Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Jan 27, 2017

Tahun Baru Imlek

Tanggal 1 (satu) bulan 1 (satu) penanggalan Imlek atau sering disebut dalam istilah mandarin “Zhen Yue Chu Yi ” merupakan hari pertama dalam satu Tahun dan dirayakan sebagai Tahun Baru Imlek atau juga dikenal sebagai istilah “Chun Jie” dalam bahasa Mandarin. Istilah “Chun Jie” atau “Hari Raya Musim Semi” dipakai karena pada hari itu juga merupakan awal mulainya musim Semi dalam satu Tahun.  Musim Semi merupakan salah satu musim dari 4 musim di Negara-negara yang terletak di bagian Utara Bumi ini.

Terdapat 2 cerita mengenai asal usul Tahun Baru Imlek, diantaranya :

1. Raksasa “Nian” dan Tradisi Makan Malam Bersama


Pada Zaman dulu, ada sejenis Raksasa yang sangat ganas dan tinggal di hutan-hutan  pengunungan, orang-orang pada saat itu menyebutnya sebagai “Nian”.  Bentuk Raksasa “Nian” sangat ganas dan menakutkan, sifatnya sangat kejam. Makanan Raksasa “Nian” adalah  binatang-binatang liar, burung, serangga dan juga manusia. Setiap hari memakan jenis makanan yang berbeda-beda.

Semua orang  pada saat itu sangat takut dengan Raksasa yang ganas ini. Tetapi beriringnya waktu, perlahan-lahan orang-orang mengetahui dan menguasai semua kegiatan-kegiatan Raksasa, setiap 365 hari, Raksasa Nian akan pergi ke kerumunan orang ramai untuk mencari mangsanya. Waktu keluarnya Raksasa Nian adalah pada malam hari saat Matahari sudah terbenam dan pulang ke pengunungannya pada waktu fajar saat Ayam berkokok.

Setelah mengetahui waktu muncul dan menguasai sifatnya Raksasa Nian, Orang-orang pada saat itu selalu melakukan persiapan dan menjaga-jaga untuk menghadapi Raksasa buas ini termasuk tidak tidur pada malam tersebut,  yang kemudian disebut dengan istilah “Nian Guan”.

Cara-cara untuk menghadapi Raksasa Nian adalah :
  1. Pada malam yang bersangkutan, setiap keluarga menyiapkan makanan untuk makan malam lebih awal dari biasanya, sehingga tidak ada lagi kegiatan masak memasak di dapur.
  2. Menutup dan mengunci semua pintu baik pintu depan maupun pintu belakang
  3. Sembunyi dirumah untuk makan malam bersama keluarga atau disebut dengan “Nian Ye Fan”. 
  4. Karena makan malam ini sangat berbahaya dan beresiko, maka makan malam tersebut akan lebih enak dan special.
  5. Mempersembahkan makanan kepada Dewa dan para leluhur untuk mendapatkan lindungan dari mereka supaya dapat bebas dari ancaman Raksasa Nian
  6. Saat Makan, semua anggota keluarga duduk membentuk lingkaran sebagai lambang keharmonisan keluarga.
  7. Setelah Makan Malam, siapapun tidak berani tidur dan semua anggota keluarga duduk berdekatan supaya tidak takut hingga Fajar, Ayam berkokok menandakan sudah bebas dari ancaman Raksasa Nian.
Dengan demikian kebiasaan Makan malam dan tradisi untuk tidak pada malam Tahun Baru Imlek tersebut berlangsung hingga kini dan menjadi Tradisi Khas Tahun Baru Imlek meskipun saat ini sudah tidak ada ancaman Raksasa Nian lagi. Perasaan takut dan kuatir sudah tidak ada lagi, yang ada adalah perasaan senang, bahagia dan penuh harapan.

2. Penciptaan Kalender Imlek oleh Pemuda yang bernama “Wan Nian”

Zaman dulu di daratan China ada seorang pemuda yang bernama “Wan Nian [万年] ” melihat kekacauan perhitungan musim pada saat itu, muncullah niat untuk memperbaiki cara perhitungan musim agar lebih akurat. Suatu hari, Pemuda tersebut lelah bekerja dan duduk di bawah pohon untuk istirahat. Dia kemudian terinspirasi oleh Bayangan Pohon yang bergerak sehingga menciptakan suatu alat untuk memantau pergerakan bayangan matahari agar dapat mengetahui dan mengukur waktu dalam satu hari.

Kemudian, tetesan air dari tebing juga menginspirasikan dia untuk menciptakan alat bertingkat lima  yang bernama “Wu Ceng Lou Hu [五层漏壶]” untuk mengukur waktu.

Dengan Alat-alat yang diciptakannya, dia menemukan bahwa masing-masing Musim akan berulang kembali setiap 360-an hari.

Raja pada saat itu bernama “Zu Yi [祖乙]”  juga sering dipusingkan dengan masalah situasi perubahan musim yang tidak dapat diprediksi. Pemuda “Wan Nian” kemudian membawa alat-alat ciptaannya untuk menemui sang Raja. Raja Zu Yi sangat gembira mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang perhitungan perubahan musim yang ditemukan oleh Wan Nian dan meminta Wan Nian untuk tinggal di Istana. Sang Raja membangun sebuah bangunan yang bernama “Ri Yue Ge” atau “Pavilion Matahari Bulan” untuk mengetahui hukum alam tentang hari dan bulan. Dapat mengetahui lebih akurat waktu Fajar dan Senja setiap harinya, menciptakan Kalender untuk kepentingan dan kesejahteraan Rakyatnya.

Suatu hari, Sang Raja pergi ke Pavilion Matahari Bulan (Ri Yue Ge) untuk mengetahui lebih jelas mengenai perkembangan pembuatan Kalender, beliau melihat sebuah puisi yang terukir di sisi pavilion Matahari Bulan :

Terjemahan ke bahasa Indonesia kira-kira seperti ini :
Matahari terbit dan Tenggelam selama tiga ratus enam puluh, dan terus menerus berulang. Rumput dan Pohon layu mekar terbagi menjadi empat musim, terdapat 12 kali bulan purnama
Mengetahui Wan Nian sudah berhasil, Sang Raja langsung pergi menemui Wan Nian yang berada di Pavilion tersebut. Wan Nian menunjukkan perbintangan dan berkata kepada Raja Zu Yi, “sekarang 12 bulan sudah penuh, satu tahun sudah selesai, Musim Semi yang kembali lagi. Wan Nian kemudian meminta Raja Zu Yi untuk menentukan Hari Raya yang dimaksud tersebut. Raja Zu Yi kemudian berkata : “Sekarang adalah Musim Semi yang juga merupakan Musim pertama dalam satu Tahun, maka kita sebut saja Hari Raya Musim Semi”. Itulah asal usul pertama munculnya Hari Raya Musim Semi atau Tahun Baru Imlek yang kita kenal sampai saat ini.

3 comments:

Anonymous said...

Sejarah tahun baru Imlek – Gong Xi Fa Cai


Sebelumnya kami mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2011 kepada warga Tionghoa. Ada sebab ada akibat, ada asap pasti akan ada api, begitu juga mengenai hari Imlek ini pasti ada sejarahnya. Nah berikut adalah sejarah Imlek yang mungkin (belum) Anda tahu…

Sejarah penanggalan Imlek, penggagasnya adalah Huang Di atau Kaisar Kuning yang memerintah (2698-2598 SM), beliau disamping seorang Raja Agung juga seorang Nabi dan sekarang disebut Bapak Ilmu Pengetahuan, karena pada jamannya paling banyak menciptakan penemuan-penemuan baru dan peradaban dunia dimulai pada jaman itu.

Sistem penanggalan karya Huang Di ini, kemudian diterapkan oleh pendiri Dinasti Xia (2205-2197 SM) dengan Kaisar bernama Da Yu, yang juga merupakan salah satu Nabi dalam agama Khonghucu, namun ketika Dinas Xia jatuh diganti Dinasti Shang (1766-1122 SM), Dinasti Shang penanggalannya diganti dengan sistem penanggalan Shang. Ketika Dinasti Shang runtuh dan diganti oleh Dinasti Zhou (1122-475 SM) sistem penanggalan juga diganti dengan sistem penanggalan Zhou. Sejak Dinasti Zhou jatuh, terjadilah jaman perang berlangsung sekitar 254 tahun. Setelah itu baru mulailah berdiri Dinasti Qin (221-207 SM) dengan Kaisar bernama Qin Shi Huang dan sistem penanggalannya dirubah lagi. Jadi boleh dikatakan di daratan Tiongkok pernah memakai 4 macam sistem penanggalan dari jaman Dinasti Xia sampai denagn Dinasti Qin.

Anonymous said...

Nabi Khonghucu yang hidup pada tahun (551-479 SM), beliau hidup pada masa Dinasti Zhou (1122-475 SM). Waktu itu Nabi melihat masyarakat mayoritas hidup dari pertanian, maka sistem penanggalan Dinasti Xia-lah yang paling baik dan cocok, karena awal tahun barunya jatuh pada awal musim semi, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam pertanian.

Saat itu Nabi Khonghucu menyarankan agar negara kembali menggunakan kalender Dinasti Xia, namun nasihat bijak itu tidak digubris pemerintahan waktu itu. Maka Nabi bersabda dalam Sabda Suci XV : 11 berbunyi. “Pakailah penanggalan Dinasti Xia”. Dan sabda tersebut disosialisasikan oleh para murid-muridnya.

Setelah runtuhnya Dinasti Qin, berdirilah Dinasti Han (206 SM- 220 M) oleh Kaisar Han Wu Di (140-86 SM), tepatnya tahun 104 SM, sistem penanggalan Xia diresmikan sebagai penanggalan Negara dan tetap digunakan hingga saat ini. Untuk menghormati Nabi Khonghucu, penentuan perhitungan tahun pertamanya dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Khonghucu dan Agama Khonghucu ditetapkan sebagai agama Negara (state religion).{chik2}

Anonymous said...

Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Mitos Tahun Baru Imlek

Menurut legenda, dahulu kala, Nián (年) adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri merka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. DIpercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen.

Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián (Hanzi tradisional: 過年; bahasa Tionghoa: 过年), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian”.
Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh 鸿钧老祖 atau 鸿钧天尊Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu. {wikipedia}