Sejarah Dunia Kuno

Lion of Judah Open Doors 2019

Sep 16, 2013

Kehidupan Kristus

Sejak kecil sekali anak orang Yahudi sudah dikelilingi dengan segala tuntutan rabi‑rabi. Berbagai peraturan yang keras sudah ditentukan untuk setiap kegiatan, hingga soal‑soal kehidupan yang terkecil sekali pun. Di bawah asuhan guru‑guru di rumah sembahyang orang‑orang muda diajar tentang peraturan‑peraturan yang tidak terkira banyaknya, yang diharap mereka taati sebagai orang Israel yang beribadat. Tetapi Yesus tidak memusingkan diri‑Nya dalam soal‑soal ini. Sejak kecil Ia berlaku bebas dari segala hukum rabi‑rabi. Segala tulisan dalam Wasiat Lama selamanya dipelajari‑Nya dan perkataan, "Demikianlah sabda Tuhan," selamanya ada di bibir‑Nya.

Ketika keadaan bangsa itu mulai terbuka bagi pikiran‑Nya, dilihat‑Nya bahwa tuntutan masyarakat dan tuntutan Allah selamanya berbenturan satu sama lain. Manusia sudah menjauhkan diri dari sabda Allah, serta meninggikan segala teori rekaan mereka sendiri. Mereka memelihara upacara‑upacara tradisi yang tidak mengandung manfaat. Acara perbaktian mereka hanyalah berupa upacara agama yang diulang‑ulang belaka; segala kebenaran kudus yang hendaknya diajarkannya, tersembunyi dari orang‑orang yang datang berbakti. Ia melihat bahwa dalam upacara‑upacara mereka yang tidak disertai iman itu mereka tidak mendapat damai. Mereka tidak mengenal kebebasan roh yang akan datang kepada mereka oleh berbakti kepada Allah dalam kebenaran. Yesus telah datang guna mengajarkan arti perbaktian kepada Allah, dan Ia tidak dapat membenarkan pencampuran segala tuntutan manusia dengan ajaran Ilahi. Ia tidak menyerang ajaran atau kebiasaan guru‑guru yang alim itu; tetapi bila ditegur karena segala kebiasaan‑Nya sendiri yang sederhana itu, Ia mengucapkan sabda Allah untuk membenarkan tingkah laku‑Nya itu.
 
Dengan cara yang halus dan lembut, Yesus berusaha menyenangkan hati orang‑orang yang berbicara dengan Dia. Sebab Ia bersikap lemah‑lembut dan tidak suka menonjolkan diri maka katib‑katib dan tua‑tua menyangka bahwa Ia akan mudah terpengaruh oleh pengajaran mereka. Mereka membujuk Dia supaya menerima baik segala adat‑istiadat serta tradisi yang telah diwariskan turun temurun dari rabi‑rabi purbakala, tetapi Ia meminta wewenang mereka dalam Alkitab. Ia mau mendengar tiap sabda yang keluar dari mulut Allah; tetapi Ia tidak dapat menurut segala rekaan manusia. Yesus tampaknya mengetahui Alkitab dari awal sampai akhir, dan Ia menguraikannya dalam arti yang sesungguhnya. Rabi‑rabi merasa malu diajar oleh seorang anak kecil. Mereka menuntut bahwa kewajiban merekalah untuk menjelaskan Alkitab, dan bahwa pihak‑Nyalah yang harus menerima tafsiran mereka. Mereka marah karena Ia berani melawan perkataan mereka itu.
 
Mereka tahu bahwa tidak ada wewenang yang dapat diperoleh dalam Alkitab untuk tradisi‑tradisi mereka itu. Mereka menyadari bahwa dalam pengertian rohani Yesus jauh lebih maju daripada mereka. Namun mereka marah karena Ia tidak menurut segala perintah mereka. Karena tidak berhasil meyakinkan Dia, mereka mencari Yusuf dan Maria, lalu membentangkan di hadapan mereka pembawaan‑Nya yang tidak taat itu. Demikianlah Ia menderita teguran dan kecaman.
 
Dalam usia yang masih sangat muda, Yesus sudah mulai bertindak menurut cara‑Nya sendiri dalam pembentukan tabiat‑Nya, bahkan hormat serta cinta pada orang tua‑Nya sekali pun tidak dapat mencegah Dia daripada penurutan kepada firman Allah. "Adalah tersebut" ialah alasan‑Nya bagi tiap perbuatan yang berbeda dari kebiasaan kekeluargaan. Tetapi pengaruh rabi‑rabi menyebabkan pengalaman hidup‑Nya amat pahit. Pada masa muda‑Nya sekalipun Ia mesti memahami pelajaran‑pelajaran berat dalam bertahan dengan diam dan sabar.
 
Saudara‑saudara‑Nya, ialah anak‑anak Yusuf, memihak kepada rabi‑rabi. Mereka bersikeras mengatakan bahwa tradisi‑tradisi mesti ditaati seakan‑akan hal itu adalah tuntutan Allah. Mereka bahkan menganggap segala ajaran manusia itu lebih tinggi daripada firman Allah, dan mereka merasa sangat tersinggung oleh ketajaman otak Yesus dalam membedakan antara yang salah dan yang benar. Ketaatan‑Nya yang saksama pada hukum Allah mereka salahkan sebagai kedegilan. Mereka merasa heran akan pengetahuan serta akal budi yang ditunjukkan‑Nya dalam menjawab rabi‑rabi. Mereka tahu bahwa Ia tidak pernah mendapat pelajaran dari orang‑orang terpelajar itu, namun mereka terpaksa melihat bahwa Ia merupakan seorang guru bagi mereka. Mereka mengakui bahwa pendidikan‑Nya mengandung jenis yang lebih tinggi daripada pendidikan mereka. Tetapi mereka tidak melihat bahwa Ia dapat menghampiri pohon alhayat, yaitu sebuah sumber ilmu pengetahuan yang tentang itu mereka tidak mengetahui sedikit pun.
 
Kristus tidak mengasingkan diri, dan Ia telah dengan istimewa menyinggung perasaan kaum Farisi oleh menyimpang dalam hal ini dari peraturan‑peraturan mereka yang keras itu. Ia melihat lapangan agama dipagari dengan tembok pemisah yang tinggi‑tinggi, sebagai sesuatu yang terlalu keramat untuk kehidupan sehari‑hari Tembok pemisah ini dihancurkan‑Nya. Dalam pergaulan‑Nya dengan manusia Ia tidak bertanya. Apa agamamu? Gereja mana kau ikuti? Ia menggunakan kuasa‑Nya untuk kepentingan sekalian orang yang memerlukan pertolongan. Gantinya mengasingkan diri dalam rumah pertapaan, agar dapat menunjukkan tabiat semawi‑Nya, Ia bekerja dengan tekun untuk umat manusia. Ia menanamkan asas bahwa agama Kitab Suci tidak bergantung kepada penyiksaan tubuh. Ia mengajarkan bahwa agama yang suci dan tidak bercacat bukannya dimaksudkan semata‑mata untuk waktu‑waktu tertentu dan untuk saat‑saat istimewa. Pada segala waktu dan di segala tempat Ia menyatakan minat yang penuh kasih‑sayang terhadap manusia, serta memancarkan di sekeliling‑Nya cahaya kesalehan yang gembira. Semuanya ini merupakan suatu tempelakan bagi orang Farisi. Ditunjukkannya bahwa agama bukannya bergantung kepada sifat mementingkan diri dan bahwa pengabdian mereka yang tidak sehat itu kepada kepentingan diri sendiri adalah jauh daripada peribadatan yang sejati. Hal ini telah membangkitkan permusuhan mereka melawan Yesus, sehingga mereka mencoba memaksakan penurutan‑Nya kepada segala peraturan‑peraturan mereka.
 
Yesus bekerja untuk meringankan setiap penderitaan yang dilihat‑Nya. Ia mempunyai sedikit uang untuk diamalkan, tetapi Ia acapkali menyangkal diri untuk memberikan makanan agar dapat membantu orang‑orang yang lebih berkekurangan daripada‑Nya. Saudara‑saudara‑Nya merasa bahwa pengaruh‑Nya berjasa banyak untuk merintangi pengaruh mereka. Ia mempunyai akal budi yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari mereka atau yang ingin mereka miliki. Kalau mereka berbicara kasar kepada orang yang miskin dan hina, Yesus mencari justru orang‑orang yang malang ini, serta memberanikan hati mereka. Kepada orang‑orang yang berkekurangan Ia suka memberikan secangkir air sejuk, seraya dengan diam‑diam menaruh makanan‑Nya Sendiri ke tangan mereka. Sementara Ia meringankan penderitaan mereka, segala kebenaran yang diajarkan‑Nya dihubungkan dengan perbuatan kasihan‑Nya itu, dan dengan demikian mencantumkannya dalam ingatan.
 
Semuanya ini mengecilkan hati saudara‑Nya. Karena lebih tua dari Yesus mereka merasa bahwa Ia harus di bawah perintah mereka. Mereka mempersalahkan Dia dengan mengatakan bahwa Ia menganggap diri‑Nya lebih tinggi daripada mereka, serta menegur Dia karena menempatkan diri‑Nya sendiri di atas guru‑guru mereka, di atas imam‑imam mereka dan penghulu‑penghulu bangsa Yahudi. Sering mereka mengancam dan mencoba menakut‑nakuti Dia; tetapi Ia berjalan terus menggunakan Alkitab sebagai penuntun‑Nya.
 
Yesus mengasihi saudara‑saudara‑Nya, dan memperlakukan mereka itu dengan kebaikan hati yang tiada putus‑putusnya; tetapi mereka itu cemburu pada‑Nya, dan menyatakan sikap kurang percaya dan sikap memandang remeh yang nyata. Mereka tidak dapat mengerti tingkah laku‑Nya. Banyaklah pertentangan besar nampak dalam diri Yesus. Ialah Anak Allah yang Ilahi namun Ia adalah seorang anak kecil yang tidak berdaya. Khalik segala dunia, dan bumi ini adalah milik‑Nya, namun kemiskinan meliputi pengalaman hidup‑Nya pada setiap langkah. Ia memiliki suatu kebesaran dan kepribadian yang semata‑mata berbeda dengan kesombongan dan ketekeburan duniawi; Ia tidak berjuang untuk mengejar kebesaran duniawi, malah dalam kedudukan yang terhina sekali pun Ia merasa puas. Hal ini membangkitkan kemarahan saudara‑saudara-Nya. Mereka tidak dapat mengerti ketenangan-Nya yang tetap dalam menghadapi ujian dan kemelaratan. Mereka tidak tahu bahwa untuk kepentingan kita Ia telah menjadi papa, supaya kita "menjadi kaya oleh kepapaan‑Nya itu." Mereka tidak dapat mengerti rahasia tugas‑Nya lebih daripada sahabat‑sahabat Ayub dapat mengerti kehinaan serta penderitaannya.
 
Yesus dipahami salah oleh saudara‑saudara‑Nya sebab Ia tidak seperti mereka. Asas yang dipegang‑Nya bukanlah asas yang mereka pegang. Dalam memandang kepada manusia mereka telah menjauhkan diri dari Allah, dan mereka tidak mempunyai kuasa‑Nya dalam hidup mereka. Segala peraturan agama yang mereka anut itu, tidak dapat mengubahkan tabiat. Mereka membayar "dalam sepuluh asa daripada selasih dan adas manis dan jintan," tetapi "lalaikan perkara yang terberat dalam Taurat, yaitu kebenaran dan rahmat dan amanat." Teladan yang diberikan Yesus merupakan suatu gangguan yang terus‑menerus bagi mereka. Hanya satu perkara yang dibenci‑Nya di dunia ini, yaitu dosa. Ia tidak dapat menyaksikan satu perbuatan yang salah tanpa kepedihan yang tidak mungkin dapat disembunyikan. Di kalangan orang‑orang yang beragama sekadar peraturan saja, yang kesuciannya secara lahir menyembunyikan kecintaan pada dosa, dengan suatu tabiat yang dalamnya semangat untuk kemuliaan Allah selamanya paling utama, perbedaan amat nyata. Sebab kehidupan Yesus mempersalahkan kejahatan, Ia dilawan baik di rumah maupun di luar rumah. Sifat tidak mementingkan diri dan ketulusan‑Nya dibicarakan dengan sikap mengejek. Kesabaran dan kebaikan hati‑Nya disebut sifat pengecut.

Dari segala kepahitan yang menjadi nasib manusia, tidak ada bagian yang tidak dirasai oleh Kristus. Ada orang yang mencoba melemparkan hinaan kepada‑Nya karena kelahiran‑Nya, bahkan pada waktu masih kanak‑kanak pun Ia mesti menghadapi pandangan mereka yang menghina dan bisikan mereka yang jahat. Sekiranya Ia menjawab dengan sepatah kata dan pandangan yang tidak sabar, sekiranya la menyerah kalah kepada saudara‑saudara‑Nya itu oleh hanya suatu perlakuan yang salah sekali pun, niscaya Ia sudah akan gagal menjadi suatu teladan yang sempurna. Dengan demikian Ia sudah pasti akan gagal melaksanakan Ikhtiar penebusan kita. Sekiranya Ia hanya mengaku bahwa ada maaf untuk dosa, Setan tentu akan menang, dan dunia ini sudah pasti akan hilang. Inilah sebabnya mengapa penggoda itu bekerja untuk menjadikan hidup‑Nya paling sukar, supaya Ia dapat terbawa kepada dosa.
 
Tetapi bagi setiap penggodaan Ia mempunyai satu jawab, "Adalah tertulis." Ia jarang mengecam sesuatu perlakuan salah dari saudara‑saudara‑Nya, tetapi pada‑Nya ada kabar dari Allah untuk disampaikan kepada mereka. Kerapkali la dituduh sebagai pengecut karena tidak mau mempersatukan diri dengan mereka dalam sesuatu perbuatan terlarang; tetapi jawab‑Nya ialah, adalah tertulis, "Takut akan Tuhan itulah hikmat adanya dan menjauhkan diri daripada jahat itulah akal budi."
 
Ada juga orang yang suka bergaul dengan Dia, merasa damai kalau Ia ada; tetapi banyak juga orang yang menghindari Dia, sebab mereka tertempelak oleh hidup‑Nya yang tidak bercela itu. Teman‑teman‑Nya orang muda membujuk Dia supaya melakukan apa yang mereka lakukan. Ia pintar dan selalu gembira; mereka merasa senang kalau la ada, serta menyambut gembira anjuran‑anjuran‑Nya yang selamanya siap sedia; tetapi mereka tidak sabar akan sikap-Nya yang amat berhati‑hati dan menyebut Dia seorang yang berpandangan sempit dan picik. Yesus menjawab, Adalah tersebut, "Dengan apa gerangan boleh orang muda memeliharakan jalannya suci daripada salah? Kalau dijaganya dengan sabda‑Mu." "Maka segala pesan‑Mu telah kutaruh dalam hatiku, supaya jangan aku berdosa kepada‑Mu."
 
Acapkali Ia ditanya, Mengapa engkau selalu suka menyendiri dalam segala tingkah‑lakumu, berbeda dari kami semuanya? Adalah tertulis, kata‑Nya, "Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya." Mazmur 119:1 ‑3.
 
Apabila ditanya mengapa Ia tidak mengikuti senda‑gurau anak‑anak muda Nazaret, la berkata, Adalah tersebut, "Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan." Mazmur 119:14‑16
 
Yesus tidak mau berbantah untuk mempertahankan hak‑Nya. Sering pekerjaan‑Nya dijadikan sangat berat dengan tidak seperlunya sebab Ia suka menurut dan tidak bersungut. Namun Ia tidak gagal atau pun putus asa. Ia hidup di atas segala kesulitan ini, seolah‑olah dalam cahaya wajah Allah. Ia tidak membalas dengan dendam apabila diperlakukan dengan kasar, melainkan menanggung perlakuan yang tidak senonoh dengan sabar.

Berulang‑ulang Ia ditanyai, Mengapa Engkau menyerah saja pada perlakuan yang tidak senonoh itu, meski dari saudara‑saudara‑Mu? Adalah tersurat, kata‑Nya, "Hai anak‑Ku, jangan kiranya engkau lupa akan hukum‑Ku, melainkan hendaklah hatimu memeliharakan segala pesan‑Ku. Karena ia itu akan menambahi segala hari dan tahun umur hidupmu dan memperbanyak selamat bagimu. Jangan kiranya peri kemurahan dan setia itu meninggalkan dikau, melainkan kalungkanlah dia pada lehermu dan suratkanlah dia pada loh hatimu. Karena demikian engkau akan beroleh karunia dan kebajikan, baik daripada pihak Allah, baik daripada pihak manusia."
 
Sejak orangtua Yesus menjumpai Dia di bait suci, segala tingkah laku‑Nya merupakan suatu rahasia bagi mereka. Ia tidak mau berbantah, namun teladan yang diberikan‑Nya selamanya menjadi suatu pelajaran. Ia tampak sebagai seorang yang sudah diasingkan. Saat‑saat kebahagiaan‑Nya ialah bila Ia seorang diri dengan alam kejadian dan dengan Allah. Bila saja ada kesempatan terluang bagi‑Nya, Ia meninggalkan pekerjaan‑Nya, lalu pergi ke ladang, untuk merenung di lembah‑lembah yang menghijau, untuk mengadakan hubungan dengan Allah di lereng gunung atau di bawah pepohonan yang rindang daunnya. Sering pagi‑pagi buta Ia berada di suatu tempat yang sunyi, untuk merenung, menyelidik Alkitab, atau berdoa. Dari saat‑saat yang tenang ini Ia pulang ke rumah‑Nya untuk melakukan kewajiban‑Nya pula, dan guna memberikan suatu teladan dalam melakukan pekerjaan dengan sabar.
 
Kehidupan Kristus ditandai dengan kehormatan dan kasih pada ibu‑Nya. Maria percaya dalam hatinya bahwa anak kudus yang lahir daripadanya itulah Mesias yang sudah lama dijanjikan itu, namun ia tidak berani menyatakan keyakinannya itu. Selama Ia hidup di bumi ini Maria turut mengambil bagian dalam kesengsaraan‑Nya. Ia menyaksikan dengan duka segala penderitaan yang didatangkan kepada‑Nya pada waktu Ia masih kanak‑kanak dan anak muda. Oleh membenarkan apa yang diketahuinya benar dalam kelakuan Yesus, ia sendiri terbawa ke dalam kedudukan yang sulit. Ia memandang pada pergaulan di rumah tangga dan pemeliharaan ibu yang lemah‑lembut akan anak‑anaknya sebagai sesuatu yang sangat penting dalam pembentukan tabiat. Anak‑anak Yusuf lelaki dan perempuan mengetahui hal ini, dan dengan menarik perhatian kepada kecemasan hati ibu itu, mereka mencoba memperbaiki kebiasaan‑kebiasaan Yesus sesuai dengan ukuran mereka.
Maria acapkali menegur Yesus, serta mendesak agar Ia mengikuti kebiasaan rabi‑rabi. Tetapi tiadalah Ia dapat dibujuk untuk mengubahkan kebiasaan‑Nya dalam merenungkan perbuatan tangan Allah serta berusaha meringankan penderitaan manusia, bahkan penderitaan binatang‑binatang yang bisu sekali pun. Apabila imam‑imam dan guru‑guru menuntut bantuan Maria dalam mengendalikan Yesus, ia merasa amat susah; tetapi damai datang ke dalam hatinya setelah diucapkan‑Nya sebutan‑sebutan Alkitab yang menyokong segala kebiasaan‑Nya itu.
 
Ada kalanya ia merasa ragu‑ragu antara Yesus dan saudara‑saudara‑Nya, yang tidak percaya bahwa Ialah Utusan dari Allah; tetapi bukti banyak sekali yang menyatakan bahwa tabiat‑Nya itu Ilahi adanya. Ia melihat Dia mengorbankan diri‑Nya sendiri demi kebaikan orang‑orang lain. Hadirat‑Nya membawa suatu suasana yang lebih murni ke dalam rumah tangga, dan kehidupan‑Nya adalah bagaikan ragi yang bekerja di tengah anasir‑anasir kemasyarakatan. Dalam keadaan tidak berdosa dan tidak bercela, Ia berjalan di antara orang‑orang yang kurang pikir, yang kasar dan yang tidak sopan; di antara para pemungut cukai yang curang, anak-anak sesat yang nekat, orang‑orang Samaria yang najis, serdadu‑serdadu kafir, petani‑petani yang kasar, dan orang banyak yang serba aneka keadaannya. Ia mengucapkan sepatah kata belas kasihan di sini dan sepatah kata di sana, bila Ia melihat orang yang penat, namun terpaksa memikul beban‑beban yang berat. Ia turut memikul beban mereka seraya memberikan kepada mereka itu pelajaran‑pelajaran yang telah dipelajari‑Nya dari alam kejadian, tentang kasih‑sayang, kebaikan hati dan kebajikan Allah.‑

Ia mengajar semua orang untuk memandang bahwa diri mereka sendiri telah dianugerahi pelbagai macam bakat, yang jika digunakan dengan semestinya akan menghasilkan kekayaan yang kekal bagi mereka. Ia mencabut segala kesia‑siaan dari kehidupan, dan oleh teladan yang diberikan‑Nya mengajarkan bahwa setiap saat adalah penuh berisi akibat‑akibat yang kekal; bahwa waktu itu harus dijaga seperti sebuah harta, dan harus digunakan untuk maksud‑maksud yang suci. Ia tidak pernah melalui seseorang jua pun sebagai tidak berharga, melainkan berusaha membubuhkan penawar yang menyelamatkan kepada tiap‑tiap jiwa. Dalam rombongan manusia yang mana pun Ia berada, Ia menyampaikan sesuatu pelajaran yang selaras dengan waktu dan keadaan. Ia berusaha mengilhamkan harapan ke dalam hati orang‑orang yang paling kasar dan tidak memberi banyak harapan, membukakan kepada mereka jaminan bahwa mereka dapat menjadi bebas dari cela dan bencana, mencapai suatu tabiat yang akan menjadikan mereka nyata sebagai anak‑anak Allah. Kerapkali Ia bertemu dengan orang‑orang yang telah hanyut di bawah kendali Setan, dan yang tidak berkuasa melepaskan diri dari jeratnya. Kepada seseorang yang demikian, yang putus asa, sakit, tergoda, dan terjerumus, Yesus mengucapkan perkataan belas kasihan yang paling lemah‑lembut, perkataan yang diperlukan dan yang dapat dipahami. Sering pula Ia bertemu dengan orang‑orang lain, yang sedang bertempur melawan musuh jiwa. Ia meneguhkan semangat orang‑orang ini supaya tetap tabah, seraya memberi jaminan bahwa mereka pasti menang; karena malaikat‑malaikat Allah berdiri di pihak mereka, dan akan memberi kepada mereka kemenangan. Orang‑orang yang ditolong‑Nya dengan demikian diyakinkan bahwa inilah Dia yang padanya mereka dapat berharap dengan keyakinan yang sempurna. Ia tidak akan mengkhianati segala, rahasia yang mereka sampaikan ke telinga‑Nya yang menaruh simpati.
 
Yesuslah yang menyembuhkan tubuh dan jiwa. Ia menaruh perhatian dalam segala jenis penderitaan yang terlihat oleh mata‑Nya, dan kepada setiap penderita Ia membawa pertolongan, segala perkataan‑Nya yang manis mengandung penawar yang menyembuhkan. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa Ia telah mengadakan mukjizat; tetapi kebajikan kuasa kasih yang menyembuhkan keluar daripada‑Nya kepada orang‑orang yang sakit dan yang susah. Demikianlah dengan cara yang tiada mencolok mata la bekerja bagi orang banyak sejak masa kecil‑Nya sekali pun. Maka inilah sebabnya, setelah Ia mulai bekerja untuk umum, begitu banyak orang mendengar Dia dengan senang hati.
 
Namun sepanjang masa kanak‑kanak, masa muda, dan masa dewasa, Yesus berjalan seorang diri. Dalam kesucian dan kesetiaan‑Nya, Ia mengirik apitan anggur seorang diri, dan tiada seorang jua pun yang menyertai Dia. Ia memikul beban kewajiban yang luar biasa beratnya, untuk keselamatan umat manusia. Ia maklum bahwa kalau tidak ada sesuatu perubahan yang nyata dalam asas‑asas serta maksud‑maksud bangsa manusia, semuanya pasti akan binasa. Inilah tanggungan jiwa‑Nya, dan seorang jua pun tiada yang dapat menyadari beban yang terletak di atas pundak‑Nya itu. Penuh dengan maksud yang kuat, dilaksanakan‑Nyalah rencana hidup‑Nya bahwa Ia sendiri harus menjadi terang bagi manusia.

No comments: