Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 13, 2017

Yerusalem

Yerusalem (/dʒəˈruːsələm/; Ibrani: יְרוּשָׁלַיִם Yerushaláyim diucapkan [jeruˈʃalajim] ( simak); Arab: القُدس‎ al-Quds diucapkan [ˈaːɫ ˈquːdsˤ] merupakan salah satu kota tertua di dunia, terletak di sebuah dataran tinggi di Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Kota ini dianggap suci dalam tiga agama Abrahamik utama Yudaisme, Kekristenan, dan Islam. Baik orang Israel maupun Palestina mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka, sebab Israel mempertahankan lembaga-lembaga pemerintahan utamanya di sana dan Negara Palestina pada dasarnya memandang kota ini sebagai pusat kekuasaannya; bagaimanapun kedua klaim tersebut tidak ada satupun yang mendapat pengakuan luas secara internasional.

Sepanjang sejarahnya yang panjang, Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali. Bagian tertua kota ini menjadi tempat permukiman pada milenium ke-4 SM. Pada tahun 1538 dibangun tembok di sekitar Yerusalem dalam pemerintahan Suleiman yang Luar Biasa. Saat ini tembok tersebut mengelilingi Kota Lama, yang mana secara tradisi terbagi menjadi empat bagian sejak awal abad ke-19 dikenal sebagai Kawasan Armenia, Kristen, Yahudi, dan Muslim. Kota Lama menjadi sebuah Situs Warisan Dunia pada tahun 1981, dan termasuk dalam Daftar Situs Warisan Dunia yang dalam Bahaya. Yerusalem modern telah berkembang jauh melampaui batas-batas Kota Lama.

Menurut tradisi Alkitab, Raja Daud merebut kota ini dari suku Yebus dan kemudian didirikannya sebagai ibu kota Kerajaan Israel Bersatu; putranya, Raja Salomo, memerintahkan pembangunan Bait Pertama. Peristiwa-peristiwa pokok ini, sejak permulaan millenium ke-1 SM, memiliki peranan sentral secara simbolis bagi orang-orang Yahudi. Julukan kota suci (עיר הקודש, ditransliterasikan ‘ir haqodesh) mungkin disematkan ke Yerusalem pada pasca-periode pembuangan. Kesucian Yerusalem dalam Kekristenan, terlestarikan dalam Septuaginta yang mana diadopsi kaum Kristen sebagai otoritas mereka sendiri, dipertegas oleh catatan Perjanjian Baru tentang penyaliban Yesus di sana. Dalam pandangan Islam Sunni, Yerusalem adalah kota tersuci ketiga setelah Mekkah dan Madinah. Dalam tradisi Islam, pada tahun 610 M Yerusalem menjadi kiblat pertama, yaitu arah yang dituju dalam doa Muslim (salat), dan Muhammad melakukan Perjalanan Malam di sana 10 tahun kemudian, naik ke surga di tempat ia berbicara kepada Allah, menurut Al-Qur'an. Alhasil, walaupun hanya merupakan daerah seluas 0,9 kilometer persegi, Kota Lama memiliki banyak situs dengan arti penting keagamaan yang sangat berpengaruh, di antaranya yaitu Bukit Bait Suci (Kompleks al-Haram) dan Tembok Baratnya, Gereja Makam Kudus, Kubah Batu (Kubah Shakhrah), Makam Taman, dan Masjid Al-Aqsa.

Saat ini status Yerusalem tetap menjadi salah satu isu pokok dalam Konflik Israel dan Palestina. Selama Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem Barat termasuk salah satu daerah yang direbut dan kemudian dianeksasi oleh Israel; sedangkan Yerusalem Timur, termasuk Kota Lama, direbut dan kemudian dianeksasi oleh Yordania. Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania pada Perang Enam Hari tahun 1967 dan setelah itu menganeksasinya ke dalam Yerusalem, bersama dengan tambahan wilayah di sekitarnya. Salah satu Hukum Dasar Israel, yaitu Hukum Yerusalem tahun 1980, menyebut Yerusalem sebagai ibu kota yang tak terbagi dari negara tesebut. 

Semua bidang pemerintahan Israel berada di Yerusalem, termasuk Knesset (parlemen Israel), kediaman Perdana Menteri dan Presiden, juga Mahkamah Agung. Kendati masyarakat internasional menolak aneksasi tersebut dengan menyebutnya ilegal dan memperlakukan Yerusalem Timur sebagai teritori Palestina yang diduduki oleh Israel, Israel memiliki suatu klaim yang lebih kuat untuk kedaulatannya atas Yerusalem Barat. Masyarakat internasional tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan tidak ada kedutaan asing yang didirikan di kota ini. Di Yerusalem juga terdapat beberapa lembaga Israel non-pemerintah yang memiliki kepentingan nasional, misalnya Universitas Ibrani dan Museum Israel dengan Shrine of the Book di lapangannya.

Pada tahun 2011 Yerusalem memiliki populasi 801.000 penduduk, di antaranya terdiri dari 497.000 penganut agama Yahudi (62%), 281.000 (35%) penganut Islam, 14.000 (sekitar 2%) penganut Kristen, dan 9.000 (1%) tidak dikelompokkan menurut agama. 

Sebuah kota yang disebut Rušalim dalam teks Kutukan dari Kerajaan Pertengahan Mesir (kr. abad ke-19 SM) secara luas, namun tidak universal, diidentifikasi sebagai Yerusalem. Yerusalem disebut Urušalim dalam surat Amarna dari Abdi-Heba (tahun 1330-an SM). 

Nama "Yerusalem" dengan berbagai cara ditelusuri etimologinya dengan arti "fondasi (dari kata Sumeria yeru 'pemukiman' / kata Semit yry 'mendirikan, meletakkan suatu landasan') dewa Shalem", karenanya dewa Shalem adalah dewa perlindungan awal dari kota Zaman Perunggu tersebut. 

Bentuk Yerushalem atau Yerushalayim (Yerusalem) pertama kali muncul dalam Alkitab, dalam Kitab Yosua. Menurut suatu Midras, nama tersebut merupakan kombinasi dari Yhwh Yir'eh ("Allah akan memastikan/menyediakan", nama yang diberikan Abraham pada tempat di mana ia hendak mengorbankan putranya) dan kota "Shalem". 

Tulisan Ibrani terawal di luar Alkitab yang memuat kata Yerusalem bertarikh abad ke-6 atau ke-7 SM, dan ditemukan di Khirbet Beit Lei di dekat Beit Guvrin pada tahun 1961. Inskripsi tersebut menyatakan: "Akulah Yahweh Allahmu, Aku akan menerima kota-kota Yudea dan Aku akan menebus Yerusalem", atau sebagaimana dikemukakan para akademisi lain: "Yahweh adalah Allah seluruh bumi. 

Gunung-gunung Yudea adalah milik-Nya, Allah Yerusalem". 

Shalim atau Shalem adalah nama dewa petang dalam agama Kanaan; nama ini didasarkan pada akar kata yang sama (yaitu S-L-M) yang darinya kata Ibrani untuk "damai" berasal (Shalom atau Salam dalam bahasa Ibrani dan Arab modern). Nama tersebut dengan demikian menawarkan etimologisasi seperti "Kota Damai", "Kediaman Damai", "hunian damai" ("didirikan dalam keselamatan"),  sebagai alternatifnya yaitu "Visi Perdamaian" menurut beberapa penulis Kristen. Akhiran -ayim mengindikasikan bentuk dualis, sehingga mengarah pada anggapan bahwa nama Yerushalayim mengacu pada fakta kalau kota ini terletak di atas dua bukit. Bagaimanapun pengucapan suku kata terakhir sebagai -ayim tampaknya merupakan suatu pengembangan akhir, yang mana belum terlihat pada masa digunakannya Septuaginta secara luas. 

Permukiman paling kuno di Yerusalem, didirikan pada Zaman Perunggu di bukit di atas Mata Air Gihon, menurut Alkitab bernama Yebus (mis., Hakim-hakim 19:10: יְבוּס, הִיא יְרוּשָׁלִָ: "Yebus itulah Yerusalem" Disebut juga "Benteng Sion" (metsudat Zion), kota ini diubah namanya oleh Daud menjadi Kota Daud, dan dikenal dengan nama ini pada zaman kuno. Nama lainnya, "Sion", pada awalnya merujuk ke suatu bagian yang berbeda dari kota ini, tetapi kemudian digunakan untuk menandakan kota ini secara keseluruhan dan untuk merepresentasikan Tanah Israel dalam Alkitab. Dalam bahasa Yunani dan Latin, nama kota ini ditransliterasikan menjadi Hierosolyma (Yunani: Ἱεροσόλυμα; dalam bahasa Yunani hieròs, ἱερός, berarti suci), kendati kota ini diubah namanya menjadi Aelia Capitolina selama periode Romawi dalam sejarahnya.

Apokrifon Kejadian berbahasa Aram dari Gulungan Laut Mati (1QapGen 22:13) menyamakan Yerusalem dengan "Salem" (שלם) yang terdahulu, yakni kerajaannya Melkisedek dalam Kejadian 14:18. Namun sumber-sumber Ibrani awal yang lain, penafsiran Kristen awal atas ayat tersebut dan targumim , menempatkan Salem di Israel Utara dekat Shechem (atau Sikhem), sekarang Nablus, sebuah kota yang cukup penting dalam tulisan suci Ibrani awal. Kemungkinan redaktur Apokrifon Kejadian ingin memisahkan Melkisedek dari daerah Sikhem, yang mana pada saat itu dikuasai orang Samaria. Bagaimanapun sumber-sumber Rabinik setelah itu juga menyamakan Salem dengan Yerusalem, terutama untuk menghubungkan Melkisedek dengan tradisi-tradisi Bait di kemudian hari. 

Dalam bahasa Arab, Yerusalem paling sering disebut القُدس, ditransliterasikan sebagai al-Quds dan berarti "Yang Suci" atau "Tempat Suci". Kebijakan resmi pemerintah Israel mengamanatkan bahwa أُورُشَلِيمَ, ditransliterasi sebagai Ūršalīm, yang mana merupakan kerabat dari nama-nama Ibrani dan Inggris, digunakan sebagai nama bahasa Arab untuk kota ini bersama dengan القُدس. أُورُشَلِيمَ-القُدس. Keluarga-keluarga Arab Palestina yang berasal dari kota ini sering disebut "Qudsi" atau "Maqdisi", sementara orang Yerusalem (Jerusalemite) Muslim Palestina mungkin menggunakan istilah-istilah ini sebagai demonim. 

Sejarah

Mengingat posisi sentral kota Yerusalem di tengah nasionalisme Yahudi (Zionisme) dan nasionalisme Palestina, selektivitas yang diperlukan untuk merangkum lebih dari 5000 tahun sejarah permukimannya seringkali dipengaruhi oleh latar belakang atau bias ideologis (lih. Historiografi dan nasionalisme). Era kedaulatan Yahudi dalam sejarah Yerusalem dipandang penting oleh nasionalis Israel (Zionis), yang mengklaim hak atas kota ini berdasarkan garis keturunan Yahudi dari Kerajaan Yehuda bangsa Israel, di mana Yerusalem adalah ibu kotanya. Era Islam, Kristen dan berbagai era non-Yahudi lainnya dalam sejarah Yerusalem dipandang penting bagi nasionalis Palestina, yang mana mengklaim hak atas kota ini berdasarkan garis keturunan Palestina modern dari beragam bangsa berbeda yang telah tinggal di wilayah ini. Akibatnya kedua belah pihak mengklaim bahwa sejarah Yerusalem telah dipolitisir oleh kalangan lain untuk memperkuat klaim relatif mereka atas kota ini, dan bahwa hal ini dikonfirmasi oleh fokus-fokus berbeda yang dibuat beragam penulis pada berbagai peristiwa dan era dalam sejarah kota ini.

Era kuno

Bukti keramik menunjukkan pendudukan Kota Daud, di dalam Yerusalem masa kini, selama Zaman Tembaga (kr. milenium ke-4 SM), dengan adanya bukti sebuah permukiman permanen selama awal Zaman Perunggu (kr. 3000–2800 SM). Teks Kutukan (kr. abad ke-19 SM), yang mana merujuk pada sebuah kota bernama rwš3lmm dan dengan berbagai cara ditranskripsikan sebagai Rušalimum/Urušalimum/Rôsh-ramen,  juga surat Amarna (kr. abad ke-14 SM) mungkin adalah teks-teks yang pertama kali menyebut kota ini. Beberapa arkeolog, termasuk Kathleen Kenyon, meyakini bahwa Yerusalem didirikan oleh orang Semit Barat Laut dengan permukiman yang terorganisir pada sekitar tahun 2600 SM. Nadav Na'aman berpendapat bahwa fortifikasinya sebagai pusat suatu kerajaan terjadi pada sekitar abad ke-18 SM. Permukiman pertama itu terletak di Ofel. 

Pada akhir Zaman Perunggu, Yerusalem merupakan ibu kota dari suatu negara-kota vasal Mesir, sebuah permukiman sederhana yang memerintah beberapa desa terpencil dan daerah penggembalaan, dengan suatu garnisun Mesir yang kecil dan diperintah oleh orang-orang yang ditunjuk seperti Raja Abdi-Heba. Pada masa Seti I dan Ramses II, dilangsungkan pembangunan skala besar seiring dengan meningkatnya kemakmuran. 

Periode ini, ketika Kanaan merupakan bagian dari kerajaan Mesir, bersesuaian dengan catatan Alkitab tentang invasi Yosua. Dalam Alkitab, Yerusalem didefinisikan berada dalam wilayah yang dialokasikan bagi Suku Benyamin kendati diduduki oleh kaum Yebus. Daud dikatakan telah menaklukkan daerah-daerah ini dalam Pengepungan Yebus, dan memindahkan ibu kotanya dari Hebron ke Yerusalem di mana kemudian menjadi ibu kota dari suatu Kerajaan Israel bersatu, serta salah satu dari beberapa pusat keagamaannya. Keputusan ini mungkin didasari oleh fakta bahwa Yerusalem tidak membentuk bagian dari sistem kesukuan Israel, dan dengan demikian cocok untuk berfungsi sebagai pusat federasi tersebut. Ada perbedaan pendapat mengenai apakah sebuah Struktur Batu Besar dan sebuah Struktur Batu Bertingkat di dekatnya dapat diidentifikasi sebagai istana Raja Daud, atau berasal dari periode selanjutnya. 

Era Klasik

Pada tahun 538 SM, Raja Persia Koresh Agung mengundang orang Yahudi dari Babilonia agar pulang ke Yehuda untuk membangun kembali Bait tersebut. Pembangunan Bait Kedua terselesaikan pada tahun 516 SM dalam masa pemerintahan Darius Agung, 70 tahun setelah penghancuran Bait Pertama. 

Beberapa saat setelah tahun 485 SM, Yerusalem dikepung, ditaklukkan, dan sebagian besarnya dihancurkan oleh suatu koalisi negara-negara tetangganya. Pada sekitar tahun 445 SM, Raja Artahsasta I dari Persia mengeluarkan sebuah dekret yang memperbolehkan kota ini (termasuk temboknya) untuk dibangun kembali. Yerusalem kembali berperan sebagai ibu kota Yehuda dan pusat ibadah Yahudi.

Banyak makam Yahudi dari periode Bait Kedua telah ditemukan kembali di Yerusalem. Salah satu contoh yang ditemukan di utara Kota Lama berisikan jasad manusia dalam sebuah osuarium yang dihiasi dengan inskrispsi Aramaik bertuliskan "Simon sang Pembangun Bait." Makam Abba, juga terletak di utara Kota Lama, menyimpan sebuah inskripsi Aramaik dengan huruf Paleo-Ibrani yang kira-kira dapat dibaca: "Aku, Abba, putra imam Eleazar, putra Harun sang imam besar, Abba, yang tertindas dan teraniaya, yang lahir di Yerusalem, dan pergi ke dalam pembuangan di Babilonia dan membawa (kembali ke Yerusalem) Matatias, putra Yehuda, dan menguburnya di sebuah gua yang kubeli dengan akta." Makam Benei Hezir yang terletak di Kidron dihiasi dengan inskripsi Ibrani dan kolom-kolom Doria yang monumental, diidentifikasi sebagai situs pemakaman para imam Bait Kedua. Makam Sanhedrin, suatu kompleks bawah tanah yang berisikan 63 makam berupa lubang pahatan dalam batu karang, terletak di sebuah taman publik di Sanhedria di Yerusalem utara. Makam-makam ini, mungkin dikhususkan bagi para anggota Sanhedrin serta ditorehkan tulisan Aramaik dan Ibrani kuno, bertarikh antara tahun 100 SM dan 100 M.

Ketika Aleksander Agung menaklukkan Kekaisaran Persia, Yerusalem dan Yudea berada di bawah kendali Makedonia, pada akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Dinasti Ptolemaik pimpinan Ptolemaios I. Pada tahun 198 SM, Dinasti Seleukid pimpinan Antiokhos III merebut Yerusalem dan Yudea dari Ptolemaios V. Upaya Seleukid untuk menata kembali Yerusalem sebagai suatu negara-kota Helenis mencapai puncaknya pada tahun 168 dengan terjadinya pemberontakan Makabe yang dipimpin oleh Matatias dan lima putranya melawan Antiokhos IV Epiphanes, serta pendirian Kerajaan Hashmonayim oleh mereka pada tahun 152 SM dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Pada tahun 63 SM, Pompeius Agung turut campur tangan dalam suatu perjuangan demi singgasana Hashmonayim dan merebut Yerusalem, sehingga memperluas pengaruh Republik Romawi atas Yudea. Setelah suatu invasi singkat oleh orang Partia, yang mana mendukung para penguasa Hashmonayim lawannya, Yudea menjadi suatu tempat perjuangan antara pasukan pro-Romawi dan pro-Partia, yang akhirnya memicu bangkitnya seorang Edom bernama Herodes.

Seiring dengan semakin kuatnya Roma, Herodes diangkat sebagai raja klien Yahudi. Herodes Agung, sebagaimana ia dikenal, mengabdikan dirinya untuk mengembangkan dan memperindah kota ini. Ia membangun berbagai tembok, menara dan istana, serta memperluas Bukit Bait Suci juga memperkuat halamannya dengan blok-blok batu dengan berat mencapai 100 ton. Dalam masa pemerintahan Herodes, areal Bukit Bait Suci dilipatgandakan luasnya. Tak lama setelah wafatnya Herodes, Yudea pada tahun 6 M berada dalam pemerintahan Romawi secara langsung sebagai Provinsi Yudea, kendati Dinasti Herodian hingga Agripa II tetap menjadi raja klien atas wilayah di sekitarnya sampai tahun 96 M. 

Kekuasaan Romawi atas Yerusalem dan wilayahnya menghadapi tantangan dalam Perang Yahudi-Romawi Pertama yang berakhir dengan kemenangan Romawi. Bait Kedua dihancurkan pada tahun 70 M, dan seluruh kota dihancurkan dalam perang tersebut. Yosefus, sejarawan Yahudi pada saat itu, menuliskan bahwa kota ini "hampir seluruhnya diratakan dengan tanah oleh mereka yang menghancurkannya sampai fondasinya, sehingga tidak ada yang tersisa yang pernah dapat meyakinkan para pengunjung bahwa di situ pernah menjadi suatu tempat pemukiman." Kekuasaan Romawi kembali ditantang selama pemberontakan Bar Kokhba yang bermula pada tahun 132 M dan ditumpas oleh orang Romawi pada tahun 135 M.

Setelah pemberontakan Bar Kokhba, Kaisar Hadrianus menggabungkan Provinsi Yudea dengan provinsi-provinsi di sekitarnya dengan nama baru Syria Palaestina untuk menggantikan nama Yudea. Kota ini diganti namanya menjadi Aelia Capitolina, dan dibangun kembali dengan gaya seperti suatu kota Romawi pada umumnya. Orang Yahudi dilarang memasuki kota ini, dengan konsekuensi hukuman mati, kecuali untuk satu hari pada setiap tahunnya yaitu saat hari peringatan Tisha B'Av. 

Bila digabungkan, langkah-langkah tersebut (yang mana juga berdampak pada kaum Kristen Yahudi) pada dasarnya merupakan "sekularisasi" kota ini. Larangan itu dipertahankan hingga abad ke-7, walau kaum Kristen segera diberikan pengecualian sebab sepanjang abad ke-4 Kaisar Romawi Konstantinus I memerintahkan pembangunan tempat-tempat suci Kristen di kota ini, misalnya Gereja Makam Kudus. Sisa-sisa pemakaman dari periode Bizantin secara eksklusif bercorak Kristiani, sehingga menunjukkan bahwa populasi Yerusalem pada zaman Bizantium kemungkinan hanya meliputi kaum Kristen. 

Pada abad ke-5, kelanjutan Kekaisaran Romawi di belahan timur memerintah dari Konstantinopel yang belum lama memperoleh nama barunya ini, dan mempertahankan kendali atas Yerusalem. Dalam rentang beberapa dekade, Yerusalem berpindah tangan dari kekuasaan Bizantium ke Persia, lalu kembali lagi ke dalam kekuasaan Bizantium-Romawi. Menyusul tekanan Khosrau II dari Sasaniyah pada abad ke-7 melalui Siria, Shahrbaraz dan Shahin jenderal-jenderalnya ini menyerang Yerusalem (bahasa Persia: Dej Houdkh) dengan dibantu oleh kaum Yahudi dari Palaestina Prima, yang mana telah bangkit untuk melawan kaum Bizantin. 

Dalam Pengepungan Yerusalem pada tahun 614, setelah 21 hari pengepungan militer tanpa kenal lelah, Yerusalem direbut. Kronik-kronik Bizantin menceritakan bahwa kaum Sasaniyah dan Yahudi membantai puluhan ribu orang Kristen di kota ini, banyak di antaranya di Kolam Mamilla, serta menghancurkan berbagai bangunan gereja dan monumen mereka, termasuk Gereja Makam Kudus. Episode tersebut telah menjadi subjek banyak perdebatan di kalangan sejarawan. Kota taklukan ini tetap berada dalam kendali Sasaniyah selama kurang lebih 15 tahun hingga Kaisar Bizantium Heraklius merebutnya kembali pada tahun 629. 

Yerusalem mencapai puncaknya dalam hal luas wilayah dan populasi pada akhir Periode Bait Kedua, yaitu ketika kota ini mencakup wilayah seluas dua kilometer persegi dan jumlah penduduknya 200.000 orang. 

Abad Pertengahan dan kekhalifahan

Yerusalem Bizantin ditaklukkan oleh pasukan Arab pimpinan Umar bin Khattab pada tahun 638 M. Di kalangan Muslim dari era Islam awal disebut sebagai Madinat bayt al-Maqdis ("Kota Bait Allah") yang mana hanya sebatas pada wilayah Bukit Bait Suci (Kompleks al-Haram). Wilayah selebihnya dari kota ini "disebut Iliya, mencerminkan nama Romawi yang diberikan untuk kota ini setelah penghancurannya pada tahun 70 M: Aelia Capitolina". Belakangan Bukit Bait Suci dikenal dengan nama al-Haram al-Sharif, “Tempat Suci yang Mulia", sedangkan wilayah kota di sekitarnya kemudian dikenal sebagai Bayt al-Maqdis, dan selanjutnya masih disebut sebagai al-Quds al-Sharif "Kota Suci yang Mulia". 

Proses Islamisasi Yerusalem dimulai pada tahun pertama Hijriyah (623 M), ketika kaum Muslim diinstruksikan untuk menghadap (kiblat) ke arah kota ini ketika melakukan sembahyang sehari-hari dan menurut tradisi keagamaan Muslim merupakan tempat terjadinya perjalanan malam Nabi Muhammad dan kenaikannya ke surga. Setelah 13 tahun, arah kiblat diganti ke Mekkah. Pada tahun 638 M Kekhalifahan Islam memperluas kekuasaannya ke Yerusalem. 

Dengan adanya penaklukan oleh kaum Arab, kaum Yahudi diizinkan kembali ke kota ini. Khalifah Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani suatu perjanjian dengan Patriark Kristen Yerusalem Sofronius, yang mana sang khalifah memberikan jaminan kepadanya bahwa penduduk dan tempat-tempat suci kaum Kristen di Yerusalem akan dilindungi di bawah pemerintahan kaum Muslim. 

Tradisi Arab-Kristen mencatat bahwa ketika Khalifah Umar akan memimpin sembahyang di Gereja Makam Kudus, yakni salah satu tempat tersuci bagi kaum Kristen, ia menolak untuk bersembahyang di dalam gereja tesebut sehingga kaum Muslim tidak akan meminta konversi Gereja Makam Kudus menjadi sebuah masjid. Ia bersembahyang di luar gereja tersebut, tempat di mana Masjid Umar (Omar) berdiri hingga saat ini, berlawanan arah dengan pintu masuk Gereja Makam Kudus. 

Menurut Arculf, seorang uskup dari Galia yang tinggal di Yerusalem antara tahun 679-688, Masjid Umar merupakan sebuah bangunan berstruktur kayu dengan bentuk persegi panjang yang dibangun di atas reruntuhan dan dapat menampung 3.000 jemaah. 

Ketika kaum Muslim pergi ke Bayt Al-Maqdes untuk pertama kalinya, mereka mencari lokasi Masjid Al-Aqsa ("Masjid Terjauh") yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits menurut keyakinan Islam. Sumber-sumber Ibrani dan Arab dari masa itu mengatakan bahwa situs tersebut penuh dengan sampah sehingga kaum Arab dan Yahudi bersama-sama membersihkannya. Khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan pembangunan Kubah Shakhrah (Kubah Batu) pada akhir abad ke-7. 

Syamsuddin Al-Maqdisi, seorang sejarawan abad ke-10, menuliskan bahwa Abdul Malik membangun shakhrah tersebut agar dapat mengimbangi kemegahan gereja-gereja monumental di Yerusalem. 

Selama 400 tahun berikutnya ketenaran Yerusalem berkurang karena berbagai kekuatan kaum Arab di wilayah tersebut saling berebut kendali atasnya. Yerusalem direbut pada tahun 1073 oleh Kekaisaran Seljuk di bawah komando Atsiz bin Uwaq. Setelah Atsız terbunuh, Pangeran Seljuk 

Tutush I memberikan Yerusalem kepada Artuk Bey, seorang komandan Seljuk lainnya. Setelah meninggalnya Artuk pada tahun 1091 kedua putranya, Sökmen dan Ilghazi, memerintah kota ini sampai dengan direbutnya kembali kota ini oleh Kekhalifahan Fatimiyah pada tahun 1098.

Suatu gerakan Karait mesianik untuk berhimpun di Yerusalem berlangsung pada pergantian milenium pertama, menyebabkan suatu "Zaman Keemasan" keilmuan Karait di sana, yang mana berakhir karena Perang-perang Salib. Pada tahun 1099, penguasa Fatimiyah mengusir penduduk Kristen pribumi sebelum Yerusalem ditaklukkan oleh Tentara Salib yang kemudian melakukan pembantaian terhadap kebanyakan penduduk Yahudi dan Muslim ketika mereka merebut kota yang dipertahankan dengan kukuh ini melalui serangan, setelah suatu periode pengepungan. 

Yerusalem ditinggalkan dalam keadaan kosong, lalu Tentara Salib mendirikan Kerajaan Yerusalem. Kota ini praktis dikosongkan dan dikolonisasi kembali dengan arus masuk dari beraneka ragam kaum Yunani, Bulgaria, Hongaria, Georgia, Armenia, Siria, Mesir, Nestorian, Maronit, Miafisit Yakobit, Koptik, dan lain-lain, untuk menghalangi kembalinya kaum Yahudi dan Muslim yang masih bertahan hidup. Di bagian timur laut kota dimukimkan kembali kaum Kristen Timur dari Transyordan (sebelah timur Sungai Yordan). Alhasil pada tahun 1099 populasi Yerusalem meningkat kembali menjadi sekitar 30.000 penduduk. 

Pada tahun 1187, Yerusalem direbut dari Tentara Salib oleh Saladin (Salahuddin Ayyubi) yang mengizinkan kaum Yahudi dan Muslim untuk kembali dan menetap di kota ini. Menurut ketentuan penyerahan, 60.000 orang Franka dibebaskan dengan tebusan dan diusir dari kota ini. Penduduk Kristen Timur diizinkan untuk menetap. 

Di bawah Dinasti Ayyubiyyah pimpinan Saladin, suatu periode investasi besar dimulai dengan dibangunnya berbagai perumahan, pasar, pemandian umum, dan hostel untuk peziarah serta penetapan wakaf. Meski demikian, hampir sepanjang abad ke-13, Yerusalem mengalami penurunan status menjadi sebuah desa karena jatuhnya nilai strategis kota ini dan pergulatan di internal Ayyubiyyah. 

Dari tahun 1229 sampai 1244, Yerusalem dikembalikan secara damai ke dalam kendali kaum Kristen sebagai hasil dari suatu perjanjian pada tahun 1229 antara Kaisar Romawi Suci Friedrich II mewakili Tentara Salib dan Sultan Ayyubiyyah al-Kamil dari Mesir sehingga mengakhiri Perang Salib Keenam. Kaum Ayyubiyyah mempertahankan kendali atas tempat-tempat suci Muslim, dan sumber-sumber Arab menunjukkan bahwa Friedrich tidak diizinkan untuk memulihkan fortifikasi-fortifikasi Yerusalem.

Pada tahun 1244 Yerusalem dijarah dan direbut oleh kaum Tatar Khwarezmia, sebagian besar populasi Kristen dibinasakan dan orang-orang Yahudi diusir keluar. Kaum Tatar Khwarezmia dihalau keluar Yerusalem oleh Ayyubiyah pada tahun 1247. Ketika Nahmanides berkunjung pada tahun 1267, ia hanya menemukan dua keluarga Yahudi dalam suatu populasi berjumlah 2.000 penduduk (300 di antaranya adalah orang Kristen) di kota ini. Dari tahun 1260 sampai 1517, Yerusalem diperintah oleh kaum Mamluk. Selama periode waktu ini terjadi banyak bentrokan antara kaum Mamluk di satu sisi dan para tentara salib serta suku Mongol di sisi lainnya. Daerah ini juga mengalami banyak gempa bumi dan wabah hitam. Beberapa keberadaan kaum Kristen Eropa dipertahankan di kota ini dengan adanya Ordo Makam Kudus.

Abad ke-16 sampai ke-19 pemerintahan Utsmaniyah

Pada tahun 1517 Yerusalem dan daerah sekitarnya jatuh ke dalam kekuasaan kaum Turki Utsmaniyah (Ottoman); secara umum mereka masih memegang kendali atas wilayah ini sampai tahun 1917. Yerusalem mengalami suatu periode pembaruan dan perdamaian dalam pemerintahan Suleiman yang Luar Biasa, salah satunya adalah pembangunan kembali tembok-tembok megah di sekeliling Kota Lama. Selama hampir sepanjang pemerintahan Utsmaniyah, 

Yerusalem tetap berstatus provinsi di samping sebagai sentra penting keagamaan, dan tidak turut campur dalam jalur perdagangan utama antara Damaskus dan Kairo. Modern history or the present state of all nations, sebuah buku rujukan berbahasa Inggris yang ditulis pada tahun 1744, menyatakan bahwa "Yerusalem masih diperhitungkan sebagai ibu kota Palestina". 

Kaum Utsmaniyah membawa banyak inovasi: sistem pos modern yang dikelola oleh berbagai konsulat serta layanan pengangkutan dan kereta pos reguler merupakan tanda-tanda awal modernisasi di dalam kota. Pada pertengahan abad ke-19, kaum Utsmaniyah membangun jalan aspal pertama dari Yafo ke Yerusalem, dan sejak tahun 1892 jalur kereta api telah ada di kota ini. 
Setelah aneksasi Yerusalem oleh Muhammad Ali dari Mesir pada tahun 1831, berbagai konsulat dan misi dari luar negeri mulai didirikan di kota ini. 

Pada tahun 1836 Ibrahim Pasha mengizinkan warga Yahudi di Yerusalem untuk merestorasi empat sinogaga besar, di antaranya yaitu Sinagoga Hurba. Dalam Pemberontakan Petani yang terjadi di seluruh negeri, Qasim al-Ahmad memimpin pasukannya dari Nablus untuk menyerang Yerusalem, dengan dibantu oleh klan Abu Ghosh, dan memasuki kota pada tanggal 31 Mei 1834. Kaum Kristen dan Yahudi di Yerusalem menjadi sasaran serangan. Pada bulan berikutnya, pasukan Mesir pimpinan Ibrahim mengusir pasukan Qasim di Yerusalem. 

Pemerintahan Utsmaniyah dipulihkan kembali statusnya pada tahun 1840, namun banyak kaum Muslim Mesir yang tetap tinggal di Yerusalem serta semakin banyak kaum Yahudi dari Aljir dan Afrika Utara yang mulai menetap di kota ini. Pada tahun 1840-an dan 1850-an, kekuatan-kekuatan internasional mulai saling berebut pengaruh di Palestina karena mereka berupaya untuk memperluas perlindungan mereka atas kelompok minoritas keagamaan di wilayah ini, suatu perjuangan yang utamanya dilakukan melalui perwakilan-perwakilan konsuler di Yerusalem. Menurut konsul Prusia, populasi Yerusalem pada tahun 1845 adalah 16.410 penduduk, dengan komposisi 7.120 Yahudi, 5.000 Muslim, 3.390 Kristen, 800 tentara Turki dan 100 orang Eropa. Jumlah peziarah Kristen mengalami peningkatan selama pemerintahan Utsmaniyah, dan melipatgandakan populasi kota ini pada sekitar masa Paskah. 

Pada tahun 1860-an, lingkungan-lingkungan baru mulai berkembang di luar tembok Kota Lama untuk menampung para peziarah juga untuk mengurangi kepadatan penduduk dan sanitasi yang buruk di dalam kota ini. Kawasan Rusia dan Mishkenot Sha'ananim didirikan pada tahun 1860, diikuti oleh banyak lainnya seperti Mahane Israel (1868), Nahalat Shiv'a (1869), Koloni Jerman (1872), Beit David (1873), Mea Shearim (1874), Shimon HaTzadik (1876), Beit Ya'aqov (1877), Abu Tor (1880s), Koloni Swedia-Amerika (1882), Yemin Moshe (1891), dan Mamilla, Wadi al-Joz pada waktu sekitar pergantian abad itu. Pada tahun 1867 seorang misionaris Amerika melaporkan suatu perkiraan populasi Yerusalem dengan jumlah 'di atas' 15.000 penduduk, dengan komposisi 4.000–5.000 Yahudi dan 6.000 Muslim. 

Setiap tahun terdapat sekitar 5.000–6.000 peziarah Kristen Rusia. Pada tahun 1874 Yerusalem menjadi pusat dari sebuah distrik administratif khusus, dilepaskan dari Vilayet Suriah dan berada di bawah kewenangan langsung Istanbul yang disebut Mutasarrıf Yerusalem. 

Hingga tahun 1880-an tidak terdapat satu pun panti asuhan resmi di Yerusalem, sebab para keluarga pada umumnya saling merawat satu sama lain. Pada tahun 1881, Panti Asuhan Diskin didirikan di Yerusalem dengan datangnya anak-anak Yahudi yang menjadi yatim piatu karena suatu pogrom Rusia. Panti asuhan lainnya yang didirikan di Yerusalem pada awal abad ke-20 yaitu Panti Asuhan Blumenthal Zion (1900) dan Rumah Yatim Israel Umum untuk Perempuan (1902). 
Para misionaris Kristen dari Gereja Anglikan dan Lutheran tiba di kota ini pada abad ke-19, beserta para misionaris dari Christian and Missionary Alliance (CMA). 

1917–1948 Mandat Britania

Informasi lebih lanjut: Mandat Britania atas Palestina
Pada tahun 1917, setelah Pertempuran Yerusalem, Angkatan Darat Britania pimpinan Jenderal Edmund Allenby merebut kota ini. Pada tahun 1922, Liga Bangsa-Bangsa pada Konferensi Lausanne mempercayakan Britania Raya untuk menjalankan fungsi administratif atas Palestina, Transyordania di dekatnya, dan juga Irak.
Saat itu Britania berhadapan dengan suatu konflik kebutuhan yang berakar dari masa pemerintahan Utsmaniyah. Berbagai kesepakatan untuk penyediaan air, listrik, dan pembangunan sistem trem semuanya di bawah konsesi-konsesi yang diberikan otoritas Utsmaniyah ditandatangani oleh kota Yerusalem dan seorang warga Yunani bernama Euripides Mavromatis pada tanggal 27 Januari 1914. 

Pekerjaan berdasarkan konsesi-konsesi ini tidak juga dimulai dan, hingga akhir peperangan, pasukan pendudukan Britania menolak untuk mengakui keabsahannya. Mavromatis mengklaim bahwa konsesi-konsesinya tumpang tindih dengan Konsesi Auja yang diberikan pemerintah kepada Rutenberg pada tahun 1921 dan bahwa ia telah kehilangan hak-hak hukumnya. Konsesi Mavromatis pada dasarnya tetap berlaku kendati awalnya ada upaya-upaya dari Britania untuk menghapuskannya; konsesi ini mencakup Yerusalem dan daerah-daerah lain (mis. Betlehem) dalam radius 20 kilometer dari Gereja Makam Kudus. 

Dari tahun 1922 hingga 1948, keseluruhan populasi Yerusalem meningkat dari 52.000 menjadi 165.000 dengan dua pertiganya orang Yahudi dan sepertiganya orang Arab (Muslim dan Kristen). Hubungan antara kaum Muslim dan Kristen Arab dengan penduduk Yahudi yang kian bertumbuh di Yerusalem mengalami kemerosotan sehingga berulang kali terjadi kerusuhan. 

Di Yerusalem, secara khusus, terjadi kerusuhan Arab pada tahun 1920 dan tahun 1929. Dalam pemerintahan Britania, dibuat berbagai taman baru di pinggiran kota di bagian barat dan utara Yerusalem serta didirikan lembaga-lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Ibrani. 

1948–1967 pemerintahan Yordania/Israel

Informasi lebih lanjut: Perang Saudara 1947–48 dalam Mandat atas Palestina, Perang Arab-Israel 1948, Pertempuran untuk Yerusalem (1948) dan Corpus separatum (Yerusalem)
Resolusi 194 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pendudukan Yordania di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Yerusalem Barat

Setelah berakhirnya Mandat Britania untuk Palestina, Rencana Pembagian Palestina oleh PBB pada tahun 1947 merekomendasikan "pembentukan rezim internasional khusus di Kota Yerusalem, membentuknya sebagai suatu Corpus separatum di bawah adminstrasi PBB." Rezim internasional tersebut (juga termasuk kota Betlehem) rencananya diberlakukan untuk jangka waktu sepuluh tahun, lalu setelahnya akan diadakan suatu referendum di mana masyarakat menentukan rezim di masa mendatang untuk kota mereka. Namun rencana ini tidak terlaksana karena terjadi peperangan pada tahun 1948, sementara Britania menarik diri dari Palestina dan Israel mendeklarasikan kemerdekaannya. 

Bertentangan dengan Rencana Pembagian, yang mana bertujuan membentuk sebuah kota terpisah dari negara Arab dan negara Yahudi, Israel menaklukkan daerah yang nantinya menjadi Yerusalem Barat beserta bagian-bagian utama wilayah Arab yang dialokasikan untuk Negara Arab di masa mendatang; sedangkan Yordania mengambil alih Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Perang tersebut memicu perpindahan penduduk Yahudi dan Arab dari kota ini. 1.500 penduduk Kawasan Yahudi di Kota Lama terusir keluar dan beberapa ratus lainnya dijadikan tawanan ketika Legiun Arab merebut kawasan itu pada tanggal 28 Mei. 

Penduduk Arab di Katamon, Talbiya, dan Koloni Jerman tersingkir dari rumah mereka. Pada akhir peperangan, Israel memegang kendali atas 12 dari 15 kawasan penduduk Arab di Yerusalem. Diperkirakan bahwa setidaknya 30.000 orang menjadi pengungsi. 

Perang tahun 1948 mengakibatkan pembagian wilayah Yerusalem, sehingga kota lama yang bertembok tersebut sepenuhnya terletak di sisi Yordania dari perbatasan. Wilayah tanpa pemilik di antara Yerusalem Barat dan Timur menjadi jelas keberadaannya pada bulan November 1948. Moshe Dayan, komandan pasukan Israel di Yerusalem, bertemu dengan Abdullah el Tell mitranya dari Yordania di sebuah rumah kosong di Lingkungan Musrara, Yerusalem, dan menandai posisi mereka masing-masing dalam peta: posisi Israel berwarna merah dan Yordania berwarna hijau. 

Peta kasar ini tidak dimaksudkan sebagai suatu peta resmi, dan menjadi garis perbatasan final dalam Perjanjian Gencatan Senjata 1949 yang mana membagi kota ini dan menjadikan Gunung Scopus sebagai daerah kantong Israel di Yerusalem Timur. Kawat berduri dan pagar beton dipasang di tengah-tengah kota, melewati dekat Gerbang Yafo di sebelah barat Kota Lama, dan suatu titik persimpangan didirikan di Gerbang Mandelbaum  sedikit ke utara Kota Lama. Pertempuran-pertempuran militer skala kecil seringkali mengancam gencatan senjata tersebut.

Setelah pendirian negara Israel, Yerusalem dideklarasikan sebagai ibu kotanya. Yordania secara resmi menganeksasi Yerusalem Timur pada tahun 1950, memberlakukan hukum Yordania di wilayah itu, dan mendeklarasikannya sebagai "ibu kota kedua" Yordania pada tahun 1953. Hanya Britania Raya dan Pakistan yang secara resmi mengakui aneksasi tersebut, yang mana berkenaan dengan Yerusalem adalah atas dasar de facto. Beberapa akademisi meragukan pandangan yang menyatakan bahwa Pakistan mengakui aneksasi Yordania. 

Setelah tahun 1948, sejak keseluruhan Kota Lama berada di bagian timur garis gencatan senjata, Yordania mengambil alih kendali atas semua tempat suci di wilayah tersebut. Tempat-tempat suci Muslim dipertahankan dan direnovasi, sedangkan, bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata, kaum Yahudi tidak diberikan akses ke tempat-tempat suci mereka dan banyak di antaranya dihancurkan atau dicemarkan. Yordania hanya mengizinkan akses yang sangat terbatas ke tempat-tempat suci Kristen, dan berbagai pembatasan diberlakukan terhadap penduduk Kristen sehingga menyebabkan banyak di antaranya meninggalkan kota ini. Dari 58 sinagoga yang terletak di dalam Kota Lama, setengahnya dirobohkan atau dikonversi menjadi kandang kuda dan kandang ayam selama 19 tahun berikutnya, termasuk Sinagoga Tiferet Yisrael dan Hurba. 

Pemakaman Yahudi Bukit Zaitun yang berusia 3.000 tahun dicemari; dikatakan bahwa batu-batu nisannya digunakan untuk membangun berbagai fortifikasi tentara Yordania, jamban, dan jalan. 38.000 makam dalam Pemakaman Yahudi tersebut dihancurkan, dan orang-orang Yahudi dilarang dimakamkan di sana. Tembok Barat (Tembok Ratapan) diubah menjadi sebuah tempat suci khusus kaum Muslim yang dihubungkan dengan al-Buraq. Otoritas Israel menelantarkan makam-makam dalam Pemakaman Mamilla milik kaum Muslim di Yerusalem Barat, yang mana berisikan jenazah figur-figur dari periode Islam awal, memfasilitasi pembuatan sebuah tempat parkir dan toilet-toilet umum di sebagian besar area tersebut pada tahun 1964. Banyak bangunan penting keagamaan dan bersejarah lainnya yang dihancurkan dan diganti dengan bangunan-bangunan modern selama pendudukan Yordania. Selama periode ini, Kubah Shakhrah dan Masjid al-Aqsa mengalami renovasi besar. 

Selama perang tahun 1948 tersebut, penduduk Yahudi di Yerusalem Timur diusir keluar oleh Legiun Arab dari Yordania. Otoritas Yordania mengizinkan para pengungsi Palestina keturunan Arab akibat perang tersebut untuk menetap di Kawasan Yahudi yang telah ditinggalkan penghuni sebelumnya itu, dan kawasan ini menjadi dikenal dengan nama Harat al-Sharaf. Pada tahun 1966, otoritas Yordania merelokasi 500 dari antara mereka ke kamp pengungsi Shuafat sebagai bagian dari rencana untuk mengubah kawasan Yahudi itu menjadi taman publik. 

Dari 1967  pemerintahan Israel

Walaupun Israel memohon supaya Yordania tetap netral selama Perang Enam Hari, Yordania, yang mana telah menandatangani suatu perjanjian pertahanan dengan Mesir pada tanggal 30 Mei 1967, pada hari kedua perang tersebut menyerang Yerusalem Barat yang berada di bawah kendali Israel. Setelah pertempuran jarak dekat antara tentara Yordania dan Israel di Bukit Bait Suci, Pasukan Pertahanan Israel merebut Yerusalem Timur dan seluruh Tepi Barat. Yerusalem Timur, beserta beberapa wilayah Tepi Barat di dekatnya yang terdiri dari beberapa lusin desa Palestina, selanjutnya dianeksasi oleh Israel, begitu juga tempat-tempat suci Kristen dan Muslim. Pada tanggal 27 Juni 1967, beberapa minggu setelah perang berakhir, Israel memperluas yurisdiksi dan hukumnya untuk Yerusalem Timur dan beberapa daerah di sekitarnya, menggabungkannya dengan Munisipalitas Yerusalem, kendati istilah aneksasi berusaha dihindarinya. Pada tanggal 10 Juli, Menteri Luar Negeri Abba Eban menjelaskan kepada Sekretaris Jenderal PBB: "Istilah 'aneksasi' yang digunakan oleh para pendukung suara tersebut tidaklah akurat. Langkah-langkah yang diambil [oleh Israel] berhubungan dengan integrasi Yerusalem di area-area munisipal dan administratif, serta berfungsi sebagai suatu dasar hukum untuk perlindungan tempat-tempat suci di Yerusalem." Israel melakukan sensus penduduk Arab di area-area yang dianeksasinya. Mereka diberikan status penduduk permanen dan opsi untuk mengajukan permohonan kewarganegaraan Israel. Sejak tahun 1967, berbagai area Yahudi yang baru bertumbuh dengan cepat di sektor timur, sementara belum ada pembuatan lingkungan Palestina yang baru. 

Akses kaum Kristen dan Yahudi ke tempat-tempat suci di dalam kota lama yang bertembok tersebut dipulihkan. Israel membiarkan Bukit Bait Suci tetap di bawah yurisdiksi wakaf Islam, namun membuka Tembok Barat untuk akses kaum Yahudi. Kawasan Maroko, yang mana letaknya berdekatan dengan Tembok Barat, dievakuasi lalu dihancurkan demi pembuatan ruang untuk sebuah plaza bagi mereka yang mengunjungi tembok tersebut. Pada tanggal 18 April 1968, suatu perintah pengambilalihan properti oleh Kementerian Keuangan Israel menjadikan Kawasan Yahudi lebih dari dua kali lipat besarnya, mengusir para penduduk Arab di sana dan mengambil dengan paksa 700 bangunan yang hanya 105 di antaranya merupakan milik penduduk Yahudi pra-1948. Dengan demikian kawasan lama itu diperluas ke Mughrabi Harat Abu Sa'ud, serta kawasan Arab dan Palestina lainnya yang bersejarah. Perintah tersebut memperuntukkan area-area ini untuk keperluan umum, tetapi hanya ditujukan untuk kaum Yahudi. Pemerintah Israel memberikan 200 dinar Yordania bagi setiap keluarga Arab yang dievakuasi.

Setelah Perang Enam Hari, populasi Yerusalem meningkat 196%. Populasi Yahudi tumbuh sebesar 155%, sedangkan populasi Arab meningkat 314%. Proporsi populasi Yahudi turun dari 74% pada tahun 1967 menjadi 72% pada tahun 1980, dan 68% pada tahun 2000, lalu menjadi 64% pada tahun 2010. Menteri Pertanian Israel Ariel Sharon mengusulkan pembangunan suatu lingkar permukiman Yahudi di sekitar tepi timur Yerusalem. Rencana tersebut dimaksudkan untuk membuat Yerusalem Timur lebih bercorak Yahudi dan mencegahnya supaya tidak menjadi bagian dari suatu blok perkotaan Palestina yang terentang dari Betlehem sampai Ramallah. Pada tanggal 2 Oktober 1977 Kabinet Israel menyetujui rencana tersebut dan selanjutnya tujuh lingkungan permukiman dibangun di tepi timur kota ini. Semuanya itu kemudian dikenal sebagai Pemukiman Lingkar. Lingkungan permukiman Yahudi lainnya dibangun di Yerusalem Timur, dan kaum Yahudi Israel juga bermukim di lingkungan-lingkungan Arab. 

Aneksasi Yerusalem Timur ditanggapi dengan kecaman internasional. Kementerian Luar Negeri Israel membantah kalau aneksasi Yerusalem merupakan suatu pelanggaran hukum internasional. Status akhir Yerusalem telah menjadi salah satu hal terpenting dalam perselisihan antara para juru runding Israel dan Palestina untuk mencapai perdamaian. Hal-hal yang menjadi perselisihan antara lain mencakup apakah bendera Palestina dapat dikibarkan di area-area dalam perwalian Palestina serta kekhususan batas-batas wilayah Palestina dan Israel. 

Status politik

Setelah Perang Enam Hari tahun 1967, Israel memperluas administrasi dan yurisdiksinya atas Yerusalem Timur, mendirikan batas-batas munisipal baru.

Pada tahun 2010 Israel menyetujui undang-undang yang memberikan Yerusalem status prioritas nasional tertinggi di Israel. Hukum ini memprioritaskan pembangunan di seluruh kota, serta menawarkan berbagai manfaat pajak dan dana bantuan bagi para penduduk untuk menjadikan perumahan, infrastruktur, pendidikan, kesempatan kerja, bisnis, pariwisata, dan acara budaya lebih terjangkau. Menteri Komunikasi Moshe Kahlon mengatakan bahwa rancangan undang-undang tersebut mengirim "suatu pesan politik yang tegas dan jelas bahwa Yerusalem tidak akan terbagi", dan bahwa "semua orang dalam komunitas internasional dan Palestina yang mengharapkan pemerintah Israel sekarang menerima tuntutan apapun menyangkut kedaulatan Israel atas ibu kotanya adalah keliru dan menyesatkan". 

Status kota ini, terutama tempat-tempat sucinya, masih menjadi suatu masalah utama dalam konflik Israel–Palestina. Pemerintah Israel telah menyetujui rencana-rencana pembangunan di Kawasan Muslim di Kota Lama dalam rangka memperluas keberadaan Yahudi di Yerusalem Timur, sementara beberapa pemimpin Islam mengklaim bahwa kaum Yahudi tidak memiliki keterkaitan sejarah dengan Yerusalem, dan menyatakan bahwa Tembok Barat yang berusia 2500 tahun tersebut dibangun sebagai bagian dari sebuah masjid. Kaum Palestina memandang Yerusalem sebagai ibu kota Negara Palestina, dan batas-batas kota ini telah menjadi subjek pembicaraan bilateral. 

Suatu tim ahli yang dihimpun oleh Ehud Barak (kelak menjadi Perdana Menteri Israel) pada tahun 2000 menyimpulkan bahwa kota ini harus dibagi, karena Israel telah gagal meraih tujuan-tujuan nasionalnya di sana. Namun pada tahun 2014 Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa "Yerusalem tidak akan pernah terbagi". Suatu jajak pendapat yang diselenggarakan pada tahun Juni 2013 mendapati bahwa 74% orang Yahudi Israel menolak gagasan mengenai suatu ibu kota Palestina di bagian manapun dari Yerusalem, kendati 72% masyarakat memandangnya sebagai sebuah kota yang terbagi. Suatu jajak pendapat pada tahun 2011, yang dilakukan oleh Palestinian Center for Public Opinion dan American Pechter Middle East Polls for the Council on Foreign Relations, mengungkapkan bahwa 39% penduduk Arab di Yerusalem Timur lebih memilih kewarganegaraan Israel daripada 31% lainnya yang lebih memilih kewarganegaraan Palestina. Menurut jajak pendapat tersebut, 40% penduduk Palestina lebih memilih untuk meninggalkan lingkungan permukiman mereka jika mereka ditempatkan di bawah pemerintahan Palestina. 

Yerusalem sebagai ibu kota

Ibu kota Israel

Pada tanggal 5 Desember 1949, Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, memproklamirkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan sejak saat itu semua cabang pemerintahan Israel legislatif, yudisial, dan eksekutif berada di sana, kecuali Kementerian Pertahanan yang mana terletak di HaKirya di Tel Aviv. Pada saat proklamasi tersebut Yerusalem terbagi antara Israel dan Yordania, karenanya hanya Yerusalem Barat yang diproklamasikan sebagai ibu kota Israel.

Pada bulan Juli 1980, Israel mengesahkan Hukum Yerusalem sebagai Hukum Dasar. Hukum ini menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota "bersatu dan penuh" dari Israel. "Hukum Dasar: Yerusalem, Ibu Kota Israel" merupakan suatu alasan utama bagi masyarakat internasional untuk tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 478 pada tanggal 20 Agustus 1980, yang mana menyatakan bahwa Hukum Dasar tersebut adalah "suatu pelanggaran hukum internasional", juga "batal dan tidak berlaku serta harus segera dicabut". Negara-negara anggota dihimbau untuk menarik perwakilan diplomatik mereka dari Yerusalem. Menanggapi resolusi tersebut, 22 dari 24 negara yang sebelumnya memiliki kedutaan di Yerusalem (Barat) memindahkan kedutaan mereka ke Tel Aviv, di mana banyak kedutaan telah terdapat di sana sebelum Resolusi 478. Kosta Rika dan El Salvador menyusul pada tahun 2006. Saat ini tidak ada kedutaan di dalam batas-batas kota Yerusalem kendati terdapat beberapa kedutaan di Mevaseret Zion, di pinggiran kota Yerusalem, dan empat konsulat di dalam kota itu sendiri. 

Pada tahun 1995 Kongres Amerika Serikat mengesahkan Akta Kedutaan Yerusalem yang menyatakan bahwa jika diperlukan, tergantung pada kondisi, kedutaannya dapat dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Bagaimanapun para presiden Amerika Serikat berpendapat bahwa resolusi-resolusi Kongres mengenai status Yerusalem hanya berupa nasihat. Konstitusi menetapkan bahwa hubungan luar negeri sebagai suatu kekuasaan eksekutif, dengan demikian kedutaan Amerika Serikat masih tetap di Tel Aviv. Karena tidak diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel, beberapa pers non-Israel menggunakan Tel Aviv sebagai sebuah metonimia untuk Israel. 

Yerusalem Timur § Yerusalem sebagai ibu kota

Otoritas Nasional Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan, menurut Resolusi 242 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Otoritas Palestina mengklaim bahwa Yerusalem, termasuk Haram al-Sharif, sebagai ibu kota Negara Palestina; PLO mengklaim bahwa Yerusalem Barat juga tergantung pada negosiasi-negosiasi status permanen. Namun dinyatakannya juga bahwa akan dipertimbangkan solusi-solusi alternatif, seperti membuat Yerusalem sebagai suatu kota terbuka. 

Posisi PLO sekarang adalah bahwa Yerusalem Timur, sebagaimana didefinisikan oleh batas-batas wilayah munisipal pra-1967, seharusnya merupakan ibu kota Palestina dan Yerusalem Barat ibu kota Israel, yang mana setiap negara memiliki kedaulatan penuh atas bagian masing-masing dari kota ini beserta munisipalitasnya masing-masing. Suatu "dewan pembangunan" bersama akan bertanggung jawab untuk pengembangan yang terkoordinasi. 
Beberapa negara, seperti Rusia dan Tiongkok, mengakui negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Resolusi 58/292 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan bahwa rakyat Palestina memiliki hak kedaulatan atas Yerusalem Timur. 

Yerusalem dilayani oleh berbagai infrastruktur komunikasi yang sangat maju, menjadikannya sebagai salah satu pusat logistik utama bagi Israel.

Stasiun Bus Pusat Yerusalem, terletak di Jalan Yafo, merupakan stasiun bus tersibuk di Israel. Stasiun ini dilayani oleh Egged Bus Cooperative, yang adalah perusahaan bus terbesar kedua di dunia, Dan yang melayani rute Bnei Brak-Yerusalem bersama dengan Egged, juga Superbus yang melayani rute antara Yerusalem, Modi'in Illit, dan Modi'in-Maccabim-Re'ut. Semua perusahaaan tersebut beroperasi dari Stasiun Bus Pusat Yerusalem. Lingkungan-lingkungan permukiman Arab di Yerusalem Timur dan rute-rute antara Yerusalem dan berbagai lokasi di Tepi Barat dilayani oleh Stasiun Bus Pusat Yerusalem Timur, suatu pusat transportasi yang terletak di dekat Gerbang Damaskus di Kota Lama. Kereta Ringan Yerusalem memulai layanannya pada bulan Agustus 2011. Menurut rencana, jalur rel pertamanya akan mampu mengangkut sekitara 200.000 orang setiap hari, dan memiliki 23 halte. Rutenya adalah dari Pisgat Ze'ev di utara via Kota Tua dan pusat kota menuju Gunung Herzl di selatan.

Pekerjaan lainnya yang masih dalam proses adalah jalur kereta baru berkecepatan tinggi dari Tel Aviv ke Yerusalem, yang dijadwalkan akan selesai pada tahun 2018. Terminal akhirnya adalah sebuah stasiun baru di bawah tanah (dengan kedalaman 80 m) yang melayani International Convention Center dan Stasiun Bus Pusat, serta direncanakan untuk diperpanjang di kemudian hari sampai ke Stasiun Kereta Malha. Israel Railways mengoperasikan layanan kereta menuju Stasiun Kereta Malha dari Tel Aviv via Beit Shemesh. 

Jalan Tol Begin adalah salah satu jalan penghubung selatan-utara yang utama di Yerusalem; jalan ini berada di sisi barat kota, dan di utara bergabung dengan Rute 443 yang mana berlanjut ke arah Tel Aviv. Rute 60 terentang melewati pusat kota dekat Garis Hijau antara Yerusalem Timur dan Barat. Pembangunan sedang berlangsung pada bagian-bagian jalan lingkar sepanjang 35 kilometer yang akan mengelilingi kota ini untuk mendorong koneksi yang lebih cepat antara berbagai daerah di pinggiran kota. Bagian timur dari proyek ini dibuat konsepnya beberapa dekade yang lalu, namun masih terdapat beragam reaksi atas jalan raya yang diusulkan ini. 

Yerusalem dilayani oleh Bandar Udara Internasional Ben Gurion, sekitar 50 km di sebelah barat laut Yerusalem dalam rute menuju Tel Aviv. Pada masa lampau, kota ini juga dilayani oleh Bandar Udara Atarot, namun bandara ini telah berhenti beroperasi pada tahun 2000.

No comments: