Sejarah Dunia Kuno

The Year of God Opening the Doors for Miracles

Apr 11, 2013

Majapahit Kota Atlantis

Kerajaan Majapahit yang pantas disebut sebagai kota dengan berperadaban tinggi itu, yang konon tenggelam dan sirna sebab bencana yang luar biasa besarnya.

Ada beberapa alasan yang membuat penilaian ini sangat akurat dan tak terbantahkan. Pertama, dari segi pengertian, yaitu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kota Atlantis, Kerajaan Majapahit sangatlah memenuhi syarat. Kedua, dilihat dari sisi kejayaan dan kebesaran peradabannya. Ketiga, dari sisi sejarahnya yang melegenda.

Bahwa, meski keduanya sangat diyakini sebagai kota atau negeri dengan kejayaan dan kebesaran peradabannya, nyatanya sama sekali tidak menyisakan bukti atau fakta yang mendukung! Keempat, adalah kesimpulan orang-orang sesudahnya yang memiliki kesimpulan yang sama soal Kota Atlantis dan Kerajaan Majapahit, yaitu kota besar, peradaban tinggi, dan legendaris.

Keduanya sama-sama menjadi mitos, tetapi sangat dipercaya ia ada dan pernah berdiri di suatu kala. Mari kita jelajah satu-persatu. Apa yang disebut dengan Kota Atlantis? Sumber pertama yang bicara soal Kota ini adalah Plato. Ia menggambarkan Kota Atlantis sebagai kota besar dengan peradaban yang sangat tinggi. Namuan karena danya bencana alam yang mengerikan, ia tenggelam.

Dan, tinggallah ia kemudian menjelma sebatas legenda yang antara ada dan tiada. Lalu bagamaina dengan Majapahit? Kerajaan ini pun demikian. Para penutur sejarah menggambarkannya dengan istilah terkenal, sirna kertaning bumi. Yang artinya sirna ditelan bumi. Memang, para pakar memaknai istilah ini dengan kode tahun dan penanggalan sejarah akhir keruntuhan Majapahit.

Tetapi, menurut saya, sudah sangat jelas apa yang dimaksud sirna kertaning bumi! Yaitu hilang, lenyap, atau sirna! Mengapa saya berani mengatakan demikian? Sederhana saja, peninggalan-peninggalan Majapahit sangatlah minim. Bukan hanya secara fisik berupa bangunan, tetapi juga secara peradaban dan tokoh-tokoh utama di dalamnya pun sangat minim.

Taruhlah sosok Gajah Mada. Hingga kini, tak satu pun yang mengetahui biografi siapa dia sebenarnya! Dan lagi, kenyataannya beberapa peninggalan Majapahit masih terpendam di kedalaman bahwa tanah. Dan hingga sekarang, masih belum ditemukan, kecuali hanya sedikit saja. Namun dari sedikit tersebut, diyakini sisa peninggalan yang lebih besar ada terpendam di bawah tanah.

Bangsa Yang Buta Sejarahnya Sendiri

Terlepas apakah Majapahit benar-benar representasi Kota Atlantis, dibanding bangsa-bangsa lain di dunia, bangsa kita adalah bangsa yang tanpa bangunan sejarah! Kita ini adalah bangsa yang tak pernah mengenal jatidiri masa lalunya sendiri.

Seberapa besar kita mengenal sejarah Majapahit? Kenapa kita membangga-banggakannya? Bahkan dijadikan landasan spirit bangsa segala? Apa yang dapat diambil dari kerajaan Majapahit, yang bahkan sejarah lengkapnya saja kita tidak tahu sama sekali? Kecuali hanyalah gembar-gembor kebesaran yang tak ada bukti dan faktanya sama sekali itu? Simpel saja, siapakah Mahapatih Gajah Mada sesungguhnya? Benarkah ia memang betul sosok Panglima yang kuat, cerdas, dan punya cita-cita besar? Kalau memang benar, darimana kita mengetahuinya itu benar, jika sejarah hidupnya saja tidak diketahui oleh sejarah? Dalam beberapa kasus, peninggalan sejarah kita mengenai Majapahit ditelantarkan!

Apa yang sudah kita perbuat dengan sisa peninggalannya? Sama sekali tak ada perhatian berarti, baik oleh pemerintah dan rakyatnya. Yang miris, banyak sejarah yang menurut saya sangat sarat pecah belah. Yaitu mengenai kedurhakaan Sultan Raden Patah pada Raja Brawijaya. Yang konon katanya menyerang Majapahit sehingga menyebabkan kehancurannya? Juga dikatakan, sampai-sampai dibilang menghancurkan peninggalan-peninggalan Majapahit?

Padahal secara fakta, banyak peninggalan non-Islam masih eksis di Nusantara. Bukti, bahwa tak ada bukti logis bahwa pernah ada pertikaian antara Kerajaan Demak dengan Majapahit! Sampai saat ini, kita belum pernah mencoba mengeja dan menguji pandangan ini, sekalian menguji kebenaran Majapahit dengan peninggalannya.

No comments: