Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Aug 19, 2013

Rasul Yohanes


Informasi mengenai Rasul Yohanes diperoleh dari dua sumber yakni: Perjanjian Baru (PB) dan Bapak-bapak gereja.
 
a. Dalam Kitab-kitab Injil

Di dalam Injil-injil sinoptik (Markus 1:19 dsj) Yohanes adalah putera Zebedeus. Ia itu seorang nelayan Galilea. Bersama dengan saudaranya, Yakobus dan Petrus, ia termasuk murid Yesus yang paling akrab. Mereka bertiga adalah saksi pembangkitan anak puteri Yairus (Markus 5:37 dsj), saksi tentang dimuliakannya Yesus pada gunung (Markus 9:2 dsj) dan saksi doa Yesus di Getsemani (Markus 14:33).

Yohanes bin Zebedeus, mungkin yang termuda sebab di luar Lukas dan Kisah dia selalu disebut sesudah Yakobus saudaranya. Urutan yang diberikan Lukas ialah: Petrus, Yohanes dan Yakobus, mungkin karena pada permulaan gereja Yohanes sangat erat dengan Petrus (Lukas 8:51; 9:28; Kisah 1:13). Bahwa Salome ibu Yohanes, adalah kesimpulan berdasarkan Markus 16:1 dan Matius 27:56; sebab ibu yang ketiga yang menyertai dua orang ibu yang sama-sama bernama Maria ke kuburan Yesus - disebut Salome oleh Markus, dan 'ibu anak-anak Zebedeus' oleh Matius.

Biasanya Salome dianggap adalah adik dari Maria ibu Yesus, karena dalam Yohanes 19:25 dikatakan ada empat perempuan berdiri dekat salib, yaitu dua orang yg bernama Maria yang disebut dalam Markus dan Matius, lalu ibu Yesus dan adik ibu-Nya. Jika penjabaran ini benar, maka Yohanes adalah adik ipar Yesus. Orangtuanya agaknya orang berada, sebab bapaknya nelayan yang mempunyai 'orang-orang upahan' (Markus 1 :20); dan Salome adalah salah seorang perempuan yang 'melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka' (Lukas 8:3; Mrk 15:40).

Rasul Yohanes sering dianggap adalah murid Yohanes Pembaptis yang tidak disebut namanya, yang kepada dia dan Andreas ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis tokoh Yesus sebagai Anak Domba Allah (Yohanes 1:35-37). Jika dalam Yohanes 1:41 dibaca πρωτος – prôtos maka mungkin Andreas-lah y ang pertama dari kedua murid ini yang membawa kakaknya, Simon, kepada Yesus. Barulah kemudian murid yang tidak disebut namanya itu (= Yohanes) membawa kakaknya, yaitu Yakobus.

Sesudah Yakobus dan Yohanes dipanggil oleh Yesus supaya meninggalkan bapak mereka dan jala mereka (Markus 1: 10-20), keduanya digelari βοανεργες – boanerges oleh Yesus. Artinya 'anak-anak guruh' (Markus 3:17), mungkin karena mereka orang Galilea yang penuh vitalitas dan ingin bersegera, kurang mengindahkan disiplin dan kadang-kadang salah arah (Lukas 9:49). Kegamblangan watak mereka nampak dalam ledakan perasaan mereka karena suatu desa di Samaria menolak Yesus (Lukas 9:54). Lagi pula, ambisi mereka nampaknya dirasuki oleh nalar yg tidak benar tentang citra Kerajaan Yesus. Dan keakuan yg mengambang ini disertai kesediaan untuk menderita demi Yesus tanpa pamrih, mencolok dalam permintaan mereka yg diajukan kepada Yesus (atas dorongan ibu mereka, Matius 20:20), supaya mereka diizinkan menduduki tempat yang khas terhormat, bila kelak Yesus duduk di takhta Kerajaan-Nya (Markus 10:27).

Selama pelayanan Yesus di bumi ini, Yohanes bersama saudaranya Yakobus dan Simon Petrus, tanpa semua rasul lainnya, disebut dalam tiga peristiwa penting, yakni pada peristiwa Yesus menghidupkan kembali anak Yairus (Markus 5:37), pada peristiwa Yesus dipermuliakan (Markus 9:2), dan di taman Getsemani (Markus 14:33), dan menurut Injil Lukas.

Petrus dan Yohanes-lah kedua murid yang disuruh Yesus mempersiapkan Perjamuan Paskah Terakhir (Lukas 22:8).

Nama Yohanes tidak disebut dalam Injil keempat (kendati anak-anak Zebedeus disinggung dalam Yohanes 21:2), tapi hampir pasti bahwa dialah 'murid yg dikasihi Yesus', yang bersandar dekat Yesus pada Perjamuan Paskah Terakhir (Yohanes 13:23). Kepada dialah Maria dipercayakan oleh Yesus menjelang ajal-Nya (Yohanes 19:26-27, lihat artikel di yusuf-maria-ayah-ibu-yesus-vt79.html#p603
, bagian : Perlambangan Maria sebagai Perempuan Mulia), dan dialah yg berlari bersama Petrus ke kuburan pada pagi hari pertama kebangkitan, dan yang pertama mengerti makna yang sedalam-dalamnya dari kain kafan yang terlipat rapi tanpa mayat di dalamnya (Yohanes 20:2, 8, lihat artikel di apakah-kain-kafan-turin-itu-asli-vt866.html#p2348 ). Dia hadir sewaktu Tuhan Yesus sesudah kebangkitanNya menampakkan diri kepada 7 orang murid-Nya di pantai danau Tiberias. Dalam peristiwa terakhir ini disebut bahwa Yohanes akan lanjut usianya (Yohanes 21:23, bandingkan dengan artikel di siapa-yang-tidak-akan-mati-dalam-matius-16-18-vt899.html#p2459 ). Mengenai Yohanes 21:24 sebagai bukti, bahwa Yohanes-lah penulis Injil ini, bisa ditafsirkan dengan bermacam cara.

b. Dalam Kisah Para Rasul

Menurut bagian pertama Kisah, rasul Yohanes dan rasul Petrus - yang tetap menjadi teman karib - menanggung derita akibat permusuhan orang Yahudi yang menentang gereja Kristen perdana (Kisah 4: 13; 5:33,40). Keduanya berani berbicara gamblang dan bertindak nyata-nyata, sehingga para penguasa Yahudi yang mengenal mereka hanyalah sebagai 'orang biasa yang tidak terpelajar' (Kisah 4: 13) keheranan. Nampaknya selama beberapa tahun Yohanes memegang pimpinan gereja Yerusalem. Atas nama para rasul dia dan Petrus menumpangkan tangan atas orang-orang Samaria yang sudah bertobat melalui penginjilan Filipus (Kisah 8: 14). Rasul Yohanes dapat disebut sebagai tokoh utama gereja Yerusalem sewaktu Paulus mengunjungi kota itu ± 14 thn sesudah Paulus bertobat (Galatia 2:9). Tidak kita ketahui kapan Yohanes meninggalkan Yerusalem dan ke mana ia pergi. Dengan menganggap bahwa dialah pelihat Kitab Wahyu, maka besar kemungkinan ia di Efesus dari mana dia dibuang ke Patmos 'karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus' (Wahyu 1:9), kendati tanggal pembuangan ini tidak kita ketahui. Dalam bagian lain PB tidak ada lagi rujukan kepada Yohanes, namun ada yang mengatakan bahwa 'penatua' dalam 2 Yohanes 1; 3 Yah 1 maksudnya adalah rasul Yohanes.

c. Bukti dari Bapak-bapak Gereja

Ada sedikit acuan yang menyusul kemudian tapi nampaknya sukar dipercaya. Acuan itu berkata bahwa Yohanes mati martir pada usia dini, sewaktu kakaknya, Yakobus, dibunuh oleh Herodes (Kisah12:2). Penulis sejarah abad 9 bernama George Hamartolos, menerbitkan kembali suatu pernyataan yg terkandung dalam sejarah Filipus orang Side (± 450 M) - serpihan sejarah itu ditemukan oleh de Boor pada tahun 1,889. Serpihan itu berkata bahwa Papias, Uskup Hierapolis "Pada pertengahan abad 2, memastikan dalam kitab kedua dari tulisannya Expositions, bahwa kedua anak Zebedeus mati sadis sesuai nubuat Tuhan Yesus (Markus 10:39). Beberapa ahli memang menerima ini sebagai benar, tapi kebanyakan ahli menganggapnya tak dapat dipercaya. Mereka juga heran karena Eusebius sendiri tidak menyinggung bahwa Yohanes mati martir pada usia dini, apalagi Kis tidak menyebut apa-apa kalau memang kedua anak Zebedeus meninggal pada waktu yang kira-kira sama.

Dukungan untuk pernyataan Filipus orang Side ini memang bisa didapati pada suatu daftar para martir dari Siria, yg ditulis ± 400 M. Di situ yg terdaftar mati martir pada 27 Desember antara lain ialah: 'Yohanes dan Yakobus rasul di Yerusalem'. Juga suatu kalender gereja di Kartago bertarikh 505 M dengan tanggal yang sama berbunyi, 'Yohanes Pembaptis dan Yakobus sang rasul, yg dibunuh oleh Herodes'. Orang-orang yang menerima bukti ini mengemukakan pembelaan, bahwa karena Yohanes Pembaptis dicatat dalam kalender ini pada 24 Juni, maka catatan 27 Desember itu sebenarnya merujuk kepada 'Yohanes, sang rasul'.

Tapi sangat diragukan apakah daftar para martir dari Siria itu memuat tradisi kuno yang tak ada kaitannya dengan gereja berbahasa Yunani. Dan kendati kedua kakak beradik itu diperingati pada hari yg sama, itu tidaklah serta merta mengartikan bahwa keduanya diperingati sebagai martir, yang mati dibunuh pada waktu yg sama. Begitu juga singgungan tentang anak Zebedeus 'minum dari cawan' dan 'dibaptis dengan baptisan yang diterima Yesus', tidaklah harus mengartikan bahwa hidup keduanya akan berakhir secara sadis.

Melawan tradisi yang berat sebelah dan lemah ini, dikemukakan tradisi yg lebih meyakinkan yang tertuang dalam pernyataan Polikrates, uskup Efesus (190 M), bahwa Yohanes 'yang bersandar dekat kepada Yesus' (Yohanes 13 :23) sesudah menjadi 'saksi dan guru' (perhatikan urutan kata-kata itu), 'meninggal di Efesus'. Menurut Ireneus, Injil 'diterbitkan' oleh Yohanes, menelanjangi kesalahan bidat-bidat, menolak tinggal bersama-sama dalam rumah yang sama dengan Korintus, 'musuh dari kebenaran itu', dan dia lama di Efesus 'sampai zaman Trayanus', yg memerintah dari tahun 98-117. Jerome juga mengulangi tradisi bahwa Yohanes tinggal di Efesus sampai usia sangat tua. Dan menurut Jerome, bila Yohanes ditandu ke pertemuan orang Kristen, ia biasa mengulang-ulangi, 'Anak-anakku, saling mengasihilah kamu'.

Para penulis akhir abad 2 memastikan, bahwa Yohanes lama tinggal di Efesus dan mempunyai pengaruh yang besar. Tapi pernah dikemukakan sanggahan, jika hal itu benar, bukankah mengherankan tidak adanya sama sekali rujukan' pada Yohanes dalam sastra Kristen yg diterbitkan di Asia selama paroan pertama abad itu, khususnya dalam Surat-surat Ignatius dan Surat Polikarpus? Tapi, kendati kealpaan singgungan kepada Yohanes dalam sumber-sumber ini menjadi soal penting, itu hanya bisa menandakan bahwa 'nama baiknya dan pengaruhnya pada mulanya berbeda daripada akhir abad itu' (demikian V.H Stanton, The Gospels as Historical Documents I, hlm 236).

Di dalam tradisi yang lebih muda ia dipandang sebagai penulis kitab Wahyu dan surat-surat 1-3 Yohanes. Menurut Wahyu 1:9 ia tinggal di pulau Patmos. Ireneus menulis, bahwa Yohanes tinggal dan wafat di Efesus. Sastra tulisan apokrif yang beredar dengan nama Yohanes, memuat:
(a) Apokrif Yohanes, sebuah injil gnostik dari abad 2 dan fragmen-fragmen tentang percakapan Yohanes dengan Yesus.
(b) Akta Yohanes dari abad 4 tentang perjalanan dan muzizat rasul Yohanes.
(c) Tiga buah tulisan kecil dari abad 5 dan 6.
(d) Tiga buah Apokalips (kitab wahyu).

Dan tidaklah bijaksana untuk membuang tradisi yang di kemudian hari ternyata mempunyai dasar yang kokoh teguh. Kesimpulan Westcott ialah, 'Tidak ada kesaksian yang lebih baik dalam sejarah gereja perdana daripada tinggalnya dan bekerjanya Yohanes di Efesus.' Memang benar, Westcott menulis sebelum terkumpul bukti perihal kematian Yohanes pada usia dini sebagai martir. Tapi seperti sudah kita lihat, bukti itu belum memadai atau belum dapat diyakini untuk membatalkan pernyataan-pernyataan .tegas dari orang yg menduduki kursi keuskupan Efesus pada akhir abad itu, dan dari orang yg pada zaman yg sama berusaha meneliti tradisi-tradisi tempat-tempat keuskupan para rasul.

Jika ada sesuatu kegagalan dalam gambar-gambar yang membentuk lukisan Perjamuan Terakhir, saya rasa kegagalan itu adalah pada gambar Yohanes. Leonardo da Vinci paling kurang berhasil terhadap murid tersebut yag adalah tokoh paling berbakat dan paling terkenal diantara seluruh kelompok. Hampir tidak ada kesalahan yang dapat kita temui dalam gambaran Leonardo da Vinci mengenai Petrus, Yudas, Filipus, Yakobus atau yang lainnya. Tetapi ia menggambarkan Yohanes sebagai seorang pemuda yang mirip perempuan, berwajah penuh, dengan senyum Monalisa di bibirnya, tangan yang putih lembut dan lemah saling menggenggam. Kepalanya condong ke arah Yudas, sedangkan di dekat bahu Yudas ada Petrus dengan pisau di tangan kanannya, sedang memberi isyarat kepada Yohanes untuk menanyakan Yesus siapa yang Yesus maksudkan ketika Ia mengatakan bahwa salah seorang dari mereka malam itu akan mengkhianati Dia.

Barangkali terdapat kesan samar-samar tentang sifat mawas diri yang suka melamun, tetapi sedikit sekali menunjukkan Yohanes yang mendapat Wahyu, yang lambangnya adalah rajawali yang sedang terbang di terik matahari, seperti malaikat besar Yohanes, dan "menyalakan matanya yang tidak silau kepada sinar tengah hari penuh." Dan sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Anak Guruh dengan semangat yang berkobar itu, yang ingin memanggil api turun dari langit ke atas desa orang-orang Samaria yang tidak ramah, yang tidak akan terlupakan olehnya karena ketidaksopanannya. Gambar itu tidak menunjukkan bahwa ia juga bisa menamakan musuh-musuh kebenaran dan musuh-musuh Kristus sebagai "penipu" serta memperingatkan Jemaat terhadap musuh-musuh tersebut, walaupun ia dapat menggunakan istilah-istilah kasih dan sayang.

Yesus mengasihi Yohanes. Empat kali dalam Injil Yohanes ia dilukiskan sebagai murid yang dikasihi Yesus. Apakah Yesus tidak mengasihi murid-murid yang lain ? Kita tahu bahwa Yesus mengasihi murid-murid lain juga, karena dalam laporannya tentang malam terakhir bersama Yesus, Yohanes menceritakan bagaimana "seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampa pada kesudahannya" (Yohanes 13:1).

Kalau begitu, apa yang dapat kita simpulkan dari pernyataan yang sering diulang mengenai perhatian Yesus kepada Yohanes ? Penjelasan satu-satunya adalah bahwa di bagian sifat manusiawi Yesus, Ia sepenuhnya memperlihatkan kasih sayang alamiah-Nya, tapi dengan cara yang tidak pernah membangkitkan amarah atau iri hati murid-murid yang lain itu. Petrus, Yakobus, dan Yohanes mempunyai keakraban khusus, tetapi Yohanes mempunyai tempatnya tersendiri di hati Yesus. Ada sesuatu dalam diri pemuda ini yang menarik Yesus dan yang memudahkan bertukar pikiran secara rohani.

Kita berpikir tentang Yohanes sebagai seorang murid yang memiliki pengetahuan rohani yang dalam serta cepat dan mudah mengerti rahasia Allah di dalam Kristus, melebihi murid-murid yang lain. Sifat-sifat ini muncul dalam Injilnya serta Surat-surat Kirimannya. Mungkin karena dialah yang pertama-tama dapat menangkap arti Kristus, memahami bahwa Kristus itu Anak Allah yang kekal dan Ia datang untuk menyerahkan nyawa-Nya, sehingga Yesus menunjukkan rasa sayang yang luar biasa kepadanya. Kita menyukai orang-orang yang cepat dapat menangkap maksud kita, yang jalan pemikirannya sama dengan kita, dan yang tidak, seperti Filipus, perlu mendapat penjelasan untuk setiap langkah dan setiap gambaran.

Namun, penjelasan lain tentang kasih sayang yang menonjol dari Yesus yang dinyatakan terhadap Yohanes, barangkali terletak pada kenyataan yang sangat mungkin yaitu bahwa Yohanes adalah yang termuda dalam keluarga murid-murid ini. Sebagaimana Leonardo menggambarkan dia, seorang pemuda di antara orang-orang setengah umur. Karena biasa Alkitab berbicara bukannya tentang Yohanes dan Yakobus, melainkan Yakobus dan Yohanes, maka kesimpulannya adalah bahwa Yohanes itu adik. Mungkin juga ada jarak besar antara Yakobus dan Yohanes, karena dalam keluarga-keluarga saat ini pun tidak sulit menemukan kakak beradik yang berbeda umur hampir dua puluh tahun. Yohanes pasti lebih muda dari Petrus dan ia dengan mudah berlari mendahului Petrus dalam perjalanan menuju kubur Yesus. Mungkin karena kemudaannya itulah sehingga ia diizinkan untuk lewat tanpa diperiksa ke dalam halaman istana imam besar Hanas. Yohanes menjelaskan bahwa ia "mengenal imam besar"; tetapi hal ini tidak menghapuskan kenyataan bahwa usia mudanya membuat mereka kurang menaruh perhatian padanya. Sementara itu Petrus harus tinggal di luar sampai Yohanes menengahi dia dan membawanya masuk. Di samping itu semua, ada pernyataan yang sangat dapat dipercaya bahwa Yohanes hidup sampai sangat tua, dan akhirnya mengakhiri kesaksiannya di dunia pada zaman pemerintahan Trayanus.

Anggota termuda dari setiap keluarga besar merupakan sasaran banyak nasihat dan perintah dari saudara-saudaranya yang lebih tua, tetapi juga menjadi sasaran kasih sayang. Hanya kenyataan karena ia adalah yang termuda membuat mereka memandangnya agak berbeda daripada pandangan mereka satu terhadap yang lain. Pada saat-saat sakit dan sedih ada penawar dari pelayanan anak-anak kecil yang diberikan tanpa sadar. Pada saat-saat yang suram dan berat dalam penantian atau sedang berjaga-jaga, pada masa kelaparan atau kepungan, orang-orang laki-laki yang sudah dewasa semangatnya bangkit kembali karena bersahabat dengan kaum muda. Kepolosan, kejujuran, dan semangat besar kaum muda merupakan obat penenang kegelisahan dan ketegangan orang-orang dewasa.

Saya suka berpikir bahwa Yohanes memegang peranan demikian dalam kelompok para rasul. Karena alasan itu Yesus mengasihi dia, dan mungkin semua yang lain pun mengasihi dia.

Yohanes yang kita lihat dalam kitab-kitab Injil adalah seorang pemuda; tetapi Yohanes yang menulis Kitab Wahyu dan Injilnya dan Surat-suratnya adalah seorang dewasa penuh, mungkin sudah lanjut usia. Mungkin sekali ketika Yohanes mati, maka berarti orang terakhir dari semua mereka yang telah mengiringi Yesus sejak permulaan, yaitu sejak Yohanes Pembaptis berkhotbah, telah tiada.

Death in the Desert (Kematian di Padang Gurun), tulisan dari Browning adalah khayalan penyair tentang apa yang mungkin dikatakan Yohanes, atau apa yang seharusnya dikatakan Yohanes, menjelang ajalnya. Secara keseluruhan, syair itu sangat tidak adil terhadap dia yang begitu pandai berbicara dan begitu sederhana gaya menulisnya. Pikiran Yohanes jernih serta gayanya sederhana. Tetapi di sana-sini Browning membuat Yohanes mengatakan sesuatu yang bijaksana dan dapat dipahami. Satu contoh ialah dimana Yohanes menunjuk pada umurnya yang lanjut dan bahwa bila ia mati, maka berarti saksi mata yang terakhir akan lenyap pula.

Jelaslah bahwa Yohanes menulis pada usia lanjut yang menguntungkan ketika ia menyusun Surat Pertamanya, karena ia mulai dengan mengatakan, "Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup... Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami" (1 Yohanes 1:1, 3). Tetapi akhirnya harus tiba saatnya bagi Jemaat, ketika tiang penopang yang terakhir lenyap dan Jemaat harus berdiri dengan kekuatan batinnya sendiri dan dengan ajaran tradisi.

" Bagaimana Jadinya kelak bila tak seorang pun lagi berkata, 'Aku melihat'?"

Yesus sendiri telah mejawab pertanyaan tersebut, karena Yohanes menulis dalam Injilnya bagaimana Yesus berkata kepada Tomas, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya" (Yohanes 20:29).

Yohanes adalah seorang yang sangat pemalu dan segan untuk berbicara mengenai dirinya sendiri. Ia tidak pernah sekali pun menyebut namanya di dalam Injilnya, tetapi selalu menyebut dirinya dengan memakai katagori orang ketiga atau menyembunyikan identitasnya dengan satu ungkapan seperti "murid yang dikasihi Yesus". Namun, sungguh luar biasa bahwa Yohanes tidak pernah sekali pun menyebutkan kejadian-kejadian dalam sejarah kemuridannya yang memberi suatu kesan tidak baik tentang wataknya.

Bahwa ada kejadian-kejadian semacam itu kita ketahui dari Injil-injil lainnya. Pada tiga kesempatan yang berbeda Yohanes berbicara atau bertindak demikian rupa sehingga menyebabkan Yesus memarahinya. Markus menceritakan kepada kita bahwa setelah Yesus menasihati murid-murid-Nya mengenai kerendahan hati dengan mengambil seorang anak kecil dalam pelukan-Nya sebagai alat peraga, Yohanes datang kepada-Nya dan mengatakan bahwa mereka melihat seorang mengusir setan dengan nama Yesus dan bahwa mereka mencegah orang itu. Kemungkinan besar Yohanes dan Yakobus yang mencegah. Yohanes berharap Yesus akan memuji dia, tetapi Yesus memarahi dia, sambil berkata, "tidak seorang pun yang telah mengadakan mijizat demi nama-ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita" (Markus 9 : 39,40).

Kejadian itu mengingatkan pada sebuah peristiwa yang sama di zaman Musa. "Maka turunlah Tuhan dalam awan itu lalu berfirmanlah Ia kepadanya, dan diambil Tuhan daripada Roh yang padanya, dianugerahkannya kepada tujuh puluh orang tua-tua; serta datanglah Roh itu kepadanya, maka mereka itu bernubuat dengan tiada berkeputusan. Tetapi adalah dua orang ketinggalan dalam tentara, nama seorang Eldad dan nama seorangnya Medad, maka Roh itu adalah pada mereka itupun, karena nama mereka itu tersurat juga, tetapi tiada ia keluar pergi ke kemah perhimpunan, maka mereka itu pun bernubuatlah dalam tentara itu. Maka berlarilah seorang yang muda datang memberi tahu Musa, sembahnya : Bahwa Eldad dan Medad pun bernubuat dalam tentara. Maka sahut Yosua bin Nun, yaitu hamba Musa dan seorang daripada segala pilihannya, serta katanya; Tuanku Musa melarangkan mereka itu. Tetapi kata Musa kepadanya : Mengapa engkau menyusahkan dirimu akan halku ? Hai, biarlah kiranya segenap bangsa ini nabi Tuhan adanya dan dianugrahi Tuhan dengan Roh-Nya! (Bilangan 11:25-29, TL).

Yohanes memiliki sifat yang cenderung meniadakan orang lain yang tidak termasuk kelompoknya. Sifat ini memberi gambaran yang salah tentang Kristus kepada dunia. Ia memiliki jiwa seperti Yosua yang tidak ingin melihat orang bernubuat di luar tempat suci, suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan kebiasaan, dan ia meminta Musa melarangnya. Jawaban Musa menyatakan keluruhan budinya. Jawaban itu mirip dengan jawaban Yesus kepada Yohanes dan dengan jawaban Paulus seribu lima ratus tahun sesudah Musa, ketika orang-orang Yahudi begitu ketakutan karena Kristus diberitakan di luar gereja dan di luar adat istiadat mereka, "Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita" (Filipi 1:18).

Contoh lain tentang jiwa picik Yohanes adalah ketika ia bersama-sama Yakobus meminta kuasa untuk menurunkan api dari langit ke atas desa orang-orang Samaria yang telah berlaku tidak ramah terhadap Guru mereka. Itu merupakan penyalahgunaan sesuatu yang baik. Yesus menyukai watak yang berapi-api dan cepat tanggap dari kedua bersaudara ini, tetapi pekerjaan Yesus adalah mendidik mereka dan memperhalus mereka agar mereka dapat menggunakan sifat yang bagus ini, yaitu kemarahan yang pada tempatnya, untuk maksud-maksud yang lebih baik.

Yohanes tidak pernah kehilangan semua sifat yang menyebabkan Yesus menamakan dia Anak Guruh. Orang seperti itu paling sesuai untuk menjadi perantara wahyu yang menakutkan tentang tanda-tanda murka dan penghukuman Ilahi. Kepada Anak Guruh itulah, dan bukan kepada orang lemah yang tersenyum-senyum dalam lukisan Leonardo, Tuhan menunjukkan "hal-hal yang segera akan terjadi."

Tradisi gereja menyatakan, walaupun tidak pasti, bahwa Yohanes juga menderita mati sebagai martir. Jadi ia meminum cawan yang pernah ia katakan dengan begitu berhasrat ia sanggup meminumnya. Tetapi sekarang ia mengerti jauh lebih baik tentang arti cawan itu dan jalan menuju kehormatan dan kebesaran dalam Kerajaan Sorga.

Ada legenda-legenda yang indah pula, tentang Yohanes mencari seorang bekas murid yang muda, yang sudah gugur dari iman dan menjadi kepala segerombolan perampok. Yohanes mendatangi tempat persembunyiannya dan memenangkan dia kembali kepada Kristus. Juga legenda tentang ketergesa-gesaannya keluar dari pemandian di mana ia menemukan Cerinthus seorang bidat, agar jangan sampai atap pemandian itu jatuh menimpanya. Tentang ayam hitamnya yang jinak dan tentang doa berkat yang sering diulangnya, sementari ia dipikul oleh lengan-lengan kuat para pemuda menuju perhimpunan orang-orang Kristen, ia mengangkat tangannya yang lemah dan berkata, "anak-anakku, hendaklah kamu saling mengasihi."

Dalam sebuah tulisannya yang terkenal, John Milton memberikan kepada kita pendapatnya tentang bagaimana seharusnya sifat seorang pujangga. Ia berkata, "orang yang tidak mau putus harapan untuk menulis dengan baik, maka hidupnya sendiri harus laksana sebuah syair sejati-tidak memberanikan diri untuk menyanyikan puji-pujian mengenai orang-orang yang berjiwa pahlawan atau kota-kota terkenal, kecuali ia sendiri pernah mengalami dan melakukan semua yang patut dipuji itu."

Dalam Kitab Wahyu , Yohanes memberi kepada kita penglihatan akan masa yang akan datang. Banyak diantara simbol-simbol dan lambang-lambangnya mengejutkan dan membingungkan kita. Tetapi selalu kitab itu bersinar-sinar dengan cahaya kemuliaan moral. Di balik kitab terkenal itu terdapat kehidupan luhur rasul tersebut. Sebagaimana di dalam kitab itu gemuruh penghukuman berganti-ganti dengan tawaran kemurahan dan nada perdamaian, demikian juga dalam kehidupan Yohanes. Seorang yang benar-benar Anak Guruh, namun lembut dan penuh kasih sayang, yang bersandar di dada Yesus, dan yang merangkul Maria yang menangis dengan hancur hati, dan juga tidak melupakan Petrus yang tidak setia.

Jika kepada Yohanes diberi banyak, hendaknya diingat bahwa Yohanes telah mengasihi banyak. Jika kepada Yohanes diberi penglihatan tentang hal-hal yang akan datang, dengan menyingkapkan keagungan dan kemuliaan, serta penghukuman dan kemurahan Allah, hendaknya diingat bahwa Yohanes sendiri berada dalam Roh ketika penglihatan itu datang kepadanya. Kehidupannya yang kudus merupakan persiapan untuk menerima penglihatan yang sangat indah itu. Yohaneslah yang melestarikan bagi kita perkataan Yesus, bahwa jika seseorang mengasihi Dia, maka Tuhan akan datang kepadanya. Yohanes adalah contoh janji tersebut. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4 : 7,8).

Kita tidak perlu membaca banyak ayat pendahuluan dalam Injil Yohanes untuk menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan suatu tulisan yang luar biasa. Bukan hanya karena fakta-fakta besar yang dipaparkan di dalamnya seperti pada Injil-Injil lainnya, tetapi karena pembahasan tentang arti fakta-fakta tersebut. Ketika Yohanes menulis, gairah semangat Kristiani yang pertama telah mulai memudar dan zaman penafsiran serta teologi telah dimulai.

Saya berani mengatakan bahwa jika seorang Kristen biasa mengambil kitab-kitab Injil satu per satu dan berusaha membaca habis Injil-Injil itu sekaligus, maka ia akan mengalami bahwa Injil Yohanes lebih cepat melelahkan daripada Injil-Injil lainnya. Hal ini disebabkan karena bagian terbesar Injil Yohanes terdiri atas serangkaian uraian Yesus yang timbul dari peristiwa-peristiwa dalam pelayanan-Nya. Sekalipun kita memperoleh banyak penghiburan serta pertolongan dari uraian-uraian ini, di dalamnya juga ada banyak hal yang sulit, penuh rahasia, dan tidak dapat dipahami. Penilaian dalam pikiran saudara sering sekali sama dengan penilaian pendengar-pendengar-Nya, entah mereka itu murid-murid-Nya sendiri atau orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang marah, yang menyatakan, "Apa maksud-Nya?"

Kita mendengar Dia berbicara kepada Nikodemus tentang kelahiran baru dan kita berkata, "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi ?" Kita mendengar Dia memberitahukan kepada orang-orang Yahudi bahwa "Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu." Lalu bersama-sama dengan orang-orang Yahudi itu kita berkata, "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan ?" Atau kita berkata bersama murid-murid, "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya ?" Bahkan dalam kata-kata perpisahan-Nya yang mengharukan itu, betapa banyak hal yang tetap membingungkan anda dan saya di tengah kalimat-kalimat hiburan dan harapan yang menyenangkan itu. Kita seperasaan dengan Tomas ketika ia memotong perkataan Yesus dengan mengatakan, "Kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Yesus berkata, "Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku" (Yohanes 16 : 23). Hari itu belum tiba, dan banyak di antara perkataan-perkataan Kristus yang masih merupakan apa yang Ia sendiri sebut sebagai "kiasan" ("kata-kata yang terselubung artinya," Alkitab Revised Version, Yohanes 16 : 25).

Yang paling kurang sesuai dengan perasaan kita adalah pembicaraan-pembicaraan panjang lebar antara Yesus dengan para pemimpin Yahudi di Yerusalem mengenai kedudukan-Nya, hubungan-Nya dengan Bapa, dan hubungan-Nya dengan dunia. Dalam percakapan itu Kristus tampil lebih seperti seorang musuh secara teologi daripada sebagai seorang Tabib dan Guru Agung seperti yang dinyatakan dalam Injil-Injil lainnya.

Namun betapapun berbedanya gaya pengungkapan dalam Injil yang keempat ini, kita sama sekali tidak menemui kesulitan untuk melihat di dalamnya Kristus yang sama, yang kita lihat dalam Injil-Inil lainnya. Banyak dari perbedaan nada dan cara tersebut disebabkan oleh perbedaan tujuan penulisan Yohanes. Tujuan Yohanes terutama bukan untuk menulis riwayat kehidupan Yesus, karena itu sudah dilaksanakan dengan baik oleh kitab-kitab Injil lainnya, tetapi untuk mengumpulkan bukti-bukti tentang keilahian-Nya dan kebenaran bahwa Ia Mesias. Injil Yohanes adalah suatu pernyataan tegas tentang azas kebenaran agama Kristen bahwa Anak Allah menjadi manusia, dengan mengambil untuk diri-Nya satu tubuh yang sesungguhnya dan jiwa yang berakal budi.

Selama orang-orang Kristen berpegang pada hal itu mereka memiliki kepercayaan yang indah dan istimewa. Selekasnya mereka melupakan hal itu, mereka mulai jatuh kedalam kekacauan paham panteis, dan paham-paham serta pemujaan-pemujaan lain yang telah bermunculan di mana-mana. Berdiri atau jatuhnya seluruh struktur Kristiani bergantung pada kebenaran-kebenaran pokok – bahwa Yesus adalah Anak Allah yang Kekal, bahwa Ia menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bahwa Ia mati di Salib karena dosa-dosa kita, bahwa Ia bangkit dari antara orang mati, bahwa dengan percaya kepada-Nya kita memperoleh hidup kekal. Bila kita meninggalkan kebenaran-kebenaran tersebut, maka kita hanya memiliki nama agama Kristen, tetapi tidak memiliki hakekatnya.

Walaupun demikian, yang membuat Injil Yohanes disukai oleh Jemaat bukanlah pembelaan yang luar biasa terhadap keilahian Yesus Kristus, tetapi penghiburan dan harapan yang diberikan kepada hati murid Tuhan. Perkataan Tuhan kita kepada perempuan Samaria ketika Ia duduk di pinggir sumur Yakub, "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya," terdengar indah di telinga orang percaya. Sama indahnya dengan perkataan lain dalam Injil Matius, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Jika Lukas dan Matius memberi kepada kita perumpamaan tentang Domba yang Hilang, maka Yohaneslah yang menceritakan kepada kita tentang Gembala yang Baik dan kandang domba, dan bahwa Kristus adalah Gembala yang Baik telah mengorbankan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya. Injil-Injil lain menceritakan kepada kita mengenai anak perempuan Yairus dan pemuda di Nain, tetapi Yohaneslah yang dalam ceritanya mengenai Lazarus dan Maria dan Marta, menceritakan kisah lengkap tentang kesedihan keluarga yang berkabung itu, pedihnya dukacita mereka, yang disentuh oleh harapan akan hidup kekal

Tetapi yang paling indah adalah apa yang oleh seorang penulis lagu gereja disebut "Ucapan selamat tinggal-Nya yang terakhir yang mengharukan." Perkataan perpisahan dan doa terakhir Tuhan Yesus ini tersimpan bagi kita pada bagian terakhir Injil yang dituliskan oleh Yohanes. Jika kita bertanya-tanya mengapa Yohanes meninggalkan pantai Galilea dan menuju pelataran bait suci, dan lebih suka mencatat perdebatan-perdebatan antara Yesus dan orang-orang Farisi mengenai kodrat dan pernyataan-pernyataan-Nya daripada mencatat uraian Yesus tentang kesucian dan kelembutan hati dan kesabaran dan kebaikan maka ucapan terima kasih kita tidak akan pernah cukup sebab ia menyimpan untuk kita perkataan terakhir yang diucapkan Yesus kepada murid-murid-Nya dan doa agung yang Yesus panjatkan untuk diri-Nya sendiri, untuk seluruh Jemaat di segala zaman dan di antara segala bangsa.

Dalam Injil Yohanes itu kita dengar perintah baru agar kita saling mengasihi, "sama seperti Aku telah mengasihi kamu." Di dalamnya hubungan kita dengan Kristus dilukiskan dengan kiasan yang indah, yaitu pokok anggur dan ranting-rantingnya, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya." Di dalam Injil Yohanes ini, diberikan janji mengenai kehadiran dan pimpinan Roh Kudus dalam Jemaat. Di sini diberikan nubuat yang serius mengenai penderitaan dan kesengsaraan dalam dunia ini. tetapi juga jaminan kemenangan melalui Dia yang telah mengalahkan dunia ini. Di Injil ini kita mendengar Yesus berdoa untuk kesatuan Jemaat, "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku didalam Engkau." Di dalamnya juga kita memperoleh visiun mengenai kemuliaan akhir bagi semua orang yang percaya, karena di situ Kristus berdoa agar kita semua boleh berada di mana Ia berada dan memandang kemuliaan-Nya. Juga kita mendengar pembacaan surat wasiat Juruselamat kita, dan menyadari bagaimana Ia memberi kepada kita bukan seperti apa yang dunia berikan. Dunia memberi kegelisahan, ketidak-tenteraman, tetapi Kristus memberi damai sejahtera. "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu."

Dan bila hujan lebat kesedihan menerpa jendela jiwa, dan kemenangan maut yang menakutkan serta sengatnya yang menusuk seolah-olah membuat semua harapan, pekerjaan, keinginan, prestasi, dan kesukaan kita menjadi sia-sia, ketika ketakutan membayang, dan semua musik kehidupan berdiam diri, maka di dalam Injil Yohanes kita mendengar perkataan yang membuat lengan-lengan kita bertambah kuat dan hati kita bertambah berani. Yaitu perkataan yang paling digemari oleh Jemaat-Nya diantara semua perkataan kehidupan yang diucapkan oleh Imanuel – "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannnya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada."

No comments: