Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

May 6, 2013

Golgota

"Setelah sampai ke tempat yang bernama Tengkorak, di situlah Ia disalibkan oleh mereka itu."

"Supaya dapat menguduskan kaum itu dengan darah‑Nya sendiri," Kristus "menderita sengsara di luar pintu gerbang." Ibr. 13:12. Karena pelanggaran atas hukum Allah, Adam dan Hawa dihalau dari Eden. Kristus, pengganti kita, harus menderita di luar tapal batas kota Yerusalem. Ia mati di luar pintu gerbang, di mana para penjahat dan para pembunuh menjalani hukuman mati. Sungguh berarti sekali perkataan, "Kristus sudah menebus kita daripada kutuk Taurat itu dengan menjadi suatu kutuk karena kita." Gal. 3:13.

Rombongan orang banyak mengikuti Yesus dari ruang pengadilan ke Golgota. Kabar tentang Ia dinyatakan bersalah telah tersebar‑luas di seluruh Yerusalem, dan orang banyak dari segala golongan dan jabatan datang berduyun‑duyun menunju ke tempat penyaliban. Para imam dan penghulu telah terikat dengan suatu janji untuk tidak mengganggu para pengikut Kristus jika Ia Sendiri diserahkan kepada mereka, dan murid‑murid serta (Pasal ini dialaskan atas Mat. 27:31‑53; Mark. 15:20‑38; Luk. 23:26-46; Yoh. 19:16‑30.) orang‑orang percaya dari kota dan daerah sekitarnya menggabungkan diri dengan orang banyak yang mengikuti Juruselamat.

Ketika Yesus melalui pintu gerbang halaman Pilatus, salib yang telah disediakan bagi Barabbas diletakkan di atas bahu‑Nya yang hancur dan berdarah. Dua rekan Barabbas harus menderita kematian pada saat yang sama dengan Yesus, dan di atas bahu mereka pun salib ditanggungkan. Beban Juruselamat terlalu berat bagi‑Nya dalam keadaan‑Nya yang lemah dan sedang menderita. Sejak perjamuan Paskah dengan murid‑murid‑Nya, Ia tidak makan atau minum. Ia telah menanggung sengsara di taman Getsemani dalam pergumulan melawan alat‑alat Setan. Ia telah menanggung kesengsaraan pengkhianatan itu, dan telah melihat murid‑murid‑Nya meninggalkan Dia dan melarikan diri. Ia telah dibawa kepada Hannas, kemudian kepada Kayapas, lalu kepada Pilatus. Dari Pilatus ia dikirim kepada Herodes, lalu dikirim lagi kepada Pilatus. Dari hinaan kepada hinaan yang baru, dari ejekan kepada ejekan, dua kali disiksa dengan cemeti, sepanjang malam itu terjadilah peristiwa demi peristiwa yang bersifat menguji jiwa manusia sedapat‑dapatnya. Kristus tidak gagal. Ia tidak mengucapkan perkataan kalau tidak cenderung memuliakan Allah. Sepanjang pengadilan yang memalukan itu Ia telah bersikap tetap teguh dan mulia dalam pendirian‑Nya. Tetapi setelah didera kedua kalinya salib itu diletakkan ke atas‑Nya, sifat manusia tidak dapat menanggungnya lebih lagi. Ia jatuh pingsan di bawah beban itu.

Orang banyak yang mengikuti Juruselamat melihat langkah‑langkah‑Nya yang lemah dan terhuyung‑huyung, tetapi mereka tidak menunjukkan belas‑kasihan. Mereka mengejek dan menghina Dia karena Ia tidak dapat memikul salib yang berat itu. Sekali lagi beban itu diletakkan ke atas‑Nya, dan sekali lagi Ia jatuh pingsan ke tanah. Para penganiaya‑Nya melihat bahwa tidak mungkin bagi‑Nya membawa beban‑Nya lebih jauh. Mereka kebingungan untuk mencari seseorang yang akan memikul beban yang hina itu. Orang Yahudi sendiri tidak dapat melakukannya, karena kecemaran itu akan menghalangi mereka untuk mengadakan Paskah. Malah tidak seorang pun dari orang banyak itu yang mengikuti Dia mau membungkuk untuk menanggung salib itu.

Pada saat ini seorang asing, Simon orang Kireni, yang sedang datang dari luar kota, bertemu dengan rombongan itu. Ia mendengar ejekan dan kata‑kata kotor dari orang banyak; ia mendengar perkataan yang diulangi dengan penuh penghinaan, Bukanlah jalan bagi Raja orang Yahudi! Ia berhenti keheran‑heranan melihat peristiwa itu; dan ketika ia mengungkapkan belas kasihannya, mereka menangkap dia dan meletakkan salib ke atas bahunya.

Simon telah mendengar tentang Yesus. Anak‑anaknya laki‑laki adalah orang‑orang yang percaya akan Juruselamat, tetapi ia sendiri bukannya seorang murid. Menanggung salib ke Golgota merupakan suatu berkat bagi Simon, dan sejak waktu itu ia berterima kasih karena bimbingan Ilahi ini. Hal itu menuntun dia untuk menanggung salib Kristus atas pilihannya sendiri, dan senantiasa berdiri dengan gembira di bawah bebannya.

Bukan sedikit wanita yang ada dalam rombongan orang banyak yang mengikuti Dia yang tidak dapat dinyatakan bersalah itu menuju kepada kematian‑Nya yang kejam. Perhatian mereka tertuju pada Yesus. Beberapa dari mereka sudah pernah melihat Dia. Ada yang telah membawa kepada‑Nya orang sakit dan yang menderita. Ada pula dari mereka yang pernah disembuhkan‑Nya. Cerita tentang peristiwa yang telah terjadi dituturkan. Mereka heran melihat kebencian orang banyak terhadap Dia yang baginya hati mereka sendiri sedang hancur. Dan meski pun melihat tindakan orang banyak yang sedang rnarah, serta perkataan marah‑marah di pihak para imam dan penghulu, wanita‑wanita ini mengungkapkan simpati mereka. Ketika Yesus jatuh pingsan .di bawah salib, mereka meratap dengan penuh kesedihan.

Inilah satu‑satunya perkara yang menarik perhatian Kristus. Meski pun penuh dengan penderitaan, sementara menanggung dosa‑dosa dunia, Ia tidak bersikap acuh tak acuh terhadap pernyataan kesedihan. Ia memandang kepada wanita‑wanita ini dengan belas kasihan. Mereka bukannya orang orang yang percaya kepada‑Nya; Ia mengetahui bahwa mereka tidak meratapi Dia sebagai seorang yang diutus dari Allah, melainkan digerakkan oleh perasaan belas kasihan manusia. Ia tidak meremehkan simpati mereka, tetapi hal itu menggugah dalam hati‑Nya suatu simpati yang lebih dalam bagi mereka. "Hai anak perempuan Yerusalem," kata‑Nya, "janganlah kamu menangiskan Aku, melainkan tangiskanlah dirimu dan anak‑anakmu sendiri." Dari peristiwa yang di hadapan‑Nya, Kristus memandang ke depan kepada saat kebinasan Yerusalem. Dalam peristiwa ngeri itu, banyak dari mereka yang sedang menangis bagi‑Nya sekarang akan binasa dengan anak‑anak mereka.

Dari kejatuhan Yerusalem pikiran Yesus beralih kepada suatu pehukuman yang lebih luas. Dalam kebinasaan kota yang tidak mau bertobat Ia melihat suatu lambang kebinasaan terakhir yang akan menimpa dunia. Ia berkata, "Pada masa itulah orang akan mulai berkata‑kata kepada gunung, Timpalah kami! dan kepada bukit‑bukit, Tutupilah kami! Karena jikalau demikian perbuatannya pada kayu yang hidup, apatah lagi pada yang kering?" Dengan kayu yang hidup, Yesus melambangkan diri‑Nya sendiri, Penebus yang tidak bersalah. Allah membiarkan kemarahan‑Nya terhadap pelanggaran menimpa Anak‑Nya yang kekasih. Yesus harus disalibkan karena dosa‑dosa manusia. Kalau begitu, penderitaan apakah akan ditanggung oleh orang berdosa yang terus‑menerus dalam dosa. Semua orang yang tidak bertobat dan tidak percaya akan mengalami kesusahan dan kesengsaraan yang tidak dapat diungkapkan dengan bahasa.

Dari orang banyak yang mengikuti Juruselamat ke Golgota, banyak orang telah menyertai Dia dengan sorak hosanna kegirangan dan dengan melambai‑lambaikan pelepah korma ketika Ia memasuki Yerusalem dengan kemenangan. Tetapi bukan sedikit dari mereka yang pada waktu itu menyorakkan puji‑pujian bagi‑Nya, karena sudah lazim berbuat demikian, sekarang menyaringkan seruan, "Salibkan Dia, salibkan Dia." Ketika Kristus mengendarai keledai masuk ke Yerusalem, harapan murid‑murid telah memuncak. Mereka telah datang dekat‑dekat di sekeliling Guru mereka, karena merasa bahwa adalah suatu kehormatan besar berhubungan dengan Dia. Sekarang dalam hal Ia dihinakan mereka mengikuti Dia dari jauh. Mereka dipenuhi kesedihan, dan tunduk dengan harapan yang dikecewakan. Alangkah benarnya perkataan Yesus, "Kamu sekalian kelak menaruh syak akan Daku pada malam ini, karena ada tersurat, Bahwa Aku akan memalu gembala, dan domba yang sekawan itu akan bercerai‑berai." Mat. 26: 31.

Setelah tiba di tempat pelaksanaan hukuman mati, orang‑orang tahanan itu diikatkan pada alat‑alat penyiksa. Kedua pencuri bergumul di tangan orang‑orang yang menaruh mereka di atas salib, tetapi Yesus tidak mengadakan perlawanan. Ibu Yesus, yang dipapah oleh Yohanes, murid yang kekasih, telah mengikuti langkah Anaknya ke Golgota. Ia telah melihat Dia pingsan di bawah beban salib, dan rindu menopang kepala‑Nya yang luka, dan membasuh dahi yang pernah berbantalkan dadanya. Tetapi ia tidak diperkenankan. Dengan murid‑murid ia masih mendambakan harapan bahwa Yesus akan menunjukkan kuasa‑Nya, dan melepaskan diri‑Nya dari musuh‑musuh‑Nya. Sekali lagi jatuh hatinya ketika ia teringat akan perkataannya yang dalamnya Ia telah meramalkan peristiwa yang justeru sedang terjadi pada saat, itu. Sementara pencuri‑pencuri diikatkan pada salib, ia melihat dengan kegelisahan yang pedih. Apakah Ia yang telah menghidupkan orang mati membiarkan diri‑Nya disalibkan? Apakah Anak Allah mau membiarkan diri‑Nya dibunuh sekejam itu? Haruskah ia meninggalkan imannya bahwa Yesus adalah Mesias? Haruskah ia menyaksikan malu‑Nya dan kesusahan‑Nya, tanpa kesempatan untuk melayani Dia dalam kesedihan‑Nya. Ia melihat tangan‑Nya terentang di atas salib, palu dan paku dibawa oranglah, dan ketika paku itu dimasukkan menembusi daging yang lembut, murid‑murid yang sangat sedih itu menjauhkan ibu Yesus yang sedang pingsan itu dari pemandangan yang kejam itu.

Juruselamat tidak bersungut. Wajah‑Nya tetap tenang, tetapi titik peluh yang besar‑besar terdapat pada dahi‑Nya. Tidak ada tangan yang berbelas kasihan menyapu embun kematian dari wajah‑Nya, tidak ada perkataan simpati dan kesetiaan yang tidak berubah‑ubah menyokong hati manusia‑Nya. Sementara serdadu‑serdadu melakukan pekerjaan mereka yang menakutkan, Yesus berdoa untuk musuh‑musuh‑Nya, "Ya Bapa, ampunilah kiranya mereka itu, karena tiada diketahuinya apa yang diperbuatnya." Ingatan‑Nya beralih dari penderitaan‑Nya sendiri kepada dosa para penganiaya‑Nya, serta pembalasan yang mengerikan yang akan menjadi bagian mereka. Tidak ada kutuk dimintakan ke atas serdadu‑serdadu yang sedang memperlakukan Dia dengan sangat kasamya. Tidak ada pembalasan dendam dipohonkan ke atas para imam dan penghulu, yang merasa senang melaksanakan niat mereka. Kristus menaruh belaskasihan kepada mereka dalam kebodohan dan kesalahan mereka. Ia hanya mengucapkan pelahan‑lahan suatu permohonan untuk keampunan mereka, "karena tiada diketahuinya apa yang diperbuatnya."

Sekiranya mereka telah mengetahui bahwa mereka sedang menyiksa Seorang yang telah datang hendak menyelamatkan umat yang berdosa dari kebinasaan kekal, maka sudah tentu mereka dipenuhi dengan penyesalan dan kengerian. Tetapi perihal tidak berpengetahuan di pihak mereka tidak menghilangkan kesalahan mereka; karena mereka diberi kesempatan untuk mengetahui dan menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Beberapa dari mereka masih mau melihat dosa mereka dan bertobat. Ada pula yang oleh sifat mereka yang tidak mau bertobat tidak akan memungkinkan doa Kristus dijawab bagi mereka. Meski pun demikian, sama saja, maksud Allah sedang digenapi. Yesus mendapat hak untuk menjadi pembela manusia di hadirat Bapa.

Doa Kristus bagi musuh‑musuh‑Nya meliputi seluruh dunia. Doa itu menerima setiap orang berdosa yang pernah hidup dan harus hidup, sejak awal dunia sampai akhir masa. Di atas semuanya tertanggunglah kesalahan menyalibkan Anak Allah. Kepada semua orang keampunan ditawarkan dengan bebas. "Barang siapa mau" boleh mendapat damai dengan Allah, dan mewarisi hidup kekal.

Segera setelah Yesus dipakukan di salib, orang‑orang kuat mengangkat salib itu, dan dengan kerasnya menancapkannya ke dalam tempat yang sudah disediakan untuk maksud itu. Hal ini menyebabkan kesengsaraan yang paling hebat bagi Anak Allah. Kemudian Pilatus menulis suatu tulisan dalam bahasa Ibrani, Gerika dan Latin, dan menaruhnya di salib, di atas kepala Yesus. Bunyinya, "Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi." Tulisan ini menimbulkan amarah orang Yahudi. Di pengadilan Pilatus mereka telah berseru, "Salibkanlah Dia." "Tiadalah pada kami raja lain daripada baginda Kaisar juga." Yoh. 19:15. Mereka telah menyatakan bahwa barang siapa mengakui raja lain ialah seorang pengkhianat. Pilatus menuliskan perasaan yang telah mereka ungkapkan. Tidak ada pelanggaran diucapkan, kecuali bahwa Yesus adalah Raja orang Yahudi. Tulisan itu merupakan suatu pengakuan yang sesungguhnya tentang kesetiaan orang Yahudi atas kekuasaan Roma. Hal itu menyatakan bahwa barang siapa mengaku Raja Israel akan dihakimkan oleh mereka dengan hukuman mati. Imam‑imam sudah gagal karena berbuat terlalu banyak. Ketika mereka sedang merencanakan kematian Kristus, Kayapas telah menyatakannya bahwa perlu seorang mati untuk menyelamatkan bangsa itu. Sekarang kepura‑puraan mereka dinyatakan. Untuk membinasakan Kristus, mereka bersedia mengorbankan bangsa mereka sekali pun.

Imam‑imam melihat apa yang telah mereka lakukan, dan menanyakan kepada Pilatus untuk mengubahkan tulisan itu. Mereka berkata, "Janganlah kiranya tuan tulis, Raja orang Yahudi, melainkan, Akulah Raja orang Yahudi." Tetapi Pilatus marah kepada dirinya sendiri karena kelemahannya yang terdahulu, dan dengan sesungguhnya dihinakannya para imam dan penghulu yang dengki dan licik itu. Ia menjawab dengan sikap dingin, "Apa yang sudah kutuliskan itu, sudahlah."

Suatu kuasa yang lebih tinggi daripada Pilatus atau orang Yahudi telah memberi petunjuk tentang penempatan tulisan itu di atas kepala Yesus. Dalam kebijaksanaan Allah hal itu akan menggugah pikiran, serta penyelidikan akan Kitab Suci. Tempat Kristus disalibkan terdapat di dekat kota. Beribu‑ribu orang dari segala negeri berada di Yerusalem pada waktu itu, dan tulisan itu yang menyatakan Yesus orang Nazaret sebagai Mesias mendapat perhatian mereka. Itulah suatu kebenaran yang hidup, ditulis oleh tangan yang dipimpin Allah.

Dalam penderitaan Kristus di salib nubuatan digenapi. Berabad‑abad sebelum penyaliban, Juruselamat telah menubuatkan perlakuan yang akan diterima‑Nya. Ia berkata, "Karena beberapa anjing telah mengelilingi Aku, dan Aku dikepung oleh suatu perhimpunan orang yang berbuat jahat; mereka itu telah menebuk kaki tangan‑Ku. Segala tulang‑Ku dapat Kubilang; mereka itu melihatkan dia dan memandang kepada‑Ku. Dibahagi‑bahaginya pakaian‑Ku diantaranya dan dibuangnya undi atas jubah‑Ku." Mzm. 22:17‑19. Nubuatan tentang jubah‑Nya telah dilaksanakan tanpa nasihat atau campur tangan dari sahabat‑sahabat atau pun musuh‑musuh dari YangTersalib itu. Pakaian‑Nya diberikan kepada serdadu‑serdadu yang menaruh Dia di salib. Kristus mendengar pertengkaran orang‑orang ketika mereka membagi‑bagi jubah itu di antara mereka. Jubah‑Nya ditenun tanpa kelim, dan mereka berkata, "Janganlah kita mengoyak dia, tetapi baiklah kita membuang undi atasnya akan mengetahui siapa yang mendapat dia."

Dalam nubuatan lain Juruselamat menyatakan, "Bahwa kecelaan itu sudah memecahkan hati‑Ku, dan Aku amat lemah; lagi Aku sudah menantikan kasihan, tetapi ia itu tiada dan akan orang penghibur, tetapi tiada kudapati akan dia. Bahkan, mereka itu memberi empedu akan makanan‑Ku, dan dalam dahaga‑Ku diberinya minum cuka akan daku." Mzm. 69:21, 22. Kepada mereka yang menderita kematian di salib, diijinkan memberikan minuman yang membiuskan, guna mematikan perasaan sakit. Inilah yang diberikan kepada Yesus, tetapi ketika dirasai‑Nya, ditolak‑Nya. Ia tidak mau menerima sesuatu yang dapat menggelapkan pikiran‑Nya. Iman‑Nya harus tetap berpegang teguh pada Allah. Inilah satu‑satunya kekuatan‑Nya. Menggelapkan perasaan‑Nya akan memberi Setan suatu kesempatan.

Musuh‑musuh Yesus melampiaskan kemarahan mereka kepada‑Nya sementara Ia tergantung di salib. Para imam, penghulu, dan ahli taurat bergabung dengan orang banyak mengejek Yesus yang hampir mati. Pada waktu dibaptiskan dan pada waktu dipermuliakan di atas gunung, suara Allah telah kedengaran mengumumkan Kristus sebagai Anak‑Nya. Sekali lagi, tepat sebelum Kristus diserahkan, Bapa telah berkata, menyaksikan keilahian‑Nya. Tetapi sekarang suara dari surga sudah diam. Tidak ada kesaksian yang menguntungkan Kristus kedengaran. Ia sendirian menderita nistaan dan ejekan dari orang jahat.

"Jikalau Engkau Anak Allah," kata mereka, "turunlah dari kayu salib itu." "Biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri‑Nya sendiri, jikalau Ia sungguh Kristus Allah, pilihan‑Nya." Di padang belantara penggodaan Setan telah menyatakan, "Jikalau Engkau Anak Allah, suruhkanlah segala batu ini menjadi roti." Jikalau Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri Engkau ke bawah," dari bubungan kaabah. Mat. 4:3, 6. Dan Setan dengan malaikat‑malaikatnya dalam rupa manusia, hadir di salib. Setan dan tentaranya sedang bekerja sama dengan para imam dan penghulu. Guru‑guru telah mendorong orang banyak yang tidak berpengetahuan untuk mengucapkan hukuman terhadap Seorang yang belum pernah dilihat oleh kebanyakan dari mereka, sampai dipaksa bersaksi melawan Dia. Para imam, penghulu, orang Farisi dan rakyat jelata yang sudah mengeraskan hati bersekutu dalam kemarahan Setan. Para pemimpin agama bersatu dengan Setan dan malaikat‑malaikatnya. Mereka sedang melakukan perintahnya.

Yesus, yang sedang menderita dan hampir mati, mendengar setiap perkataan ketika imam‑imam menyatakan, "Orang lain sudah diselamatkan‑Nya tetapi tiada dapat menyelamatkan diri‑Nya sendiri. Hai Kristus, Raja orang Israel! Turunlah sekarang dari atas kayu salib supaya kami nampak dan kami percaya." Sebenarnya Kristus dapat turun dari salib. Tetapi karena Ia tidak mau menyelamatkan diri‑Nya, orang berdosa mempunyai harapan keampunan dan anugerah Allah.

Dalam ejekan mereka terhadap Juruselamat orang‑orang yang mengaku diri penafsir nubuatan sedang mengulangi perkataan yang sama yang telah dinubuatkan akan mereka ucapkan pada kesempatan ini. Meski pun demikian dalam kebutaan mereka, mereka tidak melihat bahwa mereka sedang menggenapi nubuatan. Mereka yang dengan mengejek mengucapkan perkataan, "Ia sudah harap kepada Allah, biarlah sekarang Allah juga menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenankan Dia; karena Ia berkata, Aku Anak Allah," kurang memikirkan bahwa kesaksian mereka akan bergema berabad‑abad lamanya. Tetapi meski pun diucapkan dengan nada mengejek, namun perkataan ini menuntun manusia untuk menyelidiki Kitab Suci sebagaimana yang belum pernah mereka adakan terdahulu. Orang‑orang bijaksana mendengar, menyelidiki, merenungkan, dan berdoa. Ada pula orang yang tidak pernah berhenti sampai, oleh membandingkan ayat dengan ayat, mereka melihat arti tugas Kristus. Belum pernah sebelumnya orang‑orang mendapat pengetahuan umum tentang Yesus sama seperti ketika Ia tergantung di salib. Ke dalam hati banyak orang yang melihat peristiwa penyaliban, dan yang mendengar perkataan Kristus, terang kebenaran sedang bersinar.

Kepada Yesus dalam kesengsaraan‑Nya di salib datanglah satu cahaya penghiburan. Itulah doa pencuri yang mau bertobat. Kedua orang yang disalibkan dengan Yesus pada mulanya menistai Dia; dan seorang karena penderitaannya hanya menjadi lebih putus asa dan bersifat menentang. Tetapi bukannya demikian halnya dengan temannya. Orang ini bukannya seorang penjahat yang sudah mengeraskan hati, ia telah disesatkan oleh pergaulan yang jahat, tetapi ia kurang bersalah daripada kebanyakan orang yang berdiri di samping salib dalam keadaan menghina Juruselamat. Ia telah melihat dan mendengar Yesus, dan telah diyakinkan oleh ajaran‑Nya, tetapi ia telah disesatkan dari Dia oleh imam‑imam dan penghulu‑penghulu. Dalam usahanya hendak mematikan keyakinannya, ia telah tenggelam lebih dalam dan lebih dalam ke dalam dosa, sampai ia ditahan, diadili sebagai seorang penjahat, dan dijatuhi hukuman mati di salib. Dalam ruang pengadilan dan dalam perjalanan ke Golgota dia bersama‑sama dengan Yesus. Ia telah mendengar Pilatus menyatakan, "Suatu pun tiada aku mendapat salah pada‑Nya." Yoh. 19:4. Ia telah memperhatikan pembawaan‑Nya yang saleh, serta pengampunan‑Nya yang penuh belas kasihan kepada orang yang menyiksa Dia. Di salib ia melihat banyak orang yang tekun beragama menjulurkan lidah dengan hinaan, dan menertawakan Tuhan Yesus. Ia melihat kepala yang digeleng‑gelengkan. Ia mendengar perkataan mempersalahkan yang diucapkan oleh rekannya yang bersalah, "Bukankah Engkau ini Kristus? Selamatkanlah diri‑Mu sendiri serta kami." Di antara orang‑orang yang lewat ia mendengar banyak orang membela Yesus. Ia mendengar mereka mengulangi perkataan‑Nya, dan menceritakan tentang perbuatan‑ Nya. Keyakinan kembali kepadanya bahwa inilah Kristus. Sambil berbalik kepada temannya sesama penjahat berkatalah ia, "Tiadakah engkau ini takut akan Allah, sedang engkau kena hukum serupa itu juga?" Pencuri‑pencuri yang sedang mati tidak lagi takut akan sesuatu dari manusia. Tetapi seorang dari mereka mendapat keyakinan bahwa ada Allah yang harus ditakuti, suatu masa depan yang menyebabkan dia gemetar. Dan sekarang, dalam keadaan cemar karena dosa, sejarah hidupnya hampir akan berakhir. "Kita memang dengan sepatutnya," ia menyesali, "karena kita menerima balasan yang berpadan dengan perbuatan kita; tetapi Orang ini suatu pun tiada perbuatan‑Nya yang salah."

Tidak ada pertanyaan sekarang. Tidak ada keragu‑raguan, tidak ada celaan. Ketika dinyatakan bersalah karena kejahatannya, pencuri itu hilang harapan dan putus asa; tetapi kini timbullah pikiran yang aneh dan penuh kasih. Ia berusaha mengingat kembali segala sesuatu yang telah didengarnya tentang Yesus, bagaimana Ia telah menyembuhkan orang sakit dan mengampuni dosa. Ia telah mendengar perkataan orang‑orang yang percaya pada Yesus dan mengikuti Dia sambil menangis. Ia telah melihat dan membaca gelar di atas kepala Juruselamat. Ia telah mendengar orang‑orang yang lewat mengulanginya, ada yang dengan bibir sedih dan gemetar, yang lain pula dengan senda‑gurau dan ejekan. Roh Kudus menerangi pikirannya, dan sedikit demi sedikit rantai bukti dihubungkan bersama‑sama. Dalam Yesus, yang sudah dihancurkan, diejek, dan tergantung di salib, ia melihat Anak‑Domba Allah, yang mengangkut dosa dunia. Harapan bercampur dengan kesengsaraan dalam suaranya ketika jiwa yang tidak berdaya dan sedang mati itu menaruh harapnya pada Juruselamat yang hampir mati. "Ya, Yesus, ingatlah kiranya akan hamba," serunya, "pada ketika Tuhan tiba kelak di dalam kerajaan‑Mu."

Dengan cepat jawabnya datang. Nada itu lembut dan merdu, dan perkataan itu penuh kasih, belas kasihan dan kuasa: Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu pada hari ini juga bahwa engkau akan bersama‑sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Berjam‑jam lamanya selama menderita kesengsaraan terdengarlah oleh Yesus segala hinaan dan ejekan. Sementara Ia tergantung di salib, masih juga terdengar oleh‑Nya bunyi ejekan dan kutukan. Dengan hati yang penuh kerinduan Ia telah berusaha mendengarkan suatu pernyataan iman dari murid‑murid‑Nya. Ia telah mendengar hanya perkataan sedih, "Kita berharap bahwa Ialah yang akan membebaskan bani Israel." Itulah sebabnya alangkah menyenangkan bagi Juruselamat mendengar ucapan iman dan kasih dari pencuri yang hampir mati! Sementara orang‑orang Yanudi yang terkemuka menyangkali Dia, malah murid‑murid sekali pun meragukan keilahian‑Nya, pencuri yang malang itu, di tepi jurang kekekalan, memanggil Yesus Tuhan. Banyak orang bersedia memanggil Dia Tuhan ketika Ia mengadakan mukjizat, dan sesudah Ia bangkit dari kubur; tetapi tidak seorang pun mengakui Dia sementara Ia tergantung hampir mati di salib kecuali pencuri yang menyesal yang diselamatkan pada saat terakhir.

Orang‑orang yang menonton mendengar perkataan itu ketika pencuri itu memanggil Yesus Tuhan. Nada orang yang bertobat itu menarik perhatian mereka. Mereka yang telah bertengkar tentang jubah Kristus di kaki salib, dan membuang undi atasnya, berhenti hendak mendengarkan. Nada suara mereka yang marah‑marah didiamkan. Dengan menahan napas mereka memandang kepada Kristus, dan menunggu sambutan dari bibir yang hampir mati itu.

Ketika Ia mengucapkan janji, awan gelap yang tampaknya menyelubungi salib ditembusi dengan terang yang cerah dan hidup. Kepada pencuri yang bertobat itu datanglah damai penerimaan Allah yang sempurna. Kristus dalam kehinaan‑Nya telah dimuliakan. Ia yang pada pemandangan segala mata sudah dikalahkan, sebenarnya adalah seorang Pemenang. Ia diakui sebagai Penanggung Dosa. Manusia dapat menjalankan kuasanya atas tubuh manusia‑Nya. Mereka dapat menembusi pelipis yang suci dengan mahkota duri. Mereka dapat menanggalkan jubah‑Nya, dan mempertengkarkan pembagiannya. Tetapi mereka tidak dapat merampas daripada‑Nya kuasa‑Nya untuk mengampuni dosa. Ketika hampir mati Ia menyaksikan keilahian‑Nya sendiri dan kemuliaan Bapa. Telinga‑Nya tidak berat sehingga tidak dapat mendengar, dan lengan‑Nya tidak singkat sehingga tidak dapat menyelamatkan. Adalah hak‑Nya sebagai Raja untuk menyelamatkan sedapat‑dapatnya semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia.

Aku berkata kepadamu pada hari ini, Engkau akan bersama‑sama dengan Aku di dalam Firdaus. Kristus tidak menjanjikan bahwa pencuri itu seharusnya bersama‑sama dengan Dia pada hari itu juga. Ia Sendiri tidak pergi pada hari itu ke Firdaus. Ia tidur di dalam kubur, dan pada pagi kebangkitan berkatalah Ia, "Belum Aku naik kepada Bapa." Yoh. 20:17. Tetapi pada hari penyaliban, hari yang tampaknya hari kekalahan dan kegelapan, janji itu diberikan. "Pada hari ini" sementara mati di salib sebagai seorang penjahat, Kristus memastikan kepada orang berdosa yang malang itu, Engkau akan bersama‑sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Pencuri‑pencuri yang disalibkan dengan Yesus ditaruh "pada sebelah menyebelah, tetapi Yesus di tengah‑tengah." Hal ini dilakukan atas petunjuk imam‑imam dan penghulu‑penghulu. Kedudukan Kristus di antara pencuri‑pencuri itu dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Ialah penjahat yang paling besar dari ketiganya. Dengan demikian genaplah bunyi Kitab Suci, "Ia pun dibilang dengan orang durhaka." Yes. 53:12. Tetapi makna perbuatan mereka sepenuhnya tidak dilihat oleh imam‑imam. Sebagaimana Yesus, yang disalibkan dengan pencuri‑pencuri, ditempatkan "di tengah‑tengah", demikian juga salib‑Nya ditempatkan di tengah‑tengah suatu dunia yang terletak dalam dosa. Dan perkataan pengampunan yang diucapkan kepada pencuri yang bertobat, menyalakan suatu terang yang akan bersinar ke batas‑batas bumi yang paling jauh.

Dengan keheran‑heranan malaikat‑malaikat memandang kasih Yesus yang tidak terbatas yang, meski pun menderita kesengsaraan pikiran dan tubuh yang paling hebat, memikirkan hanya orang lain, dan memberanikan jiwa yang bertobat untuk percaya. Dalarn kerendahan‑Nya Ia sebagai nabi telah menyapa anak‑anak perempuan Yerusalem; sebagai imam dan pembela Ia telah memohonkan kepada Bapa untuk mengarnpuni para pembunuh‑Nya; sebagai seorang Juruselamat yang penuh kasih sayang Ia telah mengampuni dosa‑dosa pencuri yang bertobat itu.

Sementara mata Yesus mengamat‑amati orang banyak di sekeliling‑Nya, sosok tubuh seorang menarik perhatian‑Nya. Di kaki salib itu berdirilah ibu‑Nya, ditopang oleh Yohanes, murid‑Nya. Ia tidak tahan tinggal jauh‑jauh dari Anaknya; dan Yohanes, karena mengetahui bahwa kesudahannya sudah hampir, telah membawanya lagi ke salib. Pada saat Ia hampir mati, teringatlah Kristus akan ibu‑Nya. Sambil memandang kepada mukanya yang dipenuhi kesedihan dan kemudian kepada Yohanes berkatalah Ia kepadanya, "Hai perernpuan, tengoklah Anakmu!" kemudian kepada Yohanes, "Tengoklah ibumu!" Yohanes mengerti perkataan Kristus, dan menerima tanggung jawab itu. Dengan segera Ia membawa Maryam ke rumahnya, dan sejak saat itu menjaga dia dengan lemah lembut. Oh, Juruselamat yang menaruh belas‑kasihan dan kasih‑sayang; di tengah segala penderitaan jasmaniah‑Nya dan kepedihan mental, Ia pun menaruh perhatian terhadap ibu‑Nya! Ia tidak mempunyai uang untuk menyediakan kesenangan baginya; tetapi Ia tersimpan dalam hati Yohanes, dan Ia memberikan ibu‑Nya kepadanya sebagai warisan yang berharga. Dengan demikian Ia menyediakan baginya sesuatu yang paling diperlukannya, simpati yang lemah lembut dari seorang yang mengasihinya sebab ia mengasihi Yesus. Dan dalam menerimanya sebagai suatu tanggung jawab yang suci, Yohanes sedang menerima suatu berkat yang besar. Ibu itu senantiasa merupakan pengingat tentang Gurunya yang kekasih.

Teladan yang sempurna tentang cinta Kristus terhadap orang tua bersinar dengan kemuliaan yang tidak samar‑samar dari kabut sepanjang zaman. Selama hampir tiga puluh tahun dengan bekerja keras setiap hari Ia telah menolong menanggung beban di rumah tangga. Dan sekarang, dalam kesengsaraan‑Nya yang terakhir sekali pun, Ia teringat untuk menyediakan keperluan ibu‑Nya yang sudah janda dan sedang bersusah itu. Roh yang sama akan kelihatan pada setiap murid Tuhan kita. Mereka yang mengikuti Kristus akan merasa bahwa menghormati serta menyediakan keperluan orang tua mereka merupakan sebagian dari agama mereka. Dari hati di mana terdapat kasih‑Nya, ayah dan ibu tidak pernah akan gagal untuk mendapat pemeliharaan dan simpati yang lemah lembut.

Dan sekarang Tuhan kemuliaan menghadapi maut, suatu tebusan bagi umat manusia. Dalam menyerahkan hidup‑Nya yang berharga, Kristus tidak disokong oleh kegembiraan yang penuh kemenangan. Semuanya merupakan kegelapan yang menekan. Bukannya takut akan kematian yang berat pada perasaan‑Nya. Bukannya perasaan sakit dan kehinaan salib yang menyebabkan kesengsaraan‑Nya yang tidak terperikan. Kristus adalah kepala segala penderita, tetapi penderitaan‑Nya berasal dari perasaan tentang jahatnya dosa, dengan mengetahui bahwa oleh berjinak‑jinakan dengan kejahatan, manusia telah dibutakan sama sekali. Kristus melihat alangkah dalamnya dosa itu sudah masuk dalam hati manusia, dan alangkah sedikitnya orang yang mau melepaskan diri dari kuasanya. Ia mengetahui bahwa tanpa pertolongan dari Allah, manusia mesti binasa, dan Ia melihat orang banyak sedang binasa meski pun pertolongan yang limpah mudah diperoleh.

Di atas Kristus sebagai pengganti dan pengaku kita terletaklah kejahatan kita semuanya. Ia dibilang seorang pelanggar, agar dapatlah Ia menebus kita dari tuntutan hukum. Kesalahan setiap keturunan Adam sedang menekan hati‑Nya. Murka Allah terhadap dosa, pertunjukan yang mengerikan tentang sikap tidak senang Allah karena kejahatan, memenuhi jiwa Anak‑Nya dengan kegemparan. Selama masa hidup‑Nya Kristus telah memasyhurkan kabar baik tentang kemurahan Bapa dan kasih‑Nya yang mengampuni kepada dunia yang sudah jatuh. Keselamatan bagi orang yang paling berdosa merupakan tema‑Nya. Tetapi sekarang dengan beratnya kesalahan yang mengerikan yang ditanggung‑Nya, Ia tidak dapat melihat wajah Bapa yang mendamaikan itu. Pencabutan wajah Ilahi dari Juruselamat pada saat kesengsaraan yang hebat ini menusuk hati‑Nya dengan suatu kesusahan yang tidak pemah dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Sangatlah besarnya kesengsaraan ini sehingga penderitaan jasmaniah‑Nya hampir tidak terasa lagi.

Setan dengan penggodaannya yang ganas memedihkan hati Yesus. Juruselamat tidak dapat melihat melalui pintu kubur. Harapan tidak menunjukkan kepada‑Nya tentang keluar‑Nya dari kubur sebagai seorang pemenang, atau mengatakan kepada‑Nya tentang penerimaan Bapa akan pengorbanan itu. Ia khawatir jangan‑jangan dosa sangat mengerikan pada pemandangan Allah sehingga perpisahan Mereka akan kekal. Kristus merasakan kesengsaraan yang akan dirasakan oleh orang berdosa bila kemurahan tidak lagi memohon untuk umat manusia yang bersalah. Perasaan akan dosa, yang membawa murka Bapa ke atas‑Nya sebagai pengganti manusia, itulah yang menjadikan cawan yang diminum‑Nya sangat pahit, dan menghancurkan hati Anak Allah.

Dengan keheran‑heranan malaikat‑malaikat menyaksikan kesengsaraan Juruselamat yang menyedihkan. Balatentara di surga menudungi muka mereka dari pemandangan yang menakutkan. Alam yang tidak bernyawa menyatakan simpati terhadap Penciptanya yang dihinakan dan menghadapi maut. Matahari enggan melihat pemandangan yang menakutkan itu. Sinarnya yang terik dan cerah sedang menerangi bumi pada tengah hari, ketika secara tiba‑tiba tampaknya matahari dilenyapkan. Kegelapan yang hitam pekat, laksana kain penutup peti jenazah, menudungi salib itu. "Gelaplah seluruh tanah itu hingga pukul tiga petang." Tidak ada gerhana atau penyebab alamiah lainnya untuk kegelapan ini, yang sama gelapnya dengan tengah malam tanpa bulan atau bintang‑bintang. Itulah suatu kesaksian yang ajaib yang diberikan Allah agar iman generasi mendatang dapat dikuatkan.

Dalam keadaan gelap gulita itu hadirat Allah disembunyikan. Ia menjadikan kegelapan itu kemah‑Nya, dan menyembunyikan kemuliaan‑Nya dari mata manusia. Allah dan malaikat‑malaikat‑Nya yang suci berada di sisi salib itu. Bapa ada bersama‑sama dengan Anak‑Nya. Meski pun demikian hadirat‑Nya tidak dinyatakan. Seandainya kemuliaan‑Nya memancar dari awan, maka setiap manusia yang memandangnya akan dibinasakan. Dan pada saat yang menakutkan itu Kristus tidak perlu dihiburkan dengan hadirat Bapa. Ia sudah mengirik apitan air anggur sendirian, dan daripada segala bangsa itu seorang pun tiada serta‑Nya.

Dalam keadaan gelap gulita itu, Allah menudungi kesengsaraan manusia yang terakhir yang diderita Anak‑Nya. Semua orang yang telah melihat Kristus dalam penderitaan‑Nya telah diyakinkan tentang keilahian‑Nya. Wajah itu, yang sekali dpandang oleh manusia, tidak pernah akan dilupakan. Sebagaimana muka Kain menyatakan kesalahannya sebagai seorang pembunuh, demikian juga wajah Kristus menyatakan hal tidak bersalah, ketenangan, kebajikan, peta Allah. Tetapi para penuduh‑Nya tidak mau menghiraukan tanda dari surga itu. Berjam‑jam lamanya dalam kesengsaraan‑Nya Kristus telah dipandang oleh orang banyak yang mengolok‑olok. Sekarang Ia disembunyikan dengan penuh kasihan oleh selubung AIIah.

Keteduhan kubur tampaknya sudah menirnpa Golgota. Kegentaran yang tidak terperikan menimpa orang banyak yang telah berhimpun di sekeliling salib. Kutukan dan hinaan terhenti dalam bentuk kalimat yang hanya diucapkan sebagian. Pria, wanita, dan anak‑anak jatuh tersungkur ke bumi. Kilat yang terang sekali‑sekali memancar dari awan, dan menyatakan salib dan Penebus yang disalibkan. Para imam, penghulu, ahli taurat orang‑orang yang menjalankan hukuman mati, dan orang banyak, semuanya memikirkan bahwa saat pembalasan bagi mereka telah tiba. Sesaat kemudian beberapa orang berbisik bahwa Yesus sekarang akan turun dari salib. Ada orang berusaha meraba‑raba jalan mereka mencari jalan kembali ke kota, sambil menepuk‑nepuk dada mereka dan meratap ketakutan.

Pada pukul tiga kegelapan terangkatlah dari orang banyak, tetapi masih menyelubungi Juruselamat. Itulah lambang kesengsaraan dan kengerian yang menekan hati‑Nya. Tiada mata dapat menembusi kegelapan yang mengelilingi salib itu, dan tidak suatu pun dapat menembusi kegelapan yang lebih pekat yang menyelubungi jiwa Kristus yang sedang menderita. Halilintar yang sabung‑menyabung tampaknya seolah olah tertuju kepada‑Nya sementara Ia tergantung di salib. Kemudian "berserulah Yesus dengan suara yang nyaring kata‑Nya, Eli, Eli, lama sabakhtani?" "Ya Tuhan‑Ku, Ya Tuhan‑Ku, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku?" ketika kegelapan yang di luar mengelilingi Juruselamat, banyak suara berseru: Pembalasan dari sorga adalah di atas‑Nya. Kilat murka Allah tertuju kepada‑Nya, karena Ia mengaku diri‑Nya Anak Allah. Banyak orang yang percaya kepada‑Nya mendengar seruan putus asa yang diucapkan‑Nya. Mereka hilang harapan. Kalau Allah telah meninggalkan Yesus, pada apakah para pengikut‑Nya dapat berharap?

Ketika kegelapan terangkat dari jiwa Kristus yang sedang tertindih, Ia merasakan kembali penderitaan jasmaniah, dan berkata, "Aku dahaga." Salah seorang serdadu Roma, yang terharu dengan perasaan belas kasihan ketika melihat bibir‑Nya kering, mengambil sebuah lumut karang pada sebatang zufa, dan setelah mencelupkannya dalam cuka, diberikannya kepada Yesus. Tetapi para imam mengejek kesengsaraan‑Nya. Ketika kegelapan menudungi bumi, mereka dipenuhi ketakutan; sementara kegentaran mereka berkurang, kembalilah rasa ketakutan bahwa Yesus akan meloloskan diri dari mereka. Perkataan‑Nya, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" telah ditafsirkan dengan salah oleh mereka. Dengan hinaan dan ejekan yang pahit mereka berkata, "Orang ini memanggil Elia." Mereka menolak kesempatan terakhir untuk meringankan penderitaan‑Nya. "Janganlah" kata mereka, "kita lihat kalau‑kalau Elia datang menyelamatkan Dia."

Anak Allah yang tidak bercacat‑cela tergantung di salib, daging‑Nya sobek dengan pukulan; tangan yang sering direntangkan untuk memberkati, dipakukan pada kayu palang, kaki yang tidak mengenal jerih lelah dalam pelayanan kasih, dipakukan ke salib; kepala raja ditembusi mahkota duri; bibir yang gemetar.mengucapkan seruan malapetaka. Dan segala sesuatu yang diderita‑Nya—tetesan darah yang mengalir dari kepala‑Nya, tangan‑Nya, kaki‑Nya, kesengsaraan yang menyiksa tubuh‑Nya, serta kepedihan yang tidak terperikan yang memenuhi jiwa‑Nya ketika wajah Bapa disembunyikan—berbicara kepada setiap anak manusia, menyatakan, Bagimulah Anak Allah rela menanggung beban kesalahan ini; bagimulah Ia merusakkan kerajaan kematian, dan membuka gerbang Firdaus. Ia yang mendiamkan lautan yang bergelora dan berjalan di atas ombak yang berbuih, yang menyebabkan Setan‑setan gemetar dan penyakit lenyap, yang mencelikkan mata yang buta dan membangkitkan orang mati, mempersembahkan diri‑Nya di atas salib sebagai korban, dan hal ini disebabkan oleh kasih bagimu. Ia, Penanggung Dosa menderita murka keadilan Ilahi, dan untuk kepentinganmu menjadi dosa dengan sendirinya.

Dalam ketenangan orang‑orang yang melihatnya memperhatikan akhir peristiwa yang menakutkan itu. Matahari bersinar, tetapi salib masih dikelilingi dengan 'kegelapan. Para imam dan penghulu memandang ke arah Yerusalem, dan lihatlah, awan tebal telah turun ke kota dan di lembah Yudea. Matahari kebenaran, Terang dunia, sedang menarik sinar‑Nya dari kota Yerusalem yang tadinya disenangi itu. Kilat murka Allah yang ganas itu ditujukan kepada kota yang terkutuk itu.

Tiba‑tiba kegelapan terangkatlah dari salib, dan dalam nada yang jelas laksana bunyi nafiri, yang tampaknya bergema di semesta alam, Yesus berseru, "Sudah genap." "Ya Bapa, ke dalarn tangan‑Mu Aku serahkan Roh‑Ku." Suatu terang mengelilingi salib, dan wajah Juruselamat bersinar dengan kemuliaan seperti matahari. Kemudian Ia menundukkan kepala‑Nya ke dada‑Nya, dan wafat.

Di tengah kegelapan yang mengerikan itu, tampaknya ditinggalkan Allah, Kristus telah menghabiskan teguk terakhir dalam cawan celaka manusia. Pada saat‑saat yang mengerikan itu Ia bergantung pada bukti penerimaan Bapa‑Nya yang diberikan kepada‑Nya hingga saat itu. Ia kenal baik akan tabiat Bapa‑Nya; Ia mengerti akan keadilan‑Nya, kemurahan‑Nya, dan kasih‑Nya yang besar. Oleh iman Ia berharap pada‑Nya yang selamanya dipatuhi‑Nya dengan penuh kegembiraan. Dan sebagaimana dalam sikap patuh diserahkan‑Nya diri‑Nya kepada Allah, Ia merasakan bahwa hilangnya anugerah Allah telah ditarik kembali. Oleh iman, Kristus menjadi pemenang.

Belum pernah sebelumnya bumi menyaksikan peristiwa seperti itu. Orang banyak berdiri dalam keadaan lumpuh, dan dengan menahan napas memandang pada Juruselamat. Sekali lagi kegelapan menudungi bumi, dan bunyi gemuruh, bagaikan guntur keras, kedengaran. Terasalah gempa bumi yang hebat. Orang banyak tergoncang sampai saling tindih‑menindih. Kekacauan dan kegemparan yang paling hebat terjadi sesudah itu. Di gunung‑gunung di sekitarnya, batu‑batu pecah, dan terguling berderak‑derik ke lembah. Kubur‑kubur terbuka, dan orang mati keluar dari kubur. Semesta alam tampaknya hancur luluh. Imam‑imam, penghulu‑penghulu, serdadu‑serdadu, orang‑orang yang menjalankan hukuman, dan orang banyak, yang tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun karena ketakutan, semuanya tersungkur ke tanah.

Ketika seruan yang nyaring "Sudahlah genap," keluar dari bibir Kristus, imam‑imam sedang mengadakan upacara dalam kaabah. Itulah saatnya korban petang. Anak domba yang melambangkan Kristus telah dibawa untuk disembelih. Imam yang berpakaikan jubahnya yang bermakna dan indah itu, berdiri dengan pisau terangkat, sebagaimana halnya dengan Ibrahim ketika ia hampir akan menyembelih anaknya. Dengan perhatian besar orang banyak melihatnya. Tetapi bumi bergetar dan bergema, karena Tuhan Sendiri datang dekat. Dengan bunyi koyak tirai di dalum kaabah tercarik dari atas ke bawah oleh tangan yang tidak kelihatan, membukakan pada pemandangan orang banyak tempat yang biasanya dipenuhi dengan hadirat Allah. Di sinilah Allah telah menunjukkan kemuliaan‑Nya di atas tutupun grafirat. Tidak seorang pun kecuali imam besar pernah mengangkat tirai yang memisahkan ruangan ini dari ruangan kaabah lainnya. Ia memasukinya sekali setahun untuk mengadakan grafirat bagi dosa orang banyak. Tetapi lihatlah, tirai itu sudah tercarik menjadi dua. Tempat yang maha suci dalam kaabah duniawi tidak lagi suci.

Semuanya adalah ketakutan dan kekacauan. Imam hampir akan menyembelih korban, tetapi pisau jatuh dari tangannya yang lemah, dan anak domba pun terlepaslah. Upacara bayangan telah bertemu dengan yang dibayangkannya dalam  kematian Anak Allah. Korban yang besar telah diadakan. Jalan menuju tempat yang maha suci sudah terbuka lebar. Suatu jalan baru dan hidup tersedia bagi semuanya. Tidak perlu lagi manusia berdosa yang bersusah itu menantikan kedatangan imam besar. Sejak saat itu Juruselamat harus mengadakan tugas sebagai imam dan pembela di surga. Hal itu seolah‑olah suara yang hidup yang telah berbicara kepada orang‑orang yang berbakti. Sekarang segala korban dan persembahan karena dosa sudah berakhir. Anak Allah sudah datang sesuai dengan sabda‑Nya, "Lihatlah, Aku sudah tiba (maka di dalam Kitab yang bergulung sudah tersurat darihal‑Ku) hendak melakukan kehendak‑Mu, ya Allah." Dengan "darah‑Nya Sendiri masuklah Ia sekali bagi sekalian ke dalam tempat kudus, serta mengerjakan suatu penebusan yang kekal." Ibr. I0:7; 9:12.

1 comment:

Anonymous said...

Personal Health Niche

Unity Stoakes, Start-up Health co-founder predicts that the personal health niche which deals with digital tools that help monitor and improve health will experience phenomenal growth in 2013. Personal health in general has been a growth niche for many years and this is well worth looking into.