Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

May 4, 2018

Babilonia

Babilonia (1696 – 1654 SM) atau Babel dinamai sesuai dengan ibukotanya, Babilon, adalah negara kuno yang terletak di selatan Mesopotamia (sekarang Irak), di wilayah Sumeria dan Akkadia. Babel pertama disebut dalam sebuah tablet dari masa pemerintahan Sargon dari Akkadia, dari abad ke-23 SM.

Babilonia berkembang menjadi sebuah kerajaan besar pada masa Hammurabi (1696 - 1654 sebelum Masehi), yang area kekuasannya meliputi daerah kerajaan Akkadia pada masa sebelumnya.

Setelahnya berdiri Kekaisaran Neo-Babilonia, di bawah kekuasaan dinasti Kasdim atau dinasti ke-11, yang dimulai dari revolusi Nabopolassar pada tahun 626 SM hingga invasi Koresh Agung, dengan penguasa terkenal di antaranya adalah Nebukadnezar II. Babilonia kemudian dikalahkan oleh Koresh Agung, raja Media dan Persia pada tahun 539 SM

Dinasti Babilonia Pertama

Kronologi dinasti Babilonia pertama diperdebatkan karena ada Daftar Raja Babilonia A dan Daftar Raja Babilonia B. Dalam kronologi ini, masa pemerintahan pada Daftar A digunakan karena penggunaannya yang lebih luas. Masa pemerintahan pada Daftar B secara umum lebih lama.


Asal usul yang pasti dari dinasti ini sulit diketahui secara pasti karena keadaan topografi Babilon itu sendiri, yang memiliki permukaan air yang tinggi, sehingga tidak menyisakan banyak peninggalan arkeologis yang utuh. Dengan demikian bukti-bukti untuk sejarah Babilonia justru banyak yang berasak dari daerah di sekitarnya dan catatan tertulis. Tidak banyak yang diketahui tentang para raja dari Sumuabum sampai Sin-muballit selain fakta bahwa mereka adalah orang Amoriah dan bukannya orang Akkadia. Akan tetapi, diketahui bahwa mereka mengumpulkan wilayah tanah yang tidak terlalu luas. Ketika Hammurabi (yang juga adalah orang Amoriah) naik tahta menjadi raja Babilon, kekaisaran itu hanya terdiri dari beberapa kota dan sedikit wilayah sekitarnya: Dilbat, Sippar, Kish, dan Borsippa. Setelah Hammurabi menjadi raja, dia berhasil memperoleh banyak sekali kemenangan militer dengan menaklukan kota-kota lain yang dapat memberi keuntungan bagi Bablion. Dengan kemenangan-kemenangan militernya itu, banyak tanah yang direbut oleh kekaisaran. Akan tetapi, meskipun Bablion sudah menjadi jauh lebih kuat berkat Hammurabi, Babilon masih belum menjadi daerah penting di Mesopotamia, tidak seperti Assyria, yang ketika itu dipimpin oleh Shamshi-Adad I, ataupun Larsa, yang ketika itu dipimpin oleh Rim-Sin.

Pada tahun ketiga belas Hammurabi sebagai raja, dia mulai menjadikan Babilon sebagai pusat dari apa yang nantinya akan menjadi kekaisaran besar. Pada tahun tersebut, dia merebut Larsa dari Rim-Sin, serhingga dia kini memeiliki kendali atas pusat-pusat perkotaan yang menguntungkan seperti Nippur, Ur, Uruk, dan Isin. Dengan kata lain, Hammurabi memperoleh kendali atas seluruh Mesopotamia selatan. Kekuatan politik lainnya yang patut diperhitungkan di daerah itu pada milenium kedua adalah Eshnunna, yang berhasil direbut oleh Hammurabi sekiatar tahun 1761 SM. Babilon kemudian memanfaatkan jalur perdagangan Eshnuna yang sudah sangat mapan serta kestabilan ekonomi yang mereka meiliki. Tidak lama setelah itu pasukan Hammurabi merebut Mari, kota terakhir yang memberinya kendali atas seluruh wilayah yang membentuk Mesopotamia di bawah Dinasti Ketiga Ur pada milenium ketiga.

Nama lain Hammurabi adalah Hammurapi-ilu[butuh rujukan], bermakna "Hammurapi sang dewa" atau mungkin "Hammurapi adalah dewa." Dia mungkin saja adalah raja Amraphel dari Shinar atau Sinear dalam catatan Yahudi dan Injil, yang Sezaman dengan Ibrahim. Ibrahim hidup dari tahun 1871 SM sampai 1784 SM, berdasarkan penafsiran modern atas tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang biasanya dihitung dalam paruh tahun modern sebelum Kitab Keluaran, dari satu ekuinoks ke ekuinoks lainnya.[butuh rujukan]

Terjemahan terkini dari lembaran Chogha Gavaneh yang bertahun sekitar 1800 SM menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kota ini yang terletak bukit Islamabad di Zagros Tengah dan daerah Dyala.

Lembaran Venus Ammisaduqa (contohnya beberapa versi kunonya dalam lembaran tanah liat) juga terkenal, dan beberapa buku mengenai itu telah diterbitkan. Beberapa usulan waktu asal telah diajukan namun waktu asal yang terdapat dalam banyak buku usumber tampaknya sudah tidak akurat dan tidak benar. Ada kesulitan lainnya; jangka waktu 21 tahun pengamatan terinci terhadap planet Venus dapat atau tidak dapat bertepatan dengan masa pemerintahan raja ini, karena namanya tidak disebutkan, hanya Tahun Tahta Emas. Beberap sumber, beberpa dicetak hampir seratus tahun yang lalu, mengklaim bahwa teks aslinya menyebutkan adanya okultasi Venus oleh bulan. Akan tetapi, ini mungkin adalah kesalahan penafsiran. Dukungan perhitungan 1659 SM untuk kejatuhan Babilon, berdasarkan statistik probabilitas penanggalan berdasarkan pada pengamatan planet. Kronolgoi pertengahan yang kini banyak diterima terlalu rendah dari sudut pandang astronomis. 

Sebuah naskah mengenai Kejatuhan Babilon oleh orang Hittit Mursilis I pada akhir masa pemerintahan Samsuditana yang menceritakan tentang gerhana kembar yang sangat krusial untuk kronologi Babilon yang benar. Sepasang gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi pada bulan Shimanu (Sivan). Gerhana matahari terjadi pada 9 Februari, 1659 SM. Gerhana ini terjadi 4.43 dan berakhir pada pukul 6.47. Gerhana kedua tidak terlihat yang memuaskan catatan yang mengisahkan bahwa bulan yang terbenam masih berupa gerhana. Gerhana matahari terjadi pada 23 Februari tahun 1659 SM, dimulai pada pukul 10.26, dan mencapai maksimumnya pada pukul 11.45, serta berakhir pada pukul 13.04. 
.

No comments: