Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Sep 17, 2013

Suara di Padang Belantara

Antara orang‑orang yang setia di kalangan orang Israel, yang telah lama menantikan kedatangan Mesias, bangkitlah bentara Kristus. Imam Zakharia yang sudah tua dan istrinya Elisabet adalah "keduanya . . . orang benar kepada Allah;" dan dalam hidup mereka yang tenang dan suci cahaya iman bersinar seperti sebuah bintang dalam kegelapan hari‑hari yang penuh kejahatan itu. Kepada suami istri yang beribadat ini telah dijanjikan seorang anak laki‑laki, yang akan "berjalan dulu di hadapan Tuhan, akan menyediakan jalan‑Nya."
 
Zakharia tinggal "dalam segala pegunungan Yudea," tetapi ia telah pergi ke Yerusalem untuk bekerja seminggu lamanya dalam bait suci, suatu kewajiban yang dituntut dua kali setahun dari imam‑imam menurut gilirannya. "Maka pada sekali peristiwa, sementara ia mengerjakan pekerjaan imamat di hadapan Allah dalam gilir peraturan harinya, sesuai adat jabatan imam, maka dengan dibuang undi kenalah ia pekerjaan masuk ke dalam rumah Tuhan akan membakar persembahan dupa."
 
Ia sedang berdiri di muka mezbah keemasan di dalam bilik yang suci di bait suci. Asap dupa bersama doa bangsa Israel sedang naik di hadirat Allah. Tiba‑tiba sadarlah ia akan hadirat Ilahi. Seorang malaikat Tuhan "berdiri di sebelah kanan meja persembahan dupa itu." Tempat malaikat berdiri itu mengalamatkan bahwa ia membawa kabar baik, tetapi Zakharia tiada menghiraukan hal ini. Bertahun‑tahun lamanya ia telah mendoakan kedatangan Penebus; kini surga mengutus pesuruhnya untuk memberitahukan bahwa doa itu sudah hampir dijawab; tetapi kemurahan Allah tampaknya terlalu besar baginya untuk dipercayai. Ia dipenuhi dengan ketakutan dan penyesalan diri.
 
Tetapi ia disapa dengan jaminan yang menggembirakan hati: "Jangan takut, hai Zakharia, karena permintaan doamu telah diluluskan; bahwa istrimu Elisabet akan beranak bagimu laki‑laki seorang, maka hendaklah engkau menamai dia Yohanes. Maka engkau akan mendapat kesukaan dan suka‑cita dan banyak orang bergemar hatinya kelak akan jadinya. Karena ia pun akan besar di hadapan Tuhan, dan tidak ia akan minum air anggur atau minuman pedas, dan ia pun akan dipenuhi dengan Roh Kudus.... Dan banyaklah bangsa Israel akan dibalikkannya kepada Tuhan Allahnya. Maka ia pun akan berjalan di hadapan‑Nya dengan roh dan kuasa Elia, akan membalikkan hati segala bapa kepada anak‑anaknya dan yang durhaka dibalikkannya kepada kebijaksanaan orang yang benar, akan melengkapkan bagi Tuhan suatu bangsa yang siap benar. Maka kata Zakharia kepada malaikat itu: Bagaimana aku akan mengetahui ketentuannya, karena sudah tua aku dan istriku pun telah lalu sangat umurnya."
 
Zakharia tahu betul bagaimana kepada Abraham di masa tuanya telah dikaruniakan seorang anak sebab ia percaya bahwa Ia yang telah berjanji itu setiawan adanya. Tetapi seketika lamanya imam yang sudah tua itu mengalihkan pikirannya ke arah kelemahan kemanusiaan. Ia lupa bahwa apa yang telah dijanjikan Allah, Ia sanggup melaksanakannya. Alangkah besarnya perbedaan antara sifat kurang percaya ini dengan percaya Maria yang segar dan jujur, gadis Nazaret itu, yang jawabnya terhadap pemberitahuan ajaib dari malaikat itu ialah, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lukas 1:38.
 
Lahirnya seorang anak bagi Zakharia, seperti lahirnya anak Abraham, dan anak Maria, haruslah mengajarkan suatu kebenaran rohani yang besar, suatu kebenaran yang tidak gampang kita pelajari dan lekas melupakannya. Dalam diri kita sendiri, kita tidak sanggup berbuat sesuatu perkara yang baik; tetapi apa yang tidak dapat kita perbuat, akan diadakan oleh kuasa Allah dalam tiap‑tiap jiwa yang menyerah dan percaya. Oleh percayalah anak perjanjian dikaruniakan. Oleh percayalah pula hidup kerohanian dilahirkan dan kita disanggupkan untuk melakukan pekerjaan kebenaran.
 
Untuk menjawab pertanyaan Zakharia, malaikat itu berkata, "Bahwa aku ini Gabriel, yang berdiri di hadapan hadirat Allah, maka aku pun disuruhkan berkata‑kata dengan dikau, dan menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." Lima ratus tahun sebelumnya, Gabriel sudah memberi tahu kepada nabi Daniel masa nubuatan yang berlangsung hingga kedatangan Kristus. Pengetahuan bahwa akhir masa ini sudah dekat, telah menggerakkan Zakharia untuk mendoakan kedatangan Mesias itu. Kini justru utusan yang telah menyampaikan nubuatan itu, sudah datang untuk mengumumkan kegenapannya.
 
Perkataan malaikat itu, "Bahwa aku ini Gabriel, yang berdiri di hadapan hadirat Allah," menunjukkan bahwa ia menduduki suatu pangkat yang amat terhormat di istana surga. Ketika ia datang dulu membawa kabar kepada Daniel, ia berkata, "Tidak ada satu pun yang berdiri di pihakku dengan tetap hati melawan mereka, kecuali Mikhael (Kristus), pemimpinmu itu." Daniel 10:21. Tentang Gabriel, Juruselamat berfirman dalam Wahyu, bahwa "disuruhkan‑Nya malaikat‑Nya menyatakan dia kepada Yohanes, hamba‑Nya." Wahyu 1:11. Dan kepada Yohanes malaikat itu menandaskan, "Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara‑saudaramu, para nabi." Why. 22:9. Pikiran yang sungguh mengagumkan bahwa malaikat yang kedua dari Anak Allah dalam kemuliaan, ialah yang dipilih untuk memaparkan maksud‑maksud Allah kepada manusia yang berdosa.
 
Zakharia telah menyatakan kebimbangan akan perkataan malaikat itu. Ia terpaksa tidak boleh berbicara lagi hingga perkataan itu digenapi. "Bahwasanya," kata malaikat itu, "engkau akan menjadi kelu, . . . sampai kepada hari segala perkara ini telah jadi, maka yaitu sebab tidak engkau percaya akan perkataanku, yang akan disampaikan pada masanya." Adalah kewajiban imam dalam upacara ini untuk melayangkan doa keampunan dosa orang banyak dan bangsa itu serta kedatangan Mesias; tetapi ketika Zakharia mencoba hendak melakukan ini, sepatah kata pun tidak dapat diucapkannya.
Setelah keluar hendak mendoakan orang banyak, "dilambai‑lambainya mereka itu dan tinggal kelu juga." Mereka sudah menunggu lama, dan sudah mulai merasa agak khawatir, jangan‑jangan ia sudah dibinasakan oleh hukuman Allah. Tetapi ketika ia keluar dari bilik yang suci, wajahnya bersinar‑sinar dengan kemuliaan Allah, "maka pada perasaan mereka itu telah dilihatnya suatu khayal dalam rumah Allah." Zakharia memberitahukan kepada mereka dengan isyarat apa yang telah dilihat dan didengarnya; dan "setelah sudah genap hari pekerjaannya, pulanglah ia ke rumahnya."
Tidak lama setelah anak yang dijanjikan itu lahir terurailah lidah bapa itu, "lalu berkata‑kata ia sambil memuji Allah. Maka datanglah ketakutan atas segala orang yang diam keliling mereka itu, dan banyaklah perkataan orang akan segala perkara ini dalam segala pegunungan Yudea. Maka segala orang yang mendengar perkara‑perkara itu diperhatikannya, katanya: Apa gerangan jemaah akan menjadi kanak‑kanak ini?" Semuanya ini mengandung maksud untuk menaruh perhatian kepada kedatangan Mesias, yang untuk itu Yohanes harus menyediakan jalan.

Roh Suci hinggap atas Zakharia, dan dalam ucapan yang indah ini ia bernubuat tentang tugas anaknya: "Maka adapun engkau, hai anakku, bahwa engkau akan dipanggil seorang nabi Allah Yang Mahatinggi, Karena engkau pun akan berjalan dulu di hadapan Tuhan, akan menyediakan jalan‑Nya, Akan memberi kepada umat‑Nya pengetahuan akan hal selamat dalam keampunan dosanya, Oleh sebab gerakan hati rahmat Allah kita; Maka sebab itu pun fajar dari ketinggian telah mendapatkan kita. Akan menjadi nyata kepada mereka itu, yang duduk dalam gelap dan dalam bayang‑bayang maut, Dan akan membetulkan kaki kita pada jalan selamat."
 
"Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan dirinya kepada Israel." Sebelum Yohanes lahir, malaikat telah berkata, "Ia pun akan besar di hadapan Tuhan, dan tidak ia akan minum air anggur atau minuman keras, dan ia pun akan dipenuhi dengan Roh Kudus." Allah telah memanggil anak Zakharia itu untuk melakukan pekerjaan yang besar, yang terbesar pernah diamanatkan kepada manusia. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan ini, ia mesti bekerja bersama‑sama dengan Tuhan. Maka Roh Allah akan menyertai dia kalau ia memperhatikan petunjuk malaikat itu.
 
Yohanes harus keluar sebagai utusan Yehova, untuk membawa terang Allah kepada manusia. Ia wajib memberikan suatu tujuan yang baru bagi pikiran mereka. Ia wajib menekankan ke dalam pikiran mereka kesucian tuntutan‑tuntutan Allah, dan keperluan mereka akan kebenaran‑Nya yang sempurna itu. Seorang utusan semacam itu wajiblah suci. Wajiblah ia merupakan suatu bait suci untuk tempat kediaman Roh Allah. Untuk dapat menjalankan tugasnya itu, wajiblah ia memiliki badan yang sehat dan tenaga pikiran serta rohani yang kuat. Itulah sebabnya itu perlulah baginya mengendalikan selera dan nafsunya. Ia mesti sanggup mengendalikan segala kuasanya demikian rupa hingga ia dapat berdiri di antara manusia dengan tidak tergoncang oleh keadaan di sekelilingnya seperti bukit‑bukit batu dan gunung‑gunung di padang belantara.
Pada zaman Yohanes Pembaptis, keserakahan akan kekayaan, dan cinta akan kemewahan dan pertunjukan sudah merajalela. Kepelesiran cabul, pesta‑pesta dan minum‑minum, sedang menimbulkan penyakit‑penyakit badani serta kemerosotan, menumpulkan pengertian rohani, dan mengurangi daya rasa akan dosa. Yohanes  harus berdiri sebagai seorang pembaru. Oleh hidupnya yang bertarak dan pakaiannya yang sederhana ia harus mengecam segala keterlaluan yang terjadi pada zamannya. Itulah sebabnya petunjuk‑petunjuk diberikan kepada orang tua Yohanes, sebuah pelajaran pertarakan oleh seorang malaikat dari singgasana surga.
 
Pada masa kanak‑kanak dan masa mudalah tabiat paling mudah mendapat kesan. Kuasa mengendalikan diri sendiri seharusnya dimiliki pada waktu itu. Di sekitar perapian dan di meja makan keluarga, pengaruh‑pengaruh diberikan, yang hasilnya akan tahan selama‑lamanya bagaikan zaman yang kekal. Lebih daripada bakat yang mereka miliki, segala kebiasaan pada masa kanak‑kanak menentukan apakah seseorang akan menang atau kalah dalam peperangan kehidupan. Masa mudalah masa menabur. Masa ini menentukan jenis panen bagi kehidupan ini dan bagi kehidupan yang akan datang.

Sebagai seorang nabi, Yohanes harus "membalikkan hati segala bapa kepada anak‑anaknya dan yang durhaka dibalikkannya kepada kebijaksanaan orang yang benar, akan melengkapkan bagi Tuhan suatu bangsa yang siap benar." Dalam mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang pertama kalinya ia mengibaratkan orang‑orang yang akan mempersiapkan suatu umat bagi kedatangan Tuhan kita yang kedua kalinya. Dunia sudah terjerumus ke dalam jurang pemanjaan diri. Kesalahan dan cerita dongeng berlimpah‑limpah. Jerat‑jerat Setan guna memusnahkan jiwa‑jiwa dilipatgandakan. Semua orang yang mau menyempurnakan kesucian dalam takut akan Allah, wajib memahami pelajaran pertarakan dan pengendalian diri. Selera dan segala nafsu wajib ditundukkan ke bawah kuasa pikiran yang lebih tinggi. Pengendalian diri ini sangat penting bagi tenaga pikiran dan pengertian rohani, yang akan menyanggupkan kita untuk mengerti dan untuk mempraktikkan kebenaran‑kebenaran firman Allah yang suci. Oleh sebab ini pertarakan mendapat tempatnya dalam pekerjaan persiapan untuk kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
 
Menurut keadaan yang sewajarnya, anak Zakharia itu harus dididik guna keimamatan. Akan tetapi pendidikan di sekolah rabi‑rabi pasti akan menjadikan dia tidak cocok untuk pekerjaannya. Allah tidak menyuruh dia pergi kepada guru‑guru agama untuk belajar bagaimana menafsirkan Alkitab. Dipanggil‑Nya dia ke padang belantara, supaya ia dapat belajar dari alam kejadian dan Allah alam kejadian itu.
 
Di suatu daerah yang sunyilah ia tinggal, di antara bukit‑bukit yang tandus, jurang‑jurang yang dalam, dan gua‑gua batu. Tetapi kemauannya sendirilah meninggalkan segala ' kesenangan dan kemewahan hidup demi disiplin yang keras di padang belantara. Di sana keadaan di sekelilingnya cocok bagi kebiasaan‑kebiasaan kesederhanaan dan penyangkalan diri. Dalam keadaan tidak terganggu oleh keramaian dunia, dapatlah ia mempelajari pelajaran‑pelajaran dari alam kejadian, dan wahyu dan dari Allah. Perkataan malaikat yang kepada Zakharia itu telah acapkali diulangi kepada Yohanes oleh ayah bundanya yang beribadat itu. Sejak kecil tugasnya itu telah dinyatakan kepadanya, dan ia telah menerima kewajiban yang kudus itu. Baginya kesunyian padang belantara itu merupakan suatu tempat menjauhkan diri dan masyarakat di mana kecurigaan, sikap kurang percaya, dan percabulan sudah hampir merata. Ia tidak percaya pada kuasanya sendiri untuk melawan pencobaan, dan menjauhkan diri dari hubungan yang tetap dengan dosa, agar jangan ia kehilangan rasa akan kedahsyatan dosa itu.
 
Karena telah diserahkan kepada Allah sebagai seorang Nazir Allah sejak lahir, ia sendiri menunaikan nazar itu dalam penyerahan seumur hidup. Pakaiannya adalah seperti pakaian nabi‑nabi purba kala, pakaian yang diperbuat daripada bulu unta, diikat dengan sebuah ikat pinggang kulit. Ia makan "belalang dan air madu hutan" yang terdapat di padang belantara itu, dan minum air jernih yang datang dari bukit‑bukit.
 
Tetapi kehidupan Yohanes tidaklah dihabiskannya untuk bermalas‑malas, untuk semata‑mata bertekun dengan muka muram, atau mengasingkan diri untuk kepentingan diri sendiri. Kadang‑kadang ia pergi bercampur gaul dengan orang banyak; dan ia selamanya merupakan seorang peninjau yang menujukan perhatian besar terhadap apa yang terjadi di dunia. Dari tempat kediamannya yang sunyi itu ia mengamat‑amati perkembangan peristiwa. Dengan penglihatan yang diterangi oleh Roh Ilahi dipelajarinya tabiat‑tabiat manusia, supaya ia tahu bagaimana cara mencapai hati mereka dengan pekabaran dari surga. Beban tugasnya dipikulnya. Dalam kesunyian oleh renungan dan doa, ia berusaha memperkuat jiwanya guna pekerjaan hidup yang ada di hadapannya.
 
Sungguh pun di padang belantara, tidaklah ia bebas dari penggodaan. Sedapat‑dapatnya ia menutup setiap jalan yang dapat dimasuki oleh Setan namun ia masih juga diserang oleh penggoda itu. Tetapi pandangan rohaninya terang; ia telah mengembangkan tenaga dan keputusan tabiat, maka dengan pertolongan Roh Kudus ia sanggup mengenal bujukan Setan, dan melawan kuasanya.
 
Yohanes mendapat sekolah dan tempat pemukiman di padang belantara. Sebagaimana halnya dengan Musa dulu kala di antara pegunungan Midian, Ia dikelilingi oleh hadirat Allah, serta dikelilingi dengan tanda‑tanda kuasa‑Nya. Bukanlah nasibnya untuk tinggal, sebagaimana halnya dengan pemimpin besar Israel itu dulu kala, di tengah‑tengah kesunyian pegunungan yang hebat dan mulia; tetapi di hadapannya adalah gunung‑gunung Moab, di seberang Yordan, yang berbicara tentang Dia yang telah mendirikan gunung‑gunung itu, serta melengkapinya dengan kekuatan. Pemandangan alam yang suram dan ngeri di tempat kediamannya di padang belantara itu dengan jelas melukiskan keadaan Israel. Kebun anggur Tuhan yang subur itu sudah menjadi padang belantara yang sunyi. Tetapi di atas padang belantara itu langit melengkung terang dan indah. Awan‑awan yang berkumpul, gelap dengan badai, dilengkungi dengan pelangi perjanjian. Demikianlah di atas kehinaan Israel bersinarlah kemuliaan kerajaan Mesias yang telah dijanjikan itu. Awan murka dilingkungi pelangi perjanjian kemurahan‑Nya.
 
Seorang diri pada waktu malam yang sunyi ia membaca janji Allah kepada Abraham tentang benih yang tidak terhitung seperti bintang‑bintang banyaknya. Cahaya fajar, yang menyepuh pegunungan Moab, bercerita tentang Dia yang akan menjadi seperti "fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan." 2 Samuel 23:4. Dan dalam kegemilangan siang hari dilihatnya kemegahan kenyataan‑Nya, manakala "kemuliaan Tuhan akan dinyatakan, dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama‑sama." Yesaya 40:5.
 
dengan roh yang segan namun penuh sukacita ia memeriksa dalam gulungan‑gulungan surat nubuatan segala kenyataan tentang kedatangan Mesias, benih perjanjian yang akan meremukkan kepala ular itu; Silo, "pemberi damai itu," yang akan menampakkan diri sebelum seorang raja berhenti berkerajaan di atas takhta Daud. Kini waktunya sudah tiba. Seorang pemerintah bangsa Romawi bersemayam dalam istana di atas Bukit Sion. Oleh firman Tuhan yang tentu, Kristus itu pun sudah lahir.
 
Gambaran Yesaya yang indah tentang kemuliaan Mesias menjadi pelajarannya siang dan malam, Pucuk dari akar Isai; seorang Raja yang akan memerintah dalam kebenaran, "menghakimi orang‑orang lemah dengan keadilan;" "perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut . . . naungan batu yang besar, di tanah yang tandus;" Israel tiada lagi akan disebut "yang ditinggalkan suami," atau pun tanahnya "yang sunyi," melainkan akan disebut oleh Tuhan, "yang berkenan kepada‑Ku," dan tanahnya "bersuami." Yesaya 11:4; 32:2; 62:4. Hati orang buangan yang kesunyian itu dipenuhi dengan penglihatan orang buangan yang mulia.
 
Ia memandang kepada Raja itu dalam kemuliaan‑Nya, lalu diri pun dilupakan. Ia melihat kemuliaan kesucian, lalu merasa dirinya tidak cakap dan tidak layak. Ia sudah sedia untuk pergi sebagai utusan surga, tiada gentar oleh kemanusiaan, sebab ia telah memandang kepada Ilahi. Ia dapat berdiri tegak dan berani di hadapan raja‑raja duniawi, sebab ia sudah sujud di hadapan Raja segala raja.
 
Yohanes belum mengerti betul sifat kerajaan Mesias itu. Ia mengharap bahwa Israel akan dilepaskan dari musuh‑musuh bangsanya; tetapi kedatangan seorang Raja dalam kebenaran, dan penetapan Israel sebagai suatu bangsa yang suci, merupakan tujuan harapannya yang besar itu. Demikianlah ia percaya akan digenapkannya nubuatan yang diberikan pada waktu ia lahir,
 
"Diingat‑Nya akan perjanjian‑Nya yang suci itu,

Setelah sudah terlepas daripada segala musuh kita Bolehlah kita beribadat kepada‑Nya dengan tiada takut dengan kesucian dan kebenaran di hadapan‑Nya seumur hidup kita."
 
Ia melihat bangsanya tertipu, merasa puas akan diri sendiri, dan tidur dalam dosa‑dosanya. Ia ingin hendak membangunkan mereka kepada cara hidup yang lebih suci. Kabar yang telah diberikan Allah kepadanya supaya disiarkan, dimaksudkan untuk mengejutkan mereka dari kelalaiannya dan membuat mereka gemar karena kejahatannya yang besar itu. Sebelum benih Injil dapat ditanamkan, tanah hati itu mesti dihancurkan. Sebelum mereka mencari kesembuhan dari Yesus mereka wajib disadarkan lebih dulu akan bahaya mereka dari luka‑luka dosa.
 
Allah tidak mengutus pesuruh untuk memuji‑muji orang berdosa. Ia tidak memberikan kabar damai, untuk membuai orang‑orang yang belum disucikan ke dalam keamanan maut, Ia meletakkan beban berat di atas angan‑angan hati orang yang bersalah, serta menusuk jiwa dengan anak panah keyakinan. Malaikat‑malaikat yang melayani menghadapkan kepadanya hukuman Allah yang mengerikan untuk memperdalam rasa keperluan, serta mendorong orang itu berseru "Apakah yang patut saya perbuat, supaya saya mendapat selamat?" Kemudian tangan yang telah merendahkan ke dalam debu itu mengangkat orang yang bertobat itu. Suara yang telah menempelak dosa, dan mendatangkan malu kepada kecongkakan dan sifat suka mencari nama, bertanya dengan belas kasihan yang selembut‑lembutnya, "Apakah kau kehendaki Kuperbuat padamu?"
 
Ketika pekerjaan Yohanes mulai, bangsa itu tengah berada dalam keadaan gelisah dan rasa tidak puas, di pinggir api revolusi. Setelah Arkhelaus dipecat, Yudea telah ditaruh langsung di bawah kekuasaan Roma. Kelaliman dan pemerasan yang dilakukan oleh gubernur‑gubernur Romawi, dan usaha mereka yang kuat dan tetap hendak memasukkan segala lambang dan kebiasaan kafir, mengobarkan api pemberontakan, yang telah dipadamkan dalam darah beribu‑ribu pahlawan Israel. Semuanya ini mempertebal kebencian nasional terhadap Roma, serta menambahkan kerinduan hendak dibebaskan dari kuasanya.
 
Di tengah pertikaian dan pergolakan itu, suatu suara terdengar dari padang belantara, suatu suara yang mengagetkan dan keras, namun penuh harapan: "Bertobatlah, karena kerajaan surga sudah hampir." Dengan suatu kuasa yang baru dan asing digerakkannya hati bangsa itu. Nabi‑nabi telah menubuatkan kedatangan Kristus sebagai suatu peristiwa yang masih jauh di masa depan; tetapi di sinilah suatu pengumuman yang mengatakan bahwa kedatangan itu sudah dekat. Munculnya Yohanes secara istimewa itu membawa pikiran para pendengarnya kembali kepada penilik‑penilik purbakala. Dalam cara‑cara serta pakaiannya ia menyerupai nabi Elia. Dengan roh dan kuasa Elia ditegurnya kebejatan bangsa itu dan ditempelaknya dosa‑dosa yang telah merajalela. Perkataannya tegas, tajam, dan meyakinkan. Banyak orang percaya bahwa ialah seorang daripada nabi‑nabi yang bangkit dari antara orang mati. Seluruh bangsa itu tergerak hati. Berduyun‑duyun orang pergi ke padang belantara.
 
Yohanes memaklumkan kedatangan Mesias, serta mengajak bangsa Itu kepada pertobatan. Sebagai lambang penyucian dari dosa, dibaptiskannya mereka itu di sungai Yordan. Demikianlah dengan suatu pelajaran penting yang mengandung arti dinyatakannya bahwa orang‑orang yang mengaku dirinya umat pilihan Allah itu sudah dinajiskan oleh dosa, dan bahwa dengan tiada penyucian hati dan hidup, mereka itu tidak dapat beroleh bagian dalam kerajaan Mesias itu.
 
Penghulu‑penghulu dan rabi‑rabi, serdadu‑serdadu, para pemungut cukai, dan para petani datang untuk mendengar nabi itu. Seketika lamanya amaran yang tekun yang datang dari Allah itu mengejutkan hati mereka. Banyak yang bertobat dan menerima baptisan. Orang dari segala lapisan masyarakat menyerahkan diri kepada tuntutan Pembaptis itu, supaya boleh mendapat bagian dalam kerajaan yang diumumkannya itu.
Banyak dari antara katib‑katib dan orang Farisi datang mengakui dosa mereka dan meminta baptisan. Mereka telah meninggikan diri sendiri sebagai orang yang lebih baik daripada orang lain, dan telah menuntun orang banyak untuk memandang tinggi kesalahan mereka; sekarang segala rahasia hidup mereka yang bersalah itu tersingkap. Tetapi Yohanes diberi tahu oleh Roh Suci bahwa banyak dari orang‑orang ini tidak menaruh keyakinan yang sungguh akan dosa. Mereka adalah pengikut aliran masa. Sebagai sahabat nabi itu mereka berharap akan mendapat kebaikan dari Raja yang akan datang itu. Maka oleh menerima baptisan dari tangan guru muda yang termasyhur ini, mereka bermaksud hendak memperkuat pengaruh mereka dalam masyarakat.
 
Yohanes menghadapi mereka dengan pertanyaan yang tajam ini, "Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah‑buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak‑anak bagi Abraham dari batu‑batu ini!” Orang Yahudi telah salah menafsirkan janji Allah tentang kebaikan yang kekal bagi Israel: "Beginilah firman Tuhan, yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang‑bintang untuk menerangi malam, yang mengharu-biru laut, sehingga gelombang‑gelombangnya ribut,‑‑Tuhan semesta alam nama‑Nya: 'Sesungguhnya, seperti ketetapan‑ketetapan ini tidak akan beralih dari hadapan‑Ku, demikianlah firman Tuhan, demikianlah keturunan Israel juga tidak akan berhenti menjadi bangsa di hadapan‑Ku untuk sepanjang waktu. Beginilah firman Tuhan: Sesungguhnya, seperti langit di atas tidak terukur dan dasar‑dasar bumi di bawah tidak terselidiki, demikianlah juga Aku tidak akan menolak segala keturunan Israel, karena segala apa yang dilakukan mereka, demikianlah firman Tuhan." Yeremia 31:35‑37. Orang Yahudi mengira bahwa karena mereka keturunan Abraham mereka berhak atas janji ini. Tetapi mereka mengabaikan syarat‑syarat yang telah ditentukan Allah. Sebelum memberikan janji itu, Ia telah berfirman, "Aku akan menaruh Taurat‑Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat‑Ku . . . sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." Yeremia 31:33,34.
 
Kepada suatu bangsa yang dalam hatinya hukum‑Nya tertulis, kebaikan Allah dipastikan. Mereka satu dengan Dia. Tetapi orang Yahudi telah memisahkan diri dari Allah. Karena dosa mereka menderita di bawah hukum‑Nya. Inilah yang menyebabkan perhambaan mereka kepada bangsa kafir. Pikiran mereka sudah digelapkan oleh pelanggaran, dan sebab pada waktu yang lalu Tuhan memberikan kepada mereka kebaikan yang begitu besar, mereka berdalih akan segala dosa mereka. Mereka memuji‑muji diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih baik daripada orang lain, dan berhak mendapat berkat‑berkat‑Nya.

Hal ini "dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." 1 Kor. 10:11. Betapa sering kita salah menafsirkan berkat‑berkat Allah, serta memuji diri kita sendiri bahwa kita beroleh kasih karena sesuatu kebaikan yang ada dalam diri kita. Allah tidak dapat melakukan bagi kita apa yang ingin dilakukan. Segala karunia‑Nya digunakan untuk memperbesar kepuasan diri kita sendiri serta untuk mengeraskan hati kita dalam keadaan kurang percaya dan dosa.
 
Yohanes menandaskan kepada guru‑guru Israel itu bahwa kecongkakan hati, sifat mementingkan diri, serta kebengisan mereka itu menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan ular beludak, suatu kutuk yang sungguh amat berbahaya bagi orang banyak, dan bukan anak‑anak Abraham yang adil dan penurut itu. Mengingat terang yang telah mereka terima dari Allah, mereka bahkan lebih jahat lagi daripada orang kafir, terhadap siapa mereka merasa diri sendiri jauh lebih tinggi. Mereka sudah melupakan batu yang dari padanya mereka telah dipahat, dan lubang yang dari dalamnya mereka telah digali. Allah tidak bergantung pada mereka untuk melaksanakan maksud‑Nya. Sebagaimana Ia telah memanggil Abraham keluar dari suatu bangsa kafir, demikian pula la dapat memanggil orang lain ke dalam pekerjaan‑Nya. Hati mereka mungkin tampak tidak bernyawa sekarang ini sama seperti batu‑batu di padang belantara, tetapi Roh‑Nya dapat menghidupkan mereka untuk melakukan kehendak‑Nya, serta menerima kegenapan janji‑Nya.
 
"Dan lagi," kata nabi itu, "kapak pun tersedia pada pangkal pohon; sebab itu tiap‑tiap pohon yang tak baik buahnya, yaitu akan ditebang dan dibuang ke dalam api." Bukannya oleh namanya, melainkan oleh buahnya nilai sesuatu pohon ditentukan. Kalau buahnya tidak berguna, maka namanya tidak dapat menyelamatkan pohon itu dari kebinasaan. Yohanes menegaskan kepada orang Yahudi bahwa kedudukan mereka di hadapan Allah harus ditentukan oleh tabiat serta kehidupan mereka. Pengakuan tidak berguna. Kalau kehidupan dan tabiat mereka tidak sesuai dengan hukum Allah, mereka itu bukanlah umat‑Nya.
 
Akibat perkataannya yang menusuk hati itu, para pendengarnya diyakinkan. Mereka datang kepadanya dengan pertanyaan, "Kalau begitu, apakah yang patut kami perbuat?" Jawabnya, "Adapun orang yang padanya ada baju dua helai, hendaklah dibagikannya kepada orang yang tidak punya, dan orang yang berbekal pun hendaklah berbuat demikian." Dan diberinya amaran kepada para pemungut cukai supaya jangan berlaku curang, dan kepada serdadu‑serdadu supaya jangan melakukan kekerasan.
 
Semua orang yang menjadi rakyat kerajaan Kristus katanya, akan membuktikan adanya iman dan pertobatan. Kebaikan hati, kejujuran dan kesetiaan akan nampak dalam kehidupan mereka. Mereka akan menolong fakir‑miskin, dan membawa persembahan mereka kepada Allah. Mereka akan melindungi orang yang tidak menaruh perlindungan, serta memberikan teladan kebajikan dan belas‑kasihan. Demikianlah para pengikut Kristus akan memberikan bukti akan kuasa Roh Suci yang mengubahkan itu. Dalam kehidupan sehari‑hari, keadilan, kemurahan, dan kasih Allah, akan kelihatan. Jika tidak demikian maka adalah mereka seperti sekam, yang dicampakkan ke dalam api.
 
"Aku membaptiskan kamu dengan air," kata Yohanes; "tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut‑Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api." Matius 3:11. Nabi Yesaya telah menandaskan bahwa Tuhan akan membersihkan umat‑Nya dari segala kejahatan mereka "dengan roh yang mengadili dan yang membakar." Firman Tuhan kepada Israel ialah, "Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya." Yes. 4:4; 1:25. Bagi Dosa, di mana saja pun terdapat, "Allah kita adalah api yang menghanguskan." Ibrani 12:29. Dalam diri segala orang yang menyerah kepada kuasa‑Nya, Roh Allah akan menghanguskan dosa. Tetapi kalau orang berpegang teguh kepada dosa, mereka itu menjadi satu dengan dosa. Maka kemuliaan Allah, yang membinasakan dosa itu, mesti membinasakan mereka. Yakub, sesudah malam pergumulannya dengan seorang malaikat berkata, "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Kejadian 32:30. Yakub telah melakukan suatu dosa yang besar dalam perlakuannya terhadap Esau; tetapi ia sudah bertobat. Pelanggarannya sudah diampuni, dan dosanya dibasuh; oleh sebab itu ia pun sanggup melihat kenyataan hadirat Allah. Tetapi di mana saja manusia datang menghadap Allah sementara dengan sengaja menyimpan kejahatan, mereka itu dibinasakan. Pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya kelak orang‑orang jahat akan dihanguskan "dengan napas mulut‑Nya," serta "memusnahkannya, kalau Ia datang kembali." 2 Tes. 2:8. Cahaya saleh akan membunuh orang jahat.
 
Pada zaman Yohanes Pembaptis, Kristus sudah hampir kelihatan sebagai seorang yang menyatakan tabiat Allah. Hadirat‑Nya sendiri akan menyatakan kepada manusia dosa mereka. Hanya bila mereka itu mau dibasuh dari dosa, dapatlah mereka masuk ke dalam persekutuan dengan Dia. Hanya orang yang suci hatinya dapat tinggal di hadirat‑Nya.
 
Demikianlah Pembaptis itu menyatakan pekabaran Allah kepada Israel. Banyak yang memperhatikan segala pengajarannya. Banyak yang mengorbankan segala sesuatu, agar dapat menurut. Banyak sekali orang yang mengikuti guru baru ini dari satu tempat ke tempat yang lain, dan tidak sedikit pula yang mengharap bahwa mungkin dialah Mesias itu. Tetapi ketika Yohanes melihat orang banyak itu berpaling kepadanya, dicarinyalah setiap kesempatan untuk mengarahkan iman mereka kepada Dia yang akan datang itu.

No comments: