Sejarah Dunia Kuno

Lion of Judah Open Doors 2019

Sep 9, 2013

Ide Yahudi di Lahan Tandus

Kompleks Kibbutz, komunitas pertanian di Israel. Terlihat di kiri kanan tempat itu adalah gurun tandus. Saat ini di tanah air sedang heboh buah-buahan impor asal Israel, khususnya jenis kurma dan jeruk. Alhasil anggota Dewan Perwakilan Rakyat kebakaran jenggot meminta pemerintah tegas memperbaiki kekeliruan itu. Indonesia sampai saat ini tidak mengakui keberadaan Israel. Meski ada beberapa pihak main belakang guna memasukkan produk Negeri Zionis itu. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per 7 Agustus 2012 lalu, dua di antara sembilan jenis buah impor terbesar diminati konsumen Indonesia berasal dari Israel. Juni lalu, 20,6 ton buah kurma senilai USD 191.300 asal Israel masuk ke Indonesia. Sedangkan April lalu jeruk jenis Shantang sebanyak 0,666 ton dengan nilai USD 709 ribu diimpor pengusaha dalam negeri.

Bidang pertanian Israel maju pesat dan menguasai hampir seluruh pangsa pasar di dunia tidak alam waktu singkat. Tidak pernah terbayang di benak para imigran Yahudi mereka harus meninggalkan segala kenikmatan telah dibangun di seluruh belahan dunia berdatangan dan dihadapkan pada kenyataan Tanah Yang Dijanjikan tandus. Alhasil mereka harus putar otak guna mencari cara bertahan hidup. Mereka lalu menggarap wilayah itu sekuat tenaga.

Dahulu mereka hidup berdampingan dengan warga Arab-Palestina. Tetapi lantaran ladang mereka sering diserang oleh suku Baduin, para petani itu pun membentuk komunitas Kibbutz dan Moshav. Setelah Negara Israel berdiri, gantian mereka meneror dan merampas ladang serta perkebunan warga Palestina.

Kibbutz adalah sebuah komunitas pertanian. Semua anggota kibbutz tinggal bersama dalam satu tempat mirip barak tentara. Mereka menggarap ladang bersama-sama dan hidup kolektif. Sementara Moshav adalah wilayah perkebunan milik pribadi, tetapi tetap dalam satu wilayah perkampungan. Setiap hari mereka mencangkul, membajak, serta menanami tanah mereka yang tandus dengan harapan akan membawa berkah buat mereka di kemudian hari. Jangan bayangkan hal itu dilakukan dengan peralatan modern. Dicangkul yang ditemui hanyalah pasir dan batu. Mereka lalu membuat sistem irigasi terpadu buat pengairan perkebunan dan ladang mereka terbentang dari wilayah utara sampai selatan. Maklum saja iklim di Timur Tengah panas bukan main. Musim hujan pun hanya terjadi pada September sampai April.
Hasil unggul pertanian Israel meliputi 40 jenis buah, di antaranya jeruk, anggur, lemon, alpukat, pisang, apel, ceri, plum, strawberi, pir, dan buah pome. Berkat penelitian dan teknologi, mereka mampu menghasilkan buah dengan kualitas nomor satu dan tampak menarik jika dilihat. Bahkan kini mereka sedang mengembangkan tanaman ganja tidak memabukkan buat kepentingan medis.

Negara Kecil dengan Ide Besar

Meski miskin kekayaan alam, Israel berhasil membangun dirinya sebagai kekuatan teknologi. Gurun Negev yang kering, berhasil diubahnya menjadi lahan pertanian produktif. Israel juga pelopor dalam inovasi dan teknologi biomedis dan telah berkontribusi besar bagi dunia dalam ilmu pengetahuan, kedokteran, teknologi, seni dan humaniora.

Israel sangat maju untuk inovasi biomedis :

    * Teknologi lengan dan kaki robot bermotor yang merespon perintah otak untuk membantu penderita lumpuh
    * Regenerasi sumsum tulang belakang.
    * Vaksin untuk mengobati anthrax.
    * Penelitian awal untuk menghasilkan molekul yang akan membunuh sel-sel kanker tetapi tidak mempengaruhi sel normal.
    * Terobosan penelitian untuk perawatan atau pengobatan untuk diabetes type 1, Parkinson , Alzheimer dan emfisema.
    * Camera mini video untuk mendiagnosis penyakit, misalnya usus dan kanker payudara.
    * Teknologi untuk menghancurkan bakteri jerawat (bakteri menghancurkan diri sendiri) tanpa merusak kulit di sekitarnya.
    * Terbesar di dunia perusahaan obat generik, Teva Pharmaceuticals.

Israel sangat maju dalam inovasi ramah lingkungan.
  • Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang memasuki abad ke-21 dengan peningkatan jumlah pohon.
  • Seorang ilmuwan Israel mempelopori penggunaan bakteri untuk membersihkan polusi minyak di kapal tanker, jaringan pipa dan di pantai.
  • Israel mengembangkan teknologi baru untuk menggantikan bahan kimia, pestisida, dan fungisida dalam pertanian hidroponik.
  • Perusahaan Israel, Evogene, memperkenalkan teknologi untuk mengubah gen makanan secara alami melalui "evolusi teknologi akselerator," yang mengembangkan gen dari tanaman yang sama.
  • Israel mengembangkan sistem irigasi yang merevolusi dunia pertanian.
  • Israel mengembangkan pemanaskan air bertenaga matahari, yang mengubah energi matahari menjadi energi termal.
  • Para peneliti Israel, Amerika dan Kanada membentuk Nanoteknologi Air Bersih untuk mengatasi kekurangan air di Timur Tengah dan bagian dunia lainnya.
Pertanian di gurun Negev yang kering

Penghijauan Padang Gurun

Israel adalah negara yang terkemuka dalam upaya konservasi air lewat berbagai pekerjaan mereka dalam mendaur ulang air limbah dalam persentase yang tinggi sekali untuk dipakai lagi dalam sektor pertanian. Kita dapat lihat beberapa video di Youtube yang menunjukkan bagaimana para petani Israel mengubah Padang Gurun Negev menjadi kebun sayur dan buah yang subur. Para petani Israel menciptakan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) untuk mengairi setiap tanaman yang mereka pelihara di tanah yang tandus. Air hujan tidak cukup. Untuk mendukung para petani, pemerintah Israel mendaur ulang air limbah dari kota-kota besar di negara itu dan memompanya kembali ke tanah-tanah pertanian Israel.

Saat ini 75% dari air limbah tersebut telah berhasil didaur ulang. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi di seluruh negara maju. Israel berusaha untuk meningkatkan persentase tersebut hingga 90%. Karena air daur ulang tidak digunakan untuk air minum, maka air tersebut dipompakan ke lahan-lahan pertanian untuk menghasilkan buah, sayur dan bunga yang saat ini menjadi komoditas pertanian utama negara tersebut yang diekspor ke Pasar Eropa. Untuk penyediaan air minum, Israel membangun 39 pabrik pengubah air asin menjadi air tawar (desalination plant) di sepanjang garis pantainya yang berjarak 230 km. Hadera adalah lokasi pabrik air tawar terbesar di dunia dengan kapasistas pemompaan air sebanyak 23.000 meter kubik air per jam.

Israel membangun pula danau-danau buatan di padang pasir untuk mengumpulkan air selama musim hujan sehingga bisa dipakai untuk pertanian, air minum dan kebutuhan industri. Sekarang, para petani Israel berbagai keberhasilan mereka dengan "sepupu" mereka - para petani Palestina untuk membantu mereka meningkatkan produksi pertanian buat kebutuhan konsumsi domestik dan pasar eksport. Dalam tahun-tahun belakangan ini, mahasiswa dan petani dari berbagai negara berkembang seperti Kenya dan India berkunjung ke Israel untuk mempelajari teknologi air negara Timur Tengah tersebut.

Israel bukan merupakan negara satu-satunya di dunia yang memiliki padang pasir. Kebanyakan wilayah Timur Tengah, sebagian Afrika, China, Australia dan Amerika Serikat memiliki tanah padang pasir yang tandus. Namun demikian, Israel adalah pemimpin dalam teknologi rekayasa air yang saat ini dilihat sebagai contoh dan inspirasi bagi banyak negara lain yang tertarik untuk memperbaiki sektor pertanian dan kuantitas serta kualitas air minum mereka. Meskipun lebih dari separuh tanahnya adalah padang pasir, Israel sangat berhasil dalam menghijaukan dataran mereka.
Negara kecil yang ukurannya kira-kira sama dengan New Jersey juga mengembangkan energi alternatif menggunakan panel surya photovoltaic, panel terkonsentrasi dan pembangkit listrik tenaga angin. Kemajuan-kemajuan Israel merupakan hal positif yang bisa menginspirasi seluruh dunia. ditulis oleh C

Sistem Pertanian Israel

Mendengar  nama Negara Israel atau bangsa Yahudi langsung dalam benak kita ada rasa antipati karena dianggap Negara yang jahat dan tidak bersahabat,  namun ternyata berbanding terbaik  dari yang dibayangkan,  penduduknya ramah dan baik. Satu ketika teman tersesat,lepas dari rombongan Ziarah,  kita beranggapan ini berbahaya, ternyata orang Yahudi baik mereka mengantar kembali ke Hotel  dan diberikan uang taxi sopir Yahudi itu menolak. Jadi adanya kebencian terhadap bangsa Yahudi akibat pemberitaan media masa yang  tidak netral. Terlepas dari itu semua sebenarnya ada hal yang patut kita teladani, dan hargai untuk belajar mengapa Negara Israel menjadi Makmur,  karena merekalah Bangsa Pilihan Allah, dan otaknya cerdas salah satunya dari Nutrisi makanannya dan memiliki  teknologi tinggi.

Bangsa Israel sebelum mengenal teknologi tinggi,  mereka sudah  membuat fondasi  yang kokoh dalam bidang pertanian. Puluhan tahun  yang lalu sebelum imigran Yahudi seluruh dunia kembali ke negeri Israel, tanah disana gersang dan delapan puluh lima persen (85 %) berupa gurun pasir yang kering, tanah subur hanya sebesar 15 % saja, sangat sedikit, karena curah hujan disana dalam setahun hanya 0.01 %  jadi sangat kecil kemungkinan jika mengandalkan tadahan air hujan, sehingga ketersediaan sumber daya air menjadi kendala utama disana, tetapi Puji Tuhan mereka berhasil mengatasinya. Caranya bagaimana ? .

Untuk merubah tanah kering, gersang  dan gurun pasir  yang susah air   tersebut,   salah satunya mereka membangun saluran-saluran   air dan pipa-pipa air  raksasa berpuluh kilo meter panjangnya dan mengambil air dari sungai-sungai  dan danau , salah satunya adalah Danau Tiberias,   kemudian air disedot ke tempat yang tinggi ,  pada puncak-puncak pengunungan  dibuat semacam dumb, bak air raksasa ditampung airnya disitu, kemudian mereka mengalirinya,   sebanyak 20 % untuk konsumsi perumahan dan Kota dan bahkan airnya  suci  hama sehingga langsung  dapat diminum  tanpa dimasak. Selanjutnya 80 % airnya dialiri ke sektor pertanian, kebanyakan di daerah  Gunung Negev yang gersang  dan selanjut dilahan pertanian tersebut, pipa-pipa tersebut dipecah-pecahkan menjadi pipa-pipa kecil  sampai pada tiap  akar tanaman dengan menggunakan teknologi system computers diatur waktu penyiraman  saat mana akar tanaman membutuhkan air.

Sehingga dengan demikian jika terjadi pemboikot dunia terhadap Negara Israel, tidak menjadi masalah karena Negara Israel  sangat mandiri dari sisi pangan, ekonomi dan teknologi ditengah 5 negara arab yang mengapitnya, Hampir mirip dengan  ide mengalirkan air dengan  membuat saluran besar ke Southern California di Amerika susah air tetapi  sejuk dari daerah sekitar nya, siapa tau insinyur perancangnya orang Yahudi yg sama juga, hebat kan…

Setelah masalah ketersediaan air dipecahkan,  dalam rangka   mempertahankan system pertanian modern yang terus berlanjut, maka mereka   membentuk komunitas-komunitas  pertanian yg dikenal dengan  istilah Kibutz.  Kibutz  dirancang dengan baik, dimana terdapat  jobdescriptions / pembagian  tugas yang jelas,  penentuan benih tanaman  yang akan ditanam ,pembagian area lokasi,  pembagian tempat pertanian, tempat tinggal, pasar dan tempat umum lainnya sampai pada model pendidikan untuk anak-anak   mereka.

Hampir sama dengan konsep  system Subak di Bali dan  system  Nagari di ranah minang  yang mana ada  pembagian wilayah pertanian dan sosial budaya. Kalau di Nagari  ada lokasi tempat tinggal, ada surau, ada kolam air sebagai sumber air,  pasar, kuburan, tanah  lapang untuk  acara tertentu, balai adat dan lain-lain.   

Jadi  Kibutz, bukan saja mengenai pertanian tetapi juga mereka mengembangkan metode pendidikan  baik untuk pertanian (primer)  juga pendidikan umum lainnya pada komunitas dari tingkat TK sampai SMA, mereka belajar di tempat khusus (sekolah bersama ) dan mendapatkan pelajaran-pelajaran dasar ketika orang tua mereka bekerja di daerah pertanian .  setelah tamat SMA   anak-anak  petani diberikan keterampilan khusus yg sesuai dg keahlian pertanian yg dibutuhkan, sehingga setelah lepas masa pendidikan mereka telah siap membantu orang tuanya mengembangkan usaha pertanian.

Jadi tidak repot lagi, tenaga ahli pertanian yang muda, produktif  dan fress sudah tersedia, mereka terus mengembangkan teknologi pertanian yang  telah dikembangkan orang tua mereka.  Bagaimana jika dibandingkan dengan Indonesia, pendidikan Indonesia, misalnya seorang  anak petani telah  Sarjana,  ketika ditanya apakah mau bekerja di Desanya atau di Kota, pasti memilih di Kota ? apa sebabnya, karena di sekolah mendapatkan pelajaran yang  tidak sejalan dengan  kegiatan pertanian,  mereka malah diajari ilmu-ilmu  dan keterampilan yang  jauh dari dunia sehari hari mereka, sehingga mereka terasing sendiri dg lingkungan asalnya,setelah lulus sekolah tak mau turun ke sawah atau ladang , tapi pergi mencari kerja ke kota , karena itu tidak heran pertanian di tempat kita tidak mendapat kemajuan berarti  dari sisi teknologi dan bisnis.

No comments: