Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Jun 23, 2015

Bangsa Moor di Spanyol

​Perpecahan internal penguasa-penguasa Muslim ditambah serangan bertubi-tubi dari berbagai kerajaan Eropa membuat kekuasaan Moor di Spanyol goyah.
Bangsa Moor adalah sebut an untuk umat Islam di Semenanjung Iberia yang memerintah Spanyol antara 711 M hingga 1492. Pemimpin Islam yang mencapai Spanyol pertama kalinya adalah Abd al-Rahman. Orang-orang Kristen di Semenanjung Iberia mulai menggunakan istilah `Moor' secara eksklusif untuk umat Islam. Moor merupakan sebuah kata yang mengacu pada orang yang berasal dari Maroko. Hal tersebut dikarenakan umat Islam yang pertama tiba di Spanyol pada 711 merupakan orang Arab yang berasal dari Afrika Utara. Selain Moor, kata-kata lain seperti `Moriscos' dan `Mudejares' digunakan untuk sebutan bangsa Moor pada pertengahan abad ke-13.

Bangsa Moor tinggal di Andalusia, Spanyol, yang pada periode awal sejarah termasuk wilayah Portugal dan selatan Prancis. Pada Ramadhan 732 M, umat Islam dikalahkan di Tours-Poitiers, Prancis, yang dikenal dengan sebutan "The Pavement of the Martyrs" atau dalam bahasa Arabnya "Balaat asSyuhad" yang berarti tanah para syuhada. Akibat kekalahan tentara Moors dari pasukan Karel Martel (Charlemagne) tersebut, kontrol umat Islam di wilayah Toulouse, Narbonne, Lyon, dan wilayah Prancis Selatan lainnya menghilang hingga 975 M. Setelah Prancis gagal dikuasai, umat Islam di Spanyol memusatkan perhatian pada Andalusia, Spanyol selatan, untuk membangun sebuah peradaban.

Andalusia berasal dari bahasa Arab, `Al-Andalus', yang memiliki beberapa arti.
Salah satu artinya adalah "menjadi hijau setelah musim panas yang panjang atau kekeringan", dan sejarah Semenanjung Iberia selama berabad-abad membuktikannya ketika Muslim menguasai Spanyol. Selain mengembangkan Andalusia, bangsa Moor menciptakan berbagai istana mewah yang indah.
Salah satu yang paling terkenal di Alhambra, Granada. Istana Alhambra mulai dibangun pada 1238 oleh Sultan Muhammad ibn al-Ahmar.

Di Spanyol, Bangsa Moor menikah dengan berbagai bangsa, termasuk penduduk Spanyol-Muslim dan memerintah dengan kebijaksanaan dan keadilan. Orang-orang Kristen dan Yahudi diperlakukan dengan toleransi sehingga beberapa dari mereka banyak yang menduduki jabatan penting di pemerintahan, bahkan ada pula yang akhirnya memeluk agama Islam. Mereka pun diizinkan untuk bekerja, melayani tentara, mengelola tanah, dan bahkan mempraktikkan ajaran agama masing-masing.

Di bawah pemerintahan bangsa Moor, perekonomian Spanyol menjadi makmur.
Mereka juga meningkatkan perdagangan dan pertanian, mengembangkan seni, memberikan kontribusi berharga bagi ilmu pengetahuan, dan menjadikan Cordoba sebagai kota paling canggih di Eropa. Dalam dua dekade, mayoritas penduduk Andalus, terutama sebagian besar orang Kristen, menerima Islam sebagai pengakuan atas keamanan, perdamaian, serta kebebasan beragama dan berekspresi di bawah kekuasaan Muslim.

Selama masa pemerintahan Abdur-Rahman (755-788) bangsa Moor mulai membangun peradaban Islam seperti yang sudah berkembang di Damaskus dan Bagdad. Tempat tinggal khalifah, Madinat al-Zahra, sebuah kompleks istana yang terbuat dari marmer, semen, gading, dan onyx.
Madinat al-Zahra dibangun selama 40 tahun dengan biaya sepertiga dari pendapatan Cordoba, salah satu keajaiban dunia pada masa itu.

Pada abad ke-10, jumlah penduduk Cordoba mencapai 500 ribu. Menurut sejarah, kota ini memiliki 700 masjid, 60 ribu istana, dan 70 perpustakaan yang menyimpan lebih dari 500 ribu manuskrip. Cordoba juga memiliki sekitar 900 pemandian umum dan jalanannya dihiasi lampu, kota pertama di Eropa yang mempunyai lampu jalanan.

Selama hampir delapan abad, di bawah kekuasaan bangsa Moor Spanyol menjadi contoh negara beradab.
Kesuburan tanahnya membuat hasil pertanian sangat produktif, ditambah keterampilan teknik dari para penakluk. Kota-kota muncul tak terhitung jumlahnya. Di Cordoba terdapat segala keindahan dan ornamen yang menyenangkan mata. Kalung mutiara dan gaun yang indah menjadi seni dan industri.
Seni, sastra, dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya.Matematika, astronomi, botani, sejarah, fil safat, dan hukum menjadi ilmu pengetahuan yang berkembang di Spanyol.

Selain itu, kecermerlangan Granada mengirimkan cahaya pengetahuan ke seluruh penjuru Eropa dengan inspirasi semangat pengetahuan.
Pada saat banyak raja Eropa tidak bisa membaca atau menulis, seorang sultan Moor memiliki perpustakaan pribadi dengan enam ratus ribu buku. Pada saat 99 persen orang Eropa masih buta huruf, Kota Moor dari Cordoba memiliki 800 sekolah umum. Tidak ada sebuah desa dalam batas-batas kesultananan Moor, kecuali mempunyai layanan pendidikan yang bisa dinikmati oleh anak-anak petani paling miskin. Sulit untuk menemukan seorang petani Moor yang tidak bisa membaca.

Bangsa Moor di Spanyol mulai melemah akibat pertikaian internal dan serangan dari kerajaan-kerajaan Kristen yang tak henti-hentinya.
Sedikit demi sedikit, kekuatan bangsa Moor mengalami kemunduran dimulai dari Spanyol Utara. Akibatnya, jutaan bangsa Moor meninggalkan Spanyol membawa harta benda mereka. Sementara itu, raja-raja Eropa merebut kembali Toledo, Cordoba, dan Sevilla. Pada abad ke-11, perlawanan orang Spanyol Kristen mulai tumbuh dan di bawah Alfonso VI pasukan Kristen mengambil kembali Toledo. .

Menghadapai perlawanan kerajaan-kerajaan Kristen, para penguasa Muslim di Spanyol meminta bantuan Murabitun, sebuah dinasti suku bangsa Berber di Afrika Utara untuk datang membantu mereka. Pasukan Murabitun datang dan berhasil menghancurkan pemberontakan Kristen di Spanyol. Tetapi, pada 1147 Dinasti Murabitun dikalahkan oleh koalisi lain suku Berber, yaitu Dinasti Muwahidun.

Pada 1482, kerajaan Islam Moor terpecah dan menanti ajal. Akhirnya, pada 2 Januari 1492, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella akhirnya mengibarkan bendera Kristen Spanyol atas Alhambra. Pada l8 Desember 1499, sekitar 3.000 Moor dibaptis oleh Kardinal Ximenes dan sebuah masjid terkemuka di Granada diubah menjadi gereja. Ribuan buku hasil karya bangsa Moor dihancurkan oleh Ximenes, kecuali buku tentang pengobatan. Pada 1500, di sebuah mesjid besar, tempat perempuan dan anak-anak mengungsi, semua buku dalam bahasa Arab, terutama Alquran, dikumpulkan untuk dibakar. Ximenes telah membakar lebih dari 1.005.000 volume karya budaya Moor.

Simbol Kekuatan Andalusia

Saat pemerintahan 90 tahun Bani Umayyah jatuh pada 132 H, Abdurrahman bin Muawiyah yang juga dikenal dengan Abdurrahman al-Dakhel, melarikan diri dari cengkeraman Bani Abbas ke Maroko, Afrika Utara. Setelah itu, ia memanfaatkan konflik di Spanyol dan perselisihan antar kabilah Arab.

Dengan bantauan para pendukung Bani Umayyah dan kabilah-kabilah Yaman, Abdurrahman al-Dakhel berhasil memasuki Kota Andalusia, Spanyol, bersama dengan rombongannya yang berasal dari Afrika Utara. Dengan menguasai Kota Qurtuba (Cordoba), Abdurrahman membentuk pemerintahan tangguh dengan nama Pemerintah Bani Umayyah Andalus sebagai penerus Kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus yang diruntuhkan oleh Dinasti Abbasiyah. Mereka pun mendapat sebutan 'Moor' oleh masyarakat Spanyol setempat.

Setelah itu, Abdurrahman III menyebut dirinya sebagai khalifah. Ia kemudian memerintahkan pembangunan Kota Madinat al-Zahra dalam program ideologi dan politiknya. Madinat al-Zahra dibangun 13 kilometer Barat Laut Cordoba, Spanyol, dengan panjang 1,52 kilometer dan lebar 745 meter. Kompleks Madinat al-Zahra terbagi menjadi tiga bagian. Bagian utama adalah istana khalifah yang disebut dengan Dar al-Mulk. Kemudian, di bagian tengah berdiri bangunan pemerintahan dan ruang resepsi untuk tamu-tamu penting. Antara bagian tengah bagian akhir berdiri sebuah masjid.

Untuk membangun Madinat al-Zahra, Abd al-Rahman III menggunakan seper tiga dari seluruh penerimaan negara untuk pembangunan kota tersebut. Pembangunan Madinah al-Zahra menghabiskan waktu 40 tahun. Sekitar 25 tahun di bawah pemerintahan Abdul Rahman III (tahun 936 hingga 961) dan 15 tahun di bawah alHakam II (tahun 961 hingga 976). Dapat dikatakan, Madinat alZahra merupakan proyek bangunan terbesar dan paling ambisius pada masa itu.

Pada 1010, Madinat al-Zahra tidak hancur ketika kelompok-kelompok pemberontak Berber mengobrak-abrik simbol kekhalifahan Cordoba. Hingga abad 12, Madinah al-Zahra masih dihuni. Pembangunan Madinat al-Zahra oleh Abdurrahman III memberikan pesan penting kepada rival-rival pemerintahannya, seperti Dinasti Fathimiyah di Mesir dan Bani Abbas di Baghdad. Pada abad 19, reruntuhan Madinat al-Zahra ditemukan di sebelah barat Cordoba. Kini, barang dan peninggalan kota Bani Umayyah di Spanyol ini disimpan di museum dekat Cordoba.

No comments: