Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Dec 2, 2015

Mukthi: Cara Kuno Untuk Pembebasan Jiwa Dari Zaman Megalitikum Hingga Sekarang

Dalam tradisi agama di timur termasuk Budha dan Hindhu terdapat suatu ajaran bahwa jiwa manusia akan mendapat kebebasan apabila telah mencapai “mukthi”. Istilah ini berasal dari kata Sansekerta kuno yang berarti pembebasan tanpa tubuh dan mengacu pada moksha. Untuk bisa mencapai mukthi bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk itu manusia harus terlebih dahulu dapat melepaskan segala ikatan kehidupan keduniawian mulai dari kesenangan hingga penderitaan. Kemudian dilanjutkan bermeditasi dalam waktu yang sangat lama, bahkan terkadang hingga ajal.

Pada awal tahun 2015 di sebuah daerah yang ada di Monggol telah ditemukan sebuah mumy biksu yang sedang bermeditasi dalam posisi bungai teratai. Kemungkinan biksu tersebut mulai bermeditasi pada akhir abad ke-19. Bagi sebagian kalangan umat Budha ada yang berpendapat bahwa Biksu tersebut belum meninggal dan sedang menjalankan meidtasi yang mendalam. Sedangkan menurut Dalai Lama dari Tibet apa yang dilakukan biksu tersebut merupakan meditasi langka yang disebutnya Tukdam dengan tujuan agar dapat menjadi Budha.

Temuan lain yang menunjukan seorang manusia sedang bermukthi juga ada di India. Para arkeolog lokal menemukan sebuah makam kuno di sebuah desa suku di Dindigul, Tamil Nadu. Di makam tersebut ditemukan lima buah Dolmen. Dua Dolmen masih dalam keadaan utuh. Sedangkan tiga Dolmen dalam keadaan terpecah tetapi masih dapat terlihat bentuknya. Dua Dolmen yang utuh tersebut tinggi masing-masingnya yaitu 4 kaki dan 6,5 kaki. Dolem tersebut ditutupi oleh batu berukuran 10 meter. Menurut arkeolog V. Narayanamoorthy kemungkinan berat batu itu sekitar dua ton. Di dalam makam tersebut terdapat tubuh pria yang diyakini telah bermukthi.

Di bagian tengah makam ditandai dengan lingkaran merah 8 cm digambar dengan tinta merah dengan titik merah di tengah lingkaran. Arkeolog simbolis TL Subhash Chandra Bose percaya hal itu menjadi indikasi bahwa pria yang terkubur dalam dolmen tersebut telah mencapai keadaan mukti. Ia mengatakan melalui The Times og India bahwa “Lingkaran ini lebih besar dengan pusat titik menandakan apa yang kita sebut maruthuvam” (artinya mencapai keabadian tanpa kelahiran kembali). Dan menurutnya tanda tersebut pertama kalinya ditemukan di Tamil Nadu karena biasanya tanda tersebut berjumlah dua atau lebih.

Masyarakat India, terutama penganut Hindhu Advaita Vedanta mempercayai akan pola reinkarnasi. Filosofi Hindhu Advaita Vedanta percaya bahwa reinkarnasi sering menyertai keyakinan bahwa pola siklus kelahiran, kematian dan kelahiran kembali dapat rusak, baik selama hidup atau setelah kematian, ketika jiwa mencapai keadaan mukti maka penyerapan kesadaran individu dalam diri terjadi. Menurut Meher Baba, dalam bukunya God Speaks, pembebasan menandai akhir dari perjalanan jiwa dan karena itu sering diyakini sebagai tujuan akhir, baik individu dan seluruh ciptaan. Baba melanjutkan dengan menggambarkan empat bentuk mukti, disebut Videha mukti, videh mukti, jivan mukti dan prem mukti.

Orang yang telah mencapai jiwa mukti dalam hidupnya tidak lagi terikat pada gelombang kehidupan di dunia ini. Bagi orang yang telah mencapai jiwa mukti bekerja adalah sebagai pemujaan Tuhan dan semua hasilnya diserahkan kepada tuhan. Mereka mempunyai pandangan yang sama terhadap keberhasilan dan kegagalan, terhadap suka dan duka, memiliki sifat cinta kasih terhadap semua yang ada di dunia ini. Bukti penemuan kuburan Dolmen di India menunjukkan bahwa ajaran mukthi telah dikenal masyarakat sejak zaman Megalitikum.
Zaman megalitikum di India juga dikenal sebagai zaman besi India. Hal ini pertama kali dijelaskan di Semenanjung India oleh T. Babington pada tahun 1823 tetapi pertama mulai diselidiki oleh Wheeler pada tahun 1948, diikuti oleh penyelidikan lain pada tahun 1953, 1956, 1959 dan 1968. Periode ini megalitik Inida ini ditandai dengan penguburan Dolmen yang ditemukan di berbagai bagian India, sangat mirip dalam penampilan Dolmen dari Eropa Barat.

Beberapa Dolmen sering terletak di daerah berbatu tinggi dan dataran tinggi lainnya sementara yang lain terletak di dataran rendah. Monumen Dolmen ini umumnya terdiri dari bebatuan granit yang berbentuk lembaran dan di dalamnya sering terdapat mayat manusia bersama dengan berbagai barang-barang pribadinya seperti tembikar, senjata besi dan alat-alat, termasuk pedang, pisau, kapak dan cangkul, dan perhiasan seperti manik-manik dan ornamen lainnya. Kadang-kadang Dolmen ini merupakan bagian dari kompleks peninggalan megalitikum yang lebih luas meliputi barisan batu-batuan dan menhir tunggal.
Total ada sekitar 2.000 kuburan Dolmen total di seluruh Semenanjung India, khususnya di Andhra Pradesh, Karnataka, Kerala dan Tamil Nadu. Seperti di Eropa, mereka biasanya memiliki lubang yang menghadap ke timur atau utara, kadang-kadang sejalan dengan matahari terbit pada waktu tertentu dalam kurun waktu satu tahun. Dolmen yang ada di daerah dataran tinggi diperkirakan berfungsi sebagai peringatan, sementara dolmen di dataran rendah sering berfungsi sebagai penguburan.

No comments: