Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Sep 5, 2013

Israel

Di dalam perintah untuk membebaskan Israel, Tuhan berkata kepada Firaun, "Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung. Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku." Keluaran 4:22, 23. Pemazmur mengatakan kepada kita mengapa Allah membebaskan Israel dari Mesir: "Dituntun-Nya umat-Nya ke luar dengan kegirangan dan orang-orang pilihan-Nya dengan sorak-sorai. Diberikan-Nya kepada mereka negeri-negeri bangsa-bangsa, sehingga mereka memiliki hasil jerih payah suku-suku bangsa, agar supaya mereka tetap mengikuti ketetapan-Nya, dan memegang segala pengajaran-Nya." Mazmur 105:43-45. Di sini kita mempelajari bahwa bangsa Ibrani tidak dapat beribadat kepada Allah di Mesir.
 
Di dalam Ulangan 5:14, 15 kita menemukan penegasan yang khusus diberikan kepada bahagian daripada hukum yang keempat yang menuntut hamba laki‑laki dan perempuan supaya beristirahat, dan bangsa Israel diperintahkan untuk mengingat bahwa mereka pernah menjadi hamba di tanah Mesir. Tuhan berkata, "Tetapi hari Ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. Sebab haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa ke luar dari sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan  yang teracung; itulah sebabnya Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat." Di dalam Keluaran 5:5 kita mempelajari bahwa Musa dan Harun "menghentikan mereka dari kerja paksanya."
 
Dari kenyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hari Sabat adalah salah satu dari perkara yang tidak dapat mereka pelihara dalam ibadat kepada Tuhan di Mesir; dan pada waktu Musa dan Harun datang dengan satu kabar dari Allah (Keluaran 4:29‑31), mereka berusaha untuk mengadakan satu pembaharuan, yang hanya menambahkan penindasan kepada mereka. Bangsa Israel dibebaskan agar supaya mereka bisa memelihara hukum‑hukum Tuhan, termasuk hukum yang keempat, dan hal ini telah memberikan kepada mereka satu tugas tambahan untuk memelihara Sabat dengan saksama, sebagaimana memeliharakan hukum‑hukum yang lainnya. Dengan demikian di dalam Ulangan 24:17, 18 kenyataan kelepasan mereka dari Mesir telah disebutkan sebagai sesuatu yang menempatkan mereka di bawah tanggung jawab istimewa untuk menunjukkan kebajikan kepada janda dan anak piatu: "Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai. Haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus Tuhan, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini."
 
Kutuk‑kutuk itu dimaksudkan untuk menghancurkan kepercayaan bangsa Mesir di dalam kekuasaan dan perlindungan segala berhala mereka, dan bahkan untuk menjadikan dewa‑dewa mereka itu nampak sebagai penyiksa‑penyiksa yang kejam terhadap orang‑orang yang berbakti kepada mereka, dapat dilihat dengan mempelajari agama Mesir. Beberapa contoh bisa dijadikan sebagai gambaran atas kenyataan ini.
 
Kutuk yang pertama, diubahkannya air sungai Nil dan sungai‑sungai lainnya menjadi darah (Keluaran 7:19), telah diarahkan untuk menyerang sumber daripada kehidupan Mesir. Sungai Nil dianggap suci, dan di beberapa tempat korban‑korban dipersembahkan untuk sungai Nil seperti kepada seorang dewa.
 
Kutuk yang kedua mendatangkan kodok ke negeri Mesir. Keluaran 8:6. Kodok dipandang suci oleh orang Mesir, dan salah seorang dewa mereka, Heqa, adalah seorang dewa perempuan yang berkepala kodok yang dianggap mempunyai kuasa untuk mencipta. Pada waktu kodok‑kodok, sebagai akibat daripada perintah Musa, bertambah banyak sehingga memenuhi negeri itu dari ujung ke ujung yang lainnya, orang‑orang Mesir merasa heran mengapa Heqa menyiksa gantinya melindungi orang‑orang yang berbakti kepadanya dengan tekun. Dengan jalan ini bangsa Mesir bukan hanya dihukum oleh kutuk yang kedua itu, tetapi juga menyaksikan bahwa cemoohan telah ditimpakan ke atas diri mereka, sebagaimana yang mereka sangka, oleh salah seorang daripada dewa mereka (Keluaran 9:3), dan banyak di antaranya yang mewakili dewa‑dewa yang berkuasa di dalam agama Mesir. Sebagai contohnya, kita dapati bahwa lembu Apis telah ditahbiskan kepada Ptah, bapa daripada segala dewa, sapi adalah suci bagi Hathor, salah satu dari antara dewa perempuan yang paling banyak disembah di negeri Mesir, sementara domba jantan melambangkan beberapa dewa seperti Khnemu, dan Amen yang berkepala domba, yang merupakan dewa utama daripada bangsa Mesir pada zaman Kekaisaran yang Baru. Oleh sebab itu, penyakit yang telah membinasakan binatang‑binatang yang telah diserahkan kepada dewa‑dewa mereka menunjukkan kepada bangsa Mesir bahwa dewa mereka itu tidak berdaya di hadapan hadirat Allah daripada bangsa Ibrani yang mereka hinakan itu.

Kutuk yang kesembilan (Keluaran 10:21) merupakan satu pukulan hebat terhadap salah satu daripada dewa‑dewa orang Mesir yang paling besar, dewa matahari Ra, yang senantiasa disembah semenjak zaman permulaan sejarah negeri itu. Di dalam satu negeri dimana awan amat jarang dilihat, matahari dianggap sebagai satu kuasa yang tidak pernah gagal untuk memberikan kehangatan, terang, kehidupan dan pertumbuhan kepada seluruh dunia ini. Setiap raja Mesir menganggap dirinya sebagai seorang "anak daripada Ra," dan menjadikan hal ini sebagai gelar mereka. Pada waktu Amen dari Thebes menjadi dewa utama di Mesir selama dinasti yang kedelapan belas, kuasa daripada dewa matahari Ra dianggap begitu besar sehingga satu kompromi telah diadakan untuk menggabungkan Amen dan Ra untuk menjadi satu dewa Amen‑Ra. Beberapa tahun setelah Keluaran, pada waktu Ikhnaton memperkenalkan monotheis yang tidak berlangsung lama itu, satu‑satunya dewa yang tetap diakui adalah Aton, bola matahari. Menyadari bagaimana dalamnya penyembahan matahari di dalam agama Mesir, dan bagaimana agungnya dewa matahari Ra, Amen‑Ra, atau Aton itu dihormati, kita bisa mengerti mengapa kutuk yang ditujukan kepada dewa itu telah diadakan menjelang tibanya puncak daripada pertarungan antara Allah bangsa Ibrani dan musuh‑musuh‑Nya yang di Mesir itu.
 
Juga kutuk yang kesepuluh, dibinasakannya anak sulung (Keluaran 12:29), telah memukul paling sedikit satu dewa, yaitu raja sendiri, yang dianggap sebagai Horus, anak Osiris. Sebagai pemerintah Mesir, oleh bawahan‑bawahannya ia diberi julukan sebagai "dewa yang baik." Oleh sebab itu, kutuk yang terakhir merupakan puncak daripada segala tindakan yang telah diadakan oleh Allah orang Ibrani yang mempunyai kuasa untuk mengadakan mukjizat itu. Sedemikian jauh dewa‑dewa yang mengendalikan kekuatan alam atau pun binatang tidak dipedulikan lagi, tetapi sekarang satu dewa yang hidup di dalam bentuk yang kelihatan di antara orang Mesir juga telah dihinakan oleh Allah budak‑budak Ibrani yang dinista itu, tentang siapa Firaun yang congkak itu pernah berkata, "Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan Firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku Tuhan itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi." Keluaran 5:2.
 
Di dalam Kejadian 15:13 kita membaca bahwa Tuhan berkata kepada Ibrahim: "Ketahuilah olehmu dengan ketentuannya, bahwa anak cucumu itu akan jadi orang dagang dalam negeri yang bukan mereka itu punya, dan mereka itu akan diperhambakan oleh orang isi negeri itu dan dianiaya empat ratus tahun lamanya." Ayat ini menimbulkan pertanyaan apakah empat ratus tahun itu menunjuk kepada masa penganiayaan ataukah pengembaraan ataukah kedua‑duanya, dan apakah hubungan antara 400 tahun dengan 430 tahun dalam Keluaran 12:40, 41 dan Galatia 3: 16, 17.
 
Keterangan dalam Keluaran 12:40, bahwa "lamanya bani Israel sudah duduk dalam negeri Mesir, ia itu empat ratus tiga puluh tahun," memberikan kesan bahwa bangsa Israel, mulai dari masuknya Yakub ke Mesir sampai kepada Keluaran, tinggal selama 430 tahun di Mesir. Bahwa kesan ini tidaklah benar adalah nyata dari tafsiran Paulus yang diilhamkan yang dikemukakan dalam Galatia 3: 16,17, dimana 430 tahun dikatakan mencakup jangka waktu mulai dari waktu Allah mengadakan perjanjian dengan Ibrahim sampai hukum itu diumumkan secara resmi di Sinai. Nampaknya Paulus menunjuk kepada janji yang pertama yang diadakan oleh Allah kepada Ibrahim pada waktu ia dipanggil untuk meninggalkan Haran. Kejadian 12:1‑3. Pada waktu itu masa 430 tahun mulai, pada waktu Ibrahim berumur 75 tahun (pasal 12:4), sementara masa 400 tahun dalam nubuatan Kejadian 15:13 baru mulai 30 tahun kemudian, pada waktu Ibrahim berumur 105 tahun dan anaknya Ishak berumur lima tahun (pasal 21:5). Pada waktu itu Ismael, yang "diperanakkan atas peri manusia yang memang itu sudah menganiayakan dia (Ishak) yang diperanakkan atas peri rohani" (Galatia 4:29; Kejadian 21:9‑11), mulailah satu masa penderitaan benih Ibrahim yang terputus‑putus dan berlangsung terus sampai pada waktu Keluaran. Ishak mengalami kesulitan bukan hanya dari saudara tirinya Ismael, tetapi juga dari bangsa Filistin (Kejadian 26:15, 20, 21); Yakub melarikan diri demi keselamatan hidupnya dari kejaran Esau (Kejadian 27:4143), dan kemudian dari Laban (Kejadian 31:21), dan kemudian sekali lagi dari ancaman Esau (Kejadian 32:8); Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara‑saudaranya (Kejadian 37:28), dan bani Israel telah dijajah oleh bangsa Mesir selama berpuluh‑puluh tahun (Keluaran 1: 14).

Jangka waktu dari saat dipanggilnya Ibrahim sampai kepada masuknya Yakub ke Mesir adalah 215 tahun, yang merupakan jumlah daripada (1) 25 tahun antara dipanggilnya Ibrahim sampai kepada kelahiran Ishak (Kejadian 12:4: 21:5), (2) 60 tahun antara kelahiran Ishak dan kelahiran Yakub (Kejadian 25:26), dan (3) umur Yakub pada waktu pindah ke Mesir (Kejadian 47:9). Ini menjadikan 215 tahun yang sisa daripada 430 tahun itu sebagai waktu yang sebenarnya bani Israel tinggal di Mesir. Oleh sebab itu masa 430 tahun dalam Keluaran 12:40 mencakup tinggalnya para bapa di Kanaan sebagaimana tinggalnya mereka di Mesir. Oleh karena pada zaman Musa, Palestina adalah merupakan bahagian daripada Mesir, maka tidaklah mengherankan jika pengarang pada zaman itu memasukkan Kanaan dalam istilah "Mesir". Penerjemah dari Septuagint, menyadari bahwa masa 430 tahun itu mencakup pengembaraan para bapa di Kanaan, telah menjadikan hal ini jelas dalam mengemukakan ayat ini: "Dan pengembaraan bani Israel, sementara mereka mengembara di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, adalah empat ratus tiga puluh tahun." Penerangan tambahan kepada tafsiran tentang masa 430 tahun seperti yang telah dikemukakan itu terdapat dalam nubuatan bahwa generasi yang keempat dari mereka yang telah memasuki Mesir akan meninggalkan tempat itu (Kejadian 15:16), dan kegenapannya yang dicatat dalam Keluaran 6: 16‑20.
 
Bangsa Israel, di dalam penyembahan mereka kepada patung anak lembu itu, mengaku sedang berbakti kepada Allah. Dengan demikian, Harun, pada waktu mengumumkan perbaktian kepada berhala itu, menyatakan, "Esok hari adalah hari raya bagi Tuhan." Mereka bermaksud untuk menyembah Allah, sebagaimana bangsa Mesir menyembah Osiris, dengan memakai lambang sebuah patung. Tetapi Allah tidak dapat menerima pelayanan seperti ini. Sekalipun itu diadakan atas nama‑Nya, dewa matahari, dan bukan Tuhan yang menjadi tujuan yang sebenarnya daripada perbaktian mereka itu.
 
Penyembahan kepada Apis disertai dengan perbuatan cabul yang amat keji, dan catatan Alkitab menunjukkan bahwa penyembahan patung lembu oleh bangsa Israel itu disertai dengan segala tindakan yang jahat yang biasa diadakan oleh orang kafir dalam perbaktiannya. Kita membaca: "Maka pada keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi‑pagi, lalu dipersembahkannya korban bakaran dan dibawanya korban syukur pula, maka orang banyak itu pun duduklah makan minum, kemudian bangkitlah mereka itu berdiri hendak bermain ramai‑ramai." Keluaran 32:6. Kata Ibrani yang diterjemahkan "bermain" mengartikan bermain yang disertai dengan melompat‑lompat, menyanyi dan menari. Tarian ini, terutama sekali di antara orang Mesir, bersifat cabul dan keji. Kata yang diterjemahkan "merusakkan halnya" dalam ayat berikutnya, dimana dikatakan, "Karena bangsamu yang telah kaubawa naik dari negeri Mesir, ia itu telah merusakkan halnya," adalah sama seperti yang digunakan dalam Kejadian 6: 11, 12, dimana kita membaca bahwa bumi itu rusak adanya, "karena segala manusia di atas bumi telah merusakkan jalannya." Hal ini menjelaskan mengapa Allah amat murka dan mengapa Ia bermaksud untuk memusnahkan orang banyak itu sekaligus.
 
Hukum Sepuluh adalah "perjanjian" yang dimaksudkan Tuhan pada waktu, dalam merencanakan untuk mengadakan satu perjanjian dengan Israel, Ia berkata, "Jikalau selalu kamu turut firmanku serta kamu memeliharakan perjanjianku," dst. Keluaran 19:5. Hukum Sepuluh diberi istilah "perjanjian" Allah sebelum perjanjian itu diadakan dengan Israel. Semuanya itu bukanlah satu persetujuan yang diadakan, melainkan sesuatu yang disuruh Allah agar mereka laksanakan. Dengan demikian Hukum Sepuluh itu Perjanjian Allah menjadi dasar daripada perjanjian yang diadakan antara Dia dengan Israel. Hukum Sepuluh dengan secara terperinci adalah "segala Firman ini," untuk mana perjanjian itu diadakan. Lihat Keluaran 24:8.
 
Bilamana satu korban dosa dipersembahkan bagi seorang imam atau bagi segenap perhimpunan, darahnya dibawa ke dalam bilik yang suci dan dipercikkan di hadapan tirai dan dibubuhkan kepada tanduk‑tanduk daripada mezbah keemasan itu. Lemaknya dibakar di atas mezbah korban bakaran di halaman baitsuci, tetapi tubuh korban itu dibakar di luar perkemahan itu. Lihat Imamat 4: 1‑21.
 
Namun demikian, bilamana persembahan itu adalah untuk seorang penghulu atau bagi salah seorang dari antara orang banyak itu, maka darahnya tidak dibawa ke dalam bilik yang suci, tetapi dagingnya harus dimakan oleh imam, sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepada Musa: "Maka imam yang mempersembahkan korban karena dosa itu akan makan dia, maka korban itu akan dimakan pada tempat yang suci pada halaman kemah perhimpunan." Imamat 6:26. Lihat juga Imamat 4:22‑35.
 
Dia yang telah mengucapkan hukum itu, yang memanggil Musa naik ke atas gunung dan berkata‑kata dengan dia, adalah Tuhan kita Yesus Kristus, adalah nyata dari pertimbangan ini:
 
Kristus adalah seorang, yang dengan‑Nya Allah di dalam segala waktu telah menyatakan Dirinya sendiri kepada manusia. "Tetapi kepada kita ada Satu sahaja, yaitu Allah Bapa, maka segala sesuatu daripada Dialah asalnya, dan kita menuju Dia, dan Tuhan pun Satu juga, yaitu Yesus Kristus, oleh sebabnyalah ada segala sesuatu, dan kita pun ada oleh sebabnya." I Korintus 8:6. "Maka ialah (Musa) yang ada di dalam perhimpunan di padang belantara beserta dengan malaikat, yang bertutur kepadanya di gunung Torsina itu, dan beserta dengan nenek moyang kita, dan yang menerima segala Firman yang hidup, supaya disampaikannya kepada kita." Kisah Rasul 7:38. Malaikat ini adalah Malaikat dari Hadirat Allah (Yesaya 63:9), Malaikat, yang di dalamnya terdapat nama Tuhan yang agung itu (Keluaran 23:20‑23). Pernyataan ini tidak lain menunjuk kepada Anak Allah.
 
Dan lagi: Kristus disebut sebagai Kalam Allah. Yohanes 1 :1‑3. Ia disebut demikian karena Allah telah memberikan wahyunya kepada manusia pada segala zaman melalui Kristus. Roh‑Nyalah yang mengilhami nabi‑nabi. 1 Petrus 1:10, 11. Ia dinyatakan kepada mereka sebagai Malaikat Tuhan, Penghulu daripada bala tentara Allah, Mikhael Penghulu Malaikat itu.

Pertanyaan telah dikemukakan, dan sekarang banyak diperdebatkan, Jikalau satu pemerintahan theokrasi baik pada zaman Israel, mengapa satu bentuk pemerintahan theokrasi tidak sama baiknya untuk zaman sekarang ini? Jawabnya mudah:
 
Theokrasi adalah satu pemerintahan yang memperoleh kekuasaannya langsung dari Allah. Pemerintahan Israel adalah satu pemerintahan theokrasi yang sebenarnya. Itu adalah sesungguhnya satu pemerintahan Allah. Di semak belukar yang. menyala‑nyala, Tuhan memberikan tugas kepada Musa untuk memimpin umat‑Nya keluar dari Mesir. Oleh tanda‑tanda ajaib dan mukjizat yang hebat yang banyak itu, Allah telah membebaskan Israel dari Mesir dan memimpin mereka menyeberangi padang belantara sampai akhirnya memasuki Tanah Perjanjian. Di sana Ia memerintahkan mereka melalui para hakim "sampai Samuel nabi itu," yang padanya, waktu ia masih seorang anak‑anak, Allah telah berkata‑kata, dan dengannya Ia telah menyatakan kehendak‑Nya. Pada zaman Samuel orang banyak meminta agar mereka mempunyai seorang raja. Hal ini diizinkan, dan Allah telah memilih Saul, dan Samuel telah melantik dia sebagai raja Israel. Saul telah gagal melakukan kehendak Allah, dan sebagai ia telah menolak Firman Tuhan, Tuhan pun telah menolak dia sebagai raja dan telah menyuruh Samuel untuk melantik Daud sebagai raja Israel; dan takhta Daud telah Allah tetapkan untuk selama‑lamanya. Pada waktu Solaiman menggantikan Daud, bapanya, sebagai raja, catatan mengatakan: "Maka bersemayamlah Solaiman di atas takhta kerajaan Tuhan, menjadi raja akan ganti Daud, ayahanda baginda." I Tawarikh 29:23. Takhta Daud adalah takhta Tuhan, dan Solaiman duduk di atas takhta Tuhan sebagai raja atas kerajaan Allah yang di dunia. Tampuk pemerintahan itu kemudian diturunkan kepada keturunan Daud sampai kepada Zedekia, yang menjadi bawahan kepada raja Babel, dan yang mengadakan satu perjanjian yang khidmat di hadapan Allah bahwa ia akan setia kepada raja Babel. Tetapi Zedekia melanggar janji itu, dan kemudian Allah berkata kepadanya:
"Maka engkau, hai raja Israel! yang sudah najis dan durhaka, bahwa harimu sudah sampai, yaitu masa kejahatan yang terkemudian. Demikianlah Firman Tuhan Hua: Lalukanlah tengkuluk itu, tanggalkanlah mahkota itu, tiada lagi ia itu seperti dahulu; bahwa Akulah meninggikan orang yang rendah dan merendahkan orang yang tinggi. Bahwa Aku menaruh mahkota itu akan dibalik, dibalik, dibalik belah, maka satu pun tiada akan ada sampai datang ia yang berhak atasnya, dan kepadanya juga kukaruniakan dia." Yehezkiel 21:25‑27. Lihat juga pasal 17:1‑21.

Kerajaan itu kemudian berada di bawah kekuasaan Babel. Pada waktu Babel runtuh, dan Medo‑Parsi menggantikannya, kerajaan itu telah dibalik untuk pertama kalinya. Pada waktu Medo‑Parsi runtuh dan digantikan oleh Gerika, kerajaan itu telah dibalik untuk kedua kalinya. Pada waktu kerajaan Gerika menyerah kepada Roma, kerajaan itu telah dibalik untuk ketiga kalinya. Dan kemudian kata Firman itu, "Maka satu pun tiada akan ada sampai datang ia yang berhak atasnya, dan kepadanya juga kukaruniakan dia." Siapakah Dia yang berhak itu? "Engkau . . . namakan Dia Yesus. Maka Ia akan menjadi besar, dan Ia akan dikatakan Anak Allah Yang Mahatinggi; maka Allah, Tuhan kita, akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu. Maka ia pun akan menjadi raja atas benih Yakub selama‑lamanya, dan kerajaannya itu tiada berkesudahan." Lukas 1:31‑33. Dan sementara Ia berada di atas dunia sebagai "Nabi itu," seorang Manusia Yang Bersedih Hati yang diliputi oleh kedukaan, pada malam tatkala Ia dikhianati, Ia Sendiri menyatakan, "Kerajaan‑Ku bukan di dunia ini." Dengan demikian takhta Tuhan telah dipindahkan dari dunia ini dan "satu pun tiada akan ada sampai datang ia yang berhak ke atasnya," dan kemudian itu akan diberikan kepada‑Nya. Dan waktu itu adalah kesudahan dunia ini, dan awal daripada dunia yang akan datang."
 
Kepada kedua belas rasul Juruselamat berkata, "Sebab itu Aku menentukan bagimu kerajaan, sebagaimana Bapaku juga menentukan dia bagiku, supaya kamu makan minum semeja dengan Aku di dalam kerajaanku, dan kamu duduk di atas takhta menghakimkan dua belas suku bangsa Israel." Lukas 22:29, 30. Dari catatan Matius tentang janji Kristus kepada Kedua belas rasul itu kita mempelajari kapan waktunya hal itu akan digenapkan: "Pada masa kejadian alam yang baharu, apabila Anak Manusia kelak duduk di atas takhta kemuliaannya, maka kamu ini pun, yang sudah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta serta menghakimkan dua belas suku bangsa bani Israel." Matius 19:28. Di dalam perumpamaan talenta, Kristus menyatakan Dirinya dengan lambang seorang bangsawan yang "berangkat ke negeri yang jauh akan menerima kerajaan bagi dirinya, lalu kembali." Lukas 19:12. Dan Ia Sendiri telah mengatakan kepada kita kapan Ia akan duduk di atas takhta kemuliaan‑Nya: "Apabila Anak Manusia datang kelak dengan kemuliaan‑Nya, dan segala malaikat‑Nya pun sertanya, lalu Ia akan duduk di atas takhta kemuliaan‑Nya; maka sekalian bangsa manusia pun akan dihimpunkan di hadapan‑Nya." Matius 25:31, 32.
 
Kepada saat inilah penulis buku Wahyu memandang ke depan pada waktu ia berkata, "Kerajaan dunia ini menjadi kerajaan Tuhan kita dan kerajaan Kristusnya, maka Ia akan memerintah kelak selama‑lamanya." Wahyu 11:15. Ayat‑ayatnya dengan jelas menunjukkan bilamana hal ini akan terjadi: "Segala orang kafir itu sudah naik marahnya, tetapi murkamu sudah sampai, dan ketika orang mati dihukumkan, dan sudah sampai ketika memberi pahala segala hambamu, yaitu nabi‑nabi dan orang‑orang suci dan orang yang takut akan namamu, baik kecil baik besar; dan lagi sudah sampai ketika membinasakan segala orang yang merusakkan bumi ini," Ayat 18. Pada waktu hukuman yang terakhir, pahala orang yang benar dan hukuman bagi orang jahat dimana kerajaan Kristus akan didirikan. Apabila semua orang yang menentang pemerintahan Kristus telah dibinasakan, kerajaan dunia ini akan menjadi kerajaan Tuhan kita dan kerajaan Kristus.
 
Kemudian Kristus akan memerintah, "Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala Tuhan." Wahyu 19:16. "Pada masa itu kerajaan dan pemerintahan dan kuasa segala kerajaan yang di bawah segala langit itu akan dikaruniakan kepada segala umat kesucian Yang Maha Tinggi." Dan "segala kesucian Allah taala akan menerima kerajaan dan mempunyai kerajaan itu kekal sampai selama‑lamanya, bahkan, sampai selama‑lamanya." Daniel 7:27, 18.
 
Sebelum waktu itu kerajaan Kristus tidak akan didirikan di atas
dunia ini. Kerajaan‑Nya bukanlah di dunia ini. Para pengikutnya haruslah menganggap diri mereka sebagai "orang dagang dan penumpang di dalam dunia ini." Paulus berkata, "Tetapi tanah air kita ada di surga, dari sana juga kita menantikan Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus." Ibrani 11:13; Pilipi 3:20.

Oleh karena kerajaan Israel telah berlalu, Allah tidak pernah memberikan wewenang kepada seseorang atau kepada sekelompok orang untuk menjalankan hukum‑Nya seperti itu. "Bahwa kepada Akulah ada pembalasan, Aku ini akan membalaskan, kata Firman Tuhan." Roma 12:19. Pemerintahan sipil bisa berbuat sesuatu yang bertalian dengan hubungan antara manusia dengan manusia, tetapi mereka tidak mempunyai wewenang apa pun terhadap tanggung jawab daripada manusia dalam hubungannya kepada Tuhan.
 
Kecuali kerajaan Israel, tidak ada pemerintahan di atas dunia ini di dalam mana Allah melalui hamba yang diilhamkan‑Nya memerintahkan segala urusan negara itu. Kapan saja manusia telah berusaha untuk membentuk pemerintahan seperti pemerintahan Israel, maka adalah satu keharusan bagi mereka untuk memikul tanggung jawab menafsirkan dan melaksanakan hukum Allah. Mereka telah mengambil hak untuk mengendalikan hati nurani, dan dengan demikian mereka telah merebut hak mutlak Allah.
 
Pada zaman dahulu, sementara dosa terhadap Allah telah dijatuhi hukuman yang sementara, pehukuman itu dijalankan bukan hanya dengan persetujuan Ilahi, tetapi oleh perintah Tuhan yang langsung. Para petenung harus dihukum mati. Penyembah berhala harus dibunuh. Menghujat dan menghinakan perkara yang suci dihukum dengan hukuman mati. Seluruh bangsa yang menyembah berhala harus dimusnahkan. Tetapi dijalankannya hukuman ini diperintahkan oleh Dia yang bisa membaca hati manusia, yang mengetahui takaran kejahatan mereka, dan yang memperlakukan makhluk‑makhluk‑Nya dengan hikmat dan rahmat. Apabila manusia, dengan hawa nafsu dan kelemahannya itu, mencoba menjalankan tugas seperti itu, maka tidak akan diragukan lagi pintu akan terbuka bagi kekejaman dan ketidakadilan yang tidak terkendalikan. Kejahatan manusia yang paling kejam akan dijalankan dan semuanya itu dibuat atas nama Kristus yang suci.
 
Dari undang‑undang bangsa Israel, yang menghukum segala tindakan yang menghina Tuhan, telah ditarik kesimpulan untuk membuktikan adanya tugas untuk menghukum dosa yang sama pada zaman ini. Semua orang penganiaya telah menggunakan segala dalih ini untuk membenarkan tindakan mereka. Prinsip bahwa Allah telah memberikan wewenang kepada manusia untuk mengendalikan hati nurani adalah dasar daripada tirani dan penganiayaan yang diadakan atas nama agama. Tetapi semua orang yang berpikir secara demikian kehilangan pandangan terhadap kenyataan bahwa kita sekarang ini hidup dalam zaman yang berbeda, di bawah keadaan yang berbeda dengan zaman Israel; bahwa kerajaan Israel adalah satu lambang daripada kerajaan Kristus, yang tidak akan didirikan sebelum kedatangan‑Nya yang kedua kali, dan bahwa tanggung jawab yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah tidak diatur atau dipaksakan oleh wewenang manusia.

Tentang identitas Rama tempat tinggal Samuel dan Rama Benyamin, Dr. Edersheim berkata, "Kedua hal ini jelas: Tempat tinggal Saul adalah di Gibea, dan pertama kali ia bertemu dengan Samuel adalah di Rama. Tetapi jikalau demikian, nampaknya mungkin, sehubungan dengan 1 Samuel 10:2, untuk menyamakan Rama tempat tinggal Samuel dengan Rama Benyamin, atau menganggapnya sebagai tempat modern yang bernama Nabi Samuel, empat mil di sebelah barat laut Yerusalem."
 
Dan kini suatu khayal lain melintas di hadapannya. Kepadanya sebelumnya telah ditunjukkan pekerjaan Setan dalam memimpin orang‑orang Yahudi untuk menolak Kristus, sementara mereka mengaku menghormati hukum Bapa‑Nya. Kini ia melihat dunia Kristen di bawah penipuan yang sama dalam mengaku menerima Kristus pada hal mereka menolak hukum Allah. Ia telah mendengar para imam dan penghulu‑penghulu berteriak, "Enyahkan Dia!" "Salibkan Dia, salibkan Dia!" dan kini ia mendengar teriakan dari orang‑orang yang mengaku sebagai guru‑guru Kristen berseru, "Taurat sudah dipalangkan!" Ia melihat hari Sabat diinjak‑injak, dan sebuah lembaga tiruan didirikan sebagai penggantinya. Sekali lagi Musa terheran‑heran dan merasa gentar. Bagaimana mungkin orang‑orang yang percaya akan Kristus menolak hukum yang diucapkan oleh suara‑Nya sendiri di atas gunung yang kudus? Bagaimana mungkin sehingga ada orang yang takut akan Allah menyingkirkan hukum yang menjadi landasan pemerintahan‑Nya di surga dan di bumi? Dengan sukacita Musa melihat hukum Allah masih dihormati dan ditinggikan oleh sedikit orang yang setia. Ia melihat perjuangan sengit terakhir dari penguasa‑penguasa dunia yang hendak membinasakan orang‑orang yang memelihara hukum Allah. Ia memandang ke masa yang akan datang kepada saat apabila Allah akan tampil untuk menghukum penduduk bumi karena kejahatan mereka, dan mereka yang takut akan nama‑Nya akan dilindungi dan diluputkan pada hari murka‑Nya. Ia mendengar perjanjian perdamaian Allah dengan mereka yang telah memelihara hukum‑Nya, ketika Ia membuka suara‑Nya dari singgasana‑Nya yang kudus sehingga langit dan bumi bergoncang. Ia melihat kedatangan Kristus yang kedua kali dalam kemuliaan, orang benar yang mati bangkit kepada peri yang tidak akan binasa, dan orang‑orang saleh yang masih hidup diubahkan tanpa merasai kematian, dan bersama‑sama naik menuju kota Allah dengan nyanyian kesukaan.
 
Masih ada pemandangan lain yang ditunjukkan padanya bumi yang dibebaskan dari kutuk, jauh lebih indah daripada Tanah Perjanjian yang baru saja terbentang di hadapannya. Di sana tidak ada dosa, dan maut pun tak dapat masuk. Di sana bangsa‑bangsa yang diselamatkan memperoleh rumahnya yang kekal. Dengan kesukaan yang tak terkatakan Musa melihat pemandangan ini kegenapan kelepasan yang lebih mulia daripada pengharapan paling cemerlang yang dibayang‑bayangkannya. Pengembaraan duniawi mereka berhenti selama‑lamanya, umat Israel Allah akhirnya memasuki negeri yang permai.

No comments: