Sejarah Dunia Kuno

Lion of Judah Open Doors 2019

Jan 19, 2017

Perkembangan Ilmu Masa Yunani Kuno

Perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang sekarang ini  tidaklah terjadi secara spontan, melainkan secara bertahap. Setiap periode memiliki ciri khasnya sendiri terhadap perkembangan ilmu di eranya,oleh karna itu untuk lebih memahami sejarah perjalanan ilmu maka dilakukanlah pembagian atau klasifikasi secara periodik, dan pada kesempatan kali ini akan kita ulas mengenai perkembangan ilmu pada masa yunani kuno.

Periode Yunani kuno adalah cikal bakal dari berkembangnya ilmu pengetahuan modern seperti saat ini.Yang paling menonjol dalam perkembangan ilmu pada era ini adalah filsafat ,yang nantinya akan menjadi induk bagi setiap ilmu pengatahuan. Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis.

Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir-ahli pikir terkenal sepanjang masa. Pada masa ini Filsafat lebih bercorak “kosmosentris”, artinya para filsuf pada waktu itu mengarahkan perhatian mereka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan asal mula terjadinya alam semesta. Mereka berupaya mencari jawaban tentang prinsip pertama (arkhe) dari alam semesta, oleh karena itu mereka lebih dikenal dengan julukan “Filsuf-Filsuf Alam”.

Selain berkembangnya filsafat,pemikiran dari tokoh-tokoh besar seperti Arestoteles,plato,herodotus dan lain-lain telah melahirkan berbagai disiplin ilmu yang lain seperti ilmu komunikasi dan ilmu politik 

PERADABAN YUNANI KUNO

Peradaban Yunani Kuno dimulai periode Yunani purba pada abad ke-8 hingga abad ke-6 SM. Kemudian berlanjut hingga penaklukan Romawi atas Korintia pada 146 SM.Puncak peradaban ini ada pada masa Yunani Klasik yang mulai berkembang pada abad ke-5 hingga abad ke-4 SM.Pada masa inilah para ilmuwan masa lalu mencurahkan perhatiannya terhadap berbagai kajian ilmu pengetahuan yang menjadi dasar-dasar pengembangan dan penemuan berbagai disiplin ilmu pengetahuan masa sekarang.

Periode Yunani Klasik berada dibawah pimpinan negara-kota Athena,ketika mereka telah berhasil menghalau serangan kekaisaran Persia. Kekuasaan Athena berakhir karena mereka ditaklukan bangsa Sparta saat perang Peloponesia pada 401 SM.Namun bukan berarti perkembangan dan kajian ilmu pengetahuan ikut berakhir pula.Beberapa penemuan penting justru terjadi pada periode ini. 

HASIL PERADABAN BANGSA YUNANI KUNO

Peradaban Yunani Kuno mewariskan peradaban tinggi untuk dunia. Hasil dari peradaban itu bahkan sampai sekarang tetap dijadikan rujukan berbagai disiplin ilmu.

Hasil peradaban Yunani Kuno yang sangat penting bagi masyarakat dunia adalah karya sastra.Ada satu karya sastra yang sangat terkenal yaitu kitab IIIiad dan Odissesia .Kedua kitab tersebut ditulis oleh Homerus. Kitab tersebut berisi kejadian sejarah perang Troya. Sampai saat ini, karya sastra kuno ini menjadi rujukan penting dalam perkembangan sastra modern

Dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat ,peradaban Yunani Kuno terbilang paling banyak memberikan kontribusi bagi dunia sekarang ini. Pada masa Yunani lahir filosof dan pemikir terkenal. Dari pemikiran- pemikiran mereka, berkembang berbagai ilmu pengeetahuan. Beberapa pemikir yang terkenal dari Yunani, diantaranya adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles. Hingga saat ini, buah dari pemikiran-pemikiran mereka masih dikaji oleh barbagai kalangan. Sekalipun sebenarnya dalam perjalanannya para tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno tersebut bersinggungan dengan  tokoh-tokoh dari bangsa lain yang telah lebih dahulu meletakkan dasar-dasar kajian ilmu pengetahuan. Namun merekalah yang mengembangkan menjadi kajian yang bisa dipertanggungjawbkan secara ilmiah.

Peradaban Yunani kuno masih terus dikenang sampai sekarang. Karya dan pemikiran dari peradaban Yunani membawa pengaruh besar bagikemajuan peradaban manusia. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa peradaban Yunani merupakan awal dari peradaban manusia di dunia. 

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PADA MASA YUNANI KUNO

Zaman ini berlangsung dari abad 6 M sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap ‘’aninquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis)’’, dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap  ‘’receptve attitude mind (sikap menerima segitu saja)’’. Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur. Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya (zaman Hellenisme) di bawah pimpinan Iskandar Agung(356-323 SM) dari Macedonia, yang merupakan salah seorang murid Aristoteles.

Pada abad ke- 0 M, perkembangan ilmu mulai mendapat hambatan. Hal ini disebabkan oleh lahirnya Kristen. Pada abad pertama sampai abad ke- 2 M mulai ada pembagian wilayah perkembangan ilmu. Wilayah pertama berpusat di Athena, yang difokuskan dibidang kemampuan intelektual. Sedangkan wilayah kedua berpusat di Alexandria, yang fukos pada bidang empiris.

Setelah Alexandria di kuasai oleh Roma yang tertarik dengan hal-hal abstrak, pada abad ke- 4dan ke- 5 M ilmu pengetahuan pegetahuan benar-benar beku. Hal ini di sebabkan oleh tiga pokok penting : 

1).  Penguasa Roma yang menekan kebebasan berfikir.
2). Ajaran Kristen tidak disangkal.
3). Kerjasama gereja dan penguasa sebagai otoritas kebenaran. 

Walaupun begitu, pada abad ke-2 M sempat ada Galen (bidang kedokteran) dan tokoh aljabar, Poppus dan Diopanthus yang berperan dalam perkembangan pengetahuan. 

TOKOH-TOKOH FILSUF PADA ZAMAN YUNANI KUNO

Bangsa Yunani adalah sebuah bangsayang tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis. Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir-ahli pikir terkenal sepanjang masa.berikut ini adalah beberapa tokoh pemikir atau filsuf pada masa yunani kuno :                      

–Tokoh Filosuf yang Mencurahkan Perhatiannya pada Alam Semesta 

a.    Thales (624-548 SM)
Thales berasal dari Miletus, ia mendapat gelar Bapak Filsafat karena dialah orang yang bermula-mula berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar yang jarang dipertanyakan orang, juga orang pada zaman sekarang, yaitu mengenai “Apa sebenarnya asal-usul alam semesta ini?”, pertanyaan ini sangat  mendasar, terlepas apapun jawabannya. Namun yang penting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal alam adalah air, karena air adalah unsur terpenting bagi setiap makhluk hidup. Air dapat berubah menjadi benda gas dan padat seperti uap dan es, dan bumi ini juga berada di atas air.

b.    Pythagoras (580-500 SM)
Pythagoras adalah kelahiran Pulau Samos, Ionia. Ia dikenal sebagai filsuf dan juga ahli ukur. Ia mengembalikan segala sesuatu kepada bilangan. Semua realitas dapat diukur dengan bilangan (kuantitas). Karena itu, dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsure pertama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Kesimpulan ini ditarik dari kenyataan bahwa realitas alam adalah harmoni antara bilangan dan gabungan antara dua hal yang berlawanan.

Kalau segala-galanya adalah bilangan, itu berarti bahwa unsur bilangan merupakan juga unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tak terbatas. Demikian juga seluruh jagad raya merupakan suatu harmoni yang mendamaikan hal-hal yang berlawanan. Artinya, segala sesuatu berdasarkan dan dapat dikembalikan pada bilangan.

Jasa Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan di kemudian hari sampai hari ini sangat tergantung pada pendekatan matematika. Galileo menegaskan bahwa alam ditulis dalam bahasa matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika merupakan sarana ilmiah yang terpenting dan akurat karena dengan pendekatan matematika-lah ilmu dapat diukur dengan benar dan akurat. Di samping itu, matematika dapat menyederhanakan uraian yang panjang dalam bentuk simbul, sehingga lebih cepat dipahami.

c.   Heraklitos (540-480 SM)
Heraklitos berasal dari Ephesos, Asia kecil. Ia berpendapat bahwa tiap-tiap benda terdiri dari hal-hal yang saling berlawanan dan yang berlawanan itu tetap merupakan kesatuan. Baginya tidak ada sesuatu pun yang bersifat tetap. Tidak ada yang benar-benar ada karena semuanya menjadi berubah. Perubahan dapat dinyatakan dengan dua cara: pertama, seluruh kenyataan merupakan arus sungai yang mengalir, kedua, seluruh kenyataan adalah api. Ucapannya yang terkenal adalah “Engkau tidak dapat turun dua kali ke dalam sungai yang sama” dan “Panta rhei kai uden menei” yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tetap.

Jadi Heraklitos dalam melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah. Sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti bahwa bila kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita harus menyadari bahwa kosmos itu dinamis. Segala sesuatu saling bertentangan dan dalam pertentangan itulah kebenaran.

Itulah sebabnya ia mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan disisi lain dapat melunakkan es. Artinya api adalah aktor pengubah dalam ala mini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbul perubahan itu sendiri. 

–Tokoh Filosuf yang Menjadikan Manusia sebagai Tolok Ukur Kebenaran

a. Pratagoras (481-411 SM)

Ia menyatakan bahwa “Manusia adalah ukuran kebenaran”. Pernyataan ini merupakan cikal bakal humanisme. Pertanyaan yang muncul adalah apakah yang dimaksudnya itu manusia individu atau manusia pada umumnya. Memang dua hal itu yang menimbulkan konsekuensi yang sungguh berbeda. Namun tidak ada jawaban yang pasti, mana yang dimaksud oleh Protagoras. Yang jelas ialah, bahwa ia menyatakan kebenaran itu bersifat subyektif dan relative. Akibatnya tidak akan ada ukuran yang absolute dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang absolute.

–Tokoh Filosuf yang Mencurahkan Perhatiannya terhadap Suatu Masalah dengan Cara yang Rasional

a. Socrates (470-399 SM)

Socrates adalah anak seorang pemahat yang bernama Sophoniscos dan seorang bidang yang bernama Phainarete. Ia meninggal karena dihukum minum racun. Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri.

Socrates tidak pernah meninggalkan tulisan, namun pemikirannya dikenal melalui dialog-dialog yang ditulis oleh muridnya Plato. Metode Socrates dikenal sebagai Meieutike Tekhne (ilmu kebidanan) yaitu suatu metode dialektika untuk melahirkan kebenaran. Socrates selalu mendatangi orang yang dia pandang memiliki otoritas keilmuan dalam bidangnya untuk diajak berdiskusi. Socrates lebih mementingkan metode dialektika itu sendiri dari pada hasil yang diperoleh.

Jadi meskipun Socrates tidak meninggalkan teori-teori ilmu tertentu, namun ia meninggalkan suatu sikap kritis melalui metode dialektika yang akan berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan modern.

b. Plato (427-347 SM)

Plato adalah salah seorang murid dan teman Socrates, ia memperkuat pendapat gurunya dengan cara menulis ide-ide Socrates. Menurutnya, esensi itu mempunyai realitas dan realitasnya ada di alam idea. Kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea.

Plato berhasil mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Menurut Heraklitos segala sesuatu berubah, sedangkan Parmenides mengatakan sebaliknya, yaitu segala sesuatu itu diam. Untuk mendamaikan pandangan ini Plato berpendapat bahwa pandangan Heraklitos benar, tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan pendapat Parmenides juga benar, tetapi hanya berlaku bagi idea-idea bersifat abadi dan idea inilah menjdai dasar bagi pengenalan yang sejati.

Plato juga sangat memperhatikan ilmu pasti sebagai peninggalan Pythagoras. Sebab ada hubungan yang erat antara kepastian, matematis, dengan kesempurnaan idea. Keterikatan Plato pada kesempurnaan idea dan kepastian matematik menjadikannya lebih memusatkan penelitian kepada cara berpikir (aspek metodis) dari pada apa yang dapat ditangkap oleh indera. Oleh karena itu, Plato dapat dikatakan seorang eksponen rasionalisme manakala ia hendak menerangkan sesuatu, namun ia juga seorang eksponen idealisme manakala menerangkan bidang nilai (aksiologis).

c. Aristoteles (384-322 SM)
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles. Aristoteles adalah murid Plato dan penasihat serta guru Iskandar Agung. Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stagira, sebuah kota di Thrace. Ayahnya meninggal tatkala ia masih sangat muda. Ia diambil oleh Proxenus, dan orang ini memberikan pendidikan yang istimewa kepadanya. Tatkala Aristoteles berumur 18 tahun, ia dikirim ke Athena dan dimasukkan ke akademi Plato.

Aristoteles adalah seorang filosuf yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu system; yaitu logika, matematika, fisika dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri dari tiga premis: yakni premis mayor, premis minor dan konklusi.

–          Semua manusia akan mati       (premis mayor)
–          Aristoteles seorang manusia    (premis minor)
–          Aristoteles akan mati                  (konklusi)

Logika Aristoteles ini juga disebut dengan logika deduktif yang mengukur valid atau tidaknya sebuah pemikiran.

Dalam bidang fisika, Aristoteles membagi gerak pada dua macam, yaitu gerak aksidental dan gerak substansial.

Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada dua hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika dan fisika. Sedangkan yang praktis mencakup etika, ekonomi dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya, sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam pada abad pertengahan. Namun jelas, setelah periode Socrates, Plato dan Aristoteles mutu filsafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik pada waktu itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil imperium besar yang dibangun oleh Alexander the Great kemudian Alexander meninggal dunia. 

DISIPLIN ILMU YANG BERKEMBANG PADA MASA YUNANI KUNO

A.    Filsafat
Yunani kuno sangat identik dengan filsafat. Saat kata Yunani disebut, maka yang terbersit di pikiran para peminat kajian keilmuan dapat dipastikan adalah filsafat. Padahal filsafat di dalam pengertian yang sederhana sudah ada jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga sekali bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu beraneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang.

Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis.

v  Sejarah Filsafat Yunani Kuno

Orang yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai sesuatu yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya suatu kebenaran lewat akal pikir (logis) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber dari mitos  (dongeng-dongeng).

Setelah abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan adanya pertanyaan tentang isteri alam semesta ini, jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitiologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.upaya para ahli pikir untuk mengarahkan kepada suatu kebebasan berfikir , ini kemudian banyak orang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni, maka timbullah peristiwa ajaib The Greek Miracle yang artinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.

Pelaku filsafat adalah akal dan musuhnya adalah hati. Pertentangan antara akal dan hati itulah pada dasarnya isi sejarah filsafat. Di dalam sejarah filsafat kelihatan akal pernah menang, pernah kalah, hati pernah berjaya, juga pernah kalah, pernah juga kedua-duanya sama sama-sama menang. Diantara keduanya , dalam sejarah, telah terjadi pergugumulan berebut dominasi dalam mengendalikan kehidupan manusia.

Yang dimaksud dengan akal disini ialah akal logis yang bertempat di kepala, sedangkan hati adalah rasa yang kira-kira bertempat di dalam dada.akal itulah yang menghasilkan pengethauan logis yang disebut filsafat, sedangkan hati pada dasarnya menghasilkan pengetahuan supralogis yang disebut pengetahuan mistik, iman termasuk disini. Ciri umum filsafat yunani adalah rasionalisme yang dimana mencapai puncaknya pada orang-orang sofis.

Dalam sejarah filsafat biasanay filsafat yunani dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat barat, karena dunia barat (Erofa Barat) dalam alam pikirannya berpangkal kepada pemikiran yunani. Pada masa itu ada keterangan-keterangan tentang terjadinya alam semesta serta dengan penghuninya, akan tetapi keterangan ini berdasarkan kepercayaan. Ahli-ahli pikir tidka puas akan keterangan itu lalu mencoba mencari keterangan melalui budinya. Mereka menanyakan dan mencari jawabannya apakah sebetulnya alam itu. Apakah intisarinya? Mungkin yang beraneka warna ynag ada dalam alam ini dapat dipulangkan kepada yang satu. Mereka mencari inti alam, dengan istilah mereka : mereka mencari arche alam (arche dalam bahasa yunani yang berarti mula, asal).

Terdapat tiga faktor yang menjadikan filsafat yunani ini lahir, yaitu:

1.      Bangsa yunani yang kaya akan mitos (dongeng), dimana mitos dianggap sebagai awal dari uapaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti syair karya Homerus, Orpheus dan lain-lain.

2.      Karya sastra yunani yang dapt dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat yunani, karya Homerous mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang yunani yang didalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.

3.      Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di lembah sungai Nil, kemudian berkat kemampuan dan kecakapannya ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasrkan pada aspek praktis saja, tetapi juga aspek teoritis kreatif.

Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.

Periode yunani kuno ini lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam, dimana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati sekitarnya.mereka membuat pertanyaan-pertanyaan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak berdasarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta (arche) yang sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang serba berubah.

Para pemikir filsafat yunani yang pertama berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir Asia Kecil. Mereka kagum terhadap alam yang oleh nuansa dan ritual dan berusaha mencari jawaban tas apa ynag ada di belakang semua materi  

Ilmu Komunikasi

Ilmu Komunikasi merupakan Ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataanya kepada manusia lain. Sebagai ilmu, komunikasi memiliki objek kajian yaitu usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain. Manusia bukan saja menyampaikan isi pernyataan kepada manusia tetapi juga kepada yang bukan manusia sepertibinatang, tumbuhan-tumbuhan dan benda-benda. Hanya makhluk yang punya akal budi saja yang mampu memahami hasil penggunaan akal dan budi manusia
sebagaimana adanya.Dengan menggunakan akal dan budinya ini manusia dapat memberikan jawaban kepada manusia lain yang menyampaikannya. Pengertian lain, Ilmu komunikasi merupakan ilmu terapan dari kelompok ilmu sosial. Sebab, menurut ilmuwan, ilmu ini bersifat indisipliner karena objek materialnya sama dengan ilmu-ilmu yang lain, terutama yang masuk ilmu sosial. 

v Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Zaman Yunani Kuno 

Komunikasi adalah konteks arti yang berlaku sekarang ini memeng belum dikenel saat itu. Istilahnya yang berlaku pada zaman tersebut adalah “Retorika”. Disebutkan bahwa pada zaman kebudayaan mesir kuno telah ada tokoh-tokoh retorika seperti Kagemi dan Ptah- Hotep. Namun demikian tradisi retorika sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi baru dilakukan di zaman Yunani kuno dengan perintisnya Aristoteles (Golden, 1978). Lebih lanjut Aristoteles menyatakan bahwa retorika mencangkup 3 unsur yakni: 

v  ethos (kredibilitas sumber)
v  pathos (hal yang menyangkut emosi/perasaan), dan
v  logos (hal yang menyangkut fakta). 

Pokok-pokok pikiran Aristoteles dikembangkan oleh Cicero dan Quintilian mereka menyusun aturan retorika yang menyangkut 5 unsur: 

v  Inventio (urutan argumentasi)
v  Dispesitio (pengaturan ide)
v  Eloqutio (gaya bahasa)
v  Memoria (ingatan), serta
v  Pronunciatio (cara penyampaian pesan). 

Perkembangan komunikasi sebagai ilmu selalu dikaitkan dengan aktifitas retorika yang terjadi di zaman Yunani kuno, sehingga menimbulkan pemahaman bagi pemikir-pemikir barat bahwa perkembangan komunikasi pada zaman itu mengalami masa kegelapan (dark ages) karena tidak berkembang di zaman Romawi kuno. Dan baru mulai dicatat perkembangannya pada masa ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg (1457). Sehingga masalah yang muncul adalah, rentang waktu antara perkembangan ilmu komunikasi yang awalnya dikenal retorika pada masa Yunani kuno, sampai pada pencatatan sejarah komunikasi pada masa pemikiran tokoh-tokoh pada abad 19, sangat jauh. Sehingga sejarah perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri terputus kira-kira 1400 tahun. Padahal menurut catatan lain, sebenarnya aktifitas retorika yang dilakukan pada zaman Yunani kuno juga dilanjutkan perkembangan aktifitasnya pada zaman pertengahan (masa persebaran agama). Sehingga menimbulkan asumsi bahwa perkembangan komunikasi itu menjadi sebuah ilmu tidak pernah terputus, artinya tidak ada mata rantai sejarah yang hilang pada perkembangan komunikasi. Makalah ini ingin mengangkat zaman persebaran agama yang berlangsung antara rentang waktu tersebut (zaman pertengahan) menjadi bagian dari perkembangan ilmu komunikasi. Sehingga zaman pertengahan menjadi jembatan alur perkembangan komunikasi dari zaman yunani kuno ke zaman renaissance, modern, dan kontemporer. 

Ilmu Politik 

Selain dua disiplin ilmu diatas,ilmu yang berkembang pada zaman yunani kuno adalah ilmu politik,yang mana dimasa selanjutnya akan memberikan sumbangan besar,khususnya dalam sistem pemerintahan. 

v Perkembangan Ilmu Politik 

Ilmu politik adalah salah satu ilmu tertua dari berbagai cabang ilmu yang ada. Sejak orang mulai hidup bersama, masalah tentang pengaturan dan pengawasan dimulai. Sejak itu para pemikir politik mulai membahas masalah-masalah yang menyangkut batasan penerapan kekuasaan, hubungan antara yang memerintah serta yang diperintah, serta sistem apa yang paling baik menjamin adanya pemenuhan kebutuhan tentang tentang pengaturan dan pengawasan.

Ilmu politik diawali dengan baik pada masa Yunani Kuno, membuat peningkatan pada masa Romawi, tidak terlalu berkembang di Zaman Pertengahan, sedikit berkembang pada Zaman Renaissance dan Penerangan, membuat beberapa perkembangan substansial pada abad 19, dan kemudian berkembang sangat pesat pada abad 20 karena ilmu politik mendapatkan karakteristik

Ilmu politik sebagai pemikiran mengenai Negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M. seperti dalam karya Herodotus, Plato, Aristoteles, dan lainnya. 

Disamping ketiga disiplin ilmu yang disebutkan diatas sebenarnya pada masa yunani kuno Aristoteles telah membagi filsafat pada hal yang teoritis (logika, metafisika, dan fisika) dan praktis (etika, ekonomi, dan politik). Pembagian ilmu inilah yang lantas menjadi pedoman bagi klasifikasi disiplin ilmu di kemudian hari. 

v Sejarah perkembangan Politik Di Zaman Yunani kuno

Tak begitu lama setalah kemunculan pemikiran politik Asia Kuno, sekitar tahun 450 SM, di tempat lain kemudian muncul pemikiran tentang politik, yaitu Yunani. Pemikiran politik ini lebih serius dan terarah dibandingkan dengan yang muncul di Asia. Itulah sebabnya jika membahas mengenai pemikiran politik, hampir semua ahli cenderung untuk melihat ke Yunani Kuno.

Bermula dari penyelidikan terhadap watak dan jalannya institusi politik yang pembahasannya mencakup persoalan kenegaraan (negara-kota) di Yunani, kemudian berkembang dan meluas hingga membahas mengenai hukum, keadilan dan kebebasan. Perkembangan pemikiran politik inilah yang kemudian menjadi dasar konsep sosial dan politik budaya barat yang akhirnya mempengaruhi pemikiran dan pola politik di seluruh dunia. Konsep seperti kebebasan manusia, keadilan, pengakuan terhadap individu,hubungan manusia dan negara, hingga demokrasi lahir di Yunani Kuno. Pemikiran-Pemikiran tersebut bukan saja ada dalam dunia ide, namun juga terwujud dalam sistem pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat Yunani Kuno.

Pemikiran- pemikiran yang muncul di Yunani kuno ini merupakan ide-ide briliant yang menjadi dasar dari kehidupan masyarakat modern di hampir seluruh belahan dunia dan sampai kini konsep-konsep tersebut masih dipakai oleh para ahli modern sebagai dasar berfikir dan rujukan ketika muncul permasalahan-permasalahan sosial dan politik.Hal ini menunjukkan perkembangan ide yang sangat cepat serta sistematis diantara para filsuf jenius masa lalu. Sehingga buah pemikiran mereka memberi dampak yang sangat besar dan luas.

Perkembangan paling klimaks pada masa Yunani kuno adalah adanya negara-kota atau polis di Yunani. Kehidupan politik selama periode Yunani kuno adalah negara-kota. Terdapat ratusan negara kota di Yunani dengan ukuran, bentuk pemerintahan dan tingkat peradaban yang berbeda. Kota tersebut talah memiliki sistempmerintahan sendiri yang otonom dan mengelola sistem keamanannya.

Perkembangan tertinggi dalam kehidupan  politik pada masa Yunani kuno terjadi pada abad ke-5 di negara-kota Athena masa ini disebut dengan “masa keemasan pericles”. Hal ini dikarenakan Athena memiliki perundang-undangan, sistem serta lembaga politik yang sangat diperlukan sebagai kelengkapan untuk suatu masyarakat yang bernegara. Melalui kelengkapan-kelengkapan yang masih serba sederhana inilah masyarakat Athena melakukan kegiatan politiknya. Karenanya Athena meberikan pengaruh paling besar terhadap perkembangan politik barat.Dikarenakan kecilnya ukuran dan kekuasaan raja,negara-kota menjadi bentuk masyarakat politik yang akrab dan hebat. Seluruh warga berperan langsung dalam pemerintahan sehingga setiap masyarakat memiliki sense of belonging terhadap kota tersebut.

No comments: