Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 14, 2011

Paku Dari Salib Yesus

Seorang jurnalis Israel-Kanada percaya bahwa ia mungkin telah berhasil melacak dua paku besi yang digunakan untuk menyalibkan Yesus Kristus. Atau setidaknya, benda itu merupakan "peninggalan lama hilang".

Bersama timnya, dia tengah menyiapkan tayangan Secrets of Christianity untuk stasiun televisi History Channel. Host dan produser Simcha Jacobovici menemukan fakta yang mengejutkannya: Pada tahun 1990, arkeolog Israel menggali sebuah gua penguburan berusia 2.000 tahun dan menemukan dua paku yang dibuat oleh orang Romawi, tetapi menyembunyikan temuan itu.

Berdasar negosiasi, akhirnya HC boleh mempublikasikan penemuan dua osuarium - kotak pemakaman batu berisi dengan tulang manusia. Dalam peti itu tertulis inskripsi "Caiaphas" dan "Joseph con of Caiaphas". Peti terakhir sekarang ditampilkan di Museum Israel di Yerusalem.

Menurut Injil, Caiaphas atau Kayafas adalah imam besar Yahudi yang menyerahkan Yesus ke Roma untuk disalibkan. "Ada konsensus ilmiah umum bahwa makam dimana paku-paku yang ditemukan kemungkinan besar milik Kayafas pada waktu itu. Sekecil apapun, tapi menemukan di dalam kubur adalah sangat langka," kata Jacobovici di luar tembok batu yang tinggi di Kota Lama, di mana Yesus menghabiskan hari terakhirnya.

Ketika Jacobovici menemukan referensi singkat soal paku dalam laporan arkeolog resmi, ia mengaku, "Rahangku serasa turun," ia mengibaratkan.

"Ini akan menjadi seolah-olah, 2.000 tahun dari sekarang, para arkeolog menemukan gua Muhammad Ali namun lupa menyebutkan sepasang sarung tangan tinju yang ditemukan di sana. Tak ada yang istimewa dari sebuah sarung tinju, tapi bila itu sarung tangan khusus yang memiliki arti penting khusus untuk petinju terkenal, akan beda artinya bukan?" katanya.

Jacobovici pernah menjadi host program Naked Archaeologist di stasiun History International dan bekerja sama dengan pembuat film James Cameron pada 2007 untuk membuat film dokumenter kontroversial, "The Lost Tomb of Jesus."

Dia sebelumnya pernah menanyakan pada Israel Antiquities Authority soal paku itu. "Saya diberitahu mereka telah hilang."

Kayafas, katanya, dikenal karena satu: pengadilan dan penyaliban Yesus. "Dia mungkin merasa terdorong untuk mengambil paku tersebut bersamanya ke kuburnya," kata Jacobovici.

Ada juga kepercayaan di antara beberapa orang Yahudi kuno bahwa paku dari salib yesus memiliki kekuatan penyembuhan dan "tiket ke alam baka".

Namun Gabriel Barkay, seorang profesor arkeologi di Bar-Ilan University, meragukan temuan itu. "Tidak ada bukti apapun bahwa mereka berasal dari makam Kayafas," katanya. "Itu dugaan semua."

Paku digunakan untuk "berbagai tujuan," kata Barkay, "dari memperbaiki gerbang besi untuk pintu kayu dan peti mati, selain untuk penyaliban."

Ronny Reich, arkeolog Universitas Haifa yang juga pernah meneliti Gua Kayafas, percaya gua itu "milik anggota keluarga Kayafas". Namun ia tak yakin dengan otentifikasi paku itu sebagai dari kayu penyalib Yesus.

Napak Tilas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.




Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada "Hukum Nabi Musa". Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.


Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant) kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kapan tepatnya isi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui secara pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti umat Katolik mengenalnya sekarang.


Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 – 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi – menurut tradisi – 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 – 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi diaspora (=terbuang), yang tinggal di wilayah Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.


Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap umat Kristen. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon (=standard) Kitab Suci mereka: [1] Ditulis dalam bahasa Ibrani; [2] Sesuai dengan Kitab Taurat; [3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM); [4] dan ditulis di Palestina. Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.

Gereja Kristen tidak menerima hasil keputusan rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Bapa Gereja perdana (Church Fathers) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Bapa-bapa Gereja, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para pemimpin spiritual umat Kristen yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka – meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru – menjadi bagian dari Deposit Iman. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika (second-listed), atau kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan dalam kanon Kitab Suci setelah melalui banyak perdebatan.

Tabut perjanjian (The Ark of the Covenant)

Taukah anda, Replika benda yang paling ditakuti pada masa Perjanjian Lama adalah Sebuah Tabut Perjanjian. Setidaknya begitulah gambarannya. keberadaanya dulu begitu kuat dan sangat berpengaruh terhadap bangsa Israel semenjak peristiwa exodus keluar dari Tanah Mesir. Namun, benda itu kini telah hilang ditelan masa, lenyap dari sejarah, dan tak ada yang tahu dimana letaknya sekarang.


Dimulai dari Yerusalem, Kota yang mungkin terlalu suci bagi banyak orang. Di tengahnya terletak sebuah bukit bernama Gunung Moria, yang kini menjadi situs Dome of the Rock / Qubbah As-Sakhrah yang luar biasa. Selain Dome of the Rock, dikompleks tersebut (Al-Haram ash-Sharif) terdapat Masjidil Aqsha. Dari sini, Muhammad s.a.w dinaikan ke langit (Sidratul Muntaha) dalam peristiwa Mi'raj. Jauh Sebelum itu, Yesus/Isa a.s menyembuhkan orang buta dan sakit di sini, sehingga kaum Kristiani juga menyebutnya tanah suci. 1000 tahun sebelumnya, King Salomo/Sulaiman a.s membangun bait aslinya di gunung ini untuk menyimpan benda misterius yang disebut the Ark of the Covenant / Tabut perjanjian.


Di masa itu, tempat ini adalah pusat dari agama Yahudi. Bagaimana tabut itu sampai disini dan bagaimana bisa lenyap dari sini? itulah teka-teki yang mengundang obsesi. Apa yang terjadi pada benda terpenting di perjanjian lama ini sehingga bisa lenyap begitu saja?


Kisah Tabut itu berawal lebih dari 3000 tahun yang lalu. Seseorang memimpin 2 juta orang ke Gurun Sinai. Ia butuh campur tangan Ilahi dalam skala yang luar biasa dan ia akan mendapatkannya. Orang itu adalah Moses/Musa a.s yang memimpin kaumnya keluar dari perbudakan di Mesir. Tiga bulan mengembara setelah mukjizat terbelahnya laut merah, Ia membawa orang Israel ke Gunung Sinai. Tuhan akan melimpahkan hadiah yang belum pernah ada bagi umat manusia. Dari ratusan hukum yang ada di dalam Perjanjian Lama semuanya seolah diturunkan dari suatu tempat. Tapi tidak dengan 10 hukum besar yang dibawa Musa turun dari Gunung Sinai ini. Ada sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai, dan perintah-perintah itu tertulis pada dua loh batu. Musa juga membuat tempat/wadah yang digunakan untuk menyimpan sepuluh perintah Allah yang disampaikan kepadanya di Gunung Sinai ,yaitu apa yang kita sebut sebagai Tabut Perjanjian. Tabut itu dibuat sangat spesifik, berwujud peti kayu dengan panjang 1,2 meter, lebar 61 cm, dan tinggi 61 cm. Terbuat dari kayu keras yang disebut akasia, bagian luar dan dalamnya disepuh dengan emas murni. Di sudut-sudut tabut harus ada 4 cincin emas, dimana kayu pengusung yang juga disepuh dengan emas dapat dimasukkan untuk membawa Tabut tersebut. Tutupnya yang juga disebut sebagai "tumpuan kaki tuhan" harus juga terbuat dari emas murni, dimana Patung Mailakat bersayap emas (kerubim) juga diletakkan di ujung-ujung atasnya dan saling berhadapan.


Tabut itu berfungsi sebagai sambungan langsung bagi Musa pada Tuhan. Akan muncul awan cerah diatas tutup emas di antara kerubim itu saat Tuhan ingin menyampaikan sesuatu pada hamba-Nya. Tuhan memerintahkan hanya pendeta dari suku Lewi yang bisa membawanya. Berat tabut itu mungkin beberapa ratus pon, tapi menurut legenda ia bisa terangkat sendiri walaupun tidak ada seorangpun yang mengangkatnya.

Tidak ada seorangpun, bahkan pendeta Lewi yang boleh menatapnya. Jadi, mereka selalu menutupinya dengan kain biru dan kulit binatang. Sejak awal, tabut itu sudah menampakkan sisi berbahaya. Beberapa hari kemudian, dua keponakan Musa mencoba memberikan persembahan kepada Tabut itu dan keduanya langsung mati terbakar. Menurut legenda, kerubim itu memercik tanpa henti, menghanguskan orang dan benda yang menyentuhnya. Tabut itu mendampingi Kaum Israel 40 tahun lama-nya selama mereka mengembara dan berperang. Bersama tabut itu, orang Israel mampu menaklukkan tanah yang dijanjikan. Benda ini mengandung kekuatan dan kepentingan yang tak terbayangkan. Menurut cerita dalam Alkitab Yahudi, tabut itu dibawa di depan pasukan dalam setiap pertempuran, tiap pertempuran selama penaklukkan orang Israel akan tanah Kanaan. Ia terus menerus dibawa dalam perang agar musuh dapat terkalahkan dan Tabut itu akan selalu berada di garis depan. Ada catatan luar biasa bahwa tabut itu terangkat dari tanah dan terbang menuju kearah musuh sambil mengeluarkan suara-suara erangan.

Satu orang malang bernama Uza, hanya berniat menstabilkan Tabut tersebut saat tampak goyah sewaktu diangkat oleh para pendeta Lewi, dan ia langsung mati terbakar. sesudahnya, Musa memerintahkan agar dibuatkan kemah/tenda untuk meletakkan Tabut itu. Bukan untuk melindunginya dari orang, tapi justru sebaliknya.
Kemenangan militer pertama dan paling terkenal dari tabut itu yaitu runtuhnya tembok kota Yerikho/Jericho. Pendeta Lewi yang bertugas membawa Tabut, mengangkutnya mengitari kota bertembok itu sekali sehari selama 6 hari. Di hari ke-7, mereka berkeliling 7 kali dan menyuruh meniup sengkala. Seketika itu juga tembok kota itu pun runtuh.

300 tahun kemudian, Tabut itu meninggalkan orang Israel dan dampaknya sangat buruk bagi mereka. Saat pendeta tinggi mengabaikan kewajiban kurban mereka , Tabut itu tak melindungi mereka dalam perang melawan orang Filistin. 30 ribu orang tewas dan orang Filistin mengambil tabut itu. Namun, tujuh bulan kemudian orang Filistin mengembalikannya. Wabah borok dan tikus merebak akibat Tabut itu.
Akhirnya, di bawah King David ( Daud a.s ), orang Israel bisa mengalahkan orang Filistin, lalu memenangkan pertahanan terakhir dari pihak lawan. Kemudian, Kota Yerusalem yang dijadikan ibukota. Tuhan menyuruh Daud mendirikan Bait Suci untuk menempatkan tabut tersebut, tapi puteranya Salomo/Sulaiman a.s yang mebangunnya. Karena kasus itu, Gunung Moria menjadi "titik tertinggi" di dalam kota tersebut.

Visi Salomo untuk Bait itu tak seperti yang pernah dilihat orang. Hanya kayu cedar dan batu terbaik yang dipakai untuk membuatnya, dan titik tertingginya menjulang hingga 20 lantai. Salomo berhutang besar untuk membangunnya, karenanya ia harus memberikan 20 desa terdepan untuk kerajaan tetangga. Setelah memeriksa masih berisi dua buah batu sepuluh perintah Allah yang tersimpan didalam Tabut, Salomo lalu menempatkannya di tengah-tengah Bait Suci Mahakudus. Hanya pendeta tinggi saja yang bisa mendekati dan memasuki ruang penyimpanan tersebut, itupun mereka harus masuk dengan menggunakan pakaian khusus sambil membakar dupa.

Lalu, bagaimana benda penting yang berisi kehadiran Allah bisa lenyap begitu saja? Sekarang, di manakah tabut itu berada? itulah teka-teki terbesarnya .
Banyak orang masih mencari tabut tersebut hingga saat ini, dan itu dimulai dari Bait Suci yang dibangun Salomo sebagai tempat untuk menyimpan Tabut. Tapi kini, tak ada satupun artifak atau batu yang menunjukkan di mana tepatnya tabut itu berdiri di Bukit Bait Suci Yerusalem. Tembok ratapan yang terkenal, mungkin sekarang merupakan situs suci Yahudi yang berharga. Tembok ini adalah merupakan sisa-sisa Bait Suci kedua yang dibangun berabad-abad setelah tabut itu lenyap. Sebagian penyembah di sini menunggu saatnya penghuni Bukit Bait Suci Dome of the Rock milik Islam hancur. Dan Bait Suci Yahudi ke-3 akan didirikan di tempat tersebut. Inilah salah satu faktor yang menimbulkan perselisihan hebat tanpa henti antara Israel dan Palestina hingga sekarang.

Menurut Perjanijian Lama, Tabut itu ditempatkan disana sekitar 955 SM. Tapi, sekitar tahun 620 SM rujukan tentang artifak terpenting dalam agama Yahudi ini berhenti. Lenyap begitu saja dari sejarah. Hanya satu hal saja yang jelas, krisis sebesar bencara internal maupun eksternal yang bisa mengeluarkan Tabut itu dari Bait Suci. Krisis pertama yang sesuai dengan hal ini adalah serangan Fir'aun Mesir bernama Shishak, beberapa puluh tahun setelah Bait itu dibangun. Sekenario Shishak inilah yang mengilhami petualangan Indiana Jones di Mesir dalam film Indiana Jones : Raiders of the Lost Ark.

Sumber-sumber Mesir menegaskan bahwa Fir'aun bernama Sheshonq yang menyerang Israel sekitar tahun 1000 SM, dan membawa banyak harta ke Tanis. Tentu saja pahlawan kita, Indiana Jones menemukan tabut itu di sana sambil dikejar-kejar oleh tentara NAZI. Tapi sayang bagi para penggemar Stephen Spielberg, agaknya jelas Sheshonq tak pernah menguasai kota Yerusalem. Karena Ia hanya cukup puas dikirimi setumpuk harta dan upeti agar tidak menyerang Yerusalem. Apakah yang disebut sebagai harta dan upeti itu adalah tabut perjanjian? berapa besar kemungkinannya?

Mar 29, 2011

Akhir Zaman

"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." (Matius 24:35-35)

Ayat ini telah diterjemahkan dengan kurang tepat, kata "anak" disini ditulis dimulai dengan huruf besar dimana dalam bahasa aslinya tidak ada kata yang ditulis dimulai dengan huruf besar. Dan ayat ini berkata bahwa satu-satunya yang mengetahui adalah Allah sendiri. Tetapi kita harus mengerti bahwa kita tidak pernah boleh memisahkan Kristus dari Allah Bapa, Kristus adalah Allah Yang Kekal, mereka adalah satu. Kitab 1 Yohanes 5:7-8 dan banyak ayat-ayat lainnya mencatat demikian:

"Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman [Anak] dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu."

Kita harus membaca dan memeriksa seluruh Alkitab. Kita dapat melihat pada suatu ayat dan mengambil suatu kesimpulan, akan tetapi ketika kita membandingkan ayat suci yang satu dengan ayat suci yang lain, kita akan tiba pada kesimpulan lain yang lebih akurat.

Selama 1,955 tahun dari masa kerja gereja, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui hari ataupun saatnya. Tuhan tidak membuka informasi tersebut kepada siapapun karena selama masa tersebut Tuhan sedang menggunakan gereja-gereja untuk mengirimkan Injil ke seluruh dunia. Itulah fokus utama dari masa kerja gereja, mereka tidak perlu terlalu khawatir tentang akhir zaman.

Dalam kitab Kisah Para Rasul 1:7-8 Yesus berkata kepada murid-murid, yaitu jemaat gereja Perjanjian Baru demikian:

"Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Kemudian ketika masa kerja organisasi gereja berakhir, Tuhan mulai untuk membuka mata rohani orang-orang percaya yang sejati, mereka adalah orang-orang yang "berjaga-jaga", yaitu mereka terus mempelajari seluruh Alkitab dengan berhati-hati seperti yang dikatakan dalam Wahyu 3:3b demikian:

"...Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu."

Di hari kita sekarang ini, Tuhan telah membuka meterai dari banyak informasi tentang "waktu dan penghakiman". Informasi ini telah disembunyikan di dalam Alkitab. Dalam kitab Daniel pasal 12 kita membaca bahwa Tuhan memberikan informasi ini kepada Daniel tetapi dia harus memeteraikannya sampai akhir zaman.

Dalam Daniel 12:4 kita membaca demikian:

"Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah."

Kemudian dalam kitab Wahyu pasal 5 kita mempelajari bahwa hanya Kristus yang dapat membuka kitab tersebut yang dimeterai dengan tujuh meterai. Ketika masa kerja organisasi gereja berakhir, Kristus membuka meterai-meterainya. Sehingga sejak saat itu, Tuhan telah mengajarkan kepada kita banyak rincian tentang rencana penghakiman-Nya dan jadwal waktu sejarah, dimulai dari peristiwa penciptaan sampai hari yang terakhir dari keberadaan Bumi ini.

Tetapi jika kita tidak membaca dan mempelajari seluruh Alkitab, dan jika kita tidak mengerti bahwa Tuhan telah membuka semua kebenaran-kebenaran yang baru ini, maka kita akan berpikir bahwa kitab Matius 24:36 berlaku untuk hari sekarang ini. Dan jika anda berpikir demikian maka anda berada di dalam situasi yang sangat buruk. Tuhan juga berkata bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan, khususnya orang-orang yang masih berada di dalam organisasi gereja-gereja, percaya bahwa Kristus akan datang seperti seorang pencuri di waktu malam. Tetapi Tuhan memperingatkan dalam kitab 1 Tesalonika 5:2-3 demikian:

"karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam [yaitu Matius 24:36]. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman --maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin-- mereka pasti tidak akan luput."

Kemudian Tuhan berbicara tentang kelompok yang berbeda, yaitu orang-orang percaya yang sejati, dalam ayat 4 demikian:

"Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga Hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri"

Orang-orang yang berada di dalam organisasi gereja-gereja berpikir bahwa mereka tidak perlu untuk mengetahui karena mereka telah berada di dalam "kedamaian dan keamanan", yakni mereka sangat yakin di dalam keselamatan mereka. Melalui karya Kristus mereka telah "berdamai" dengan Allah. Kristus adalah Raja Damai, seperti yang dinyatakan dalam Efesus 2:14-17.

Oleh karena itu, jemaat-jemaat gereja Perjanjian Baru percaya bahwa mereka telah siap, tidak perduli kapanpun Kristus akan datang. Akan tetapi, Tuhan berkata bahwa "kebinasaan/kehancuran yang tiba-tiba akan menimpa mereka". Itu adalah gaya bahasa dari Hari Penghakiman, dan itu seharusnya menyebabkan orang-orang yang berada di dalam organisasi gereja-gereja untuk gemetar di hadapan Firman Tuhan.

Tuhan berkata tentang orang-orang percaya yang sejati dalam 1 Tesalonika 5:4-9 demikian:

"Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga Hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak Terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita"


Dalam ayat ini Tuhan berkata bahwa orang-orang percaya yang sejati akan mengetahui saatnya, mereka adalah orang-orang yang berjaga-jaga di dalam terang Injil, mereka adalah anak-anak siang.

Jadi jika anda percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui dan anda tidak mencoba untuk mempelajari tentang saat kedatangan Kristus di dalam Alkitab, maka anda tidak sedang berjaga-jaga. Dan jika anda tidak berjaga-jaga, Tuhan berkata dalam Wahyu 3:3:

" ...jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu."

Itu adalah pernyataan yang sangat jelas. Jika anda berjaga-jaga, yaitu terus memeriksa Alkitab dengan rajin, maka anda akan mengetahui. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepada kita begitu banyak informasi di dalam Firman Tuhan, Alkitab. Informasi ini bukan berasal dari visi-visi atau mimpi-mimpi, itu bukan hanya sekedar filosofi yang berasal dari hasil pikiran manusia, semua itu berasal langsung dari mulut Tuhan.

Dan Tuhan berjanji dalam kitab Pengkhotbah 8:5 bahwa saatnya akan tiba ketika orang-orang percaya yang sejati "akan mengetahui baik mengenai waktu maupun penghakiman", dan hal itu telah digenapi sekarang. Alkitab pasti akan menggenapi semua nubuat-nubuat-Nya dengan sempurna. Dalam ayat itu kita membaca:

"Siapa yang mematuhi perintah tidak akan mengalami perkara yang mencelakakan [yaitu lolos dari Hari Penghakiman], dan hati orang berhikmat mengetahui waktu pengadilan [yaitu mengetahui baik tentang waktu maupun penghakiman]"

Sangat menyedihkan sekali bahwa orang-orang yang berada di dalam organisasi gereja-gereja tidak membaca dan mempelajari seluruh Alkitab, oleh karena itu mereka sedang berada di dalam kesukaran yang sangat besar. Dan pada akhirnya mereka akan masuk ke dalam Hari Penghakiman yang sangat mengerikan. Itulah "kebinasaan/kehancuran tiba-tiba" yang akan menimpa mereka seperti yang disebutkan dalam 1 Tesalonika 5.

Hari Penghakiman

"karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman --maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan [kehancuran], seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin-- mereka pasti tidak akan luput. (1 Tesalonika 5:2-3)

Dalam ayat ini kita membaca tentang orang-orang yang percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui tanggal dari peristiwa kedatangan Kristus. Mereka percaya bahwa Kristus akan datang seperti seorang pencuri di waktu malam. Dan itu adalah apa yang dimengerti oleh jemaat-jemaat selama masa kerja gereja berlangsung. Yaitu, tidak seorangpun yang dapat mengetahui. Kristus akan datang seperti seorang pencuri di waktu malam. Akan tetapi, Alkitab juga mengajarkan bahwa ketika kita masuk ke dalam periode dari Masa Siksaan Yang Dahsyat, yang sekarang telah berlangsung selama 22 tahun, Tuhan akan akan memberikan kepada kita tanggal yang tepat. Hal ini terjadi karena orang-orang percaya yang sejati harus memperingatkan dunia bahwa Hari Penghakiman akan segera tiba. Dan supaya dapat melakukan hal itu, mereka harus mengetahui tanggalnya.

Kitab Pengkhotbah 8:5 menekankan demikian:

"Siapa yang mematuhi perintah tidak akan mengalami perkara yang mencelakakan [yaitu lolos dari Hari Penghakiman], dan hati orang berhikmat mengetahui waktu pengadilan [yaitu mengetahui baik tentang waktu maupun pengadilan - KJV]"

Jadi Tuhan memberikan peringatan kepada orang-orang yang percaya bahwa mereka adalah orang-orang percaya. Mereka yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya, akan tetapi mereka bersikeras bahwa kita tidak dapat mengetahui tanggalnya. Kita hanya dapat mengetahui bahwa Kristus akan datang seperti seorang pencuri di waktu malam.

Kitab 1 Tesalonika 5 adalah pasal yang sangat penting. Dalam kalimat permulaan dari 1 Tesalonika 5:3 kita membaca demikian:

"Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman..."

Ayat ini menunjuk kepada semua orang yang percaya bahwa Kristus akan datang seperti seorang pencuri pada waktu malam. Dan mereka benar-benar percaya bahwa mereka sudah siap untuk bertemu dengan Kristus. Mereka tidak perlu khawatir apakah Ia akan datang malam ini atau 100 tahun dari sekarang. Mereka berkata, "Kami sudah siap. Dan kami mengetahui bahwa Ia akan datang seperti seorang pencuri di waktu malam". Kemudian Tuhan memberikan peringatannya, dan kata-kata ini berasal dari mulut Tuhan (2 Timotius 3:16). Kita membaca dalam 1 Tesalonika 5:3 demikian:

"Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman --maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan [yaitu kehancuran - KJV], seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin-- mereka pasti tidak akan luput."

Dengan kata lain, kita dapat menghubungkan hal ini dengan perintah Tuhan dalam kitab Yehezkiel pasal 18 dan Yehezkiel pasal 33 dimana Tuhan memerintahkan orang-orang percaya yang sejati untuk berjaga-jaga. Ketika mereka melihat bahwa saatnya sudah dekat, mereka harus memperingatkan dunia. Mereka harus membantu supaya dunia mengetahui tanggal dari peristiwa kedatangan Kristus.

Tetapi jika mereka berpikir bahwa Kristus akan datang seperti seorang pencuri di waktu malam, mereka tidak dapat melakukan hal itu. Mereka tidak dapat mematuhi perintah ini. Dan disini dalam kitab 1 Tesalonika pasal 5, Tuhan berkata bahwa mereka akan "ditimpa oleh kehancuran yang tiba-tiba", yaitu mereka akan masuk ke dalam Hari Penghakiman. Sesungguhnya Alkitab juga memberitahukan mengenai pencuri dalam kitab Yohanes 10:10 demikian:

"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan [menghancurkan - KJV]; Aku datang [pada peristiwa kayu salib], supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."

Kemudian 1 Tesalonika pasal 5 melanjutkan untuk menekankan bahwa pada saat yang sama ada orang-orang percaya yang lain yang berjaga-jaga. Mereka adalah anak-anak Terang. Mereka mengetahui kapan Kristus akan datang, karena mereka mendengarkan dan siap untuk patuh kepada seluruh Alkitab. 1 Tesalonika 5:4-9 berkata demikian:

"TETAPI kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur [rohani], tidur waktu malam dan mereka yang mabuk [rohani], mabuk waktu malam. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus"

Ini adalah masalah yang sangat serius. Apa yang dapat saya beritahukan kepada anda adalah bacalah dan pelajarilah pasal ini dengan sangat berhati-hati. Waktunya sudah sangat dekat, hanya ada beberapa minggu saja yang tersisa sampai kita tiba pada tanggal 21 Mei 2011.