Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 17, 2014

Seluk-Beluk Masyarakat Romawi Kuno

Ketika kota Roma didirikan, sejumlah suku yang berbeda hidup di Semenanjung Italia, masing-masing dengan bahasa dan budayanya sendiri. Bangsa Romawi adalah orang Latin. Suku besar lainnya adalah Etruria, Sabine, dan Samnite.

Kekaisaran Romawi pada puncak kejayaannya menguasai lebih dari 50 juta orang. Di timur, Roma menguasai Mesopotamia, Palestina, Mesir, dan Yunani. Di barat, Roma menaklukkan Inggris dan Gaul (sekarang Perancis, Belgia, dan sebagian Jerman). Hampir 1 juta orang tinggal di kota Roma. Alexandria di Mesir, kota terbesar kedua kekaisaran Romawi, memiliki lebih dari 500.000 penduduk.

Latin dan Yunani adalah bahasa resmi kekaisaran Romawi. Pejabat pemerintah dan anggota kelas atas berbicara dalam dua bahasa. Tapi kebanyakan orang di kekaisaran terus menggunakan bahasa asli mereka. Bahasa Celtic dituturkan di Gaul dan Inggris, bahasa Berber di Afrika Utara, dan bahasa Aram di Suriah dan Palestina.

Penduduk kota Roma kuno terbagi atas tiga golongan; warga negara, bukan warganegara, dan budak. Hukum Romawi mengakui warganegara dan bukan warganegara sebagai manusia bebas. Budak diperlakukan sebagai harta atau kepemilikan. Status kewarganegaraan memberi perlindungan pada warganya di bawah hukum Romawi, dan hanya warga negara yang bisa menjadi senator atau pejabat pemerintah.



Warga Roma saat itu dibagi lagi menjadi kelas-kelas sosial yang berbeda. Di bagian atas adalah anggota Senat, biasanya merupakan pemilik tanah yang kaya. Berikutnya adalah para equites, pengusaha makmur dan pedagang. Di bawah kaisar Romawi, equites memegang jabatan penting di pemerintahan dan membantu menjalankan kekaisaran. Mayoritas warga negara Romawi tergolong ke dalam kelas bawah. Mereka adalah petani, pekerja kota, dan tentara.

Pada awalnya, hanya mereka yang lahir di Roma yang bisa menjadi warga negara, sehingga sebagian besar orang-orang Roma bukan termasuk warganegara. Saat Roma semakin diperluas, status kewarganegaraan diberikan pada banyak orang di kekaisaran. Hak istimewa kewarganegaraan menuntut kesetiaan dan pengorbanan yang tulus kepada kerajaan. Perempuan dan anak-anak bisa menjadi warga negara, tetapi mereka tidak bisa ikut pemilihan umum.

Meski budak dianggap sebagai harta benda oleh hukum Romawi, mereka sangat penting dalam kehidupan bangsa Romawi. Mereka melakukan banyak tugas, mulai dari pekerjaan kasar hingga mengajar para bangsawan muda Roma. Kebanyakan budak ditangkap dalam perang. Sebuah keluarga Romawi kaya bisa saja memiliki ratusan budak yang bekerja di tanah pertanian dan rumahnya. Budak bisa membeli kebebasannya sendiri dari majikannya. Bisa juga budak diberikan kemerdekaan oleh sang majikan. Budak yang dimerdekakan ini, dikenal sebagai freedmen, berutang kesetiaan kepada mantan tuannya, yang masih memerlukan pelayanannya.

No comments: