Sejarah Dunia Kuno

The Year of God Opening the Doors for Miracles

Sunday, December 30, 2012

Pembuangan ke Babilonia

Pembuangan ke Babilonia, atau Pengasingan ke Babilonia adalah sebuah nama yang diberikan untuk peristiwa pengasingan & pembuangan orang-orang Yahudi dari Kerajaan Yehuda kuno ke Babilonia oleh Nebukadnezar II pada tahun 586 SM. Pembuangan & yang selanjutnya kembali lagi ke Israel dan pembangunan kembali Bait Salomo merupakan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa & agama Yahudi dan memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan budaya & kebiasaan bangsa Yahudi modern.

Kerajaan Yehuda (juga dikenal dengan "Kerajaan Selatan") berdiri pada tahun s. 930 SM setelah pecahnya Kerajaan Israel Bersatu. Raja Daud diangkat sebagai raja Israel saat 1007 SM, dan garis Daud diteruskan melalui Kerajaan Yehuda selama 420 tahun hingga kerajaan runtuh pada tahun 586 SM oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, pemimpin pengawal Nebukadnezar.

Darius I dari Persia

Darius I, juga dikenal sebagai Darius yang Agung (bahasa Persia: داریوش بزرگ, Daryūsh-e-Bozorg; bahasa Persia kuno: Dārayavahuš, bahasa Akadia Dariamuš, bahasa Elam Dariyamauiš, bahasa Aram Dryhwš, bahasa Ibrani: דריוש Daryawesy, bahasa Latin Darius), adalah "raja segala raja" (kaisar) ketiga Kekaisaran Akhemeniyah. Pada masa kekuasaannya, negerinya mencapai puncak kejayaannya, meliputi wilayah hingga Mesir, India Utara, dan sebagian Yunani. Kekaisarannya mulai mengalami kemunduran setelah kematiannya dan pengangkatan putranya, Xerxes I, sebagai raja.

Ia memperoleh kekuasaan dengan membunuh Bardiya. Darius lalu dimahkotai pagi sesudahnya. Sebagai kaisar yang baru, ia harus menghadapi pemberontakan-pemberontakan di seluruh negeri, tetapi Darius berhasil memadamkannya. Ia lalu mengirim ekspedisi untuk menghukum Athena dan Eritrea karena membantu pemberontakan Ionia. Darius memperluas kekaisarannya dengan menaklukan Trakia dan Makedon. Ia juga menyerang Saka, suku Iran yang menyerang Media dan membunuh Koresh yang Agung

Darius mengorganisir kekaisarannya dengan membaginya menjadi provinsi-provinsi dan menempatkan satrap sebagai penguasa. Ia memperkenalkan sistem keuangan seragam, dan menjadikan bahasa Aram sebagai bahasa resmi kekaisaran. Darius juga melancarkan proyek-proyek pembangunan di Susa, Pasargadae, Persepolis, Babilonia, dan Mesir. Ia membuat kodifikasi undang-undang untuk Mesir. Darius juga memerintahkan pengukiran inskripsi Behistun, yaitu otobiografi mengenai dirinya.

Sumber-sumber utama

Monumen berukir dan bertulisan tiga bahasa di Gunung Behistun menggambarkan kehidupan Darius dari masa pengangkatannya hingga kematiannya. Ukiran atau relief tersebut ditulis dalam bahasa Elamite, Kuno, dan Babilonia. Inskripsi ini pertama-tama memperkenalkan nenek moyang dan garis keturunan Darius. Untuk memperjelas nenek moyangnya, terukir peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah kematian Koresh yang Agung. Darius menyebutkan beberapa kali bahwa ia adalah kaisar yang sah dengan rahmat dari Ahura Mazda, dewa utama agama Zoroastrian. Selain relief tersebut, beberapa teks dan monumen dari Persepolis telah ditemukan, yang meliputi sebagian inskripsi Iran Kuno dari Gherla, Rumania (Harmatta), dan surat dari Darius untuk Gadates, ditulis dalam teks Yunani dari periode Romawi.

Herodotus, sejarawan Yunani dan penulis Historia, mencatat kehidupan kaisar-kaisar Persia dan perang Yunani-Persia. Ia mencatat berbagai informasi mengenai Darius, yang dimulai dari penjatuhan Gaumata yang dituduh sebagai perebut takhta, dan berlanjut hingga berakhirnya masa kekuasaan Darius.

Kitab Ezra di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, terutama pasal 6 ayat 1, menulis instruksi raja tentang pembangunan kembali Bait Allah di Yerusalem. Bangunan itu jadi dan diresmikan pada tahun ke-6 pemerintahan Darius (Maret 515 SM), yang juga dicatat di Kitab Ezra pasal 6 ayat 15, dan dengan demikian nubuat nabi Yeremia tentang 70 tahun digenapi dengan sempurna. Antara Koresh dan Darius, pertukaran surat dengan raja Ahasyweros dan Artahsasta juga ditulis pada pasal 4 ayat 7. Raja Artahsasta adalah cucu raja Darius I; pada zaman pemerintahannya, Ezra dan Nehemia pergi ke Yerusalem. Pembiayaan yang murah hati untuk Bait Allah dari Darius menghasilkan dukungan terhadapnya dan penerusnya dari para imam Yahudi.

Disebutkan adanya seorang raja Darius di Kitab Daniel, yang diidentifikasi sebagai "Darius orang Media". Ia mulai memerintah pada usia 62 tahun (Daniel pasal 5 ayat 31), mengangkat 120 satrap untuk memerintah semua provinsi atau distrik (pasal 6, ayat 1), dan dijadikan raja atas seluruh orang Kasdim (pasal 9, ayat 1), serta mendahului Koresh (pasal 11, ayat 1). Karena itu, banyak pakar mengidentifikasikannya dengan Cyaxares II dan bukan Darius I dari Persia.

Kehidupan

Kelahiran dan masa muda

Darius lahir sebagai anak sulung dari pasangan Hystaspes dan Rhodugune pada tahun 550 SM. Hystaspes adalah tokoh pemimpin Persis. Inskripsi Behistun menyatakan bahwa ayah Darius adalah satrap Bactria pada tahun 522 SM. Menurut Herodotus, Hystaspes menjabat sebagai satrap Persis, meskipun banyak sejarawan menyatakan ini merupakan kesalahan. Selain itu, menurut Herodotus (III.139), Darius, sebelum memperoleh kekuasaan, menjadi penombak (doryphoros) dalam peperangan melawan Mesir (528–525 SM).
Mulai berkuasa

Terdapat dua kisah yang berbeda mengenai awal kekuasaan Darius. Inskripsi Behistun dan Herodotus memberikan kisah yang mirip, namun sejarawan menyatakan berkuasanya Darius mungkin tidak resmi. Terdapat kemungkinan bahwa 'Gaumata' memang Bardiya, dan dibawah perlindungan revolusi, Darius membunuh penerus takhta dan merebut kekuasaan. Fakta bahwa ayah dan kakek Darius masih hidup menunjukkan bahwa ia bukan penerus takhta.

Versi Darius

Menurut inskripsi Behistun, Cambyses II membunuh Bardiya, saudaranya sendiri, tetapi pembunuhan ini tidak diketahui orang-orang Iran. Perebut takhta yang bernama Gaumata datang dan menipu orang-orang, menyatakan bahwa ia adalah Bardiya. Orang-orang Iran lalu memberontak terhadap Cambyses, dan pada 11 Maret 522 SM, perlawanan terhadap Cambyses pecah.

Pada 1 Juli, orang-orang Iran memilih untuk dipimpin oleh Gaumata, sebagai "Bardiya". Tidak ada anggota keluarga Akhameniyah yang maju melawan Gaumata untuk keselamatan mereka. Darius memohon bantuan, dan pada September 522 SM, ia bersama dengan Otanes, Intraphrenes, Gobryas, Hydarnes, Megabyxus dan Aspathines membunuh Gaumata di benteng Sikayauvati. Darius lalu dinyatakan sebagai kaisar.

Sejarawan Yunani

Menurut catatan sejarawan Yunani, Cambyses II telah menyerahkan kerajaan kepada Patizeithes ketika ia pergi ke Mesir. Cambyses II lalu mengirim Prexaspes untuk membunuh Bardiya. Setelah pembunuhan, Patizeithes menempatkan saudaranya Gaumata (seorang Magi yang mirip dengan Bardiya) dan menyatakannya sebagai kaisar. Otanes mengetahui bahwa Gaumata adalah penipu. Bersama dengan enam keluarga bangsawan Iran lainnya (termasuk Darius), mereka berencana menjatuhkan si Bardiya palsu. Setelah membunuh Gaumata, Patizeithes, dan Magi lainnya, Darius dimahkotai sebagai kaisar pagi sesudahnya.

Kampanye militer

Pemberontakan Babilonia

Setelah Bardiya dibunuh, pemberontakan merebak di seluruh kekaisaran, terutama di wilayah timur. Darius memperkuat posisinya sebagai kaisar melalui kekuatan militer. Ia mengirim tentaranya ke seluruh kekaisaran, dan memadamkan pemberontakan satu per satu. Salah satu pemberontakan yang paling penting adalah pemberontakan Babilonia yang dipimpin oleh Nebukadnezzar III. Pemberontakan ini meletus ketika Otanes harus mengambil banyak tentara dari Babilonia untuk membantu Darius memadamkan pemberontakan lain. Darius merasa Babilonia mengambil kesempatan dan menipunya, sehingga ia mengirim tentara dalam jumlah besar ke Babilonia. Di Babilonia, gerbang telah ditutup, dan berbagai upaya pertahanan dilakukan untuk mengusirnya.

Darius mendapati ejekan dari pemberontak, seperti "Oh ya, engkau akan merebut kota kami, ketika bagal beranak kuda." Selama satu setengah tahun, ia dan tentaranya tidak mampu merebut Babilonia, meskipun berbagai taktik dan trik telah diupayakan -- bahkan hingga meniru taktik Koresh yang Agung. Akan tetapi, situasi segera memihak Darius, ketika salah satu bagal Zopyrus melahirkan (pada masa itu, orang meyakini kelahiran itu adalah keajaiban besar, anugerah ilahi). Maka dilancarkanlah rencana, ketika tentara berpangkat tinggi berpura-pura meninggalkan pertempuran, masuk ke kamp Babilonia, dan dipercaya oleh orang-orang Babilon. Rencana ini berhasil. Tentara Persia mengepung kota dan berhasil menaklukan pemberontak.

Selama pemberontakan ini, orang-orang Scythia mencuri kesempatan dan menyerang Persia selatan. Darius pertama-tama menghabisi pemberontak di Elam, Asiria, dan Babilonia terlebih dahulu. Setelah itu ia baru menyerang Scythia. Darius mengejar penyerang-penyerang tersebut, yang membawanya ke rawa-rawa. Ia tidak menemui musuh apapun kecuali suku Scythia misterius yang dibedakan dari topi runcing besar mereka. Pada akhirnya kampanye militer Darius terhadap Scythia gagal, tetapi ia akan mencapai kesuksesan dalam peperangan di Eropa.

Invasi Persia ke Yunani

Ekspedisi Eropa Darius adalah salah satu peristiwa utama dalam masa kekuasaannya. Darius menaklukan Scythia, Trakia, dan banyak kota di Aegea utara, sementara Makedonia menyerah secara sukarela. Wilayah Yunani di Asia dan kepulauan-kepulauan Yunani selanjutnya menyerah pada tahun 510 SM. Mereka lalu diperintah oleh tiran yang bertanggung jawab terhadap Darius.

Terdapat orang-orang Yunani yang pro-Persia, seperti Yunani Medizing, yang banyak berada di Athena. Akibatnya, hubungan Yunani-Persia membaik. Darius membuka pintu istana dan perbendaharaan bagi orang Yunani yang mau melayaninya. Orang-orang Yunani tersebut bekerja sebagai tentara, artisan, negarawan, dan pelaut untuk Darius. Akan tetapi, ketakutan Yunani akan Persia semakin menguat, dan intervensi Yunani di Ionia dan Lydia merupakan batu loncatan menuju konflik antara Persia dan Yunani.

Ketika Aristagoras mengorganisir Ionia untuk memberontak, Eretria dan Athena mendukungnya dengan mengirim kapal ke Ionia dan membakar Sardis. Tentara Persia berhasil memadamkan pemberontakan. Akan tetapi, kelompok anti-Persia telah memperoleh kekuatan yang lebih besar di Athena, dan aristokrat pro-Persia dibuang dari Athena ke Sparta. Darius membalas dengan mengirim tentara yang dipimpin oleh menantunya menyeberangi Hellespont. Akan tetapi, tentara Persia kalah akibat badai dan gangguan Trakia.

Darius lalu mengirim tentara kedua yang berjumlah 20.000 dibawah pimpinan Datis untuk menghukum Athena. Mereka berhasil merebut Eretria dan bergerak menuju Marathon. Pada tahun 490, pada pertempuran Marathon, Persia dikalahkan oleh tentara Athena yang dipimpin oleh Miltiades. Kekalahan di Marathon menandai berakhirnya invasi Persia ke Yunani pertama.

Kematian
Darius dikubur bersama kaisar-kaisar Akhemeniyah lainnya di Naqsh-e Rustam.

Setelah mendapatkan informasi mengenai kekalahan di Marathon, Darius merencanakan ekspedisi lain terhadap Yunani. Kali ini, ia akan memimpin tentaranya langsung. Darius telah menghabiskan tiga tahun mempersiapkan tentara dan kapal untuk peperangan. Akan tetapi, pemberontakan meletus di Mesir. Pemberontakan di Mesir memperburuk kesehatannya, dan mencegah kemungkinan Darius memimpin tentara lain secara langsung. Akhirnya, Darius wafat. Pada Oktober 486 SM, jenazahnya dibalsemi dan dimakamkan di Naqsh-e Rustam.

Xerxes, putra sulung Darius, menggantikannya dengan nama Xerxes I. Akan tetapi, sebelum Xerxes naik takhta, ia memperebutkan takhta dengan kakak tirinya Artobazan.

Pemerintahan

Organisasi

Darius ingin mengorganisir kekaisarannya. Pertama-tama, ia mendirikan dua puluh provinsi, yang masing-masing diperintah oleh seorang satrap (archon), dan upeti harus dibayarkan oleh setiap provinsi. Upeti dibayar dalam talenta emas atau perak.

Mayoritas satrap berkebangsaan Persia dan merupakan anggota wangsa kerajaan atau enam keluarga bangsawan besar. Untuk memastikan bahwa satrap tidak mendapat terlalu banyak kekuasaan, setiap satrap memiliki sekretaris yang mengawasi urusan negara dan berkomunikasi dengan Darius; bendahara yang menjaga keuntungan provinsial; dan komandan garnisun yang bertanggung jawab atas tentara-tentara. Selain itu, inspektor kerajaan yang merupakan "mata dan telinga" Darius juga memeriksa setiap satrap.

Terdapat markas pemerintahan kekaisaran di Persepolis, Susa, dan Babilonia, sementara Bactria, Ecbatana, Sardis, Dascyclium, dan Memphis menjadi cabang pemerintahan kekaisaran. Darius memilih bahasa Aram sebagai bahasa utama. Selanjutnya, bahasa tersebut menyebar ke seluruh kekaisaran. Akan tetapi, Darius mengumpulkan sekelompok ahli untuk menciptakan sistem bahasa yang terpisah untuk Persis dan Persia, yang disebut aksara Arya, dan hanya digunakan pada inskripsi resmi.

Ekonomi

Sebelum tahun 500 SM, Darius telah memperkenalkan beberapa sistem keuangan baru yang berbasis pada koin perak dengan bobot sekitar 8g dan koin emas dengan bobot sekitar 5.40 g. Koin emas disebut dārayaka (daric), dan kemungkinan dinamai dari Darius. Koin tersebut digunakan untuk perdagangan. Tujuan pembuatan koin tersebut adalah untuk menyediakan koin dan sistem keuangan seragam kekaisaran, sehingga sistem keuangan asing tidak diperlukan. Dalam usaha untuk mendorong perdagangan, Darius membangun kanal, saluran air bawah tanah, dan angkatan laut yang kuat. Ia meningkatkan dan memperluas jaringan jalan di seluruh kekaisaran.

Agama
Atas rahmat Ahuramazda akulah raja; Ahuramazda telah memberiku kerajaan.

Darius adalah penganut Zoroastrianisme dan meyakini bahwa Ahura Mazda telah menunjuknya untuk menguasai Persia. Ia memiliki keyakinan dualistik dan meyakini bahwa setiap pemberontakan di kerajaannya merupakan ulah Drug, musuh dari Asha. Darius percaya bahwa karena ia hidup dengan pantas, Ahura Mazda mendukungnya.  Dalam banyak inskripsi cuneiform, ia menyatakan dirinya sebagai orang percaya yang taat dan bahkan yakin bahwa ia memiliki hak ilahi untuk menguasai dunia.

Di wilayah yang ditaklukan oleh Persia, Darius mengikuti toleransi yang telah ditunjukkan oleh Koresh. Ia mendukung kepercayaan dan agama yang "asing" selama tetap tunduk dan damai, bahkan kadang-kadang Darius memberikan mereka hibah. Ia mendanai restorasi kuil Yahudi yang sebelumnya telah diputuskan oleh Koresh yang Agung. Darius telah menunjukkan dukungan terhadap kultus Yunani dalam suratnya untuk Gadatas, dan mendukung pendeta-pendeta Elamite. Ia juga mengamati ritus agama Mesir yang berhubungan dengan kerajaan, dan membangun kuil untuk dewa Mesir, Amun.

Pembangunan

Selama ekspedisi Yunani Darius, ia telah memulai proyek pembangunan di Susa, Mesir, dan Persepolis. Darius menghubungkan Laut Merah dengan sungai Nil dengan membangun kanal dari Zaqāzīq ke Suez. Untuk meresmikan kanal, ia pergi ke Mesir pada tahun 497 SM. Darius juga membangun kanal yang menghubungkan Laut Merah dengan laut Tengah. Dalam kunjungannya ke Mesir, ia mendirikan monumen dan mengeksekusi Aryandes atas tuduhan pengkhianatan. Ketika Darius kembali ke Persis, ia mendapat kabar bahwa kodifikasi hukum Mesir telah diselesaikan.

Di sebelah utara kota Susa, Darius membangun kompleks istana baru. Menurut inskripsi, istana tersebut hancur pada masa kekuasaan Artaxerxes I, tetapi dibangun kembali. Kini, hanya kepingan-kepingan yang tersisa, dan kebanyakan disimpan di Louvre. Di Pasargadae, Darius menyelesaikan semua proyek pembangunan yang belum selesai dari masa Koresh yang Agung. Istana juga dibangun pada masanya, dengan inskripsi atas nama Koresh yang Agung. Sebelumnya diyakini bahwa Koresh telah membangun istana tersebut, tetapi karena aksara yang digunakan adalah aksara cuneiform, istana tersebut diyakini dibangun oleh Darius.

Sementara itu, di Mesir, Darius membangun banyak kuil, dan merestorasi kuil yang sebelumnya hancur. Meskipun menganut Zoroastrianisme, Darius membangun kuil yang dipersembahkan untuk dewa-dewa Mesir. Beberapa kuil yang dipersembahkan untuk Ptah dan Nekhbet telah ditemukan. Selain kuil, Darius juga membangun jalan di Mesir.

Monumen yang dibangunnya sering ditulisi dengan bahasa Persia Kuno, Elamite, Babilonia, dan hieroglif Mesir. Untuk membangun monumen-monumen tersebut, ia menyewa banyak pekerja dan artisan dari beragam kebangsaan. Beberapa dari pekerja tersebut merupakan orang yang diusir. Orang-orang itu meningkatkan ekonomi dan hubungan dengan negara-negara tetangga tempat asal orang-orang terbuang itu.

Pada masa kematian Darius, proyek pembangunan masih berlangsung. Xerxes menyelesaikan proyek-proyek tersebut, dan memperbanyak proyek ayahnya dengan mendirikan bangunan baru.

Koresh yang Agung

Koresh Agung (atau Koresy Agung) adalah pendiri Kekaisaran Persia. Ia memulai kariernya selaku pejabat rendahan di bagian barat daya Iran, dia mendapat banyak kemenangan lewat pertempuran dan menguasai tiga kerajaan besar yaitu; Media, Lydia dan Babilonia. Ia juga menyatukan hampir seluruh daerah Timur Tengah lama menjadi satu negara yang membentang mulai India hingga Laut Tengah. Raja ini disebut namanya dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen karena titahnya untuk mengembalikan orang-orang buangan, termasuk bangsa Yahudi, kembali ke tanah air masing-masing, serta mengijinkan orang-orang Yahudi membangun kembali Bait Suci di Yerusalem (Yesaya 45:13; 2 Tawarikh 36:22-23; Ezra 1:1-8). Titah itu ditulis antara lain dalam Silinder Koresh, yang ditulis tahun 539 SM dan saat ini disimpan di British Museum, London.

Latar belakang

Koresh (atau Kurush nama Persianya, dalam bahasa Inggris Cyrus) dilahirkan sekitar tahun 576 SM di provinsi Persis (kini Fars), di barat daya Iran. Daerah ini saat itu merupakan provinsi kerajaan Media. Koresh berasal dari keturunan penguasa lokal yang merupakan bawahan Raja Media.

Kudeta Kerajaan Media oleh Koresh

Meskipun ayahnya, Cambyses I, mati tahun 551 SM, Koresh sudah memerintah sejak tahun 559 SM sebagai raja muda. Bersama panglima kerajaan Media yang membelot, Harpagus, Koresh memberontak terhadap raja Astyages mulai musim panas tahun 553 SM, dengan peperangan pertama pada awal tahun 552 SM. Harpagus dan Koresh merebut ibukota Media, Ekbatana, tahun 549 SM, dan menjadi raja atas seluruh tanah Media dan Persia. Raja Asyages diberi ampun dan dijadikan gubernur salah satu propinsi. Pada tahun 546 SM, Koresh resmi memakai gelar "Raja Persia". Pamannya, Arsames, yang menjadi raja kota Persepolis (Parsa) di bawah kerajaan Media, nampaknya dengan damai menyerahkan kekuasaannya kepada Koresh dan menjabat sebagai gubernur Parsa di bawah kekuasaan Koresh. Putra Arsames, Hystaspes (ayah dari Darius I), yang juga sepupu Koresh, dijadikan wakil raja (satrap) dari Parthia dan Phrygia. Jadi Koresh menyatukan kerajaan kembar Akhemeniyah yaitu Parsa dan Anshan menjadi Kekaisaran Persia. Arsames masih hidup saat cucunya Darius I menjadi raja Persia, setelah matinya kedua anak Koresh.

Penyerangan ke Kerajaan Lydia

Croesus on the pyre. Attic red-figure amphora, 500–490 BC, Louvre (G 197)

Saudara ipar Astyages, raja Kroesus dari Lydia, pertama-tama menyerang kota Pteria (sekarang di Turki), rupanya sebagai balas dendam atas kekalahan Astyages. Koresh membawa tentara untuk menyerang Pteria tahun 546 SM. Kroesus mundur ke Sardis, ibukotanya pada keesokan harinya. Koresh kemudian mengepung kota Sardis. Harpagus menasehatkan Koresh untuk menempatkan onta-ontanya di depan tentaranya. Kuda-kuda Lydia tidak terbiasa membau onta, menjadi takut, sehingga Koresh dapat mengalahkan tentara Lydia dengan mudah. Koresh menangkap Kroesus dan menguasai kota Sardis. Menurut penulis sejarah Yunani, Herodotus, Koresh mengampuni Kroesus dan menjadikannya penasehat, namun menurut Tawarikh Nabonidus, raja Lydia dibunuh oleh Koresh.

Penyerangan ke Kerajaan Babilonia

Diproyeksikan ke batas modern, kerajaan Achaemenid di bawah Koresh membentang dari Turki, Israel, Georgia dan Arabia di barat sampai ke Kazakhstan, Kyrgyzstan, Sungai Indus (Pakistan) dan Oman di timur. Persia menjadi kerajaan terbesar di dunia.

Tahun 540 SM, Koresh merebut Elam (Susiana) dan ibukotanya, Susan.Tawarikh Nabonidus mencatat bahwa sebelum perang itu, Nabonidus memindahkan patung-patung dewa ke dalam ibukota Babilon, sehingga diperkirakan perang dimulai pada musim dingin 540 SM.Harran Stelae H2 - A, dan Tawarikh Nabonidus (tahun ke-17) menunjukkan Nabonidus merayakan tahun baru Akitu pada tanggal 1 Nissanu (4 April 539 SM) di Babilon. Di awal Oktober 539 SM, Koresh mengalahkan tentara Babel dalam Perang Opis, dengan sungai Tigris, di utara Babilon. Tanggal 10 Oktober, kota Sippar jatuh tanpa perlawanan berarti. Tanggal 15 Oktober, Gubaru, panglima Koresh, memasuki ibukota Babilon, tanpa perlawanan berarti dari tentara Babel. Herodotus menjelaskan bahwa tentara Persia menggunakan danau yang dibuat oleh ratu Babel, Nitokris, tadinya untuk melindungi Babilon dari serangan kerajaan Media, untuk membelokkan aliran sungai Efrat ke dalam kanal sehingga tinggi air tinggal selutut. Ini memudahkan tentara Persia untuk masuk kota melalui sungai pada waktu malam. Hal ini tidak berbeda dengan catatan dalam Kitab Daniel, bahwa raja Belsyazar dibunuh oleh tentara Persia pada waktu malam tanpa peperangan besar (Daniel 5:28). Pada tanggal 29 Oktober, Koresh masuk kota Babilon.

Politik dan pemerintahan

Koresh adalah seorang pemimpin yang punya kebolehan bidang militer. Tetapi itu cuma satu sisi dari seorang manusia. Yang lebih menonjol, mungkin, adalah kebijakan cara memerintahnya. Dia terkenal amat toleran terhadap agama-agama setempat dan juga adat-istiadat mereka. Dan dia senantiasa menjauhkan diri dari sikap kejam dan ganas seperti lazimnya para penakluk. Orang-orang Babilonia, misalnya, bahkan lebih kentara lagi orang Assyria, telah membunuh beribu-ribu manusia dan mengusir semua penduduk yang dikuatirkan bakal berontak. Misalnya, ketika Babilonia menaklukkan Yudea tahun 586 SM, mereka memboyong orang Yudea ke Babilonia. Tetapi lima puluh tahun kemudian, sesudah Koresh menaklukkan Babilonia, dia beri ijin orang-orang Yahudi kembali ke kampung halamannya. Kalau tidak karena Koresh, rasanya orang-orang Yahudi itu akan musnah sebagai kelompok yang terasing di abad ke-5 SM

Akhir hayat

Tulisan kuneiform dari Babilon memberi bukti bahwa Koresh mati sekitar Desember 530 SM, yaitu dari tulisan terakhir mengenai pemerintahannya, (lempengan dari Borsippa tertanggal 12 Agustus 530 SM) dan referensi pertama mengenai pemerintahan putranya, Cambyses II (lempengan dari Babilon tertanggal 31 Agustus 530 SM) yang menggantikannya sebagai raja.

Makam

Makam Koresh di Pasargadae, Iran, sebuah tempat pelestarian dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO (2006).

Makamnya terletak di ibukota Pasargadae (dibangun sekitar 530 SM) yang masih ada sampai sekarang. Penulis sejarah, Strabo dan Arrian mencatat gambaran yang hampir sama tentang makam ini berdasarkan laporan Aristobulus dari Cassandreia, yang atas perintah Iskandar Agung (Alexander the Great) mengunjungi makam ini 2 kali. Menurut Plutarch, batu nisannya bertuliskan,
"O insan, siapapun engkau dan darimanapun engkau datang, karena aku tahu engkau akan datang, akulah Koresh yang memenangkan kerajaan untuk orang-orang Persia. Karenanya janganlah berkeberatan terhadapku akan sedikit tanah ini untuk menutupi tulang-tulangku.

Daerah kekuasaan pada puncak kejayaannya

    * Kerajaan Media (wilayah Iran sekarang ini) dan provinsi Persis di barat daya Iran
    * Kerajaan Babilonia di Mesopotamia (wilayah Irak sekarang ini)
    * Suriah dan Palestina
    * Mesir
    * beberapa daerah di timur laut dari kerajaan Media (Asia Tengah), didapatnya dari menaklukkan Massage Tae, suku nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Kaspia
    * Kerajaan Lidia di Asia Kecil (wilayah Turki sekarang ini)
    * sebagian negara Pakistan dan Afganistan sekarang ini
    * Sedikit daerah India





No comments:

All we need is love