Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Mar 27, 2013

Krisis di Galilea

Ketika Kristus melarang orang banyak untuk mengumumkan Dia raja, Ia telah mengetahui bahwa saat perubahan dalam sejarah hidup‑Nya sudah tiba. Orang banyak yang tadinya ingin menaikkan Dia ke takhta berbalik dari Dia keesokan harinya. Dengan dikecewakannya cita‑cita mereka yang mementingkan diri telah mengubah kasih mereka menjadi kebencian, dan pujian mereka menjadi kutuk serapah. Meski pun Ia mengetahui hal ini, Ia tidak mengambil tindakan mencegah krisis itu. Dari mula pertama la tidak menawarkan harapan akan pahala duniawi bagi para pengikut‑Nya. Kepada seorang yang datang dengan kerinduan hendak menjadi murid‑Nya Ia berkata, "Bagi serigala ada lubangnya, dan bagi segala burung pun ada sarangnya, tetapi Anak manusia tiada bertempat hendak membaringkan kepala‑Nya." Mat. 8:20. Sekiranya manusia dapat memperoleh dunia dengan Kristus, sudah tentu orang banyak akan menyatakan setia kepada‑Nya; tetapi pelayanan seperti itu tidak dapat diterima‑Nya. Dari mereka yang berhubungan dengan Dia sekarang banyak yang telah tertarik oleh harapan akan kerajaan duniawi. Orang‑orang ini hendaknya jangan terperdaya. Ajaran rohani dalam mukjizat ketul roti yang dalam artinya tidak dipahami. Hal ini harus dijelaskan. Dan wahyu yang baru ini akan membawa sertanya suatu ujian yang lebih teliti.

Mujizat mengenai ketul roti telah tersebar luas ke tempat jauh dan dekat, dan pagi‑pagi benar keesokan hannya orang banyak datang berduyun‑duyun ke Betsaida hendak melihat Yesus: Mereka datang dalam jumlah yang besar, melalui darat dan laut. Mereka yang telah meninggalkan Dia pada malam sebelumnya kembali lagi, dengan berharap masih dapat menemukan Dia di situ; karena tidak ada perahu yang dapat ditumpangi‑Nya untuk menyeberang. Tetapi sia‑sia saja mereka mencari‑Nya, dan banyak yang kembali ke Kapernaum dalam usaha hendak mencari Dia.

Dalam pada itu Ia telah tiba di Genesaret, sesudah tidak hadir hanya sehari ' lamanya. Segera sesudah diketahui bahwa Ia sudah  mendarat, "berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada." Mrk. 6:55.

Sesaat kemudian pergilah Ia ke rumah sembahyang, dan di sanalah mereka yang datang dari Betsaida menjumpai Dia. Mereka mendengar da i murid‑murid tentang bagaimana Ia telah menyeberangi laut itu. Ganasnya topan dan usaha mendayung dengan sia‑sia berjam‑jam lamanya hendak melawan angin sakal, tentang Kristus yang muncul dengan berjalan di atas air, darihal takut yang ditimbulkannya, perkataan‑Nya yang memulihkan keyakinan, keberanian Petrus dan akibatnya, teduhnya angin ribut secara tiba‑tiba dan perahu merapat dengan tenang, semuanya dituturkan dengan cermat kepada orang banyak yang keheran‑heranan. Tetapi karena tidak puas dengan penuturan ini, banyak orang mengerumuni Yesus seraya bertanya. "Ya Rabbi, bilakah Rabbi datang ke mari?" Mereka mengharapkan hendak mendengar cerita selanjutnya tentang mukjizat itu dari bibirNya sendiri.

Yesus tidak memuaskan rasa ingin tahu mereka. Ia berkata dengan sedih, "Kamu ini mencari Aku bukannya sebab kamu sudah nampak tanda ajaib, melainkan sebab kamu makan roti, sehingga kenyang." Mereka bukannya. mencari Dia karena suatu motif yang pantas, melainkan karena mereka telah diberi makan dengan roti, mereka masih mengharapkan hendak mendapat keuntungan duniawi dengan merapatkan diri mereka kepada‑Nya. Juruselamat menyuruh mereka, "Janganlah kamu bekerja karena makanan yang fana, melainkan karena makanan yang baka." Jangan mencari hanya keuntungan jasmani. Jangan hendaknya usaha utama hanya sekedar menyediakan untuk kehidupan sekarang ini, melainkan mencari makanan rohani, malahan akal budi yang akan tahan sampai kepada hidup yang kekal. Ini dapat diberikan hanya oleh Anak Allah, "karena Ialah yang dimeteraikan oleh Bapa itu, yaitu Allah."

Pada saat itu minat para pendengar tergugah. Mereka berseru, "Apakah yang patut kami perbuat akan menjalankan pekerjaan Allah?" Mereka telah melakukan banyak pekerjaan yang memenatkan agar dapat memujikan diri mereka kepada Allah; dan mereka bersedia hendak mendengar tentang,suatu penurutan yang baru yang olehnya mereka dapat memperoleh pahala yang lebih besar lagi. Pertanyaan mereka berarti: Apakah yang harus kami lakukan supaya kami layak masuk surga? Apakah pengorbanan yang dituntut dari kami agar memperoleh hidup mendatang?

"Maka jawab Yesus serta berkata kepada mereka itu: 'Inilah pekerjaan Allah, bahwa wajiblah kamu percaya akan Dia yang disuruhkan oleh Allah itu." Harga surga ialah Yesus. Jalan ke surga ialah oleh iman kepada "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." Yoh. 1:29.

Tetapi orang banyak tidak memilih menerima pernyataan ini tentang kebenaran Ilahi. Yesus telah melakukan pekerjaan yang sama seperti yang telah dinubuatkan. tentang apa .yang akan dilakukan Mesias; tetapi mereka tidak menyaksikan apa yang digambarkan sebagai pekerjaan‑Nya oleh harapan mereka yang mementingkan diri. Memang Kristus pernah memberi makan orang banyak dengan roti jelai; tetapi pada zaman Musa orang Israel telah diberi makan dengan manna selama empat puluh tahun, dan berkat‑berkat, yang jauh lebih besar lagi diharapkan dari Mesias. Hati mereka yang tidak puas menanyakan mengapa, jika Yesus dapat melakukan begitu banyak perbuatan yang ajaib sebagaimana yang sudah mereka saksikan, tidak dapatkah Ia memberikan kesehatan, kekuatan, dan kekayaan kepada sekalian umat‑Nya, melepaskan mereka dari para penindas, serta mengangkat mereka kepada kuasa dan kehormatan? Kenyataan bahwa Ia mengaku diutus oleh Allah, namun enggan dijadikan raja Israel, sungguh merupakan suatu rahasia yang tidak dapat mereka duga. Penolakan‑Nya ditafsirkan dengan salah. Banyak orang menarik kesimpulan bahwa la tidak berani menyatakan tuntutan‑Nya karena Ia Sendiri menyangsikan mengenai sifat Ilahi yang menjadi ciri tugas‑Nya. Dengan demikian mereka membuka hati terhadap sifat tidak percaya, dan benih yang telah ditaburkan oleh Setan membuahkan yang sejenisnya, dalam salah pengertian dan kegagalan.

Sekarang, dengan setengah mengejek, seorang rabbi bertanya "Apakah tanda ajaib yang Tuhan perbuat, supaya boleh kami tampak, lalu percaya akan Tuhan? Apakah Tuhan perbuat? Nenek moyang kami makan manna di padang belantara, seperti yang tersurat itu: 'Ia sudah mengaruniakan mereka itu roti dari surga akan makanannya."'

Orang Yahudi menghormati Musa, sebagai sipemberi manna, memberikan pujian kepada alat perantara, dan melupakan Dia yang oleh‑Nya pekerjaan telah dilaksanakan. Nenek‑moyang mereka bersungut kepada Musa, serta meragukan dan menyangkal tugas Ilahinya. Sekarang dalam roh yang sama keturunan mereka menolak Seorang yang menyampaikan pekabaran Allah kepada mereka. Maka kata Yesus kepada mereka itu, "Sesungguh‑sungguhnya Aku berkata kepadamu: Bukannya Musa yang memberikan kamu roti dari surga itu." Sipemberi manna sedang berdiri di antara mereka. Kristuslah yang telah memimpin orang Ibrani melalui padang belantara, dan memberi makan kepada mereka setiap hari dengan roti dari surga. Makanan itu melambangkan roti yang sebenarnya dari surga. Roh yang memberi hidup, yang mengalir dari kepenuhan Allah yang tidak terbatas, ialah manna yang benar. Yesus berkata, "Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Yoh. 6:33.

Masih dalam keadaan memikirkan bahwa makanan jasmanilah yang dimaksudkan Yesus, beberapa dari para pendengarnya berseru, "Ya Tuhan, berilah kiranya kami roti ini selalu." Kemudian Yesus berkata dengan jelas, "Aku inilah Roti Hidup itu."

Kiasan yang digunakan Yesus sudah lazim bagi orang Yahudi. Musa, dengan ilham Roh Suci, berkata, "Bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi menusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan." Dan nabi Yeremia menulis, "Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku." Ul. 8:3; Yer. 15:16. Rabbi‑rabbi sendiri mempunyai perbahasaan, bahwa makan roti, dalam makna rohaninya, adalah pelajaran tentang hukum dan kebiasaan perbuatan baik; dan sering dikatakan bahwa bila Mesias datang segenap Israel akan diberi makan. Ajaran nabi‑nabi menjelaskan pelajaran rohani yang mendalam mengenai mukjizat roti. Pelajaran inilah yang hendak dipaparkan Kristus kepada para pendengar‑Nya di rumah sernbahyang. Sekiranya mereka telah mengerti akan Kitab Suci, sudah tentu mereka mengerti perkataan‑Nya ketika Ia berkata, "Aku inilah Roti Hidup itu." Baru saja sehari yang lampau orang banyak, yang sudah lemah dan lelah, diberi makan dengan roti yang 'diberikan‑Nya. Sebagaimana dari roti itu mereka mendapat kekuatan dan kesegaran jasmani, demikian juga dari Kristus mereka dapat memperoleh kekuatan rohani menuju hidup kekal. "Siapa yang datang kepada‑Ku," kata‑Nya, "tiadalah ia akan lapar lagi; dan siapa yang percaya akan Daku, tiadalah ia akan dahaga lagi." Tetapi Ia menambahkan, "Kamu sudah nampak Aku, tetapi tiada kamu percaya."

Mereka telah melihat Kristus dengan kesaksian Roh Suci, dengan kenyataan Allah kepada jiwa mereka. Bukti‑bukti yang hidup mengenai kuasa‑Nya sudah mereka saksikan dari hari ke hari, namun mereka masih minta tanda lain. Jika mereka tidak diyakinkan dengan apa yang sudah mereka lihat dan dengar, tidak ada gunanya menunjukkan lebih banyak perbuatan ajaib kepada mereka. Sifat tidak percaya selamanya mencari dalih untuk meragukan, dan tidak akan menerima bukti yang paling pasti.

Sekali lagi Kristus berseru ke hati yang degil. "Orang yang datang kepada‑Ku, sekali‑kali tiada Aku akan menolak dia." Ia mengatakan bahwa semua orang yang menerima Dia dalam iman, akan mendapat hidup kekal. Tidak seorang pun akan hilang. Tidak perlu orang Farisi dan orang Saduki mempertengkarkan dari hal kehidupan masa depan. "Karena inilah kehendak Bapa‑Ku, bahwa masing‑masing yang memandang Anak itu serta percaya akan Dia kelak beroleh hidup yang kekal, maka Aku ini akan menghidupkan dia pada hari kiamat."

Tetapi para pemimpin orang banyak itu merasa sakit hati, "maka kata mereka itu: 'Bukankah orang ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu‑bapanya kami kenal? Bagaimanakah orang ini dapat berkata: Aku ini turun dari surga?' " Mereka berusaha membangkitkan prasangka dengan menyinggung secara mengejek tentang asal‑usul Yesus yang hina itu. Dengan sikap memandang rendah mereka menyindir tentang kehidupan‑Nya sebagai seorang pekerja Galilea, serta tentang keluarga‑Nya yang miskin dan hina. Mereka mengatakan bahwa tuntutan tukang kayu yang tidak terdidik ini tidak layak diperhatikan. Dan karena kelahiran‑Nya yang gaib itu, mereka menyindir bahwa Ia berasal dari keturunan yang diragukan, dengan demikian menggambarkan keadaan kelahiran‑Nya secara manusia sebagai suatu noda dalam sejarah hidup‑Nya.

Yesus tidak berusaha menjelaskan rahasia kelahiran‑Nya. Ia tidak menjawab pertanyaan‑pertanyaan tentang kedatangan‑Nya dari surga, sebagaimana Ia tidak menjawab pertanyaan‑pertanyaan tentang bagaimana Ia menyeberangi laut. Ia tidak menarik perhatian kepada mukjizat‑mukjizat yang menandai kehidupan‑Nya. Dengan rela Ia tidak menari nama baik bagi diri‑Nya, dan Ia mengenakan‑bagi diri‑Nya sifat seorang hamba. Tetapi perkataan dan perbuatan‑Nya menyatakan tabiat‑Nya. Semua orang yang hatinya terbuka terhadap penerangan Ilahi akan mengenal dalam Dia "Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." Yoh. 1:14.

Prasangka orang Farisi lebih mendalam daripada yang dinyatakan dalam pertanyaan‑pertanyaan mereka; prasangka itu berakar dalam kekacaubalauan batin mereka. Setiap perkataan dan tindakan Yesus membangkitkan permusuhan dalam diri mereka; karena roh yang mereka dambakan pada‑Nya tidak terdapat di dalam Dia.

"Seorang pun tiada boleh datang kepada‑Ku, jikalau tiada hatinya ditarik oleh Bapa yang menyuruhkan Aku; maka Aku ini akan menghidupkan dia pada hari kiamat. Adalah tersurat di dalam kitab nabi‑nabi, yaitu: 'Bahwa; mereka itu sekalian diajar oleh Allah. Mereka masing‑masing yang sudah mendengar serta belajar kepada Bapa, ialah datang kepada‑Ku.'" Tidak seorang pun akan datang kepada Kristus, kecuali mereka yang menyambut penarikan kasih Bapa. Tetapi Allah sedang menarik semua hati kepada‑Nya, dan hanya mereka yang menolak penarikan‑Nya akan enggan datang kepada Kristus.

Dalam perkataan, "Mereka itu sekalian diajar oleh Allah," yang Yesus maksudkan ialah nubuatan Yesaya: "Semua anakmu akan menjadi murid Tuhan, dan besarlah kesejahteraan mereka." Yes. 54:13. Ayat Kitab Suci ini dikenakan oleh orang Yahudi kepada diri mereka sendiri. Mereka membanggakan bahwa Allah menjadi guru mereka. Tetapi Yesus menunjukkan betapa sia‑sia tuntutan ini; karena la berkata, "Maka masing‑masing yang sudah mendengar serta belajar kepada Bapa, ialah datang kepada‑Ku." Hanya dengan perantaraan Kristus mereka dapat memperoleh suatu pengetahuan tentang Bapa. Manusia tidak tahan melihat kemuliaan‑Nya. Mereka yang sudah belajar tentang Allah sudah mendengar suara Anak‑Nya dan dalam Yesus orang Nazaret mereka akan mengenal Dia, yang melalui alam dan wahyu, telah menyatakan Bapa.

"Sesungguh‑sungguhnya Aku berkata kepadamu: Barang siapa yang percaya, ialah menaruh hidup yang kekal." Dengan perantaraan Yohanes yang kekasih, yang mendengarkan perkataan ini, Roh Kudus menyatakan kepada sidang‑sidang, "Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.'' 1 Yoh. 5:11, 12. Dan Yesus berkata, "Aku ini akan menghidupkan Dia pada hari kiamat." Kristus menjadi satu daging dengan kita, supaya kita boleh menjadi satu roh dengan Dia. Karena hubungan inilah kita akan keluar dari kubur‑bukan saja sebagai suatu pernyataan kuasa Kristus, melainkan karena oleh iman hidup‑Nya telah menjadi hidup kita. Mereka yang melihat Kristus dalam tabiat‑Nya yang benar, serta menerima Dia ke dalam hati, mempunyai hidup kekal. Dengan perantaraan Roh Kuduslah Kristus tinggal di dalam kita; dan Roh Allah, yang diterima ke dalam hati oleh iman, menjadi permulaan hidup kekal.

Orang banyak telah mengalihkan perhatian Kristus kepada manna yang dimakan oleh nenek‑moyang mereka di padang belantara, seolah olah penyediaan makanan itu merupakan suatu mukjizat yang lebih besar daripada yang diadakan Yesus; tetapi Ia menunjukkan betapa kecilnya pemberian itu bila dibandingkan dengan berkat‑berkat yang hendak dikaruniakan‑Nya melalui kedatangan‑Nya. Manna itu dapat memelihara hanya kehidupan di dunia ini; manna itu tidak mencegah datangnya kematian atau pun menjamin sifat baka; tetapi roti yang dari surga akan memberi makan kepada jiwa sampai hidup yang kekal. Juruselamat berkata, "Aku inilah Roti Hidup itu. Nenek‑moyang kamu telan makan manna di padang belantara, dan mati juga mereka itu. Inilah Roti yang turun dari surga, supaya orang makan daripadanya dan tiada mati. Aku inilah Roti yang hidup, yang turun dari sorga; jikalau barang seorang pun makan daripada Roti ini, ia akan hidup selama‑lamanya." Pada kiasan ini Kristus menambahkan yang lain lagi. Hanya oleh mati dapatlah Ia memberikan hidup kepada manusia, dan dalam perkataan selanjutnya. Ia menunjukkan kepada kernatian‑Nya sebagai ikhtiar keselamatan. Ia berkata, "Roti yang Aku akan berikan itu ia itu tubuh‑Ku, karena kehidupan isi dunia ini."

Orang-orang Yahudi sudah bersedia hendak merayakan Paskah di Yerusalem untuk memperingati malam kelepasan Israel, ketika malaikat pembinasa memukul rumah‑rumah orang Mesir. Dalam domba Paskah Allah merindukan agar mereka memandang Anak Domba Allah; dan dengan perantaraan lambang itu menerima Dia yang memberikan diri‑Nya untuk kehidupan dunia ini. Tetapi orang Yahudi telah menjadikan lambang itu sangat penting, sedangkan maknanya tidak diperhatikan. Mereka tidak membedakan tubuh Tuhan. Kebenaran yang sama yang dilambangkan dalam upacara paskah diajarkan dalam perkataan Kristus. Tetapi kebenaran itu masih tidak dilihat.

Sekarang rabbi‑rabbi berseru dengan marahnya, "Bagaimanakah Orang ini dapat memberi kami makan tubuh‑Nya?" Mereka berpura‑pura mengerti perkataan‑Nya dalam pengertian yang sama secara harafiah sebagaimana halnya dengan Nikodemus ketika ia bertanya, "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?" Yoh. 3:4. Sedikit banyaknya mereka mengerti maksud Yesus, tetapi mereka tidak mau mengakuinya. Oleh salah menerima perkataan‑Nya, mereka mengharapkan untuk menimbulkan prasangka orang banyak melawan Dia.

Kristus tidak melunakkan penjelasan yang diberikan‑Nya secara lambang. Ia mengulangi kebenaran itu dalam bahasa yang lebih kuat lagi: "Sesungguh‑sungguhnya Aku berkata kepadamu; Jikalau tiada kamu makan tubuh Anak Manusia dan minum darah‑Nya, tiadalah kamu menaruh hidup di dalam dirimu. Barang siapa yang makan tubuh‑Ku, dan minum darah‑Ku, padanyalah hidup yang kekal, dan Aku ini akan menghidupkan dia pada hari kiamat. Karena tubuh‑Ku itulah makanan yang sungguh‑sungguh; dan darah‑Ku itulah minuman yang sungguh‑sungguh. Siapa yang makan tubuh‑Ku dan minum darah‑Ku, ia tinggal di dalam Aku, dan Aku tinggal di dalam dia."

Makan daging dan minum darah Kristus ialah menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi percaya bahwa Ia mengampuni dosa‑dosa kita, dan bahwa kita sempuma dalam Dia. Oleh memandang kasih‑Nya, oleh merenungkannya, oleh meminumnya, kita mendapat bagian dari sifat‑Nya. Sebagaimana makanan perlu untuk tubuh, demikian juga halnya dengan Kristus untuk jiwa. Makanan. tidak dapat memberikan manfaat kepada kita kecuali kita memakannya, kecuali makanan itu menjadi sebagian dari tubuh kita. Demikianlah Kristus tidak bermanfaat bagi kita jika kita tidak mengetahui Dia sebagai Juruselamat pribadi. Suatu pengetahuan secara teori melulu tidak akan memberikan kebaikan kepada kita. Kita harus makan daripada‑Nya, menerima Dia ke dalarn hati, sehingga kehidupan‑Nya menjadi kehidupan kita. Kasih‑Nya, rahmat‑Nya, harus dipahami baik‑baik.

Tetapi kiasan‑kiasan ini sekali pun tidak berhasil menggarnbarkan hak istimewa dari hubungan orang percaya kepada Kristus. Yesus berkata, "Sebagaimana Bapa yang hidup itu menyuruhkan Aku, dan Aku pun hidup oleh karena Bapa itu, demikian juga siapa yang makan Aku, ia pun akan hidup oleh sebab Aku." Sebagaimana Anak Allah hidup oleh iman kepada Bapa, demikian juga kita harus hidup oleh iman kepada Kristus. Demikian sempurnanya Yesus berserah kepada kemauan Allah sehingga Bapa saja kelihatan dalam kehidupan‑Nya. Meski pun digoda segala perkara sama seperti kita, namun la berdiri di hadapan dunia tanpa dinodai kejahatan yang mengelilingi‑Nya. Demikianlah juga kita harus menang sebagaimana Kristus sudah menang.

Apakah engkau seorang pengikut Kristus? Kalau demikian segala perkara yang tersurat mengenai kehidupan rohani tersurat bagimu, dan dapat dicapai oleh menyatakan dirimu kepada Yesus. Apakah semangatmu sedang melemah? Apakah kasihmu yang mula‑mula sudah menjadi dingin? Terimalah kembali kasih yang ditawarkan oleh Kristus. Makanlah dari daging‑Nya, minumlah dari darah‑Nya, dan engkau akan menjadi satu dengan Bapa dan dengan Anak itu.

Orang‑orang Yahudi yang tidak percaya enggan melihat sesuatu kecuali makna secara harafiah saja dalam perkataan Juruselamat. Oleh hukum upacara mereka dilarang mencicipi darah, dan kini mereka mengartikan bahasa Kristus sebagai pencemaran sesuatu yang suci, dan memperdebatkannya sama sendirinya. Kebanyakan dari mereka malahan murid‑murid sekali pun, berkata, "Perkataan ini sukar diartikan, siapakah gerangan dapat mendengarnya?"

Juruselamat menjawab mereka, "Adakah perkara ini mendatangkan syak ke atas kamu? Bagaimanakah kelak jadinya apabila kamu memandang Anak Manusia naik ke tempat asalnya? Roh itulah yang menghidupkan, tubuh suatu pun tiada gunanya. Ada pun perkataan yang Aku katakan kepadamu, itulah roh dan hidup adanya."

Hidup Kristus yang memberikan hidup kepada dunia ialah perkataan‑Nya. Dengan perkataan‑Nyalah Yesus menyembuhkan penyakit dan membuangkan setan; dengan perkataan‑Nya Ia mendiamkan laut, dan membangkitkan orang mati; dan orang banyak menyaksikan bahwa perkataan‑Nya disertai kuasa. Ia mengucapkan sabda Allah, sebagaimana Ia telah mengucapkannya dengan perantaraan segala nabi dan guru Perjanjian Lama. Segenap Kitab Suci merupakan pernyataan Kristus, dan Juruselamat ingin menetapkan iman para pengikut‑Nya pada sabda itu. Bila hadirat‑Nya yang kelihatan itu ditarik kembali, sabda itu hendaknya menjadi sumber kuasa bagi mereka. Sebagaimana halnya dengan Guru mereka, seharusnya mereka hidup "dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Mat. 4:4.

Sebagaimana kehidupan jasmani dipelihara dengan makanan, demikian juga kehidupan rohani dipelihara dengan sabda Allah. Dan setiap jiwa harus menerima hidup dari Sabda Allah baginya sendiri. Sebagaimana kita harus makan untuk diri kita sendiri agar mendapat keperluan gizi, demikian juga kita harus menerima sabda itu bagi diri kita sendiri. Kita tidak memperolehnya hanya dengan perantaraan pikiran yang lain. Kita harus menyelidiki Kitab Suci dengan saksama, memohonkan dari Allah bantuan Roh Kudus agar kita dapat mengerti sabda‑Nya. Kita harus merenungkan buah pikiran itu sampai itu menjadi bagian kita sendiri, dan kita mengetahui "apa yang dikatakan Tuhan."

Dalam janji‑janji dan amaran‑amaran‑Nya, Yesus menunjukkannya kepada saya. Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan‑Nya Anak‑Nya yang tunggal, supaya saya yang percaya kepada‑Nya, jangan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Pengalaman‑pengalaman yang diceritakan dalam sabda Allah hendaknya menjadi pengalaman saya juga. Doa dan janji, ajaran dan amaran, adalah untuk saya. "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." Gal. 2:19, 20. Bila iman menerima dan menyelami prinsip‑prinsip kebenaran dengan cara demikian, itu menjadi sebagian dari kehidupan serta kuasa pendorong bagi kehidupan. Sabda Allah itu, bila diterima ke dalam jiwa, mengubahkan pikiran, dan masuk ke dalam perkembangan tabiat.

Oleh selalu memandang kepada Yesus dengan mata iman kita akan dikuatkan. Allah akan mengadakan wahyu yang paling berharga kepada umat‑Nya yang lapar dan haus. Mereka akan mendapati bahwa Kristus adalah Juruselamat pribadi. Bila mereka makan dari sabda‑Nya, mereka mendapati bahwa sabda itu roh dan hidup adanya. Sabda itu merusakkan sifat bawaan dan duniawi, dan memberikan suatu hidup yang baru dalam Kristus Yesus. Roh Suci datang ke dalam jiwa sebagai Penghibur. Oleh rahmat‑Nya yang mengubahkan itu, peta Allah dihasilkan kembali pada murid itu; ia menjadi suatu kejadian yang baharu. Kasih menggantikan kebencian, dan hati menerima kesamaan Ilahi. Inilah yang dimaksudkan oleh hidup "dengan tiap‑tiap firman yang keluar daripada mulut Allah." Inilah yang dimaksudkan dengan makan Roti yang berasal dari surga.

Kristus telah mengucapkan kebenaran yang suci dan kekal mengenai hubungan antara Dia dengan para pengikut‑Nya. Ia mengetahui tabiat orang‑orang yang mengaku sebagai murid‑murid‑Nya, dan sabda‑Nya menguji iman mereka. Ia menyatakan bahwa mereka harus percaya dan bertindak sesuai dengan ajaran‑Nya. Semua orang yang menerima Dia mengambil bagian dari sifat‑Nya, dan menjadi serupa dengan tabiat‑Nya. lni menyangkut kesediaan meninggalkan cita‑cita yang dipelihara dalam hati mereka. Hal itu memerlukan penyerahan diri mereka sepenuhnya kepada Yesus. Mereka dipanggil untuk memiliki sifat pengorbanan diri, dan kerendahan hati. Mereka harus berjalan pada jalan sempit yang dijalani oleh orang di Golgota, jika mereka mau mendapat bagian dari pemberian kehidupan dan kemuliaan surga.

Ujian itu terlalu besar. Semangat orang‑orang yang tadinya berusaha memaksa Dia serta menjadikan Dia raja kini menjadi dingin. Mereka menyatakan bahwa uraian di rumah sembahyang ini telah membuka mata mereka. Sekarang mereka tidak terperdaya lagi. Dalam pikiran mereka perkataan‑Nya merupakan pengakuan terus terang bahwa Ia bukannya Mesias, dan bahwa tidak ada pahala duniawi diwujudkan oleh hubungan dengan Dia. Mereka menyambut kuasa‑Nya yang mendatangkan kuasa mukjizat, mereka rindu dibebaskan dari penyakit dan penderitaan; tetapi mereka tidak mau bersimpati terhadap kehidupan‑Nya yang mengorbankan diri. Mereka tidak menghiraukan kerajaan rohani yang sukar dipahami, yang dikatakan‑Nya itu. Orang‑orang yang tidak ikhlas, yang mementingkan diri, yang telah mencari Dia, tidak lagi mengingini‑Nya. Jika Ia tidak mau mencurahkan kuasa dan pengaruh‑Nya untuk mendapat kemerdekaan dari orang Roma, mereka tidak mau mengadakan hubungan dengan Dia.

Yesus berkata dengan jelas kepada mereka, "Tetapi adalah di antara kamu beberapa orang yang tiada percaya," sambil menambahkan, "Itulah sebabnya Aku berkata kepadamu, bahwa seorang pun tiada boleh datang kepada‑Ku, jikalau tiada dikaruniakan kepadanya oleh Bapa." Ia menghendaki agar mereka mengerti bahwa jikalau mereka tidak tertarik kepada‑Nya, sebabnya ialah hati mereka tidak terbuka kepada Roh Kudus. "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatukebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohanii." 1 Kor. 2:14. Dengan imanlah jiwa memandang kemuliaan Yesus. Kemuliaan ini tersembunyi, sampai iman dinyalakan dalam jiwa dengan perantaraan Roh Kudus.

Oleh tempelakan terhadap kurangnya percaya mereka di hadapan umum, murid‑murid ini malah lebih menjauhkan diri dari Yesus. Mereka merasa amat kurang senang, dan dalam keinginan hendak melukai perasaan Juruselamat dan memuaskan kebencian orang Parisi, mereka membelakangi Dia dan meninggalkan Dia dengan penghinaan. Mereka telah mengadakan pilihan mereka,—mereka tidak mau mengatakan penyerahan yang sempurna. Keputusan mereka tidak pernah dibatalkan sesudah saat itu; karena mereka tidak lagi berjalan dengan Yesus.

"Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung." Mat. 3:12. Inilah salah satu saat pembersihan. Oleh sabda kebenaran, sekam dipisahkan dari gandum. Karena mereka terlalu congkak dan menganggap diri benar sehingga tidak dapat menerima teguran, terlalu mencintai dunia sehingga tidak dapat menerima hidup kerendahan, banyak dari mereka berbalik dari Yesus. Kebanyakan masih melakukan perkara yang sama. Jiwa‑jiwa diuji dewasa ini sebagaimana halnya dengan murid‑murid dalam rumah sembahyang di Kapernaum. Bila kebenaran dijelaskan dalam hati, mereka melihat bahwa kehidupan mereka tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka melihat perlunya perubahan menyeluruh dalam diri mereka sendiri; tetapi mereka tidak sudi menanggung pekerjaan yang menuntut penyangkalan diri. Sebab itu mereka marah bila dosa‑dosa mereka didapati. Mereka pergi dengan perasaan sakit hati, sebagaimana murid‑murid meninggalkan Yesus, sambil bersungut," "Perkataan ini sukar diartikan, siapakah gerangan dapat mendengarnya?"

Pujian dan belaian menyenangkan pada pendengaran mereka, tetapi kebenaran tidak disambut dengan gembira; mereka tidak dapat mendengarnya. Ketika orang banyak mengikuti, dan diberi makan, dan sorak‑sorai kemenangan kedengaran, suara mereka menyaringkan puji‑pujian; tetapi bila pemeriksaan Roh Allah menyatakan dosa mereka, dan menyuruh mereka meninggalkannya, mereka membelakangi kebenaran, dan tidak lagi berjalan dengan Yesus.

Ketika murid‑murid yang tidak setia itu berbalik dari Kristus, suatu roh yang lain menguasai mereka. Mereka tidak dapat melihat sesuatu yang menarik dalam Dia, yang tadinya mereka dapati sangat menarik. Mereka mencari musuh‑musuh‑Nya, karena musuh‑musuh itu sesuai dengan roh dan pekerjaan mereka. Mereka salah tafsirkan‑perkataan‑Nya, memalsukan pernyataan‑Nya, serta menentang motif‑Nya. Mereka mempertahankan perlakuan mereka dengan mengumpulkan setiap perkara yang dapat menentang Dia; dan kemarahan seperti itu dibangkitkan oleh laporan yang tidak benar sehingga hidup‑Nya berada dalam bahaya.

Kabar tersiar dengan cepatnya bahwa atas pengakuan‑Nya sendiri Yesus orang Nazaret adalah Mesias. Dan dengan demikian perasaan khalayak ramai di Galilea dialihkan untuk melawan Dia, sebagaimana pada tahun sebelumnya sudah dialami di Yudea. Wai bagi Israel! Mereka menolak Juruselamat mereka, karena mereka merindukan seorang pemenang yang akan memberi mereka kuasa duniawi. Mereka menghendaki daging yang akan binasa, tetapi bukannya yang akan tahan sampai hidup kekal.

Dengan hati yang penuh kerinduan, Yesus melihat mereka yang pernah menjadi murid‑murid‑Nya meninggalkan Dia, Hidup dan Terang bagi manusia. Rasa kesadaran bahwa belaskasihan‑Nya tidak dihargai, kasih‑Nya tidak dibalas, kemurahan‑Nya diremehkan, keselamatan‑Nya ditolak, memenuhi Dia dengan kesedihan yang tidak terperikan. Perkembangan seperti itulah yang menjadikan Dia seorang yang kena sengsara dan yang biasa dalam kesukaran.

Tanpa berusaha menghalangi mereka yang sedang meninggalkan Dia, Yesus berpaling kepada keduabelas murid‑Nya seraya berkata, "Kamu ini hendak pergi jugakah?"

Petrus menyahut dengan bertanya, "Ya Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?" "Hanya Tuhan sahaja yang menaruh perkataan hidup yang kekal," ia menambahkan. "Kami ini sudah percaya dan yakin, bahwa Tuhanlah yang kudus datang daripada Allah."

"Kepada siapakah kami akan pergi?" Guru‑guru Israel diperbudak dengan ketelitian dalam upacara secara lahiriah. Orang‑orang Farisi dan Saduki senantiasa bertengkar. Meninggalkan Yesus berarti jatuh di antara para penyokong upacara agama, serta orang‑orang yang bercita‑cita yang mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Murid‑murid telah mendapat lebih banyak damai dan kesukaan sejak mereka menerima Kristus daripada dalam segala kehidupan mereka pada masa yang silam. Bagaimanakah mereka dapat kembali kepada orang‑orang yang telah menghina dan menganiayakan Sahabat orang berdosa? Sudah lama mereka mengharapkan Mesias, sekarang Ia sudah datang, dan mereka tidak dapat berbalik dari hadirat‑Nya dan pergi kepada orang‑orang yang sedang mengejar nyawa‑Nya, dan telah menganiayakan mereka karena menjadi pengikut‑Nya.

"Kepada siapakah kami akan pergi?" Bukannya dari ajaran Kristus, pelajaran‑Nya tentang kasih dan kemurahan, kepada kegelapan kurang percaya, kejahatan dunia. Sementara Juruselamat ditinggalkan oleh banyak orang yang sudah menyaksikan perbuatan‑Nya yang ajaib, Petrus mengungkapkan iman murid‑murid—"Sesungguhnya Engkau Kristus." Hanya dengan memikirkan kehilangan jangkar ini bagi jiwa mereka memenuhi mereka dengan ketakutan dan kepedihan. Tidak mempunyai Juruselamat berarti hanyut di lautan yang gelap dan banyak angin ribut.

Banyak perkataan dan perbuatan Yesus kelihatan sukar dipahami dengan pikiran yang terbatas, tetapi setiap perkataan dan perbuatan mempunyai maksud yang tentu dalam pekerjaan untuk penebusan kita; setiap perkara itu diperhitungkan untuk memberikan hasilnya sendiri. Jika kita sanggup mengerti maksud‑maksud‑Nya, semuanya akan kelihatan penting, sempurna dan sesuai dengan tugas‑Nya.

Meski pun kita tidak dapat mengerti segala perbuatan dan jalan Allah, kita dapat melihat kasih‑Nya yang besar, yang menjadi dasar segala perlakuan‑Nya terhadap manusia. Ia yang tinggal dekat Yesus akan mengerti banyak tentang rahasia kesalehan. Ia akan mengakui kemurahan yang memberikan teguran, yang menguji tabiat, dan menyatakan niat hati.

Ketika Yesus mengemukakan kebenaran yang menguji itu yang rnenyebabkan begitu banyak dari murid‑murid‑Nya berbalik, Ia mengetahui apa akan diakibatkan oleh perkataan‑Nya; tetapi Ia hendak memenuhi suatu maksud kemurahan. Ia melihat jauh ke depan bahwa pada saat pencobaan setiap murid‑Nya yang kekasih akan diuji dengan keras. Sengsara‑Nya di Getsemani, perihal Ia dikhianati dan disalibkan, akan merupakan suatu ujian yang paling berat bagi mereka. Sekiranya tidak diberikan ujian lebih dulu, banyak orang yang didorong hanya oleh motif yang mementing kan diri akan bergabung dengan mereka. Ketika Tuhan mereka dihukum di balai pengadilan; ketika orang banyak yang pernah menyerukan Dia sebagai raja mereka kini mencemoohkan Dia serta menghinakan Dia; ketika orang banyak yang mengejek berseru, "Salibkan Dia!" Ketika mereka dikecewakan dalam cita‑cita duniawi, oleh mengingkari kesetiaan mereka kepada Yesus, sebenarnya orang‑orang yang mencari kepentingan diri sendiri ini akan membawa kesusahan yang pahit dan membebani hati, selain dari kesedihan dan kekecewaan mereka karena hilangnya harapan mereka yang paling disukai. Pada saat kegelapan itu, teladan di pihak orang‑orang yang berbalik dari Dia sebenarnya dapat membawa orang lain mengikuti mereka. Tetapi Yesus mendatangkan krisis ini sedangkan oleh hadirat‑Nya sendiri Ia dapat menguatkan iman para pengikut‑Nya yang benar.

Penebus yang menaruh belas kasihan, yang sangat mengetahui nasib yang menunggu Dia, melicinkan jalan bagi murid‑murid, menyiapkan mereka untuk ujian tertinggi, serta menguatkan mereka untuk menghadapi ujian terakhir.

No comments: