Sejarah Dunia Kuno

Welcome to the Year 2019, The Year of open Doors

Jun 6, 2016

Patmos

Wahyu  pasal satu ayat 9: “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di Pulau yang bernama Patmos oleh karena Firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus” (Wahyu 1:9).

Kaisar Roma, yang merupakan saudara Titus bernama Domitian. Titus adalah seorang Jenderal yang berbakat, putra dari Vespasian, yang juga merupakan seorang yang hebat dalam perang. Titus adalah orang yang memimpin tentaranya dalam menghancurkan Yerusalem, ketika ayahnya dipanggil untuk menjadi Kaisar Roma. Titus adalah seorang penguasa yang memiliki kemampuan dan bijaksana. Tetapi sebelum kekuasaannya berkembang luas, dia meninggal dunia dan saudaranya Domitian dinobatkan untuk menduduki takhta. 

Domitian adalah seseorang yang sangat berbeda dengan ayahnya Vespasian dan saudaranya Titus. Domitian adalah seorang penguasa yang kejam dan haus darah. Dia adalah kaisar Roma yang pertama yang memerintahkan seluruh taklukannya untuk menyebut dia sebagai “Tuhan dan Allah kami.” Dia adalah Kaisar Roma yang pertama kali membuat patung dirinya dan menempatkannnya di seluruh tempat ibadah yang berada di seluruh, dan memerintahkan orang-orang untuk menyembahnya sebagai seorang allah. Dan orang-orang Kristus menolaknya dengan keras. Bagi mereka, dan juga sama seperti kita, tidak ada Allah lain selain Allah. Dan kita mengenalNya di dalam Yesus Kristus. Dan untuk bersujud di bawah sebuah patung atau gambar merupakan sebuah pemberhalaan. Dan tentu saja sebagian orang-orang Kristen yang berada di Asia memiliki kehidupan yang sulit, karena sejumlah besar dari mereka berada di dalam bagian imperium itu. Dan perintah untuk menyembah dan bersujud di hadapan patung Domitian dan menganggapnya sebagai allah merupakan sebuah penghinaan bagi mereka. 

Gembala jemaat di ibukota Propinsi Roma Asia adalah Yohanes, murid dari Tuhan sendiri, yang telah berusia lanjut. Dan di dalam masa penganiayaan Domitian, Yohanes dibuang ke Pulau Patmos. Patmos hanyalah salah satu tempat pembuangan dari banyak tempat pembuangan yang dimiliki oleh Domitian untuk orang-orang yang mendapat murkanya. Patmos adalah sebuah Pulau yang penuh dengan batu karang yang terletak sekitar dua puluh empat mil dari bagian barat pantai Asia Kecil, yang secara langsung berseberangan dengan Kota kuno Miletus. Pulau karang itu memiliki diameter sekitar dua puluh lima mil, yang memiliki dataran dari batu-batu yang keras. Dan tentu saja Yohnes tidak memakai belenggu, tanpa penjaga, ataupun dikurung dalam sebuah penjara. Dia memiliki akses yang bebas untuk menjelajahi seluruh Pulau kecil itu. Dan di tempat yang keras itu, tempat yang sangat cocok bagi dia ketika dia melihat sebuah penglihatan yang mulia yang disebut “Wahyu Yesus Kristus.”

Dia berbicara tentang dirinya sendiri di dalam pasal pertama dari kalimat yang akan menjadi teks kita: “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di Pulau yang bernama Patmos oleh karena Firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus” (Wahyu 1:9). Ini bukanlah hal yang asing atau baru atau sesuatu yang baru, bahwa Yohanes mengalami penderitaan di dalam pembuangan itu. Karena Yesus telah berkata bahwa salah satu tanda dari murid-muridNya adalah penganiayaan mereka dan penderitaan mereka. Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan kita berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” [Matius 5:10-12].  

Di dalam diskusi tentang akhir zaman yang disampaikan oleh Tuhan kita dalam Matius 24:9 Juruselamat kita berkata, “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku.”  Di dalam Injil Yohanes pasal enam belas, di dalam pembicaraan di ruang atas, untuk menghiburkan murid-muridNya Tuhan berkata, “Dalam dunia kamu akan menderita penganiayaan” (Yohanes 16:33). Dan Rasul Paulus di dalam surat terakhir yang dia tulis kepada anaknya dalam pelayanan berkata kepada Timotius di dalam 2 Timotius 3:12: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Itu adalah sebuah tanda dari pemuridan. Dan seluruh penderitaan dan pencobaan adalah sebuah tanda dari kemurahan sorga dan berkat Allah. 

Dan seluruh Perjanjian Baru adalah sebuah catatan dari penderitaan dari jemaat Tuhan kita. Yohanes Pembaptis mati dalam darahnya sendiri. Juru Selamat kita di salibkan di bawah langit yang terbuka, ditinggikan dari dunia. Dan kisah jemaat sejak awal ditulis dalam darah  dan dalam air mata. Di dalam Kisah Rasul pasal delapan ayat satu, “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat Yerusalem” (Kisah rasul 8:1). Dan kemudian dimulailah daftar yang panjang dari para martir yang terus berlanjut hingga pada masa yang sekarang ini. Stefanus dirajam dengan batu sampai mati di luar kota Yerusalem. Kepala Yakobus yang merupakan saudara Yohanes yang menulis Kitab Wahyu ini dipenggal dari tubuhnya oleh pedang yang kejam dari Herodes Agripa I. Di dalam Kitab Wahyu, pasal dua ayat tiga belas, Tuhan kita berbicara tentang martirNya, yaitu Antipas, yang dibunuh karena kesetiaannya kepada Firman Allah di kota Pergamus. Ketika Kitab Ibrani ditulis, dalam sebuah masa penganiayaan yang hebat, penulis Ibrani membuat seruan kepada jemaat kecil agar kita keluar gerbang, tanpa kemah, memikul celaan  terhadap Tuhan kita. Ketika Kitab Wahyu ditulis, Polikarpus adalah gembala di Smirna. Dan Polikarpus dibakar di tiang pembakaran. Ketika Kitab Ibrani ditulis, Ignatius adalah gembala di jemaat Antiokhia. Dia dihukum sampai mati. Dia dibawa ke Roma dan di sana dia disobek oleh binatang buas, dia orang Kristen pertama  yang mati di Koloseum Roma yang baru selesai dibangun. Ini adalah kisah dari umat Tuhan kita sepanjang generasi dan sepanjang abad. Dan pada pagi hari ini saya berbicara mengenai mengapa hal ini ada di dalam tujuan elektif Allah. 

Tuhan mengizinkan umatNya untuk dianiaya. Alasan yang pertama adalah hal ini: dari pencobaan dan kemartiran dan pemenjaraan dan penderitaan serta kesukaran umat Allah, Allah menyampaikan kebenaranNya bagi jiwa kita. Hal ini terlihat sangat jelas di dalam surat-surat Paulus. Kebanyakan pelayanan dari Paulus dihabiskan di dalam penjara. Bukankah hal itu terlihat seperti hanya menghabiskan hidupnya dengan sia-sia, ketika dia dapat memberitakan injil ke Dalmatia, atau ke Spanyol atau ke Gaul atau ke Libya atau ke Ionia? Tetapi kebanyakan hidupnya sebagai seorang Kristen dihabiskan di dalam sebuah kurungan. Mengapa Allah membiarkan hal itu? Karena dari penjara yang membatasinya itu, Paulus mengirim surat-surat yang secara praktis melengkapi seluruh Perjanjian Baru. Dari penderitaan kehidupan Rasul Paulus, kepada kita disingkapkan tentang kebenaran Allah yang merupakan fondasi dari jemaat-jemaat Yesus Kristus. Dari hidup yang patah dan mengalami rasa sakit serta menderita pukulan dan rajaman, Wahyu ini menjadi dikenal. Dan seandainya tidak ada penderitaan dan air mata serta pemenjaraan maka tidak akan ada penyingkapan bagi kita tentang  kebenaran yang hebat dari Allah yang hidup.   Allah mengizinkan umatNya untuk dianiaya. 

Kita menemukan sebuah contoh dari hal itu di dalam Wahyu itu sendiri. Tidak akan pernah ada tulisan Wahyu jika Yohanes tetap tinggal sebagai gembala di Efesus. Tetapi di dalam kesusahan besar itu, panggilan yang tidak biasa bagi umat Allah, di dalam tempat yang terpencil di Pulau yang penuh dengan bebatuan, yaitu di Pulau Patmos, Yohanes melihat penglihatan yang luar biasa dan kemudian dituliskan dalam Kitab Wahyu untuk memberikan penghiburan dan dorongan bagi kita di dalam kitab yang terakhir dari Firman Allah. 

Anda menemukan sebuah contoh tentang hal itu di dalam kehidupan Pengkhotbah Baptis kita yang luar biasa, yaitu John Bunyan. Karena dia menolak untuk berpaling dari mengkhotbahkan Injil Anak Allah, dia ditempatkan di Penjara Bedford selama dua belas tahun penuh. Salah satu karya sastra  yang paling pedih di dalam seluruh literatur Inggris adalah karya John Bunyan ketika dia menggambarkan rasa sakit di dalam hati ketika sedang melihat wajah anaknya yang buta dan miskin yang bernama Mary yang menjual  renda sehingga keluarga itu tetap memiliki makanan untuk dimakan. Hal itu akan membawa air mata ke dalam hati anda ketika John Bunyan menggambarkan rasa sakit di dalam hatinya ketika dia melihat anak gadisnya yang buta itu di dalam kelaparan dan kekurangan serta dalam pakaian yang kumal.   

Akan tetapi dari kurungan itu, dan dari pemenjaraan yang tragis itu, di dalam dua belas tahun kesunyian dalam kurungan itu, kita memiliki Alkitab sekuler dunia yang dekat dengan Kitab Suci itu sendiri, yang paling disukai dan yang paling sering dibaca dan yang paling terkenal dari seluruh karya sastra yang pernah dihasilkan dalam hidup manusia, yaitu, Pilgrim’s Progress—penglihatan yang penuh kemenangan dari orang Kristen di dalam perjalanan yang melelahkan ini menuju dunia yang akan datang. Dan seandainya tidak ada kesusahan dan penderitaan yang dilalui oleh John Bunyan, dia tidak akan melihat penglihatan dan alegori yang kita kenal di dalam Pilgrim’s Progress (Perjalanan Musafir). 

Alasan yang kedua mengapa Allah mengizinkan penderitaan dan mati martir serta pemenjaraan dan kesusahan umatNya, ditemukan dalam pencarian dan penemuan kembali dari kebenaran Allah yang telah menjadi gelap oleh tipu muslihat manusia. Tetapi hal itu dibawa kembali ke dalam terang di dalam api dari umat Allah yang mati martir. Kebenaran itu dikuburkan oleh tipu muslihat manusia, kebenaran itu disembunyikan oleh orang-orang yang berniat menjadi imam dari Allah Yang Maha Tinggi.  Kebenaran itu akan mati, akan binasa dari bumi jika tidak dibangkitkan kembali oleh para martir Allah. Kembali ke permulaan tahun 1300-an dan 1400-an, leluhur Baptis kita, yang selanjutnya disebut Baptis, membawa ke dalam terang kebenaran yang agung dari Firman Allah yang hidup. Tetapi mereka melakukannya dengan membuat diri mereka menjadi martir.

No comments: