati bagi umat manusia telah membawa kepada kebiasaan mempersembahkan korban manusia. Demikianlah Kayapas menganjurkan oleh pengorbanan Yesus untuk menyelamatkan bangsa yang bersalah, bukannya dari pelanggaran, melainkan dalam pelanggaran, supaya mereka boleh terus‑menerus dalam dosa. Dan oleh pertimbangannya ia berpikir hendak mendiamkan protes dari mereka yang berani mengatakan bahwa hingga saat itu tidak sesuatu yang layak diganjari dengan kematian terdapat pada Yesus.

Dalam majelis ini musuh‑musuh Kristus sudah merasa benar‑benar bahwa mereka bersalah. Roh Kudus telah mempengaruhi pikiran mereka. Tetapi Setan berusaha hendak menguasai mereka. Ia mengalihkan perhatian mereka kepada kesedihan yang telah diderita oleh mereka karena Kristus. Betapa Dia meringankan kebenaran mereka! Ia mengemukakan suatu kebenaran yang jauh lebih besar, yang harus dimiliki oleh mereka yang mau menjadi anak‑anak Allah. Tanpa memperhatikan segala tata cara dan upacara mereka, Ia telah memberanikan orang‑orang berdosa supaya pergi langsung kepada Allah sebagai Bapa yang berkemurahan, dan memberitahukan keperluan mereka. Dengan demikian, mereka berpendapat bahwa Ia telah mengesampingkan keimamatan itu. Ia telah enggan mengakui teologia sekolah rabbi‑rabbi. Ia telah membeberkan kebiasaan‑kebiasaan yang salah di pihak imam‑imam, dan telah merusakkan pengaruh mereka sampai tidak dapat dipulihkan kembali. Ia telah merusakkan pengaruh peribahasa dan tradisi mereka, dengan menyatakan bahwa meski pun mereka memaksakan penurutan hukum upacara agama, namun mereka meniadakan hukum Allah. Segala perkara ini kini diingatkan oleh Setan kepada mereka.

Setan mengatakan kepada mereka bahwa untuk mempertahankan kekuasaan mereka, Yesus harus dibunuh. Nasihat inilah yang mereka ikuti. Mereka berpendapat bahwa adanya kenyataan mengenai kemungkinan hilangnya kuasa yang ada pada mereka, merupakan alasan yang cukup untuk mengambil keputusan. Kecuali sedikit orang yang tidak berani mengutarakan pendapat mereka, Sanhedrin menerima perkataan Kayapas sebagai perkataan Allah. Majelis merasa lega, pertentangan pun berhentilah. Mereka mengambil keputusan hendak membunuh Kristus segera setelah ada kesempatan yang baik. Dalam menolak bukti keilahian Yesus, imam‑imam dan penghulu‑penghulu ini telah mengurung diri mereka sendiri dalam kegelapan yang tidak dapat ditembus. Mereka telah menempatkan diri sendiri dalam kuasa Setan, untuk segera dijerumuskannya di tepi jurang kebinasaan abadi. Meski pun demikian mereka sudah sangat tertipu sehingga mereka merasa sangat senang dengan diri sendiri. Mereka menganggap diri sendiri sebagai pencinta tanah air, yang sedang mencari keselamatan bangsa.

Meski pun demikian Sanhedrin takut mengambil tindakan terburu‑buru terhadap Yesus, agar jangan orang banyak menjadi marah, dan kekerasan yang direncanakan terhadap Dia akan jatuh menimpa diri mereka sendiri. Itulah sebabnya majelis menangguhkan saatnya untuk menjalankan hukuman yang sudah diumumkan oleh mereka. Juruselamat mengerti rencana jahat di pihak imam‑imam. Ia mengetahui bahwa mereka ingin meniadakan Dia, dan bahwa maksud mereka segera akan dilaksanakan. Tetapi bukannya kewajiban‑Nya mempercepat krisis itu, dan Ia mengundurkan diri dari daerah itu, sambil membawa murid‑murid serta‑Nya. Dengan demikian, dengan teladan‑Nya sendiri sekali lagi Yesus mendesakkan petunjuk yang telah diberikan‑Nya kepada murid‑murid, "Apabila kamu dianiayakan oleh orang di dalam sebuah negeri, larilah ke negeri lain." Mat. 10:23. Ada ladang yang luas tempat kita dapat bekerja untuk keselamatan jiwa‑jiwa, dan kecuali kesetiaan kepada‑Nya mengharuskannya, hamba‑hamba Tuhan tidak seharusnya membawa hidup mereka ke dalam bahaya.

Kini Yesus telah mengabdikan tiga tahun lamanya untuk bekerja bagi khalayak ramai. Teladan‑Nya dalam hal penyangkalan diri dan kebajikan yang tulus ikhlas ada di hadapan mereka. Hidup‑Nya yang penuh kesucian, penderitaan dan pengabdian diketahui oleh semua orang. Meski pun demikian masa tiga tahun yang singkat ini merupakan waktu yang terlalu lama bagi dunia untuk tahan melihat hadirat Penebusnya.

Kehidupan‑Nya penuh dengan aniaya dan hinaan. Dilarikan dari Betlehem karena raja yang cemburu, ditolak oleh bangsa‑Nya sendiri di Nazaret, dihukum mati tanpa sebab di Yerusalem, Yesus beserta sedikit pengikut‑Nya yang setia, mendapat suatu tempat perlindungan sementara di suatu kota yang asing, Ia yang selamanya terharu oleh malapetaka manusia, yang menyembuhkan orang sakit, memulihkan penglihatan orang buta, pendengaran orang tuli, dan daya bicara orang bisu, yang memberi makan kepada orang lapar dan menghiburkan yang bersusah, telah diusir dari orang banyak yang untuknya Ia telah bekerja untuk menyelamatkannya. Ia yang berjalan di atas ombak yang bergelora dan dengan suatu perkataan saja dapat mendiamkan deru laut yang hebat, yang membuangkan Setan yang ketika keluar mengakui Dia sebagai Anak Allah, yang membangkitkan orang mati, yang mempesonakan beribu‑ribu orang dengan perkataan akal budi‑Nya, tidak dapat mencapai hati orang‑orang yang dibutakan oleh prasangka dan kebencian, dan menolak terang dengan degilnya.

No comments: