Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Feb 20, 2018

Tuhan/dewa nasional

Tuhan/dewa nasional adalah sebuah kelas ilahi atau deitas penjaga yang mengkhususkan perhatian dalam perlindungan dan kebagian sebuah kelompok etnis (bangsa), dan para pemimpin kelompok tersebut. Ini ditahbiskan dengan figur penjaga lainnya seperti dewa keluarga yang bertanggung jawab untuk kebaikan klan atau profesi individual, atau dewa personal yang bertanggung jawab untuk kebaikan para individual. Peran-peran penjaga tersebut menjalankan fungsi yang sebuah keilahian lain miliki (kebijaksanaan, kesehatan, perang, dan lain-lain).

Tuhan/dewa nasional
Pada zaman kuno (dan beberapa masih berlanjut sampai sekarang), agama menjadi karakteristik budaya regional, bersama dengan bahasa, adat istiadat, tradisi, dll. Beberapa agama etnis tersebut meliputi tuhan/dewa dalam panteon mereka, seperti
Amaterasu untuk bangsa Jepang;Amun dan Horus untuk bangsa Mesir;Apollo untuk bangsa Troy;Asyur untuk bangsa Asiria;Asyerah untuk bangsa Sidonia;Athena-Mykene untuk bangsa Athena dan Mycenaea;Baal untuk bangsa Tyria;Chemosh untuk bangsa Moabit;Dagon untuk bangsa Philistia;Huitzilopochtli untuk bangsa Aztek Tenochtitla;Indra untuk bangsa India Weda;Itzamna untuk bangsa Maya;Marduk untuk bangsa Babilonia;Mars and eponymous Romulus-Quirinus untuk bangsa Romawi;Ninsusinak untuk bangsa Elamit;Qos untuk bangsa Edomit;Tengri untuk bangsa Turki;Teshub untuk bangsa Hittit; Yahweh untuk bangsa Yehuda dan Samaria;Zalmoxis untuk bangsa Dacia.
Masa modern
Para misionaris Kristen berulang kali menafsirkan ulang Tuhan-Tuhan nasional dalam hal Allah Kristen. Kenyataan ini terefleksi dalam nama Tuhan pada berbagai bahasa dari suku bangsa yang di-Kristenisasi, seperti Shangdi atau Shen pada umat Kristen Tionghoa, Ngai pada sejumlah suku Kenya, Bathalang Maykapal untuk orang Tagalog di Filipina, dll.

Pada konteks modern, istilah "Tuhan nasional" ditujukan pada gereja-gereja nasional dalam Kekristenan. Tendensi ini "menasionalisasikan" Allah Kristen, khususnya dalam konteks gereja-gereja nasional yang sedang berperang melawan negara Kristen lainnya saat Perang Dunia II, yang dianggap bidah oleh Karl Barth. 

No comments: