Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Jun 23, 2015

Asal Usul Nenek Moyang Bongso Batak

​Misteri asal usul nenek moyang orang Batak yg hidup di Sumatera Utara, & sebahagian wilayah Aceh Singkil, Gayo, juga Alas, waktu ini telah sejak mulai ketahuan. Dari banyaknya fakta & hasil penelitian yg dilakukan sejak mulai dari dataran pegunungan di Utara Tibet, Khmer Kamboja, Thailand, sampai Tanah Gayo di Takengon, Aceh, nyatanya nenek moyang Bongso Batak berasal dari keturunan suku Mansyuria dari Ras Mongolia.

Fakta ini di sampaikan Guru Gede Sosiologi-Antropologi Kampus Negara Medan, Prof DR Bungaran Antonius Simanjuntak dalam makalah berjudul "Orang Batak dalam Histori Kuno & Moderen"

Terhadap periode itu, nenek moyang orang Batak ini diusir oleh suku Barbar Tartar dari tanah leluhurnya di Utara Tibet. Pengusiran itu menyebabkan suku Mansyuria bermigrasi ke pegunungaan Tibet lewat Tiongkok (Cina). Dari sejarah migrasi itu, waktu ini di pegunungan Tibet sanggup ditemukan satu buah danau dgn nama Toba Tartar.

"Suku Mansyuria memberikan nama danau itu utk mengenang sejarah pengusiran mereka oleh suku Barbar Tartar," terang Bungaran seraya menyambung fakta ini diketahuinya bersama membuktikan serta-merta lewat penelitian dgn dua rekannya dari Belanda & Thailand.

Terkecuali lewat peneletian cepat, pembuktian berkenaan asal usul nenek moyang orang Batak serta diperkuat lewat sebanyak literatur. Antara lain, Elizabeth Seeger, Peristiwa Tiongkok Selayang Pandang yg menegaskan nenek moyang orang Batak dari Suku Mansyuria, & Edmund Leach, Rithingking Anhtropology yg mempertegas pertalian vertikal kebudayaan Suku Mansyuria bersama Suku Batak.

Hasil penelitian kajian literatur itu, Bungaran mendapatkan bahwa sesudah dari pegunungan Tibet, suku Mansyuria turun ke Utara Burma atau perbatasan dgn Thailand. Di sini, suku Mansyuria meninggalkan budaya Dongson. Ialah suatu kebudayan original suku bangsa ini yg serupa bersama budaya Batak yg ada kini ini.

Tidak bersi kukuh lama di wilayah itu, suku Mansyuria yg konsisten dikejar-kejar suku Barbar Tartar kembali bergerak menuju arah Timur ke Kmer Kamboja, & ke Indocina. Dari Indocina, suku Mansyuria jadi manusia kapal menuju Philipina, setelah itu ke Sulawesi Utara, atau Toraja (ditandai dgn hiasan kerbau terhadap Rumah Etika Toraja).

Seterusnya mereka turun ke Tanah Bugis Sulawesi Selatan (ditandai bersama kesamaan logat bersama orang Batak), & mengikuti angin Barat dgn berlayar ke arah Lampung di wilayah Ogan Komering Ulu, & hasilnya naik ke Pusuk Buhit, Danau Toba.

Disaat berlayar dari Indocina, sebahagian suku Mansyuria melintasi Tanah Genting Kera di Semenanjung Melayu. Dari sini, mereka berlayar menuju Pantai Timur Sumatera, & mendarat di Kampung Teluk Aru di daerah Aceh.

Dari Teluk Aru ini, suku Mansyuria yg tetap bermigrasi itu naik ke Tanah Karo, & setelah itu menambahkan perjalanan sampai hingga ke Pusuk Buhit.

"Penerus keturunan suku Mansyuria yg selanjutnya jadi nenek moyang orang Batak ini tetap berpindah-pindah dikarenakan mengikuti pesan para pendahulunya bahwa utk menghindari suku Barbar Tartar, sehingga ruang tinggal mesti di wilayah dataran tinggi. Tujuannya supaya mudah mengetahui kedatangan musuh," urai Bungaran.

Dari catatan Bungaran, generasi penerus suku Mansyuria tak cuma menetap di Pusuk Buhit, namun pula di wilayah Barus, & sebahagian lagi menetap di Tanah Karo.

Lama perjalanan migrasi suku Mansyuria dari tanah leluhur di Utara Tibet sampai keturunananya menetap di Pusuk Buhit, Barus & Tanah Karo, seputar 2.000 thn. Maka website nenek moyang orang Batak di Pusuk Buhit, diperkirakan sudah berumur 5.000 thn.

"Fakta ini ketahuan lewat penemuan kerangka manusia purba di kurang lebih Takengon di daerah Gayo yg menunjukkan bahwa peninggalan manusia itu ada hubungannya bersama Budaya Dongson yg serupa budaya Batak," beber Bungaran.

Menurut sebanyak literatur, budaya Dongson mampu diidentikkan dgn sikap kebudayaan mengenang (Kommemoratif) tradisi & warisan nenek moyang yg wajib dilakukan oleh generasi penerus keturunan kebudayaan ini.

Budaya seperti ini, tetap diterapkan dengan cara nyata oleh orang Batak, terutama dalam rangka membangun persaudaraan horizontal/global. Ialah hula-hula/kalimbubu/tondong mesti konsisten dihormati, meskipun pula kondisi ekonominya teramat miskin. Begitu juga terhadap boru, biarpun pula amat sangat miskin, pun mesti masih dikasihi.

No comments: