Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 10, 2019

Utsman bin Affan

'Utsman bin Affan (Arab: عثمان بن عفان‎, 579 – 17 Juni 656 M/12 Dzulhijjah 35 H)[5] adalah khalifah ketiga yang berkuasa pada tahun 644 sampai 656 dan merupakan Khulafaur Rasyidin dengan masa kekuasaan terlama. Sama seperti dua pendahulunya, 'Utsman termasuk salah satu sahabat utama Nabi Muhammad. Pernikahannya berturut-turut dengan dua putri Nabi Muhammad membuatnya mendapat julukan Dzun Nurrain (pemilik dua cahaya).

Terlahir dari keluarga saudagar yang sejahtera, 'Utsman dikenal sebagai pribadi yang lembut dan murah hati. Sumbangsihnya yang paling menonjol dan sangat melekat padanya adalah kedermawanan dalam memberikan harta. 'Utsman pernah membeli sumur seorang Yahudi dengan harga sangat mahal saat kemarau dan mempersilakan penduduk mengambil air dari sana dengan cuma-cuma. Saat Perang Tabuk meletus, 'Utsman turut serta menyumbangkan ratusan unta dan kuda selain uang sejumlah ribuan dirham.

Sepeninggal 'Umar, 'Utsman menggantikannya sebagai khalifah pada saat usianya sudah menginjak sekitar 64 atau 65 tahun, menjadikannya sebagai salah satu khalifah tertua saat berkuasa. Berbeda dengan 'Umar yang memusatkan segala urusan negara dalam kendali kuat khalifah, 'Utsman cenderung memberikan hak otonomi yang lebih longgar pada bawahannya. Hal ini menjadikan perluasan wilayah kekhalifahan dapat dilangsungkan secara lebih mandiri, sehingga dapat mencapai wilayah yang lebih jauh. Pada masanya, kekhalifahan sudah mencapai Khorasan Raya (kawasan Asia Tengah) di batas timur. Di masanya, masyarakat Muslim dan non-Muslim menjadi lebih makmur dalam masalah ekonomi dan menikmati kebebasan yang lebih besar di bidang politik.

Terlepas dari segala capaian dan sumbangsih yang telah dilakukan, 'Utsman dikritik keras atas beberapa kebijakannya, yang utama terkait keluarga besarnya yang dipandang lebih dikedepankan untuk menempati berbagai kedudukan penting. Kelonggaran yang diberikan 'Utsman juga menjadi jalan bagi pihak oposisi untuk melakukan demonstrasi besar hingga berujung pada upaya pemberontakan dan pengepungan kediamannya pada tahun 656. Meski demikian, 'Utsman yang tidak mau menjadi penyebab perang saudara menolak bantuan militer dari sanak saudaranya atau pihak lain, menjadikannya terbunuh pada akhir pengepungan.

Utsman dilahirkan dari seorang yang ayah yang bernama Affan bin Abi al-'As , dari suku bani Umayyah, dan ibu yang bernama Arwa binti Kurayz , dari Abdshams , kedua suku kaya dan terpandang Quraish di Mekah . Utsman memiliki satu saudara perempuan, Amina. Utsman lahir di Ta'if. Ia tercatat sebagai salah satu dari 22 orang Mekah yang tahu cara menulis.

Ayahnya, Affan, meninggal di usia muda saat bepergian ke luar negeri, meninggalkan Utsman dengan warisan besar. Ia menjadi pedagang seperti ayahnya, dan bisnisnya berkembang, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di antara orang Quraiys.

Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Beliau dikenal sebagai pedagang yang kaya raya dan handal dalam bidang ekonomi namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah S.A.W yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah S.A.W sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah S.A.W, "Abu Bakar masuk tetapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?" Rasullullah menjawab, "Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?"

Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah S.A.W memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat wali kota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

Dimasa nabi Muhammad

Sekembalinya dari perjalanan bisnis ke Suriah pada tahun 611, Utsman mengetahui tentang misi yang dinyatakan Muhammad. Setelah berdiskusi dengan temannya, Abu Bakar , Utsman memutuskan untuk masuk Islam, dan Abu Bakar membawanya kepada Muhammad untuk menyatakan imannya. Utsman menjadi salah satu orang yang paling awal masuk Islam, mengikuti Ali , Zaid , Abu Bakar dan beberapa lainnya. Masuknya ia ke dalam agama Islam membuat marah sukunya, Bani Ummayyah, yang sangat menentang ajaran Muhammad.

Hijrah ke Habbasyiah

Utsman dan istrinya, Ruqayyah, bermigrasi ke Habbasyiah (Etiopia pada saat sekarang) pada bulan April 615, bersama dengan sepuluh pria Muslim dan tiga wanita. Sejumlah Muslim bergabung dengan mereka kemudian. Karena Utsman sudah memiliki beberapa kontak bisnis di Abyssinia, ia terus mempraktekkan profesinya sebagai pedagang dan ia terus berkembang.

Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah S.A.W ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad S.A.W untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka'bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

Setelah empat tahun, berita menyebar di kalangan Muslim di Habbasyiah bahwa orang-orang Quraisy di Mekkah telah menerima Islam, dan penerimaan ini membujuk Utsman, Ruqayyah dan 39 Muslim lainnya untuk kembali. Namun, ketika mereka sampai di Mekah, mereka menemukan bahwa berita tentang penerimaan Quraish terhadap Islam adalah salah. Namun demikian, Utsman dan Ruqayyah kembali menetap di Mekkah.

Hijrah ke Madinah

Pada 622, Utsman dan istrinya, Ruqayyah, berada di antara kelompok ketiga Muslim untuk bermigrasi ke Madinah. Setelah sampai, Utsman tinggal bersama Abu Talha bin Thabit sebelum pindah ke rumah yang ia beli beberapa waktu setelahnya. Utsman adalah salah satu pedagang terkaya di Mekkah, tanpa membutuhkan bantuan keuangan dari saudara-saudara Ansari , karena ia telah membawa kekayaan yang sangat besar yang telah ia kumpulkan dengannya ke Madinah. Sebagian besar Muslim Madinah adalah petani dengan sedikit minat dalam perdagangan, dan orang Yahudi telah melakukan sebagian besar perdagangan di kota. Utsman menyadari ada peluang komersial yang besar untuk mempromosikan perdagangan di kalangan umat Islam dan segera memantapkan dirinya sebagai pedagang di Madinah. Dengan kerja keras dan kejujuran, bisnisnya berkembang pesat, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di Madinah.

Kehidupan di Madinah

Ketika Ali menikahi Fatimah , Utsman membeli tameng Ali seharga lima ratus dirham. Empat ratus disisihkan sebagai mahar untuk pernikahan Fatimah, meninggalkan seratus untuk semua pengeluaran lainnya. Kemudian, Utsman mempersembahkan baju besi kembali ke Ali sebagai hadiah pernikahan.

Khalifah Abu Bakar (632-634)

Utsman memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Abu Bakar, karena itu karena dia yang telah pindah ke Islam Uthman. Ketika Abu Bakar terpilih sebagai khalifah, Utsman adalah orang pertama setelah Umar menawarkan kesetiaannya. Selama perang Ridda Utsman tetap di Madinah, bertindak sebagai penasihat Abu Bakar. Di ranjang kematiannya, Abu Bakar mendiktekan keinginannya kepada Utsman, mengatakan bahwa penggantinya adalah Umar.

Pemilihan Utsman

Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan , Abdul Rahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa'ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

Utsman adalah seorang saudagar kaya yang menggunakan kekayaannya untuk mendukung Islam namun tidak pernah sebelum kekhalifahannya menunjukkan kualitas kepemimpinan atau benar-benar memimpin pasukan. Tetapi meskipun demikian, menurut Wilferd Madelung , ia dipilih oleh para pemilih sebagai satu-satunya calon kontra yang kuat untuk Ali karena ia sendiri dapat sampai batas tertentu menyaingi hubungan kekerabatan dekat Ali dengan Nabi.

RVC Bodley percaya bahwa setelah pembunuhan Umar, Ali menolak khalifah karena ia tidak setuju dengan mengatur sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Abu Bakar dan Umar, dan bahwa Utsman menerima ketentuan-ketentuan dan ia gagal untuk administrasi selama sepuluh tahun kekhalifahannya.

Berkuasa sebagai Khalifah (644–656)

Utsman adalah seorang pengusaha cerdas dan seorang pedagang yang sukses dari masa mudanya, yang berkontribusi besar pada Kekaisaran Rashidun. Umar telah menetapkan tunjangan orang-orang dan dengan asumsi kantor, Uthman meningkatkannya sekitar 25%. Umar telah menempatkan larangan penjualan tanah dan pembelian lahan pertanian di wilayah yang ditaklukkan. Utsman mencabut pembatasan ini, mengingat fakta bahwa perdagangan tidak bisa berkembang. Utsman juga mengizinkan orang untuk menarik pinjaman dari perbendaharaan publik. Di bawah Umar, telah ditetapkan sebagai kebijakan bahwa tanah di wilayah yang ditaklukkan tidak boleh didistribusikan di antara para petempur, tetapi tetap menjadi milik dari pemilik sebelumnya. Tentara merasa tidak puas dengan keputusan ini, tetapi Umar menekan oposisi dengan tangan yang kuat. Utsman mengikuti kebijakan yang dibuat oleh Umar dan ada lebih banyak penaklukan, dan pendapatan dari tanah meningkat secara signifikan.

Umar, pendahulu Utsman, sangat ketat dalam penggunaan uang dari perbendaharaan publik. Terlepas dari tunjangan kecil yang telah disetujui untuknya, Umar tidak mengambil uang dari perbendaharaan. Dia tidak menerima hadiah apa pun, dia juga tidak mengizinkan anggota keluarganya untuk menerima hadiah apa pun dari setiap kuartal. Selama waktu Utsman, ada beberapa relaksasi dalam ketegasan seperti itu. Utsman tidak menarik tunjangan apa pun dari perbendaharaan untuk keperluan pribadinya, juga tidak menerima gaji , ia adalah orang kaya dengan sumber daya yang cukup, tetapi tidak seperti Umar, Utsman menerima hadiah dan mengizinkan anggota keluarganya untuk menerima hadiah dari tertentu. kamar. Utsman secara jujur ​​menyatakan bahwa ia memiliki hak untuk memanfaatkan dana publik sesuai dengan penilaian terbaiknya, dan tidak ada yang mengkritiknya untuk itu. Reformasi ekonomi yang diperkenalkan oleh Utsman telah mencapai efek yang jauh; Muslim maupun non-Muslim dari Kekaisaran Rashidun menikmati kehidupan yang sejahtera secara ekonomi selama masa pemerintahannya.

Ekspansi militer
Selama pemerintahannya, gaya militer Utsman lebih bersifat otonom karena ia mendelegasikan begitu banyak wewenang militer kepada orang-orang yang dipercayanya seperti Abdullah bin Aamir, Muawiyah dan Abdullāh bin Sa'ad bin Abi as-Sarâḥ , tidak seperti masa jabatan Umar di mana militer ekspansi pada umumnya terpusat pada otoritas Umar. Konsekuensinya, ekspansi yang lebih independen ini memungkinkan ekspansi yang lebih menyeluruh sampai Sindh, Pakistan , yang tidak tersentuh selama masa pemerintahan Umar.

Muawiyah ditunjuk sebagai gubernur Suriah oleh Umar pada tahun 639 untuk menghentikan Bizantium dari laut selama Perang Arab-Bizantium. Penunjukan ini terjadi setelah kakak laki-lakinya Yazid bin Abi Sufyan (gubernur Suriah) meninggal dalam wabah, bersama dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah , gubernur di hadapannya dan 25.000 orang lainnya. Sekarang, di bawah kekuasaan Utsman pada tahun 649, Muawiyah diizinkan untuk mendirikan angkatan laut, diawaki oleh orang - orang Kristen Monofisit , Koptik , dan para pelaut Kristen Suriah dan Pasukan Suriah . Hal ini mengakibatkan kekalahan angkatan laut Byzantium pada Pertempuran di Tengah-Tengah pada tahun 655.

Dalam Hijriah tahun 31 atau sekitar 651 M, Khalifah Utsman mengirim Abdullah bi Zubayr dan Abdullah bin Saad untuk memimpin ekspedisi rekonsiliasi ke Maghreb di mana ia bertemu tentara Gregory the Patrician , Exarch of Africa dan kerabat Heraclius yang mencatat angka antara 120.000 dan 200.000 tentara, Meskipun perkiraan lain dicatat, pasukan Gregory dimasukkan ke dalam 20.000. Pasukan oposisi bentrok di Sabuthilag (secara bergantian disebut Sufetula), yang menjadi nama pertempuran ini. Catatan dari al-Bidayah wal Nihayah menyatakan bahwa pasukan Abdullah sepenuhnya dikelilingi oleh pasukan Gregory dengan cara melingkar dan situasinya sangat mengerikan bagi tentara Muslim karena mereka diancam dengan peleburan. Namun, Abdullah ibn Zubayr melihat Gregory di kereta dan segera dia meminta Abdullah ibn Sa'd untuk memimpin detasemen kecil untuk mencegatnya. Interupsi berhasil, dan Gregory dibunuh oleh pihak penyergapan Zubayr. Akibatnya, moral tentara Bizantium mulai runtuh dan segera mereka dialihkan.

Beberapa sumber Muslim mengklaim bahwa setelah penaklukan Afrika utara selesai oleh Muhammad ibn Jarir al-Tabari , Abdullah ibn Sa'd melanjutkan penaklukan ke Spanyol . Spanyol pertama kali diserang sekitar enam puluh tahun sebelumnya selama kekhalifahan Utsman. Sejarawan Muslim terkemuka lainnya seperti, Ibn Kathir , juga mengutip narasi yang sama. Dalam deskripsi kampanye ini, di mana Afrika Utara ditaklukkan oleh Abdullah ibn Saad, dua jenderalnya, Abdullah ibn Nafiah ibn Husain, dan Abdullah ibn Nafi 'ibn Abdul Qais, ditugaskan untuk menyerbu daerah pesisir Spanyol dengan bantuan laut. oleh kekuatan Berber. Mereka berhasil menaklukkan daerah pesisir Al-Andalus. Tidak diketahui di mana pasukan Muslim mendarat, perlawanan apa yang mereka temui, dan bagian Spanyol apa yang sebenarnya mereka taklukkan. Namun, jelas bahwa umat Islam menaklukkan beberapa bagian dari Spanyol selama kekhalifahan Utsman, mungkin membangun koloni di pantai. Pada kesempatan ini, Utsman dilaporkan telah mengirim surat kepada pasukan penyerang:

"Konstantinopel akan ditaklukkan dari sisi Al-Andalus . Jadi, jika Anda menaklukkannya, Anda akan mendapat kehormatan mengambil langkah pertama menuju penaklukan Konstantinopel. Anda akan mendapat imbalan Anda atas nama ini baik di dunia ini dan di akhirat."
Meskipun penggerebekan oleh Berber dan Muslim dilakukan terhadap Kerajaan Visigothic di Spanyol selama akhir abad ke-7, tidak ada bukti bahwa Spanyol diserang atau bahwa bagian dari itu ditaklukkan atau diselesaikan oleh Muslim sebelum kampanye 711 oleh Tariq.

Abdullah ibn Saad juga melanjutkan kesuksesannya dalam pertempuran Angkatan Laut Khalifah pertama melawan Kekaisaran Bizantium dalam Pertempuran di Mestan yang digambarkan sebagai konflik pertama yang menentukan Islam di kedalaman Byzantine di lepas pantai.

Khilafah Rashidun pada puncaknya di bawah Utsman (654)

Di timur Ahnaf ibn Qais , kepala Banu Tamim dan seorang komandan veteran yang menaklukkan Shustar sebelumnya. Sekarang di rezim Utsman, Ahnaf meluncurkan serangkaian ekspansi militer lebih lanjut yang sukses dengan menganiaya lebih lanjut Yazdegerd III dekat Sungai Oxus di Turkmenistan dan kemudian menghancurkan koalisi militer loyalis kekaisaran Sassanid dan Kerajaan Hephthalite dalam Pengepungan Herat . Kemudian gubernur Basra , Abdullah ibn Aamir juga memimpin berbagai kampanye yang sukses yang berkisar dari penghukuman re-hukuman dari penduduk yang memberontak Fars, Kerman, Sistan, Khorasan sampai pembukaan front penaklukan baru di Transoxiana dan Afghanistan .

Pada tahun berikutnya 652 AD, terjemahan catatan dari Futh Al-Buldan dari Baladhuri menulis bahwa Balochistan ditaklukkan kembali selama kampanye melawan pemberontakan di Kermān, di bawah komando Majasha ibn Mas'ud. Ini adalah pertama kalinya bahwa Balochistan barat datang langsung di bawah Hukum Kekhalifahan dan itu membayar penghargaan pertanian.

Kampanye militer di bawah kekuasaan Utsman pada umumnya berhasil, kecuali beberapa kampanye di kerajaan Nubia di Nil bagian bawah.

Penentangan publik terhadap kebijakan Utsman

Situasi menjadi tegang dan administrasi Utsman harus menyelidiki asal-usul dan perluasan propaganda anti-pemerintah dan tujuan-tujuannya. Beberapa waktu sekitar 654, Utsman memanggil semua gubernur dari 12 provinsinya ke Madinah untuk membahas masalah itu. Dalam Dewan Gubernur ini, Utsman mengarahkan para gubernur agar mereka mengadopsi semua saran yang mereka sarankan, sesuai dengan keadaan setempat. Kemudian, di Majlis al Shurah (dewan kementerian), disarankan kepada Utsman bahwa agen yang dapat dipercaya harus dikirim ke berbagai provinsi untuk menyelidiki masalah ini dan melaporkan tentang sumber-sumber desas-desus tersebut. Utsman kemudian mengirim agen-agennya ke provinsi-provinsi utama, Muhammad ibn Maslamah dikirim ke Kufah; Usama ibn Zayd dikirim ke Basra; Ammar ibn Yasir dikirim ke Mesir, sementara; Abdullah ibn Umar dikirim ke Suriah. Para utusan yang telah dikirim ke Kufah, Basra dan Suriah menyerahkan laporan mereka kepada Utsman, bahwa semuanya baik-baik saja di Kufah, Basra dan Suriah. Orang-orang puas dengan administrasi, dan mereka tidak memiliki keluhan yang sah terhadapnya. Beberapa individu di berbagai lokasi memiliki beberapa keluhan pribadi karakter minor, dengan mana orang-orang pada umumnya tidak peduli. Ammar bin Yasir, utusan ke Mesir, bagaimanapun, tidak kembali ke Madinah. Para pemberontak meneruskan propaganda mereka demi mendukung Khilafah Ali. Ammar ibn Yasir telah berafiliasi dengan Ali; dia meninggalkan Utsman, dan malah bergabung dengan oposisi di Mesir. Abdullah ibn Saad, gubernur Mesir, melaporkan tentang kegiatan oposisi di Mesir. Dia ingin mengambil tindakan terhadap Muhammad ibn Abi Bakr ( anak angkat Ali ), Muhammad bin Abi Hudhaifa ( anak angkat Usman ) dan Ammar ibn Yasir.

Upaya Utsman untuk menenangkan para pembangkang
Pada tahun 655, Utsman mengarahkan orang-orang yang memiliki keluhan terhadap administrasi untuk berkumpul di Mekkah untuk Haji. Dia berjanji kepada mereka bahwa semua keluhan mereka yang sah akan diperbaiki. Dia mengarahkan para gubernur dan "Amil" ke seluruh kekaisaran untuk datang ke Mekkah pada saat haji. Menanggapi panggilan Utsman, oposisi datang dalam delegasi besar dari berbagai kota untuk menyampaikan keluhan mereka sebelum pertemuan.

Para pemberontak menyadari bahwa orang-orang di Mekah mendukung pembelaan yang ditawarkan oleh Utsman dan tidak berminat untuk mendengarkan mereka. Itu adalah kemenangan psikologis yang besar bagi Utsman. Dikatakan, menurut catatan Sunni Muslim, bahwa sebelum kembali ke Suriah, gubernur Muawiyah , sepupu Utsman, menyarankan bahwa Utsman harus datang bersamanya ke Suriah karena suasana di sana damai. Utsman menolak tawarannya, mengatakan bahwa dia tidak ingin meninggalkan kota Muhammad (mengacu pada Madinah). Muawiyah kemudian menyarankan agar dia diizinkan mengirim pasukan yang kuat dari Suriah ke Madinah untuk menjaga Utsman terhadap kemungkinan upaya pemberontak untuk mencelakainya. Utsman juga menolaknya, mengatakan bahwa pasukan Suriah di Madinah akan menjadi hasutan untuk perang saudara , dan dia tidak bisa menjadi pihak yang bergerak seperti itu.

Pemberontakan bersenjata terhadap Utsman
Politik Mesir memainkan peran utama dalam perang propaganda melawan kekhalifahan, sehingga Utsman memanggil Abdullah ibn Saad, gubernur Mesir, ke Medina untuk berkonsultasi dengannya mengenai tindakan yang harus diadopsi. Abdullah bin Saad datang ke Madinah, meninggalkan urusan Mesir kepada wakilnya, dan dalam ketidakhadirannya, Muhammad bin Abi Hudhaifa melakukan kudeta dan mengambil alih kekuasaan. Saat mendengar pemberontakan di Mesir, Abdullah bergegas kembali, tetapi Utsman tidak dalam posisi untuk menawarkan bantuan militer kepadanya dan, karenanya, Abdullah bin Saad gagal merebut kembali kekuasaannya karena Kekuatan Islamnya yang Besar datang dari Timur.

Beberapa ulama Sunni seperti Ibn Qutaybah , Ali bin Burhanuddin al-Halabi, Ibne Abi-al-Hadeed dan Ibne Manzur melaporkan bahwa ada beberapa Sahaba terkemuka bersama mereka yang secara terbuka menentang dan meminta Utsman untuk mundur karena alasan-alasan seperti nepotisme dan boros gaya hidup. Talha dan Zubayr ibn al-Awam termasuk di antara mereka yang memimpin para pemberontak sementara Aisha bahkan telah memanggil kepala Utsman dengan pernyataannya yang terkenal "Bunuh Na'thal ini (seorang Sheik yang bodoh) karena ia telah berubah menjadi murtad" sebagaimana dicatat oleh beberapa sejarawan terkemuka.

Pemberontak di Madinah
Dari Mesir, sebuah kontingen sekitar 1.000 orang dikirim ke Madinah, dengan instruksi untuk membunuh Utsman dan menggulingkan pemerintah. Kontingen serupa berbaris dari Kufah dan Basra ke Madinah. Mereka mengirim wakil mereka ke Madinah untuk menghubungi para pemimpin opini publik. Perwakilan dari kontingen dari Mesir menunggu Ali, dan menawarinya Khilafah sebagai pengganti Utsman, yang ditolak oleh Ali. Perwakilan dari kontingen dari Kufa menunggu di Al-Zubayr, sementara perwakilan dari kontingen dari Basra menunggu di Talhah , dan menawarkan mereka kesetiaan mereka sebagai khalifah berikutnya, yang ditolak. Dalam mengajukan alternatif kepada Utsman sebagai Khalifah, para pemberontak menetralisir sebagian besar opini publik di Madinah dan faksi Uthman tidak bisa lagi menawarkan front persatuan. Utsman mendapat dukungan aktif dari Bani Umayyah, dan beberapa orang lain di Madinah.

Pengepungan Utsman
Tahap awal pengepungan rumah Utsman tidak parah, tetapi ketika hari-hari berlalu, para pemberontak meningkatkan tekanan mereka terhadap Utsman. Dengan kepergian para peziarah dari Medina ke Mekah, tangan para pemberontak semakin diperkuat, dan sebagai konsekuensinya krisis semakin diperdalam. Para pemberontak memahami bahwa setelah Haji, umat Islam berkumpul di Mekah dari semua bagian dunia Muslim mungkin berbaris ke Madinah untuk membebaskan Utsman. Karena itu mereka memutuskan untuk mengambil tindakan terhadap Utsman sebelum ziarah berakhir. Selama pengepungan, Utsman ditanya oleh para pendukungnya, yang kalah jumlah dengan para pemberontak, untuk membiarkan mereka berperang melawan pemberontak dan mengusir mereka. Utsman mencegah mereka dalam upaya untuk menghindari pertumpahan darah Muslim oleh Muslim. Sayangnya bagi Utsman, kekerasan masih terjadi. Gerbang-gerbang rumah Utsman ditutup dan dijaga oleh prajurit yang terkenal, Abd-Allah bin al-Zubayr. Putra-putra Ali, Hasan ibn Ali, dan Husayn ibn Ali , juga menjadi salah satu penjaga.

Kematian

Pada tanggal 17 Juni 656, ketika menemukan gerbang rumah Utsman yang dijaga ketat oleh para pendukungnya, pemberontak Mesir memanjat dinding belakang dan merayap masuk, meninggalkan para penjaga di gerbang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Para pemberontak memasuki kamarnya dan memukul kepalanya. Naila , istri Utsman, melemparkan dirinya ke tubuhnya untuk melindunginya dan mengangkat tangannya untuk membelokkan pedang. Dia memiliki jari-jarinya dipotong dan disingkirkan. Pukulan berikutnya membunuh Utsman. Beberapa budak Uthman menyerang balik, salah satunya membunuh pembunuh bayaran itu dan pada gilirannya dibunuh oleh para pemberontak.

Para perusuh mencoba memenggal mayat Uthman, tetapi dua janda, Nailah dan Umm al-Banin, melemparkan diri mereka ke tubuh dan berteriak, memukul wajah mereka dan merobek pakaian mereka, sampai para perusuh itu terhalang. Sebaliknya, mereka menjarah rumah, bahkan merenggut cadar wanita. Para pemberontak meninggalkan rumah dan para pendukung Utsman di gerbang mendengar mereka dan masuk, tetapi sudah terlambat.

Pemakaman
Setelah mayat Utsman sudah ada di rumah selama tiga hari, Naila, istri Utsman, mendekati beberapa pendukungnya untuk membantu penguburannya, tetapi hanya sekitar selusin orang yang menjawab. Ini termasuk Marwan, Zayd ibn Thabit , 'Huwatib bin Alfarah, Jubayr ibn Mut'im , Abu Jahm bin Hudaifa, Hakim bin Hazam dan Niyar bin Mukarram. Tubuh diangkat saat senja, dan karena blokade, tidak ada peti mati yang bisa diperoleh. Tubuh tidak dicuci, karena ajaran Islam menyatakan bahwa tubuh para martir tidak seharusnya dicuci sebelum dimakamkan. Dengan demikian, Utsman dibawa ke kuburan di pakaian yang dia kenakan pada saat pembunuhannya.

Tubuhnya dikuburkan oleh Hassan, Hussein, Ali dan lainnya, namun; beberapa orang menyangkal bahwa Ali menghadiri pemakaman Naila mengikuti pemakaman dengan lampu, tetapi untuk menjaga kerahasiaan lampu itu harus dipadamkan. Naila ditemani oleh beberapa wanita termasuk putri Uthman, Aisha.

Mayat itu dibawa ke Jannat al-Baqi , kuburan Muslim. Tampaknya bahwa beberapa orang berkumpul di sana, dan mereka menolak penguburan Utsman di kuburan kaum Muslim. Para pendukung Utsman bersikeras bahwa tubuh harus dimakamkan di Jannat al-Baqi. Mereka kemudian menguburkannya di kuburan orang Yahudi di belakang Jannat al-Baqi. Beberapa dekade kemudian, para penguasa Umayyah menghancurkan tembok yang memisahkan dua kuburan dan menggabungkan pemakaman Yahudi ke pemakaman Muslim untuk memastikan bahwa makamnya kini berada di dalam pemakaman Muslim.

Doa pemakaman dipimpin oleh Jabir bin Muta'am, dan mayat itu diturunkan ke dalam kubur tanpa banyak upacara. Setelah dimakamkan, Naila janda Utsman dan Aisha putrinya ingin berbicara, tetapi mereka disarankan untuk tetap diam karena bahaya yang mungkin dari para perusuh.

Penyebab pemberontakan
Alasan sebenarnya untuk gerakan anti-Utsman diperdebatkan di kalangan Muslim Syiah dan Sunni. Menurut sumber-sumber Sunni, tidak seperti pendahulunya, Umar, yang mempertahankan disiplin dengan tangan yang keras, Utsman kurang teliti terhadap kekuasaan yang ia pegang dan lebih fokus pada kemakmuran ekonomi. Di bawah Utsman, orang-orang menjadi lebih makmur secara ekonomi dan di bidang politik mereka datang untuk menikmati kebebasan yang lebih besar. Tidak ada lembaga yang dirancang untuk menyalurkan kegiatan politik, dan, dengan tidak adanya institusi semacam itu, kecemburuan dan persaingan kesukuan pra-Islam, yang telah ditekan di bawah khalifah sebelumnya, meletus sekali lagi. Dalam pandangan kebijakan lunak yang diadopsi oleh Utsman, orang-orang mengambil keuntungan dari kebebasan seperti itu, yang akhirnya memuncak dalam pembunuhan Utsman.

Menurut Wilferd Madelung , selama pemerintahan Utsman, "keluhan terhadap tindakannya yang sewenang-wenang itu substansial menurut standar waktunya. Sumber-sumber sejarah menyebutkan catatan panjang tentang kesalahan yang dituduhkan padanya ... Hanya kematiannya yang kejam yang datang untuk membebaskannya. dalam ideologi Sunni dari ahath dan membuatnya menjadi martir dan Khalifah Ketiga yang Dipandu. " Menurut Keaney Heather, Utsman, sebagai seorang khalifah, hanya mengandalkan kemauannya sendiri dalam memilih kabinetnya, yang menyebabkan keputusan yang memunculkan resistensi dalam komunitas Muslim. Memang, gaya pemerintahannya membuat Utsman salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Islam.

Perlawanan terhadap Utsman berawal karena dia lebih menyukai anggota keluarga daripada yang lain dalam memilih gubernurnya, dengan alasan bahwa dengan melakukan ini, dia akan dapat memberikan pengaruh lebih pada bagaimana kekhalifahan itu dijalankan dan akibatnya memperbaiki sistem kapitalis yang dia usahakan untuk didirikan. Kebalikannya ternyata benar dan orang yang ditunjuknya lebih memiliki kendali atas bagaimana dia menjalankan bisnis daripada yang semula ia rencanakan. Mereka melangkah lebih jauh untuk memaksakan otoritarianisme atas provinsi-provinsi mereka. Memang, banyak surat kaleng yang ditulis kepada teman-teman terkemuka Muhammad, mengeluh tentang dugaan tirani gubernur yang ditunjuk Uthman. Selain itu, surat-surat dikirim ke para pemimpin opini publik di berbagai provinsi terkait pelecehan kekuasaan yang dilaporkan oleh keluarga Utsman. Ini berkontribusi pada kerusuhan di kekaisaran dan akhirnya Utsman harus menyelidiki masalah ini dalam upaya untuk memastikan keaslian gosip tersebut. Wilferd Madelung mendiskreditkan dugaan peran Abdullah bin Saba dalam pemberontakan melawan Utsman dan mengamati bahwa beberapa jika ada sejarawan modern akan menerima legenda Sayf tentang Ibnu Saba.

Kekhalifahan Rasyidin

Kekhalifahan Rasyidin (Arab: الخلافة الراشدية‎ al-khilafat ar-Rāsyidīyah) adalah kekhalifahan yang berdiri setelah kematian Muhammad pada tahun 632 M, atau tahun 10 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin. Pada puncak kejayaannya, Kekhalifahan Rasyidin membentang dari Jazirah Arab, sampai ke Levant, Kaukasus dan Afrika Utara di barat, serta sampai ke dataran tinggi Iran dan Asia Tengah di timur. Kekhalifahan Rasyidin merupakan negara terbesar dalam sejarah sampai masa tersebut.

Muhammad tidak mengajarkan secara langsung bagaimana memilih pemimpin setelah dia meninggal. Secara tidak langsung, Islam memberikan kebebasan untuk membuat model pemilihan khalifah. Kepemimpinan keempat Khulafaur Rasyidin pun berbeda-beda sesuai dengan karakter pribadi dan situasi masyarakatnya.

Abu Bakar Ash Shiddiq

Semasa hidupnya, Nabi Muhammad. tidak pernah menitipkan pesan dan menunjuk siapa kelak yang akan menjadi pengganti dan penerus atas kepemimpinan-nya, sehingga sepeninggal beliau terjadilah beberapa perselisihan ketika proses pengangkatan Khalifah khusus nya antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kaum Anshar menawarkan Saad bin Ubadah sebagai Khalifah dari golongan mereka, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menawarkan Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah. Abu Bakar menegaskan bahwa kaum Muhajirin telah di istimewakan oleh Allah Swt karena pada permulaan Islam mereka telah mengakui Muhammad sebagai Nabi dan tetap bersamanya dalam situasi apapun, sehingga pantaslah Khalifah muncul dari kaum Muhajirin.

Umar bin Khattab menolak usulan dari Abu Bakar. Umar mengatakan bahwa Abu Bakar yang pantas menjadi Khalifah dari kaum Muhajirin. Setelah melalui musyawarah, disepakati bahwa Abu Bakar yang pantas menjadi Khalifah. Adapun kesepakatan tersebut karena Abu Bakar adalah : a. Orang pertama orang yang mengakui peristiwa Isra' Mikraj, b. Orang yang menemani Nabi Muhammad Saw berhijrah ke Madinah. c. Orang yang sangat gigih dalam melindungi orang yang memeluk agama Islam dan d. Imam shalat sebagai penggati Nabi Muhammad ketika sedang sakit.

Setelah sepakat, Umar bin Khattab menjabat tangan Abu Bakar dan menyatkakan baiatnya kepada Abu Bakar. Lalu diiukti oleh Sa'ad bin Ubadah. Dan Umat Islam seluruhnya. Abu Bakar menamai dirinya sebagai Khalifatur Rasul atau sebagai pengganti Muhammad.

Semasa kepemimpinannya yang singkat, beliau memprioritaskan penyelesaian problem dalam negeri. Beberapa kelompok berusaha melepaskan diri dari jamaah Islam. mereka menggangkap setelah Muhammad meninggal maka berakhir pula kekuasaan Islam terhadap mereka. Selain itu beberapa orang mengaku sebagai nabi pengganti Muhammad. Juga ada yang menolak membayar zakat. Terhadap ketiga pembelot tersebut, Abu Bakar memutuskan untuk memerangi mereka. Pusat kekuasaan bersifat sentralistik. Segala keputusan ada di tangan Khalifah Abu Bakar. Walaupun begitu, dia selalu mengadakan musyawarah dengan para Sahabatnya sebelum memutuskan sesuatu. Seperti keputusan untuk memerangi orang yang tidak membayar zakat. Terjadi musyawarah dengan Umar bin Khattab. Dan alasan Abu Bakar bahwa tidak ada yang memisahkan antara shalat dan zakat al-Qur'an. Dia beralasan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkannya, shalat dan zakat adalah kesatuan rukun Islam yang tidak boleh dipisahkan.

Abu Bakar menunjuk langsung Umar bin Khattab sebagai penggantinya dengan mempertimbangkan situasi politik yang ada. Beliau khawatir kalau pengangkatan melalui proses pemilihan seperti pada masanya akan memperkeruh situasi politik. Selain itu agar pelaksanaan pembangunan dan pengembangan Islam akan terhambat.

Umar bin Khattab
Sebelum meninggal, Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepada para Sahabatnya tentang penunjukan Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Beliau menanyakan hal itu kepada Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Asid bin Hudhair Al-Anshary, Sa'id bin Zaid serta sahabat-sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar. Pada umumnya mereka setuju dengan Abu Bakar dan kemudian disetujui oleh kaum muslim dengan serempak. Ketika Abu Bakar sakit, beliau memanggil Utsman bin Affan untuk menulis wasiat yang berisi tentang penunjukan Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Tujuannya agar ketika sepeninggal beliau tidak ada kemungkinan perselisihan di kalangan umat Islam untuk masalah Khalifah. Keputusan Abu Bakar tersebut diterima oleh Umat Islam. sehingga mereka secara beramai-rama membaiat Umar sebagai Khalifah. Dengan demikian keputusan tersebut bukan keputusan Abu Bakar sendiri namun persetujuan umat Muslim semua. Umar mengumumkan dirinya bukan sebagai Khalifatur Rasul atau pengganti Rasul tapi sebagai Amirul Mukminin atau pemimpin orang-orang beriman. Umar menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun.

Umar memprioritaskan perluasan Islam. perluasan Islam mencapai sepertiga dunia. Islam bisa tersebar sampai ke daratan Eropa. Gaya kepemimpinannya membawa Islam menjadi kekuatan yang diperhitungankan. Posisi Islam menyamai kekuatan besar yaitu Romawi dan Persia. Umar bin Khattab menerapkan sistem administrasi pemerintahan yang diadopsi dari Persia. Administrasi pemerintahan mengatur delapan wilayah provinsi yaitu Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah, Kuffah, Palestina, dan Mesir. Beberapa Departemen didirikan untuk mengatur gaji dan pajak tanah sehingga berdiri Baitul Mal. Dalam merapikan sistem admnistrasi, dia menerapkan kalender Hijriah. Penanggalan berdasarkan [[hijrah Muhammad ke Madinah dan bulan Muharam sebagai awal bulan kalender Hijriyah.

Utsman bin Affan
Ketika Umar sakit keras karena tertikam oleh Abu Lu'lu'ah al-Majusi seorang budak asal persia, dia membentuk tim formatur yang terdiri dari Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abi Waqqas. Tugas tim formatur memilih salah seorang diantara mereka sebagai penggantinya. Abdurrahman bin Auf dipercaya menjadi ketua tim formatur. Setelah Umar bin Khattab wafat, tim formatur mengadakan rapat. Empat orang anggota mengundurkan diri menjadi calon Khalifah sehingga tinggal dua orang yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Proses pemilihan menghadapi kesulitan, karena berdasarkan pendapat umum bahwa masyarakat menginginkan Utsman bin Affan menjadi Khalifah. Sedangkan diantara calon penggati Umar bin Khattab terjadi perbedaan pendapat. Dimana Abdurrahman bin Auf cenderung mendukung Utsman bin Affan. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Ali Bin Abi Thalib. Hasil kesepakatan dan persetujuan umat Islam, maka diangkatlah Utsman bin Affan sebagai penggati Umar bin Khattab. Dia diangkat diusia ke 70 tahun dan menjadi Khalifah selama 12 tahun.

Model kepemimpinan Umar bin Khattab dilanjutkan oleh Utsman bin Affan. Dia mengembang Islam ke beberapa daerah yang belum tercapai pada masa Umar bin Khattab. Perbedaan karakter Utsman dengan Umar bin Khattab menimbulkan model kepemimpinan yang berbeda. Karakter Utsman yang lembut berbeda dengan karakter Umar yang tegas dan keras. Hal ini menimbulkan kekecewaan umat Islam. Disamping itu Utsman bin Affan diangkat usia 70 tahun. Sehingga dia memimpin umat Islam sedikit lemah. Kebijakan yang paling disorot adalah kebijakannya pada pengangkatan kerabat keluarganya menduduki jabatan penting. Seperti gubernur-gubernur di daerah kekuasaan Islam berasal dari kerabat dekat. Selain perluasan Islam, Utsman memperhatikan pembangunan dalam kota seperti membangun bendungan pencegah banjir, jalan-jalan, jembatan, masjid, dan perluasan masjid Nabawi. Dia memperluas daya tampung masjid Nabawi yang dibangun pada zaman Muhammad. Pada masalah suksesi kepemimpinan, Usman bin Affan tidak meninggalkan pesan. Dia meninggal terbunuh dalam peristiwa berdarah ketika sedang membaca al Qur'an. Hal itulah yang memperburuk situasi politik setelah meninggalnya Usman bin Affan di usia 83 tahun.

Ali bin Abi Thalib
Setelah Utsman bin Affan meninggal, umat Islam yang tinggal di Madinah bingung siapa yang akan menggantikan Utsman bin Affan. Kemudian ada usulan untuk mnengangkat Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti Utsman bin Affan. Usulan tersebut disetujui oleh mayoritas Umat Islam, kecuali mereka yang pro Muawiyah bin Abi Sufyan. Pada awalnya, Ali bin abi Thalib menolak tawaran usulan tersebut dan tidak mau menerima jabatan Khalifah. Dia melihat situasinya kurang tepat karena banyak terjadi kerusuhan dimana-mana. Menurutnya situasi ini harus diatasi dan dibereskan terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah kepemimpinan. Namun desakan sangat kuat, akhirnya Ali bin Abi Thalib menerima tawaran jabatan Khalifah tepat pada tanggal 23 Juni 656 M. Ali bin Abi Thalib menghadapi beberapa kelompok yang menuntut pengusutan terhadap pembunuhan Usman bin Affan dan menghukum pelakunya.

Dia menghadapi situasi yang berbeda dengan zaman Abu Bakar dan Umar. Dimana umat Islam pada masa Abu Bakar dan Umar masih bersatu, mereka memiliki banyak tugas yang harus dituntaskan seperti perluasan wilayah Islam. selain itu kehidupan sosialnya masih sangat sederhana dan belum banyak terpengaruh oleh kekayaan dan kedudukan. Sedangkan zaman Ali bin Abu Thalib wilayahnya luas dan besar, serta perjuangannya sudah terpengaruh oleh motivasi duniawi. Ali menghadapi kelompok penentang sangat kuat ketika memberlakukan kebijakannya pada pemecatan pejabat-pejabat. Hal ini yang dianggap penyebab munculnya pemberontakan. Beliau menghadapi juga perlawanan dari Zubair bin Awwam dan Aisyah karena dianggap tidak menghukum pelaku pembunuhan Utsman bin Affan. Pertentangan keduanya mengakibatkan Perang Jamal atau perang unta karena Aisyah menunggang unta dalam peperangan. Pertentangan Ali dengan Muawiyah mengakibatkan Perang Siffin.

Perang tersebut diakhiri dengan tahkim/arbitrase di Daumatul Jandal pada tahun 34 H. Akibat peristiwa itu, muncul tiga golongan di kalangan umat Islam, yaitu Khawarij, Murji'ah, dan Syiah. Ketiganya golongan yang sangat kuat dan mewarnai perkembangan pemikiran dalam Islam

Kekaisaran Sasaniyah

Kekaisaran Sasani (bahasa Persia: دودمان ساساني, Dudmân Sâsâni), Kekaisaran Wangsa Sasan, atau Kekaisaran Persia Baru adalah kekaisaran bangsa Iran yang ketiga dan kekaisaran Persia yang kedua. Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir dan dipimpin oleh Dinasti Sassania pada tahun 224 hingga 651 M. Kekaisaran Sassania, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat, Selatan, dan Tengah, bersama dengan Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.

Kekaisaran Sassania didirikan oleh Ardashir I, setelah keruntuhan Kekaisaran Parthia dan kekalahan raja Parthia terakhir, Artabanos IV (bahasa Persia: اردوان, Ardavan); dan kekaisaran ini berakhir ketika Syahansyah (Raja Segala Raja) Sasania terakhir, Yazdegerd III (632–651), kalah dalam perjuangan selama 14 tahun untuk menyingkirkan kekhalifahan Islam yang pertama, yaitu pendahulu dari kekaisaran-kekaisaran Islam lainnya. Wilayah kekaisaran ini meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, Armenia, Afganistan, bagian timur Turki, dan sebagian India, Suriah, Pakistan, Kaukasia, Asia Tengah dan Arabia. Selama pemerintahan Khosrau II (590–628), Mesir, Yordania, Palestina, Israel, dan Libanon juga sementara waktu merupakan wilayah kekaisaran ini.

Bangsa Sassania menamakan kerajaan mereka Eranshahr Eranshahr.svg (Wilayah kekuasaan bangsa Iran (Arya)) atau Ērān dalam bahasa Persia Pertengahan, yang menghasilkan istilah Iranshahr and Iran dalam bahasa Persia Baru. Masa kekuasaan Sassania terbentang sepanjang periode Abad Kuno Akhir (bahasa Inggris: Late Antiquity), dan dianggap sebagai salah satu periode yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Iran. Dalam banyak hal periode Sassania menyaksikan pencapaian tertinggi kebudayaan Persia, dan melambangkan kemegahan Kekaisaran Iran terakhir sebelum penaklukan muslim dan berkembangnya agama Islam.

Menurut legenda, veksiloid Kekaisaran Sassania adalah Derafsh Kaviani. Diduga juga bahwa peralihan menuju Kekaisaran Sassania melambangkan akhir perjuangan etnis proto-Persia melawan kerabat etnis migran dekat mereka, yakni bangsa Parthia, yang tempat asalnya adalah di Asia Tengah.

Persia memiliki pengaruh yang cukup besar pada kebudayaan Romawi selama masa Sassania, dan bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang pada alamatnya bertuliskan kata "kepada saudaraku". Pengaruh kebudayaan Sassania terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat, Afrika, Cina, dan India , serta berperan penting dalam pembentukan seni-seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia.

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia. Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sassania Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas. Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sassania. 

Sejarah

Asal mula dan sejarah awal (205–310)
Dinasti Sassania didirikan oleh Ardashir I (226–241), seorang keturunan kaum pendeta Dewi Anahita di Istakhr, Pars (Fars), yang pada awal abad ke-3 telah berhasil menjadi gubernur wilayah tersebut. Ayahnya Pabag (juga disebut Papak atau Babak), awalnya adalah penguasa kota kecil bernama Kheir. Ia tahun 205 berhasil menggulingkan Gocihr, raja terakhir dinasti Bazrangid (yaitu penguasa lokal Pars yang merupakan sekutu dari Parthia) dan mengangkat dirinya sendiri menjadi penguasa baru. Ibunya, Rodhagh, adalah putri dari gubernur provinsi Persis. Nama dinasti ini sendiri berasal dari kakek pihak ayah Ardashir I, yaitu Sassan, seorang pendeta besar Kuil Anahita.

Usaha Pabag menguasai daerah tersebut pada awalnya luput dari perhatian kaisar dinasti Ashkâniâ Artabanus IV, yang saat itu sedang terlibat perseteruan dinasti dengan saudaranya Vologases (Walakhsh) VI di Mesopotamia. Dengan menggunakan peluang yang tercipta karena terjadinya perseteruan tersebut, Pabag dan anak tertuanya Shapur berhasil memperluas kekuasaan mereka ke seluruh Persis. Kejadian-kejadian selanjutnya tidak begitu jelas, karena sedikitnya sumber-sumber sejarah. Meskipun demikian sesuatu hal yang pasti ialah ketika Pabag meninggal tahun 220, Ardashir yang ketika itu adalah gubernur Darabgird terlibat dalam perebutan kekuasaan melawan kakaknya Shapur. Sumber-sumber sejarah menceritakan bahwa tahun 222, Shapur yang akan berangkat untuk menemui saudaranya tewas ketika atap sebuah bangunan runtuh menimpanya.

Ardashir kemudian memindahkan pusat kekuasaannya lebih jauh lagi ke selatan Persis, dan mendirikan ibukotanya di Ardashir-Khwarrah (dahulunya adalah Gur, saat ini adalah kota Firouzabad). Kota ini, yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan mudah dipertahanan melalui jalur-jalur tebing sempitnya, menjadi pusat dari berbagai usaha Ardashir dalam mengembangkan kekuasaannya. Kota ini dikelilingi oleh tembok kota yang tinggi dan melingkar, kemungkinan ditiru dari Darabgird, dan di bagian utara terdapat istana besar yang sisa-sisa bangunannya sekarang pun masih dapat dilihat.

Setelah membangun kekuasaannya atas Persis, Ardashir I dengan cepat meluaskan wilayahnya, menuntut upeti dari para penguasa lokal Fars, dan berhasil memperoleh kendali atas provinsi-provinsi sekitarnya yaitu Kerman, Isfahan, Susiana, dan Mesene. Perluasan kekuasaan ini segera saja menarik perhatian Artabanus IV (216–224), yaitu penguasa atasan (overlord) Ardashir I. Artabanus IV awalnya memerintahkan gubernur Khuzestan untuk menyerang Ardashir pada tahun 224, akan tetapi ini berakhir dengan kemenangan besar bagi Ardashir. Artabanus sendiri akhirnya memimpin penyerangan kedua atas Ardashir I pada tahun 224. Pasukan keduanya bertempur di Hormizdeghan, dan Artabanus IV tewas terbunuh. Ardashir I terus melanjutkan menyerang provinsi-provinsi sebelah barat Kekaisaran Parthia (Ashkâniâ) yang telah tumbang itu. Tahun 226, Ardashir I dimahkotai di Ctesiphon sebagai penguasa tunggal Persia, mengambil gelar Syahansyah, atau "Raja Segala Raja" (berbagai prasasti juga menyebutkan tokoh Adhur-Anahid sebagai "Ratu Segala Ratu", tetapi hubungannya dengan Ardashir belum dapat dipastikan). Dengan demikian, berakhirlah Kekaisaran Parthia yang telah berumur 400 tahun dan dimulailah pemerintahan Sassania yang akan berlangsung selama empat abad.

Dalam beberapa tahun selanjutnya, dan setelah melalui pemberontakan lokal di beberapa tempat, Ardashir I melanjutkan meluaskan kekaisaran barunya tersebut ke arah timur dan barat laut. Ia menaklukkan provinsi-provinsi Sistan, Gorgan, Khorasan, Margiana (sekarang di Turkmenistan), Balkh, dan Khwarezmi. Ia juga berhasil menaklukkan Bahrain dan Mosul ke dalam kekuasaan Sassania. Prasasti-prasasti Sassania terkemudian juga mengklaim menyerahnya para raja Kushan, Turan, dan Mekran kepada Ardashir, meskipun bila dilihat dari bukti numismatik, lebih mungkin bahwa mereka menyerah kepada anak Ardashir, yaitu Shapur I. Di sisi lain, penyerangan-penyerangan Ardashir ke arah barat terhadap Hatra, Armenia, dan Adiabene tidaklah terlalu berhasil. Tahun 230, ia menyerbu jauh ke dalam wilayah kekuasaan Romawi, dan serangan balasan Romawi dua tahun kemudian berakhir tanpa kemenangan yang jelas.

Putra Ardashir I, Shapur I (241–272), melanjutkan ekspansi kekaisaran dengan menaklukkan Baktria dan bagian barat dari Kekaisaran Kushan, serta melakukan beberapa penyerangan terhadap Romawi. Ketika menyerbu bagian Mesopotamia yang dikuasai Romawi, Shapur I berhasil merebut Carrhae dan Nisibis, akan tetapi jenderal Romawi Timesitheus tahun 243 mengalahkan tentara Persia di Rhesaina dan memperoleh kembali wilayah-wilayah yang hilang. Kaisar Romawi Gordian III (238–244) yang selanjutnya bergerak untuk menguasai hilir sungai Eufrat berhasil dikalahkan di Meshike (244), menyebabkan Gordian dibunuh oleh pasukannya sendiri; dan Shapur berhasil memperoleh perjanjian perdamaian dengan kondisi yang sangat menguntungkan dari kaisar baru Romawi Philip Si Arab (244–249). Shapur mendapatkan pembayaran sebesar 500.000 denari beserta pembayaran bulanan selanjutnya. Shapur segera saja melanjutkan perang dan mengalahkan tentara Romawi pada Barbalissos (252), kemudian menyerbu Syria dan menaklukkan Antiokhia (253 atau 256). Serangan balasan Romawi di bawah Kaisar Valerian (253–260) berakhir dengan kehancuran, saat pasukan Romawi dikalahkan dan dikepung pada Edessa dan Valerian secara licik ditangkap oleh Shapur pada perundingan perdamaian, dan menjadi tawanan Shapur sepanjang hidupnya. Shapur I merayakan kemenangannya dan keberhasilan luar biasanya menangkap seorang kaisar Romawi dengan relief-relief batu di Naqsh-e Rostam dan Bishapur, serta prasasti monumental dalam bahasa Persia dan Yunani di daerah sekitar Persepolis. Ia terus saja berusaha melanjutkan kesuksesannya dengan bergerak menuju Anatolia (260), akan tetapi berakhir dengan kemundurannya yang berantakan karena kekalahannya di tangan tentara Romawi dan sekutunya Palmyra, yang dipimpin oleh Odaenathus. Selir-selir Shapur tertangkap, serta seluruh wilayah Romawi yang sebelumnya dikuasainya juga terlepas kembali.

Shapur I melaksanakan berbagai rencana pembangunan secara intensif. Ia mendirikan banyak kota, yang sebagian penduduknya adalah imigran yang berasal dari berbagai wilayah Romawi. Di antara para imigran terdapat kaum Kristen, yang memperoleh kebebasan menjalankan ajaran agamanya di bawah pemerintahan Sassania. Dua kota, yaitu Bishapur dan Nishapur dinamakan berdasarkan namanya. Shapur I secara khusus mendukung Manikheisme. Ia melindungi Mani (yang mendedikasikan salah satu kitabnya, Shabuhragan, untuk Shapur I) dan mengirimkan banyak misionaris Manikheisme sampai ke luar wilayahnya. Shapur I juga menjalin persahabatan dengan rabbi Babilonia yang bernama Shmuel. Persahabatan ini menyebabkan komunitas Yahudi setempat memperoleh sedikit kelonggaran dari penerapan berbagai hukum yang menekan, yang dikenakan kepada mereka.

Raja-raja selanjutnya menerapkan kebijakan yang berkebalikan dari Shapur I mengenai toleransi agama. Penerus Shapur I, Bahram I (273–276) menghukum Mani dan para pengikutnya berdasarkan desakan dari pendeta Magi Zoroaster. Bahram I memenjarakan Mani dan memerintahkan untuk membunuhnya. Menurut sebuah legenda, Mani meninggal di penjara ketika sedang menunggu eksekusinya , sedangkan menurut cerita lainnya ia disiksa dan dipenggal.

Selanjutnya Bahram II (276–293) meneruskan kebijakan ayahnya dalam masalah agama. Pada masa pemerintahannya, ibukota Sassania Ctesiphon mengalami penghancuran oleh Romawi, yaitu di bawah pimpinan kaisar Romawi Carus (282–283). Demikian pula sebagian besar wilayah Armenia, yang selama setengah abad berada dalam penguasaan Persia, pada masa pemerintahannya diserahkan kepada Diocletian (284–305).

Bahram III hanya memerintah secara singkat (293), dan penerusnya Narseh (293–302) kemudian kembali mengobarkan pertempuran terhadap Romawi. Setelah mengalami kesuksesan awal terhadap Kaisar Galerius (293–305 sebagai Caesar, 305–311 sebagai Augustus) pada pertempuran di dekat Callinicum di Sungai Efrat tahun 296, Narseh secara meyakinkan berhasil dikalahkan dalam penyergapan ketika ia sedang bersama haremnya di Armenia tahun 297. Dalam perjanjian yang mengakhiri perang ini, Sassania setuju menyerahkan lima provinsi di sebelah timur Sungai Tigris dan bersedia untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Armenia dan Georgia. Setelah kekalahan yang menghancurkan ini, Narseh mengundurkan diri tahun 301 dan meninggal dalam kesedihan setahun kemudian. Putra Narseh, Hormizd II (302–309), kemudian naik tahta. Meskipun ia berhasil menekan pemberontakan di Sistan dan Kushan, Hormizd II juga seorang penguasa yang lemah, dan ia tidak mampu mengontrol para bangsawan. Ia terbunuh oleh serangan suku Badui ketika sedang berburu pada tahun 309.

Kekaisaran Persia

Kekaisaran Persia (Persia: امپراتوری ایران) adalah sejumlah kekaisaran bersejarah yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air asal Bangsa Persia, dan sekitarnya termasuk Asia Barat, Asia Tengah dan Kaukasus. Saat ini, istilah Persia sering merujuk kepada Iran; Persia digunakan untuk isu sejarah, dan kebudayaan, dan Iran digunakan untuk isu politik. Bangsa yang dikemudian hari memproklamirkan diri sebagai Republik Islam Iran ini didominasi oleh Syi'ah.

Kekaisaran Media dan Kekaisaran Akhemeniyah (3200SM – 330SM)

Dari tulisan-tulisan sejarah, peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran, diikuti dengan peradaban Elam. Pada milenium kedua, dan ketiga, Bangsa Arya hijrah ke Iran, dan mendirikan kekaisaran pertama Iran, Kekaisaran Media (728SM-550SM). Kekaisaran ini telah menjadi simbol pendiri bangsa, dan juga kekaisaran Iran, yang disusul dengan Kekaisaran Akhemeniyah (648SM–330SM) yang didirikan oleh Koresh yang Agung.

Koresh Agung juga terkenal sebagai pemerintah pertama yang mewujudkan undang-undang mengenai hak-hak kemanusiaan, tertulis di atas artefak yang dikenal sebagai Silinder Koresh. Ia juga merupakan pemerintah pertama yang memakai gelar Agung dan juga Shah Iran. Di zamannya, perbudakan dilarang di kawasan-kawasan taklukannya (juga dikenal sebagai Kekaisaran Persia.) Gagasan ini kemudian memberi dampak yang besar pada peradaban-peradaban manusia setelah zamannya.

Kekaisaran Persia kemudian diperintah oleh Cambyses selama tujuh tahun (531SM - 522SM) dan kemangkatannya disusul dengan perebutan kuasa. Akhirnya Darius yang Agung (522SM -486SM) menang, dan dinyatakan sebagai raja.

Ibu kota Persia pada zaman Darius dipindahkan ke Susa dan ia mulai membangun Persepolis. Sebuah terusan di antara Sungai Nil dan Laut Merah turut dibangun, dan menjadikannya pelopor untuk pembangunan Terusan Suez. Sistem jalan juga turut diperbaharui, dan sebuah jalan raya dibangun menghubungkan Susa, dan Sardis. Jalan raya ini dikenal sebagai Jalan Kerajaan.

Selain itu, mata uang syiling dalam bentuk daric (syiling emas) dan juga Shekel (syiling perak) diperkenalkan ke seluruh dunia. Bahasa Persia Kuno turut diperkenalkan, dan diterbitkan di dalam prasasti-prasasti kerajaan.

Di bawah pemerintahan Koresh yang Agung, dan Darius yang Agung, Kekaisaran Persia menjadi sebuah kekaisaran yang terbesar, dan terkuat di dunia zaman itu. Pencapaian utamanya ialah sebuah kekaisaran besar pertama yang mengamalkan sikap toleransi, dan menghormati budaya-budaya, dan agama-agama lain di kawasan jajahannya.

Kekaisaran Seleukus (330SM ~ 248SM)
Pada tahun 330SM Kekaisaran Akhemeniyah diserang oleh Kerajaan Yunani yang di pimpin salah satu jenderal dari Alexander Agung yang bernama Seleukus dan lahirlah pemerintahan baru Persia yaitu Kekaisaran Seleukus dari Yunani. Seleukus mengangkat dirinya menjadi Kaisar setelah Alexander Agung wafat.

Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia (248SM – 224M)

Parthia bermula dengan Dinasti Arsacida yang menyatukan, dan memerintah dataran tinggi Iran, yang juga turut menaklukkan wilayah timur Yunani pada awal abad ketiga Masehi, dan juga Mesopotamia antara tahun 150 SM dan 224 M. Parthia juga merupakan musuh bebuyutan Romawi di sebelah timur, dan membatasi bahaya Romawi di Anatolia. Tentara-tentara Parthia terbagi atas dua kelompok berkuda, tentara berkuda yang berperisai, dan membawa senjata berat, dan tentara berkuda yang bersenjata ringan, dan kudanya lincah bergerak. Sementara itu, tentara Romawi terlalu bergantung kepada infantri, menyebabkan Romawi sukar untuk mengalahkan Parthia. Tetapi, Parthia kekurangan teknik dalam perang tawan, menyebabkan mereka sukar mengawal kawasan taklukan. Ini menyebabkan kedua belah pihak gagal mengalahkan satu sama lain.

Kekaisaran Parthia tegak selama lima abad (Berakhir pada tahun 224 M,) dan raja terakhirnya kalah di tangan kekaisaran lindungannya, yaitu Sassania.

Kekaisaran Iran Keempat: Kekaisaran Sassania (226–651)

Ardashir I, shah pertama Kekaisaran Sassania, mula membangun kembali ekonomi, dan militer Persia. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak, Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Pada zaman Khosrau II (590-628) pula, kekaisaran ini diperluas hingga Mesir, Yordania, Palestina, dan Lebanon. Orang-orang Sassania menamakan kekaisaran mereka Erānshahr (atau Iranshæhr, "Penguasaan Orang Arya".)

Sejarah Iran seterusnya diikuti dengan konflik selama enam ratus tahun dengan Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan, Persia kalah dalam Perang al-Qādisiyyah (632 M) di Hilla, Iraq. Rostam Farrokhzād, seorang jenderal Persia, dikritik kerana keputusannya untuk berperang dengan orang Arab di bumi Arab sendiri. Kekalahan Sassania di Irak menyebabkan tentara mereka tidak keruan, dan akhirnya ini memberi jalan kepada futuhat Islam atas Persia.

Era Sassania menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, dan merupakan kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Pengaruh, dan kebudayaan Sassania kemudian diteruskan setelah pemelukan Islam oleh bangsa Persia.

Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia (700–1400)
Setelah pemelukan Islam, orang-orang Persia mulai membentuk gambaran Islam Persia, di mana mereka melestarikan gambaran sebagai orang Persia tetapi pada masa yang sama juga sebagai muslim. Pada abad ke-8 M, Parsi memberi bantuan kepada Abbassiyah memerangi tentara Umayyah, karena Bani Umayyah hanya mementingkan bangsa Arab, dan memandang rendah kepada orang Persia. Pada zaman Abbassiyah, orang-orang Persia mulai melibatkan diri dalam administrasi kerajaan. Sebagian mendirikan dinasti sendiri.

Pada abad kesembilan, dan kesepuluh, terdapat beberapa kebangkitan ashshobiyyah Persia yang menentang gagasan Arab sebagai Islam, dan Muslim. Tetapi kebangkitan ini tidak menentang identitas seorang Islam. Salah satu dampak kebangkitan ini ialah penggunaan bahasa Persia sebagai bahasa resmi Iran (hingga hari ini.)

Pada zaman ini juga, para ilmuwan Persia menciptakan Zaman Kegemilangan Islam. Sementara itu Persia menjadi tumpuan penyebaran ilmu sains, filsafat, dan teknik. Ini kemudian memengaruhi sains di Eropa, dan juga kebangkitan Renaissance.

Bermula pada tahun 1220, Parsi dimasuki oleh tentera Mongolia di bawah pimpinan Genghis Khan, diikuti dengan Tamerlane, dimana kedua penjelajah ini menyebabkan kemusnahan yang parah di Persia.

Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi dan Iran Modern (1501 – 1979)

Parsi mulai berganti menjadi Islam Syiah pada zaman Safawi, pada tahun 1501. Dinasti Safawi kemudian menjadi salah sebuah penguasa dunia yang utama, dan mulai mempromosikan industri pariwisata di Iran. Di bawah pemerintahannya, arsitektur Persia berkembang kembali, dan menyaksikan pembangunan monumen-monumen yang indah. Kejatuhan Safawi disusuli dengan Persia yang menjadi sebuah medan persaingan antara kekuasaan Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Britania (yang menggunakan pengaruh Dinasti Qajar). Namun begitu, Iran tetap melestarikan kemerdekaan, dan wilayah-wilayahnya, menjadikannya unik di rantau itu. Modernisasi Iran yang bermula pada lewat abad ke-19, membangkitkan keinginan untuk berubah dari orang-orang Persia. Ini menyebabkan terjadinya Revolusi Konstitusi Persia pada tahun 1905 hingga 1911. Pada tahun 1921, Reza Khan (juga dikenal sebagai Reza Shah) mengambil alih tahta melalui perebutan kekuasaan dari Qajar yang semakin lemah. Sebagai penyokong modernisasi, Shah Reza memulai pembangunan industri modern, jalan kereta api, dan pendirian sistem pendidikan tinggi di Iran. Malangnya, sikap aristokratik, dan ketidakseimbangan pemulihan kemasyarakatan menyebabkan banyak rakyat Iran tidak puas

Pada Perang Dunia II, tentara Inggris, dan Uni Soviet menyerang Iran dari 25 Agustus hingga 17 September 1941, untuk membatasi Blok Poros, dan menggagas infrastruktur penggalian minyak Iran. Blok Sekutu memaksa Shah untuk melantik anaknya, Mohammad Reza Pahlavi menggantikannya, dengan harapan Mohammad Reza menyokong mereka.

Malangnya, pemerintahan Shah Mohammad Reza bersifat otokratis. Dengan bantuan dari Amerika, dan Inggris, Shah meneruskan modernisasi Industri Iran, tetapi pada masa yang sama menghancurkan partai-partai oposisi melalui badan intelijennya, SAVAK. Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi oposisi, dan pengkritik aktif terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza, dan kemudian ia dipenjarakan selama delapan belas bulan. Melalui nasihat jenderal Hassan Pakravan, Khomeini dibuang ke luar negeri, dan diantar ke Turki dan selepas itu ke Irak.

Mesopotamia

Mesopotamia (dari bahasa Yunani Kuno: Μεσοποταμία: tanah di antara sungai-sungai; Arab: بلاد الرافدين‎ (bilād al-rāfidayn); bahasa Suryani: ܒܝܬ ܢܗܪܝܢ (Beth Nahrain): "tanah dari sungai-sungai" terletak di antara dua sungai besar, Efrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu pada zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di antara sungai-sungai". Dengan bidang tanah yang panjang dan sempit berbentuk seperti bulan sabit dan tanahnya yang subur, daerah ini juga disebut "Bulan Sabit Subur". Nama Mesopotamia sudah digunakan oleh para penulis Yunani dan Latin kuno, seperti apa Polybius (abad 2 SM) dan Strabo (60 SM-20 M). Tanah subur ini telah menumbuhkan banyak peradaban kuno yangg megah yang secara kolektif dikenal sebagai sebagai peradaban Mesopotamia. Inilah peradaban paling awal di Asia Barat dan salah satu yang tertua di dunia.

Menurut keyakinan Kristen dan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham (yang lalu disebut "Bapa Orang Beriman" dan diakui oleh tiga agama monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi ) dengan Mesopotamia. Dalam kitab Kejadian 11:31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur Kaśdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Daerah Israel dan Palestina sekarang).

Lokasi Ur Kaśdim biasanya dirujuk pada Tell el-Muqayyar, situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Sedangkan Haran terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Efrat.

Toponimi daerah Mesopotamia berasal dari akar kata Yunani Kuno μέσος (mesos) "tengah" dan ποταμός (potamos) "sungai" dan secara harfiah berarti "(negeri) di antara sungai-sungai". Toponimi ini digunakan dalam Septuaginta yang berbahasa Yunani itu (ca. 250 SM) sebagai terjemahan dari padanannya dalam bahasa Ibrani Naharaim. Toponimi ini bahkan sudah lebih awal lagi digunakan oleh bangsa Yunani sebagaimana yang dibuktikan dengan Anabasis Alexandri, yang ditulis pada akhir abad ke-2 Masehi, namun secara khusus mengacu pada sumber-sumber dari zaman Alexander Agung. Dalam Anabasis, Mesopotamia digunakan untuk menyebut wilayah yang membentang di timur Sungai Efrat di utara Suriah. Istilah Aram biritum / birit Narim berhubungan dengan konsep geografis serupa. Kemudian, istilah Mesopotamia itu lebih umum diterapkan untuk semua tanah antara sungai Efrat dan Tigris, sehingga menggabungkan tidak hanya bagian dari Suriah tetapi juga hampir semua Irak dan Turki tenggara. Dataran stepa di sebelah barat sungai Efrat dan bagian barat Pegunungan Zagros juga sering termasuk dalam istilah yang lebih luas Mesopotamia. Perbedaan lebih lanjut biasanya dibuat antara atas atau Utara Mesopotamia dan dataran yang rendah atau Selatan Mesopotamia. Mesopotamia atas juga dikenal sebagai Jezirah, adalah daerah antara Efrat dan Tigris sampai ke Baghdad. Mesopotamia bawah terdiri dari selatan Irak, Kuwait, dan Iran bagian barat. Dalam penggunaan akademis modern, istilah Mesopotamia juga sering memiliki konotasi kronologis. Sering kali digunakan untuk merujuk daerah ini sampai dengan masa Penaklukan Muslim. Nama-nama seperti Suriah, Jezirah, dan Irak digunakan untuk menggambarkan wilayah tersebut setelah masa ini.  Istilah ini telah diperdebatkan bahwa eufimisme ini merupakan istilah Eurosentris yang disematkan pada daerah ini pada masa-masa perambahan orang Barat abad ke-19.

Mesopotamia meliputi wilayah antara Sungai Efrat dan Tigris yang sama-sama bersumber dari dataran tinggi Armenia. Kedua sungai ini juga mendapatkan tambahan pasokan air dari banyak anak sungai, dan keseluruhan jaringan sungai ini mengaliri wilayah bergunung-gunung yang sangat luas. Jalur perjalanan darat di Mesopotamia lazimnya menyusuri Sungai Efrat karena tepian Sungai Tigris sebagian besar terjal dan sukar dilalui. Iklim wilayah ini semi-gersang dengan bentangan gurun yang luas di utara serta bentangan daerah berawa-rawa, berlaguna, berlumpur, dan bergelagah seluas 15.000 Km persegi (5.800 Mil persegi) di selatan. Jauh di ujung selatan, Efrat dan Tigris menyatu dan bermuara ke Teluk Persia.

Lingkungan gersang yang membentang dari kawasan-kawasan pertanian tadah hujan di daerah utara sampai ke daerah selatan di mana pertanian dengan irigasi menjadi sangat penting jika orang mengharapkan perolehan surplus energi yang dihasilkan atas energi yang diinvestasikan (Energy Returned On Energy Invested, EROEI). Irigasi ini dipermudah oleh tingginya permukaan air tanah serta lelehan salju dari puncak-puncak tinggi Pegunungan Zagros di wilayah utara dan dari dataran tinggi Armenia, sumber air Sungai Tigris dan Efrat yang menjadi asal-muasal nama negeri itu. Manfaat irigasi bergantung pada kemampuan mengerahkan tenaga kerja yang memadai untuk membuat dan memelihara saluran-saluran air, dan inilah faktor yang sejak permulaan zaman telah membantu pertumbuhan pemukiman-pemukiman perkotaan dan sistem kekuasaan politik yang terpusat.

Usaha pertanian di seluruh wilayah Mesopotamia disokong oleh usaha penggembalaan ternak secara berpindah-pindah. Kaum pengembara yang mendiami kemah-kemah menggembalakan biri-biri dan kambing (dan kemudian unta) dari padang-padang penggembalaan sepanjang sungai pada bulan-bulan musim panas yang kering, menuju padang-padang rumput musiman di sepanjang perbatasan dengan gurun pada musim dingin yang basah. Wilayah Mesopotamia umumnya tidak memiliki batu-batu untuk bahan bangunan, logam mulia, dan kayu, dan karena itulah sepanjang sejarahnya bergantung pada perniagaan jarak jauh atas hasil-hasil pertanian untuk mendapatkan barang-barang langka itu dari luar wilayah. Di daerah rawa-rawa di selatan, terdapat suatu budaya rumit penangkapan ikan dengan kapal-kapal pengangkut semenjak zaman prasejarah, yang menambah keberagaman budaya Mesopotamia.

Kegagalan-kegagalan berkala dalam sistem budaya ini diakibatkan oleh sejumlah faktor. Kebutuhan akan tenaga kerja dari waktu ke waktu telah mengakibatkan peningkatan populasi yang mendesak batas-batas daya tampung ekologi, dan begitu wilayah ini mengalami masa kekacauan iklim, keruntuhan pemerintah pusat dan penurunan populasi dapat terjadi. Di lain pihak, kerentanan militer terhadap serangan dari suku-suku pinggiran dari daerah perbukitan atau padang-padang penggembalaan telah mengakibatkan keruntuhan perniagaan dan penelantaran jaringan-jaringan irigasi selama beberapa waktu. Demikian pula, kecenderungan-kecenderungan memusat yang ada pada negara-negara kota hanya berarti pemerintahan terpusat atas seluruh wilayah Mesopotamia, bilamana dipaksakan, cenderung berumur pendek, dan semangat kedaerahan pun memecah-belah kekuasaan yang utuh menjadi satuan-satuan kesukuan atau kedaerahan yang lebih kecil. Kecenderungan-kecenderungan semacam ini masih terus berlanjut di Irak sampai sekarang.

Sejarah Mesopotamia

Sejarah Mesopotamia diawali dengan tumbuhnya sebuah peradaban, yang diyakini sebagai pusat peradaban tertua di dunia, oleh bangsa Sumer(ia). Bangsa Sumeria membangun beberapa kota kuno yang terkenal, yaitu Ur, Ereck, Kish, dll. Kehadiran seorang tokoh imperialistik dari bangsa lain yang juga mendiami kawasan Mesopotamia, bangsa Akkadia, dipimpin Sargon Agung, ternyata melakukan sebuah penaklukan politis, tetapi bukan penaklukan kultural. Bahkan dalam berbagai hal budaya Sumer dan Akkad berakulturasi, sehingga era kepemimpinan ini sering disebut Jilid Sumer-Akkad. Campur tangan Sumer tidak dapat diremehkan begitu saja, pada saat Akkad terdesak oleh bangsa Gutti, bangsa Sumer-lah yg mendukung Akkad, sehingga mereka masih dapat berkuasa di "tanah antara dua sungai-sungai" itu.

Mesopotamia dalam Alkitab

Beberapa catatan lain bisa dikemukakan untuk menunjukkan hubungan antara Abraham dengan Mesopotamia. Dalam [[kitab Ulangan]|Kitab] Ulangan 26:3; Nabi Musa mengajak umat untuk berdoa kepada Tuhan saat mempersembahkan panen pertama dengan mengawalinya, Bapaku adalah seorang Aram, seorang pengembara. Di tempat lain dikatakan bahwa Ishak, anak Abraham, diperintah Abraham untuk mencari istri dari daerah Aram-Mesopotamia (aram-naharayim) (Kejadian 24:2,10). Demikian juga dengan Yakub, cucu Abraham, dia disuruh pergi ke Padan-Aram untuk mendapatkan istri di sana (Kejadian 28:2). Dalam terjemahan Yunani Septuaginta, kedua nama terakhir ini disebut Mesopotamia.

Selain petunjuk yang secara eksplisit ada dalam Alkitab, masih bisa ditemukan informasi lain yang menunjukkan pengaruh Mesopotamia yang cukup kuat. Kesejajaran antara kisah-kisah Enkidu/Shamhat dan Adam/Hawa telah lama diakui oleh para peneliti. Kisah Taman Eden dan kisah Air Bah yang terkenal itu, yang dikisahkan pada bagian awal kitab Kejadian, sebenarnya kuat dipengaruhi sastra Mesopotamia. Biasanya ada tiga karya sastra Mesopotamia yang ditunjuk, yaitu Enuma Elis (dari abad 17 SM), Epos Gilgames (abad 20 SM), dan Athrahasis (abad 18-17 SM). Teks-teks itu cukup terkenal dan tersebar luas karena ditemukan dalam berbagai versi dan bahasa, seperti versi Akkadia, Sumeria, Hittit, dan Asyur. Kemiripan antara sastra Mesopotamia dengan teks-teks Alkitab begitu mencolok sehingga seringkali disimpulkan bahwa ada ketergantungan antara keduanya. Karena teks-teks Mesopotamia berasal dari periode yang jauh lebih tua dari teks-teks Alkitab, maka tidak mengherankan jika bisa disimpulkan, teks Alkitab bergantung pada sastra Mesopotamia itu. Para penulis Israel tampaknya mengambil dan memanfaatkan teks-teks Mesopotamia itu untuk mengungkap keyakinan mereka, sekaligus menyesuaikannya dengan keyakinan itu, terutama di bidang monoteisme.

Salah satu kemungkinan datangnya pengaruh Mesopotamia dalam kitab Kejadian adalah bahwa kisah-kisah Mesopotamia dibawa ke Palestina lalu menyebar-saat terjadi perpindahan penduduk besar-besaran dari Mesopotamia yang disebabkan situasi yang agak kacau sekitar abad 19 SM. Kiranya ini juga yang menjadi konteks berpindahnya keluarga Abraham dari Ur ke Haran, lalu ke Kanaan.

Berbagai kebiasaan dan peraturan yang tercermin dalam kitab Kejadian ternyata juga menemukan banyak kesamaan dengan kebiasaan dan peraturan yang hidup di daerah Mesopotamia. Sebagai contoh, kekhawatiran Abraham karena dia tidak mendapat keturunan, karena itu harus mewariskan segala miliknya kepada abdinya yang setia, Eliezer (Kejadian 15:1-4), ternyata sejajar dengan praktik yang dilakukan masyarakat Nuzi yang mendiami sebelah timur Sungai Tigris. Hal ini bisa diketahui melalui analisis teks-teks hukum yang berlaku di Nuzi, yang berasal dari abad 15 SM. Kisah tentang Abraham yang datang ke negeri asing lalu mengaku istrinya sebagai saudarinya (Kejadian 12:10-20) sering membingungkan orang. Tetapi, kini, dengan ditemukannya teks-teks yang berasal dari bangsa Hori di sebelah utara Mesopotamia, berdekatan dengan Haran, hal itu bisa dipahami dengan lebih baik. Dalam masyarakat Hori, ikatan perkawinan yang paling kuat adalah jika seorang istri sekaligus mendapat status saudari secara hukum. Karena itu, sering terjadi, sesudah perkawinan diadakan upacara lain untuk mengadopsi sang istri menjadi saudari. Hal ini disahkan dengan dua dokumen. Pertama, dokumen tentang perkawinan. Kedua, berkait dengan pengangkatannya sebagai saudari.

Matthias Henze menunjukkan bahwa kegilaan Nebukadnezar dalam Kitab Daniel mengacu pada Epos Gilgames. Dia mengklaim bahwa penulis menggunakan unsur-unsur dari deskripsi Enkidu untuk melukis potret sarkastik dan mengejek raja Babel.

Salah satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan arkeolog Prancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash, dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan. Perbandingan dengan kumpulan hukum yang ada dalam Kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya merupakan sesuatu yang amat masuk akal.

Codex Hammurabi, yang terdiri dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.

Hari raya

Bangsa Mesopotamia Kuno setiap bulan menyelenggarakan upacara-upacara. Tema upacara dan perayaan untuk tiap-tiap bulan ditentukan oleh sekurang-kurangnya enam faktor utama:

Pergantian penampakan bulan (paro-terang bermakna kelimpahan dan pertumbuhan, sedangkan paro-gelap dikait-kaitkan dengan penurunan, pelestarian, dan perayaan "Alam Bawah"")
Pergantian musim bercocok-tanam
Titik katulistiwa matahari dan titik balik matahari
Mitos-mitos setempat beserta dewa-dewi yang terkait dengannya
Keberhasilan dari raja yang berkuasa saat itu
Akitu, atau perayaan Tahun Baru (purnama pertama sesudah matahari melintasi katulistiwa di musim semi)
Peringatan peristiwa-peristiwa bersejarah (hari pendirian, kemenangan-kemenangan perang, hari-hari suci bagi kuil, dst.)
Olahraga
Perburuan populer di kalangan raja-raja Asyur. Tinju dan gulat kerap ditampilkan dalam seni rupa, dan beberapa bentuk permainan polo agaknya merupakan olahraga yang populer, dengan pemain yang duduk di atas pundak orang bukannya di atas punggung kuda.  Mereka juga memainkan majore, sebuah permainan yang mirip rugbi, tetapi dimainkan dengan sebuah bola yang terbuat dari kayu. Mereka juga memainkan sebuah permainan papan yang mirip dengan senet dan backgammon, dan yang kini dikenal sebagai "Permainan Kerajaan dari Ur."

Budi daya tanaman pangan yang dibantu irigasi menyebar dari pegunungan Zagros ke arah selatan bersama dengan peradaban Samara dan peradaban Hadji Muhammed sejak sekitar 5,000 SM. Kuil-kuil Sumeria berfungsi sebagai bank dan mengembangkan sistem pinjaman dan kredit berskala besar yang pertama, tetapi bangsa Babilonia yang mengembangkan sistem perbankan dagang yang pertama. Perekonomian Mesopotamia dalam satu dan lain hal dapat dibandingkan dengan ilmu ekonomi pasca-Keynes, tetapi dengan suatu pendekatan yang cenderung "apa saja boleh".

Sejak permulaan sejarah Mesopotamia sampai dengan zaman Ur III, kuil-kuil menguasai sampai dengan sepertiga dari seluruh lahan yang ada, namun jumlah itu menurun dari waktu ke waktu seiring peningkatan kepemilikan tanah oleh pihak istana dan orang-orang pribadi. Ensi adalah kata yang digunakan sebagai sebutan bagi orang yang bertugas mengatur pekerjaan untuk segala macam usaha pertanian di lahan-lahan milik kuil. Rakyat jelata diketahui sebagai golongan yang paling sering bekerja di bidang pertanian sebagai petani-petani penggarap, khususnya di lahan-lahan milik kuil atau istana.

Kondisi geografi Mesopotamia selatan hanya memungkinkan penyelenggaraan pertanian jika dikelola dengan irigasi dan drainase yang baik. Kenyataan ini berdampak besar pada evolusi peradaban Mesopotamia awal. Kebutuhan akan irigasi mendorong bangsa Sumeria, dan selanjutnya bangsa Akkadia, untuk membangun kota-kota mereka di sepanjang tepian sungai Tigris dan Efrat serta cabang-cabangnya. Kota-kota besar seperti Ur dan Uruk, bertempat di sekitar anak-anak Sungai Efrat, sedangkan kota-kota lain, khususnya Lagash, didirikan dekat cabang-cabang Sungai Tigris. Sungai-sungai juga memiliki manfaat lain sebagai sumber pasokan ikan (baik sebagai bahan pangan maupun sebagai pupuk), gelagah, dan lempung (untuk bahan bangunan). Berkat irigasi, pasokan pangan di Mesopotamia sebanding dengan pasokan pangan di padang-padang rumput Kanada. Lembah sungai Tigris dan lembah Sungai Efrat merupakan bagian timur laut dari bentangan Hilal Subur yang juga meliputi lembah Sungai Yordan dan lembah Sungai Nil. Jika semakin dekat dengan sungai membuat lahan menjadi subur dan baik untuk ditanami, maka sebaliknya jarak yang semakin jauh dari sungai membuat lahan menjadi kering dan sebagian besar tidak dapat dihuni. Itulah sebabnya perkembangan irigasi sangat penting artinya bagi para penduduk Mesopotamia. Inovasi-inovasi bangsa Mesopotamia lainnya adalah pengendalian laju air dengan bendungan serta pemanfaatan saluran-saluran air. Orang-orang yang mula-mula menempati tanah yang subur di Mesopotamia mempergunakan luku kayu untuk menggemburkan tanah sebelum ditanami jelai, bawang, anggur, lobak, atau pun apel. Penduduk Mesopotamia terbilang di antara orang-orang pertama yang membuat bir dan tuak anggur. Dilibatkannya keterampilan dalam bertani di Mesopotamia membuat para petani tidak tidak bergantung pada budak belian untuk merampungkan pengerjaan lahan-lahan mereka, akan tetapi ada pula beberapa pengecualian. Tingginya risiko mempekerjakan budak belian (budak belian melarikan diri atau memberontak) membuat banyak petani menghindarinya. Meskipun sungai-sungai menjadi penyokong hidup penduduk Mesopotamia, sungai-sungai jualah yang menghancurkannya dengan banjir yang kerap meluap dan meluluh-lantakkan seisi kota. Cuaca Mesopotamia yang sukar ditebak seringkali tidak berpihak pada para petani; tanaman-tanaman pangan sering dirusak cuaca sehingga orang perlu memelihara sumber-sumber pangan cadangan seperti lembu dan biri-biri. Seiring berlalunya waktu, daerah-daerah paling selatan di Mesopotamia menderita akibat meningkatnya kadar garam pada tanah, sehingga mengakibatkan kota-kota lambat-laun ditinggalkan orang dan terjadi pemusatan kekuasaan di Akkad yang letaknya jauh lebih ke utara.

Pemerintahan

Geografi Mesopotamia sangat berdampak pada perkembangan politik di wilayah itu. Di antara sungai dan kali, orang-orang Sumeria mendirikan kota-kota perdana berikut saluran-saluran irigasinya yang terpisahkan satu sama lain oleh bentangan gurun atau rawa yang luas dan terbuka, tempat berkeliaran suku-suku pengembara. Komunikasi antar kota-kota terisolasi itu sulit dan terkadang berbahaya jika dilakukan. Oleh karena itu, masing-masing kota Sumeria menjadi sebuah negara kota yang merdeka dan gigih mempertahankan kemerdekaannya. Kadang-kadang salah satu kota akan mencoba menaklukkan dan mempersatukan kota-kota yang sewilayah dengannya, tetapi upaya-upaya semacam itu mendapat perlawanan dan tertumbuk pada kegagalan selama berabad-abad. Akibatnya, sejarah politik Sumer penuh dengan peperangan yang berlangsung nyaris tanpa henti. Pada akhirnya Sumer pun dipersatukan oleh Eannatum, tetapi persatuan itu rapuh dan gagal bertahan, karena bangsa Akkadia berjaya menaklukkan Sumeria pada 2331 SM hanya satu generasi sesudahnya. Kekaisaran Akkadia adalah kekaisaran pertama yang mampu bertahan melampaui satu generasi dan menyelenggarakan alih kepemimpinan raja-raja secara damai. Umur kekaisaran ini relatif singkat, karena ditaklukkan bangsa Babilonia setelah bertahan selama beberapa generasi.

Raja-raja

Bangsa Mesopotamia percaya bahwa raja-raja dan ratu-ratu mereka adalah keturunan dari warga Kota Dewa-Dewa, akan tetapi tidak seperti bangsa Mesir Kuno, mereka tidak pernah meyakini bahwa raja-raja mereka adalah dewa-dewa sejati. Sebagian besar raja-raja menggelari dirinya "raja semesta alam" atau "raja agung". Gelar lainnya yang lazim dipakai adalah "gembala", karena raja-raja harus memperhatikan peri kehidupan rakyatnya.

Kekuasaan

Ketika tumbuh menjadi sebuah kekaisaran, wilayah kekuasaan Asyur dibagi-bagi menjadi daerah-daerah yang disebut provinsi. Tiap-tiap provinsi dinamakan menurut nama kota utamanya, seperti Niniwe, Samaria, Damsyik, dan Arpad. Semua provinsi dikepalai gubernurnya masing-masing yang bertugas memastikan setiap orang membayar pajaknya. Para gubernur juga wajib menghimpun pasukan untuk maju berperang dan menyalurkan tenaga kerja bilamana ada pembangunan kuil. Seorang gubernur juga bertanggung jawab atas penerapan hukum di provinsi yang dipimpinnya. Cara ini memudahkan pengendalian sebuah kekaisaran besar. Walaupun sebelumnya cuma sebuah negara kecil di Sumeria, Babel tumbuh pesat selama masa pemerintahan Hammurabi. Ia dikenal sebagai "pencipta aturan hukum", dan segera saja Babel menjadi salah satu kota utama di Mesopotamia. Kelak Babel disebut Babilonia, yang berarti "gapura dewa-dewa." Kota ini juga menjadi salah satu pusat pembelajaran terbesar dalam sejarah.

Peperangan

Dengan berakhirnya zaman kekuasaan Uruk, tumbuh kota-kota bertembok dan banyak desa terpencil dari zaman Ubaid ditinggalkan yang menyiratkan adanya peningkatan kekerasan yang dilakukan secara berkelompok. Seorang raja awal Lugalbanda diduga telah membangun tembok putih mengitari kota itu. Begitu negara-negara kota mulai tumbuh, lingkup jangkauan pengaruh mereka pun saling tumpang-tindih sehingga menimbulkan perdebatan di antara negara-negara kota lainnya, khususnya menyangkut tanah dan terusan-terusan. Perdebatan-perdebatan ini dicatat pada loh-loh lempung beberapa ratus tahun sebelum pecah perang-perang besar—catatan pertama mengenai peperangan ditulis sekitar 3200 SM namun belum menjadi suatu kelaziman sampai kira-kira 2500 SM. Seorang raja Dinasti Awal II (Ensi) Uruk di Sumer, Gilgamesh (2600 SM), disanjung karena keberhasilannya dalam bertempur melawan Humbaba, penjaga Pegunungan Aras, dan kelak dalam banyak sajak dan kidung ia dipuja-puji pula sebagai makhluk dua pertiga dewa dan hanya sepertiga manusia. Tugu Prasasti Burung Nazar yang berasal dari akhir zaman Dinasti Awal III (2600–2350 SM), yang dibuat untuk memperingati kemenangan Eannatum dari Lagash atas kota tetangga saingannya Umma, adalah monumen tertua di dunia yang dibuat sebagai pernyataan pujian atas sebuah tindakan pembantaian. Mulai dari saat itu sampai seterusnya, peperangan dijadikan bagian dari sistem politik Mesopotamia. Sesekali sebuah kota yang netral dapat bertindak selaku penengah bagi dua kota yang saling berseteru. Keadaan ini mendorong terbentuknya persatuan-persatuan antar-kota yang kelak berkembang menjadi negara-negara kedaerahan. Tatkala kekaisaran-kekaisaran terwujud, mereka pun maju berperang tetapi lebih sering melawan negara-negara asing. Raja Sargon misalnya, menaklukkan seluruh kota di Sumer, beberapa kota di Mari, dan kemudian maju berperang melawan Suriah utara. Banyak dinding istana Asiria dan Babilonia dihiasi dengan gambar-gambar mengenai pertempuran-pertempuran yang berhasil dimenangkan dan seteru yang lari kocar-kacir atau bersembunyi dibalik rumpun-rumpun gelagah.

Hukum perkawinan Mesopotamia

Negara-negara kota Mesopotamia menyusun naskah hukum mereka dengan bersumber pada keputusan-keputusan peradilan dan undang-undang raja-raja. Naskah hukum Urukagina dan Lipit Isytar telah ditemukan. Naskah hukum paling terkenal berasal dari Hammurabi, yang termasyhur setelah kematiannya berkat perangkat aturan hukum yang disusunnya, yakni Naskah Hukum Hammurabi (disusun ca. 1780 SM), yang merupakan salah satu perangkat hukum tertua yang pernah ditemukan dan salah satu contoh dokumen sejenis yang berasal dari Mesopotamia Kuno. Hammurabi menetapkan 200 lebih aturan hukum bagi Mesopotamia. Kajian atas aturan-aturan ini menunjukkan makin lemahnya hak-hak perempuan, dan makin kejamnya perlakuan terhadap budak belian

Seni rupa

Seni rupa Mesopotamia menyaingi Seni rupa Mesir Kuno baik dari segi kemegahan, kecanggihan, maupun tingkat kerumitannya di kawasan barat Eurasia sejak milenium ke-4 SM sampai wilayah itu ditaklukkan Kekaisaran Akhemeniyah Persia pada abad ke-6 SM. Peninggalan seni rupa Mesopotamia sebagian besar berupa berbagai jenis patung batu dan tanah liat yang sangat tahan lama sifatnya; hanya sedikit peninggalan berupa lukisan yang mampu menyintasi zaman, namun peninggalan-peninggalan itu menyiratkan bahwa lukisan-lukisan Mesopotamia umumnya berupa pembubuhan warna pada pola-pola hiasan geometris dan tumbuh-tumbuhan, meskipun sebagian besar patung-patung juga diwarnai.

Pada zaman melek-aksara perdana, tatkala Mesopotamia berada di bawah kekuasaan Uruk, dihasilkan karya-karya yang canggih seperti Bejana Warka dan stempel-stempel silinder. Singa Betina Guennol adalah sebuah patung batugamping kecil yang menarik dari Elam sekitar 3000–2800 SM, berwujud separuh manusia dan separuh singa. Tak lama sesudah zaman itu muncul sejumlah patung berwujud imam-imam dan pemuja-pemuja bermata besar, sebagian besar terbuat dari pualam dengan tinggi mencapai satu kaki, yang tampak tengah menghadiri upacara penyembahan berhala di kuil, namun hanya sejumlah kecil patung-patung ini yang menyintas. Patung-patung dari zaman Sumeria dan Akkadia umumnya bermata besar membelalak dan berjanggut panjang pada sosok pria. Banyak pula mahakarya yang telah ditemukan di makam kerajaan di Ur (ca. 2650 SM), termasuk dua patung domba dalam belukar, lembu tembaga, dan sebuah kepala lembu pada salah satu di antara lira-lira dari Ur.

Dari zaman-zaman berikutnya sebelum bangkitnya Kekaisaran Asiria Baru, seni rupa Mesopotamia menyintas dalam beberapa wujud: stempel-stempel silinder, patung-patung utuh yang relatif kecil, dan relief-relief dalam berbagai ukuran, termasuk plakat-plakat murah dari gerabah cetakan untuk rumah tinggal, sebagian berkaitan dengan keagamaan dan sebagian lagi tampaknya tidak. Relief Burney adalah sebuah plakat terakota dengan tingkat kerumitan yang tidak seperti biasanya dan relatif besar ukurannya (20 x 15 inci) memperlihatkan sesosok dewi bersayap dan berkaki burung pemangsa, dikawal burung-burung hantu dan singa-singa. Relief ini berasal dari abad ke-18 atau ke-19 SM, dan mungkin pula merupakan hasil cetakan. Tugu-tugu batu prasasti, persembahan-persembahan nazar, atau plakat-plakat peringatan kemenangan-kemenangan perang dan pesta-pesta perayaan, ditemukan pula di kuil-kuil, yang tidak seperti barang-barang sejenis keluaran pemerintah yang lebih resmi sifatnya, tidak memuat cukup banyak tulisan untuk menjelaskan barang-barang itu; Kepingan tugu Prasasti Burung Nazar adalah sebuah contoh awal peninggalan barang-barang bertulisan, dan Obelisk Hitam Salmaneser III dari Asyur adalah peninggalan bertulisan yang besar dan kokoh dari zaman kemudian.

Ditaklukkannya seluruh Mesopotamia dan wilayah-wilayah di sekitarnya oleh bangsa Asyur menjadikan negeri itu lebih besar dan lebih makmur daripada sebelumnya, dan dipajangnya karya seni yang sangat memukau di istana-istana dan tempat-tempat umum pastilah dimaksudkan pula untuk menyaingi semarak seni rupa negeri tetangga mereka, Kekaisaran Mesir. Bangsa Asyur mengembangkan sebuah gaya seni berupa latar-latar yang sangat luas diisi relief-relief pipih naratif yang ditatah dengan sangat rinci pada batu untuk istana-istana, menampilkan adegan-adegan peperangan atau perburuan; British Museum memiliki sekumpulan relief semacam itu. Bangsa Asyur menghasilkan sangat sedikit patung yang dipahat utuh, kecuali untuk sosok-sosok raksasa penjaga, kerapkali berwujud lamassu berkepala manusia, yang dipahat menjadi relief timbul pada dua sisi balok persegi, dengan bagian kepala berupa pahatan utuh (dan juga kelima tungkainya, sehingga tampak terpahat utuh dari masing-masing sisi balok). Bahkan sebelum menguasai Mesopotamia mereka telah meneruskan tradisi pembuatan stempel silinder dengan rancangan-rancangan yang seringkali tampak hidup dan penuh cita rasa seni.

Arsitektur

Kajian mengenai seni bina Mesopotamia Kuno didasarkan pada bukti-bukti arkeologi yang tersedia, gambar-gambar berwujud bangunan, dan naskah-naskah tentang pelaksanaan pembangunan. Karya-karya ilmiah biasanya berkonsentrasi pada kuil-kuil, istana-istana, tembok-tembok dan gerbang-gerbang kota, serta bangunan-bangunan monumental lainnya, namun sesekali dihasilkan pula karya ilmiah terkait seni bina rumah tinggal. Survei permukaan dalam lingkup arkeologi juga telah memungkinkan pembuatan kajian mengenai tata ruang perkotaan di kota-kota Mesopotamia awal.

Batu-bata merupakan bahan bangunan yang paling banyak digunakan karena tersedia dekat dan cuma-cuma, sementara batu bangunan harus didatangkan dari tempat-tempat yang cukup jauh dari sebagian besar kota-kota itu. Ziggurat adalah bentuk bangunan yang paling menonjol, dan kota-kota seringkali memiliki gerbang-gerbang besar. Yang paling masyhur dari gerbang-gerbang itu adalah Gerbang Isytar dari kota Babel yang dibangun pada era Babilonia Baru, dihiasi hewan-hewan yang dibentuk pada batu-bata beraneka warna, dan yang sebagian besar kini menjadi koleksi Pergamon Museum di Berlin

Sisa-sisa bangunan yang paling menonjol dari zaman awal Mesopotamia adalah gugus-gugus bangunan kuil di Uruk dari milenium ke-4 SM, kuil-kuil dan istana-istana di situs-situs periode Dinasti Awal di lembah Sungai Diyala seperti Khafajah dan Tell Asmar, sisa-sisa peninggalan Dinasti ketiga Ur di Nippur (Tempat suci Enlil) dan Ur (Tempat suci Nanna), sisa-sisa peninggalan dari pertengahan Zaman Perunggu di situs-situs Suriah-Turki seperti Ebla, Mari, Alalakh, Aleppo dan Kultepe, istana-istana dari akhir Zaman Perunggu di Bogazkoy (Hattusha), Ugarit, Asyur dan Nuzi, istana-istana dan kuil-kuil Zaman Besi di situs-situs Assiria (Kalhu/Nimrud, Khorsabad, Nineveh), Babilonia (Babel), Urartu (Tushpa/Van, Kalesi, Cavustepe, Ayanis, Armavir, Erebuni, Bastam) dan Het Baru (Karkamis, Tell Halaf, Karatepe). Rumah-rumah sebagian besar diketahui dari sisa-sisa peninggalan era Babilonia Baru di Nippur dan Ur. Yang paling menonjol dari antara sumber-sumber tertulis mengenai pendirian bangunan dan ritual-ritual yang terkait dengannya adalah silinder-silinder Gudea dari milenium ke-3 SM, demikian pula prasasti-prasasti kerajaan Assiria dan Babilonia dari Zaman Besi.